Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5506

 ٢٠ - بَابٌ لَا يُذَكَّى بِالسِّنِّ وَالۡعَظۡمِ وَالظُّفُرِ
20. Bab Hewan Tidak Boleh Disembelih dengan Gigi, Tulang, dan Kuku

٥٥٠٦ - حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ، عَنۡ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كُلۡ - يَعۡنِي - مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ، إِلَّا السِّنَّ وَالظُّفُرَ). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5506. Qabishah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Abayah bin Rifa’ah, dari Rafi’ bin Khadij. Ia berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Makanlah—yakni—(hewan yang kausembelih dengan alat) apa saja yang bisa mengalirkan darah, kecuali gigi dan kuku.”


Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5503

 ٥٥٠٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ جَدِّهِ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ لَيۡسَ لَنَا مُدًى، فَقَالَ: (مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ فَكُلۡ، لَيۡسَ الظُّفُرَ وَالسِّنَّ، أَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ، وَأَمَّا السِّنُّ فَعَظۡمٌ). وَنَدَّ بَعِيرٌ فَحَبَسَهُ، فَقَالَ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡإِبِلِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَمَا غَلَبَكُمۡ مِنۡهَا فَاصۡنَعُوا هَكَذَا). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5503. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Syu’bah, dari Sa’id bin Masruq, dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’, dari kakeknya:

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki pisau.”

Beliau bersabda, “Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan nama Allah disebut, makanlah. Asal bukan kuku dan gigi. Adapun kuku adalah pisau orang-orang Habasyah, sedangkan gigi adalah tulang.”

Seekor unta kabur, lalu seseorang menghentikannya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya unta-unta ini memiliki tabiat liar seperti binatang liar. Hewan apa saja dari mereka yang membuat kalian kewalahan, perlakukanlah ia seperti ini.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5498

 ١٥ - بَابُ التَّسۡمِيَةِ عَلَى الذَّبِيحَةِ، وَمَنۡ تَرَكَ مُتَعَمِّدًا
15. Bab Membaca Basmalah atas Hewan Sembelihan dan Barangsiapa yang Meninggalkannya dengan Sengaja

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: مَنۡ نَسِيَ فَلَا بَأۡسَ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Barangsiapa yang lupa, maka tidak mengapa.”

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَأۡكُلُوا مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُ لَفِسۡقٌ﴾ [الأنعام: ١٢١] وَالنَّاسِي لَا يُسَمَّى فَاسِقًا. وَقَوۡلُهُ: ﴿وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوۡلِيَائِهِمۡ لِيُجَادِلُوكُمۡ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ﴾ [الأنعام: ١٢١].

Allah taala berfirman, “Dan janganlah kalian memakan hewan-hewan yang tidak disebut nama Allah ketika disembelih, karena itu benar-benar suatu kefasikan.” (QS Al-An’am: 121).

Orang yang lupa tidak dinamakan orang fasik. Dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar membisikkan kepada kawan-kawan mereka agar mereka membantah kalian; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar orang musyrik.” (QS Al-An’am: 121).

٥٤٩٨ - حَدَّثَنِي مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَبَايَةَ بۡنِ رِفَاعَةَ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ جَدِّهِ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ بِذِي الۡحُلَيۡفَةِ، فَأَصَابَ النَّاسَ جُوعٌ، فَأَصَبۡنَا إِبِلًا وَغَنَمًا، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ فِي أُخۡرَيَاتِ النَّاسِ، فَعَجِلُوا فَنَصَبُوا الۡقُدُورَ، فَدُفِعَ إِلَيۡهِمُ النَّبِيُّ ﷺ فَأَمَرَ بِالۡقُدُورِ فَأُكۡفِئَتۡ، ثُمَّ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشَرَةً مِنَ الۡغَنَمِ بِبَعِيرٍ، فَنَدَّ مِنۡهَا بَعِيرٌ، وَكَانَ فِي الۡقَوۡمِ خَيۡلٌ يَسِيرَةٌ، فَطَلَبُوهُ فَأَعۡيَاهُمۡ، فَأَهۡوَى إِلَيۡهِ رَجُلٌ بِسَهۡمٍ فَحَبَسَهُ اللهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ لِهٰذِهِ الۡبَهَائِمِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الۡوَحۡشِ، فَمَا نَدَّ عَلَيۡكُمۡ فَاصۡنَعُوا بِهِ هَكَذَا). قَالَ: وَقَالَ جَدِّي: إِنَّا لَنَرۡجُو، أَوۡ نَخَافُ، أَنۡ نَلۡقَى الۡعَدُوَّ غَدًا، وَلَيۡسَ مَعَنَا مُدًى، أَفَنَذۡبَحُ بِالۡقَصَبِ؟ فَقَالَ: (مَا أَنۡهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ فَكُلۡ، لَيۡسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُخۡبِرُكُمۡ عَنۡهُ: أَمَّا السِّنُّ عَظۡمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الۡحَبَشَةِ). [طرفه في: ٢٤٨٨].

