Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 2882. Abu Umamah Al-Bahili

٢٨٨٢ - [أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ]:
2882. Abu Umamah Al-Bahili


أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ. اسۡمُهُ صُدَيُّ بۡنُ عَجۡلَانَ، لَمۡ يَخۡتَلِفُوا فِي ذٰلِكَ، وَاخۡتَلَفُوا فِي نَسَبِهِ إِلَى بَاهِلَةَ، وَهُوَ مَالِكُ بۡنُ يَعۡصُرَ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ عَيۡلَانَ بۡنِ مُضَرَ بِزِيَادَةِ رَجُلٍ فِي نَسَبِهِ وَنُقۡصَانِ آخَرَ، فَلَمۡ أَرَ لِذِكۡرِهِ وَجۡهًا، وَجَعَلَهُ بَعۡضُهُمۡ مِنۡ بَنِي سَهۡمٍ فِي بَاهِلَةَ، وَخَالَفَهُ غَيۡرُهُمۡ فِي ذٰلِكَ، وَلَمۡ يَخۡتَلِفُوا أَنَّهُ مِنۡ بَاهِلَةَ، وَقَدۡ ذَكَرۡنَا بَاهِلَةَ وَمَا قِيلَ فِيهَا فِي كِتَابِ قَبَائِلِ الرُّوَاةِ. سَكَنَ (أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ) مِصۡرَ، ثُمَّ انۡتَقَلَ مِنۡهَا إِلَى حِمۡصَ فَسَكَنَهَا، وَمَاتَ بِهَا، وَكَانَ مِنَ الۡمُكۡثِرِينَ فِي الرِّوَايَةِ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَأَكۡثَرُ حَدِيثِهِ عِنۡدَ الشَّامِيِّينَ. تُوُفِّيَ سَنَةَ إِحۡدَى وَثَمَانِينَ. وَقِيلَ سَنَةَ سِتٍّ وَثَمَانِينَ، وَهُوَ آخِرُ مَنۡ مَاتَ بِالشَّامِ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي قَوۡلِ بَعۡضِهِمۡ.

Abu Umamah Al-Bahili. Namanya Shuday bin ‘Ajlan. Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai hal itu. Mereka berselisih pendapat mengenai nasabnya sampai ke Bahilah—yaitu Malik bin Ya’shur bin Sa’d bin Qais bin ‘Ailan bin Mudhar—dengan penambahan satu nama laki-laki pada nasabnya atau pengurangan nama lainnya, sehingga aku tidak memandang ada perlunya untuk menyebutkannya. Sebagian ulama menjadikannya termasuk keturunan Bani Sahm di dalam Bahilah, sedangkan ulama lainnya menyelisihi pendapat tersebut. Namun mereka tidak berselisih pendapat bahwa ia berasal dari Bahilah. Kami telah menyebutkan tentang kabilah Bahilah dan apa yang dikatakan tentangnya dalam kitab Qaba`il Ar-Ruwah. Abu Umamah Al-Bahili pernah tinggal di Mesir, kemudian ia berpindah dari sana ke Himsh (Homs) lalu menetap di sana dan meninggal di kota tersebut. Ia termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dan sebagian besar hadisnya diriwayatkan oleh penduduk Syam. Ia wafat pada tahun 81 H. Ada pula yang berpendapat: pada tahun 86 H. Dialah sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terakhir yang meninggal di Syam menurut pendapat sebagian ulama.

Al-Isti'ab - 1242. Shuday bin 'Ajlan

١٢٤٢ - [صُدَيُّ بۡنُ عَجۡلَانَ]:
1242. Shuday bin ‘Ajlan


صُدَيُّ بۡنُ عَجۡلَانَ بۡنِ وَهۡبٍ، أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ، غَلَبَتۡ عَلَيۡهِ كُنۡيَتُهُ، وَلَا أَعۡلَمُ فِي اسۡمِهِ اخۡتِلَافًا. كَانَ يَسۡكُنُ حِمۡصَ.

Shuday bin ‘Ajlan bin Wahb, Abu Umamah Al-Bahili. Kunyah-nya lebih dikenal daripada nama aslinya, dan aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai namanya. Ia dahulu tinggal di Himsh (Homs).

تُوُفِّيَ سَنَةَ إِحۡدَى وَثَمَانِينَ، وَهُوَ ابۡنُ إِحۡدَى وَتِسۡعِينَ سَنَةً. وَيُقَالُ: مَاتَ سَنَةَ سِتٍّ وَثَمَانِينَ.

Ia wafat pada tahun 81 H pada usia 91 tahun. Ada pula yang berpendapat: ia meninggal pada tahun 86 H.

