Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2359 dan 2360

٧ - بَابُ سَكۡرِ الۡأَنۡهَارِ
7. Bab Membendung Sungai-Sungai


٢٣٥٩، ٢٣٦٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ، خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فِي شِرَاجِ الۡحَرَّةِ الَّتِي يَسۡقُونَ بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: سَرِّحِ الۡمَاءَ يَمُرُّ، فَأَبَى عَلَيۡهِ، فَاخۡتَصَمَا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلزُّبَيۡرِ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ أَرۡسِلِ الۡمَاء إِلَى جَارِكَ). فَغَضِبَ الۡأَنۡصَارِيُّ فَقَالَ: أَنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ احۡبِسِ الۡمَاءَ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ). فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: وَاللهِ إِنِّي لَأَحۡسِبُ هٰذِهِ الۡآيَةَ نَزَلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ‏﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥]. قَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَبَّاسِ: قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: لَيۡسَ أَحَدٌ يَذۡكُرُ عُرۡوَةَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ إِلَّا اللَّيۡثُ فَقَطۡ.

[الحديث ٢٣٦٠ - أطرافه في: ٢٣٦١، ٢٣٦٢، ٢٧٠٨، ٤٥٨٥].

2359, 2360. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari ‘Urwah, dari ‘Abdullah bin Az-Zubair—radhiyallahu 'anhuma—bahwasanya ia menceritakan kepadanya:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair di hadapan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai saluran air bukit batu yang mereka gunakan untuk mengairi pohon kurma. Orang Ansar itu berkata, “Lepaskanlah air itu agar mengalir,” tetapi Az-Zubair menolaknya.

Maka keduanya mengadukan perselisihan ini kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Az-Zubair, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian alirkanlah air itu kepada tetanggamu.”

Orang Ansar itu pun marah lalu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian bendunglah air itu sampai menggenang setinggi dinding pembatas tanah!”

Az-Zubair berkata: Demi Allah, sungguh aku mengira ayat berikut ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Muhammad bin Al-‘Abbas berkata: Abu ‘Abdullah berkata: Tidak ada seorang pun yang menyebutkan periwayatan ‘Urwah dari ‘Abdullah, melainkan Al-Laits saja.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2358

٦ - بَابُ إِثۡمِ مَنۡ مَنَعَ ابۡنَ السَّبِيلِ مِنَ الۡمَاءِ
6. Bab Dosa Orang yang Menahan Air dari Ibnusabil


٢٣٥٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ زِيَادٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا صَالِحٍ يَقُولُ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (ثَلَاثَةٌ لَا يَنۡظُرُ اللهُ إِلَيۡهِمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ: رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضۡلُ مَاءٍ بِالطَّرِيقِ فَمَنَعَهُ مِنِ ابۡنِ السَّبِيلِ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنۡيَا، فَإِنۡ أَعۡطَاهُ مِنۡهَا رَضِيَ وَإِنۡ لَمۡ يُعۡطِهِ مِنۡهَا سَخِطَ، وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلۡعَتَهُ بَعۡدَ الۡعَصۡرِ فَقَالَ: وَاللهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ غَيۡرُهُ، لَقَدۡ أَعۡطَيۡتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا، فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ). ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الۡآيَةَ: ‏﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ اللهِ وَأَيۡمَانِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا﴾ [آل عمران: ٧٧].

2358. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami dari Al-A’masy. Ia berkata: Aku mendengar Abu Shalih berkata: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu 'anhu—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: (1) seseorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu ia menahannya dari ibnusabil; (2) seseorang yang membaiat seorang pemimpin yang tidaklah ia membaiatnya melainkan demi dunia, jika pemimpin itu memberinya bagian dari dunia maka ia rida, dan jika pemimpin itu tidak memberinya bagian dari dunia maka ia marah; serta (3) seseorang yang menawarkan barang dagangannya setelah asar lalu ia berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, sungguh aku telah ditawar dengan harga sekian dan sekian untuk barang ini,’ lalu ada orang yang memercayainya.”

Kemudian beliau membaca ayat ini, “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah” (QS Ali ‘Imran: 77).

Shahih Muslim hadis nomor 2655

٤ - بَابٌ كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ
4. Bab Segala Sesuatu Terjadi Berdasarkan Takdir


١٨ - (٢٦٥٥) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡأَعۡلَىٰ بۡنُ حَمَّادٍ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، فِيمَا قُرِىءَ عَلَيۡهِ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُسۡلِمٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، أَنَّهُ قَالَ: أَدۡرَكۡتُ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَقُولُونَ: كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. قَالَ: وَسَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. حَتَّى الۡعَجۡزُ وَالۡكَيۡسُ، أَوِ الۡكَيۡسُ وَالۡعَجۡزُ).

18. (2655). ‘Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik bin Anas. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Malik, berdasarkan apa yang dibacakan kepadanya, dari Ziyad bin Sa’id, dari ‘Amr bin Muslim, dari Thawus, bahwasanya ia berkata: Aku sempat menjumpai beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang mereka mengatakan, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir.”

Thawus berkata: Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir, sampai pun ketidakmampuan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan ketidakmampuan.”

