Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3663

٣٦٦٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (بَيۡنَمَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ، عَدَا عَلَيۡهِ الذِّئۡبُ فَأَخَذَ مِنۡهَا شَاةً، فَطَلَبَهُ الرَّاعِي فَالۡتَفَتَ إِلَيۡهِ الذِّئۡبُ فَقَالَ: مَنۡ لَهَا يَوۡمَ السَّبُعِ، يَوۡمَ لَيۡسَ لَهَا رَاعٍ غَيۡرِي؟ وَبَيۡنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً قَدۡ حَمَلَ عَلَيۡهَا، فَالۡتَفَتَتۡ إِلَيۡهِ فَكَلَّمَتۡهُ، فَقَالَتۡ: إِنِّي لَمۡ أُخۡلَقۡ لِهٰذَا، وَلَكِنِّي خُلِقۡتُ لِلۡحَرۡثِ). قَالَ النَّاسُ: سُبۡحَانَ اللهِ! قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (فَإِنِّي أُومِنُ بِذٰلِكَ وَأَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ). رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا. [طرفه في: ٢٣٢٤].

3663. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Ia berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku: Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ketika seorang penggembala berada di antara kambing-kambingnya, tiba-tiba serigala menerkamnya lalu mengambil seekor kambing darinya. Penggembala itu pun mengejarnya, lalu serigala itu menoleh kepadanya seraya berkata, ‘Siapakah yang akan menjaganya pada hari binatang buas, yaitu pada hari ketika tidak ada penggembala baginya selain aku?’ Dan ketika seseorang sedang menuntun seekor sapi yang telah ia beri beban muatan di atasnya, tiba-tiba sapi itu menoleh kepadanya lalu berbicara kepadanya seraya berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk ini, melainkan aku diciptakan untuk membajak tanah’.”

Orang-orang berkata, “Maha Suci Allah!”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya aku memercayai hal itu, begitu pula Abu Bakr dan ‘Umar bin Al-Khaththab.” Radhiyallahu ‘anhuma.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2334

١٤ - بَابُ أَوۡقَافِ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، وَأَرۡضِ الۡخَرَاجِ، وَمُزَارَعَتِهِمۡ وَمُعَامَلَتِهِمۡ
14. Bab Wakaf-Wakaf Para Sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, Tanah Kharaj (Lahan Kena Pajak), Serta Praktik Muzaraah dan Muamalah Mereka


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِعُمَرَ: (تَصَدَّقۡ بِأَصۡلِهِ لَا يُبَاعُ، وَلَكِنۡ يُنۡفَقُ ثَمَرُهُ). فَتَصَدَّقَ بِهِ.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada ‘Umar, “Sedekahkanlah pokok hartanya dengan ketentuan tidak boleh dijual, namun hasilnya yang diinfakkan.” Maka ‘Umar pun mewakafkannya.

٢٣٣٤ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: لَوۡلَا آخِرُ الۡمُسۡلِمِينَ، مَا فَتَحۡتُ قَرۡيَةً إِلَّا قَسَمۡتُهَا بَيۡنَ أَهۡلِهَا، كَمَا قَسَمَ النَّبِيُّ ﷺ خَيۡبَرَ. [الحديث ٢٣٣٤ - أطرافه في: ٣١٢٥، ٤٢٣٥، ٤٢٣٦].

2334. Shadaqah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahman mengabarkan kepada kami dari Malik, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya. Ia berkata: ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—berkata, “Jikalau bukan karena kaum muslimin generasi mendatang, tidaklah aku menaklukkan suatu wilayah melainkan aku membagikannya di antara para pasukan yang menaklukkannya, sebagaimana Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membagi Khaibar.”

Al-Isti'ab - 2399. Marwan bin Al-Hakam

٢٣٩٩ - [مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ الۡأُمَوِيُّ]:
2399. Marwan bin Al-Hakam Al-Umawi


مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ بۡنِ أَبِي الۡعَاصِ بۡنِ أُمَيَّةَ بۡنِ عَبۡدِ شَمۡسِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافٍ الۡقُرَشِيُّ الۡأُمَوِيُّ. ​يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ الۡمَلِكِ. وُلِدَ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ سَنَةَ اثۡنَتَيۡنِ مِنَ الۡهِجۡرَةِ. وَقِيلَ: عَامَ الۡخَنۡدَقِ. وَقَالَ مَالِكٌ: وُلِدَ مَرۡوَانُ بۡنُ الۡحَكَمِ يَوۡمَ أُحُدٍ. وَقَالَ غَيۡرُهُ: وُلِدَ مَرۡوَانُ بِمَكَّةَ. وَيُقَالُ: وُلِدَ بِالطَّائِفِ، فَعَلَى قَوۡلِ مَالِكٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ ابۡنُ ثَمَانِ سِنِينَ أَوۡ نَحۡوِهَا، وَلَمۡ يَرَهُ لِأَنَّهُ خَرَجَ إِلَى الطَّائِفِ طِفۡلًا لَا يَعۡقِلُ، وَذٰلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ قَدۡ نَفَى أَبَاهُ الۡحَكَمَ إِلَيۡهَا، فَلَمۡ يَزَلۡ بِهَا حَتَّى وَلِيَ عُثۡمَانُ بۡنُ عَفَّانَ، فَرَدَّهُ عُثۡمَانُ، فَقَدِمَ الۡمَدِينَةَ هُوَ وَوَلَدُهُ فِي خِلَافَةِ عُثۡمَانَ، وَتُوُفِّيَ أَبُوهُ فَاسۡتَكۡتَبَهُ عُثۡمَانُ، وَكَتَبَ لَهُ، فَاسۡتَوۡلَى عَلَيۡهِ إِلَى أَنۡ قُتِلَ عُثۡمَانُ،

Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abd Syams bin ‘Abd Manaf Al-Qurasyi Al-Umawi. Ia dipanggil dengan nama kunyah Abu ‘Abdul-Malik. Ia dilahirkan pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada tahun 2 H. Ada pula yang mengatakan: pada tahun Perang Khandaq. Malik berkata: Marwan bin Al-Hakam dilahirkan pada hari Perang Uhud. Yang lain berkata: Marwan dilahirkan di Makkah. Dikatakan pula: dilahirkan di Tha`if. Berdasarkan pendapat Malik, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat ketika Marwan berusia 8 tahun atau sekitar itu, dan ia tidak sempat melihat beliau karena ia keluar menuju Tha`if saat masih kecil yang belum berakal. Hal itu karena Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mengasingkan ayahnya, Al-Hakam, ke sana.

Ia terus berada di sana hingga ‘Utsman bin ‘Affan menjabat sebagai khalifah, lalu ‘Utsman mengembalikannya. Maka ia dan anaknya datang ke Madinah pada masa kekhalifahan ‘Utsman. Ayahnya meninggal, lalu ‘Utsman menjadikannya sekretaris dan ia menulis untuknya, hingga ia menguasai ‘Utsman sampai ‘Utsman terbunuh.

وَنَظَرَ إِلَيۡهِ عَلِيٌّ يَوۡمًا. فَقَالَ لَهُ: وَيۡلَكَ وَوَيۡلَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ مِنۡكَ، وَمِنۡ بَنِيكَ إِذَا سَاءَتۡ دِرۡعُكَ! وَكَانَ مَرۡوَانُ يُقَالُ لَهُ خَيۡطُ بَاطِلٍ، وَضُرِبَ بِهِ يَوۡمَ الدَّارِ عَلَى قَفَاهُ، فَجَرَى لَقَبُهُ، فَلَمَّا بُويِعَ لَهُ بِالۡإِمَارَةِ قَالَ فِيهِ أَخُوهُ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ الۡحَكَمِ - وَكَانَ مَاجِنًا شَاعِرًا مُحۡسِنًا، وَكَانَ لَا يَرَى رَأۡيَ مَرۡوَانَ: [الطويل]

‘Ali memandangnya pada suatu hari, lalu berkata kepadanya, “Celakalah engkau dan celakalah umat Muhammad karena engkau dan anak-anakmu jika baju besimu telah memburuk!”

Marwan dahulu dijuluki khaithu bathil (benang kebatilan), dan ia dipukul pada bagian tengkuknya pada hari Ad-Dar (pengepungan rumah ‘Utsman) hingga julukan itu melekat padanya. Ketika ia dibaiat menjadi amir, saudaranya, ‘Abdurrahman bin Al-Hakam—ia seorang jenaka, penyair yang ulung, dan tidak sependapat dengan Marwan—bersyair tentang dirinya:

​فَوَاللهِ مَا أَدۡرِي وَإِنِّي لَسَائِلٌ حَلِيلَةَ مَضۡرُوبِ الۡقَفَا كَيۡفَ يَصۡنَعُ
​لَحَا اللهُ قَوۡمًا أَمَّرُوا خَيۡطَ بَاطِلٍ عَلَى النَّاسِ يُعۡطِي مَا يَشَاءُ وَيَمۡنَعُ

Demi Allah, aku tidak tahu dan sungguh aku bertanya ... kepada istri orang yang dipukul tengkuknya, apa yang akan ia perbuat.
Semoga Allah melaknat kaum yang mengangkat benang kebatilan sebagai pemimpin ... atas manusia, yang memberi apa yang ia kehendaki dan melarang.