5498. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepadaku: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Masruq, dari ‘Abayah bin Rifa’ah bin Rafi’, dari kakeknya Rafi’ bin Khadij. Ia berkata:

Kami pernah bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di Dzu Al-Hulaifah, lalu orang-orang ditimpa kelaparan. Kami mendapatkan unta dan kambing. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada di barisan orang-orang yang paling belakang. Orang-orang terburu-buru menegakkan kuali-kuali. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi mereka lalu memerintahkan agar kuali-kuali tersebut ditumpahkan. Kemudian beliau membagi. Beliau menyetarakan sepuluh ekor kambing dengan seekor unta. Tiba-tiba seekor unta kabur. Di tengah kaum saat itu hanya ada sedikit kuda, maka mereka mengejarnya namun unta itu membuat mereka kewalahan. Seseorang lalu membidiknya dengan sebuah anak panah, lalu Allah menahannya.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya hewan-hewan ternak ini ada yang memiliki tabiat liar seperti binatang liar. Hewan apa saja yang kabur dari kalian, perlakukanlah ia seperti ini.”

‘Abayah berkata: Kakekku berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar berharap—atau kami takut—akan menemui musuh esok hari, dan kami tidak membawa pisau. Bolehkah kami menyembelih dengan bilah bambu?”

Beliau bersabda, “Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan nama Allah disebut atasnya, maka makanlah. Namun, bukan dengan gigi dan kuku. Aku akan kabarkan kepada kalian tentang hal itu: adapun gigi adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang-orang Habasyah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5493 dan 5494

١٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ الۡبَحۡرِ﴾ [المائدة: ٩٦]
12. Bab Firman Allah Taala: “Binatang buruan laut dihalalkan untuk kalian” (QS Al-Maidah: 96)


وَقَالَ عُمَرُ: صَيۡدُهُ مَا اصۡطِيدَ، ﴿وَطَعَامُهُ﴾ [المائدة: ٩٦] مَا رَمَى بِهِ. وَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ: الطَّافِي حَلَالٌ.

‘Umar berkata, “Binatang buruan laut adalah apa yang ditangkap, dan makanannya adalah apa yang dihempaskan olehnya.” Abu Bakr berkata, “Binatang air yang mati lalu mengapung di atas permukaan air halal.”

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: طَعَامُهُ مَيۡتَتُهُ، إِلَّا مَا قَذِرۡتَ مِنۡهَا، وَالۡجِرِّيُّ لَا تَأۡكُلُهُ الۡيَهُودُ، وَنَحۡنُ نَأۡكُلُهُ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanan dari laut adalah bangkainya, kecuali yang kamu jijik darinya. Dan al-jirri (belut/lele), orang-orang Yahudi tidak memakannya, sedangkan kita memakannya.”

وَقَالَ شُرَيۡحٌ، صَاحِبُ النَّبِيِّ ﷺ: كُلُّ شَيۡءٍ فِي الۡبَحۡرِ مَذۡبُوحٌ.

Syuraih—sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— berkata, “Segala sesuatu yang ada di laut adalah telah disembelih.”

وَقَالَ عَطَاءٌ: أَمَّا الطَّيۡرُ فَأَرَى أَنۡ يَذۡبَحَهُ.

‘Atha` berkata, “Adapun burung, maka menurutku hendaknya ia disembelih.”

