Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadis nomor 2026

١١٦ - (٢٠٢٦) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡجَبَّارِ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ - يَعۡنِي الۡفَزَارِيَّ -: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَمۡزَةَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو غَطَفَانَ الۡمُرِّيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَشۡرَبَنَّ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ قَائِمًا. فَمَنۡ نَسِيَ فَلۡيَسۡتَقِىءۡ).

116. (2026). ‘Abdul Jabbar bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepadaku: Marwan Al-Fazari menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Hamzah menceritakan kepada kami: Abu Ghathafan Al-Murri mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Barang siapa yang lupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 2743

٥ - بَابُ مَا جَاءَ كَمۡ يُشَمَّتُ الۡعَاطِسُ
5. Bab Riwayat tentang Mengenai Berapa Kali Mendoakan Orang yang Bersin


٢٧٤٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا سُوَيۡدُ بۡنُ نَصۡرٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، عَنۡ إِيَاسِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: عَطَسَ رَجُلٌ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَنَا شَاهِدٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَرۡحَمُكَ اللهُ)، ثُمَّ عَطَسَ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هٰذَا رَجُلٌ مَزۡكُومٌ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [(ابن ماجه)(٣٧١٤)].

2743. [Sahih] Suwaid bin Nashr telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: ‘Ikrimah bin ‘Ammar mengabarkan kepada kami dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya. Ia berkata:

Ada seorang laki-laki bersin di dekat Rasulullah—shallallahu 'alaihi wa sallam—dan aku menyaksikannya, maka Rasulullah—shallallahu 'alaihi wa sallam—berkata kepadanya, “Yarḥamukallāh (Semoga Allah merahmatimu).”

Kemudian ia bersin untuk kedua kalinya, maka Rasulullah—shallallahu 'alaihi wa sallam—berkata, “Laki-laki ini sedang pilek.”

Ini adalah hadis hasan sahih.

٢٧٤٣ (م١) - (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، عَنۡ إِيَاسِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَهُ، إِلَّا أَنَّهُ قَالَ لَهُ فِي الثَّالِثَةِ: (أَنۡتَ مَزۡكُومٌ) هٰذَا أَصَحُّ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ الۡمُبَارَكِ. وَقَدۡ رَوَى شُعۡبَةُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ بۡنِ عَمَّارٍ هٰذَا الۡحَدِيثَ نَحۡوَ رِوَايَةِ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ. [انظر ما قبله].

2743. [Sahih] Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, dari Nabi Muhammad—shallallahu 'alaihi wa sallam—semisal itu, hanya saja beliau berkata kepadanya pada kali ketiga, “Engkau sedang pilek.”

Ini lebih sahih daripada hadis Ibnu Al-Mubarak. Syu’bah telah meriwayatkan hadis ini dari ‘Ikrimah bin ‘Ammar semisal riwayat Yahya bin Sa’id.

٢٧٤٣ (م٢) - حَدَّثَنَا بِذٰلِكَ أَحۡمَدُ بۡنُ الۡحَكَمِ الۡبَصۡرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ بۡنِ عَمَّارٍ بِهٰذَا. وَرَوَى عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ بۡنِ عَمَّارٍ نَحۡوَ رِوَايَةِ ابۡنِ الۡمُبَارَكِ وَقَالَ لَهُ فِي الثَّالِثَةِ: (أَنۡتَ مَزۡكُومٌ).

2743. Ahmad bin Al-Hakam Al-Bashri telah menceritakan hal itu kepada kami. Ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah bin ‘Ammar dengan hadis ini. ‘Abdurrahman bin Mahdi telah meriwayatkan dari ‘Ikrimah bin ‘Ammar semisal riwayat Ibnu Al-Mubarak, dan beliau bersabda kepadanya pada kali ketiga, “Engkau sedang pilek.”

٢٧٤٣ (م٣) - حَدَّثَنَا بِذٰلِكَ إِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ.

2743. Ishaq bin Mansyur telah menceritakan hal itu kepada kami. Ia berkata: ‘Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami.