​[وَقِيلَ: إِنَّمَا قَالَ لَهُ أَخُوهُ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ ذٰلِكَ حِينَ وَلَّاهُ مُعَاوِيَةُ أَمۡرَ الۡمَدِينَةِ]، وَكَانَ كَثِيرًا مَا يَهۡجُوهُ. وَمِنۡ قَوۡلِهِ فِيهِ: [الطويل]

​وَهَبۡتُ نَصِيبِي فِيكَ يَا مَرۡوُ كُلَّهُ لِعَمۡرٍو وَمَرۡوَانَ الطَّوِيلِ وَخَالِدِ
​فَكُلُّ ابۡنِ أُمٍّ زَائِدٌ غَيۡرُ نَاقِصٍ وَأَنۡتَ ابۡنُ أُمٍّ نَاقِصٌ غَيۡرُ زَائِدِ

[Dan dikatakan: Saudaranya, ‘Abdurrahman, mengatakan hal itu kepadanya ketika Mu’awiyah mengangkatnya mengurusi Madinah], dan ia sering mencelanya. Di antara ucapannya tentang Marwan:

Aku hibahkan seluruh bagianku padamu, wahai Marw ... kepada ‘Amr, Marwan yang tinggi, dan Khalid.
Maka setiap anak dari seorang ibu bertambah bukan berkurang ... sedangkan engkau adalah anak dari seorang ibu yang berkurang bukan bertambah.

​وَقَالَ مَالِكُ بۡنُ الرَّيۡبِ يَهۡجُو مَرۡوَانَ: [الطويل]

​لَعَمۡرُكَ مَا مَرۡوَانُ يَقۡضِي أُمُورَنَا وَلَكِنَّمَا تَقۡضِي لَنَا بِنۡتُ جَعۡفَرِ
​فَيَا لَيۡتَهَا كَانَتۡ عَلَيۡنَا أَمِيرَةً وَلَيۡتَكَ يَا مَرۡوَانُ أَمۡسَيۡتَ آخِرَ

Malik bin Ar-Raib berkata mencela Marwan:

Demi umurmu, bukan Marwan yang memutuskan urusan-urusan kami ... melainkan putri Ja’far-lah yang memutuskannya untuk kami.
Duhai, sekiranya ia menjadi amir wanita atas kami ... dan sekiranya engkau, wahai Marwan, menjadi orang terakhir (binasa).

​وَكَانَ مُعَاوِيَةُ لَمَّا صَارَ الۡأَمۡرُ إِلَيۡهِ وَلَّاهُ الۡمَدِينَةَ، ثُمَّ جَمَعَ لَهُ إِلَى مَكَّةَ وَالطَّائِفَ، ثُمَّ عَزَلَهُ عَنِ الۡمَدِينَةِ سَنَةَ ثَمَانٍ وَأَرۡبَعِينَ، وَوَلَّاهَا سَعِيدَ بۡنَ أَبِي الۡعَاصِ، فَأَقَامَ عَلَيۡهَا أَمِيرًا إِلَى سَنَةِ أَرۡبَعٍ وَخَمۡسِينَ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَوَلَّى مَرۡوَانَ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَوَلَّى الۡوَلِيدَ بۡنَ عُتۡبَةَ، فَلَمۡ يَزَلۡ وَالِيًا عَلَى الۡمَدِينَةِ حَتَّى مَاتَ مُعَاوِيَةُ وَوَلِيَ يَزِيدُ، فَلَمَّا كَفَّ الۡوَلِيدُ بۡنُ عُتۡبَةَ عَنِ الۡحُسَيۡنِ وَابۡنِ الزُّبَيۡرِ فِي شَأۡنِ الۡبَيۡعَةِ لِيَزِيدَ، وَكَانَ الۡوَلِيدُ رَحِيمًا حَلِيمًا سَرِيًّا، عَزَلَهُ وَوَلَّى يَزِيدُ عَمۡرَو بۡنَ سَعِيدٍ الۡأَشۡدَقَ، ثُمَّ عَزَلَهُ وَصَرَفَ الۡوَلِيدَ بۡنَ عُتۡبَةَ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَوَلَّى عُثۡمَانَ بۡنَ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي سُفۡيَانَ، وَعَلَيۡهِ قَامَتِ الۡحَرَّةُ،

Ketika kekuasaan beralih kepada Mu’awiyah, beliau mengangkatnya sebagai wali kota Madinah, kemudian menggabungkan Makkah dan Tha`if kepadanya. Kemudian ia mencopotnya dari Madinah pada tahun 48 dan mengangkat Sa’id bin Al-‘Ash. Sa’id tinggal di sana sebagai amir hingga tahun 54, lalu Mu’awiyah mencopotnya dan mengangkat Marwan kembali, kemudian mencopotnya dan mengangkat Al-Walid bin ‘Utbah. Ia terus menjadi wali kota Madinah hingga Mu’awiyah wafat dan Yazid berkuasa.

Ketika Al-Walid bin ‘Utbah menahan diri dari Al-Husain dan Ibnu Az-Zubair dalam urusan baiat untuk Yazid—dan Al-Walid adalah seorang yang penyayang, penyabar, dan mulia—Yazid mencopotnya dan mengangkat ‘Amr bin Sa’id Al-Asydaq. Kemudian Yazid mencopotnya dan mengembalikan Al-Walid bin ‘Utbah, lalu mencopotnya lagi dan mengangkat ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Sufyan, dan pada masa pemerintahannyalah terjadilah peristiwa Al-Harrah.

