تَفۡسِيرُ سُورَةِ وَالتِّينِ
وَهِيَ مَكِّيَّةٌ
Surah ini makiyah.
﷽
﴿وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيۡتُونِ * وَطُورِ سِينِينَ * وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ
ٱلۡأَمِينِ * لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ * ثُمَّ
رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ * إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟
ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ * فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ
بِٱلدِّينِ * أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
- Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
- dan demi bukit Sinai,
- dan demi kota (Makkah) ini yang aman,
-
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.
-
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
-
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi
mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
-
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah
(adanya keterangan-keterangan) itu?
- Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
١ ﴿ٱلتِّينِ﴾ هُوَ التِّينُ الۡمَعۡرُوفُ، وَكَذٰلِكَ ﴿ٱلزَّيۡتُونِ﴾
أَقۡسَمَ بِهَاتَيۡنِ الشَّجَرَتَيۡنِ لِكَثۡرَةِ مَنَافِعِ شَجَرِهِمَا
وَثَمَرِهِمَا، وَلِأَنَّ سُلۡطَانَهُمَا فِي أَرۡضِ الشَّامِ مَحَلِّ
نُبُوَّةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ.
“Tin” adalah buah tin yang sudah dikenal, demikian pula “Zaitun”. Allah
bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat dari pohon dan
buahnya, serta karena tempat tumbuh suburnya berada di tanah Syam, tempat
kenabian ‘Isa putra Maryam—‘alaihis-salam—.
٢ ﴿وَطُورِ سِينِينَ﴾ أَيۡ: طُورِ سَيۡنَاءَ مَحَلِّ نُبُوَّةِ مُوسَى
ﷺ.
“Demi bukit Sinai” yaitu Gunung Sinai, tempat kenabian Musa—shallallahu
‘alaihi wa sallam—.
٣ ﴿وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ﴾ وَهِيَ مَكَّةُ الۡمُكَرَّمَةُ مَحَلِّ
نُبُوَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ.
“Dan demi negeri yang aman ini” yaitu Makkah Al-Mukarramah, tempat kenabian
Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.
فَأَقۡسَمَ تَعَالَى بِهٰذِهِ الۡمَوَاضِعِ الۡمُقَدَّسَةِ الَّتِي
اخۡتَارَهَا وَابۡتَعَثَ مِنۡهَا أَفۡضَلَ النُّبُوَّاتِ وَأَشۡرَفَهَا.
Allah taala bersumpah dengan tempat-tempat suci ini, yang telah Dia pilih dan
menjadi tempat diutusnya para nabi yang paling utama dan paling mulia.
٤-٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ
أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ﴾ أَيۡ: تَامَّ الۡخَلۡقِ، مُتَنَاسِبَ الۡأَعۡضَاءِ،
مُنۡتَصِبَ الۡقَامَةِ، لَمۡ يَفۡقِدۡ مِمَّا يَحۡتَاجُ إِلَيۡهِ ظَاهِرًا أَوۡ
بَاطِنًا شَيۡئًا.
Adapun isi sumpahnya adalah firman-Nya, “Sungguh, Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” yaitu penciptaan yang sempurna,
anggota tubuh yang serasi, berpostur tegak, tidak kekurangan suatu apa pun
yang dibutuhkannya, baik lahir maupun batin.
وَمَعَ هٰذِهِ النِّعَمِ الۡعَظِيمَةِ الَّتِي يَنۡبَغِي مِنۡهُ الۡقِيَامُ
بِشُكۡرِهَا، فَأَكۡثَرُ الۡخَلۡقِ مُنۡحَرِفُونَ عَنۡ شُكۡرِ الۡمُنۡعِمِ،
مُشۡتَغِلُونَ بِاللَّهۡوِ وَاللَّعِبِ، قَدۡ رَضُوا لِأَنۡفُسِهِمۡ
بِأَسَافِلِ الۡأُمُورِ وَسَفۡسَافِ الۡأَخۡلَاقِ. فَرَدَّهُمُ اللهُ فِي
أَسۡفَلَ سَافِلِينَ؛ أَيۡ: أَسۡفَلَ النَّارِ، مَوۡضِعِ الۡعُصَاةِ
الۡمُتَمَرِّدِينَ عَلَى رَبِّهِمۡ، إِلَّا مَنۡ مَنَّ اللهُ عَلَيۡهِ
بِالۡإِيمَانِ، وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ، وَالۡأَخۡلَاقِ الۡفَاضِلَةِ
الۡعَالِيَةِ.
