Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6967

١٠ - بَابٌ
10. Bab


٦٩٦٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ، وَلَعَلَّ بَعۡضَكُمۡ أَنۡ يَكُونَ أَلۡحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنۡ بَعۡضٍ، وَأَقۡضِيَ لَهُ عَلَى نَحۡوِ مَا أَسۡمَعُ، فَمَنۡ قَضَيۡتُ لَهُ مِنۡ حَقِّ أَخِيهِ شَيۡئًا فَلَا يَأۡخُذۡ، فَإِنَّمَا أَقۡطَعُ لَهُ قِطۡعَةً مِنَ النَّارِ). [طرفه في: ٢٤٥٨].

6967. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Hisyam, dari ‘Urwah, dari Zainab putri Umu Salamah, dari Umu Salamah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Aku hanyalah seorang manusia, dan sesungguhnya kalian berselisih di hadapanku. Bisa jadi sebagian kalian lebih pandai bersilat lidah dalam mengemukakan alasannya daripada sebagian yang lain, lalu aku memutuskan baginya sesuai dengan apa yang aku dengar. Barang siapa yang aku putuskan baginya sesuatu dari hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, karena sesungguhnya aku hanyalah memotongkan sepotong api neraka untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2680

٢٧ - بَابُ مَنۡ أَقَامَ الۡبَيِّنَةَ بَعۡدَ الۡيَمِينِ
27. Bab Orang yang Mengajukan Bukti Setelah Pengambilan Sumpah


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَعَلَّ بَعۡضَكُمۡ أَلۡحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنۡ بَعۡضٍ).

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bisa jadi sebagian kalian lebih pandai bersilat lidah dalam mengemukakan alasannya daripada sebagian yang lain.”

وَقَالَ طَاوُسٌ وَإِبۡرَاهِيمُ وَشُرَيۡحٌ: الۡبَيِّنَةُ الۡعَادِلَةُ أَحَقُّ مِنَ الۡيَمِينِ الۡفَاجِرَةِ.

Thawus, Ibrahim, dan Syuraih berkata, “Bukti yang adil lebih berhak (dimenangkan) daripada sumpah yang culas.”

٢٦٨٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ زَيۡنَبَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعۡضَكُمۡ أَلۡحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنۡ بَعۡضٍ، فَمَنۡ قَضَيۡتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيۡئًا بِقَوۡلِهِ، فَإِنَّمَا أَقۡطَعُ لَهُ قِطۡعَةً مِنَ النَّارِ، فَلَا يَأۡخُذۡهَا). [طرفه في: ٢٤٥٨].

2680. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Zainab, dari Umu Salamah—radhiyallahu ‘anha—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya kalian berselisih di hadapanku, dan bisa jadi sebagian kalian lebih pandai bersilat lidah dalam mengemukakan alasannya daripada sebagian yang lain. Barang siapa yang aku putuskan baginya sesuatu yang merupakan hak saudaranya disebabkan oleh perkataannya, sesungguhnya aku hanyalah memotongkan sepotong api neraka untuknya. Janganlah ia mengambilnya.”

Tafsir Surah Ad-Duha

تَفۡسِيرُ سُورَةِ وَالضُّحَى


وَهِيَ مَكِّيَّةٌ

Surah ini makiyah.

﷽

﴿وَٱلضُّحَىٰ * وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ * مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ * وَلَلۡـَٔاخِرَةُ خَيۡرٌ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ * وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ * أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ * وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ * وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغۡنَىٰ * فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ * وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ * وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ﴾.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Demi waktu duha,
  2. dan demi malam apabila telah sunyi,
  3. Rab-mu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu,
  4. dan sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada permulaan (dunia).
  5. Dan sungguh, kelak Rab-mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.
  6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang anak yatim, lalu Dia melindungimu?
  7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk?
  8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?
  9. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
  10. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya.
  11. Dan terhadap nikmat Rab-mu maka hendaklah engkau ceritakan.

