Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4781

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿صَيَاصِيهِمۡ﴾ [٢٦] قُصُورِهِمۡ. ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾.

Mujahid berkata: “Shayashihim” (QS Al-Ahzab: 26) maksudnya adalah benteng-benteng mereka. “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.”

٤٧٨١ - حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُلَيۡحٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ هِلَالِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي عَمۡرَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُؤۡمِنٍ إِلَّا وَأَنَا أَوۡلَى النَّاسِ بِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، اقۡرَءُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ: ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾ [٦]. فَأَيُّمَا مُؤۡمِنٍ تَرَكَ مَالًا فَلۡيَرِثۡهُ عَصَبَتُهُ مَنۡ كَانُوا، فَإِنۡ تَرَكَ دَيۡنًا أَوۡ ضِيَاعًا فَلۡيَأۡتِنِي وَأَنَا مَوۡلَاهُ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

4781. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Fulaih menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Hilal bin ‘Ali, dari ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang mukmin pun melainkan aku adalah orang yang paling berhak atas dirinya di dunia dan akhirat. Bacalah oleh kalian jika kalian mau: ‘Nabi itu lebih utama (berhak) bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri’ (QS Al-Ahzab: 6). Siapa saja orang mukmin yang meninggalkan harta, hendaklah ‘ashabah-nya mewarisinya, siapa pun mereka. Namun jika dia meninggalkan utang atau keluarga yang terlantar, hendaklah dia mendatangi aku, karena akulah pengurusnya (maula-nya)."

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2399

٢٣٩٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ: حَدَّثَنَا فُلَيۡحٌ، عَنۡ هِلَالِ بۡنِ عَلِيٍّ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي عَمۡرَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مَا مِنۡ مُؤۡمِنٍ إِلَّا وَأَنَا أَوۡلَى بِهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، اقۡرَأُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ: ﴿النَّبِيُّ أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ﴾ [الأحزاب: ٦] فَأَيُّمَا مُؤۡمِنٍ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا فَلۡيَرِثۡهُ عَصَبَتُهُ مَنۡ كَانُوا، وَمَنۡ تَرَكَ دَيۡنًا أَوۡ ضَيَاعًا فَلۡيَأۡتِنِي، فَأَنَا مَوۡلَاهُ). [طرفه في: ٢٢٩٨].

2399. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Amir menceritakan kepada kami: Fulaih menceritakan kepada kami dari Hilal bin ‘Ali, dari ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada seorang mukmin pun melainkan aku lebih berhak atas dirinya di dunia dan akhirat. Bacalah oleh kalian jika kalian mau: ‘Nabi itu lebih utama (berhak) bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri’ (QS Al-Ahzab: 6). Jadi siapa saja orang mukmin yang meninggal dunia dan meninggalkan harta, hendaklah ‘ashabah-nya (kerabat dari jalur laki-laki) mewarisinya, siapa pun mereka. Barang siapa meninggalkan utang atau keluarga yang terlantar, hendaklah dia mendatangi aku, karena akulah pengurusnya (maula-nya).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2398

١١ - بَابُ الصَّلَاةِ عَلَى مَنۡ تَرَكَ دَيۡنًا
11. Bab Salat atas Orang yang Meninggalkan Utang


٢٣٩٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ، وَمَنۡ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيۡنَا). [طرفه في: ٢٢٩٨].

2398. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Barang siapa meninggalkan harta, maka harta itu untuk para ahli warisnya. Barang siapa meninggalkan tanggungan, maka perkaranya diserahkan kepada kami.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4383

٧٥ - بَابٌ قِصَّةُ عُمَانَ وَالۡبَحۡرَيۡنِ
75. Bab Kisah Oman dan Bahrain


٤٣٨٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: سَمِعَ ابۡنُ الۡمُنۡكَدِرِ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ قَدۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ لَقَدۡ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا) ثَلَاثًا، فَلَمۡ يَقۡدَمۡ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَلَمَّا قَدِمَ عَلَى أَبِي بَكۡرٍ أَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ دَيۡنٌ أَوۡ عِدَةٌ فَلۡيَأۡتِنِي، قَالَ جَابِرٌ: فَجِئۡتُ أَبَا بَكۡرٍ فَأَخۡبَرۡتُهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ (لَوۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا) ثَلَاثًا، قَالَ: فَأَعۡطَانِي. قَالَ جَابِرٌ: فَلَقِيتُ أَبَا بَكۡرٍ بَعۡدَ ذٰلِكَ فَسَأَلۡتُهُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُهُ الثَّالِثَةَ فَلَمۡ يُعۡطِنِي، فَقُلۡتُ لَهُ: قَدۡ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، ثُمَّ أَتَيۡتُكَ فَلَمۡ تُعۡطِنِي، فَإِمَّا أَنۡ تُعۡطِيَنِي وَإِمَّا أَنۡ تَبۡخَلَ عَنِّي، فَقَالَ: أَقُلۡتَ تَبۡخَلُ عَنِّي؟ وَأَيُّ دَاءٍ أَدۡوَأُ مِنَ الۡبُخۡلِ، قَالَهَا ثَلَاثًا، مَا مَنَعۡتُكَ مِنۡ مَرَّةٍ إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنۡ أُعۡطِيَكَ.

وَعَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَلِيٍّ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: جِئۡتُهُ، فَقَالَ لِي أَبُو بَكۡرٍ: عُدَّهَا، فَعَدَدۡتُهَا. فَوَجَدۡتُهَا خَمۡسَمِائَةٍ، فَقَالَ: خُذۡ مِثۡلَهَا مَرَّتَيۡنِ. [طرفه في: ٢٢٩٦].

4383. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Ibnu Al-Munkadir mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadaku, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini (sebanyak tiga kali).”

Namun harta dari Bahrain itu tidak kunjung datang hingga Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Ketika harta itu tiba di hadapan Abu Bakr, beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan, “Barang siapa memiliki piutang atau janji di sisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah dia mendatangiku.”

Jabir berkata: Maka aku mendatangi Abu Bakr dan mengabarkan kepada beliau bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berkata, “Seandainya harta dari Bahrain telah datang, niscaya aku memberikanmu begini, begini, dan begini (sebanyak tiga kali).”

Jabir berkata: Abu Bakr pun memberiku.

Jabir berkata: Kemudian aku menemui Abu Bakr setelah itu dan meminta kepada beliau, tetapi beliau belum memberiku. Lalu aku mendatangi beliau, tetapi beliau belum memberiku. Lalu aku mendatangi beliau untuk ketiga kalinya, tetapi beliau belum memberiku. Aku berkata kepada beliau, “Aku telah mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku, lalu aku mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku, kemudian aku mendatangi engkau tetapi engkau belum memberiku. Putuskan saja: engkau akan memberiku atau engkau bersikap kikir kepadaku.”

Abu Bakr berkata, “Apakah engkau katakan ‘bersikap kikir kepadaku’? Penyakit mana yang lebih berbahaya daripada sifat kikir?”—beliau mengucapkannya tiga kali—"Tidaklah aku menahannya darimu satu kali pun melainkan aku berniat untuk memberimu.”

Dari ‘Amr, dari Muhammad bin ‘Ali: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata: Aku mendatangi beliau, lalu Abu Bakr berkata kepadaku, “Hitunglah ini.”

Aku pun menghitungnya dan mendapatinya berjumlah lima ratus, lalu beliau berkata, “Ambillah yang semisalnya dua kali lagi.”

Sunan Abu Dawud hadis nomor 4170

٤١٧٠ - (صحيح) حَدَّثَنَا ابۡنُ السَّرۡحِ، ثنا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ أُسَامَةَ، عَنۡ أَبَانَ بۡنِ صَالِحٍ، عَنۡ مُجَاهِدِ بۡنِ جَبۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لُعِنَتِ الۡوَاصِلَةُ وَالۡمُسۡتَوۡصِلَةُ، وَالنَّامِصَةُ وَالۡمُتَنَمِّصَةُ، وَالۡوَاشِمَةُ وَالۡمُسۡتَوۡشِمَةُ، مِنۡ غَيۡرِ دَاءٍ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَتَفۡسِيرُ الۡوَاصِلَةِ: الَّتِي تَصِلُ الشَّعۡرَ بِشَعۡرِ النِّسَاءِ، وَالۡمُسۡتَوۡصِلَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا، وَالنَّامِصَةُ: الَّتِي تَنۡقُشُ الۡحَاجِبَ حَتَّى تَرِقَّهُ، وَالۡمُتَنَمِّصَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا، وَالۡوَاشِمَةُ: الَّتِي تَجۡعَلُ الۡخِيلَانَ فِي وَجۡهِهَا بِكُحۡلٍ أَوۡ مِدَادٍ، وَالۡمُسۡتَوۡشِمَةُ: الۡمَعۡمُولُ بِهَا. [(غاية المرام)(٩٥)].

4170. [Sahih] Ibnu As-Sarh telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami dari Usamah, dari Aban bin Shalih, dari Mujahid bin Jabr, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata: Wanita yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambutnya, wanita yang mencabut bulu alis dan yang meminta dicabutkan bulu alisnya, serta wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato dilaknat tanpa adanya penyakit.

Abu Dawud berkata: Tafsir al-washilah adalah: wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain; al-mustaushilah adalah: wanita yang disambungkan rambutnya; an-namishah adalah: wanita yang merapikan/mengukir alis hingga menjadi tipis; al-mutanammishah adalah: wanita yang dicabutkan/ditipiskan bulu alisnya; al-wasyimah adalah: wanita yang membuat bintik tato pada wajahnya dengan celak atau tinta; dan al-mustausyimah adalah: wanita yang dibuatkan tato.