١٣٤٠ – [عَامِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ]:
1340. ‘Amir bin ‘Abdullah
عَامِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡجَرَّاحِ بۡنِ هِلَالِ بۡنِ أُهَيۡبِ بۡنِ
ضَبَّةَ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ فِهۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّضۡرِ بۡنِ
كِنَانَةَ الۡقُرَشِيُّ الۡفِهۡرِيُّ أَبُو عُبَيۡدَةَ، غَلَبَتۡ عَلَيۡهِ
كُنۡيَتُهُ.
‘Amir bin ‘Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin
Al-Harits bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah Al-Qurasyi Al-Fihri Abu
‘Ubaidah. Nama kunyah-nya lebih dikenal daripada nama aslinya.
قَالَ الزُّبَيۡرُ: كَانَ أَبُو عُبَيۡدَةَ أَهۡتَمَ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ نَزَعَ
الۡحَلۡقَتَيۡنِ اللَّتَيۡنِ دَخَلَتَا فِي وَجۡهِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ
الۡمِغۡفَرِ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَانۡتُزِعَتۡ ثَنِيَّتَاهُ فَحَسَّنَتَا فَاهُ،
فَيُقَالُ: إِنَّهُ مَا رُؤِيَ أَهۡتَمُ قَطُّ أَحۡسَنَ مِنۡ هَتۡمِ أَبِي
عُبَيۡدَةَ.
Az-Zubair berkata: Abu ‘Ubaidah adalah seorang yang ompong gigi depannya. Hal
itu disebabkan beliau mencabut dua buah gelang rantai besi yang menancap di
wajah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari topi besi pada perang Uhud, lalu
tercabutlah dua gigi seri beliau dan justru memperindah mulutnya. Ada yang
berkata: Belum pernah dilihat ada seorang yang ompong gigi depannya yang lebih
tampan daripada ompongnya Abu ‘Ubaidah.
وَذَكَرَهُ بَعۡضُهُمۡ فِيمَنۡ هَاجَرَ إِلَى أَرۡضِ الۡحَبَشَةِ، وَلَمۡ
يَخۡتَلِفُوا فِي شُهُودِهِ بَدۡرًا، وَالۡحُدَيۡبِيَةَ، وَهُوَ أَحَدُ
الۡعَشَرَةِ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالۡجَنَّةِ، جَاءَ
ذِكۡرُهُ فِيهِمۡ فِي بَعۡضِ الرِّوَايَاتِ، وَفِي بَعۡضِهَا ابۡنُ مَسۡعُودٍ،
وَفِي بَعۡضِهَا النَّبِيُّ ﷺ، وَلَمۡ تَخۡتَلِفۡ تِلۡكَ الۡآثَارُ فِي
التِّسۡعَةِ.
Sebagian ulama menyebutkannya dalam golongan orang-orang yang berhijrah ke
bumi Habasyah, dan mereka tidak berselisih pendapat tentang keikutsertaan
beliau dalam Perang Badr dan Perjanjian Hudaibiah. Beliau adalah salah seorang
dari sepuluh orang yang disaksikan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—akan masuk surga. Namanya disebutkan di antara mereka dalam sebagian
riwayat, sementara dalam sebagian riwayat lain disebutkan Ibnu Mas’ud, dan
dalam riwayat lainnya lagi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sendiri.
Riwayat-riwayat tersebut tidak berselisih mengenai kesembilan orang lainnya.
وَكَانَ أَبُو عُبَيۡدَةَ يُدۡعَى فِي الصَّحَابَةِ الۡقَوِيَّ الۡأَمِينَ،
لِقَوۡلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِأَهۡلِ نَجۡرَانَ: (لَأُرۡسِلَنَّ مَعَكُمُ
الۡقَوِيَّ الۡأَمِينَ). وَلِقَوۡلِهِ ﷺ: (لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ، وَأَمِينُ
أُمَّتِي أَبُو عُبَيۡدَةَ بۡنُ الۡجَرَّاحِ).
Abu ‘Ubaidah dahulu dijuluki di kalangan para sahabat dengan al-qawiyyu
al-amin (yang kuat lagi tepercaya) karena sabda Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—kepada penduduk Najran: “Sungguh aku akan mengutus bersama
kalian orang yang kuat lagi tepercaya.”
Dan karena sabda beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Setiap umat memiliki
orang yang tepercaya, dan orang yang tepercaya dari umat ini adalah Abu
‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”
وَقَالَ فِيهِ أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ يَوۡمَ السَّقِيفَةِ: لَقَدۡ رَضِيتُ
لَكُمۡ أَحَدَ الرَّجُلَيۡنِ، فَبَايِعُوا أَيَّهُمَا شِئۡتُمۡ: عُمَرَ،
وَأَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ.
Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata tentang beliau pada hari As-Saqifah, “Sungguh aku
telah meridai untuk kalian salah satu dari dua orang ini, maka berbaiatlah
kepada siapa yang kalian kehendaki: ‘Umar atau Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.”
وَذَكَرَ ابۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، عَنۡ ابۡنِ عُلَيَّةَ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ
الۡحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا مِنۡ أَصۡحَابِي أَحَدٌ إِلَّا
لَوۡ شِئۡتُ لَوَجَدۡتُ عَلَيۡهِ إِلَّا أَبَا عُبَيۡدَةَ).
Ibnu Abu Syaibah menyebutkan dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Yunus, dari Al-Hasan. Ia
berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada seorang
pun dari para sahabatku melainkan jika aku menghendaki niscaya aku dapat
menemukan celah pada dirinya, kecuali Abu ‘Ubaidah.”
وَذَكَرَ أَيۡضًا عَنۡ حُسَيۡنِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ
الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، قَالَ: لَمَّا بَعَثَ عُمَرُ أَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ
الۡجَرَّاحِ إِلَى الشَّامِ، وَعَزَلَ خَالِدَ بۡنَ الۡوَلِيدِ قَالَ خَالِدٌ:
بُعِثَ عَلَيۡكُمۡ أَمِينُ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ. فَقَالَ أَبُو عُبَيۡدَةَ:
سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (خَالِدٌ سَيۡفٌ مِنۡ سُيُوفِ اللهِ.
وَنِعۡمَ فَتَى الۡعَشِيرَةِ).
Beliau juga menyebutkan dari Husain bin ‘Ali, dari Za`idah, dari ‘Abdul-Malik
bin ‘Umair. Ia berkata: Ketika ‘Umar mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah ke
Syam dan melepas jabatan Khalid bin Al-Walid, Khalid berkata, “Orang tepercaya
umat ini telah diutus kepada kalian.”
Abu ‘Ubaidah berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—bersabda, “Khalid adalah pedang di antara pedang-pedang Allah, dan
sebaik-baik pemuda kabilah.”
وَذَكَرَ خَلِيفَةُ، عَنۡ مُعَاذٍ، عَنۡ ابۡنِ عَوۡنٍ، عَنۡ [مُحَمَّدِ] بۡنِ
سِيرِينَ، قَالَ: لَمَّا وَلَّى عُمَرُ قَالَ: وَاللهِ لَأَنۡزِعَنَّ خَالِدًا
حَتَّى يُعۡلَمَ أَنَّ اللهَ يَنۡصُرُ دِينَهُ.
Khalifah menyebutkan dari Mu’adz, dari Ibnu ‘Aun, dari Muhammad bin Sirin. Ia
berkata: Ketika ‘Umar memegang kekuasaan, ia berkata, “Demi Allah, sungguh aku
benar-benar akan melepas jabatan Khalid agar diketahui bahwa Allahlah yang
menolong agama-Nya.”
قَالَ: وَأَخۡبَرَنَا عَلِيٌّ وَمُوسَى، عَنۡ حَمَّادِ بۡنِ سَلَمَةَ، عَنۡ
هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا اسۡتُخۡلِفَ عُمَرُ كَتَبَ
إِلَى أَبِي عُبَيۡدَةَ: إِنِّي قَدِ اسۡتَعۡمَلۡتُكَ وَعَزَلۡتُ
خَالِدًا.
Ia berkata: ‘Ali dan Musa telah mengabarkan kepada kami dari Hammad bin
Salamah, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya. Ia berkata: Ketika ‘Umar
diangkat menjadi khalifah, ia menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah, “Sesungguhnya
aku telah mengangkatmu dan melepas jabatan Khalid.”
قَالَ خَلِيفَةُ: لَمَّا وَلَّى عُمَرُ عَزَلَ خَالِدًا، وَوَلَّى أَبُو
عُبَيۡدَةَ حِينَ فَتَحَ الشَّامَاتِ يَزِيدَ بۡنَ أَبِي سُفۡيَانَ عَلَى
فِلَسۡطِينَ، وَشُرَحۡبِيلَ ابۡنَ حَسَنَةَ عَلَى الۡأُرۡدُنِّ، وَخَالِدَ بۡنَ
الۡوَلِيدِ عَلَى دِمَشۡقَ، وَحَبِيبَ بۡنَ مَسۡلَمَةَ عَلَى حِمۡصَ، ثُمَّ
عَزَلَهُ وَوَلَّى عَبۡدَ اللهِ ابۡنَ قُرۡطٍ الثُّمَالِيَّ، ثُمَّ عَزَلَهُ،
وَوَلَّى عُبَادَةَ بۡنَ الصَّامِتِ، ثُمَّ عَزَلَهُ، وَرَدَّ عَبۡدَ اللهِ
ابۡنَ قُرۡطٍ. ثُمَّ وَقَعَ طَاعُونُ عَمۡوَاسَ، فَمَاتَ أَبُو عُبَيۡدَةَ،
وَاسۡتُخۡلِفَ مُعَاذٌ، وَمَاتَ مُعَاذٌ، وَاسۡتَخۡلَفَ يَزِيدَ بۡنَ أَبِي
سُفۡيَانَ، فَمَاتَ يَزِيدُ، وَاسۡتَخۡلَفَ أَخَاهُ مُعَاوِيَةَ فَأَقَرَّهُ
عُمَرُ.
