Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2288

٢ - بَابٌ إِذَا أَحَالَ عَلَى مَلِيٍّ فَلَيۡسَ لَهُ رَدٌّ
2. Bab Apabila Seseorang Mengalihkan Utang kepada Orang yang Berkecukupan, Ia Tidak Boleh Membatalkannya


٢٢٨٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ ذَكۡوَانَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ، وَمَنۡ أُتۡبِعَ عَلَى مَلِيٍّ فَلۡيَتَّبِعۡ). [طرفه في: ٢٢٨٧].


2288. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Dzakwan, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Barang siapa yang utangnya dialihkan kepada orang yang berkecukupan, hendaklah ia menerima pengalihan tersebut.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2287

١ - بَابٌ فِي الۡحَوَالَةِ، وَهَلۡ يَرۡجِعُ فِي الۡحَوَالَةِ؟
1. Bab tentang Pengalihan Utang (Hiwalah) dan Apakah Seseorang Boleh Menarik Kembali Pengalihan Utangnya


وَقَالَ الۡحَسَنُ وَقَتَادَةُ: إِذَا كَانَ يَوۡمَ أَحَالَ عَلَيۡهِ مَلِيًّا جَازَ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: يَتَخَارَجُ الشَّرِيكَانِ وَأَهۡلُ الۡمِيرَاثِ، فَيَأۡخُذُ هٰذَا عَيۡنًا وَهٰذَا دَيۡنًا، فَإِنۡ تَوِيَ لِأَحَدِهِمَا لَمۡ يَرۡجِعۡ عَلَى صَاحِبِهِ.

Al-Hasan dan Qatadah berkata, “Apabila pada hari pengalihan utang, pihak yang menerima pengalihan tersebut dalam keadaan mampu, maka akadnya sah.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Dua orang yang bersekutu (dalam usaha) atau ahli waris saling berbagi (harta), lalu yang ini mengambil aset tunai dan yang itu mengambil aset piutang. Jika piutang milik salah seorang dari keduanya itu hangus (tidak terbayar), ia tidak boleh menuntut kembali kepada temannya.”

٢٢٨٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ، فَإِذَا أُتۡبِعَ أَحَدُكُمۡ عَلَى مَلِيٍّ فَلۡيَتۡبَعۡ). [الحديث ٢٢٨٧ - طرفاه في: ٢٢٨٨، ٢٤٠٠].

2287. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Maka, apabila utang salah seorang dari kalian dialihkan kepada orang yang berkecukupan (mampu membayar), hendaklah ia menerima pengalihan tersebut.”

Tafsir Surah At-Tin

تَفۡسِيرُ سُورَةِ وَالتِّينِ


وَهِيَ مَكِّيَّةٌ

Surah ini makiyah.


﴿وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيۡتُونِ * وَطُورِ سِينِينَ * وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ * لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ * ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ * إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ * فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ * أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
  2. dan demi bukit Sinai,
  3. dan demi kota (Makkah) ini yang aman,
  4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
  5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
  6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
  7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
  8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

۝١ ﴿ٱلتِّينِ﴾ هُوَ التِّينُ الۡمَعۡرُوفُ، وَكَذٰلِكَ ﴿ٱلزَّيۡتُونِ﴾ أَقۡسَمَ بِهَاتَيۡنِ الشَّجَرَتَيۡنِ لِكَثۡرَةِ مَنَافِعِ شَجَرِهِمَا وَثَمَرِهِمَا، وَلِأَنَّ سُلۡطَانَهُمَا فِي أَرۡضِ الشَّامِ مَحَلِّ نُبُوَّةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ.

“Tin” adalah buah tin yang sudah dikenal, demikian pula “Zaitun”. Allah bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat dari pohon dan buahnya, serta karena tempat tumbuh suburnya berada di tanah Syam, tempat kenabian ‘Isa putra Maryam—‘alaihis-salam—.

۝٢ ﴿وَطُورِ سِينِينَ﴾ أَيۡ: طُورِ سَيۡنَاءَ مَحَلِّ نُبُوَّةِ مُوسَى ﷺ.

“Demi bukit Sinai” yaitu Gunung Sinai, tempat kenabian Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

۝٣ ﴿وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ﴾ وَهِيَ مَكَّةُ الۡمُكَرَّمَةُ مَحَلِّ نُبُوَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ.

