Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6842 dan 6843

٢٥ - بَابٌ إِذَا رَمَى امۡرَأَتَهُ أَوِ امۡرَأَةَ غَيۡرِهِ بِالزِّنَا، عِنۡدَ الۡحَاكِمِ وَالنَّاسِ، هَلۡ عَلَى الۡحَاكِمِ أَنۡ يَبۡعَثَ إِلَيۡهَا فَيَسۡأَلَهَا عَمَّا رُمِيَتۡ بِهِ
25. Bab Apabila Seseorang Menuduh Istrinya atau Istri Orang Lain Berzina di Hadapan Hakim dan Orang Banyak, Apakah Hakim Wajib Mengutus Utusan Kepada Wanita Tersebut untuk Menanyakan Tuduhan yang Ditujukan Kepadanya?


٦٨٤٢، ٦٨٤٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ أَنَّهُمَا أَخۡبَرَاهُ: أَنَّ رَجُلَيۡنِ اخۡتَصَمَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: اقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، وَقَالَ الۡآخَرُ، وَهُوَ أَفۡقَهُهُمَا: أَجَلۡ يَا رَسُولَ اللهِ، فَاقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، وَأۡذَنۡ لِي أَنۡ أَتَكَلَّمَ، قَالَ: (تَكَلَّمۡ). قَالَ: إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا - قَالَ مَالِكٌ: وَالۡعَسِيفُ الۡأَجِيرُ - فَزَنَى بِامۡرَأَتِهِ، فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ عَلَى ابۡنِي الرَّجۡمَ، فَافۡتَدَيۡتُ مِنۡهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَبِجَارِيَةٍ لِي، ثُمَّ إِنِّي سَأَلۡتُ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ مَا عَلَى ابۡنِي جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَإِنَّمَا الرَّجۡمُ عَلَى امۡرَأَتِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَا وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، أَمَّا غَنَمُكَ وَجَارِيَتُكَ فَرَدٌّ عَلَيۡكَ). وَجَلَدَ ابۡنَهُ مِائَةً وَغَرَّبَهُ عَامًا، وَأَمَرَ أُنَيۡسًا الۡأَسۡلَمِيَّ أَنۡ يَأۡتِيَ امۡرَأَةَ الۡآخَرِ: (فَإِنِ اعۡتَرَفَتۡ فَارۡجُمۡهَا). فَاعۡتَرَفَتۡ فَرَجَمَهَا. [طرفه في: ٢٣١٤].

6842, 6843. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid bahwasanya keduanya mengabarkan kepadanya:

Ada dua orang lelaki yang berselisih di hadapan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu salah seorang dari keduanya berkata, “Putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah.”

Dan yang lain—dan ia lebih paham dari keduanya—berkata, “Benar, wahai Rasulullah, putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku untuk berbicara.”

Beliau berkata, “Bicaralah.”

Ia berkata, “Sesungguhnya anak lakiku tadinya adalah buruh yang bekerja pada orang ini—Malik berkata: al-‘asif adalah al-ajir (buruh)—lalu ia berzina dengan istrinya. Orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa anakku harus dirajam, maka aku menebus darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanitaku. Kemudian aku bertanya kepada para ahli ilmu, lalu mereka mengabarkan kepadaku bahwa kewajiban atas anakku hanyalah dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, dan bahwasanya hukuman rajam itu atas istrinya.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ingatlah, demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Adapun kambingmu dan budak wanitamu dikembalikan kepadamu.”

