Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2131 dan 2132

٥٤ - بَابُ مَا يُذۡكَرُ فِي بَيۡعِ الطَّعَامِ وَالۡحُكۡرَةِ
54. Bab Riwayat tentang Jual Beli Makanan dan Penimbunan


٢١٣١ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنِ الۡأَوۡزَاعِيِّ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: رَأَيۡتُ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ الطَّعَامَ مُجَازَفَةً، يُضۡرَبُونَ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنۡ يَبِيعُوهُ حَتَّى يُئۡوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمۡ. [طرفه في: ٢١٢٣].

2131. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami dari Al-Auza’i, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Aku melihat orang-orang yang membeli makanan secara borongan (mujazafah) dipukuli pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar mereka tidak menjualnya kembali hingga mereka membawanya ke tempat tinggal mereka.

٢١٣٢ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنِ ابۡنِ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى أَنۡ يَبِيعَ الرَّجُلُ طَعَامًا حَتَّى يَسۡتَوۡفِيَهُ. قُلۡتُ لِابۡنِ عَبَّاسٍ: كَيۡفَ ذَاكَ؟ قَالَ: ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ، وَالطَّعَامُ مُرۡجَأٌ. قَالَ أَبُو عَبۡد اللهِ: ﴿مُرۡجَئُونَ﴾ [التوبة: ١٠٦] مُؤَخَّرُونَ. [الحديث ٢١٣٢ - طرفه في: ٢١٣٥].

2132. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang seseorang menjual makanan hingga ia menerimanya secara sempurna.

Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Mengapa itu dilarang?”

Ia menjawab, “Itu adalah dirham dengan dirham, sedangkan makanannya ditangguhkan.”

Abu ‘Abdullah berkata: “Murja’una” (QS At-Taubah: 106) berarti orang-orang yang ditangguhkan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2128

٥٢ - بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ مِنَ الۡكَيۡلِ
52. Bab Takaran yang Dianjurkan


٢١٢٨ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ، عَنۡ ثَوۡرٍ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ مَعۡدَانَ، عَنِ الۡمِقۡدَامِ بۡنِ مَعۡدِيكَرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كِيلُوا طَعَامَكُمۡ يُبَارَكۡ لَكُمۡ).

2128. Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami: Al-Walid menceritakan kepada kami dari Tsaur, dari Khalid bin Ma’dan, dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Takarlah makanan kalian, niscaya akan diberkahi bagi kalian.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2066

٢٠٦٦ - حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا أَنۡفَقَتِ الۡمَرۡأَةُ مِنۡ كَسۡبِ زَوۡجِهَا عَنۡ غَيۡرِ أَمۡرِهِ، فَلَهُ نِصۡفُ أَجۡرِهِ). [الحديث ٢٠٦٦ - أطرافه في: ٥١٩٢، ٥١٩٥، ٥٣٦٠].

2066. Yahya bin Ja’far telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Hammam. Ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Jika seorang istri menginfakkan hasil usaha suaminya tanpa perintahnya, maka bagi suaminya mendapatkan setengah pahalanya.”

Al-Isti'ab - 1555. ‘Abdullah bin Zam’ah

١٥٥٥ - [عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ الۡأَسَدِيُّ]:
1555. ‘Abdullah bin Zam’ah Al-Asadi


عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ بۡنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ الۡقُرَشِيُّ الۡأَسَدِيُّ. أُمُّهُ قَرِيبَةُ بِنۡتُ أَبِي أُمَيَّةَ أُخۡتُ أُمِّ سَلَمَةَ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ، كَانَ مِنۡ أَشۡرَافِ قُرَيۡشٍ، وَكَانَ يَأۡذَنُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، يُعَدُّ فِي أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ.

‘Abdullah bin Zam’ah bin Al-Aswad bin ‘Abdul Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyi Al-Asadi. Ibunya adalah Qaribah binti Abu Umayyah, saudari ibunda kaum mukminin Umu Salamah. Beliau termasuk di antara bangsawan Quraisy, pernah bertugas memberi izin untuk menemui Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dan digolongkan sebagai penduduk Madinah.

وَرَوَى عَنۡهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، فَحَدِيثُ أَبِي بَكۡرٍ عَنۡهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ).

