Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2716

٢ - بَابٌ إِذَا بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ
2. Bab Apabila Seseorang Menjual Pohon Kurma yang Telah Dikawinkan (Diserbuki)


٢٧١٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ، فَثَمَرَتُهَا لِلۡبَائِعِ إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَ الۡمُبۡتَاعُ). [طرفه في: ٢٢٠٣].

2716. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menjual pohon kurma yang telah dikawinkan (diserbuki), maka buahnya adalah milik penjual kecuali jika pembeli mengajukan syarat (bahwa buah itu untuknya).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2379

١٨ - بَابُ الرَّجُلِ يَكُونُ لَهُ مَمَرٌّ، أَوۡ شِرۡبٌ فِي حَائِطٍ أَوۡ فِي نَخۡلٍ
18. Bab Seseorang yang Memiliki Hak Akses Jalan Lewat atau Hak Pengairan di Dalam Pekarangan Rumah atau Kebun Kurma


قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا بَعۡدَ أَنۡ تُؤَبَّرَ فَثَمَرَتُهَا لِلۡبَائِعِ). فَلِلۡبَائِعِ الۡمَمَرُّ وَالسَّقۡيُ حَتَّى يَرۡفَعَ، وَكَذٰلِكَ رَبُّ الۡعَرِيَّةِ.

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menjual pohon kurma setelah dikawinkan (diserbuki), maka buahnya adalah milik penjual.”

Maka penjual memiliki hak akses jalan lewat dan hak pengairan sampai ia memanennya, dan demikian pula bagi pemilik ‘ariyyah (hak yang diberikan oleh pemilik kebun kepada orang lain untuk memanen buah dari sebagian pohon kurmanya untuk dikonsumsi penerima hak dan keluarganya).

٢٣٧٩ - أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنِ ابۡتَاعَ نَخۡلًا بَعۡدَ أَنۡ تُؤَبَّرَ فَثَمَرَتُهَا لِلۡبَائِعِ إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَ الۡمُبۡتَاعُ، وَمَنِ ابۡتَاعَ عَبۡدًا وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِي بَاعَهُ إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَ الۡمُبۡتَاعُ). وَعَنۡ مَالِكٍ عَنۡ نَافِعٍ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ عَنۡ عُمَرَ فِي الۡعَبۡدِ‏.‏ [طرفه في: ٢٢٠٣].

2379. ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari Salim bin ‘Abdullah, dari ayahnya—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa membeli pohon kurma setelah dikawinkan (diserbuki), maka buahnya adalah milik penjual kecuali jika pembeli mengajukan syarat (bahwa buah itu untuknya). Barang siapa membeli seorang budak yang memiliki harta, maka hartanya adalah milik orang yang menjualnya kecuali jika pembeli mengajukan syarat (bahwa harta itu untuknya).”

Dan (ada riwayat) dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari ‘Umar mengenai perkara budak tersebut.

