Cari Blog Ini

Tafsir Surah Al-'Alaq

تَفۡسِيرُ سُورَةِ اقۡرَأۡ


[وَهِيَ] مَكِّيَّةٌ

Surah Al-‘Alaq adalah surah makiyah.


﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ * ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ * ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ * كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ * أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ۝٧ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يَنۡهَىٰ * عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ۝١٠ أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ۝١١ أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ * أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ * كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ * فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُۥ * سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ * كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡ وَٱقۡتَرِب ۩﴾‏

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan pena,
  5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
  6. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,
  7. karena melihat dirinya serbakecukupan.
  8. Sungguh, hanya kepada Rabmulah tempat kembali(mu).
  9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
  10. seorang hamba ketika dia melaksanakan salat?
  11. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),
  12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
  13. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) mendustakan dan berpaling?
  14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
  15. Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),
  16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka
  17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
  18. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah,
  19. Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta mendekatlah (kepada Allah).

۝١ هٰذِهِ السُّورَةُ أَوَّلُ السُّوَرِ الۡقُرۡآنِيَّةِ نُزُولًا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

Surah ini adalah surah Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

فَإِنَّهَا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِ فِي مَبَادِىءِ النُّبُوَّةِ، إِذۡ كَانَ لَا يَدۡرِي مَا الۡكِتَابُ وَلَا الۡإِيمَانُ.

Sesungguhnya surah ini turun kepada beliau di masa-masa awal kenabian, saat beliau belum mengetahui apa itu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan apa itu iman.

فَجَاءَهُ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالرِّسَالَةِ، وَأَمَرَهُ أَنۡ يَقۡرَأَ فَامۡتَنَعَ وَقَالَ: (مَا أَنَا بِقَارِىءٍ) فَلَمۡ يَزَلۡ بِهِ حَتَّى قَرَأَ.

Lalu Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam—datang kepadanya membawa risalah dan memerintahkannya untuk membaca, namun beliau enggan dan berkata, “Aku tidak bisa membaca.”

Jibril terus mendekapnya hingga beliau membaca.

فَأَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ﴾ عُمُومَ الۡخَلۡقِ.

Maka Allah menurunkan kepadanya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan” yang mencakup penciptaan secara umum.

۝٢ ثُمَّ خَصَّ الۡإِنۡسَانَ وَذَكَرَ ابۡتِدَاءَ خَلۡقِهِ ﴿مِنۡ عَلَقٍ﴾ فَالَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ وَاعۡتَنَى بِتَدۡبِيرِهِ، لَا بُدَّ أَنۡ يَدُبِّرَهُ بِالۡأَمۡرِ وَالنَّهۡيِ، وَذٰلِكَ بِإِرۡسَالِ الرَّسُولِ إِلَيۡهِمۡ، وَإِنۡزَالِ الۡكُتُبِ عَلَيۡهِمۡ.

Kemudian mengkhususkan manusia dan menyebutkan awal penciptaannya “dari segumpal darah”. Maka Zat yang telah menciptakan manusia dan memperhatikan pengurusannya, pasti akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan mengutus rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka.

وَلِهٰذَا ذَكَرَ بَعۡدَ الۡأَمۡرِ بِالۡقِرَاءَةِ خَلۡقَهُ لِلۡإِنۡسَانِ.

Oleh karena itu, setelah perintah membaca, Dia menyebutkan penciptaan-Nya terhadap manusia.

۝٣-۝٥ ثُمَّ قَالَ: ﴿ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الصِّفَاتِ وَاسِعُهَا، كَثِيرُ الۡكَرَمِ وَالۡإِحۡسَانِ، وَاسِعُ الۡجُودِ الَّذِي مِنۡ كَرَمِهِ أَنۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ، وَ﴿عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ﴾ فَإِنَّهُ تَعَالَى أَخۡرَجَهُ مِنۡ بَطۡنِ أُمِّهِ لَا يَعۡلَمُ شَيۡئًا، وَجَعَلَ لَهُ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ، وَيَسَّرَ لَهُ أَسۡبَابَ الۡعِلۡمِ.

