Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2583 dan 2584

١٠ - بَابُ مَنۡ رَأَى الۡهِبَةَ الۡغَائِبَةَ جَائِزَةً
10. Bab Barang Siapa Berpendapat Bahwa Hibah atas Barang yang Belum Ada di Tangan Adalah Boleh


٢٥٨٣، ٢٥٨٤ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي عُقَيۡلٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: ذَكَرَ عُرۡوَةُ: أَنَّ الۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا وَمَرۡوَانَ أَخۡبَرَاهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ حِينَ جَاءَهُ وَفۡدُ هَوَازِنَ، قَامَ فِي النَّاسِ، فَأَثۡنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ، ثُمَّ قَالَ: (أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّ إِخۡوَانَكُمۡ جَاؤُونَا تَائِبِينَ، وَإِنِّي رَأَيۡتُ أَنۡ أَرُدَّ إِلَيۡهِمۡ سَبۡيَهُمۡ، فَمَنۡ أَحَبَّ مِنۡكُمۡ أَنۡ يُطَيِّبَ ذٰلِكَ فَلۡيَفۡعَلۡ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَكُونَ عَلَى حَظِّهِ حَتَّى نُعۡطِيَهُ إِيَّاهُ مِنۡ أَوَّلِ مَا يُفِيءُ اللهُ عَلَيۡنَا). فَقَالَ النَّاسُ: طَيَّبۡنَا لَكَ‏. [طرفاه في: ٢٣٠٧، ٢٣٠٨].

2583, 2584. Sa’id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Uqail menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Urwah menyebutkan: Al-Miswar bin Makhramah—radhiyallahu ‘anhuma—dan Marwan mengabarkan kepadanya:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika utusan suku Hawazin datang kepada beliau, beliau berdiri di hadapan orang banyak lalu memuji Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, kemudian beliau bersabda, “Amabakdu, sesungguhnya saudara-saudara kalian telah datang kepada kita dalam keadaan bertobat, dan sesungguhnya aku berpendapat untuk mengembalikan tawanan perang mereka kepada mereka. Barang siapa di antara kalian yang suka untuk merelakannya, hendaklah ia melakukannya. Dan barang siapa yang ingin tetap memegang bagiannya hingga kita memberikannya kelak dari awal harta fai yang Allah berikan kepada kita, (silakan ia memegang bagiannya).”

Orang-orang berkata, “Kami merelakannya untukmu.”

Al-Isti'ab - 850. Zaid bin Khalid Al-Juhani

٨٥٠ - [زَيۡدُ بۡنُ خَالِدٍ الۡجُهَنِيُّ]:
850. Zaid bin Khalid Al-Juhani


زَيۡدُ بۡنُ خَالِدٍ الۡجُهَنِيُّ، اخۡتُلِفَ فِيۡ كُنۡيَتِهِ وَفِي وَقۡتِ وَفَاتِهِ وَسِنِّهِ اخۡتِلَافًا كَثِيرًا؛ فَقِيلَ: يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ. وَقِيلَ: أَبَا طَلۡحَةَ. وَقِيۡلَ: أَبَا زُرۡعَةَ، كَانَ صَاحِبَ لِوَاءِ جُهَيۡنَةَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ. تُوُفِّيَ بِالۡمَدِينَةِ سَنَةَ ثَمَانٍ وَسِتِّينَ وَهُوَ ابۡنُ خَمۡسٍ وَثَمَانِينَ. وَقِيلَ: بَلۡ مَاتَ بِمِصۡرَ سَنَةَ خَمۡسِينَ. وَهُوَ ابۡنُ ثَمَانٍ وَسَبۡعِينَ سَنَةً، وَقِيلَ: تُوُفِّيَ [بِالۡكُوفَةِ] فِي آخِرِ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ، وَقِيلَ: إِنَّ زَيۡدَ بۡنَ خَالِدٍ تُوُفِّيَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَسَبۡعِينَ، وَهُوَ ابۡنُ خَمۡسٍ وَثَمَانِينَ سَنَةً [وَقِيلَ: سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ، وَهُوَ ابۡنُ ثَمَانِينَ سَنَةً]. رَوَى عَنۡهُ ابۡنَاهُ خَالِدٌ وَأَبُو حَرۡبٍ، وَرَوَى عَنۡهُ أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، وَبِشۡرُ بۡنُ سَعِيدٍ.

Zaid bin Khalid Al-Juhani. Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai nama kunyah-nya, waktu wafatnya, serta usianya. Ada yang berkata: Ia diberi nama kunyah Abu ‘Abdurrahman. Ada yang berkata: Abu Thalhah. Dan ada yang berkata: Abu Zur’ah.

