Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2151

٦٥ - بَابٌ إِنۡ شَاءَ رَدَّ الۡمُصَرَّاةَ وَفِي حَلۡبَتِهَا صَاعٌ مِنۡ تَمۡرٍ
65. Bab Jika Dia Menghendaki, Dia Mengembalikan Hewan yang Dibendung Susunya dan Sebagai Ganti Perahannya Adalah Satu Sha’ Kurma


٢١٥١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَمۡرٍو: حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي زِيَادٌ: أَنَّ ثَابِتًا مَوۡلَى عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ زَيۡدٍ أَخۡبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنِ اشۡتَرَى غَنَمًا مُصَرَّاةً فَاحۡتَلَبَهَا، فَإِنۡ رَضِيَهَا أَمۡسَكَهَا، وَإِنۡ سَخِطَهَا فَفِي حَلۡبَتِهَا صَاعٌ مِنۡ تَمۡرٍ). [طرفه في: ٢١٤٠].

2151. Muhammad bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami: Al-Makki menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Dia berkata: Ziyad mengabarkan kepadaku: Tsabit maula ‘Abdurrahman bin Zaid mengabarkannya: Dia mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa membeli kambing yang dibendung susunya lalu memerahnya, jika dia rida dia boleh menahannya, dan jika dia tidak suka maka sebagai ganti perahannya adalah satu sha’ kurma.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2148 dan 2149

٦٤ - بَابُ النَّهۡيِ لِلۡبَائِعِ أَنۡ لَا يُحَفِّلَ الۡإِبِلَ وَالۡبَقَرَ وَالۡغَنَمَ وَكُلَّ مُحَفَّلَةٍ
64. Bab Larangan bagi Penjual untuk Tidak Mengumpulkan (Membiarkan Tidak Diperah) Susu pada Unta, Sapi, dan Kambing serta Setiap Hewan yang Dikumpulkan Susunya


وَالۡمُصَرَّاةُ: الَّتِي صُرِّيَ لَبَنُهَا وَحُقِنَ فِيهِ، وَجُمِعَ، فَلَمۡ يُحۡلَبۡ أَيَّامًا، وَأَصۡلُ التَّصۡرِيَةِ حَبۡسُ الۡمَاءِ، يُقَالُ مِنۡهُ: صَرَّيۡتُ الۡمَاءَ.

Al-Musharrah adalah hewan yang dibiarkan susunya dan ditahan di dalamnya, serta dikumpulkan sehingga tidak diperah selama beberapa hari. Asal kata at-tashriyah adalah membendung air, dikatakan darinya: “sharraitul ma’a” (aku membendung air).

٢١٤٨ - حَدَّثَنَا ابۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ رَبِيعَةَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا تُصَرُّوا الۡإِبِلَ وَالۡغَنَمَ، فَمَنِ ابۡتَاعَهَا بَعۡدُ فَإِنَّهُ بِخَيۡرِ النَّظَرَيۡنِ بَيۡنَ أَنۡ يَحۡتَلِبَهَا: إِنۡ شَاءَ أَمۡسَكَ، وَإِنۡ شَاءَ رَدَّهَا وَصَاعَ تَمۡرٍ). وَيُذۡكَرُ عَنۡ أَبِي صَالِحٍ وَمُجَاهِدٍ وَالۡوَلِيدِ بۡنِ رَبَاحٍ وَمُوسَى بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (صَاعَ تَمۡرٍ). وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ: (صَاعًا مِنۡ طَعَامٍ، وَهُوَ بِالۡخِيَارِ ثَلَاثًا). وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ، عَنِ ابۡنِ سِيرِينَ: (صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ). وَلَمۡ يَذۡكُرۡ ثَلَاثًا، وَالتَّمۡرُ أَكۡثَرُ. [طرفه في: ٢١٤٠].

2148. Ibnu Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Al-A’raj: Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Janganlah kalian membendung susu unta dan kambing. Maka barang siapa yang membelinya setelah itu, sesungguhnya dia memiliki dua pilihan yang terbaik setelah memerahnya: jika dia menghendaki maka dia menahannya dan jika dia menghendaki maka dia mengembalikannya beserta satu sha’ kurma.”

Dan disebutkan dari Abu Shalih, Mujahid, Al-Walid bin Rabah, dan Musa bin Yasar, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Satu sha’ kurma.”

