Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3820

٣٨٢٠ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ عُمَارَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَتَى جِبۡرِيلُ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذِهِ خَدِيجَةُ قَدۡ أَتَتۡ، مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوۡ طَعَامٌ أَوۡ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتۡكَ فَاقۡرَأۡ عَلَيۡهَا السَّلَامَ مِنۡ رَبِّهَا وَمِنِّي، وَبَشِّرۡهَا بِبَيۡتٍ فِي الۡجَنَّةِ مِنۡ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ. [الحديث ٣٨٢٠ - طرفه في: ٧٤٩٧].

3820. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami dari ‘Umarah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Jibril mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini Khadijah hampir datang membawa bejana yang berisi lauk atau makanan atau minuman. Apabila dia telah mendatangimu, sampaikan salam kepadanya dari Rabnya dan dariku, dan berikan kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di dalam janah berupa mutiara berongga yang tidak ada kegaduhan dan kepayahan di dalamnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7497 dan 7498

٧٤٩٧ - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ عُمَارَةَ، عَنۡ أَبِي زُرۡعَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ فَقَالَ: (هٰذِهِ خَدِيجَةُ أَتَتۡكَ بِإِنَاءٍ فِيهِ طَعَامٌ، أَوۡ إِنَاءٍ فِيهِ شَرَابٌ، فَأَقۡرِئۡهَا مِنۡ رَبِّهَا السَّلَامَ، وَبَشِّرۡهَا بِبَيۡتٍ مِنۡ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ). [طرفه في: ٣٨٢٠].

7497. Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami dari ‘Umarah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah. Nabi bersabda, “(Jibril berkata:) Ini Khadijah datang kepadamu membawa sebuah bejana yang berisi makanan atau minuman. Sampaikan salam dari Rabnya kepadanya dan berilah kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah dari mutiara berongga yang tidak ada kegaduhan dan kepayahan di dalamnya.”

٧٤٩٨ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ أَسَدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (قَالَ اللهُ: أَعۡدَدۡتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيۡنٌ رَأَتۡ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتۡ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلۡبِ بَشَرٍ). [طرفه في: ٣٢٤٤].

7498. Mu’adz bin Asad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Allah berkata, ‘Aku telah menyiapkan pahala yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terpikir dalam hati manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.’”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5953

٥٩٥٣ - حَدَّثَنَا مُوسَى: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا عُمَارَةُ: حَدَّثَنَا أَبُو زُرۡعَةَ قَالَ: دَخَلۡتُ مَعَ أَبِي هُرَيۡرَةَ دَارًا بِالۡمَدِينَةِ، فَرَأَى أَعۡلَاهَا مُصَوِّرًا يُصَوِّرُ، فَقَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنۡ ذَهَبَ يَخۡلُقُ كَخَلۡقِي، فَلۡيَخۡلُقُوا حَبَّةً، وَلۡيَخۡلُقُوا ذَرَّةً). ثُمَّ دَعَا بِتَوۡرٍ مِنۡ مَاءٍ، فَغَسَلَ يَدَيۡهِ حَتَّى بَلَغَ إِبۡطَهُ، فَقُلۡتُ: يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ، أَشَيۡءٌ سَمِعۡتَهُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: مُنۡتَهَى الۡحِلۡيَةِ. [الحديث ٥٩٥٣ - طرفه في: ٧٥٥٩].

5953. Musa telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami: ‘Umarah menceritakan kepada kami: Abu Zur’ah menceritakan kepada kami. Beliau berkata:

Aku memasuki suatu rumah di Madinah bersama Abu Hurairah, lalu beliau melihat di bagian atasnya ada tukang gambar yang sedang menggambar. Beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “(Allah berkata:) Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang berusaha membuat seperti ciptaan-Ku. Coba saja mereka menciptakan satu benih atau coba mereka menciptakan seekor semut.”

Kemudian Abu Hurairah meminta sebaskom air lalu mencuci kedua tangannya sampai ketiak. Aku (Abu Zur’ah) bertanya, “Apakah ini adalah sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

Abu Hurairah menjawab, “Ini adalah batas perhiasan.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5951

٥٩٥١ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ عِيَاضٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ الَّذِينَ يَصۡنَعُونَ هٰذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، يُقَالُ لَهُمۡ: أَحۡيُوا مَا خَلَقۡتُمۡ). [الحديث ٥٩٥١ - طرفه في: ٧٥٥٨].

5951. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepada kami: Anas bin ‘Iyadh menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’: ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkan kepadanya: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kalian buat!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3133

٣١٣٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ. قَالَ: وَحَدَّثَنِي الۡقَاسِمُ بۡنُ عَاصِمٍ الۡكُلَيۡبِيُّ، وَأَنَا لِحَدِيثِ الۡقَاسِمِ أَحۡفَظُ، عَنۡ زَهۡدَمٍ، قَالَ: كُنَّا عِنۡدَ أَبِي مُوسَى، فَأُتِيَ - ذَكَرَ دَجَاجَةً - وَعِنۡدَهُ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي تَيۡمِ اللهِ أَحۡمَرُ كَأَنَّهُ مِنَ الۡمَوَالِي، فَدَعَاهُ لِلطَّعَامِ، فَقَالَ: إِنِّي رَأَيۡتُهُ يَأۡكُلُ شَيۡئًا فَقَذِرۡتُهُ، فَحَلَفۡتُ لَا آكُلُ، فَقَالَ: هَلُمَّ فَلَأُحَدِّثۡكُمۡ عَنۡ ذَاكَ، إِنِّي أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي نَفَرٍ مِنَ الۡأَشۡعَرِيِّينَ نَسۡتَحۡمِلُهُ، فَقَالَ: (وَاللهِ لَا أَحۡمِلُكُمۡ، وَمَا عِنۡدِي مَا أَحۡمِلُكُمۡ). وَأُتِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِنَهۡبِ إِبِلٍ، فَسَأَلَ عَنَّا فَقَالَ: (أَيۡنَ النَّفَرُ الۡأَشۡعَرِيُّونَ؟). فَأَمَرَ لَنَا بِخَمۡسِ ذَوۡدٍ غُرِّ الذُّرَى، فَلَمَّا انۡطَلَقۡنَا قُلۡنَا: مَا صَنَعۡنَا؟ لَا يُبَارَكُ لَنَا، فَرَجَعۡنَا إِلَيۡهِ، فَقُلۡنَا: إِنَّا سَأَلۡنَاكَ أَنۡ تَحۡمِلَنَا، فَحَلَفۡتَ أَنۡ لَا تَحۡمِلَنَا، أَفَنَسِيتَ؟ قَالَ: (لَسۡتُ أَنَا حَمَلۡتُكُمۡ، وَلَكِنَّ اللهَ حَمَلَكُمۡ، وَإِنِّي وَاللهِ إِنۡ شَاءَ اللهُ لَا أَحۡلِفُ عَلَى يَمِينٍ، فَأَرَى غَيۡرَهَا خَيۡرًا مِنۡهَا، إِلَّا أَتَيۡتُ الَّذِي هُوَ خَيۡرٌ، وَتَحَلَّلۡتُهَا). [الحديث ٣١٣٣ - أطرافه في: ٤٣٨٥، ٤٤١٥، ٥٥١٧، ٥٥١٨، ٦٦٢٣، ٦٦٤٩، ٦٦٧٨، ٦٦٨٠، ٦٧١٨، ٦٧١٩، ٦٧٢١، ٧٥٥٥].

3133. ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami: Ayyub menceritakan kepada kami dari Abu Qilabah. Ayyub berkata: Al-Qasim bin ‘Ashim Al-Kulaibi menceritakan kepadaku dan aku lebih menghafal hadis Al-Qasim, dari Zahdam. Beliau berkata:

Suatu ketika kami berada di tempat Abu Musa, lalu dihidangkanlah masakan daging ayam. Di dekat beliau ada seorang pria berkulit merah dari bani Taimullah, sepertinya dia mantan budak yang telah dimerdekakan. Abu Musa mengajaknya makan lalu pria itu berkata, “Sungguh aku pernah melihat ayam memakan suatu (yang kotor) sehingga aku merasa jijik dan bersumpah untuk tidak memakannya.”

Lalu Abu Musa berkata:

Kemarilah! Aku akan ceritakan kepadamu tentang hal itu. Sungguh aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersama serombongan orang Al-Asy’ari untuk minta tunggangan kepada beliau. Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak bisa mengangkut kalian dan aku tidak memiliki tunggangan untuk mengangkut kalian.”

Lalu ada yang datang kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membawa unta-unta rampasan perang. Beliau menanyakan kami, “Di mana orang-orang Al-Asy’ari tadi?”

Beliau memerintahkan lima ekor unta yang berpunuk putih diberikan kepada kami, kemudian ketika kami telah berangkat, kami berkata, “Apa yang telah kita lakukan? Pemberian itu tidak diberkahi.”

Kami kembali menemui Rasulullah, lalu kami berkata, “Sesungguhnya kami meminta agar Anda mengangkut kami lalu Anda telah bersumpah tidak bisa mengangkut kami. Apakah Anda lupa?”

Rasulullah berkata, “Bukan aku yang memberi tunggangan kepada kalian, akan tetapi Allah yang memberi tunggangan kepada kalian. Demi Allah, sungguh, insyaallah, tidaklah aku bersumpah atas sesuatu, lalu aku melihat perkara lainnya lebih baik daripadanya, kecuali aku akan melakukan perkara yang lebih baik dan aku menebus sumpah itu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6596

٢ - بَابٌ جَفَّ الۡقَلَمُ عَلَى عِلۡمِ اللهِ
2. Bab Pena Telah Kering atas Dasar Ilmu Allah


وَقَوۡلُهُ: ﴿وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلۡمٍ﴾ [الجاثية: ٢٣]. وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ ﷺ: (جَفَّ الۡقَلَمُ بِمَا أَنۡتَ لَاقٍ). قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿لَهَا سَابِقُونَ﴾ [المؤمنون: ٦١] سَبَقَتۡ لَهُمُ السَّعَادَةُ.

Dan firman Allah, “Dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya.” (QS Al-Jatsiyah: 23).

Abu Hurairah berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadaku, “Pena telah kering dengan (menulis) semua kejadian yang akan engkau jumpai.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al-Mu’minun: 61) artinya kebahagiaan mendahului mereka.

