٢٦٨٨ - [نُعَيۡمَانُ بۡنُ عَمۡرِو]:
2688. Nu’aiman bin ‘Amr
نُعَيۡمَانُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ رِفَاعَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ سَوَادِ بۡنِ
مَالِكِ بۡنِ غَنۡمِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّجَّارِ، شَهِدَ بَدۡرًا، وَكَانَ
مِنۡ قُدَمَاءِ الصَّحَابَةِ وَكُبَرَائِهِمۡ، وَكَانَتۡ فِيهِ دُعَابَةٌ
زَائِدَةٌ. وَلَهُ أَخۡبَارٌ ظَرِيفَةٌ فِي دُعَابَتِهِ، مِنۡهَا خَبَرُهُ مَعَ
سُوَيۡبِطِ بۡنِ حَرۡمَلَةَ.
Nu’aiman bin ‘Amr bin Rifa’ah bin Al-Harits bin Sawad bin Malik bin Ghanm bin
Malik bin An-Najjar. Ia mengikuti Perang Badr dan termasuk sahabat senior
serta tokoh terkemuka mereka. Ia memiliki sifat jenaka yang berlebihan dan
cerita-cerita unik dalam leluconnya, di antaranya kisahnya bersama Suwaibith
bin Harmalah.
أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ
جَعۡفَرٍ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ حَنۡبَلٍ، حَدَّثَنَا
رَوۡحٌ، حَدَّثَنَا زَمۡعَةُ بۡنُ صَالِحٍ، سَمِعۡتُ ابۡنَ شِهَابٍ يُحَدِّثُ
عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ وَهۡبِ بۡنِ زَمۡعَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ: أَنَّ
أَبَا بَكۡرٍ خَرَجَ تَاجِرًا إِلَى بُصۡرَى، وَمَعَهُ نُعَيۡمَانُ
وَسُوَيۡبِطُ بۡنُ حَرۡمَلَةَ، وَكِلَاهُمَا بَدۡرِيٌّ، وَكَانَ سُوَيۡبِطٌ
عَلَى الزَّادِ، فَجَاءَهُ نُعَيۡمَانُ، فَقَالَ: أَطۡعِمۡنِي. فَقَالَ: لَا،
حَتَّى يَجِيءَ أَبُو بَكۡرٍ - وَكَانَ نُعَيۡمَانُ رَجُلًا مِضۡحَاكًا
مِزَاحًا، فَقَالَ: لَأَغِيظَنَّكَ، فَذَهَبَ إِلَى نَاسٍ جَلَبُوا ظَهۡرًا،
فَقَالَ: ابۡتَاعُوا مِنِّي غُلَامًا عَرَبِيًّا فَارِهًا، وَهُوَ ذُو لِسَانٍ،
وَلَعَلَّهُ يَقُولُ: أَنَا حُرٌّ، فَإِنۡ كُنۡتُمۡ تَارِكِيهِ لِذٰلِكَ
فَدَعُوهُ، لَا تُفۡسِدُوا عَلَيَّ غُلَامِي. فَقَالُوا: بَلۡ نَبۡتَاعُهُ
مِنۡكَ بِعَشۡرِ قَلَائِصَ. فَأَقۡبَلَ بِهَا يَسُوقُهَا، وَأَقۡبَلَ
بِالۡقَوۡمِ حَتَّى عَقَلَهَا، ثُمَّ قَالَ: دُونَكُمۡ هُوَ هٰذَا. فَجَاءَ
الۡقَوۡمُ، فَقَالُوا: قَدِ اشۡتَرَيۡنَاكَ. فَقَالَ سُوَيۡبِطٌ: هُوَ كَاذِبٌ،
أَنَا رَجُلٌ حُرٌّ. قَالُوا: قَدۡ أَخۡبَرَنَا خَبَرَكَ، فَطَرَحُوا الۡحَبۡلَ
فِي رَقَبَتِهِ، فَذَهَبُوا بِهِ، وَجَاءَ أَبُو بَكۡرٍ. فَأُخۡبِرَ، فَذَهَبَ
هُوَ وَأَصۡحَابٌ لَهُ فَرَدُّوا الۡقَلَائِصَ، وَأَخَذُوهُ، فَضَحِكَ
النَّبِيُّ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ مِنۡ ذٰلِكَ حَوۡلًا.