Dan sebagian mereka berkata, dari Ibnu Sirin: “Satu sha’ makanan dan dia memiliki hak khiar selama tiga hari.”

Dan sebagian mereka berkata, dari Ibnu Sirin: “Satu sha’ kurma,” dan tidak menyebutkan tiga hari, dan riwayat dengan kata “kurma” lebih banyak.

٢١٤٩ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي يَقُولُ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثۡمَانَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: مَنِ اشۡتَرَى شَاةً مُحَفَّلَةً فَرَدَّهَا فَلۡيَرُدَّ مَعَهَا صَاعًا، وَنَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ تُلَقَّى الۡبُيُوعُ. [الحديث ٢١٤٩ - طرفه في: ٢١٦٤].

2149. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami. Dia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Abu ‘Utsman menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Dia berkata, “Barang siapa membeli kambing yang dibendung susunya lalu mengembalikannya, maka hendaklah dia mengembalikannya bersama satu sha’.” Dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang mencegat barang dagangan (sebelum sampai ke pasar).

Tafsir Surah Al-Bayyinah

تَفۡسِيرُ سُورَةِ لَمۡ يَكُنۡ
Tafsir Surah Al-Bayyinah


وَهِيَ مَدَنِيَّةٌ

Surah ini termasuk madaniah.


﴿لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ * رَسُولٌ مِّنَ ٱللَّهِ يَتۡلُوا۟ صُحُفًا مُّطَهَّرَةً * فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ * وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ *‏ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ *‏ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ * إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ * جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِىَ رَبَّهُۥ﴾.

  1. Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
  2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur’an),
  3. di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.
  4. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Alkitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
  5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
  6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.
  7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
  8. Balasan mereka di sisi Rab mereka ialah janah ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan merekapun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabnya.

۝١ يَقُوۡلُ تَعَالَى: ﴿لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ﴾ أَيۡ: [مِنَ] الۡيَهُودِ وَالنَّصَارَى ﴿وَٱلۡمُشۡرِكِينَ﴾ مِنۡ سَائِرِ أَصۡنَافِ الۡأُمَمِ.

Allah taala berfirman, “Orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab,” yaitu dari kaum Yahudi dan Nasrani, “dan orang-orang musyrik” dari berbagai jenis umat lainnya.

﴿مُنفَكِّينَ﴾ عَنۡ كُفۡرِهِمۡ وَضَلَالِهِمُ الَّذِي هُمۡ عَلَيۡهِ؛ أَيۡ: لَا يَزَالُونَ فِي غَيِّهِمۡ وَضَلَالِهِمۡ، لَا يَزِيدُهُمۡ مُرُورُ السِّنِينَ إِلَّا كُفۡرًا.

“Tidak akan meninggalkan,” kekafiran dan kesesatan yang mereka jalani. Artinya, mereka senantiasa berada dalam penyimpangan dan kesesatan; berlalunya tahun demi tahun tidaklah menambah bagi mereka kecuali kekafiran.

﴿حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ﴾ الۡوَاضِحَةُ، وَالۡبُرۡهَانُ السَّاطِعُ، ثُمَّ فَسَّرَ تِلۡكَ الۡبَيِّنَةَ فَقَالَ:

۝٢ ﴿رَسُولٌ مِّنَ ٱللَّهِ﴾ أَيۡ: أَرۡسَلَهُ اللهُ يَدۡعُو النَّاسَ إِلَى الۡحَقِّ، وَأَنۡزَلَ عَلَيۡهِ كِتَابًا يَتۡلُوۡهُ، لِيُعَلِّمَ النَّاسَ الۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيَهُمۡ، وَيُخۡرِجَهُمۡ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَلِهٰذَا قَالَ:

﴿يَتۡلُوا۟ صُحُفًا مُّطَهَّرَةً﴾ أَيۡ: مَحۡفُوظَةً عَنۡ قُرۡبَانِ الشَّيَاطِينِ، لَا يَمَسُّهَا إِلَّا الۡمُطَهَّرُونَ، لِأَنَّهَا فِي أَعۡلَى مَا يَكُونُ مِنَ الۡكَلَامِ.

“Sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,” yang jelas dan hujah yang terang benderang. Kemudian Allah menafsirkan bukti yang nyata tersebut dengan berfirman, “(Yaitu) seorang rasul dari Allah,” yakni yang diutus oleh Allah, mengajak manusia kepada kebenaran, dan Dia menurunkan kepadanya sebuah kitab yang dibacakannya agar ia mengajarkan hikmah kepada manusia, menyucikan mereka, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Yang membacakan lembaran-lembaran yang suci,” maksudnya terjaga dari sentuhan setan, tidak ada yang menyentuhnya kecuali para hamba yang disucikan, karena ia merupakan setinggi-tingginya perkataan.

۝٣ وَلِهٰذَا قَالَ عَنۡهَا: ﴿فِيهَا﴾ أَيۡ: فِي تِلۡكَ الصُّحُفِ ﴿كُتُبٌ قَيِّمَةٌ﴾ أَيۡ: أَخۡبَارٌ صَادِقَةٌ وَأَوَامِرُ عَادِلَةٌ تَهۡدِي إِلَى الۡحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسۡتَقِيمٍ.

Karena itulah Dia berfirman tentangnya, “Di dalamnya,” yakni di dalam lembaran-lembaran tersebut, terdapat “kitab-kitab yang lurus,” yaitu kabar-kabar yang benar dan perintah-perintah yang adil yang menunjuki kepada kebenaran dan jalan yang lurus.

فَإِذَا جَاءَتۡهُمۡ هٰذِهِ الۡبَيِّنَةُ، فَحِينِئِذٍ يَتَبَيَّنُ طَالِبُ الۡحَقِّ مِمَّنۡ لَيۡسَ لَهُ مَقۡصِدٌ فِي طَلَبِهِ، فَيَهۡلِكُ مَنۡ هَلَكَ عَنۡ بَيِّنَةٍ، وَيَحۡيَا مَنۡ حَيَّ عَنۡ بَيِّنَةٍ.

Maka apabila bukti nyata ini telah datang kepada mereka, saat itulah akan menjadi jelas siapa pencari kebenaran dan siapa yang tidak memiliki niat untuk mencarinya. Maka binasalah orang yang binasa dengan bukti yang nyata, dan hiduplah orang yang hidup dengan bukti yang nyata.

۝٤ وَإِذَا لَمۡ يُؤۡمِنۡ أَهۡلُ الۡكِتَابِ لِهٰذَا الرَّسُولِ وَيَنۡقَادُوا لَهُ، فَلَيۡسَ ذٰلِكَ بِبِدۡعٍ مِنۡ ضَلَالِهِمۡ وَعِنَادِهِمۡ، فَإِنَّهُمۡ مَا تَفَرَّقُوا وَاخۡتَلَفُوا وَصَارُوا أَحۡزَابًا ﴿إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ﴾ الَّتِي تُوجِبُ لِأَهۡلِهَا الۡاِجۡتِمَاعَ وَالِاتِّفَاقَ.

Jika ahli kitab tidak beriman kepada Rasul ini dan tidak tunduk kepadanya, maka hal itu bukanlah sesuatu yang baru dari kesesatan dan penentangan mereka. Sesungguhnya mereka tidaklah berpecah belah, berselisih, dan menjadi golongan-golongan “melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata” yang seharusnya mengharuskan penganutnya untuk bersatu dan bersepakat.

وَلَكِنَّهُمۡ لِرَدَاءَتِهِمۡ وَنَذَالَتِهِمۡ لَمۡ يَزِدۡهُمُ الۡهُدَى إِلَّا ضَلَالًا، وَلَا الۡبَصِيرَةُ إِلَّا عَمًى، مَعَ أَنَّ الۡكُتُبَ كُلَّهَا جَاءَتۡ بِأَصۡلٍ وَاحِدٍ وَدِينٍ وَاحِدٍ.

Namun, karena keburukan dan kerendahan mereka, petunjuk itu tidak menambah bagi mereka kecuali kesesatan, dan bashirah (pengetahuan) tidak menambah kecuali kebutaan. Padahal kitab-kitab semuanya datang dengan satu pokok dan satu agama.

۝٥ فَمَا أُمِرُوا فِي سَائِرِ الشَّرَائِعِ إِلَّا أَنۡ يَعۡبُدُوا ﴿ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ﴾ أَيۡ: قَاصِدِينَ بِجَمِيعِ عِبَادَاتِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ وَجۡهَ اللهِ وَطَلَبَ الزُّلۡفَى لَدَيۡهِ.

