Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5369

١٤ - بَابٌ ﴿وَعَلَى الۡوَارِثِ مِثۡلُ ذٰلِكَ﴾ [البقرة: ٢٣٣]
14. Bab “Dan Ahli Waris Pun Berkewajiban Seperti Itu Pula” (QS Al-Baqarah: 233)


وَهَلۡ عَلَى الۡمَرۡأَةِ مِنۡهُ شَيۡءٌ؟ ﴿وَضَرَبَ اللهُ مَثَلًا رَجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَا أَبۡكَمُ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿صِرَاطٍ مُسۡتَقِيمٍ﴾ [النحل: ٧٦].

Dan apakah bagi wanita ada kewajiban menanggungnya sedikit pun? “Dan Allah membuat perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu ...” sampai firman-Nya, “jalan yang lurus.” (QS An-Nahl: 76).

٥٣٦٩ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ لِي مِنۡ أَجۡرٍ فِي بَنِي أَبِي سَلَمَةَ أَنۡ أُنۡفِقَ عَلَيۡهِمۡ، وَلَسۡتُ بِتَارِكَتِهِمۡ هَكَذَا وَهَكَذَا، إِنَّمَا هُمۡ بَنِيَّ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، لَكِ أَجۡرُ مَا أَنۡفَقۡتِ عَلَيۡهِمۡ). [طرفه في: ١٤٦٧]

5369. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami dari ayahnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari Umu Salamah:

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala jika aku menafkahi anak-anak Abu Salamah, dan aku tidak membiarkan mereka seperti ini dan seperti ini (dalam keadaan membutuhkan), karena sesungguhnya mereka adalah anak-anakku?”

Beliau bersabda, “Ya, engkau mendapatkan pahala atas nafkahmu kepada mereka.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5611

١٣ - بَابُ اسۡتِعۡذَابِ الۡمَاءِ
13. Bab Mencari Air Segar


٥٦١١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا مِنۡ نَخۡلٍ، وَكَانَ أَحَبُّ مَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرُحَاءَ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢]،‏ قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾، وَإِنَّ أَحَبَّ مَالِي إِلَيَّ بَيۡرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخٍ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، أَوۡ رَايِحٌ - شَكَّ عَبۡدُ اللهِ - وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَفِي بَنِي عَمِّهِ. وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ وَيَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى: (رَايِحٌ). [طرفه في: ١٤٦١].

5611. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin ‘Abdullah: Ia mendengar Anas bin Malik berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairuha`, yang mana kebun itu menghadap ke masjid. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Anas berkata: Ketika turun ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan—atau harta yang pahalanya terus mengalir; ‘Abdullah ragu—dan aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Talhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Isma’il dan Yahya bin Yahya berkata, “Rayih (yang pahalanya terus mengalir).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4554 dan 4555

٥ - بَابٌ ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ إِلَى ﴿بِهِ عَلِيمٌ﴾ [٩٢]
5. Bab “Kalian Tidak akan Memperoleh Kebajikan (yang Sempurna) Sebelum Kalian Menginfakkan Sebagian Harta yang Kalian Cintai,” Sampai “Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Tentang Hal Itu.” (QS Ali Imran: 92)


٤٥٥٤ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ نَخۡلًا، وَكَانَ أَحَبَّ أَمۡوَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرُحَاءٍ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، فَلَمَّا أُنۡزِلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بَيۡرُحَاءٍ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخۡ، ذٰلِكَ مَالٌ رَايِحٌ، ذٰلِكَ مَالٌ رَايِحٌ، وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). قَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ، وَبَنِي عَمِّهِ.

قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ وَرَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: (ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ).

حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ: (مَالٌ رَايِحٌ). [طرفه في: ١٤٦١].

4554. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairuha`, yang mana kebun itu menghadap ke masjid. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Ketika diturunkan ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai”, Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang pahalanya terus mengalir. Itu adalah harta yang pahalanya terus mengalir. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

‘Abdullah bin Yusuf dan Rauh bin ‘Ubadah berkata, “Itu adalah malun rabih (harta yang menguntungkan).”

Yahya bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membaca di hadapan Malik, “Malun rayih (Harta yang pahalanya terus mengalir).”

٤٥٥٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ وَأُبِيٍّ، وَأَنَا أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ، وَلَمۡ يَجۡعَلۡ لِي مِنۡهَا شَيۡئًا. [طرفه في: ١٤٦١].

