Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7500, 7501, dan 7502

٧٥٠٠ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ النُّمَيۡرِيُّ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بۡنُ يَزِيدَ الۡأَيۡلِيُّ قَالَ: سَمِعۡتُ الزُّهۡرِيَّ قَالَ: سَمِعۡتُ عُرۡوَةَ بۡنَ الزُّبَيۡرِ، وَسَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيَّبِ، وَعَلۡقَمَةَ بۡنَ وَقَّاصٍ، وَعُبَيۡدَ اللهِ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ حَدِيثِ عَائِشَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، حِينَ قَالَ لَهَا أَهۡلُ الإِفۡكِ مَا قَالُوا، فَبَرَّأَهَا اللهُ مِمَّا قَالُوا، وَكُلٌّ حَدَّثَنِي طَائِفَةً مِنَ الۡحَدِيثِ الَّذِي حَدَّثَنِي، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: وَلَكِنۡ وَاللهِ مَا كُنۡتُ أَظُنُّ أَنَّ اللهَ يُنۡزِلُ فِي بَرَاءَتِي وَحۡيًا يُتۡلَى، وَلَشَأۡنِي فِي نَفۡسِي كَانَ أَحۡقَرَ مِنۡ أَنۡ يَتَكَلَّمَ اللهُ فِيَّ بِأَمۡرٍ يُتۡلَى، وَلَكِنِّي كُنۡتُ أَرۡجُو أَنۡ يَرَى رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي النَّوۡمِ رُؤۡيَا يُبَرِّئُنِي اللهُ بِهَا، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالۡإِفۡكِ﴾ [النور: ١١] الۡعَشۡرَ الۡآيَاتِ. [طرفه في: ٢٥٩٣].

7500. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin ‘Umar An-Numairi menceritakan kepada kami: Yunus bin Yazid Al-Aili menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Az-Zuhri berkata: Aku mendengar ‘Urwah bin Az-Zubair, Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Alqamah bin Waqqash, dan ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari hadis ‘Aisyah istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika pembuat berita bohong mengatakan gunjingan tentangnya, lalu Allah membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan mereka. Masing-masing menceritakan sebagian hadis yang diceritakan kepadaku dari ‘Aisyah.

‘Aisyah berkata: Demi Allah, tadinya aku tidak mengira Allah akan menurunkan rehabilitasi nama baikku dalam bentuk wahyu yang akan dibaca. Dalam benakku, sungguh keadaanku waktu itu tidak pantas untuk Allah bicarakan dalam wahyu yang dibaca. Tetapi waktu itu aku hanya berharap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat mimpi yang dengannya Allah membersihkan nama baikku. Lalu Allah taala menurunkan, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita dusta itu ...” (QS An-Nur: 11) sebanyak sepuluh ayat.

٧٥٠١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا الۡمُغِيرَةُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (يَقُولُ اللهُ: إِذَا أَرَادَ عَبۡدِي أَنۡ يَعۡمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكۡتُبُوهَا عَلَيۡهِ حَتَّى يَعۡمَلَهَا، فَإِنۡ عَمِلَهَا فَاكۡتُبُوهَا بِمِثۡلِهَا، وَإِنۡ تَرَكَهَا مِنۡ أَجۡلِي فَاكۡتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، وَإِذَا أَرَادَ أَنۡ يَعۡمَلَ حَسَنَةً فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا فَاكۡتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنۡ عَمِلَهَا فَاكۡتُبُوهَا لَهُ بِعَشۡرِ أَمۡثَالِهَا إِلَى سَبۡعِمِائَةٍ).

7501. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Allah berkata: Apabila hamba-Ku ingin mengerjakan perbuatan buruk, janganlah kalian mencatatnya sampai ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah sama sepertinya. Jika ia tidak melakukannya karena Aku, catatlah satu kebaikan untuknya. Jika hamba-Ku ingin mengerjakan perbuatan baik, lalu tidak melakukannya, catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia melakukannya, catatlah sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat kebaikan untuknya.”

