Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4360

٦٧ - بَابٌ غَزۡوَةُ سِيفِ الۡبَحۡرِ، وَهُمۡ يَتَلَقَّوۡنَ عِيرًا لِقُرَيۡشٍ، وَأَمِيرُهُمۡ أَبُو عُبَيۡدَةَ بۡنُ الۡجَرَّاحِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ
67. Bab Ekspedisi Perang Siful-Bahr (Pesisir Laut), ketika Mereka Menyongsong Kafilah Dagang Quraisy, dan Pemimpin Mereka Adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu


٤٣٦٠ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ وَهۡبِ بۡنِ كَيۡسَانَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهُ قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَعۡثًا قِبَلَ السَّاحِلِ، وَأَمَّرَ عَلَيۡهِمۡ أَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ، وَهُمۡ ثَلَاثُمِائَةٍ، فَخَرَجۡنَا وَكُنَّا بِبَعۡضِ الطَّرِيقِ فَنِيَ الزَّادُ، فَأَمَرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ بِأَزۡوَادِ الۡجَيۡشِ فَجُمِعَ، فَكَانَ مِزۡوَدَيۡ تَمۡرٍ، فَكَانَ يَقُوتُنَا كُلَّ يَوۡمٍ قَلِيلٌ قَلِيلٌ حَتَّى فَنِيَ، فَلَمۡ يَكُنۡ يُصِيبُنَا إِلَّا تَمۡرَةٌ تَمۡرَةٌ، فَقُلۡتُ: مَا تُغۡنِي عَنۡكُمۡ تَمۡرَةٌ؟ فَقَالَ: لَقَدۡ وَجَدۡنَا فَقۡدَهَا حِينَ فَنِيَتۡ، ثُمَّ انۡتَهَيۡنَا إِلَى الۡبَحۡرِ، فَإِذَا حُوتٌ مِثۡلُ الظَّرِبِ، فَأَكَلَ مِنۡهَا الۡقَوۡمُ ثَمَانَ عَشۡرَةَ لَيۡلَةً، ثُمَّ أَمَرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ بِضِلَعَيۡنِ مِنۡ أَضۡلَاعِهِ فَنُصِبَا، ثُمَّ أَمَرَ بِرَاحِلَةٍ فَرُحِلَتۡ ثُمَّ مَرَّتۡ تَحۡتَهُمَا فَلَمۡ تُصِبۡهُمَا. [طرفه في: ٢٤٨٣].

4360. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Wahb bin Kaisan, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—bahwa ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus sebuah pasukan ke arah pantai dan menunjuk Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai pemimpin atas mereka, yang berjumlah tiga ratus orang. Kami pun berangkat. Ketika kami berada di tengah perjalanan, bekal kami habis. Abu ‘Ubaidah lalu memerintahkan agar seluruh bekal pasukan dikumpulkan. Bekal itu dikumpulkan dan ternyata hanya berupa dua kantong kurma. Beliau membagikannya kepada kami setiap hari sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis, sampai-sampai kami hanya mendapat jatah satu butir kurma demi satu butir kurma.

Aku (Wahb) bertanya, “Apa gunanya sebutir kurma bagi kalian?”

Jabir menjawab, “Sungguh, kami benar-benar merasakan kehilangan sebutir kurma saat ia habis.”

Kemudian kami tiba di tepi laut. Tiba-tiba ada seekor ikan besar seperti gundukan bukit. Pasukan memakannya selama delapan belas malam. Setelah itu, Abu ‘Ubaidah memerintahkan agar dua buah tulang rusuk dari ikan tersebut ditegakkan. Beliau lalu memerintahkan agar seekor unta diberi pelana, kemudian unta itu berjalan melewati di bawah kedua tulang rusuk tersebut dan ternyata tidak menyentuhnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2507

١٦ - بَابُ مَنۡ عَدَلَ عَشۡرًا مِنَ الۡغَنَمِ بِجَزُورٍ فِي الۡقَسۡمِ
16. Bab Barang Siapa Menyetarakan Sepuluh Ekor Kambing dengan Seekor Unta dalam Pembagian


