Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2048

٢٠٤٨ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ العَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: لَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنِي وَبَيۡنَ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، فَقَالَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: إِنِّي أَكۡثَرُ الۡأَنۡصَارِ مَالًا، فَأَقۡسِمُ لَكَ نِصۡفَ مَالِي، وَانۡظُرۡ أَيَّ زَوۡجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلۡتُ لَكَ عَنۡهَا، فَإِذَا حَلَّتۡ تَزَوَّجۡتَهَا، قَالَ: فَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ: لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ، هَلۡ مِنۡ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ؟ قَالَ: سُوقُ قَيۡنُقَاعٍ، قَالَ: فَغَدَا إِلَيۡهِ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ، فَأَتَى بِأَقِطٍ وَسَمۡنٍ، قَالَ: ثُمَّ تَابَعَ الغُدُوَّ، فَمَا لَبِثَ أَنۡ جَاءَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ عَلَيۡهِ أَثَرُ صُفۡرَةٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (تَزَوَّجۡتَ؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (وَمَنۡ؟). قَالَ: امۡرَأَةً مِنَ الۡأَنۡصَارِ، قَالَ: (كَمۡ سُقۡتَ؟) قَالَ: زِنَةَ نَوَاةٍ مِنۡ ذَهَبٍ، أَوۡ نَوَاةً مِنۡ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡلِمۡ وَلَوۡ بِشَاةٍ).

[الحديث ٢٠٤٨ - طرفه في: ٣٧٨٠].

2048. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya. Ia berkata: ‘Abdurrahman bin ‘Auf—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mempersaudarakan antaraku dengan Sa’d bin Ar-Rabi’. Kemudian Sa’d bin Ar-Rabi’ berkata, “Sesungguhnya aku adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya, maka aku akan membagi setengah hartaku untukmu. Lihatlah mana dari kedua istriku yang kamu sukai, maka aku akan menceraikannya untukmu. Jika masa idahnya telah selesai, kamu bisa menikahinya.”

‘Abdurrahman menjawab, “Aku tidak memiliki keperluan untuk hal itu. Apakah ada pasar tempat melakukan perdagangan?”

Sa’d menjawab, “Pasar Qainuqa’.”

Maka keesokan harinya ‘Abdurrahman pergi ke sana, lalu ia membawa pulang keju dan samin. Kemudian ia terus pergi berdagang setiap pagi, hingga tak lama kemudian ‘Abdurrahman datang dengan membawa bekas warna kuning (sisa minyak wangi). Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Apakah kamu sudah menikah?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Dengan siapa?”

Ia menjawab, “Seorang wanita dari kalangan Ansar.”

Beliau bertanya, “Berapa mahar yang kamu berikan?”

Ia menjawab, “Emas seberat biji kurma.”

Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepadanya, “Adakanlah walimah (perjamuan) walaupun hanya dengan seekor kambing!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 1093

٧ - بَابُ صَلَاةِ التَّطَوُّعِ عَلَى الدَّوَابِّ، وَحَيۡثُمَا تَوَجَّهَتۡ بِهِ
7. Bab salat sunah di atas tunggangan ke mana pun tunggangan itu menghadap


١٠٩٣ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى قَالَ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَامِرٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيۡثُ تَوَجَّهَتۡ بِهِ. [الحديث ١٠٩٣ - طرفاه في: ١٠٩٧، ١١٠٤].

1093. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Abdullah bin ‘Amir, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—salat di atas tunggangannya ke mana pun tunggangan itu menghadap.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3365

٣٣٦٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ عَمۡرٍو قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ كَثِيرِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ:

3365. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Amir ‘Abdul Malik bin ‘Amr menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Nafi’ menceritakan kepada kami dari Katsir bin Katsir, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

لَمَّا كَانَ بَيۡنَ إِبۡرَاهِيمَ وَبَيۡنَ أَهۡلِهِ مَا كَانَ، خَرَجَ بِإِسۡمَاعِيلَ وَأُمِّ إِسۡمَاعِيلَ، وَمَعَهُمۡ شَنَّةٌ فِيهَا مَاءٌ، فَجَعَلَتۡ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ تَشۡرَبُ مِنَ الشَّنَّةِ، فَيَدِرُّ لَبَنُهَا عَلَى صَبِيِّهَا، حَتَّى قَدِمَ مَكَّةَ فَوَضَعَهَا تَحۡتَ دَوۡحَةٍ، ثُمَّ رَجَعَ إِبۡرَاهِيمُ إِلَى أَهۡلِهِ، فَاتَّبَعَتۡهُ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ، حَتَّى لَمَّا بَلَغُوا كَدَاءً نَادَتۡهُ مِنۡ وَرَائِهِ: يَا إِبۡرَاهِيمُ إِلَى مَنۡ تَتۡرُكُنَا؟ قَالَ: إِلَى اللهِ، قَالَتۡ: رَضِيتُ بِاللهِ،

Ketika kejadian antara Ibrahim dan keluarganya terjadi, Ibrahim keluar membawa Isma’il dan ibu Isma’il. Bersama mereka ada sebuah wadah air yang terbuat dari kulit yang berisi air. Ibu Isma’il mulai minum dari wadah kulit tersebut, sehingga air susunya mengalir deras untuk bayinya. Hingga ketika Ibrahim tiba di Makkah, ia menempatkan ibu Isma’il di bawah sebuah pohon besar. Kemudian Ibrahim kembali kepada keluarganya. Ibu Isma’il mengikutinya, hingga ketika mereka sampai di Kada`, ibu Isma’il memanggilnya dari belakang, “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami?”

Ibrahim menjawab, “Kepada Allah.”

Ibu Isma’il berkata, “Aku rida kepada Allah.”