“Dan demi negeri yang aman ini” yaitu Makkah Al-Mukarramah, tempat kenabian Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

فَأَقۡسَمَ تَعَالَى بِهٰذِهِ الۡمَوَاضِعِ الۡمُقَدَّسَةِ الَّتِي اخۡتَارَهَا وَابۡتَعَثَ مِنۡهَا أَفۡضَلَ النُّبُوَّاتِ وَأَشۡرَفَهَا.

Allah taala bersumpah dengan tempat-tempat suci ini, yang telah Dia pilih dan menjadi tempat diutusnya para nabi yang paling utama dan paling mulia.

۝٤-۝٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ﴾ أَيۡ: تَامَّ الۡخَلۡقِ، مُتَنَاسِبَ الۡأَعۡضَاءِ، مُنۡتَصِبَ الۡقَامَةِ، لَمۡ يَفۡقِدۡ مِمَّا يَحۡتَاجُ إِلَيۡهِ ظَاهِرًا أَوۡ بَاطِنًا شَيۡئًا.

Adapun isi sumpahnya adalah firman-Nya, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” yaitu penciptaan yang sempurna, anggota tubuh yang serasi, berpostur tegak, tidak kekurangan suatu apa pun yang dibutuhkannya, baik lahir maupun batin.

وَمَعَ هٰذِهِ النِّعَمِ الۡعَظِيمَةِ الَّتِي يَنۡبَغِي مِنۡهُ الۡقِيَامُ بِشُكۡرِهَا، فَأَكۡثَرُ الۡخَلۡقِ مُنۡحَرِفُونَ عَنۡ شُكۡرِ الۡمُنۡعِمِ، مُشۡتَغِلُونَ بِاللَّهۡوِ وَاللَّعِبِ، قَدۡ رَضُوا لِأَنۡفُسِهِمۡ بِأَسَافِلِ الۡأُمُورِ وَسَفۡسَافِ الۡأَخۡلَاقِ. فَرَدَّهُمُ اللهُ فِي أَسۡفَلَ سَافِلِينَ؛ أَيۡ: أَسۡفَلَ النَّارِ، مَوۡضِعِ الۡعُصَاةِ الۡمُتَمَرِّدِينَ عَلَى رَبِّهِمۡ، إِلَّا مَنۡ مَنَّ اللهُ عَلَيۡهِ بِالۡإِيمَانِ، وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ، وَالۡأَخۡلَاقِ الۡفَاضِلَةِ الۡعَالِيَةِ.

Namun, bersamaan nikmat-nikmat yang agung ini, yang semestinya disikapi dengan bersyukur, mayoritas manusia justru berpaling dari bersyukur kepada Zat Pemberi Nikmat. Mereka sibuk dengan kelalaian dan permainan, serta rida bagi diri mereka perkara-perkara yang paling rendah dan akhlak yang hina. Allah pun mengembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu bagian bawah neraka, tempat bagi orang-orang maksiat yang membangkang kepada Rab mereka. Kecuali orang yang Allah karuniai nikmat iman, amal saleh, serta akhlak yang mulia dan luhur.

﴿فَلَهُمۡ﴾ بِذٰلِكَ الۡمَنَازِلُ الۡعَالِيَةُ، وَ﴿أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ﴾ أَيۡ: غَيۡرُ مَقۡطُوعٍ، بَلۡ لَذَّاتٌ مُتَوَافِرَةٌ، وَأَفۡرَاحٌ مُتَوَاتِرَةٌ، وَنِعَمٌ مُتَكَاثِرَةٌ، فِي أَبَدٍ لَا يَزُولُ، وَنَعِيمٍ لَا يَحُولُ، أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا.

“Maka mereka akan mendapat” dengan sebab hal itu kedudukan yang tinggi, dan “pahala yang tidak putus-putusnya” yaitu tidak terputus, melainkan kelezatan yang melimpah, kebahagiaan yang berkesinambungan, dan nikmat yang terus bertambah, dalam keabadian yang tidak akan sirna dan kenikmatan yang tidak akan beralih; buahnya tiada henti dan naungannya pun demikian.

