Cari Blog Ini

Halaman

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5192

٨٥ - بَابُ صَوۡمِ الۡمَرۡأَةِ بِإِذۡنِ زَوۡجِهَا تَطَوُّعًا
85. Bab Puasa Sunah Seorang Wanita dengan Izin Suaminya


٥١٩٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا تَصُومُ الۡمَرۡأَةُ وَبَعۡلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِ). [طرفه في: ٢٠٦٦].

5192. Muhammad bin Muqatil telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6245

٦٢٤٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ خُصَيۡفَةَ، عَنۡ بُسۡرِ بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ قَالَ: كُنۡتُ فِي مَجۡلِسٍ مِنۡ مَجَالِسِ الۡأَنۡصَارِ، إِذۡ جَاءَ أَبُو مُوسَى كَأَنَّهُ مَذۡعُورٌ، فَقَالَ: اسۡتَأۡذَنۡتُ عَلَى عُمَرَ ثَلَاثًا، فَلَمۡ يُؤۡذَنۡ لِي فَرَجَعۡتُ، فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ؟ قُلۡتُ: اسۡتَأۡذَنۡتُ ثَلَاثًا فَلَمۡ يُؤۡذَنۡ لِي فَرَجَعۡتُ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا اسۡتَأۡذَنَ أَحَدُكُمۡ ثَلَاثًا فَلَمۡ يُؤۡذَنۡ لَهُ فَلۡيَرۡجِعۡ). فَقَالَ: وَاللهِ لَتُقِيمَنَّ عَلَيۡهِ بِبَيِّنَةٍ، أَمِنۡكُمۡ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ؟ فَقَالَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ: وَاللهِ لَا يَقُومُ مَعَكَ إِلَّا أَصۡغَرُ الۡقَوۡمِ، فَكُنۡتُ أَصۡغَرَ الۡقَوۡمِ فَقُمۡتُ مَعَهُ، فَأَخۡبَرۡتُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ ذٰلِكَ. وَقَالَ ابۡنُ الۡمُبَارَكِ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ عُيَيۡنَةَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ، عَنۡ بُسۡرٍ: سَمِعۡتُ أَبَا سَعِيدٍ: بِهٰذَا. [طرفه في: ٢٠٦٢].

6245. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Yazid bin Khushaifah menceritakan kepada kami dari Busr bin Sa’id, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ia berkata:

Aku sedang berada di salah satu majelis kaum Ansar, tiba-tiba Abu Musa datang seolah-olah ketakutan, lalu ia berkata:

Aku meminta izin kepada ‘Umar sebanyak tiga kali, namun tidak diizinkan bagiku maka aku pulang. ‘Umar bertanya, “Apa yang menghalangimu?”

Aku menjawab, “Aku telah meminta izin tiga kali namun tidak diizinkan maka aku pulang, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian meminta izin tiga kali namun tidak diizinkan, maka hendaklah ia pulang.’”

‘Umar pun berkata, “Demi Allah, engkau benar-benar harus mendatangkan bukti atas hal ini.”

Apakah ada di antara kalian yang mendengarnya dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?

Maka Ubay bin Ka’b berkata, “Demi Allah, tidak ada yang berdiri bersamamu kecuali orang yang paling muda di kaum ini.”

Dan aku (Abu Sa’id) adalah orang yang paling muda di kaum itu, maka aku berdiri bersamanya, lalu aku mengabarkan kepada ‘Umar bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memang telah bersabda demikian.

Ibnu Al-Mubarak berkata: Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepadaku: Yazid menceritakan kepadaku dari Busr: Aku mendengar Abu Sa’id: dengan (hadis) ini.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3939 dan 3940

٣٩٣٩، ٣٩٤٠ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو: سَمِعَ أَبَا الۡمِنۡهَالِ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ مُطۡعِمٍ قَالَ: بَاعَ شَرِيكٌ لِي دَرَاهِمَ فِي السُّوقِ نَسِيئَةً، فَقُلۡتُ: سُبۡحَانَ اللهِ، أَيَصۡلُحُ هٰذَا؟ فَقَالَ: سُبۡحَانَ اللهِ، وَاللهِ لَقَدۡ بِعۡتُهَا فِي السُّوقِ، فَمَا عَابَهُ أَحَدٌ، فَسَأَلۡتُ الۡبَرَاءَ بۡنَ عَازِبٍ فَقَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ وَنَحۡنُ نَتَبَايَعُ هٰذَا الۡبَيۡعَ، فَقَالَ: (مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَلَيۡسَ بِهِ بَأۡسٌ، وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَلَا يَصۡلُحُ). وَالۡقَ زَيۡدَ بۡنَ أَرۡقَمَ فَاسۡأَلۡهُ، فَإِنَّهُ كَانَ أَعۡظَمَنَا تِجَارَةً، فَسَأَلۡتُ زَيۡدَ بۡنَ أَرۡقَمَ فَقَالَ مِثۡلَهُ.

وَقَالَ سُفۡيَانُ مَرَّةً: قَالَ: قَدِمَ عَلَيۡنَا النَّبِيُّ ﷺ الۡمَدِينَةَ وَنَحۡنُ نَتَبَايَعُ، وَقَالَ: نَسِيئَةً إِلَى الۡمَوۡسِمِ، أَوِ الۡحَجِّ.

3939, 3940. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr: Ia mendengar Abu Al-Minhal ‘Abdurrahman bin Muth’im berkata:

Seorang serikatku menjual dirham di pasar secara tangguh, lalu aku berkata, “Subhanallah, apakah ini boleh?”

Ia menjawab, “Subhanallah, demi Allah, sungguh aku telah menjualnya di pasar dan tidak ada seorang pun yang mencelanya.”

Kemudian aku bertanya kepada Al-Bara` bin ‘Azib, lalu ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang (ke Madinah) sedangkan kami tengah melakukan jual beli seperti ini, lalu beliau bersabda, “Pertukaran mata uang yang dilakukan secara tunai maka tidak mengapa, dan pertukaran mata uang yang dilakukan secara tangguh maka tidak boleh.” Temuilah Zaid bin Arqam lalu bertanyalah kepadanya, karena sesungguhnya ia adalah orang yang paling besar perdagangannya di antara kami.

Maka aku bertanya kepada Zaid bin Arqam, lalu ia mengatakan hal yang serupa.

Dan Sufyan berkata pada waktu yang lain: Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang kepada kami di Madinah saat kami tengah melakukan jual beli, dan ia berkata: Secara tangguh sampai musim atau waktu haji.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2497 dan 2498

١٠ - بَابُ الۡاِشۡتِرَاكِ فِي الذَّهَبِ وَالۡفِضَّةِ، وَمَا يَكُونُ فِيهِ الصَّرۡفُ
10. Bab Perserikatan dalam Emas dan Perak, serta Tukar-Menukar yang Terjadi di Dalamnya


٢٤٩٧، ٢٤٩٨ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنۡ عُثۡمَانَ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡأَسۡوَدِ – قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ أَبِي مُسۡلِمٍ قَالَ: سَأَلۡتُ أَبَا الۡمِنۡهَالِ عَنِ الصَّرۡفِ يَدًا بِيَدٍ، فَقَالَ: اشۡتَرَيۡتُ أَنَا وَشَرِيكٌ لِي شَيۡئًا يَدًا بِيَدٍ وَنَسِيئَةً، فَجَاءَنَا الۡبَرَاءُ بۡنُ عَازِبٍ فَسَأَلۡنَاهُ، فَقَالَ: فَعَلۡتُ أَنَا وَشَرِيكِي زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ، وَسَأَلۡنَا النَّبِيَّ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ فَقَالَ: (مَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ فَخُذُوهُ، وَمَا كَانَ نَسِيئَةً فَذَرُوهُ). [طرفه في: ٢٠٦٠].

