Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2212

٢٢١٢ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ. وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ قَالَ: سَمِعۡتُ عُثۡمَانَ بۡنَ فَرۡقَدٍ قَالَ: سَمِعۡتُ هِشَامَ بۡنَ عُرۡوَةَ يُحَدِّثُ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تَقُولُ: ﴿وَمَنۡ كَانَ غَنِيًّا فَلۡيَسۡتَعۡفِفۡ وَمَنۡ كَانَ فَقِيرًا فَلۡيَأۡكُلۡ بِالۡمَعۡرُوفِ﴾ [النساء: ٦] أُنۡزِلَتۡ فِي وَالِي الۡيَتِيمِ الَّذِي يُقِيمُ عَلَيۡهِ وَيُصۡلِحُ فِي مَالِهِ، إِنۡ كَانَ فَقِيرًا أَكَلَ مِنۡهُ بِالۡمَعۡرُوفِ. [الحديث ٢٢١٢ - طرفاه في: ٢٧٦٥، ٤٥٧٥].

2212. Ishaq telah menceritakan kepadaku: Ibnu Numair menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami. Muhammad telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar ‘Utsman bin Farqad berkata: Aku mendengar Hisyam bin ‘Urwah menceritakan dari ayahnya: Ia mendengar ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata:

“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut cara yang patut.” (QS An-Nisa: 6).

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan pengelola (wali) anak yatim yang mengurus dan memperbaiki harta anak yatim tersebut; jika pengelola itu seorang yang miskin, maka ia boleh makan dari harta tersebut menurut cara yang patut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2207 dan 2208

٩٣ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُخَاضَرَةِ
93. Bab Menjual Buah yang Masih Hijau


٢٢٠٧ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ أَبِي طَلۡحَةَ الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡمُحَاقَلَةِ، وَالۡمُخَاضَرَةِ، وَالۡمُلَامَسَةِ، وَالۡمُنَابَذَةِ، وَالۡمُزَابَنَةِ.

2207. Ishaq bin Wahb telah menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Yunus menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ishaq bin Abu Thalhah Al-Anshari menceritakan kepadaku dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang muhaqalah (jual beli biji-bijian yang masih berada di tangkainya (masih di ladang) dengan biji-bijian sejenis yang sudah dibersihkan menggunakan sistem taksiran), mukhadharah (menjual buah-buahan yang masih hijau, atau biji-bijian yang belum mengeras, atau sayur-sayuran yang masih di lahan), mulamasah (jual beli dengan gambaran memegang barang berarti membeli tanpa ada khiar), munabadzah (jual beli dengan gambaran seseorang menjual pakaian dengan melemparkan pakaian itu kepada orang lain tanpa bisa diperiksa terlebih dahulu), dan muzabanah (jual beli buah kurma yang masih di pohon dengan tamar/kurma kering).

٢٢٠٨ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ بَيۡعِ ثَمَرِ التَّمۡرِ حَتَّى تَزۡهُوَ. فَقُلۡنَا لِأَنَسٍ: مَا زَهۡوُهَا؟ قَالَ: تَحۡمَرُّ وَتَصۡفَرُّ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ مَنَعَ اللهُ الثَّمَرَةَ بِمَ تَسۡتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟! [طرفه في: ١٤٨٨].

2208. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Jafar menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang menjual buah kurma hingga ia tampak matang.

Kami bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud dengan tampak matangnya?”

Ia menjawab, “Memerah atau menguning. Bagaimana pendapatmu jika Allah menghalangi buah itu (untuk matang/panen), dengan alasan apa engkau menghalalkan harta saudaramu?!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2206

٩٢ - بَابُ بَيۡعِ النَّخۡلِ بِأَصۡلِهِ
92. Bab Menjual Pohon Kurma Beserta Batang Pokoknya


٢٢٠٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (أَيُّمَا امۡرِىءٍ أَبَّرَ نَخۡلًا ثُمَّ بَاعَ أَصۡلَهَا، فَلِلَّذِي أَبَّرَ ثَمَرُ النَّخۡلِ، إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَهُ الۡمُبۡتَاعُ). [طرفه في: ٢٢٠٣].

2206. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa pun yang telah mengawinkan pohon kurma kemudian menjual batang pokoknya, maka buah pohon kurma itu adalah milik orang yang mengawinkannya, kecuali jika pembeli memberikan syarat (bahwa buahnya untuk pembeli).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2205

٩١ - بَابُ بَيۡعِ الزَّرۡعِ بِالطَّعَامِ كَيۡلًا
91. Bab Menjual Tanaman Ladang dengan Bahan Makanan secara Takaran


٢٢٠٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡمُزَابَنَةِ: أَنۡ يَبِيعَ ثَمَرَ حَائِطِهِ إِنۡ كَانَ نَخۡلًا بِتَمۡرٍ كَيۡلًا، وَإِنۡ كَانَ كَرۡمًا أَنۡ يَبِيعَهُ بِزَبِيبٍ كَيۡلًا، أَوۡ كَانَ زَرۡعًا أَنۡ يَبِيعَهُ بِكَيۡلِ طَعَامٍ، وَنَهَى عَنۡ ذٰلِكَ كُلِّهِ. [طرفه في: ٢١٧١].

2205. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang muzabanah, yaitu seseorang menjual buah di kebunnya jika berupa pohon kurma dengan kurma kering secara takaran; jika berupa anggur, ia menjualnya dengan kismis secara takaran; atau jika berupa tanaman ladang (gandum/padi), ia menjualnya dengan bahan makanan secara takaran. Beliau melarang hal tersebut semuanya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2203 dan 2204

٩٠ - بَابُ مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ أَوۡ أَرۡضًا مَزۡرُوعَةً أَوۡ بِإِجَارَةٍ
90. Bab Barang Siapa Menjual Pohon Kurma yang Telah Dikawinkan, atau Tanah yang Sedang Ditanami, atau dengan Menyewakannya


٢٢٠٣ - قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ لِي إِبۡرَاهِيمُ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ أَبِي مُلَيۡكَةَ يُخۡبِرُ عَنۡ نَافِعٍ مَوۡلَى ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ أَيُّمَا نَخۡلٍ بِيعَتۡ، قَدۡ أُبِّرَتۡ لَمۡ يُذۡكَرِ الثَّمَرُ، فَالثَّمَرُ لِلَّذِي أَبَّرَهَا، وَكَذٰلِكَ الۡعَبۡدُ وَالۡحَرۡثُ، سَمَّى لَهُ نَافِعٌ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ.[الحديث ٢٢٠٣ - أطرافه في: ٢٢٠٤، ٢٢٠٦، ٢٣٧٩، ٢٧١٦].

2203. Abu ‘Abdullah berkata: Ibrahim berkata kepadaku: Hisyam mengabarkan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah mengabarkan dari Nafi’, bekas budak Ibnu ‘Umar: Bahwa pohon kurma mana pun yang dijual dalam keadaan telah dikawinkan tanpa disebutkan perihal buahnya, maka buahnya adalah milik orang yang mengawinkannya. Demikian pula pada budak dan lahan pertanian; Nafi’ menyebutkan ketiga hal tersebut kepadanya.

٢٢٠٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ بَاعَ نَخۡلًا قَدۡ أُبِّرَتۡ فَثَمَرُهَا لِلۡبَائِعِ، إِلَّا أَنۡ يَشۡتَرِطَ الۡمُبۡتَاعُ). [طرفه في: ٢٢٠٣].

2204. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa menjual pohon kurma yang telah dikawinkan, maka buahnya adalah milik penjual, kecuali jika pembeli memberikan syarat (bahwa buahnya untuk pembeli).”