Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2239

١ - بَابُ السَّلَمِ فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ
1. Bab Pemesanan dengan Takaran yang Jelas


٢٢٣٩ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ زُرَارَةَ: أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ ابۡنُ عُلَيَّةَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي الۡمِنۡهَالِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ، وَالنَّاسُ يُسۡلِفُونَ فِي الثَّمَرِ الۡعَامَ وَالۡعَامَيۡنِ، أَوۡ قَالَ: عَامَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثَةً، شَكَّ إِسۡمَاعِيلُ، فَقَالَ: (مَنۡ سَلَّفَ فِي تَمۡرٍ، فَلۡيُسۡلِفۡ فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ).

2239. ‘Amr bin Zurarah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin ‘Ulayyah mengabarkan kepada kami: Ibnu Abu Najih mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin Katsir, dari Abu Al-Minhal, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, sementara masyarakat biasa melakukan pemesanan buah kurma untuk jangka waktu satu tahun atau dua tahun—atau ia berkata: dua tahun atau tiga tahun. Isma’il ragu dalam hal ini—. Maka beliau bersabda, “Barang siapa yang melakukan pemesanan buah kurma, hendaklah ia memesannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ بِهٰذَا: (فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ). [الحديث ٢٢٣٩ - أطرافه في: ٢٢٤٠، ٢٢٤١، ٢٢٥٣].

Muhammad telah menceritakan kepada kami: Isma’il mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Najih, dengan redaksi seperti ini: “dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2709

١٣ - بَابُ الصُّلۡحِ بَيۡنَ الۡغُرَمَاءِ وَأَصۡحَابِ الۡمِيرَاثِ وَالۡمُجَازَفَةِ فِي ذٰلِكَ
13. Bab Perdamaian di Antara Para Pemilik Piutang dan Ahli Waris, serta Penggunaan Taksiran Kasar dalam Urusan Tersebut


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يَتَخَارَجَ الشَّرِيكَانِ، فَيَأۡخُذَ هٰذَا دَيۡنًا، وَهٰذَا عَيۡنًا، فَإِنۡ تَوِيَ لِأَحَدِهِمَا لَمۡ يَرۡجِعۡ عَلَى صَاحِبِهِ.

Ibnu ‘Abbas berkata: Tidak mengapa apabila dua orang yang berserikat melakukan takharuj (penyelesaian pembagian aset), di mana yang satu mengambil bagian piutang sedangkan yang lain mengambil bagian aset tunai. Kemudian jika aset milik salah seorang dari keduanya ada yang rusak atau rugi, maka ia tidak boleh menuntut kembali kepada temannya.

٢٧٠٩ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ وَهۡبِ بۡنِ كَيۡسَانَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: تُوُفِّيَ أَبِي وَعَلَيۡهِ دَيۡنٌ، فَعَرَضۡتُ عَلَى غُرَمَائِهِ أَنۡ يَأۡخُذُوا التَّمۡرَ بِمَا عَلَيۡهِ فَأَبَوۡا، وَلَمۡ يَرَوۡا أَنَّ فِيهِ وَفَاءً، فَأَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ: (إِذَا جَدَدۡتَهُ فَوَضَعۡتَهُ فِي الۡمِرۡبَدِ آذَنۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ). فَجَاءَ وَمَعَهُ أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ، فَجَلَسَ عَلَيۡهِ وَدَعَا بِالۡبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: (ادۡعُ غُرَمَاءَكَ فَأَوۡفِهِمۡ). فَمَا تَرَكۡتُ أَحَدًا لَهُ عَلَى أَبِي دَيۡنٌ إِلَّا قَضَيۡتُهُ، وَفَضَلَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ وَسۡقًا: سَبۡعَةٌ عَجۡوَةٌ وَسِتَّةٌ لَوۡنٌ، أَوۡ سِتَّةٌ عَجۡوَةٌ وَسَبۡعَةٌ لَوۡنٌ، فَوَافَيۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡمَغۡرِبَ، فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ فَضَحِكَ، فَقَالَ: (ائۡتِ أَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ فَأَخۡبِرۡهُمَا). فَقَالَا: لَقَدۡ عَلِمۡنَا إِذۡ صَنَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا صَنَعَ أَنۡ سَيَكُونُ ذٰلِكَ. وَقَالَ هِشَامٌ، عَنۡ وَهۡبٍ، عَنۡ جَابِرٍ: صَلَاةَ الۡعَصۡرِ، وَلَمۡ يَذۡكُرۡ أَبَا بَكۡرٍ، وَلَا ضَحِكَ، وَقَالَ: وَتَرَكَ أَبِي عَلَيۡهِ ثَلَاثِينَ وَسۡقًا دَيۡنًا. وَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنۡ وَهۡبٍ، عَنۡ جَابِرٍ: صَلَاةَ الظُّهۡرِ. [طرفه في: ٢١٢٧].

2709. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Wahb bin Kaisan, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Ayahku wafat dan meninggalkan kewajiban utang. Lalu aku menawarkan kepada para pemilik piutangnya agar mereka mau mengambil buah kurma sebagai ganti dari utang yang ditanggungnya, namun mereka menolak, karena mereka memandang bahwa buah kurma tersebut tidak akan mencukupi pelunasannya. Maka aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau pun berkata, “Apabila kamu telah memanennya dan meletakkannya di tempat penjemuran kurma, maka beritahulah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Kemudian beliau datang bersama Abu Bakr dan ‘Umar, lalu beliau duduk di atas tumpukan kurma tersebut dan mendoakan keberkahan. Setelah itu, beliau berkata, “Panggillah para pemilik piutangmu, lalu penuhilah hak mereka secara utuh!”