قَالَ: فَرَجَعَتۡ فَجَعَلَتۡ تَشۡرَبُ مِنَ الشَّنَّةِ وَيَدِرُّ لَبَنُهَا عَلَى صَبِيِّهَا، حَتَّى لَمَّا فَنِيَ الۡمَاءُ، قَالَتۡ: لَوۡ ذَهَبۡتُ فَنَظَرۡتُ لَعَلِّي أُحِسُّ أَحَدًا، قَالَ: فَذَهَبَتۡ فَصَعِدَتِ الصَّفَا فَنَظَرَتۡ، وَنَظَرَتۡ هَلۡ تُحِسُّ أَحَدًا، فَلَمۡ تُحِسَّ أَحَدًا، فَلَمَّا بَلَغَتِ الۡوَادِيَ سَعَتۡ وَأَتَتِ الۡمَرۡوَةَ، فَفَعَلَتۡ ذٰلِكَ أَشۡوَاطًا، ثُمَّ قَالَتۡ: لَوۡ ذَهَبۡتُ فَنَظَرۡتُ مَا فَعَلَ، تَعۡنِي الصَّبِيَّ، فَذَهَبَتۡ فَنَظَرَتۡ فَإِذَا هُوَ عَلَى حَالِهِ كَأَنَّهُ يَنۡشَغُ لِلۡمَوۡتِ، فَلَمۡ تُقِرَّهَا نَفۡسُهَا، فَقَالَتۡ: لَوۡ ذَهَبۡتُ فَنَظَرۡتُ، لَعَلِّي أُحِسُّ أَحَدًا، فَذَهَبَتۡ فَصَعِدَتِ الصَّفَا، فَنَظَرَتۡ وَنَظَرَتۡ فَلَمۡ تُحِسَّ أَحَدًا، حَتَّى أَتَمَّتۡ سَبۡعًا،

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka ibu Isma’il kembali dan mulai minum dari wadah kulit tersebut dan air susunya mengalir deras untuk bayinya. Hingga ketika airnya habis, ia berkata, “Seandainya aku pergi dan melihat-lihat, barangkali aku merasakan keberadaan seseorang.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka ia pergi dan mendaki bukit Shafa, lalu ia melihat-lihat apakah ia merasakan keberadaan seseorang, namun ia tidak merasakan keberadaan seorang pun. Ketika sampai di lembah, ia berlari-laki kecil dan mendatangi bukit Marwah. Ia melakukan hal itu beberapa putaran. Kemudian ia berkata, “Seandainya aku pergi dan melihat apa yang dilakukan olehnya.” Yakni si bayi.

Maka ia pergi dan melihatnya, ternyata bayi itu dalam keadaan seakan-akan sedang meregang nyawa menuju kematian. Hatinya tidak merasa tenang, lalu ia berkata, “Seandainya aku pergi dan melihat-lihat, barangkali aku merasakan keberadaan seseorang.”

Maka ia pergi dan mendaki bukit Shafa, ia melihat-lihat namun tidak merasakan keberadaan seorang pun, hingga ia menyempurnakannya sebanyak tujuh kali.

ثُمَّ قَالَتۡ: لَوۡ ذَهَبۡتُ فَنَظَرۡتُ مَا فَعَلَ، فَإِذَا هِيَ بِصَوۡتٍ، فَقَالَتۡ: أَغِثۡ إِنۡ كَانَ عِنۡدَكَ خَيۡرٌ، فَإِذَا جِبۡرِيلُ، قَالَ: فَقَالَ بِعَقِبِهِ هَكَذَا، وَغَمَزَ عَقِبَهُ عَلَى الۡأَرۡضِ، قَالَ: فَانۡبَثَقَ الۡمَاءُ، فَدَهَشَتۡ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ، فَجَعَلَتۡ تَحۡفِرُ، قَالَ: فَقَالَ أَبُو الۡقَاسِمِ ﷺ: (لَوۡ تَرَكَتۡهُ كَانَ الۡمَاءُ ظَاهِرًا).

Ibnu ‘Abbas melanjutkan:

Kemudian ia berkata, “Seandainya aku pergi dan melihat apa yang dilakukan olehnya.”

Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara, maka ia berkata, “Berilah pertolongan jika engkau memiliki kebaikan.”

Ternyata itu adalah Jibril.

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka Jibril melakukan begini dengan tumitnya—ia menghentakkan tumitnya ke tanah.

Ibnu ‘Abbas berkata: Lalu air memancar. Ibu Isma’il pun terperangah, lalu ia mulai menggali (menanggul air).

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka Abu Al-Qasim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seandainya ia membiarkannya, niscaya air itu akan menjadi air yang mengalir di permukaan tanah.”

قَالَ: فَجَعَلَتۡ تَشۡرَبُ مِنَ الۡمَاءِ، وَيَدِرُّ لَبَنُهَا عَلَى صَبِيِّهَا، قَالَ: فَمَرَّ نَاسٌ مِنۡ جُرۡهُمَ بِبَطۡنِ الۡوَادِي، فَإِذَا هُمۡ بِطَيۡرٍ، كَأَنَّهُمۡ أَنۡكَرُوا ذَاكَ، وَقَالُوا: مَا يَكُونُ الطَّيۡرُ إِلَّا عَلَى مَاءٍ، فَبَعَثُوا رَسُولَهُمۡ فَنَظَرَ فَإِذَا هُمۡ بِالۡمَاءِ، فَأَتَاهُمۡ فَأَخۡبَرَهُمۡ فَأَتَوۡا إِلَيۡهَا فَقَالُوا: يَا أُمَّ إِسۡمَاعِيلَ، أَتَأۡذَنِينَ لَنَا أَنۡ نَكُونَ مَعَكِ، أَوۡ نَسۡكُنَ مَعَكِ؟ فَبَلَغَ ابۡنُهَا فَنَكَحَ فِيهِمُ امۡرَأَةً، قَالَ: ثُمَّ إِنَّهُ بَدَا لِإِبۡرَاهِيمَ، فَقَالَ لِأَهۡلِهِ إِنِّي مُطَّلِعٌ تَرِكَتِي، قَالَ: فَجَاءَ فَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَيۡنَ إِسۡمَاعِيلُ؟ فَقَالَتِ امۡرَأَتُهُ: ذَهَبَ يَصِيدُ، قَالَ: قُولِي لَهُ إِذَا جَاءَ غَيِّرۡ عَتَبَةَ بَابِكَ، فَلَمَّا جَاءَ أَخۡبَرَتۡهُ، قَالَ: أَنۡتِ ذَاكِ، فَاذۡهَبِي إِلَى أَهۡلِكِ،

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka ibu Isma’il mulai minum dari air tersebut dan air susunya mengalir deras untuk bayinya.