٦٥٩٦ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ الرِّشۡكُ قَالَ: سَمِعۡتُ مُطَرِّفَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الشِّخِّيرِ يُحَدِّثُ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُعۡرَفُ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ مِنۡ أَهۡلِ النَّارِ؟ قَالَ: (نَعَمۡ). قَالَ: فَلِمَ يَعۡمَلُ الۡعَامِلُونَ؟ قَالَ: (كُلٌّ يَعۡمَلُ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَوۡ: لِمَا يُسِّرَ لَهُ). [الحديث ٦٥٩٦ - طرفه في: ٧٥٥١].

6596. Adam telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Yazid Ar-Risyk menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Mutharrif bin ‘Abdullah bin Asy-Syihr menceritakan dari ‘Imran bin Hushain. Beliau berkata:

Seorang pria bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sudah diketahui siapa penghuni janah dari penghuni neraka?”

Beliau menjawab, “Iya.”

Pria itu bertanya, “Lalu untuk apa orang-orang beramal?”

Rasulullah menjawab, “Setiap orang melakukan amalan sesuai yang diciptakan untuknya; atau: sesuai yang dimudahkan untuknya.”

Musnad Ahmad hadis nomor 7443

٧٤٤٣ (٧٤٥٠) - حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَوۡ عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ –(هُوَ شَكَّ، يَعۡنِي الۡأَعۡمَشَ)- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ لِلهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، لِكُلِّ عَبۡدٍ مِنۡهُمۡ دَعۡوَةٌ مُسۡتَجَابَةٌ. [صحيح مسلم (١٠٧٩)].

7443. (7450). Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah atau dari Abu Sa’id—Al-A’masy ragu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari neraka) dalam setiap hari dan malam. Setiap hamba dari mereka memiliki doa yang mustajab.”

Shahih Muslim hadis nomor 822

٤٩ - بَابُ تَرۡتِيلِ الۡقِرَاءَةِ وَاجۡتِنَابِ الۡهَذِّ - وَهُوَ الۡإِفۡرَاطُ فِي السُّرۡعَةِ - وَإِبَاحَةِ سُورَتَيۡنِ فَأَكۡثَرَ فِي الرَّكۡعَةِ
49. Bab Tartil dalam Qiraah dan Menjauhi Hadzdz, yaitu Terlalu Cepat, dan Bab Pembolehan Membaca Dua Surah atau Lebih dalam Satu Rakaat


٢٧٥ - (٨٢٢) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَابۡنُ نُمَيۡرٍ، جَمِيعًا عَنۡ وَكِيعٍ، قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: نَهِيكُ بۡنُ سِنَانٍ إِلَىٰ عَبۡدِ اللهِ. فَقَالَ: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، كَيۡفَ تَقۡرَأُ هٰذَا الۡحَرۡفَ. أَلِفًا تَجِدُهُ أَمۡ يَاءً: مِنۡ مَاءٍ غَيۡرِ آسِنٍ أَوۡ مِنۡ مَاءٍ غَيۡرِ يَاسِنٍ؟ قَالَ: فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: وَكُلَّ الۡقُرۡآنِ قَدۡ أَحۡصَيۡتَ غَيۡرَ هٰذَا؟ قَالَ: إِنِّي لَأَقۡرَأُ الۡمُفَصَّلَ فِي رَكۡعَةٍ. فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: هَذًّا كَهَذِّ الشِّعۡرِ؟ إِنَّ أَقۡوَامًا يَقۡرَءُونَ الۡقُرۡآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمۡ. وَلَكِنۡ إِذَا وَقَعَ فِي الۡقَلۡبِ فَرَسَخَ فِيهِ، نَفَعَ. إِنَّ أَفۡضَلَ الصَّلَاةِ الرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ. إِنِّي لَأَعۡلَمُ النَّظَائِرَ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَقۡرُنُ بَيۡنَهُنَّ. سُورَتَيۡنِ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ. ثُمَّ قَامَ عَبۡدُ اللهِ فَدَخَلَ عَلۡقَمَةُ فِي إِثۡرِهِ. ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ: قَدۡ أَخۡبَرَنِي بِهَا.

قَالَ ابۡنُ نُمَيۡرٍ فِي رِوَايَتِهِ: جَاءَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي بَجِيلَةَ إِلَىٰ عَبۡدِ اللهِ. وَلَمۡ يَقُلۡ: نَهِيكُ بۡنُ سِنَانٍ.


275. (822). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair semuanya telah menceritakan kepada kami dari Waki’. Abu Bakr berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il. Beliau berkata:

Seorang pria yang dipanggil dengan nama Nahik bin Sinan datang kepada ‘Abdullah lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrahman, bagaimana engkau mendengar huruf ini dibaca, dengan alif atau ya: min mā’in gairi āsin atau min mā’in gairi yāsin?”

Abu Wa`il berkata: Lalu ‘Abdullah berkata, “Apakah seluruh Al-Qur’an telah engkau hafalkan selain ini?”

Dia berkata, “Sungguh aku benar-benar membaca surah-surah yang termasuk dalam kategori Al-Mufashshal dalam satu rakaat.”

‘Abdullah berkata, “Apakah engkau membacanya dengan terlalu cepat seperti cepatnya bacaan syair? Sungguh ada kaum-kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melampaui tulang selangka mereka. Namun jika bacaan itu masuk ke dalam hati lalu meresap, niscaya akan bermanfaat. Sesungguhnya amalan salat yang paling utama adalah rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku benar-benar tahu surah-surah serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menggabungkan antara mereka yaitu dengan membaca dua surah dalam satu rakaat.”

Kemudian ‘Abdullah berdiri, lalu ‘Alqamah masuk menyusulnya, kemudian keluar lalu berkata, “Sungguh beliau telah mengabarkannya kepadaku.”

Ibnu Numair berkata dalam riwayatnya: Seorang lelaki dari bani Bajilah datang kepada ‘Abdullah dan beliau tidak mengatakan Nahik bin Sinan.

٢٧٦ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ عَبۡدِ اللهِ، يُقَالُ لَهُ نَهِيكُ بۡنُ سِنَانٍ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ وَكِيعٍ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: فَجَاءَ عَلۡقَمَةُ لِيَدۡخُلَ عَلَيۡهِ. فَقُلۡنَا لَهُ: سَلۡهُ عَنِ النَّظَائِرِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَقۡرَأُ بِهَا فِي رَكۡعَةٍ. فَدَخَلَ عَلَيۡهِ فَسَأَلَهُ. ثُمَّ خَرَجَ عَلَيۡنَا فَقَالَ: عِشۡرُونَ سُورَةً مِنَ الۡمُفَصَّلِ. فِي تَأۡلِيفِ عَبۡدِ اللهِ.

276. Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il. Beliau berkata: Seorang pria yang dikenal dengan nama Nahik bin Sinan datang kepada ‘Abdullah… semisal hadis Waki’, hanya saja beliau berkata: Lalu ‘Alqamah datang untuk menemui beliau. Lalu kami berkata kepadanya, “Tanyakan kepada beliau tentang surah-surah yang serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membacanya dalam satu rakaat.”

‘Alqamah masuk menemui beliau lalu bertanya kepada beliau, kemudian keluar menemui kami lantas berkata, “Dua puluh surah yang termasuk kategori Al-Mufashshal sesuai susunan ‘Abdullah (bin Mas’ud).”

٢٧٧ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ فِي هٰذَا الۡإِسۡنَادِ... بِنَحۡوِ حَدِيثِهِمَا. وَقَالَ: إِنِّي لَأَعۡرِفُ النَّظَائِرَ الَّتِي كَانَ يَقۡرَأُ بِهِنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ. اثۡنَتَيۡنِ فِي رَكۡعَةٍ. عِشۡرِينَ سُورَةً فِي عَشۡرِ رَكَعَاتٍ.

277. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dalam sanad ini, semisal hadis keduanya dan beliau berkata: Sungguh aku benar-benar mengetahui surah-surah serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membacanya dua surah dalam satu rakaat. Dua puluh surah dalam sepuluh rakaat.

٢٧٨ - (...) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا مَهۡدِيُّ بۡنُ مَيۡمُونٍ: حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الۡأَحۡدَبُ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ. قَالَ: غَدَوۡنَا عَلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ يَوۡمًا بَعۡدَ مَا صَلَّيۡنَا الۡغَدَاةَ. فَسَلَّمۡنَا بِالۡبَابِ. فَأَذِنَ لَنَا. قَالَ: فَمَكَثۡنَا بِالۡبَابِ هُنَيَّةً. قَالَ: فَخَرَجَتِ الۡجَارِيَةُ فَقَالَتۡ: أَلَا تَدۡخُلُونَ؟ فَدَخَلۡنَا، فَإِذَا هُوَ جَالِسٌ يُسَبِّحُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكُمۡ أَنۡ تَدۡخُلُوا وَقَدۡ أُذِنَ لَكُمۡ؟ فَقُلۡنَا: لَا، إِلَّا أَنَّا ظَنَنَّا أَنَّ بَعۡضَ أَهۡلِ الۡبَيۡتِ نَائِمٌ. قَالَ ظَنَنۡتُمۡ بِآلِ ابۡنِ أُمِّ عَبۡدٍ غَفۡلَةً؟ قَالَ: ثُمَّ أَقۡبَلَ يُسَبِّحُ حَتَّىٰ ظَنَّ أَنَّ الشَّمۡسَ قَدۡ طَلَعَتۡ. فَقَالَ: يَا جَارِيَةُ انۡظُرِي هَلۡ طَلَعَتۡ؟ قَالَ فَنَظَرَتۡ فَإِذَا هِيَ لَمۡ تَطۡلُعۡ. فَأَقۡبَلَ يُسَبِّحُ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّ الشَّمۡسَ قَدۡ طَلَعَتۡ قَالَ: يَا جَارِيَةُ انۡظُرِي هَلۡ طَلَعَتۡ؟ فَنَظَرَتۡ فَإِذَا هِيَ قَدۡ طَلَعَتۡ. فَقَالَ: الۡحَمۡدُ لِلهِ الَّذِي أَقَالَنَا يَوۡمَنَا هٰذَا. - فَقَالَ مَهۡدِيٌّ وَأَحۡسِبُهُ قَالَ - وَلَمۡ يُهۡلِكۡنَا بِذُنُوبِنَا. قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: قَرَأۡتُ الۡمُفَصَّلَ الۡبَارِحَةَ كُلَّهُ. قَالَ: فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: هَذًّا كَهَذِّ الشِّعۡرِ؟ إِنَّا لَقَدۡ سَمِعۡنَا الۡقَرَائِنَ. وَإِنِّي لَأَحۡفَظُ الۡقَرَائِنَ الَّتِي كَانَ يَقۡرَؤُهُنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ. ثَمَانِيَةَ عَشَرَ مِنَ الۡمُفَصَّلِ، وَسُورَتَيۡنِ مِنۡ آلِ حم.


278. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami: Washil Al-Ahdab menceritakan kepada kami dari Abu Wa`il.

Abu Wa`il berkata: Kami berangkat di suatu pagi hari ke tempat ‘Abdullah bin Mas’ud setelah kami salat Subuh. Kami mengucapkan salam di depan pintu lalu beliau mengizinkan kami masuk. Beliau berkata: Kami tetap di depan pintu sejenak. Beliau berkata: Seorang budak perempuan keluar lalu berkata, “Mengapa kalian tidak masuk?”

Kami pun masuk. Ternyata beliau sedang duduk sambil bertasbih. Beliau bertanya, “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk padahal kalian sudah diizinkan?”

Kami menjawab, “Tidak ada kecuali kami tadi mengira bahwa sebagian keluarga sedang tidur.”

Beliau berkata, “Apakah kalian mengira bahwa keluarga Ibnu Umu ‘Abd lalai?”

Abu Wa`il berkata: Kemudian beliau kembali bertasbih sampai beliau mengira bahwa matahari telah terbit. Beliau berkata, “Wahai pelayan, lihatlah apakah matahari telah terbit?”

Budak perempuan itu berusaha melihat, ternyata matahari belum terbit. Beliau kembali bertasbih sampai beliau mengira bahwa matahari telah terbit. Beliau berkata, “Wahai pelayan, coba lihatlah apakah matahari telah terbit?”

Budak perempuan itu pergi melihat ternyata matahari telah terbit. Beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memaafkan kami pada hari ini.”

Mahdi berkata: Aku mengira beliau juga berkata, “Dan tidak membinasakan kami dengan sebab dosa-dosa kami.”

Abu Wa`il berkata: Seorang laki-laki dari kaum itu berkata, “Aku membaca semua surah (yang termasuk kategori) Al-Mufashshal tadi malam.”

‘Abdullah berkata, “Apakah kamu membacanya dengan sangat cepat seperti membaca syair? Sungguh kami telah mendengar surah-surah serupa yang dibaca dengan digabung dalam satu rakaat dan sungguh aku benar-benar menghafal surah-surah serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membacanya, yaitu delapan belas surah Al-Mufashshal dan dua surah dari surah-surah yang diawali oleh ḥā mīm.”

٢٧٩ - (...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجُعۡفِيُّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ شَقِيقٍ. قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنۡ بَنِي بَجِيلَةَ. يُقَالُ لَهُ: نَهِيكُ بۡنُ سِنَانٍ، إِلَى عَبۡدِ اللهِ. فَقَالَ: إِنِّي أَقۡرَأُ الۡمُفَصَّلَ فِي رَكۡعَةٍ. فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: هَذًّا كَهَذِّ الشِّعۡرِ؟ لَقَدۡ عَلِمۡتُ النَّظَائِرَ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَقۡرَأُ بِهِنَّ سُورَتَيۡنِ فِي رَكۡعَةٍ.

279. ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Husain bin ‘Ali Al-Ju’fi menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari Manshur, dari Syaqiq. Beliau berkata:

Seorang pria dari bani Bajilah yang dinamai Nahik bin Sinan datang menemui ‘Abdullah lalu berkata, “Sesungguhnya aku membaca surah-surah (yang termasuk kategori) Al-Mufashshal dalam satu rakaat.”

‘Abdullah berkata, “Apakah engkau membaca dengan terlalu cepat seperti membaca syair? Sungguh aku mengetahui surah-surah serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membacanya dua surah-dua surah dalam satu rakaat.

(...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ. قَالَ ابۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا وَائِلٍ يُحَدِّثُ؛ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى ابۡنِ مَسۡعُودٍ فَقَالَ: إِنِّي قَرَأۡتُ الۡمُفَصَّلَ اللَّيۡلَةَ كُلَّهُ فِي رَكۡعَةٍ. فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: هَذًّا كَهَذِّ الشِّعۡرِ؟ فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ: لَقَدۡ عَرَفۡتُ النَّظَائِرَ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَقۡرُنُ بَيۡنَهُنَّ. قَالَ: فَذَكَرَ عِشۡرِينَ سُورَةً مِنَ الۡمُفَصَّلِ، سُورَتَيۡنِ سُورَتَيۡنِ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ.


Muhammad bin Al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami. Ibnu Al-Mutsanna berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Murrah: Beliau mendengar Abu Wa`il menceritakan:

Seorang pria datang kepada Ibnu Mas’ud seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah membaca seluruh surah (dalam kategori) Al-Mufashshal tadi malam dalam satu rakaat.”

‘Abdullah berkata, “Apakah engkau membaca terlalu cepat seperti membaca syair?” ‘Abdullah berkata lagi, “Sungguh aku mengetahui surah-surah serupa yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menggabungkannya (dalam satu rakaat).” Beliau berkata: Lalu beliau menyebutkan dua puluh surah yang termasuk kategori Al-Mufashshal yang dibaca dua surah-dua surah dalam setiap rakaat.

Shahih Muslim hadis nomor 789

٢٢٦ - (٧٨٩) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الۡقُرۡآنِ كَمَثَلِ الۡإِبِلِ الۡمُعَقَّلَةِ. إِنۡ عَاهَدَ عَلَيۡهَا أَمۡسَكَهَا، وَإِنۡ أَطۡلَقَهَا ذَهَبَتۡ).


226. (789) Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membacakan kepada Malik, dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an bagaikan unta yang ditambat. Jika dia menjaga tambatannya, dia dapat menahan unta itu, namun jika dia melepas tambatannya, unta itu akan pergi.”

٢٢٧ - (...) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَعُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - وَهُوَ الۡقَطَّانُ – (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الۡأَحۡمَرُ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. كُلُّهُمۡ عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ أَيُّوبَ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ - يَعۡنِي ابۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ – (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡحَاقَ الۡمُسَيَّبِيُّ: حَدَّثَنَا أَنَسٌ - يَعۡنِي ابۡنَ عِيَاضٍ - جَمِيعًا عَنۡ مُوسَىٰ بۡنِ عُقۡبَةَ. كُلُّ هَٰؤُلَاءِ عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمَعۡنَىٰ حَدِيثِ مَالِكٍ.

وَزَادَ فِي حَدِيثِ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ: (وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الۡقُرۡآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ. وَإِذَا لَمۡ يَقُمۡ بِهِ نَسِيَهُ).

227. Zuhair bin Harb, Muhammad bin Al-Mutsanna, dan ‘Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Khalid Al-Ahmar menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. Mereka semua dari ‘Ubaidullah. (Dalam riwayat lain) Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Ayyub. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Ishaq Al-Musayyabi telah menceritakan kepada kami: Anas bin ‘Iyadh menceritakan kepada kami. Semuanya dari Musa bin ‘Uqbah. Mereka semua dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, semakna dengan hadis Malik.

Perawi menambahkan dalam hadis Musa bin ‘Uqbah: “Apabila penghafal Al-Qur’an menggunakan hafalannya dengan membacanya di malam dan siang hari, niscaya dia akan mengingatnya. Jika dia tidak menggunakan hafalannya, dia akan melupakannya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4485

١١ - بَابُ ﴿قُولُوا آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنۡزِلَ إِلَيۡنَا﴾ [١٣٦]
11. Bab “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kami” (QS Al-Baqarah: 136)


٤٤٨٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ: أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ أَهۡلُ الۡكِتَابِ يَقۡرَأُونَ التَّوۡرَاةَ بِالۡعِبۡرَانِيَّةِ، وَيُفَسِّرُونَهَا بِالۡعَرَبِيَّةِ لِأَهۡلِ الإِسۡلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تُصَدِّقُوا أَهۡلَ الۡكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمۡ، وَقُولُوا: ﴿آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنۡزِلَ إِلَيۡنَا﴾). [الحديث ٤٤٨٥ - طرفاه في: ٧٣٦٢، ٧٥٤٢].

4485. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: ‘Utsman bin ‘Umar menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Al-Mubarak mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan:

Dahulu ahli kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk kaum muslimin, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian memercayai ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka! Ucapkanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kami…’ (QS Al-Baqarah: 136).”

Al-Isti'ab - 2710. Hisyam bin Hakim

٢٧١٠ - [هِشَامُ بۡنُ حَكِيمٍ الۡقُرَشِيُّ]:
2710. Hisyam bin Hakim Al-Qurasyi


هِشَامُ بۡنُ حَكِيمِ بۡنِ حِزَامِ بۡنِ خُوَيۡلِدِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى الۡقُرَشِيُّ الۡأَسَدِيُّ.

Hisyam bin Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza Al-Qurasyi Al-Asadi.

أَسۡلَمَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، وَمَاتَ قَبۡلَ أَبِيهِ، وَكَانَ مِنۡ فُضَلَاءِ الصَّحَابَةِ وَخِيَارِهِمۡ مِمَّنۡ يَأۡمُرُ بِالۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰ عَنِ الۡمُنۡكَرِ. ذَكَرَ مَالِكٌ أَنَّ عُمَرَ بۡنَ الۡخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ إِذَا بَلَغَهُ أَمۡرٌ يُنۡكِرُهُ: أَمَّا مَا بَقِيتُ أَنَا وَهِشَامُ بۡنُ حَكِيمٍ فَلَا يَكُونُ ذٰلِكَ.

Beliau memeluk agama Islam pada hari penaklukan Makkah dan wafat sebelum ayahnya. Beliau termasuk di antara sahabat yang utama dan terbaik, termasuk orang-orang yang senantiasa memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Malik menyebutkan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab dahulu pernah berkata apabila sampai kepadanya suatu perkara yang ia ingkari, “Selama aku dan Hisyam bin Hakim masih ada, maka kemungkaran itu tidak akan terjadi.”

وَرَوَى ابۡنُ وَهۡبٍ عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، قَالَ: كَانَ هِشَامُ بۡنُ حَكِيمٍ فِي نَفَرٍ مِنۡ أَهۡلِ الشَّامِ يَأۡمُرُونَ بِالۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ، لَيۡسَ لِأَحَدٍ عَلَيۡهِمۡ إِمَارَةٌ. قَالَ مَالِكٌ: كَانُوا يَمۡشُونَ فِي الۡأَرۡضِ بِالۡإِصۡلَاحِ وَالنَّصِيحَةِ يَحۡتَسِبُونَ، قَالَ: وَسَمِعۡتُ مَالِكًا يَقُولُ: كَانَ هِشَامُ بۡنُ حَكِيمٍ كَالسَّائِحِ لَمۡ يَتَّخِذۡ أَهۡلًا وَلَا وَلَدًا.