Maka tidak seorang pun yang memiliki piutang atas ayahku melainkan aku telah melunasinya dan kurma tersebut masih tersisa sebanyak tiga belas wasak. Tujuh wasak jenis ajwa dan enam wasak jenis laun, atau enam wasak jenis ajwa dan tujuh wasak jenis laun. Lalu aku mendapati Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—saat salat Magrib, kemudian aku menceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau pun tersenyum dan berkata, “Datangilah Abu Bakr dan ‘Umar, lalu kabarkanlah kepada keduanya!”

Maka keduanya berkata, “Sungguh, kami telah mengetahui ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melakukan apa yang beliau lakukan, bahwa hal itu pasti akan terjadi.”

Hisyam berkata dari Wahb, dari Jabir: Salat Asar, dan ia tidak menyebutkan nama Abu Bakr serta tidak menyebutkan bahwa beliau tersenyum, dan ia berkata: “Dan ayahku meninggalkan kewajiban utang sebesar tiga puluh wasak.”

Ibnu Ishaq berkata dari Wahb, dari Jabir: Salat Zuhur.

Al-Isti'ab - 848. Zaid bin Haritsah

٨٤٨ - [زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ الۡكَلۡبِيُّ]:
848. Zaid bin Haritsah Al-Kalbi


زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شَرَاحِيلَ الۡكَلۡبِيُّ أَبُو أُسَامَةَ مَوۡلَىٰ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، هُوَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شَرَاحِيلَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّىٰ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ عَبۡدِ وَدِّ [بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ عِمۡرَانَ بۡنِ عَبۡدِ عَوۡفِ بۡنِ عَوۡفِ] بۡنِ كِنَانَةَ بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ عُذۡرَةَ بۡنِ زَيۡدِ اللَّاتِ بۡنِ رُفَيۡدَةَ بۡنِ ثَوۡرِ بۡنِ كَلۡبِ بۡنِ وَبۡرَةَ بۡنِ تَغۡلِبَ بۡنِ عِمۡرَانَ بۡنِ حُلۡوَانَ بۡنِ الۡحَافِ بۡنِ قُضَاعَةَ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ حِمۡيَرَ بۡنِ سَبَإِ بۡنِ يَشۡجُبَ بۡنِ يَعۡرُبَ بۡنِ قَحۡطَانَ، كَذَا نَسَبَهُ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ وَغَيۡرُهُ، وَرُبَّمَا اخۡتَلَفُوا فِي الۡأَسۡمَاءِ وَتَقۡدِيمِ بَعۡضِهَا عَلَىٰ بَعۡضٍ، وَزِيَادَةِ شَيۡءٍ فِيهَا.

Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi Abu Usamah, maula Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau adalah Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’b bin ‘Abdul ‘Uzza bin Imri-il Qais bin ‘Amir bin An-Nu’man bin ‘Amir bin ‘Abd Wadd [bin Imri-il Qais bin An-Nu’man bin ‘Imran bin ‘Abd ‘Auf bin ‘Auf] bin Kinanah bin Bakr bin ‘Auf bin ‘Udzrah bin Zaid Al-Lat bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabrah bin Taghlib bin ‘Imran bin Hulwan bin Al-Haf bin Qudha’ah bin Malik bin ‘Amr bin Murrah bin Malik bin Himyar bin Saba` bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Demikianlah Ibnu Al-Kalbi dan yang lainnya menasabkan beliau, dan terkadang mereka berbeda pendapat mengenai nama-namanya, mendahulukan sebagian nama atas yang lain, serta menambahkan sesuatu di dalamnya.

قَالَ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ: وَأُمُّ زَيۡدٍ سُعۡدَىٰ بِنۡتُ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ عَبۡدِ عَامِرِ بۡنِ أَفۡلَتَ مِنۡ بَنِي مَعۡنٍ مِنۡ طَيِّءٍ.

Ibnu Al-Kalbi berkata: Ibu Zaid adalah Su’da binti Tsa’labah bin ‘Abd ‘Amir bin Aflat dari Bani Ma’n dari suku Thayyi`.

وَكَانَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ يَقُولُ: زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شُرَحۡبِيلَ، وَلَمۡ يُتَابَعۡ عَلَىٰ قَوۡلِهِ شُرَحۡبِيلَ، وَإِنَّمَا هُوَ شَرَاحِيلُ.

Ibnu Ishaq dahulu sering mengatakan, “Zaid bin Haritsah bin Syurahbil,” namun pendapatnya tentang nama Syurahbil ini tidak diikuti, karena yang benar adalah Syarahil.

كَانَ زَيۡدٌ هٰذَا قَدۡ أَصَابَهُ سِبَاءٌ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَاشۡتَرَاهُ حَكِيمُ بۡنُ حِزَامٍ فِي سُوقِ حُبَاشَةَ، وَهِيَ سُوقٌ بِنَاحِيَةِ مَكَّةَ كَانَ مَجۡمَعًا لِلۡعَرَبِ يَتَسَوَّقُونَ بِهَا فِي كُلِّ سَنَةٍ، اشۡتَرَاهُ حَكِيمٌ لِخَدِيجَةَ بِنۡتِ خُوَيۡلِدٍ، فَوَهَبَتۡهُ خَدِيجَةُ لِرَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، فَتَبَنَّاهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بِمَكَّةَ قَبۡلَ النُّبُوَّةِ، وَهُوَ ابۡنُ ثَمَانِ سِنِيۡنَ، وَكَانَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ أَكۡبَرَ مِنۡهُ بِعَشۡرِ سِنِينَ، وَقَدۡ قِيلَ بِعِشۡرِينَ سَنَةً، وَطَافَ بِهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ حِينَ تَبَنَّاهُ عَلَىٰ حَلَقِ قُرَيۡشٍ يَقُولُ: (هٰذَا ابۡنِي وَارِثًا وَمَوۡرُوثًا). يُشۡهِدُهُمۡ عَلَىٰ ذٰلِكَ، هٰذَا كُلُّهُ مَعۡنَىٰ قَوۡلِ مُصۡعَبٍ وَالزُّبَيۡرِ بۡنِ بَكَّارٍ وَابۡنِ الۡكَلۡبِيِّ وَغَيۡرِهِمۡ.