ثُمَّ لَمَّا مَاتَ يَزِيدُ، وَلِيَ ابۡنُهُ أَبُو لَيۡلَى مُعَاوِيَةُ بۡنُ يَزِيدَ، وَذٰلِكَ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَسِتِّينَ، عَاشَ بَعۡدَ أَبِيهِ يَزِيدَ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةً، وَمَاتَ وَهُوَ ابۡنُ إِحۡدَى وَعِشۡرِينَ سَنَةً، وَكَانَ مَوۡتُهُ مِنۡ قَرۡحَةٍ يُقَالُ لَهَا السَّكۡتَةُ، وَكَانَتۡ أُمُّهُ أُمَّ خَالِدٍ بِنۡتَ هَاشِمِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَقَالَتۡ لَهُ: اجۡعَلِ الۡخِلَافَةَ مِنۡ بَعۡدِكَ لِأَخِيكَ، فَأَبَى، وَقَالَ: ​لَا يَكُونُ لِي مُرُّهَا وَلَكُمۡ حُلۡوُهَا، فَوَثَبَ مَرۡوَانُ حِينَئِذٍ عَلَيۡهَا وَأَنۡشَدَ: [البسيط]

​إِنِّي أَرَى فِتۡنَةً تَغۡلِي مَرَاجِلُهَا وَالۡمُلۡكُ بَعۡدَ أَبِي لَيۡلَى لِمَنۡ غَلَبَا

Kemudian ketika Yazid meninggal, putranya Abu Laila Mu’awiyah bin Yazid memegang kekuasaan, yaitu pada tahun 64. Ia hidup setelah ayahnya, Yazid, selama 40 malam dan meninggal pada usia 21 tahun. Kematiannya disebabkan oleh luka borok yang disebut as-saktah. Ibunya adalah Umu Khalid binti Hasyim bin ‘Utbah bin Rabi’ah, dan ia berkata kepadanya, “Jadikanlah kekhalifahan setelahmu untuk saudaramu.”

Namun ia menolak dan berkata, “Tidak boleh pahitnya untukku sedangkan manisnya untuk kalian.”

Marwan ketika itu bangkit menyanggah Umu Khalid dan bersyair:

Sesungguhnya aku melihat fitnah yang mendidih periuk-periuknya ... dan kerajaan setelah Abu Laila adalah bagi siapa yang menang.

​ثُمَّ الۡتَقَى هُوَ وَالضَّحَّاكُ بۡنُ قَيۡسٍ بِمَرۡجِ رَاهِطٍ عَلَى أَمۡيَالٍ مِنۡ دِمَشۡقَ، فَقُتِلَ الضَّحَّاكُ، وَكَانَ مَرۡوَانُ قَدۡ تَزَوَّجَ أُمَّ خَالِدِ بۡنِ يَزِيدَ لِيَضَعَ مِنۡهُ، فَوَقَعَ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ خَالِدٍ يَوۡمًا كَلَامٌ، فَقَالَ لَهُ مَرۡوَانُ - وَأَغۡلَظَ لَهُ فِي الۡقَوۡلِ: اسۡكُتۡ يَا بۡنَ الرَّطۡبَةِ. فَقَالَ لَهُ خَالِدٌ: مُؤۡتَمَنٌ خَائِنٌ. فَنَدِمَ مَرۡوَانُ، وَقَالَ: مَا أَدَّى الۡأَمَانَةَ إِذَا اؤۡتُمِنَ، ثُمَّ دَخَلَ خَالِدٌ عَلَى أُمِّهِ فَقَالَ لَهَا: هَكَذَا أَرَدۡتِ، يَقُولُ لِي مَرۡوَانُ عَلَى رُؤُوسِ النَّاسِ كَذَا وَكَذَا! فَقَالَتۡ لَهُ: اسۡكُتۡ، لَا تَرَى بَعۡدُ مِنۡهُ شَيۡئًا تَكۡرَهُهُ، وَسَأُقَرِّبُ عَلَيۡكَ مَا بَعُدَ، فَسَمَّتۡهُ، ثُمَّ قَامَتۡ إِلَيۡهِ مَعَ جَوَارِيهَا فَغَمَّتۡهُ حَتَّى مَاتَ، فَكَانَتۡ خِلَافَتُهُ تِسۡعَةَ أَشۡهُرٍ وَقِيلَ عَشَرَةَ أَشۡهُرٍ. ​وَمَاتَ فِي صَدۡرِ رَمَضَانَ سَنَةَ خَمۡسٍ وَسِتِّينَ، وَهُوَ ابۡنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ. وَقِيلَ: ابۡنُ ثَمَانِيَةٍ وَسِتِّينَ، وَقِيلَ ابۡنُ أَرۡبَعٍ وَسِتِّينَ، وَهُوَ مَعۡدُودٌ فِيمَنۡ قَتَلَهُ النِّسَاءُ.

