Cari Blog Ini

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 4991

٦ - صِفَةُ الۡإِيمَانِ وَالۡإِسۡلَامِ
6. Sifat Iman dan Islam


٤٩٩١ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ قُدَامَةَ، عَنۡ جَرِيرٍ، عَنۡ أَبِي فَرۡوَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، وَأَبِي ذَرٍّ، قَالَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجۡلِسُ بَيۡنَ ظَهۡرَانَىۡ أَصۡحَابِهِ، فَيَجِيءُ الۡغَرِيبُ، فَلَا يَدۡرِي أَيُّهُمۡ هُوَ؟ حَتَّى يَسۡأَلَ، فَطَلَبۡنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنۡ نَجۡعَلَ لَهُ مَجۡلِسًا يَعۡرِفُهُ الۡغَرِيبُ إِذَا أَتَاهُ، فَبَنَيۡنَا لَهُ دُكَّانًا مِنۡ طِينٍ، كَانَ يَجۡلِسُ عَلَيۡهِ، وَإِنَّا لَجُلُوسٌ، وَرَسُولُ اللهِ ﷺ فِي مَجۡلِسِهِ، إِذۡ أَقۡبَلَ رَجُلٌ أَحۡسَنُ النَّاسِ وَجۡهًا، وَأَطۡيَبُ النَّاسِ رِيحًا؛ كَأَنَّ ثِيَابَهُ لَمۡ يَمَسَّهَا دَنَسٌ، حَتَّى سَلَّمَ فِي طَرَفِ الۡبِسَاطِ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيۡكَ يَا مُحَمَّدُ! فَرَدَّ عَلَيۡهِ السَّلَامَ، قَالَ: أَدۡنُو يَا مُحَمَّدُ؟! قَالَ: (ادۡنُهۡ) فَمَا زَالَ يَقُولُ: أَدۡنُو - مِرَارًا -، وَيَقُولُ لَهُ: (ادۡنُ). حَتَّى وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رُكۡبَتَيۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخۡبِرۡنِي: مَا الۡإِسۡلَامُ؟ قَالَ: (الۡإِسۡلَامُ: أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ، وَلَا تُشۡرِكَ بِهِ شَيۡئًا، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَحُجَّ الۡبَيۡتَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ)، قَالَ: إِذَا فَعَلۡتُ ذٰلِكَ؛ فَقَدۡ أَسۡلَمۡتُ؟! قَالَ: (نَعَمۡ)، قَالَ: صَدَقۡتَ. فَلَمَّا سَمِعۡنَا قَوۡلَ الرَّجُلِ: صَدَقۡتَ؛ أَنۡكَرۡنَاهُ؟؛ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخۡبِرۡنِي: مَا الۡإِيمَانُ؟ قَالَ: (الۡإِيمَانُ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَالۡكِتَابِ، وَالنَّبِيِّينَ، وَتُؤۡمِنُ بِالۡقَدَرِ). قَالَ: فَإِذَا فَعَلۡتُ ذٰلِكَ فَقَدۡ آمَنۡتُ؟! قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَعَمۡ)، قَالَ: صَدَقۡتَ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخۡبِرۡنِي: مَا الۡإِحۡسَانُ؟ قَالَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ؛ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)، قَالَ: صَدَقۡتَ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخۡبِرۡنِي مَتَى السَّاعَةُ؟! قَالَ: فَنَكَسَ، فَلَمۡ يُجِبۡهُ شَيۡئًا، ثُمَّ أَعَادَ، فَلَمۡ يُجِبۡهُ شَيۡئًا، ثُمَّ أَعَادَ، فَلَمۡ يُجِبۡهُ شَيۡئًا، وَرَفَعَ رَأۡسَهُ؛ فَقَالَ: (مَا الۡمَسۡئُولُ عَنۡهَا بِأَعۡلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنۡ لَهَا عَلَامَاتٌ تُعۡرَفُ بِهَا: إِذَا رَأَيۡتَ الرِّعَاءَ الۡبُهُمَ يَتَطَاوَلُونَ فِي الۡبُنۡيَانِ، وَرَأَيۡتَ الۡحُفَاةَ الۡعُرَاةَ مُلُوكَ الۡأَرۡضِ، وَرَأَيۡتَ الۡمَرۡأَةَ تَلِدُ رَبَّهَا؛ خَمۡسٌ لَا يَعۡلَمُهَا إِلَّا اللهُ: ﴿إِنَّ اللهَ عِنۡدَهُ عِلۡمُ السَّاعَةِ ...﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾) ثُمَّ قَالَ: (لَا وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالۡحَقِّ هُدًى وَبَشِيرًا؛ مَا كُنۡتُ بِأَعۡلَمَ بِهِ مِنۡ رَجُلٍ مِنۡكُمۡ، وَإِنَّهُ لَجِبۡرِيلُ - عَلَيۡهِ السَّلَامُ -؛ نَزَلَ فِي صُورَةِ دِحۡيَةَ الۡكَلۡبِيِّ). [(إرواء الغليل)(١/٣٣)، في نحوه دون ذكر دحية].