۝١-۝٣ أَقۡسَمَ تَعَالَى بِالنَّهَارِ إِذَا انۡتَشَرَ ضِيَاؤُهُ بِالضُّحَى، وَبِاللَّيۡلِ إِذَا سَجَى وَادۡلَهَمَّتۡ ظُلۡمَتُهُ، عَلَى اعۡتِنَاءِ اللهِ بِرَسُولِهِ ﷺ فَقَالَ:

Allah taala bersumpah dengan siang hari apabila cahayanya telah menyebar di waktu duha, dan dengan malam hari apabila telah sunyi serta makin pekat kegelapannya, atas perhatian Allah kepada Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Maka Dia berfirman:

﴿مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ﴾ أَيۡ: مَا تَرَكَكَ مُنۡذُ اعۡتَنَى بِكَ، وَلَا أَهۡمَلَكَ مُنۡذُ رَبَّاكَ وَرَعَاكَ، بَلۡ لَمۡ يَزَلۡ يُرَبِّيكَ أَحۡسَنَ تَرِبِيَةٍ، وَيُعۡلِيكَ دَرَجَةً بَعۡدَ دَرَجَةٍ.

“Rab-mu tidak meninggalkanmu”, maksudnya: tidak pernah meninggalkanmu sejak Dia memperhatikanmu, dan tidak pernah mengabaikanmu sejak Dia mendidik serta menjagamu. Bahkan, Dia senantiasa mendidikmu dengan sebaik-baik pendidikan, dan meninggikan derajatmu tingkat demi tingkat.

﴿وَمَا قَلَىٰ﴾ كَ اللهُ، أَيۡ: مَا أَبۡغَضَكَ مُنۡذُ أَحَبَّكَ، فَإِنَّ نَفۡيَ الضِّدِّ دَلِيلٌ عَلَى ثُبُوتِ ضِدِّهِ، وَالنَّفۡيَ الۡمَحۡضَ لَا يَكُونُ مَدۡحًا إِلَّا إِذَا تَضَمَّنَ ثُبُوتَ كَمَالٍ.

“Dan tidak (pula Allah) membenci”-mu, yaitu: Allah tidak pernah membencimu sejak Dia mencintaimu. Sebab, penafian suatu lawan adalah bukti akan berlakunya lawan dari hal tersebut. Penafian murni tidaklah menjadi pujian kecuali jika mengandung penetapan kesempurnaan.

فَهٰذِهِ حَالُ الرَّسُولِ ﷺ الۡمَاضِيَةُ وَالۡحَاضِرَةُ، أَكۡمَلُ حَالٍ وَأَتَمُّهَا، مَحَبَّةُ اللهِ لَهُ وَاسۡتِمۡرَارُهَا، وَتَرۡقِيَتُهُ فِي دَرَجِ الۡكَمَالِ، وَدَوَامُ اعۡتِنَاءِ اللهِ بِهِ.

Maka ini adalah keadaan Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang lalu dan yang sekarang, keadaan yang paling sempurna dan paling utuh; yaitu kecintaan Allah kepada beliau beserta kelangsungannya, peninggian derajat beliau menuju jenjang kesempurnaan, serta kesinambungan perhatian Allah kepada beliau.

۝٤ وَأَمَّا حَالُهُ الۡمُسۡتَقۡبَلَةُ فَقَالَ: ﴿وَلَلۡـَٔاخِرَةُ خَيۡرٌ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ﴾ أَيۡ: كُلُّ حَالَةٍ مُتَأَخِّرَةٍ مِنۡ أَحۡوَالِكَ فَإِنَّ لَهَا الۡفَضۡلَ عَلَى الۡحَالَةِ السَّابِقَةِ.

