Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5181

٧٧ - بَابٌ هَلۡ يَرۡجِعُ إِذَا رَأَى مُنۡكَرًا فِي الدَّعۡوَةِ‏
77. Bab Apakah Seseorang Harus Pulang Kembali Apabila Melihat Kemungkaran di Tempat Undangan Jamuan?


وَرَأَى ابۡنُ مَسۡعُودٍ صُورَةً فِي الۡبَيۡتِ فَرَجَعَ. وَدَعَا ابۡنُ عُمَرَ أَبَا أَيُّوبَ، فَرَأَى فِي الۡبَيۡتِ سِتۡرًا عَلَى الۡجِدَارِ، فَقَالَ ابۡنُ عُمَرَ: غَلَبَنَا عَلَيۡهِ النِّسَاءُ، فَقَالَ: مَنۡ كُنۡتُ أَخۡشَى عَلَيۡهِ، فَلَمۡ أَكُنۡ أَخۡشَى عَلَيۡكَ، وَاللهِ لَا أَطۡعَمُ لَكُمۡ طَعَامًا، فَرَجَعَ.

Ibnu Mas’ud melihat sebuah gambar di dalam rumah, lalu ia pulang kembali.

Ibnu ‘Umar mengundang Abu Ayyub, lalu Abu Ayyub melihat di dalam rumah ada tabir yang menutupi dinding. Maka Ibnu ‘Umar berkata, “Para wanita telah mengalahkan kami dalam urusan ini.”

Lalu Abu Ayyub berkata, “Jika aku mengkhawatirkan ada seseorang yang melakukan perbuatan ini, tentulah aku tidak mengkhawatirkannya atas dirimu. Demi Allah, aku tidak akan memakan makanan kalian sedikit pun.” Lalu ia pulang kembali.

٥١٨١ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ الۡقَاسِمِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ عَائِشَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهَا أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّهَا اشۡتَرَتۡ نُمۡرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ، فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ قَامَ عَلَى الۡبَابِ فَلَمۡ يَدۡخُلۡ، فَعَرَفۡتُ فِي وَجۡهِهِ الۡكَرَاهِيَةَ، فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَتُوبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُولِهِ، مَاذَا أَذۡنَبۡتُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا بَالُ هٰذِهِ النُّمۡرُقَةِ؟) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: اشۡتَرَيۡتُهَا لَكَ لِتَقۡعُدَ عَلَيۡهَا وَتَوَسَّدَهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ أَصۡحَابَ هٰذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَيُقَالُ لَهُمۡ: أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ) وَقَالَ: (إِنَّ الۡبَيۡتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدۡخُلُهُ الۡمَلَائِكَةُ).

5181. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya ia mengabarkan kepadanya:

Ia membeli sebuah bantal kecil (numruqah) yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Maka ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya, beliau berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk. Lalu aku mengetahui rona kebencian pada wajah beliau. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku bertobat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Dosa apa yang telah aku perbuat?”

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ada apa dengan bantal kecil ini?”

‘Aisyah berkata: Maka aku menjawab, “Aku membelinya untukmu agar engkau duduk di atasnya dan menjadikannya sebagai bantal sandaran.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan ini!’”

Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3224

٧ - بَابٌ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمۡ: آمِينَ وَالۡمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ، فَوَافَقَتۡ إِحۡدَاهُمَا الۡأُخۡرَى، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡبِهِ
7. Bab Apabila Salah Seorang dari Kalian Mengucapkan “Amin” dan Para Malaikat di Langit Juga Mengucapkannya, Lalu Salah Satunya Menepati yang Lainnya, Maka Dosa-Dosanya yang Telah Lalu Diampuni


٣٢٢٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا مَخۡلَدٌ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أُمَيَّةَ: أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ: أَنَّ الۡقَاسِمَ بۡنَ مُحَمَّدٍ حَدَّثَهُ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: حَشَوۡتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ وِسَادَةً فِيهَا تَمَاثِيلُ، كَأَنَّهَا نُمۡرُقَةٌ، فَجَاءَ فَقَامَ بَيۡنَ الۡبَابَيۡنِ، وَجَعَلَ يَتَغَيَّرُ وَجۡهُهُ، فَقُلۡتُ: مَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (مَا بَالُ هٰذِهِ الۡوِسَادَةِ؟) قَالَتۡ: وِسَادَةٌ جَعَلۡتُهَا لَكَ لِتَضۡطَجِعَ عَلَيۡهَا، قَالَ: (أَمَا عَلِمۡتِ أَنَّ الۡمَلَائِكَةَ لَا تَدۡخُلُ بَيۡتًا فِيهِ صُورَةٌ، وَأَنَّ مَنۡ صَنَعَ الصُّورَةَ يُعَذَّبُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ يَقُولُ: أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ؟). [طرفه في: ٢١٠٥].

