Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4860

٤٨٦٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا هِشَامُ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ حُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالۡعُزَّى، فَلۡيَقُلۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنۡ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرۡكَ، فَلۡيَتَصَدَّقۡ). [الحديث ٤٨٦٠ - أطرافه في: ٦١٠٧، ٦٣٠١، ٦٦٥٠].

4860. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Hisyam bin Yusuf mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Humaid bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa bersumpah lalu mengatakan dalam sumpahnya: ‘Demi Latt dan ‘Uzza,’ hendaklah ia mengucapkan: ‘La ilaha illallah.’ Barang siapa berkata kepada temannya: ‘Ayo main judi denganku,’ hendaklah ia bersedekah.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 3530

٣٩ - بَابُ تَعۡلِيقِ التَّمَائِمِ
39. Bab Menggantungkan Jimat


٣٥٣٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الرَّقِّيُّ، قَالَ مُعَمَّرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ بِشۡرٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ الۡجَزَّارِ، عَنِ ابۡنِ أُخۡتِ زَيۡنَبَ، امۡرَأَةِ عَبۡدِ اللهِ؛ عَنۡ زَيۡنَبَ؛ قَالَتۡ: كَانَتۡ عَجُوزٌ تَدۡخُلُ عَلَيۡنَا تَرۡقِي مِنَ الۡحُمۡرَةِ، وَكَانَ لَنَا سَرِيرٌ طَوِيلُ الۡقَوَائِمِ، وَكَانَ عَبۡدُ اللهِ، إِذَا دَخَلَ، تَنَحۡنَحَ وَصَوَّتَ، فَدَخَلَ يَوۡمًا، فَلَمَّا سَمِعَتۡ صَوۡتَهُ احۡتَجَبَتۡ مِنۡهُ، فَجَاءَ فَجَلَسَ إِلَى جَانِبِي، فَمَسَّنِي فَوَجَدَ مَسَّ خَيۡطٍ، فَقَالَ: مَا هٰذَا؟ فَقُلۡتُ: رُقًى لِي فِيهِ مِنَ الۡحُمۡرَةِ، فَجَذَبَهُ وَقَطَعَهُ، فَرَمَى بِهِ، وَقَالَ: لَقَدۡ أَصۡبَحَ آلُ عَبۡدِ اللهِ أَغۡنِيَاءَ، عَنِ الشِّرۡكِ. سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرۡكٌ). قُلۡتُ: فَإِنِّي خَرَجۡتُ يَوۡمًا فَأَبۡصَرَنِي فُلَانٌ، فَدَمَعَتۡ عَيۡنِي الَّتِي تَلِيهِ، فَإِذَا رَقَيۡتُهَا سَكَنَتۡ دَمۡعَتُهَا، وَإِذَا تَرَكۡتُهَا دَمَعَتۡ، قَالَ: ذَاكِ الشَّيۡطَانُ، إِذَا أَطَعۡتِهِ تَرَكَكِ، وَإِذَا عَصَيۡتِهِ طَعَنَ بِإِصۡبَعِهِ فِي عَيۡنِكِ، وَلَكِنۡ لَوۡ فَعَلۡتِ كَمَا فَعَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، كَانَ خَيۡرًا لَكِ، وَأَجۡدَرَ أَنۡ تَشۡفِينَ، تَنۡضَحِينَ فِي عَيۡنِكِ الۡمَاءَ وَتَقُولِينَ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسۡ رَبَّ النَّاسِ، اشۡفِ، أَنۡتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا). [(الصحيحة)(٣٣١)، (غاية المرام)(٢٩٩)، (تخريج الإيمان) لابن سلام(٨١)].

3530. [Sahih] Ayyub bin Muhammad Ar-Raqqi telah menceritakan kepada kami: Mu’ammar bin Sulaiman berkata: ‘Abdullah bin Bisyr menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Amr bin Murrah, dari Yahya bin Al-Jazzar, dari keponakan laki-laki Zainab istri ‘Abdullah, dari Zainab. Ia berkata:

Dahulu ada seorang wanita tua yang sering berkunjung kepada kami untuk merukiah penyakit humrah (erisipelas). Kami memiliki sebuah tempat tidur yang kaki-kakinya tinggi. ‘Abdullah biasanya apabila hendak masuk rumah, ia berdeham dan bersuara. Suatu hari ia masuk, dan ketika wanita tua itu mendengar suaranya, ia pun bersembunyi darinya. ‘Abdullah datang lalu duduk di sampingku dan menyentuhku, lalu ia mendapati sentuhan seutas benang. Ia bertanya, “Apa ini?”

Aku menjawab, “Rukiah untukku yang padanya terdapat pelindung dari humrah.”

Ia memegang dan memutuskannya, lalu melemparkannya seraya berkata, “Sungguh, keluarga ‘Abdullah tidak membutuhkan kesyirikan. Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan tiwalah (pelet) adalah syirik’.”