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian sekelompok orang dari kabilah Jurhum melewati tengah lembah tersebut. Tiba-tiba mereka melihat burung, seolah-olah mereka merasa heran dengan hal itu dan mereka berkata, “Tidaklah burung itu berada kecuali di tempat yang ada airnya.”

Maka mereka mengutus utusan mereka, lalu utusan itu melihat dan ternyata ada air. Utusan itu mendatangi mereka dan mengabarkan hal tersebut, lalu mereka mendatangi ibu Isma’il dan berkata, “Wahai ibu Isma’il, apakah engkau mengizinkan kami untuk bersamamu atau tinggal bersamamu?”

Hingga ketika Isma’il beranjak dewasa, ia menikah dengan seorang wanita dari kalangan mereka.

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian terlintas di hati Ibrahim (untuk berkunjung), maka ia berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku akan menengok orang yang kutinggalkan.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka Ibrahim datang dan mengucapkan salam, lalu bertanya, “Di mana Isma’il?”

Istri Isma’il menjawab, “Ia sedang pergi berburu.”

Ibrahim berkata, “Katakan kepadanya jika ia datang: ‘Gantilah ambang pintu rumahmu!’”

Maka ketika Isma’il datang, istrinya mengabarkannya. Isma’il berkata, “Engkau adalah ambang pintu itu, maka kembalilah kepada keluargamu.”

قَالَ: ثُمَّ إِنَّهُ بَدَا لِإِبۡرَاهِيمَ، فَقَالَ لِأَهۡلِهِ: إِنِّي مُطَّلِعٌ تَرِكَتِي. قَالَ: فَجَاءَ فَقَالَ: أَيۡنَ إِسۡمَاعِيلُ؟ فَقَالَتِ امۡرَأَتُهُ: ذَهَبَ يَصِيدُ، فَقَالَتۡ: أَلَا تَنۡزِلُ فَتَطۡعَمَ وَتَشۡرَبَ، فَقَالَ: وَمَا طَعَامُكُمۡ وَمَا شَرَابُكُمۡ؟ قَالَتۡ: طَعَامُنَا اللَّحۡمُ، وَشَرَابُنَا الۡمَاءُ. قَالَ: اللّٰهُمَّ بَارِكۡ لَهُمۡ فِي طَعَامِهِمۡ وَشَرَابِهِمۡ. قَالَ: فَقَالَ أَبُو الۡقَاسِمِ ﷺ: (بَرَكَةٌ بِدَعۡوَةِ إِبۡرَاهِيمَ).

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian terlintas kembali di hati Ibrahim, maka ia berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku akan menengok orang yang kutinggalkan.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka Ibrahim datang dan bertanya, “Di mana Isma’il?”

Istri Isma’il menjawab, “Ia sedang pergi berburu.”

Istri Isma’il berkata, “Tidakkah engkau singgah untuk makan dan minum?”

Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian dan apa minuman kalian?”

Istri Isma’il menjawab, “Makanan kami adalah daging dan minuman kami adalah air.”

Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam makanan dan minuman mereka.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka Abu Al-Qasim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Berkah itu ada karena doa Ibrahim.”

قَالَ: ثُمَّ إِنَّهُ بَدَا لِإِبۡرَاهِيمَ، فَقَالَ لِأَهۡلِهِ: إِنِّي مُطَّلِعٌ تَرِكَتِي، فَجَاءَ فَوَافَقَ إِسۡمَاعِيلَ مِنۡ وَرَاءِ زَمۡزَمَ يُصۡلِحُ نَبۡلًا لَهُ. فَقَالَ: يَا إِسۡمَاعِيلُ، إِنَّ رَبَّكَ أَمَرَنِي أَنۡ أَبۡنِيَ لَهُ بَيۡتًا. قَالَ: أَطِعۡ رَبَّكَ، قَالَ: إِنَّهُ قَدۡ أَمَرَنِي أَنۡ تُعِينَنِي عَلَيۡهِ، قَالَ: إِذًا أَفۡعَلَ، أَوۡ كَمَا قَالَ، قَالَ: فَقَامَا فَجَعَلَ إِبۡرَاهِيمُ يَبۡنِي، وَإِسۡمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الۡحِجَارَةَ وَيَقُولَانِ: ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا إِنَّكَ أَنۡتَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾ [البقرة: ١٢٧]. قَالَ: حَتَّى ارۡتَفَعَ الۡبِنَاءُ، وَضَعُفَ الشَّيۡخُ عَلَى نَقۡلِ الۡحِجَارَةِ، فَقَامَ عَلَى حَجَرِ الۡمَقَامِ، فَجَعَلَ يُنَاوِلُهُ الۡحِجَارَةَ وَيَقُولَانِ: ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا إِنَّكَ أَنۡتَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾. [طرفه في: ٢٣٦٨].

Ibnu ‘Abbas berkata: Kemudian terlintas kembali di hati Ibrahim, maka ia berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku akan menengok orang yang kutinggalkan.”

Maka ia datang dan mendapati Isma’il di belakang zamzam sedang memperbaiki anak panahnya. Ibrahim berkata, “Wahai Isma’il, sesungguhnya Rabmu telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah bagi-Nya.”

Isma’il berkata, “Taatilah Rabmu.”