Mereka tidaklah diperintah dalam seluruh syariat kecuali agar menyembah “Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama,” maksudnya meniatkan seluruh ibadah mereka—baik yang lahir maupun batin—hanya untuk wajah Allah dan mencari kedekatan di sisi-Nya.

﴿حُنَفَآءَ﴾ أَيۡ: مُعۡرِضِينَ [مَائِلِينَ] عَنۡ سَائِرِ الۡأَدۡيَانِ الۡمُخَالِفَةِ لِدِينِ التَّوۡحِيدِ.

Hunafa” yakni berpaling (condong menjauh) dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid.

وَخَصَّ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ [بِالذِّكۡرِ] مَعَ أَنَّهُمَا دَاخِلَانِ فِي قَوۡلِهِ ﴿لِيَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ﴾ لِفَضۡلِهِمَا وَشَرَفِهِمَا، وَكَوۡنِهِمَا الۡعِبَادَتَيۡنِ اللَّتَيۡنِ مَنۡ قَامَ بِهِمَا قَامَ بِجَمِيۡعِ شَرائِعِ الدِّيۡنِ.

Dikhususkannya penyebutan salat dan zakat, padahal keduanya sudah termasuk dalam firman-Nya “agar mereka menyembah Allah dengan ikhlas,” adalah karena keutamaan dan kemuliaan keduanya, serta karena keduanya merupakan dua ibadah yang barang siapa melaksanakannya, maka ia telah melaksanakan seluruh syariat agama.

﴿وَذَٰلِكَ﴾ أَيِ: التَّوۡحِيدُ وَالۡإِخۡلَاصُ فِي الدِّيۡنِ، هُوَ ﴿دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ﴾ أَيۡ: الدِّيۡنُ الۡمُسۡتَقِيمُ الۡمُوصِلُ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَمَا سِوَاهُ فَطُرُقٌ مُوصِلَةٌ إِلَى الۡجَحِيمِ.

“Dan yang demikian itulah,” yaitu tauhid dan keikhlasan dalam beragama, adalah “agama yang lurus,” yakni agama yang tegak yang mengantarkan menuju janah yang penuh kenikmatan, sedangkan selainnya adalah jalan-jalan yang mengantarkan ke neraka Jahanam.

ثُمَّ ذَكَرَ جَزَاءَ الۡكَافِرِيۡنَ بَعۡدَمَا جَاءَتۡهُمُ الۡبَيِّنَةُ فَقَالَ:

۝٦ ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ﴾ قَدۡ أَحَاطَ بِهِمۡ عَذَابُهَا، وَاشۡتَدَّ عَلَيۡهِمۡ عِقَابُهَا.

Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir setelah datangnya bukti nyata kepada mereka, seraya berfirman, “Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam,” azabnya telah mengepung mereka dan siksaannya sangat keras atas mereka.

﴿خَٰلِدِينَ فِيهَآ﴾ لَا يُفَتَّرُ عَنۡهُمُ الۡعَذَابُ وَهُمۡ فِيهَا مُبۡلِسُونَ.

“Mereka kekal di dalamnya,” azab itu tidak diringankan dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.

﴿ۚأُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾ لِأَنَّهُمۡ عَرَفُوا الۡحَقَّ وَتَرَكُوهُ، وَخَسِرُوا الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةَ.

“Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk,” karena mereka telah mengenal kebenaran lalu meninggalkannya, sehingga mereka merugi di dunia dan akhirat.

۝٧ ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾ لِأَنَّهُمۡ عَبَدُوا اللهَ وَعَرَفُوهُ، وَفَازُوا بِنَعِيمِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ.

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” karena mereka menyembah Allah dan mengenal-Nya, sehingga mereka beruntung mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat.

۝٨ ﴿جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٍ﴾ أَيۡ: جَنَّاتُ إِقَامَةٍ، لَا ظَعۡنَ فِيهَا وَلَا رَحِيلَ، وَلَا طَلَبَ لِغَايَةٍ فَوۡقَهَا.

“Balasan mereka di sisi Rab mereka ialah janah ‘Adn,” yaitu janah tempat tinggal yang menetap, tidak ada perpindahan di dalamnya, tidak ada keberangkatan, dan tidak pula mencari tujuan lain yang lebih tinggi darinya.