وَقَالَ ابۡنُ جُرَيۡجٍ: قُلۡتُ لِعَطَاءٍ: صَيۡدُ الۡأَنۡهَارِ وَقِلَاتِ السَّيۡلِ، أَصَيۡدُ بَحۡرٍ هُوَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، ثُمَّ تَلَا: ﴿هٰذَا عَذۡبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهٰذَا مِلۡحٌ أُجَاجٌ وَمِنۡ كُلٍّ تَأۡكُلُونَ لَحۡمًا طَرِيًّا﴾ [فاطر: ١٢] وَرَكِبَ الۡحَسَنُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ عَلَى سَرۡجٍ مِنۡ جُلُودِ كِلَابِ الۡمَاءِ.

Ibnu Juraij berkata: Aku bertanya kepada ‘Atha`, “Binatang buruan sungai dan genangan air banjir, apakah itu termasuk buruan laut?”

Ia menjawab, “Ya.” Kemudian ia membaca, “Yang ini tawar, segar, lagi sedap diminum dan yang ini asin lagi pahit. Dan dari masing-masing kalian dapat memakan daging yang segar” (QS Fatir: 12).

Al-Hasan—‘alaihis-salam—menunggangi pelana dari kulit kilabul-ma` (anjing air/berang-berang).

وَقَالَ الشَّعۡبِيُّ: لَوۡ أَنَّ أَهۡلِي أَكَلُوا الضَّفَادِعَ لَأَطۡعَمۡتُهُمۡ. وَلَمۡ يَرَ الۡحَسَنُ بِالسُّلَحۡفَاةِ بَأۡسًا.

Asy-Sya’bi berkata, “Seandainya keluargaku memakan katak, niscaya aku akan memberi mereka makan.”

Al-Hasan tidak memandang ada masalah pada kura-kura.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: كُلۡ مِنۡ صَيۡدِ الۡبَحۡرِ نَصۡرَانِيٌّ أَوۡ يَهُودِيٌّ أَوۡ مَجُوسِيٌّ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Makanlah dari buruan laut apa saja yang ditangkap oleh seorang Nasrani, Yahudi, atau Majusi.”

وَقَالَ أَبُو الدَّرۡدَاءِ فِي الۡمُرِي: ذَبَحَ الۡخَمۡرَ النِّينَانُ وَالشَّمۡسُ.

Abu Ad-Darda` berkata tentang al-muri (sejenis saus ikan), “Ikan dan matahari telah ‘menyembelih’ khamar itu.”

٥٤٩٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: غَزَوۡنَا جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ، فَجُعۡنَا جُوعًا شَدِيدًا، فَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا مَيِّتًا لَمۡ يُرَ مِثۡلُهُ، يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا مِنۡهُ نِصۡفَ شَهۡرٍ، فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ عَظۡمًا مِنۡ عِظَامِهِ، فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5493. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij. Ia berkata: ‘Amr mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Kami ikut berperang dalam Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun) dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk sebagai pemimpin. Kami mengalami kelaparan yang amat sangat, lalu laut melemparkan seekor ikan mati yang belum pernah terlihat semisalnya, yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakan darinya selama setengah bulan. Abu ‘Ubaidah mengambil salah satu tulangnya, lalu seorang penunggang unta bisa lewat di bawahnya.

٥٤٩٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرٍو قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرًا يَقُولُ: بَعَثَنَا النَّبِيُّ ﷺ ثَلَاثَمِائَةِ رَاكِبٍ، وَأَمِيرُنَا أَبُو عُبَيۡدَةَ، نَرۡصُدُ عِيرًا لِقُرَيۡشٍ، فَأَصَابَنَا جُوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلۡنَا الۡخَبَطَ، فَسُمِّيَ جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا نِصۡفَ شَهۡرٍ وَادَّهَنَّا بِوَدَكِهِ، حَتَّى صَلَحَتۡ أَجۡسَامُنَا، قَالَ: فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ ضِلَعًا مِنۡ أَضۡلَاعِهِ فَنَصَبَهُ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ، وَكَانَ فِينَا رَجُلٌ، فَلَمَّا اشۡتَدَّ الۡجُوعُ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ نَهَاهُ أَبُو عُبَيۡدَةَ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

5494. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Sufyan mengabarkan kepada kami dari ‘Amr. Ia berkata: Aku mendengar Jabir berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kami dalam rombongan tiga ratus penunggang dengan pemimpin kami Abu ‘Ubaidah untuk mengintai kafilah dagang Quraisy. Kami mengalami kelaparan yang sangat hingga kami memakan daun-daunan yang rontok, sehingga pasukan itu dinamakan Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun).