2497, 2498. ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami dari ‘Utsman bin Al-Aswad. Ia berkata: Sulaiman bin Abu Muslim mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Aku bertanya kepada Abu Al-Minhal tentang tukar-menukar uang secara tunai, lalu ia berkata: Aku dan seorang serikatku membeli sesuatu secara tunai dan secara tangguh, kemudian Al-Bara` bin ‘Azib datang kepada kami lalu kami bertanya kepadanya. Al-Bara` berkata: Aku dan serikatku, Zaid bin Arqam, pernah melakukan hal itu, lalu kami bertanya kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tentang hal tersebut, maka beliau bersabda, “Tukar-menukar uang yang dilakukan secara tunai maka ambillah, dan tukar-menukar uang yang dilakukan secara tangguh maka tinggalkanlah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5507

٢١ - بَابُ ذَبِيحَةِ الۡأَعۡرَابِ وَنَحۡوِهِمۡ
21. Bab Sembelihan Orang Badui dan yang Semisal Mereka


٥٥٠٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بۡنُ حَفۡصٍ الۡمَدَنِيُّ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ قَوۡمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنَّ قَوۡمًا يَأۡتُونَا بِاللَّحۡمِ، لَا نَدۡرِي أَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ أَمۡ لَا؟ فَقَالَ: (سَمُّوا عَلَيۡهِ أَنۡتُمۡ وَكُلُوهُ). قَالَتۡ: وَكَانُوا حَدِيثِي عَهۡدٍ بِالۡكُفۡرِ. تَابَعَهُ عَلِيٌّ عَنِ الدَّرَاوَرۡدِيِّ. وَتَابَعَهُ أَبُو خَالِدٍ وَالطُّفَاوِيُّ. [طرفه في: ٢٠٥٧].

5507. Muhammad bin ‘Ubaidullah telah menceritakan kepada kami: Usamah bin Hafsh Al-Madani menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

Ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Sesungguhnya ada orang-orang yang membawakan daging kepada kami, kami tidak tahu apakah nama Allah disebutkan ketika menyembelihnya atau tidak?”

Beliau bersabda, “Sebutlah nama Allah oleh kalian dan makanlah daging itu!”

‘Aisyah berkata: Dan mereka itu adalah orang-orang yang baru masuk Islam.

‘Ali mengiringi Usamah dari Ad-Darawardi. Abu Khalid dan At-Thufawi juga mengiringi Usamah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4778

٤٧٧٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سُلَيۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عُمَرُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ: أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَفَاتِيحُ الۡغَيۡبِ خَمۡسٌ، ثُمَّ قَرَأَ: ‏﴿إِنَّ اللهَ عِنۡدَهُ عِلۡمُ السَّاعَةِ﴾). [طرفه في: ١٠٣٩].

4778. Yahya bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepadaku. Ia berkata: ‘Umar bin Muhammad bin Zaid bin ‘Abdullah bin ‘Umar menceritakan kepadaku: Ayahnya menceritakan kepadanya: ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kunci-kunci gaib itu ada lima.” Kemudian beliau membaca, “Sesungguhnya Allah, hanya di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2431 dan 2432

٦ - بَابٌ إِذَا وَجَدَ تَمۡرَةً فِي الطَّرِيقِ
6. Bab apabila menemukan kurma di jalan


٢٤٣١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِتَمۡرَةٍ فِي الطَّرِيقِ، قَالَ: (لَوۡلَا أَنِّي أَخَافُ أَنۡ تَكُونَ مِنَ الصَّدَقَةِ لَأَكَلۡتُهَا). [طرفه في: ٢٠٥٥].

2431. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Thalhah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati sebutir kurma di jalan, lalu beliau bersabda, “Seandainya aku tidak takut kurma ini termasuk sedekah, niscaya aku telah memakannya.”

٢٤٣٢ - وَقَالَ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنِي مَنۡصُورٌ. وَقَالَ زَائِدَةُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ طَلۡحَةَ: حَدَّثَنَا أَنَسٌ. وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنِّي لَأَنۡقَلِبُ إِلَى أَهۡلِي، فَأَجِدُ التَّمۡرَةَ سَاقِطَةً عَلَى فِرَاشِي، فَأَرۡفَعُهَا لِآكُلَهَا، ثُمَّ أَخۡشَى أَنۡ تَكُونَ صَدَقَةً فَأُلۡقِيَهَا).

2432. Yahya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami: Manshur menceritakan kepadaku. Za`idah berkata, dari Manshur, dari Thalhah: Anas menceritakan kepada kami. Muhammad bin Muqatil menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sungguh aku pulang ke rumah menemui keluargaku, lalu aku mendapati sebutir kurma jatuh di atas tempat tidurku. Aku pun memungutnya untuk aku makan, kemudian aku merasa khawatir kalau kurma itu adalah sedekah, maka aku pun membuangnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7182

٧١٨٢ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهَا قَالَتۡ: كَانَ عُتۡبَةُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ، عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ: أَنَّ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ مِنِّي، فَاقۡبِضۡهُ إِلَيۡكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الۡفَتۡحِ أَخَذَهُ سَعۡدٌ فَقَالَ: ابۡنُ أَخِي، قَدۡ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَامَ إِلَيۡهِ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ فَقَالَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ ابۡنُ أَخِي، كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، وَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ). ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ، وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). ثُمَّ قَالَ لِسَوۡدَةَ بِنۡتِ زَمۡعَةَ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ). لِمَا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ تَعَالَى. [طرفه في: ٢٠٥٣].

7182. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa ia berkata:

Dahulu ‘Utbah bin Abu Waqqash berpesan kepada saudaranya, Sa’d bin Abu Waqqash, “Anak dari budak perempuan Zam’ah adalah anakku, maka ambillah ia.”

Ketika tahun penaklukan Makkah, Sa’d mengambil anak itu dan berkata, “Ini anak saudaraku. Ia telah berpesan kepadaku mengenainya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berdiri mendatangi Sa’d dan berkata, “Ini saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku, ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Keduanya lalu menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sa'd berkata, “Wahai Rasulullah, ini anak saudaraku. Ia telah berpesan kepadaku mengenainya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Ini saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku, ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah.” Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu bagi pemilik tempat tidur, dan bagi pezina adalah batu.” Kemudian beliau bersabda kepada Saudah binti Zam’ah, “Berhijablah darinya,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah. Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah sampai ia bertemu Allah taala.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6817

٩ - بَابٌ لِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ
9. Bab Bagi Pezina adalah Batu


٦٨١٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتِ: اخۡتَصَمَ سَعۡدٌ وَابۡنُ زَمۡعَةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ، وَاحۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ)، زَادَ لَنَا قُتَيۡبَةُ عَنِ اللَّيۡثِ: (وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). [طرفه في: ٢٠٥٣].

6817. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Ia berkata:

Sa’d dan Ibnu Zam’ah berselisih, lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur. Berhijablah darinya wahai Saudah!”

