Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 842. Zaid bin Arqam

٨٤٢ - [زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ الۡخَزۡرَجِيُّ]:
842. Zaid bin Arqam Al-Khazraji


زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَغَرِّ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ، مِنۡ بَنِي الۡحَارِثِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ، اخۡتُلِفَ فِي كُنۡيَتِهِ اخۡتِلَافًا كَثِيرًا. فَقِيلَ: أَبُو عَمۡرٍو وَقِيلَ: أَبُو عَامِرٍ. وَقِيلَ: أَبُو سَعۡدٍ. وَقِيلَ أَبُو سَعِيدٍ. وَقِيلَ: أَبُو أُنَيۡسَةَ، قَالَهُ الۡوَاقِدِيُّ، وَالۡهَيۡثَمُ بۡنُ عَدِيٍّ.

Zaid bin Arqam bin Zaid bin Qais bin An-Nu’man bin Malik bin Al-Agharr bin Tsa’labah Al-Anshari Al-Khazraji, dari bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai kunyah-nya. Ada yang menyebutkan: Abu ‘Umar, ada pula yang menyebutkan: Abu ‘Amir. Ada yang menyebutkan: Abu Sa’d, ada yang menyebutkan: Abu Sa’id. Ada pula yang menyebutkan: Abu Unaisah, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Waqidi dan Al-Haitsam bin ‘Adi.

وَرُوِينَا عَنۡهُ مِنۡ وُجُوهٍ أَنَّهُ قَالَ: غَزَا رَسُولُ اللهِ ﷺ تِسۡعَ عَشۡرَةَ غَزۡوَةً غَزَوۡتُ مِنۡهَا مَعَهُ سَبۡعَ عَشۡرَةَ غَزۡوَةً.

Diriwayatkan dari beliau dari berbagai jalan bahwa beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berperang dalam sembilan belas peperangan. Saya ikut berperang bersama beliau dalam tujuh belas peperangan di antaranya.

وَيُقَالُ: إِنَّ أَوَّلَ مَشَاهِدِهِ الۡمُرَيۡسِيعُ، يُعَدُّ فِي الۡكُوفِيِّينَ، نَزَلَ الۡكُوفَةَ وَسَكَنَهَا، وَابۡتَنَى بِهَا دَارًا فِي كِنۡدَةَ. وَبِالۡكُوفَةِ كَانَتۡ وَفَاتُهُ، فِي سَنَةِ ثَمَانٍ وَسِتِّينَ.

Dikatakan bahwa pengalaman perang pertamanya adalah Al-Muraisi’. Beliau tergolong penduduk Kufah; beliau datang dan menetap di sana, serta membangun sebuah rumah di wilayah Kindah. Di Kufah pulalah beliau wafat pada tahun 68 H.

وَزَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ هُوَ الَّذِي رَفَعَ إِلَى رَسُولِ اللهِ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ ابۡنِ أُبَيٍّ ابۡنِ سَلُولَ قَوۡلَهُ: ﴿لَئِنۡ رَجَعۡنَا إِلَى الۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ الۡأَعَزُّ مِنۡهَا الۡأَذَلَّ﴾ [المنافقون ٨]، فَكَذَّبَهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَبَيٍّ، وَحَلَفَ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَصۡدِيقَ زَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمَ، فَتَبَادَرَ أَبُو بَكۡرٍ، وَعُمَرُ إِلَى زَيۡدٍ لِيُبَشِّرَاهُ، فَسَبَقَ أَبُو بَكۡرٍ فَأَقۡسَمَ عُمَرُ لَا يُبَادِرُهُ بَعۡدَهَا إِلَى شَيۡءٍ، وَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ فَأَخَذَ بِأُذُنِ زَيۡدٍ، وَقَالَ: وَعَتۡ أُذُنُكَ يَا غُلَامُ. مِنۡ تَفۡسِيرِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ وَمِنۡ تَفۡسِيرِ الۡحَسَنِ مِنۡ رِوَايَةِ مَعۡمَرٍ وَغَيۡرِهِ. قِيلَ: كَانَ ذٰلِكَ فِي غَزۡوَةِ بَنِي الۡمُصۡطَلِقِ. وَقِيلَ: فِي تَبُوكَ.

Zaid bin Arqam adalah orang yang melaporkan perkataan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.” (QS Al-Munafiqun: 8).