Lalu laut menghempaskan seekor ikan yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakannya selama setengah bulan dan mengoleskan lemaknya pada tubuh kami hingga tubuh kami kembali pulih.

Jabir berkata: Abu ‘Ubaidah lantas mengambil salah satu tulang rusuk hewan itu dan menegakkannya, lalu seorang penunggang unta lewat di bawahnya. Sebelum itu, di tengah-tengah kami ada seorang laki-laki. Ketika kelaparan semakin hebat, ia menyembelih tiga ekor unta, kemudian menyembelih tiga ekor unta lagi, hingga akhirnya Abu ‘Ubaidah melarangnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4361 dan 4362

٤٣٦١ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: الَّذِي حَفِظۡنَاهُ مِنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ ثَلَاثَمِائَةِ رَاكِبٍ، أَمِيرُنَا أَبُو عُبَيۡدَةَ بۡنُ الۡجَرَّاحِ، نَرۡصُدُ عِيرَ قُرَيۡشٍ، فَأَقَمۡنَا بِالسَّاحِلِ نِصۡفَ شَهۡرٍ، فَأَصَابَنَا جُوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلۡنَا الۡخَبَطَ، فَسُمِّيَ ذٰلِكَ الۡجَيۡشُ جَيۡشَ الۡخَبَطِ، فَأَلۡقَى لَنَا الۡبَحۡرُ دَابَّةً يُقَالُ لَهَا الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا مِنۡهُ نِصۡفَ شَهۡرٍ، وَادَّهَنَّا مِنۡ وَدَكِهِ، حَتَّى ثَابَتۡ إِلَيۡنَا أَجۡسَامُنَا، فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ ضِلَعًا مِنۡ أَضۡلَاعِهِ فَنَصَبَهُ، فَعَمَدَ إِلَى أَطۡوَلِ رَجُلٍ مَعَهُ - قَالَ سُفۡيَانُ مَرَّةً: ضِلَعًا مِنۡ أَعۡضَائِهِ فَنَصَبَهُ، وَأَخَذَ رَجُلًا وَبَعِيرًا - فَمَرَّ تَحۡتَهُ.

4361. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yang kami hafalkan dari ‘Amr bin Dinar, ia berkata: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kami dalam rombongan tiga ratus penunggang, dengan pemimpin kami Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah untuk mengintai kafilah dagang Quraisy. Kami pun tinggal di tepi pantai selama setengah bulan hingga kami mengalami kelaparan yang sangat, sampai-sampai kami memakan daun-daunan yang digugurkan dari pohon salam padang pasir, sehingga pasukan itu dinamakan Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun).

Lalu laut menghempaskan kepada kami seekor hewan yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami pun memakan darinya selama setengah bulan dan mengoleskan tubuh kami dengan lemaknya hingga tubuh kami kembali pulih. Abu ‘Ubaidah lantas mengambil salah satu tulang rusuk hewan itu dan menegakkannya, lalu ia menuju kepada orang yang paling tinggi di antara pasukannya—Sufyan pernah berkata dalam riwayat lain: mengambil salah satu tulang rusuk dari bagian tubuhnya dan menegakkannya, lalu mengambil seorang laki-laki beserta untanya—lalu ia berjalan melintas di bawah tulang rusuk tersebut.

قَالَ جَابِرٌ: وَكَانَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ نَحَرَ ثَلَاثَ جَزَائِرَ، ثُمَّ إِنَّ أَبَا عُبَيۡدَةَ نَهَاهُ.

