Cari Blog Ini

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 658

٢٦ - بَابُ مَا جَاءَ فِي الصَّدَقَةِ عَلَى ذِي الۡقَرَابَةِ
26. Bab Riwayat Mengenai Sedekah Kepada Kerabat


٦٥٨ - (ضعيف والصحيح: من فعله ﷺ) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ عَمِّهَا سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ، يَبۡلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ، قَالَ: (إِذَا أَفۡطَرَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيُفۡطِرۡ عَلَى تَمۡرٍ، فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ، فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡ تَمۡرًا فَالۡمَاءُ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ). [(ابن ماجه)(١٦٩٩)].

658. [Daif, dan yang sahih: dari perbuatan beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—] Qutaibah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari pamannya yaitu Salman bin ‘Amir, yang menyambungkannya sampai kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena kurma itu adalah keberkahan. Jika ia tidak mendapati kurma, hendaklah berbuka dengan air, karena air itu menyucikan.”

- (صحيح) وَقَالَ: (الصَّدَقَةُ عَلَى الۡمِسۡكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنۡتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ). وَفِي الۡبَابِ عَنۡ زَيۡنَبَ امۡرَأَةِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ، وَجَابِرٍ، وَأَبِي هُرَيۡرَةَ. حَدِيثُ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَالرَّبَابُ هِيَ: أُمُّ الرَّائِحِ بِنۡتُ صُلَيۡعٍ. وَهَكَذَا رَوَى سُفۡيَانُ الثَّوۡرِيُّ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحۡوَ هٰذَا الۡحَدِيثِ. وَرَوَى شُعۡبَةُ، عَنۡ عَاصِمٍ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡ فِيهِ عَنِ الرَّبَابِ. وَحَدِيثُ سُفۡيَانَ الثَّوۡرِيِّ وَابۡنِ عُيَيۡنَةَ أَصَحُّ، وَهَكَذَا رَوَى ابۡنُ عَوۡنٍ وَهِشَامُ بۡنُ حَسَّانَ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ. [(ابن ماجه)(١٨٤٤)].

[Sahih] Beliau juga bersabda, “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua hal: sedekah dan silaturahmi.”

Di dalam bab ini terdapat riwayat dari Zainab istri ‘Abdullah bin Mas’ud, Jabir, dan Abu Hurairah. Hadis Salman bin ‘Amir adalah hadis hasan. Ar-Rabab adalah: Ummu Ar-Ra`ih binti Shulai’. Demikian pula Sufyan Ats-Tsauri meriwayatkan dari ‘Ashim, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semisal hadis ini. Syu’bah meriwayatkan dari ‘Ashim, dari Hafshah binti Sirin, dari Salman bin 'Amir, dan ia tidak menyebutkan dari Ar-Rabab dalam sanadnya. Hadis Sufyan Ats-Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah lebih sahih. Demikian pula Ibnu ‘Aun dan Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2598

١٨ - بَابٌ إِذَا وَهَبَ هِبَةً أَوۡ وَعَدَ، ثُمَّ مَاتَ قَبۡلَ أَنۡ تَصِلَ إِلَيۡهِ
18. Bab Apabila Seseorang Memberikan Suatu Hadiah atau Berjanji, Kemudian Dia Meninggal Sebelum Hadiah/Janji Itu Sampai Kepada Penerima


وَقَالَ عَبِيدَةُ: إِنۡ مَاتَ وَكَانَتۡ فُصِلَتِ الۡهَدِيَّةُ وَالۡمُهۡدَى لَهُ حَيٌّ فَهِيَ لِوَرَثَتِهِ، وَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ فُصِلَتۡ فَهِيَ لِوَرَثَةِ الَّذِي أَهۡدَى.

‘Abidah berkata, “Jika (pemberi) meninggal dunia sedangkan hadiah itu telah dipisahkan dan penerima hadiah dalam keadaan hidup, maka hadiah itu menjadi hak para ahli waris penerima. Namun jika hadiah itu belum dipisahkan, maka hadiah tersebut menjadi hak para ahli waris pemberi.”

وَقَالَ الۡحَسَنُ: أَيُّهُمَا مَاتَ قَبۡلُ فَهِيَ لِوَرَثَةِ الۡمُهۡدَى لَهُ، إِذَا قَبَضَهَا الرَّسُولُ.

Al-Hasan berkata, “Siapa pun di antara keduanya yang meninggal dunia terlebih dahulu, hadiah itu menjadi hak para ahli waris penerima, apabila utusan telah menerimanya.”

٢٥٩٨ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ: سَمِعۡتُ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (لَوۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا) ثَلَاثًا. فَلَمۡ يَقۡدَمۡ حَتَّى تُوُفِّيَ النَّبِيُّ ﷺ، فَأَمَرَ أَبُو بَكۡرٍ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ أَوۡ دَيۡنٌ فَلۡيَأۡتِنَا، فَأَتَيۡتُهُ فَقُلۡتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَعَدَنِي، فَحَثَى لِي ثَلَاثًا. [طرفه في: ٢٢٩٦].

2598. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ibnu Al-Munkadir menceritakan kepada kami: Aku mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berkata kepadaku, “Seandainya harta dari Bahrain datang, aku akan memberimu (harta) sebegini.” Sebanyak tiga kali

Namun harta itu tidak kunjung datang hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Kemudian Abu Bakr memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan, “Barang siapa memiliki janji atau piutang dengan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia datang kepada kami.”

