Memalingkan Ibadah kepada Selain Allah adalah Syirik

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ غَيۡرَهُ.
Sehingga, siapa saja yang memalingkan salah satu jenis ibadah ini kepada selain Allah taala, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam syarahnya:

[1] لِأَنَّ هَٰذِهِ كُلَّهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا نَوۡعًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا بِاللهِ فِي عِبَادَتِهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الَّذِي لَا يُغۡفَرُ إِلَّا بِالتَّوۡبَةِ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ وَيَصۡرِفُونَ أَنۡوَاعًا كَثِيرَةً مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، وَيَعۡتَبِرُونَ هَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَإِنَّمَا هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاءُ وَوَسَائِطُ تُقَرِّبُهُمۡ إِلَى اللهِ، يُزَيِّنُ لَهُمۡ شَيَاطِينُ الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ هَٰذَا الۡعَمَلَ، وَيُسَمُّونَ الشِّرۡكَ بِغَيۡرِ اسۡمِهِ، يُسَمُّونَهُ طَلَبًا لِلشَّفَاعَةِ، يُسَمُّونَهُ تَوَسُّلًا إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الَّتِي أَضَلُّوا بِهَا كَثِيرًا مِنَ الرِّعَاعِ، لَا سِيَّمَا وَأَنَّهُمۡ يُرَغِّبُونَ بِأَنَّهُ مَنۡ فَعَلَ هَٰذَا حَصَلَ لَهُ كَذَا، وَأَنۡ مَنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡهُ يَحۡصُلُ عَلَيۡهِ كَذَا، وَيُرَهِّبُونَهُمۡ، فَالنَّاسُ الَّذِينَ لَيۡسَ فِيهِمۡ إِيمَانٌ قَوِيٌّ يُتَأَثَّرُونَ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ أَوۡ بِهَٰذِهِ الۡوُعُودِ وَالتَّرۡهِيبَاتِ، فَيُمَارِسُونَ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعَ إِمَّا خَوۡفًا وَإِمَّا رَجَاءً، تَأَثُّرًا بِمَا يَسۡمَعُونَ وَمَا يَقۡرَءُونَ مِنَ الدِّعَايَةِ لِعِبَادَةِ غَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يُسَمُّونَهَا شِرۡكًا بَلۡ يَقُولُونَ إِنَّهَا مِنۡ صَمِيمِ التَّوۡحِيدِ، وَالَّذِي يُنۡكِرُهَا يَصِفُونَهُ بِأَنَّهُ خَارِجِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَعۡرِفُ قَدۡرَ الصَّالَحِينَ. 

Karena semua ini termasuk jenis-jenis ibadah, maka siapa saja yang memalingkan satu jenis dari ibadah-ibadah tersebut, maka dia menjadi orang yang berbuat syirik kepada Allah di dalam ibadah kepada-Nya dengan syirik akbar yang tidak akan diampuni kecuali dengan tobat. Banyak orang yang mengaku Islam namun mereka memalingkan banyak dari jenis-jenis ibadah ini untuk selain Allah azza wajalla. Kita memohon penjagaan kepada Allah. Mereka menganggap ini bukan termasuk ibadah dan mereka ini hanyalah pemberi syafaat dan perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Para setan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi amalan ini dan mereka menamakan syirik dengan nama lain. Mereka menamakannya dengan permintaan syafaat. Mereka menamakannya dengan tawasul kepada Allah subhanahu wa taala. Mereka juga menamakannya dengan nama-nama selain itu sehingga mereka menyesatkan banyak rakyat jelata dengannya. Terlebih lagi mereka memberi motivasi bahwa siapa yang melakukan ini, maka akan memperoleh ini. Dan siapa yang tidak melakukannya akan tertimpa musibah ini dalam rangka menakut-nakuti mereka. Sehingga orang-orang yang tidak memiliki iman yang kuat menjadi terpengaruh dengan ancaman, janji, dan intimidasi ini. Lalu mereka pun mencoba melakukan amalan syirik ini, bisa jadi dengan rasa takut atau rasa harap karena pengaruh apa yang mereka dengar atau baca dari propaganda/ajakan untuk beribadah kepada selain Allah azza wajalla. Para setan dari kalangan jin dan manusia itu tidak menamakannya dengan kesyirikan, bahkan mereka menamakannya sebagai bagian dari inti tauhid. Sementara orang yang mengingkari amalan kesyirikan ini, akan mereka sifati bahwa dia adalah orang berpemikiran khawarij dan orang tersebut tidak mengerti kedudukan orang-orang saleh. 