۝٧ ﴿فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ﴾ أَيۡ: أَيُّ شَيۡءٍ يُكَذِّبُكَ أَيُّهَا الۡإِنۡسَانُ بِيَوۡمِ الۡجَزَاءِ عَلَى الۡأَعۡمَالِ، وَقَدۡ رَأَيۡتَ مِنۡ آيَاتِ اللهِ الۡكَثِيرَةِ مَا بِهِ يَحۡصُلُ لَكَ الۡيَقِينُ، وَمِنۡ نِعَمِهِ مَا يُوجِبُ عَلَيۡكَ أَنۡ لَا تَكۡفُرَ بِشَيۡءٍ مِمَّا أَخۡبَرَكَ بِهِ؟

“Maka apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari pembalasan setelah adanya keterangan-keterangan itu?” Maksudnya, wahai manusia, hal apakah yang membuatmu mendustakan hari pembalasan atas amal perbuatan, padahal kamu telah melihat sekian banyak tanda kekuasaan Allah yang dapat membuahkan keyakinan bagimu? Kamu pun telah melihat sebagian dari nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskanmu untuk tidak mengingkari sedikit pun dari apa yang Dia kabarkan kepadamu.

۝٨ ﴿أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾ فَهَلۡ تَقۡتَضِي حِكۡمَتُهُ أَنۡ يَتۡرُكَ الۡخَلۡقَ سُدًى لَا يُؤۡمَرُونَ وَلَا يُنۡهَوۡنَ، وَلَا يُثَابُونَ وَلَا يُعَاقَبُونَ؟

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” Maka apakah hikmah-Nya menghendaki untuk membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan dilarang, serta tanpa diberi pahala maupun disiksa?

أَمِ الَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ أَطۡوَارًا بَعۡدَ أَطۡوَارٍ، وَأَوۡصَلَ إِلَيۡهِمۡ مِنَ النِّعَمِ وَالۡخَيۡرِ وَالۡبِرِّ مَا لَا يُحۡصُونَهُ، وَرَبَّاهُمُ التَّرۡبِيَةَ الۡحَسَنَةَ، لَا بُدَّ أَنۡ يُعِيدَهُمۡ إِلَى دَارٍ هِيَ مُسۡتَقَرُّهُمۡ وَغَايَتُهُمۡ، الَّتِي إِلَيۡهَا يَقۡصِدُونَ وَنَحۡوَهَا يَؤُمُّونَ؟

Atau, bukankah Zat yang telah menciptakan manusia fase demi fase, mengalirkan kepada mereka nikmat, kebaikan, serta kebajikan yang tidak dapat mereka hitung, dan merawat mereka dengan perawatan yang baik, pasti akan mengembalikan mereka ke suatu negeri yang menjadi tempat menetap dan tujuan akhir mereka, yang kepadanya mereka menuju dan mengarah?

تَمَّتۡ، وَلِلهِ الۡحَمۡدُ.

Selesai dan segala puji hanya untuk Allah.

Al-Isti'ab - 921. Suraqah bin Malik

٩٢١ - [سُرَاقَةُ بۡنُ مَالِكٍ الۡكِنَانِيُّ]:
921. Suraqah bin Malik Al-Kinani


سُرَاقَةُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ جُعۡشُمِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ تَيۡمِ بۡنِ مُدۡلِجِ بۡنِ مُرَّةَ بۡنِ عَبۡدِ مَنَاةَ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ كِنَانَةَ الۡمُدۡلِجِيُّ الۡكِنَانِيُّ، يُكۡنَى أَبَا سُفۡيَانَ، كَانَ يَنۡزِلُ قُدَيۡدًا. يُعَدُّ فِي أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ. وَيُقَالُ: إِنَّهُ سَكَنَ مَكَّةَ.

Suraqah bin Malik bin Ju’syum bin Malik bin ‘Amr bin Taim bin Mudlij bin Murrah bin ‘Abd Manaf bin ‘Ali bin Kinanah Al-Mudliji Al-Kinani. Dia dikenal dengan nama kunyah Abu Sufyan. Dahulu dia tinggal di Qudaid. Dia dimasukkan ke dalam kelompok penduduk Madinah. Ada yang berpendapat bahwa dia pernah tinggal di Makkah.

رَوَى عَنۡهُ مِنَ الصَّحَابَةِ ابۡنُ عَبَّاسٍ، وَجَابِرٌ، وَرَوَى عَنۡهُ سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيِّبِ، وَابۡنُهُ مُحَمَّدُ بۡنُ سُرَاقَةَ.

