Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4287

٤٢٨٧ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بۡنُ الۡفَضۡلِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ أَبِي مَعۡمَرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، وَحَوۡلَ الۡبَيۡتِ سِتُّونَ وَثَلَاثُمِائَةِ نُصُبٍ، فَجَعَلَ يَطۡعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ: (﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَزَهَقَ الۡبَاطِلُ﴾ [الإسراء: ٨١]، ﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِىءُ الۡبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ﴾) [سبأ: ٤٩]. [طرفه في: ٢٤٧٨].

4287. Shadaqah bin Al-Fadhl telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki Makkah pada hari penaklukan, sedangkan di sekitar Baitullah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Lalu beliau mulai menusuknya dengan kayu yang ada di tangan beliau seraya bersabda, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. (QS Al-Isra: 81). Kebenaran telah datang, dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula mengulanginya. (QS Saba’: 49).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6891

١٧ - بَابٌ إِذَا قَتَلَ نَفۡسَهُ خَطَأً فَلَا دِيَةَ لَهُ
17. Bab Apabila Seseorang Membunuh Dirinya Sendiri Secara Tidak Sengaja, Maka Tiada Diat Baginya


٦٨٩١ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى خَيۡبَرَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنۡهُمۡ: أَسۡمِعۡنَا يَا عَامِرُ مِنۡ هُنَيۡهَاتِكَ، فَحَدَا بِهِمۡ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنِ السَّائِقُ؟). قَالُوا: عَامِرٌ، فَقَالَ: (رَحِمَهُ اللهُ). فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَّا أَمۡتَعۡتَنَا بِهِ! فَأُصِيبَ صَبِيحَةَ لَيۡلَتِهِ، فَقَالَ الۡقَوۡمُ: حَبِطَ عَمَلُهُ، قَتَلَ نَفۡسَهُ، فَلَمَّا رَجَعۡتُ وَهُمۡ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ، فَجِئۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، زَعَمُوا أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ، فَقَالَ: (كَذَبَ مَنۡ قَالَهَا، إِنَّ لَهُ لَأَجۡرَيۡنِ اثۡنَيۡنِ، إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ، وَأَيُّ قَتۡلٍ يَزِيدُهُ عَلَيۡهِ). [طرفه في: ٢٤٧٧].

6891. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Abu ‘Ubaid menceritakan kepada kami dari Salamah. Ia berkata:

Kami keluar bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju Khaibar. Seseorang dari mereka berkata, “Wahai ‘Amir, perdengarkanlah kepada kami beberapa bait sajakmu.”

Lalu ia melantunkan sajak untuk mereka. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah pelantun sajak itu?”

Mereka menjawab, “‘Amir.”

Lalu beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau biarkan kami menikmati kebersamaan dengannya?”

Kemudian ia tertimpa kematian pada pagi harinya. Kaum tersebut berkata, “Amalan ‘Amir telah gugur, ia telah membunuh dirinya sendiri.”

Ketika aku kembali sementara mereka sedang memperbincangkan bahwa amalan ‘Amir telah gugur, aku mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku berkata, “Wahai Nabi, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, mereka menyatakan bahwa amalan ‘Amir telah gugur.”

Beliau bersabda, “Orang yang mengatakannya telah keliru. Sesungguhnya ia benar-benar mendapat dua pahala sekaligus. Sesungguhnya ia benar-benar seorang yang bersungguh-sungguh lagi berjihad, dan bentuk kematian mana lagi yang bisa melebihi itu?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5497

٥٤٩٧ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ بۡنُ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ قَالَ: لَمَّا أَمۡسَوۡا يَوۡمَ فَتَحُوا خَيۡبَرَ، أَوۡقَدُوا النِّيرَانَ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (عَلَى مَا أَوۡقَدۡتُمۡ هٰذِهِ النِّيرَانَ؟) قَالُوا: لُحُومِ الۡحُمُرِ الإِنۡسِيَّةِ، قَالَ: (أَهۡرِيقُوا مَا فِيهَا، وَاكۡسِرُوا قُدُورَهَا). فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ فَقَالَ: نُهَرِيقُ مَا فِيهَا وَنَغۡسِلُهَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡ ذَاكَ). [طرفه في: ٢٤٧٧].