Aku berkata, “Sesungguhnya aku suatu hari keluar, lalu si Fulan melihatku sehingga mataku yang berada di dekatnya mengeluarkan air mata. Apabila aku merukiahnya, air matanya pun reda, tetapi apabila aku membiarkannya, mata itu kembali mengeluarkan air mata.”

‘Abdullah berkata, “Itu adalah perbuatan setan. Apabila engkau menaatinya, ia membiarkanmu, dan apabila engkau menentangnya, ia menusuk matamu dengan jarinya. Akan tetapi, sekiranya engkau melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, tentu itu lebih baik bagimu dan lebih patut untuk menyembuhkanmu, yaitu engkau memercikkan air ke matamu dan mengucapkan: Ażhibil-ba’sa rabban-nās, isyfi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqamā. (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rab manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.)”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6650

٥ - بَابٌ لَا يُحۡلَفُ بِاللَّاتِ وَالۡعُزَّى وَلَا بِالطَّوَاغِيتِ
5. Bab Tidak Boleh Bersumpah dengan Latt, ‘Uzza, dan Tagut-Tagut


٦٦٥٠ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ حُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ حَلَفَ، فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللَّاتِ وَالۡعُزَّى، فَلۡيَقُلۡ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنۡ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرۡكَ، فَلۡيَتَصَدَّقۡ). [طرفه في: ٤٨٦٠].

6650. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: Hisyam bin Yusuf menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Humaid bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa bersumpah lalu mengatakan dalam sumpahnya: ‘Demi Latt dan ‘Uzza,’ hendaklah ia mengucapkan: ‘La ilaha illallah.’ Barang siapa berkata kepada temannya: ‘Kemarilah, aku ajak engkau bertaruh,’ hendaklah ia bersedekah.”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 3883

١٧ - بَابٌ فِي تَعۡلِيقِ التَّمَائِمِ
17. Bab tentang Menggantungkan Tamimah


٣٨٨٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، نا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ الۡجَزَّارِ، عَنِ ابۡنِ أَخِي زَيۡنَبَ امۡرَأَةِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ زَيۡنَبَ امۡرَأَةِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرۡكٌ). قَالَتۡ: قُلۡتُ: لِمَ تَقُولُ هٰذَا؟ وَاللهِ لَقَدۡ كَانَتۡ عَيۡنِي تَقۡذِفُ، وَكُنۡتُ أَخۡتَلِفُ إِلَى فُلَانٍ الۡيَهُودِيِّ يَرۡقِينِي، فَإِذَا رَقَانِي سَكَنَتۡ، فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: إِنَّمَا ذٰلِكِ عَمَلُ الشَّيۡطَانِ، كَانَ يَنۡخَسُهَا بِيَدِهِ فَإِذَا رَقَاهَا كَفَّ عَنۡهَا، إِنَّمَا كَانَ يَكۡفِيكِ أَنۡ تَقُولِي كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (أَذۡهِبِ الۡبَأۡسَ رَبَّ النَّاسِ، اشۡفِ أَنۡتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا).

3883. Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah, dari Yahya bin Al-Jazzar, dari keponakan laki-laki Zainab istri ‘Abdullah, dari Zainab istri ‘Abdullah, dari ‘Abdullah. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan tiwalah (pelet) adalah syirik.”

Zainab berkata: Aku bertanya, “Mengapa engkau berkata demikian? Demi Allah, mataku dahulu pernah sakit, lalu aku bolak-balik mendatangi si Fulan orang Yahudi itu untuk merukiahku. Apabila ia merukiahku, rasa sakitnya pun reda.”

‘Abdullah berkata, “Sesungguhnya itu hanyalah perbuatan setan, ia sebelumnya menusuk mata itu dengan tangannya. Apabila orang Yahudi itu merukiahnya, setan pun menahan diri darinya. Padahal cukuplah bagimu mengucapkan sebagaimana yang biasa diucapkan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Ażhibil-ba’sa rabban-nās, isyfi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqamā. (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rab manusia! Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit).”

Tafsir Surah Al-Insyirah

تَفۡسِيرُ سُورَةِ أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ


وَهِيَ مَكِّيَّةٌ

Surah ini makiyah.


﴿أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ ‎*‏ وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ * ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ * وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ * فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ‎* إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا * فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ * وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب﴾

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
  2. dan Kami telah menghilangkan bebanmu darimu,
  3. yang memberatkan punggungmu?
  4. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu,
  5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
  6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
  7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
  8. dan hanya kepada Rabmulah hendaknya kamu berharap.

