١٣٢٥ - [عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَاعِ]:
1325. ‘Amir bin Al-Akwa’
عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَاعِ، وَهُوَ عَامِرُ بۡنُ سِنَانٍ الۡأَنۡصَارِيُّ
عَمُّ سَلَمَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡأَكۡوَاعِ، اسۡتُشۡهِدَ عَامِرُ بۡنُ
سِنَانٍ يَوۡمَ خَيۡبَرَ.
‘Amir bin Al-Akwa’. Dia adalah ‘Amir bin Sinan Al-Anshari, paman dari Salamah
bin ‘Amr bin Al-Akwa’. ‘Amir bin Sinan gugur sebagai syahid pada Perang
Khaibar.
قَرَأۡتُ عَلَى سَعِيدِ بۡنِ نَصۡرٍ أَنَّ قَاسِمَ بۡنَ أَصۡبَغَ حَدَّثَهُمۡ،
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ وَضَّاحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي
شَيۡبَةَ، حَدَّثَنَا هَاشِمُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، حَدَّثَنَا عِكۡرِمَةُ بۡنُ
عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا إِيَاسُ بۡنُ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَاعِ، قَالَ
أَخۡبَرَنِي أَبِي قَالَ: لَمَّا خَرَجَ عَمِّي عَامِرُ بۡنُ سِنَانٍ إِلَى
خَيۡبَرَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ جَعَلَ يَرۡتَجِزُ بِأَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ،
وَفِيهِمُ النَّبِيُّ ﷺ، فَجَعَلَ يَسُوقُ الرِّكَابَ، وَهُوَ يَقُولُ:
[الرجز]
بِاللهِ لَوۡلَا اللهُ مَا اهۡتَدَيۡنَا وَلَا تَصَدَّقۡنَا وَلَا
صَلَّيۡنَا
إِنَّ الَّذِينَ قَدۡ بَغَوۡا عَلَيۡنَا إِذَا أَرَادُوا فِتۡنَةً
أَبَيۡنَا
وَنَحۡنُ عَنۡ فَضۡلِكَ مَا اسۡتَغۡنَيۡنَا فَثَبِّتِ الۡأَقۡدَامَ إِنۡ
لَاقَيۡنَا
وَأَنۡزِلَنۡ سَكِينَةً عَلَيۡنَا
Aku membacakan kepada Sa’id bin Nashr bahwa Qasim bin Ashbagh menceritakan
kepada mereka: Muhammad bin Wadhdhah menceritakan kepada kami: Abu Bakr bin
Abu Syaibah menceritakan kepada kami: Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada
kami: ‘Ikrimah bin ‘Ammar menceritakan kepada kami: Iyas bin Salamah bin
Al-Akwa’ menceritakan kepada kami. Dia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku.
Dia berkata:
Ketika pamanku, ‘Amir bin Sinan, keluar menuju Khaibar bersama
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dia mulai bersyair untuk membakar
semangat para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dalam keadaan
di tengah-tengah mereka ada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Dia memacu
unta-unta tunggangan seraya melantunkan syair:
Demi Allah, jikalau bukan karena Allah niscaya kita tidak mendapat petunjuk … tidak pula kita bersedekah dan tidak pula kita salat.Sesungguhnya orang-orang yang telah berbuat zalim kepada kita … apabila mereka menginginkan fitnah, maka kami menolaknya.Dan kami tidak pernah merasa cukup dari karunia-Mu … maka teguhkanlah telapak kaki kami apabila kami bertemu (musuh),serta turunkanlah ketenangan atas kami.
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ هٰذَا)؟ قَالُوا: عَامِرٌ يَا رَسُولَ اللهِ.
قَالَ: (غَفَرَ لَكَ رَبُّكَ). قَالَ: وَمَا اسۡتَغۡفَرَ لِإِنۡسَانٍ قَطُّ
يَخُصُّهُ بِالِاسۡتِغۡفَارِ إِلَّا اسۡتُشۡهِدَ. قَالَ: فَلَمَّا سَمِعَ
ذٰلِكَ عُمَرُ بۡنُ الخَطَّابِ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوۡ مَتَّعۡتَنَا
بِعَامِرٍ، فَاسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ خَيۡبَرَ.
Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah ini?”
Para sahabat menjawab, “‘Amir, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Semoga Rabmu mengampunimu.”
Salamah berkata: Dan tidaklah beliau memohonkan ampunan untuk seseorang secara
khusus melainkan orang tersebut akan gugur sebagai syahid.
Salamah berkata: Ketika ‘Umar bin Al-Khaththab mendengar hal itu, beliau
berkata, “Wahai Rasulullah, betapa bahagianya sekiranya engkau membiarkan kami
tetap menikmati kebersamaan bersama ‘Amir.”
‘Amir pun gugur sebagai syahid pada Perang Khaibar.