‘Abdullah bin Ubai kemudian mendustakannya dan bersumpah, maka Allah menurunkan ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam. Lalu Abu Bakr dan ‘Umar bergegas menuju Zaid untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Abu Bakr sampai lebih dahulu, sehingga ‘Umar bersumpah tidak akan mendahuluinya lagi dalam hal apa pun setelah itu. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang lalu memegang telinga Zaid dan bersabda, “Telingamu telah menyerap dengan baik (kebenaran itu), wahai pemuda.”

Diriwayatkan dari tafsir Ibnu Juraij dan tafsir Al-Hasan dari riwayat Ma’mar dan selainnya. Ada yang menyebutkan bahwa kejadian itu terjadi pada Perang Bani Al-Mushthaliq dan ada pula yang menyebutkan pada Perang Tabuk.

وَشَهِدَ زَيۡدُ بۡنُ الۡأَرۡقَمِ مَعَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ صِفِّينَ، وَهُوَ مَعۡدُودٌ فِي خَاصَّةِ أَصۡحَابِهِ. ذَكَرَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَزۡمٍ، قَالَ: كَانَ زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ يَتِيمًا فِي حِجۡرِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ رَوَاحَةَ، فَخَرَجَ بِهِ مَعَهُ إِلَى مُؤۡتَةَ يَحۡمِلُهُ عَلَى حَقِيبَةِ رَحۡلِهِ، فَسَمِعَهُ زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ مِنَ اللَّيۡلِ وَهُوَ يَتَمَثَّلُ أَبۡيَاتَهُ الَّتِي يَقُولُ فِيهَا: [الوافر]

إِذَا أَدۡنَيۡتَنِي وَحَمَلۡتَ رَحۡلِي   مَسِيرَةَ أَرۡبَعٍ بَعۡدَ الۡحِسَاءِ
فَشَأۡنُكَ فَانۡعَمِي وَخَلَاكَ   ذَمٌّ وَلَا أَرۡجِعۡ إِلَى أَهۡلِي وَرَائِي
وَجَاءَ الۡمُؤۡمِنُونَ وَغَادَرُونِي   بِأَرۡضِ الشَّامِ مُشۡتَهَى الثَّوَاءِ

فَبَكَى زَيۡدُ بۡنُ أَرۡقَمَ، فَخَفَقَهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنِ رَوَاحَةَ بِالدِّرَّةِ، وَقَالَ: مَا عَلَيۡكَ يَا لُكَعُ أَنۡ يَرۡزُقَنِي اللهُ الشَّهَادَةَ وَتَرۡجِعَ بَيۡنَ شُعۡبَتَيِ الرَّحۡلِ.

Zaid bin Al-Arqam mengikuti Perang Shiffin bersama ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu— dan beliau termasuk dalam kalangan sahabat karibnya. Ibnu Ishaq menyebutkan dari ‘Abdullah bin Abu Bakr bin Muḥammad bin ‘Amr bin Hazm, ia berkata: Zaid bin Arqam adalah seorang yatim di bawah asuhan ‘Abdullah bin Rawahah. ‘Abdullah bin Rawahah membawanya serta menuju Mu`tah dengan memboncengkannya di atas kantong pelana tunggangannya. Pada suatu malam, Zaid bin Arqam mendengarnya melantunkan bait-bait syairnya yang berbunyi:

Apabila engkau (hewan tungganganku) telah mendekatkanku dan membawa bebanku … menempuh perjalanan empat hari setelah Al-Hisa’
Maka itu urusanmu, nikmatilah dan engkau bebas dari celaan … dan aku tidak akan kembali lagi kepada keluargaku di belakangku
Kaum mukminin akan datang (tiba kembali di Madinah) dan mereka meninggalkanku … di tanah Syam, tempat menetap yang didambakan

Zaid bin Arqam pun menangis, lalu ‘Abdullah bin Rawahah memukulnya dengan cemeti kecil seraya berkata, “Apa urusanmu, wahai anak kecil? Tidak ada ruginya bagimu jika Allah mengaruniakan syahid kepadaku, sementara engkau pulang kembali dengan duduk di antara dua kayu pelana.”

وَلِزَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمَ يَقُولُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ رَوَاحَةَ: [الرجز]

يَا زَيۡدَ زَيۡدَ الۡيَعۡمَلَاتِ الذُّبَّلِ   تَطَاوَلَ اللَّيۡلُ هُدِيتَ فَانۡزِلِ

وَقِيلَ: بَلۡ قَالَ: ذٰلِكَ فِي غَزۡوَةِ مُؤۡتَةَ لِزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ.