Qutaibah menambahkan kepada kami dari Al-Laits: “Dan bagi pezina adalah batu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6765

٢٧ - بَابُ مِيرَاثِ الۡعَبۡدِ النَّصۡرَانِيِّ وَمُكَاتَبِ النَّصۡرَانِيِّ وَإِثۡمِ مَنِ انۡتَفَى مِنۡ وَلَدِهِ
27. Bab Waris Budak Nasrani, Mukatab Nasrani, dan Dosa Orang yang Mengingkari Anaknya

٢٨ - بَابُ مَنِ ادَّعَى أَخًا أَوِ ابۡنَ أَخٍ
28. Bab Orang yang Mengaku-ngaku sebagai Saudara atau Anak dari Saudara Laki-Laki


٦٧٦٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا أَنَّهَا قَالَتِ: اخۡتَصَمَ سَعۡدُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ فِي غُلَامٍ، فَقَالَ سَعۡدٌ: هٰذَا يَا رَسُولَ اللهِ ابۡنُ أَخِي عُتۡبَةَ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابۡنُهُ، انۡظُرۡ إِلَى شَبَهِهِ، وَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: هٰذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللهِ، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنۡ وَلِيدَتِهِ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتۡبَةَ، فَقَالَ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ، وَاحۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ بِنۡتَ زَمۡعَةَ). قَالَتۡ: فَلَمۡ يَرَ سَوۡدَةَ قَطُّ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

6765. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—, bahwa ia berkata:

Sa’d bin Abu Waqqash dan ‘Abd bin Zam’ah berselisih mengenai seorang anak laki-laki. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak laki-laki dari saudaraku, ‘Utbah bin Abu Waqqash. Ia telah berpesan kepadaku bahwa anak ini adalah anaknya. Lihatlah kemiripannya!”

Sedangkan ‘Abd bin Zam’ah berkata, “Ini adalah saudaraku wahai Rasulullah. Ia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak perempuannya.”

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat kemiripan anak itu dan melihat kemiripan yang jelas dengan ‘Utbah, maka beliau bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami atau pemilik budak) dan bagi pezina adalah batu, dan berhijablah darinya wahai Saudah binti Zam’ah.”

‘Aisyah berkata: Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah sama sekali.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6749

١٨ - بَابٌ الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ، حُرَّةً كَانَتۡ أَوۡ أَمَةً
18. Bab Anak Itu Milik Pemilik Tempat Tidur, Baik Ibunya Wanita Merdeka Maupun Budak


٦٧٤٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ عُتۡبَةُ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدٍ: أَنَّ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ مِنِّي، فَاقۡبِضۡهُ إِلَيۡكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الۡفَتۡحِ أَخَذَهُ سَعۡدٌ، فَقَالَ: ابۡنُ أَخِي عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَامَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ، فَقَالَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، ابۡنُ أَخِي، قَدۡ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). ثُمَّ قَالَ لِسَوۡدَةَ بِنۡتِ زَمۡعَةَ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ). لِمَا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

6749. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Ia berkata:

‘Utbah pernah berpesan kepada saudaranya, Sa’d: “Anak dari budak perempuan Zam’ah adalah anakku, maka ambillah ia untukmu.”

Ketika tahun penaklukan Makkah, Sa’d mengambilnya dan berkata, “Anak saudaraku. Ia telah berpesan kepadaku mengenainya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berdiri dan berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku. Ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Keduanya pun bergegas menghadap Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ia anak saudaraku. Ia benar-benar telah berpesan kepadaku mengenainya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku. Ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak) dan bagi pezina adalah batu.”

Kemudian beliau bersabda kepada Saudah binti Zam’ah, “Berhijablah engkau darinya,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah. Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah hingga ia bertemu dengan Allah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4303

٤٣٠٣ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ: عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ عُتۡبَةُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدٍ: أَنۡ يَقۡبِضَ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، وَقَالَ عُتۡبَةُ: إِنَّهُ ابۡنِي، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَكَّةَ فِي الۡفَتۡحِ، أَخَذَ سَعۡدُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَأَقۡبَلَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَقۡبَلَ مَعَهُ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ، فَقَالَ سَعۡدُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ: هٰذَا ابۡنُ أَخِي، عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابۡنُهُ. قَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا أَخِي، هٰذَا ابۡنُ زَمۡعَةَ، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ. فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى ابۡنِ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَإِذَا أَشۡبَهُ النَّاسِ بِعُتۡبَةَ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ، هُوَ أَخُوكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ). مِنۡ أَجۡلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ). لِمَا رَأَى مِنۡ شَبَهِ عُتۡبَةَ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ.

قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: قَالَتۡ عَائِشَةُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). وَقَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَكَانَ أَبُو هُرَيۡرَةَ يَصِيحُ بِذٰلِكَ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

4303. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepadaku dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Dan Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa ‘Aisyah berkata:

‘Utbah bin Abu Waqqash pernah berpesan kepada saudaranya, Sa’d agar mengambil anak dari budak perempuan Zam’ah, dan ‘Utbah berkata: “Sesungguhnya dia adalah anakku.”

Maka ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Makkah pada saat Fatah Makkah, Sa’d bin Abu Waqqash mengambil anak dari budak perempuan Zam’ah tersebut, lalu membawanya menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dan ‘Abd bin Zam’ah datang bersamanya. Sa’d bin Abu Waqqash berkata, “Ini adalah anak saudaraku. Ia telah berpesan kepadaku bahwa anak ini adalah anaknya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah saudaraku. Ini adalah anak Zam’ah yang lahir di atas tempat tidur ayahnya.”

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat kepada anak dari budak perempuan Zam’ah tersebut, ternyata dia adalah orang yang paling mirip dengan ‘Utbah bin Abu Waqqash. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu. Dia adalah saudaramu wahai ‘Abd bin Zam’ah,” karena ia lahir di atas tempat tidur ayahnya.

Dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berhijablah engkau darinya wahai Saudah,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah bin Abu Waqqash.

Ibnu Syihab berkata: ‘Aisyah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak) dan bagi pezina adalah batu.” Dan Ibnu Syihab berkata: Abu Hurairah dahulu menyeru-nyerukan hal tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2745

٤ - بَابُ قَوۡلِ الۡمُوصِي لِوَصِيِّهِ: تَعَاهَدۡ وَلَدِي، وَمَا يَجُوزُ لِلۡوَصِيِّ مِنَ الدَّعۡوَى
4. Bab Perkataan Pemberi Wasiat kepada Pelaksana Wasiatnya: “Peliharalah Anakku” dan Klaim yang Dibolehkan bagi Pelaksana Wasiat


٢٧٤٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهَا قَالَتۡ: كَانَ عُتۡبَةُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ: أَنَّ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ مِنِّي، فَاقۡبِضۡهُ إِلَيۡكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامُ الۡفَتۡحِ أَخَذَهُ سَعۡدٌ، فَقَالَ: ابۡنُ أَخِي قَدۡ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَامَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ فَقَالَ: أَخِي وَابۡنُ أَمَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، ابۡنُ أَخِي، كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ ابۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ وَلِلۡعَاهِرِ الۡحَجَرُ). ثُمَّ قَالَ لِسَوۡدَةَ بِنۡتِ زَمۡعَةَ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ) لِمَا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ. [الحديث ٢٧٤٥ - أطرافه في: ٢٠٥٣، ٢٢١٨، ٢٤٢١، ٢٥٣٣، ٤٣٠٣، ٦٧٤٩، ٦٧٦٥، ٦٨١٧، ٧١٨٢].

