Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 646. Khabbab bin Al-Aratt

٦٤٦ - [خَبَّابُ بۡنُ الۡأَرَتِّ]:
646. Khabbab bin Al-Aratt


خَبَّابُ بۡنُ الۡأَرَتِّ، اخۡتُلِفَ فِي نَسَبِهِ، فَقِيلَ: هُوَ خُزَاعِيٌّ، وَقِيلَ: هُوَ تَمِيمِيٌّ، وَلَمۡ يُخۡتَلَفۡ أَنَّهُ حَلِيفٌ لِبَنِي زُهۡرَةَ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ تَمِيمِيُّ النَّسَبِ، لَحِقَهُ سِبَاءٌ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَاشۡتَرَتۡهُ امۡرَأَةٌ مِنۡ خُزَاعَةَ وَأَعۡتَقَتۡهُ، وَكَانَتۡ مِنۡ حُلَفَاءِ بَنِي عَوۡفِ بۡنِ عَبۡدِ عَوۡفِ بۡنِ عَبۡدِ الۡحَارِثِ بۡنِ زُهۡرَةَ، فَهُوَ تَمِيمِيٌّ بِالنَّسَبِ، خُزَاعِيٌّ بِالۡوَلَاءِ، زُهۡرِيٌّ بِالۡحِلۡفِ، وَهُوَ خَبَّابُ بۡنُ الۡأَرَتِّ بۡنِ جَنۡدَلَةَ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ خُزَيۡمَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ زَيۡدِ مَنَاةَ بۡنِ تَمِيمٍ، كَانَ قَيۡنًا يَعۡمَلُ السُّيُوفَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَأَصَابَهُ سِبَاءٌ فَبِيعَ بِمَكَّةَ، فَاشۡتَرَتۡهُ أُمُّ أَنۡمَارٍ بِنۡتُ سِبَاعٍ الۡخُزَاعِيَّةُ. وَأَبُوهَا سِبَاعٌ حَلِيفُ بَنِي عَوۡفِ بۡنِ عَبۡدِ عَوۡفٍ كَمَا ذَكَرۡنَا.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai nasabnya. Ada yang mengatakan ia berasal dari suku Khuza’ah dan ada pula yang menyebutkan ia dari Bani Tamim. Namun, tidak ada perselisihan bahwa ia adalah sekutu bagi Bani Zuhrah. Pendapat yang benar adalah ia bernasab Tamim, ia tertawan pada masa jahiliah, lalu dibeli oleh seorang wanita dari Khuza’ah yang kemudian memerdekakannya. Wanita tersebut adalah sekutu dari Bani ‘Auf bin ‘Abd ‘Auf bin ‘Abd Al-Harits bin Zuhrah. Dengan demikian, ia adalah orang Tamim secara nasab, orang Khuza’ah secara loyalitas (wala`), dan orang Zuhri secara aliansi (hilf). Ia adalah Khabbab bin Al-Aratt bin Jandalah bin Sa’d bin Khuzaimah bin Ka’b bin Sa’d bin Zaid Manah bin Tamim. Ia dahulu adalah seorang pandai logam yang membuat pedang pada masa jahiliah, lalu ia tertawan dan dijual di Makkah, kemudian dibeli oleh Ummu Anmar binti Siba’ Al-Khuza’iyyah, dan ayahnya, Siba’, adalah sekutu Bani ‘Auf bin ‘Abd ‘Auf sebagaimana telah kami sebutkan.

وَقَدۡ قِيلَ: هُوَ مَوۡلَى ثَابِتِ بۡنِ أُمِّ أَنۡمَارٍ. وَقَدۡ قِيلَ: بَلۡ أُمُّ خَبَّابٍ هِيَ أُمُّ سِبَاعٍ الۡخُزَاعِيَّةُ، وَلَمۡ يَلۡحَقۡهُ سِبَاءٌ، وَلَكِنَّهُ انۡتَمَى إِلَى حُلَفَاءِ أُمِّهِ مِنۡ بَنِي زُهۡرَةَ.

