Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Musnad Ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musnad Ahmad. Tampilkan semua postingan

Musnad Ahmad hadis nomor 27629

٢٧٦٢٩ (٢٧٠٨٩) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ. قَالَ: حَدَّثَنَا هَانِئُ بۡنُ عُثۡمَانَ الۡجُهَنِيُّ، عَنۡ أُمِّهِ حُمَيۡضَةَ بِنۡتِ يَاسِرٍ (٦/٣٧١)، عَنۡ جَدَّتِهَا يُسَيۡرَةَ، وَكَانَتۡ مِنَ الۡمُهَاجِرَاتِ. قَالَتۡ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: يَا نِسَاءَ (الۡمُؤۡمِنَينَ)، عَلَيۡكُنَّ بِالتَّهۡلِيلِ وَالتَّسۡبِيحِ وَالتَّقۡدِيسِ، وَلَا تَغۡفُلۡنَ فَتَنۡسَيۡنَ الرَّحۡمَةَ، وَاعۡقِدۡنَ بِالۡأَنَامِلِ، فَإِنَّهُنَّ مَسۡئُولَاتٌ مُسۡتَنۡطَقَاتٌ. [صححه ابن حبان (٨٤٢)، والحاكم (١/٥٤٧). قال الترمذي: غريب. قال الۡألباني: حسن (أبو داود: ١٥٠١، الترمذي: ٣٥٨٣). قال شعيب: إسناده محتمل للتحسين].

27629. (27089). Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Hani` bin ‘Utsman Al-Juhani menceritakan kepada kami dari ibunya, Humaidhah binti Yasir, dari neneknya, Yusairah—dan ia termasuk wanita dari kaum Muhajirin—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada kami, “Wahai para wanita mukmin, hendaklah kalian membaca tahlil, tasbih, dan takdis, dan janganlah kalian lalai sehingga kalian melupakan rahmat, serta hitunglah (zikir tersebut) dengan ujung-ujung jari, karena sesungguhnya mereka (jari-jemari) akan ditanya dan diminta untuk berbicara.”

Musnad Ahmad hadis nomor 22762

٢٢٧٦٢ (٢٢٣٩٩) - حَدَّثَنَا الۡأَسۡوَدُ بۡنُ عَامِرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ - يَعۡنِي ابۡنَ عَيَّاشٍ -، عَنۡ لَيۡثٍ، عَنۡ أَبِي الۡخَطَّابِ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ ثَوۡبَانَ. قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الرَّاشِيَ وَالۡمُرۡتَشِيَ وَالرَّائِشَ – يَعۡنِي الَّذِي يَمۡشِي بَيۡنَهُمَا.

22762. (22399). Al-Aswad bin ‘Amir telah menceritakan kepada kami: Abu Bakr yaitu Ibnu ‘Ayyasy menceritakan kepada kami dari Laits, dari Abu Al-Khaththab, dari Abu Zur’ah, dari Tsauban. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara; yaitu: orang yang menjadi penghubung antara keduanya.

Musnad Ahmad hadis nomor 15870

١٥٨٧٠ (١٥٧٧٨) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِدۡرِيسَ- يَعۡنِي الشَّافِعِيَّ- عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ أَبَاهُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ كَانَ يُحَدِّثُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: إِنَّمَا نَسَمَةُ الۡمُؤۡمِنِ طَائِرٌ يَعۡلُقُ فِي شَجَرِ الۡجَنَّةِ، حَتَّى يُرۡجِعَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُ. [راجع: ١٥٨٦٨].

15870. (15778). Muhammad bin Idris—yakni Asy-Syafi’i—telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik; bahwasanya ia mengabarkan kepadanya: Ayahnya, Ka’b bin Malik, pernah menceritakan; bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Roh seorang mukmin itu bagaikan seekor burung yang bertengger di pohon janah, hingga Allah—tabaraka wa ta’ala—mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.”