Adapun keadaan beliau yang akan datang, Allah berfirman, “Dan sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada permulaan (dunia)”, maksudnya: setiap keadaan yang belakangan dari keadaan-keadaanmu, sungguh memiliki keutamaan melampaui keadaan yang sebelumnya.

فَلَمۡ يَزَلۡ ﷺ يَصۡعَدُ فِي دَرَجِ الۡمَعَالِي، وَيُمَكِّنُ لَهُ اللهُ دِيۡنَهُ وَيَنۡصُرُهُ عَلَى أَعۡدَائِهِ وَيُسَدِّدُ لَهُ أَحۡوَالَهُ حَتَّى مَاتَ، وَقَدۡ وَصَلَ إِلَى حَالٍ لَا يَصِلُ إِلَيۡهَا الۡأَوَّلُونَ وَالۡآخِرُونَ، مِنَ الۡفَضَائِلِ وَالنِّعَمِ وَقُرَّةِ الۡعَيۡنِ وَسُرُورِ الۡقَلۡبِ.

Jadi, beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—senantiasa naik ke jenjang-jenjang kemuliaan, dan Allah mengokohkan agamanya bagi beliau, menolongnya atas musuh-musuhnya, serta meluruskan urusan-urusannya hingga beliau wafat. Sungguh beliau telah sampai pada suatu keadaan yang tidak dapat dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, berupa keutamaan-keutamaan, nikmat-nikmat, penyejuk mata, dan kegembiraan hati.

ثُمَّ بَعۡدَ ذٰلِكَ، لَا تَسۡأَلۡ عَنۡ حَالِهِ فِي الۡآخِرَةِ مِنۡ تَفَاصِيلِ الۡإِكۡرَامِ وَأَنِوَاعِ الۡإِنۡعَامِ.

Kemudian setelah itu, jangan engkau tanya tentang keadaan beliau di akhirat, berupa berbagai kemuliaan dan bermacam-macam pemberian nikmat.

۝٥ وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ﴾ وَهٰذَا أَمۡرٌ لَا يُمِكۡنُ التَّعۡبِيرُ عَنۡهُ بِغَيۡرِ هٰذِهِ الۡعِبَارَةِ الۡجَامِعَةِ الشَّامِلَةِ.

Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan sungguh, kelak Rab-mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas”, dan ini adalah suatu perkara yang tidak mungkin diungkapkan melainkan dengan ungkapan yang padat dan menyeluruh ini.

ثُمَّ امۡتَنَّ عَلَيۡهِ بِمَا يَعۡلَمُهُ مِنۡ أَحۡوَالِهِ [الۡخَاصَّةِ] فَقَالَ:

Kemudian Allah melimpahkan karunia kepada beliau dengan apa yang Dia ketahui dari keadaan-keadaan beliau yang khusus, maka Dia berfirman:

۝٦ ﴿أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ﴾ أَيۡ: وَجَدَكَ لَا أُمَّ لَكَ وَلَا أَبَ، بَلۡ قَدۡ مَاتَ أَبُوۡهُ وَأُمُّهُ وَهُوَ لَا يُدَبِّرُ نَفۡسَهُ، فَآوَاهُ اللهُ وَكَفَلَهُ جَدُّهُ عَبۡدُ الۡمُطَّلِبِ، ثُمَّ لَمَّا مَاتَ جَدُّهُ كَفَّلَهُ اللهُ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ، حَتَّى أَيَّدَهُ بِنَصۡرِهِ وَبِالۡمُؤۡمِنِينَ.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang anak yatim, lalu Dia melindungimu?”, maksudnya: Dia mendapatimu tanpa ibu dan tanpa ayah, bahkan ayah dan ibunya telah meninggal sedang beliau belum mampu mengurus dirinya sendiri, kemudian Allah melindunginya, dan kakeknya, ‘Abdul Muththalib, mengasuhnya. Kemudian ketika kakeknya meninggal, Allah menjadikan paman beliau, Abu Thalib, yang mengasuhnya, hingga Allah menguatkan beliau dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman.