Untuk Zaid bin Arqam, ‘Abdullah bin Rawahah bersyair:

Wahai Zaid, Zaid pemilik unta-unta yang tangkas dan ramping … malam telah terasa panjang, engkau telah diberi petunjuk, maka turunlah (untuk beristirahat)

Ada yang menyebutkan bahwa syair tersebut dikatakan pada Perang Mu`tah untuk Zaid bin Haritsah.

وَرُوِيَ عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَرۡقَمَ جَمَاعَةٌ مِنۡهُمۡ أَبُو إِسۡحَاقَ السَّبِيعِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ كَعۡبٍ الۡقُرَظِيُّ، وَأَبُو حَمۡزَةَ مَوۡلَى الۡأَنۡصَارِ.

Sekelompok perawi meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Di antaranya: Abu Ishaq As-Subai’i, Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi, dan Abu Hamzah maula Al-Ansar.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3537

٢٠ - بَابُ كُنۡيَةِ النَّبِيِّ ﷺ
20. Bab Nama Kunyah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam


٣٥٣٧ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِي السُّوقِ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا أَبَا الۡقَاسِمِ، فَالۡتَفَتَ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: (سَمُّوا بِاسۡمِي، وَلَا تَكۡتَنُوا بِكُنۡيَتِي). [طرفه في: ٢١٢٠].

3537. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berada di pasar, lalu ada seorang laki-laki memanggil, “Wahai Abul-Qasim!”

Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menoleh. Kemudian beliau bersabda, “Bernamalah dengan namaku dan janganlah kalian berjuluk dengan nama kunyah-ku!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6964

٧ - بَابُ مَا يُنۡهَى مِنَ الۡخِدَاعِ فِي الۡبُيُوعِ
7. Bab Tindakan Penipuan dalam Jual Beli yang Dilarang


وَقَالَ أَيُّوبُ: يُخَادِعُونَ اللهَ كَمَا يُخَادِعُونَ آدَمِيًّا، لَوۡ أَتَوُا الۡأَمۡرَ عِيَانًا كَانَ أَهۡوَنَ عَلَيَّ.

Ayyub berkata: Mereka menipu Allah sebagaimana mereka menipu sesama manusia. Seandainya mereka melakukan perkara tersebut secara terang-terangan, tentu hal itu lebih ringan bagi saya.

٦٩٦٤ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَجُلًا ذَكَرَ لِلنَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ يُخۡدَعُ فِي الۡبُيُوعِ، فَقَالَ: (إِذَا بَايَعۡتَ فَقُلۡ لَا خِلَابَةَ). [طرفه في: ٢١١٧].

6964. Isma’il telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Dinar, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Ada seorang laki-laki menceritakan kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa ia selalu tertipu dalam jual beli, maka beliau bersabda, “Apabila kamu berjual beli, maka katakanlah: ‘Tidak ada penipuan.’”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2414

٢ - بَابُ مَنۡ رَدَّ أَمۡرَ السَّفِيهِ وَالضَّعِيفِ الۡعَقۡلِ، وَإِنۡ لَمۡ يَكُنۡ حَجَرَ عَلَيۡهِ الۡإِمَامُ
2. Bab Orang yang Membatalkan Tindakan Orang yang Kurang Akal dan Lemah Akalnya, Meskipun Pemimpin Belum Menetapkan Pelarangan Transaksi atas Dirinya


وَيُذۡكَرُ عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: رَدَّ عَلَى الۡمُتَصَدِّقِ قَبۡلَ النَّهۡيِ ثُمَّ نَهَاهُ.

Disebutkan dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau membatalkan tindakan orang yang bersedekah sebelum adanya larangan (secara resmi), kemudian baru beliau melarangnya.

وَقَالَ مَالِكٌ: إِذَا كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى رَجُلٍ مَالٌ، وَلَهُ عَبۡدٌ لَا شَيۡءَ لَهُ غَيۡرُهُ فَأَعۡتَقَهُ، لَمۡ يَجُزۡ عِتۡقُهُ.

Malik berkata: Apabila seorang laki-laki memiliki utang harta kepada orang lain dan ia memiliki seorang budak yang mana ia tidak mempunyai harta selain budak tersebut, lalu ia memerdekakannya, maka pemerdekaan budaknya itu tidak diperbolehkan.