Kemudian Dia berfirman, “Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia” artinya: memiliki sifat yang banyak lagi luas, banyak kemuliaan dan kebaikan-Nya, luas kedermawanan-Nya, yang mana di antara kemuliaan-Nya adalah Dia mengajar dengan pena.

Dan “Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Karena sesungguhnya Allah taala mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia menjadikan baginya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, serta memudahkan baginya sarana-sarana ilmu.

فَعَلَّمَهُ الۡقُرۡآنَ وَعَلَّمَهُ الۡحِكۡمَةَ، وَعَلَّمَهُ بِالۡقَلَمِ، الَّذِي بِهِ تُحۡفَظُ الۡعُلُومُ وَتُضۡبَطُ الۡحُقُوقُ وَتَكُونُ رُسُلًا لِلنَّاسِ، تَنُوبُ مَنَابَ خِطَابِهِمۡ.

Maka Dia mengajarkan Al-Qur’an kepadanya, mengajarkan hikmah kepadanya, dan mengajarkan dengan pena kepadanya, yang dengan pena tersebut ilmu-ilmu terjaga, hak-hak tercatat, dan menjadi utusan bagi manusia yang menggantikan kedudukan ucapan mereka.

فَلِلهِ الۡحَمۡدُ وَالۡمِنَّةُ، الَّذِي أَنۡعَمَ عَلَى عِبَادِهِ بِهٰذِهِ النِّعَمِ، الَّتِي لَا يَقۡدِرُونَ لَهَا عَلَى جَزَاءٍ وَلَا شُكُورٍ، ثُمَّ مَنَّ عَلَيۡهِمۡ بِالۡغِنَى وَسَعَةِ الرِّزۡقِ.

Hanya bagi Allah segala puji dan sanjungan, yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat ini kepada hamba-hamba-Nya, yang mana mereka tidak akan mampu membalas ataupun mensyukurinya sebagaimana mestinya. Kemudian Dia melimpahkan karunia kepada mereka berupa kekayaan dan kelapangan rezeki.

۝٦-۝٨ وَلَكِنَّ الۡإِنۡسَانَ – لِجَهۡلِهِ وَظُلۡمِهِ – إِذَا رَأَى نَفۡسَهُ غَنِيًّا طَغَى وَبَغَى وَتَجَبَّرَ عَنِ الۡهُدَى، وَنَسِيَ أَنَّ إِلَى رَبِّهِ الرُّجۡعَى، وَلَمۡ يَخَفِ الۡجَزَاءَ، بَلۡ رُبَّمَا وَصَلَتۡ بِهِ الۡحَالُ أَنَّهُ يَتۡرُكُ الۡهُدَى بِنَفۡسِهِ، وَيَدۡعُو [غَيۡرَهُ] إِلَى تَرۡكِهِ، فَيَنۡهَى عَنِ الصَّلَاةِ الَّتِي هِيَ أَفۡضَلُ أَعۡمَالِ الۡإِيمَانِ، يَقُولُ اللهُ لِهٰذَا الۡمُتَمَرِّدِ الۡعَاتِي:

Akan tetapi manusia—karena kebodohan dan kezalimannya—apabila melihat dirinya serbakecukupan, dia melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan bersikap sombong terhadap petunjuk. Dia lupa bahwa hanya kepada Rabnyalah tempat kembali dan dia tidak takut terhadap balasan. Bahkan terkadang keadaannya sampai pada tahap dia sendiri meninggalkan petunjuk dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang salat yang merupakan amalan iman yang paling utama. Allah berfirman kepada orang yang membangkang lagi melampaui batas ini:

۝٩-۝١٢ ﴿أَرَءَيۡتَ﴾ أَيُّهَا النَّاهِي لِلۡعَبۡدِ إِذَا صَلَّى ﴿إِن كَانَ﴾ الۡعَبۡدُ الۡمُصَلِّي ﴿عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ﴾ الۡعِلۡمِ بِالۡحَقِّ وَالۡعَمَلِ بِهِ ﴿أَوۡ أَمَرَ﴾ غَيۡرَهُ ﴿بِٱلتَّقۡوَىٰٓ﴾.

“Bagaimana pendapatmu” wahai orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan salat, “jika dia” hamba yang salat itu “berada di atas petunjuk” yaitu berilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya, “atau dia menyuruh” orang lain “bertakwa” (kepada Allah)?

