Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5580

٥٥٨٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ عَبۡدُ رَبِّهِ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: حُرِّمَتۡ عَلَيۡنَا الۡخَمۡرُ حِينَ حُرِّمَتۡ، وَمَا نَجِدُ - يَعۡنِي بِالۡمَدِينَةِ - خَمۡرَ الۡأَعۡنَابِ إِلَّا قَلِيلًا، وَعَامَّةُ خَمۡرِنَا الۡبُسۡرُ وَالتَّمۡرُ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5580. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Abu Syihab ‘Abdu Rabbih bin Nafi’ menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas. Beliau berkata: Ketika larangan minuman keras (khamar) diberlakukan atas kami, kami hampir tidak mendapati, yakni di Madinah, minuman keras dari anggur kecuali sedikit saja. Umumnya minuman keras kami adalah dari kurma mengkal (al-busr) dan kurma matang (at-tamr).

Al-Isti'ab - 987. Sa'id bin Zaid

٩٨٧ - [سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرٍو]:
987. Sa’id bin Zaid bin ‘Amr


سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو، بۡنِ نُفَيۡلِ [عَبۡدِ العُزَّى بۡنِ رِيَاحِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ قُرۡطِ بۡنِ رَزَاحِ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ لُؤَيٍّ القُرَشِيُّ العَدَوِيُّ، أُمُّهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ بَعۡجَةَ بۡنِ مَلِيحٍ الخُزَاعِيَّةُ، هُوَ ابۡنُ عَمِّ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ وَصِهۡرُهُ، يُكۡنَى أَبَا الۡأَعۡوَرِ، كَانَتۡ تَحۡتَهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ الخَطَّابِ أُخۡتُ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ، وَكَانَتۡ أُخۡتُهُ عَاتِكَةُ بِنۡتُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ تَحۡتَ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ، وَكَانَ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ مِنَ المُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ، وَكَانَ إِسۡلَامُهُ قَدِيمًا قَبۡلَ عُمَرَ، وَبِسَبَبِ زَوۡجَتِهِ كَانَ إِسۡلَامُ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ؛ وَخَبَرُهُمَا فِي ذٰلِكَ خَبَرٌ حَسَنٌ، وَهَاجَرَ هُوَ وَامۡرَأَتُهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ الخَطَّابِ، وَلَمۡ يَشۡهَدۡ بَدۡرًا؛ لِأَنَّهُ كَانَ غَائِبًا بِـ(الشَّامِ)، قَدِمَ مِنۡهَا بِعَقِبِ غَزۡوَةِ بَدۡرٍ، فَضَرَبَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِسَهۡمِهِ وَأَجۡرِهِ، فَقِصَّتُهُ أَشۡبَهُ الۡقَصَصِ بِقِصَّةِ طَلۡحَةَ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ فِيمَا قَالَ مُوسَى بۡنُ عُقۡبَةَ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، وَكَذٰلِكَ قَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ.

Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail ‘Abdil-‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka‘b bin Lu`ay Al-Qurasyi Al-‘Adawi. Ibunya adalah Fathimah binti Ba’jah bin Malih Al-Khuza’iyyah. Ia adalah sepupu ‘Umar bin Al-Khaththab dan iparnya, dijuluki dengan nama kunyah Abul-A’war. Fathimah binti Al-Khaththab, saudara perempuan ‘Umar bin Al-Khaththab, menjadi istrinya, sedangkan saudara perempuannya yaitu ‘Atikah binti Zaid bin ‘Amr berada di bawah ikatan pernikahan dengan ‘Umar bin Al-Khaththab.

Sa’id bin Zaid termasuk golongan Muhajirin yang pertama. Keislamannya sudah lama terjadi sebelum ‘Umar, dan karena perantara istrinya pula keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab terjadi, serta kisah mereka berdua dalam hal itu adalah kisah yang baik. Ia berhijrah bersama istrinya—Fathimah binti Al-Khaththab—namun tidak ikut serta dalam Perang Badr karena sedang tidak berada di tempat (di Syam), lalu ia datang dari sana tepat setelah usainya Perang Badr. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tetap memberikan bagian harta rampasan perang dan pahalanya untuknya. Kisahnya sangat menyerupai kisah Thalhah bin ‘Ubaidullah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq.

قَالَ الوَاقِدِيُّ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَدۡ بَعَثَ - قَبۡلَ أَنۡ يَخۡرُجَ مِنَ المَدِينَةِ إِلَى بَدۡرٍ - طَلۡحَةَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ وَسَعِيدَ بۡنَ زَيۡدٍ [إِلَى طَرِيقِ الشَّامِ] يَتَجَسَّسَانِ الۡأَخۡبَارَ، ثُمَّ رَجَعَا إِلَى المَدِينَةِ، فَقَدِمَا لَهَا يَوۡمَ وَقۡعَةِ بَدۡرٍ، فَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِسَهۡمِهِمَا وَأَجۡرِهِمَا. وَبِقَوۡلِ الوَاقِدِيِّ قَالَ الزُّبَيۡرُ فِي ذٰلِكَ سَوَاءً.