Musnad Ahmad hadis nomor 2154

٢١٥٤ – قَالَ هُشَيۡمٌ، أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي لَيۡلَى، عَنۡ دَاوُدَ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: صُومُوا يَوۡمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الۡيَهُودَ، صُومُوا قَبۡلَهُ يَوۡمًا، أَوۡ بَعۡدَهُ يَوۡمًا. [إسناده ضعيف. صححه ابن خزيمة (٢٠٩٥)].

2154. Husyaim berkata: Ibnu Abu Laila mengabarkan kepada kami dari Dawud bin ‘Ali, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Ibnu ‘Abbas. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi pada hari itu; berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Musnad Ahmad hadis nomor 27437 dan 27438

٢٧٤٣٧ (٢٦٨٩٨) - حَدَّثَنَا يَعۡلَى بۡنُ عُبَيۡدٍ. قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ- يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي خَالِدٍ- عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِئٍ. قَالَتۡ: لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ حَجَبُوهُ، وَأُتِيَ بِمَاءٍ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ صَلَّى الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مَا رَآهُ أَحَدٌ بَعۡدَهَا صَلَّاهَا.

27437. (26898). Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Umu Hani`. Ia berkata: Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk pada hari penaklukan kota Makkah, orang-orang menutupi beliau, lalu dibawakan air kepada beliau maka beliau pun mandi. Kemudian beliau melaksanakan salat Duha sebanyak delapan rakaat. Tidak ada seorang pun yang melihat beliau melakukan salat Duha setelah itu.

٢٧٤٣٨ (٢٦٨٩٩) - حَدَّثَنَا هَارُونُ. قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ. قَالَ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ، أَنَّ أَبَاهُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنۡتَ أَبِي طَالِبٍ أَخۡبَرَتۡهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَى بَعۡدَمَا ارۡتَفَعَ النَّهَارُ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، فَأَمَرَ بِثَوۡبٍ، فَسُتِرَ عَلَيۡهِ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، لَا أَدۡرِي، أَقِيَامُهُ فِيهَا أَطۡوَلُ، أَوۡ رُكُوعُهُ أَوۡ سُجُودُهُ، كُلُّ ذٰلِكَ مِنۡهُ مُتَقَارِبٌ، قَالَتۡ: فَلَمۡ أَرَهُ سَبَّحَهَا قَبۡلُ وَلَا بَعۡدُ. [صححه مسلم (٣٣٦)، وابن خزيمة (١٢٣٥)، وابن حبان (١١٨٧)]. [راجع: ٢٧٤٢٧].

27438. (26899). Harun telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepadaku bahwa ayahnya, yaitu ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, menceritakan kepadanya: Umu Hani` binti Abu Thalib mengabarkannya:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang setelah hari mulai siang pada hari penaklukan kota Makkah, lalu beliau meminta selembar kain, maka beliau pun ditutupi dengan kain tersebut kemudian mandi. Setelah itu beliau berdiri lalu melaksanakan salat delapan rakaat. Aku tidak tahu, apakah berdirinya beliau di dalam salat itu yang lebih lama, ataukah rukuknya, ataukah sujudnya, sebab semua gerakan beliau itu lamanya berdekatan.

Umu Hani` berkata: Dan aku belum pernah melihat beliau melaksanakan salat sunah tersebut sebelum maupun sesudah peristiwa itu.

Musnad Ahmad hadis nomor 4791

٤٧٩١ - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ يَعۡلَى بۡنِ عَطَاءٍ، عَنۡ عَلِيٍّ الۡأَزۡدِيِّ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: صَلَاةُ اللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ مَثۡنَى مَثۡنَى. [صححه ابن خزيمة (١٢١٠). قال ابن حجر: وأكثر أئمة الحديث أعلوا هذه الزيادة (النهار). قال الۡألباني: صحيح (أبو داود: ١٢٩٥، ابن ماجه: ١٣٢٢، الترمذي: ٥٩٧، النسائي: ٣/٢٢٧. قال شعيب: صحيح دون النهار]. [انظر: ٥١٢٢].