٣ - بَابُ مَنۡ بَاعَ عَلَى الضَّعِيفِ وَنَحۡوِهِ، فَدَفَعَ ثَمَنَهُ إِلَيۡهِ، وَأَمَرَهُ بِالۡإِصۡلَاحِ وَالۡقِيَامِ بِشَأۡنِهِ، فَإِنۡ أَفۡسَدَ بَعۡدُ مَنَعَهُ، لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ إِضَاعَةِ الۡمَالِ، وَقَالَ لِلَّذِي يُخۡدَعُ فِي الۡبَيۡعِ: (إِذَا بَايَعۡتَ فَقُلۡ لَا خِلَابَةَ)، وَلَمۡ يَأۡخُذِ النَّبِيُّ ﷺ مَالَهُ
3. Bab Orang yang Menjualkan (Aset) Milik Orang yang Lemah Akalnya dan yang Semisal dengannya, Lalu Menyerahkan Uang Hasil Penjualannya Kepadanya, Serta Memerintahkannya untuk Mengelola dan Mengurus Urusannya dengan Baik; Namun Jika Setelah Itu Ia Melakukan Kerusakan, Maka Ia Melarangnya, Karena Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Melarang dari Tindakan Menyia-nyiakan Harta, dan Beliau Bersabda kepada Orang yang Selalu Tertipu dalam Jual Beli, “Apabila Kamu Berjual Beli, Maka Katakanlah: ‘Tidak Ada Penipuan,’” dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Tidak Mengambil Hartanya


٢٤١٤ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُسۡلِمٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يُخۡدَعُ فِي الۡبَيۡعِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا بَايَعۡتَ فَقُلۡ: لَا خِلَابَةَ). فَكَانَ يَقُولُهُ. [طرفه في: ٢١١٧].

2414. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Muslim menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dinar menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata:

Ada seorang laki-laki yang selalu tertipu dalam jual beli, maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Apabila kamu berjual beli, maka katakanlah: ‘Tidak ada penipuan.’” Maka laki-laki itu pun selalu mengucapkannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2407

١٩ - بَابُ مَا يُنۡهَى عَنۡ إِضَاعَةِ الۡمَالِ
19. Bab Menyia-nyiakan Harta yang Dilarang


وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَاللهُ لَا يُحِبُّ الۡفَسَادَ﴾ [البقرة: ٢٠٥]، وَ﴿إِنَّ اللهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ الۡمُفۡسِدِينَ﴾ [يونس: ٨١]، وَقَالَ فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿أَصَلَوَاتُكَ تَأۡمُرُكَ أَنۡ نَتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ آبَاؤُنَا أَوۡ أَنۡ نَفۡعَلَ فِي أَمۡوَالِنَا مَا نَشَاءُ﴾ [هود: ٨٧]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا تُؤۡتُوا السُّفَهَاءَ أَمۡوَالَكُمۡ﴾ [النساء: ٥]. وَالۡحَجۡرِ فِي ذٰلِكَ، وَمَا يُنۡهَى عَنِ الۡخِدَاعِ.

Dan firman Allah taala: “Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS Al-Baqarah: 205), dan “Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Yunus: 81), dan beliau berkata mengenai firman Allah taala: “Apakah salatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki pada harta kami?” (QS Hud: 87), dan Allah taala berfirman, “Dan janganlah kalian serahkan harta kalian kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya.” (QS An-Nisa’: 5). Dan (bab) tentang al-hajr (pelarangan pengelolaan harta) dalam urusan tersebut, serta apa yang dilarang dari tindakan penipuan.

٢٤٠٧ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ دِينَارٍ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: إِنِّي أُخۡدَعُ فِي الۡبُيُوعِ، فَقَالَ: (إِذَا بَايَعۡتَ فَقُلۡ لَا خِلَابَةَ). فَكَانَ الرَّجُلُ يَقُولُهُ. [طرفه في: ٢١١٧].

2407. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Dinar: Aku mendengar Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata:

Seorang laki-laki berkata kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Sesungguhnya aku selalu tertipu dalam jual beli.”

Maka beliau bersabda, “Apabila kamu berjual beli, maka katakanlah: ‘Tidak ada penipuan.’”

Maka laki-laki itu pun selalu mengucapkannya.