Yang meriwayatkan darinya dari kalangan sahabat adalah Ibnu ‘Abbas dan Jabir. Sa’id bin Al-Musayyib dan anak Suraqah yang bernama Muhammad bin Suraqah juga meriwayatkan darinya.

وَذَكَرَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، عَنِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ عَنۡ وَائِلِ بۡنِ دَاوُدَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ سُرَاقَةَ، عَنۡ أَبِيهِ سُرَاقَةَ بۡنِ مَالِكٍ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيۡتَ الضَّالَّةَ تَرِدُ عَلَى حَوۡضِ إِبِلِي، أَلِي أَجۡرٌ إِنۡ سَقَيۡتُهَا؟ فَقَالَ: فِي الۡكَبِدِ الۡحَرَّي أَجۡرٌ.

‘Abdurrazzaq menyebutkan riwayat dari Ibnu ‘Uyainah, dari Wa`il bin Dawud, dari Az-Zuhri, dari Muhammad bin Suraqah, dari ayahnya yaitu Suraqah bin Malik:

Dia mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang unta tersesat yang mendatangi kolam untaku, apakah aku mendapatkan pahala jika aku memberinya minum?”

Beliau bersabda, “Pada setiap limpa yang haus terdapat pahala.”

وَرَوَاهُ مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡحَاقَ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ جُعۡشُمٍ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّ أَخَاهُ سُرَاقَةَ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ: أَرَأَيۡتَ الضَّالَّةَ … فَذَكَرَ مِثۡلَهُ سَوَاءً،

Muhammad bin Ishaq meriwayatkannya dari Ibnu Syihab, dari ‘Abdurrahman bin Malik bin Ju’syum, dari ayahnya, bahwa saudaranya yaitu Suraqah bin Malik berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang unta tersesat...” lalu dia menyebutkan hadis yang sama persis seperti itu.

وَرَوَى سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ الۡحَسَنِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ لِسُرَاقَةَ بۡنِ مَالِكٍ: (كَيۡفَ بِكَ إِذَا لَبِسۡتَ سِوَارَيۡ كِسۡرَى)؟، قَالَ: فَلَمَّا أُتِيَ عُمَرُ بِسِوَارَيۡ كِسۡرَى وَمِنۡطَقَتِهِ وَتَاجِهِ دَعَا سُرَاقَةَ بۡنِ مَالِكٍ فَأَلۡبَسَهُ إِيَّاهُمَا، وَكَانَ سُرَاقَةُ رَجُلًا أَزَبَّ كَثِيرَ شَعَرِ السَّاعِدَيۡنِ، وَقَالَ لَهُ: ارۡفَعۡ يَدَيۡكَ. فَقَالَ: اللهُ أَكۡبَرُ، الۡحَمۡدُ للهِ الَّذِي سَلَبَهُمَا كِسۡرَى بۡنَ هُرۡمُزَ الَّذِي كَانَ يَقُولُ: أَنَا رَبُّ النَّاسِ، وَأَلۡبَسَهُمَا سُرَاقَةَ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ جُعۡشُمٍ أَعۡرَابِيّ رَجُل مِنۡ بَنِي مُدۡلِجٍ، وَرَفَعَ بِهَا عُمَرُ صَوۡتَهُ،

Sufyan bin ‘Uyainah meriwayatkan dari Abu Musa, dari Al-Hasan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Suraqah bin Malik, “Bagaimana perasaanmu jika kelak kamu memakai kedua gelang Kisra?”

Al-Hasan berkata: Maka ketika kedua gelang Kisra, ikat pinggang, dan mahkotanya dibawa kepada ‘Umar, ‘Umar memanggil Suraqah bin Malik lalu memakaikan kedua gelang itu kepadanya. Suraqah adalah seorang laki-laki yang lebat rambutnya, banyak rambut di kedua lengan bawahnya. ‘Umar berkata kepadanya, “Angkat kedua tanganmu!”

‘Umar lalu berkata, “Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang telah merampas keduanya dari Kisra bin Hurmuz yang dahulu suka berkata: ‘Aku adalah tuhan manusia’, lalu memakaikan keduanya kepada Suraqah bin Malik bin Ju’syum, seorang Arab badui, seorang laki-laki dari Bani Mudlij.”

‘Umar meninggikan suaranya saat mengucapkan kalimat tersebut.