4791. Waki’ telah menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Ya’la bin ‘Atha`, dari ‘Ali Al-Azdiy, dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Salat malam dan siang itu dua rakaat dua rakaat.”

Musnad Ahmad hadis nomor 12611

١٢٦١١ (١٢٥٨٣) - حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ مُوسَى (قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ عَبۡدُ اللهِ: وَسَمِعۡتُهُ أَنَا مِنَ الۡحَكَمِ بۡنِ مُوسَى) حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ أَبِي الرِّجَالِ، عَنِ نُبَيۡطِ بۡنِ (عُمَرَ)، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنۡ صَلَّى فِي مَسۡجِدِي أَرۡبَعِينَ صَلَاةً لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتۡ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الۡعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ.

12611. (12583). Al-Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami. (Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah berkata. Aku pun mendengarnya dari Al-Hakam bin Musa): ‘Abdurrahman bin Abu Ar-Rijal menceritakan kepada kami dari Nubaith bin ‘Umar, dari Anas bin Malik, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa salat di masjidku empat puluh salat, tidak ada satu salat pun yang terlewatkan darinya, maka dicatat baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari azab, dan terbebas dari kemunafikan.”

Musnad Ahmad hadis nomor 184

١٨٤ - قَرَأۡتُ عَلَى يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ: عُثۡمَانُ بۡن غِيَاثٍ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ بُرَيۡدَةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ يَعۡمَرَ، وَحُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ الۡحِمۡيَرِيِّ، قَالَا:

184. Aku membacakan kepada Yahya bin Sa’id: ‘Utsman bin Ghiyats (berkata): ‘Abdullah bin Buraidah menceritakan kepadaku dari Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin ‘Abdurrahman Al-Himyari. Keduanya berkata:

لَقِينَا عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، فَذَكَرۡنَا الۡقَدَرَ، وَمَا يَقُولُونَ فِيهِ، فَقَالَ: إِذَا رَجَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ، فَقُولُوا: إِنَّ ابۡنَ عُمَرَ مِنۡكُمۡ بَرِيءٌ، وَأَنۡتُمۡ مِنۡهُ بُرَآءُ، ثَلاثَ مِرَارٍ، ثُمَّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، أَنَّهُمۡ بَيۡنَا هُمۡ جُلُوسٌ، أَوۡ قُعُودٌ، عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، جَاءَهُ رَجُلٌ يَمۡشِي حَسَنُ الۡوَجۡهِ، حَسَنُ الشَّعۡرِ، عَلَيۡهِ ثِيَابُ بَيَاضٍ، فَنَظَرَ الۡقَوۡمُ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ، مَا نَعۡرِفُ هٰذَا، وَمَا هٰذَا بِصَاحِبِ سَفَرٍ،

Kami bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Umar, lalu kami menyebutkan tentang takdir dan apa yang orang-orang bicarakan mengenainya. Maka Ibnu ‘Umar berkata, “Jika kalian kembali kepada mereka, katakanlah: ‘Sesungguhnya Ibnu ‘Umar berlepas diri dari kalian dan kalian pun berlepas diri darinya’ —tiga kali—.”

Kemudian Ibnu ‘Umar berkata: ‘Umar bin Al-Khaththab mengabarkan kepadaku bahwa tatkala mereka sedang duduk-duduk di dekat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, datanglah seorang pria berjalan kaki, berwajah tampan, berambut indah, dan mengenakan pakaian yang sangat putih. Orang-orang saling memandang satu sama lain (seraya berkata), “Kami tidak mengenal orang ini, namun dia juga bukan seorang musafir.”

ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، آتِيكَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، فَجَاءَ فَوَضَعَ رُكۡبَتَيۡهِ عِنۡدَ رُكۡبَتَيۡهِ، وَيَدَيۡهِ عَلَى فَخِذَيۡهِ، فَقَالَ: مَا الۡإِسۡلَامُ؟ قَالَ: شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمُ الصَّلاةَ، وَتُؤۡتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الۡبَيۡتَ، قَالَ: فَمَا الۡإِيمَانُ؟ قَالَ: أَنۡ تُؤۡمِنَ بِاللهِ وَمَلائِكَتِهِ، وَالۡجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَالۡبَعۡثِ بَعۡدَ الۡمَوۡتِ، وَالۡقَدَرِ كُلِّهِ، قَالَ: فَمَا الۡإِحۡسَانُ؟ قَالَ: أَنۡ تَعۡمَلَ لِلهِ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: فَمَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَا الۡمَسۡئُولُ عَنۡهَا بِأَعۡلَمَ مِنَ السَّائِلِ، قَالَ: فَمَا أَشۡرَاطُهَا؟ قَالَ: إِذَا الۡعُرَاةُ الۡحُفَاةُ الۡعَالَةُ رِعَاءُ الشَّاءِ تَطَاوَلُوا فِي الۡبُنۡيَانِ، وَوَلَدَتِ الۡإِمَاءُ أَرۡبَابَهُنَّ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: عَلَيَّ الرَّجُلَ، فَطَلَبُوهُ فَلَمۡ يَرَوۡا شَيۡئًا، فَمَكَثَ يَوۡمَيۡنِ، أَوۡ ثَلاثَةً، ثُمَّ قَالَ: يَا ابۡنَ الۡخَطَّابِ، أَتَدۡرِي مَنِ السَّائِلُ عَنۡ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ، قَالَ: ذَاكَ جِبۡرِيلُ جَاءَكُمۡ يُعَلِّمُكُمۡ دِينَكُمۡ.

Pria itu kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mendekatimu?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Maka pria itu datang lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha beliau, lalu bertanya, “Apakah Islam itu?”

Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah iman itu?”

Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, janah, neraka, hari kebangkitan setelah kematian, dan takdir seluruhnya.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah ihsan itu?”

Beliau menjawab, “Kamu beramal karena Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu kapankah hari kiamat itu?”

Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya mengenainya lebih tahu daripada orang yang bertanya.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah tanda-tandanya?”

Beliau menjawab, “Jika orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan miskin, yaitu para penggembala kambing, saling berlomba meninggikan bangunan, dan jika budak wanita melahirkan tuannya.”

Ibnu ‘Umar berkata: Kemudian Rasulullah berkata, “Bawa pria itu kembali kepadaku!”

Mereka pun mencarinya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Beliau lalu berdiam selama dua atau tiga hari, kemudian berkata, “Wahai Ibnu Al-Khaththab, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tentang ini dan itu?”

‘Umar menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau berkata, “Itu adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”

قَالَ: وَسَأَلَهُ رَجُلٌ مِنۡ جُهَيۡنَةَ أَوۡ من مُزَيۡنَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ فِيمَ نَعۡمَلُ، أَفِي شَيۡءٍ قَدۡ خَلا أَوۡ مَضَى، أَوۡ فِي شَيۡءٍ يُسۡتَأۡنَفُ الۡآنَ؟ قَالَ: فِي شَيۡءٍ قَدۡ خَلا، أَوۡ مَضَى، فَقَالَ رَجُلٌ، أَوۡ بَعۡضُ الۡقَوۡمِ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِيمَ نَعۡمَلُ؟ قَالَ: أَهۡلُ الۡجَنَّةِ، يُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَأَهۡلُ النَّارِ يُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهۡلِ النَّارِ.

Ibnu ‘Umar berkata: Dan seorang pria dari kabilah Juhainah atau Muzainah bertanya kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, untuk apa kita beramal? Apakah semua ini terjadi sesuai takdir yang telah berlalu atau telah ditetapkan di masa lalu, ataukah takdir baru akan ditetapkan sekarang?”

Beliau menjawab, “Sesuai takdir yang telah berlalu atau telah ditetapkan di masa lalu.”

Maka pria itu—atau sebagian orang—bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal?”