Shahih Muslim hadis nomor 164

٢٦٤ - (١٦٤) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ - لَعَلَّهُ قَالَ - عَنۡ مَالِكِ بۡنِ صَعۡصَعَةَ - رَجُلٌ مِنۡ قَوۡمِهِ – قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ: (بَيۡنَا أَنَا عِنۡدَ الۡبَيۡتِ بَيۡنَ النَّائِمِ وَالۡيَقۡظَانِ، إِذۡ سَمِعۡتُ قَائِلًا يَقُولُ: أَحَدُ الثَّلَاثَةِ بَيۡنَ الرَّجُلَيۡنِ، فَأُتِيتُ فَانۡطُلِقَ بِي، فَأُتِيتُ بِطَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ فِيهَا مِنۡ مَاءِ زَمۡزَمَ، فَشُرِحَ صَدۡرِي إِلَى كَذَا وَكَذَا - قَالَ قَتَادَةُ: فَقُلۡتُ لِلَّذِي مَعِي: مَا يَعۡنِي؟ قَالَ: إِلَى أَسۡفَلِ بَطۡنِهِ - فَاسۡتُخۡرِجَ قَلۡبِي، فَغُسِلَ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ أُعِيدَ مَكَانَهُ، ثُمَّ حُشِيَ إِيمَانًا وَحِكۡمَةً، ثُمَّ أُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبۡيَضَ يُقَالُ لَهُ: الۡبُرَاقُ. فَوۡقَ الۡحِمَارِ وَدُونَ الۡبَغۡلِ، يَقَعُ خَطۡوُهُ عِنۡدَ أَقۡصَى طَرۡفِهِ فَحُمِلۡتُ عَلَيۡهِ، ثُمَّ انۡطَلَقۡنَا حَتَّى أَتَيۡنَا السَّمَاءَ الدُّنۡيَا، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ ﷺ. فَقِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ. قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ فَفَتَحَ لَنَا، وَقَالَ: مَرۡحَبًا بِهِ، وَلَنِعۡمَ الۡمَجِيءُ جَاءَ، قَالَ: فَأَتَيۡنَا عَلَى آدَمَ ﷺ ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ.

264. (164). Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami dari Sa’id, dari Qatadah, dari Anas bin Malik—barangkali ia berkata—dari Malik bin Sha’sha’ah—seorang laki-laki dari kaumnya—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:

Ketika aku berada di dekat Baitullah antara kondisi tertidur dan terjaga, tiba-tiba aku mendengar seseorang yang berkata, “Salah satu dari ketiganya yang berada di antara dua orang laki-laki.”

Lalu aku didatangi, kemudian aku dibawa pergi, lalu aku dibawakan sebuah bejana emas yang di dalamnya berisi air zamzam, lalu dadaku dibelah hingga sebatas ini dan itu.

Qatadah berkata: Aku bertanya kepada orang yang bersamaku (Anas), “Apa yang beliau maksud?”

Ia menjawab, “Hingga perut bagian bawahnya.”

Lalu hatiku dikeluarkan, kemudian dibasuh dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, kemudian dipenuhi dengan keimanan dan hikmah. Setelah itu aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang disebut Al-Buraq. Ukurannya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, yang mana sejauh mata memandang di situlah langkah kakinya menjejak. Lalu aku dinaikkan ke atasnya, kemudian kami berangkat hingga kami mendatangi langit dunia (pertama). Lalu Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, “Siapakah ini?”

Ia menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

Ia menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau berkata: Maka pintu dibukakan untuk kami, lalu diucapkan, “Selamat datang kepadanya dan sungguh sebaik-baik kedatangan telah datang.”

Beliau bersabda: Lalu kami mendatangi Adam—shallallahu ‘alaihi wa sallam—… dan perawi melanjutkan jalinan kisah hadis ini sesuai ceritanya.

وَذَكَرَ أَنَّهُ لَقِيَ فِي السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ عِيسَىٰ وَيَحۡيَىٰ عَلَيۡهِمَا السَّلَامُ، وَفِي الثَّالِثَةِ يُوسُفَ، وَفِي الرَّابِعَةِ إِدۡرِيسَ، وَفِي الۡخَامِسَةِ هَارُونَ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِمۡ وَسَلَّمَ. قَالَ: (ثُمَّ انۡطَلَقۡنَا حَتَّى انۡتَهَيۡنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَأَتَيۡتُ عَلَى مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ فَسَلَّمۡتُ عَلَيۡهِ، فَقَالَ: مَرۡحَبًا بِالۡأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ، فَلَمَّا جَاوَزۡتُهُ بَكَىٰ، فَنُودِيَ: مَا يُبۡكِيكَ؟ قَالَ: رَبِّ، هٰذَا غُلَامٌ بَعَثۡتَهُ بَعۡدِي، يَدۡخُلُ مِنۡ أُمَّتِهِ الۡجَنَّةَ أَكۡثَرُ مِمَّا يَدۡخُلُ مِنۡ أُمَّتِي، قَالَ: ثُمَّ انۡطَلَقۡنَا حَتَّى انۡتَهَيۡنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَأَتَيۡتُ عَلَىٰ إِبۡرَاهِيمَ).