Zaid pernah tertawan pada masa jahiliah, lalu Hakim bin Hizam membelinya di pasar Hubasyah; yaitu sebuah pasar di sekitar Makkah yang menjadi tempat berkumpulnya orang Arab untuk berdagang setiap tahun. Hakim membelinya untuk Khadijah binti Khuwailid, kemudian Khadijah menghadiahkannya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengangkatnya sebagai anak di Makkah sebelum masa kenabian ketika Zaid berusia 8 tahun, sedangkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berusia 10 tahun lebih tua darinya, dan ada yang berpendapat berbeda 20 tahun. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membawanya berkeliling ke perkumpulan orang-orang Quraisy saat mengangkatnya sebagai anak seraya berkata, “Ini adalah anakku. Ia mewarisiku dan aku mewarisinya.” Beliau mempersaksikan mereka atas hal tersebut. Ini semua adalah makna dari perkataan Mush’ab, Az-Zubair bin Bakkar, Ibnu Al-Kalbi, dan selain mereka.

قَالَ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ عُمَرَ: مَا كُنَّا نَدۡعُو زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ إِلَّا زَيۡدَ بۡنَ مُحَمَّدٍ، حَتَّىٰ نَزَلَتۡ: ﴿اُدۡعُوهُمۡ لِآبائِهِمۡ﴾ [الأحزاب ٥].

‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Kami tidak pernah memanggil Zaid bin Haritsah melainkan dengan nama Zaid bin Muhammad, sampai turun ayat: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka.” (QS Al-Ahzab: 5).

ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ، عَنِ الۡمَدَائِنِيِّ، عَنِ ابۡنِ الۡكَلۡبِيِّ، عَنۡ جَمِيلِ بۡنِ يَزِيدَ الۡكَلۡبِيِّ، وَعَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ - وَقَوۡلُ جَمِيلٍ أَتَمُّ - قَالَ خَرَجَتۡ سُعۡدَىٰ بِنۡتُ ثَعۡلَبَةَ أُمُّ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ، وَهِيَ امۡرَأَةٌ مِنۡ بَنِي طَيِّءٍ تَزُورُ قَوۡمَهَا، وَزَيۡدٌ مَعَهَا؛ فَأَغَارَتۡ خَيۡلٌ لِبَنِي الۡقَيۡنِ بۡنِ جَسۡرٍ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَمَرُّوا عَلَىٰ أَبۡيَاتِ مَعۡنٍ - رَهۡطِ أُمِّ زَيۡدٍ، فَاحۡتَمَلُوا زَيۡدًا وَهُوَ يَوۡمَئِذٍ غُلَامٌ يَفَعَةٌ، فَوَافَوۡا بِهِ سُوقَ عُكَاظٍ، فَعَرَضُوهُ لِلۡبَيۡعِ، فَاشۡتَرَاهُ مِنۡهُمۡ حَكِيمُ بۡنُ حِزَامِ بۡنِ خُوَيۡلِدٍ لِعَمَّتِهِ خَدِيجَةَ بِنۡتِ خُوَيۡلِدٍ بِأَرۡبَعِمِائَةِ دِرۡهَمٍ، فَلَمَّا تَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَهَبَتۡهُ لَهُ، فَقَبَضَهُ. وَقَالَ أَبُوهُ حَارِثَةُ بۡنُ شَرَاحِيلَ - حِينَ فَقَدَهُ: [الطويل]

بَكَيۡتُ عَلَىٰ زَيۡدٍ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا فَعَلۡ أَحَيٌّ يُرَجَّىٰ أَمۡ أَتَىٰ دُونَهُ الۡأَجَلۡ
فَوَاللّٰهِ مَا أَدۡرِي وَإِنۡ كُنۡتُ سَائِلًا أَغَالَكَ سَهۡلُ الۡأَرۡضِ أَمۡ غَالَكَ الۡجَبَلۡ
فَيَا لَيۡتَ شِعۡرِي هَلۡ لَكَ الدَّهۡرَ رَجۡعَةٌ فَحَسۡبِي مِنَ الدُّنۡيَا رُجُوعُكَ لِي بَجَلۡ
تُذَكِّرُنِيۡهِ الشَّمۡسُ عِنۡدَ طُلُوعِهَا وَتُعۡرِضُ ذِكۡرَاهُ إِذَا قَارَبَ الطَّفَلۡ
وَإِنۡ هَبَّتِ الۡأَرۡوَاحُ هَيَّجۡنَ ذِكۡرَهُ فَيَا طُولَ مَا حُزۡنِي عَلَيۡهِ وَيَا وَجَلۡ
سَأُعۡمِلُ نَصَّ الۡعِيسِ فِي الۡأَرۡضِ جَاهِدًا وَلَا أَسۡأَمُ التَّطۡوَافَ أَوۡ تَسۡأَمُ الۡإِبِلۡ
حَيَاتِي أَوۡ تَأۡتِي عَلَيَّ مَنِيَّتِي وَكُلُّ امۡرِىءٍ فَانٍ وَإِنۡ نَمَّرَهُ الۡأَجَلۡ
سَأُوصِي بِهِ عَمۡرًا وَقَيۡسًا كِلَيۡهِمَا وَأُوصِي يَزِيدَ ثُمَّ مِنۡ بَعۡدِهِ جَبَلَ