٧٥٠٢ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ بِلَالٍ، عَنۡ مُعَاوِيَةَ بۡنِ أَبِي مُزَرِّدٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (خَلَقَ اللهُ الۡخَلۡقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنۡهُ قَامَتِ الرَّحِمُ، فَقَالَ: مَهۡ، قَالَتۡ: هٰذَا مَقَامُ الۡعَائِذِ بِكَ مِنَ الۡقَطِيعَةِ، فَقَالَ: أَلَا تَرۡضَيۡنَ أَنۡ أَصِلَ مَنۡ وَصَلَكِ، وَأَقۡطَعَ مَنۡ قَطَعَكِ؟ قَالَتۡ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَلِكِ لَكِ). ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: ﴿فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ أَنۡ تُفۡسِدُوا فِي الۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوا أَرۡحَامَكُمۡ﴾ [محمد: ٢٢]. [طرفه في: ٤٨٣٠].

7502. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepadaku dari Mu’awiyah bin Abu Muzarrid, dari Sa’id bin Yasar, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sampai ketika selesai menciptakan, rahim berdiri lalu Allah berkata kepadanya, “Berhentilah!”

Rahim berkata, “Berdiriku ini adalah berdirinya makhluk yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan.”

Allah berkata, “Tidakkah engkau rida kalau Aku menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan Aku memutus hubungan dengan orang yang memutusmu?”

Rahim berkata, “Tentu, wahai Rabku.”

Allah berkata, “Hal itu untukmu.”

Kemudian Abu Hurairah berkata, “Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan kalian akan memutus hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4597

٢٠ - بَابٌ ﴿إِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالۡوِلۡدَانِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا﴾ ۝٩٨
20. Bab “kecuali orang-orang yang lemah baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)” (QS An-Nisa’: 98)


٤٥٩٧ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي مُلَيۡكَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿إِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِينَ﴾ قَالَ: كَانَتۡ أُمِّي مِمَّنۡ عَذَرَ اللهُ. [طرفه في: ١٣٥٧].

4597. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—tentang ayat “kecuali orang-orang yang lemah”. Beliau mengatakan, “Dahulu, ibuku termasuk orang yang dimaafkan oleh Allah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6655

٦٦٥٥ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: أَخۡبَرَنَا عَاصِمٌ الۡأَحۡوَلُ: سَمِعۡتُ أَبَا عُثۡمَانَ يُحَدِّثُ، عَنۡ أُسَامَةَ: أَنَّ ابۡنَةً لِرَسُولِ اللهِ ﷺ أَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ، وَمَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ وَسَعۡدٌ وَأُبَيٌّ: أَنَّ ابۡنِي قَدِ احۡتُضِرَ فَاشۡهَدۡنَا، فَأَرۡسَلَ يَقۡرَأُ السَّلَامَ وَيَقُولُ: (إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعۡطَى، وَكُلُّ شَيۡءٍ عِنۡدَهُ مُسَمًّى، فَلۡتَصۡبِرۡ وَتَحۡتَسِبۡ). فَأَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ تُقۡسِمُ عَلَيۡهِ، فَقَامَ وَقُمۡنَا مَعَهُ، فَلَمَّا قَعَدَ رُفِعَ إِلَيۡهِ، فَأَقۡعَدَهُ فِي حَجۡرِهِ، وَنَفۡسُ الصَّبِيِّ تَقَعۡقَعُ، فَفَاضَتۡ عَيۡنَا رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ سَعۡدٌ: مَا هٰذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (هٰذَا رَحۡمَةٌ يَضَعُهَا اللهُ فِي قُلُوبِ مَنۡ يَشَاءُ مِنۡ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرۡحَمُ اللهُ مِنۡ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ). [طرفه في: ١٢٨٤].

6655. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: ‘Ashim Al-Ahwal mengabarkan kepada kami: Aku mendengar Abu ‘Utsman menceritakan dari Usamah:

Seorang putri Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus utusan kepada beliau ketika Usamah bin Zaid, Sa’d, dan Ubayy sedang bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Utusan itu menyampaikan pesan, “Sesungguhnya putraku hampir meninggal, datanglah ke tempat kami.”

