Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2366 dan 2367

١١ - بَابُ مَنۡ رَأَى أَنَّ صَاحِبَ الۡحَوۡضِ وَالۡقِرۡبَةِ أَحَقُّ بِمَائِهِ
11. Bab Barang Siapa Berpendapat bahwa Pemilik Kolam dan Wadah Air Lebih Berhak atas Airnya


٢٣٦٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقَدَحٍ فَشَرِبَ، وَعَنۡ يَمِينِهِ غُلَامٌ هُوَ أَحۡدَثُ الۡقَوۡمِ، وَالۡأَشۡيَاخُ عَنۡ يَسَارِهِ، قَالَ: (يَا غُلَامُ، أَتَأۡذَنُ لِي أَنۡ أُعۡطِيَ الۡأَشۡيَاخَ؟) فَقَالَ: مَا كُنۡتُ لِأُوثِرَ بِنَصِيبِي مِنۡكَ أَحَدًا يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَعۡطَاهُ إِيَّاهُ. [طرفه في: ٢٣٥١].

2366. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dibawakan sebuah wadah minuman, lalu beliau meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda yang merupakan orang paling muda di antara kaum yang hadir, sedangkan para orang tua berada di sebelah kiri beliau. Beliau bertanya, “Wahai anak muda, apakah engkau mengizinkanku untuk memberikan (minuman ini) kepada para orang tua terlebih dahulu?”

Anak muda itu menjawab, “Aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun, wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun memberikan wadah minuman itu kepadanya.

٢٣٦٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ زِيَادٍ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَأَذُودَنَّ رِجَالًا عَنۡ حَوۡضِي، كَمَا تُذَادُ الۡغَرِيبَةُ مِنَ الۡإِبِلِ عَنِ الۡحَوۡضِ).

2367. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad: Aku mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan mengusir sekelompok orang dari telagaku sebagaimana unta asing diusir dari telaga.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2365

٢٣٦٥ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (عُذِّبَتِ امۡرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتۡهَا حَتَّى مَاتَتۡ جُوعًا، فَدَخَلَتۡ فِيهَا النَّارَ). قَالَ: فَقَالَ وَاللهُ أَعۡلَمُ: (لَا أَنۡتِ أَطۡعَمۡتِيهَا وَلَا سَقَيۡتِيهَا حِينَ حَبَسۡتِيهَا، وَلَا أَنۡتِ أَرۡسَلۡتِيهَا فَأَكَلَتۡ مِنۡ خَشَاشِ الۡأَرۡضِ). [الحديث ٢٣٦٥ - طرفاه في: ٣٣١٨، ٣٤٨٢].

2365. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati kelaparan, lalu wanita itu masuk ke dalam neraka karenanya.” Nabi berkata: Lalu Allah berkata, dan Allah yang lebih mengetahui—, “Kamu tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum ketika kamu mengurungnya, dan kamu tidak pula melepaskannya sehingga ia dapat memakan binatang kecil yang ada di tanah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2362

٩ - بَابُ شُرۡبِ الۡأَعۡلَى إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ
9. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi hingga Setinggi Dua Mata Kaki


٢٣٦٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا مَخۡلَدٌ قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ بۡنِ الزُّبَيۡرِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ فِي شِرَاجٍ مِنَ الۡحَرَّةِ يَسۡقِي بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ - فَأَمَرَهُ بِالۡمَعۡرُوفِ - ثُمَّ أَرۡسِلۡ إِلَى جَارِكَ). فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: آنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ، حَتَّى يَرۡجِعَ الۡمَاءُ إِلَى الۡجَدۡرِ). وَاسۡتَوۡعَى لَهُ حَقَّهُ، فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: وَاللهِ إِنَّ هٰذِهِ الۡآيَةَ أُنۡزِلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ﴿فَلَا وَرَبِّكِ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥]. قَالَ لِي ابۡنُ شِهَابٍ: فَقَدَّرَتِ الۡأَنۡصَارُ وَالنَّاسُ قَوۡلَ النَّبِيِّ ﷺ: (اسۡقِ ثُمَّ احۡبِسۡ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ) وَكَانَ ذٰلِكَ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ. [طرفه في: ٢٣٦٠].

2362. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Makhlad mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwasanya ia menceritakan kepadanya:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair mengenai saluran-saluran air dari bukit batu yang ia gunakan untuk mengairi pohon kurma. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair—beliau memerintahkannya dengan cara yang makruf—kemudian alirkanlah kepada tetanggamu.”

Orang Ansar itu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) kemudian bendunglah sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah!”