Az-Zubair menyebutkan dari Al-Mada`ini, dari Ibnu Al-Kalbi, dari Jamil bin Yazid Al-Kalbi dan dari Abu Shalih, dari Ibnu ‘Abbas—dan perkataan Jamil lebih lengkap—. Ia berkata: Su’da binti Tsa’labah, ibu Zaid bin Haritsah yang merupakan seorang wanita dari Bani Thayyi`, pergi keluar untuk mengunjungi kaumnya dan Zaid ikut bersamanya. Lalu pasukan berkuda dari Bani Al-Qain bin Jasr melakukan penyerangan pada masa jahiliah, mereka melewati rumah-rumah Bani Ma’n—kerabat ibu Zaid—lalu mereka menawan Zaid yang pada hari itu masih seorang anak yang beranjak remaja. Mereka membawanya ke pasar ‘Ukazh lalu menawarkannya untuk dijual. Maka Hakim bin Hizam bin Khuwailid membelinya dari mereka untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid, seharga 400 dirham. Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menikahinya, Khadijah menghadiahkan Zaid kepada beliau, maka beliau pun menerimanya. Ayahnya, Haritsah bin Syarahil, melantunkan syair ketika kehilangan dirinya:

Aku menangisi Zaid dan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya ... Apakah ia masih hidup dan bisa diharapkan, ataukah ajal telah menjemputnya?
Demi Allah, aku tidak tahu meski aku terus bertanya ... Apakah engkau celaka di dataran landai ataukah engkau celaka di pegunungan
Wahai, andai aku tahu apakah ada waktu bagimu untuk kembali ... Cukuplah bagiku dari dunia ini kembalinya engkau kepadaku.
Matahari mengingatkanku padanya saat ia terbit ... Dan kenangan tentangnya hadir ketika senja mendekat.
Dan jika angin berembus, ia membangkitkan ingatan tentangnya ... Alangkah panjangnya kesedihanku atasnya dan alangkah besarnya rasa cemas ini.
Aku akan memacu unta-unta putih di bumi dengan sungguh-sungguh ... Aku tidak akan bosan berkeliling atau unta-unta itu yang akan bosan.
Sepanjang hidupku atau hingga kematian mendatangiku ... Dan setiap orang pasti fana meskipun ajal memperpanjang umurnya.
Aku akan mewasiatkan urusannya kepada ‘Amr dan Qais keduanya ... Dan aku wasiatkan kepada Yazid, kemudian setelahnya kepada Jabal.

يَعۡنِي جَبَلَةَ بۡنَ حَارِثَةَ أَخَا زَيۡدٍ، وَكَانَ أَكۡبَرَ مِنۡ زَيۡدٍ، وَيَعۡنِي يَزِيدَ أَخَا زَيۡدٍ لِأُمِّهِ، وَهُوَ يَزِيدُ بۡنُ كَعۡبِ بۡنِ شَرَاحِيلَ. فَحَجَّ نَاسٌ مِنۡ كَلۡبٍ، فَرَأَوۡا زَيۡدًا فَعَرَفَهُمۡ وَعَرَفُوهُ، فَقَالَ لَهُمۡ: أَبۡلِغُوا عَنِّي أَهۡلِي هٰذِهِ الۡأَبۡيَاتَ، فَإِنِّي أَعۡلَمُ أَنَّهُمۡ قَدۡ جَزِعُوا عَلَيَّ فَقَالَ: [الطويل]

أَحِنُّ إِلَىٰ قَوۡمِي وَإِنۡ كُنۡتُ نَائِيًا فَإِنِّي قَعِيدُ الۡبَيۡتِ عِنۡدَ الۡمَشَاعِرِ
فَكَفُّوا مِنَ الۡوَجۡدِ الَّذِي قَدۡ شَجَاكُمۡ وَلَا تُعۡمِلُوا فِي الۡأَرۡضِ نَصَّ الۡأَبَاعِرِ
فَإِنِّي بِحَمۡدِ اللّٰهِ فِي خَيۡرِ أُسۡرَةٍ كِرَامِ مَعَدٍّ كَابِرًا بَعۡدَ كَابِرِ

Yang dimaksud adalah Jabalah bin Haritsah, saudara laki-laki Zaid, dan ia lebih tua dari Zaid. Dan yang dimaksud Yazid adalah saudara laki-laki Zaid seibu, yaitu Yazid bin Ka’b bin Syarahil. Kemudian beberapa orang dari suku Kalb menunaikan haji, lalu mereka melihat Zaid. Zaid mengenali mereka dan mereka pun mengenalinya. Zaid berkata kepada mereka, “Sampaikanlah bait-bait syair ini dari diriku kepada keluargaku, karena aku tahu mereka sangat bersedih atasku,” lalu ia melantunkan:

Aku rindu kepada kaumku walaupun aku berada di tempat yang jauh ... karena sesungguhnya aku tinggal menetap di Baitullah di dekat tempat-tempat syiar suci.
Maka hentikanlah duka mendalam yang telah menyedihkan kalian ... dan janganlah kalian memacu unta-unta dengan payah di muka bumi.
Karena sesungguhnya aku—dengan memuji Allah—berada dalam naungan keluarga terbaik ... Orang-orang mulia dari keturunan Ma’ad, dari generasi mulia ke generasi mulia.