Rasulullah mengirim salam kepadanya dan berpesan, “Sesungguhnya segala yang Allah ambil dan beri hanyalah milik-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya ada batasannya. Hendaknya dia mengharap pahala dan bersabar.”

Putrinya mengirim utusan lagi lalu bersumpah agar beliau datang. Rasulullah pun bangkit dan kami ikut bangkit. Ketika Rasulullah telah duduk, anak kecil itu diangkat diberikan kepada beliau, lalu beliau mendudukkannya di pangkuannya dalam keadaan nafasnya tersengal-sengal. Air mata Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bercucuran. Sa’d bertanya kepada beliau, “Tangisan apa ini wahai Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Ini adalah rahmat yang Allah letakkan di dalam hati para hamba-Nya yang Dia kehendaki. Allah hanyalah merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7491

٣٥ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿يُرِيدُونَ أَنۡ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللهِ﴾ [الفتح: ١٥]
35. Bab Firman Allah Taala, “Mereka ingin mengubah-ubah kalam Allah” (QS Al-Fath: 15)


﴿لَقَوۡلٌ فَصۡلٌ﴾ حَقٌّ ﴿وَمَا هُوَ بِالۡهَزۡلِ﴾ [الطارق: ١٣-١٤] بِاللَّعِبِ.

Laqaulun faṣl” artinya ucapan yang benar. “Wa mā huwa bil-hazl” (QS At-Tariq: 13-14) artinya: dan bukan ucapan main-main.

٧٤٩١ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (قَالَ اللهُ تَعَالَى: يُؤۡذِينِي ابۡنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهۡرَ وَأَنَا الدَّهۡرُ، بِيَدِي الۡأَمۡرُ، أُقَلِّبُ اللَّيۡلَ وَالنَّهَارَ). [طرفه في: ٤٨٢٦].

7491. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Allah taala berfirman: Anak Adam menyakiti-Ku dengan dia mencela masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, di tangan-Ku lah segala urusan. Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7490

٧٤٩٠ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: عَنۡ هُشَيۡمٍ، عَنۡ أَبِي بِشۡرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ [الإسراء: ١١٠]، قَالَ: أُنۡزِلَتۡ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ مُتَوَارٍ بِمَكَّةَ، فَكَانَ إِذَا رَفَعَ صَوۡتَهُ سَمِعَ الۡمُشۡرِكُونَ، فَسَبُّوا الۡقُرۡآنَ وَمَنۡ أَنۡزَلَهُ وَمَنۡ جَاءَ بِهِ، وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا﴾ لَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ حَتَّى يَسۡمَعَ الۡمُشۡرِكُونَ، وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا عَنۡ أَصۡحَابِكَ فَلَا تُسۡمِعُهُمۡ ﴿وَابۡتَغِ بَيۡنَ ذٰلِكَ سَبِيلًا﴾ أَسۡمِعۡهُمۡ وَلَا تَجۡهَرۡ، حَتَّى يَأۡخُذُوا عَنۡكَ الۡقُرۡآنَ. [طرفه في: ٤٧٢٢].

7490. Musaddad telah menceritakan kepada kami dari Husyaim, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—: “Jangan engkau mengeraskan suara dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya.” (QS Al-Isra: 110). Ibnu ‘Abbas berkata: Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sembunyi-sembunyi di Makkah. Saat itu, jika beliau mengeraskan suara, orang-orang musyrik akan mendengar, lalu mereka mencela Al-Qur’an, malaikat yang menurunkannya, dan nabi yang membawanya.

Allah taala berfirman, “Janganlah engkau mengeraskan suara dalam salatmu dan jangan pula memelankannya.” Artinya: jangan engkau mengeraskan suara dalam salatmu sehingga terdengar oleh orang-orang musyrik dan jangan merendahkan suara dari para sahabatmu sehingga engkau tidak memperdengarkannya.

“Dan carilah jalan tengah di antara kedua perkara itu!” Perdengarkan kepada mereka tapi jangan keras suaranya sehingga mereka dapat mengambil Al-Qur’an darimu.