Al-Waqidi berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebelum keluar dari Madinah menuju Badr, beliau pernah mengutus Thalhah bin ‘Abdullah dan Sa’id bin Zaid (ke jalur Syam) untuk memata-matai berita. Kemudian keduanya kembali ke Madinah dan tiba di sana pada hari terjadinya Perang Badr. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan bagian saham dan pahala untuk keduanya. Senada dengan perkataan Al-Waqidi, Az-Zubair juga berkata serupa dalam hal itu.

وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّهُ شَهِدَ بَدۡرًا، ثُمَّ شَهِدَ مَا بَعۡدَهَا مِنَ المَشَاهِدِ، وَهُوَ أَحَدُ العَشَرَةِ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالجَنَّةِ. وَكَانَ أَبُوهُ زَيۡدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ يَطۡلُبُ دِينَ الحَنِيفِيَّةِ دِينَ إِبۡرَاهِيمَ عليه السلام قَبۡلَ أَنۡ يُبۡعَثَ النَّبِيُّ ﷺ، وَكَانَ لَا يَذۡبَحُ لِلۡأَنۡصَابِ وَلَا يَأۡكُلُ المَيۡتَةَ وَالدَّمَ.

Ada yang berpendapat: Sesungguhnya ia turut serta dalam Perang Badr, kemudian mengikuti peperangan-peperangan setelahnya. Ia adalah salah seorang dari sepuluh sahabat yang dipersaksikan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—akan masuk janah. Ayahnya, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, mencari agama Hanifiyyah yaitu agama Ibrahim—‘alaihis-salam—sebelum Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diutus. Ia tidak pernah menyembelih untuk berhala serta tidak makan bangkai dan darah.

وَمِنۡ خَبَرِهِ: فِي ذٰلِكَ أَنَّهُ خَرَجَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ يَطۡلُبُ الدِّينَ هُوَ وَوَرَقَةُ بۡنُ نَوۡفَلٍ، فَلَقِيَا اليَهُودَ، فَعَرَضَتۡ عَلَيۡهِمَا يَهُودُ دِينَهُمۡ، فَتَهَوَّدَ وَرَقَةُ، ثُمَّ لَقِيَا النَّصَارَى فَعَرَضُوا عَلَيۡهِمَا دِينَهُمۡ، فَتَرَكَ وَرَقَةُ اليَهُودِيَّةَ وَتَنَصَّرَ، وَأَبَى زَيۡدُ بۡنُ عَمۡرٍو أَنۡ يَأۡتِيَ شَيۡئًا مِنۡ ذٰلِكَ، وَقَالَ: مَا هٰذَا إِلَّا كَدِينِ قَوۡمِنَا، تُشۡرِكُونَ وَيُشۡرِكُونَ، وَلَكِنَّكُمۡ عِنۡدَكُمۡ مِنَ اللهِ ذِكۡرٌ وَلَا ذِكۡرَ عِنۡدَهُمۡ. فَقَالَ لَهُ رَاهِبٌ: إِنَّكَ لَتَطۡلُبُ دِينًا مَا هُوَ عَلَى الۡأَرۡضِ اليَوۡمَ. فَقَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: دِينُ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ: وَمَا كَانَ عَلَيۡهِ إِبۡرَاهِيمُ؟ قَالَ: كَانَ يَعۡبُدُ اللهَ لَا يُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَيُصَلِّي إِلَى الكَعۡبَةِ. فَكَانَ زَيۡدٌ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى مَاتَ.

Di antara kisahnya: Ia keluar merantau pada masa jahiliah mencari agama bersama Waraqah bin Naufal. Keduanya lalu menemui orang-orang Yahudi yang kemudian menawarkan agama mereka kepada keduanya. Waraqah pun memeluk agama Yahudi. Setelah itu, keduanya menemui kaum Nasrani yang juga menawarkan agama mereka kepada keduanya. Waraqah lantas meninggalkan agama Yahudi dan masuk Nasrani, sedangkan Zaid bin ‘Amr enggan mengambil sedikit pun dari agama-agama tersebut. Ia berkata, “Tidaklah ini melainkan seperti agama kaum kita; kalian mempersekutukan Allah dan mereka juga mempersekutukan-Nya, hanya saja kalian memiliki kitab dari Allah sedangkan mereka tidak memilikinya.”

Lalu seorang pendeta berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau benar-benar mencari agama yang tidak ada di muka bumi hari ini.”

Ia bertanya, “Apakah itu?”

Pendeta itu menjawab, “Agama Ibrahim.”

Ia bertanya lagi, “Apa ajaran yang dianut Ibrahim?”

Pendeta itu menjawab, “Ia menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan salat menghadap Kakbah.”

Zaid pun terus berada di atas keyakinan tersebut hingga ia meninggal dunia.

حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ قَاسِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى بۡنِ جَمِيلٍ، حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِسۡحَاقَ القَاضِي حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا الۡأَصۡمَعِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي الزِّنَادِ، قَالَ: قَالَتۡ أَسۡمَاءُ بِنۡتُ أَبِي بَكۡرٍ، وَكَانَتۡ أَكۡبَرَ مِنۡ عَائِشَةَ بِعَشۡرِ سِنِينَ أَوۡ نَحۡوِهَا - قَالَتۡ: رَأَيۡتُ زَيۡدَ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى الكَعۡبَةِ وَهُوَ يَقُولُ: يَا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ، وَاللهِ لَا آكُلُ مَا ذُبِحَ لِغَيۡرِ اللهِ، وَاللهِ مَا عَلَى دِينِ إِبۡرَاهِيمَ أَحَدٌ غَيۡرِي.

Ahmad bin Qasim telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Musa bin Jamil menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ishaq Al-Qadhi menceritakan kepada kami: Nashr bin ‘Ali menceritakan kepada kami: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami. Ia berkata: Asma` binti Abu Bakr—yang usianya lebih tua sepuluh tahun atau sekitar itu dari ‘Aisyah—berkata: Aku melihat Zaid bin ‘Amr bin Nufail menyandarkan punggungnya ke Kakbah sambil berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, aku tidak akan memakan apa pun yang disembelih untuk selain Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun di atas agama Ibrahim selain diriku.”

حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ سَعۡدٍ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ صَخۡرٍ، حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا الۡمَسۡعُودُ، عَنۡ نَوۡفَلِ بۡنِ هِشَامِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ قَالَ: خَرَجَ وَرَقَةُ بۡنُ نَوۡفَلٍ وَزَيۡدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ يَطۡلُبَانِ الدِّينَ حَتَّى مَرَّ بِالشَّامِ، فَأَمَّا وَرَقَةُ فَتَنَصَّرَ، وَأَمَّا زَيۡدٌ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ الَّذِي تَطۡلُبُ أَمَامَكَ. قَالَ: فَانۡطَلَقَ حَتَّى أَتَى المَوۡصِلَ، فَإِذَا هُوَ بِرَاهِبٍ، فَقَالَ: مِنۡ أَيۡن أَقۡبَلَ صَاحِبُ الرَّاحِلَةِ؟ فَقَالَ: مِنۡ بَيۡتِ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ: فَمَا تَطۡلُبُ؟ قَالَ: الدِّينَ. قَالَ: فَعَرَضَ عَلَيۡهِ النَّصۡرَانِيَّةَ. فَقَالَ: لَا حَاجَةَ لِي بِهَا، وَأَبَى أَنۡ يَقۡبَلَهَا. فَقَالَ: إِنَّ الَّذِي تَطۡلُبُ سَيَظۡهَرُ بِأَرۡضِكَ. فَأَقۡبَلَ وَهُوَ يَقُولُ: [رجز]

لَبَّيۡكَ حَقًّا حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا     مَهۡمَا تَجَشَّمۡنِي فَإِنِّي جَاشِمٌ     عُذۡتُ بِمَا عَاذَ بِهِ إِبۡرَاهِمُ.

Qasim bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Khalid bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ahmad bin ‘Umar menceritakan kepada kami: Muhammad bin Shakhr menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah bin Raja` menceritakan kepada kami: Al-Mas’ud menceritakan kepada kami dari Naufal bin Hisyam bin Sa’id bin Zaid, dari ayahnya, dari kakeknya. Ia berkata: Waraqah bin Naufal dan Zaid bin ‘Amr bin Nufail keluar merantau mencari agama hingga keduanya tiba di Syam. Adapun Waraqah, ia masuk Nasrani. Sedangkan Zaid, ia diberi tahu: “Sesungguhnya apa yang engkau cari ada di hadapanmu.”

Ia berkata: Maka ia pun terus berjalan hingga tiba di Mosul. Tiba-tiba ia mendapati seorang pendeta, lalu sang pendeta bertanya, “Dari mana asal pemilik kendaraan ini?”

Ia menjawab, “Dari tempat Ibrahim.”

Pendeta itu bertanya, “Apa yang engkau cari?”

Ia menjawab, “Agama.”

Pendeta itu lalu menawarkan agama Nasrani kepadanya. Ia berkata, “Aku tidak memiliki hajat terhadapnya,” dan ia enggan menerimanya.

Pendeta itu berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau cari akan segera muncul di negeri tempat tinggalmu.”

Ia pun pulang sambil bersenandung, “Kuhadiri panggilan-Mu dengan benar, benar-benar penuh pengabdian dan kepasrahan. Bagaimanapun berat beban yang Engkau bebankan padaku, maka aku sanggupi. Aku berlindung kepada apa yang dijadikan tempat berlindung oleh Ibrahim.”

قَالَ: وَمَرَّ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَمَعَهُ أَبُو سُفۡيَانَ بۡنُ الحَارِثِ يَأۡكُلَانِ مِنۡ سُفۡرَةٍ لَهُمَا، فَدَعَوَاهُ إِلَى الغَذَاءِ، قَالَ: يَا بۡنَ أَخِي، إِنِّي لَا آكُلُ مَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ. قَالَ: فَمَا رُؤِيَ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ يَوۡمِهِ ذٰلِكَ يَأۡكُلُ مِمَّا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ حَتَّى بُعِثَ ﷺ.

