Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5772

٥٤ - بَابٌ لَا عَدۡوَى
54. Bab Tidak Ada ‘Adwa (Penyakit Menular dengan Sendirinya)


٥٧٧٢ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَحَمۡزَةُ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا عَدۡوَى وَلَا طِيَرَةَ، إِنَّمَا الشُّؤۡمُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الۡفَرَسِ، وَالۡمَرۡأَةِ، وَالدَّارِ). [طرفه في: ٢٠٩٩].

5772. Sa’id bin ‘Ufair telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepadaku dari Yunus, dari Ibnu Syihab. Ia berkata: Salim bin ‘Abdullah dan Hamzah mengabarkan kepadaku: ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada ‘adwa dan tidak ada thiyarah (anggapan sial karena burung atau selainnya). Hanyanya kesialan itu ada pada tiga hal: pada kuda, wanita, dan tempat tinggal.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5753

٤٣ - بَابُ الطِّيَرَةِ
43. Bab Thiyarah (Anggapan Sial karena Sesuatu)


٥٧٥٣ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا عَدۡوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَالشُّؤۡمُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الۡمَرۡأَةِ، وَالدَّارِ، وَالدَّابَّةِ). [طرفه في: ٢٠٩٩].

5753. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Utsman bin ‘Umar menceritakan kepada kami: Yunus menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit dengan sendirinya) dan tidak ada thiyarah. Dan kesialan itu ada pada tiga hal: pada wanita, tempat tinggal, dan hewan tunggangan.”

Shahih Muslim hadis nomor 832

٥٢ - بَابُ إِسۡلَامِ عَمۡرِو بۡنِ عَبَسَةَ ‏
52. Bab Masuk Islamnya ‘Amr bin ‘Abasah


٢٩٤ - (٨٣٢) - حَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ الۡمَعۡقِرِيُّ: حَدَّثَنَا النَّضۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ: حَدَّثَنَا شَدَّادُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، أَبُو عَمَّارٍ، وَيَحۡيَىٰ بۡنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ - قَالَ عِكۡرِمَةُ: وَلَقِيَ شَدَّادٌ أَبَا أُمَامَةَ وَوَاثِلَةَ. وَصَحِبَ أَنَسًا إِلَى الشَّامِ. وَأَثۡنَىٰ عَلَيۡهِ فَضۡلًا وَخَيۡرًا - عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ، قَالَ عَمۡرُو بۡنُ عَبَسَةَ السُّلَمِيُّ:

294. (832). Ahmad bin Ja’far Al-Ma’qiri telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr bin Muhammad menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Syaddad bin ‘Abdullah Abu ‘Ammar dan Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepada kami dari Abu Umamah. ‘Ikrimah berkata: Dan Syaddad pernah bertemu dengan Abu Umamah dan Watsilah, serta pernah menemani Anas pergi ke Syam, lalu Anas memujinya dengan keutamaan dan kebaikan. Dari Abu Umamah, ia berkata: ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami berkata:

كُنۡتُ، وَأَنَا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، أَظُنُّ أَنَّ النَّاسَ عَلَىٰ ضَلَالَةٍ، وَأَنَّهُمۡ لَيۡسُوا عَلَىٰ شَيۡءٍ. وَهُمۡ يَعۡبُدُونَ الۡأَوۡثَانَ. فَسَمِعۡتُ بِرَجُلٍ بِمَكَّةَ يُخۡبِرُ أَخۡبَارًا. فَقَعَدۡتُ عَلَىٰ رَاحِلَتِي، فَقَدِمۡتُ عَلَيۡهِ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مُسۡتَخۡفِيًا، جُرَءَاءُ عَلَيۡهِ قَوۡمُهُ، فَتَلَطَّفۡتُ حَتَّى دَخَلۡتُ عَلَيۡهِ بِمَكَّةَ. فَقُلۡتُ لَهُ: مَا أَنۡتَ؟ قَالَ: (أَنَا نَبِيٌّ) فَقُلۡتُ: وَمَا نَبِيٌّ؟ قَالَ: (أَرۡسَلَنِي اللهُ) فَقُلۡتُ: وَبِأَيِّ شَيۡءٍ أَرۡسَلَكَ؟ قَالَ: (أَرۡسَلَنِي بِصِلَةِ الۡأَرۡحَامِ، وَكَسۡرِ الۡأَوۡثَانِ، وَأَنۡ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشۡرَكُ بِهِ شَيۡءٌ) قُلۡتُ لَهُ: فَمَنۡ مَعَكَ عَلَىٰ هٰذَا؟ قَالَ: (حُرٌّ وَعَبۡدٌ) – قَالَ: وَمَعَهُ يَوۡمَئِذٍ أَبُو بَكۡرٍ وَبِلَالٌ مِمَّنۡ آمَنَ بِهِ – فَقُلۡتُ: إِنِّي مُتَّبِعُكَ. قَالَ: (إِنَّكَ لَا تَسۡتَطِيعُ ذٰلِكَ يَوۡمَكَ هَٰذَا. أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ؟ وَلَٰكِنِ ارۡجِعۡ إِلَى أَهۡلِكَ. فَإِذَا سَمِعۡتَ بِي قَدۡ ظَهَرۡتُ فَأۡتِنِي) قَالَ: فَذَهَبۡتُ إِلَىٰ أَهۡلِي.

Dahulu ketika aku pada masa jahiliah, aku mengira bahwa manusia berada dalam kesesatan dan mereka tidak berada di atas suatu kebenaran sama sekali, yang mana mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar kabar tentang seorang lelaki di Makkah yang menyampaikan beberapa kabar. Aku pun duduk di atas hewan tungganganku, lalu aku mendatanginya. Ternyata Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan menyembunyikan diri secara sembunyi-sembunyi karena kaumnya bersikap keras terhadap beliau. Aku pun bersikap lemah lembut hingga berhasil masuk menemui beliau di Makkah.

Aku bertanya kepada beliau, “Siapakah Anda?”

Beliau menjawab, “Aku adalah seorang Nabi.”

Aku bertanya lagi, “Apakah Nabi itu?”

Beliau menjawab, “Allah telah mengutusku.”

Aku bertanya, “Dengan membawa urusan apa, Allah mengutus Anda?”

Beliau menjawab, “Dia mengutusku untuk menyambung tali silaturahmi, menghancurkan berhala-berhala, dan agar Allah ditauhidkan dengan tidak disekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

Aku bertanya kepada beliau, “Lantas siapakah yang menjadi pengikut Anda dalam urusan ini?”

Beliau menjawab, “Orang yang merdeka dan budak.”

‘Amr berkata: Dan yang bersama beliau dari kalangan orang yang beriman kepada beliau pada hari itu adalah Abu Bakr dan Bilal. Lalu aku berkata, “Sesungguhnya aku adalah pengikutmu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup melakukan hal itu pada harimu ini. Tidakkah kamu melihat kondisiku dan kondisi orang-orang? Akan tetapi, kembalilah dahulu kepada keluargamu. Nanti apabila kamu telah mendengar kabar tentangku bahwa aku telah menang, datanglah kepadaku.”

‘Amr berkata: Maka aku pun pulang menemui keluargaku.

وَقَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ - وَكُنۡتُ فِي أَهۡلِي - فَجَعَلۡتُ أَتَخَبَّرُ الۡأَخۡبَارَ وَأَسۡأَلُ النَّاسَ حِينَ قَدِمَ الۡمَدِينَةَ. حَتَّىٰ قَدِمَ عَلَيَّ نَفَرٌ مِنۡ أَهۡلِ يَثۡرِبَ مِنۡ أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ. فَقُلۡتُ: مَا فَعَلَ هَٰذَا الرَّجُلُ الَّذِي قَدِمَ الۡمَدِينَةَ؟ فَقَالُوا: النَّاسُ إِلَيۡهِ سِرَاعٌ. وَقَدۡ أَرَادَ قَوۡمُهُ قَتۡلَهُ فَلَمۡ يَسۡتَطِيعُوا ذٰلِكَ، فَقَدِمۡتُ الۡمَدِينَةَ، فَدَخَلۡتُ عَلَيۡهِ. فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَتَعۡرِفُنِي؟ قَالَ: (نَعَمۡ. أَنۡتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ؟) قَالَ: فَقُلۡتُ: بَلَىٰ.