Beliau menjawab, “Penduduk janah akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penduduk janah, dan penduduk neraka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penduduk neraka.”

قَالَ: يَحۡيَى قَالَ: هُوَ كَذَا.

Perawi berkata: Yahya berkata: Demikianlah hadisnya.

Musnad Ahmad hadis nomor 957

٩٥٧ - حَدَّثَنَا بَهۡزٌ وَأَبُو كَامِلٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ (قَالَ بَهۡزٌ: ) قَالَ: أَنۡبَأَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمۡرٍو الۡفَزَارِيُّ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ هِشَامٍ الۡمَخۡزُومِيِّ، عَنۡ عَلِيٍّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ (وِتۡرِهِ): اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنۡ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنۡ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنۡكَ، وَلَا أُحۡصِي ثَنَاءً عَلَيۡكَ، أَنۡتَ كَمَا أَثۡنَيۡتَ عَلَى نَفۡسِكَ. [راجع: ٧٥١].

957. Bahz dan Abu Kamil telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Hammad menceritakan kepada kami. (Bahz berkata:) Hisyam bin ‘Amr Al-Fazari memberitakan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi, dari ‘Ali, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa mengucapkan pada akhir salat witirnya,

Allāhumma innī a‘ūżu biriḍāka min sakhaṭika wa a‘ūżu bimu‘āfātika min ‘uqūbatika wa a‘ūżu bika minka wa lā uḥṣī ṡanā’an ‘alaika anta kamā aṡnaita ‘alā nafsika (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri).”

Musnad Ahmad hadis nomor 1862

١٨٦٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ الطُّفَاوِيُّ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ سَلَمَةَ. قَالَ: كُنَّا مَعَ ابۡنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلۡتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمۡ صَلَّيۡنَا أَرۡبَعًا، وَإِذَا رَجَعۡنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيۡنَا رَكۡعَتَيۡنِ. قَالَ: تِلۡكَ سُنَّةُ أَبِي الۡقَاسِمِ ﷺ. [صححه مسلم (٦٨٨)، وابن خزيمة (٩٥١)] [انظر: ١٩٩٦، ٢٦٣٢، ٢٦٣٧، ٣١١٩، ٣٤٩٤].

1862. Muhammad bin ‘Abdurrahman Ath-Thufawi telah menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Musa bin Salamah. Beliau berkata:

Kami pernah bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah, lalu aku berkata, “Sesungguhnya apabila kami bersama kalian, kami salat empat rakaat. Apabila kami kembali ke penginapan, kami salat dua rakaat.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Itu adalah sunah Abu Al-Qasim—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Musnad Ahmad hadis nomor 12927

١٢٩٢٧ (١٢٨٩٦) - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ حَبِيبٍ (الۡقَيۡسِيِّ)، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ، قَالَ: مَرَّ عَلَيۡنَا النَّبِيُّ ﷺ وَنَحۡنُ نَلۡعَبُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيۡكُمۡ يَا صِبۡيَانُ.

12927. (12896). Waki’ telah menceritakan kepada kami dari Habib Al-Qaisi, dari Tsabit, dari Anas. Beliau mengatakan: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati kami ketika kami sedang bermain, lalu beliau mengucapkan, “As-Salāmu ‘alaikum wahai anak-anak.”

Musnad Ahmad hadis nomor 7443

٧٤٤٣ (٧٤٥٠) - حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَوۡ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ –(هُوَ شَكَّ، يَعۡنِي الۡأَعۡمَشَ)- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ لِلهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، لِكُلِّ عَبۡدٍ مِنۡهُمۡ دَعۡوَةٌ مُسۡتَجَابَةٌ. [صحيح مسلم (١٠٧٩)].

7443. (7450). Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau dari Abu Sa’id—Al-A’masy ragu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari neraka) dalam setiap hari dan malam. Setiap hamba dari mereka memiliki doa yang mustajab.”