4991. [Sahih] Muhammad bin Qudamah telah mengabarkan kepada kami dari Jarir, dari Abu Farwah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah dan Abu Dzar. Keduanya berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu biasa duduk di antara para sahabatnya, lalu datanglah orang asing dan ia tidak mengetahui yang manakah beliau di antara mereka sampai ia bertanya. Maka kami meminta persetujuan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar kami membuatkan tempat duduk untuk beliau yang dapat dikenali oleh orang asing apabila mendatanginya. Lalu kami membangun sebuah tempat duduk tinggi dari tanah liat untuk beliau yang biasa beliau gunakan untuk duduk.

Tatkala kami sedang duduk-duduk dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berada di tempat duduknya, tiba-tiba datanglah seorang pria yang paling tampan wajahnya dan paling wangi aromanya, seolah-olah pakaiannya tidak pernah tersentuh oleh kotoran sedikit pun, hingga ia mengucapkan salam di tepi hamparan (tikar), ia berkata, “As-Salamu ‘alaika, wahai Muhammad.”

Beliau pun menjawab salamnya. Pria itu berkata, “Bolehkah aku mendekat, wahai Muhammad?”

Beliau menjawab, “Mendekatlah.”

Pria itu terus-menerus meminta izin untuk mendekat beberapa kali, dan beliau selalu berkata kepadanya, “Mendekatlah.”

Hingga ia meletakkan tangannya di atas kedua lutut Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Pria itu berkata, “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apakah Islam itu?”

Beliau menjawab, “Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan.”

Pria itu berkata, “Jika aku telah melakukan hal itu, apakah aku telah masuk Islam?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Pria itu berkata, “Kamu benar.”

Ketika kami mendengar perkataan pria itu “Kamu benar”, kami merasa heran dengannya.

Pria itu berkata, “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apakah iman itu?”

Beliau menjawab, “Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab, para nabi, dan kamu beriman kepada takdir.”

Pria itu berkata, “Lalu jika aku telah melakukan hal itu, apakah aku telah beriman?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjawab, “Ya.”

Pria itu berkata, “Kamu benar.”

Pria itu berkata, “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apakah ihsan itu?”

Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Pria itu berkata, “Kamu benar.”

Pria itu berkata, “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku kapankah hari kiamat itu?”

Beliau menundukkan kepala dan tidak memberikan jawaban sedikit pun kepadanya. Kemudian pria itu mengulanginya, dan beliau tetap tidak memberikan jawaban sedikit pun. Kemudian pria itu mengulanginya lagi, dan beliau tetap tidak memberikan jawaban sedikit pun. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda, “Tidaklah orang yang ditanya mengenainya lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi, hari kiamat memiliki tanda-tanda yang dengannya ia dapat dikenali; yaitu jika kamu melihat para penggembala ternak yang bodoh saling berlomba meninggikan bangunan, jika kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian menjadi raja-raja di bumi, dan jika kamu melihat seorang wanita melahirkan tuannya. Ada lima hal yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: ‘Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat,’ sampai firman-Nya ‘Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’.” (QS Luqman: 34)

Kemudian beliau bersabda, “Tidak, demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran sebagai petunjuk dan pembawa kabar gembira, tidaklah aku lebih tahu tentang hal itu daripada salah seorang dari kalian. Dan sesungguhnya dia adalah Jibril—‘alaihis-salam—yang turun dalam rupa Dihyah Al-Kalbi.”

