Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7555

٥٦ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى:
56. Bab Firman Allah Taala:


﴿وَاللهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ﴾ [الصافات: ٩٦] ﴿إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَاهُ بِقَدَرٍ﴾ [القمر: ٤٩]. وَيُقَالُ لِلۡمُصَوِّرِينَ: (أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ).

“Allah yang menciptakan kalian dan amalan kalian.” (QS As-Saffat: 96). “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49). Dikatakan kepada para penggambar, “Hidupkanlah yang kalian buat!”

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوَى عَلَى الۡعَرۡشِ يُغۡشِي اللَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمۡرِهِ أَلَا لَهُ الۡخَلۡقُ وَالۡأَمۡرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الۡعَالَمِينَ﴾ [الأعراف: ٥٤].

“Sesungguhnya Rab kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (Dia juga menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rab semesta alam.” (QS Al-A’raf: 54).

قَالَ ابۡنُ عُيَيۡنَةَ: بَيَّنَ اللهُ الۡخَلۡقَ مِنَ الۡأَمۡرِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿أَلَا لَهُ الۡخَلۡقُ وَالۡأَمۡرُ﴾ [الأعراف: ٥٤] وَسَمَّى النَّبِيُّ ﷺ الۡإِيمَانَ عَمَلًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ وَأَبُو هُرَيۡرَةَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: أَيُّ الۡأَعۡمَالِ أَفۡضَلُ؟ قَالَ: (إِيمَانٌ بِاللهِ وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ).

Ibnu ‘Uyainah berkata: Allah membedakan antara al-khalq dan al-amr berdasarkan firman Allah taala, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rab semesta alam.” (QS Al-A’raf: 54).

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menamakan iman dengan amal. Abu Dzarr dan Abu Hurairah berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya, “Amal apa yang paling mulia?”

Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya.”

وَقَالَ: ﴿جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعۡمَلُونَ﴾ [السجدة: ١٧].

وَقَالَ وَفۡدُ عَبۡدِ الۡقَيۡسِ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مُرۡنَا بِجُمَلٍ مِنَ الۡأَمۡرِ، إِنۡ عَمِلۡنَا بِهَا دَخَلۡنَا الۡجَنَّةَ فَأَمَرَهُمۡ بِالۡإِيمَانِ وَالشَّهَادَةِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ. فَجَعَلَ ذٰلِكَ كُلَّهُ عَمَلًا.

Allah berfirman, “Sebagai balasan atas perbuatan mereka dahulu.” (QS As-Sajdah: 17).

Utusan ‘Abdul Qais berkata kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Perintahkan beberapa perintah yang jika kami kerjakan, kami akan masuk janah.”

Lalu beliau memerintahkan mereka untuk beriman, bersyahadat, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Beliau menganggap itu semua adalah amal.

٧٥٥٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ وَالۡقَاسِمِ التَّمِيمِيِّ، عَنۡ زَهۡدَمٍ قَالَ: كَانَ بَيۡنَ هٰذَا الۡحَيِّ مِنۡ جَرۡمٍ وَبَيۡنَ الۡأَشۡعَرِيِّينَ وُدٌّ وَإِخَاءٌ، فَكُنَّا عِنۡدَ أَبِي مُوسَى الۡأَشۡعَرِيِّ، فَقُرِّبَ إِلَيۡهِ الطَّعَامُ فِيهِ لَحۡمُ دَجَاجٍ، وَعِنۡدَهُ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي تَيۡمِ اللهِ، كَأَنَّهُ مِنَ الۡمَوَالِي، فَدَعَاهُ إِلَيۡهِ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيۡتُهُ يَأۡكُلُ شَيۡئًا فَقَذِرۡتُهُ، فَحَلَفۡتُ لَا آكُلُهُ، فَقَالَ: هَلُمَّ فَلَأُحَدِّثَنَّكَ عَنۡ ذَاكَ، إِنِّي أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي نَفَرٍ مِنَ الۡأَشۡعَرِيِّينَ نَسۡتَحۡمِلُهُ، قَالَ: (وَاللهِ لَا أَحۡمِلُكُمۡ، وَمَا عِنۡدِي مَا أَحۡمِلُكُمۡ). فَأُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِنَهۡبِ إِبِلٍ فَسَأَلَ عَنَّا فَقَالَ: (أَيۡنَ النَّفَرُ الۡأَشۡعَرِيُّونَ؟). فَأَمَرَ لَنَا بِخَمۡسِ ذَوۡدٍ غُرِّ الذُّرَى، ثُمَّ انۡطَلَقۡنَا، قُلۡنَا: مَا صَنَعۡنَا؟ حَلَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَا يَحۡمِلُنَا، وَمَا عِنۡدَهُ مَا يَحۡمِلُنَا، ثُمَّ حَمَلَنَا، تَغَفَّلۡنَا رَسُولَ اللهِ ﷺ يَمِينَهُ، وَاللهِ لَا نُفۡلِحُ أَبَدًا، فَرَجَعۡنَا إِلَيۡهِ فَقُلۡنَا لَهُ، فَقَالَ: (لَسۡتُ أَنَا أَحۡمِلُكُمۡ، وَلَكِنَّ اللهَ حَمَلَكُمۡ، إِنِّي وَاللهِ لَا أَحۡلِفُ عَلَى يَمِينٍ فَأَرَى غَيۡرَهَا خَيۡرًا مِنۡهَا، إِلَّا أَتَيۡتُ الَّذِي هُوَ خَيۡرٌ وَتَحَلَّلۡتُهَا). [طرفه في: ٣١٣٣].