‘Abdullah bin Muhammad memberitakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far
menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada
kami: Rauh menceritakan kepada kami: Zam’ah bin Shalih menceritakan kepada
kami: Aku mendengar Ibnu Syihab menceritakan dari ‘Abdullah bin Wahb bin
Zam’ah, dari Umu Salamah:
Abu Bakr keluar berdagang ke Busra bersama Nu’aiman dan Suwaibith bin
Harmalah, yang keduanya adalah veteran Badr. Suwaibith bertugas menjaga
perbekalan, lalu Nu’aiman mendatanginya dan berkata, “Berilah aku makanan!”
Suwaibith menjawab, “Tidak, sampai Abu Bakr datang.”
Nu’aiman adalah seorang yang suka tertawa dan jenaka. Lalu Nu’aiman berkata,
“Sungguh aku akan membuatmu jengkel.”
Nu’aiman pergi ke sekelompok orang yang membawa unta-unta tunggangan, lalu
berkata, “Belilah dariku seorang budak Arab yang tangkas dan pandai bicara.
Boleh jadi ia akan berkata: ‘Aku orang merdeka’, jika kalian akan
meninggalkannya karena hal itu maka biarkan saja, jangan merusak budakku ini!”
Mereka berkata, “Bahkan kami akan membelinya darimu seharga sepuluh ekor unta
muda.”
Nu’aiman pun datang menggiring unta-unta tersebut dan membawa rombongan itu
hingga mengikat unta-unta tersebut, lalu berkata, “Ambillah, ini orangnya!”
Rombongan itu datang dan berkata kepada Suwaibith, “Kami telah membelimu.”
Suwaibith berkata, “Dia bohong, aku orang merdeka!”
Mereka berkata, “Dia telah memberitahukan keadaanmu kepada kami.”
Lalu mereka mengikatkan tali di lehernya dan membawanya pergi. Kemudian Abu
Bakr datang dan diberitahu kejadian tersebut, lalu ia bersama para sahabatnya
pergi mengembalikan unta-unta itu dan mengambil Suwaibith kembali.
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan para sahabatnya pun tertawa selama
setahun setiap kali mengingat kejadian itu.
(وَرُوِيَ عَنۡهَا) قَالَتۡ: خَرَجَ أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ قَبۡلَ وَفَاةِ
النَّبِيِّ ﷺ بِعَامٍ فِي تِجَارَةٍ إِلَى بُصۡرَى، وَمَعَهُ نُعَيۡمَانُ بۡنُ
عَمۡرٍو الۡأَنۡصَارِيُّ، وَسَلِيطُ بۡنُ حَرۡمَلَةَ، وَهُمَا مِمَّنۡ شَهِدَ
بَدۡرًا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَكَانَ سَلِيطُ بۡنُ حَرۡمَلَةَ عَلَى
الزَّادِ، وَكَانَ نُعَيۡمَانُ بۡنُ عَمۡرٍو مَزَّاحًا، فَقَالَ لِسَلِيطٍ
أَطۡعِمۡنِي. فَقَالَ: لَا أُطۡعِمُكَ حَتَّى يَأۡتِيَ أَبُو بَكۡرٍ. فَقَالَ
نُعَيۡمَانُ لِسُوَيۡبِطٍ: لَأَغِيظَنَّكَ. فَمَرُّوا بِقَوۡمٍ. فَقَالَ
نُعَيۡمَانُ لَهُمۡ: تَشۡتَرُونَ مِنِّي عَبۡدًا؟ قَالُوا: نَعَمۡ. قَالَ:
إِنَّهُ عَبۡدٌ لَهُ كَلَامٌ، وَهُوَ قَائِلٌ لَكُمۡ: لَسۡتُ بِعَبۡدٍ، وَأَنَا
ابۡنُ عَمِّهِ. فَإِنۡ كَانَ إِذَا قَالَ لَكُمۡ هٰذَا تَرَكۡتُمُوهُ فَلَا
تَشۡتَرُوهُ، وَلَا تُفۡسِدُوا عَلَيَّ عَبۡدِي. قَالُوا: لَا، بَلۡ
نَشۡتَرِيهِ، وَلَا نَنظُرُ إِلَى قَوۡلِهِ. فَاشۡتَرَوۡهُ مِنۡهُ بِعَشۡرِ