وَلَا يَتَأَمَّلُونَ الۡقُرۡآنَ وَالسُّنَّةَ؛ لِأَنَّ اللهَ أَعۡمَى بَصَائِرَهُمۡ فَلَمۡ يَلۡتَفِتُوا إِلَى دَلَائِلِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، وَإِنَّمَا يَلۡتَفِتُونَ إِلَى أَقۡوَالِ شُيُوخِهِمۡ وَمُعَظَّمِيهِمۡ وَيَقُولُونَ: هُمۡ أَعۡلَمُ مِنَّا بِالۡقُرۡآنِ، وَأَعۡلَمُ مِنَّا بِالسُّنَّةِ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةٍ. 

Mereka tidak mau memperhatikan Alquran dan Sunah karena Allah telah membutakan mata hati mereka sehingga mereka tidak menoleh kepada dalil-dalil Alquran dan Sunah. Mereka hanya menoleh kepada ucapan-ucapan syekh-syekh dan tokoh-tokoh mereka. Mereka berkata, “Mereka lebih mengetahui Alquran daripada kami dan mereka lebih mengerti Sunah daripada kami.” Ini dari satu segi. 

وَالنَّاحِيَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّ مَنۡ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَإِنَّهُ مُسۡلِمٌ مُؤۡمِنٌ وَلَوۡ عَمِلَ مَا عَمِلَ مِنَ الۡأُمُورِ، لَوۡ يَدۡعُو الۡأَمۡوَاتِ وَيَسۡتَغِيثُ بِهِمۡ وَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَهُوَ مُسۡلِمٌ. 

Segi yang kedua, bahwa mereka mengatakan, “Siapa saja yang telah mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia adalah seorang muslim dan mukmin, walaupun dia mengerjakan amalan apa saja. Jadi, andai dia berdoa kepada orang-orang mati, istigasah kepada mereka, dan menyembelih untuk mereka, selama dia mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia tetap muslim.” 

وَهُوَ إِنَّمَا يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَفۡظًا وَيُنَاقِضُهَا مَعۡنًى، وَهَٰذَا لَا يُفِيدُهُ شَيۡئًا، هُوَ قَالَهَا بِلِسَانِهِ لَكِنۡ خَالَفَهَا بِاعۡتِقَادِهِ وَخَالَفَهَا بِأَفۡعَالِهِ، فَلَا تُفِيدُهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ شَيۡئًا لِأَنَّهُ أَبۡطَلَهَا وَنَاقَضَهَا. 

Padahal orang yang hanya mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah,” secara lafal saja, namun dia malah menggugurkan makna dari ucapan itu, maka ini tidak memberi faedah apa-apa untuknya. Dia hanya mengatakan dengan lisannya saja, namun iktikad dan perbuatannya menyelisihinya. Sehingga ucapan “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah” tidak memberi faedah apapun baginya karena dia sendiri yang membatalkan dan menggugurkannya.

Dalil Khusyuk

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا. 

Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199)[1]
Dan ayat-ayat semisal itu. 


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] الۡخُشُوعُ هُوَ الۡانۡخِفَاضُ وَعَدَمُ التَّرَفُّعِ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَهَٰذِهِ فِيهَا الثَّنَاءُ عَلَى مُؤۡمِنِي أَهۡلِ الۡكِتَابِ الۡمُتَّصِفِينَ بِهَٰذِهِ الصِّفَةِ، فَهُمۡ لَا يَخۡشَعُونَ لِغَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى. 

Khusyuk adalah merendah dan tidak merasa tinggi. Khusyuk ini adalah satu jenis dari sekian jenis ibadah. Dalam ayat tersebut, ada sanjungan bagi orang-orang mukmin ahli kitab yang berhias dengan sifat khusyuk ini. Mereka tidak khusyuk kepada selain Allah subhanahu wa taala.