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah—sementara aku masih berada di tengah-tengah keluargaku—. Aku mulai mencari-cari berita dan bertanya kepada orang-orang ketika beliau telah tiba di Madinah. Sampai akhirnya datang kepadaku sekelompok orang dari penduduk Yatsrib, yaitu dari penduduk Madinah. Aku bertanya, “Apa yang dilakukan oleh lelaki yang baru tiba di Madinah itu?”

Mereka menjawab, “Orang-orang bersegera menuju kepadanya. Kaumnya sebenarnya telah berniat untuk membunuhnya, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya.”

Aku pun mendatangi Madinah lalu masuk menemui beliau. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda mengenaliku?”

Beliau menjawab, “Ya. Kamu adalah orang yang pernah menemuiku di Makkah, bukan?”

‘Amr berkata: Maka aku menjawab, “Benar.”

فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَخۡبِرۡنِي عَمَّا عَلَّمَكَ اللهُ وَأَجۡهَلُهُ. أَخۡبِرۡنِي عَنِ الصَّلَاةِ؟ قَالَ: (صَلِّ صَلَاةَ الصُّبۡحِ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّىٰ تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ حَتَّىٰ تَرۡتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطۡلُعُ حِينَ تَطۡلُعُ بَيۡنَ قَرۡنَيۡ شَيۡطَانٍ. وَحِينَئِذٍ يَسۡجُدُ لَهَا الۡكُفَّارُ. ثُمَّ صَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشۡهُودَةٌ مَحۡضُورَةٌ، حَتَّىٰ يَسۡتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمۡحِ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسۡجَرُ جَهَنَّمُ، فَإِذَا أَقۡبَلَ الۡفَيۡءُ فَصَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشۡهُودَةٌ مَحۡضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الۡعَصۡرَ. ثُمَّ أَقۡصِرۡ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّىٰ تَغۡرُبَ الشَّمۡسُ. فَإِنَّهَا تَغۡرُبُ بَيۡنَ قَرۡنَيۡ شَيۡطَانٍ. وَحِينَئِذٍ يَسۡجُدُ لَهَا الۡكُفَّارُ).

Lalu aku berkata, “Wahai Nabi, kabarkanlah kepadaku tentang apa yang telah Allah ajarkan kepadamu sedangkan aku tidak mengetahuinya. Kabarkanlah kepadaku tentang salat.”

Beliau bersabda, “Kerjakanlah salat Subuh. Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat sampai matahari terbit hingga ia naik tinggi, karena sesungguhnya matahari itu terbit di antara dua tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian salatlah, karena sesungguhnya salat itu disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat), sampai bayangan tombak tegak lurus (waktu tengah hari). Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat, karena sesungguhnya pada waktu itu jahanam sedang dinyalakan sampai panas yang memuncak. Lalu apabila bayangan telah condong (ke barat), maka salatlah, karena sesungguhnya salat itu disaksikan dan dihadiri sampai kamu mengerjakan salat Asar. Kemudian tahanlah dirimu dari mengerjakan salat sampai matahari terbenam, karena sesungguhnya ia terbenam di antara dua tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya.”