Beliau memenuhi hak Az-Zubair secara utuh. Az-Zubair berkata: Demi Allah, sesungguhnya ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Ibnu Syihab berkata kepadaku: Maka orang-orang Ansar dan manusia mengukur sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Airilah (kebunmu) kemudian bendunglah sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah,” dan batasan tersebut adalah hingga setinggi dua mata kaki.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2361

٨ - بَابُ شُرۡبِ الۡأَعۡلَى قَبۡلَ الۡأَسۡفَلِ
8. Bab Pengairan Lahan yang Lebih Tinggi Sebelum Lahan yang Lebih Rendah


٢٣٦١ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ قَالَ: خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ رَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا زُبَيۡرُ، اسۡقِ ثُمَّ أَرۡسِلۡ). فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: إِنَّهُ ابۡنُ عَمَّتِكَ، فَقَالَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، حَتَّى يَبۡلُغَ الۡمَاءُ الۡجَدۡرَ، ثُمَّ أَمۡسِكۡ). فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: فَأَحۡسِبُ هٰذِهِ الۡآيَةَ نَزَلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾‏ [النساء: ٦٥]. [طرفه في: ٢٣٦٠].

2361. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah. Ia berkata:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair. Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai Zubair, airilah (kebunmu) kemudian alirkanlah!”

Orang Ansar itu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Maka beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, sampai air menggenang setinggi dinding pembatas tanah, lalu tahanlah!”

Az-Zubair berkata: Maka aku mengira ayat berikut ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2359 dan 2360

٧ - بَابُ سَكۡرِ الۡأَنۡهَارِ
7. Bab Membendung Sungai-Sungai


٢٣٥٩، ٢٣٦٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ شِهَابٍ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الزُّبَيۡرِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَنَّهُ حَدَّثَهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ، خَاصَمَ الزُّبَيۡرَ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فِي شِرَاجِ الۡحَرَّةِ الَّتِي يَسۡقُونَ بِهَا النَّخۡلَ، فَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: سَرِّحِ الۡمَاءَ يَمُرُّ، فَأَبَى عَلَيۡهِ، فَاخۡتَصَمَا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلزُّبَيۡرِ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ أَرۡسِلِ الۡمَاء إِلَى جَارِكَ). فَغَضِبَ الۡأَنۡصَارِيُّ فَقَالَ: أَنۡ كَانَ ابۡنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجۡهُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡقِ يَا زُبَيۡرُ، ثُمَّ احۡبِسِ الۡمَاءَ حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَى الۡجَدۡرِ). فَقَالَ الزُّبَيۡرُ: وَاللهِ إِنِّي لَأَحۡسِبُ هٰذِهِ الۡآيَةَ نَزَلَتۡ فِي ذٰلِكَ: ‏﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ﴾ [النساء: ٦٥]. قَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَبَّاسِ: قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: لَيۡسَ أَحَدٌ يَذۡكُرُ عُرۡوَةَ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ إِلَّا اللَّيۡثُ فَقَطۡ.

[الحديث ٢٣٦٠ - أطرافه في: ٢٣٦١، ٢٣٦٢، ٢٧٠٨، ٤٥٨٥].

2359, 2360. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Syihab menceritakan kepadaku dari ‘Urwah, dari ‘Abdullah bin Az-Zubair—radhiyallahu 'anhuma—bahwasanya ia menceritakan kepadanya:

Ada seorang laki-laki dari kalangan Ansar berselisih dengan Az-Zubair di hadapan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengenai saluran air bukit batu yang mereka gunakan untuk mengairi pohon kurma. Orang Ansar itu berkata, “Lepaskanlah air itu agar mengalir,” tetapi Az-Zubair menolaknya.

Maka keduanya mengadukan perselisihan ini kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Az-Zubair, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian alirkanlah air itu kepada tetanggamu.”

Orang Ansar itu pun marah lalu berkata, “Apakah karena ia adalah anak bibimu?”

Berubahlah warna wajah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kemudian beliau bersabda, “Airilah (kebunmu) wahai Zubair, kemudian bendunglah air itu sampai menggenang setinggi dinding pembatas tanah!”

Az-Zubair berkata: Demi Allah, sungguh aku mengira ayat berikut ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut: “Maka demi Rabmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa’: 65).

Muhammad bin Al-‘Abbas berkata: Abu ‘Abdullah berkata: Tidak ada seorang pun yang menyebutkan periwayatan ‘Urwah dari ‘Abdullah, melainkan Al-Laits saja.