Ia berkata: Zaid bin ‘Amr bin Nufail lalu berjalan melewati Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersama Abu Sufyan bin Al-Harits yang sedang menyantap bekal perjalanan milik mereka berdua. Keduanya lalu mengajak Zaid untuk ikut makan bersama. Zaid berkata, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak memakan apa pun yang disembelih untuk berhala.”

Perawi berkata: Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak pernah terlihat lagi sejak hari itu memakan apa pun yang disembelih untuk berhala hingga kemudian beliau diutus—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

قَالَ: وَأَتَاهُ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ، فَقَالَ: إِنَّ زَيۡدًا كَانَ كَمَا قَدۡ رَأَيۡتَ وَبَلَغَكَ، فَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُ؟ قَالَ: نَعَمۡ، فَإِنَّهُ يُبۡعَثُ يَوۡمَ القِيَامَةِ أُمَّةً وَحۡدَهُ.

Ia berkata: Sa’id bin Zaid mendatangi Nabi lalu bertanya, “Sesungguhnya Zaid keadaannya adalah sebagaimana yang telah engkau lihat dan sampai kepadamu, apakah boleh aku memohon ampunan untuknya?”

Nabi menjawab, “Ya, karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai satu umat tersendiri.”

وَذَكَرَ ابۡنُ أَبِي الزِّنَادِ أَيۡضًا، عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ لَقِيَ زَيۡدَ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ بِأَسۡفَلِ بَلۡدَحَ، وَذٰلِكَ قَبۡلَ أَنۡ يَنَزَّلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الوَحۡيُ، فَقَدَّمَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ سُفۡرَةً فِيهَا لَحۡمٌ، فَأَبَى أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡهُ. [وَقَالَ: إِنِّي لَا آكُلُ إِلَّا مَا ذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ، رَوَاهُ عَلِيُّ بۡنُ الحُسَيۡنِ عَنِ الطُّوسِيِّ عَنِ الزُّبَيۡرِ عَنۡ عَمِّهِ مُصۡعَبٍ عَنِ الضَّحَّاكِ بۡنِ عُثۡمَانَ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ ابۡنِ أَبِي الزِّنَادِ].

Ibnu Abu Az-Zinad juga menyebutkan dari Musa bin ‘Uqbah, dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari ayahnya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau pernah bertemu dengan Zaid bin ‘Amr bin Nufail di bagian bawah Baldah, dan itu terjadi sebelum wahyu diturunkan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyajikan hidangan daging kepada Zaid, namun ia enggan memakannya. Zaid berkata, “Sesungguhnya aku tidak memakan kecuali sembelihan yang disebut nama Allah padanya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ‘Ali bin Al-Husain dari Ath-Thusi, dari Az-Zubair, dari pamannya, Mush’ab bin Adh-Dhahhak bin ‘Utsman, dari ‘Abdurrahman bin Abu Az-Zinad.

وَكَانَ عُثۡمَانُ قَدۡ أَقۡطَعَ سَعِيدًا أَرۡضًا بِالكُوفَةِ، فَنَزَلَهَا وَسَكَنَهَا إِلَى أَنۡ مَاتَ، وَسَكَنَهَا مِنۡ بَعۡدِهِ مِنۡ بَنِيهِ الۡأَسۡوَدُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَكَانَ لَهُ أَرۡبَعَةُ بَنِينَ: عَبۡدُ اللهِ، وَعَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، وَزَيۡدٌ، وَالۡأَسۡوَدُ، كُلُّهُمۡ أَعۡقَبَ وَأَنۡجَبَ.

‘Utsman pernah memberikan sebidang tanah kepada Sa’id di Kufah, lalu ia menempatinya dan tinggal di sana hingga wafat. Setelah ia wafat, tanah tersebut ditempati oleh keturunannya yaitu Al-Aswad bin Sa’id. Sa’id memiliki empat orang anak laki-laki: ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, Zaid, dan Al-Aswad; semuanya memiliki keturunan dan bernasab mulia.

وَذَكَرَ الزُّبَيۡرُ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ حَمۡزَةَ، عَنِ المُغِيرَةِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنِ العُمَرِيِّ، عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ حَفۡصٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ أَنَّ مَرۡوَانَ أَرۡسَلَ إِلَى سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ نَاسًا يُكَلِّمُونَهُ فِي شَأۡنِ أَرۡوَى بِنۡتِ أُوَيۡسٍ، وَكَانَتۡ شَكَتۡهُ إِلَى مَرۡوَانَ. فَقَالَ سَعِيدٌ: تَرَوۡنِي ظَلَمۡتُهَا وَقَدۡ سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ ظَلَمَ مِنَ الۡأَرۡضِ شِبۡرًا طُوِّقَهُ يَوۡمَ القِيَامَةِ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ). اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ كَاذِبَةً فَلَا تُمِتۡهَا حَتَّى تُعۡمِيَ بَصَرَهَا، وَتَجۡعَلَ قَبۡرَهَا فِي بِئۡرٍ. قَالَ: فَوَاللهِ مَا مَاتَتۡ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا، وَجَعَلَتۡ تَمۡشِي فِي دَارِهَا وَهِيَ حَذِرَةٌ فَوَقَعَتۡ فِي بِئۡرِهَا فَكَانَتۡ قَبۡرَهَا.