قَالَ فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، فَالۡوُضُوءُ؟ حَدِّثۡنِي عَنۡهُ. قَالَ: (مَا مِنۡكُمۡ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضۡمَضُ وَيَسۡتَنۡشِقُ فَيَنۡتَثِرُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا وَجۡهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ. ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجۡهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا وَجۡهِهِ مِنۡ أَطۡرَافِ لِحۡيَتِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَغۡسِلُ يَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا يَدَيۡهِ مِنۡ أَنَامِلِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَمۡسَحُ رَأۡسَهُ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا رَأۡسِهِ مِنۡ أَطۡرَافِ شَعۡرِهِ مَعَ الۡمَاءِ. ثُمَّ يَغۡسِلُ قَدَمَيۡهِ إِلَىٰ الۡكَعۡبَيۡنِ إِلَّا خَرَّتۡ خَطَايَا رِجۡلَيۡهِ مِنۡ أَنَامِلِهِ مَعَ الۡمَاءِ، فَإِنۡ هُوَ قَامَ فَصَلَّىٰ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثۡنَىٰ عَلَيۡهِ، وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهۡلٌ، وَفَرَّغَ قَلۡبَهُ لِلهِ، إِلَّا انۡصَرَفَ مِنۡ خَطِيئَتِهِ كَهَيۡئَتِهِ يَوۡمَ وَلَدَتۡهُ أُمُّهُ).

‘Amr berkata: Lalu aku bertanya, “Wahai Nabi, bagaimanakah dengan wudu? Ceritakanlah kepadaku tentangnya.”

Beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang pun di antara kalian yang mendekatkan air wudunya, lalu ia berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung, dan mengeluarkannya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa wajahnya, dosa mulutnya, dan dosa lubang hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa wajahnya dari ujung-ujung jenggotnya bersama mengalirnya air. Kemudian ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kedua tangannya dari ujung jari-jarinya bersama mengalirnya air. Kemudian ia mengusap kepalanya, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung rambutnya bersama mengalirnya air. Kemudian ia membasuh kedua kakinya sampai ke kedua mata kaki, melainkan akan berjatuhan dosa-dosa kedua kakinya dari ujung jari-jari kakinya bersama mengalirnya air. Jika ia berdiri lalu mengerjakan salat, kemudian ia memuji Allah, menyanjung-Nya, dan mengagungkan-Nya dengan puji-pujian yang memang Dia pantas memilikinya, serta mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, melainkan ia akan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

فَحَدَّثَ عَمۡرُو بۡنُ عَبَسَةَ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ أَبَا أُمَامَةَ صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَقَالَ لَهُ أَبُو أُمَامَةَ: يَا عَمۡرَو بۡنَ عَبَسَةَ، انۡظُرۡ مَا تَقُولُ، فِي مَقَامٍ وَاحِدٍ يُعۡطَىٰ هٰذَا الرَّجُلُ؟ فَقَالَ عَمۡرٌو: يَا أَبَا أُمَامَةَ، لَقَدۡ كَبِرَتۡ سِنِّي، وَرَقَّ عَظۡمِي، وَاقۡتَرَبَ أَجَلِي، وَمَا بِي حَاجَةٌ أَنۡ أَكۡذِبَ عَلَى اللهِ، وَلَا عَلَىٰ رَسُولِ اللهِ. لَوۡ لَمۡ أَسۡمَعۡهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَّا مَرَّةً، أَوۡ مَرَّتَيۡنِ، أَوۡ ثَلَاثًا - حَتَّى عَدَّ سَبۡعَ مَرَّاتٍ - مَا حَدَّثۡتُ بِهِ أَبَدًا، وَلَٰكِنِّي سَمِعۡتُهُ أَكۡثَرَ مِنۡ ذٰلِكَ.

Lalu ‘Amr bin ‘Abasah menceritakan hadis ini kepada Abu Umamah, seorang sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Maka Abu Umamah berkata kepadanya, “Wahai ‘Amr bin ‘Abasah, perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah dalam satu rangkaian ibadah saja orang tersebut langsung diberikan pahala sebanyak ini?”

‘Amr menjawab, “Wahai Abu Umamah, sungguh usiaku telah tua, tulangku telah rapuh, ajalku telah dekat, dan aku tidak memiliki kepentingan sama sekali untuk berdusta atas nama Allah maupun atas nama Rasulullah. Seandainya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melainkan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali—hingga ia menghitungnya sampai tujuh kali—niscaya aku tidak akan menceritakannya sama sekali, akan tetapi aku telah mendengarnya lebih banyak daripada itu.”