3224. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Makhlad mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami dari Isma’il bin Umayyah: Nafi’ menceritakan kepadanya: Al-Qasim bin Muhammad menceritakan kepadanya dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—.

Ia berkata: Aku membuatkan sebuah bantal untuk Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa). Bantal itu seperti sebuah bantal kecil (numruqah). Lalu beliau datang dan berdiri di antara dua pintu, dan wajah beliau mulai berubah. Aku bertanya, “Ada apa dengan kami, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Ada apa dengan bantal ini?”

‘Aisyah menjawab, “Itu adalah bantal yang aku buatkan untukmu agar engkau bisa berbaring di atasnya.”

Beliau bersabda, “Apakah kamu belum tahu bahwasanya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar, dan bahwasanya orang yang membuat gambar akan diazab pada hari kiamat, (seraya) dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan ini!’?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5534

٥٥٣٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ بُرَيۡدٍ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَثَلُ الۡجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوۡءِ، كَحَامِلِ الۡمِسۡكِ وَنَافِخِ الۡكِيرِ، فَحَامِلُ الۡمِسۡكِ: إِمَّا أَنۡ يُحۡذِيَكَ، وَإِمَّا أَنۡ تَبۡتَاعَ مِنۡهُ، وَإِمَّا أَنۡ تَجِدَ مِنۡهُ رِيحًا طَيِّبَةً. وَنَافِخُ الۡكِيرِ: إِمَّا أَنۡ يُحۡرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنۡ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً). [طرفه في: ٢١٠١].

5534. Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid, dari Abu Burdah, dari Abu Musa—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang saleh dan yang buruk adalah seperti pembawa minyak kesturi dan peniup ubub tukang besi. Pembawa minyak kesturi itu adakalanya ia memberimu, adakalanya kamu membeli darinya, dan adakalanya kamu mendapati aroma yang wangi darinya. Sedangkan peniup ubub tukang besi itu adakalanya ia membakar pakaianmu dan adakalanya kamu mendapati aroma yang busuk darinya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4322

٤٣٢٢ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ أَفۡلَحَ، عَنۡ أَبِي مُحَمَّدٍ مَوۡلَى أَبِي قَتَادَةَ: أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ، قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوۡمُ حُنَيۡنٍ، نَظَرۡتُ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، يُقَاتِلُ رَجُلًا مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، وَآخَرُ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ يَخۡتِلُهُ مِنۡ وَرَائِهِ لِيَقۡتُلَهُ، فَأَسۡرَعۡتُ إِلَى الَّذِي يَخۡتِلُهُ، فَرَفَعَ يَدَهُ لِيَضۡرِبَنِي، وَأَضۡرِبُ يَدَهُ فَقَطَعۡتُهَا، ثُمَّ أَخَذَنِي فَضَمَّنِي ضَمًّا شَدِيدًا حَتَّى تَخَوَّفۡتُ، ثُمَّ تَرَكَ، فَتَحَلَّلَ، وَدَفَعۡتُهُ ثُمَّ قَتَلۡتُهُ، وَانۡهَزَمَ الۡمُسۡلِمُونَ وَانۡهَزَمۡتُ مَعَهُمۡ، فَإِذَا بِعُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ فِي النَّاسِ، فَقُلۡتُ لَهُ: مَا شَأۡنُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَمۡرُ اللهِ، ثُمَّ تَرَاجَعَ النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَقَامَ بَيِّنَةً عَلَى قَتِيلٍ قَتَلَهُ فَلَهُ سَلَبُهُ). فَقُمۡتُ لِأَلۡتَمِسَ بَيِّنَةً عَلَى قَتِيلِي، فَلَمۡ أَرَ أَحَدًا يَشۡهَدُ لِي فَجَلَسۡتُ، ثُمَّ بَدَا لِي، فَذَكَرۡتُ أَمۡرَهُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنۡ جُلَسَائِهِ: سِلَاحُ هٰذَا الۡقَتِيلِ الَّذِي يَذۡكُرُ عِنۡدِي، فَأَرۡضِهِ مِنۡهُ، فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: كَلَّا، لَا يُعۡطِهِ أُصَيۡبِغَ مِنۡ قُرَيۡشٍ وَيَدَعَ أَسَدًا مِنۡ أُسۡدِ اللهِ يُقَاتِلُ عَنِ اللهِ وَرَسُولِهِ ﷺ. قَالَ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَدَّاهُ إِلَيَّ، فَاشۡتَرَيۡتُ مِنۡهُ خِرَافًا، فَكَانَ أَوَّلَ مَالٍ تَأَثَّلۡتُهُ فِي الۡإِسۡلَامِ. [طرفه في: ٢١٠٠].