٢٥٠٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ، عَنۡ جَدِّهِ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ بِذِي الۡحُلَيۡفَةِ مِنۡ تِهَامَةَ، فَأَصَبۡنَا غَنَمًا وَإِبِلًا، فَعَجِلَ الۡقَوۡمُ، فَأَغۡلَوۡا بِهَا الۡقُدُورَ، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَمَرَ بِهَا فَأُكۡفِئَتۡ، ثُمَّ عَدَلَ عَشۡرًا مِنَ الۡغَنَمِ بِجَزُورٍ، ثُمَّ إِنَّ بَعِيرًا نَدَّ، وَلَيۡسَ فِي الۡقَوۡمِ إِلَّا خَيۡلٌ يَسِيرَةٌ، فَرَمَاهُ رَجُلٌ فَحَبَسَهُ بِسَهۡمٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡبَهَائِمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَمَا غَلَبَكُمۡ مِنۡهَا فَاصۡنَعُوا بِهِ هَكَذَا). قَالَ: قَالَ جَدِّي: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا نَرۡجُو - أَوۡ نَخَافُ - أَنۡ نَلۡقَى الۡعَدُوَّ غَدًا، وَلَيۡسَ مَعَنَا مُدًى، أَفَنَذۡبَحُ بِالۡقَصَبِ؟ فَقَالَ: (اعۡجَلۡ – أَوۡ: أَرۡنِي - مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ فَكُلُوا، لَيۡسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُحَدِّثُكُمۡ عَنۡ ذٰلِكَ: أَمَّا السِّنُّ فَعَظۡمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ). [طرفه في: ٢٤٨٨].

2507. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Waki’ mengabarkan kepada kami dari Sufyan, dari ayahnya, dari ‘Abayah bin Rifa’ah, dari kakeknya, Rafi’ bin Khadij—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Kami berada bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di Dzul Hulaifah, di daerah Tihamah. Kami mendapatkan kambing dan unta. Pasukan terburu-buru, lalu mereka menyalakan api untuk memasak daging di dalam kuali. Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang dan memerintahkan agar kuali-kuali itu ditumpahkan. Setelah itu, beliau menyetarakan sepuluh ekor kambing dengan seekor unta. Kemudian, seekor unta lari, sementara di kalangan pasukan hanya ada sedikit kuda. Seseorang lalu memanah unta tersebut dan berhasil menghentikannya dengan anak panah. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya hewan-hewan ternak ini ada yang memiliki sifat liar seperti liarnya binatang buas. Maka, hewan apa saja darinya yang membuat kalian kewalahan, lakukanlah hal seperti tadi padanya.”

Kakekku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berharap—atau kami khawatir—akan berjumpa dengan musuh besok, sedangkan kami tidak membawa pisau. Apakah boleh kami menyembelih dengan bilah bambu?”

Beliau berkata, “Segeralah—atau perlihatkan padaku—. Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan nama Allah disebut atasnya, maka makanlah. Asal bukan gigi dan kuku. Aku akan menceritakan kepada kalian tentang hal itu: adapun gigi, maka ia adalah tulang; sedangkan kuku, itu adalah pisau orang-orang Habasyah.”

Al-Isti'ab - 1340. Abu 'Ubaidah Ibnu Al-Jarrah

١٣٤٠ – [عَامِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ]:
1340. ‘Amir bin ‘Abdullah


عَامِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡجَرَّاحِ بۡنِ هِلَالِ بۡنِ أُهَيۡبِ بۡنِ ضَبَّةَ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ فِهۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّضۡرِ بۡنِ كِنَانَةَ الۡقُرَشِيُّ الۡفِهۡرِيُّ أَبُو عُبَيۡدَةَ، غَلَبَتۡ عَلَيۡهِ كُنۡيَتُهُ.