Aku mendatangi beliau dan berkata, “Sesungguhnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah berjanji kepadaku.”

Kemudian Abu Bakr meraup (harta) untukku sebanyak tiga kali.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6747

١٦ - بَابُ ذَوِي الۡأَرۡحَامِ
16. Bab Kerabat Kandung


٦٧٤٧ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: قُلۡتُ لِأَبِي أُسَامَةَ: حَدَّثَكُمۡ إِدۡرِيسُ: حَدَّثَنَا طَلۡحَةُ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ [النساء: ٣٣] ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ [النساء: ٣٣]، قَالَ: كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ حِينَ قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ يَرِثُ الۡأَنۡصَارِيُّ الۡمُهَاجِرِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾، قَالَ نَسَخَتۡهَا: ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾. [طرفه في: ٢٢٩٢].

6747. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku. Dia berkata: Aku berkata kepada Abu Usamah: Apakah Idris menceritakan kepada kalian: Thalhah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas:

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya.” (QS An-Nisa’: 33) “Dan (jika ada) orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka …” (QS An-Nisa’: 33), dia berkata: Dahulu orang-orang Muhajirin ketika baru tiba di Madinah, seorang Ansar mewarisi seorang Muhajirin dengan mengesampingkan kerabat kandungnya sendiri, disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam— di antara mereka. Ketika turun ayat: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya” dia berkata bahwa ayat tersebut menghapus ayat: “Dan (jika ada) orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka …”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4580

٧ - بَابٌ ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الۡوَالِدَانِ وَالۡأَقۡرَبُونَ﴾ [٣٣] الۡآيَةَ
7. Bab “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ...” (QS An-Nisa’: 33)


وَقَالَ مَعۡمَرٌ: مَوَالِيَ: أَوۡلِيَاءَ وَرَثَةً، عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ: هُوَ مَوۡلَى الۡيَمِينِ، وَهُوَ الۡحَلِيفُ، وَالۡمَوۡلَى أَيۡضًا ابۡنُ الۡعَمِّ وَالۡمَوۡلَى الۡمُنۡعِمُ الۡمُعۡتِقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمُعۡتَقُ، وَالۡمَوۡلَى الۡمَلِيكُ، وَالۡمَوۡلَى مَوۡلًى فِي الدِّينِ.

Ma’mar berkata: Mawali (bentuk jamak dari kata maula) adalah ahli waris. ‘Aqadat aimanukum (orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka): dia adalah maula al-yamin, yaitu sekutu (al-halif). Maula juga berarti putra paman dari jalur ayah. Maula bisa berarti pembebas budak yang memberi nikmat (kemerdekaan dari perbudakan). Maula bisa berarti budak yang dimerdekakan. Maula bisa berarti raja/penguasa. Maula bisa berarti penolong dalam agama.

٤٥٨٠ - حَدَّثَنِي الصَّلۡتُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ إِدۡرِيسَ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ مُصَرِّفٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ قَالَ: وَرَثَةً. ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا الۡمَدِينَةَ يَرِثُ الۡمُهَاجِرُ الۡأَنۡصَارِيَّ دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ نُسِخَتۡ ثُمَّ قَالَ: ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ مِنَ النَّصۡرِ وَالرِّفَادَةِ وَالنَّصِيحَةِ، وَقَدۡ ذَهَبَ الۡمِيرَاثُ وَيُوصِي لَهُ. سَمِعَ أَبُو أُسَامَةَ إِدۡرِيسَ، وَسَمِعَ إِدۡرِيسُ طَلۡحَةَ. [طرفه في: ٢٢٩٢].

4580. Ash-Shalt bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Idris, dari Thalhah bin Musharrif, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—:

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan mawali ...” dia berkata: Yaitu ahli waris. “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”: Dahulu orang-orang Muhajirin ketika baru tiba di Madinah, seorang Muhajirin mewarisi seorang Ansar dengan mengesampingkan kerabat kandungnya sendiri, disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di antara mereka. Ketika turun ayat: “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya”, ketentuan tersebut dihapus. Kemudian beliau membaca: “Dan orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka”, yaitu dalam hal pertolongan, pemberian bantuan, dan nasihat-menasihati, sedangkan hak waris-mewarisi (melalui ikatan persaudaraan tersebut) telah hilang, dan dia boleh memberikan wasiat kepadanya.

Abu Usamah mendengar dari Idris, dan Idris mendengar dari Thalhah.

Shahih Al-Bukhari - 38. Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  ﷽

٣٨ - كِتَابُ الۡحَوَالَاتِ

Kitab Hiwalah (Pengalihan Utang)

  1. Bab tentang Pengalihan Utang (Hiwalah) dan Apakah Seseorang Boleh Menarik Kembali Pengalihan Utangnya
    1. Hadis nomor 2287
  2. Bab Apabila Seseorang Mengalihkan Utang kepada Orang yang Berkecukupan, Ia Tidak Boleh Membatalkannya
    1. Hadis nomor 2288
  3. Bab Jika Seseorang Mengalihkan Utang Mayat kepada Seorang Laki-Laki, Hukumnya Boleh
    1. Hadis nomor 2289