Khalifah berkata: Ketika ‘Umar memegang kekuasaan, ia memberhentikan Khalid,
dan Abu ‘Ubaidah–ketika wilayah-wilayah Syam ditaklukkan–mengangkat Yazid bin
Abu Sufyan atas Palestina, Syurahbil bin Hasanah atas Yordania, Khalid bin
Al-Walid atas Damaskus, Habib bin Maslamah atas Homs; kemudian ia
memberhentikannya dan mengangkat ‘Abdullah bin Qurth Ats-Tsumali, kemudian
memberhentikannya dan mengangkat ‘Ubadah bin Ash-Shamit, kemudian
memberhentikannya dan kembali mengangkat ‘Abdullah bin Qurth. Kemudian
terjadilah Taun ‘Amwas, sehingga wafatlah Abu ‘Ubaidah, lalu Mu’adz diangkat
sebagai penggantinya, kemudian wafatlah Mu’adz, lalu Yazid bin Abu Sufyan
diangkat sebagai penggantinya, kemudian wafatlah Yazid. Ia telah menunjuk
saudaranya yaitu Mu’awiyah sebagai penggantinya dan ‘Umar menyetujuinya.
وَكَانَ مَوۡتُ أَبِي عُبَيۡدَةَ وَمُعَاذٍ وَيَزِيدَ فِي طَاعُونِ عَمۡوَاسَ،
وَكَانَ طَاعُونُ عَمۡوَاسَ بِأَرۡضِ الۡأُرۡدُنِّ وَفِلَسۡطِينَ سَنَةَ
ثَمَانِ عَشۡرَةَ، مَاتَ فِيهِ نَحۡوُ خَمۡسَةٍ وَعِشۡرِينَ أَلۡفًا.
وَيُقَالُ: إِنَّ عَمۡوَاسَ قَرۡيَةٌ بَيۡنَ الرَّمۡلَةِ وَبَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ.
وَقِيلَ: إِنَّ ذٰلِكَ كَانَ لِقَوۡلِهِمۡ عَمَّ وَاسٍ، ذَكَرَ ذٰلِكَ
الۡأَصۡمَعِيُّ، وَكَانَتۡ سِنُّ أَبِي عُبَيۡدَةَ يَوۡمَ تُوُفِّيَ ثَمَانِيًا
وَخَمۡسِينَ سَنَةً.
Wafatnya Abu ‘Ubaidah, Mu’adz, dan Yazid terjadi dalam Taun ‘Amwas. Taun
‘Amwas tersebut terjadi di bumi Yordania dan Palestina pada tahun 18 H, di
mana yang wafat di dalamnya sekitar dua puluh lima ribu orang. Ada yang
berkata: ‘Amwas adalah sebuah desa antara Ar-Ramlah dan Baitulmaqdis. Ada pula
yang berkata bahwa istilah ‘Amwas adalah dari ucapan mereka ‘amma wasa (merata
dan meluas). Hal itu disebutkan oleh Al-Ashma’i. Usia Abu ‘Ubaidah pada hari
beliau wafat adalah 58 tahun.
حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنَا قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا أَبُو
إِسۡمَاعِيلَ التِّرۡمِذِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡحَارِثِ،
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ، عَنۡ ثَابِتٍ، عَنۡ أَنَسٍ أَنَّ أَهۡلَ
نَجۡرَانَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، ابۡعَثۡ مَعَنَا أَمِينًا، فَأَخَذَ
بِيَدِ أَبِي عُبَيۡدَةَ وَقَالَ: (هٰذَا أَمِينُ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ).
Abdul-Warits telah menceritakan kepada kami: Qasim menceritakan kepada kami:
Abu Isma’il At-Tirmidzi menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Harits
menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami dari
Tsabit, dari Anas: Penduduk Najran berkata, “Wahai Rasulullah, utuslah bersama
kami orang yang tepercaya.”
Beliau memegang tangan Abu ‘Ubaidah dan bersabda, “Inilah orang yang
tepercaya dari umat ini.”
وَرُوِيَ ذٰلِكَ عَنۡ النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ وُجُوهٍ، مِنۡ حَدِيثِ حُذَيۡفَةَ
وَغَيۡرِهِ.
Hal tersebut diriwayatkan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari
berbagai jalur, dari hadis Hudzaifah dan selainnya.