Cari Blog Ini

Halaman

Shahih Muslim hadis nomor 593

١٣٧ - (٥٩٣) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنِ الۡمُسَيَّبِ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ وَرَّادٍ مَوۡلَى الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ؛ قَالَ: كَتَبَ الۡمُغِيرَةُ بۡنُ شُعۡبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ وَسَلَّمَ، قَالَ: (لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الۡمُلۡكُ وَلَهُ الۡحَمۡدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌ. اللّٰهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعۡطَيۡتَ، وَلَا مُعۡطِيَ لِمَا مَنَعۡتَ، وَلَا يَنۡفَعُ ذَا الۡجَدِّ مِنۡكَ الۡجَدُّ).


137. (593). Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Jarir mengabarkan kepada kami dari Manshur, dari Al-Musayyab bin Rafi’, dari Warrad maula Al-Mughirah bin Syu’bah. Ia berkata: Al-Mughirah bin Syu’bah menulis surat kepada Mu’awiyah bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila selesai dari salat dan mengucapkan salam, beliau membaca: “Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Allāhumma lā māni‘a limā a‘ṭaita wa lā mu‘ṭiya limā mana‘ta wa lā yanfa‘u żal-jaddi minkal-jadd. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, dan kemuliaan tidak bermanfaat bagi orang yang memilikinya dari azab-Mu.)"

(...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ وَأَحۡمَدُ بۡنُ سِنَانٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنِ الۡمُسَيَّبِ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ وَرَّادٍ مَوۡلَى الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ، عَنِ الۡمُغِيرَةِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... مِثۡلَهُ.

قَالَ أَبُو بَكۡرٍ وَأَبُو كُرَيۡبٍ فِي رِوَايَتِهِمَا: قَالَ: فَأَمۡلَاهَا عَلَيَّ الۡمُغِيرَةُ. وَكَتَبۡتُ بِهَا إِلَى مُعَاوِيَةَ.

Abu Bakr bin Abu Syaibah, Abu Kuraib, dan Ahmad bin Sinan telah menceritakannya kepada kami. Mereka berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Al-Musayyab bin Rafi’, dari Warrad maula Al-Mughirah bin Syu’bah, dari Al-Mughirah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hadis yang semisal dengannya.

Abu Bakr dan Abu Kuraib berkata dalam riwayat keduanya: Warrad berkata: Al-Mughirah mendiktekan lafaznya kepadaku, dan aku menuliskan surat dengannya kepada Mu’awiyah.

(...) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدَةُ بۡنُ أَبِي لُبَابَةَ: أَنَّ وَرَّادًا مَوۡلَى الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ قَالَ: كَتَبَ الۡمُغِيرَةُ بۡنُ شُعۡبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ - كَتَبَ ذٰلِكَ الۡكِتَابَ لَهُ وَرَّادٌ -: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ حِينَ سَلَّمَ بِمِثۡلِ حَدِيثِهِمَا. إِلَّا قَوۡلَهُ: (وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ)، فَإِنَّهُ لَمۡ يَذۡكُرۡ.

Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami: ‘Abdah bin Abu Lubabah mengabarkan kepadaku: Warrad maula Al-Mughirah bin Syu’bah berkata: Al-Mughirah bin Syu’bah menulis surat kepada Mu’awiyah—Warrad yang menuliskan surat itu untuknya—: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengucapkan ketika beliau salam ... seperti hadis keduanya, kecuali ucapan beliau: “wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr”, karena ia tidak menyebutkannya.

(...) - وَحَدَّثَنَا حَامِدُ بۡنُ عُمَرَ الۡبَكۡرَاوِيُّ: حَدَّثَنَا بِشۡرٌ - يَعۡنِي ابۡنَ الۡمُفَضَّلِ -. (ح) قَالَ: وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنِي أَزۡهَرُ، جَمِيعًا عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، عَنۡ وَرَّادٍ، كَاتِبِ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ؛ قَالَ: كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الۡمُغِيرَةِ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ مَنۡصُورٍ وَالۡأَعۡمَشِ.

Hamid bin ‘Umar Al-Bakrawi telah menceritakan kepada kami: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ia berkata: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami: Azhar menceritakan kepadaku. Semuanya dari Ibnu ‘Aun, dari Abu Sa’id, dari Warrad juru tulis Al-Mughirah bin Syu’bah. Ia berkata: Mu’awiyah menulis surat kepada Al-Mughirah ... seperti hadis Manshur dan Al-A’masy.