‘Amir bin ‘Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah Al-Qurasyi Al-Fihri Abu ‘Ubaidah. Nama kunyah-nya lebih dikenal daripada nama aslinya.

قَالَ الزُّبَيۡرُ: كَانَ أَبُو عُبَيۡدَةَ أَهۡتَمَ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ نَزَعَ الۡحَلۡقَتَيۡنِ اللَّتَيۡنِ دَخَلَتَا فِي وَجۡهِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ الۡمِغۡفَرِ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَانۡتُزِعَتۡ ثَنِيَّتَاهُ فَحَسَّنَتَا فَاهُ، فَيُقَالُ: إِنَّهُ مَا رُؤِيَ أَهۡتَمُ قَطُّ أَحۡسَنَ مِنۡ هَتۡمِ أَبِي عُبَيۡدَةَ.

Az-Zubair berkata: Abu ‘Ubaidah adalah seorang yang ompong gigi depannya. Hal itu disebabkan beliau mencabut dua buah gelang rantai besi yang menancap di wajah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari topi besi pada perang Uhud, lalu tercabutlah dua gigi seri beliau dan justru memperindah mulutnya. Ada yang berkata: Belum pernah dilihat ada seorang yang ompong gigi depannya yang lebih tampan daripada ompongnya Abu ‘Ubaidah.

وَذَكَرَهُ بَعۡضُهُمۡ فِيمَنۡ هَاجَرَ إِلَى أَرۡضِ الۡحَبَشَةِ، وَلَمۡ يَخۡتَلِفُوا فِي شُهُودِهِ بَدۡرًا، وَالۡحُدَيۡبِيَةَ، وَهُوَ أَحَدُ الۡعَشَرَةِ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالۡجَنَّةِ، جَاءَ ذِكۡرُهُ فِيهِمۡ فِي بَعۡضِ الرِّوَايَاتِ، وَفِي بَعۡضِهَا ابۡنُ مَسۡعُودٍ، وَفِي بَعۡضِهَا النَّبِيُّ ﷺ، وَلَمۡ تَخۡتَلِفۡ تِلۡكَ الۡآثَارُ فِي التِّسۡعَةِ.

Sebagian ulama menyebutkannya dalam golongan orang-orang yang berhijrah ke bumi Habasyah, dan mereka tidak berselisih pendapat tentang keikutsertaan beliau dalam Perang Badr dan Perjanjian Hudaibiah. Beliau adalah salah seorang dari sepuluh orang yang disaksikan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—akan masuk surga. Namanya disebutkan di antara mereka dalam sebagian riwayat, sementara dalam sebagian riwayat lain disebutkan Ibnu Mas’ud, dan dalam riwayat lainnya lagi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sendiri. Riwayat-riwayat tersebut tidak berselisih mengenai kesembilan orang lainnya.

وَكَانَ أَبُو عُبَيۡدَةَ يُدۡعَى فِي الصَّحَابَةِ الۡقَوِيَّ الۡأَمِينَ، لِقَوۡلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِأَهۡلِ نَجۡرَانَ: (لَأُرۡسِلَنَّ مَعَكُمُ الۡقَوِيَّ الۡأَمِينَ). وَلِقَوۡلِهِ ﷺ: (لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ، وَأَمِينُ أُمَّتِي أَبُو عُبَيۡدَةَ بۡنُ الۡجَرَّاحِ).

Abu ‘Ubaidah dahulu dijuluki di kalangan para sahabat dengan al-qawiyyu al-amin (yang kuat lagi tepercaya) karena sabda Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kepada penduduk Najran: “Sungguh aku akan mengutus bersama kalian orang yang kuat lagi tepercaya.”

Dan karena sabda beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Setiap umat memiliki orang yang tepercaya, dan orang yang tepercaya dari umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”

وَقَالَ فِيهِ أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ يَوۡمَ السَّقِيفَةِ: لَقَدۡ رَضِيتُ لَكُمۡ أَحَدَ الرَّجُلَيۡنِ، فَبَايِعُوا أَيَّهُمَا شِئۡتُمۡ: عُمَرَ، وَأَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ.

Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata tentang beliau pada hari As-Saqifah, “Sungguh aku telah meridai untuk kalian salah satu dari dua orang ini, maka berbaiatlah kepada siapa yang kalian kehendaki: ‘Umar atau Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”

وَذَكَرَ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، عَنۡ ابۡنِ عُلَيَّةَ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ الۡحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا مِنۡ أَصۡحَابِي أَحَدٌ إِلَّا لَوۡ شِئۡتُ لَوَجَدۡتُ عَلَيۡهِ إِلَّا أَبَا عُبَيۡدَةَ).

Ibnu Abu Syaibah menyebutkan dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Yunus, dari Al-Hasan. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada seorang pun dari para sahabatku melainkan jika aku menghendaki niscaya aku dapat menemukan celah pada dirinya, kecuali Abu ‘Ubaidah.”

وَذَكَرَ أَيۡضًا عَنۡ حُسَيۡنِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، قَالَ: لَمَّا بَعَثَ عُمَرُ أَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ إِلَى الشَّامِ، وَعَزَلَ خَالِدَ بۡنَ الۡوَلِيدِ قَالَ خَالِدٌ: بُعِثَ عَلَيۡكُمۡ أَمِينُ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ. فَقَالَ أَبُو عُبَيۡدَةَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (خَالِدٌ سَيۡفٌ مِنۡ سُيُوفِ اللهِ. وَنِعۡمَ فَتَى الۡعَشِيرَةِ).

Beliau juga menyebutkan dari Husain bin ‘Ali, dari Za`idah, dari ‘Abdul-Malik bin ‘Umair. Ia berkata: Ketika ‘Umar mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah ke Syam dan melepas jabatan Khalid bin Al-Walid, Khalid berkata, “Orang tepercaya umat ini telah diutus kepada kalian.”

Abu ‘Ubaidah berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Khalid adalah pedang di antara pedang-pedang Allah, dan sebaik-baik pemuda kabilah.”

وَذَكَرَ خَلِيفَةُ، عَنۡ مُعَاذٍ، عَنۡ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ [مُحَمَّدِ] بۡنِ سِيرِينَ، قَالَ: لَمَّا وَلَّى عُمَرُ قَالَ: وَاللهِ لَأَنۡزِعَنَّ خَالِدًا حَتَّى يُعۡلَمَ أَنَّ اللهَ يَنۡصُرُ دِينَهُ.

Khalifah menyebutkan dari Mu’adz, dari Ibnu ‘Aun, dari Muhammad bin Sirin. Ia berkata: Ketika ‘Umar memegang kekuasaan, ia berkata, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar akan melepas jabatan Khalid agar diketahui bahwa Allahlah yang menolong agama-Nya.”

قَالَ: وَأَخۡبَرَنَا عَلِيٌّ وَمُوسَى، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا اسۡتُخۡلِفَ عُمَرُ كَتَبَ إِلَى أَبِي عُبَيۡدَةَ: إِنِّي قَدِ اسۡتَعۡمَلۡتُكَ وَعَزَلۡتُ خَالِدًا.

Ia berkata: ‘Ali dan Musa telah mengabarkan kepada kami dari Hammad bin Salamah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya. Ia berkata: Ketika ‘Umar diangkat menjadi khalifah, ia menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah, “Sesungguhnya aku telah mengangkatmu dan melepas jabatan Khalid.”