فَهَلۡ يَحۡسُنُ أَنۡ يُنۡهَى مَنۡ هٰذَا وَصۡفُهُ؟ أَلَيۡسَ نَهۡيُهُ مِنۡ أَعۡظَمِ الۡمُحَادَّةِ لِلهِ وَالۡمُحَارَبَةِ لِلۡحَقِّ؟ فَإِنَّ النَّهۡيَ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَّا لِمَنۡ هُوَ فِي نَفۡسِهِ عَلَى غَيۡرِ الۡهُدَى، أَوۡ كَانَ يَأۡمُرُ غَيۡرَهُ بِخِلَافِ التَّقۡوَى.

Maka apakah pantas orang yang memiliki sifat seperti ini dilarang? Bukankah melarangnya termasuk bentuk penentangan terbesar kepada Allah dan peperangan terhadap kebenaran? Karena sesungguhnya larangan itu tidak ditujukan kecuali kepada orang yang dirinya sendiri berada di atas selain petunjuk, atau orang yang menyuruh orang lain kepada sesuatu yang menyelisihi ketakwaan.

۝١٣، ۝١٤ ﴿أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ﴾ النَّاهِي بِالۡحَقِّ ﴿وَتَوَلَّىٰٓ﴾ عَنِ الۡأَمۡرِ، أَمَا يَخَافُ اللهَ وَيَخۡشَى عِقَابَهُ؟ ﴿أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ﴾ مَا يَعۡمَلُ وَيَفۡعَلُ؟

“Bagaimana pendapatmu jika dia” orang yang melarang itu “mendustakan” kebenaran “dan berpaling” dari perintah? Tidakkah dia takut kepada Allah dan ngeri terhadap siksaan-Nya?

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat” segala yang dia amalkan dan perbuat?

۝١٥، ۝١٦ ثُمَّ تَوَعَّدَهُ إِنِ اسۡتَمَرَّ عَلَى حَالِهِ فَقَالَ: ﴿كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ﴾ عَمَّا يَقُولُ وَيَفۡعَلُ ﴿لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ﴾ أَيۡ: لَنَأۡخُذَنۡ بِنَاصِيَتِهِ أَخۡذًا عَنِيفًا، وَهِيَ حَقِيقَةٌ بِذٰلِكَ، فَإِنَّهَا ﴿نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ﴾ أَيۡ: كَاذِبَةٍ فِي قَوۡلِهَا خَاطِئَةٍ فِي فِعۡلِهَا.

Kemudian Allah mengancamnya jika dia terus-menerus dalam keadaannya tersebut, lalu berfirman, “Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti” dari apa yang dia katakan dan perbuat, “niscaya Kami tarik ubun-ubunnya” artinya: niscaya benar-benar Kami pegang ubun-ubunnya dengan pegangan yang keras. Ubun-ubun tersebut memang layak diperlakukan demikian, karena ia adalah “ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka” artinya: berdusta dalam ucapannya lagi bersalah dalam perbuatannya.

۝١٧ ﴿فَلۡيَدۡعُ﴾ هٰذَا الَّذِي حَقَّ عَلَيۡهِ الۡعِقَابُ ﴿نَادِيَهُۥ﴾ أَيۡ: أَهۡلَ مَجۡلِسِهِ وَأَصۡحَابَهُ، وَمَنۡ حَوۡلَهُ لِيُعِينُوهُ عَلَى مَا نَزَلَ بِهِ.

“Maka biarlah dia memanggil” orang yang telah pasti mendapatkan hukuman ini “golongannya” artinya: orang-orang di tempat majelisnya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang di sekitarnya, agar mereka membantunya menghadapi azab yang menimpanya.

۝١٨ ﴿سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ﴾ أَيۡ: خَزَنَةَ جَهَنَّمَ لِأَخۡذِهِ وَعُقُوبَتِهِ.

“Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah” artinya: malaikat penjaga jahanam untuk menyeret dan menghukumnya.