Beliau menyebutkan bahwa di langit kedua beliau bertemu ‘Isa dan Yahya—‘alaihimas-salam—, di langit ketiga bertemu Yusuf, di langit keempat bertemu Idris, dan di langit kelima bertemu Harun—shallallahu ‘alaihim wa sallam—. Beliau bersabda:

Kemudian kami berangkat hingga kami sampai di langit keenam, lalu aku mendatangi Musa—‘alaihis-salam—, maka aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata, “Selamat datang sebagai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Ketika aku telah melewatinya, ia menangis, lalu terdengar seruan (kepadanya), “Apa yang membuatmu menangis?”

Ia menjawab, “Wahai Rab, anak muda ini Engkau utus setelahku, namun umatnya yang masuk surga jumlahnya lebih banyak daripada umatku yang masuk surga.”

Beliau bersabda: Kemudian kami berangkat hingga kami sampai di langit ketujuh, lalu aku mendatangi Ibrahim.

وَقَالَ فِي الۡحَدِيثِ: وَحَدَّثَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ أَنَّهُ رَأَى أَرۡبَعَةَ أَنۡهَارٍ، يَخۡرُجُ مِنۡ أَصۡلِهَا نَهۡرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهۡرَانِ بَاطِنَانِ (فَقُلۡتُ: يَا جِبۡرِيلُ، مَا هٰذِهِ الۡأَنۡهَارُ؟ قَالَ: أَمَّا النَّهۡرَانِ الۡبَاطِنَانِ فَنَهۡرَانِ فِي الۡجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ: فَالنِّيلُ وَالۡفُرَاتُ، ثُمَّ رُفِعَ لِيَ الۡبَيۡتُ الۡمَعۡمُورُ، فَقُلۡتُ: يَا جِبۡرِيلُ، مَا هٰذَا؟ قَالَ: هٰذَا الۡبَيۡتُ الۡمَعۡمُورُ، يَدۡخُلُهُ كُلَّ يَوۡمٍ سَبۡعُونَ أَلۡفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا مِنۡهُ لَمۡ يَعُودُوا فِيهِ آخِرُ مَا عَلَيۡهِمۡ، ثُمَّ أُتِيتُ بِإِنَاءَيۡنِ أَحَدُهُمَا خَمۡرٌ وَالۡآخَرُ لَبَنٌ، فَعُرِضَا عَلَيَّ، فَاخۡتَرۡتُ اللَّبَنَ، فَقِيلَ: أَصَبۡتَ، أَصَابَ اللهُ بِكَ، أُمَّتُكَ عَلَى الۡفِطۡرَةِ، ثُمَّ فُرِضَتۡ عَلَيَّ كُلَّ يَوۡمٍ خَمۡسُونَ صَلَاةً...)، ثُمَّ ذَكَرَ قِصَّتَهَا إِلَى آخِرِ الۡحَدِيثِ.

[البخاري: كتاب بدء الخلق، باب ذكر الملائكة، رقم ٣٢٠٧].

Perawi berkata dalam hadis tersebut:

Dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menceritakan bahwasanya beliau melihat empat aliran sungai yang keluar dari pangkalnya: dua sungai zahir (nyata) dan dua sungai batin (tidak terlihat di dunia). Maka aku bertanya, “Wahai Jibril, sungai-sungai apa ini?”

Ia menjawab, “Adapun dua sungai yang batin maka keduanya adalah dua sungai di janah, sedangkan dua sungai yang zahir adalah sungai Nil dan Eufrat.”

Kemudian diperlihatkan kepadaku Baitulmakmur, lalu aku bertanya, “Wahai Jibril, apa ini?”

Ia menjawab, “Ini adalah Baitulmakmur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang memasukinya. Apabila mereka telah keluar darinya, mereka tidak akan kembali lagi ke sana untuk selamanya.”