Abu Bakr bin ‘Abdurrahman dan ‘Urwah bin Az-Zubair meriwayatkan darinya. Adapun hadis Abu Bakr darinya adalah: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami orang-orang salat!”

وَرَوَى عَنۡهُ عُرۡوَةُ ثَلَاثَةَ أَحَادِيثَ: أَحَدُهَا - أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ النِّسَاءَ فَقَالَ: (يَضۡرِبُ أَحَدُكُمُ الۡمَرۡأَةَ ضَرۡبَ الۡعَبۡدِ، ثُمَّ يُضَاجِعُهَا مِنۡ آخِرِ يَوۡمِهِ).

وَالثَّانِي - أَنَّهُ ذَكَرَ الضَّرۡطَةَ فَوَعَظَهُمۡ فِيهَا، فَقَالَ: (لِمَ يَضۡحَكُ أَحَدُكُمۡ مِمَّا يَفۡعَلُ).

وَالثَّالِثُ - أَنَّهُ ذَكَرَ نَاقَةَ صَالِحٍ، فَقَالَ: (انۡبَعَثَ لَهَا رَجُلٌ عَزِيزٌ عَارِمٌ مَنِيعٌ فِي رَهۡطِهِ مِثۡلُ أَبِي زَمۡعَةَ فِي قَوۡمِهِ). وَرُبَّمَا جَمَعَ هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ هٰذِهِ الۡأَحَادِيثَ الثَّلَاثَةَ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ.

‘Urwah meriwayatkan tiga hadis darinya:

Pertama: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyebutkan tentang wanita, lalu beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul budak, kemudian ia menyetubuhinya di akhir harinya.”

Kedua: Bahwa beliau menyebutkan tentang kentut lalu menasihati mereka dalam hal itu. Beliau bersabda, “Mengapa salah seorang dari kalian menertawakan perbuatan yang ia sendiri lakukan?”

Ketiga: Bahwa beliau menyebutkan tentang unta Nabi Saleh, lalu beliau bersabda, “Telah bangkit untuk melakukannya (menyembelih unta) seorang laki-laki yang perkasa, jahat, lagi kuat dalam kaumnya seperti Abu Zam’ah di tengah kaumnya.”

Terkadang Hisyam bin ‘Urwah menggabungkan ketiga hadis dari ayahnya ini dalam satu hadis.

وَأَبُو زَمۡعَةَ هٰذَا هُوَ الۡأَسۡوَدُ بۡنُ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ، كُنِيَ بِابۡنِهِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ زَمۡعَةُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ، وَأَخُوهُ عَقِيلُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ يَوۡمَ بَدۡرٍ كَافِرَيۡنِ، وَأَبُوهُمَا الۡأَسۡوَدُ، كَانَ أَحَدَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِمۡ: ﴿إِنَّا كَفَيۡنَاكَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ﴾ [الحجر ٩٥].

Adapun Abu Zam’ah ini adalah Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay. Ia diberi kunyah dengan nama anaknya, Zam’ah. Zam’ah bin Al-Aswad dan saudaranya, ‘Aqil bin Al-Aswad, terbunuh pada perang Badr dalam keadaan kafir. Ayah mereka berdua, Al-Aswad, adalah salah satu dari kaum penghina yang Allah taala berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS Al-Hijr: 95).