Beliau mencambuk anaknya seratus kali dan mengasingkannya selama satu tahun, serta memerintahkan Unais Al-Aslami untuk mendatangi istri orang yang lain tersebut, “Jika ia mengaku, maka rajamlah ia.” Lalu wanita itu mengaku, maka ia merajamnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6835 dan 6836

٢٠ - بَابُ مَنۡ أَمَرَ غَيۡرَ الۡإِمَامِ بِإِقَامَةِ الۡحَدِّ غَائِبًا عَنۡهُ
20. Bab Barang Siapa Memerintahkan Selain Imam untuk Menegakkan Hukuman Pidana Tanpa Dihadiri olehnya


٦٨٣٥، ٦٨٣٦ - حَدَّثَنَا عَاصِمُ بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَعۡرَابِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ جَالِسٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، اقۡضِ بِكِتَابِ اللهِ، فَقَامَ خَصۡمُهُ فَقَالَ: صَدَقَ، اقۡضِ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ بِكِتَابِ اللهِ، إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا فَزَنَى بِامۡرَأَتِهِ، فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ عَلَى ابۡنِي الرَّجۡمَ، فَافۡتَدَيۡتُ بِمِائَةٍ مِنَ الۡغَنَمِ وَوَلِيدَةٍ، ثُمَّ سَأَلۡتُ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، فَزَعَمُوا أَنَّ مَا عَلَى ابۡنِي جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، فَقَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، أَمَّا الۡغَنَمُ وَالۡوَلِيدَةُ فَرَدٌّ عَلَيۡكَ، وَعَلَى ابۡنِكَ جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَأَمَّا أَنۡتَ يَا أُنَيۡسُ، فَاغۡدُ عَلَى امۡرَأَةِ هٰذَا فَارۡجُمۡهَا). فَغَدَا أُنَيۡسٌ فَرَجَمَهَا. [طرفه في: ٢٣١٤].

6835, 6836. ‘Ashim bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaidullah, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid:

Seorang lelaki dari Arab Badui mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang duduk, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, putuskanlah dengan Kitabullah.”

Lalu lawannya berdiri seraya berkata, “Ia benar, wahai Rasulullah, putuskanlah untuknya dengan Kitabullah. Sesungguhnya anak lakiku tadinya adalah buruh yang bekerja pada orang ini, lalu ia berzina dengan istrinya. Orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa anakku harus dirajam, maka aku menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanita. Kemudian aku bertanya kepada para ahli ilmu, lalu mereka menyatakan bahwa kewajiban atas anakku hanyalah dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.”

Beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Adapun kambing dan budak wanita tersebut dikembalikan kepadamu, dan atas anakmu hukuman cambuk seratus kali serta pengasingan selama satu tahun. Dan adapun engkau wahai Unais, pergilah besok pagi kepada istri orang ini, lalu rajamlah ia.”

Unais pun pergi kepada wanita itu besok harinya lalu merajamnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6831, 6832, dan 6833

١٨ - بَابٌ الۡبِكۡرَانِ يُجۡلَدَانِ وَيُنۡفَيَانِ
18. Bab Dua Orang yang Belum Pernah Menikah Dicambuk dan Diasingkan


﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجۡلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنۡهُمَا مِائَةَ جَلۡدَةٍ وَلَا تَأۡخُذۡكُمۡ بِهِمَا رَأۡفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنۡ كُنۡتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ * الزَّانِي لَا يَنۡكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنۡكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٌ وَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [النور: ٢-٣] قَالَ ابۡنُ عُيَيۡنَةَ: رَأۡفَةٌ فِي إِقَامَةِ الۡحُدُودِ.

“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. Pezina laki-laki tidak menikah melainkan dengan pezina perempuan atau wanita musyrik; dan pezina perempuan tidak dinikahi melainkan oleh pezina laki-laki atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nur: 2–3).

Ibnu ‘Uyainah berkata: (Makna) belas kasihan adalah dalam hal menegakkan hukuman pidana (hudud).

٦٨٣١ - حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ الۡجُهَنِيِّ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَأۡمُرُ فِيمَنۡ زَنَى وَلَمۡ يُحۡصَنۡ: جَلۡدَ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبَ عَامٍ. [طرفه في: ٢٣١٤].

6831. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami: Ibnu Syihab mengabarkan kepada kami dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. Ia berkata: Aku mendengar Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan terhadap orang yang berzina dan belum pernah menikah: hukuman cambuk seratus kali dan pengasingan selama satu tahun.

