٢٦٣٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ قَالَ:
حَدَّثَنِي عَطَاءٌ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَتۡ
لِرِجَالٍ مِنَّا فُضُولُ أَرَضِينَ، فَقَالُوا: نُؤَاجِرُهَا بِالثُّلُثِ
وَالرُّبُعِ وَالنِّصۡفِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ كَانَتۡ لَهُ أَرۡضٌ
فَلۡيَزۡرَعۡهَا، أَوۡ لِيَمۡنَحۡهَا أَخَاهُ، فَإِنۡ أَبَى فَلۡيُمۡسِكۡ
أَرۡضَهُ). [طرفه في:
٢٣٤٠].
2632. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Auza’i
menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Atha` menceritakan kepadaku dari
Jabir—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:
Beberapa orang di antara kami memiliki kelebihan lahan pertanian, lalu mereka
berkata, “Kami akan menyewakannya dengan sistem bagi hasil sepertiga,
seperempat, atau separuh.”
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa memiliki tanah
hendaklah ia menanamnya atau memberikannya (pinjam pakai) kepada saudaranya.
Jika ia tidak mau, maka hendaklah ia menahan (membiarkan) tanahnya.”