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Dia telah memerintahkanku agar engkau membantuku untuk membangunnya.”

Isma’il berkata, “Kalau begitu, aku akan melakukannya,” atau sebagaimana yang ia katakan.

Ibnu ‘Abbas berkata: Maka keduanya berdiri, lalu Ibrahim mulai membangun, sedangkan Isma’il menyerahkan batu-batu kepadanya, dan keduanya mengucapkan, “Ya Rab kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 127).

Ibnu ‘Abbas berkata: Hingga ketika bangunan itu sudah tinggi dan Ibrahim mulai merasa lemah untuk memindahkan batu, ia berdiri di atas batu makam (Makam Ibrahim), lalu Isma’il menyerahkan batu-batu kepadanya. Keduanya tetap mengucapkan, “Ya Rab kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 127).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3364

٣٣٦٤ - وَحَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ السَّخۡتِيَانِيِّ وَكَثِيرِ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَبِي وَدَاعَةَ، يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الۡآخَرِ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ: قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ:

3364. ‘Abdullah bin Muhammad menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ayyub As-Sakhtiyani dan Katsir bin Katsir bin Al-Muththalib bin Abu Wada’ah, salah satu dari keduanya menambahkan atas yang lain, dari Sa’id bin Jubair: Ibnu ‘Abbas berkata:

أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الۡمِنۡطَقَ مِنۡ قِبَلِ أُمِّ إِسۡمَاعِيلَ، اتَّخَذَتۡ مِنۡطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ، ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبۡرَاهِيمُ وَبِابۡنِهَا إِسۡمَاعِيلَ وَهِيَ تُرۡضِعُهُ، حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنۡدَ الۡبَيۡتِ، عِنۡدَ دَوۡحَةٍ فَوۡقَ زَمۡزَمَ فِي أَعۡلَى الۡمَسۡجِدِ، وَلَيۡسَ بِمَكَّةَ يَوۡمَئِذٍ أَحَدٌ، وَلَيۡسَ بِهَا مَاءٌ، فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ، وَوَضَعَ عِنۡدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمۡرٌ، وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ، ثُمَّ قَفَّى إِبۡرَاهِيمُ مُنۡطَلِقًا، فَتَبِعَتۡهُ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ، فَقَالَتۡ: يَا إِبۡرَاهِيمُ، أَيۡنَ تَذۡهَبُ وَتَتۡرُكُنَا بِهٰذَا الۡوَادِي الَّذِي لَيۡسَ فِيهِ إِنۡسٌ وَلَا شَيۡءٌ؟ فَقَالَتۡ لَهُ ذٰلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لَا يَلۡتَفِتُ إِلَيۡهَا، فَقَالَتۡ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهٰذَا؟ قَالَ: نَعَمۡ، قَالَتۡ: إِذَنۡ لَا يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتۡ، فَانۡطَلَقَ إِبۡرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنۡدَ الثَّنِيَّةِ حَيۡثُ لَا يَرَوۡنَهُ، اسۡتَقۡبَلَ بِوَجۡهِهِ الۡبَيۡتَ، ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلَاءِ الۡكَلِمَاتِ وَرَفَعَ يَدَيۡهِ فَقَالَ: ﴿رَبِّ إِنِّي أَسۡكَنۡتُ مِنۡ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ﴾ حَتَّى بَلَغَ: ﴿يَشۡكُرُونَ﴾ [إبراهيم: ٣٧]

Pertama kali wanita menggunakan ikat pinggang adalah dari pihak ibu Isma’il. Ia menggunakan ikat pinggang untuk menghilangkan jejaknya dari Sarah. Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan anaknya, Isma’il, yang saat itu masih menyusu, hingga beliau menempatkan keduanya di dekat Baitullah, di bawah sebuah pohon besar di atas Zamzam di bagian atas masjid. Saat itu di Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Beliau menempatkan keduanya di sana dan meletakkan sebuah wadah berisi kurma serta tempat air berisi air di dekat mereka. Kemudian Ibrahim berbalik untuk pergi, lalu ibu Isma’il mengikutinya dan bertanya, “Wahai Ibrahim, hendak ke manakah engkau pergi dengan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?”

Ia mengatakannya berkali-kali, namun Ibrahim tetap tidak menoleh kepadanya. Akhirnya ia bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”

Ibrahim menjawab, “Ya.”

Hajar berkata, “Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami.”

Lalu ia kembali. Ibrahim terus berjalan hingga sampai di sebuah celah bukit tempat mereka tidak lagi melihatnya. Beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, kemudian berdoa dengan kalimat-kalimat ini sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Rabku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” sampai: “agar mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37).

وَجَعَلَتۡ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ تُرۡضِعُ إِسۡمَاعِيلَ وَتَشۡرَبُ مِنۡ ذٰلِكَ الۡمَاءِ، حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ عَطِشَتۡ وَعَطِشَ ابۡنُهَا، وَجَعَلَتۡ تَنۡظُرُ إِلَيۡهِ يَتَلَوَّى، أَوۡ قَالَ: يَتَلَبَّطُ، فَانۡطَلَقَتۡ كَرَاهِيَةَ أَنۡ تَنۡظُرَ إِلَيۡهِ، فَوَجَدَتِ الصَّفَا أَقۡرَبَ جَبَلٍ فِي الۡأَرۡضِ يَلِيهَا، فَقَامَتۡ عَلَيۡهِ، ثُمَّ اسۡتَقۡبَلَتِ الۡوَادِيَ تَنۡظُرُ هَلۡ تَرَى أَحَدًا فَلَمۡ تَرَ أَحَدًا، فَهَبَطَتۡ مِنَ الصَّفَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الۡوَادِيَ رَفَعَتۡ طَرَفَ دِرۡعِهَا، ثُمَّ سَعَتۡ سَعۡيَ الۡإِنۡسَانِ الۡمَجۡهُودِ حَتَّى جَاوَزَتِ الۡوَادِيَ، ثُمَّ أَتَتِ الۡمَرۡوَةَ فَقَامَتۡ عَلَيۡهَا وَنَظَرَتۡ هَلۡ تَرَى أَحَدًا فَلَمۡ تَرَ أَحَدًا، فَفَعَلَتۡ ذٰلِكَ سَبۡعَ مَرَّاتٍ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (فَذٰلِكَ سَعۡيُ النَّاسِ بَيۡنَهُمَا).