7555. ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah dan Al-Qasim At-Tamimi, dari Zahdam. Beliau berkata:

Dahulu antara kabilah Jarm dan orang-orang Al-Asy’ari ada hubungan kecintaan dan persaudaraan. Suatu ketika kami berada di tempat Abu Musa Al-Asy’ari, lalu dihidangkanlah masakan yang di dalamnya terdapat daging ayam. Di dekat beliau ada seorang pria dari bani Taimullah, sepertinya dia mantan budak yang telah dimerdekakan. Abu Musa mengajaknya makan lalu pria itu berkata, “Sungguh aku pernah melihat ayam memakan suatu (yang kotor) sehingga aku merasa jijik dan bersumpah untuk tidak memakannya.”

Lalu Abu Musa berkata:

Kemarilah! Aku akan ceritakan kepadamu tentang hal itu. Sungguh aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersama serombongan orang Al-Asy’ari untuk minta tunggangan kepada beliau. Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak bisa mengangkut kalian dan aku tidak memiliki tunggangan untuk mengangkut kalian.”

Lalu ada yang datang kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membawa unta-unta rampasan perang. Beliau menanyakan kami, “Di mana orang-orang Al-Asy’ari tadi?”

Beliau memerintahkan lima ekor unta yang berpunuk putih diberikan kepada kami, kemudian kami berangkat. Kami berkata, “Apa yang telah kita lakukan? Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersumpah tidak bisa mengangkut kita dan beliau tidak memiliki tunggangan untuk mengangkut kita, kemudian beliau memberi kita tunggangan. Kita telah membuat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lupa akan sumpahnya. Demi Allah, kita tidak beruntung selama-lamanya.”

Kami kembali menemui Rasulullah, lalu kami mengatakan itu kepada beliau. Rasulullah berkata, “Bukan aku yang memberi tunggangan kepada kalian, akan tetapi Allah yang memberi tunggangan kepada kalian. Demi Allah, sungguh tidaklah aku bersumpah atas sesuatu, lalu aku melihat perkara lainnya lebih baik daripadanya, kecuali aku akan melakukan perkara yang paling baik dan aku menebus sumpah itu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3234 dan 3235

٣٢٣٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنِ ابۡنِ عَوۡنٍ: أَنۡبَأَنَا الۡقَاسِمُ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: مَنۡ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدۡ أَعۡظَمَ، وَلَكِنۡ قَدۡ رَأَى جِبۡرِيلَ فِي صُورَتِهِ، وَخَلۡقُهُ سَادٌّ مَا بَيۡنَ الۡأُفُقِ.

[الحديث ٣٢٣٤ - أطرافه في: ٣٢٣٥، ٤٦١٢، ٤٨٥٥، ٧٣٨٠، ٧٥٣١].

3234. Muhammad bin ‘Abdullah bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Aun: Al-Qasim memberitakan kepada kami dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan: Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad telah melihat Rabnya (dengan mata kepala sendiri dalam keadaan terjaga), maka dia bohong besar, akan tetapi beliau telah melihat Jibril dalam wujud aslinya dan memiliki ukuran yang menutup ruang antara ufuk.