قَالَ سَلَمَةُ: وَبَارَزَ عَمِّي يَوۡمَئِذٍ مَرۡحَبًا اليَهُودِيَّ فَقَالَ
مَرۡحَبٌ: [الرجز]
قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي مَرۡحَبُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ
مُجَرَّبُ
إِذَا الۡحُرُوبُ أَقۡبَلَتۡ تَلَهَّبُ
Salamah berkata: Pamanku pada hari itu berduel melawan Marhab, si Yahudi. Lalu
Marhab berkata, “Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab …
bersenjata lengkap, kesatria yang berpengalaman, apabila peperangan telah
berkobar meluap-luap.”
فَقَالَ عَمِّي: [الرجز]
قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي عَامِرُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ
مُغَامِرُ
Pamanku membalas, “Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah ‘Amir …
bersenjata lengkap, kesatria yang berani menerjang bahaya.”
وَاخۡتَلَفَا ضَرۡبَتَيۡنِ، فَوَقَعَ سَيۡفُ مَرۡحَبٍ فِي تُرۡسِ عَامِرٍ،
وَرَجَعَ سَيۡفُهُ عَلَى سَاقِهِ فَقَطَعَ أَكۡحَلَهُ، فَكَانَتۡ فِيهَا
نَفۡسُهُ. قَالَ سَلَمَةُ: فَلَقِيتُ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ
فَقَالُوا: بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ، قَتَلَ نَفۡسَهُ. [قَالَ سَلَمَةُ]:
فَجِئۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَا رَسُولَ اللهِ، بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ؟
فَقَالَ: (مَنۡ قَالَ ذٰلِكَ)؟ فَقُلۡتُ: نَاسٌ مِنۡ أَصۡحَابِكَ. فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَقَدۡ كَذَبَ مَنۡ قَالَ ذٰلِكَ، بَلۡ لَهُ أَجۡرُهُ
مَرَّتَيۡنِ).
Keduanya saling menebaskan pedang. Pedang Marhab mendarat di perisai ‘Amir,
sedangkan pedang ‘Amir berbalik arah ke arah betisnya sendiri hingga memotong
pembuluh darahnya, yang menjadi sebab kematian jiwanya.
Salamah berkata: Aku lalu bertemu dengan beberapa orang dari sahabat
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mereka berkata, “Pahala amal
‘Amir gugur. Ia telah membunuh dirinya sendiri.”
Salamah berkata: Aku mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu
berkata, “Wahai Rasulullah, apakah gugur pahala amal ‘Amir?”
Beliau bertanya, “Siapa yang mengatakan demikian?”
Aku menjawab, “Orang-orang dari sahabatmu.”
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata,“Sungguh orang yang
mengatakan hal itu telah keliru. Bahkan dia mendapatkan pahalanya dua kali
lipat.”
قَالَ سَلَمَةُ: ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَرۡسَلَنِي إِلَى عَلِيِّ بۡنِ
أَبِي طَالِبٍ وَقَالَ: (لَأُعۡطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ
وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ)، قَالَ: فَجِئۡتُ بِهِ أَقُودُهُ
أَرۡمَدَ، فَبَصَقَ النَّبِيُّ ﷺ فِي عَيۡنَيۡهِ، ثُمَّ أَعۡطَاهُ الرَّايَةَ،
فَخَرَجَ مَرۡحَبٌ يَخۡطِرُ بِسَيۡفِهِ، فَقَالَ: [الرجز]
قَدۡ عَلِمَتۡ خَيۡبَرُ أَنِّي مَرۡحَبُ شَاكِي السِّلَاحِ بَطَلٌ
مُجَرَّبُ
إِذَا الۡحُرُوبُ أَقۡبَلَتۡ تَلَهَّبُ
فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ:
أَنَا الَّذِي سَمَّتۡنِي أُمِّي حَيۡدَرَهۡ كَلَيۡثِ غَابَاتٍ كَرِيهِ
المَنۡظَرَهۡ
أُوفِيهِمُ بِالصَّاعِ كَيۡلَ السَّنۡدَرَهۡ
فَفَلَقَ رَأۡسَ مَرۡحَبٍ بِالسَّيۡفِ، وَكَانَ الفَتۡحُ عَلَى
يَدَيۡهِ.
Salamah berkata: Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutusku
untuk memanggil ‘Ali bin Abu Thalib seraya bersabda, “Sungguh aku akan
menyerahkan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya, serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”
Salamah berkata: Aku datang membimbing ‘Ali dalam keadaan matanya sedang
sakit. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meludahi kedua matanya,
kemudian menyerahkan panji itu kepadanya.
Kemudian, Marhab keluar seraya mengayun-ayunkan pedangnya lalu berkata,
“Khaibar sungguh telah mengetahui bahwa aku adalah Marhab … bersenjata
lengkap, kesatria yang berpengalaman, apabila peperangan telah berkobar
meluap-luap.”
‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—menanggapi, “Akulah orang yang ibuku memberiku nama
Haidarah … seperti singa hutan yang menakutkan pandangannya, aku akan membalas
mereka dengan takaran yang setimpal dan secepat kilat.”
Kemudian, ‘Ali membelah kepala Marhab dengan pedang, dan kemenangan pun
tercapai di bawah kepemimpinannya.