Ibu Isma’il pun mulai menyusui Isma’il dan minum dari air tersebut. Hingga ketika air di tempat air itu habis, ia merasa haus dan anaknya pun haus. Ia mulai melihat anaknya meronta-ronta—atau perawi berkata: berguling-guling karena haus. Ia pun pergi karena tidak tega melihat anaknya. Ia mendapati bukit Shafa adalah gunung terdekat di bumi yang ada di dekatnya, lalu ia berdiri di atasnya. Kemudian ia menghadap ke arah lembah untuk melihat apakah ada orang, namun ia tidak melihat siapa pun. Ia turun dari Shafa hingga ketika sampai di tengah lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya lalu berlari layaknya orang yang kepayahan hingga melewati lembah itu. Kemudian ia mendatangi bukit Marwah dan berdiri di atasnya, lalu melihat apakah ada orang, namun ia tidak melihat siapa pun. Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.

Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Itulah asal mula sai yang dilakukan manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”

فَلَمَّا أَشۡرَفَتۡ عَلَى الۡمَرۡوَةِ سَمِعَتۡ صَوۡتًا، فَقَالَتۡ صَهٍ - تُرِيدَ نَفۡسَهَا - ثُمَّ تَسَمَّعَتۡ، فَسَمِعَتۡ أَيۡضًا، فَقَالَتۡ: قَدۡ أَسۡمَعۡتَ إِنۡ كَانَ عِنۡدَكَ غُوَاثٌ، فَإِذَا هِيَ بِالۡمَلَكِ عِنۡدَ مَوۡضِعِ زَمۡزَمَ، فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ، أَوۡ قَالَ: بِجَنَاحِهِ، حَتَّى ظَهَرَ الۡمَاءُ، فَجَعَلَتۡ تُحَوِّضُهُ وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَجَعَلَتۡ تَغۡرِفُ مِنَ الۡمَاءِ فِي سِقَائِهَا وَهُوَ يَفُورُ بَعۡدَ مَا تَغۡرِفُ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَرۡحَمُ اللهُ أُمَّ إِسۡمَاعِيلَ، لَوۡ تَرَكَتۡ زَمۡزَمَ - أَوۡ قَالَ: لَوۡ لَمۡ تَغۡرِفۡ مِنَ الۡمَاءِ - لَكَانَتۡ زَمۡزَمُ عَيۡنًا مَعِينًا).

Ketika ia sampai di atas Marwah, ia mendengar sebuah suara, lalu ia berkata pada dirinya sendiri, “Diamlah.”

Kemudian ia mendengarkan dengan saksama dan mendengar suara itu lagi. Ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan suara, (bantulah) jika engkau memiliki pertolongan.”

Ternyata itu adalah malaikat di tempat Zamzam. Malaikat itu menggali dengan tumitnya—atau berkata: dengan sayapnya—hingga air muncul. Hajar pun mulai membendungnya dan memberi isyarat dengan tangannya seperti ini dan ia mulai menciduk air ke dalam tempat airnya, sementara air itu terus memancar setelah diciduk.

Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Semoga Allah merahmati ibu Isma’il, seandainya ia membiarkan Zamzam—atau bersabda: seandainya ia tidak menciduk air itu—niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di atas permukaan tanah.”

قَالَ: فَشَرِبَتۡ وَأَرۡضَعَتۡ وَلَدَهَا، فَقَالَ لَهَا الۡمَلَكُ: لَا تَخَافُوا الضَّيۡعَةَ، فَإِنَّ هَا هُنَا بَيۡتَ اللهِ، يَبۡنِي هٰذَا الۡغُلَامُ وَأَبُوهُ، وَإِنَّ اللهَ لَا يُضِيعُ أَهۡلَهُ، وَكَانَ الۡبَيۡتُ مُرۡتَفِعًا مِنَ الۡأَرۡضِ كَالرَّابِيَةِ، تَأۡتِيهِ السُّيُولُ، فَتَأۡخُذُ عَنۡ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، فَكَانَتۡ كَذٰلِكَ حَتَّى مَرَّتۡ بِهِمۡ رُفۡقَةٌ مِنۡ جُرۡهُمَ، أَوۡ أَهۡلُ بَيۡتٍ مِنۡ جُرۡهُمَ مُقۡبِلِينَ مِنۡ طَرِيقِ كَدَاءٍ، فَنَزَلُوا فِي أَسۡفَلِ مَكَّةَ، فَرَأَوۡا طَائِرًا عَائِفًا، فَقَالُوا: إِنَّ هٰذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ، لَعَهۡدُنَا بِهٰذَا الۡوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ، فَأَرۡسَلُوا جَرِيًّا أَوۡ جَرِيَّيۡنِ فَإِذَا هُمۡ بِالۡمَاءِ، فَرَجَعُوا فَأَخۡبَرُوهُمۡ بِالۡمَاءِ فَأَقۡبَلُوا، قَالَ: وَأُمُّ إِسۡمَاعِيلَ عِنۡدَ الۡمَاءِ، فَقَالُوا: أَتَأۡذَنِينَ لَنَا أَنۡ نَنۡزِلَ عِنۡدَكِ؟ فَقَالَتۡ: نَعَمۡ، وَلَكِنۡ لَا حَقَّ لَكُمۡ فِي الۡمَاءِ، قَالُوا: نَعَمۡ، قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (فَأَلۡفَى ذٰلِكَ أُمَّ إِسۡمَاعِيلَ وَهِيَ تُحِبُّ الۡأُنۡسَ).