فَانۡطَلَقَ الۡكَلۡبِيُّونَ، فَأَعۡلَمُوا أَبَاهُ فَقَالَ: ابۡنِي وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، وَوَصَفُوا لَهُ مَوۡضِعَهُ، وَعِنۡدَ مَنۡ هُوَ. فَخَرَجَ حَارِثَةُ وَكَعۡبٌ ابۡنَا شَرَاحِيۡلَ لِفِدَائِهِ، وَقَدِمَا مَكَّةَ فَسَأَلَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقِيۡلَ: هُوَ فِي الۡمَسۡجِدِ، فَدَخَلَا عَلَيۡهِ؛ فَقَالَ: يَا بۡنَ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، يَا بۡنَ هَاشِمٍ، يَا بۡنَ سَيِّدِ قَوۡمِهِ، أَنۡتُمۡ أَهۡلُ حَرَمِ اللّٰهِ وَجِيرَانُهُ، تَفُكُّونَ الۡعَانِيَ، وَتُطۡعِمُونَ الۡأَسِيرَ، جِئۡنَاكَ فِي ابۡنِنَا عِنۡدَكَ، فَامۡنُنۡ عَلَيۡنَا، وَأَحۡسِنۡ إِلَيۡنَا فِي فِدَائِهِ. قَالَ: (وَمَنۡ هُوَ)؟ قَالُوا: زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (فَهَلَّا غَيۡرَ ذٰلِكَ)! قَالُوا: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: (ادۡعُوهُ فَأُخَيِّرُهُ، فَإِنِ اخۡتَارَكُمۡ فَهُوَ لَكُمۡ، وَإِنِ اخۡتَارَنِي فَوَاللّٰهِ مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتَارُ عَلَىٰ مَنِ اخۡتَارَنِي أَحَدًا).

Maka orang-orang suku Kalb itu berangkat lalu memberi tahu ayahnya, maka ayahnya berkata, “Demi Rab pemilik Ka’bah, itu adalah anakku!” dan mereka menggambarkan kepadanya tempat kedudukan Zaid serta di sisi siapa ia berada.

Maka Haritsah dan Ka’b, keduanya putra Syarahil, keluar untuk menebusnya. Mereka berdua tiba di Makkah lalu menanyakan tentang Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maka dikatakan kepada mereka, “Beliau berada di dalam masjid.”

Keduanya menemui beliau lalu berkata, ‘Wahai putra ‘Abdul Muththalib, wahai putra Hasyim, wahai putra pemimpin kaumnya! Kalian adalah ahli tanah haram Allah dan tetangga-tetangganya. Kalian biasa membebaskan orang yang kesulitan dan memberi makan tawanan. Kami datang kepadamu demi anak kami yang ada di sisimu, maka berikanlah kemurahan hati kepada kami dan berbuat baiklah kepada kami dalam tebusannya.”

Beliau bertanya, “Siapakah dia?”

Mereka menjawab, “Zaid bin Haritsah.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Mengapa tidak memilih jalan lain saja?”

Mereka bertanya, “Apa itu?”

Beliau berkata, “Panggillah dia, lalu aku akan memberinya pilihan. Jika ia memilih kalian maka ia menjadi milik kalian, namun jika ia memilihku, maka demi Allah, aku bukanlah orang yang akan memilih orang lain melebihi orang yang telah memilih diriku.”

قَالَا: قَدۡ زِدۡتَنَا عَلَى النِّصۡفِ، وَأَحۡسَنۡتَ، فَدَعَاهُ فَقَالَ: (هَلۡ تَعۡرِفُ هٰؤُلَاءِ)؟ قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: (مَنۡ هٰذَا)؟ قَالَ: هٰذَا أَبِي. وَهٰذَا عَمِّي. قَالَ: (فَأَنَا مَنۡ قَدۡ عَلِمۡتَ وَرَأَيۡتَ صُحۡبَتِي لَكَ، فَاخۡتَرۡنِي أَوِ اخۡتَرۡهُمَا). قَالَ زَيۡدٌ: مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتارُ عَلَيۡكَ أَحَدًا، أَنۡتَ مِنِّي مَكَانَ الۡأَبِ وَالۡعَمِّ. فَقَالَا: وَيۡحَكَ يَا زَيۡدُ! أَتَخۡتَارُ الۡعُبُودِيَّةَ عَلَى الۡحُرِّيَّةِ وَعَلَىٰ أَبِيكَ وَعَمِّكَ، وَعَلَىٰ أَهۡلِ بَيۡتِكَ! قَالَ: نَعَمۡ، قَدۡ رَأَيۡتُ مِنۡ هٰذَا الرَّجُلِ شَيۡئًا. مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتَارُ عَلَيۡهِ أَحَدًا أَبَدًا. فَلَمَّا رَأَىٰ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ ذٰلِكَ أَخۡرَجَهُ إِلَى الۡحِجۡرِ، فَقَالَ: (يَا مَنۡ حَضَرَ. اشۡهَدُوا أَنَّ زَيۡدًا ابۡنِي يَرِثُنِي وَأَرِثَهُ). فَلَمَّا رَأَىٰ ذٰلِكَ أَبُوهُ وَعَمُّهُ طَابَتۡ نُفُوسُهُمَا فَانۡصَرَفَا. وَدُعِيَ زَيۡدُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، حَتَّىٰ جَاءَ الۡإِسۡلَامُ فَنَزَلَتۡ: ﴿اُدۡعُوهُمۡ لِآبائِهِمۡ﴾ [الأحزاب ٥]. فَدُعِيَ يَوۡمَئِذٍ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ، وَدُعِيَ الۡأَدۡعِيَاءُ إِلَىٰ آبَائِهِمۡ، فَدُعِيَ الۡمِقۡدَادُ بۡنُ عَمۡرٍو، وَكَانَ يُقَالُ لَهُ قَبۡلَ ذٰلِكَ الۡمِقۡدَادُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ، لِأَنَّ الۡأَسۡوَدَ بۡنَ عَبۡدِ يَغُوثَ كَانَ قَدۡ تَبَنَّاهُ.

Keduanya berkata, “Engkau telah memberikan lebih dari sekadar sikap adil kepada kami dan engkau telah berbuat baik.”

Beliau lalu memanggil Zaid dan bertanya, “Apakah engkau mengenali mereka ini?”

Zaid menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Siapa ini?”

Zaid menjawab, “Ini ayahku dan ini pamanku.”

Beliau bersabda, “Dan aku adalah orang yang telah engkau ketahui dan engkau telah melihat kebersamaanku bersamamu, maka pilihlah aku atau pilihlah mereka berdua.”