Shahih Muslim hadis nomor 2931

(٢٩٣١) - وَقَالَ سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: انۡطَلَقَ بَعۡدَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ الۡأَنۡصَارِيُّ إِلَى النَّخۡلِ الَّتِي فِيهَا ابۡنُ صَيَّادٍ. حَتَّىٰ إِذَا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّخۡلَ، طَفِقَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. وَهُوَ يَخۡتِلُ أَنۡ يَسۡمَعَ مِنِ ابۡنِ صَيَّادٍ شَيۡئًا، قَبۡلَ أَنۡ يَرَاهُ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَرَآهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ مُضۡطَجِعٌ عَلَىٰ فِرَاشٍ فِي قَطِيفَةٍ لَهُ فِيهَا زَمۡزَمَةٌ، فَرَأَتۡ أُمُّ ابۡنِ صَيَّادٍ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَهُوَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. فَقَالَتۡ لِابۡنِ صَيَّادٍ: يَا صَافِ، وَهُوَ اسۡمُ ابۡنِ صَيَّادٍ، هٰذَا مُحَمَّدٌ. فَثَارَ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ تَرَكَتۡهُ بَيَّنَ).

(2931). Dan Salim bin ‘Abdullah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Setelah itu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Ubay bin Ka’b Al-Anshari pergi menuju kebun kurma yang di dalamnya terdapat Ibnu Shayyad. Hingga ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki kebun kurma itu, beliau mulai berjalan dengan berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Beliau mengendap-endap agar dapat mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya sedang berbaring di atas tempat tidur di dalam sehelai kain beludru miliknya yang terdengar suara gumaman darinya. Kemudian ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang sedang berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Maka ia berkata kepada Ibnu Shayyad, “Wahai Shaf—dan itu adalah nama Ibnu Shayyad—ini ada Muhammad.”

Lalu Ibnu Shayyad langsung bangkit. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya akan menjadi jelas perkara yang sebenarnya.”

(١٦٩) - قَالَ سَالِمٌ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي النَّاسِ فَأَثۡنَىٰ عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: (إِنِّي لَأُنۡذِرُكُمُوهُ. مَا مِنۡ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدۡ أَنۡذَرَهُ قَوۡمَهُ. لَقَدۡ أَنۡذَرَهُ نُوحٌ قَوۡمَهُ. وَلَكِنۡ أَقُولُ لَكُمۡ فِيهِ قَوۡلًا لَمۡ يَقُلۡهُ نَبِيٌّ لِقَوۡمِهِ. تَعَلَّمُوا أَنَّهُ أَعۡوَرُ. وَأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ لَيۡسَ بِأَعۡوَرَ).

(169). Salim berkata: ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan manusia, kemudian beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, setelah itu beliau menyebutkan tentang Dajjal seraya bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal itu. Sungguh Nuh telah memperingatkan kaumnya tentang dia. Akan tetapi, aku akan mengatakan kepada kalian suatu perkataan tentangnya yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya. Ketahuilah oleh kalian bahwa dia buta sebelah matanya dan sesungguhnya Allah—tabaraka wa ta’ala—tidaklah buta sebelah matanya.”

- قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ ثَابِتٍ الۡأَنۡصَارِيُّ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ بَعۡضُ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ، يَوۡمَ حَذَّرَ النَّاسَ الدَّجَّالَ: (إِنَّهُ مَكۡتُوبٌ بَيۡنَ عَيۡنَيۡهِ كَافِرٌ. يَقۡرَؤُهُ مَنۡ كَرِهَ عَمَلَهُ، أَوۡ يَقۡرَؤُهُ كُلُّ مُؤۡمِنٍ). وَقَالَ: (تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنۡ يَرَىٰ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّىٰ يَمُوتَ).

Ibnu Syihab berkata: ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari mengabarkan kepadaku: Sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan kepadanya: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda pada hari ketika beliau memperingatkan manusia tentang Dajjal, “Sesungguhnya tertulis di antara kedua matanya kata ‘kafir’. Tulisan itu dapat dibaca oleh orang yang membenci perbuatannya atau dapat dibaca oleh setiap orang mukmin.”

Dan beliau bersabda, “Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan melihat Rabnya—‘azza wa jalla—hingga ia mati.”

Musnad Ahmad hadis nomor 15870

١٥٨٧٠ (١٥٧٧٨) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِدۡرِيسَ- يَعۡنِي الشَّافِعِيَّ- عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ مَالِكٍ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ أَبَاهُ كَعۡبَ بۡنَ مَالِكٍ كَانَ يُحَدِّثُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: إِنَّمَا نَسَمَةُ الۡمُؤۡمِنِ طَائِرٌ يَعۡلُقُ فِي شَجَرِ الۡجَنَّةِ، حَتَّى يُرۡجِعَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُ. [راجع: ١٥٨٦٨].

15870. (15778). Muhammad bin Idris—yakni Asy-Syafi’i—telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik; bahwasanya ia mengabarkan kepadanya: Ayahnya, Ka’b bin Malik, pernah menceritakan; bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Roh seorang mukmin itu bagaikan seekor burung yang bertengger di pohon janah, hingga Allah—tabaraka wa ta’ala—mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.”