2745. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Ia berkata:

‘Utbah bin Abu Waqqash pernah berpesan kepada saudaranya, Sa’d bin Abu Waqqash: “Anak dari budak perempuan Zam’ah adalah anakku, maka ambillah ia untukmu.”

Ketika tahun Fatah Makkah, Sa’d mengambilnya dan berkata, “Anak saudaraku, ia telah berpesan kepadaku mengenainya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berdiri dan berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku. Ia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Keduanya pun bergegas menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ia anak saudaraku. Saudaraku telah berpesan kepadaku mengenainya.”

‘Abd bin Zam’ah berkata, “Ia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak) dan bagi pezina adalah batu.” Kemudian beliau bersabda kepada Saudah binti Zam’ah, “Berhijablah engkau darinya,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah. Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah hingga ia bertemu dengan Allah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2533

٨ - بَابُ أُمِّ الۡوَلَدِ
8. Bab Ummul-Walad (Budak Perempuan yang Melahirkan Anak dari Hasil Hubungannya dengan Tuannya)


قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (مِنۡ أَشۡرَاطِ السَّاعَةِ أَنۡ تَلِدَ الۡأَمَةُ رَبَّهَا).

Abu Hurairah berkata, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya.”

٢٥٣٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: إِنَّ عُتۡبَةَ بۡنَ أَبِي وَقَّاصٍ، عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعۡدِ بۡنِ أَبِي وَقَّاصٍ: أَنۡ يَقۡبِضَ إِلَيۡهِ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، قَالَ عُتۡبَةُ: إِنَّهُ ابۡنِي، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَمَنَ الۡفَتۡحِ، أَخَذَ سَعۡدٌ ابۡنَ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَأَقۡبَلَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَقۡبَلَ مَعَهُ بِعَبۡدِ بۡنِ زَمۡعَةَ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا ابۡنُ أَخِي، عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابۡنُهُ، فَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا أَخِي، ابۡنُ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى ابۡنِ وَلِيدَةِ زَمۡعَةَ، فَإِذَا هُوَ أَشۡبَهُ النَّاسِ بِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ). مِنۡ أَجۡلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِيهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (احۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ بِنۡتَ زَمۡعَةَ). مِمَّا رَأَى مِنۡ شَبَهِهِ بِعُتۡبَةَ، وَكَانَتۡ سَوۡدَةُ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٢٠٥٣].

2533. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Ia berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair menceritakan kepadaku: ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata:

Sesungguhnya ‘Utbah bin Abu Waqqash berpesan kepada saudaranya, Sa’d bin Abu Waqqash, agar mengambil anak dari budak perempuan Zam’ah. ‘Utbah berkata, “Dia adalah anakku.”

Maka ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang pada masa Fatah Makkah, Sa’d mengambil anak budak perempuan Zam’ah itu dan membawanya menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Bersamanya datang pula ‘Abd bin Zam’ah. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak saudaraku. Ia berpesan kepadaku bahwa ini adalah anaknya.”

Lalu ‘Abd bin Zam’ah berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah saudaraku, anak dari budak perempuan Zam’ah. Ia lahir di atas tempat tidur ayahnya.”

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat anak budak perempuan Zam’ah tersebut, ternyata ia adalah orang yang paling mirip dengan ‘Utbah. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah,” karena ia lahir di atas tempat tidur ayahnya. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berhijablah engkau darinya wahai Saudah binti Zam’ah,” karena beliau melihat kemiripannya dengan ‘Utbah, sedangkan Saudah adalah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2421

٦ - بَابُ دَعۡوَى الۡوَصِيِّ لِلۡمَيِّتِ
6. Bab Pengakuan Penerima Wasiat Orang yang Sudah Meninggal


٢٤٢١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ عَبۡدَ بۡنَ زَمۡعَةَ وَسَعۡدَ بۡنَ أَبِي وَقَّاصٍ، اخۡتَصَمَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي ابۡنِ أَمَةِ زَمۡعَةَ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوۡصَانِي أَخِي إِذَا قَدِمۡتُ أَنۡ أَنۡظُرَ ابۡنَ أَمَةِ زَمۡعَةَ فَأَقۡبِضَهُ، فَإِنَّهُ ابۡنِي. وَقَالَ عَبۡدُ بۡنُ زَمۡعَةَ: أَخِي وَابۡنُ أَمَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي. فَرَأَى النَّبِيُّ ﷺ شَبَهًا بَيِّنًا، فَقَالَ: (هُوَ لَكَ يَا عَبۡدُ بۡنَ زَمۡعَةَ، الۡوَلَدُ لِلۡفِرَاشِ، وَاحۡتَجِبِي مِنۡهُ يَا سَوۡدَةُ). [طرفه في: ٢٠٥٣].

2421. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

‘Abd bin Zam’ah dan Sa’d bin Abu Waqqash berselisih di hadapan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai anak dari budak perempuan Zam’ah. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku berwasiat kepadaku jika aku datang agar aku melihat anak dari budak perempuan Zam’ah lalu mengambilnya, karena dia adalah anakku (yakni: anak saudara Sa’d).”

Sedangkan ‘Abd bin Zam’ah berkata, “Dia saudaraku dan anak dari budak perempuan ayahku, dia lahir di atas tempat tidur ayahku.”

Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat kemiripan yang jelas (dengan saudara Sa’d), namun beliau bersabda, “Anak itu milikmu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Anak itu bagi pemilik tempat tidur (suami/pemilik budak), dan berhijablah engkau darinya wahai Saudah.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1731

٩ - بَابُ مَا جَاءَ فِي جَرِّ ذُيُولِ النِّسَاءِ
9. Bab Riwayat tentang Menyeret Ekor Pakaian bagi Wanita


١٧٣١ - (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡخَلَّالُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ جَرَّ ثَوۡبَهُ خُيَلَاءَ لَمۡ يَنۡظُرِ اللهُ إِلَيۡهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). فَقَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: فَكَيۡفَ يَصۡنَعۡنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ؟ قَالَ: (يُرۡخِينَ شِبۡرًا)، فَقَالَتۡ: إِذًا تَنۡكَشِفَ أَقۡدَامُهُنَّ، قَالَ: (فَيُرۡخِينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدۡنَ عَلَيۡهِ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(ابن ماجه)(٣٥٨٠ و٣٥٨١)].

1731. [Sahih] Al-Hasan bin ‘Ali Al-Khallal telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat.”

Lalu Umu Salamah bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan para wanita dengan ekor pakaian mereka?”

Beliau menjawab, “Hendaknya mereka memanjangkannya sejengkal.”

Umu Salamah berkata, “Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.”

Beliau berkata, “Hendaknya mereka memanjangkannya sehasta dan tidak boleh lebih dari itu.”

Ini adalah hadis hasan sahih.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 4117

٤٠ - بَابٌ فِي قَدۡرِ الذَّيۡلِ
40. Bab tentang Ukuran Ekor Pakaian


٤١١٧ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ [الۡقَعۡنَبِيُّ]، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ صَفِيَّةَ بِنۡتِ أَبِي عُبَيۡدٍ أَنَّهَا أَخۡبَرَتۡهُ، أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ ذَكَرَ الۡإِزَارَ: فَالۡمَرۡأَةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (تُرۡخِي شِبۡرًا)، قَالَتۡ أُمُّ سَلَمَةَ: إِذًا يَنۡكَشِفُ عَنۡهَا، قَالَ: (فَذِرَاعًا، لَا تَزِيدُ عَلَيۡهِ).