Zaid berkata, “Aku bukanlah orang yang akan memilih siapa pun melebihi dirimu. Engkau bagiku menempati posisi ayah dan paman.”

Maka keduanya berkata, “Celaka engkau wahai Zaid! Apakah engkau memilih perbudakan daripada kebebasan, serta di atas ayahmu, pamanmu, dan anggota keluargamu?!”

Zaid menjawab, “Ya, aku telah melihat sesuatu dari laki-laki ini yang membuatku tidak akan pernah memilih siapa pun melebihi dirinya selama-lamanya.”

Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat hal itu, beliau membawanya keluar menuju Hijir Ismail lalu berkata, “Wahai orang-orang yang hadir, saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Ia mewarisiku dan aku mewarisinya.”

Ketika ayah dan pamannya melihat hal itu, jiwa mereka menjadi tenang lalu keduanya pulang. Maka ia dipanggil Zaid bin Muhammad, hingga datanglah Islam lalu turun ayat: “Panggilah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka.” (QS Al-Ahzab: 5).

Maka sejak hari itu ia dipanggil Zaid bin Haritsah dan anak-anak angkat dikembalikan panggilannya kepada ayah-ayah mereka. Al-Miqdad bin ‘Amr dipanggil demikian, yang mana sebelum itu ia dipanggil Al-Miqdad bin Al-Aswad karena Al-Aswad bin ‘Abd Yaghuts telah mengangkatnya sebagai anak.

وَذَكَرَ مَعۡمَرٌ فِي جَامِعِهِ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: مَا عَلِمۡنَا أَحَدًا أَسۡلَمَ قَبۡلَ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ. قَالَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: وَمَا أَعۡلَمُ أَحَدًا ذَكَرَهُ غَيۡرُ الزُّهۡرِيِّ.

Ma’mar menyebutkan dalam kitab Jami’-nya, dari Az-Zuhri. Ia berkata, “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang masuk Islam sebelum Zaid bin Haritsah.”

‘Abdurrazzaq berkata, “Dan aku tidak mengetahui ada orang lain yang menyebutkan hal itu selain Az-Zuhri.”

قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَدۡ رُوِيَ عَنِ الزُّهۡرِيِّ مِنۡ وُجُوهٍ أَنَّ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَ خَدِيجَةُ، وَشَهِدَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بَدۡرًا، وَزَوَّجَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ مَوۡلَاتَهُ أُمَّ أَيۡمَنَ، فَوَلَدَتۡ لَهُ أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ، وَبِهِ كَانَ يُكۡنَىٰ، وَكَانَ يُقَالُ لِزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ حِبُّ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ. رُوِيَ عَنۡهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ مَنۡ أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَأَنۡعَمۡتُ عَلَيۡهِ) - يَعۡنِي زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ - أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ بِالۡإِسۡلَامِ، وَأَنۡعَمَ عَلَيۡهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بِالۡعِتۡقِ.

Abu ‘Umar berkata: Telah diriwayatkan dari Az-Zuhri, dari berbagai jalur bahwasanya orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah mengikuti Perang Badr, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menikahkannya dengan maula beliau, Umu Aiman, lalu Umu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid untuknya, dan dengan nama itulah Zaid memiliki kunyah. Zaid bin Haritsah dahulu kerap dijuluki sebagai Hibbu Rasulillah (orang kesayangan Rasulullah)—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Diriwayatkan dari beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Orang yang paling aku cintai adalah orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan telah aku berikan nikmat kepadanya.”

Yang beliau maksud adalah Zaid bin Haritsah. Allah memberikan nikmat kepadanya berupa Islam dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan nikmat kepadanya berupa kemerdekaan dari perbudakan.

وَقُتِلَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بِمُؤۡتَةَ مِنۡ أَرۡضِ الشَّامِ سَنَةَ ثَمَانٍ مِنَ الۡهِجۡرَةِ؛ وَهُوَ كَانَ كَالۡأَمِيرِ عَلَىٰ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ، وَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (فَإِنۡ قُتِلَ زَيۡدٌ فَجَعۡفَرٌ، فَإِنۡ قُتِلَ جَعۡفَرٌ فَعَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ رَوَاحَةَ)، فَقُتِلُوا ثَلَاثَتُهُمۡ فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. لَمَّا أَتَىٰ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ نَعۡيُ جَعۡفَرِ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ وَزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ بَكَىٰ وَقَالَ: أَخَوَايَ وَمُؤۡنِسَايَ وَمُحَدِّثَايَ.

Zaid bin Haritsah gugur di Mu`tah di wilayah Syam pada tahun 8 Hijriah dan beliau bertindak sebagai panglima utama dalam peperangan tersebut. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda, “Jika Zaid gugur maka Ja’far (yang memimpin), jika Ja’far gugur maka ‘Abdullah bin Rawahah.”

Ketiganya gugur dalam peperangan tersebut. Ketika kabar kematian Ja’far bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah sampai kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau menangis dan berkata, “Dua saudaraku, dua orang yang menghiburku, dan dua orang yang berbincang denganku.”

