Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 1325. 'Amir bin Al-Akwa'

١٣٢٥ - ​[عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَاعِ]:
1325. ‘Amir bin Al-Akwa’


عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَاعِ، ​وَهُوَ عَامِرُ بۡنُ سِنَانٍ الۡأَنۡصَارِيُّ عَمُّ سَلَمَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡأَكۡوَاعِ، اسۡتُشۡهِدَ عَامِرُ بۡنُ سِنَانٍ يَوۡمَ خَيۡبَرَ.

‘Amir bin Al-Akwa’. Dia adalah ‘Amir bin Sinan Al-Anshari, paman dari Salamah bin ‘Amr bin Al-Akwa’. ‘Amir bin Sinan gugur sebagai syahid pada Perang Khaibar.

قَرَأۡتُ عَلَى سَعِيدِ بۡنِ نَصۡرٍ أَنَّ قَاسِمَ بۡنَ أَصۡبَغَ حَدَّثَهُمۡ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ وَضَّاحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، حَدَّثَنَا هَاشِمُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا إِيَاسُ بۡنُ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَاعِ، قَالَ أَخۡبَرَنِي أَبِي قَالَ: لَمَّا خَرَجَ عَمِّي عَامِرُ بۡنُ سِنَانٍ إِلَى خَيۡبَرَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ جَعَلَ يَرۡتَجِزُ بِأَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَفِيهِمُ النَّبِيُّ ﷺ، فَجَعَلَ يَسُوقُ الرِّكَابَ، وَهُوَ يَقُولُ: [الرجز]

​بِاللهِ لَوۡلَا اللهُ مَا اهۡتَدَيۡنَا وَلَا تَصَدَّقۡنَا وَلَا صَلَّيۡنَا

إِنَّ الَّذِينَ قَدۡ بَغَوۡا عَلَيۡنَا إِذَا أَرَادُوا فِتۡنَةً أَبَيۡنَا

وَنَحۡنُ عَنۡ فَضۡلِكَ مَا اسۡتَغۡنَيۡنَا فَثَبِّتِ الۡأَقۡدَامَ إِنۡ لَاقَيۡنَا

وَأَنۡزِلَنۡ سَكِينَةً عَلَيۡنَا

Aku membacakan kepada Sa’id bin Nashr bahwa Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada mereka: Muhammad bin Wadhdhah menceritakan kepada kami: Abu Bakr bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ menceritakan kepada kami. Dia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku. Dia berkata:

Ketika pamanku, ‘Amir bin Sinan, keluar menuju Khaibar bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dia mulai bersyair untuk membakar semangat para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dalam keadaan di tengah-tengah mereka ada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Dia memacu unta-unta tunggangan seraya melantunkan syair:
Demi Allah, jikalau bukan karena Allah niscaya kita tidak mendapat petunjuk … tidak pula kita bersedekah dan tidak pula kita salat.

Sesungguhnya orang-orang yang telah berbuat zalim kepada kita … apabila mereka menginginkan fitnah, maka kami menolaknya.

Dan kami tidak pernah merasa cukup dari karunia-Mu … maka teguhkanlah telapak kaki kami apabila kami bertemu (musuh),

serta turunkanlah ketenangan atas kami.

​فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ هٰذَا)؟ قَالُوا: عَامِرٌ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: (غَفَرَ لَكَ رَبُّكَ). قَالَ: وَمَا اسۡتَغۡفَرَ لِإِنۡسَانٍ قَطُّ يَخُصُّهُ بِالِاسۡتِغۡفَارِ إِلَّا اسۡتُشۡهِدَ. قَالَ: فَلَمَّا سَمِعَ ذٰلِكَ عُمَرُ بۡنُ الخَطَّابِ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ مَتَّعۡتَنَا بِعَامِرٍ، فَاسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ خَيۡبَرَ.

Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah ini?”

Para sahabat menjawab, “‘Amir, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Semoga Rabmu mengampunimu.”

Salamah berkata: Dan tidaklah beliau memohonkan ampunan untuk seseorang secara khusus melainkan orang tersebut akan gugur sebagai syahid.

Salamah berkata: Ketika ‘Umar bin Al-Khaththab mendengar hal itu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, betapa bahagianya sekiranya engkau membiarkan kami tetap menikmati kebersamaan bersama ‘Amir.”