Az-Zubair menyebutkan dari Ibrahim bin Hamzah, dari Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman, dari Al-‘Umari, yaitu ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Marwan mengutus beberapa orang kepada Sa’id bin Zaid untuk berbicara mengenainya perihal Arwa binti Uwais, karena wanita itu telah mengadukan Sa’id kepada Marwan. Sa’id berkata, “Apakah kalian menyangka aku telah menzaliminya, padahal aku telah mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Barang siapa yang menzalimi tanah sejengkal, kelak tanah itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat sedalam tujuh lapis bumi.’ Ya Allah, jika ia berdusta, janganlah Engkau matikan ia hingga Engkau butakan penglihatannya dan jadikan kuburannya berada di dalam sumur.”

Perawi berkata: Demi Allah, wanita itu tidaklah mati hingga hilang penglihatannya, lalu ia berjalan di rumahnya dengan meraba-raba penuh kehati-hatian, hingga akhirnya ia terperosok ke dalam sumurnya sendiri dan sumur itu pun menjadi kuburannya.

قَالَ الزُّبَيۡرُ: وَحَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ حَمۡزَةَ، قَالَ حَدَّثَنِي عَبۡدُ العَزِيزِ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ العَلَاءِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّ أَرۡوَى بِنۡتَ أُوَيۡسٍ اسۡتَعۡدَتۡ مَرۡوَانَ بۡنَ الحَكَمِ عَلَى سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ فِي أَرۡضِهِ بِالشَّجَرَةِ، فَقَالَ سَعِيدٌ: كَيۡفَ أَظۡلِمُهَا؟ وَذَكَرَ مِثۡلَ مَا تَقَدَّمَ.

Az-Zubair berkata: Ibrahim bin Hamzah menceritakan kepadaku. Ia berkata: ‘Abdul-‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya: Arwa binti Uwais mengadu kepada Marwan bin Al-Hakam mengenai Sa’id bin Zaid terkait tanah miliknya di Asy-Syajarah. Sa’id berkata, “Bagaimana mungkin aku menzaliminya?” lalu ia menyebutkan perkataan seperti riwayat sebelumnya.

وَأَوۡجَبَ مَرۡوَانُ عَلَيۡهِ اليَمِينَ، فَتَرَكَ سَعِيدٌ لَهَا مَا ادَّعَتۡ، وَقَالَ: اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ أَرۡوَى كَاذِبَةً فَأَعۡمِ بَصَرَهَا، وَاجۡعَلۡ قَبۡرَهَا فِي بِئۡرِهَا، فَعَمِيَتۡ أَرۡوَى، وَجَاءَ سَيۡلٌ فَأَبۡدَى ضَفِيرَتَهَا، فَرَأَوۡا حَقَّهَا خَارِجًا عَنۡ حَقِّ سَعِيدٍ، فَجَاءَ سَعِيدٌ إِلَى مَرۡوَانَ، فَقَالَ: أَقۡسَمۡتُ عَلَيۡكَ لَتَرۡكَبَنَّ مَعِي وَلَتَنۡظُرَنَّ إِلَى ضَفِيرَتِهَا، فَرَكِبَ مَعَهُ مَرۡوَانُ، وَرَكِبَ نَاسٌ مَعَهُمَا حَتَّى نَظَرُوا إِلَيۡهَا. ثُمَّ إِنَّ أَرۡوَى خَرَجَتۡ فِي بَعۡضِ حَاجَتِهَا بَعۡدَمَا عَمِيَتۡ، فَوَقَعَتۡ فِي البِئۡرِ فَمَاتَتۡ. قَالَ: وَكَانَ أَهۡلُ المَدِينَةِ يَدۡعُو بَعۡضُهُمۡ عَلَى بَعۡضٍ يَقُولُونَ: أَعۡمَاكَ اللهُ كَمَا أَعۡمَى أَرۡوَى، يُرِيدُونَهَا، ثُمَّ صَارَ أَهۡلُ الجَهۡلِ يَقُولُونَ: أَعۡمَاكَ اللهُ كَمَا أَعۡمَى الۡأَرۡوَى، يُرِيدُونَ الۡأَرۡوَى الَّتِي فِي الجَبَلِ يَظُنُّونَهَا، وَيَقُولُونَ: إِنَّهَا عَمۡيَاءُ، وَهٰذَا جَهۡلٌ مِنۡهُمۡ.

