Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3329

٣٣٢٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَلَامٍ: أَخۡبَرَنَا الۡفَزَارِيُّ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَلَغَ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ سَلَامٍ مَقۡدَمُ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنِّي سَائِلُكَ عَنۡ ثَلَاثٍ لَا يَعۡلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ، مَا أَوَّلُ أَشۡرَاطِ السَّاعَةِ، وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأۡكُلُهُ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ، وَمِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ يَنۡزِعُ الۡوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ، وَمِنۡ أَيِّ شَيۡءٍ يَنۡزِعُ إِلَى أَخۡوَالِهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَبَّرَنِي بِهِنَّ آنِفًا جِبۡرِيلُ).

3329. Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami: Al-Fazari mengabarkan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Berita kedatangan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di Madinah sampai kepada ‘Abdullah bin Salam, lalu ‘Abdullah mendatangi beliau dan berkata, “Sungguh aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi. Apa tanda pertama kiamat? Makanan apa yang pertama kali dimakan oleh penghuni janah? Dari mana seorang anak bisa mirip ayahnya dan dari mana bisa mirip paman-pamannya dari jalur ibu?”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Jibril baru saja mengabarkannya kepadaku.”

قَالَ: فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: ذَاكَ عَدُوُّ الۡيَهُودِ مِنَ الۡمَلَائِكَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا أَوَّلُ أَشۡرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحۡشُرُ النَّاسَ مِنَ الۡمَشۡرِقِ إِلَى الۡمَغۡرِبِ، وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأۡكُلُهُ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوتٍ، وَأَمَّا الشَّبَهُ فِي الۡوَلَدِ: فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَشِيَ الۡمَرۡأَةَ فَسَبَقَهَا مَاؤُهُ كَانَ الشَّبَهُ لَهُ، وَإِذَا سَبَقَ مَاؤُهَا كَانَ الشَّبَهُ لَهَا).

Anas berkata: ‘Abdullah berkata, “Jibril itu malaikat musuh Yahudi.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tanda pertama kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Makanan pertama yang dimakan oleh penghuni janah adalah sekerat hati ikan. Perihal kemiripan anak, apabila seorang pria menggauli istri lalu air mani pria mendahului istri, maka anak akan mirip ayahnya. Apabila air mani wanita lebih dulu keluar, maka anak akan mirip ibunya.”

قَالَ: أَشۡهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الۡيَهُودَ قَوۡمٌ بُهُتٌ، إِنۡ عَلِمُوا بِإِسۡلَامِي قَبۡلَ أَنۡ تَسۡأَلَهُمۡ بَهَتُونِي عِنۡدَكَ، فَجَاءَتِ الۡيَهُودُ وَدَخَلَ عَبۡدُ اللهِ الۡبَيۡتَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَيُّ رَجُلٍ فِيكُمۡ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ سَلَامٍ؟) قَالُوا: أَعۡلَمُنَا وَابۡنُ أَعۡلَمِنَا، وَأَخۡبَرُنَا وَابۡنُ أَخۡبَرِنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَفَرَأَيۡتُمۡ إِنۡ أَسۡلَمَ عَبۡدُ اللهِ؟) قَالُوا: أَعَاذَهُ اللهُ مِنۡ ذٰلِكَ، فَخَرَجَ عَبۡدُ اللهِ إِلَيۡهِمۡ فَقَالَ: أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَقَالُوا: شَرُّنَا، وَابۡنُ شَرِّنَا، وَوَقَعُوا فِيهِ.

[الحديث ٣٣٢٩ - أطرافه في: ٣٩١٩، ٣٩٣٨، ٤٤٨٠].

‘Abdullah berkata, “Aku bersaksi bahwa Anda adalah rasul Allah.”

Kemudian ‘Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Yahudi adalah kaum yang berani berdusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau menanyai mereka, niscaya mereka akan memfitnahku di hadapanmu.”

Orang-orang Yahudi datang dan ‘Abdullah pun masuk ke dalam rumah. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “‘Abdullah bin Salam orang seperti apa menurut kalian?”

Mereka menjawab, “Orang yang paling pandai dan putra orang yang paling pandai di kalangan kami. Orang terbaik dan putra orang terbaik di kalangan kami.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Bagaimana menurut kalian jika ‘Abdullah masuk Islam?”

Mereka berkata, “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.”

Lalu ‘Abdullah keluar menemui mereka lalu berkata, “Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah.”