١٣٨ - (...) - وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ الۡمَكِّيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَبۡدَةُ بۡنُ أَبِي لُبَابَةَ وَعَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ عُمَيۡرٍ، سَمِعَا وَرَّادًا كَاتِبَ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ شُعۡبَةَ يَقُولُ: كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الۡمُغِيرَةِ: اكۡتُبۡ إِلَيَّ بِشَيۡءٍ سَمِعۡتَهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ. قَالَ: فَكَتَبَ إِلَيۡهِ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ إِذَا قَضَىٰ الصَّلَاةَ: (لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الۡمُلۡكُ وَلَهُ الۡحَمۡدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌ. اللّٰهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعۡطَيۡتَ، وَلَا مُعۡطِيَ لِمَا مَنَعۡتَ، وَلَا يَنۡفَعُ ذَا الۡجَدِّ مِنۡكَ الۡجَدُّ).

138. Ibnu Abu ‘Umar Al-Makki telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Abdah bin Abu Lubabah dan ‘Abdul Malik bin ‘Umair menceritakan kepada kami. Keduanya mendengar Warrad juru tulis Al-Mughirah bin Syu’bah berkata: Mu’awiyah menulis surat kepada Al-Mughirah: Tuliskanlah untukku sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Warrad berkata: Maka Al-Mughirah menulis surat kepadanya:

Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengucapkan apabila beliau telah menyelesaikan salat, “Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Allāhumma lā māni‘a limā a‘ṭaita wa lā mu‘ṭiya limā mana‘ta wa lā yanfa‘u żal-jaddi minkal-jadd. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, dan kemuliaan tidak bermanfaat bagi orang yang memilikinya dari azab-Mu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2724 dan 2725

٩ - بَابُ الشُّرُوطِ الَّتِي لَا تَحِلُّ فِي الۡحُدُودِ
9. Bab Syarat-Syarat yang Tidak Halal dalam Hukuman Hudud


٢٧٢٤، ٢٧٢٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهُمَا قَالَا: إِنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَعۡرَابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنۡشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيۡتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ، فَقَالَ الۡخَصۡمُ الآخَرُ، وَهُوَ أَفۡقَهُ مِنۡهُ: نَعَمۡ فَاقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، وَائۡذَنۡ لِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (قُلۡ). قَالَ: إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا، فَزَنَى بِامۡرَأَتِهِ، وَإِنِّي أُخۡبِرۡتُ أَنَّ عَلَى ابۡنِي الرَّجۡمَ، فَافۡتَدَيۡتُ مِنۡهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ، فَسَأَلۡتُ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، فَأَخۡبَرُونِي: أَنَّمَا عَلَى ابۡنِي جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَأَنَّ عَلَى امۡرَأَةِ هٰذَا الرَّجۡمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، الۡوَلِيدَةُ وَالۡغَنَمُ رَدٌّ عَلَيۡكَ، وَعَلَى ابۡنِكَ جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، اغۡدُ يَا أُنَيۡسُ إِلَى امۡرَأَةِ هٰذَا، فَإِنِ اعۡتَرَفَتۡ فَارۡجُمۡهَا). قَالَ: فَغَدَا عَلَيۡهَا فَاعۡتَرَفَتۡ، فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَرُجِمَتۡ. [طرفاه في: ٢٣١٤، ٢٣١٥].

2724, 2725. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhaniradhiyallahu ‘anhuma—bahwasanya keduanya berkata:

Seorang lelaki dari Arab Badui mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu demi Allah agar engkau memutuskan perkara bagiku dengan Kitabullah.”

Lalu lawannya yang lain—dan ia lebih paham daripadanya—berkata, “Ya, putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku (untuk bicara).”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Bicaralah.”

Ia berkata, “Sesungguhnya anak lakiku dahulu adalah pekerja harian pada orang ini, lalu ia berzina dengan istrinya. Dan sesungguhnya aku diberitahu bahwa anakku harus dirajam, maka aku menebusnya darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanita. Kemudian aku bertanya kepada para ahli ilmu, lalu mereka memberitahuku bahwa kewajiban atas anakku hanyalah dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan hukuman rajam adalah atas istri orang ini.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Budak wanita dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu, dan atas anakmu hukuman cambuk seratus kali serta pengasingan selama satu tahun. Pergilah besok pagi wahai Unais kepada istri orang ini, jika ia mengaku, maka rajamlah ia.”