Marwan mewajibkan Sa’id untuk bersumpah, namun Sa’id justru merelakan tanah yang disengketakan itu untuk Arwa dan berkata, “Ya Allah, jika Arwa berdusta, maka butakanlah penglihatannya, dan jadikanlah kuburannya berada di dalam sumurnya.”

Arwa pun menjadi buta, dan suatu ketika datanglah aliran air banjir yang menyingkapkan batas tanah miliknya, sehingga terlihatlah hak tanah Sa’id ternyata berada di luar batas tanah Arwa. Sa’id lantas mendatangi Marwan dan berkata, “Aku bersumpah demi Allah agar engkau mau berkuda bersamaku dan melihat sendiri batas tanahnya.”

Marwan pun ikut berkuda bersamanya, bersama sejumlah orang lainnya, hingga mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian pada suatu hari Arwa keluar untuk suatu keperluannya setelah ia buta, lalu ia terperosok ke dalam sumur dan meninggal dunia.

Perawi berkata: Penduduk Madinah dahulu biasa saling mendoakan keburukan dengan berkata, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia telah membutakan Arwa,” yang mereka maksud adalah wanita tersebut. Namun kemudian orang-orang yang bodoh mulai mengucapkannya dengan, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Ia telah membutakan al-arwa (domba gunung),” yang mereka maksud adalah hewan domba yang ada di gunung karena menyangka hewan tersebut buta, dan ini adalah kebodohan dari mereka.

حَدَّثَنَا عَبۡدُ الوَارِثِ بۡنُ سُفۡيَانَ، حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا المُطَّلِبُ بۡنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيۡثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ الهَادِي، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَزۡمٍ، قَالَ: جَاءَتۡ أَرۡوَى بِنۡتُ أُوَيۡسٍ إِلَى أَبِي مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَازِمٍ فَقَالَتۡ لَهُ: يَا أَبَا عَبۡدِ المَلِكِ؛ إِنَّ سَعِيدَ بۡنَ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ قَدۡ بَنَى ضَفِيرَةً فِي حَقِّي فَأۡتِهِ بِكَلِمَةٍ فَلۡيَنۡزِعۡ عَنۡ حَقِّي، فَوَاللهِ لَئِنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡ لَأَصِيحَنَّ بِهِ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

‘Abdul-Warits bin Sufyan telah menceritakan kepada kami: Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada kami: Al-Muththalib bin Sa’id menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Laits menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Al-Hadi menceritakan kepadaku dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm. Ia berkata: Arwa binti Uwais datang kepada Abu Muhammad bin ‘Amr bin Hazm lalu berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdul-Malik, sesungguhnya Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail telah membangun pembatas tanah di atas hak tanahku. Maka temuilah ia dengan suatu teguran agar ia melepaskan hakku. Demi Allah, jika ia tidak melakukannya, sungguh aku akan meneriakinya di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

فَقَالَ لَهَا: لَا تُؤۡذِي صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَمَا كَانَ لِيَظۡلِمَكِ وَلَا لِيَأۡخُذَ لَكِ حَقًّا. فَخَرَجَتۡ وَجَاءَتۡ عُمَارَةَ بۡنَ عَمۡرٍو، وَعَبۡدَ اللهِ بۡنَ سَلَمَةَ، فَقَالَتۡ لَهُمَا: ائۡتِيَا سَعِيدَ بۡنَ زَيۡدٍ فَإِنَّهُ قَدۡ ظَلَمَنِي وَبَنَى ضَفِيرَةً فِي حَقِّي، فَوَاللهِ لَئِنۡ لَمۡ يَنۡزِعۡ لَأَصِيحَنَّ بِهِ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَخَرَجَا حَتَّى أَتَيَاهُ فِي أَرۡضِهِ بِالعَقِيقِ، فَقَالَ لَهُمَا: مَا أَتَى بِكُمَا؟ قَالَا: جَاءَتۡنَا أَرۡوَى بِنۡتُ أُوَيۡسٍ، فَزَعَمَتۡ أَنَّكَ بَنَيۡتَ ضَفِيرَةً فِي حَقِّهَا، وَحَلَفَتۡ بِاللهِ لَئِنۡ لَمۡ تَنۡزِعۡ لَتَصِيحَنَّ بِكَ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَأَحۡبَبۡنَا أَنۡ نَأۡتِيَكَ، وَنَذۡكُرَ ذٰلِكَ لَكَ.

Abu Muhammad bin ‘Amr bin Hazm berkata kepadanya, “Janganlah engkau menyakiti sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, karena beliau tidak mungkin menzalimimu dan tidak pula mengambil hakmu.”

Wanita itu lantas pergi dan mendatangi ‘Umarah bin ‘Amr dan ‘Abdullah bin Salamah, lalu berkata kepada keduanya, “Datangilah Sa’id bin Zaid, karena sesungguhnya ia telah menzalimiku dan membangun pembatas di atas hak tanahku. Demi Allah, jika ia tidak melepaskannya, sungguh aku akan meneriakinya di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Keduanya pun pergi hingga menemui Sa’id di tanah miliknya di Al-‘Aqiq. Sa’id bertanya kepada keduanya, “Ada keperluan apa kalian berdua datang?”