قَلَائِصَ. ثُمَّ جَاءُوا لِيَأۡخُذُوهُ، فَامۡتَنَعَ مِنۡهُمۡ فَوَضَعُوا فِي
عُنُقِهِ عِمَامَةً، فَقَالَ لَهُمۡ: إِنَّهُ يَتَهَزَّأُ، وَلَسۡتُ
بِعَبۡدِهِ. فَقَالُوا: قَدۡ أَخۡبَرَنَا خَبَرَكَ. وَلَمۡ يَسۡمَعُوا
كَلَامَهُ؛ فَجَاءَ أَبُو بَكۡرٍ فَأُخۡبِرَ خَبَرَهُ، فَاتَّبَعَ الۡقَوۡمَ،
فَأَخۡبَرَهُمۡ أَنَّهُ يَمۡزَحُ وَرَدَّ عَلَيۡهِمُ الۡقَلَائِصَ، وَأَخَذَ
سَلِيطًا مِنۡهُمۡ، فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ أَخۡبَرَهُ
الۡخَبَرَ، فَضَحِكَ مِنۡ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابُهُ حَوۡلًا. قَالَ
الزُّبَيۡرُ: وَأَكۡثَرَ.
Diriwayatkan dari Umu Salamah, ia berkata: Abu Bakr Ash-Shiddiq keluar
berdagang ke Busra setahun sebelum wafatnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—, dan bersamanya Nu’aiman bin ‘Amr Al-Anshari dan Salith bin Harmalah,
keduanya termasuk veteran Perang Badr bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi
wa sallam—. Salith bin Harmalah bertugas menjaga perbekalan, dan Nu’aiman bin
‘Amr adalah seorang yang jenaka. Nu’aiman berkata kepada Salith, “Berilah aku
makanan!”
Salith menjawab, “Aku tidak akan memberimu makanan sampai Abu Bakr datang.”
Maka Nu’aiman berkata kepada Suwaibith, “Sungguh aku akan membuatmu jengkel!”
Lalu mereka melewati sekelompok orang, dan Nu’aiman berkata kepada mereka,
“Apakah kalian mau membeli seorang budak dariku?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Ia berkata, “Dia budak yang pandai bicara, dan dia akan berkata kepada kalian:
‘Aku bukan budak, aku sepupunya.’ Jika kalian akan meninggalkannya ketika dia
mengatakan itu, maka jangan kalian beli dan jangan merusak budakku ini!”
Mereka berkata, “Tidak, kami tetap membelinya dan tidak akan memedulikan
ucapannya.”
Maka mereka membelinya seharga sepuluh ekor unta muda. Kemudian mereka datang
untuk mengambilnya, tetapi ia menolak, lalu mereka melilitkan serban di
lehernya. Ia berkata kepada mereka, “Dia hanya berolok-olok, aku bukan
budaknya!”
Mereka menjawab, “Dia telah memberitahukan keadaanmu kepada kami,” dan mereka
tidak mendengarkan ucapannya.
Lalu Abu Bakr datang dan diberitahu kejadiannya, maka ia menyusul rombongan
itu dan memberitahukan bahwa Nu’aiman hanya bercanda, lalu mengembalikan
unta-unta tersebut dan mengambil Salith dari mereka. Ketika mereka tiba di
hadapan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau diberitahu kisah
tersebut, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan para sahabatnya
tertawa setiap kali mengingat hal itu selama setahun.
Az-Zubair berkata: Bahkan lebih dari setahun.
قَالَ أَبُو عُمَرَ: هَكَذَا فِي خَبَرِ الزُّبَيۡرِ هٰذَا: سَلِيطُ بۡنُ
حَرۡمَلَةَ، وَهٰذَا خَطَأٌ؛ إِنَّمَا هُوَ سُوَيۡبِطُ بۡنُ حَرۡمَلَةَ مِنۡ
بَنِي عَبۡدِ الدَّارِ، بَدۡرِيٌّ، ثُمَّ قَالَ بَعۡدُ: سَلِيطُ بۡنُ عَمۡرٍو،
فَأَخۡطَأَ أَيۡضًا.
