Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7188

٣٤ - بَابُ الۡأَلَدِّ الۡخَصِمِ، وَهُوَ الدَّائِمُ فِي الۡخُصُومَةِ
34. Bab Orang yang Paling Keras Pertengkarannya, yaitu Orang yang Terus-Menerus dalam Pertengkaran


﴿لُدًّا﴾ [مريم: ٩٧]: عُوجًا.

“Luddan” (QS Maryam: 97): yang menyimpang.

٧١٨٨ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ: سَمِعۡتُ ابۡنَ أَبِي مُلَيۡكَةَ يُحَدِّثُ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَبۡغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الۡأَلَدُّ الۡخَصِمُ). [طرفه في: ٢٤٥٧].

7188. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij: Aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah menceritakan dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Laki-laki yang paling dibenci oleh Allah adalah yang paling keras pertengkarannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4523

٣٧ - بَابٌ ﴿وَهُوَ أَلَدُّ الۡخِصَامِ﴾ [٢٠٤]
37. Bab “Dan Dialah Penentang yang Paling Keras” (QS Al-Baqarah: 204)


وَقَالَ عَطَاءٌ: النَّسۡلُ: الۡحَيَوَانُ.

‘Atha` berkata: An-Nasl adalah hewan.

٤٥٢٣ - حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنِ ابۡنِ أَبِي مُلَيۡكَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ تَرۡفَعُهُ: (أَبۡغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الۡأَلَدُّ الۡخَصِمُ).

وَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنِ ابۡنِ أَبِي مُلَيۡكَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٢٤٥٧].

4523. Qabishah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari ‘Aisyah. Ia menyandarkannya kepada Nabi. Beliau bersabda, “Laki-laki yang paling dibenci oleh Allah adalah yang paling keras pertengkarannya.”

‘Abdullah berkata: Sufyan menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij menceritakan kepadaku dari Ibnu Abu Mulaikah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2489 dan 2490

٤ - بَابُ الۡقِرَانِ فِي التَّمۡرِ بَيۡنَ الشُّرَكَاءِ حَتَّى يَسۡتَأۡذِنَ أَصۡحَابَهُ
4. Bab Al-Qiran (Memakan Dua Kurma Sekaligus) di Antara Teman Makan Bersama Sampai Meminta Izin Kepada Teman-temannya


٢٤٨٩ - حَدَّثَنَا خَلَّادُ بۡنُ يَحۡيَى: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا جَبَلَةُ بۡنُ سُحَيۡمٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَقۡرُنَ الرَّجُلُ بَيۡنَ التَّمۡرَتَيۡنِ جَمِيعًا حَتَّى يَسۡتَأۡذِنَ أَصۡحَابَهُ. [طرفه في: ٢٤٥٥].

2489. Khallad bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Jabalah bin Suhaim menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang seseorang memakan dua kurma sekaligus, hingga ia meminta izin kepada teman-temannya.

٢٤٩٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ جَبَلَةَ قَالَ: كُنَّا بِالۡمَدِينَةِ، فَأَصَابَتۡنَا سَنَةٌ، فَكَانَ ابۡنُ الزُّبَيۡرِ يَرۡزُقُنَا التَّمۡرَ، وَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ يَمُرُّ بِنَا فَيَقُولُ: لَا تَقۡرُنُوا، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنِ الۡإِقۡرَانِ، إِلَّا أَنۡ يَسۡتَأۡذِنَ الرَّجُلُ مِنۡكُمۡ أَخَاهُ. [طرفه في: ٢٤٥٥].

2490. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Jabalah. Ia berkata:

Kami pernah berada di Madinah lalu kami ditimpa musim paceklik. Maka Ibnu Az-Zubair memberi kami jatah makanan berupa kurma. Ketika Ibnu ‘Umar melintas di hadapan kami, ia berkata, “Janganlah kalian memakan dua kurma sekaligus, karena Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang memakan dua kurma sekaligus, kecuali jika seseorang di antara kalian meminta izin kepada saudaranya (teman sehidangannya).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3195 dan 3196

٢ - بَابُ مَا جَاءَ فِي سَبۡعِ أَرَضِينَ
2. Bab Riwayat Mengenai Tujuh Bumi


وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمًا﴾ [الطلاق: ١٢]، ﴿وَالسَّقۡفِ الۡمَرۡفُوعِ﴾ [الطور: ٥]: السَّمَاءُ.

Dan firman Allah taala: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS At-Talaq: 12).

“Dan atap yang ditinggikan” (QS At-Tur: 5), yaitu langit.