Keduanya menjawab, “Arwa binti Uwais mendatangi kami dan mengaku bahwa engkau telah membangun pembatas tanah di atas haknya, dan ia bersumpah demi Allah bahwa jika engkau tidak melepaskannya, ia benar-benar akan meneriakimu di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Oleh karena itu, kami ingin mendatangimu dan menyampaikan hal ini kepadamu.”

فَقَالَ لَهُمَا: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ أَخَذَ شِبۡرًا مِنَ الۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ حَقِّهِ يُطَوِّقُهُ اللهُ يَوۡمَ القِيَامَةِ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ). فَلۡتَأۡتِ فَلۡتَأۡخُذۡ مَا كَانَ لَهَا مِنَ الحَقِّ، اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ كَاذِبَةً فَلَا تُمِتۡهَا حَتَّى تُعۡمِيَ بَصَرَهَا وَتَجۡعَلَ مَيۡتَتَهَا فِيهَا، [فَرَجَعُوا فَأَخۡبَرُوهَا] ذٰلِكَ فَجَاءَتۡ فَهَدَمَتِ الضَّفِيرَةَ، وَبَنَتۡ بُنۡيَانًا، فَلَمۡ تَمۡكُثۡ إِلَّا قَلِيلًا حَتَّى عَمِيَتۡ، وَكَانَتۡ تَقُومُ بِاللَّيۡلِ وَمَعَهَا جَارِيَةٌ لَهَا تَقُودُهَا لِتُوقِظَ العُمَّالَ، فَقَامَتۡ لَيۡلَةً وَتَرَكَتِ الجَارِيَةَ فَلَمۡ تُوقِظۡهَا، فَخَرَجَتۡ تَمۡشِي حَتَّى سَقَطَتۡ فِي البِئۡرِ، فَأَصۡبَحَتۡ مَيۡتَةً.

Sa’id berkata kepada keduanya, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah bukan dengan haknya, maka Allah akan mengalungkannya di lehernya pada hari kiamat sedalam tujuh lapis bumi.’[1] Biarkan ia datang dan mengambil apa saja hak yang menjadi miliknya. Ya Allah, jika ia berdusta, janganlah Engkau matikan ia hingga Engkau butakan penglihatannya dan jadikan kematiannya terjadi di tempat itu.”

Mereka pun pulang lalu menyampaikan hal tersebut kepada Arwa. Wanita itu lantas datang lalu merobohkan bangunan pembatas tersebut dan mendirikan bangunan baru di atasnya. Namun tidak lama berselang, ia pun menjadi buta. Ia biasa bangun malam dengan ditemani oleh seorang budak wanita yang menuntunnya untuk membangunkan para pekerja. Pada suatu malam ia bangun sendirian dan meninggalkan budak wanita tersebut tanpa membangunkannya, lalu ia keluar berjalan hingga terperosok ke dalam sumur, dan keesokan harinya ia ditemukan sudah meninggal dunia.

تُوُوُفِّيَ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ بِأَرۡضِهِ بِالعَقِيقِ، وَدُفِنَ بِالمَدِينَةِ فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ سَنَةَ خَمۡسِينَ أَوۡ إِحۡدَى وَخَمۡسِينَ، وَهُوَ ابۡنُ بِضۡعٍ وَسَبۡعِينَ سَنَةً. رَوَى عَنۡهُ ابۡنُ عُمَرَ، وَعَمۡرُو بۡنُ حُرَيۡثٍ، وَأَبُوالطُّفَيۡلِ عَامِرُ بۡنُ وَاثِلَةَ وَجَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ.

Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail wafat di tanah miliknya di Al-‘Aqiq, dan dimakamkan di Madinah pada masa kekhalifahan Mu’awiyah pada tahun 50 atau 51 H, dalam usia lebih dari 70 tahun. Yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu ‘Umar, ‘Amr bin Huraits, Abu Ath-Thufail ‘Amir bin Watsilah, serta sekelompok tabiin.


Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4620

١١ - بَابٌ ﴿لَيۡسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَاللهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِينَ﴾ [٩٣]
11. Bab “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu,” sampai firman-Nya: “dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Al-Maidah: 93)


٤٦٢٠ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ الۡخَمۡرَ الَّتِي أُهۡرِيقَتِ الۡفَضِيخُ.

وَزَادَنِي مُحَمَّدٌ، عَنۡ أَبِي النُّعۡمَانِ قَالَ: كُنۡتُ سَاقِيَ الۡقَوۡمِ فِي مَنۡزِلِ أَبِي طَلۡحَةَ، فَنَزَلَ تَحۡرِيمُ الۡخَمۡرِ، فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى، فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: اخۡرُجۡ فَانۡظُرۡ مَا هٰذَا الصَّوۡتُ؟ قَالَ: فَخَرَجۡتُ فَقُلۡتُ: هٰذَا مُنَادٍ يُنَادِي: أَلَا إِنَّ الۡخَمۡرَ قَدۡ حُرِّمَتۡ، فَقَالَ لِي: اذۡهَبۡ فَأَهۡرِقۡهَا، قَالَ: فَجَرَتۡ فِي سِكَكِ الۡمَدِينَةِ. قَالَ: وَكَانَتۡ خَمۡرُهُمۡ يَوۡمَئِذٍ الۡفَضِيخَ، فَقَالَ بَعۡضُ الۡقَوۡمِ: قُتِلَ قَوۡمٌ وَهِيَ فِي بُطُونِهِمۡ، قَالَ: فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿لَيۡسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا﴾ [٩٣]. [طرفه في: ٢٤٦٤].