Lalu mereka berkata, “Dia adalah orang yang paling jelek dan putra orang yang paling jelek di kalangan kami.” Mereka mencelanya.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 1498

١٤٩٨ - (ضعيف) حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ، نا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عُمَرَ [رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ] قَالَ: اسۡتَأۡذَنۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي الۡعُمۡرَةِ، فَأَذِنَ لِي وَقَالَ: (لَا تَنۡسَنَا يَا أُخَيَّ مِنۡ دُعَائِكَ) فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنۡيَا. قَالَ شُعۡبَةُ: ثُمَّ لَقِيتُ عَاصِمًا بَعۡدُ بِالۡمَدِينَةِ فَحَدَّثَنِيهِ، وَقَالَ: (أَشۡرِكۡنَا يَا أُخَيَّ فِي دُعَائِكَ).

1498. [Daif] Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah, dari Salim bin ‘Abdullah, dari ayahnya, dari ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Aku meminta izin umrah kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau mengizinkan aku dan berkata, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dari doamu.”

Beliau mengatakan suatu ucapan yang aku tidak suka ditukar dengan dunia.

Syu'bah berkata: Kemudian aku berjumpa ‘Ashim setelah itu di Madinah, lalu dia menceritakannya kepadaku dan berkata, “Sertakanlah kami, wahai saudaraku, dalam doamu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3326 dan 3327

١ - بَابُ خَلۡقِ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ
1. Bab Penciptaan Adam dan Keturunannya


﴿صَلۡصَالٍ﴾ [الحجر: ٢٦]: طِينٌ خُلِطَ بِرَمۡلٍ، فَصَلۡصَلَ كَمَا يُصَلۡصِلُ الۡفَخَّارُ، وَيُقَالُ: مُنۡتِنٌ، يُرِيدُونَ بِهِ صَلَّ، كَمَا يُقَالُ: صَرَّ الۡبَابُ، وَصَرۡصَرَ عِنۡدَ الۡإِغۡلَاقِ، مِثۡلُ كَبۡكَبۡتُهُ، يَعۡنِي كَبَبۡتُهُ. ﴿فَمَرَّتۡ بِهِ﴾ [الأعراف: ١٨٩]: اسۡتَمَرَّ بِهَا الۡحَمۡلُ فَأَتَمَّتۡهُ. ﴿أَنۡ لَا تَسۡجُدَ﴾ [الأعراف: ١٢]: أَنۡ تَسۡجُدَ.

Ṣalṣāl” (QS Al-Hijr: 26) adalah tanah liat yang tercampur pasir sehingga berdenting sebagaimana tembikar berdenting (apabila diketuk). Ada yang berpendapat artinya adalah membusuk. Yang mereka maksudkan adalah dari kata ṣalla (telah berubah baunya), sebagaimana dikatakan: ṣarral-bāb wa ṣarṣara ‘indal-iglāq (pintu itu berderit saat ditutup). Contoh lain adalah kabkabtuhu, yakni kababtuhu (aku menggulingkannya). “Famarrat bih” (QS Al-A’raf: 189) artinya proses kehamilan itu terus berlanjut pada wanita itu sampai ia menyempurnakannya. “An lā tasjud” (QS Al-A’raf: 12) artinya untuk bersujud.

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الۡأَرۡضِ خَلِيفَةً﴾ [البقرة: ٣٠].

Dan (bab) firman Allah taala, “Ingatlah ketika Rabmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS Al-Baqarah: 30).

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿لَمَّا عَلَيۡهَا حَافِظٌ﴾ [الطارق: ٤]: إِلَّا عَلَيۡهَا حَافِظٌ. ﴿فِي كَبَدٍ﴾ [البلد: ٤]: فِي شِدَّةِ خَلۡقٍ. ﴿وَرِيَاشًا﴾ [الأعراف: ٢٦] الۡمَالُ. وَقَالَ غَيۡرُهُ: الرِّيَاشُ وَالرِّيشُ وَاحِدٌ، وَهُوَ مَا ظَهَرَ مِنَ اللِّبَاسِ. ﴿مَا تُمۡنُونَ﴾ [الواقعة: ٥٨]: النُّطۡفَةُ فِي أَرۡحَامِ النِّسَاءِ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “lammā ‘alaihā ḥāfiẓ” (QS At-Tariq: 4) artinya: melainkan ada penjaganya. “Fī kabad” (QS Al-Balad: 4) artinya: dalam kondisi susah payah. “Wa riyāsyā” (QS Al-A’raf: 26) artinya harta. Selain Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa ar-riyāsy dan ar-rīsy sama, yaitu pakaian yang tampak. “Mā tumnūn (yang kalian pancarkan)” (QS Al-Waqi’ah: 58) yaitu nutfah di dalam rahim para wanita.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿إِنَّهُ عَلَى رَجۡعِهِ لَقَادِرٌ﴾ [الطارق: ٨]: النُّطۡفَةُ فِي الۡإِحۡلِيلِ.

Mujahid berkata, “Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya.” (QS At-Tariq: 8), yaitu: nutfah di dalam uretra (saluran kemih).