Dalil Rukuk dan Sujud

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].
Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] حَيۡثُ أَمَرَ اللهُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَالرُّكُوعُ هُوَ الۡخُضُوعُ بِالرَّأۡسِ وَالۡانۡحِنَاءُ، وَالسُّجُودُ: وَضۡعُ الۡجَبۡهَةِ عَلَى الۡأَرۡضِ عَلَى وَجۡهِ التَّعۡظِيمِ، هَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَرۡكَعَ لِأَحَدٍ، وَلَا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ، فَإِنۡ رَكَعَ لِغَيۡرِ اللهِ أَوۡ سَجَدَ لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ. 

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan rukuk dan sujud. Rukuk adalah menundukkan kepala dan merunduk. Sujud adalah meletakkan dahi di atas bumi sebagai bentuk pengagungan. Ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh bagi seorang pun untuk rukuk atau sujud kepada orang lain. Jika dia rukuk atau sujud untuk selain Allah, maka dia seorang musyrik.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1458

٤٢ - بَابٌ لَا تُؤۡخَذُ كَرَائِمُ أَمۡوَالِ النَّاسِ فِي الصَّدَقَةِ 
42. Bab tidak boleh diambil harta kaum muslimin yang sangat bernilai untuk zakat 


١٤٥٨ - حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بۡنُ بِسۡطَامٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا رَوۡحُ بۡنُ الۡقَاسِمِ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أُمَيَّةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَيۡفِيٍّ، عَنۡ أَبِي مَعۡبَدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَلَى الۡيَمَنِ، قَالَ: (إِنَّكَ تَقۡدَمُ عَلَى قَوۡمٍ أَهۡلِ كِتَابٍ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ عِبَادَةُ اللهِ، فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ قَدۡ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوۡمِهِمۡ وَلَيۡلَتِهِمۡ، فَإِذَا فَعَلُوا، فَأَخۡبِرۡهُمۡ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيۡهِمۡ زَكَاةً مِنۡ أَمۡوَالِهِمۡ، وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ، فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا، فَخُذۡ مِنۡهُمۡ، وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمۡوَالِ النَّاسِ). [طرفه في: ١٣٩٥]. 

1458. Umayyah bin Bistham telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Rauh bin Al-Qasim menceritakan kepada kami dari Isma’il bin Umayyah, dari Yahya bin ‘Abdullah bin Shaifi, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Jika mereka sudah mengenali Allah, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu sehari semalam kepada mereka. Jika mereka telah melakukannya, maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat dari sebagian harta mereka untuk dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatinya, maka ambillah sebagian harta mereka dan jauhilah dari (mengambil) harta-harta kaum muslimin yang sangat bernilai.”

Dalil Ta`alluh

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah di dalam kitab Al-Jami' li 'Ibadatillahi Wahdah berkata:

وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣].
Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah di dalam syarahnya berkata:

[1] إِلٰهُكُمۡ: يَعۡنِي: مَعۡبُودُكُمۡ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ، إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يَسۡتَحِقُّ الۡعِبَادَةَ غَيۡرُهُ ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ﴾ [الحج: ٦٢]. وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ غَيۡرَ اللهِ فَقَدۡ اتَّخَذَهُ إِلٰهًا، لَكِنَّهُ إِلٰهٌ بَاطِلٌ، وَالۡإِلٰهُ الۡحَقُّ هُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَجُوزُ أَنۡ نَتَأَلَّهَ لِغَيۡرِهِ. 

Ilah kalian artinya sembahan kalian yang berhak diibadahi, sembahan yang esa, yaitu Allah subhanahu wa taala. Adapun selain Allah tidak berhak diibadahi. Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu karena Allah Dialah (Ilah) yang Mahabenar. Adapun apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62). Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka dia telah menjadikan yang disembah itu sebagai ilah, namun ilah yang batil. Adapun ilah yang benar adalah Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah subhanahu wa taala, tidak boleh kita menjadikan selain Allah sebagai ilah.