4322. Al-Laits berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepadaku dari ‘Umar bin Katsir bin Aflah, dari Abu Muhammad bekas budak Abu Qatadah: Abu Qatadah berkata:

Ketika hari perang Hunain, aku melihat seorang laki-laki dari kaum muslimin sedang bertempur melawan seorang laki-laki dari kaum musyrikin, sementara ada seorang laki-laki lain dari kaum musyrikin yang mengendap-endap di belakang muslim tersebut untuk membunuhnya. Maka aku bergegas menuju orang yang mengendap-endap itu, lalu ia mengangkat tangannya untuk memukulku, namun aku memukul tangannya hingga aku memotongnya. Kemudian ia memegangku lalu mendekapku dengan dekapan yang sangat kuat sampai aku merasa ketakutan, kemudian ia melemas lalu terlepas, lalu aku mendorongnya kemudian aku membunuhnya. Kaum muslimin sempat terpukul mundur dan aku pun ikut mundur bersama mereka.

Tiba-tiba ada ‘Umar bin Al-Khaththab di tengah-tengah orang banyak, lalu aku bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaan orang-orang?”

‘Umar menjawab, “Sudah ketetapan Allah.”

Kemudian orang-orang kembali berkumpul menuju Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa yang mampu menghadirkan bukti atas musuh yang telah dibunuhnya, maka baginya barang rampasan yang melekat pada musuh tersebut.”

Maka aku berdiri untuk mencari bukti atas musuh yang aku bunuh, namun aku tidak melihat seorang pun yang mau menjadi saksi untukku, sehingga aku duduk kembali. Kemudian terlintas di dalam pikiranku (untuk berbicara), lalu aku menceritakan urusan tersebut kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Maka seorang laki-laki dari orang-orang yang duduk bersama beliau berkata, “Senjata dari musuh yang terbunuh yang ia sebutkan itu ada padaku. Buatlah ia merelakan haknya itu!”

Abu Bakr berkata, “Sekali-kali tidak, beliau tidak akan memberikannya kepada seekor dubuk kecil dari kaum Quraisy dan membiarkan seekor singa di antara singa-singa Allah yang berperang membela Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Abu Qatadah berkata: Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri lalu menyerahkan barang rampasan itu kepadaku, kemudian aku membeli sebidang kebun kurma dari hasil penjualannya. Dan itu adalah harta pertama yang aku kumpulkan di dalam Islam.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4321