۝٧ ﴿وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ﴾ أَيۡ: وَجَدَكَ لَا تَدۡرِي مَا الۡكِتَابُ وَلَا الۡإِيمَانُ، فَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُنۡ تَعۡلَمُ، وَوَفَّقَكَ لِأَحۡسَنِ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَخۡلَاقِ.

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk?”, maksudnya: Dia mendapatimu tidak mengetahui apakah Al-Qur’an itu dan tidak pula keimanan, lalu Dia mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui, serta memberikan taufik kepadamu menuju sebaik-baik amal dan akhlak.

۝٨ ﴿ وَوَجَدَكَ عَآئِلًا﴾ أَيۡ: فَقِيۡرًا ﴿فَأَغۡنَىٰ﴾ بِمَا فَتَحَ اللهُ عَلَيۡكَ مِنۡ الۡبُلۡدَانِ الَّتِي جُبِيَتۡ لَكَ أَمۡوَالُهَا وَخَرَاجُهَا.

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan”, yaitu: fakir, “lalu Dia memberikan kecukupan”, dengan apa yang Allah bukakan bagimu berupa negeri-negeri yang dikumpulkan untukmu harta-harta dan pajak negerinya.

فَالَّذِي أَزَالَ عَنۡكَ هٰذِهِ النَّقَائِصَ سَيُزِيلُ عَنۡكَ كُلَّ نَقۡصٍ، وَالَّذِي أَوۡصَلَكَ إِلَى الۡغِنَى، وَآوَاكَ وَنَصَرَكَ وَهَدَاكَ، قَابِلۡ نِعۡمَتَهُ بِالشُّكۡرَانِ.

Jadi, Zat yang telah menghilangkan kekurangan-kekurangan ini darimu, kelak akan menghilangkan setiap kekurangan darimu. Dan Zat yang telah menyampaikanmu menuju kecukupan, melindungi, menolong, serta memberimu petunjuk, maka balaslah nikmat-Nya dengan kesyukuran.

۝٩ [وَلِهٰذَا قَالَ:] ﴿فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ﴾ أَيۡ: لَا تُسِئۡ مُعَامَلَةَ الۡيَتِيۡمِ، وَلَا يَضِقۡ صَدۡرُكَ عَلَيۡهِ، وَلَا تَنۡهَرۡهُ، بَلۡ أَكۡرِمۡهُ وَأَعۡطِهِ مَا تَيَسَّرَ، وَاصۡنَعۡ بِهِ كَمَا تُحِبُّ أَنۡ يُصۡنَعَ بِوَلَدِكَ مِنۡ بَعۡدِكَ.

Oleh karena itu Dia berfirman, “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang”, maksudnya: janganlah engkau memperlakukan anak yatim dengan buruk, janganlah dadamu merasa sempit terhadapnya, dan janganlah engkau menghardiknya. Sebaliknya, muliakanlah dia, berikanlah kepadanya apa yang mudah bagimu, dan berbuatlah kepadanya sebagaimana engkau suka hal itu diperbuat kepada anakmu sepeninggalmu kelak.

۝١٠ ﴿وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ﴾ أَيۡ: لَا يَصۡدُرۡ مِنۡكَ إِلَى السَّائِلِ كَلَامٌ، يَقۡتَضِي رَدَّهُ عَنۡ مَطۡلُوبِهِ، بِنَهۡرٍ وَشَرَاسَةِ خُلُقٍ، بَلۡ أَعۡطِهِ مَا تَيَسَّرَ عِنۡدَكَ، أَوۡ رُدَّهُ بِمَعۡرُوۡفٍ [وَإِحۡسَانٍ].

“Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya)”, maksudnya: jangan sampai keluar darimu kepada orang yang meminta-minta suatu perkataan yang menolak permintaannya dengan hardikan dan akhlak yang kasar. Sebaliknya, berikanlah kepadanya apa yang mudah ada padamu atau tolaklah dia dengan cara yang santun dan baik.