ذَكَرُوا أَنَّ جِبۡرِيلَ رَمَى فِي وَجۡهِهِ بِوَرَقَةٍ فَعَمِيَ، وَكَانَتۡ تَحۡتَ عَبۡدِ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ زَيۡنَبُ بِنۡتُ أَبِي سَلَمَةَ، وَهِيَ أُمُّ بِنۡتِهِ، وَابۡنُهُ يَزِيدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، قَتَلَهُ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ صَبۡرًا يَوۡمَ الۡحَرَّةِ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ أَتَى بِهِ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ أَسِيرًا. فَقَالَ لَهُ: بَايِعۡ عَلَى أَنَّكَ خَوۡلٌ لِأَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَعۡنِي يَزِيدَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِكَ وَمَالِكَ. فَقَالَ: أُبَايِعُهُ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَأَنَا ابۡنُ عَمِّ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِي وَأَهۡلِي وَمَالِي، وَكَانَ صَدِيقًا لِيَزِيدَ وَصَفِيًّا لَهُ، فَلَمَّا قَالَ ذٰلِكَ قَالَ مُسۡرِفٌ: اضۡرِبُوا عُنُقَهُ، فَوَثَبَ مَرۡوَانُ فَضَمَّهُ إِلَيۡهِ لِمَا كَانَ يَعۡرِفُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ يَزِيدَ. فَقَالَ مَرۡوَانُ: نَعَمۡ يُبَايِعُكَ عَلَى مَا أَحۡبَبۡتَ. وَقَالَ مُسۡرِفٌ: وَاللهِ لَا أَقۡبَلُهُ أَبَدًا. وَقَالَ: إِنۡ تَنَحَّى عَنۡهُ مَرۡوَانُ وَإِلَّا فَاقۡتُلُوهُمَا مَعًا، فَتَرَكَهُ مَرۡوَانُ، وَضُرِبَتۡ عُنُقُ يَزِيدَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ يَوۡمَئِذٍ إِخۡوَتُهُ فِي الۡقِتَالِ، فَيُقَالُ: إِنَّهُ قُتِلَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ يَوۡمَ الۡحَرَّةِ بَنُونَ. وَمِنۡ وَلَدِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ كَثِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَهُوَ جَدُّ أَبِي الۡبَخۡتَرِيِّ، وَالۡقَاضِي وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ.

Mereka menyebutkan bahwa Jibril memukul wajahnya dengan selembar daun hingga ia buta. Istri ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Zainab binti Abu Salamah, dan ia adalah ibu dari anak perempuannya serta putranya, Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

Yazid ini dibunuh dengan cara dieksekusi oleh Musrif bin ‘Uqbah pada hari Al-Harrah. Hal itu karena ia dibawa ke hadapan Musrif bin ‘Uqbah sebagai tawanan. Lalu Musrif berkata kepadanya, “Berbaiatlah bahwa engkau adalah hamba sahaya bagi Amirulmukminin—yakni Yazid bin Mu’awiyah—yang berhak menghukumi darah dan hartamu.”

Maka ia menjawab, “Aku membaiatnya di atas Al-Kitab dan Sunah, dan aku adalah sepupu Amirulmukminin. Ia berhak menghukumi darah, keluarga, dan hartaku.”

Ia sebenarnya adalah teman karib dan orang kepercayaan Yazid. Ketika ia mengatakan hal itu, Musrif berkata, “Penggal lehernya!”

Maka Marwan bangkit dan mendekapnya karena ia tahu hubungan kedekatan antara Yazid bin ‘Abdullah dengan Yazid bin Mu’awiyah. Marwan berkata, “Ya, dia akan membaiatmu atas apa yang engkau sukai.”

Namun Musrif berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menerimanya selamanya.” Ia melanjutkan, “Jika Marwan menyingkir darinya (silakan), jika tidak maka bunuh mereka berdua bersama-sama.”

Akhirnya Marwan meninggalkannya, lalu dipenggallah leher Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Saudara-saudaranya juga terbunuh dalam peperangan hari itu. Dikatakan bahwa putra-putra ‘Abdullah bin Zam’ah terbunuh pada hari Al-Harrah tersebut.

Di antara keturunan ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Ia adalah kakek dari Abu Al-Bakhtari sang hakim, yaitu Wahb bin Wahb bin Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ عَنۡ عَمِّهِ مُصۡعَبٍ، حَدَّثَنِي أَبُو الۡبَخۡتَرِيِّ قَالَ: قَالَ لِي مُصۡعَبُ بۡنُ ثَابِتٍ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قُلۡتُ: وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ عبد الكَثِير بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ قَالَ: فَمَا لَكَ لَا تَقُولُ كَثِيرًا؟ لَعَلَّكَ كَرِهۡتَ ذٰلِكَ، أَتَدۡرِي مَنۡ سَمَّاهُ كَثِيرًا؟ جَدَّتُهُ أُمُّ سَلَمَةَ زَوۡجُ النَّبِيِّ ﷺ.

Az-Zubair menyebutkan dari pamannya, Mush’ab: Abu Al-Bakhtari menceritakan kepadaku, ia berkata:

Mush’ab bin Tsabit bertanya kepadaku, “Siapakah engkau?”

Aku menjawab, “Wahb bin Wahb bin ‘Abd Al-Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.”