Musnad Ahmad hadis nomor 3922

٣٩٢٢ - حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ، حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَطَاءٍ، يَعۡنِي ابۡنَ السَّائِبِ، عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، مَا أَنۡزَلَ اللهُ، عَزَّ وَجَلَّ، دَاءً إِلَّا أَنۡزَلَ لَهُ دَوَاءً، عَلِمَهُ مَنۡ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنۡ جَهِلَهُ [راجع: ٣٥٧٨].

3922. Muammal telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin As-Sa`ib, dari Abu ‘Abdurrahman, dari ‘Abdullah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah—‘azza wa jalla—tidaklah menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya. Ada yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya.”

Musnad Ahmad hadis nomor 3578

٣٥٧٨ - حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ، قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ مَسۡعُودٍ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ؛ مَا أَنۡزَلَ اللهُ دَاءً، إِلَّا قَدۡ أَنۡزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنۡ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنۡ جَهِلَهُ. [قال الۡألباني صحيح (ابن ماجه: ٣٤٣٨)] [انظر: ٣٩٢٢، ٤٢٣٥، ٤٢٦٧، ٤٣٣٤].

3578. Sufyan telah menceritakan kepada kami dari ‘Atha`, dari Abu ‘Abdurrahman. Dia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali telah menurunkan obatnya. Ada yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya.”

Musnad Ahmad hadis nomor 16285

١٦٢٨٥ (١٦١٨٤) - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ سَالِمٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ أَوۡسٍ، عَنۡ أَبِي رَزِينٍ الۡعُقَيۡلِيِّ، أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ. فَقَالَ: إِنَّ أَبِي شَيۡخٌ كَبِيرٌ لَا يَسۡتَطِيعُ الۡحَجَّ وَلَا الۡعُمۡرَةَ وَلَا الظَّعۡنَ، قَالَ: حُجَّ عَنۡ أَبِيكَ وَاعۡتَمِرۡ (٤/١١). [صححه ابن خزيمة (٣٠٤٠)، وابن حبان (٣٩٩١). قال الترمذي: حسن صحيح. قال الۡألباني: صحيح (أبو داود: ١٨١٠، ابن ماجه: ٢٩٠٦، الترمذي: ٩٣٠، النسائي: ٥/١١١ و١١٧)]. [انظر ١٦٢٩١، ١٦٣٠٠، ١٦٣٠٤].

16285. (16184). Waki’ telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari An-Nu’man bin Salim, dari ‘Amr bin Aus, dari Abu Razin Al-‘Uqaili. Beliau mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku adalah seorang yang berumur tua yang tidak mampu melakukan haji, umrah, atau perjalanan.”

Nabi bersabda, “Berhajilah dan berumrahlah untuk ayahmu!”

Musnad Ahmad hadis nomor 633

٦٣٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ جُرَيِّ بۡنِ كُلَيۡبٍ، عَنۡ عَلِيٍّ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُضَحَّى بِعَضۡبَاءِ الۡقَرۡنِ وَالۡأُذُنِ. [صححه ابن خزيمة: (٢٩١٣). قال الۡألباني: ضعيف (أبو داود: ٢٨٠٥، ابن ماجه: ٣١٤٥، الترمذي: ١٥٠٤). قال شعيب: إسناده حسن]. [انظر: ٧٩١، ١٠٤٨، ١٠٦٦، ١١٥٧، ١١٥٨، ١٢٩٣، ١٢٩٤].

633. Yahya telah menceritakan kepada kami dari Hisyam: Qatadah menceritakan kepada kami dari Jurai bin Kulaib, dari ‘Ali. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang berkurban dengan hewan yang terpotong sebagian besar tanduk atau telinganya.

Musnad Ahmad hadis nomor 11636

١١٦٣٦ (١١٦١٣) - حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ الۡأَسۡوَدُ، عَنۡ أَبِي الۡمُتَوَكِّلِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ وَقَدۡ صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ: فَقَالَ: أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هٰذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ. [راجع: ١١٠٣٢].