۝١ يَقُولُ تَعَالَى - مُمۡتَنًّا عَلَى رَسُولِهِ -: ﴿أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ﴾ أَيۡ: نَوَسِّعُهُ لِشَرَائِعِ الدِّينِ وَالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ وَالِاتِّصَافِ بِمَكَارِمِ الۡأَخۡلَاقِ وَالۡإِقۡبَالِ عَلَى الۡآخِرَةِ وَتَسۡهِيلِ الۡخَيۡرَاتِ.

Allah taala berfirman—seraya menganugerahkan nikmat kepada Rasul-Nya—, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?” artinya: Kami melapangkannya untuk syariat-syariat agama dan dakwah kepada Allah, berhias dengan akhlak mulia, menghadap kepada akhirat, serta memudahkan berbagai kebaikan.

فَلَمۡ يَكُنۡ ضَيِّقًا حَرَجًا لَا يَكَادُ يَنۡقَادُ لِخَيۡرٍ وَلَا تَكَادُ تَجِدُهُ مُنۡبَسِطًا.

Sehingga dada tersebut tidak menjadi sempit lagi sesak, yang hampir tidak tunduk pada kebaikan dan hampir tidak engkau dapati dalam keadaan lapang.

۝٢، ۝٣ ﴿وَوَضَعۡنَا عَنۡكَ وِزۡرَكَ﴾ أَيۡ: ذَنۡبَكَ ﴿ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ﴾ أَيۡ: أَثۡقَلَ ﴿ظَهۡرَكَ﴾، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ﴾.

“Dan Kami pun telah menanggalkan bebanmu darimu” artinya: dosamu, “yang anqadha” artinya: memberatkan “punggungmu” sebagaimana firman Allah taala, “Agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” (QS Al-Fath: 2).

۝٤ ﴿وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ﴾ أَيۡ: أَعۡلَيۡنَا قَدۡرَكَ، وَجَعَلۡنَا لَكَ الثَّنَاءَ الۡحَسَنَ الۡعَالِيَ الَّذِي لَمۡ يَصِلۡ إِلَيۡهِ أَحَدٌ مِنَ الۡخَلۡقِ.

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu” artinya: Kami tinggikan kedudukanmu dan Kami jadikan bagimu pujian yang baik lagi tinggi, yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun dari kalangan makhluk.

فَلَا يُذۡكَرُ اللهُ إِلَّا ذُكِرَ مَعَهُ رَسُولُهُ ﷺ، كَمَا فِي الدُّخُولِ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَفِي الۡأَذَانِ، وَالۡإِقَامَةِ، وَالۡخُطَبِ، وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأُمُورِ الَّتِي أَعۡلَى اللهُ بِهَا ذِكۡرَ رَسُولِهِ مُحَمَّدٍ ﷺ. وَلَهُ فِي قُلُوبِ أُمَّتِهِ مِنَ الۡمَحَبَّةِ وَالۡإِجۡلَالِ وَالتَّعۡظِيمِ، مَا لَيۡسَ لِأَحَدٍ غَيۡرِهِ بَعۡدَ اللهِ تَعَالَى. فَجَزَاهُ اللهُ عَنۡ أُمَّتِهِ أَفۡضَلَ مَا جَزَى نَبِيًّا عَنۡ أُمَّتِهِ.

Tidaklah Allah disebut melainkan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—disebut bersama-Nya, sebagaimana saat masuk Islam, dalam azan, ikamah, khotbah-khotbah, dan perkara lainnya yang Allah meninggikan sebutan nama Rasul-Nya, Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Di dalam hati umatnya, beliau mendapatkan bagian rasa cinta, penghormatan, dan pengagungan yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain beliau, setelah Allah taala. Semoga Allah membalas beliau dari umatnya dengan balasan terbaik yang pernah diberikan kepada seorang nabi dari umatnya.

۝٥، ۝٦ وَقَوۡلُهُ: ﴿فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ‎* إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا﴾ بِشَارَةٌ عَظِيمَةٌ، أَنَّهُ كُلَّمَا وُجِدَ عُسۡرٌ وَصُعُوبَةٌ، فَإِنَّ الۡيُسۡرَ يُقَارِنُهُ وَيُصَاحِبُهُ، حَتَّى لَوۡ دَخَلَ الۡعُسۡرُ جُحۡرَ ضَبٍّ لَدَخَلَ عَلَيۡهِ الۡيُسۡرُ فَأَخۡرَجَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٍ يُسۡرًا﴾.

Dan firman-Nya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” merupakan kabar gembira yang sangat agung, bahwa setiap kali terdapat kesulitan dan kesukaran, maka kemudahan menyertainya dan mendampinginya. Bahkan seandainya kesulitan itu masuk ke lubang dab (kadal gurun), niscaya kemudahan akan masuk menghampirinya lalu mengeluarkannya, sebagaimana firman Allah taala: “Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesulitan.” (QS At-Talaq: 7).

وَكَمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَإِنَّ الۡفَرَجَ مَعَ الۡكَرۡبِ، وَإِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا).

Juga sebagaimana sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Dan sesungguhnya kelapangan itu bersama kesusahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

وَتَعۡرِيفُ (الۡعُسۡرِ) فِي الۡآيَتَيۡنِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدٌ، وَتَنۡكِيرُ (الۡيُسۡرِ) يَدُلُّ عَلَى تَكۡرَارِهِ، فَلَنۡ يَغۡلِبَ عُسۡرٌ يُسۡرَيۡنِ.

Penggunaan makrifah pada kata “al-‘usr (kesulitan)” dalam kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa kesulitan itu tunggal, sedangkan penggunaan nakirah pada kata “yusr (kemudahan)” menunjukkan keberulangannya, maka satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.

وَفِي تَعۡرِيفِهِ بِالۡأَلِفِ وَاللَّامِ، الدَّالَّةِ عَلَى الِاسۡتِغۡرَاقِ وَالۡعُمُومِ، يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ عُسۡرٍ - وَإِنۡ بَلَغَ مِنَ الصُّعُوبَةِ مَا بَلَغَ - فَإِنَّهُ فِي آخِرِهِ التَّيۡسِيرُ مُلَازِمٌ لَهُ.

Bentuk makrifah dengan alif dan lam yang menunjukkan arti cakupan menyeluruh dan umum menandakan bahwa setiap kesulitan—walaupun mencapai tingkat kesukaran yang bagaimanapun—maka pada akhirnya kemudahan pasti menyertainya.

ثُمَّ أَمَرَ اللهُ رَسُولَهُ أَصۡلًا وَالۡمُؤۡمِنِينَ تَبَعًا بِشُكۡرِهِ وَالۡقِيَامِ بِوَاجِبِ نِعَمِهِ، فَقَالَ:

Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya pada asalnya, namun kaum mukminin ikut tercakup di dalamnya, untuk bersyukur kepada-Nya serta menunaikan kewajiban atas nikmat-nikmat-Nya, maka Dia berfirman:

۝٧ ﴿فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ﴾ أَيۡ: إِذَا تَفَرَّغۡتَ مِنۡ أَشۡغَالِكَ وَلَمۡ يَبۡقَ فِي قَلۡبِكَ مَا يَعُوقُهُ، فَاجۡتَهِدۡ فِي الۡعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras” artinya: jika engkau telah luang dari kesibukanmu dan tidak ada lagi di dalam hatimu hal yang menghalanginya, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa.

۝٨ ﴿وَإِلَىٰ رَبِّكَ﴾ وَحۡدَهُ ﴿فَٱرۡغَب﴾ أَيۡ: أَعۡظِمِ الرَّغۡبَةَ فِي إِجَابَةِ دُعَائِكَ وَقَبُولِ عِبَادَاتِكَ.

“Dan kepada Rabmu” semata “engkau berharap” artinya: besarkanlah harapan dalam pengabulan doamu dan penerimaan ibadah-ibadahmu.

وَلَا تَكُنۡ مِمَّنۡ إِذَا فَرَغُوا وَتَفَرَّغُوا لَعِبُوا وَأَعۡرَضُوا عَنۡ رَبِّهِمۡ وَعَنۡ ذِكۡرِهِ، فَتَكُونَ مِنَ الۡخَاسِرِينَ.

Janganlah engkau termasuk orang-orang yang apabila memiliki waktu luang dan selesai dari urusan, mereka justru bermain-main serta berpaling dari Rab mereka dan dari mengingat-Nya, sehingga engkau menjadi termasuk orang-orang yang rugi.

وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّ مَعۡنَى قَوۡلِهِ: فَإِذَا فَرَغۡتَ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَكۡمَلۡتَهَا؛ فَانۡصَبۡ فِي الدُّعَاءِ.

Ada pula yang berpendapat: Sesungguhnya arti firman-Nya adalah apabila engkau telah selesai dari salat dan menyempurnakannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.

وَإِلَى رَبِّكَ فَارۡغَبۡ فِي سُؤَالِ مَطَالِبِكَ.

Dan kepada Rabmulah engkau berharap dalam memohon permintaan-permintaanmu.

وَاسۡتَدَلَّ مَنۡ قَالَ بِهٰذَا الۡقَوۡلِ عَلَى مَشۡرُوعِيَّةِ الدُّعَاءِ وَالذِّكۡرِ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ الۡمَكۡتُوبَاتِ، وَاللهُ أَعۡلَمُ بِذٰلِكَ.

Orang yang berpendapat dengan tafsiran ini menjadikannya dalil doa dan zikir setelah salat-salat fardu. Allah yang lebih mengetahui hal itu.

تَمَّتۡ، وَلِلهِ الۡحَمۡدُ.

Selesai dan segala puji hanya untuk Allah.