Perawi berkata: Unais pergi kepada wanita itu besok harinya lalu ia mengaku, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkannya (untuk dirajam), lalu wanita itu pun dirajam.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2695 dan 2696

٥ - بَابٌ إِذَا اصۡطَلَحُوا عَلَى صُلۡحِ جَوۡرٍ فَالصُّلۡحُ مَرۡدُودٌ
5. Bab Apabila Mereka Bersepakat atas Perdamaian yang Zalim, Maka Perdamaian Itu Tertolak


٢٦٩٥، ٢٦٩٦ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَا: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، اقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، فَقَامَ خَصۡمُهُ فَقَالَ: صَدَقَ، اقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، فَقَالَ الۡأَعۡرَابِيُّ: إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا، فَزَنَى بِامۡرَأَتِهِ، فَقَالُوا لِي: عَلَى ابۡنِكَ الرَّجۡمُ، فَفَدَيۡتُ ابۡنِي مِنۡهُ بِمِائَةٍ مِنَ الۡغَنَمِ وَوَلِيدَةٍ، ثُمَّ سَأَلۡتُ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ فَقَالُوا: إِنَّمَا عَلَى ابۡنِكَ جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، أَمَّا الۡوَلِيدَةُ وَالۡغَنَمُ فَرَدٌّ عَلَيۡكَ، وَعَلَى ابۡنِكَ جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَأَمَّا أَنۡتَ يَا أُنَيۡسُ - لِرَجُلٍ - فَاغۡدُ عَلَى امۡرَأَةِ هٰذَا فَارۡجُمۡهَا). فَغَدَا عَلَيۡهَا أُنَيۡسٌ فَرَجَمَهَا.

[طرفاه في: ٢٣١٤، ٢٣١٥].

2695, 2696. Adam telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhaniradhiyallahu ‘anhuma—. Keduanya berkata:

Seorang Arab Badui datang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah.”

Lalu lawannya berdiri seraya berkata, “Ia benar, putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah.”

Orang Arab Badui itu berkata, “Sesungguhnya anak lakiku dahulu adalah pekerja harian pada orang ini, lalu ia berzina dengan istrinya. Orang-orang mengatakan kepadaku: ‘Anakmu harus dirajam,’ maka aku menebus anakku darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanita. Kemudian aku bertanya kepada para ahli ilmu, lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kewajiban atas anakmu hanyalah dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.’”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sungguh, aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Adapun budak wanita dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu, dan atas anakmu hukuman cambuk seratus kali serta pengasingan selama satu tahun. Adapun engkau, wahai Unais—kepada seorang lelaki—pergilah besok pagi kepada istri orang ini, lalu rajamlah ia.”

Unais pergi besok harinya kepada wanita itu lalu merajamnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2649

٢٦٤٩ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ أَمَرَ فِيمَنۡ زَنَى وَلَمۡ يُحۡصِنۡ بِجَلۡدِ مِائَةٍ، وَتَغۡرِيبِ عَامٍ. [طرفه في: ٢٣١٤].

2649. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Zaid bin Khalidradhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau memerintahkan terhadap orang yang berzina dan belum pernah menikah untuk dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2777

٢٧٧٧ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ عُمَرَ اشۡتَرَطَ فِي وَقۡفِهِ: أَنۡ يَأۡكُلَ مَنۡ وَلِيَهُ وَيُوكِلَ صَدِيقَهُ، غَيۡرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا. [طرفه في: ٢٣١٣].

2777. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: ‘Umar mensyaratkan dalam wakafnya bahwa orang yang mengurusnya (nazir) boleh mengambil manfaat darinya dan menyedekahkan kepada sahabatnya tanpa bermaksud menimbun harta.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2773

٣٠ - بَابُ الۡوَقۡفِ لِلۡغَنِيِّ وَالۡفَقِيرِ وَالضَّيۡفِ
30. Bab Wakaf untuk Orang Kaya, Orang Fakir, dan Tamu


٢٧٧٣ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَجَدَ مَالًا بِخَيۡبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَأَخۡبَرَهُ، قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ تَصَدَّقۡتَ بِهَا). فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الۡفُقَرَاءِ وَالۡمَسَاكِينِ، وَذِي الۡقُرۡبَى، وَالضَّيۡفِ. [طرفه في: ٢٣١٣].

2773. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—memperoleh harta (berupa tanah) di Khaibar, lalu ia mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mengabarkannya kepada beliau. Beliau bersabda, “Jika engkau mau, sedekahkanlah ia.”

‘Umar pun menyedekahkan hasil tanahnya bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, dan tamu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2772

٢٩ - بَابُ الۡوَقۡفِ كَيۡفَ يُكۡتَبُ؟
29. Bab Bagaimana (Akad) Wakaf Ditulis?


