Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2410

١ - بَابُ مَا يُذۡكَرُ فِي الۡإِشۡخَاصِ وَالۡمُلَازَمَةِ وَالۡخُصُومَةِ بَيۡنَ الۡمُسۡلِمِ وَالۡيَهُودِ
1. Bab Riwayat yang Disebutkan tentang Penghadiran Sidang Perkara, Pengawasan Ketat, dan Persengketaan Antara Seorang Muslim dan Yahudi


٢٤١٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ مَيۡسَرَةَ أَخۡبَرَنِي قَالَ: سَمِعۡتُ النَّزَّالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ يَقُولُ: سَمِعۡتُ رَجُلًا قَرَأَ آيَةً سَمِعۡتُ مِنَ النَّبِيِّ، ﷺ خِلَافَهَا، فَأَخَذۡتُ بِيَدِهِ، فَأَتَيۡتُ بِهِ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (كِلَاكُمَا مُحۡسِنٌ). قَالَ شُعۡبَةُ: أَظُنُّهُ قَالَ: (لَا تَخۡتَلِفُوا، فَإِنَّ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمُ اخۡتَلَفُوا فَهَلَكُوا).

2410. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdul-Malik bin Maisarah mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar An-Nazzal: Aku mendengar ‘Abdullah berkata: Aku mendengar seorang laki-laki membaca suatu ayat yang pernah aku dengar dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bacaan yang berbeda darinya. Lalu aku memegang tangannya dan membawanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Maka beliau bersabda, “Kalian berdua baik.”

Syu’bah berkata: Aku mengira beliau bersabda, “Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.”

Shahih Al-Bukhari - 44. Kitab Persengketaan

  ﷽

٤٢ – كِتَابُ الۡخُصُومَاتِ

  1. Bab Riwayat yang Disebutkan tentang Penghadiran Sidang Perkara, Pengawasan Ketat, dan Persengketaan Antara Seorang Muslim dan Yahudi
    1. Hadis nomor 2410
    2. Hadis nomor 2411
    3. Hadis nomor 2412
    4. Hadis nomor 2413
  2. Bab Orang yang Membatalkan Tindakan Orang yang Kurang Akal dan Lemah Akalnya, Meskipun Pemimpin Belum Menetapkan Pelarangan Transaksi atas Dirinya
  3. Bab Orang yang Menjualkan (Aset) Milik Orang yang Lemah Akalnya dan yang Semisal dengannya, Lalu Menyerahkan Uang Hasil Penjualannya Kepadanya, Serta Memerintahkannya untuk Mengelola dan Mengurus Urusannya dengan Baik; Namun Jika Setelah Itu Ia Melakukan Kerusakan, Maka Ia Melarangnya, Karena Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Melarang dari Tindakan Menyia-nyiakan Harta, dan Beliau Bersabda kepada Orang yang Selalu Tertipu dalam Jual Beli, “Apabila Kamu Berjual Beli, Maka Katakanlah: ‘Tidak Ada Penipuan,’” dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—Tidak Mengambil Hartanya
    1. Hadis nomor 2414
    2. Hadis nomor 2415
  4. Bab Perkataan Orang-Orang yang Berselisih Satu Sama Lain
    1. Hadis nomor 2416 dan 2417
    2. Hadis nomor 2418
    3. Hadis nomor 2419
  5. Bab mengeluarkan orang yang suka bermaksiat dan bertengkar dari rumah setelah diketahui
    1. Hadis nomor 2420
  6. Bab Pengakuan Penerima Wasiat Orang yang Sudah Meninggal
    1. Hadis nomor 2421
  7. Bab Mengikat Orang yang Dikhawatirkan Bahayanya
    1. Hadis nomor 2422
  8. Bab Mengikat dan Memenjarakan di Tanah Haram
    1. Hadis nomor 2423
  9. Bab mendesak (orang yang berutang)
    1. Hadis nomor 2424
  10. Bab Menagih Utang
    1. Hadis nomor 2425

Shahih Muslim hadis nomor 402

١٦ - بَابُ التَّشَهُّدِ فِي الصَّلَاةِ
16. Bab Tasyahud dalam Salat


٥٥ - (٤٠٢) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، وَعُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ - قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ -، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ؛ قَالَ: كُنَّا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ خَلۡفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ: السَّلَامُ عَلَى اللهِ. السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوۡمٍ: (إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمۡ فِي الصَّلَاةِ فَلۡيَقُلِ: التَّحِيَّاتُ لِلهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيۡكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحۡمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيۡنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ - فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتۡ كُلَّ عَبۡدٍ لِلهِ صَالِحٍ، فِي السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ - أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ. ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الۡمَسۡأَلَةِ مَا شَاءَ).