وَكَانَ سُرَاقَةُ بۡنُ مَالِكِ بۡنِ جُعۡشُمٍ شَاعِرًا مُجَوِّدًا وَهُوَ الۡقَائِلُ لِأَبِي جَهۡلٍ: [الطويل]

أَبَا حَكَمٍ وَاللهِ لَوۡ كُنۡتَ شَاهِدًا لِأَمۡرِ جَوَادِي إِذۡ تَسُوخُ قَوَائِمُهۡ

عَلِمۡتَ وَلَمۡ تَشۡكُكۡ بِأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولٌ بِبُرۡهَانٍ فَمَنۡ ذَا يُقَاوِمُهۡ

عَلَيۡكَ بِكَفِّ الۡقَوۡمِه عَنۡهُ فَإِنَّنِي أَرَى أَمۡرَهُ يَوۡمًا سَتَبۡدُو مَعَالِمُهۡ

بِأَمۡرٍ يَوَدُّ النَّاسُ فِيهِ بِأَسۡرِهِمۡ بِأَنَّ جَمِيعَ النَّاسِ طُرًّا يُسَالِمُهۡ

Suraqah bin Malik bin Ju’syum adalah seorang penyair yang piawai. Dialah yang berkata kepada Abu Jahl:

Wahai Abu Hakam, demi Allah, andai saja kamu menyaksikan peristiwa kudaku ketika kaki-kakinya terbenam ke dalam tanah,

Niscaya kamu akan mengetahui dan tidak ragu lagi bahwa Muhammad adalah seorang rasul dengan bukti yang nyata, maka siapakah yang mampu menandinginya?

Hendaklah kamu menahan kaummu darinya, karena sesungguhnya aku melihat urusannya suatu hari nanti tanda-tandanya pasti akan tampak nyata,

Dengan suatu urusan yang membuat seluruh manusia berharap agar semua orang tanpa terkecuali tunduk damai kepadanya.

وَمَاتَ سُرَاقَةُ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ جُعۡشُمٍ سَنَةَ أَرۡبَعٍ وَعِشۡرِينَ فِي صَدۡرِ خِلَافَةِ عُثۡمَانَ، وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّهُ مَاتَ بَعۡدَ عُثۡمَانَ.

Suraqah bin Malik bin Ju’syum wafat pada tahun 24 H pada awal kekhalifahan ‘Utsman. Ada pula yang berpendapat bahwa dia wafat setelah ‘Utsman.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5607

٥٦٠٧ - حَدَّثَنِي مَحۡمُودٌ: أَخۡبَرَنَا النَّضۡرُ: أَخۡبَرَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ قَالَ: سَمِعۡتُ الۡبَرَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ مَكَّةَ وَأَبُو بَكۡرٍ مَعَهُ، قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: مَرَرۡنَا بِرَاعٍ وَقَدۡ عَطِشَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، قَالَ أَبُو بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: فَحَلَبۡتُ كُثۡبَةً مِنۡ لَبَنٍ فِي قَدَحٍ، فَشَرِبَ حَتَّى رَضِيتُ، وَأَتَانَا سُرَاقَةُ بۡنُ جُعۡشُمٍ عَلَى فَرَسٍ فَدَعَا عَلَيۡهِ، فَطَلَبَ إِلَيۡهِ سُرَاقَةُ أَنۡ لَا يَدۡعُوَ عَلَيۡهِ، وَأَنۡ يَرۡجِعَ، فَفَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ. [طرفه في: ٢٤٣٩].

5607. Mahmud telah menceritakan kepadaku: An-Nadhr mengabarkan kepada kami: Syu’bah mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq. Ia berkata: Aku mendengar Al-Bara`—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba dari Makkah dan Abu Bakr bersama beliau. Abu Bakr menceritakan, “Kami melewati seorang penggembala dan saat itu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—benar-benar haus.”

Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—berkata, “Maka aku memerah sedikit susu ke dalam mangkuk, lalu beliau minum hingga aku merasa puas. Kemudian Suraqah bin Ju’syum mengejar kami dengan menunggang seekor kuda, lalu Nabi mendoakan keburukan atasnya. Suraqah lalu memohon kepada beliau agar tidak mendoakan keburukan atas dirinya dan berjanji untuk kembali, maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabulkan permohonannya.”