5497. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yazid bin Abu ‘Ubaid menceritakan kepadaku dari Salamah bin Al-Akwa’. Ia berkata:

Ketika mereka berada di sore hari pada hari penaklukan Khaibar, mereka menyalakan api unggun. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Untuk apa kalian menyalakan api-api ini?”

Mereka menjawab, “Daging keledai.”

Beliau berkata, “Tumpahkanlah isinya dan pecahkanlah periuk-periuknya.”

Lalu seorang lelaki dari kaum tersebut berdiri dan berkata, “Bagaimana kalau kami tumpahkan isinya dan kami cuci?”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Atau begitu juga boleh.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4196

٤١٩٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا حَاتِمُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى خَيۡبَرَ، فَسِرۡنَا لَيۡلًا، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ لِعَامِرٍ: يَا عَامِرُ أَلَا تُسۡمِعُنَا مِنۡ هُنَيۡهَاتِكَ؟ وَكَانَ عَامِرٌ رَجُلًا شَاعِرًا، فَنَزَلَ يَحۡدُو بِالۡقَوۡمِ يَقُولُ:

اللَّهُمَّ لَوۡلَا أَنۡتَ مَا اهۡتَدَيۡنَا وَلَا تَصَدَّقۡنَا وَلَا صَلَّيۡنَا

فَاغۡفِرۡ فِدَاءً لَكَ مَا أَبۡقَيۡـنَـا وَأَلۡقِيَنۡ سَكِينَةً عَـلَـيۡـنَـا

وَثَبِّتِ الۡأَقۡدَامَ إِنۡ لَاقَيۡـنَـا إِنَّا إِذَا صِيحَ بِنَا أَبَـيۡـنَـا

وَبِالصِّيَاحِ عَوَّلُوا عَلَيۡنَا

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ هٰذَا السَّائِقُ؟). قَالُوا: عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَعِ، قَالَ: (يَرۡحَمُهُ اللهُ). قَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: وَجَبَتۡ يَا نَبِيَّ اللهِ، لَوۡلَا أَمۡتَعۡتَنَا بِهِ،

4196. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Hatim bin Isma’il menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu ‘Ubaid, dari Salamah bin Al-Akwa’—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Kami keluar bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju Khaibar, lalu kami berjalan pada malam hari. Seseorang dari suatu kaum berkata kepada ‘Amir, “Wahai Amir, tidakkah engkau perdengarkan kepada kami beberapa bait sajakmu?”

‘Amir adalah seorang penyair, lalu ia turun dan melantunkan sajak untuk kaum tersebut seraya berkata, “Ya Allah, seandainya bukan karena Engkau, niscaya kami tidak mendapat petunjuk. Tidak pula kami bersedekah dan tidak pula kami salat. Ampunilah—dengan tebusan diri kami untuk-Mu—apa yang kami tinggalkan. Turunkanlah ketenangan atas kami, dan teguhkanlah telapak kaki jika kami menjumpai musuh. Sesungguhnya kami apabila diseru (kepada selain kebenaran), kami enggan, dan musuh akan berteriak minta tolong untuk menghadapi kami.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah pelantun sajak ini?”

Mereka menjawab, “‘Amir bin Al-Akwa’.”

Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya.”

Seseorang dari kaum tersebut berkata, “Sudah sepantasnya, wahai Nabi. Sekiranya engkau biarkan kami menikmati kebersamaan dengannya.”