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Malik, dari Ibnu Syihab. Ia berkata, “Dahulu Hisyam bin Hakim berada di tengah sekelompok penduduk Syam yang memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Tidak ada seorang pun yang berkuasa atas mereka.”

Malik berkata, “Mereka berjalan di muka bumi untuk melakukan perbaikan dan memberi nasihat dengan mengharap pahala dari Allah.”

Ia berkata: Dan aku mendengar Malik berkata, “Hisyam bin Hakim itu seperti seorang pengembara, beliau tidak berkeluarga dan tidak pula memiliki anak.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3395 dan 3396

٣٣٩٥ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ قَتَادَةَ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا الۡعَالِيَةِ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عَمِّ نَبِيِّكُمۡ، يَعۡنِي ابۡنَ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَنۡبَغِي لِعَبۡدٍ أَنۡ يَقُولَ: أَنَا خَيۡرٌ مِنۡ يُونُسَ بۡنِ مَتَّى). وَنَسَبَهُ إِلَى أَبِيهِ. [الحديث ٣٣٩٥ - أطرافه في: ٣٤١٣، ٤٦٣٠، ٧٥٣٩].

3395. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Qatadah. Beliau berkata: Aku mendengar Abu Al-‘Aliyah: Sepupu nabi kalian, yakni Ibnu ‘Abbas, menceritakan kepada kami, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Tidak pantas bagi seorang hamba pun untuk mengatakan bahwa aku lebih baik daripada Yunus bin Matta.” Beliau menasabkan Yunus kepada ayahnya.

٣٣٩٦ - وَذَكَرَ النَّبِيُّ ﷺ لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِهِ فَقَالَ: (مُوسَى آدَمُ، طُوَالٌ، كَأَنَّهُ مِنۡ رِجَالِ شَنُوءَةَ) وَقَالَ: (عِيسَى جَعۡدٌ مَرۡبُوعٌ). وَذَكَرَ مَالِكًا خَازِنَ النَّارِ، وَذَكَرَ الدَّجَّالَ. [طرفه في: ٣٢٣٩].

3396. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyebutkan tentang malam beliau diperjalankan, beliau mengatakan, “Nabi Musa berkulit cokelat lagi berbadan tinggi, seakan-akan dia dari pria suku Syanu’ah.” Beliau juga mengatakan, “Nabi ‘Isa berambut keriting dan bertinggi badan sedang.” Beliau juga menyebut Malik malaikat penjaga neraka dan menyebut Dajjal.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3159 dan 3160

٣١٥٩ - حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ يَعۡقُوبَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ جَعۡفَرٍ الرَّقِّيُّ: حَدَّثَنَا الۡمُعۡتَمِرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ الثَّقَفِيُّ: حَدَّثَنَا بَكۡرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡمُزَنِيُّ وَزِيَادُ بۡنُ جُبَيۡرٍ، عَنۡ جُبَيۡرِ بۡنِ حَيَّةَ قَالَ: بَعَثَ عُمَرُ النَّاسَ فِي أَفۡنَاءِ الۡأَمۡصَارِ يُقَاتِلُونَ الۡمُشۡرِكِينَ، فَأَسۡلَمَ الۡهُرۡمُزَانُ، فَقَالَ: إِنِّي مُسۡتَشِيرُكَ فِي مَغَازِيَّ هٰذِهِ، قَالَ: نَعَمۡ، مَثَلُهَا وَمَثَلُ مَنۡ فِيهَا مِنَ النَّاسِ مِنۡ عَدُوِّ الۡمُسۡلِمِينَ مَثَلُ طَائِرٍ لَهُ رَأۡسٌ وَلَهُ جَنَاحَانِ وَلَهُ رِجۡلَانِ، فَإِنۡ كُسِرَ أَحَدُ الۡجَنَاحَيۡنِ نَهَضَتِ الرِّجۡلَانِ بِجَنَاحٍ وَالرَّأۡسُ، فَإِنۡ كُسِرَ الۡجَنَاحُ الۡآخَرُ نَهَضَتِ الرِّجۡلَانِ وَالرَّأۡسُ، وَإِنۡ شُدِخَ الرَّأۡسُ، ذَهَبَتِ الرِّجۡلَانِ وَالۡجَنَاحَانِ وَالرَّأۡسُ، فَالرَّأۡسُ كِسۡرَى، وَالۡجَنَاحُ قَيۡصَرُ، وَالۡجَنَاحُ الۡآخَرُ فَارِسُ، فَمُرِ الۡمُسۡلِمِينَ فَلۡيَنۡفِرُوا إِلَى كِسۡرَى. وَقَالَ بَكۡرٌ وَزِيَادٌ جَمِيعًا: عَنۡ جُبَيۡرِ بۡنِ حَيَّةَ، قَالَ: فَنَدَبَنَا عُمَرُ، وَاسۡتَعۡمَلَ عَلَيۡنَا النُّعۡمَانَ بۡنَ مُقَرِّنٍ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِأَرۡضِ الۡعَدُوِّ، وَخَرَجَ عَلَيۡنَا عَامِلُ كِسۡرَى فِي أَرۡبَعِينَ أَلۡفًا، فَقَامَ تُرۡجُمَانٌ فَقَالَ: لِيُكَلِّمۡنِي رَجُلٌ مِنۡكُمۡ، فَقَالَ الۡمُغِيرَةُ: سَلۡ عَمَّا شِئۡتَ، قَالَ: مَا أَنۡتُمۡ؟ قَالَ: نَحۡنُ أُنَاسٌ مِنَ الۡعَرَبِ، كُنَّا فِي شَقَاءٍ شَدِيدٍ، وَبَلَاءٍ شَدِيدٍ، نَمَصُّ الۡجِلۡدَ وَالنَّوَى مِنَ الۡجُوعِ، وَنَلۡبَسُ الۡوَبَرَ وَالشَّعَرَ، وَنَعۡبُدُ الشَّجَرَ وَالۡحَجَرَ، فَبَيۡنَا نَحۡنُ كَذٰلِكَ إِذۡ بَعَثَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الۡأَرَضِينَ - تَعَالَى ذِكۡرُهُ، وَجَلَّتۡ عَظَمَتُهُ - إِلَيۡنَا نَبِيًّا مِنۡ أَنۡفُسِنَا نَعۡرِفُ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، فَأَمَرَنَا نَبِيُّنَا، رَسُولُ رَبِّنَا ﷺ: أَنۡ نُقَاتِلَكُمۡ حَتَّى تَعۡبُدُوا اللهَ وَحۡدَهُ أَوۡ تُؤَدُّوا الۡجِزۡيَةَ، وَأَخۡبَرَنَا نَبِيُّنَا ﷺ عَنۡ رِسَالَةِ رَبِّنَا: أَنَّهُ مَنۡ قُتِلَ مِنَّا صَارَ إِلَى الۡجَنَّةِ فِي نَعِيمٍ لَمۡ يَرَ مِثۡلَهَا قَطُّ، وَمَنۡ بَقِيَ مِنَّا مَلَكَ رِقَابَكُمۡ. [الحديث ٣١٥٩ - طرفه في: ٧٥٣٠].

3159. Al-Fadhl bin Ya’qub telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Ja’far Ar-Raqqi menceritakan kepada kami: Al-Mu’tamir bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Sa’id bin ‘Ubaidullah Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami: Bakr bin ‘Abdullah Al-Muzani dan Ziyad bin Jubair menceritakan kepada kami dari Jubair bin Hayyah. Beliau berkata:

‘Umar mengirim pasukan ke berbagai negeri untuk memerangi orang-orang musyrik. Lalu Al-Hurmuzan masuk Islam. Lalu ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku ingin bermusyawarah kepadamu mengenai perangku ini.”

Al-Hurmuzan berkata, “Baiklah. Permisalan wilayah-wilayah itu dan permisalan musuh-musuh muslimin di dalamnya bagaikan seekor burung yang memiliki kepala, dua sayap, dan dua kaki. Jika salah satu sayapnya patah, kedua kaki dan kepala masih bisa berdiri dengan satu sayap. Jika sayap lainnya juga patah, kedua kaki dan kepala masih bisa berdiri. Jika kepalanya pecah, maka dua kaki, dua sayap, dan kepala akan lenyap. Kepalanya adalah Kisra, satu sayapnya adalah Kaisar, sayap lainnya adalah Persia. Perintahkanlah pasukan muslimin untuk menyerang Kisra.”

Bakr dan Ziyad semuanya berkata dari Jubair bin Hayyah. Beliau berkata: ‘Umar menugaskan kami dan menunjuk An-Nu’man bin Muqarrin sebagai pemimpin kami. Sampai ketika kami berada di wilayah musuh dan perwakilan Kisra berjumlah empat puluh ribu keluar menemui kami, seorang penerjemah berdiri lalu berkata, “Salah seorang dari kalian silakan berbicara kepadaku.”

Al-Mughirah berkata, “Tanyakanlah apa yang engkau mau.”

Dia bertanya, “Siapa kalian?”

Al-Mughirah menjawab, “Kami adalah orang-orang dari Arab. Dahulu keadaan kami sangat sengsara dan sangat menderita. Kami mengisap kulit dan biji kurma saking laparnya. Kami memakai pakaian dari bulu onta dan bulu domba. Kami menyembah pepohonan dan bebatuan. Saat kami dalam keadaan itu, Rab langit dan Rab bumi—ta’ala dzikruh wa jallat ‘azhamatuh—mengutus seorang Nabi dari bangsa kami yang kami mengenal ayah dan ibunya. Lalu Nabi kami, rasul Rab kami—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan kami untuk memerangi kalian sampai kalian beribadah kepada Allah semata atau kalian menunaikan jizyah. Nabi kami—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan risalah Rab kami kepada kami bahwa barang siapa di antara kami yang terbunuh (dalam jihad), dia akan masuk janah dalam berbagai kenikmatan yang sama sekali belum dia lihat yang semisalnya, dan barang siapa tetap hidup dari kami, niscaya dia akan menguasai kalian.”

٣١٦٠ - فَقَالَ النُّعۡمَانُ: رُبَّمَا أَشۡهَدَكَ اللهُ مِثۡلَهَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فَلَمۡ يُنَدِّمۡكَ وَلَمۡ يُخۡزِكَ، وَلَكِنِّي شَهِدۡتُ الۡقِتَالَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، كَانَ إِذَا لَمۡ يُقَاتِلۡ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ، انۡتَظَرَ حَتَّى تَهُبَّ الۡأَرۡوَاحُ، وَتَحۡضُرَ الصَّلَوَاتُ.