Kemudian ia dan Adh-Dhahhak bin Qais bertemu di Marj Rahith, beberapa mil dari Damaskus, lalu Adh-Dhahhak terbunuh. Marwan telah menikahi ibu dari Khalid bin Yazid untuk merendahkannya. Pada suatu hari terjadi percekcokan antara dirinya dan Khalid, lalu Marwan berkata kepadanya dengan kata-kata yang kasar, “Diamlah engkau, wahai putra wanita yang basah (rendah)!”

Khalid berkata kepadanya, “Orang yang diberi amanah tetapi khianat!”

Marwan pun menyesal dan berkata, “Ia tidak menunaikan amanah ketika diberi amanah.”

Kemudian Khalid menemui ibunya dan berkata kepadanya, “Apakah seperti ini yang engkau inginkan, Marwan mengatakan kepadaku di hadapan orang banyak begini dan begitu!”

Ibunya berkata kepadanya, “Diamlah, engkau tidak akan melihat lagi darinya sesuatu yang engkau benci setelah ini, dan aku akan mendekatkan kepadamu apa yang jauh.”

Lalu wanita itu meracuni Marwan, kemudian ia menghampirinya bersama budak-budak wanitanya lalu membekapnya hingga mati. Kekhalifahannya berlangsung selama 9 bulan, dan ada yang mengatakan 10 bulan.

Ia meninggal pada awal bulan Ramadan tahun 65, pada usia 63 tahun. Ada yang mengatakan: usia 68 tahun, dan ada yang mengatakan 64 tahun. Ia termasuk kelompok orang yang dibunuh oleh wanita.

رَوَى عَنۡهُ مِنَ الصَّحَابَةِ سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدٍ فِيمَا ذَكَرَ صَالِحُ بۡنُ كَيۡسَانَ. وَعَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ مَرۡوَانَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ فِي قَوۡلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَا يَسۡتَوِي الۡقَاعِدُونَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ ... ﴾ [النساء: ٩٥].

Di antara sahabat yang meriwayatkan darinya adalah Sahl bin Sa’d sebagaimana disebutkan oleh Shalih bin Kaisan dan ‘Abdurrahman bin Ishaq dari Ibnu Syihab, dari Sahl bin Sa’d, dari Marwan, dari Zaid bin Tsabit tentang firman Allah—‘azza wa jalla—: “Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang) dari kalangan orang-orang beriman ...” (QS An-Nisa’: 95).

​وَرَوَاهُ مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ قَبِيصَةَ بۡنِ ذُؤَيۡبٍ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ ثَابِتٍ. وَمِمَّنۡ رَوَى عَنۡهُ مِنَ التَّابِعِينَ عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَلِيُّ بۡنُ الۡحُسَيۡنِ. وَقَالَ عُرۡوَةُ: كَانَ مَرۡوَانُ لَا يُتَّهَمُ فِي الۡحَدِيثِ، وَمِنۡ شِعۡرِ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ فِيهِ: [الوافر]

​أَلَا مَنۡ مُبۡلِغٌ مَرۡوَانَ عَنِّي رَسُولًا وَالرَّسُولُ مِنَ الۡبَيَانِ
​بِأَنَّكَ لَنۡ تَرَى طَرۡدًا لِحُرٍّ كَإِلۡصَاقٍ بِهِ بَعۡضَ الۡهَوَانِ
​وَهَلۡ حُدِّثۡتَ قَبۡلِي عَنۡ كَرِيمٍ مُعِينٍ فِي الۡحَوَادِثِ أَوۡ مُعَانٍ
​يُقِيمُ بِدَارِ مَضۡيَقَةٍ إِذَا لَمۡ يَكُنۡ حَيۡرَانَ أَوۡ خَفِقَ الۡجَنَانِ
​فَلَا تَقۡذِفۡ بِيَ الرَّجۡوَيۡنِ إِنِّي أَقَلُّ الۡقَوۡمِ مَنۡ يُغۡنِي مَكَانِي
​سَأَكۡفِيكَ الَّذِي اسۡتَكۡفَيۡتَ مِنِّي بِأَمۡرٍ لَا تُخَالِجُهُ يَدَانِ
​وَلَوۡ أَنَّا بِمَنۡزِلَةٍ جَمِيعًا جَرَيۡتُ وَأَنۡتَ مُضۡطَرِبُ الۡعِنَانِ
​وَلَوۡلَا أَنَّ أُمَّ أَبِيكَ أُمِّي وَأَنَّ مَنۡ قَدۡ هَجَاكَ فَقَدۡ هَجَانِي
​لَقَدۡ جَاهَرۡتُ بِالۡبُغۡضَاءِ إِنِّي إِلَى أَمۡرِ الۡجَهَارَةِ وَالۡعَلَانِ

Ma’mar meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari Qabishah bin Dzu`aib, dari Zaid bin Tsabit.

Di antara kalangan tabiin yang meriwayatkan darinya adalah ‘Urwah bin Az-Zubair dan ‘Ali bin Al-Husain. ‘Urwah berkata: “Marwan tidak dituduh (dusta) dalam hadis.”