Beliau melanjutkan:

Maka ia minum dan menyusui anaknya. Malaikat itu berkata kepadanya, “Janganlah kalian takut akan ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah (Baitullah) yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.”

Saat itu Baitullah tampak tinggi dari permukaan tanah seperti gundukan tanah, yang apabila datang banjir, air akan mengalir ke kanan dan kirinya. Keadaan tetap seperti itu hingga lewatlah serombongan orang dari suku Jurhum—atau keluarga dari Jurhum—yang datang dari arah jalan Kada`. Mereka singgah di bagian bawah Makkah, lalu melihat seekor burung yang terbang berputar-putar. Mereka berkata, “Burung ini pasti berputar di atas air, padahal setahu kami di lembah ini tidak ada air.”

Mereka mengirim satu atau dua orang utusan, dan ternyata mereka menemukan air. Utusan itu kembali dan mengabarkan keberadaan air, lalu mereka datang mendekat.

Beliau melanjutkan:

Saat itu ibu Isma’il berada di dekat air. Mereka bertanya, “Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah di dekatmu?”

Ia menjawab, “Ya, tetapi kalian tidak memiliki hak milik atas air ini.”

Mereka menjawab, “Baiklah.”

Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Hal itu membuat ibu Isma’il merasa senang karena ia menyukai adanya teman manusia.”

فَنَزَلُوا وَأَرۡسَلُوا إِلَى أَهۡلِيهِمۡ فَنَزَلُوا مَعَهُمۡ، حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهۡلُ أَبۡيَاتٍ مِنۡهُمۡ، وَشَبَّ الۡغُلَامُ وَتَعَلَّمَ الۡعَرَبِيَّةَ مِنۡهُمۡ، وَأَنۡفَسَهُمۡ وَأَعۡجَبَهُمۡ حِينَ شَبَّ، فَلَمَّا أَدۡرَكَ زَوَّجُوهُ امۡرَأَةً مِنۡهُمۡ، وَمَاتَتۡ أُمُّ إِسۡمَاعِيلَ، فَجَاءَ إِبۡرَاهِيمُ بَعۡدَ مَا تَزَوَّجَ إِسۡمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ، فَلَمۡ يَجِدۡ إِسۡمَاعِيلَ فَسَأَلَ امۡرَأَتَهُ عَنۡهُ فَقَالَتۡ: خَرَجَ يَبۡتَغِي لَنَا، ثُمَّ سَأَلَهَا عَنۡ عَيۡشِهِمۡ وَهَيۡئَتِهِمۡ، فَقَالَتۡ: نَحۡنُ بِشَرٍّ، نَحۡنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ، فَشَكَتۡ إِلَيۡهِ، قَالَ: فَإِذَا جَاءَ زَوۡجُكِ فَاقۡرَئِي عَلَيۡهِ السَّلَامَ، وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرۡ عَتَبَةَ بَابِهِ، فَلَمَّا جَاءَ إِسۡمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيۡئًا، فَقَالَ: هَلۡ جَاءَكُمۡ مِنۡ أَحَدٍ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، جَاءَنَا شَيۡخٌ كَذَا وَكَذَا، فَسَأَلَنَا عَنۡكَ فَأَخۡبَرۡتُهُ، وَسَأَلَنِي كَيۡفَ عَيۡشُنَا، فَأَخۡبَرۡتُهُ أَنَّا فِي جَهۡدٍ وَشِدَّةٍ، قَالَ: فَهَلۡ أَوۡصَاكِ بِشَيۡءٍ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، أَمَرَنِي أَنۡ أَقۡرَأَ عَلَيۡكَ السَّلَامَ، وَيَقُولُ: غَيِّرۡ عَتَبَةَ بَابِكَ، قَالَ: ذَاكِ أَبِي، وَقَدۡ أَمَرَنِي أَنۡ أُفَارِقَكِ، الۡحَقِي بِأَهۡلِكِ،

Mereka pun singgah dan mengirim pesan kepada keluarga mereka sehingga mereka ikut menetap bersama. Hingga ketika di sana sudah ada beberapa keluarga dari mereka, dan anak itu (Isma’il) tumbuh besar serta belajar bahasa Arab dari mereka. Ia menjadi orang yang paling mereka kagumi dan sukai saat tumbuh dewasa. Ketika ia telah mencapai usia dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Kemudian ibu Isma’il wafat. Setelah Isma’il menikah, Ibrahim datang untuk menengok kondisi keluarga yang ditinggalkannya, namun beliau tidak mendapati Isma’il. Beliau bertanya kepada istri Isma’il tentangnya, istrinya menjawab, “Dia keluar mencari nafkah untuk kami.”

Kemudian beliau bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Isma’il menjawab, “Kami dalam keadaan buruk, kami dalam kesempitan dan kesulitan.”

Ia mengeluh kepada Ibrahim. Ibrahim berkata, “Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya dan katakan padanya agar mengganti ambang pintunya.”

Ketika Isma’il datang, seolah-olah ia merasakan sesuatu, lalu bertanya, “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab, “Ya, datang kepada kami seorang tua begini dan begitu, ia bertanya tentangmu lalu aku beritahukan. Ia pun bertanya bagaimana kehidupan kita, maka aku beritahukan bahwa kita dalam kesulitan dan kepayahan.”

Isma’il bertanya, “Apakah ia berpesan sesuatu padamu?”

Istrinya menjawab, “Ya, ia menyuruhku menyampaikan salam kepadamu dan berkata: Gantilah ambang pintumu.”

Isma’il berkata, “Itu adalah ayahku dan ia memerintahkanku untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu!”