4117. [Sahih] ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Bakr bin Nafi’, dari ayahnya, dari Shafiyyah binti Abu ‘Ubaid bahwasanya ia mengabarkannya, bahwa Umu Salamah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau menyebutkan masalah kain bagian bawah, “Lalu bagaimana dengan wanita, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ia memanjangkannya sejengkal.”

Umu Salamah berkata, “Kalau begitu, bagian tubuhnya akan tersingkap.”

Beliau bersabda, “Maka (panjangkanlah) sehasta, tidak boleh lebih dari itu.”

Shahih Muslim hadis nomor 2097

١٩ - بَابُ اسۡتِحۡبَابِ لُبۡسِ النَّعۡلِ فِي الۡيَمِينِ أَوَّلًا، وَالۡخَلۡعِ مِنۡ الۡيُسۡرَى أَوَّلًا، وَكَرَاهَةِ الۡمَشۡيِ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ
19. Bab Disukainya Memakai Alas Kaki Mulai dari yang Kanan, Melepas Mulai dari yang Kiri, dan Makruhnya Berjalan dengan Satu Alas Kaki


٦٧ - (٢٠٩٧) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ سَلَّامٍ الۡجُمَحِيُّ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ - يَعۡنِي ابۡنَ زِيَادٍ -، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا انۡتَعَلَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالۡيُمۡنَىٰ، وَإِذَا خَلَعَ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالشِّمَالِ، وَلۡيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا، أَوۡ لِيَخۡلَعۡهُمَا جَمِيعًا).

[البخاري: كتاب اللباس، باب ينزع نعله اليسرى، رقم: ٥٨٥٦].

67. (2097). ‘Abdurrahman bin Sallam Al-Jumahi telah menceritakan kepada kami: Ar-Rabi’ bin Muslim menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai alas kaki, hendaklah ia memulai dengan yang kanan, dan apabila melepasnya, hendaklah memulai dengan yang kiri. Hendaklah ia memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”

٦٨ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَمۡشِ أَحَدُكُمۡ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ. لِيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا، أَوۡ لِيَخۡلَعۡهُمَا جَمِيعًا).

68. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki saja! Hendaklah ia memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5855

٣٩ - بَابٌ يَنۡزِعُ نَعۡلَ الۡيُسۡرَى
39. Bab Melepas Alas Kaki Kiri


٥٨٥٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا انۡتَعَلَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالۡيَمِينِ، وَإِذَا نَزَعَ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالشِّمَالِ، لِتَكُنِ الۡيُمۡنَى أَوَّلَهُمَا تُنۡعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنۡزَعُ).

5855. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai alas kaki, hendaklah ia memulai dengan yang kanan. Apabila melepasnya, hendaklah memulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan menjadi yang pertama kali dipakai dan yang terakhir kali dilepas.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5856

٤٠ - بَابٌ لَا يَمۡشِي فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ
40. Bab Tidak Berjalan dengan Satu Alas Kaki


٥٨٥٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَمۡشِي أَحَدُكُمۡ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ، لِيُحۡفِهِمَا أَوۡ لِيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا).

5856. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki saja! Hendaklah ia melepas keduanya atau memakaikan alas kaki pada keduanya sekaligus.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5167

٦٩ - بَابُ الۡوَلِيمَةِ وَلَوۡ بِشَاةٍ
69. Bab Walimah Walaupun Hanya dengan Menyembelih Seekor Kambing


٥١٦٧ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي حُمَيۡدٌ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَبۡدَ الرَّحۡمَنِ بۡنَ عَوۡفٍ، وَتَزَوَّجَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ: (كَمۡ أَصۡدَقۡتَهَا؟) قَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. وَعَنۡ حُمَيۡدٍ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ، نَزَلَ الۡمُهَاجِرُونَ عَلَى الۡأَنۡصَارِ، فَنَزَلَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ عَلَى سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، فَقَالَ: أُقَاسِمُكَ مَالِي، وَأَنۡزِلُ لَكَ عَنۡ إِحۡدَى امۡرَأَتَيَّ، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، فَخَرَجَ إِلَى السُّوقِ فَبَاعَ وَاشۡتَرَى، فَأَصَابَ شَيۡئًا مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، فَتَزَوَّجَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5167. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Humaid menceritakan kepadaku: Ia mendengar Anas—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang telah menikahi seorang wanita dari kaum Ansar, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Seberat biji kurma dari emas.”

Dan dari Humaid: Aku mendengar Anas berkata: Ketika mereka tiba di Madinah, kaum Muhajirin singgah di tempat kaum Ansar. Lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf singgah di tempat Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata, “Aku akan membagi hartaku denganmu dan aku akan menceraikan salah satu dari kedua istriku untukmu.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu.”

Kemudian ia pergi ke pasar untuk berjualan dan membeli, lalu ia mendapatkan sedikit aqith (susu kering) dan samin, kemudian ia menikah. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5155

٥٧ - بَابٌ كَيۡفَ يُدۡعَى لِلۡمُتَزَوِّجِ
57. Bab Bagaimana Mendoakan Orang yang Menikah


٥١٥٥ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، هُوَ ابۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى عَلَى عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ عَوۡفٍ أَثَرَ صُفۡرَةٍ، قَالَ: (مَا هٰذَا؟). قَالَ: إِنِّي تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، قَالَ: (بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5155. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat bekas wangi-wangian kuning pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau bertanya, “Apa ini?”

‘Abdurrahman menjawab, “Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma dari emas.”

Beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu. Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5153

٥٥ - بَابُ الصُّفۡرَةِ لِلۡمُتَزَوِّجِ
55. Bab Mengenai Wangi-wangian Kuning bagi Orang yang Menikah


وَرَوَاهُ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Hal itu diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin ‘Auf dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

٥١٥٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ حُمَيۡدٍ الطَّوِيلِ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ، جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَبِهِ أَثَرُ صُفۡرَةٍ، فَسَأَلَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَخۡبَرَهُ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (كَمۡ سُقۡتَ إِلَيۡهَا؟). قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

5153. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Humaid Ath-Thawil, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan padanya terdapat bekas wangi-wangian kuning. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepadanya, kemudian ia mengabarkan bahwa ia telah menikahi seorang wanita dari kaum Ansar.

Beliau bertanya, “Berapa mahar yang engkau serahkan kepadanya?”

Ia menjawab, “Seberat biji kurma dari emas.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5148

٥٠ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحۡلَةً﴾ [النساء: ٤] وَكَثۡرَةِ الۡمَهۡرِ، وَأَدۡنَى مَا يَجُوزُ مِنَ الصَّدَاقِ
50. Bab Firman Allah Taala: “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (QS An-Nisa’: 4) dan Tentang Banyaknya Mahar, serta Batas Minimal Mahar yang Diperbolehkan


وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَآتَيۡتُمۡ إِحۡدَاهُنَّ قِنۡطَارًا فَلَا تَأۡخُذُوا مِنۡهُ شَيۡئًا﴾ [النساء: ٢٠] وَقَوۡلِهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿أَوۡ تَفۡرِضُوا لَهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٣٦]. وَقَالَ سَهۡلٌ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَلَوۡ خَاتَمًا مِنۡ حَدِيدٍ).