Dan di antara syair ‘Abdurrahman tentangnya:

Ketahuilah, siapakah yang akan menyampaikan kepada Marwan utusan dariku ... dan utusan itu adalah bagian dari penjelasan.
Bahwa engkau tidak akan melihat pengusiran terhadap orang merdeka ... seperti menimpakan sebagian kehinaan kepadanya.
Apakah engkau pernah dikabarkan sebelumku tentang orang mulia ... yang membantu dalam peristiwa-peristiwa atau dibantu,
Tinggal di tempat yang sempit jika ia tidak ... bingung atau berdebar hatinya?
Maka janganlah engkau melemparkanku ke dua tepi sumur (ke jurang), sesungguhnya aku ... adalah orang yang paling sedikit dapat menggantikan posisiku di antara kaum.
Aku akan mencukupimu dari apa yang engkau minta dicukupi dariku ... dengan urusan yang tidak dapat dicampuri oleh dua tangan.
Sekiranya kita berada pada kedudukan yang sama seluruhnya ... niscaya aku akan berlari cepat sedangkan engkau terguncang tali kengkangmu.
Dan jikalau bukan karena ibu dari ayahmu adalah ibuku ... dan bahwasanya orang yang telah mencelamu sungguh telah mencelaku,
Niscaya aku telah menampakkan permusuhan secara terang-terangan, sesungguhnya aku ... cenderung pada urusan yang terang-terangan dan nyata.

Al-Isti'ab - 2434. Al-Miswar bin Makhramah

٢٤٣٤ - [الۡمِسۡوَرُ بۡنُ مَخۡرَمَةَ الزُّهۡرِيُّ]:
2434. Al-Miswar bin Makhramah Az-Zuhri


الۡمِسۡوَرُ بۡنُ مَخۡرَمَةَ بۡنِ نَوۡفَلٍ الۡقُرَشِيُّ الزُّهۡرِيُّ. أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ، قَدۡ ذَكَرۡنَا نَسَبَ أَبِيهِ مَخۡرَمَةَ بۡنِ نَوۡفَلٍ إِلَى زُهۡرَةَ فَغَنِينَا بِذٰلِكَ. أُمُّهُ الشِّفَاءُ بِنۡتُ عَوۡفٍ أُخۡتُ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ عَوۡفٍ، [وَيُقَالُ بَلۡ أُمُّهُ عَاتِكَةُ بِنۡتُ عَوۡفٍ أُخۡتُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ]، وُلِدَ بِمَكَّةَ بَعۡدَ الۡهِجۡرَةِ بِسَنَتَيۡنِ، وَقَدِمَ بِهِ أَبُوهُ الۡمَدِينَةَ فِي عَقِبِ ذِي الۡحِجَّةِ سَنَةَ ثَمَانٍ، وَهُوَ أَصۡغَرُ مِنَ ابۡنِ الزُّبَيۡرِ بِأَرۡبَعَةِ أَشۡهُرٍ، وَقُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ وَالۡمِسۡوَرُ ابۡنُ ثَمَانِ سِنِينَ، وَسَمِعَ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ وَحَفِظَ عَنۡهُ.

Al-Miswar bin Makhramah bin Naufal Al-Qurasyi Az-Zuhri. Abu ‘Abdurrahman. Kami telah menyebutkan nasab ayahnya, Makhramah bin Naufal, sampai ke Zuhrah sehingga kami tidak perlu mengulangnya. Ibunya adalah Asy-Syifa` binti ‘Auf, saudara perempuan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ada yang berpendapat bahwa ibunya adalah ‘Atikah binti ‘Auf, saudara perempuan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ia dilahirkan di Makkah dua tahun setelah hijrah. Ayahnya membawanya tiba di Madinah pada akhir bulan Zulhijah tahun ke-8 H. Ia lebih muda empat bulan daripada Ibnu Az-Zubair. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat ketika Al-Miswar berusia 8 tahun. Ia mendengar langsung dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan menghafal darinya.