٤٣٢١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ أَفۡلَحَ، عَنۡ أَبِي مُحَمَّدٍ مَوۡلَى أَبِي قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ عَامَ حُنَيۡنٍ، فَلَمَّا الۡتَقَيۡنَا كَانَتۡ لِلۡمُسۡلِمِينَ جَوۡلَةٌ، فَرَأَيۡتُ رَجُلًا مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ قَدۡ عَلَا رَجُلًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، فَضَرَبۡتُهُ مِنۡ وَرَائِهِ عَلَى حَبۡلِ عَاتِقِهِ بِالسَّيۡفِ فَقَطَعۡتُ الدِّرۡعَ، وَأَقۡبَلَ عَلَيَّ فَضَمَّنِي ضَمَّةً وَجَدۡتُ مِنۡهَا رِيحَ الۡمَوۡتِ، ثُمَّ أَدۡرَكَهُ الۡمَوۡتُ فَأَرۡسَلَنِي، فَلَحِقۡتُ عُمَرَ فَقُلۡتُ: مَا بَالُ النَّاسِ؟ قَالَ: أَمۡرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. ثُمَّ رَجَعُوا، وَجَلَسَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (مَنۡ قَتَلَ قَتِيلًا لَهُ عَلَيۡهِ بَيِّنَةٌ فَلَهُ سَلَبُهُ). فَقُلۡتُ: مَنۡ يَشۡهَدُ لِي؟ ثُمَّ جَلَسۡتُ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثۡلَهُ، فَقُمۡتُ، فَقُلۡتُ: مَنۡ يَشۡهَدُ لِي؟ ثُمَّ جَلَسۡتُ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثۡلَهُ، فَقُمۡتُ، فَقَالَ: (مَالَكَ يَا أَبَا قَتَادَةَ؟) فَأَخۡبَرۡتُهُ، فَقَالَ رَجُلٌ: صَدَقَ، وَسَلَبُهُ عِنۡدِي، فَأَرۡضِهِ مِنِّي. فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: لَاهَا اللهِ، إِذًا، لَا يَعۡمِدُ إِلَى أَسَدٍ مِنۡ أُسۡدِ اللهِ يُقَاتِلُ عَنِ اللهِ وَرَسُولِهِ ﷺ فَيُعۡطِيَكَ سَلَبَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (صَدَقَ، فَأَعۡطِهِ). فَأَعۡطَانِيهِ، فَابۡتَعۡتُ بِهِ مَخۡرَفًا فِي بَنِي سَلِمَةَ، فَإِنَّهُ لَأَوَّلُ مَالٍ تَأَثَّلۡتُهُ فِي الۡإِسۡلَامِ. [طرفه في: ٢١٠٠].

4321. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari ‘Umar bin Katsir bin Aflah, dari Abu Muhammad bekas budak Abu Qatadah, dari Abu Qatadah. Ia berkata:

Kami keluar bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada tahun Perang Hunain. Ketika kami saling berhadapan (dengan musuh), kaum muslimin sempat terdesak mundur. Lalu aku melihat seorang laki-laki dari kaum musyrikin sedang mengungguli seorang laki-laki dari kaum muslimin. Maka aku memukulnya dari arah belakangnya pada urat leher di bahunya dengan pedang hingga aku memutus baju besinya. Laki-laki musyrik itu pun berbalik menghadapku lalu mendekapku dengan dekapan yang aku merasakan aroma kematian darinya. Kemudian kematian menjemput dirinya sehingga ia melepaskan dekapannya dariku.

Setelah itu aku menjumpai ‘Umar, lalu aku bertanya, “Ada apa dengan orang-orang?”

‘Umar menjawab, “Sudah ketetapan Allah—‘azza wa jalla—.”

Kemudian orang-orang kembali maju menyerang dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—duduk lalu bersabda, “Barang siapa yang membunuh seorang musuh dan ia memiliki bukti atas hal itu, maka baginya barang rampasan yang melekat pada musuh tersebut.”

Maka aku berkata, “Siapa yang mau menjadi saksi untukku?”

Kemudian aku duduk kembali. Abu Qatadah berkata: Kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kembali semisal itu. Maka aku berdiri, lalu aku berkata, “Siapa yang mau menjadi saksi untukku?”

Kemudian aku duduk kembali. Abu Qatadah berkata: Kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kembali semisal itu, maka aku pun berdiri. Lalu beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Abu Qatadah?”

Maka aku mengabarkan (kejadiannya) kepada beliau. Lalu seorang laki-laki berkata, “Benar apa yang dikatakannya dan barang rampasan musuh itu ada padaku. Buatlah ia rela kepadaku atas haknya itu!”

Abu Bakr berkata, “Tidak, demi Allah, bagaimana mungkin Rasulullah akan mengambil barang rampasan milik seekor singa di antara singa-singa Allah, yang berperang membela Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu memberikannya kepadamu?!”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Benar apa yang dikatakannya. Berikanlah barang rampasan itu kepadanya!”

Lalu ia memberikannya kepadaku, kemudian aku membeli sebidang kebun kurma di kebun milik Bani Salimah dengan uang hasil penjualannya. Dan sesungguhnya itu adalah harta pertama yang aku kumpulkan di dalam Islam.