٢٧٧٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَوۡنٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَصَابَ عُمَرُ بِخَيۡبَرَ أَرۡضًا، فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: أَصَبۡتُ أَرۡضًا، لَمۡ أُصِبۡ مَالًا قَطُّ أَنۡفَسَ مِنۡهُ، فَكَيۡفَ تَأۡمُرُنِي بِهِ؟ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ حَبَّسۡتَ أَصۡلَهَا وَتَصَدَّقۡتَ بِهَا). فَتَصَدَّقَ عُمَرُ: أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصۡلُهَا، وَلَا يُوهَبُ، وَلَا يُورَثُ، فِي الۡفُقَرَاءِ، وَالۡقُرۡبَى، وَالرِّقَابِ، وَفِي سَبِيلِ اللهِ، وَالضَّيۡفِ، وَابۡنِ السَّبِيلِ، وَلَا جُنَاحَ عَلَى مَنۡ وَلِيَهَا أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡهَا بِالۡمَعۡرُوفِ، أَوۡ يُطۡعِمَ صَدِيقًا غَيۡرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ. [طرفه في: ٢٣١٣].

2772. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Aun menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

‘Umar memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seraya berkata, “Aku memperoleh sebidang tanah yang belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga daripadanya, maka apa yang engkau perintahkan kepadaku mengenainya?”

Beliau bersabda, “Jika engkau mau, tahanlah pokok hartanya dan sedekahkanlah hasilnya.”

‘Umar pun menyedekahkannya dengan syarat bahwa harta pokoknya tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwarisi, diperuntukkan bagi orang-orang fakir, kaum kerabat, (pembebasan) para budak, di jalan Allah, tamu, dan ibnusabil. Tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk mengambil manfaat darinya secara patut, atau menyedekahkan kepada sahabatnya tanpa bermaksud menimbun harta padanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2764

٢٣ - بَابٌ وَمَا لِلۡوَصِيِّ أَنۡ يَعۡمَلَ فِي مَالِ الۡيَتِيمِ، وَمَا يَأۡكُلُ مِنۡهُ بِقَدۡرِ عُمَالَتِهِ
23. Bab Apa yang Boleh Dilakukan oleh Penerima Wasiat dalam Mengelola Harta Anak Yatim, dan Apa yang Boleh Ia Gunakan dari Harta Tersebut Sesuai Kadar Upah Kerjanya


٢٧٦٤ - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ الۡأَشۡعَثِ، حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوۡلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا صَخۡرُ بۡنُ جُوَيۡرِيَةَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ عُمَرَ تَصَدَّقَ بِمَالٍ لَهُ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَكَانَ يُقَالُ لَهُ: ثَمۡغٌ، وَكَانَ نَخۡلًا، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي اسۡتَفَدۡتُ مَالًا، وَهُوَ عِنۡدِي نَفِيسٌ، فَأَرَدۡتُ أَنۡ أَتَصَدَّقَ بِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (تَصَدَّقۡ بِأَصۡلِهِ، لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ، وَلَكِنۡ يُنۡفَقُ ثَمَرُهُ). فَتَصَدَّقَ بِهِ عُمَرُ، فَصَدَقَتُهُ ذٰلِكَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَفِي الرِّقَابِ، وَالۡمَسَاكِينِ، وَالضَّيۡفِ، وَابۡنِ السَّبِيلِ، وَلِذِي الۡقُرۡبَى، وَلَا جُنَاحَ عَلَى مَنۡ وَلِيَهُ أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡهُ بِالۡمَعۡرُوفِ، أَوۡ يُوكِلَ صَدِيقَهُ غَيۡرَ مُتَمَوِّلٍ بِهِ. [طرفه في: ٢٣١٣].

2764. Harun bin Al-Asy’ats telah menceritakan kepada kami: Abu Sa’id maula Bani Hasyim menceritakan kepada kami: Shakhr bin Juwairiyah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—:

‘Umar menyedekahkan harta miliknya pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang bernama Tsamgh, yaitu berupa kebun kurma. ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memperoleh harta yang sangat berharga bagiku, maka aku ingin menyedekahkannya.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sedekahkanlah harta pokoknya, (dengan cara) tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwarisi, melainkan buahnya diinfakkan.”

‘Umar pun menyedekahkannya, dan sedekahnya itu diperuntukkan di jalan Allah, untuk pembebasan budak, orang-orang miskin, tamu, ibnusabil, dan kaum kerabat. Tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya untuk mengambil manfaat darinya secara patut, atau membagikan hasilnya kepada sahabatnya tanpa bermaksud menimbun harta dengannya.