Cari Blog Ini

Syarh Al-Qawa'idul Arba' - Kaidah Ketiga (2)

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلهِ﴾ [البقرة: ١٩٤].
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194)[1].
وَدَلِيلُ الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنۡ آيَاتِهِ اللَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ ۚ لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ﴾ [فصلت: ٣٧].
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tanda-Nya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37)[2].
وَدَلِيلُ الۡمَلَائِكَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرۡبَابًا﴾ [آل عمران: ٨٠].
Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80)[3]

[1] قَوۡلُهُ: (وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ﴾) أَيۡ: الدَّلِيلُ عَلَى قِتَالِ الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ غَيۡرِ تَفۡرِيقٍ بَيۡنَهُمۡ حَسَبَ مَعۡبُودَاتِهِمۡ؛ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَٰتِلُوهُمۡ﴾، وَهٰذَا عَامٌّ لِكُلِّ الۡمُشۡرِكِينَ، لَمۡ يَسۡتَثۡنِ أَحَدًا، ثُمَّ قَالَ: ﴿حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ﴾ وَالۡفِتۡنَةُ: الشِّرۡكُ، أَيۡ: لَا يُوجَدُ شِرۡكٌ، وَهٰذَا عَامٌّ، أَيَّ شِرۡكٍ، سَوَاءً الشِّرۡكُ فِي الۡأَوۡلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، أَوۡ بِالۡأَحۡجَارِ، أَوۡ بِالۡأَشۡجَارِ، أَوۡ بِالشَّمۡسِ، أَوۡ بِالۡقَمَرِ. 
Ucapan beliau: (Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun.”) yaitu dalil yang menunjukkan untuk memerangi kaum musyrikin tanpa membeda-bedakan mereka berdasar sembahan-sembahan mereka. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka”, ini umum mencakup seluruh orang musyrik, Allah tidak mengecualikan satu pun. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “sampai tidak ada fitnah sedikit pun.” Fitnah di sini adalah kesyirikan. Sehingga artinya: tidak didapati satu kesyirikan pun. Ini juga umum, syirik apa pun itu. Sama saja apakah menyekutukan Allah dengan wali-wali dan orang shalih atau dengan bebatuan dan pepohonan, atau dengan matahari dan bulan. 
﴿وَيَكُونَ الدِّينُ﴾: تَكُونُ الۡعِبَادَةُ كُلُّهَا لِلهِ، لَيۡسَ فِيهَا شَرِكَةٌ لِأَحَدٍ كَائِنًا مَنۡ كَانَ، فَلَا فَرۡقَ بَيۡنَ الشِّرۡكِ بِالۡأَوۡلِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، أَوۡ بِالۡأَحۡجَارِ أَوۡ بِالۡأَشۡجَارِ، أَوۡ بِالشَّيَاطِينِ أَوۡ غَيۡرِهِمۡ. 
“dan sampai agama ini…” artinya sampai ibadah ini seluruhnya hanya untuk Allah. Tidak ada satu sekutu pun di dalam ibadah ini, apa pun itu. Jadi, tidak ada perbedaan antara syirik dengan wali-wali dan orang shalih atau bebatuan dan pepohonan atau dengan setan-setan atau selain mereka. 
[2] دَلَّ عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مَنۡ يَسۡجُدُ لِلشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ، وَلِهٰذَا نَهَى الرَّسُولُ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ عِنۡدَ طُلُوعِ الشَّمۡسِ وَعِنۡدَ غُرُوبِهَا سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ، لِأَنَّ هُنَاكَ مَنۡ يَسۡجُدُ لِلشَّمۡسِ عِنۡدَ طُلُوعِهَا وَيَسۡجُدُ لَهَا عِنۡدَ غُرُوبِهَا، فَنُهِينَا أَنۡ نُصَلِّيَ فِي هٰذَيۡنِ الۡوَقۡتَيۡنِ، وَإِنۡ كَانَتۡ الصَّلَاةُ لِلهِ، لَكِنۡ لَمَّا كَانَ فِي الصَّلَاةِ فِي هٰذَا الۡوَقۡتِ مُشَابَهَةٌ لِفِعۡلِ الۡمُشۡرِكِينَ مُنِعَ مِنۡ ذٰلِكَ سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ الَّتِي تُفۡضِي إِلَى الشِّرۡكِ، وَالرَّسُولُ ﷺ جَاءَ بِالنَّهۡيِ عَنِ الشِّرۡكِ وَسَدِّ ذَرَائِعِهِ الۡمُفۡضِيَةِ إِلَيۡهِ. 
Ayat tersebut menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari dan bulan. Untuk itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari shalat ketika matahari terbit dan tenggelam untuk menutup pintu kejelekan. Karena di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan sujud kepadanya ketika tenggelam. Sehingga kita dilarang untuk shalat di dua waktu ini, meskipun shalat itu ditujukan untuk Allah, akan tetapi ketika shalat di dua waktu ini menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, maka dilarang dari hal tersebut sebagai upaya untuk menutup pintu kejelekan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang membawa syariat yang melarang dari kesyirikan sekaligus menutup pintu yang dapat menyampaikan kepadanya. 
[3] قَوۡلُهُ: (وَدَلِيلُ الۡمَلَائِكَةِ... إلخ) دَلَّ عَلَى أَنَّ هُنَاكَ مَنۡ عَبَدَ الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ، وَأَنَّ ذٰلِكَ شِرۡكٌ. 
وَعُبَّادُ الۡقُبُورِ الۡيَوۡمَ يَقُولُونَ: الَّذِي يَعۡبُدُ الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ وَالصَّالِحِينَ لَيۡسَ بِكَافِرٍ. 
Ucapan beliau: “Dan dalil malaikat…” dst, menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah malaikat dan para nabi dan bahwa hal tersebut adalah kesyirikan. 
Dan para pemuja kuburan pada hari ini mengatakan bahwa orang yang menyembah para malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih tidaklah kafir.