قَالَ خَلِيفَةُ: لَمَّا وَلَّى عُمَرُ عَزَلَ خَالِدًا، وَوَلَّى أَبُو عُبَيۡدَةَ حِينَ فَتَحَ الشَّامَاتِ يَزِيدَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ عَلَى فِلَسۡطِينَ، وَشُرَحۡبِيلَ ابۡنَ حَسَنَةَ عَلَى الۡأُرۡدُنِّ، وَخَالِدَ بۡنَ الۡوَلِيدِ عَلَى دِمَشۡقَ، وَحَبِيبَ بۡنَ مَسۡلَمَةَ عَلَى حِمۡصَ، ثُمَّ عَزَلَهُ وَوَلَّى عَبۡدَ اللهِ ابۡنَ قُرۡطٍ الثُّمَالِيَّ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَوَلَّى عُبَادَةَ بۡنَ الصَّامِتِ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَرَدَّ عَبۡدَ اللهِ ابۡنَ قُرۡطٍ. ثُمَّ وَقَعَ طَاعُونُ عَمۡوَاسَ، فَمَاتَ أَبُو عُبَيۡدَةَ، وَاسۡتُخۡلِفَ مُعَاذٌ، وَمَاتَ مُعَاذٌ، وَاسۡتَخۡلَفَ يَزِيدَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ، فَمَاتَ يَزِيدُ، وَاسۡتَخۡلَفَ أَخَاهُ مُعَاوِيَةَ فَأَقَرَّهُ عُمَرُ.

Khalifah berkata: Ketika ‘Umar memegang kekuasaan, ia memberhentikan Khalid, dan Abu ‘Ubaidah–ketika wilayah-wilayah Syam ditaklukkan–mengangkat Yazid bin Abu Sufyan atas Palestina, Syurahbil bin Hasanah atas Yordania, Khalid bin Al-Walid atas Damaskus, Habib bin Maslamah atas Homs; kemudian ia memberhentikannya dan mengangkat ‘Abdullah bin Qurth Ats-Tsumali, kemudian memberhentikannya dan mengangkat ‘Ubadah bin Ash-Shamit, kemudian memberhentikannya dan kembali mengangkat ‘Abdullah bin Qurth. Kemudian terjadilah Taun ‘Amwas, sehingga wafatlah Abu ‘Ubaidah, lalu Mu’adz diangkat sebagai penggantinya, kemudian wafatlah Mu’adz, lalu Yazid bin Abu Sufyan diangkat sebagai penggantinya, kemudian wafatlah Yazid. Ia telah menunjuk saudaranya yaitu Mu’awiyah sebagai penggantinya dan ‘Umar menyetujuinya.

وَكَانَ مَوۡتُ أَبِي عُبَيۡدَةَ وَمُعَاذٍ وَيَزِيدَ فِي طَاعُونِ عَمۡوَاسَ، وَكَانَ طَاعُونُ عَمۡوَاسَ بِأَرۡضِ الۡأُرۡدُنِّ وَفِلَسۡطِينَ سَنَةَ ثَمَانِ عَشۡرَةَ، مَاتَ فِيهِ نَحۡوُ خَمۡسَةٍ وَعِشۡرِينَ أَلۡفًا. وَيُقَالُ: إِنَّ عَمۡوَاسَ قَرۡيَةٌ بَيۡنَ الرَّمۡلَةِ وَبَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ. وَقِيلَ: إِنَّ ذٰلِكَ كَانَ لِقَوۡلِهِمۡ عَمَّ وَاسٍ، ذَكَرَ ذٰلِكَ الۡأَصۡمَعِيُّ، وَكَانَتۡ سِنُّ أَبِي عُبَيۡدَةَ يَوۡمَ تُوُفِّيَ ثَمَانِيًا وَخَمۡسِينَ سَنَةً.

Wafatnya Abu ‘Ubaidah, Mu’adz, dan Yazid terjadi dalam Taun ‘Amwas. Taun ‘Amwas tersebut terjadi di bumi Yordania dan Palestina pada tahun 18 H, di mana yang wafat di dalamnya sekitar dua puluh lima ribu orang. Ada yang berkata: ‘Amwas adalah sebuah desa antara Ar-Ramlah dan Baitulmaqdis. Ada pula yang berkata bahwa istilah ‘Amwas adalah dari ucapan mereka ‘amma wasa (merata dan meluas). Hal itu disebutkan oleh Al-Ashma’i. Usia Abu ‘Ubaidah pada hari beliau wafat adalah 58 tahun.

حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡمَاعِيلَ التِّرۡمِذِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡحَارِثِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ أَنَّ أَهۡلَ نَجۡرَانَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، ابۡعَثۡ مَعَنَا أَمِينًا، فَأَخَذَ بِيَدِ أَبِي عُبَيۡدَةَ وَقَالَ: (هٰذَا أَمِينُ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ).

Abdul-Warits telah menceritakan kepada kami: Qasim menceritakan kepada kami: Abu Isma’il At-Tirmidzi menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Harits menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari Tsabit, dari Anas: Penduduk Najran berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah bersama kami orang yang tepercaya.”

Beliau memegang tangan Abu ‘Ubaidah dan bersabda, “Inilah orang yang tepercaya dari umat ini.”

وَرُوِيَ ذٰلِكَ عَنۡ النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ وُجُوهٍ، مِنۡ حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ وَغَيۡرِهِ.

Hal tersebut diriwayatkan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari berbagai jalur, dari hadis Hudzaifah dan selainnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2503 dan 2504

١٤ - بَابُ الشَّرِكَةِ فِي الرَّقِيقِ
14. Bab Perserikatan pada Budak


٢٥٠٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ بۡنُ أَسۡمَاءَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ أَعۡتَقَ شِرۡكًا لَهُ فِي مَمۡلُوكٍ، وَجَبَ عَلَيۡهِ أَنۡ يُعۡتِقَ كُلَّهُ، إِنۡ كَانَ لَهُ مَالٌ قَدۡرَ ثَمَنِهِ، يُقَامُ قِيمَةَ عَدۡلٍ، وَيُعۡطَى شُرَكَاؤُهُ حِصَّتَهُمۡ، وَيُخَلَّى سَبِيلُ الۡمُعۡتَقِ). [طرفه في: ٢٤٩١].

2503. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Juwairiyah bin Asma` menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan bagian miliknya pada seorang budak, maka wajib atasnya untuk memerdekakan seluruhnya jika ia memiliki harta seharga budak tersebut, yang ditaksir dengan nilai yang adil, lalu para sekutunya diberikan bagian mereka, dan budak yang dimerdekakan itu dibiarkan berjalan bebas.”

٢٥٠٤ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا جَرِيرُ بۡنُ حَازِمٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ النَّضۡرِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ بَشِيرِ بۡنِ نَهِيكٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ أَعۡتَقَ شِقۡصًا لَهُ فِي عَبۡدٍ أُعۡتِقَ كُلُّهُ إِنۡ كَانَ لَهُ مَالٌ، وَإِلَّا يُسۡتَسۡعَ غَيۡرَ مَشۡقُوقٍ عَلَيۡهِ). [طرفه في: ٢٤٩٢].

2504. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Jarir bin Hazim menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari An-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nahik, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan bagian miliknya pada seorang budak, maka seluruh bagian lainnya juga dimerdekakan jika ia memiliki harta. Jika tidak (memiliki harta), maka budak itu diminta bekerja untuk melunasi sisa harganya tanpa dibebani secara berlebihan.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2499

١١ - بَابُ مُشَارَكَةِ الذِّمِّيِّ وَالۡمُشۡرِكِينَ فِي الۡمُزَارَعَةِ
11. Bab Perserikatan dengan Kafir Zimi dan Orang-Orang Musyrik dalam Bagi Hasil Pertanian (Muzaraah)


٢٤٩٩ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ بۡنُ أَسۡمَاءَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَعۡطَى رَسُولُ اللهِ ﷺ خَيۡبَرَ الۡيَهُودَ، أَنۡ يَعۡمَلُوهَا وَيَزۡرَعُوهَا، وَلَهُمۡ شَطۡرُ مَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا. [طرفه في: ٢٢٨٥].

2499. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Juwairiyah bin Asma` menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyerahkan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi untuk mereka kelola dan tanami, dan mereka memperoleh separuh dari hasil yang keluar darinya.