3160. An-Nu’man berkata: Bisa jadi Allah akan menghadirkan engkau dalam peperangan yang semisal itu bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu Dia tidak akan membuatmu menyesal dan tidak pula menghinakanmu. Akan tetapi, aku mengikuti peperangan bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Dahulu apabila beliau tidak memulai perang di awal siang, beliau menunggu sampai angin bertiup kencang dan waktu-waktu salat tiba.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 3523

٣٥٢٣ - (صحيح) حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ؛ أَنَّ جِبۡرَائِيلَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! اشۡتَكَيۡتَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ). قَالَ: بِسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ يُؤۡذِيكَ، مِنۡ شَرِّ كُلِّ نَفۡسٍ أَوۡ عَيۡنٍ أَوۡ حَاسِدٍ، اللهُ يَشۡفِيكَ، بِسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ. [(الصحيحة)(٢٠٦٠): م].

3523. [Sahih] Bisyr bin Hilal Ash-Shawwaf telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id:

Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?”

Nabi menjawab, “Iya.”

Jibril mengucapkan, “Bismillāhi arqīka min kulli syai’in yu’żīka, min syarri kulli nafsin au ‘ainin au ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi arqīka (Dengan nama Allah aku merukiahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa, pandangan mata, atau pendengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku merukiahmu).”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 972

٤ - بَابُ مَا جَاءَ فِي التَّعَوُّذِ لِلۡمَرِيضِ
4. Bab Riwayat tentang Meminta Perlindungan untuk Orang Sakit


٩٧٢ - (صحيح) حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ هِلَالٍ الۡبَصۡرِيُّ الصَّوَّافُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ؛ أَنَّ جِبۡرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اشۡتَكَيۡتَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ). قَالَ: بِاسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ يُؤۡذِيكَ، مِنۡ شَرِّ كُلِّ نَفۡسٍ وَعَيۡنِ حَاسِدٍ، بِاسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ، وَاللهُ يَشۡفِيكَ. [(ابن ماجه)(٣٥٢٣): م].

972. [Sahih] Bisyr bin Hilal Al-Bashri Ash-Shawwaf telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul Warits bin Sa’id menceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id:

Jibril mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?”

Nabi menjawab, “Iya.”

Jibril mengucapkan, “Bismillāhi arqīka min kulli syai’in yu’żīka, min syarri kulli nafsin wa ‘aini ḥāsidin, bismillāhi arqīka, wallāhu yasyfīka (Dengan nama Allah aku merukiahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejelekan setiap jiwa dan mata yang hasad. Dengan nama Allah aku merukiahmu dan Allah yang akan menyembuhkanmu).”

Shahih Muslim hadis nomor 2186

٤٠ - (٢١٨٦) - حَدَّثَنَا بِشۡرُ بۡنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ صُهَيۡبٍ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ جِبۡرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! اشۡتَكَيۡتَ؟ فَقَالَ: (نَعَمۡ) قَالَ: بِاسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ، مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ يُؤۡذِيكَ، مِنۡ شَرِّ كُلِّ نَفۡسٍ، أَوۡ عَيۡنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشۡفِيكَ، بِاسۡمِ اللهِ أَرۡقِيكَ.

40. (2186). Bisyr bin Hilal Ash-Shawwaf telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’id:

Jibril mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?”

Nabi menjawab, “Iya.”

Jibril berkata, “Bismillāhi arqīka, min kulli syai’in yū’żīka, min syarri kulli nafsin au ‘ainin ḥāsid, Allāh yasyfīka, bismillāhi arqīka (Dengan nama Allah aku merukiahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku merukiahmu).”

Shahih Muslim hadis nomor 2191

١٩ - بَابُ اسۡتِحۡبَابِ رُقۡيَةِ الۡمَرِيضِ
19. Bab Disukainya Merukiah Orang yang Sakit


٤٦ - (٢١٩١) - حَدَّثَنَا زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ زُهَيۡرٌ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي الضُّحَىٰ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا اشۡتَكَىٰ مِنَّا إِنۡسَانٌ، مَسَحَهُ بِيَمِينِهِ. ثُمَّ قَالَ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسَ، رَبَّ النَّاسِ، وَاشۡفِ أَنۡتَ الشَّافِي - لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ - شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا).

فَلَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَثَقُلَ، أَخَذۡتُ بِيَدِهِ لِأَصۡنَعَ بِهِ نَحۡوَ مَا كَانَ يَصۡنَعُ. فَانۡتَزَعَ يَدَهُ مِنۡ يَدِي. ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي وَاجۡعَلۡنِي مَعَ الرَّفِيقِ الۡأَعۡلَىٰ).

قَالَتۡ: فَذَهَبۡتُ أَنۡظُرُ، فَإِذَا هُوَ قَدۡ قَضَىٰ.

[البخاري: كتاب المرضى، باب دعاء العائد للمريض، رقم: ٥٦٧٥].

46. (2191). Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Zuhair berkata—dan lafaz ini miliknya—: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan:

Dahulu, apabila ada seseorang dari kami sakit, beliau mengusapnya dengan tangan kanan beliau kemudian mengucapkan, “Ażhibil-bāsa, rabban-nāsi, wasyfi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit).”

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sakit dan merasa berat, aku mengambil tangan beliau untuk membantu beliau melakukan perbuatan yang biasa beliau lakukan. Lalu beliau menarik tangannya dari tanganku kemudian berdoa, “Ya Allah, ampunilah aku dan jadikan aku bersama teman yang tertinggi.”

‘Aisyah berkata: Lalu aku melihat beliau, ternyata beliau telah wafat.

(...) - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا هُشَيۡمٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. (ح) وَحَدَّثَنِي بِشۡرُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عَدِيٍّ. كِلَاهُمَا عَنۡ شُعۡبَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ خَلَّادٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، وَهُوَ الۡقَطَّانُ، عَنۡ سُفۡيَانَ. كُلُّ هَؤُلَاءِ عَنِ الۡأَعۡمَشِ. بِإِسۡنَادِ جَرِيرٍ.

فِي حَدِيثِ هُشَيۡمٍ وَشُعۡبَةَ: مَسَحَهُ بِيَدِهِ. قَالَ: وَفِي حَدِيثِ الثَّوۡرِيِّ: مَسَحَهُ بِيَمِينِهِ.

وَقَالَ فِي عَقِبِ حَدِيثِ يَحۡيَىٰ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ. قَالَ: فَحَدَّثۡتُ بِهِ مَنۡصُورًا، فَحَدَّثَنِي عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ... بِنَحۡوِهِ.

Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Husyaim mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Bisyr bin Khalid telah menceritakan kepadaku: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu ‘Adi menceritakan kepada kami. Keduanya dari Syu’bah. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Bakr bin Khallad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami dari Sufyan. Mereka semua dari Al-A’masy melalui sanad Jarir.

Dalam hadis Husyaim dan Syu’bah: Beliau mengusapnya dengan tangan beliau. Dia berkata: Dan dalam hadis Ats-Tsauri: Beliau mengusapnya dengan tangan kanan beliau.

Dia berkata di penghujung hadis Yahya dari Sufyan, dari Al-A’masy. Dia berkata: Lalu aku menceritakannya kepada Manshur, lalu beliau menceritakan kepadaku dari Ibrahim, dari Masruq, dari ‘Aisyah … semisal hadis itu.

٤٧ - (...) - وَحَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ إِذَا عَادَ مَرِيضًا يَقُولُ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسَ، رَبَّ النَّاسِ. اشۡفِهِ أَنۡتَ الشَّافِي - لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ - شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا).

47. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim, dari Masruq, dari ‘Aisyah: Apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjenguk orang sakit, beliau mengucapkan, “Ażhibil-bāsa, rabban-nāsi. Isyfihi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia. Sembuhkanlah dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit).”

٤٨ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي الضُّحَىٰ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَتَى الۡمَرِيضَ يَدۡعُو لَهُ قَالَ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسَ، رَبَّ النَّاسِ، وَاشۡفِ أَنۡتَ الشَّافِي - لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ - شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا).

وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكۡرٍ: فَدَعَا لَهُ. وَقَالَ: (وَأَنۡتَ الشَّافِي).

48. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb telah menceritakannya kepada kami. Keduanya berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi orang sakit, beliau mendoakannya dengan mengatakan, “Ażhibil-bāsa, rabban-nāsi, wasyfi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia, dan sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit).”

Di dalam riwayat Abu Bakr: Lalu beliau mendoakannya. Beliau berkata, “Wa antasy-syāfī.”

(...) - وَحَدَّثَنِي الۡقَاسِمُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَىٰ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ؛ وَمُسۡلِمُ بۡنُ صُبَيۡحٍ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ. قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ أَبِي عَوَانَةَ وَجَرِيرٍ.

Al-Qasim bin Zakariyya` telah menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami dari Isra`il, dari Manshur, dari Ibrahim dan Muslim bin Shubaih, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau mengatakan: Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— … semisal hadis Abu ‘Awanah dan Jarir.

٤٩ - (...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ - وَاللَّفۡظُ لِأَبِي كُرَيۡبٍ – قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَرۡقِي بِهٰذِهِ الرُّقۡيَةِ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسَ، رَبَّ النَّاسِ، بِيَدِكَ الشِّفَاءُ، لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنۡتَ).

49. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Lafaz ini milik Abu Kuraib. Keduanya berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Aisyah: Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merukiah dengan rukiah ini, “Ażhibil-bāsa, rabban-nāsi, biyadikasy-syifā’u, lā kāsyifa lahu illā anta (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia. Di tangan-Mulah segala kesembuhan, tidak ada yang dapat menghilangkan penyakit itu kecuali Engkau).”

(...) - وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ. كِلَاهُمَا عَنۡ هِشَامٍ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ.

Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Kedua-duanya dari Hisyam melalui sanad ini semisal hadis tersebut.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 3565

٣٥٦٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ وَكِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ آدَمَ، عَنۡ إِسۡرَائِيلَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ – قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا عَادَ مَرِيضًا قَالَ: (أَذۡهِبِ الۡبَأۡسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشۡفِ فَأَنۡتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ [غَرِيبٌ]. [ق عائشة].

3565. [Sahih] Sufyan bin Waki’ telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Adam menceritakan kepada kami dari Isra`il, dari Abu Ishaq, dari Al-Harits, dari ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan:

Apabila Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjenguk orang yang sakit, beliau mengucapkan, “Ażhibil-ba’sa, rabban-nās, wasyfi fa antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan bekas penyakit).”