‘Amir pun gugur sebagai syahid pada Perang Khaibar.

قَالَ سَلَمَةُ: وَبَارَزَ عَمِّي يَوۡمَئِذٍ مَرۡحَبًا اليَهُودِيَّ فَقَالَ مَرۡحَبٌ: [الرجز]

​قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي مَرۡحَبُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ مُجَرَّبُ

إِذَا الۡحُرُوبُ أَقۡبَلَتۡ تَلَهَّبُ

Salamah berkata: Pamanku pada hari itu berduel melawan Marhab, si Yahudi. Lalu Marhab berkata, “Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab … bersenjata lengkap, kesatria yang berpengalaman, apabila peperangan telah berkobar meluap-luap.”

​فَقَالَ عَمِّي: [الرجز]

​قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي عَامِرُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ مُغَامِرُ

Pamanku membalas, “Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah ‘Amir … bersenjata lengkap, kesatria yang berani menerjang bahaya.”

​وَاخۡتَلَفَا ضَرۡبَتَيۡنِ، فَوَقَعَ سَيۡفُ مَرۡحَبٍ فِي تُرۡسِ عَامِرٍ، وَرَجَعَ سَيۡفُهُ عَلَى سَاقِهِ فَقَطَعَ أَكۡحَلَهُ، فَكَانَتۡ فِيهَا نَفۡسُهُ. قَالَ سَلَمَةُ: فَلَقِيتُ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالُوا: بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ، قَتَلَ نَفۡسَهُ. ​[قَالَ سَلَمَةُ]: ​فَجِئۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَا رَسُولَ اللهِ، بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ؟ فَقَالَ: (مَنۡ قَالَ ذٰلِكَ)؟ فَقُلۡتُ: نَاسٌ مِنۡ أَصۡحَابِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (​لَقَدۡ كَذَبَ مَنۡ قَالَ ذٰلِكَ، بَلۡ لَهُ أَجۡرُهُ مَرَّتَيۡنِ).

Keduanya saling menebaskan pedang. Pedang Marhab mendarat di perisai ‘Amir, sedangkan pedang ‘Amir berbalik arah ke arah betisnya sendiri hingga memotong pembuluh darahnya, yang menjadi sebab kematian jiwanya.

Salamah berkata: Aku lalu bertemu dengan beberapa orang dari sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mereka berkata, “Pahala amal ‘Amir gugur. Ia telah membunuh dirinya sendiri.”

Salamah berkata: Aku mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah gugur pahala amal ‘Amir?”

Beliau bertanya, “Siapa yang mengatakan demikian?”

Aku menjawab, “Orang-orang dari sahabatmu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata,“Sungguh orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bahkan dia mendapatkan pahalanya dua kali lipat.”

​قَالَ سَلَمَةُ: ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَرۡسَلَنِي إِلَى عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ وَقَالَ: (لَأُعۡطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ)، قَالَ: فَجِئۡتُ بِهِ أَقُودُهُ أَرۡمَدَ، فَبَصَقَ النَّبِيُّ ﷺ فِي عَيۡنَيۡهِ، ثُمَّ أَعۡطَاهُ الرَّايَةَ، ​فَخَرَجَ مَرۡحَبٌ يَخۡطِرُ بِسَيۡفِهِ، فَقَالَ: [الرجز]

​قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي مَرۡحَبُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ مُجَرَّبُ

إِذَا الۡحُرُوبُ أَقۡبَلَتۡ تَلَهَّبُ

​فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ:

​أَنَا الَّذِي سَمَّتۡنِي أُمِّي حَيۡدَرَهۡ كَلَيۡثِ غَابَاتٍ كَرِيهِ المَنۡظَرَهۡ

أُوفِيهِمُ بِالصَّاعِ كَيۡلَ السَّنۡدَرَهۡ

​فَفَلَقَ رَأۡسَ مَرۡحَبٍ بِالسَّيۡفِ، وَكَانَ الفَتۡحُ عَلَى يَدَيۡهِ.

Salamah berkata: Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutusku untuk memanggil ‘Ali bin Abu Thalib seraya bersabda, “Sungguh aku akan menyerahkan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Salamah berkata: Aku datang membimbing ‘Ali dalam keadaan matanya sedang sakit. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meludahi kedua matanya, kemudian menyerahkan panji itu kepadanya.

