Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2602

٢٢ - بَابُ هِبَةِ الۡوَاحِدِ لِلۡجَمَاعَةِ
22. Bab Pemberian Hibah oleh Satu Orang Kepada Orang Banyak


وَقَالَتۡ أَسۡمَاءُ لِلۡقَاسِمِ بۡنِ مُحَمَّدٍ وَابۡنِ أَبِي عَتِيقٍ: وَرِثۡتُ عَنۡ أُخۡتِي عَائِشَةَ مَالًا بِالۡغَابَةِ، وَقَدۡ أَعۡطَانِي بِهِ مُعَاوِيَةُ مِائَةَ أَلۡفٍ، فَهُوَ لَكُمَا.

Dan Asma` telah berkata kepada Al-Qasim bin Muhammad dan Ibnu Abu ‘Atiq: Aku telah mewarisi harta berupa tanah di Al-Ghabah dari saudariku, ‘Aisyah. Sebenarnya Mu’awiyah telah menawarku untuk membelinya seharga seratus ribu, tetapi tanah tersebut untuk kalian berdua.

٢٦٠٢ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ، وَعَنۡ يَمِينِهِ غُلَامٌ، وَعَنۡ يَسَارِهِ الۡأَشۡيَاخُ، فَقَالَ لِلۡغُلَامِ: (إِنۡ أَذِنۡتَ لِي أَعۡطَيۡتُ هَؤُلَاءِ). فَقَالَ: مَا كُنۡتُ لَأُوثِرَ بِنَصِيبِي مِنۡكَ يَا رَسُولَ اللهِ أَحَدًا، فَتَلَّهُ فِي يَدِهِ. [طرفه في: ٢٣٥١].

2602. Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d—radhiyallahu ‘anhu—:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dibawakan sebuah minuman, lalu beliau meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda, sedangkan di sebelah kiri beliau para orang tua. Beliau berkata kepada anak muda tersebut, “Jika engkau mengizinkanku, aku akan berikan (minuman ini) kepada mereka.”

Anak muda itu menjawab, “Aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun, wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun meletakkan minuman itu ke dalam tangannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2451

١٢ - بَابٌ إِذَا أَذِنَ لَهُ أَوۡ أَحَلَّهُ وَلَمۡ يُبَيِّنۡ كَمۡ هُوَ
12. Bab Apabila Seseorang Memberikan Izin atau Menghalalkan Hak Kepada Orang Lain Tanpa Menjelaskan Berapa Jumlahnya


٢٤٥١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي حَازِمِ بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنۡهُ، وَعَنۡ يَمِينِهِ غُلَامٌ، وَعَنۡ يَسَارِهِ الۡأَشۡيَاخُ، فَقَالَ لِلۡغُلَامِ: (أَتَأۡذَنُ لِي أَنۡ أُعۡطِيَ هَؤُلَاءِ؟) فَقَالَ الۡغُلَامُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنۡكَ أَحَدًا. قَالَ: فَتَلَّهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي يَدِهِ. [طرفه في: ٢٣٥١].

2451. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Hazim bin Dinar, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi—radhiyallahu ‘anhu—:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dibawakan sebuah minuman, lalu beliau meminumnya sebagian. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda, sedangkan di sebelah kiri beliau para orang tua. Beliau bertanya kepada anak muda tersebut, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan (minuman ini) kepada mereka?”

Anak muda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.”

(Sahl bin Sa’d) berkata: Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meletakkan minuman itu ke dalam tangan anak muda tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2635

٣٦ - بَابٌ إِذَا قَالَ: أَخۡدَمۡتُكَ هٰذِهِ الۡجَارِيَةَ، عَلَى مَا يَتَعَارَفُ النَّاسُ، فَهۡوَ جَائِزٌ
36. Bab Apabila Seseorang Berkata, “Aku Memperbantukan Budak Perempuan Ini Kepadamu,” Berdasarkan Apa yang Menjadi Kebiasaan di Tengah Masyarakat, Maka Hal Itu Diperbolehkan


وَقَالَ بَعۡضُ النَّاسِ: هٰذِهِ عَارِيَّةٌ، وَإِنۡ قَالَ: كَسَوۡتُكَ هٰذَا الثَّوۡبَ، فَهُوَ هِبَةٌ.

Sebagian orang berkata: Ini adalah pinjaman. Namun jika ia berkata, “Aku memakaikan baju ini kepadamu,” maka itu adalah hibah.

٢٦٣٥ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (هَاجَرَ إِبۡرَاهِيمُ بِسَارَةَ، فَأَعۡطَوۡهَا آجَرَ، فَرَجَعَتۡ فَقَالَتۡ: أَشَعَرۡتَ أَنَّ اللهَ كَبَتَ الۡكَافِرَ، وَأَخۡدَمَ وَلِيدَةً؟) وَقَالَ ابۡنُ سِيرِينَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (فَأَخۡدَمَهَا هَاجَرَ). [طرفه في: ٢٢١٧].

