Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5509

 ٢٣ - بَابُ مَا نَدَّ مِنَ الۡبَهَائِمِ فَهُوَ بِمَنۡزِلَةِ الۡوَحۡشِ
23. Bab Hewan Ternak yang Kabur, Hukumnya seperti Hewan Buruan

وَأَجَازَهُ ابۡنُ مَسۡعُودٍ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: مَا أَعۡجَزَكَ مِنَ الۡبَهَائِمِ مِمَّا فِي يَدَيۡكَ فَهُوَ كَالصَّيۡدِ وَفِي بَعِيرٍ تَرَدَّى فِي بِئۡرٍ: مِنۡ حَيۡثُ قَدَرۡتَ عَلَيۡهِ فَذَكِّهِ. وَرَأَى ذٰلِكَ عَلِيٌّ وَابۡنُ عُمَرَ وَعَائِشَةُ.

Ibnu Mas’ud membolehkannya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Hewan ternak di dalam genggamanmu yang membuatmu kewalahan, maka statusnya seperti hewan buruan.” Mengenai unta yang terperosok ke dalam sumur, “Sembelihlah di bagian mana pun yang engkau mampu menguasainya.” ‘Ali, Ibnu ‘Umar, dan ‘Aisyah juga berpendapat demikian.

٥٥٠٩ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ بۡنِ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ، عَنۡ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لَاقُو الۡعَدُوِّ غَدًا، وَلَيۡسَتۡ مَعَنَا مُدًى، فَقَالَ: (اعۡجَلۡ، أَوۡ أَرِنۡ، مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ فَكُلۡ، لَيۡسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُحَدِّثُكَ: أَمَّا السِّنُّ فَعَظۡمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ). وَأَصَبۡنَا نَهۡبَ إِبِلٍ وَغَنَمٍ، فَنَدَّ مِنۡهَا بَعِيرٌ فَرَمَاهُ رَجُلٌ بِسَهۡمٍ فَحَبَسَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡإِبِلِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَإِذَا غَلَبَكُمۡ مِنۡهَا شَيۡءٌ فَافۡعَلُوا بِهِ هَكَذَا). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5509. ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’ bin Khadij, dari Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami akan menghadapi musuh besok, dan kami tidak membawa pisau.”

Beliau bersabda, “Segeralah—atau perhatikanlah—apa saja yang mengalirkan darah dan nama Allah disebut, maka makanlah. Asal bukan gigi dan kuku. Aku akan menceritakannya kepadamu: adapun gigi adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang-orang Habasyah.”

Kami mendapati rampasan berupa unta dan kambing, lalu seekor unta kabur darinya. Seseorang lalu melemparnya dengan anak panah sehingga menghentikannya. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Sesungguhnya unta-unta ini memiliki tabiat liar seperti binatang liar. Jika ada sesuatu darinya yang tidak bisa kalian kuasai, maka perlakukanlah ia seperti ini.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5506

 ٢٠ - بَابٌ لَا يُذَكَّى بِالسِّنِّ وَالۡعَظۡمِ وَالظُّفُرِ
20. Bab Hewan Tidak Boleh Disembelih dengan Gigi, Tulang, dan Kuku

٥٥٠٦ - حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ، عَنۡ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كُلۡ - يَعۡنِي - مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ، إِلَّا السِّنَّ وَالظُّفُرَ). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5506. Qabishah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Abayah bin Rifa’ah, dari Rafi’ bin Khadij. Ia berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Makanlah—yakni—(hewan yang kausembelih dengan alat) apa saja yang bisa mengalirkan darah, kecuali gigi dan kuku.”


Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5503

 ٥٥٠٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ جَدِّهِ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ لَيۡسَ لَنَا مُدًى، فَقَالَ: (مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ فَكُلۡ، لَيۡسَ الظُّفُرَ وَالسِّنَّ، أَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ، وَأَمَّا السِّنُّ فَعَظۡمٌ). وَنَدَّ بَعِيرٌ فَحَبَسَهُ، فَقَالَ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡإِبِلِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَمَا غَلَبَكُمۡ مِنۡهَا فَاصۡنَعُوا هَكَذَا). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5503. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Syu’bah, dari Sa’id bin Masruq, dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’, dari kakeknya:

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki pisau.”

