Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2544

١٤ - بَابُ فَضۡلِ مَنۡ أَدَّبَ جَارِيَتَهُ وَعَلَّمَهَا
14. Bab keutamaan orang yang mendidik budak wanitanya dan mengajarinya


٢٥٤٤ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: سَمِعَ مُحَمَّدَ بۡنَ فُضَيۡلٍ، عَنۡ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَتۡ لَهُ جَارِيَةٌ فَعَالَهَا فَأَحۡسَنَ إِلَيۡهَا، ثُمَّ أَعۡتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا كَانَ لَهُ أَجۡرَانِ). [طرفه في: ٩٧]. 

2544. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Beliau mendengar Muhammad bin Fudhail dari Mutharrif, dari Asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa saja yang memiliki budak wanita, lalu dia urusi dan berbuat baik kepadanya, kemudian dia bebaskan dan dia nikahi, maka dua pahala untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6244

١٣ - بَابُ التَّسۡلِيمِ وَالۡاِسۡتِئۡذَانِ ثَلَاثًا
13. Bab bersalam dan minta izin sebanyak tiga kali


٦٢٤٤ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُثَنَّى: حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا، وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا. [طرفه في: ٩٤]. 

6244. Ishaq telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad mengabarkan kepada kami: ‘Abdullah bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami: Tsumamah bin ‘Abdullah menceritakan kepada kami dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu apabila bersalam, maka beliau bersalam tiga kali. Apabila mengucapkan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali.

Shahih Al-Bukhari - 97. Kitab Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunah

٩٧ – كِتَابُ الۡإِعۡتِصَامِ بِالۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
97. Kitab Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunah

Hadis nomor 7268
Hadis nomor 7270
1. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku diutus dengan jawami’ al-kalim (kalimat ringkas padat)”
2. Bab meneladani sunah-sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hadis nomor 7275
Hadis nomor 7287
Hadis nomor 7288
3. Bab hal yang dibenci dari banyak bertanya dan membebani diri dengan perkara yang tidak berguna
Hadis nomor 7291
Hadis nomor 7294 dan 7295
4. Bab meneladani perbuatan-perbuatan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam
5. Bab dibencinya sikap melampaui batas, berdebat dalam masalah ilmu, dan berlebih-lebihan di dalam agama dan bidah
Hadis nomor 7299
7. Bab hal yang disebutkan berupa tercelanya pendapat pribadi dan kias yang membebani diri
10. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Ada sekelompok dari umatku senantiasa berperang dalam keadaan unggul di atas kebenaran”
Hadis nomor 7311
Hadis nomor 7312
13. Bab riwayat tentang ijtihad hakim menurut apa yang Allah taala turunkan
Hadis nomor 7316
15. Bab dosa bagi siapa saja yang mengajak kepada kesesatan atau memberi contoh yang jelek
Hadis nomor 7326
Hadis nomor 7343
20. Bab apabila petugas atau hakim berijtihad lalu keliru menyelisihi Rasul tanpa ilmu, maka hukumnya tertolak
21. Bab pahala seorang hakim apabila berijtihad lalu tepat atau keliru
Hadis nomor 7352
26. Bab dibencinya perselisihan
27. Bab larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti pengharaman kecuali sesuatu yang diketahui kebolehannya dan demikian pula perintah beliau
Hadis nomor 7367
28. Bab
Hadis nomor 7369