Kemudian, Marhab keluar seraya mengayun-ayunkan pedangnya lalu berkata, “Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab … bersenjata lengkap, kesatria yang berpengalaman, apabila peperangan telah berkobar meluap-luap.”

‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—menanggapi, “Akulah orang yang ibuku memberiku nama Haidarah … seperti singa hutan yang menakutkan pandangannya, aku akan membalas mereka dengan takaran yang setimpal dan secepat kilat.”

Kemudian, ‘Ali membelah kepala Marhab dengan pedang, dan kemenangan pun tercapai di bawah kepemimpinannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2494

٧ - بَابُ شَرِكَةِ الۡيَتِيمِ وَأَهۡلِ الۡمِيرَاثِ
7. Bab Perserikatan Anak Yatim dan Ahli Waris


٢٤٩٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡعَامِرِيُّ الۡأُوَيۡسِيُّ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ: أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا. وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، عَنۡ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا﴾ إِلَى: ﴿وَرُبَاعَ﴾ [النساء: ٣].

2494. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Al-‘Amiri Al-Uwaisi telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Shalih, dari Ibnu Syihab: ‘Urwah mengabarkan kepadaku: Ia bertanya kepada ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Dan Al-Laits berkata: Yunus menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab. Ia berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Ia bertanya kepada ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—tentang firman Allah taala: “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil …” hingga: “… dan empat.” (QS An-Nisa’: 3).

فَقَالَتۡ: يَا ابۡنَ أُخۡتِي، هِيَ الۡيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجۡرِ وَلِيِّهَا، تُشَارِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيُعۡجِبُهُ مَالُهَا وَجَمَالُهَا، فَيُرِيدُ وَلِيُّهَا أَنۡ يَتَزَوَّجَهَا، بِغَيۡرِ أَنۡ يُقۡسِطَ فِي صَدَاقِهَا، فَيُعۡطِيهَا مِثۡلَ مَا يُعۡطِيهَا غَيۡرُهُ، فَنُهُوا أَنۡ يَنۡكِحُوهُنَّ إِلَّا أَنۡ يُقۡسِطُوا لَهُنَّ، وَيَبۡلُغُوا بِهِنَّ أَعۡلَى سُنَّتِهِنَّ مِنَ الصَّدَاقِ، وَأُمِرُوا أَنۡ يَنۡكِحُوا مَا طَابَ لَهُمۡ مِنَ النِّسَاءِ سِوَاهُنَّ.

‘Aisyah berkata: Wahai putra saudaraku, anak perempuan yatim itu berada dalam pengasuhan walinya dan berserikat dengannya dalam hartanya. Lalu harta dan kecantikannya membuat walinya tertarik, sehingga walinya ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam maharnya, yaitu tidak memberinya mahar setara dengan mahar yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Mereka dilarang menikahi anak-anak yatim tersebut kecuali mereka berlaku adil kepada mereka dan memberikan mahar tertinggi yang menjadi hak mereka, serta mereka diperintahkan untuk menikahi wanita-wanita lain yang menyenangkan hati mereka selain anak-anak yatim itu.

قَالَ عُرۡوَةُ: قَالَتۡ عَائِشَةُ: ثُمَّ إِنَّ النَّاسَ اسۡتَفۡتَوۡا رَسُولَ اللهِ ﷺ بَعۡدَ هٰذِهِ الۡآيَةِ، فَأَنۡزَلَ اللهُ: ﴿وَيَسۡتَفۡتُونَكَ فِي النِّسَاءِ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَتَرۡغَبُونَ أَنۡ تَنۡكِحُوهُنَّ﴾ [النساء: ١٢٧] وَالَّذِي ذَكَرَ اللهُ أَنَّهُ يُتۡلَى عَلَيۡكُمۡ فِي الۡكِتَابِ الۡآيَةُ الۡأُولَى، الَّتِي قَالَ فِيهَا: ﴿وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا فِي الۡيَتَامَى فَانۡكِحُوا مَا طَابَ لَكُمۡ مِنَ النِّسَاءِ﴾ [النساء: ٣]‏ قَالَتۡ عَائِشَةُ: وَقَوۡلُ اللهِ فِي الۡآيَةِ الۡأُخۡرَى: ﴿وَتَرۡغَبُونَ أَنۡ تَنۡكِحُوهُنَّ﴾ هِيَ رَغۡبَةُ أَحَدِكُمۡ لِيَتِيمَتِهِ الَّتِي تَكُونُ فِي حَجۡرِهِ، حِينَ تَكُونُ قَلِيلَةَ الۡمَالِ وَالۡجَمَالِ، فَنُهُوا أَنۡ يَنۡكِحُوا مَا رَغِبُوا فِي مَالِهَا وَجَمَالِهَا مِنۡ يَتَامَى النِّسَاءِ إِلَّا بِالۡقِسۡطِ، مِنۡ أَجۡلِ رَغۡبَتِهِمۡ عَنۡهُنَّ.