وَحَدَّثَ عَنۡ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ، وَعَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ عَوۡفٍ، وَعَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ. وَكَانَ فَقِيهًا مِنۡ أَهۡلِ الۡفَضۡلِ وَالدِّينِ، لَمۡ يَزَلۡ مَعَ خَالِهِ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ بۡنِ عَوۡفٍ مُقۡبِلًا وَمُدۡبِرًا فِي أَمۡرِ الشُّورَى، وَبَقِيَ بِالۡمَدِينَةِ إِلَى أَنۡ قُتِلَ عُثۡمَانُ، ثُمَّ انۡحَدَرَ إِلَى مَكَّةَ، فَلَمۡ يَزَلۡ بِهَا حَتَّى تُوُفِّيَ مُعَاوِيَةُ - ذَكَرَهُ رَبِيعَةُ بۡنُ يَزِيدَ؛ فَلَمۡ يَزَلۡ بِمَكَّةَ حَتَّى قَدِمَ الۡحُصَيۡنُ بۡنُ نُمَيۡرٍ مَكَّةَ لِقِتَالِ ابۡنِ الزُّبَيۡرِ؛ وَذٰلِكَ فِي عَقِبِ الۡمُحَرَّمِ، أَوۡ صَدۡرِ صَفَرٍ، وَحَاصَرَ مَكَّةَ، وَفِي حِصَارِهِ وَمُحَارَبَتِهِ أَهۡلَ مَكَّةَ أَصَابَ الۡمِسۡوَرَ حَجَرٌ مِنۡ حِجَارَةِ الۡمَنۡجَنِيقِ، وَهُوَ يُصَلِّي فِي الۡحِجۡرِ، فَقَتَلَهُ، وَذٰلِكَ مُسۡتَهَلُّ رَبِيعٍ الۡأَوَّلِ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَسِتِّينَ، وَصَلَّى عَلَيۡهِ ابۡنُ الزُّبَيۡرِ بِالۡحَجُونِ، وَهُوَ مَعۡدُودٌ فِي الۡمَكِّيِّينَ. تُوُفِّيَ وَهُوَ ابۡنُ اثۡنَتَيۡنِ وَسِتِّينَ سَنَةً. وَقِيلَ: وَفَاتُهُ كَانَتۡ يَوۡمَ جَاءَ نَعۡيُ يَزِيدَ إِلَى ابۡنِ الزُّبَيۡرِ، وَحُصَيۡنُ بۡنُ نُمَيۡرٍ مُحَاصِرٌ لِابۡنِ الزُّبَيۡرِ، وَجَاءَ نَعۡيُ يَزِيدَ إِلَى مَكَّةَ يَوۡمَ ثَلَاثَ عَشۡرَةَ رَبِيعٍ الۡآخِرِ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَسِتِّينَ.

Ia meriwayatkan hadis dari ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan ‘Amr bin ‘Auf. Ia seorang ahli fikih dari kalangan ulama yang memiliki keutamaan dan keteguhan agama. Ia senantiasa mendampingi paman dari pihak ibunya, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, berbolak-balik mengurus perkara musyawarah (pemilihan khalifah). Ia tetap tinggal di Madinah sampai ‘Utsman terbunuh, kemudian ia pindah ke Makkah dan terus menetap di sana hingga Mu’awiyah wafat. Hal ini disebutkan oleh Rabi’ah bin Yazid.

Ia terus tinggal di Makkah sampai Al-Hushain bin Numair datang ke Makkah untuk memerangi Ibnu Az-Zubair, yaitu pada akhir bulan Muharam atau awal bulan Safar, lalu ia mengepung Makkah. Dalam pengepungan dan pertempurannya melawan penduduk Makkah tersebut, Al-Miswar terkena lemparan batu dari batu-batu manjanik ketika ia sedang salat di Al-Hijr (Hijir Ismail) hingga menewaskannya. Peristiwa itu terjadi pada awal bulan Rabiulawal tahun 64. Ibnu Az-Zubair menyalatinya di Al-Hajun, dan ia dimasukkan dalam kelompok penduduk Makkah. Ia wafat pada usia 62 tahun. Ada yang berpendapat bahwa wafatnya terjadi pada hari datangnya kabar kematian Yazid kepada Ibnu Az-Zubair, saat Al-Hushain bin Numair sedang mengepung Ibnu Az-Zubair. Berita kematian Yazid sampai ke Makkah pada hari ke-13 bulan Rabiulakhir tahun 64.

رَوَى عَنۡهُ عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، وَعَلِيُّ بۡنُ الۡحُسَيۡنِ، وَعُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ وَكَانَ الۡمِسۡوَرُ لِفَضۡلِهِ وَدِينِهِ وَحُسۡنِ رَأۡيِهِ تَغۡشَاهُ الۡخَوَارِجُ، وَتُعَظِّمُهُ وَتُبَجِّلُ رَأۡيَهُ، وَقَدۡ بَرَّأَهُ اللهُ مِنۡهُمۡ. وَرَوَى ابۡنُ الۡقَاسِمِ، عَنۡ مَالِكٍ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ الۡمِسۡوَرَ بۡنَ مَخۡرَمَةَ دَخَلَ عَلَى مَرۡوَانَ فَجَلَسَ مَعَهُ، وَحَادَثَهُ، فَقَالَ الۡمِسۡوَرُ لِمَرۡوَانَ فِي شَيۡءٍ سَمِعَهُ: بِئۡسَ مَا قُلۡتَ! فَرَكَضَهُ مَرۡوَانُ بِرِجۡلِهِ، فَخَرَجَ الۡمِسۡوَرُ. ثُمَّ إِنَّ مَرۡوَانَ نَامَ فَأُتِيَ فِي الۡمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ: مَا لَكَ وَلِلۡمِسۡوَرِ! كُلٌّ يَعۡمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ، فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَى سَبِيلًا قَالَ: فَأَرۡسَلَ مَرۡوَانُ إِلَى الۡمِسۡوَرِ، فَقَالَ: إِنِّي زُجِرۡتُ عَلَيۡكَ فِي الۡمَنَامِ، وَأَخۡبَرَهُ بِالَّذِي رَأَى. فَقَالَ الۡمِسۡوَرُ: لَقَدۡ نُهِيتَ عَنۡهُ فِي الۡيَقَظَةِ وَالنَّوۡمِ، وَمَا أَرَاكَ تَنۡتَهِي.