Ia adalah pemegang panji kaum Juhainah pada hari Pembebasan Makkah. Ia wafat di Madinah pada tahun 68 H dalam usia 85 tahun. Ada yang berkata: Justru ia meninggal di Mesir pada tahun 50 H dalam usia 78 tahun. Ada pula yang berkata: Ia wafat di Kufah pada akhir kekhalifahan Mu’awiyah. Ada yang berkata: Sesungguhnya Zaid bin Khalid wafat pada tahun 78 H dalam usia 85 tahun. Ada pula yang berkata: Pada tahun 72 H dalam usia 80 tahun.

Khalid dan Abu Harb, dua putranya, meriwayatkan darinya. Abu Salamah bin ‘Abdirrahman dan Bisyr bin Sa’id juga meriwayatkan darinya.

Al-Isti'ab - 1841. 'Uqbah bin Al-Harits

١٨٤١ - [عُقۡبَةُ بۡنُ الۡحَارِثِ النَّوۡفَلِيُّ]:
1841. ‘Uqbah bin Al-Harits An-Naufali


عُقۡبَةُ بۡنُ الۡحَارِثِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ نَوۡفَلِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافِ بۡنِ قُصَيٍّ الۡقُرَشِيُّ النَّوۡفَلِيُّ، يُكۡنَى أَبَا سَرۡوَعَةَ فِيۡمَا قَالَ مُصۡعَبٌ. قَالَ الزُّبَيۡرُ: وَهُوَ قَوۡلُ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ. وَأَمَّا أَهۡلُ النَّسَبِ فَإِنَّهُمۡ يَقُولُونَ: إِنَّ عُقۡبَةَ هٰذَا هُوَ أَخُو أَبِي سَرۡوَعَةَ، وَإِنَّمَا أَسۡلَمَا جَمِيعًا يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، وَعُقۡبَةُ هٰذَا حِجَازِيٌّ مَكِّيٌّ. قَالَ الزُّبَيۡرُ: هُوَ الَّذِي قَتَلَ خُبَيۡبَ بۡنَ عَدِيٍّ، لَهُ حَدِيۡثٌ وَاحِدٌ مَا أَحۡفَظُ لَهُ غَيۡرَهُ فِيۡ شَهَادَةِ امۡرَأَةٍ عَلَى الرَّضَاعِ. رَوَاهُ عَنۡهُ عُبَيۡدُ بۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ وَابۡنُ أَبِي مُلَيۡكَةَ، وَقِيلَ: إِنَّ ابۡنَ أَبِي مُلَيۡكَةَ لَمۡ يَسۡمَعۡ مِنۡهُ، وَإِنَّ بَيۡنَهُمَا عُبَيۡدَ بۡنَ أَبِي مَرۡيَمَ. وَقَالَ بَعۡضُ أَهۡلِ النَّسَبِ: أَبُو سَرۡوَعَةَ وَعُقۡبَةُ بۡنُ الۡحَارِثِ أَخَوَانِ.

‘Uqbah bin Al-Harits bin ‘Amir bin Naufal bin ‘Abd Manaf bin Qushay Al-Qurasyi An-Naufali. Ia diberi nama kunyah Abu Sarwa’ah menurut apa yang dikatakan Mush’ab. Az-Zubair berkata: Dan itu adalah pendapat ahli hadis. Adapun ahli nasab, mereka mengatakan bahwasanya ‘Uqbah ini adalah saudara dari Abu Sarwa’ah, dan keduanya masuk Islam bersamaan pada hari Penaklukan Makkah. ‘Uqbah ini adalah orang Hijaz yang berbangsa Makkah. Az-Zubair berkata: Dialah yang membunuh Khubaib bin ‘Adi. Ia memiliki satu hadis, tidak ada yang aku hafal darinya selain hadis tersebut mengenai kesaksian seorang wanita atas penyusuan.

‘Ubaid bin Abu Maryam dan Ibnu Abu Mulaikah meriwayatkan darinya. Ada yang mengatakan bahwasanya Ibnu Abu Mulaikah tidak mendengar langsung darinya, melainkan di antara keduanya ada ‘Ubaid bin Abu Maryam. Sebagian ahli nasab berkata: Abu Sarwa’ah dan ‘Uqbah bin Al-Harits adalah dua orang bersaudara.

وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ أَبِيۡ إِسۡحَاقَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي حُسَيۡنٍ الۡمَكِّيُّ، عَنۡ عُقۡبَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ أَبِي سَرۡوَعَةَ. وَقِيلَ: بَلۡ كَانَ أَخَاهُ لِأُمِّهِ، وَهُوَ أَثۡبَتُ عِنۡدَ مُصۡعَبٍ، وَأَصَحُّ مِنۡ هٰذَا كُلِّهِ مَا رَوَاهُ سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيَّ يَقُوۡلُ: الَّذِيۡ قَتَلَ خُبَيۡبًا أَبُوۡ سَرۡوَعَةَ عُقۡبَةُ بۡنُ الۡحَارِثِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ نَوۡفَلٍ.

‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami: Qasim menceritakan kepada kami: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq. Ia berkata: ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Husain Al-Makki menceritakan kepada kami dari ‘Uqbah bin Al-Harits Abu Sarwa'ah.

Ada yang berkata: Justru ia adalah saudaranya seibu, dan pendapat ini lebih kuat menurut Mush’ab. Namun yang paling sahih dari seluruh pendapat ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, bahwasanya ia mendengar Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari berkata: Yang membunuh Khubaib adalah Abu Sarwa’ah ‘Uqbah bin Al-Harits bin ‘Amir bin Naufal.

Al-Isti'ab - 95. Unais bin Adh-Dhahhak

٩٥ - [أُنَيۡسُ بۡنُ الضَّحَّاكِ الۡأَسۡلَمِيُّ]:
95. Unais bin Adh-Dhahhak Al-Aslami


أُنَيۡسُ بۡنُ الضَّحَّاكِ الۡأَسۡلَمِيُّ، رَوَى عَنۡهُ عَمۡرُو بۡنُ سُلَيۡمٍ، وَيُقَالُ: عَمۡرُوبۡنُ مُسۡلِمٍ. رَوَى عَنۡهُ أَيۡضًا حَدِيۡثَهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيۡ ذَرٍّ: (الۡبَسِ الۡخَشِنَ الضَّيِّقَ). يُعَدُّ فِي الشَّامِيِّيۡنَ. وَمَخۡرَجُ حَدِيۡثِهِ عَنۡهُمۡ. وَقَدۡ قِيۡلَ: إِنَّهُ الَّذِيۡ قِيۡلَ فِيۡهِ: (وَاغۡدُ يَا أُنَيۡسُ)، وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Unais bin Adh-Dhahhak Al-Aslami. ‘Amr bin Sulaim meriwayatkan darinya. Ada yang mengatakan: ‘Amr bin Muslim.

‘Amr juga meriwayatkan darinya hadisnya dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, bahwasanya beliau bersabda kepada Abu Dzarr, “Pakailah pakaian yang kasar dan sempit.”

Ia dikategorikan penduduk Syam. Muara riwayat hadisnya berasal dari mereka.

Sungguh ada yang berkata bahwasanya dialah orang yang dikatakan kepadanya, “Dan pergilah besok pagi, wahai Unais.” Wallahualam.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2539 dan 2540

١٣ - بَابُ مَنۡ مَلَكَ مِنَ الۡعَرَبِ رَقِيقًا، فَوَهَبَ وَبَاعَ وَجَامَعَ وَفَدَى وَسَبَى الذُّرِّيَّةَ
13. Bab Orang dari Bangsa Arab yang Memiliki Budak Lalu Menghibahkannya, Menjualnya, Menggaulinya, Menerima Tebusannya, dan Menawan Keturunannya


وَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا عَبۡدًا مَمۡلُوكًا لَا يَقۡدِرُ عَلَى شَيۡءٍ وَمَنۡ رَزَقۡنَاهُ مِنَّا رِزۡقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنۡفِقُ مِنۡهُ سِرًّا وَجَهۡرًا هَلۡ يَسۡتَوُونَ الۡحَمۡدُ لِلهِ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ﴾ [النحل: ٧٥].

Dan firman-Nya taala: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Apakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (QS An-Nahl: 75).