Abu ‘Umar berkata: Demikianlah dalam riwayat Az-Zubair ini tertulis “Salith
bin Harmalah”, dan ini keliru; yang benar adalah Suwaibith bin Harmalah dari
Bani ‘Abd Ad-Dar, seorang veteran Badr. Kemudian Az-Zubair berkata setelahnya:
“Salith bin ‘Amr”, maka ia keliru lagi.
وَبِالۡإِسۡنادِ عَنِ الزُّبَيۡرِ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُصۡعَبٌ، عَنۡ جَدِّي
عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُصۡعَبٍ، عَنۡ رَبِيعَةَ بۡنِ عُثۡمَانَ، قَالَ: جَاءَ
أَعۡرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَدَخَلَ الۡمَسۡجِدَ، وَأَنَاخَ نَاقَتَهُ
بِفِنَائِهِ، فَقَالَ بَعۡضُ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ لِنُعَيۡمَانَ بۡنِ
عَمۡرٍو الۡأَنۡصَارِيِّ - وَكَانَ يُقَالُ لَهُ النُّعَيۡمَانُ: لَوۡ
نَحَرۡتَهَا فَأَكَلۡنَاهَا، فَإِنَّا قَدۡ قَرِمۡنَا إِلَى اللَّحۡمِ،
وَيَغۡرَمُ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثَمَنَهَا قَالَ: فَنَحَرَهَا النُّعَيۡمَانُ،
ثُمَّ خَرَجَ الۡأَعۡرَابِيُّ، فَرَأَى رَاحِلَتَهُ، فَصَاحَ وَاعَقۡرَاهُ يَا
مُحَمَّدُ! فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: (مَنۡ فَعَلَ هٰذَا)؟ قَالُوا:
النُّعَيۡمَانُ، فَاتَّبَعَهُ يَسۡأَلُ عَنۡهُ، فَوَجَدَهُ فِي دَارِ ضُبَاعَةَ
بِنۡتِ الزُّبَيۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، قَدِ اخۡتَفَى فِي خَنۡدَقٍ،
وَجَعَلَ عَلَيۡهِ الۡجَرِيدَ وَالسَّعَفَ، فَأَشَارَ إِلَيۡهِ رَجُلٌ،
وَرَفَعَ صَوۡتَهُ يَقُولُ: مَا رَأَيۡتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَشَارَ
بِإِصۡبَعِهِ حَيۡثُ هُوَ، فَأَخۡرَجَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَقَدۡ تَغَيَّرَ
وَجۡهُهُ بِالسَّعَفِ الَّذِي سَقَطَ عَلَيۡهِ، فَقَالَ لَهُ: مَا حَمَلَكَ
عَلَى مَا صَنَعۡتَ؟ قَالَ: الَّذِينَ دَلُّوكَ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللهِ هُمُ
الَّذِينَ أَمَرُونِي. قَالَ: فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَمۡسَحُ عَنۡ وَجۡهِهِ
وَيَضۡحَكُ. قَالَ: ثُمَّ غَرِمَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ.
Dengan sanad dari Az-Zubair, ia berkata: Mush’ab menceritakan kepadaku dari
kakekku ‘Abdullah bin Mush’ab, dari Rabi’ah bin ‘Utsman. Ia berkata: Seorang
Arab Badui datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu masuk ke
masjid dan menderumkan untanya di pelataran masjid. Sebagian sahabat
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepada Nu’aiman bin ‘Amr
Al-Anshari—yang sering dipanggil An-Nu’aiman—, “Sekiranya engkau
menyembelihnya tentu kita bisa memakannya, karena kita sedang sangat
menginginkan daging, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—nanti yang
akan mengganti harganya.”
Ia berkata: Maka An-Nu’aiman menyembelihnya. Kemudian orang Arab Badui itu
keluar dan melihat untanya, lalu berteriak, “Aduhai untaku yang disembelih,
wahai Muhammad!”