﴿تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ ۚ﴾ فَرَضِيَ عَنۡهُمۡ بِمَا قَامُوا بِهِ مِنۡ مَرَاضِيهِ، وَرَضُوا عَنۡهُ بِمَا أَعَدَّ لَهُمۡ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡكَرَامَاتِ وَجَزِيلِ الۡمَثُوبَاتِ.

“Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya,” maka Allah rida kepada mereka disebabkan apa yang mereka laksanakan dari hal-hal yang mendatangkan keridaan-Nya, dan mereka pun rida kepada-Nya atas apa yang Dia sediakan bagi mereka berupa berbagai jenis kemuliaan dan pahala yang melimpah.

﴿ذَٰلِكَ﴾ الۡجَزَاءُ الۡحَسَنُ ﴿لِمَنۡ خَشِىَ رَبَّهُۥ﴾ أَيۡ: لِمَنۡ خَافَ اللهَ فَأَحۡجَمَ عَنۡ مَعَاصِيهِ، وَقَامَ بِوَاجِبَاتِهِ.

“Yang demikian itu,” yaitu balasan yang baik tersebut, adalah “bagi orang yang takut kepada Rabnya,” yaitu bagi orang yang takut kepada Allah sehingga ia menahan diri dari kemaksiatan kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya.

[تَمَّتۡ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ] 

Selesai. Alhamdulillah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2142

٦٠ - بَابُ النَّجۡشِ، وَمَنۡ قَالَ: لَا يَجُوزُ ذٰلِكَ الۡبَيۡعُ
60. Bab Najsy dan Pendapat Orang yang Mengatakan: Jual Beli Tersebut Tidak Boleh


وَقَالَ ابۡنُ أَبِي أَوۡفَى: النَّاجِشُ آكِلُ رِبًا خَائِنٌ. وَهُوَ خِدَاعٌ بَاطِلٌ لَا يَحِلُّ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الۡخَدِيعَةُ فِي النَّارِ)، وَ(مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).

Ibnu Abu Aufa—radhiyallahu ‘anhu—berkata, “Pelaku najsy adalah pemakan riba yang berkhianat.”

Perbuatan tersebut merupakan penipuan batil yang tidak halal. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Penipuan (tempatnya) di neraka,” dan “Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.”

٢١٤٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ النَّجۡشِ. [الحديث ٢١٤٢ - طرفه في: ٦٩٦٣].

2142. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang najsy (praktik penipuan dalam jual beli di mana seseorang yang bukan pembeli asli berpura-pura menawar suatu barang dengan harga tinggi).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2141

٥٩ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُزَايَدَةِ
59. Bab Jual Beli Lelang (Al-Muzayadah)


وَقَالَ عَطَاءٌ: أَدۡرَكۡتُ النَّاسَ لَا يَرَوۡنَ بَأۡسًا بِبَيۡعِ الۡمَغَانِمِ فِيمَنۡ يَزِيدُ.

‘Atha` berkata, “Aku mendapati orang-orang tidak menganggap masalah menjual barang-barang ganimah kepada siapa saja yang sanggup memberikan tawaran lebih tinggi.”

٢١٤١ - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ الۡمُكۡتِبُ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَجُلًا أَعۡتَقَ غُلَامًا لَهُ عَنۡ دُبُرٍ، فَاحۡتَاجَ، فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (مَنۡ يَشۡتَرِيهِ مِنِّي؟) فَاشۡتَرَاهُ نُعَيۡمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بِكَذَا وَكَذَا، فَدَفَعَهُ إِلَيۡهِ.

[الحديث ٢١٤١ - أطرافه في: ٢٢٣٠، ٢٣٢١، ٢٤٠٣، ٢٤١٥، ٢٥٣٤، ٦٧١٦، ٦٩٤٧، ٧١٨٦].

2141. Bisyr bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Al-Husain Al-Muktib mengabarkan kepada kami dari ‘Atha` bin Abu Rabah, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—:

Seorang laki-laki memerdekakan budak miliknya dengan syarat dubur (yaitu dengan berkata: Engkau merdeka setelah aku mati), lalu laki-laki (tuan budak) itu jatuh miskin. Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengambil budak tersebut dan bertanya, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?”

Lalu Nu’aim bin ‘Abdullah membelinya dengan harga sekian dan sekian, kemudian beliau menyerahkan hasil penjualan kepada tuan budak itu.