Beliau bersabda, “Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan nama Allah disebut, makanlah. Asal bukan kuku dan gigi. Adapun kuku adalah pisau orang-orang Habasyah, sedangkan gigi adalah tulang.”

Seekor unta kabur, lalu seseorang menghentikannya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya unta-unta ini memiliki tabiat liar seperti binatang liar. Hewan apa saja dari mereka yang membuat kalian kewalahan, perlakukanlah ia seperti ini.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5498

 ١٥ - بَابُ التَّسۡمِيَةِ عَلَى الذَّبِيحَةِ، وَمَنۡ تَرَكَ مُتَعَمِّدًا
15. Bab Membaca Basmalah atas Hewan Sembelihan dan Barangsiapa yang Meninggalkannya dengan Sengaja

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: مَنۡ نَسِيَ فَلَا بَأۡسَ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Barangsiapa yang lupa, maka tidak mengapa.”

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَأۡكُلُوا مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُ لَفِسۡقٌ﴾ [الأنعام: ١٢١] وَالنَّاسِي لَا يُسَمَّى فَاسِقًا. وَقَوۡلُهُ: ﴿وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوۡلِيَائِهِمۡ لِيُجَادِلُوكُمۡ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ﴾ [الأنعام: ١٢١].

Allah taala berfirman, “Dan janganlah kalian memakan hewan-hewan yang tidak disebut nama Allah ketika disembelih, karena itu benar-benar suatu kefasikan.” (QS Al-An’am: 121).

Orang yang lupa tidak dinamakan orang fasik. Dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar membisikkan kepada kawan-kawan mereka agar mereka membantah kalian; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar orang musyrik.” (QS Al-An’am: 121).

٥٤٩٨ - حَدَّثَنِي مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ جَدِّهِ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ بِذِي الۡحُلَيۡفَةِ، فَأَصَابَ النَّاسَ جُوعٌ، فَأَصَبۡنَا إِبِلًا وَغَنَمًا، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِي أُخۡرَيَاتِ النَّاسِ، فَعَجِلُوا فَنَصَبُوا الۡقُدُورَ، فَدُفِعَ إِلَيۡهِمُ النَّبِيُّ ﷺ فَأَمَرَ بِالۡقُدُورِ فَأُكۡفِئَتۡ، ثُمَّ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشَرَةً مِنَ الۡغَنَمِ بِبَعِيرٍ، فَنَدَّ مِنۡهَا بَعِيرٌ، وَكَانَ فِي الۡقَوۡمِ خَيۡلٌ يَسِيرَةٌ، فَطَلَبُوهُ فَأَعۡيَاهُمۡ، فَأَهۡوَى إِلَيۡهِ رَجُلٌ بِسَهۡمٍ فَحَبَسَهُ اللهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡبَهَائِمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَمَا نَدَّ عَلَيۡكُمۡ فَاصۡنَعُوا بِهِ هَكَذَا). قَالَ: وَقَالَ جَدِّي: إِنَّا لَنَرۡجُو، أَوۡ نَخَافُ، أَنۡ نَلۡقَى الۡعَدُوَّ غَدًا، وَلَيۡسَ مَعَنَا مُدًى، أَفَنَذۡبَحُ بِالۡقَصَبِ؟ فَقَالَ: (مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ فَكُلۡ، لَيۡسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُخۡبِرُكُمۡ عَنۡهُ: أَمَّا السِّنُّ عَظۡمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5498. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepadaku: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Masruq, dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’, dari kakeknya Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:

Kami pernah bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di Dzu Al-Hulaifah, lalu orang-orang ditimpa kelaparan. Kami mendapatkan unta dan kambing. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada di barisan orang-orang yang paling belakang. Orang-orang terburu-buru menegakkan kuali-kuali. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi mereka lalu memerintahkan agar kuali-kuali tersebut ditumpahkan. Kemudian beliau membagi. Beliau menyetarakan sepuluh ekor kambing dengan seekor unta. Tiba-tiba seekor unta kabur. Di tengah kaum saat itu hanya ada sedikit kuda, maka mereka mengejarnya namun unta itu membuat mereka kewalahan. Seseorang lalu membidiknya dengan sebuah anak panah, lalu Allah menahannya.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya hewan-hewan ternak ini ada yang memiliki tabiat liar seperti binatang liar. Hewan apa saja yang kabur dari kalian, perlakukanlah ia seperti ini.”

‘Abayah berkata: Kakekku berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar berharap—atau kami takut—akan menemui musuh esok hari, dan kami tidak membawa pisau. Bolehkah kami menyembelih dengan bilah bambu?”

Beliau bersabda, “Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan nama Allah disebut atasnya, maka makanlah. Namun, bukan dengan gigi dan kuku. Aku akan kabarkan kepada kalian tentang hal itu: adapun gigi adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang-orang Habasyah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5493 dan 5494

١٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ الۡبَحۡرِ﴾ [المائدة: ٩٦]
12. Bab Firman Allah Taala: “Binatang buruan laut dihalalkan untuk kalian” (QS Al-Maidah: 96)


وَقَالَ عُمَرُ: صَيۡدُهُ مَا اصۡطِيدَ، ﴿وَطَعَامُهُ﴾ [المائدة: ٩٦] مَا رَمَى بِهِ. وَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: الطَّافِي حَلَالٌ.

‘Umar berkata, “Binatang buruan laut adalah apa yang ditangkap, dan makanannya adalah apa yang dihempaskan olehnya.” Abu Bakr berkata, “Binatang air yang mati lalu mengapung di atas permukaan air halal.”

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: طَعَامُهُ مَيۡتَتُهُ، إِلَّا مَا قَذِرۡتَ مِنۡهَا، وَالۡجِرِّيُّ لَا تَأۡكُلُهُ الۡيَهُودُ، وَنَحۡنُ نَأۡكُلُهُ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanan dari laut adalah bangkainya, kecuali yang kamu jijik darinya. Dan al-jirri (belut/lele), orang-orang Yahudi tidak memakannya, sedangkan kita memakannya.”

وَقَالَ شُرَيۡحٌ، صَاحِبُ النَّبِيِّ ﷺ: كُلُّ شَيۡءٍ فِي الۡبَحۡرِ مَذۡبُوحٌ.

Syuraih—sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— berkata, “Segala sesuatu yang ada di laut adalah telah disembelih.”

وَقَالَ عَطَاءٌ: أَمَّا الطَّيۡرُ فَأَرَى أَنۡ يَذۡبَحَهُ.

‘Atha` berkata, “Adapun burung, maka menurutku hendaknya ia disembelih.”

وَقَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: قُلۡتُ لِعَطَاءٍ: صَيۡدُ الۡأَنۡهَارِ وَقِلَاتِ السَّيۡلِ، أَصَيۡدُ بَحۡرٍ هُوَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، ثُمَّ تَلَا: ﴿هٰذَا عَذۡبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهٰذَا مِلۡحٌ أُجَاجٌ وَمِنۡ كُلٍّ تَأۡكُلُونَ لَحۡمًا طَرِيًّا﴾ [فاطر: ١٢] وَرَكِبَ الۡحَسَنُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ عَلَى سَرۡجٍ مِنۡ جُلُودِ كِلَابِ الۡمَاءِ.

Ibnu Juraij berkata: Aku bertanya kepada ‘Atha`, “Binatang buruan sungai dan genangan air banjir, apakah itu termasuk buruan laut?”

Ia menjawab, “Ya.” Kemudian ia membaca, “Yang ini tawar, segar, lagi sedap diminum dan yang ini asin lagi pahit. Dan dari masing-masing kalian dapat memakan daging yang segar” (QS Fatir: 12).