Shahih Muslim hadis nomor 2993

٥٥ - (٢٩٩٣) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، عَنۡ إِيَاسِ بۡنِ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ، عَنۡ أَبِيهِ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضۡرِ هَاشِمُ بۡنُ الۡقَاسِمِ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ: حَدَّثَنِي إِيَاسُ بۡنُ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ؛ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ؛ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ، وَعَطَسَ رَجُلٌ عِنۡدَهُ فَقَالَ لَهُ: (يَرۡحَمُكَ اللهُ)، ثُمَّ عَطَسَ أُخۡرَى فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الرَّجُلُ مَزۡكُومٌ).

55. (2993). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami, dari Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’, dari ayahnya. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami—dan lafaz ini miliknya—: Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ menceritakan kepadaku bahwa ayahnya telah menceritakan kepadanya:

Ia mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ada seorang laki-laki bersin di dekat beliau, lalu beliau berkata kepadanya, “Yarḥamukallāh (Semoga Allah merahmatimu).”

Kemudian laki-laki itu bersin lagi, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadanya, “Laki-laki ini sedang pilek.”

Urutan Tingkatan dalam Beragama

Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,

التَّاسِعَةُ: الۡإِحۡسَانُ وَالۡإِيمَانُ وَالۡإِسۡلَامُ دَرَجَاتٌ، فَأَعۡلَى الدَّرَجَاتِ الۡإِحۡسَانُ، وَدُونَهُ دَرَجَةُ الۡإِيمَانِ، وَدُونَ ذٰلِكَ دَرَجَةُ الۡإِسۡلَامِ، فَكُلُّ مُحۡسِنٍ مُؤۡمِنٌ مُسۡلِمٌ، وَكُلُّ مُؤۡمِنٍ مُسۡلِمٌ، وَلَيۡسَ كُلُّ مُؤۡمِنٍ مُحۡسِنًا، وَلَا كُلُّ مُسۡلِمٍ مُؤۡمِنًا مُحۡسِنًا، وَلِهٰذَا جَاءَ فِي سُورَةِ الۡحُجُرَاتِ: ﴿قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ ﴾.

Kesembilan: Ihsan, iman, dan islam adalah tingkatan-tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah ihsan, di bawahnya adalah tingkatan iman, dan di bawah itu adalah tingkatan islam. Maka, setiap orang yang muhsin (pelaku ihsan) pasti seorang mukmin dan muslim, dan setiap mukmin pasti seorang muslim. Namun, tidak setiap mukmin itu muhsin, dan tidak setiap muslim itu mukmin maupun muhsin. Oleh karena itu, disebutkan dalam surah Al-Hujurat: “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk (berislam); karena iman belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS Al-Hujurat: 14).

وَلِلتَّفَاوُتِ فِي هٰذِهِ الدَّرَجَاتِ فَإِنَّهُ يُسۡتَثۡنَى فِي الۡإِيمَانِ عِنۡدَ أَهۡلِ السُّنَّةِ، فَإِذَا قِيلَ لِلرَّجُلِ: أَنۡتَ مُؤۡمِنٌ؟ قَالَ: إِنۡ شَاءَ اللهُ أَوۡ أَرۡجُو؛ لِأَنَّ فِي ذِكۡرِ الۡإِيمَانِ بِدُونِ اسۡتِثۡنَاءٍ تَزۡكِيَةً لِلنَّفۡسِ، وَمَنۡ جَاءَ عَنۡهُ مِنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ تَرۡكُ الۡاِسۡتِثۡنَاءِ فِي الۡإِيمَانِ، فَإِنَّ مَقۡصُودَهُ أَصۡلُ الۡإِيمَانِ الَّذِي هُوَ الۡإِسۡلَامُ، وَلَيۡسَ التَّزۡكِيَةَ.

Karena adanya perbedaan pada tingkatan-tingkatan ini, maka menurut ahli sunah diperbolehkan melakukan istitsna` (pengecualian) dalam hal iman. Yaitu, jika seseorang ditanya, “Apakah engkau seorang mukmin?”, maka ia menjawab, “Insyaallah” atau “Aku berharap (demikian)”. Hal ini dikarenakan menyebutkan iman tanpa istitsna` mengandung unsur menganggap suci diri. Adapun ulama ahli sunah yang tidak melakukan istitsna` dalam iman, maka yang dimaksudkan olehnya adalah pokok keimanan yang maknanya adalah islam, bukan bermaksud untuk menganggap suci diri.