كُلُّ شَيۡءٍ خَلَقَهُ فَهُوَ شَفۡعٌ، السَّمَاءُ شَفۡعٌ، وَالۡوَتۡرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Segala sesuatu yang Allah ciptakan adalah syaf’ (genap/berpasangan). Langit itu syaf’, sedangkan yang ganjil (al-watr) adalah Allah ‘azza wa jalla.

﴿فِي أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ﴾ [التين: ٤] فِي أَحۡسَنِ خَلۡقٍ. ﴿أَسۡفَلَ سَافِلِينَ﴾ [التين: ٥] إِلَّا مَنۡ آمَنَ. ﴿خُسۡرٍ﴾ [العصر: ٢] ضَلَالٍ، ثُمَّ اسۡتَثۡنَى إِلَّا مَنۡ آمَنَ، ﴿لَازِبٍ﴾ [الصافات: ١١] لَازِمٌ. ﴿ننشئكم﴾ [الواقعة: ٦١] فِي أَيِّ خَلۡقٍ نَشَاءُ. ﴿نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ﴾ [البقرة: ٣٠] نُعَظِّمُكَ.

Fī aḥsani taqwīm” (QS At-Tin: 4) artinya: dalam ciptaan yang terbaik. “Ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS At-Tin: 5) kecuali siapa saja yang beriman. “Khusr” (QS Al-‘Asr: 2) artinya: kesesatan; kemudian dikecualikan: kecuali siapa saja yang beriman. “Lāzib” (QS As-Saffat: 11) artinya sama dengan lāzim (melekat). “Nunsyi’akum (Kami ciptakan kalian)” (QS Al-Waqi’ah: 61) dalam ciptaan apa pun yang Kami kehendaki. “Nusabbiḥu biḥamdik (kami bertasbih dengan memuji-Mu)” (QS Al-Baqarah: 30) artinya: Kami mengagungkan-Mu.

وَقَالَ أَبُو الۡعَالِيَةِ: ﴿فَتَلَقَّى آدَمُ مِنۡ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ﴾ [البقرة: ٣٧] فَهُوَ قَوۡلُهُ: ﴿رَبَّنَا ظَلَمۡنَا أَنۡفُسَنَا﴾ [الأعراف: ٢٣]. ﴿فَأَزَلَّهُمَا﴾ [البقرة: ٣٦] فَاسۡتَزَلَّهُمَا. وَ﴿يَتَسَنَّهۡ﴾ [البقرة: ٢٥٩] يَتَغَيَّرۡ، ﴿آسِنٌ﴾ [محمد: ١٥] مُتَغَيِّرٌ. وَالۡمَسۡنُونُ الۡمُتَغَيِّرُ. ﴿حَمَإٍ﴾ [الحجر: ٣٣] جَمۡعُ حَمۡأَةٍ وَهُوَ الطِّينُ الۡمُتَغَيِّرُ. ﴿يَخۡصِفَانِ﴾ [الأعراف: ٢٢] أَخۡذُ الۡخِصَافِ مِنۡ وَرَقِ الۡجَنَّةِ، يُؤَلِّفَانِ الۡوَرَقَ وَيَخۡصِفَانِ بَعۡضَهُ إِلَى بَعۡضٍ. ﴿سَوۡآتُهُمَا﴾ [الأعراف: ٢٢] كِنَايَةٌ عَنۡ فَرۡجِهِمَا، ﴿وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ﴾ [الأعراف: ٢٤] هَا هُنَا إِلَى يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، الۡحِينُ عِنۡدَ الۡعَرَبِ مِنۡ سَاعَةٍ إِلَى مَا لَا يُحۡصَى عَدَدُهُ. ﴿قَبِيلُهُ﴾ [الأعراف: ٢٧] جِيلُهُ الَّذِي هُوَ مِنۡهُمۡ.

Abu Al-‘Aliyah berkata: “Lalu Adam menerima beberapa kalimat dari Rabnya” (QS Al-Baqarah: 37), yaitu firman-Nya, “Wahai Rab kami, kami telah menzalimi diri-diri kami.” (QS Al-A’raf: 23). “Fa azallahumā” (QS Al-Baqarah: 36) artinya: mengajak mereka berdua untuk tergelincir. Dan “yatasannah” (QS Al-Baqarah: 259) artinya: berubah. “Āsin” (QS Muhammad: 25) artinya: berubah. Al-Masnūn artinya: yang berubah. “Ḥama’in” (QS Al-Hijr: 33) adalah bentuk jamak dari kata ḥam’ah yaitu tanah liat yang berubah (baunya). “Yakhṣifāni” (QS Al-A’raf: 22) artinya: mengambil penutup dari daun-daun janah. Keduanya menyusun daun-daun lalu menumpukkan sebagian di atas sebagian lainnya. “Sau’ātuhumā” (QS Al-A’raf: 22) merupakan kiasan dari kemaluan mereka berdua. “Wa matā‘un ilā ḥīn” (QS Al-A’raf: 24) di sini maksudnya sampai hari kiamat. Ḥīn menurut orang Arab bermakna sesaat sampai waktu yang tak terhingga. “Qabīluh” (QS Al-A’raf: 27) yaitu bangsa asalnya.