Al-Hasan—‘alaihis-salam—menunggangi pelana dari kulit kilabul-ma` (anjing air/berang-berang).

وَقَالَ الشَّعۡبِيُّ: لَوۡ أَنَّ أَهۡلِي أَكَلُوا الضَّفَادِعَ لَأَطۡعَمۡتُهُمۡ. وَلَمۡ يَرَ الۡحَسَنُ بِالسُّلَحۡفَاةِ بَأۡسًا.

Asy-Sya’bi berkata, “Seandainya keluargaku memakan katak, niscaya aku akan memberi mereka makan.”

Al-Hasan tidak memandang ada masalah pada kura-kura.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: كُلۡ مِنۡ صَيۡدِ الۡبَحۡرِ نَصۡرَانِيٌّ أَوۡ يَهُودِيٌّ أَوۡ مَجُوسِيٌّ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanlah dari buruan laut apa saja yang ditangkap oleh seorang Nasrani, Yahudi, atau Majusi.”

وَقَالَ أَبُو الدَّرۡدَاءِ فِي الۡمُرِي: ذَبَحَ الۡخَمۡرَ النِّينَانُ وَالشَّمۡسُ.

Abu Ad-Darda` berkata tentang al-muri (sejenis saus ikan), “Ikan dan matahari telah ‘menyembelih’ khamar itu.”

٥٤٩٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: غَزَوۡنَا جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ، فَجُعۡنَا جُوعًا شَدِيدًا، فَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمۡ يُرَ مِثۡلُهُ، يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا مِنۡهُ نِصۡفَ شَهۡرٍ، فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ عَظۡمًا مِنۡ عِظَامِهِ، فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5493. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij. Ia berkata: ‘Amr mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Kami ikut berperang dalam Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun) dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk sebagai pemimpin. Kami mengalami kelaparan yang amat sangat, lalu laut melemparkan seekor ikan mati yang belum pernah terlihat semisalnya, yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakan darinya selama setengah bulan. Abu ‘Ubaidah mengambil salah satu tulangnya, lalu seorang penunggang unta bisa lewat di bawahnya.

٥٤٩٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرًا يَقُولُ: بَعَثَنَا النَّبِيُّ ﷺ ثَلَاثَمِائَةِ رَاكِبٍ، وَأَمِيرُنَا أَبُو عُبَيۡدَةَ، نَرۡصُدُ عِيرًا لِقُرَيۡشٍ، فَأَصَابَنَا جُوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلۡنَا الۡخَبَطَ، فَسُمِّيَ جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا نِصۡفَ شَهۡرٍ وَادَّهَنَّا بِوَدَكِهِ، حَتَّى صَلَحَتۡ أَجۡسَامُنَا، قَالَ: فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ ضِلَعًا مِنۡ أَضۡلَاعِهِ فَنَصَبَهُ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ، وَكَانَ فِينَا رَجُلٌ، فَلَمَّا اشۡتَدَّ الۡجُوعُ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ نَهَاهُ أَبُو عُبَيۡدَةَ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5494. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari ‘Amr. Ia berkata: Aku mendengar Jabir berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kami dalam rombongan tiga ratus penunggang dengan pemimpin kami Abu ‘Ubaidah untuk mengintai kafilah dagang Quraisy. Kami mengalami kelaparan yang sangat hingga kami memakan daun-daunan yang rontok, sehingga pasukan itu dinamakan Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun).

Lalu laut menghempaskan seekor ikan yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakannya selama setengah bulan dan mengoleskan lemaknya pada tubuh kami hingga tubuh kami kembali pulih.

Jabir berkata: Abu ‘Ubaidah lantas mengambil salah satu tulang rusuk hewan itu dan menegakkannya, lalu seorang penunggang unta lewat di bawahnya. Sebelum itu, di tengah-tengah kami ada seorang laki-laki. Ketika kelaparan semakin hebat, ia menyembelih tiga ekor unta, kemudian menyembelih tiga ekor unta lagi, hingga akhirnya Abu ‘Ubaidah melarangnya.