Menyikapi Pelaku Dosa Besar

Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,

الثَّامِنَةُ: أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ وَسَطٌ فِي مُرۡتَكِبِ الۡكَبِيرَةِ بَيۡنَ الۡمُرۡجِئَةِ وَالۡخَوَارِجِ وَالۡمُعۡتَزِلَةِ، فَالۡمُرۡجِئَةُ فَرَّطُوا وَجَعَلُوهُ مُؤۡمِنًا كَامِلَ الۡإِيمَانِ، وَقَالُوا: لَا يَضُرُّ مَعَ الۡإِيمَانِ ذَنۡبٌ، كَمَا لَا يَنۡفَعُ مَعَ الۡكُفۡرِ طَاعَةٌ، وَالۡخَوَارِجُ وَالۡمُعۡتَزِلَةُ أَفۡرَطُوا فَأَخۡرَجُوهُ مِنَ الۡإِيمَانِ، ثُمَّ حَكَمَتِ الۡخَوَارِجُ بِكُفۡرِهِ، وَقَالَتِ الۡمُعۡتَزِلَةُ: إِنَّهُ فِي مَنۡزِلَةٍ بَيۡنَ الۡمَنۡزِلَتَيۡنِ، وَفِي الۡآخِرَةِ اتَّفَقُوا عَلَىٰ تَخۡلِيدِهِ فِي النَّارِ، وَأَهۡلُ السُّنَّةِ وَصَفُوا الۡعَاصِيَ بِأَنَّهُ مُؤۡمِنٌ نَاقِصُ الۡإِيمَانِ، فَلَمۡ يَجۡعَلُوهُ مُؤۡمِنًا كَامِلَ الۡإِيمَانِ كَمَا قَالَتِ الۡمُرۡجِئَةُ، وَلَمۡ يَجۡعَلُوهُ خَارِجًا مِنَ الۡإِيمَانِ كَمَا قَالَتِ الۡخَوَارِجُ وَالۡمُعۡتَزِلَةُ، بَلۡ قَالُوا: هُوَ مُؤۡمِنٌ بِإِيمَانِهِ، فَاسِقٌ بِكَبِيرَتِهِ، فَلَمۡ يُعۡطُوهُ الۡإِيمَانَ الۡمُطۡلَقَ، وَلَمۡ يَسۡلُبُوا عَنۡهُ مُطۡلَقَ الۡإِيمَانِ، وَإِنَّمَا ضَلَّتِ الۡمُرۡجِئَةُ لِأَنَّهُمۡ أَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ وَأَهۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعِيدِ، وَضَلَّتِ الۡخَوَارِجُ وَالۡمُعۡتَزِلَةُ لِأَنَّهُمۡ أَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعِيدِ وَأَهۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ، وَوَفَّقَ اللهُ أَهۡلَ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ لِلۡحَقِّ، فَأَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ وَالۡوَعِيدِ مَعًا، فَلَمۡ يَجۡعَلُوا مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ كَامِلَ الۡإِيمَانِ، وَلَمۡ يَجۡعَلُوهُ خَارِجًا مِنَ الۡإِيمَانِ فِي الدُّنۡيَا، وَفِي الۡآخِرَةِ أَمۡرُهُ إِلَىٰ اللهِ؛ إِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنۡ شَاءَ عَفَا عَنۡهُ، وَإِذَا عَذَّبَهُ فَإِنَّهُ لَا يُخَلِّدُهُ فِي النَّارِ كَمَا يُخَلِّدُ فِيهَا الۡكُفَّارَ، بَلۡ يُخۡرَجُ مِنۡهَا وَيُدۡخَلُ الۡجَنَّةَ.