Mush’ab berkata, “Mengapa engkau tidak mengucapkan Katsir saja? Mungkin engkau membenci nama itu. Tahukah engkau siapa yang menamainya Katsir? Neneknya, Umu Salamah, istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Isti'ab - 936. Sa’d bin Ar-Rabi’

٩٣٦ - [سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو الۡأَنۡصَارِيُّ]:
936. Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr Al-Anshari


سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ أَبِي زُهَيۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَغَرِّ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡخَزۡرَجِيُّ عَقَبِيٌّ، بَدۡرِيٌّ.

Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Imru` Al-Qais bin Malik bin Al-Agharr bin Tsa’labah bin Ka’b bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji, mengikuti baiat ‘Aqabah dan perang Badr.

كَانَ أَحَدَ نُقَبَاءِ الۡأَنۡصَارِ، وَكَانَ كَاتِبًا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، وَشَهِدَ الۡعَقَبَةَ الۡأُولَى وَالثَّانِيَةَ، وَشَهِدَ بَدۡرًا، وَقُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ شَهِيدًا، وَأَمَرَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ يَوۡمَئِذٍ أَنۡ يُلۡتَمَسَ فِي الۡقَتۡلَى، وَقَالَ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا، فَذَهَبَ يَطُوفُ بَيۡنَ الۡقَتۡلَى، فَوَجَدَهُ وَبِهِ رَمَقٌ، فَقَالَ لَهُ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: مَا شَأۡنُكَ؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ لِآتِيَهُ بِخَبَرِكَ. قَالَ: فَاذۡهَبۡ إِلَيۡهِ فَأَقۡرِأۡهُ مِنِّي السَّلَامَ، وَأَخۡبِرۡهُ أَنِّي قَدۡ طُعِنۡتُ اثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ طَعۡنَةً، وَأَنِّي قَدۡ أَنۡفَذۡتُ مَقَاتِلِي. وَأَخۡبِرۡ قَوۡمَكَ أَنَّهُمۡ لَا عُذۡرَ لَهُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ إِنۡ قُتِلَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَوَاحِدٌ مِنۡهُمۡ حَيٌّ.

Beliau adalah salah satu naqib (pemimpin) kaum Ansar dan seorang penulis pada masa jahiliah. Beliau mengikuti baiat ‘Aqabah pertama dan kedua, mengikuti Perang Badr, dan gugur pada hari Uhud sebagai syahid.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari itu memerintahkan agar Sa’d dicari di antara para korban yang gugur dan bertanya, “Siapa yang mau membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’?”

Maka seorang laki-laki berkata, “Saya.”

Lalu ia pergi berkeliling di antara para korban yang gugur dan menemukannya dalam keadaan masih memiliki sisa nyawa. Sa’d bin Ar-Rabi’ bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutusku untuk membawa kabar tentangmu kepada beliau.”

Sa’d berkata, “Pergilah kepada beliau dan sampaikan salam dariku, serta kabarkan bahwa aku telah ditusuk sebanyak dua belas tusukan, dan aku telah sampai pada saat kematianku. Serta kabarkan kepada kaummu bahwa tidak ada uzur bagi mereka di hadapan Allah jika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terbunuh sementara salah satu dari mereka masih hidup.”

هٰكَذَا ذَكَرَ مَالِكٌ هٰذَا الۡخَبَرَ، وَلَمۡ يُسَمِّ الرَّجُلَ الَّذِي ذَهَبَ لِيَأۡتِيَ بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، وَهُوَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ، ذَكَرَ ذٰلِكَ رُبَيۡحُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ جَدِّهِ فِي هٰذَا الۡخَبَرِ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ يَوۡمَ أُحُدٍ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ؟ فَإِنِّي رَأَيۡتُ الۡأَسِنَّةَ قَدۡ أُشۡرِعَتۡ إِلَيۡهِ. فَقَالَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ: أَنَا، وَذَكَرَ الۡخَبَرَ، وَفِيهِ اقۡرَأۡ عَلَى قَوۡمِي السَّلَامَ، وَقُلۡ لَهُمۡ: يَقُولُ لَكُمۡ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: اللّٰهَ اللّٰهَ وَمَا عَاهَدۡتُمۡ عَلَيۡهِ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ لَيۡلَةَ الۡعَقَبَةِ، فَوَاللّٰهِ مَا لَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ عُذۡرٌ إِنۡ خُلِصَ إِلَى نَبِيِّكُمۡ وَفِيكُمۡ عَيۡنٌ تَطۡرِفُ. وَقَالَ أُبَيٌّ: فَلَمۡ أَبۡرَحۡ حَتَّى مَاتَ رَحِمَهُ اللهُ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ. [فَقَالَ: رَحِمَهُ اللّٰهُ، نَصَحَ لِلّٰهِ وَلِرَسُولِهِ حَيًّا وَمَيِّتًا].