[الحديث ٢٤٩٤ - أطرافه في: ٢٧٦٣، ٤٥٧٣، ٤٥٧٤، ٤٦٠٠، ٥٠٦٤، ٥٠٩٢، ٥٠٩٨، ٥١٢٨، ٥١٣١، ٥١٤٠، ٦٩٦٥].

‘Urwah berkata: ‘Aisyah berkata: Kemudian orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—setelah turunnya ayat ini, lalu Allah menurunkan, “Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita …” hingga firman-Nya: “… sedang kalian ingin menikahi mereka.” (QS An-Nisa’: 127). Ayat yang Allah sebutkan bahwa itu dibacakan kepada kamu dalam Al-Qur’an adalah ayat pertama, yang Dia berfirman di dalamnya, “Dan jika kalian khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.” (QS An-Nisa’: 3). ‘Aisyah berkata: Dan firman Allah dalam ayat yang lain: “... wa targhabuna an tankihuhunna …” itu adalah keengganan salah seorang dari kalian menikahi anak yatimnya yang berada dalam pengasuhannya ketika anak yatim itu sedikit harta dan kecantikannya. Maka mereka dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka minati harta dan kecantikannya kecuali dengan berlaku adil, disebabkan oleh keengganan mereka terhadap perempuan-perempuan yatim yang hartanya sedikit dan tidak cantik itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2493

٦ - بَابٌ هَلۡ يُقۡرَعُ فِي الۡقِسۡمَةِ؟ وَالِاسۡتِهَامِ فِيهِ
6. Bab Apakah Diadakan Undian dalam Pembagian dan Pengundian di Dalamnya


٢٤٩٣ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ قَالَ: سَمِعۡتُ عَامِرًا يَقُولُ: سَمِعۡتُ النُّعۡمَانَ بۡنَ بَشِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَثَلُ الۡقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالۡوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوۡمٍ اسۡتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعۡضُهُمۡ أَعۡلَاهَا وَبَعۡضُهُمۡ أَسۡفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسۡفَلِهَا إِذَا اسۡتَقَوۡا مِنَ الۡمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنۡ فَوۡقَهُمۡ، فَقَالُوا: لَوۡ أَنَّا خَرَقۡنَا فِي نَصِيبِنَا خَرۡقًا وَلَمۡ نُؤۡذِ مَنۡ فَوۡقَنَا، فَإِنۡ يَتۡرُكُوهُمۡ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنۡ أَخَذُوا عَلَى أَيۡدِيهِمۡ نَجَوۡا وَنَجَوۡا جَمِيعًا). [الحديث ٢٤٩٣ - طرفه في: ٢٦٨٦].

2493. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Zakariyya` menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar ‘Amir berkata: Aku mendengar An-Nu’man bin Basyir—radhiyallahu ‘anhuma—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang yang teguh mematuhi batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang melakukan undian untuk menempati sebuah kapal. Sebagian mereka mendapat bagian atasnya dan sebagian lagi mendapat bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah, apabila mereka hendak mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Lantas mereka berkata, ‘Seandainya kita membuat lubang di bagian kita, tentu kita tidak akan mengganggu orang-orang yang di atas kita.’ Jika mereka membiarkan orang-orang bawah tersebut melakukan kemauannya, niscaya mereka semua binasa. Namun, jika mereka menghentikan perbuatan mereka, niscaya mereka selamat dan selamat pula semuanya.”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 551

٥٥١ - (صحيح دون جملة العذر، وبلفظ: (ولا صَلاة له)) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، ثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ أَبِي جَنَابٍ، عَنۡ مَغۡرَاءَ الۡعَبۡدِيِّ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ سَمِعَ الۡمُنَادِيَ فَلَمۡ يَمۡنَعۡهُ مِنَ اتِّبَاعِهِ عُذۡرٌ)- قَالُوا: وَمَا الۡعُذۡرُ؟ قَالَ: (خَوۡفٌ أَوۡ مَرَضٌ)-. لَمۡ تُقۡبَلۡ مِنۡهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى. [(المشكاة)].