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7294 dan 7295

٧٢٩٤ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ. وَحَدَّثَنِي مَحۡمُودٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ: أَخۡبَرَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمۡسُ فَصَلَّى الظُّهۡرَ، فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ عَلَى الۡمِنۡبَرِ، فَذَكَرَ السَّاعَةَ، وَذَكَرَ أَنَّ بَيۡنَ يَدَيۡهَا أُمُورًا عِظَامًا، ثُمَّ قَالَ: (مَنۡ أَحَبَّ أَنۡ يَسۡأَلَ عَنۡ شَىۡءٍ فَلۡيَسۡأَلۡ عَنۡهُ، فَوَاللهِ لَا تَسۡأَلُونِي عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا أَخۡبَرۡتُكُمۡ بِهِ مَا دُمۡتُ فِي مَقَامِي هَٰذَا). قَالَ أَنَسٌ: فَأَكۡثَرَ الۡأَنۡصَارُ الۡبُكَاءَ، وَأَكۡثَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي). فَقَالَ أَنَسٌ: فَقَامَ إِلَيۡهِ رَجُلٌ فَقَالَ: أَيۡنَ مَدۡخَلِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (النَّارُ). فَقَامَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ حُذَافَةَ فَقَالَ: مَنۡ أَبِي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). قَالَ: ثُمَّ أَكۡثَرَ أَنۡ يَقُولَ: (سَلُونِي، سَلُونِي). فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ رَسُولًا. قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حِينَ قَالَ عُمَرُ ذٰلِكَ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَقَدۡ عُرِضَتۡ عَلَىَّ الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرۡضِ هَٰذَا الۡحَائِطِ، وَأَنَا أُصَلِّي، فَلَمۡ أَرَ كَالۡيَوۡمِ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ). [طرفه في: ٩٣]. 

7294. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Mahmud telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri: 

Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—mengabarkan kepadaku bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar ketika matahari telah mulai turun, lalu beliau salat Zuhur. Ketika beliau sudah salam, beliau bangkit menuju mimbar, lalu menyebutkan hari kiamat. Beliau juga menyebutkan bahwa di hadapannya ada perkara-perkara yang besar. Kemudian beliau bersabda, “Siapa saja yang ingin menanyakan sesuatu, maka silakan dia menanyakannya. Demi Allah, tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku kabarkan kepada kalian selama aku berdiri di tempatku ini.” 

Anas berkata: Orang-orang ansar banyak menangis, sementara Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengulang-ulang perkataan, “Bertanyalah kepadaku!” 

Anas berkata: Ada seseorang berdiri menuju beliau seraya bertanya, “Di mana tempatku masuk nanti, wahai Rasulullah?” 

Rasulullah menjawab, “Neraka.” 

‘Abdullah bin Hudzafah bangkit seraya bertanya, “Siapa ayahku wahai Rasulullah?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” 

Anas berkata: Kemudian beliau mengulang-ulang ucapan, “Tanyalah kepadaku! Tanyalah kepadaku!” 

‘Umar berlutut seraya berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebagai rasul.” 

Anas berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun diam ketika ‘Umar mengatakan itu. Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh janah dan neraka telah diperlihatkan kepadaku tadi di sisi dinding ini ketika aku salat. Aku belum pernah melihat kebaikan dan kejelekan seperti hari ini.” 

٧٢٩٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحِيمِ: أَخۡبَرَنَا رَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: أَخۡبَرَنِي مُوسَى بۡنُ أَنَسٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا نَبِيَّ اللهِ، مَنۡ أَبِي؟ قَالَ: (أَبُوكَ فُلَانٌ). وَنَزَلَتۡ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ﴾ الۡآيَةَ [المائدة: ١٠١]. [طرفه في: ٩٣]. 

7295. Muhammad bin ‘Abdurrahim telah menceritakan kepada kami: Rauh bin ‘Ubadah mengabarkan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Musa bin Anas mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Malik mengatakan: 

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Rasulullah menjawab, “Ayahmu adalah polan.” 