Jabir berkata: Ada seorang laki-laki dari pasukan tersebut yang menyembelih tiga ekor unta, kemudian menyembelih tiga ekor unta lagi, lalu menyembelih tiga ekor unta lagi. Hingga kemudian Abu ‘Ubaidah melarangnya.

وَكَانَ عَمۡرٌو يَقُولُ: أَخۡبَرَنَا أَبُو صَالِحٍ: أَنَّ قَيۡسَ بۡنَ سَعۡدٍ قَالَ لِأَبِيهِ: كُنۡتُ فِي الۡجَيۡشِ فَجَاعُوا، قَالَ: انۡحَرۡ‏، قَالَ: نَحَرۡتُ، قَالَ: ثُمَّ جَاعُوا، قَالَ: انۡحَرۡ‏، قَالَ: نَحَرۡتُ، قَالَ: ثُمَّ جَاعُوا، قَالَ: انۡحَرۡ‏،‏ قَالَ: نَحَرۡتُ، ثُمَّ جَاعُوا، قَالَ: انۡحَرۡ‏، قَالَ: نُهِيتُ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

‘Amr pernah berkata: Abu Shalih mengabarkan kepada kami bahwa Qais bin Sa’d berkata kepada ayahnya, “Aku berada dalam pasukan itu lalu mereka kelaparan.”

Ayahnya berkata, “Sembelihlah unta!”

Ia menjawab, “Aku telah menyembelihnya.” Ia melanjutkan, “Kemudian mereka kelaparan lagi.”

Ayahnya berkata, “Sembelihlah unta!”

Ia menjawab, “Aku telah menyembelihnya.” Ia melanjutkan, “Kemudian mereka kelaparan lagi.”

Ayahnya berkata, “Sembelihlah unta!”

Ia menjawab, “Aku telah menyembelihnya.” Ia melanjutkan, “Kemudian mereka kelaparan lagi.”

Ayahnya berkata, “Sembelihlah unta!”

Ia berkata, “Aku dilarang.”

٤٣٦٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرٌو: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: غَزَوۡنَا جَيۡشَ الۡخَبَطِ، وَأُمِّرَ أَبُو عُبَيۡدَةَ، فَجُعۡنَا جُوعًا شَدِيدًا، فَأَلۡقَى الۡبَحۡرُ حُوتًا مَيِّتًا، لَمۡ نَرَ مِثۡلَهُ، يُقَالُ لَهُ الۡعَنۡبَرُ، فَأَكَلۡنَا مِنۡهُ نِصۡفَ شَهۡرٍ، فَأَخَذَ أَبُو عُبَيۡدَةَ عَظۡمًا مِنۡ عِظَامِهِ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحۡتَهُ.

4362. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij. Ia berkata: ‘Amr mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Kami ikut berperang dalam Jaisyul-Khabath (Pasukan Perontok Daun) dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk sebagai pemimpin. Kami mengalami kelaparan yang amat sangat, lalu laut melemparkan seekor ikan mati yang belum pernah kami melihat semisalnya, yang dinamakan Al-‘Anbar (paus). Kami memakan darinya selama setengah bulan. Abu ‘Ubaidah lalu mengambil salah satu tulangnya, yang mana seorang penunggang unta bisa lewat di bawahnya.

فَأَخۡبَرَنِي أَبُو الزُّبَيۡرِ: أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا يَقُولُ: قَالَ أَبُو عُبَيۡدَةَ: كُلُوا، فَلَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ ذَكَرۡنَا ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (كُلُوا رِزۡقًا أَخۡرَجَهُ اللهُ، أَطۡعِمُونَا إِنۡ كَانَ مَعَكُمۡ). فَأَتَاهُ بَعۡضُهُمۡ فَأَكَلَهُ. [طرفه في: ٢٤٨٣].

Abu Az-Zubair mengabarkan kepadaku: Ia mendengar Jabir berkata:

Abu ‘Ubaidah berkata, “Makanlah!”

Ketika kami tiba di Madinah, kami menceritakan hal itu kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Makanlah, itu adalah rezeki yang dikeluarkan oleh Allah. Berilah kami makan jika kalian masih membawanya.”

Sebagian mereka pun mendatangi beliau dengan membawanya, lalu beliau memakannya.