55. (402). Zuhair bin Harb, ‘Utsman bin Abu Syaibah, dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami.—Ishaq berkata: Mengabarkan kepada kami, sedangkan dua orang lainnya berkata: Jarir menceritakan kepada kami—dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari ‘Abdullah. Beliau berkata:

Kami dahulu membaca di dalam salat di belakang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: As-Salāmu ‘alallāh, as-salāmu ‘alā fulān (keselamatan tercurah kepada Allah, keselamatan tercurah kepada si Fulan).

Lalu pada suatu hari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda kepada kami:

Sesungguhnya Allah, Dialah As-Salam (Maha Pemberi Keselamatan). Oleh karena itu, apabila salah seorang di antara kalian duduk dalam salat, hendaklah ia mengucapkan: At-Taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu wat-ṭayyibāt (segala salam penghormatan hanya milik Allah, begitu pula doa pengagungan dan ucapan-ucapan yang baik). As-Salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh (semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan keberkahan-Nya). As-Salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn (semoga keselamatan tercurah pula kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh).

Apabila ia mengucapkan kalimat tersebut, maka doa keselamatan itu akan mengenai setiap hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi. (Lalu dilanjutkan): Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian setelah itu, ia boleh memilih doa apa saja yang diinginkannya.

٥٦ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ عَنۡ مَنۡصُورٍ، بِهَـٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ: (ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الۡمَسۡأَلَةِ مَا شَاءَ).

56. Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Manshur, melalui sanad ini … semisal hadis tersebut, namun ia tidak menyebutkan kalimat: “Kemudian ia boleh memilih doa apa saja yang diinginkannya.”

٥٧ - (...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنٌ الۡجُعۡفِيُّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ. بِهَـٰذَا الۡإِسۡنَادِ، مِثۡلَ حَدِيثِهِمَا. وَذَكَرَ فِي الۡحَدِيثِ: (ثُمَّ لۡيَتَخَيَّرۡ بَعۡدُ مِنَ الۡمَسۡأَلَةِ مَا شَاءَ أَوۡ مَا أَحَبَّ).

57. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Husain Al-Ju’fi menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari Manshur, melalui sanad ini, semisal hadis keduanya. Ia menyebutkan di dalam hadis tersebut: “Kemudian hendaklah ia memilih setelah itu dari permohonan yang ia kehendaki atau yang ia sukai.”

٥٨ - (...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ شَقِيقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ. قَالَ: كُنَّا إِذَا جَلَسۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي الصَّلَاةِ بِمِثۡلِ حَدِيثِ مَنۡصُورٍ. وَقَالَ: (ثُمَّ يَتَخَيَّرُ، بَعۡدُ، مِنَ الدُّعَاءِ).


58. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata: “Kami dahulu apabila duduk bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di dalam salat ...” semisal hadis Manshur, dan ia menyebutkan: “Kemudian ia boleh memilih doa setelah itu.”

٥٩ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا سَيۡفُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ. قَالَ: سَمِعۡتُ مُجَاهِدًا يَقُولُ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ سَخۡبَرَةَ؛ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ مَسۡعُودٍ يَقُولُ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ التَّشَهُّدَ. كَفِّي بَيۡنَ كَفَّيۡهِ. كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ الۡقُرۡآنِ... وَاقۡتَصَّ التَّشَهُّدَ بِمِثۡلِ مَا اقۡتَصُّوا.


59. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami: Saif bin Sulaiman menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Mujahid berkata: ‘Abdullah bin Sakhbarah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengajarkan kepadaku tasyahud, sementara kedua telapak tanganku berada di antara kedua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah Al-Qur’an ...” Ia menyebutkan bacaan tasyahud tersebut seperti yang mereka sebutkan.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2447

٦ - بَابُ الِانۡتِصَارِ مِنَ الظَّالِمِ
6. Bab Membela Diri dari Orang Zalim


لِقَوۡلِهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ: ﴿لَا يُحِبُّ اللهُ الۡجَهۡرَ بِالسُّوءِ مِنَ الۡقَوۡلِ إِلَّا مَنۡ ظُلِمَ وَكَانَ اللهُ سَمِيعًا عَلِيمًا﴾ [النساء: ١٤٨]. ﴿وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الۡبَغۡيُ هُمۡ يَنۡتَصِرُونَ﴾ [الشورى: ٣٩]. قَالَ إِبۡرَاهِيمُ: كَانُوا يَكۡرَهُونَ أَنۡ يُسۡتَذَلُّوا، فَإِذَا قَدَرُوا عَفَوۡا.

Karena firman Allah—jalla dzikruhu—: “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa’: 148).

“Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.” (QS Asy-Syura: 39).

Ibrahim berkata, “Mereka (para salaf) dahulu benci jika diri mereka dihinakan, namun apabila mereka berkuasa (mampu membalas), mereka memaafkan.”

٧ - بَابُ عَفۡوِ الۡمَظۡلُومِ
7. Bab Pemaafan oleh Orang yang Dizalimi


لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنۡ تُبۡدُوا خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ أَوۡ تَعۡفُوا عَنۡ سُوءٍ فَإِنَّ اللهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا﴾ [النساء: ١٤٩]. ﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثۡلُهَا فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلَمَنِ انۡتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيۡهِمۡ مِنۡ سَبِيلٍ * إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظۡلِمُونَ النَّاسَ وَيَبۡغُونَ فِي الۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ * وَلَمَنۡ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ الۡأُمُورِ * وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الۡعَذَابَ يَقُولُونَ هَلۡ إِلَى مَرَدٍّ مِنۡ سَبِيلٍ﴾ [الشورى: ٤٠-٤٤].

Karena firman Allah taala: “Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan, menyembunyikannya, atau memaafkan suatu kesalahan, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS An-Nisa’: 149).

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim. Dan barang siapa membela diri setelah dizalimi, maka mereka itu tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu hanyalah atas orang-orang yang menzalimi manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih. Dan barang siapa bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perbuatan yang diutamakan.” (QS Asy-Syura: 40-43).

“Dan kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab, mereka berkata, ‘Adakah jalan untuk kembali (ke dunia)?’” (QS Asy-Syura: 44).

٨ - بَابٌ الظُّلۡمُ ظُلُمَاتٌ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ
8. Bab Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat


٢٤٤٧ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ الۡمَاجِشُونُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دِينَارٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الظُّلۡمُ ظُلُمَاتٌ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ).

2447. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz Al-Majisyun menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2746

٥ - بَابٌ إِذَا أَوۡمَأَ الۡمَرِيضُ بِرَأۡسِهِ إِشَارَةً بَيِّنَةً جَازَتۡ
5. Bab Jika Orang Sakit Memberi Isyarat dengan Kepalanya Secara Jelas, Hukumnya Sah


٢٧٤٦ - حَدَّثَنَا حَسَّانُ بۡنُ أَبِي عَبَّادٍ: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ يَهُوِدِيًّا رَضَّ رَأۡسَ جَارِيَةٍ بَيۡنَ حَجَرَيۡنِ، فَقِيلَ لَهَا: مَنۡ فَعَلَ بِكِ، أَفُلَانٌ، أَوۡ فُلَانٌ؟ حَتَّى سُمِّيَ الۡيَهُودِيُّ، فَأَوۡمَأَتۡ بِرَأۡسِهَا، فَجِيءَ بِهِ، فَلَمۡ يَزَلۡ حَتَّى اعۡتَرَفَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ فَرُضَّ رَأۡسُهُ بِالۡحِجَارَةِ. [طرفه في: ٢٤١٣].

2746. Hassan bin Abu ‘Abbad telah menceritakan kepada kami: Hammam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—:

Seorang Yahudi meremukkan kepala seorang anak perempuan di antara dua batu. Lalu si anak ditanya, “Siapa yang berbuat ini kepadamu, si Fulan, atau si Fulan?”

Sampai akhirnya disebutkan nama orang Yahudi tersebut, lalu ia menganggukkan kepalanya dengan isyarat. Orang Yahudi itu pun didatangkan. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terus menginterogasinya hingga ia pun mengakui perbuatannya, lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan agar kepalanya diremukkan pula dengan batu.