٢٥٣٩، ٢٥٤٠ - حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ قَالَ: أَخۡبَرَنِي اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: ذَكَرَ عُرۡوَةُ: أَنَّ مَرۡوَانَ وَالۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ أَخۡبَرَاهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَامَ حِينَ جَاءَهُ وَفۡدُ هَوَازِنَ، فَسَأَلُوهُ أَنۡ يَرُدَّ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَالَهُمۡ وَسَبۡيَهُمۡ، فَقَالَ: (إِنَّ مَعِي مَنۡ تَرَوۡنَ، وَأَحَبُّ الۡحَدِيثِ إِلَيَّ أَصۡدَقُهُ، فَاخۡتَارُوا إِحۡدَى الطَّائِفَتَيۡنِ: إِمَّا الۡمَالَ وَإِمَّا السَّبۡيَ، وَقَدۡ كُنۡتُ اسۡتَأۡنَيۡتُ بِهِمۡ). وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ انۡتَظَرَهُمۡ بِضۡعَ عَشۡرَةَ لَيۡلَةً حِينَ قَفَلَ مِنَ الطَّائِفِ، فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ غَيۡرُ رَادٍّ إِلَيۡهِمۡ إِلَّا إِحۡدَى الطَّائِفَتَيۡنِ، قَالُوا: فَإِنَّا نَخۡتَارُ سَبۡيَنَا، فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ فِي النَّاسِ، فَأَثۡنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ، ثُمَّ قَالَ: (أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّ إِخۡوَانَكُمۡ جَاؤُونَا تَائِبِينَ، وَإِنِّي رَأَيۡتُ أَنۡ أَرُدَّ إِلَيۡهِمۡ سَبۡيَهُمۡ، فَمَنۡ أَحَبَّ مِنۡكُمۡ أَنۡ يُطَيِّبَ ذٰلِكَ فَلۡيَفۡعَلۡ، وَمَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَكُونَ عَلَى حَظِّهِ حَتَّى نُعۡطِيَهُ إِيَّاهُ مِنۡ أَوَّلِ مَا يُفِيءُ اللهُ عَلَيۡنَا فَلۡيَفۡعَلۡ). فَقَالَ النَّاسُ: طَيَّبۡنَا ذٰلِكَ، قَالَ: (إِنَّا لَا نَدۡرِي مَنۡ أَذِنَ مِنۡكُمۡ مِمَّنۡ لَمۡ يَأۡذَنۡ، فَارۡجِعُوا حَتَّى يَرۡفَعَ إِلَيۡنَا عُرَفَاؤُكُمۡ أَمۡرَكُمۡ). فَرَجَعَ النَّاسُ، فَكَلَّمَهُمۡ عُرَفَاؤُهُمۡ، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَخۡبَرُوهُ: أَنَّهُمۡ طَيَّبُوا وَأَذِنُوا. فَهٰذَا الَّذِي بَلَغَنَا عَنۡ سَبۡيِ هَوَازِنَ‏. وَقَالَ أَنَسٌ: قَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: فَادَيۡتُ نَفۡسِي وَفَادَيۡتُ عَقِيلًا. [طرفاه في: ٢٣٠٧، ٢٣٠٨].

2539, 2540. Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepadaku dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab: ‘Urwah menyebutkan bahwasanya Marwan dan Al-Miswar bin Makhramah mengabarkan kepadanya:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri ketika utusan Hawazin mendatangi beliau, lalu mereka meminta kepada beliau agar mengembalikan harta-harta dan tawanan-tawanan mereka. Beliau berkata, “Sesungguhnya bersamaku ada orang-orang yang kalian lihat, dan perkataan yang paling aku sukai adalah yang paling jujur. Pilihlah salah satu dari dua kelompok: apakah harta, ataukah tawanan. Aku telah menunda pembagiannya demi menunggu kalian.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memang telah menanti kedatangan mereka selama belasan malam ketika beliau kembali dari Tha`if. Ketika makin jelas bagi mereka bahwasanya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak akan mengembalikan kepada mereka kecuali salah satu dari dua kelompok tersebut, mereka berkata, “Sesungguhnya kami memilih tawanan kami.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan orang-orang, lalu memuji Allah dengan pujian yang menjadi hak-Nya, kemudian beliau bersabda, “Amabakdu. Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah datang kepada kita dalam keadaan bertobat, dan aku berpendapat untuk mengembalikan tawanan-tawanan mereka kepada mereka. Barang siapa di antara kalian yang dengan senang hati menyetujuinya, hendaklah ia melakukannya. Barang siapa yang ingin tetap mempertahankan bagiannya sampai kami memberikannya dari jatah pertama yang Allah kelak berikan kepada kita sebagai fai, hendaklah ia melakukannya.”

Orang-orang pun berkata, “Kami telah merelakannya.”

Beliau berkata, “Sesungguhnya kami tidak mengetahui siapa di antara kalian yang telah mengizinkan dari siapa yang belum mengizinkan. Kembalilah kalian sampai para pemuka kelompok kalian menyampaikan urusan kalian kepada kami.”

Orang-orang pun kembali, lalu para pemuka kelompok mereka berbicara dengan mereka. Kemudian mereka kembali kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu mengabarkan kepada beliau bahwasanya mereka telah merelakan dan mengizinkannya.

Inilah riwayat yang sampai kepada kami mengenai tawanan Hawazin. Dan Anas berkata: ‘Abbas berkata kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku telah menebus diriku dan menebus ‘Aqil.”