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: [وَ]رَوَى عَنۡ مَغۡرَاءَ أَبُو إِسۡحَاقَ.

551. [Sahih tanpa kalimat uzur, dan dengan lafaz: “Dan tidak ada salat baginya”] Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Abu Janab, dari Maghra` Al-‘Abdi, dari ‘Adi bin Tsabit, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa mendengar muazin lalu tidak ada uzur yang menghalanginya untuk memenuhi seruannya …”

Para sahabat bertanya, “Apa uzur itu?”

Beliau menjawab, “Ketakutan atau sakit.” Maka salat yang telah ia kerjakan tidak diterima darinya.

Abu Dawud berkata: Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Maghra`.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2491 dan 2492

٥ - بَابُ تَقۡوِيمِ الۡأَشۡيَاءِ بَيۡنَ الشُّرَكَاءِ بِقِيمَةِ عَدۡلٍ
5. Bab Penilaian Harga Barang di Antara Orang-Orang yang Berserikat secara Adil


٢٤٩١ - حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَعۡتَقَ شِقۡصًا لَهُ مِنۡ عَبۡدٍ - أَوۡ شِرۡكًا، أَوۡ قَالَ: نَصِيبًا - وَكَانَ لَهُ مَا يَبۡلُغُ ثَمَنَهُ بِقِيمَةِ الۡعَدۡلِ فَهُوَ عَتِيقٌ، وَإِلَّا فَقَدۡ عَتَقَ مِنۡهُ مَا عَتَقَ). قَالَ: لَا أَدۡرِي قَوۡلُهُ: عَتَقَ مِنۡهُ مَا عَتَقَ، قَوۡلٌ مِنۡ نَافِعٍ، أَوۡ فِي الۡحَدِيثِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [الحديث ٢٤٩١ - أطرافه في: ٢٥٠٣، ٢٥٢١، ٢٥٢٢، ٢٥٢٣، ٢٥٢٤، ٢٥٢٥].

2491. ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan bagian miliknya dari seorang budak—atau porsinya, atau ia berkata: bagiannya—, dan ia memiliki harta yang mencukupi untuk melunasi harganya dengan nilai yang adil, maka budak itu menjadi merdeka seluruhnya. Jika ia tidak memiliki (harta yang cukup), maka budak itu merdeka sebatas bagian yang dimerdekakannya saja.”

Ayyub berkata: Aku tidak tahu apakah ucapan “maka telah merdeka dari budak tersebut apa yang telah merdeka” merupakan ucapan Nafi’ atau bagian dari hadis dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

٢٤٩٢ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنِ النَّضۡرِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ بَشِيرِ بۡنِ نَهِيكٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ أَعۡتَقَ شَقِيصًا مِنۡ مَمۡلُوكِهِ فَعَلَيۡهِ خَلَاصُهُ فِي مَالِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَكُنۡ لَهُ مَالٌ، قُوِّمَ الۡمَمۡلُوكُ قِيمَةَ عَدۡلٍ، ثُمَّ اسۡتُسۡعِيَ غَيۡرَ مَشۡقُوقٍ عَلَيۡهِ). [الحديث ٢٤٩٢ - أطرافه في: ٢٥٠٤، ٢٥٢٦، ٢٥٢٧].

2492. Bisyr bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Sa’id bin Abu ‘Arubah mengabarkan kepada kami dari Qatadah, dari An-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nahik, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa yang memerdekakan porsi kepemilikan dari budak milik bersama, maka ia wajib memerdekakannya secara penuh dari hartanya. Jika ia tidak memiliki harta, maka budak tersebut dinilai dengan nilai yang adil, kemudian ia diminta untuk bekerja guna melunasi sisa pembebasannya tanpa memberatkannya.”