فَطَلَّقَهَا، وَتَزَوَّجَ مِنۡهُمۡ أُخۡرَى، فَلَبِثَ عَنۡهُمۡ إِبۡرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ أَتَاهُمۡ بَعۡدُ فَلَمۡ يَجِدۡهُ، فَدَخَلَ عَلَى امۡرَأَتِهِ فَسَأَلَهَا عَنۡهُ، فَقَالَتۡ: خَرَجَ يَبۡتَغِي لَنَا، قَالَ: كَيۡفَ أَنۡتُمۡ؟ وَسَأَلَهَا عَنۡ عَيۡشِهِمۡ وَهَيۡئَتِهِمۡ، فَقَالَتۡ: نَحۡنُ بِخَيۡرٍ وَسَعَةٍ، وَأَثۡنَتۡ عَلَى اللهِ. فَقَالَ: مَا طَعَامُكُمۡ؟ قَالَتِ: اللَّحۡمُ. قَالَ: فَمَا شَرَابُكُمۡ؟ قَالَتِ: الۡمَاءُ. فَقَالَ: اللّٰهُمَّ بَارِكۡ لَهُمۡ فِي اللَّحۡمِ وَالۡمَاءِ. قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُمۡ يَوۡمَئِذٍ حَبٌّ، وَلَوۡ كَانَ لَهُمۡ دَعَا لَهُمۡ فِيهِ). قَالَ: فَهُمَا لَا يَخۡلُو عَلَيۡهِمَا أَحَدٌ بِغَيۡرِ مَكَّةَ إِلَّا لَمۡ يُوَافِقَاهُ. قَالَ: فَإِذَا جَاءَ زَوۡجُكِ فَاقۡرَئِي عَلَيۡهِ السَّلَامَ، وَمُرِيهِ يُثۡبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ، فَلَمَّا جَاءَ إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: هَلۡ أَتَاكُمۡ مِنۡ أَحَدٍ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، أَتَانَا شَيۡخٌ حَسَنُ الۡهَيۡئَةِ، وَأَثۡنَتۡ عَلَيۡهِ، فَسَأَلَنِي عَنۡكَ فَأَخۡبَرۡتُهُ، فَسَأَلَنِي كَيۡفَ عَيۡشُنَا فَأَخۡبَرۡتُهُ أَنَّا بِخَيۡرٍ، قَالَ: فَأَوۡصَاكِ بِشَيۡءٍ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، هُوَ يَقۡرَأُ عَلَيۡكَ السَّلَامَ، وَيَأۡمُرُكَ أَنۡ تُثۡبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ، قَالَ: ذَاكِ أَبِي وَأَنۡتِ الۡعَتَبَةُ، أَمَرَنِي أَنۡ أُمۡسِكَكِ،

Maka Isma’il menceraikannya dan menikah lagi dengan wanita lain dari kalangan mereka. Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu sesuai kehendak Allah, kemudian beliau datang lagi namun tidak mendapati Isma’il. Beliau masuk menemui istri Isma’il dan bertanya tentangnya. Istri Isma’il menjawab, “Dia keluar mencari nafkah untuk kami.”

Beliau bertanya, “Bagaimana keadaan kalian?”

Beliau bertanya tentang kehidupan serta keadaan mereka. Istri Isma’il menjawab, “Kami dalam keadaan baik dan berkelapangan,” seraya memuji Allah.

Beliau bertanya, “Apa makanan kalian?”

Istri Isma’il menjawab, “Daging.”

Beliau bertanya, “Apa minuman kalian?”

Istri Isma’il menjawab, “Air.”

Beliau berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Saat itu mereka belum memiliki biji-bijian (gandum/kurma), seandainya mereka memilikinya, niscaya beliau akan mendoakan keberkahan pula padanya.”

Beliau melanjutkan:

Maka tidaklah seorang pun mencukupkan diri mengonsumsi kedua hal itu (daging dan air) di luar Makkah kecuali tidak akan cocok bagi (pencernaan)nya.

Ibrahim berkata, “Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya dan perintahkan dia agar mengokohkan ambang pintunya.”

Ketika Isma’il datang, ia bertanya, “Apakah ada seseorang yang datang kepada kalian?”

Istrinya menjawab, “Ya, datang kepada kami seorang tua yang penampilannya sangat baik,” ia memuji Ibrahim. “Ia bertanya tentangmu lalu aku beritahukan. Ia pun bertanya bagaimana kehidupan kita, maka aku beritahukan bahwa kita dalam keadaan baik.”

Isma’il bertanya, “Apakah ia berpesan sesuatu padamu?”

Istrinya menjawab, “Ya, ia menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu agar mengokohkan ambang pintumu.”

Isma’il berkata, “Itu adalah ayahku dan engkaulah ambang pintu itu. Ia memerintahkanku untuk tetap mempertahankanmu.”

ثُمَّ لَبِثَ عَنۡهُمۡ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ جَاءَ بَعۡدَ ذٰلِكَ، وَإِسۡمَاعِيلُ يَبۡرِي نَبۡلًا لَهُ تَحۡتَ دَوۡحَةٍ قَرِيبًا مِنۡ زَمۡزَمَ، فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيۡهِ، فَصَنَعَا كَمَا يَصۡنَعُ الۡوَالِدُ بِالۡوَلَدِ وَالۡوَلَدُ بِالۡوَالِدِ، ثُمَّ قَالَ: يَا إِسۡمَاعِيلُ، إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِأَمۡرٍ، قَالَ: فَاصۡنَعۡ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ، قَالَ: وَتُعِينُنِي؟ قَالَ: وَأُعِينُكَ، قَالَ: فَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنۡ أَبۡنِيَ هَاهُنَا بَيۡتًا، وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرۡتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوۡلَهَا، قَالَ: فَعِنۡدَ ذٰلِكَ رَفَعَا الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَيۡتِ، فَجَعَلَ إِسۡمَاعِيلُ يَأۡتِي بِالۡحِجَارَةِ وَإِبۡرَاهِيمُ يَبۡنِي، حَتَّى إِذَا ارۡتَفَعَ الۡبِنَاءُ، جَاءَ بِهٰذَا الۡحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيۡهِ، وَهُوَ يَبۡنِي وَإِسۡمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الۡحِجَارَةَ، وَهُمَا يَقُولَانِ: ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا إِنَّكَ أَنۡتَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾ [البقرة: ١٢٧] قَالَ: فَجَعَلَا يَبۡنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوۡلَ الۡبَيۡتِ وَهُمَا يَقُولَانِ: ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا إِنَّكَ أَنۡتَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ﴾. [طرفه في: ٢٣٦٨].