Dan firman-Nya: “Sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikit pun darinya.” (QS An-Nisa’: 20).

Serta firman-Nya—jalla dzikruhu—: “dan sebelum kalian menentukan maharnya bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 236).

Sahl berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Walaupun hanya berupa cincin dari besi.”

٥١٤٨ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ تَزَوَّجَ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ، فَرَأَى النَّبِيُّ ﷺ بَشَاشَةَ الۡعُرۡسِ، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: إِنِّي تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ. وَعَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ عَوۡفٍ، تَزَوَّجَ امۡرَأَةً عَلَى وَزۡنِ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. [طرفه في: ٢٠٤٩].

5148. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, dari Anas:

‘Abdurrahman bin ‘Auf menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma (emas). Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat tanda-tanda kegembiraan pengantin pada dirinya, maka beliau bertanya kepadanya. Ia menjawab, “Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita dengan mahar seberat biji kurma.”

Dan dari Qatadah, dari Anas: ‘Abdurrahman bin ‘Auf menikahi seorang wanita dengan mahar emas seberat biji kurma.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 899 dan 900

١٨ - نَوۡعٌ آخَرُ مِنَ الذِّكۡرِ بَيۡنَ افۡتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَبَيۡنَ الۡقِرَاءَةِ
18. Jenis Lain dari Zikir antara Permulaan Salat dan Qiraah (Al-Fatihah)


٨٩٩ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ فَضَالَةَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ؛ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، تَبَارَكَ اسۡمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [(ابن ماجه)(٨٠٤)].

899. [Sahih] ‘Ubaidullah bin Fadhalah bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdurrazzaq memberitakan kepada kami. Ia berkata: Ja’far bin Sulaiman memberitakan kepada kami dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id, bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

٩٠٠ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ الۡحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ؛ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [انظر ما قبله].

900. [Sahih] Ahmad bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Zaid bin Al-Hubab menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ja‘far bin Sulaiman menceritakan kepadaku, dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa‘id. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 243

٢٤٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَرَفَةَ وَيَحۡيَى بۡنُ مُوسَى، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنۡ حَارِثَةَ بۡنِ أَبِي الرِّجَالِ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيۡرُكَ). هٰذَا حَدِيثٌ لَا نَعۡرِفُهُ مِنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ إِلَّا مِنۡ هٰذَا الۡوَجۡهِ. وَحَارِثَةُ قَدۡ تُكُلِّمَ فِيهِ مِنۡ قِبَلِ حِفۡظِهِ. وَأَبُو الرِّجَالِ اسۡمُهُ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الۡمَدِينِيُّ. [(ابن ماجه)(٨٠٤)].

243. [Sahih] Al-Hasan bin ‘Arafah dan Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu‘awiyah menceritakan kepada kami dari Haritsah bin Abu Ar-Rijal, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Hadis ini tidak kami ketahui dari hadis ‘Aisyah kecuali dari jalur ini. Haritsah telah diperbincangkan (oleh para ulama) dari sisi hafalannya. Abu Ar-Rijal namanya adalah Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Madini.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 806

٨٠٦ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدٍ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ عِمۡرَانَ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَارِثَةُ بۡنُ أَبِي الرِّجَالِ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا افۡتَتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، تَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ). [(الإرواء)(٨)، (صحيح أبي داود)(٧٥٠)].

806. [Sahih] ‘Ali bin Muhammad dan ‘Abdullah bin ‘Imran telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Haritsah bin Abu Ar-Rijal menceritakan kepada kami, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila membuka salat, beliau mengucapkan:

Subḥānakallāhumma wa biḥamdika tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 775 dan 776

١٢٢ - بَابُ مَنۡ رَأَى الۡاِسۡتِفۡتَاحَ بِـ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ)
122. Bab Orang yang Berpendapat Memulai Salat dengan “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika


٧٧٥ - (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ مُطَهَّرٍ، نا جَعۡفَرٌ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيۡلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، [وَ]تَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ) ثُمَّ يَقُولُ: (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ) - ثَلَاثًا - ثُمَّ يَقُولُ: (اللهُ أَكۡبَرُ كَبِيرًا) - ثَلَاثًا – (أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الۡعَلِيمِ مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيمِ، مِنۡ هَمۡزِهِ وَنَفۡخِهِ وَنَفۡثِهِ) ثُمَّ يَقۡرَأُ.

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهٰذَا الۡحَدِيثُ يَقُولُونَ: هُوَ عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنِ الۡحَسَنِ مُرۡسَلًا، الۡوَهَمُ مِنۡ جَعۡفَرٍ.

775. [Sahih] ‘Abdussalam bin Muthahhar telah menceritakan kepada kami: Ja’far menceritakan kepada kami dari ‘Ali bin ‘Ali Ar-Rifa’i, dari Abu Al-Mutawakkil An-Naji, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun untuk salat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Kemudian beliau mengucapkan, “Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah)” sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau mengucapkan, “Allāhu akbar kabīrā (Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya)” sebanyak tiga kali.

(Lalu membaca), “A‘ūżu billāhis-samī‘il-‘alīmi minasy-syaiṭānir-rajīmi min hamzihi wa nafkhihi wa nafṡih (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk; dari kegilaannya, kesombongannya, dan syairnya).”

Kemudian beliau membaca (Al-Fatihah).

Abu Dawud berkata: Hadis ini, mereka (para ulama) mengatakan berasal dari ‘Ali bin ‘Ali, dari Al-Hasan, secara mursal. Kekeliruan (penyambungan sanad) berasal dari Ja’far.

٧٧٦ - (صحيح) حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عِيسَى، نا طَلۡقُ بۡنُ غَنَّامٍ، نا عَبۡدُ السَّلَامِ بۡنُ حَرۡبٍ الۡمُلَائِيُّ، عَنۡ بُدَيۡلِ بۡنِ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ أَبِي الۡجَوۡزَاءِ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اسۡتَفۡتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ: (سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ، وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ).

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهٰذَا الۡحَدِيثُ لَيۡسَ بِالۡمَشۡهُورِ عَنۡ عَبۡدِ السَّلَامِ بۡنِ حَرۡبٍ، لَمۡ يَرۡوِهِ إِلَّا طَلۡقُ بۡنُ غَنَّامٍ، وَقَدۡ رَوَى قِصَّةَ الصَّلَاةِ عَنۡ بُدَيۡلٍ جَمَاعَةٌ لَمۡ يَذۡكُرُوا فِيهِ شَيۡئًا مِنۡ هٰذَا.

776. [Sahih] Husain bin ‘Isa telah menceritakan kepada kami: Thalq bin Ghannam menceritakan kepada kami: ‘Abdussalam bin Harb Al-Mula`i menceritakan kepada kami dari Budail bin Maisarah, dari Abu Al-Jauza`, dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila memulai salat, beliau mengucapkan, “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakasmuka wa ta‘ālā jadduka wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau).”

Abu Dawud berkata: Hadis ini tidaklah masyhur dari ‘Abdussalam bin Harb. Tidak ada yang meriwayatkannya kecuali Thalq bin Ghannam. Sungguh, sekelompok perawi telah meriwayatkan kisah salat ini dari Budail, namun mereka tidak menyebutkan sedikit pun tentang hal ini (doa istiftah tersebut).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3937

٥٠ - بَابٌ كَيۡفَ آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ أَصۡحَابِهِ
50. Bab Bagaimana Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Mempersaudarakan antara Para Sahabat Beliau


وَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ: آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنِي وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ لَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ.

‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara aku dan Sa’d bin Ar-Rabi’ ketika kami tiba di Madinah.

وَقَالَ أَبُو جُحَيۡفَةَ: آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ سَلۡمَانَ وَأَبِي الدَّرۡدَاءِ.

Abu Juhaifah berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara Salman dan Abu Ad-Darda`.

٣٩٣٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَدِمَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، فَآخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ الۡأَنۡصَارِيِّ، فَعَرَضَ عَلَيۡهِ أَنۡ يُنَاصِفَهُ أَهۡلَهُ وَمَالَهُ، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ، فَرَبِحَ شَيۡئًا مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، فَرَآهُ النَّبِيُّ ﷺ بَعۡدَ أَيَّامٍ وَعَلَيۡهِ وَضَرٌ مِنۡ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَهۡيَمۡ يَا عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ؟). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (فَمَا سُقۡتَ فِيهَا؟) فَقَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

3937. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang, lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dirinya dan Sa’d bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Kemudian Sa’d menawarkan kepadanya untuk membagi dua keluarga dan hartanya, namun ‘Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana letak pasar!”

Maka ia mendapatkan keuntungan berupa sedikit keju dan samin. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya setelah beberapa hari dalam keadaan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Ada apa ini, wahai ‘Abdurrahman?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita dari kalangan Ansar.”

Beliau bertanya, “Apa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma.”

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3781

٣٧٨١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَيۡنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، وَآخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، وَكَانَ كَثِيرَ الۡمَالِ، فَقَالَ سَعۡدٌ: قَدۡ عَلِمَتِ الۡأَنۡصَارُ أَنِّي مِنۡ أَكۡثَرِهَا مَالًا، سَأَقۡسِمُ مَالِي بَيۡنِي وَبَيۡنَكَ شَطۡرَيۡنِ، وَلِي امۡرَأَتَانِ، فَانۡظُرۡ أَعۡجَبَهُمَا إِلَيۡكَ فَأُطَلِّقُهَا، حَتَّى إِذَا حَلَّتۡ تَزَوَّجۡتَهَا، فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ، فَلَمۡ يَرۡجِعۡ يَوۡمَئِذٍ حَتَّى أَفۡضَلَ شَيۡئًا مِنۡ سَمۡنٍ وَأَقِطٍ فَلَمۡ يَلۡبَثۡ إِلَّا يَسِيرًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَعَلَيۡهِ وَضَرٌ مِنۡ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَهۡيَمۡ؟). قَالَ: تَزَوَّجۡتُ امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ: (مَا سُقۡتَ فِيهَا؟) قَالَ: وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، أَوۡ نَوَاةً مِنۡ ذَهَبٍ، فَقَالَ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ). [طرفه في: ٢٠٤٩].

3781. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Ismail bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia berkata:

‘Abdurrahman bin ‘Auf datang kepada kami, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dirinya dan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d adalah orang yang kaya raya, maka ia berkata, “Sungguh kaum Ansar telah mengetahui bahwa aku adalah salah satu dari mereka yang paling banyak hartanya. Aku akan membagi hartaku antara aku dan engkau menjadi dua bagian. Aku juga memiliki dua istri, maka lihatlah mana yang lebih menarik bagimu, niscaya aku menceraikannya hingga apabila masa idahnya telah selesai, engkau bisa menikahinya.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluargamu.”

Maka tidaklah ia kembali pada hari itu melainkan telah mendapatkan sisa keuntungan berupa sedikit samin dan keju. Tidak lama kemudian, ia datang menemui Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya kepadanya, “Ada apa ini?”

Ia menjawab, “Aku telah menikahi seorang wanita dari kalangan Ansar.”

Beliau bertanya, “Apa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma,” atau “seberat biji kurma dari emas.”

Maka beliau bersabda, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2293

٢٢٩٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَدِمَ عَلَيۡنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، فَآخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ. [طرفه في: ٢٠٤٩].

2293. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Auf tiba di tempat kami, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara dia dengan Sa’d bin Ar-Rabi’.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3780

٣ - بَابُ إِخَاءُ النَّبِيِّ ﷺ بَيۡنَ الۡمُهَاجِرِينَ وَالۡأَنۡصَارِ
3. Bab Persaudaraan yang Ditetapkan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—antara Kaum Muhajirin dan Ansar


٣٧٨٠ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ قَالَ: لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ وَسَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، قَالَ لِعَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: إِنِّي أَكۡثَرُ الۡأَنۡصَارِ مَالًا، فَأَقۡسِمُ مَالِي نِصۡفَيۡنِ، وَلِي امۡرَأَتَانِ، فَانۡظُرۡ أَعۡجَبَهُمَا إِلَيۡكَ فَسَمِّهَا لِي أُطَلِّقۡهَا، فَإِذَا انۡقَضَتۡ عِدَّتُهَا فَتَزَوَّجۡهَا. قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهۡلِكَ وَمَالِكَ، أَيۡنَ سُوقُكُمۡ؟ فَدَلُّوهُ عَلَى سُوقِ بَنِي قَيۡنُقَاعَ، فَمَا انۡقَلَبَ إِلَّا وَمَعَهُ فَضۡلٌ مِنۡ أَقِطٍ وَسَمۡنٍ، ثُمَّ تَابَعَ الۡغُدُوَّ، ثُمَّ جَاءَ يَوۡمًا وَبِهِ أَثَرُ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَهۡيَمۡ؟). قَالَ: تَزَوَّجۡتُ، قَالَ: (كَمۡ سُقۡتَ إِلَيۡهَا؟). قَالَ: نَوَاةً مِنۡ ذَهَبٍ، أَوۡ وَزۡنَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ. شَكَّ إِبۡرَاهِيمُ. [طرفه في: ٢٠٤٨].

3780. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya. Beliau berkata:

Ketika mereka tiba di Madinah, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antara ‘Abdurrahman dan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata kepada ‘Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya, maka aku akan membagi setengah hartaku untukmu. Aku memiliki dua istri. Lihatlah yang paling kamu sukai dari keduanya lalu sebutkan namanya kepadaku, maka aku akan menceraikannya. Jika masa idahnya telah selesai, kamu bisa menikahinya.”

‘Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Di mana pasar kalian?”

Lalu mereka menunjukkannya ke pasar Bani Qainuqa’. Maka tidaklah ia kembali melainkan ia membawa sisa keuntungan berupa keju dan samin. Kemudian ia terus berangkat (ke pasar) di hari-hari berikutnya. Lalu pada suatu hari ia datang dan pada dirinya terdapat bekas warna kuning (parfum). Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Ada apa ini?”

Ia menjawab, “Aku telah menikah.”

Beliau bertanya, “Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma,” atau “seberat biji kurma dari emas.” Ibrahim ragu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2232, 2233, dan 2234

٢٢٣٢، ٢٢٣٣ - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَ ابۡنُ شِهَابٍ: أَنَّ عُبَيۡدَ اللهِ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ زَيۡدَ بۡنَ خَالِدٍ وَأَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَاهُ: أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللهِ ﷺ يُسۡأَلُ عَنِ الۡأَمَةِ تَزۡنِي وَلَمۡ تُحۡصَنۡ، قَالَ: (اجۡلِدُوهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَاجۡلِدُوهَا، ثُمَّ بِيعُوهَا) بَعۡدَ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ. [طرفاه في: ٢١٥٢، ٢١٥٤].