٣٣٢٦ - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا، ثُمَّ قَالَ: اذۡهَبۡ فَسَلِّمۡ عَلَى أُولَئِكَ مِنَ الۡمَلَائِكَةِ، فَاسۡتَمِعۡ مَا يُحَيُّونَكَ، تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيۡكُمۡ، فَقَالُوا: السَّلَامُ عَلَيۡكَ وَرَحۡمَةُ اللهِ، فَزَادُوهُ: وَرَحۡمَةُ اللهِ، فَكُلُّ مَنۡ يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ، فَلَمۡ يَزَلِ الۡخَلۡقُ يَنۡقُصُ حَتَّى الۡآنَ). [الحديث ٣٣٢٦ - طرفه في: ٦٢٢٧].

3326. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian berkata, ‘Pergilah lalu bersalamlah kepada para malaikat itu, lalu dengarlah penghormatan yang mereka ucapkan kepadamu. Itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu.’ Lalu Adam mengucapkan, ‘As-Salāmu ‘alaikum.’ Para malaikat mengucapkan, ‘As-Salāmu ‘alaika wa raḥmatullāh.’ Mereka menambahkan: wa raḥmatullāh. Setiap yang masuk janah akan berperawakan seperti Nabi Adam. Ukuran tubuh manusia terus menyusut sampai sekarang.”

٣٣٢٧ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ عُمَارَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ أَوَّلَ زُمۡرَةٍ يَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمۡ عَلَى أَشَدِّ كَوۡكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً، لَا يَبُولُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَتۡفِلُونَ، وَلَا يَمۡتَخِطُونَ، أَمۡشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَرَشۡحُهُمُ الۡمِسۡكُ، وَمَجَامِرُهُمُ الۡأَلُوَّةُ – الۡأَنۡجُوجُ، عُودُ الطِّيبِ - وَأَزۡوَاجُهُمُ الۡحُورُ الۡعِينُ، عَلَى خَلۡقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمۡ آدَمَ، سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ). [طرفه في: ٣٢٤٥].

3327. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari ‘Umarah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk janah akan memiliki rupa seperti bulan purnama, kemudian orang-orang yang setelah mereka akan memiliki rupa seperti bintang paling terang cahayanya di langit. Mereka tidak kencing, tidak berak, tidak meludah, dan tidak beringus. Sisir-sisir mereka adalah emas, keringat mereka adalah kesturi, pedupaan mereka adalah kayu gaharu—yaitu al-anjuj, kayu wangi—, istri-istri mereka adalah bidadari bermata indah, dengan postur tubuh yang sama, yaitu postur tubuh ayah mereka, Adam, setinggi enam puluh hasta di langit.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 2413

٢٤١٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو مَرۡوَانَ الۡعُثۡمَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَفۡسُ الۡمُؤۡمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيۡنِهِ، حَتَّى يُقۡضَى عَنۡهُ). [(المشكاة)(٢٩١٥)، (أحكام الجنائز)(١٥)، (البيوع)].

2413. [Sahih] Abu Marwan Al-‘Utsmani telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Umar bin Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai utangnya dilunasi.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1078 dan 1079

٧٧ - بَابُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (نَفۡسُ الۡمُؤۡمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيۡنِهِ حَتَّى يُقۡضَى عَنۡهُ)
77. Bab Riwayat dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, bahwa Beliau Bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai dilunasi”


١٠٧٨ - (صحيح) حَدَّثَنَا مَحۡمُودُ بۡنُ غَيۡلَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ زَكَرِيَّا بۡنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَفۡسُ الۡمُؤۡمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيۡنِهِ حَتَّى يُقۡضَى عَنۡهُ). [(ابن ماجه)(٢٤١٣)].

1078. [Sahih] Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Zakariyya` bin Abu Za`idah, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai dilunasi.”

١٠٧٩ - (صحيح بما قبله) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ مَهۡدِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (نَفۡسُ الۡمُؤۡمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيۡنِهِ حَتَّى يُقۡضَى عَنۡهُ) هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. هُوَ أَصَحُّ مِنَ الۡأَوَّلِ.

1079. [Sahih dengan riwayat sebelumnya] Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Umar bin Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai utangnya dilunasi.”

Ini adalah hadis hasan. Hadis ini lebih sahih daripada hadis pertama.