فَلۡيَنۡظُرۡ أَيُّ الۡفَرِيقَيۡنِ أَقۡوَى وَأَقۡدَرُ؟ فَهٰذِهِ حَالَةُ النَّاهِي وَمَا تُوُعِّدَ بِهِ مِنَ الۡعُقُوبَةِ.

Maka silakan lihat, golongan manakah yang lebih kuat dan lebih kuasa? Demikianlah keadaan orang yang melarang beserta ancaman hukuman yang ditujukan kepadanya.

وَأَمَّا حَالَةُ الۡمَنۡهِيِّ، فَأَمَرَهُ اللهُ أَنۡ لَا يُصۡغَى إِلَى هٰذَا النَّاهِي وَلَا يَنۡقَادَ لِنَهۡيِهِ فَقَالَ:

Adapun keadaan orang yang dilarang, maka Allah memerintahkannya agar tidak mendengarkan orang yang melarang ini dan tidak tunduk pada larangannya, lalu Dia berfirman,

۝١٩ ﴿كَلَّا لَا تُطِعۡهُ﴾ [أَيۡ]: فَإِنَّهُ لَا يَأۡمُرُ إِلَّا بِمَا فِيهِ خَسَارَةُ الدَّارَيۡنِ.

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya” artinya: karena sesungguhnya dia tidak memerintahkan kecuali pada hal yang mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat.

﴿وَٱسۡجُدۡ﴾ لِرَبِّكَ ﴿وَٱقۡتَرِب﴾ مِنۡهُ فِي السُّجُودِ وَغَيۡرِهِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الطَّاعَاتِ وَالۡقُرُبَاتِ، فَإِنَّهَا كُلَّهَا تُدۡنِي مِنۡ رِضَاهُ وَتُقَرِّبُ مِنۡهُ، وَهٰذَا عَامٌّ لِكُلِّ نَاهٍ عَنِ الۡخَيۡرِ وَمَنۡهِيٍّ عَنۡهُ، وَإِنۡ كَانَتۡ نَازِلَةً فِي شَأۡنِ أَبِي جَهۡلٍ حِينَ نَهَى رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ وَعَبِثَ بِهِ وَآذَاهُ.

“Dan sujudlah” kepada Rabmu “serta mendekatlah” kepada-Nya dalam sujud serta jenis ketaatan dan ibadah lainnya, karena semua itu mendekatkan diri pada rida-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan orang yang dilarang darinya, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan urusan Abu Jahl ketika dia melarang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari melaksanakan salat, mencemooh, serta menyakiti beliau.

تَمَّتۡ وَلِلهِ الۡحَمۡدُ

Selesai. Alhamdulillah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5761

٥٧٦١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ ثَمَنِ الۡكَلۡبِ، وَمَهۡرِ الۡبَغِيِّ، وَحُلۡوَانِ الۡكَاهِنِ. [طرفه في: ٢٢٣٧].

5761. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits, dari Abu Mas’ud. Beliau berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang dari uang hasil penjualan anjing, upah pelacur, dan upah dukun.

Shahih Muslim hadis nomor 162

٧٤ - بَابُ الۡإِسۡرَاءِ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى السَّمَوَاتِ وَفَرۡضِ الصَّلَوَاتِ
74. Bab Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ke Langit dan Kewajiban Salat-Salat


٢٥٩ - (١٦٢) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُتِيتُ بِالۡبُرَاقِ - وَهُوَ دَابَّةٌ أَبۡيَضُ طَوِيلٌ فَوۡقَ الۡحِمَارِ وَدُونَ الۡبَغۡلِ. يَضَعُ حَافِرَهُ عِنۡدَ مُنۡتَهَى طَرۡفِهِ -. قَالَ: فَرَكِبۡتُهُ حَتَّى أَتَيۡتُ بَيۡتَ الۡمَقۡدِسِ، قَالَ: فَرَبَطۡتُهُ بِالۡحَلۡقَةِ الَّتِي يَرۡبِطُ بِهِ الۡأَنۡبِيَاءُ،

259. (162). Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku dibawakan burak—yaitu seekor hewan tunggangan yang berwarna putih, bertubuh panjang, ukurannya di atas keledai dan di bawah bagal, ia melangkahkan kakinya sejauh ujung pandangan matanya—.”