Kemudian aku dibawakan dua buah wadah. Salah satunya berisi khamar dan yang lainnya berisi susu. Keduanya ditawarkan kepadaku, maka aku memilih susu. Lalu dikatakan (kepadaku), “Pilihanmu benar, semoga Allah menetapkan umatmu bersamamu di atas fitrah.”

Kemudian lima puluh kali salat setiap hari diwajibkan atasku.

Kemudian perawi menyebutkan kisah kelanjutannya hingga akhir hadis.

٢٦٥ - (...) - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي عَنۡ قَتَادَةَ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ صَعۡصَعَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: فَذَكَرَ نَحۡوَهُ. وَزَادَ فِيهِ: (فَأُتِيتُ بِطَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ مُمۡتَلِىءٍ حِكۡمَةً وَإِيمَانًا. فَشُقَّ مِنَ النَّحۡرِ إِلَى مَرَاقِّ الۡبَطۡنِ، فَغُسِلَ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ مُلِىءَ حِكۡمَةً وَإِيمَانًا).

265. Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku: Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah: Anas bin Malik menceritakan kepada kami dari Malik bin Sha’sha’ah, bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, lalu perawi menyebutkan hadis yang semisal dan menambahkan di dalamnya: “Lalu aku dibawakan sebuah bejana emas yang dipenuhi dengan hikmah dan keimanan, lalu (dadaku) dibelah dari pangkal leher hingga perut bagian bawah, kemudian dibasuh dengan air zamzam, lalu dipenuhi dengan hikmah dan keimanan.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4246 dan 4247

٤٢٤٦، ٤٢٤٧ - وَقَالَ عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَجِيدِ، عَنۡ سَعِيدٍ: أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ وَأَبَا هُرَيۡرَةَ حَدَّثَاهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ أَخَا بَنِي عَدِيٍّ مِنَ الۡأَنۡصَارِ إِلَى خَيۡبَرَ، فَأَمَّرَهُ عَلَيۡهَا.

وَعَنۡ عَبۡدِ الۡمَجِيدِ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ: مِثۡلَهُ. [طرفه في: ٢٢٠١].

4246, 4247. ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad berkata, dari ‘Abdul Majid, dari Sa’id: Bahwasanya Abu Sa’id dan Abu Hurairah menceritakan kepadanya: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus seorang laki-laki saudara Bani ‘Adi dari kalangan Ansar ke Khaibar, lalu beliau menjadikannya sebagai amir atas daerah tersebut.

Dan dari ‘Abdul Majid, dari Abu Shalih As-Samman, dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id: semisal itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4244 dan 4245

٤١ - بَابُ اسۡتِعۡمَالِ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى أَهۡلِ خَيۡبَرَ
41. Bab Pengangkatan Petugas oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—atas Penduduk Khaibar


٤٢٤٤، ٤٢٤٥ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَجِيدِ بۡنِ سُهَيۡلٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ وَأَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ اسۡتَعۡمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيۡبَرَ، فَجَاءَهُ بِتَمۡرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ تَمۡرِ خَيۡبَرَ هَكَذَا؟) فَقَالَ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لَنَأۡخُذُ الصَّاعَ مِنۡ هٰذَا بِالصَّاعَيۡنِ، بِالثَّلَاثَةِ، فَقَالَ: (لَا تَفۡعَلۡ، بِعِ الۡجَمۡعَ بِالدَّرَاهِمِ، ثُمَّ ابۡتَعۡ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيبًا). [طرفه في: ٢٢٠١].

4244, 4245. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari ‘Abdul Majid bin Suhail, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhuma—:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah mengangkat seseorang untuk mengurus (daerah) Khaibar, lalu orang itu datang menemui beliau dengan membawa kurma kualitas bagus (janib). Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?”

Orang itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Sesungguhnya kami menukar satu sha’ kurma ini dengan dua sha’ (kurma biasa), (dan menukar dua sha’) dengan tiga sha’.”

Beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu! Juallah kurma campuran itu dengan dirham, kemudian belilah kurma janib dengan dirham tersebut.”