٣٢٣٥ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بۡنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنِ ابۡنِ الۡأَشۡوَعِ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، قَالَ: قُلۡتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: فَأَيۡنَ قَوۡلُهُ: ﴿ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى * فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ أَوۡ أَدۡنَى﴾ [النجم: ٨-٩]؟ قَالَتۡ: ذَاكَ جِبۡرِيلُ، كَانَ يَأۡتِيهِ فِي صُورَةِ الرَّجُلِ، وَإِنَّهُ أَتَاهُ هٰذِهِ الۡمَرَّةَ فِي صُورَتِهِ الَّتِي هِيَ صُورَتُهُ، فَسَدَّ الۡأُفُقَ. [طرفه في: ٣٢٣٤].

3235. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepadaku: Abu Usamah menceritakan kepada kami: Zakariyya` bin Abu Za`idah menceritakan kepada kami dari Ibnu Al-Asywa’, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq. Beliau berkata:

Aku bertanya kepada ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—, “Lalu bagaimana dengan ayat: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (QS An-Najm: 8-9)?”

‘Aisyah menjawab, “Itu adalah Jibril. Biasanya Jibril mendatangi Nabi dalam rupa seorang lelaki namun kali ini sungguh Jibril mendatangi beliau dalam wujud aslinya hingga menutup ufuk.”

Al-Isti'ab - 1969. 'Amr bin Qais bin Al-Ashamm

١٩٦٩ – [عَمۡرُو بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ الۡأَصَمِّ]:
1969. ‘Amr bin Qais bin Al-Ashamm


عَمۡرُو بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ، وَالۡأَصَمُّ هُوَ جُنۡدَبُ بۡنُ هَرِمٍ بۡنِ رَوَاحَةَ بۡنِ حُجۡرِ بۡنِ عَبۡدِ بۡنِ مُعَيۡصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍّ الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ. هُوَ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ الۡمُؤَذِّنُ، وَأُمُّهُ أُمُّ مَكۡتُومٍ، وَاسۡمُهَا عَاتِكَةُ بِنۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَنَكَثَةَ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ مَخۡزُومٍ.

‘Amr bin Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm. Al-Ashamm adalah Jundab bin Harim bin Rawahah bin Hujr bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Lu`ayy Al-Qurasyi Al-‘Amiri. Dia adalah putra Umu Maktum, sang muazin. Ibunya adalah Umu Maktum, yang bernama ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum.

وَاخۡتُلِفَ فِي اسۡمِ ابۡنِ أُمِّ مَكۡتُومٍ، فَقِيلَ عَبۡدُ اللهِ عَلَى مَا ذَكَرۡنَاهُ فِي الۡعَبَادِلَةِ. وَقِيلَ: عَمۡرٌو، وَهُوَ الۡأَكۡثَرُ عِنۡدَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ، وَكَذٰلِكَ قَالَ الزُّبَيۡرُ وَمُصۡعَبٌ قَالُوا: وَهُوَ ابۡنُ خَالِ خَدِيجَةَ بِنۡتِ خُوَيۡلِدٍ أَخِي أُمِّهَا، وَكَانَ مِمَّنۡ قَدِمَ الۡمَدِينَةَ مَعَ مُصۡعَبِ بۡنِ عُمَيۡرٍ قَبۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai nama putra Umu Maktum. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah ‘Abdullah, seperti yang telah kami sebutkan di bagian nama ‘Abdullah. Ada juga yang mengatakan bahwa namanya adalah ‘Amr dan ini merupakan pendapat yang lebih banyak di kalangan ulama hadis. Ini juga merupakan pendapat Az-Zubair dan Mush’ab. Mereka mengatakan bahwa dia adalah sepupu (anak dari saudara laki-laki ibu) Khadijah binti Khuwailid, dan dia termasuk orang yang datang ke Madinah bersama Mush’ab bin ‘Umair sebelum Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَقَالَ الۡوَاقِدِيُّ: قَدِمَهَا بَعۡدَ بَدۡرٍ بِيَسِيرٍ، وَاسۡتَخۡلَفَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى الۡمَدِينَةِ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ مَرَّةً فِي غَزَوَاتِهِ: فِي غَزۡوَةِ الۡأَبۡوَاءِ، وَبُوَاطٍ، وَذِي الۡعُشَيۡرَةِ، وَخُرُوجِهِ إِلَى نَاحِيَةِ جُهَيۡنَةَ فِي طَلَبِ كُرۡزِ بۡنِ جَابِرٍ، وَفِي غَزۡوَةِ السَّوِيۡقِ، وَغَطَفَانَ، وَأُحُدٍ، وَحَمۡرَاءِ الۡأَسَدِ، وَنَجۡرَانَ، وَذَاتِ الرُّقَاعِ، وَاسۡتَخۡلَفَهُ حِينَ سَارَ إِلَى بَدۡرٍ، ثُمَّ رَدَّ أَبَا لَبَابَةَ وَاسۡتَخۡلَفَهُ عَلَيۡهَا، وَاسۡتَخۡلَفَ عَمۡرَو بۡنَ أُمِّ مَكۡتُومٍ أَيۡضًا فِي خُرُوجِهِ إِلَى حَجَّةِ الۡوَدَاعِ، وَشَهِدَ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ فَتۡحَ الۡقَادِسِيَّةِ، وَكَانَ مَعَهُ اللُّوَاءُ يَوۡمَئِذٍ، وَقُتِلَ شَهِيدًا بِالۡقَادِسِيَّةِ.