4555. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Abu Thalhah membagikannya kepada Hassan dan Ubay, padahal aku lebih dekat kekerabatannya kepada beliau, namun beliau tidak memberikan bagian sedikit pun darinya untukku.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2769

٢٧ - بَابٌ إِذَا وَقَفَ أَرۡضًا وَلَمۡ يُبَيِّنِ الۡحُدُودَ فَهُوَ جَائِزٌ، وَكَذٰلِكَ الصَّدَقَةُ
27. Bab Apabila Seseorang Mewakafkan Tanah dan Tidak Menjelaskan Batas-Batasnya Maka Hal Itu Boleh, Demikian Pula Sedekah


٢٧٦٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا مِنۡ نَخۡلٍ، وَكَانَ أَحَبُّ مَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرَحَاءَ، مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ. قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بِيرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ: (بَخۡ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ - أَوۡ رَايِحٌ؛ شَكَّ ابۡنُ مَسۡلَمَةَ - وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). قَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ ذٰلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَفِي بَنِي عَمِّهِ.

وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ وَيَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ مَالِكٍ: (رَايِحٌ).

[طرفه في: ١٤٦١].

2769. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairaha` yang menghadap ke masjid. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Anas berkata: Ketika turun ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairaha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Nabi bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan—atau harta yang pahalanya terus mengalir; Ibnu Maslamah ragu—dan aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Isma’il, ‘Abdullah bin Yusuf, dan Yahya bin Yahya berkata dari Malik: “Rayih” (yang pahalanya terus mengalir).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2758

١٧ - بَابُ مَنۡ تَصَدَّقَ إِلَى وَكِيلِهِ، ثُمَّ رَدَّ الۡوَكِيلُ إِلَيۡهِ
17. Bab Orang yang Bersedekah kepada Wakilnya Kemudian Sang Wakil Mengembalikannya Kepada Orang Tersebut


٢٧٥٨ - وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، لَا أَعۡلَمُهُ إِلَّا عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] جَاءَ أَبُو طَلۡحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بِيرُحَاءَ – قَالَ: وَكَانَتۡ حَدِيقَةً، كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَسۡتَظِلُّ بِهَا، وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَائِهَا - فَهِيَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى رَسُولِهِ ﷺ، أَرۡجُو بِرَّهُ وَذُخۡرَهُ، فَضَعۡهَا أَيۡ رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخۡ يَا أَبَا طَلۡحَةَ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، قَبِلۡنَاهُ مِنۡكَ، وَرَدَدۡنَاهُ عَلَيۡكَ، فَاجۡعَلۡهُ فِي الۡأَقۡرَبِينَ). فَتَصَدَّقَ بِهِ أَبُو طَلۡحَةَ عَلَى ذَوِي رَحِمِهِ، قَالَ: وَكَانَ مِنۡهُمۡ أُبَيٌّ وَحَسَّانُ، قَالَ: وَبَاعَ حَسَّانُ حِصَّتَهُ مِنۡهُ مِنۡ مُعَاوِيَةَ، فَقِيلَ لَهُ: تَبِيعُ صَدَقَةَ أَبِي طَلۡحَةَ؟ فَقَالَ: أَلَا أَبِيعُ صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ بِصَاعٍ مِنۡ دَرَاهِمَ؟ قَالَ: وَكَانَتۡ تِلۡكَ الۡحَدِيقَةُ فِي مَوۡضِعِ قَصۡرِ بَنِي جَدِيلَةَ الَّذِي بَنَاهُ مُعَاوِيَةُ. [طرفه في: ١٤٦١].

2758. Isma’il berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Abu Salamah mengabarkan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah. Aku tidak mengetahuinya kecuali dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Ketika turun ayat “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah datang menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, Allah—tabaraka wa ta’ala—berfirman dalam Kitab-Nya: ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Biruha`.”

Anas berkata: Biruha` adalah sebuah kebun yang biasa dimasuki oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau berteduh di dalamnya, dan meminum airnya.

Abu Thalhah melanjutkan, “Kebun ini aku serahkan kepada Allah—‘azza wa jalla—dan kepada Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus, wahai Abu Thalhah! Itu adalah harta yang menguntungkan. Kami telah menerimanya darimu dan kami mengembalikannya kepadamu, maka bagikanlah kebun itu untuk kerabat dekat.”

Kemudian Abu Thalhah menyedekahkannya kepada kerabat-kerabatnya.

Anas berkata: Di antara mereka adalah Ubay dan Hassan.

Anas berkata: Hassan menjual bagiannya dari kebun itu kepada Mu’awiyah, lalu dia ditanya, “Apakah engkau akan menjual sedekah Abu Thalhah?”

Hassan menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjual satu sha’ kurma dengan satu sha’ dirham?”

Anas berkata: Kebun itu dahulu berada di lokasi istana Bani Jadilah yang dibangun oleh Mu’awiyah.