2635. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Ibrahim berhijrah bersama Sarah, lalu mereka (penduduk negeri) memberikan Ajar (Hajar) kepadanya. Sarah pun kembali lalu berkata, ‘Apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah menghinakan orang kafir itu dan memperbantukan seorang budak perempuan?’”

Ibnu Sirin berkata, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—(dengan lafaz): “Maka ia memperbantukan Hajar kepadanya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2381

٢٣٨١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ عَطَاءٍ: سَمِعَ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ الۡمُخَابَرَةِ وَالۡمُحَاقَلَةِ، وَعَنِ الۡمُزَابَنَةِ، وَعَنۡ بَيۡعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبۡدُوَ صَلَاحُهَا، وَأَنۡ لَا تُبَاعَ إِلَّا بِالدِّينَارِ وَالدِّرۡهَمِ إِلَّا الۡعَرَايَا. [طرفه في: ١٤٨٧].

2381. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha`: Ia mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang mukhabarah (akad muzaraah dengan ketentuan benih berasal dari pekerja), muhaqalah (menjual tanaman yang masih di ladang dengan gandum yang sudah bersih), muzabanah (menjual buah di pohon dengan buah yang sudah dipetik), dan melarang penjualan buah-buahan sampai tampak kelayakannya untuk dipanen, serta (beliau melarang) buah-buahan tersebut dijual melainkan dengan dinar atau dirham, kecuali jual beli al-‘araya (pertukaran kurma basah di pohon dengan kurma kering untuk kebutuhan mendesak).

Al-Isti'ab - 3548. Hind binti ‘Utbah

٣٥٤٨ - [هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ]:

هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافٍ، أُمُّ مُعَاوِيَةَ؛ أَسۡلَمَتۡ عَامَ الۡفَتۡحِ بَعۡدَ إِسۡلَامِ زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ، فَأَقَرَّهُمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى نِكَاحِهِمَا، وَكَانَتِ امۡرَأَةً فِيمَا ذَكَرَهُ لَهَا نَفۡسٌ وَأَنَفَةٌ، شَهِدَتۡ أُحُدًا كَافِرَةً مَعَ زَوۡجِهَا أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ حَرۡبٍ، وَكَانَتۡ تَقُولُ يَوۡمَ أُحُدٍ:

نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ     نَمۡشِي عَلَى النَّمَارِقۡ
وَالۡمِسۡكُ فِي الۡمَفَارِقۡ  وَالدُّرُّ فِي الۡمَخَانِقۡ
إِنۡ تُقۡبِلُوا نُعَانِقۡ       وَنَفۡرِشِ النَّمَارِقۡ
أَوۡ تُدۡبِرُوا نُفَارِقۡ      فِرَاقَ غَيۡرِ وَامِقۡ

Hind binti Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf, Umu Mu’awiyah. Dia masuk Islam pada tahun penaklukan Makkah setelah keislaman suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkan keduanya tetap dalam pernikahan mereka. Dia adalah seorang wanita, menurut apa yang disebutkan, memiliki harga diri dan kehormatan yang tinggi. Dia menghadiri perang Uhud dalam keadaan kafir bersama suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Pada hari Uhud, dia melantunkan syair:

Kami adalah putri-putri bintang thariq,
kami berjalan di atas hamparan permadani.

Minyak kasturi ada di belahan rambut,
dan mutiara ada di kalung leher.

Jika kalian maju menghadapi musuh, kami akan memeluk erat,
dan kami bentangkan permadani.

Namun jika kalian mundur melarikan diri, kami akan berpisah,
perpisahan tanpa ada rasa cinta lagi.

قَالَ الزُّبَيۡرُ: سَمِعۡتُ يَحۡيَى بۡنَ عَبۡدِ الۡمَلِكِ الۡهُدَيۡرِيَّ - وَقَدۡ ذَكَرَ قَوۡلَ هِنۡدٍ يَوۡمَ أُحُدٍ، * نَحۡنُ بَنَاتُ طَارِقۡ * فَقَالَ: أَرَادَتۡ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ، مِنۡ قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَمَا أَدۡرَاكَ مَا الطَّارِقُ النَّجۡمُ الثَّاقِبُ﴾ [الطارق: ١-٣]، تَقُولُ: نَحۡنُ بَنَاتُ النَّجۡمِ.