Beliau melanjutkan, “Maka aku pun menungganginya hingga aku tiba di Baitulmakdis.”

Beliau melanjutkan, “Lalu aku mengikatnya pada lingkaran besi yang biasa digunakan oleh para nabi untuk mengikat hewan tunggangan mereka.”

قَالَ: ثُمَّ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ فَصَلَّيۡتُ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ خَرَجۡتُ، فَجَاءَنِي جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنۡ خَمۡرٍ وَإِنَاءٍ مِنۡ لَبَنٍ، فَاخۡتَرۡتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبۡرِيلُ ﷺ: اخۡتَرۡتَ الۡفِطۡرَةَ، ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Beliau melanjutkan:

Kemudian aku masuk ke dalam masjid lalu melaksanakan salat dua rakaat di dalamnya, setelah itu aku keluar. Lalu Jibril—‘alaihis-salam—mendatangiku dengan membawa sebuah wadah berisi khamar dan sebuah wadah berisi susu. Aku pun memilih susu, maka Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Kamu telah memilih fitrah.”

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit pertama, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka dia ditanya, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanya lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Adam. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابۡنَىِ الۡخَالَةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ وَيَحۡيَىٰ بۡنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيۡهِمَا، فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kedua, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang sepupu (dari jalur ibu), yaitu ‘Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakariyya`—shalawatullahi ‘alaihima—. Keduanya menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ ﷺ، إِذَا هُوَ قَدۡ أُعۡطِيَ شَطۡرَ الۡحُسۡنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa aku naik ke langit ketiga, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Yusuf—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ternyata ia telah dianugerahi separuh dari seluruh ketampanan. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإِذَا أَنَا بِإِدۡرِيسَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ۝٥٧﴾ [مريم: ٥٧].

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keempat, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Dia bertanya, ”Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Idris. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku. Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam: 57).

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الۡخَامِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ. قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ،

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kelima, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Harun—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَىٰ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keenam, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِبۡرَاهِيمَ ﷺ، مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى الۡبَيۡتِ الۡمَعۡمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدۡخُلُهُ كُلَّ يَوۡمٍ سَبۡعُونَ أَلۡفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيۡهِ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang menyandarkan punggungnya ke Baitulmakmur. Ternyata tempat itu dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat setiap harinya dan mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana setelahnya.

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدۡرَةِ الۡمُنۡتَهَى، وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الۡفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالۡقِلَالِ. قَالَ: فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنۡ أَمۡرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتۡ، فَمَا أَحَدٌ مِنۡ خَلۡقِ اللهِ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَنۡعَتَهَا مِنۡ حُسۡنِهَا، فَأَوۡحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوۡحَىٰ، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمۡسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، فَنَزَلۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَىٰ أُمَّتِكَ؟ قُلۡتُ: خَمۡسِينَ صَلَاةً، قَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ، فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَإِنِّي قَدۡ بَلَوۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَخَبَرۡتُهُمۡ،

Kemudian Jibril membawa aku pergi ke Sidratulmuntaha, ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buah-buahnya seperti tempayan besar.

Beliau melanjutkan:

Tatkala pohon itu dilingkupi oleh perintah Allah berupa apa saja yang melingkupinya, pohon itu pun berubah bentuk, sehingga tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang sanggup melukiskan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Dia mewajibkan kepadaku lima puluh kali salat dalam setiap sehari semalam. Kemudian aku turun menemui Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu ia bertanya, “Apakah yang telah Rabmu wajibkan atas umatmu?”

Aku menjawab, “Lima puluh kali salat.”

Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan telah mengetahui betul karakter mereka.”

قَالَ: فَرَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي فَقُلۡتُ: يَا رَبِّ، خَفِّفۡ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمۡسًا، فَرَجَعۡتُ إِلَى مُوسَىٰ فَقُلۡتُ: حَطَّ عَنِّي خَمۡسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، قَالَ: فَلَمۡ أَزَلۡ أَرۡجِعُ بَيۡنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيۡنَ مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمۡسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشۡرٌ، فَذٰلِكَ خَمۡسُونَ صَلَاةً. وَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ لَهُ عَشۡرًا، وَمَنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا لَمۡ تُكۡتَبۡ شَيۡئًا، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ سَيِّئَةً وَاحِدَةً،

Beliau melanjutkan:

Maka aku kembali kepada Rabku lalu aku memohon, “Wahai Rabku, berilah keringanan bagi umatku.”