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar dan bertanya, “Siapa yang melakukan
ini?”
Mereka menjawab, “An-Nu’aiman.”
Beliau pun mencarinya dan menanyakannya, lalu menemukannya di rumah Dhuba’ah
binti Az-Zubair bin ‘Abd Al-Muththalib sedang bersembunyi di dalam parit kecil
dan menaruh pelepah serta daun kurma di atasnya. Seseorang memberi isyarat
kepadanya dan mengangkat suaranya seraya berkata, “Aku tidak melihatnya wahai
Rasulullah!” padahal ia memberi isyarat dengan jarinya ke tempat An-Nu’aiman
berada. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengeluarkannya dalam
keadaan wajahnya kotor oleh bekas daun kurma yang jatuh di atasnya. Beliau
bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongmu berbuat demikian?”
Ia menjawab, “Orang-orang yang menunjukkan tempatku kepadamu wahai Rasulullah,
merekalah yang menyuruhku.”
Ia berkata: Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengusap kotoran
dari wajahnya seraya tertawa. Ia berkata: Kemudian Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—mengganti harga unta tersebut.
قَالَ الزُّبَيۡرُ: وَحَدَّثَنِي عَمِّي مُصۡعَبُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ
جَدِّي عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مُصۡعَبٍ، قَالَ: كَانَ مَخۡرَمَةُ بۡنُ نَوۡفَلِ
بۡنِ أَهَيۡبَ الزُّهۡرِيُّ شَيۡخًا كَبِيرًا بِالۡمَدِينَةِ أَعۡمَى، وَكَانَ
قَدۡ بَلَغَ مِائَةً وَخَمۡسَ عَشۡرَةَ سَنَةً، فَقَامَ يَوۡمًا فِي
الۡمَسۡجِدِ يُرِيدُ أَنۡ يَبُولَ، فَصَاحَ بِهِ النَّاسُ؛ فَأَتَاهُ
نُعَيۡمَانُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ رِفَاعَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ سَوَادٍ
النَّجَّارِيُّ فَتَنَحَّى بِهِ نَاحِيَةً مِنَ الۡمَسۡجِدِ، ثُمَّ قَالَ:
اجۡلِسۡ هَاهُنَا، فَأَجۡلَسَهُ يَبُولُ وَتَرَكَهُ، فَبَالَ، وَصَاحَ بِهِ
النَّاسُ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: مَنۡ جَاءَ بِي وَيۡحَكُمۡ فِي هٰذَا
الۡمَوۡضِعِ؟ قَالُوا لَهُ: النُّعَيۡمَانُ بۡنُ عَمۡرٍو. قَالَ: فَعَلَ اللهُ
بِهِ وَفَعَلَ، أَمَا إِنَّ لِلهِ عَلَيَّ إِنۡ ظَفِرۡتُ بِهِ أَنۡ أَضۡرِبَهُ
بِعَصَايَ هٰذِهِ ضَرۡبَةً تَبۡلُغُ مِنۡهُ مَا بَلَغَتۡ. فَمَكَثَ مَا شَاءَ
اللهُ حَتَّى نَسِيَ ذٰلِكَ مَخۡرَمَةُ، ثُمَّ أَتَاهُ يَوۡمًا وَعُثۡمَانُ
قَائِمٌ يُصَلِّي فِي نَاحِيَةِ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ عُثۡمَانُ إِذَا صَلَّى
لَا يَلۡتَفِتُ، فَقَالَ لَهُ: هَلۡ لَكَ فِي نُعَيۡمَانَ؟ قَالَ: نَعَمۡ.
أَيۡنَ هُوَ؟ دُلَّنِي عَلَيۡهِ! فَأَتَى بِهِ حَتَّى أَوۡقَفَهُ عَلَى
عُثۡمَانَ، فَقَالَ: دُونَكَ هٰذَا هُوَ، فَجَمَعَ مَخۡرَمَةُ يَدَيۡهِ
بِعَصَاهُ فَضَرَبَ عُثۡمَانَ فَشَجَّهُ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّمَا ضَرَبۡتَ
أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ عُثۡمَانَ؛ فَسَمِعَتۡ بِذٰلِكَ بَنُو زُهۡرَةَ،
فَاجۡتَمَعُوا فِي ذٰلِكَ، فَقَالَ عُثۡمَانُ: دَعُوا نُعَيۡمَانَ، لَعَنَ
اللهُ نُعَيۡمَانَ، فَقَدۡ شَهِدَ بَدۡرًا.