Musnad Ahmad hadis nomor 12611

١٢٦١١ (١٢٥٨٣) - حَدَّثَنَا الۡحَكَمُ بۡنُ مُوسَى (قَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ عَبۡدُ اللهِ: وَسَمِعۡتُهُ أَنَا مِنَ الۡحَكَمِ بۡنِ مُوسَى) حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ أَبِي الرِّجَالِ، عَنِ نُبَيۡطِ بۡنِ (عُمَرَ)، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنۡ صَلَّى فِي مَسۡجِدِي أَرۡبَعِينَ صَلَاةً لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتۡ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الۡعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ.

12611. (12583). Al-Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami. (Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah berkata. Aku pun mendengarnya dari Al-Hakam bin Musa): ‘Abdurrahman bin Abu Ar-Rijal menceritakan kepada kami dari Nubaith bin ‘Umar, dari Anas bin Malik, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa salat di masjidku empat puluh salat, tidak ada satu salat pun yang terlewatkan darinya, maka dicatat baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari azab, dan terbebas dari kemunafikan.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4551

٤٥٥١ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، هُوَ ابۡنُ أَبِي هَاشِمٍ: سَمِعَ هُشَيۡمًا: أَخۡبَرَنَا الۡعَوَّامُ بۡنُ حَوۡشَبٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي أَوۡفَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَجُلًا أَقَامَ سِلۡعَةً فِي السُّوقِ، فَحَلَفَ فِيهَا: لَقَدۡ أَعۡطَى بِهَا مَا لَمۡ يُعۡطِهِ، لِيُوقِعَ فِيهَا رَجُلًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، فَنَزَلَتۡ: ‏﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ اللهِ وَأَيۡمَانِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا﴾ إِلَى آخِرِ الۡآيَةِ‏.‏ [طرفه في: ٢٠٨٨].

4551. ‘Ali bin Abu Hasyim telah menceritakan kepada kami: Ia mendengar Husyaim (berkata): Al-‘Awwam bin Hausyab mengabarkan kepada kami dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman, dari ‘Abdullah bin Abu Aufa—radhiyallahu ‘anhuma—:

Seorang pria menawarkan barang dagangan di pasar, lalu ia bersumpah palsu mengenai barang tersebut bahwa ia telah ditawar dengan harga yang belum pernah diberikan kepadanya, dengan maksud menjebak seorang pria dari kaum muslimin untuk membeli barang tersebut. Maka turunlah ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah …” sampai akhir ayat. (QS Ali Imran: 77).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2675

٢٥ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَأَيۡمَٰنِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا أُو۟لَٰٓئِكَ لَا خَلَٰقَ لَهُمۡ فِى ٱلۡـَٔاخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيۡهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ [آل عمران: ٧٧]
25. Bab Firman Allah Taala: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah, mereka itu tidak mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka serta tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak pula akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (QS Ali Imran: 77)


٢٦٧٥ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ: أَخۡبَرَنَا الۡعَوَّامُ قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ أَبُو إِسۡمَاعِيلَ السَّكۡسَكِيُّ: سَمِعَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أَبِي أَوۡفَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: أَقَامَ رَجُلٌ سِلۡعَتَهُ، فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدۡ أَعۡطَى بِهَا مَا لَمۡ يُعۡطِهَا، فَنَزَلَتۡ: ‏﴿إِنَّ الَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ اللهِ وَأَيۡمَانِهِمۡ ثَمَنًا قَلِيلًا﴾ [آل عمران: ٧٧] وَقَالَ ابۡنُ أَبِي أَوۡفَى: النَّاجِشُ آكِلُ رِبًا خَائِنٌ. [طرفه في: ٢٠٨٨].