Kemudian Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu sesuai kehendak Allah. Beliau datang lagi setelah itu saat Isma’il sedang meruncingkan anak panah di bawah sebuah pohon besar dekat Zamzam. Ketika melihatnya, Isma’il segera berdiri menyambutnya, dan mereka berdua melakukan perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya dan anak kepada orang tuanya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Isma'il, sesungguhnya Allah memerintahkanku dengan suatu perintah.”

Isma’il menjawab, “Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabmu.”

Ibrahim bertanya, “Apakah engkau akan membantuku?”

Isma’il menjawab, “Aku akan membantumu.”

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di sini,” seraya menunjuk ke sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari sekelilingnya.

Beliau melanjutkan: Di sanalah keduanya meninggikan pondasi Baitullah. Isma’il yang membawakan batu-batu dan Ibrahim yang membangunnya. Hingga ketika bangunan sudah tinggi, Isma’il membawakan batu ini (makam Ibrahim) dan meletakkannya untuk Ibrahim agar beliau bisa berdiri di atasnya sementara beliau terus membangun dan Isma’il memberikan batu-batu kepadanya. Keduanya berdoa, “Ya Rab kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 127).

Beliau melanjutkan: Keduanya terus membangun hingga berkeliling mengitari Baitullah sambil mengucapkan, “Ya Rab kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3361, 3362, dan 3363

١٠ – بَابٌ ﴿يَزِفُّونَ﴾ [الصافات: ٩٤] النَّسَلَانُ فِي الۡمَشۡيِ
10. Bab “Yaziffun” (QS As-Saffat: 94) Yaitu Mempercepat Jalan


٣٣٦١ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ نَصۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ أَبِي حَيَّانَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ يَوۡمًا بِلَحۡمٍ فَقَالَ: (إِنَّ اللهَ يَجۡمَعُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ الۡأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَيُسۡمِعُهُمُ الدَّاعِي وَيُنۡفِدُهُمُ الۡبَصَرُ، وَتَدۡنُو الشَّمۡسُ مِنۡهُمۡ - فَذَكَرَ حَدِيثَ الشَّفَاعَةِ - فَيَأۡتُونَ إِبۡرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ: أَنۡتَ نَبِيُّ اللهِ وَخَلِيلُهُ مِنَ الۡأَرۡضِ، اشۡفَعۡ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، فَيَقُولُ - فَذَكَرَ كَذَبَاتِهِ -: نَفۡسِي نَفۡسِي، اذۡهَبُوا إِلَى مُوسَى). تَابَعَهُ أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٣٣٤٠].

3361. Ishaq bin Ibrahim bin Nashr telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Abu Hayyan, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Suatu hari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—disuguhi masakan daging, lalu beliau berkata:

Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang yang dulu dan yang akhir pada hari kiamat di suatu dataran yang luas sehingga suara penyeru terdengar oleh mereka semua dan penglihatan bisa menjangkau mereka semua. Matahari akan mendekat mereka. –Lalu beliau menyebutkan hadis syafaat—lalu mereka mendatangi Nabi Ibrahim seraya berkata, “Engkau adalah nabi dan khalil Allah di bumi. Berilah syafaat untuk kami kepada Rabmu.”

Namun Ibrahim berkata—setelah menyebut kebohongan-kebohongannya—, “Diriku, diriku. Pergilah kepada Nabi Musa!”

Anas mengiringi Abu Hurairah dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

٣٣٦٢ - حَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ سَعِيدٍ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ جَرِيرٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (يَرۡحَمُ اللهُ أُمَّ إِسۡمَاعِيلَ، لَوۡلَا أَنَّهَا عَجِلَتۡ، لَكَانَ زَمۡزَمُ عَيۡنًا مَعِينًا). [طرفه في: ٢٣٦٨].

3362. Ahmad bin Sa’id Abu ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku: Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Ayyub, dari ‘Abdullah bin Sa’id bin Jubair, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Semoga Allah merahmati Umu Isma’il. Andai dia tidak tergesa-gesa menanggulnya, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.”

٣٣٦٣ - قَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ: أَمَّا كَثِيرُ بۡنُ كَثِيرٍ فَحَدَّثَنِي قَالَ: إِنِّي وَعُثۡمَانَ بۡنَ أَبِي سُلَيۡمَانَ جُلُوسٌ مَعَ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، فَقَالَ: مَا هَكَذَا حَدَّثَنِي ابۡنُ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَقۡبَلَ إِبۡرَاهِيمُ بِإِسۡمَاعِيلَ وَأُمِّهِ عَلَيۡهِمُ السَّلَامُ وَهِيَ تُرۡضِعُهُ مَعَهَا شَنَّةٌ - لَمۡ يَرۡفَعۡهُ - ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبۡرَاهِيمُ وَبِابۡنِهَا إِسۡمَاعِيلَ. [طرفه في: ٢٣٦٨].

3363. Al-Anshari berkata: Ibnu Juraij menceritakan kepada kami: Adapun Katsir bin Katsir menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Sesungguhnya aku dan ‘Utsman bin Abu Sulaiman duduk bersama Sa’id bin Jubair lalu beliau berkata: Bukan seperti ini yang Ibnu ‘Abbas ceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Ibrahim mengarahkan Isma’il dan ibunya—‘alaihimus-salam—(menuju Makkah) sembari menyusuinya dengan membawa kantong air. Ibnu ‘Abbas tidak menyandarkan hadis ini kepada Nabi. Kemudian Ibrahim datang membawa Hajar dan putranya, yaitu Isma’il.