حَدَّثَنَا أَبُو الۡقَاسِمِ عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ سُفۡيَانَ بۡنِ جِيرُونَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي خَيۡثَمَةَ، حَدَّثَنَا ابۡنُ مَعِينٍ، حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ بُكَيۡرٍ الۡمِصۡرِيُّ، حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ اكۡتَرَىٰ مِنۡ رَجُلٍ بَغۡلًا مِنَ الطَّائِفِ اشۡتَرَطَ عَلَيۡهِ الۡكَرِىُّ أَن يُنۡزِلَهُ حَيۡثُ شَاءَ. قَالَ: فَمَالَ بِهِ إِلَىٰ خِرۡبَةٍ، فَقَالَ لَهُ: انۡزِلۡ. فَنَزَلَ، فَإِذَا فِي الۡخِرۡبَةِ قَتۡلَىٰ كَثِيرَةٌ. فَلَمَّا أَرَادَ أَن يَقۡتُلَهُ قَالَ لَهُ: دَعۡنِي أُصَلِّي رَكۡعَتَيۡنِ، قَالَ: صَلِّ. فَقَدۡ صَلَّىٰ قَبۡلَكَ هٰؤُلَاءِ فَلَمۡ تَنۡفَعۡهُمۡ صَلَاتُهُمۡ شَيۡئًا. قَالَ: فَلَمَّا صَلَّيۡتُ أَتَانِي لِيَقۡتُلَنِي. قَالَ: فَقُلۡتُ: يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِينَ. قَالَ: فَسَمِعَ صَوۡتًا لَا تَقۡتُلۡهُ. قَالَ: فَهَابَ ذٰلِكَ، فَخَرَجَ يَطۡلُبُ فَلَمۡ يَرَ شَيۡئًا، فَرَجَعَ إِلَيَّ، فَنَادَيۡتُ: يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ، فَفَعَلَ ذٰلِكَ ثَلَاثًا، فَإِذَا أَنَا بِفَارِسٍ عَلَىٰ فَرَسٍ فِي يَدِهِ حَرۡبَةُ حَدِيۡدٍ، فِي رَأۡسِهَا شُعۡلَةٌ مِنۡ نَارٍ، فَطَعَنَهُ بِهَا. فَأَنۡفَذَهُ مِنۡ ظَهۡرِهِ، فَوَقَعَ مَيِّتًا، ثُمَّ قَالَ لِي: لَمَّا دَعَوۡتَ الۡمَرَّةَ الۡأُولَىٰ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ كُنۡتُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ؛ فَلَمَّا دَعَوۡتَ فِي الۡمَرَّةِ الثَّانِيَةِ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ كُنۡتُ فِي السَّمَاءِ الدُّنۡيَا، فَلَمَّا دَعَوۡتَ فِي الۡمَرَّةِ الثَّالِثَةِ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ أَتَيۡتُكَ.

Abul-Qasim ‘Abdul Warits bin Sufyan bin Jirun telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Muhammad Qasim bin Asbagh menceritakan kepada kami: Abu Bakr bin Abu Khaitsamah menceritakan kepada kami: Ibnu Ma’in menceritakan kepada kami: Yahya bin ‘Abdullah bin Bukair Al-Mishri menceritakan kepada kami: Al-Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami. Ia berkata: Kabar telah sampai kepadaku bahwasanya Zaid bin Haritsah menyewa seekor bagal dari seorang laki-laki dari Thaif. Pemilik hewan sewaan itu memberikan syarat kepadanya bahwa ia boleh menghentikannya di mana saja ia mau. Perawi berkata: Lalu orang itu membelokkannya ke sebuah tempat reruntuhan, lalu berkata kepadanya, “Turunlah!”

Maka Zaid pun turun dan ternyata di tempat reruntuhan itu terdapat banyak jenazah korban pembunuhan. Ketika orang itu hendak membunuhnya, Zaid berkata kepadanya, “Biarkan aku salat dua rakaat.”

Orang itu menjawab, “Salatlah, sesungguhnya mereka itu sebelummu juga telah salat namun salat mereka tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka.”

Zaid berkata, “Tatkala aku selesai salat, ia mendatangiku untuk membunuhku.”

Zaid berkata, “Maka aku mengucapkan: ‘Ya Arhamar Rahimin’ (Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang).”

Zaid berkata, “Lalu orang itu mendengar suara: ‘Jangan engkau bunuh dia!’”

Zaid berkata, “Maka orang itu menjadi takut karena hal tersebut, ia keluar mencari sumber suara namun tidak melihat sesuatu pun, lalu ia kembali kepadaku. Maka aku berseru lagi: ‘Ya Arhamar Rahimin.’”

Hal itu terulang sampai tiga kali, hingga tiba-tiba aku melihat seorang penunggang kuda di atas kudanya yang di tangannya terdapat tombak besi yang di ujungnya ada nyala api, lalu ia menusuk orang itu dengannya hingga menembus punggungnya, maka orang itu pun jatuh mati. Kemudian penunggang kuda itu berkata kepadaku, “Ketika engkau berdoa pada kali pertama ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku berada di langit ketujuh; lalu ketika engkau berdoa pada kali kedua ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku berada di langit dunia; dan ketika engkau berdoa pada kali ketiga ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku pun datang kepadamu.”

Sunan Ad-Darimi hadis nomor 204

٢٠٤ - أَخۡبَرَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، أَخۡبَرَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجۡلِسُ عَلَى بَابِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَبۡلَ صَلَاةِ الۡغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيۡنَا مَعَهُ إِلَى الۡمَسۡجِدِ،

204. Al-Hakam bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami: ‘Amr bin Yahya mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya. Ia berkata: Kami dahulu biasa duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—sebelum salat Subuh. Apabila ia keluar rumah, kami pun berjalan bersamanya menuju masjid.

فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الۡأَشۡعَرِيُّ، فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيۡكُمۡ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بَعۡدُ؟ قُلۡنَا: لَا، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمۡنَا إِلَيۡهِ جَمِيعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، إِنِّي رَأَيۡتُ فِي الۡمَسۡجِدِ آنِفًا أَمۡرًا أَنۡكَرۡتُهُ، وَلَمۡ أَرَ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ إِلَّا خَيۡرًا، قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنۡ عِشۡتَ فَسَتَرَاهُ، قَالَ: رَأَيۡتُ فِي الۡمَسۡجِدِ قَوۡمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنۡتَظِرُونَ الصَّلَاةَ، فِي كُلِّ حَلۡقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيۡدِيهِمۡ حَصًى، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً؛ فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً؛ فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً، قَالَ: فَمَاذَا قُلۡتَ لَهُمۡ؟ قَالَ: مَا قُلۡتُ لَهُمۡ شَيۡئًا انۡتِظَارَ رَأۡيِكَ أَوِ انۡتِظَارَ أَمۡرِكَ، قَالَ: أَفَلَا أَمَرۡتَهُمۡ أَنۡ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمۡ. وَضَمِنۡتَ لَهُمۡ أَنۡ لَا يَضِيعَ مِنۡ حَسَنَاتِهِمۡ؟

Lalu Abu Musa Al-Asy’ari—radhiyallahu ‘anhu—mendatangi kami dan bertanya, “Apakah Abu ‘Abdurrahman sudah keluar menemui kalian?”