Musnad Ahmad hadis nomor 27437 dan 27438

٢٧٤٣٧ (٢٦٨٩٨) - حَدَّثَنَا يَعۡلَى بۡنُ عُبَيۡدٍ. قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ- يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي خَالِدٍ- عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِئٍ. قَالَتۡ: لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ حَجَبُوهُ، وَأُتِيَ بِمَاءٍ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ صَلَّى الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مَا رَآهُ أَحَدٌ بَعۡدَهَا صَلَّاهَا.

27437. (26898). Ya’la bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Isma’il bin Abu Khalid menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Umu Hani`. Ia berkata: Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk pada hari penaklukan kota Makkah, orang-orang menutupi beliau, lalu dibawakan air kepada beliau maka beliau pun mandi. Kemudian beliau melaksanakan salat Duha sebanyak delapan rakaat. Tidak ada seorang pun yang melihat beliau melakukan salat Duha setelah itu.

٢٧٤٣٨ (٢٦٨٩٩) - حَدَّثَنَا هَارُونُ. قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ. قَالَ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ. قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ، أَنَّ أَبَاهُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنۡتَ أَبِي طَالِبٍ أَخۡبَرَتۡهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَى بَعۡدَمَا ارۡتَفَعَ النَّهَارُ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، فَأَمَرَ بِثَوۡبٍ، فَسُتِرَ عَلَيۡهِ فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، لَا أَدۡرِي، أَقِيَامُهُ فِيهَا أَطۡوَلُ، أَوۡ رُكُوعُهُ أَوۡ سُجُودُهُ، كُلُّ ذٰلِكَ مِنۡهُ مُتَقَارِبٌ، قَالَتۡ: فَلَمۡ أَرَهُ سَبَّحَهَا قَبۡلُ وَلَا بَعۡدُ. [صححه مسلم (٣٣٦)، وابن خزيمة (١٢٣٥)، وابن حبان (١١٨٧)]. [راجع: ٢٧٤٢٧].

27438. (26899). Harun telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yunus mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepadaku bahwa ayahnya, yaitu ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, menceritakan kepadanya: Umu Hani` binti Abu Thalib mengabarkannya:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang setelah hari mulai siang pada hari penaklukan kota Makkah, lalu beliau meminta selembar kain, maka beliau pun ditutupi dengan kain tersebut kemudian mandi. Setelah itu beliau berdiri lalu melaksanakan salat delapan rakaat. Aku tidak tahu, apakah berdirinya beliau di dalam salat itu yang lebih lama, ataukah rukuknya, ataukah sujudnya, sebab semua gerakan beliau itu lamanya berdekatan.

Umu Hani` berkata: Dan aku belum pernah melihat beliau melaksanakan salat sunah tersebut sebelum maupun sesudah peristiwa itu.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1323

١٣٢٣ - (منكر بزيادة التسليم، والمحفوظ دونها وهو (صحيح)) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ رُمۡحٍ، قَالَ: أَنۡبَأَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ عِيَاضِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ مَخۡرَمَةَ بۡنِ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ كُرَيۡبٍ، مَوۡلَى ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ أُمِّ هَانِىءٍ بِنۡتِ أَبِي طَالِبٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ - يَوۡمَ الۡفَتۡحِ - صَلَّى سُبۡحَةَ الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، [سَلَّمَ مِنۡ كُلِّ رَكۡعَتَيۡنِ]. [(صحيح أبي داود)(١١٦٨) و(ضعيفة)(٢٣٧): ق].

1323. [Munkar dengan adanya tambahan lafaz salam, sedangkan riwayat yang terjaga adalah tanpa tambahan tersebut dan derajatnya sahih] ‘Abdullah bin Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb memberitakan kepada kami dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah, dari Makhramah bin Sulaiman, dari Kuraib mantan budak Ibnu ‘Abbas, dari Umu Hani` binti Abu Thalib: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan kota Makkah melaksanakan salat sunah Duha sebanyak delapan rakaat, (beliau mengucapkan salam setiap dua rakaat).