2675. Ishaq telah menceritakan kepadaku: Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami: Al-‘Awwam mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ibrahim Abu Isma’il As-Saksaki menceritakan kepadaku: Ia mendengar ‘Abdullah bin Abu Aufa—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Seorang laki-laki menawarkan barang dagangannya, lalu ia bersumpah demi Allah bahwa ia sungguh telah ditawar dengan harga tertentu yang sebenarnya belum pernah ditawarkan kepadanya, maka turunlah ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah …” (QS Ali Imran: 77). Dan Ibnu Abu Aufa berkata: Pelaku najsy (orang yang merekayasa penawaran) adalah pemakan riba yang khianat.

Musnad Ahmad hadis nomor 184

١٨٤ - قَرَأۡتُ عَلَى يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ: عُثۡمَانُ بۡن غِيَاثٍ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ بُرَيۡدَةَ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ يَعۡمَرَ، وَحُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ الۡحِمۡيَرِيِّ، قَالَا:

184. Aku membacakan kepada Yahya bin Sa’id: ‘Utsman bin Ghiyats (berkata): ‘Abdullah bin Buraidah menceritakan kepadaku dari Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin ‘Abdurrahman Al-Himyari. Keduanya berkata:

لَقِينَا عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ، فَذَكَرۡنَا الۡقَدَرَ، وَمَا يَقُولُونَ فِيهِ، فَقَالَ: إِذَا رَجَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ، فَقُولُوا: إِنَّ ابۡنَ عُمَرَ مِنۡكُمۡ بَرِيءٌ، وَأَنۡتُمۡ مِنۡهُ بُرَآءُ، ثَلاثَ مِرَارٍ، ثُمَّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، أَنَّهُمۡ بَيۡنَا هُمۡ جُلُوسٌ، أَوۡ قُعُودٌ، عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، جَاءَهُ رَجُلٌ يَمۡشِي حَسَنُ الۡوَجۡهِ، حَسَنُ الشَّعۡرِ، عَلَيۡهِ ثِيَابُ بَيَاضٍ، فَنَظَرَ الۡقَوۡمُ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ، مَا نَعۡرِفُ هٰذَا، وَمَا هٰذَا بِصَاحِبِ سَفَرٍ،

Kami bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Umar, lalu kami menyebutkan tentang takdir dan apa yang orang-orang bicarakan mengenainya. Maka Ibnu ‘Umar berkata, “Jika kalian kembali kepada mereka, katakanlah: ‘Sesungguhnya Ibnu ‘Umar berlepas diri dari kalian dan kalian pun berlepas diri darinya’ —tiga kali—.”

Kemudian Ibnu ‘Umar berkata: ‘Umar bin Al-Khaththab mengabarkan kepadaku bahwa tatkala mereka sedang duduk-duduk di dekat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, datanglah seorang pria berjalan kaki, berwajah tampan, berambut indah, dan mengenakan pakaian yang sangat putih. Orang-orang saling memandang satu sama lain (seraya berkata), “Kami tidak mengenal orang ini, namun dia juga bukan seorang musafir.”

ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، آتِيكَ؟ قَالَ: نَعَمۡ، فَجَاءَ فَوَضَعَ رُكۡبَتَيۡهِ عِنۡدَ رُكۡبَتَيۡهِ، وَيَدَيۡهِ عَلَى فَخِذَيۡهِ، فَقَالَ: مَا الۡإِسۡلَامُ؟ قَالَ: شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمُ الصَّلاةَ، وَتُؤۡتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الۡبَيۡتَ، قَالَ: فَمَا الۡإِيمَانُ؟ قَالَ: أَنۡ تُؤۡمِنَ بِاللهِ وَمَلائِكَتِهِ، وَالۡجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَالۡبَعۡثِ بَعۡدَ الۡمَوۡتِ، وَالۡقَدَرِ كُلِّهِ، قَالَ: فَمَا الۡإِحۡسَانُ؟ قَالَ: أَنۡ تَعۡمَلَ لِلهِ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: فَمَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَا الۡمَسۡئُولُ عَنۡهَا بِأَعۡلَمَ مِنَ السَّائِلِ، قَالَ: فَمَا أَشۡرَاطُهَا؟ قَالَ: إِذَا الۡعُرَاةُ الۡحُفَاةُ الۡعَالَةُ رِعَاءُ الشَّاءِ تَطَاوَلُوا فِي الۡبُنۡيَانِ، وَوَلَدَتِ الۡإِمَاءُ أَرۡبَابَهُنَّ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: عَلَيَّ الرَّجُلَ، فَطَلَبُوهُ فَلَمۡ يَرَوۡا شَيۡئًا، فَمَكَثَ يَوۡمَيۡنِ، أَوۡ ثَلاثَةً، ثُمَّ قَالَ: يَا ابۡنَ الۡخَطَّابِ، أَتَدۡرِي مَنِ السَّائِلُ عَنۡ كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ، قَالَ: ذَاكَ جِبۡرِيلُ جَاءَكُمۡ يُعَلِّمُكُمۡ دِينَكُمۡ.

Pria itu kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mendekatimu?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Maka pria itu datang lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha beliau, lalu bertanya, “Apakah Islam itu?”

Beliau menjawab, “Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah iman itu?”

Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, janah, neraka, hari kebangkitan setelah kematian, dan takdir seluruhnya.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah ihsan itu?”

Beliau menjawab, “Kamu beramal karena Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu kapankah hari kiamat itu?”

Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya mengenainya lebih tahu daripada orang yang bertanya.”

Pria itu bertanya lagi, “Lalu apakah tanda-tandanya?”

Beliau menjawab, “Jika orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan miskin, yaitu para penggembala kambing, saling berlomba meninggikan bangunan, dan jika budak wanita melahirkan tuannya.”

Ibnu ‘Umar berkata: Kemudian Rasulullah berkata, “Bawa pria itu kembali kepadaku!”

Mereka pun mencarinya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Beliau lalu berdiam selama dua atau tiga hari, kemudian berkata, “Wahai Ibnu Al-Khaththab, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tentang ini dan itu?”

‘Umar menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau berkata, “Itu adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”

قَالَ: وَسَأَلَهُ رَجُلٌ مِنۡ جُهَيۡنَةَ أَوۡ من مُزَيۡنَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ فِيمَ نَعۡمَلُ، أَفِي شَيۡءٍ قَدۡ خَلا أَوۡ مَضَى، أَوۡ فِي شَيۡءٍ يُسۡتَأۡنَفُ الۡآنَ؟ قَالَ: فِي شَيۡءٍ قَدۡ خَلا، أَوۡ مَضَى، فَقَالَ رَجُلٌ، أَوۡ بَعۡضُ الۡقَوۡمِ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِيمَ نَعۡمَلُ؟ قَالَ: أَهۡلُ الۡجَنَّةِ، يُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، وَأَهۡلُ النَّارِ يُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهۡلِ النَّارِ.

Ibnu ‘Umar berkata: Dan seorang pria dari kabilah Juhainah atau Muzainah bertanya kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, untuk apa kita beramal? Apakah semua ini terjadi sesuai takdir yang telah berlalu atau telah ditetapkan di masa lalu, ataukah takdir baru akan ditetapkan sekarang?”

Beliau menjawab, “Sesuai takdir yang telah berlalu atau telah ditetapkan di masa lalu.”

Maka pria itu—atau sebagian orang—bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal?”

Beliau menjawab, “Penduduk janah akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penduduk janah, dan penduduk neraka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penduduk neraka.”

قَالَ: يَحۡيَى قَالَ: هُوَ كَذَا.

Perawi berkata: Yahya berkata: Demikianlah hadisnya.