Al-Waqidi berkata: Dia tiba di Madinah tak lama setelah perang Badr, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengangkatnya sebagai wakilnya di Madinah sebanyak tiga belas kali perang yang beliau pimpin: dalam perang Al-Abwa`, Buwath, Dzu Al-‘Usyairah, perang beliau ke wilayah Juhainah dalam pengejaran Kurz bin Jabir, perang As-Sawiq, Ghathafan, Uhud, Hamra` Al-Asad, Najran, dan Dzat Ar-Riqa’. Beliau juga mengangkatnya sebagai wakilnya ketika beliau pergi ke Badr, kemudian mengirim kembali Abu Lubabah dan mengangkatnya pula sebagai wakil di Madinah. Beliau juga mengangkat ‘Amr bin Umu Maktum sebagai wakilnya ketika beliau pergi ke haji wadak. Ibnu Umu Maktum mengikuti penaklukan Al-Qadisiyyah, dan beliau membawa panji pada hari itu. Beliau gugur sebagai syahid di Al-Qadisiyyah.

وَقَالَ الۡوَاقِدِيُّ: رَجَعَ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ مِنَ الۡقَادِسِيَّةِ إِلَى الۡمَدِينَةِ، فَمَاتَ، وَلَمۡ يُسۡمَعۡ لَهُ بِذِكۡرٍ بَعۡدَ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Al-Waqidi berkata: Ibnu Umu Maktum kembali dari Al-Qadisiyyah ke Madinah lalu beliau meninggal. Cerita tentang beliau tidak lagi disebut sepeninggal ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: ذَكَرَ ذٰلِكَ جَمَاعَةٌ مِنۡ أَهۡلِ السِّيَرِ وَالۡعِلۡمِ بِالنَّسَبِ وَالۡخَبَرِ. وَأَمَّا رِوَايَةُ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ اسۡتَخۡلَفَ ابۡنَ أُمِّ مَكۡتُومٍ عَلَى الۡمَدِينَةِ مَرَّتَيۡنِ فَلَمۡ يَبۡلُغۡهُ مَا بَلَغَ غَيۡرَهُ. وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Abu ‘Umar berkata: Hal ini disebutkan oleh sekelompok sejarawan dan ahli silsilah dan ahli berita. Adapun riwayat Qatadah, dari Anas: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengangkat Ibnu Umu Maktum sebagai wakilnya di Madinah dua kali; maka beliau belum mendapat kabar seperti yang orang lain dapat. Wallahualam.

Al-Isti'ab - 1687. 'Abdullah bin Umu Maktum

١٦٨٧ – [عَبۡدُ اللهِ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ الۡعَامِرِيُّ]:
1687. ‘Abdullah bin Umu Maktum Al-‘Amiri


عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ الۡأَعۡمَى الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ، لَمۡ يَخۡتَلِفُوا أَنَّهُ مِنۡ بَنِي عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ، وَاسۡمُ أُمِّهِ أُمُّ مَكۡتُومٍ عَاتِكَةُ بِنۡتُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَنَكَثَةَ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ مَخۡزُومٍ. وَاخۡتَلَفُوا فِي اسۡمِ أَبِيهِ، فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ. وَقَالَ آخَرُونَ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَصَمِّ بۡنِ رِوَاحَةَ بۡنِ صَخۡرِ بۡنِ عَبۡدِ بۡنِ مُعَيۡصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ الۡقُرَشِيُّ الۡعَامِرِيُّ، كَانَ قَدِيمَ الۡإِسۡلَامِ بِمَكَّةَ وَهَاجَرَ إِلَى الۡمَدِينَةِ.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa ia berasal dari Bani ‘Amir bin Lu`ayy dan nama ibunya adalah Umu Maktum ‘Atikah binti ‘Abdullah bin ‘Ankatsah bin ‘Amir bin Makhzum.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai nama ayahnya. Sebagian mengatakan bahwa namanya adalah ‘Abdullah bin Za`idah bin Al-Ashamm, sementara yang lain mengatakan: Ia adalah ‘Abdullah bin Qais bin Malik bin Al-Ashamm bin Rawahah bin Shakhr bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Lu`ayy Al-Qurasyi Al-‘Amiri. Ia termasuk yang awal-awal masuk Islam di Makkah dan berhijrah ke Madinah.

وَاخۡتُلِفَ فِي وَقۡتِ هِجۡرَتِهِ إِلَيۡهَا، فَقِيلَ: كَانَ مِمَّنۡ قَدِمَ الۡمَدِينَةَ مَعَ مُصۡعَبِ بۡنِ عُمَيۡرٍ قَبۡلَ رَسُولِ اللهِ ﷺ. وَقَالَ الۡوَاقِدِيُّ: قَدِمَهَا بَعۡدَ بَدۡرٍ بِيَسِيرٍ، فَنَزَلَ دَارَ الۡقُرَّاءِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَمَّا قَدِمَ الۡمَدِينَةَ يَسۡتَخۡلِفُهُ عَلَيۡهَا فِي أَكۡثَرِ غَزَوَاتِهِ. وَسَنَذۡكُرُ خَبَرَهُ فِي بَابِ عَمۡرٍو، فَإِنَّ أَكۡثَرَ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ يَقُولُ اسۡمُ ابۡنِ أُمِّ مَكۡتُومٍ عَمۡرُو بۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ، وَقَالَ مُصۡعَبُ الزُّبَيۡرِيُّ: أَبُوهُ قَيۡسُ بۡنُ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ، وَلَمۡ يَقُلۡ فِي اسۡمِهِ عَبۡدُ اللهِ وَلَا عَمۡرٌو. وَقَالَ الزُّبَيۡرِيُّ: هُوَ عَمۡرُو بۡنُ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ وَهُوَ قَوۡلُ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ. وَقَالَ سَلَمَةُ بۡنُ فَضۡلٍ، عَنۡ ابۡنِ إِسۡحَاقَ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شُرَيۡحٍ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ بۡنِ هَرِمٍ بۡنِ رِوَاحَةَ بۡنِ حُجۡرِ بۡنِ عَبۡدِ بۡنِ مُعَيۡصِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ لُؤَيٍ. وَهَكَذَا قَالَ عَلِيُّ بۡنُ الۡمَدِينِيِّ وَالۡحُسَيۡنُ بۡنُ وَاقِدٍ ابۡنُ أُمِّ مَكۡتُومٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شُرَيۡحٍ. وَقَالَ قَتَادَةُ: هُوَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَائِدَةَ وَأَظُنُّهُ نَسَبَهُ إِلَى جَدِّهِ. وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ سَعۡدٍ كَاتِبُ الۡوَاقِدِيِّ: أَمَّا أَهۡلُ الۡمَدِينَةِ فَيَقُولُونَ اسۡمُهُ عَبۡدُ اللهِ، وَأَهۡلُ الۡعِرَاقِ يَقُولُونَ اسۡمُهُ عَمۡرٌو. قَالَ: ثُمَّ أَجۡمَعُوا عَلَى أَنَّهُ ابۡنُ قَيۡسِ بۡنِ زَائِدَةَ بۡنِ الۡأَصَمِّ.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu hijrahnya ke Madinah. Ada yang berpendapat bahwa ia termasuk di antara mereka yang datang ke Madinah bersama Mush’ab bin ‘Umair sebelum Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Al-Waqidi berkata bahwa ia datang tak lama setelah perang Badr dan tinggal di Dar Al-Qurra`.