4620. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: Bahwa khamar yang ditumpahkan itu adalah fadhikh (khamar yang terbuat dari kurma muda yang belum matang sempurna).

Dan Muhammad menambahkan kepadaku, dari Abu An-Nu’man. Ia berkata:

Aku dahulu adalah penuang minuman untuk orang-orang di rumah Abu Thalhah, lalu turunlah larangan khamar. Lantas Nabi memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkannya. Abu Thalhah berkata, “Keluarlah dan lihatlah suara apa itu!”

Anas berkata: Aku pun keluar lalu aku berkata, “Ini adalah penyeru yang mengumumkan: Ketahuilah, sesungguhnya minuman keras telah diharamkan!”

Abu Thalhah berkata kepadaku, “Pergilah dan tumpahkanlah minuman itu!”

Anas berkata: Khamar itu mengalir di jalan-jalan kota Madinah.

Anas berkata: Dan khamar mereka pada hari itu adalah fadhikh.

Sebagian orang lalu berkata, “Beberapa orang telah gugur dalam keadaan khamar tersebut berada di dalam perut mereka.”

Anas berkata: Maka Allah menurunkan ayat: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu.” (QS Al-Maidah: 93).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4617

٤٦١٧ - حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُلَيَّةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ صُهَيۡبٍ قَالَ: قَالَ أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: مَا كَانَ لَنَا خَمۡرٌ غَيۡرُ فَضِيخِكُمۡ هٰذَا الَّذِي تُسَمُّونَهُ الۡفَضِيخَ، فَإِنِّي لَقَائِمٌ أَسۡقِي أَبَا طَلۡحَةَ وَفُلَانًا وَفُلَانًا إِذۡ جَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ: وَهَلۡ بَلَغَكُمُ الۡخَبَرُ؟ فَقَالُوا: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: حُرِّمَتِ الۡخَمۡرُ، قَالُوا: أَهۡرِقۡ هٰذِهِ الۡقِلَالَ يَا أَنَسُ، قَالَ: فَمَا سَأَلُوا عَنۡهَا وَلَا رَاجَعُوهَا بَعۡدَ خَبَرِ الرَّجُلِ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

4617. Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Ulayyah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Kami tidak memiliki minuman keras selain fadhikh kalian ini yang kalian namakan fadhikh (khamar yang terbuat dari kurma muda yang belum matang sempurna). Ketika itu aku sedang berdiri menuangkan minuman untuk Abu Thalbah, si Fulan, dan si Fulan, tiba-tiba seseorang datang lalu berkata, “Apakah berita telah sampai kepada kalian?”

Mereka bertanya, “Berita apa itu?”

Ia menjawab, “Minuman keras telah diharamkan.”

Mereka berkata, “Tumpahkanlah kendi-kendi ini, wahai Anas!”

Anas berkata: Mereka sama sekali tidak mempertanyakan hal itu dan tidak pula memastikan ulang setelah datangnya berita dari orang tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5627 dan 5628

٢٤ - بَابُ الشُّرۡبِ مِنۡ فَمِ السِّقَاءِ
24. Bab Minum Langsung dari Mulut Wadah Air


٥٦٢٧ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ: قَالَ لَنَا عِكۡرِمَةُ: أَلَا أُخۡبِرُكُمۡ بِأَشۡيَاءَ قِصَارٍ حَدَّثَنَا بِهَا أَبُو هُرَيۡرَةَ؟ نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الشُّرۡبِ مِنۡ فَمِ الۡقِرۡبَةِ أَوِ السِّقَاءِ، وَأَنۡ يَمۡنَعَ جَارَهُ أَنۡ يَغۡرِزَ خَشَبَهُ فِي دَارِهِ. [طرفه في: ٢٤٦٣].

5627. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah berkata kepada kami: Maukah aku beritahukan kepada kalian beberapa hal singkat yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami? Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang minum langsung dari mulut kirbat (kantong air kulit besar) atau siqa` (wadah air kecil), serta melarang seseorang yang mencegah tetangganya untuk menancapkan kayunya pada dinding rumahnya."

٥٦٢٨ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: أَخۡبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يُشۡرَبَ مِنۡ فِي السِّقَاءِ. [طرفه في: ٢٤٦٣].

5628. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Isma’il menceritakan kepada kami: Ayyub mengabarkan kepada kami dari ‘Ikrimah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang minum langsung dari mulut siqa` (tempat air).