Az-Zubair berkata: Pamanku Mush’ab bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku, dari
kakekku ‘Abdullah bin Mush’ab. Ia berkata: Makhramah bin Naufal bin Ahaib
Az-Zuhri adalah seorang kakek tua yang buta di Madinah dan usianya telah
mencapai 115 tahun. Pada suatu hari ia berdiri di dalam masjid hendak buang
air kecil, maka orang-orang menyorakinya. Lalu Nu’aiman bin ‘Amr bin Rifa’ah
bin Al-Harits bin Sawad an-Najjari mendatanginya dan membawanya menyisi ke
sudut lain dari masjid, lalu berkata, “Duduklah di sini.”
Ia mendudukkannya untuk buang air kecil lalu meninggalkannya. Makhramah pun
buang air kecil di situ dan orang-orang menyorakinya kembali. Setelah selesai
ia berkata, “Celaka kalian, siapa yang membawaku ke tempat ini?”
Mereka menjawab, “An-Nu’aiman bin ‘Amr.”
Makhramah berkata, “Semoga Allah membalas perbuatannya! Ketahuilah, aku
berjanji demi Allah jika berhasil menangkapnya, aku akan memukulnya dengan
tongkatku ini dengan pukulan sekeras-kerasnya!”
Makhramah pun tinggal beberapa lama sampai ia lupa akan kejadian itu. Kemudian
An-Nu’aiman mendatanginya pada suatu hari saat ‘Utsman sedang berdiri salat di
sudut masjid—dan ‘Utsman jika salat tidak pernah menoleh—lalu An-Nu’aiman
berkata kepada Makhramah, “Apakah engkau mau mencari Nu’aiman?”
Makhramah menjawab, “Ya, di mana dia? Tunjukkan kepadaku!”
An-Nu’aiman membawanya hingga menghentikannya di samping ‘Utsman lalu berkata,
“Ambillah, ini orangnya!”
Makhramah menggenggam tongkatnya dengan kedua tangannya lalu memukul ‘Utsman
hingga melukai kepalanya. Ada yang berkata kepada Makhramah, “Yang engkau
pukul itu adalah Amirulmukminin ‘Utsman!”
Bani Zuhrah mendengar hal itu lalu berkumpul membicarakannya, maka ‘Utsman
berkata, “Biarkanlah Nu’aiman, semoga Allah melaknat Nu’aiman, sungguh ia
telah mengikuti Perang Badr.”
قَالَ الزُّبَيۡرُ: وَحَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي
يَعۡقُوبُ بۡنُ جَعۡفَرِ بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو طَوَالَةَ
الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَزۡمٍ، عَنۡ أَبِيهِ،
قَالَ: كَانَ بِالۡمَدِينَةِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ نُعَيۡمَانُ يُصِيبُ
الشَّرَابَ، فَكَانَ يُؤۡتَى بِهِ النَّبِيُّ ﷺ فَيَضۡرِبُهُ بِنَعۡلِهِ،
وَيَأۡمُرُ أَصۡحَابَهُ فَيَضۡرِبُونَهُ بِنِعَالِهِمۡ، وَيَحۡثُونَ عَلَيۡهِ
التُّرَابَ، فَلَمَّا كَثُرَ ذٰلِكَ مِنۡهُ قَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنۡ أَصۡحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ: لَعَنَكَ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَفۡعَلۡ،
فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ)، قَالَ: وَكَانَ لَا يَدۡخُلُ فِي
الۡمَدِينَةِ رُسُلٌ وَلَا طُرۡفَةٌ إِلَّا اشۡتَرَى مِنۡهَا، ثُمَّ جَاءَ بِهِ
إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا هَدِيَّةٌ لَكَ،
فَإِذَا جَاءَ صَاحِبُهُ يَطۡلُبُ ثَمَنَهُ مِنۡ نُعَيۡمَانَ جَاءَ بِهِ إِلَى
النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: (أَعۡطِ هٰذَا ثَمَنَ هٰذَا)، فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ
ﷺ: (أَوَ لَمۡ تُهۡدِهِ لِي)؟ فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمۡ يَكُنۡ
عِنۡدِي ثَمَنُهُ، وَأَحۡبَبۡتُ أَنۡ تَأۡكُلَهُ، فَيَضۡحَكُ النَّبِيُّ ﷺ
وَيَأۡمُرُ لِصَاحِبِهِ بِثَمَنِهِ.