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, beliau menunjuknya sebagai wakilnya di sana dalam sebagian besar perang yang beliau pimpin. Kita akan menyebutkan kisahnya dalam bab ‘Amr, karena sebagian besar ulama hadis mengatakan bahwa nama Ibnu Umu Maktum adalah ‘Amr bin Umu Maktum. Mush’ab Az-Zubairi berkata: Ayahnya adalah Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm, dan ia tidak menyebutkan namanya ‘Abdullah atau ‘Amr. Az-Zubairi berkata: Ia adalah ‘Amr bin Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm, dan ini adalah pendapat Musa bin ‘Uqbah. Salamah bin Fadhl dari Ibnu Ishaq berkata: Dia adalah ‘Abdullah bin Syuraih bin Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm bin Haram bin Rawahah bin Hajar bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Lu`ayy. Demikian pula yang dikatakan oleh ‘Ali bin Al-Madini dan Al-Husain bin Waqid: Ibnu Umu Maktum adalah ‘Abdullah bin Syuraih. Qatadah berkata: Dia adalah ‘Abdullah bin Za`idah, dan aku mengira dia menasabkan diri kepada kakeknya. Muhammad bin Sa’d, juru tulis al-Waqidi, berkata: Penduduk Madinah menyebut namanya ‘Abdullah, sedangkan penduduk Irak menyebut namanya ‘Amr. Beliau berkata: Kemudian mereka semua sepakat bahwa dia adalah putra Qais bin Za`idah bin Al-Ashamm.

قَالَ أَبُو عُمَرَ رَحِمَهُ اللهُ: لَمۡ يَجۡمَعُوا لِمَا ذَكَرۡنَا عَنۡ ابۡنِ إِسۡحَاقَ وَعَلِيِّ بۡنِ الۡمَدِينِيِّ - وَحُسَيۡنِ بۡنِ وَاقِدٍ: وَكَانَ يُؤَذِّنُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ مَعَ بِلَالٍ، وَشَهِدَ الۡقَادِسِيَّةَ فِيمَا يَقُولُونَ، وَبَاقِي خَبَرِهِ يَأۡتِي فِي بَابِ عَمۡرٍو.

Abu ‘Umar berkata: Mereka tidak bersepakat (tentang namanya), seperti yang telah kami sebutkan dari Ibnu Ishaq, ‘Ali bin Al-Madini, dan Husain bin Waqid. ‘Abdullah bin Umu Maktum menjadi muazin bersama Bilal untuk Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia juga ikut serta dalam pertempuran Qadisiyah, menurut pendapat mereka. Sisa kabarnya akan disebutkan dalam bab tentang ‘Amr.

Al-Isti'ab - 2026. 'Auf bin Malik

٢٠٢٦ - [عوف بن مالك الأشجعي]:
2026. ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i


عَوۡفُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ أَبِي عَوۡفٍ الۡأَشۡجَعِيُّ. يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ. وَيُقَالُ أَبُو حَمَّادٍ. وَيُقَالُ أَبُو عُمَرَ. وَأَوَّلُ مَشَاهِدِهِ خَيۡبَر، وَكَانَتۡ مَعَهُ رَايَةُ أَشۡجَعَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ.

‘Auf bin Malik bin Abu ‘Auf Al-Asyja’i. Nama kunyah beliau adalah Abu ‘Abdurrahman. Ada yang berpendapat Abu Hammad dan ada yang berpendapat Abu ‘Umar. Pertempuran pertamanya adalah perang Khaibar. Dahulu beliau membawa panji kabilah Asyja’ pada hari penaklukan Makkah.

سَكَنَ الشَّامَ وَعُمِّرَ، وَمَاتَ فِي خِلَافَةِ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ مَرۡوَانَ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ.

Beliau tinggal dan hidup lama di Syam. Beliau wafat pada masa kekhalifahan ‘Abdul Malik bin Marwan pada tahun 73 H.

رَوَى عَنۡهُ جَمَاعَةٌ مِنۡ التَّابِعِينَ، مِنۡهُمۡ يَزِيدُ بۡنُ الۡأَصَمِّ، وَشَدَّادُ بۡنُ عَمَّارٍ، وَجُبَيۡرُ بۡنُ نُفَيۡرٍ وَغَيۡرُهُمۡ. وَرَوَى عَنۡهُ مِنۡ الصَّحَابَةِ أَبُو هُرَيۡرَةَ.

Sekelompok tabiin meriwayatkan hadis dari beliau. Di antara mereka adalah Yazid bin Al-Ashamm, Syaddad bin ‘Ammar, Jubair bin Nufair, dan lainnya. Yang meriwayatkan dari beliau dari kalangan sahabat adalah Abu Hurairah.