Az-Zubair berkata: Aku mendengar Yahya bin ‘Abdul Malik Al-Hudairi—ketika menyebutkan perkataan Hind pada hari Uhud Kami adalah putri-putri thariq—lalu dia berkata: Yang dimaksud oleh Hind adalah: “Kami adalah putri-putri bintang,” diambil dari firman Allah taala: “Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Yaitu bintang yang cahayanya menembus.” (QS At-Tariq: 1-3). Dia bermaksud mengatakan: Kami adalah putri-putri bintang.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَالُوا: فَلَمَّا قُتِلَ حَمۡزَةُ وَثَبَتۡ عَلَيۡهِ فَمَثَّلَتۡ بِهِ، وَشَقَّتۡ بَطۡنَهُ، وَاسۡتَخۡرَجَتۡ كَبِدَهُ فَشَوَتۡ مِنۡهُ وَأَكَلَتۡ فِيمَا يُقَالُ؛ لِأَنَّهُ كَانَ قَدۡ قَتَلَ أَبَاهَا يَوۡمَ بَدۡرٍ. وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ الَّذِي مَثَّلَ بِحَمۡزَةَ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ مُعَاوِيَةُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ أَبِي الۡعَاصِ بۡنِ أُمَيَّةَ، وَقَتَلَهُ النَّبِيُّ ﷺ صَبۡرًا مُنۡصَرَفَهُ مِنۡ أُحُدٍ فِيمَا ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ، ثُمَّ خَتَمَ اللهُ لَهَا بِالۡإِسۡلَامِ، فَأَسۡلَمَتۡ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ،

Abu ‘Umar berkata: Mereka mengatakan: Ketika Hamzah gugur, Hind melompat ke jasadnya lalu memutilasinya, membelah perutnya, dan mengeluarkan hatinya, kemudian dia membakarnya lalu memakannya berdasarkan apa yang dikatakan orang-orang, karena Hamzah telah membunuh ayah Hind pada hari Badr. Namun ada pula yang mengatakan: Sesungguhnya orang yang memutilasi Hamzah bin ‘Abdul Muththalib adalah Mu’awiyah bin Al-Mughirah bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah, dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membunuh Mu’awiyah bin Al-Mughirah dengan cara dieksekusi sekembalinya beliau dari Uhud menurut apa yang disebutkan oleh Az-Zubair. Kemudian Allah mengakhiri jalan hidup Hind dengan Islam, sehingga dia masuk Islam pada hari penaklukan Makkah.

فَلَمَّا أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡبَيۡعَةَ عَلَى النِّسَاءِ - وَمِنَ الشَّرۡطِ فِيهَا (أَلَّا يَسۡرِقۡنَ وَلَا يَزۡنِينَ - قَالَتۡ لَهُ هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ: وَهَلۡ تَزۡنِي الۡحُرَّةُ وَتَسۡرِقُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَلَمَّا قَالَ: (وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَادَهُنَّ). قَالَتۡ: قَدۡ رَبَّيۡنَاهُمۡ صِغَارًا وَقَتَلۡتَهُمۡ أَنۡتَ بِبَدۡرٍ كِبَارًا - أَوۡ نَحۡوُ هٰذَا مِنَ الۡقَوۡلِ، وَشَكَتۡ إِلَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّ زَوۡجَهَا أَبَا سُفۡيَانَ لَا يُعۡطِيهَا مِنَ الطَّعَامِ مَا يَكۡفِيهَا وَوَلَدَهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: خُذِي مِنۡ مَالِهِ بِالۡمَعۡرُوفِ مَا يَكۡفِيكِ أَنۡتِ وَوَلَدَكِ).

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil baiat dari para wanita—yang di antara syaratnya adalah mereka tidak boleh mencuri dan tidak boleh berzina—, Hind binti ‘Utbah berkata kepada beliau, “Apakah mungkin seorang wanita merdeka berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?”

Ketika beliau menyampaikan syarat: “Dan janganlah mereka membunuh anak-anak mereka,” Hind berkata, “Kami telah membesarkan mereka sejak kecil, lalu engkau membunuh mereka di Badr setelah mereka dewasa”—atau ucapan yang semisal itu.

Dia juga mengadu kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa suaminya, Abu Sufyan, tidak memberinya makanan yang mencukupi untuk dirinya dan anaknya. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Ambillah dari hartanya dengan cara yang makruf apa yang mencukupi untukmu dan anakmu.”

وَتُوفِيَتۡ هِنۡدُ بِنۡتُ عُتۡبَةَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ فِي الۡيَوۡمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَبُو قُحَافَةَ وَالِدُ أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا.

Hind binti ‘Utbah wafat pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththab, tepat pada hari wafatnya Abu Quhafah, ayah dari Abu Bakr Ash-Shiddiq—radhiyallahu ‘anhuma.