Az-Zubair berkata: Yahya bin Muhammad menceritakan kepadaku. Ia berkata:
Ya’qub bin Ja’far bin Abu Katsir menceritakan kepadaku: Abu Thawalah
Al-Anshari menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, dari
ayahnya. Ia berkata: Di Madinah ada seorang laki-laki bernama Nu’aiman yang
meminum khamar. Ia sering dihadapkan kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—lalu Nabi memukulnya dengan sandalnya, dan beliau memerintahkan para
sahabatnya untuk memukulnya dengan sandal-sandal mereka serta menaburkan tanah
kepadanya. Ketika hal itu sering terjadi padanya, seorang laki-laki dari
sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadanya, “Semoga Allah
melaknatmu!”
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jangan lakukan itu,
sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Ia berkata: Tidaklah barang dagangan atau makanan langka masuk ke Madinah
melainkan Nu’aiman membelinya, kemudian ia membawanya kepada Nabi—shallallahu
‘alaihi wa sallam—dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini hadiah untukmu.”
Ketika penjualnya datang menagih pembayaran dari Nu’aiman, ia membawanya
kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Berikanlah kepada
orang ini harga barang ini!”
Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Bukankah engkau
menghadiahkannya kepadaku?”
Nu’aiman menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki uangnya, tetapi aku
ingin engkau memakannya.”
Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tertawa dan memerintahkan pembayaran
harganya kepada penjual tersebut.
قَالَ أَبُو عُمَرَ: كَانَ نُعَيۡمَانُ رَجُلًا صَالِحًا عَلَى مَا كَانَ
فِيهِ مِنۡ دُعَابَةٍ، وَكَانَ لَهُ ابۡنٌ قَدِ انۡهَمَكَ فِي شُرۡبِ
الۡخَمۡرِ، فَجَلَدَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِيهَا أَرۡبَعَ مَرَّاتٍ، فَلَعَنَهُ
رَجُلٌ كَانَ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا
تَلۡعَنۡهُ، فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ). وَفِي جَلۡدِ رَسُولِ اللهِ
ﷺ إِيَّاهُ فِي الۡخَمۡرِ أَرۡبَعَ مَرَّاتٍ نَسۡخٌ لِقَوۡلِهِ عَلَيۡهِ
السَّلَامُ: (فَإِنۡ شَرِبَهَا الرَّابِعَةَ فَاقۡتُلُوهُ). يُقَالُ: إِنَّهُ
مَاتَ فِي زَمَنِ مُعَاوِيَةَ، وَيُقَالُ: بَلِ ابۡنُهُ الَّذِي مَاتَ فِي
زَمَنِ مُعَاوِيَةَ.
Abu ‘Umar berkata: Nu’aiman adalah seorang laki-laki yang saleh, terlepas dari
kejenakaan yang ada pada dirinya. Ia memiliki seorang putra yang terjerumus
dalam perbuatan meminum khamar, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—mencambuknya sebanyak empat kali. Kemudian seorang laki-laki yang ada
di sisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaknatnya, maka
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Jangan engkau
melaknatnya, sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Tindakan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mencambuknya dalam perkara
khamar sebanyak empat kali merupakan penasakhan bagi sabda
beliau—‘alaihis-salam—: “Jika ia meminumnya pada kali yang keempat maka
bunuhlah ia.”
Ada yang berpendapat: Nu’aiman meninggal pada zaman Mu’awiyah, dan ada pula
yang berpendapat: Bahkan putranya yang meninggal pada zaman Mu’awiyah.