11636. (11613). ‘Affan telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Sulaiman Al-Aswad menceritakan kepada kami dari Abu Al-Mutawakkil, dari Abu Sa’id: Seorang pria datang ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sudah selesai salat, lalu Nabi berkata, “Adakah seorang pria yang mau bersedekah kepada orang ini dengan salat bersamanya?”

Musnad Ahmad hadis nomor 11012

١١٠١٢ (١٠٩٩٩) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الزُّبَيۡرِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ مَرۡدَانُبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي نُعۡمٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: الۡحَسَنُ وَالۡحُسَيۡنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ. [صححه ابن حبان (٦٩٥٩)، والحاكم (٣/١٦٦) وقال الترمذي: حسن صحيح وقال الۡألباني: صحيح (الترمذي: ٣٧٦٨)]. [انظر: ١١٦١٦، ١١٦٤١، ١١٧٧٨، ١١٧٩٩].

11012. (10999). Muhammad bin ‘Abdullah Az-Zubairi telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Mardanubah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Abu Nu’m menceritakan kepada kami dari Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua sayid pemuda ahli janah.”

Musnad Ahmad hadis nomor 23725

٢٣٧٢٥ (٢٣٣٣٦) - حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابۡنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا ابۡنُ هُبَيۡرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا تَمِيمٍ الۡجَيۡشَانِيَّ يَقُولُ: أَخۡبَرَنِي سَعِيدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيۡفَةَ بۡنَ الۡيَمَانِ يَقُولُ:

23725. (23336). Hasan telah menceritakan kepada kami: Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami: Ibnu Hubairah menceritakan kepada kami: Beliau mendengar Abu Tamim Al-Jaisyani berkata: Sa’id mengabarkan kepadaku: Beliau mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman mengatakan:

غَابَ عَنَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمًا فَلَمۡ يَخۡرُجۡ، حَتَّى ظَنَنَّا أَنۡ لَنۡ يَخۡرُجَ، فَلَمَّا خَرَجَ سَجَدَ سَجۡدَةً، فَظَنَنَّا أَنَّ نَفۡسَهُ قَدۡ قُبِضَتۡ فِيهَا، فَلَمَّا رَفَعَ رَأۡسَهُ. قَالَ: إِنَّ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسۡتَشَارَنِي فِي أُمَّتِي مَاذَا أَفۡعَلُ بِهِمۡ؟ فَقُلۡتُ: مَا شِئۡتَ أَيۡ رَبِّ؛ هُمۡ خَلۡقُكَ وَعِبَادُكَ،

Pada suatu hari, kami tidak melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau tidak keluar (dari rumah) sehingga kami mengira beliau tidak akan keluar. Ketika beliau keluar, beliau sujud lama. Kami menyangka bahwa nyawa beliau telah dicabut ketika itu. Ketika beliau mengangkat kepala, beliau berkata:

Sesungguhnya Tuhanku—tabaraka wa ta’ala—meminta pendapatku tentang umatku, “Apa yang Aku lakukan terhadap mereka?”

Lalu aku berkata, “Sekehendak-Mu ya Rabi. Mereka adalah makhluk dan hamba-Mu.”

فَاسۡتَشَارَنِي الثَّانِيَةَ: فَقُلۡتُ لَهُ كَذٰلِكَ، فَقَالَ لَا أُحۡزِنُكَ فِي أُمَّتِكَ يَا مُحَمَّدُ، وَبَشَّرَنِي أَنَّ أَوَّلَ مَنۡ يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ مِنۡ أُمَّتِي [مَعِي]، سَبۡعُونَ أَلۡفًا، مَعَ كُلِّ أَلۡفٍ سَبۡعُونَ أَلۡفًا، لَيۡسَ عَلَيۡهِمۡ حِسَابٌ،

Allah meminta pendapatku untuk kedua kalinya. Aku berkata kepada-Nya seperti itu. Lalu Allah berkata, “Aku tidak akan membuatmu sedih terhadap umatmu, wahai Muhammad.”