Kami menjawab, “Belum.”

Maka ia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar. Ketika ia keluar, kami semua segera beranjak mendekatinya, lalu Abu Musa berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, sesungguhnya aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku anggap asing, namun—segala puji bagi Allah—aku tidak melihat kecuali kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Perkara apakah itu?”

Abu Musa menjawab, “Jika engkau panjang umur, niscaya engkau akan melihatnya. Aku melihat di masjid ada sekelompok orang yang duduk membuat halakah-halakah sambil menunggu salat. Di setiap lingkaran ada seorang laki-laki dan di tangan mereka ada batu-batu kecil. Laki-laki itu berkata: ‘Bertakbirlah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertakbir seratus kali. Laki-laki itu berkata lagi: ‘Bertahlillah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertahlil seratus kali. Dan ia berkata lagi: ‘Bertasbihlah kalian seratus kali!’, lalu mereka bertasbih seratus kali.”

‘Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Lalu apa yang kamu katakan kepada mereka?”

Abu Musa menjawab, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka karena menunggu pandanganmu atau menunggu perintahmu.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Mengapa tidak kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka dan kamu jamin untuk mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan ada yang sia-sia?”

ثُمَّ مَضَى وَمَضَيۡنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلۡقَةً مِنۡ تِلۡكَ الۡحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيۡهِمۡ، فَقَالَ: مَا هٰذَا الَّذِي أَرَاكُمۡ تَصۡنَعُونَ؟، قَالُوا: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكۡبِيرَ، وَالتَّهۡلِيلَ، وَالتَّسۡبِيحَ، قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمۡ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنۡ لَا يَضِيعَ مِنۡ حَسَنَاتِكُمۡ شَيۡءٌ، وَيۡحَكُمۡ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! مَا أَسۡرَعَ هَلَكَتَكُمۡ؛ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمۡ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهٰذِهِ ثِيَابُهُ لَمۡ تَبۡلَ، وَآنِيَتُهُ لَمۡ تُكۡسَرۡ، وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمۡ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهۡدَى مِنۡ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، أَوۡ مُفۡتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ، قَالُوا: وَاللهِ يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ مَا أَرَدۡنَا إِلَّا الۡخَيۡرَ، قَالَ: وَكَمۡ مِنۡ مُرِيدٍ لِلۡخَيۡرِ لَنۡ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا: أَنَّ قَوۡمًا يَقۡرَؤُونَ الۡقُرۡآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمۡ، وَايۡمُ اللهِ مَا أَدۡرِي لَعَلَّ أَكۡثَرَهُمۡ مِنۡكُمۡ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنۡهُمۡ،

Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud berlalu dan kami pun ikut berlalu bersamanya, hingga ia mendatangi salah satu dari halakah tersebut. Ia lalu berdiri di depan mereka dan bertanya, “Perbuatan apa yang aku lihat sedang kalian lakukan ini?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini adalah batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kalau begitu, hitunglah dosa-dosa kalian! Maka aku menjamin bahwa tidak akan ada sedikit pun dari kebaikan kalian yang sia-sia. Celaka kalian, wahai umat Muhammad! Betapa cepatnya kebinasaan kalian! Mereka para sahabat Nabi kalian—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih banyak yang hidup, pakaian beliau belum lagi usang, dan bejana-bejana beliau pun belum ada yang pecah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, ataukah kalian sebenarnya sedang membuka pintu kesesatan?!”

Mereka berkata, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.”

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan, namun ia tidak pernah mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menceritakan kepada kami bahwa ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, jangan-jangan mayoritas dari mereka adalah kalian.”

Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud berpaling meninggalkan mereka.

فَقَالَ عَمۡرُو بۡنُ سَلَمَةَ: رَأَيۡنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الۡحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوۡمَ النَّهۡرَوَانِ مَعَ الۡخَوَارِجِ.

‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat sebagian besar orang-orang yang berada di halakah tersebut ikut menikam kami pada hari perang Nahrawan bersama orang-orang Khawarij.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 3624

٣٣ - بَابُ الۡخِضَابِ بِالسَّوَادِ
33. Bab Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam


٣٦٢٤ - (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ ابۡنُ عُلَيَّةَ، عَنۡ لَيۡثٍ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرٍ قَالَ: جِيءَ بِأَبِي قُحَافَةَ - يَوۡمَ الۡفَتۡحِ - إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَكَأَنَّ رَأۡسَهُ ثَغَامَةٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اذۡهَبُوا بِهِ إِلَى بَعۡضِ نِسَائِهِ فَلۡتُغَيِّرۡهُ، وَجَنِّبُوهُ السَّوَادَ). [(غاية المرام)(١٠٥)، (الروض النضير)(٢٢١): م نحوه].

3624. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ismail bin ‘Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Laits, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir. Ia berkata:

Abu Quhafah didatangkan pada hari penaklukan kota Makkah kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sementara rambut kepalanya bagaikan pohon tsaghamah (pohon yang bunga dan buahnya berwarna putih). Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bawalah ia kepada salah seorang istrinya agar ia mengubah warna rambutnya dan jauhkanlah ia dari warna hitam.”