‘Urwah bin Az-Zubair, ‘Ali bin Al-Husain, dan ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah meriwayatkan hadis darinya. Karena keutamaan, ketaatan agama, dan kebaikan pandangannya, Al-Miswar sering didatangi oleh kaum Khawarij; mereka mengagungkannya dan memuliakan pendapatnya, padahal Allah telah membebaskannya dari paham mereka.

Ibnu Al-Qasim meriwayatkan dari Malik. Ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Al-Miswar bin Makhramah masuk menemui Marwan, lalu duduk bersamanya dan berbincang-bincang dengannya. Al-Miswar berkata kepada Marwan mengenai sesuatu yang ia dengar, “Betapa buruk apa yang engkau katakan!”

Kemudian Marwan menendangnya dengan kakinya, lalu Al-Miswar keluar. Kemudian Marwan tidur dan didatangi dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya, “Ada apa antara engkau dan Al-Miswar! Setiap orang berbuat sesuai dengan keadaannya masing-masing. Maka Rab kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

Malik berkata: Lalu Marwan mengutus utusan kepada Al-Miswar dan berkata, “Sesungguhnya aku ditegur keras tentang dirimu di dalam mimpi,” lalu ia memberitahukan apa yang dilihatnya.

Al-Miswar berkata, “Sungguh engkau telah dilarang darinya saat terjaga maupun tidur, namun aku tidak melihatmu akan berhenti!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3471

٣٤٧١ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبۡحِ، ثُمَّ أَقۡبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: (بَيۡنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً إِذۡ رَكِبَهَا فَضَرَبَهَا، فَقَالَتۡ: إِنَّا لَمۡ نُخۡلَقۡ لِهٰذَا، إِنَّمَا خُلِقۡنَا لِلۡحَرۡثِ). فَقَالَ النَّاسُ: سُبۡحَانَ اللهِ بَقَرَةٌ تَكَلَّمُ؟ فَقَالَ: (فَإِنِّي أُومِنُ بِهٰذَا أَنَا وَأَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ - وَمَا هُمَا ثَمَّ - وَبَيۡنَمَا رَجُلٌ فِي غَنَمِهِ إِذۡ عَدَا الذِّئۡبُ فَذَهَبَ مِنۡهَا بِشَاةٍ، فَطَلَبَ حَتَّى كَأَنَّهُ اسۡتَنۡقَذَهَا مِنۡهُ، فَقَالَ لَهُ الذِّئۡبُ هٰذَا: اسۡتَنۡقَذۡتَهَا مِنِّي، فَمَنۡ لَهَا يَوۡمَ السَّبُعِ، يَوۡمَ لَا رَاعِيَ لَهَا غَيۡرِي)؟ فَقَالَ النَّاسُ: سُبۡحَانَ اللهِ ذِئۡبٌ يَتَكَلَّمُ، قَالَ: (فَإِنِّي أُومِنُ بِهٰذَا أَنَا وَأَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ). وَمَا هُمَا ثَمَّ.

وَحَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ مِسۡعَرٍ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: بِمِثۡلِهِ. [طرفه في: ٢٣٢٤].

3471. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami dari Al-A’raj, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaksanakan salat Subuh, kemudian beliau menghadap kepada orang-orang lalu bersabda, “Ketika seseorang sedang menuntun seekor sapi, tiba-tiba ia menungganginya lalu memukulnya. Sapi itu pun berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak diciptakan untuk ini, melainkan kami diciptakan untuk membajak tanah’.”

Orang-orang berkata, “Maha Suci Allah, seekor sapi bisa berbicara?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memercayai hal ini, begitu pula Abu Bakr dan ‘Umar,” padahal keduanya tidak ada di sana. “Dan ketika seseorang berada di antara kambing-kambingnya, tiba-tiba serigala menerkam lalu membawa lari seekor kambing darinya. Orang itu pun mengejarnya hingga berhasil merebutnya kembali dari serigala tersebut. Lalu serigala itu berkata kepadanya, ‘Engkau berhasil merebutnya dariku, maka siapakah yang akan menjaganya pada hari binatang buas, yaitu hari ketika tidak ada penggembala baginya selain aku?’”

Orang-orang berkata, “Maha Suci Allah, seekor serigala bisa berbicara?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memercayai hal ini, begitu pula Abu Bakr dan ‘Umar,” padahal keduanya tidak ada di sana.

‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Mis’ar, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hadis yang semisal dengannya.