Lalu Allah memberi kabar gembira kepadaku bahwa orang-orang yang akan masuk janah dari umatku bersamaku ada tujuh puluh ribu orang. Bersama setiap seribu orang ada tujuh puluh ribu orang lagi. Mereka tidak dihisab.

ثُمَّ أَرۡسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ: ادۡعُ تُجَبۡ، وَسَلۡ تُعۡطَ، فَقُلۡتُ لِرَسُولِهِ: أَوَمُعۡطِيَّ رَبِّي سُؤۡلِي؟ فَقَالَ: مَا أَرۡسَلَنِي إِلَيۡكَ إِلَّا لِيُعۡطِيَكَ، وَلَقَدۡ أَعۡطَانِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ وَلَا فَخۡرَ، وَغَفَرَ لِي مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِي وَمَا تَأَخَّرَ، وَأَنَا أَمۡشِي حَيًّا صَحِيحًا، وَأَعۡطَانِي أَنۡ لَا تَجُوعَ أُمَّتِي وَلَا تُغۡلَبَ،

Kemudian Allah mengirim utusan kepadaku. Utusan itu berkata, “Berdoalah! Pasti akan dikabulkan. Mintalah! Pasti akan diberi.”

Aku berkata kepada utusan Allah, “Apakah Tuhanku akan mengabulkan permintaanku?”

Utusan itu berkata, “Allah tidak mengutusku kepadamu kecuali Dia pasti akan memberimu.”

Padahal Tuhanku—‘azza wa jalla—telah memberiku dan tidak ada maksud kesombongan. Allah telah mengampuni dosaku yang telah lalu dan yang akan datang dalam keadaan aku masih berjalan dalam keadaan hidup dan sehat. Allah telah mengabulkan permintaan agar umatku tidak lapar dan tidak dikalahkan.

وَأَعۡطَانِي الۡكَوۡثَرَ فَهُوَ نَهۡرٌ مِنَ الۡجَنَّةِ يَسِيلُ فِي حَوۡضِي، وَأَعۡطَانِي الۡعِزَّ وَالنَّصۡرَ وَالرُّعۡبَ يَسۡعَى بَيۡنَ يَدَيۡ أُمَّتِي شَهۡرًا، وَأَعۡطَانِي أَنِّي أَوَّلُ الۡأَنۡبِيَاءِ أَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ، وَطَيَّبَ لِي وَلِأُمَّتِي الۡغَنِيمَةَ، وَأَحَلَّ لَنَا كَثِيرًا مِمَّا شَدَّدَ عَلَى مَنۡ قَبۡلَنَا، وَلَمۡ يَجۡعَلۡ عَلَيۡنَا مِنۡ حَرَجٍ.

Allah telah memberiku Al-Kautsar, yaitu sungai dari janah yang mengalir ke haudku. Allah telah memberiku kemuliaan, pertolongan, dan rasa takut yang menyebar (ke dalam hati musuh) di depan umatku sejauh perjalanan satu bulan. Allah telah memberiku keutamaan menjadi nabi pertama yang masuk janah. Allah telah menghalalkan ganimah bagi umatku. Allah telah menghalalkan banyak hal yang dahulu mengekang umat sebelum kita dan Allah tidak memberikan kesulitan kepada kita.

Musnad Ahmad hadis nomor 26228

٢٦٢٢٨ (٢٥٧٠٩) - حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡرَائِيلُ وَشَرِيكٌ، عَنِ الۡمِقۡدَامِ بۡنِ شُرَيۡحٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: مَا كَانَ الرِّفۡقُ فِي شَيۡءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا عُزِلَ عَنۡه شَيۡءٍ إِلَّا شَانَهُ. [راجع: ٢٤٨١١].

26228. (25709). Waki’ telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isra`il dan Syarik menceritakan kepada kami dari Al-Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya, dari ‘Aisyah: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah dan tidaklah dijauhkan dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek.”