Ada yang berpendapat bahwa ia adalah mantan budak (maula) Tsabit bin Ummu Anmar. Ada pula yang berpendapat bahwa ibu dari Khabbab adalah Ummu Siba’ Al-Khuza’iyyah, dan ia tidak pernah tertawan, melainkan ia menisbahkan diri kepada para sekutu ibunya dari Bani Zuhrah.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: كَانَ فَاضِلًا مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ، شَهِدَ بَدۡرًا وَمَا بَعۡدَهَا مِنَ الۡمَشَاهِدِ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ اللهِ. وَقِيلَ: يُكۡنَى أَبَا يَحۡيَى. وَقِيلَ: يُكۡنَى أَبَا مُحَمَّدٍ، كَانَ قَدِيمَ الۡإِسۡلَامِ مِمَّنۡ عُذِّبَ فِي اللهِ وَصَبَرَ عَلَى دِينِهِ.

Abu ‘Umar berkata: Ia adalah seorang yang mulia dari kalangan Muhajirin gelombang pertama, ikut serta dalam Perang Badr dan peperangan setelahnya bersama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia memiliki nama kunyah Abu ‘Abdullah. Ada pula yang menyebut kunyah-nya Abu Yahya atau Abu Muhammad. Ia termasuk orang yang awal masuk Islam serta termasuk di antara orang-orang yang disiksa di jalan Allah namun tetap bersabar di atas agamanya.

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَدۡ آخَى بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ تَمِيمٍ مَوۡلَى خِرَاشِ بۡنِ الصَّمَّةِ. وَقِيلَ: بَلۡ آخَى بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ جَبۡرِ بۡنِ عَتِيكٍ، وَالۡأَوَّلُ أَصَحُّ، وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mempersaudarakan antara dirinya dengan Tamim, mantan budak Khirasy bin Ash-Shimmah. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau mempersaudarakan antara dirinya dengan Jabr bin ‘Atik. Pendapat yang pertama adalah yang lebih sahih, wallahualam.

نَزَلَ الۡكُوفَةَ، وَمَاتَ بِهَا سَنَةَ سَبۡعٍ وَثَلَاثِينَ مُنۡصَرَفَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ مِنۡ صِفِّينَ. [وَقِيلَ: بَلۡ مَاتَ سَنَةَ تِسۡعٍ وَثَلَاثِينَ بَعۡدَ أَنۡ شَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ صِفِّينَ] وَالنَّهۡرَوَانَ، وَصَلَّى عَلَيۡهِ عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَكَانَتۡ سِنُّهُ إِذۡ مَاتَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ سَنَةً، رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ. وَقِيلَ: بَلۡ مَاتَ سَنَةَ تِسۡعَ عَشۡرَةَ بِالۡمَدِينَةِ وَصَلَّى عَلَيۡهِ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Ia menetap di Kufah dan wafat di sana pada tahun 37 H sekembalinya ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—dari Shiffin. [Ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat pada tahun 39 H setelah ikut serta bersama ‘Ali dalam Perang Shiffin] dan Nahrawan. ‘Ali bin Abu Thalib—radhiyallahu ‘anhu—menyalatinya dan usianya saat wafat adalah 63 tahun. Semoga Allah meridainya. Ada juga yang berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 19 H di Madinah dan disalati oleh ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، حَدَّثَنَا مُقَاتِلُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الرَّازِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنۡ بَيَانٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، قَالَ: سَأَلَ عُمَرُ خَبَّابًا عَمَّا لَقِيَ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، انۡظُرۡ إِلَى ظَهۡرِي، فَنَظَرَ، فَقَالَ: مَا رَأَيۡتُ كَالۡيَوۡمِ! قَالَ خَبَّابٌ: لَقَدۡ أُوۡقِدَتۡ لِي نَارٌ وَسُحِبۡتُ عَلَيۡهَا فَمَا أَطۡفَأَهَا إِلَّا وَدَكُ ظَهۡرِي.

‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Dawud menceritakan kepada kami: Muqatil bin Muhammad Ar-Razi menceritakan kepada kami. Ia berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Bayan, dari Asy-Sya’bi. Ia berkata:

‘Umar bertanya kepada Khabbab tentang perlakuan yang ia alami dari kaum musyrik. Khabbab menjawab, “Wahai Amirulmukminin, lihatlah punggungku!”

Maka ‘Umar melihatnya, lalu berkata, “Aku tidak pernah melihat (penderitaan) seperti (yang kulihat) hari ini.”

Khabbab berkata, “Sungguh, api telah dinyalakan untukku dan aku diseret di atasnya, hingga tidak ada yang memadamkan api tersebut kecuali lemak punggungku.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2170

٧٤ - بَابُ بَيۡعِ التَّمۡرِ بِالتَّمۡرِ
74. Bab Jual Beli Kurma dengan Kurma


٢١٧٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَوۡسٍ: سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡبُرُّ بِالۡبُرِّ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالتَّمۡرُ بِالتَّمۡرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ). [طرفه في: ٢١٣٤].