Lalu Dia mengurangi lima kali salat dariku. Aku pun kembali menemui Musa lalu aku berkata, “Dia telah mengurangi lima kali salat dariku.”

Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu, maka kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan:

Maka aku terus-menerus bolak-balik antara Rabku taala dan Musa—‘alaihis-salam—, hingga akhirnya Allah berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban itu adalah lima kali salat dalam setiap sehari semalam, yang mana setiap salat nilainya sebanding dengan sepuluh salat, maka itu sama saja dengan lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu kebaikan lalu ia belum sempat mengamalkannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu keburukan lalu ia tidak mengamalkannya, maka tidak dicatat sesuatu pun atasnya. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat sebagai satu keburukan.”

قَالَ: فَنَزَلۡتُ حَتَّى انۡتَهَيۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ، فَقَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: قَدۡ رَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسۡتَحۡيَيۡتُ مِنۡهُ).

Beliau melanjutkan:

Maka aku turun hingga aku sampai kepada Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku mengabarkan hal itu kepadanya. Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Aku menjawab, “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabku hingga aku merasa malu kepada-Nya.”

٢٦٠ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا بَهۡزُ بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أُتِيتُ، فَانۡطَلَقُوا بِي إِلَى زَمۡزَمَ فَشُرِحَ عَنۡ صَدۡرِي، ثُمَّ غُسِلَ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ أُنۡزِلۡتُ).

260. ‘Abdullah bin Hasyim Al-‘Abdi telah menceritakan kepadaku: Bahz bin Asad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku didatangi, lalu mereka membawaku pergi ke sumur Zamzam, kemudian dadaku dibelah lalu dibasuh dengan menggunakan air Zamzam, setelah itu aku dikembalikan.”

٢٦١ - (...) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهُ جِبۡرِيلُ ﷺ وَهُوَ يَلۡعَبُ مَعَ الۡغِلۡمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنۡ قَلۡبِهِ، فَاسۡتَخۡرَجَ الۡقَلۡبَ، فَاسۡتَخۡرَجَ مِنۡهُ عَلَقَةً. فَقَالَ: هٰذَا حَظُّ الشَّيۡطَانِ مِنۡكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الۡغِلۡمَانُ يَسۡعَوۡنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعۡنِي ظِئۡرَهُ – فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدۡ قُتِلَ، فَاسۡتَقۡبَلُوهُ وَهُوَ مُنۡتَقَعُ اللَّوۡنِ، قَالَ أَنَسٌ: وَقَدۡ كُنۡتُ أَرَى أَثَرَ ذٰلِكَ الۡمِخۡيَطِ فِي صَدۡرِهِ.

261. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah didatangi oleh Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang bermain bersama anak-anak kecil lainnya. Lalu Jibril mengambil beliau dan merebahkannya, kemudian membelah dada (bagian) jantung beliau. Jibril lalu mengeluarkan jantung tersebut dan mengeluarkan sepotong gumpalan darah darinya, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada di dalam dirimu.”

Kemudian Jibril membasuh jantung tersebut di dalam sebuah nampan emas dengan menggunakan air Zamzam, lalu merapatkannya kembali, setelah itu mengembalikannya ke tempat semula. Sementara itu, anak-anak kecil lainnya datang berlari-lari menemui ibunya—yaitu ibu susuan beliau—lalu mereka berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh!”

Orang-orang pun bergegas menyongsong beliau dan mereka mendapati beliau dalam keadaan pucat pasi warnanya.

Anas berkata: Dan sungguh, dahulu aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau.

٢٦٢ - (...) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ – قَالَ: حَدَّثَنِي شَرِيكُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي نَمِرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنۡ لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنۡ مَسۡجِدِ الۡكَعۡبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبۡلَ أَنۡ يُوحَىٰ إِلَيۡهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ، نَحۡوَ حَدِيثِ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، وَقَدَّمَ فِيهِ شَيۡئًا وَأَخَّرَ، وَزَادَ وَنَقَصَ.


262. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sulaiman—yaitu Ibnu Bilal—mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Syarik bin ‘Abdullah bin Abu Namir menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan kepada kami tentang malam ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diperjalankan dari masjid Ka’bah; bahwasanya ada tiga orang yang mendatangi beliau sebelum beliau diberi wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidilharam …. Ia membawakan hadis tersebut dengan kisahnya secara lengkap yang semisal dengan hadis Tsabit Al-Bunani, namun ia mendahulukan sebagian isi dan mengakhirkan sebagian yang lain, serta menambah dan mengurangi.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5346

٥١ - بَابُ مَهۡرِ الۡبَغِيِّ وَالنِّكَاحِ الۡفَاسِدِ
51. Bab Upah Pelacur dan Pernikahan yang Rusak


وَقَالَ الۡحَسَنُ: إِذَا تَزَوَّجَ مُحَرَّمَةً وَهُوَ لَا يَشۡعُرُ، فُرِّقَ بَيۡنَهُمَا وَلَهَا مَا أَخَذَتۡ، وَلَيۡسَ لَهَا غَيۡرُهُ، ثُمَّ قَالَ بَعۡدُ: لَهَا صَدَاقُهَا.

Al-Hasan berkata: Apabila seseorang menikahi seorang wanita yang mahram baginya dalam keadaan ia tidak menyadarinya, maka keduanya dipisahkan dan wanita itu berhak atas apa yang telah diambilnya, serta tidak ada hak lain baginya selain itu. Kemudian Al-Hasan berkata setelah itu: Wanita itu berhak mendapatkan maharnya.

٥٣٤٦ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ ثَمَنِ الۡكَلۡبِ، وَحُلۡوَانِ الۡكَاهِنِ، وَمَهۡرِ الۡبَغِيِّ. [طرفه في: ٢٢٣٧].

5346. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari Abu Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang dari uang hasil penjualan anjing, upah dukun, dan upah pelacur.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4633

٦ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمۡنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الۡبَقَرِ وَالۡغَنَمِ حَرَّمۡنَا عَلَيۡهِمۡ شُحُومَهُمَا﴾ [١٤٦] الۡآيَةَ
6. Bab Firman-Nya: “Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan semua binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak keduanya ...” sampai akhir ayat (QS Al-An’am: 146)


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿كُلَّ ذِي ظُفُرٍ﴾: الۡبَعِيرُ وَالنَّعَامَةُ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Semua binatang yang berkuku” yaitu unta dan burung unta.

﴿الۡحَوَايَا﴾ [١٤٦] الۡمَبۡعَرُ.

Al-Hawaya” yaitu usus tempat keluarnya kotoran.

وَقَالَ غَيۡرُهُ: هَادُوا: صَارُوا يَهُودًا. وَأَمَّا قَوۡلُهُ: ﴿هُدۡنَا﴾ [الأعراف: ١٥٦] تُبۡنَا، هَائِدٌ تَائِبٌ.

Selain Ibnu ‘Abbas berkata: Hadu artinya mereka menjadi orang-orang Yahudi. Adapun firman-Nya: “Hudna” artinya kami bertobat, sedangkan ha`id artinya orang yang bertobat.

٤٦٣٣ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي حَبِيبٍ: قَالَ عَطَاءٌ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (قَاتَلَ اللهُ الۡيَهُودَ، لَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيۡهِمۡ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوهَا).

وَقَالَ أَبُو عَاصِمٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡحَمِيدِ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ: كَتَبَ إِلَيَّ عَطَاءٌ: سَمِعۡتُ جَابِرًا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [طرفه في: ٢٢٣٦].

4633. ‘Amr bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu Habib. Ia berkata: ‘Atha` berkata: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—: Aku mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi. Tatkala Allah mengharamkan atas mereka lemak-lemaknya, mereka mencairkannya kemudian menjualnya lalu memakan hasilnya.”

Abu ‘Ashim berkata: ‘Abdul Hamid menceritakan kepada kami: Yazid menceritakan kepada kami: ‘Atha` menulis surat kepadaku: Aku mendengar Jabir, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.