Ini adalah hadis hasan garib.

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1619

١٦١٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَعَوَّذُ بِهَؤُلَاءِ الۡكَلِمَاتِ: (أَذۡهِبِ الۡبَأۡسَ رَبَّ النَّاسِ! وَاشۡفِ - أَنۡتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ - شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا. فَلَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ ﷺ - فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ - أَخَذۡتُ بِيَدِهِ، فَجَعَلۡتُ أَمۡسَحُهُ وَأَقُولُهَا، فَنَزَعَ يَدَهُ مِنۡ يَدِي ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ! اغۡفِرۡ لِي وَأَلۡحِقۡنِي بِالرَّفِيقِ الۡأَعۡلَى). قَالَتۡ: فَكَانَ هٰذَا آخِرَ مَا سَمِعۡتُ مِنۡ كَلَامِهِ ﷺ. [(الصحيحة)(٢٧٧٥): ق بلفظ (يُعوِّذُ) وهو المحفوظ].

1619. [Sahih] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Muslim, dari Masruq, dari ‘Aisyah. Beliau berkata: Dahulu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta perlindungan dengan kalimat-kalimat berikut, “Ażhibil-ba’sa, rabban-nās, wasyfi antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia, dan sembuhkanlah. Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan bekas penyakit).”

Ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasa berat dalam sakit yang mengantarkan kepada kematiannya, aku mengambil tangan beliau lalu aku mengusapkannya kepada beliau dan aku mengucapkan kalimat tersebut. Lalu beliau menarik tangannya dari tanganku kemudian mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku dan susulkan aku ke teman yang tertinggi.”

‘Aisyah mengatakan, “Itu adalah kalimat terakhir yang kudengar dari ucapan beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5675

٢٠ - بَابُ دُعَاءِ الۡعَائِدِ لِلۡمَرِيضِ
20. Bab Doa Orang yang Menjenguk kepada Orang yang Sakit


وَقَالَتۡ عَائِشَةُ بِنۡتُ سَعۡدٍ، عَنۡ أَبِيهَا: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اللَّهُمَّ اشۡفِ سَعۡدًا).

‘Aisyah binti Sa’d berkata, dari ayahnya: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d.”

٥٦٧٥ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوۡ أُتِيَ بِهِ، قَالَ: (أَذۡهِبِ الۡبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشۡفِ وَأَنۡتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا). قَالَ عَمۡرُو بۡنُ أَبِي قَيۡسٍ وَإِبۡرَاهِيمُ بۡنُ طَهۡمَانَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ وَأَبِي الضُّحَى: إِذَا أُتِيَ بِالۡمَرِيضِ. وَقَالَ جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى وَحۡدَهُ، وَقَالَ: إِذَا أَتَى مَرِيضًا. [الحديث ٥٦٧٥ - أطرافه في: ٥٧٤٣، ٥٧٤٤، ٥٧٥٠].

5675. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Ibrahim, dari Masruq, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

Apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendatangi orang yang sakit atau ada yang datang dengan membawa orang yang sakit, beliau berkata, “Ażhibil-bās rabban-nās, isyfi wa antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit, wahai Rab manusia. Sembuhkanlah dan Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan bekas penyakit).”

‘Amr bin Abu Qais dan Ibrahim bin Thahman berkata, dari Manshur, dari Ibrahim dan Abu Adh-Dhuha: Apabila ada yang datang membawa orang yang sakit.

Jarir berkata, dari Manshur, dari Abu Adh-Dhuha sendirian. Dan beliau berkata: Apabila beliau mendatangi orang yang sakit.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5743

٥٧٤٣ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُعَوِّذُ بَعۡضَ أَهۡلِهِ، يَمۡسَحُ بِيَدِهِ الۡيُمۡنَى وَيَقُولُ: (اللّٰهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذۡهِبِ الۡبَاسَ، اشۡفِهِ وَأَنۡتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا). قَالَ سُفۡيَانُ: حَدَّثۡتُ بِهِ مَنۡصُورًا فَحَدَّثَنِي، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنۡ عَائِشَةَ نَحۡوَهُ. [طرفه في: ٥٦٧٥].

5743. ‘Amr bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Sulaiman menceritakan kepadaku dari Muslim, dari Masruq, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah memohon perlindungan untuk sebagian keluarganya. Beliau mengusap dengan tangan kanannya dan mengucapkan, “Allāhumma rabban-nās ażhibil-bās, isyfihi wa antasy-syāfī, lā syifā’a illā syifā’uk, syifā’an lā yugādiru saqaman (Ya Allah, wahai Rab manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah dia dan Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan bekas penyakit).”

Sufyan berkata: Aku menceritakannya kepada Manshur. Lalu beliau menceritakan kepadaku dari Ibrahim, dari Masruq, dari ‘Aisyah semisal itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2685

٢٦٨٥ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ يُونُسَ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: يَا مَعۡشَرَ الۡمُسۡلِمِينَ، كَيۡفَ تَسۡأَلُونَ أَهۡلَ الۡكِتَابِ، وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنۡزِلَ عَلَى نَبِيِّهِ ﷺ أَحۡدَثُ الۡأَخۡبَارِ بِاللهِ، تَقۡرَؤُونَهُ لَمۡ يُشَبۡ، وَقَدۡ حَدَّثَكُمُ اللهُ أَنَّ أَهۡلَ الۡكِتَابِ بَدَّلُوا مَا كَتَبَ اللهُ وَغَيَّرُوا بِأَيۡدِيهِمُ الۡكِتَابَ فَقَالُوا: هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ لِيَشۡتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا، أَفَلَا يَنۡهَاكُمۡ مَا جَاءَكُمۡ مِنَ الۡعِلۡمِ عَنۡ مُسَايَلَتِهِمۡ؟ وَلَا وَاللهِ مَا رَأَيۡنَا مِنۡهُمۡ رَجُلًا قَطُّ يَسۡأَلُكُمۡ عَنِ الَّذِي أُنۡزِلَ عَلَيۡكُمۡ‏؟! [الحديث ٢٦٨٥ - أطرافه في: ٧٣٦٣، ٧٥٢٢، ٧٥٢٣].

2685. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau mengatakan:

Wahai sekalian kaum muslimin, bagaimana bisa kalian bertanya kepada ahli kitab, padahal kitab kalian yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merupakan berita-berita yang paling baru dari Allah, yang kalian baca dalam keadaan belum dicampuri?! Padahal Allah telah menceritakan kepada kalian bahwa ahli kitab telah menukar-nukar apa yang telah Allah tulis dan mereka mengubah-ubah kitab suci dengan tangan-tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata: Ini dari sisi Allah; (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Bukankah ilmu yang telah datang kepada kalian melarang untuk bertanya kepada mereka? Demi Allah, kami tidak melihat ada seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada kalian.

Tafsir Surah Al-'Adiyat

تفسير سورة العاديات
Tafsir Surah Al-‘Adiyat


وهي مكية

Surah ini makiyah.


﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا * فَٱلۡمُورِيَٰتِ قَدۡحًا * فَٱلۡمُغِيرَٰتِ صُبۡحًا *‏ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ نَقۡعًا * فَوَسَطۡنَ بِهِۦ جَمۡعًا * إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ * وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ * أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِى ٱلۡقُبُورِ * وَحُصِّلَ مَا فِى ٱلصُّدُورِ * إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرُۢ﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  1. Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
  2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
  3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,
  4. maka ia menerbangkan debu,
  5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
  6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabnya,
  7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
  8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
  9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan,
  10. dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan,
  11. sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

۝١ أَقۡسَمَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ بِالۡخَيۡلِ، لِمَا فِيهَا مِنۡ آيَاتِ اللهِ الۡبَاهِرَةِ، وَنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ، مَا هُوَ مَعۡلُومٌ لِلۡخَلۡقِ.

Allah—tabaraka wa ta’ala—bersumpah dengan kuda, karena pada kuda tersebut terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan dan nikmat-nikmat-Nya yang tampak nyata, sebagaimana yang telah diketahui oleh manusia.

وَأَقۡسَمَ [تَعَالَىٰ] بِهَا فِي الۡحَالِ الَّتِي لَا يُشَارِكُهَا [فِيهِ] غَيۡرُهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡحَيَوَانَاتِ، فَقَالَ:

Dan Allah taala bersumpah dengan kuda dalam hal yang tidak diserupai oleh jenis hewan lainnya, maka Dia berfirman:

﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا﴾ أَيۡ: الۡعَادِيَاتِ عَدۡوًا بَلِيغًا قَوِيًّا، يَصۡدُرُ عَنۡهُ الضَّبۡحُ، وَهُوَ صَوۡتُ نَفَسِهَا فِي صَدۡرِهَا، عِنۡدَ اشۡتِدَادِ الۡعَدۡوِ.

Wal-‘ādiyāti ḍabḥā”, yaitu: kuda-kuda perang yang berlari dengan lari yang sangat cepat dan kuat, sehingga mengeluarkan suara adh-dhabh, yaitu suara nafas di dalam dadanya saat larinya semakin kencang.

۝٢ ﴿فَٱلۡمُورِيَٰتِ﴾ بِحَوَافِرِهِنَّ مَا يَطَأۡنَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡأَحۡجَارِ ﴿قَدۡحًا﴾ أَيۡ: تَقۡدِحُ النَّارَ مِنۡ صَلَابَةِ حَوَافِرِهِنَّ [وَقُوَّتِهِنَّ] إِذَا عَدَوۡنَ

“Dan kuda-kuda yang mencetuskan api” dengan kuku-kuku kaki mereka pada batu-batu yang mereka injak “dengan pukulan (kuku kakinya)”, yaitu: mencetuskan api karena keras dan kuatnya kuku-kuku kaki mereka saat berlari kencang.

۝٣ ﴿فَٱلۡمُغِيرَاتِ﴾ عَلَى الۡأَعۡدَاءِ ﴿صُبۡحًا﴾ وَهٰذَا أَمۡرٌ أَغۡلَبِيٌّ، أَنَّ الۡغَارَةَ تَكُونُ صَبَاحًا.

“Dan kuda-kuda yang menyerang dengan tiba-tiba” kepada para musuh “di waktu pagi”. Ini adalah hal yang umum terjadi, bahwa serangan biasanya dilakukan pada waktu pagi.

۝٤ ﴿فَأَثَرۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِعَدۡوِهِنَّ وَغَارَتِهِنَّ ﴿نَقۡعًا﴾ أَيۡ: غُبَارًا.