٦٨٣٢ - قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عُرۡوَةَ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: أَنَّ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ غَرَّبَ، ثُمَّ لَمۡ تَزَلۡ تِلۡكَ السُّنَّةَ.

6832. Ibnu Syihab berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah mengasingkan (pezina yang belum pernah menikah), kemudian hal itu senantiasa menjadi sunah yang berlaku.

٦٨٣٣ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَضَى فِيمَنۡ زَنَى وَلَمۡ يُحۡصَنۡ: بِنَفۡىِ عَامٍ، بِإِقَامَةِ الۡحَدِّ عَلَيۡهِ. [طرفه في: ٢٣١٤].

6833. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memutuskan terhadap orang yang berzina dan belum pernah menikah: dengan pengasingan selama satu tahun beserta penegakan hukuman hudud atasnya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6827 dan 6828

١٦ - بَابُ الاِعۡتِرَافِ بِالزِّنَا
16. Bab Pengakuan atas Perbuatan Zina


٦٨٢٧، ٦٨٢٨ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَفِظۡنَاهُ مِنۡ فِي الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدَ بۡنَ خَالِدٍ قَالَا: كُنَّا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَنۡشُدُكَ اللهَ إِلَّا قَضَيۡتَ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، فَقَامَ خَصۡمُهُ، وَكَانَ أَفۡقَهَ مِنۡهُ، فَقَالَ: اقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأۡذَنۡ لِي؟ قَالَ: (قُلۡ). قَالَ: إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا فَزَنَى بِامۡرَأَتِهِ، فَافۡتَدَيۡتُ مِنۡهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَخَادِمٍ، ثُمَّ سَأَلۡتُ رِجَالًا مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ، فَأَخۡبَرُونِي: أَنَّ عَلَى ابۡنِي جَلۡدَ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبَ عَامٍ، وَعَلَى امۡرَأَتِهِ الرَّجۡمَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ جَلَّ ذِكۡرُهُ، الۡمِائَةُ شَاةٍ وَالۡخَادِمُ رَدٌّ عَلَيۡكَ، وَعَلَى ابۡنِكَ جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَاغۡدُ يَا أُنَيۡسُ عَلَى امۡرَأَةِ هٰذَا، فَإِنِ اعۡتَرَفَتۡ فَارۡجُمۡهَا). فَغَدَا عَلَيۡهَا فَاعۡتَرَفَتۡ فَرَجَمَهَا. قُلۡتُ لِسُفۡيَانَ: لَمۡ يَقُلۡ: فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ عَلَى ابۡنِي الرَّجۡمَ؟ فَقَالَ: أَشُكُّ فِيهَا مِنَ الزُّهۡرِيِّ، فَرُبَّمَا قُلۡتُهَا، وَرُبَّمَا سَكَتُّ. [طرفه في: ٢٣١٤].

6827, 6828. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Kami menghafalnya dari mulut Az-Zuhri. Ia berkata: ‘Ubaidullah mengabarkan kepadaku bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid berkata:

Kami pernah berada di sisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu seorang lelaki berdiri seraya berkata, “Aku memohon kepadamu demi Allah agar engkau memutuskan perkara di antara kami dengan Kitabullah.”

Lalu lawannya berdiri—dan ia lebih paham daripadanya—seraya berkata, “Putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah dan izinkanlah aku (untuk bicara).”

Beliau berkata, “Bicaralah.”

Ia berkata, “Sesungguhnya anak lakiku dahulu adalah buruh yang bekerja pada orang ini, lalu ia berzina dengan istrinya. Maka aku menebus darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang pelayan (budak). Kemudian aku bertanya kepada beberapa orang lelaki dari ahli ilmu, lalu mereka mengabarkan kepadaku bahwa atas anakku hukuman cambuk seratus kali dan pengasingan selama satu tahun, sedangkan atas istrinya hukuman rajam.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah—jalla dzikruhu—. Seratus ekor kambing dan pelayan tersebut dikembalikan padamu, dan atas anakmu hukuman cambuk seratus kali serta pengasingan selama satu tahun. Dan pergilah besok pagi wahai Unais kepada istri orang ini, jika ia mengaku, maka rajamlah ia.”