فَأَتَيۡنَا خَيۡبَرَ فَحَاصَرۡنَاهُمۡ حَتَّى أَصَابَتۡنَا مَخۡمَصَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَتَحَهَا عَلَيۡهِمۡ، فَلَمَّا أَمۡسَى النَّاسُ مَسَاءَ الۡيَوۡمِ الَّذِي فُتِحَتۡ عَلَيۡهِمۡ، أَوۡقَدُوا نِيرَانًا كَثِيرَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا هٰذِهِ النِّيرَانُ؟ عَلَى أَيِّ شَيۡءٍ تُوقِدُونَ؟) قَالُوا: عَلَى لَحۡمٍ، قَالَ: (عَلَى أَيِّ لَحۡمٍ؟) قَالُوا: لَحۡمِ حُمُرِ الۡإِنۡسِيَّةِ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَهۡرِيقُوهَا وَاكۡسِرُوهَا). فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوۡ نُهَرِيقُهَا وَنَغۡسِلُهَا؟ قَالَ: (أَوۡ ذَاكَ).

Kemudian kami mendatangi Khaibar, lalu kami mengepung mereka hingga kami ditimpa kelaparan yang sangat. Setelah itu, Allah taala membukakannya untuk mereka. Ketika hari telah sore pada hari kemenangan tersebut, orang-orang menyalakan banyak api unggun.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Api apakah ini? Untuk apa kalian menyalakannya?”

Mereka menjawab, “Daging.”

Beliau bertanya, “Daging apa?”

Mereka menjawab, “Daging keledai.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Tumpahkanlah dan pecahkanlah.”

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami menumpahkannya dan mencucinya?”

Beliau berkata, “Atau begitu juga boleh.”

فَلَمَّا تَصَافَّ الۡقَوۡمُ كَانَ سَيۡفُ عَامِرٍ قَصِيرًا، فَتَنَاوَلَ بِهِ سَاقَ يَهُودِيٍّ لِيَضۡرِبَهُ، وَيَرۡجِعُ ذُبَابُ سَيۡفِهِ، فَأَصَابَ عَيۡنَ رُكۡبَةِ عَامِرٍ فَمَاتَ مِنۡهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَفَلُوا قَالَ سَلَمَةُ: رَآنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِي قَالَ: (مَا لَكَ؟) قُلۡتُ لَهُ: فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، زَعَمُوا أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كَذَبَ مَنۡ قَالَهُ، إِنَّ لَهُ لَأَجۡرَيۡنِ - وَجَمَعَ بَيۡنَ إِصۡبَعَيۡهِ - إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ، قَلَّ عَرَبِيٌّ مَشَى بِهَا مِثۡلَهُ). حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا حَاتِمٌ، قَالَ: (نَشَأَ بِهَا). [طرفه في: ٢٤٧٧].

Ketika kedua kaum telah berbaris (dalam pertempuran), pedang ‘Amir pendek, lalu ia mengarahkannya dengan pedang tersebut ke betis seorang Yahudi untuk memukulnya, namun ujung pedang itu berbalik mengenai tempurung lutut Amir, sehingga ia meninggal karenanya.

Perawi berkata: Ketika mereka pulang, Salamah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatku sambil memegang tanganku, lalu beliau bertanya, “Ada apa denganmu?”

Aku berkata kepada beliau, “Demi tebusan ayah dan ibuku, mereka menyatakan bahwa amalan ‘Amir telah gugur.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Orang yang mengatakannya telah keliru. Sesungguhnya ia benar-benar mendapat dua pahala—beliau menggabungkan antara dua jarinya—. Sungguh ia benar-benar seorang yang bersungguh-sungguh lagi berjihad. Sedikit sekali orang Arab yang berjalan di bumi ini seperti dia.”

Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Hatim menceritakan kepada kami. Ia berkata, “yang tumbuh di bumi ini.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6810

٦٨١٠ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ ذَكۡوَانَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا يَزۡنِي الزَّانِي حِينَ يَزۡنِي وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَسۡرِقُ حِينَ يَسۡرِقُ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَشۡرَبُ حِينَ يَشۡرَبُهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَالتَّوۡبَةُ مَعۡرُوضَةٌ بَعۡدُ). [طرفه في: ٢٤٧٥].

6810. Adam telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Dzakwan, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah seorang pezina melakukan zina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang peminum meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Namun tobat tetap terbuka setelah itu.”