“Maka kuda-kuda itu menerbangkan”, yaitu: karena lari dan serangan mereka “naq‘ā” berarti debu.

۝٥ ﴿فَوَسَطۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِرَاكِبِهِنَّ ﴿جَمۡعًا﴾ أَيۡ: تَوَسَّطۡنَ بِهِ جُمُوعَ الۡأَعۡدَاءِ الَّذِينَ أَغَارَ عَلَيۡهِمۡ.

“Dan menyerbu ke tengah-tengah”, yaitu: bersama penunggangnya “kumpulan”, yaitu: mereka menuju ke tengah-tengah kumpulan musuh yang diserang.

۝٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ﴾ أَيۡ: لَمَنُوعٌ لِلۡخَيۡرِ الَّذِي عَلَيۡهِ لِرَبِّهِ.

Dan hal yang disumpahi adalah firman-Nya: “Sungguh, manusia itu sangat ingkar kepada Rabnya”, yaitu: benar-benar enggan memberikan kebaikan yang menjadi kewajibannya kepada Rabnya.

فَطَبِيعَةُ [الۡإِنۡسَانِ] وَجِبِلَّتُهُ أَنَّ نَفۡسَهُ لَا تَسۡمَحُ بِمَا عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ، فَتُؤَدِّيَهَا كَامِلَةً مُوَفَّرَةً، بَلۡ طَبِيعَتُهَا الۡكَسَلُ وَالۡمَنۡعُ لِمَا عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ الۡمَالِيَّةِ وَالۡبَدَنِيَّةِ، إِلَّا مَنۡ هَدَاهُ اللهُ وَخَرَجَ عَنۡ هٰذَا الۡوَصۡفِ إِلَىٰ وَصۡفِ السَّمَاحِ بِأَدَاءِ الۡحُقُوقِ.

Maka tabiat dan watak asli manusia adalah jiwanya tidak mau melakukan kewajiban yang harus ditunaikannya dengan sukarela, sehingga ia tidak menunaikannya secara sempurna dan lengkap. Bahkan tabiatnya adalah malas dan enggan menunaikan hak-hak harta maupun badan yang menjadi kewajibannya, kecuali orang yang diberi hidayah oleh Allah dan keluar dari sifat ini menuju sifat mudah dan ringan dalam menunaikan hak-hak.

۝٧ ﴿وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ﴾ أَيۡ: إِنَّ الۡإِنۡسَانَ عَلَىٰ مَا يَعۡرِفُ مِنۡ نَفۡسِهِ مِنَ الۡمَنۡعِ وَالۡكَنۡدِ لَشَاهِدٌ بِذٰلِكَ، لَا يَجۡحَدُهُ وَلَا يُنۡكِرُهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ أَمۡرٌ بَيِّنٌ وَاضِحٌ.

“Dan sesungguhnya dia benar-benar menyaksikan atas hal itu”, yaitu: sesungguhnya manusia terhadap pengetahuan terhadap dirinya sendiri berupa sifat kikir dan pengingkaran nikmat benar-benar menyaksikannya. Ia tidak menyangkal dan tidak memungkirinya karena hal itu adalah perkara yang sangat jelas.

وَيَحۡتَمِلُ أَنَّ الضَّمِيرَ عَائِدٌ إِلَى اللهِ تَعَالَى؛ أَيۡ: إِنَّ الۡعَبۡدَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ، وَاللهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ ذٰلِكَ، فَفِيهِ الۡوَعِيدُ وَالتَّهۡدِيدُ الشَّدِيدُ لِمَنۡ هُوَ لِرَبِّهِ كَنُودٌ، بِأَنَّ اللهَ عَلَيۡهِ شَهِيدٌ.

Dan ada kemungkinan bahwa kata ganti (dia) kembali kepada Allah taala, yaitu: sesungguhnya hamba itu sangat ingkar kepada Rabnya dan Allah menyaksikan hal tersebut. Maka di dalamnya terdapat ancaman serta peringatan yang keras bagi siapa saja yang ingkar kepada Rabnya, bahwa sesungguhnya Allah menyaksikannya.

۝٨﴿وَإِنَّهُۥ﴾ أَيۡ: الۡإِنۡسَان ﴿لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ﴾ أَيۡ: الۡمَالِ ﴿لَشَدِيدٌ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الۡحُبِّ لِلۡمَالِ.

“Dan sesungguhnya dia”, yaitu: manusia “terhadap kecintaan pada kebaikan”, yaitu: harta “benar-benar hebat”, yaitu: sangat besar cintanya terhadap harta.

وَحُبُّهُ لِذٰلِكَ، هُوَ الَّذِي أَوۡجَبَ لَهُ تَرۡكَ الۡحُقُوقِ الۡوَاجِبَةِ عَلَيۡهِ، قَدَّمَ شَهۡوَةَ نَفۡسِهِ عَلَىٰ حَقِّ رَبِّهِ، وَكُلُّ هٰذَا لِأَنَّهُ قَصَّرَ نَظَرَهُ عَلَىٰ هٰذِهِ الدَّارِ، وَغَفَلَ عَنِ الۡآخِرَةِ.

Kecintaannya terhadap hal tersebutlah yang menyebabkan dia meninggalkan hak-hak yang wajib dia tunaikan. Dia lebih mendahulukan syahwat dirinya daripada hak Rabnya. Semua ini terjadi karena dia membatasi pandangannya hanya pada negeri dunia ini dan lalai terhadap akhirat.

وَلِهٰذَا قَالَ - حَاثًّا لَهُ عَلَىٰ خَوۡفِ يَوۡمِ الۡوَعِيدِ -:

Oleh karena itulah Dia berfirman—untuk mendorongnya agar takut terhadap hari ancaman—:

۝٩ ﴿أَفَلَا يَعۡلَمُ﴾ أَيۡ: هَلَّا يَعۡلَمُ هٰذَا الۡمُغۡتَرُّ ﴿إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ﴾ أَيۡ: أَخۡرَجَ اللهُ الۡأَمۡوَاتَ مِنۡ قُبُورِهِمۡ لِحَشۡرِهِمۡ وَنُشُورِهِمۡ.

“Maka tidakkah dia mengetahui”, yaitu: tidakkah orang yang terpedaya ini mengetahui “apabila isi kubur dikeluarkan”, yaitu: Allah mengeluarkan orang-orang mati dari kubur mereka untuk dihimpun dan dibangkitkan.

۝١٠ ﴿وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ﴾ أَيۡ: ظَهَرَ وَبَانَ [مَا فِيهَا وَ]مَا اسۡتَتَرَ فِي الصُّدُورِ مِنۡ كَمَائِنِ الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ، فَصَارَ السِّرُّ عَلَانِيَةً وَالۡبَاطِنُ ظَاهِرًا، وَبَانَ عَلَىٰ وُجُوهِ الۡخَلۡقِ نَتِيجَةُ أَعۡمَالِهِمۡ.

“Dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan”, yaitu: tampak dan jelaslah isi dan rahasia di dalam dada berupa simpanan kebaikan dan keburukan, maka rahasia menjadi nyata, yang batin menjadi tampak, dan hasil dari amal perbuatan makhluk tampak pada wajah-wajah mereka.

۝١١ ﴿إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ﴾ أَيۡ: مُطَّلِعٌ عَلَىٰ أَعۡمَالِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، الۡخَفِيَّةِ وَالۡجَلِيَّةِ، وَمُجَازِيهِمۡ عَلَيۡهَا.

“Sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”, yaitu: Allah melihat amal perbuatan mereka yang tampak maupun yang batin, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, dan Allah membalas mereka atas amal tersebut.

وَخَصَّ خُبۡرَهُ بِذٰلِكَ الۡيَوۡمِ، مَعَ أَنَّهُ خَبِيرٌ بِهِمۡ فِي كُلِّ وَقۡتٍ، لِأَنَّ الۡمُرَادَ بِذٰلِكَ، الۡجَزَاءُ بِالۡأَعۡمَالِ النَّاشِىءُ عَنۡ عِلۡمِ اللهِ وَاطِّلَاعِهِ.

Allah mengkhususkan pengetahuan-Nya pada hari itu—padahal Dia Maha Mengetahui mereka setiap waktu—karena yang dimaksud dengan hal itu adalah (hari itu adalah waktu) pembalasan atas amal perbuatan yang muncul berdasarkan ilmu dan pantauan Allah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4816

٤٨١٦ - حَدَّثَنَا الصَّلۡتُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ رَوۡحِ بۡنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ أَبِي مَعۡمَرٍ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ: ﴿وَمَا كُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَنۡ يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ﴾ الۡآيَةَ: كَانَ رَجُلَانِ مِنۡ قُرَيۡشٍ وَخَتَنٌ لَهُمَا مِنۡ ثَقِيفَ، أَوۡ رَجُلَانِ مِنۡ ثَقِيفَ وَخَتَنٌ لَهُمَا مِنۡ قُرَيۡشٍ، فِي بَيۡتٍ، فَقَالَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ: أَتُرَوۡنَ أَنَّ اللهَ يَسۡمَعُ حَدِيثَنَا؟ قَالَ بَعۡضُهُمۡ: يَسۡمَعُ بَعۡضَهُ، وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: لَئِنۡ كَانَ يَسۡمَعُ بَعۡضَهُ لَقَدۡ يَسۡمَعُ كُلَّهُ، فَأُنۡزِلَتۡ: ﴿وَمَا كُنۡتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَنۡ يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَا أَبۡصَارُكُمۡ﴾ الۡآية. [الحديث ٤٨١٦ - طرفاه في: ٤٨١٧، ٧٥٢١].

4816. Ash-Shalt bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari Rauh bin Al-Qasim, dari Manshur, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari Ibnu Mas’ud tentang ayat “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, …”:

Dahulu ada dua orang dari Quraisy dan seorang kerabat mereka dari Tsaqif, atau dua orang dari Tsaqif dan seorang kerabat mereka dari Quraisy dalam sebuah rumah. Salah seorang mereka berkata kepada yang lain, “Apakah menurut kalian Allah mendengar perkataan kita?”

Salah seorang mereka menjawab, “Dia mendengar sebagiannya.”

Salah seorang mereka berkata, “Jika Dia bisa mendengar sebagiannya, maka sungguh Dia pasti mendengar semuanya.”