2170. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Malik bin Aus: Dia mendengar ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Gandum dengan gandum adalah riba kecuali dilakukan secara tunai, barli dengan barli adalah riba kecuali dilakukan secara tunai, dan kurma dengan kurma adalah riba kecuali dilakukan secara tunai.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2169

٢١٦٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ عَائِشَةَ أُمَّ الۡمُؤۡمِنِينَ: أَرَادَتۡ أَنۡ تَشۡتَرِيَ جَارِيَةً فَتُعۡتِقَهَا، فَقَالَ أَهۡلُهَا: نَبِيعُكِهَا عَلَى أَنَّ وَلَاءَهَا لَنَا، فَذَكَرَتۡ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (لَا يَمۡنَعُكِ ذٰلِكَ، فَإِنَّمَا الۡوَلَاءُ لِمَنۡ أَعۡتَقَ). [طرفه في: ٢١٥٦].

2169. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—:

‘Aisyah ibunda kaum mukminin ingin membeli seorang budak perempuan untuk dimerdekakan, namun pemiliknya berkata, “Kami akan menjualnya kepadamu dengan syarat hak wala` (ikatan kekerabatan hukum yang muncul akibat adanya pembebasan budak) tetap pada kami.”

Maka ‘Aisyah menyebutkan hal itu kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Syarat itu tidak menghalangimu, karena sesungguhnya hak wala` itu bagi orang yang memerdekakan.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2166 dan 2167

٧٢ - بَابُ مُنۡتَهَى التَّلَقِّي
72. Bab Batas Mencegat Rombongan Dagang


٢١٦٦ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنَّا نَتَلَقَّى الرُّكۡبَانَ، فَنَشۡتَرِي مِنۡهُمُ الطَّعَامَ، فَنَهَانَا النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ نَبِيعَهُ حَتَّى يُبۡلَغَ بِهِ سُوقُ الطَّعَامِ. قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: هٰذَا فِي أَعۡلَى السُّوقِ، يُبَيِّنُهُ حَدِيثُ عُبَيۡدِ اللهِ. [طرفه في: ٢١٢٣].

2166. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Juwairiyah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata: Kami pernah mencegat rombongan dagang, lalu kami membeli makanan dari mereka, maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang kami menjualnya hingga ia dibawa sampai ke pasar makanan.

Abu ‘Abdullah berkata: Ini terjadi di bagian atas pasar, hal ini dijelaskan oleh hadis ‘Ubaidullah.

٢١٦٧ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي نَافِعٌ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانُوا يَبۡتَاعُونَ الطَّعَامَ فِي أَعۡلَى السُّوقِ، فَيَبِيعُونَهُ فِي مَكَانِهِمۡ، فَنَهَاهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يَبِيعُوهُ فِي مَكَانِهِ حَتَّى يَنۡقُلُوهُ. [طرفه في: ٢١٢٣].

2167. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah. Dia berkata: Nafi’ menceritakan kepadaku dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata: Mereka dahulu membeli makanan di bagian atas pasar, lalu mereka menjualnya di tempat mereka berada, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang mereka menjualnya di tempat tersebut hingga mereka memindahkannya.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 1845

١٨٤٥ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا بَهۡزُ بۡنُ أَسَدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ عَنۡ جَابِرٍ، أَنَّ أَبَاهُ قُتِلَ يَوۡمَ أُحُدٍ، قَالَ: فَجَعَلۡتُ أَكۡشِفُ عَنۡ وَجۡهِهِ، وَأَبۡكِي، وَالنَّاسُ يَنۡهَوۡنِي، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يَنۡهَانِي، وَجَعَلَتۡ عَمَّتِي تَبۡكِيهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَبۡكِيهِ! مَا زَالَتِ الۡمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجۡنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعۡتُمُوهُ). [ق].

1845. [Sahih] ‘Amr bin Yazid telah mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Bahz bin Asad menceritakan kepada kami. Dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir: Ayahnya gugur pada hari Perang Uhud. Jabir berkata: Aku pun mulai menyingkap kain dari wajahnya sambil menangis, sedangkan orang-orang melarangku, sementara Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak melarangku. Bibiku juga mulai menangisinya, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah engkau menangisinya! Para malaikat senantiasa menaunginya dengan sayap-sayap mereka sampai kalian mengangkatnya.”