Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4580

٧ - بَابٌ ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الۡوَالِدَانِ وَالۡأَقۡرَبُونَ﴾ [٣٣] الۡآيَةَ
7. Bab “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ...” (QS An-Nisa’: 33)


وَقَالَ مَعۡمَرٌ: مَوَالِيَ: أَوۡلِيَاءَ وَرَثَةً، عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ: هُوَ مَوۡلَى الۡيَمِينِ، وَهُوَ الۡحَلِيفُ، وَالۡمَوۡلَى أَيۡضًا ابۡنُ الۡعَمِّ وَالۡمَوۡلَى الۡمُنۡعِمُ الۡمُعۡتِقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمُعۡتَقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمَلِيكُ، وَالۡمَوۡلَى مَوۡلًى فِي الدِّينِ.

Ma’mar berkata: Mawali (bentuk jamak dari kata maula) adalah ahli waris. ‘Aqadat aimanukum (orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka): dia adalah maula al-yamin, yaitu sekutu (al-halif). Maula juga berarti putra paman dari jalur ayah. Maula bisa berarti pembebas budak yang memberi nikmat (kemerdekaan dari perbudakan). Maula bisa berarti budak yang dimerdekakan. Maula bisa berarti raja/penguasa. Maula bisa berarti penolong dalam agama.

٤٥٨٠ - حَدَّثَنِي الصَّلۡتُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ إِدۡرِيسَ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ مُصَرِّفٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ قَالَ: وَرَثَةً. ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ يَرِثُ الۡمُهَاجِرُ الۡأَنۡصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ نُسِخَتۡ ثُمَّ قَالَ: ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ مِنَ النَّصۡرِ وَالرِّفَادَةِ وَالنَّصِيحَةِ، وَقَدۡ ذَهَبَ الۡمِيرَاثُ وَيُوصِي لَهُ. سَمِعَ أَبُو أُسَامَةَ إِدۡرِيسَ، وَسَمِعَ إِدۡرِيسُ طَلۡحَةَ. [طرفه في: ٢٢٩٢].

4580. Ash-Shalt bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Idris, dari Thalhah bin Musharrif, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—:

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan mawali ...” dia berkata: Yaitu ahli waris. “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”: Dahulu orang-orang Muhajirin ketika baru tiba di Madinah, seorang Muhajirin mewarisi seorang Ansar dengan mengesampingkan kerabat kandungnya sendiri, disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di antara mereka. Ketika turun ayat: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya”, ketentuan tersebut dihapus. Kemudian beliau membaca: “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”, yaitu dalam hal pertolongan, pemberian bantuan, dan nasihat-menasihati, sedangkan hak waris-mewarisi (melalui ikatan persaudaraan tersebut) telah hilang, dan dia boleh memberikan wasiat kepadanya.

Abu Usamah mendengar dari Idris, dan Idris mendengar dari Thalhah.

Shahih Al-Bukhari - 38. Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  ﷽

٣٨ - كِتَابُ الۡحَوَالَاتِ

Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  1. Bab tentang Pengalihan Utang (Hiwalah) dan Apakah Seseorang Boleh Menarik Kembali Pengalihan Utangnya
    1. Hadis nomor 2287
  2. Bab Apabila Seseorang Mengalihkan Utang kepada Orang yang Berkecukupan, Ia Tidak Boleh Membatalkannya
    1. Hadis nomor 2288
  3. Bab Jika Seseorang Mengalihkan Utang Mayat kepada Seorang Laki-Laki, Hukumnya Boleh
    1. Hadis nomor 2289

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6913

٢٩ - بَابٌ الۡعَجۡمَاءُ جُبَارٌ
29. Bab Hewan Ternak Itu Jubar (Bebas dari Kewajiban Ganti Rugi)


وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ: كَانُوا لَا يُضَمِّنُونَ مِنَ النَّفۡحَةِ، وَيُضَمِّنُونَ مِنۡ رَدِّ الۡعِنَانِ.

Ibnu Sirin berkata, “Dahulu para ulama tidak membebankan ganti rugi atas sepakan/tendangan kaki belakang hewan, tetapi mereka membebankan ganti rugi atas tarikan tali kendali.”

وَقَالَ حَمَّادٌ: لَا تُضۡمَنُ النَّفۡحَةُ إِلَّا أَنۡ يَنۡخُسَ إِنۡسَانٌ الدَّابَّةَ.