2232, 2233. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku: Ya’qub menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Shalih. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan: ‘Ubaidullah mengabarkan kepadanya: Zaid bin Khalid dan Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkan kepadanya:

Keduanya mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya mengenai budak wanita yang berzina dan ia belum menikah. Beliau bersabda, “Cambuklah ia, kemudian jika ia berzina lagi maka cambuklah ia, kemudian juallah ia,” setelah kali yang ketiga atau keempat.

٢٢٣٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي اللَّيۡثُ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِذَا زَنَتۡ أَمَةُ أَحَدِكُمۡ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا، فَلۡيَجۡلِدۡهَا الۡحَدَّ، وَلَا يُثَرِّبۡ عَلَيۡهَا، ثُمَّ إِنۡ زَنَتۡ فَلۡيَجۡلِدۡهَا الۡحَدَّ وَلَا يُثَرِّبۡ، ثُمَّ إِنۡ زَنَتِ الثَّالِثَةَ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا، فَلۡيَبِعۡهَا وَلَوۡ بِحَبۡلٍ مِنۡ شَعَرٍ). [طرفه في: ٢١٥٢].

2234. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepadaku dari Sa’id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila budak wanita salah seorang dari kalian berzina dan telah jelas perzinaan tersebut, maka hendaklah ia mencambuknya sebagai hukuman hudud, dan janganlah ia mencelanya. Kemudian jika ia berzina lagi, maka hendaklah ia mencambuknya sebagai hukuman hudud dan janganlah ia mencelanya. Kemudian jika ia berzina untuk yang ketiga kalinya dan telah jelas perzinaan tersebut, maka hendaklah ia menjualnya walaupun hanya seharga seutas tali dari rambut.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2230 dan 2231

١١٠ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُدَبَّرِ
110. Bab Menjual Budak Mudabbar (Budak yang Telah Dijanjikan oleh Tuannya untuk Merdeka Segera Setelah Sang Tuan Meninggal Dunia)


٢٢٣٠ - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ كُهَيۡلٍ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَاعَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمُدَبَّرَ. [طرفه في: ٣١٤١].

2230. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami: Isma’il menceritakan kepada kami dari Salamah bin Kuhail, dari ‘Atha`, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjual budak mudabbar.

٢٢٣١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو: سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: بَاعَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ.

2231. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr: Ia mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjualnya (budak mudabbar tersebut).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2225

١٠٤ - بَابُ بَيۡعِ التَّصَاوِيرِ الَّتِي لَيۡسَ فِيهَا رُوحٌ، وَمَا يُكۡرَهُ مِنۡ ذٰلِكَ
104. Bab Penjualan Gambar-Gambar yang Tidak Memiliki Nyawa dan Hal-hal yang Dimakruhkan darinya


٢٢٢٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: أَخۡبَرَنَا عَوۡفٌ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي الۡحَسَنِ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، إِذۡ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبَّاسٍ، إِنِّي إِنۡسَانٌ إِنَّمَا مَعِيشَتِي مِنۡ صَنۡعَةِ يَدِي، وَإِنِّي أَصۡنَعُ هٰذِهِ التَّصَاوِيرَ. فَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعۡتُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: سَمِعۡتُهُ يَقُولُ: (مَنۡ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللهَ مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنۡفُخَ فِيهَا الرُّوحَ، وَلَيۡسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا). فَرَبَا الرَّجُلُ رَبۡوَةً شَدِيدَةً وَاصۡفَرَّ وَجۡهُهُ، فَقَالَ: وَيۡحَكَ، إِنۡ أَبَيۡتَ إِلَّا أَنۡ تَصۡنَعَ، فَعَلَيۡكَ بِهٰذَا الشَّجَرِ، كُلِّ شَيۡءٍ لَيۡسَ فِيهِ رُوحٌ. قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: سَمِعَ سَعِيدُ بۡنُ أَبِي عَرُوبَةَ مِنَ النَّضۡرِ بۡنِ أَنَسٍ هٰذَا الۡوَاحِدَ. [الحديث ٢٢٢٥ - طرفاه في: ٥٩٦٣، ٧٠٤٢].

2225. ‘Abdullah bin ‘Abdul-Wahhab telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: ‘Auf mengabarkan kepada kami dari Sa’id bin Abul-Hasan. Ia berkata:

Aku pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—ketika seorang laki-laki datang kepadanya lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abbas, sesungguhnya aku adalah manusia yang penghidupanku hanyalah dari hasil kerajinan tanganku dan aku membuat gambar-gambar ini.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku tidak akan menyampaikan kepadamu kecuali apa yang aku dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Aku mendengar beliau bersabda, ‘Barang siapa menggambar suatu gambar (makhluk bernyawa), Allah akan menyiksanya hingga ia meniupkan nyawa ke dalamnya, padahal ia tidak akan mampu meniupkannya selama-lamanya.’”

Laki-laki itu napasnya menjadi sangat menyesak dan wajahnya menjadi pucat. Lalu Ibnu ‘Abbas berkata, “Celaka engkau, jika engkau tetap ingin membuat gambar, maka buatlah (gambar) pepohonan ini, segala sesuatu yang tidak memiliki nyawa.”

Abu ‘Abdillah berkata: Sa’id bin Abu ‘Arubah mendengar dari An-Nadhr bin Anas satu hadis ini saja.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2223 dan 2224

١٠٣ - بَابٌ لَا يُذَابُ شَحۡمُ الۡمَيۡتَةِ وَلَا يُبَاعُ وَدَكُهُ
103. Bab Lemak Bangkai Tidak Boleh Dilelehkan dan Minyaknya Tidak Boleh Dijual


رَوَاهُ جَابِرٌ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Hal ini diriwayatkan oleh Jabir—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٢٢٢٣ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي طَاوُسٌ: أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: بَلَغَ عُمَرَ أَنَّ فُلَانًا بَاعَ خَمۡرًا، فَقَالَ: قَاتَلَ اللهُ فُلَانًا، أَلَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (قَاتَلَ اللهُ الۡيَهُودَ حُرِّمَتۡ عَلَيۡهِمُ الشُّحُومُ، فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا). [الحديث ٢٢٢٣ - طرفه في: ٣٤٦٠].

2223. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Dinar menceritakan kepada kami. Ia berkata: Thawus mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Berita sampai kepada Umar bahwa seseorang menjual khamar, lalu ia berkata, “Semoga Allah membinasakan orang itu, tidakkah ia tahu bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda: ‘Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, diharamkan atas mereka lemak (bangkai), namun mereka melelehkannya lalu menjualnya.’”

٢٢٢٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (قَاتَلَ اللهُ يَهُودَ، حُرِّمَتۡ عَلَيۡهِمُ الشُّحُومُ، فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثۡمَانَهَا). قَالَ أَبُو عَبۡد اللهِ: قَاتَلَهُمۡ اللهُ: لَعَنَهُمۡ. ﴿قُتِلَ﴾: لُعِنَ. ﴿الۡخَرَّاصُونَ﴾ [الذاريات: ١٠]: الۡكَذَّابُونَ.

2224. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab: Aku mendengar Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, diharamkan atas mereka lemak (bangkai), namun mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya.”

Abu ‘Abdillah berkata: Qātalahumullāh berarti Allah melaknat mereka. “Qutila” berarti dilaknat. “Al-Kharrāṣūn” (QS Az-Zariyat: 10) berarti orang-orang yang banyak berdusta.