﴿سَمۡكَهَا﴾ [النازعات: ٢٨]: بِنَاءَهَا. ﴿الۡحُبُكُ﴾: [الذاريات: ٧]: اسۡتِوَاؤُهَا وَحُسۡنُهَا.

“Samkaha” (QS An-Nazi’at: 28), yaitu bangunannya. “Al-Hubuk” (QS Az-Zariyat: 7) bermakna kerataan dan keindahannya.

﴿وَأَذِنَتۡ﴾ [الانشقاق: ٢، ٥] سَمِعَتۡ وَأَطَاعَتۡ، ﴿وَأَلۡقَتۡ﴾ أَخۡرَجَتۡ، ﴿مَا فِيهَا﴾ مِنَ الۡمَوۡتَى، ﴿وَتَخَلَّتۡ﴾ [الانشقاق: ٤]: عَنۡهُمۡ، ﴿طَحَاهَا﴾ [الشمس: ٦]: دَحَاهَا.

“Wa adzinat” (QS Al-Insyiqaq: 2, 5), yaitu mendengar dan taat. “Wa alqat”, yaitu mengeluarkan mayat-mayat "yang ada di dalamnya", “wa takhallat (serta menjadi kosong)” (QS Al-Insyiqaq: 4) dari mereka.

“Thahaha” (QS Asy-Syams: 6), yaitu meratakannya.

﴿السَّاهِرَةُ﴾ [النازعات: ١٤]: وَجۡهُ الۡأَرۡضِ، كَانَ فِيهَا الۡحَيَوَانُ، نَوۡمُهُمۡ وَسَهَرُهُمۡ.

“As-Sahirah” (QS An-Nazi’at: 14) adalah permukaan bumi, yang di situ terdapat makhluk hidup, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.

٣١٩٥ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُلَيَّةَ، عَنۡ عَلِيِّ بۡنِ الۡمُبَارَكِ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، كَانَتۡ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ أُنَاسٍ خُصُومَةٌ فِي أَرۡضٍ، فَدَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ فَذَكَرَ لَهَا ذٰلِكَ، فَقَالَتۡ: يَا أَبَا سَلَمَةَ، اجۡتَنِبِ الۡأَرۡضَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ ظَلَمَ قِيدَ شِبۡرٍ طُوِّقَهُ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ). [طرفه في: ٢٤٥٣].

3195. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Ulayyah mengabarkan kepada kami dari ‘Ali bin Al-Mubarak: Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwa pernah terjadi perselisihan antara dirinya dan beberapa orang mengenai sebidang tanah. Lalu ia menemui ‘Aisyah dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka ‘Aisyah berkata: Wahai Abu Salamah, jauhilah (kezaliman) tanah! Karena Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa berbuat zalim seukuran sejengkal tanah, maka kelak ia akan dikalungkan darinya sedalam tujuh lapis bumi.”

٣١٩٦ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ أَخَذَ شَيۡئًا مِنَ الۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ حَقِّهِ، خُسِفَ بِهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ إِلَى سَبۡعِ أَرَضِينَ). [طرفه في: ٢٤٥٤].

3196. Bisyr bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami dari Musa bin ‘Uqbah, dari Salim, dari ayahnya. Ia berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa mengambil sesuatu dari bumi tanpa haknya, maka pada hari kiamat ia akan dibenamkan dengannya hingga tujuh bumi.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3198

٣١٩٨ - حَدَّثَنِي عُبَيۡدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ: أَنَّهُ خَاصَمَتۡهُ أَرۡوَى فِي حَقٍّ زَعَمَتۡ أَنَّهُ انۡتَقَصَهُ لَهَا إِلَى مَرۡوَانَ، فَقَالَ سَعِيدٌ: أَنَا أَنۡتَقِصُ مِنۡ حَقِّهَا شَيۡئًا! أَشۡهَدُ لَسَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ أَخَذَ شِبۡرًا مِنَ الۡأَرۡضِ ظُلۡمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ) قَالَ ابۡنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ لِي سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ: دَخَلۡتُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٢٤٥٢].

3198. ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail: Arwa pernah mengadukannya kepada Marwan dalam urusan tanah yang ia klaim telah dikurangi oleh Sa’id untuknya.

Sa’id berkata: Apakah aku mengurangi tanah miliknya sedikit saja? Aku bersaksi sungguh aku pernah mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, kelak pada hari kiamat tanah tersebut akan dikalungkan padanya hingga kedalaman tujuh lapis bumi.”

Ibnu Abu Az-Zinad berkata dari Hisyam, dari ayahnya. Ia berkata: Sa’id bin Zaid berkata kepadaku: Aku pernah menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.