Turun ayat yang artinya, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu.” Sampai akhir ayat QS. Al-Ma`idah: 101.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7089, 7090, dan 7091

١٥ - بَابُ التَّعَوُّذِ مِنَ الۡفِتَنِ
15. Bab berlindung dari cobaan-cobaan


٧٠٨٩ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ فَضَالَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَأَلُوا النَّبِيَّ ﷺ حَتَّى أَحۡفَوۡهُ بِالۡمَسۡأَلَةِ، فَصَعِدَ النَّبِيُّ ذَاتَ يَوۡمٍ الۡمِنۡبَرَ فَقَالَ: (لَا تَسۡأَلُونِي عَنۡ شَىۡءٍ إِلَّا بَيَّنۡتُ لَكُمۡ). فَجَعَلۡتُ أَنۡظُرُ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِذَا كُلُّ رَجُلٍ رَأۡسُهُ فِي ثَوۡبِهِ يَبۡكِي، فَأَنۡشَأَ رَجُلٌ، كَانَ إِذَا لَاحَى يُدۡعَى إِلَى غَيۡرِ أَبِيهِ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ مَنۡ أَبِي؟ فَقَالَ: (أَبُوكَ حُذَافَةُ). ثُمَّ أَنۡشَأَ عُمَرُ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالۡإِسۡلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، نَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا رَأَيۡتُ فِي الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ كَالۡيَوۡمِ قَطُّ، إِنَّهُ صُوِّرَتۡ لِي الۡجَنَّةُ وَالنَّارُ، حَتَّى رَأَيۡتُهُمَا دُونَ الۡحَائِطِ). قَالَ قَتَادَةُ: يُذۡكَرُ هَٰذَا الۡحَدِيثُ عِنۡدَ هَٰذِهِ الۡآيَةِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡأَلُوا عَنۡ أَشۡيَاءَ إِنۡ تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ﴾ [المائدة: ١٠١]. 

7089. Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Orang-orang bertanya kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hingga mereka mendesak beliau dengan pertanyaan itu. Lalu Nabi pada suatu hari naik ke mimbar seraya bersabda, “Tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku terangkan kepada kalian.” 

Aku memandang ke kanan dan ke kiri. Ternyata setiap orang, kepalanya berada di dalam pakaiannya sembari menangis. 

Lalu bangkitlah seseorang yang jika dia bertengkar, dia dipanggil dengan panggilan yang disandarkan kepada selain ayahnya. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa ayahku?” 

Nabi menjawab, “Ayahmu adalah Hudzafah.” 

Kemudian ‘Umar bangkit seraya berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Kami berlindung kepada Allah dari buruknya cobaan-cobaan.” 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku tidak pernah melihat sama sekali kebaikan dan kejelekan seperti hari ini. Sungguh janah dan neraka telah digambarkan kepadaku hingga aku melihat keduanya di belakang dinding ini.” 

Qatadah berkata: Hadis ini disebutkan ketika disebutkan ayat yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang apabila dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” (QS. Al-Ma`idah: 101). 

٧٠٩٠ - وَقَالَ عَبَّاسٌ النَّرۡسِيُّ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمۡ: أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ، بِهَٰذَا، وَقَالَ: كُلُّ رَجُلٍ لَافًّا رَأۡسَهُ فِي ثَوۡبِهِ يَبۡكِي. وَقَالَ: عَائِذًا بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ، أَوۡ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنۡ سُوءِ الۡفِتَنِ. [طرفه في: ٩٣]. 

7090. ‘Abbas An-Nursi berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami bahwa Anas menceritakan kepada mereka: Bahwa Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seperti hadis ini dan Anas berkata: Setiap orang menudungi kepalanya di dalam pakaian mereka sembari menangis. Beliau berkata: Aku berlindung kepada Allah dari jeleknya cobaan-cobaan. 

٧٠٩١ - وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ وَمُعۡتَمِرٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ قَتَادَةَ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُمۡ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِهَٰذَا. وَقَالَ: عَائِذًا بِاللهِ مِنۡ شَرِّ الۡفِتَنِ. [طرفه في: ٩٣]. 

7091. Khalifah berkata kepadaku: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id dan Mu’tamir menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Qatadah bahwa Anas menceritakan kepada mereka dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan hadis ini. Beliau berkata: Aku berlindung kepada Allah dari buruknya cobaan-cobaan.