Hammad berkata, “Sepakan/tendangan kaki belakang hewan tidak dikenakan ganti rugi, kecuali jika ada seseorang yang menekan/mencambuk hewan tersebut.”

وَقَالَ شُرَيۡحٌ: لَا تُضۡمَنُ مَا عَاقَبَتۡ، أَنۡ يَضۡرِبَهَا فَتَضۡرِبَ بِرِجۡلِهَا.

Syuraih berkata, “Tidak ada ganti rugi atas pembalasan yang dilakukan hewan, yaitu jika seseorang memukulnya lalu hewan itu membalas menendang dengan kakinya.”

وَقَالَ الۡحَكَمُ وَحَمَّادٌ: إِذَا سَاقَ الۡمُكَارِيُ حِمَارًا عَلَيۡهِ امۡرَأَةٌ فَتَخِرُّ، لَا شَيۡءَ عَلَيۡهِ.

Al-Hakam dan Hammad berkata, “Apabila penuntun hewan sewaan menuntun seekor keledai yang ditunggangi seorang wanita lalu wanita itu terjatuh, maka tidak ada kewajiban ganti rugi atasnya.”

وَقَالَ الشَّعۡبِيُّ: إِذَا سَاقَ دَابَّةً فَأَتۡعَبَهَا، فَهُوَ ضَامِنٌ لِمَا أَصَابَتۡ، وَإِنۡ كَانَ خَلۡفَهَا مُتَرَسِّلًا لَمۡ يَضۡمَنۡ.

Asy-Sya’bi berkata, “Apabila seseorang menuntun hewan lalu membuatnya kelelahan, maka dia wajib mengganti rugi atas bahaya yang ditimbulkannya. Namun jika dia berada di belakangnya dengan tenang, maka dia tidak bertanggung jawab.”

٦٩١٣ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ زِيَادٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡعَجۡمَاءُ عَقۡلُهَا جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ). [طرفه في: ١٤٩٩].

6913. Muslim telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “(Luka akibat) hewan ternak itu jubar (tidak ada kewajiban ganti rugi), sumur itu jubar, tambang itu jubar, dan pada rikaz (temuan harta yang dikubur pada masa jahiliah) ada kewajiban seperlima.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6912

٢٨ - بَابٌ الۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ
28. Bab Tambang Itu Jubar (Bebas dari Kewajiban Ganti Rugi) dan Sumur Itu Jubar


٦٩١٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (الۡعَجۡمَاءُ جُرۡحُهَا جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ). [طرفه في: ١٤٩٩].

6912. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Al-Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Luka akibat hewan ternak itu jubar (tidak wajib ganti rugi), (kecelakaan akibat) sumur itu jubar, (kecelakaan akibat penggalian) tambang itu jubar, dan pada rikaz (temuan harta yang dikubur pada masa jahiliah) ada kewajiban seperlima.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6261

٢٥ - بَابٌ بِمَنۡ يُبۡدَأُ فِي الۡكِتَابِ
25. Bab Nama Siapa yang Ditulis Terlebih Dahulu dalam Surat


٦٢٦١ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ هُرۡمُزَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ، أَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا، فَأَدۡخَلَ فِيهَا أَلۡفَ دِينَارٍ، وَصَحِيفَةً مِنۡهُ إِلَى صَاحِبِهِ. وَقَالَ عُمَرُ بۡنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ: سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (نَجَرَ خَشَبَةً، فَجَعَلَ الۡمَالَ فِي جَوۡفِهَا، وَكَتَبَ إِلَيۡهِ صَحِيفَةً، مِنۡ فُلَانٍ إِلَى فُلَانٍ). [طرفه في: ١٤٩٨].

6261. Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau menceritakan seorang laki-laki dari Bani Israil yang mengambil sepotong kayu lalu melubanginya, kemudian memasukkan seribu dinar dan selembar surat ke dalamnya dari dirinya untuk sahabatnya.

‘Umar bin Abu Salamah berkata, dari ayahnya: Beliau mendengar Abu Hurairah berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Dia memahat sepotong kayu, lalu memasukkan harta itu ke dalam rongganya, dan menulis surat kepadanya: ‘Dari Fulan kepada Fulan’.”