Demikianlah Malik menyebutkan berita ini dan ia tidak menyebutkan nama laki-laki yang pergi untuk membawa kabar Sa’d bin Ar-Rabi’, padahal dia adalah Ubay bin Ka’b. Hal itu disebutkan oleh Rubaih bin ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya mengenai kabar ini:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya pada hari Uhud, “Siapa yang mau membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’? Karena aku melihat tombak-tombak telah diarahkan kepadanya.”

Maka Ubay bin Ka’b berkata, “Saya.”

Lalu ia menyebutkan kisahnya dan di dalamnya terdapat pesan Sa’d: “Sampaikan salam kepada kaumku dan katakan kepada mereka: Sa’d bin Ar-Rabi’ berkata kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam janji kalian kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada malam ‘Aqabah. Demi Allah, tidak ada uzur bagi kalian di hadapan Allah jika musuh sampai menyentuh Nabi kalian sementara di antara kalian masih ada mata yang berkedip.”

Ubay berkata, “Aku tidak beranjak sampai ia wafat—rahimahullah—, lalu aku kembali kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mengabarkannya.”

[Maka beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya. Ia telah tulus kepada Allah dan Rasul-Nya baik saat hidup maupun mati.”]

وَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ: دُفِنَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ وَخَارِجَةُ بۡنُ أَبِي زَيۡدِ بۡنِ أَبِي زُهَيۡرٍ فِي قَبۡرٍ وَاحِدٍ. وَخَلَّفَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ ابۡنَتَيۡنِ فَأَعۡطَاهُمَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ الثُّلُثَيۡنِ، فَكَانَ ذٰلِكَ أَوَّلَ بَيَانِهِ لِلۡآيَةِ فِي قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَإِنۡ كُنَّ نِسَاءً فَوۡقَ اثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ﴾ [النساء ١٧٦]. وَفِي ذٰلِكَ نَزَلَتِ الۡآيَةُ، وَبِذٰلِكَ عُلِمَ مُرَادُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنۡهَا، وَعُلِمَ أَنَّهُ أَرَادَ بِقَوۡلِهِ: فَوۡقَ اثۡنَتَيۡنِ، أَيۡ اثۡنَتَيۡنِ فَمَا فَوۡقَهُمَا، وَذٰلِكَ أَيۡضًا عِنۡدَ الۡعُلَمَاءِ قِيَاسٌ عَلَى الۡأُخۡتَيۡنِ؛ إِذۡ لِإِحۡدَاهُمَا النِّصۡفُ وَلِلِاثۡنَتَيۡنِ الثُّلُثَانِ، فَكَذٰلِكَ الۡاِبۡنَتَانِ.

Ibnu Ishaq berkata: Sa’d bin Ar-Rabi’ dan Kharijah bin Abu Zaid bin Abu Zuhair dimakamkan dalam satu liang kubur. Sa’d bin Ar-Rabi’ meninggalkan dua orang anak perempuan, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan kepada keduanya dua pertiga (harta warisan). Kejadian itu merupakan penjelasan pertama beliau terhadap ayat dalam firman Allah—‘azza wa jalla—: “jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.” (QS An-Nisa’: 11).

Dalam hal itulah ayat tersebut turun dan dengan itu diketahui maksud Allah—‘azza wa jalla—darinya, serta diketahui bahwa yang Dia maksud dengan firman-Nya: “lebih dari dua orang” adalah dua orang atau lebih. Hal itu juga menurut para ulama adalah kias terhadap dua orang saudara perempuan, di mana bagi salah seorang dari mereka mendapat setengah dan bagi keduanya mendapat dua pertiga, maka demikian pula bagi dua anak perempuan.