Unais pergi kepada wanita itu besok harinya lalu wanita itu mengaku, maka ia merajamnya.

Aku (perawi) berkata kepada Sufyan: Ia tidak mengatakan “Lalu mereka mengabarkan kepadaku bahwa atas anakku hukuman rajam”?

Maka Sufyan berkata: Aku ragu tentang kalimat itu dari Az-Zuhri, terkadang aku mengucapkannya dan terkadang aku diam (tidak menyebutkannya).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6633 dan 6634

٦٦٣٣، ٦٦٣٤ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ وَزَيۡدِ بۡنِ خَالِدٍ أَنَّهُمَا أَخۡبَرَاهُ: أَنَّ رَجُلَيۡنِ اخۡتَصَمَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: اقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ، وَقَالَ الۡآخَرُ، وَهُوَ أَفۡقَهُهُمَا: أَجَلۡ يَا رَسُولَ اللهِ، فَاقۡضِ بَيۡنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأۡذَنۡ لِي أَنۡ أَتَكَلَّمَ، قَالَ: (تَكَلَّمۡ). قَالَ: إِنَّ ابۡنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هٰذَا - قَالَ مَالِكٌ: وَالۡعَسِيفُ الۡأَجِيرُ - زَنَى بِامۡرَأَتِهِ، فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ عَلَى ابۡنِي الرَّجۡمَ، فَافۡتَدَيۡتُ مِنۡهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَجَارِيَةٍ لِي، ثُمَّ إِنِّي سَأَلۡتُ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ، فَأَخۡبَرُونِي أَنَّ مَا عَلَى ابۡنِي جَلۡدُ مِائَةٍ وَتَغۡرِيبُ عَامٍ، وَإِنَّمَا الرَّجۡمُ عَلَى امۡرَأَتِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ لَأَقۡضِيَنَّ بَيۡنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ، أَمَّا غَنَمُكَ وَجَارِيَتُكَ فَرَدٌّ عَلَيۡكَ). وَجَلَدَ ابۡنَهُ مِائَةً وَغَرَّبَهُ عَامًا، وَأُمِرَ أُنَيۡسٌ الۡأَسۡلَمِيُّ أَنۡ يَأۡتِيَ امۡرَأَةَ الۡآخَرِ، فَإِنِ اعۡتَرَفَتۡ رَجَمَهَا، فَاعۡتَرَفَتۡ فَرَجَمَهَا. [طرفه في: ٢٣١٤].

6633, 6634. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid:

Keduanya mengabarkan kepadanya bahwa ada dua orang lelaki yang berselisih di hadapan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu salah seorang dari keduanya berkata, “Putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah.”

Orang yang lain—dan ia lebih paham dari keduanya—berkata, “Benar, wahai Rasulullah, putuskanlah perkara di antara kami dengan Kitabullah, dan izinkanlah aku untuk berbicara.”

Beliau berkata, “Bicaralah.”

Ia berkata, “Sesungguhnya anak lakiku tadinya adalah buruh yang bekerja pada orang ini—Malik berkata: al-‘asif adalah al-ajir (buruh)—lalu ia berzina dengan istrinya. Orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa anakku harus dirajam, maka aku menebus darinya dengan seratus ekor kambing dan seorang budak wanitaku. Kemudian aku bertanya kepada para ahli ilmu, lalu mereka mengabarkan kepadaku bahwa kewajiban atas anakku hanyalah dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, dan bahwasanya hukuman rajam itu atas istrinya.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ingatlah, demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan Kitabullah. Adapun kambingmu dan budak wanitamu dikembalikan kepadamu.”

Beliau mencambuk anaknya seratus kali dan mengasingkannya selama satu tahun, serta memerintahkan Unais Al-Aslami untuk mendatangi istri orang yang lain tersebut; jika ia mengaku, maka rajamlah ia. Lalu wanita itu mengaku, maka beliau merajamnya.