قَالَ سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ: كَانَ أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ آخِرَ مَنۡ بَقِيَ بِالشَّامِ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: Abu Umamah Al-Bahili adalah sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terakhir yang tersisa di Syam.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَدۡ بَقِيَ بِالشَّامِ بَعۡدَهُ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ بُسۡرٍ، هُوَ آخِرُ مَنۡ مَاتَ بِالشَّامِ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ. كَانَ أَبُو أُمَامَةَ الۡبَاهِلِيُّ مِمَّنۡ رَوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَأَكۡثَرَ. رَوَى عَنۡهُ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ، مِنۡهُمۡ سُلَيۡمُ بۡنُ عَامِرٍ الۡخَبَايِرِيُّ، وَالۡقَاسِمُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ، وَأَبُو غَالِبٍ حَزَوَّرُ، وَشُرَحۡبِيلُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ زِيَادٍ. وَقَدۡ ذَكَرۡنَاهُ فِي الۡكُنَى بِأَتَمَّ مِنۡ هٰذَا.

Abu ‘Umar berkata: ‘Abdullah bin Busr masih tersisa di Syam setelah dirinya, dan dialah sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terakhir yang meninggal di Syam. Abu Umamah Al-Bahili termasuk orang yang meriwayatkan banyak hadis dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Sejumlah tabiin meriwayatkan darinya, di antaranya Sulaim bin ‘Amir Al-Khabayiri, Al-Qasim bin ‘Abdurrahman, Abu Ghalib Hazawwar, Syurahbil bin Muslim, dan Muhammad bin Ziyad. Kami telah menyebutkan biografinya pada bagian bab Al-Kuna lebih lengkap daripada ini.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2412

٢٤١٢ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَيۡنَمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ جَاءَ يَهُودِيٌّ، فَقَالَ: يَا أَبَا الۡقَاسِمِ، ضَرَبَ وَجۡهِي رَجُلٌ مِنۡ أَصۡحَابِكَ، فَقَالَ: (مَنۡ؟) قَالَ: رَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (ادۡعُوهُ). فَقَالَ: (أَضَرَبۡتَهُ؟) قَالَ: سَمِعۡتُهُ بِالسُّوقِ يَحۡلِفُ: وَالَّذِي اصۡطَفَى مُوسَى عَلَى الۡبَشَرِ، قُلۡتُ: أَيۡ خَبِيثُ، عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ؟ فَأَخَذَتۡنِي غَضۡبَةٌ ضَرَبۡتُ وَجۡهَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا تُخَيِّرُوا بَيۡنَ الۡأَنۡبِيَاءِ، فَإِنَّ النَّاسَ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ تَنۡشَقُّ عَنۡهُ الۡأَرۡضُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنۡ قَوَائِمِ الۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَكَانَ فِيمَنۡ صَعِقَ، أَمۡ حُوسِبَ بِصَعۡقَةِ الۡأُولَى).

[الحديث ٢٤١٢ - أطرافه في: ٣٣٩٨، ٤٦٣٨، ٦٩١٦، ٦٩١٧، ٧٤٢٧].

2412. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Yahya menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang duduk, datanglah seorang Yahudi lalu berkata, “Wahai Abu Al-Qasim, seorang laki-laki dari sahabatmu telah memukul wajahku.”

Beliau bertanya, “Siapa?”

Ia menjawab, “Seorang laki-laki dari Ansar.”

Beliau berkata, “Panggillah dia.”

Beliau lalu bertanya, “Apakah kamu memukulnya?”

Ia menjawab, “Aku mendengarnya di pasar bersumpah: ‘Demi Zat yang memilih Musa atas manusia.’ Aku berkata: ‘Wahai orang yang buruk, atas Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.’ Lalu marahlah aku dan memukul wajahnya.”

Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian mengunggulkan di antara para nabi, karena sesungguhnya manusia pingsan pada hari kiamat, lalu akulah orang pertama yang keluar dari kubur. Ternyata aku mendapati Musa sedang memegang salah satu tiang dari tiang-tiang arasy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk orang yang pingsan ataukah ia sudah dicukupkan dengan pingsannya yang pertama (di bukit Thur).”