وَهٰذَا يَدۡخُلُ فِيهِ السَّائِلُ لِلۡمَالِ وَالسَّائِلُ لِلۡعِلۡمِ، وَلِهٰذَا كَانَ الۡمُعَلِّمُ مَأۡمُورًا بِحُسۡنِ الۡخُلُقِ مَعَ الۡمُتَعَلِّمِ، وَمُبَاشَرَتِهِ بِالۡإِكۡرَامِ وَالتَّحَنُّنِ عَلَيۡهِ، فَإِنَّ فِي ذٰلِكَ مَعُونَةً لَهُ عَلَى مَقۡصِدِهِ، وَإِكۡرَامًا لِمَنۡ كَانَ يَسۡعَى فِي نَفۡعِ الۡعِبَادِ وَالۡبِلَادِ.

Hal ini mencakup orang yang meminta harta serta orang yang bertanya tentang ilmu. Oleh karena itu, seorang pengajar diperintahkan untuk berakhlak baik kepada pelajar, serta memperlakukannya dengan pemuliaan dan kasih sayang; sebab pada hal tersebut terdapat bantuan baginya untuk mencapai tujuannya, sekaligus pemuliaan bagi orang yang berusaha memberi manfaat kepada hamba-hamba dan negeri-negeri.

۝١١ ﴿وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ﴾ [وَهٰذَا يَشۡمَلُ] النِّعَمَ الدِّينِيَّةَ وَالدُّنۡيَوِيَّةَ ﴿فَحَدِّثۡ﴾ أَيۡ: أَثۡنِ عَلَى اللهِ بِهَا وَخَصِّصۡهَا بِالذِّكۡرِ إِنۡ كَانَ هُنَاكَ مَصۡلَحَةٌ.

“Dan terhadap nikmat Rab-mu,” ini mencakup nikmat-nikmat agama maupun dunia “maka hendaklah engkau ceritakan”, maksudnya: pujilah Allah dengannya, dan khususkanlah penyebutannya jika di sana terdapat maslahat.

وَإِلَّا فَحَدِّثۡ بِنِعَمِ اللهِ عَلَى الۡإِطۡلَاقِ، فَإِنَّ التَّحَدُّثَ بِنِعۡمَةِ اللهِ دَاعٍ لِشُكۡرِهَا، وَمُوجِبٌ لِتَحۡبِيبِ الۡقُلُوۡبِ إِلَى مَنۡ أَنۡعَمَ بِهَا، فَإِنَّ الۡقُلُوبَ مَجۡبُولَةٌ عَلَى مَحَبَّةِ الۡمُحۡسِنِ. 

Jika tidak, maka ceritakanlah nikmat-nikmat Allah secara global. Sebab, menceritakan nikmat Allah itu mendorong untuk mensyukurinya, dan menjadi sebab dicintainya Sang Pemberi nikmat oleh hati manusia; karena sesungguhnya hati itu tabiatnya mencintai pihak yang berbuat baik.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7184 dan 7185

٣١ - بَابُ الۡقَضَاءِ فِي كَثِيرِ الۡمَالِ وَقَلِيلِهِ
31. Bab Keputusan Hukum pada Harta yang Banyak Maupun Sedikit


وَقَالَ ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ شُبۡرُمَةَ: الۡقَضَاءُ فِي قَلِيلِ الۡمَالِ وَكَثِيرِهِ سَوَاءٌ.

Ibnu ‘Uyainah berkata, dari Ibnu Syubrumah: Keputusan hukum pada harta yang sedikit maupun yang banyak adalah sama.