Kedelapan: Ahli sunah waljamaah berada di tengah-tengah dalam menyikapi pelaku dosa besar, di antara kaum Murjiah, Khawarij, dan Muktazilah. Kaum Murjiah terlalu meremehkan (tafrith) dengan menganggap pelaku dosa besar sebagai mukmin yang sempurna imannya. Mereka berkata, “Dosa tidak membahayakan iman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat jika disertai kekafiran.”

Sebaliknya, kaum Khawarij dan Muktazilah bersikap berlebihan (ifrath) sehingga mengeluarkan pelaku dosa besar dari lingkaran iman. Kemudian Khawarij menghukuminya kafir, sedangkan Muktazilah berkata, “Ia berada di satu posisi di antara dua posisi (manzilah baina al-manzilatain).” Namun di akhirat, mereka (Khawarij dan Muktazilah) sepakat bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka.

Ahli sunah menyifati pelaku maksiat sebagai mukmin yang kurang imannya. Mereka tidak menjadikannya mukmin yang sempurna imannya sebagaimana klaim Murjiah dan tidak pula mengeluarkannya dari iman sebagaimana klaim Khawarij dan Muktazilah. Sebaliknya, mereka berkata, “Dia adalah seorang mukmin karena imannya, namun fasik karena dosa besarnya.” Mereka tidak memberinya sifat al-iman al-muthlaq (iman yang sempurna tanpa cacat), namun tidak pula mencabut darinya sifat muthlaq al-iman (pokok keimanan).

Sesungguhnya kaum Murjiah sesat karena mereka hanya menggunakan nas-nas janji (wa’d) dan mengabaikan nas-nas ancaman (wa’id). Sementara kaum Khawarij dan Muktazilah sesat karena mereka menggunakan nas-nas ancaman dan mengabaikan nas-nas janji. Allah memberikan taufik kepada ahli sunah waljamaah menuju kebenaran, sehingga mereka menggunakan nas janji dan ancaman secara bersamaan. Mereka tidak menganggap pelaku dosa besar sempurna imannya, tidak mengeluarkannya dari iman di dunia, dan di akhirat urusannya diserahkan kepada Allah; jika Dia berkehendak maka Dia mengazabnya, dan jika Dia berkehendak maka Dia memaafkannya. Jika Allah mengazabnya, maka Dia tidak mengekalkannya di neraka seperti orang kafir, melainkan ia akan dikeluarkan dari sana dan dimasukkan ke janah.

وَيَجۡتَمِعُ فِي الۡعَبۡدِ إِيمَانٌ وَمَعۡصِيَةٌ وَحُبٌّ وَبُغۡضٌ، فَيُحَبُّ عَلَىٰ مَا عِنۡدَهُ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَيُبۡغَضُ عَلَىٰ مَا عِنۡدَهُ مِنَ الۡفُسُوقِ وَالۡعِصۡيَانِ، وَهُوَ نَظِيرُ الشَّيۡبِ الَّذِي يَكُونُ مَحۡبُوبًا إِذَا نُظِرَ إِلَىٰ مَا بَعۡدَهُ وَهُوَ الۡمَوۡتُ، وَغَيۡرَ مَحۡبُوبٍ إِذَا نُظِرَ إِلَىٰ مَا قَبۡلَهُ وَهُوَ الشَّبَابُ، كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:

الشَّيۡبُ كُرۡهٌ وَكُرۡهٌ أَنۡ نُفَارِقَهُ فَاعۡجَبۡ لِشَيۡءٍ عَلَى الۡبُغۡضَاءِ مَحۡبُوبُ

Keimanan, kemaksiatan, cinta, dan benci dapat terkumpul dalam diri seorang hamba. Ia dicintai karena iman yang ada padanya dan dibenci karena kefasikan serta maksiat yang ada padanya. Hal ini serupa dengan uban. Ia menjadi sesuatu yang dicintai jika melihat apa yang sesudahnya yaitu kematian (sebagai pengingat), namun tidak dicintai jika melihat apa yang sebelumnya yaitu masa muda. Sebagaimana perkataan penyair, “Uban itu dibenci, namun berpisah dengannya pun terasa benci ... Maka heranlah pada sesuatu yang meskipun dibenci, ia tetap dicintai.”