Namun, bersamaan nikmat-nikmat yang agung ini, yang semestinya disikapi dengan
bersyukur, mayoritas manusia justru berpaling dari bersyukur kepada Zat
Pemberi Nikmat. Mereka sibuk dengan kelalaian dan permainan, serta rida bagi
diri mereka perkara-perkara yang paling rendah dan akhlak yang hina. Allah pun
mengembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu bagian bawah
neraka, tempat bagi orang-orang maksiat yang membangkang kepada Rab mereka.
Kecuali orang yang Allah karuniai nikmat iman, amal saleh, serta akhlak yang
mulia dan luhur.
﴿فَلَهُمۡ﴾ بِذٰلِكَ الۡمَنَازِلُ الۡعَالِيَةُ، وَ﴿أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ﴾
أَيۡ: غَيۡرُ مَقۡطُوعٍ، بَلۡ لَذَّاتٌ مُتَوَافِرَةٌ، وَأَفۡرَاحٌ
مُتَوَاتِرَةٌ، وَنِعَمٌ مُتَكَاثِرَةٌ، فِي أَبَدٍ لَا يَزُولُ، وَنَعِيمٍ لَا
يَحُولُ، أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا.
“Maka mereka akan mendapat” dengan sebab hal itu kedudukan yang tinggi, dan
“pahala yang tidak putus-putusnya” yaitu tidak terputus, melainkan kelezatan
yang melimpah, kebahagiaan yang berkesinambungan, dan nikmat yang terus
bertambah, dalam keabadian yang tidak akan sirna dan kenikmatan yang tidak
akan beralih; buahnya tiada henti dan naungannya pun demikian.
٧ ﴿فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ﴾ أَيۡ: أَيُّ شَيۡءٍ يُكَذِّبُكَ
أَيُّهَا الۡإِنۡسَانُ بِيَوۡمِ الۡجَزَاءِ عَلَى الۡأَعۡمَالِ، وَقَدۡ
رَأَيۡتَ مِنۡ آيَاتِ اللهِ الۡكَثِيرَةِ مَا بِهِ يَحۡصُلُ لَكَ الۡيَقِينُ،
وَمِنۡ نِعَمِهِ مَا يُوجِبُ عَلَيۡكَ أَنۡ لَا تَكۡفُرَ بِشَيۡءٍ مِمَّا
أَخۡبَرَكَ بِهِ؟
“Maka apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari pembalasan
setelah adanya keterangan-keterangan itu?” Maksudnya, wahai manusia, hal
apakah yang membuatmu mendustakan hari pembalasan atas amal perbuatan, padahal
kamu telah melihat sekian banyak tanda kekuasaan Allah yang dapat membuahkan
keyakinan bagimu? Kamu pun telah melihat sebagian dari nikmat-nikmat-Nya yang
mengharuskanmu untuk tidak mengingkari sedikit pun dari apa yang Dia kabarkan
kepadamu.
٨ ﴿أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾ فَهَلۡ تَقۡتَضِي حِكۡمَتُهُ
أَنۡ يَتۡرُكَ الۡخَلۡقَ سُدًى لَا يُؤۡمَرُونَ وَلَا يُنۡهَوۡنَ، وَلَا
يُثَابُونَ وَلَا يُعَاقَبُونَ؟
“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” Maka apakah hikmah-Nya menghendaki
untuk membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan dilarang, serta
tanpa diberi pahala maupun disiksa?
أَمِ الَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ أَطۡوَارًا بَعۡدَ أَطۡوَارٍ، وَأَوۡصَلَ
إِلَيۡهِمۡ مِنَ النِّعَمِ وَالۡخَيۡرِ وَالۡبِرِّ مَا لَا يُحۡصُونَهُ،
وَرَبَّاهُمُ التَّرۡبِيَةَ الۡحَسَنَةَ، لَا بُدَّ أَنۡ يُعِيدَهُمۡ إِلَى
دَارٍ هِيَ مُسۡتَقَرُّهُمۡ وَغَايَتُهُمۡ، الَّتِي إِلَيۡهَا يَقۡصِدُونَ
وَنَحۡوَهَا يَؤُمُّونَ؟
Atau, bukankah Zat yang telah menciptakan manusia fase demi fase, mengalirkan
kepada mereka nikmat, kebaikan, serta kebajikan yang tidak dapat mereka
hitung, dan merawat mereka dengan perawatan yang baik, pasti akan
mengembalikan mereka ke suatu negeri yang menjadi tempat menetap dan tujuan
akhir mereka, yang kepadanya mereka menuju dan mengarah?
تَمَّتۡ، وَلِلهِ الۡحَمۡدُ.
Selesai dan segala puji hanya untuk Allah.