Shahih Al-Bukhari - 43. Kitab tentang Pinjam-Meminjam, Pelunasan Utang, Pembatasan Hak Pengelolaan Harta, dan Kepailitan

﷽

٤٣ - كِتَابٌ فِي الۡاِسۡتِقۡرَاضِ وَأَدَاءِ الدُّيُونِ وَالۡحَجۡرِ وَالتَّفۡلِيسِ

Kitab tentang Pinjam-Meminjam, Pelunasan Utang, Pembatasan Hak Pengelolaan Harta, dan Kepailitan

  1. Bab barang siapa membeli barang dengan utang dalam keadaan belum memiliki alat pembayarannya atau sedang tidak ada bersamanya
    1. Hadis nomor 2385
    2. Hadis nomor 2386
  2. Bab Barang Siapa Mengambil Harta Orang Lain dengan Maksud Membayarnya atau Merusaknya
    1. Hadis nomor 2387
  3. Bab Melunasi Utang
    1. Hadis nomor 2388
    2. Hadis nomor 2389
  4. Bab Utang Piutang Unta
    1. Hadis nomor 2390
  5. Bab Menagih Utang dengan Baik
    1. Hadis nomor 2391
  6. Bab Apakah Unta yang Berumur Lebih Tua daripada Umur Untanya Boleh Diberikan
    1. Hadis nomor 2392
  7. Bab Baiknya Pelunasan Utang
    1. Hadis nomor 2393
    2. Hadis nomor 2394
  8. Bab Apabila Seseorang Membayar Utang Kurang dari Jumlah Hak yang Seharusnya (atas Keridaan Pemilik Piutang) atau Pemilik Piutang Merelakannya, Maka Hal Itu Diperbolehkan
    1. Hadis nomor 2395
  9. Bab Apabila Seseorang Melakukan Perjumpaan Utang (Kompensasi) atau Menyerahkan Secara Borongan dalam Urusan Utang Berupa Kurma dengan Kurma atau Selainnya
    1. Hadis nomor 2396
  10. Bab barang siapa berlindung dari utang
    1. Hadis nomor 2397
  11. Bab Salat atas Orang yang Meninggalkan Utang
    1. Hadis nomor 2398
    2. Hadis nomor 2399
  12. Bab Penundaan Pembayaran Utang oleh Orang yang Mampu Adalah Kezaliman
    1. Hadis nomor 2400
  13. Bab Pemilik Hak Memiliki Hak untuk Berbicara
    1. Hadis nomor 2401
  14. Bab Apabila Seseorang Menemukan Hartanya pada Orang yang Bangkrut dalam Jual Beli, Pinjaman, dan Titipan, Maka Dia Lebih Berhak Atasnya
    1. Hadis nomor 2402
  15. Bab Orang yang Meminta Pemilik Piutang Menunda Pembayaran hingga Esok Hari atau Semisalnya, dan Tidak Memandang Hal Tersebut sebagai Tindakan Mengulur-ulur Waktu
  16. Bab Orang yang Menjual Harta Milik Orang yang Bangkrut atau Orang yang Tidak Memiliki Harta, Lalu Membagikannya di Antara Para Pemilik Piutang, atau Memberikannya Kepadanya agar Ia Dapat Menafkahi Dirinya Sendiri
    1. Hadis nomor 2403
  17. Bab Apabila Seseorang Memberinya Pinjaman sampai Jangka Waktu Tertentu, atau Menangguhkan Pembayaran dalam Jual Beli
    1. Hadis nomor 2404
  18. Bab Bantuan Perantaraan dalam Mengurangi Utang
    1. Hadis nomor 2405
    2. Hadis nomor 2406
  19. Bab Menyia-nyiakan Harta yang Dilarang
    1. Hadis nomor 2407
    2. Hadis nomor 2408
  20. Bab budak bertanggung jawab menjaga harta majikannya dan dia tidak boleh bekerja kecuali seizin majikannya
    1. Hadis nomor 2409

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7228

٢ - بَابُ تَمَنِّي الۡخَيۡرِ
2. Bab mengangankan kebaikan


وَقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَوۡ كَانَ لِي أُحُدٌ ذَهَبًا).

Dan sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud.”

٧٢٢٨ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ نَصۡرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامٍ: سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَوۡ كَانَ عِنۡدِي أُحُدٌ ذَهَبًا، لَأَحۡبَبۡتُ أَنۡ لَا يَأۡتِيَ ثَلَاثٌ وَعِنۡدِي مِنۡهُ دِينَارٌ - لَيۡسَ شَيۡءٌ أُرۡصِدُهُ فِي دَيۡنٍ عَلَيَّ - أَجِدُ مَنۡ يَقۡبَلُهُ). [طرفه في: ٢٣٨٩].

7228. Ishaq bin Nashr telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Hammam: Ia mendengar Abu Hurairah dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, aku sungguh senang jika tidak berlalu tiga hari sementara di sisiku masih ada tersisa satu dinar darinya, kecuali sesuatu yang aku persiapkan untuk membayar utang yang menjadi tanggunganku jika aku menemukan orang yang mau menerimanya.”