٧١٨٤، ٧١٨٥ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ زَيۡنَبَ بِنۡتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخۡبَرَتۡهُ، عَنۡ أُمِّهَا أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتۡ: سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ جَلَبَةَ خِصَامٍ عِنۡدَ بَابِهِ، فَخَرَجَ عَلَيۡهِمۡ فَقَالَ: (إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّهُ يَأۡتِينِي الۡخَصۡمُ، فَلَعَلَّ بَعۡضًا أَنۡ يَكُونَ أَبۡلَغَ مِنۡ بَعۡضٍ، أَقۡضِي لَهُ بِذٰلِكَ، وَأَحۡسِبُ أَنَّهُ صَادِقٌ، فَمَنۡ قَضَيۡتُ لَهُ بِحَقِّ مُسۡلِمٍ فَإِنَّمَا هِيَ قِطۡعَةٌ مِنَ النَّارِ، فَلۡيَأۡخُذۡهَا أَوۡ لِيَدَعۡهَا). [طرفه في: ٢٤٥٨].

7184, 7185. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Zainab putri Abu Salamah mengabarkan kepadanya dari ibunya, Umu Salamah. Ia berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendengar kegaduhan pertengkaran di depan pintunya, lalu beliau keluar menemui mereka dan bersabda, “Aku hanyalah seorang manusia, dan sesungguhnya datang kepadaku orang yang berselisih. Bisa jadi sebagian dari kalian lebih pandai berbicara daripada sebagian yang lain, lalu aku memutuskan baginya berdasarkan hal tersebut dan aku mengira bahwa ia benar. Barang siapa yang aku putuskan sesuatu dari hak seorang muslim untuknya, sesungguhnya itu hanyalah sepotong api neraka. Silakan ia mengambilnya atau meninggalkannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7181

٢٩ - بَابُ مَنۡ قُضِيَ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ فَلَا يَأۡخُذۡهُ، فَإِنَّ قَضَاءَ الۡحَاكِمِ لَا يُحِلُّ حَرَامًا وَلَا يُحَرِّمُ حَلَالًا
29. Bab Orang yang Diputuskan Hak Saudaranya untuknya Maka Janganlah Ia Mengambilnya, Karena Keputusan Hakim Tidak Menghalalkan yang Haram dan Tidak Mengharamkan yang Halal


٧١٨١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ زَيۡنَبَ ابۡنَةَ أَبِي سَلَمَةَ أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرَتۡهَا، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ سَمِعَ خُصُومَةً بِبَابِ حُجۡرَتِهِ، فَخَرَجَ إِلَيۡهِمۡ فَقَالَ: (إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّهُ يَأۡتِينِي الۡخَصۡمُ، فَلَعَلَّ بَعۡضَكُمۡ أَنۡ يَكُونَ أَبۡلَغَ مِنۡ بَعۡضٍ، فَأَحۡسِبُ أَنَّهُ صَادِقٌ فَأَقۡضِي لَهُ بِذٰلِكَ، فَمَنۡ قَضَيۡتُ لَهُ بِحَقِّ مُسۡلِمٍ، فَإِنَّمَا هِيَ قِطۡعَةٌ مِنَ النَّارِ، فَلۡيَأۡخُذۡهَا أَوۡ لِيَتۡرُكۡهَا). [طرفه في: ٢٤٥٨].

7181. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa Zainab putri Abu Salamah mengabarkan kepadanya: Umu Salamah, istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mengabarkan kepadanya dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:

Beliau mendengar pertengkaran di depan pintu kamarnya, lalu beliau keluar menemui mereka dan bersabda, “Aku hanyalah seorang manusia, dan sesungguhnya datang kepadaku orang yang berselisih. Bisa jadi sebagian dari kalian lebih pandai berbicara daripada sebagian yang lain, lalu aku mengira bahwa ia benar sehingga aku memutuskan baginya berdasarkan hal tersebut. Barang siapa yang aku putuskan sesuatu dari hak seorang muslim untuknya, sesungguhnya itu hanyalah sepotong api neraka, silakan ia mengambilnya atau meninggalkannya.”