Lalu turunlah ayat “Kalian sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, …”

Definisi Iman

Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,

السَّابِعَةُ: الۡإِيمَانُ عِنۡدَ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ يَتَأَلَّفُ مِنِ اعۡتِقَادٍ بِالۡقَلۡبِ وَقَوۡلٍ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٍ بِالۡجَوَارِحِ، فَهٰذِهِ الۡأُمُورُ الثَّلَاثَةُ دَاخِلَةٌ عِنۡدَهُمۡ فِي مُسَمَّى الۡإِيمَانِ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ۝٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ۝٣ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ﴾، فَفِي هٰذِهِ الۡآيَاتِ دُخُولُ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ وَأَعۡمَالِ الۡجَوَارِحِ فِي الۡإِيمَانِ.

Ketujuh: Iman menurut ahli sunah waljamaah terdiri dari keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Ketiga perkara ini menurut mereka termasuk dalam penamaan iman. Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (QS Al-Anfal: 2-4).

Dalam ayat-ayat ini menunjukkan masuknya amalan hati dan amalan anggota badan ke dalam bagian iman.

وَرَوَى مُسۡلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٥٨) عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (الۡإِيمَانُ بِضۡعٌ وَسَبۡعُونَ أَوۡ بِضۡعٌ وَسِتُّونَ شُعۡبَةً، فَأَفۡضَلُهَا قَوۡلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَدۡنَاهَا إِمَاطَةُ الۡأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ، وَالۡحَيَاءُ شُعۡبَةٌ مِنَ الۡإِيمَانِ)، فَقَدۡ دَلَّ الۡحَدِيثُ عَلَىٰ أَنَّ مَا يَقُومُ بِالۡقَلۡبِ وَاللِّسَانِ وَالۡجَوَارِحِ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَأَمَّا مَا جَاءَ فِي الۡقُرۡآنِ مِنۡ آيَاتٍ كَثِيرَةٍ فِيهَا عَطۡفُ الۡعَمَلِ الصَّالِحِ عَلَى الۡإِيمَانِ، كَمَا فِي قَوۡلِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا﴾، وَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُوْلَـٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾، وَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وُدًّا﴾، فَلَا يَدُلُّ الۡعَطۡفُ عَلَىٰ عَدَمِ دُخُولِ الۡأَعۡمَالِ فِي مُسَمَّى الۡإِيمَانِ، بَلۡ هُوَ مِنۡ عَطۡفِ الۡخَاصِّ عَلَى الۡعَامِّ؛ وَذٰلِكَ أَنَّ التَّفَاوُتَ بَيۡنَ النَّاسِ فِي الۡإِيمَانِ يَكُونُ غَالِبًا لِتَفَاوُتِهِمۡ فِي الۡأَعۡمَالِ، وَفِي الۡأَقۡوَالِ أَيۡضًا؛ لِأَنَّ الۡقَوۡلَ عَمَلُ اللِّسَانِ، بَلۡ إِنَّهُمۡ يَتَفَاوُتُونَ فِيمَا يَقُومُ بِقُلُوبِهِمۡ، قَالَ الۡحَافِظُ فِي الۡفَتۡحِ (١/٤٦) نَقۡلًا عَنِ النَّوَوِيِّ: (وَالۡأَظۡهَرُ الۡمُخۡتَارُ أَنَّ التَّصۡدِيقَ يَزِيدُ وَيَنۡقُصُ بِكَثۡرَةِ النَّظَرِ وَوُضُوحِ الۡأَدِلَّةِ، وَلِهٰذَا كَانَ إِيمَانُ الصِّدِّيقِ أَقۡوَىٰ مِنۡ إِيمَانِ غَيۡرِهِ؛ بِحَيۡثُ لَا يَعۡتَرِيهِ الشُّبۡهَةُ، وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَعۡلَمُ أَنَّ مَا فِي قَلۡبِهِ يَتَفَاضَلُ، حَتَّىٰ إِنَّهُ يَكُونُ فِي بَعۡضِ الۡأَحۡيَانِ الۡإِيمَانُ أَعۡظَمَ يَقِينًا وَإِخۡلَاصًا وَتَوَكُّلًا مِنۡهُ فِي بَعۡضِهَا، وَكَذٰلِكَ التَّصۡدِيقُ وَالۡمَعۡرِفَةُ بِحَسَبِ ظُهُورِ الۡبَرَاهِينِ وَكَثۡرَتِهَا).

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 58 dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.”

Hadis ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh hati, lisan, dan anggota badan merupakan bagian dari iman.

Adapun banyaknya ayat dalam Al-Qur'an yang menyandingkan (‘athf) amal saleh setelah penyebutan iman—seperti firman Allah—‘azza wa jalla—: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal,” (QS Al-Kahfi: 107), dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” (QS Al-Bayyinah: 7), serta firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang,” (QS Maryam: 96)—maka penyandingan tersebut tidaklah menunjukkan bahwa amal tidak termasuk dalam penamaan iman. Melainkan, itu termasuk dalam kategori penyebutan hal yang khusus setelah hal yang umum (‘athf al-khash ‘ala al-‘amm).

Hal itu karena perbedaan tingkat iman di antara manusia biasanya terjadi disebabkan perbedaan mereka dalam amalan, dan juga dalam ucapan; karena ucapan adalah amalan lisan. Bahkan, mereka juga berbeda-beda dalam keyakinan di hati mereka. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath Al-Bari (1/46) menukil dari An-Nawawi, “Pendapat yang lebih kuat dan terpilih adalah bahwa pembenaran (tashdiq) itu bisa bertambah dan berkurang dengan banyaknya perenungan serta jelasnya dalil-dalil. Oleh karena itu, iman Abu Bakr Ash-Shiddiq lebih kuat daripada iman orang lain, karena beliau tidak tertimpa keraguan. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa setiap orang menyadari bahwa apa yang ada di dalam hatinya itu bertingkat-tingkat; hingga pada waktu-waktu tertentu, imannya memiliki keyakinan, keikhlasan, dan tawakal yang lebih besar daripada waktu lainnya. Begitu pula pembenaran dan makrifat (pengetahuan) bertambah sesuai dengan kemunculan serta banyaknya bukti-bukti.”

وَالَّذِيۡنَ أَخۡرَجُوا الۡأَعۡمَالَ مِنۡ أَنۡ تَكُوۡنَ دَاخِلَةً فِي مُسَمَّى الۡإِيۡمَانِ طَائِفَتَانِ: الۡمُرۡجِئَةُ الۡغُلَاةُ، الَّذِيۡنَ يَقُوۡلُوۡنَ: إِنَّ كُلَّ مُؤۡمِنٍ كَامِلُ الۡإِيۡمَانِ، وَأَنَّهُ لَا يَضُرُّ مَعَ الۡإِيۡمَانِ ذَنۡبٌ، كَمَا لَا يَنۡفَعُ مَعَ الۡكُفۡرِ طَاعَةٌ، وَهَذَا الۡقَوۡلُ مِنۡ أَبۡطَلِ الۡبَاطِلِ، بَلۡ هُوَ كُفۡرٌ.

Orang-orang yang mengeluarkan amal dari penamaan iman ada dua kelompok: Murjiah ekstrem (Al-Murji’ah Al-Ghulat), yaitu mereka yang mengatakan bahwa setiap mukmin itu sempurna imannya dan bahwa kemaksiatan tidak membahayakan selama ada iman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat selama ada kekafiran. Pendapat ini termasuk kebatilan yang paling batil, bahkan merupakan sebuah kekufuran.

وَمُرۡجِئَةُ الۡفُقَهَاءِ مِنۡ أَهۡلِ الۡكُوۡفَةِ وَغَيۡرِهِمۡ، الَّذِيۡنَ قَالُوۡا بِعَدَمِ دُخُوۡلِ الۡأَعۡمَالِ فِي مُسَمَّى الۡإِيۡمَانِ، مَعَ مُخَالَفَتِهِمۡ لِلۡمُرۡجِئَةِ الۡغُلَاةِ فِي أَنَّ الۡمَعَاصِيَ تَضُرُّ فَاعِلَهَا، وَأَنَّهُ يُؤَاخَذُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ وَيُعَاقَبُ، وَقَوۡلُهُمۡ غَيۡرُ صَحِيۡحٍ؛ لِأَنَّهُ ذَرِيۡعَةٌ إِلَىٰ بِدَعِ أَهۡلِ الۡكَلَامِ الۡمَذۡمُوۡمِ مِنۡ أَهۡلِ الۡإِرۡجَاءِ وَنَحۡوِهِمۡ، وَإِلَىٰ ظُهُوۡرِ الۡفِسۡقِ وَالۡمَعَاصِي، كَمَا فِي شَرۡحِ الطَّحَاوِيَّةِ (ص: ٤٧٠).

Dan Murji’ah Al-Fuqaha` dari penduduk Kufah dan selain mereka, yaitu orang-orang yang berpendapat bahwa amal tidak termasuk dalam penamaan iman, meskipun mereka berbeda pendapat dengan Murji’ah ekstrem dalam hal kemaksiatan itu membahayakan pelakunya, serta pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban dan dihukum karenanya. Pendapat mereka ini tidak benar; karena hal itu menjadi pintu masuk menuju bidah ahli kalam yang tercela dari kalangan Murjiah dan semacamnya, serta (menjadi pintu masuk) munculnya kefasikan dan kemaksiatan, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Syarah Ath-Thahawiyyah (halaman 470).

وَالۡإِيۡمَانُ يَزِيۡدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنۡقُصُ بِالۡمَعۡصِيَةِ، فَمِنۡ أَدِلَّةِ زِيَادَتِهِ قَوۡلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿ ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنًا﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿وَلَمَّا رَأَى ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسۡلِيمًا﴾.

Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Di antara dalil bertambahnya iman adalah firman Allah—‘azza wa jalla—: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2).

Dan firman-Nya: “Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS At-Taubah: 124).

Dan firman-Nya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya iman mereka bertambah di samping iman mereka (yang telah ada).” (QS Al-Fath: 4).

Dan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah iman mereka.” (QS Ali ‘Imran: 173).

Serta firman-Nya: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS Al-Ahzab: 22).

وَمِنۡ أَدِلَّةِ نُقۡصَانِهِ قَوۡلُهُ ﷺ: (مَنۡ رَأَىٰ مِنۡكُمۡ مُنۡكَرًا فَلۡيُغَيِّرۡهُ بِيَدِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِقَلۡبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضۡعَفُ الۡإِيۡمَانِ) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ (٧٨).

Dan di antara dalil berkurangnya iman adalah sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim nomor 78).

وَمَا جَاءَ فِي حَدِيۡثِ الشَّفَاعَةِ مِنۡ إِخۡرَاجِ مَنۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ مِنۡ إِيۡمَانٍ مِنَ النَّارِ، رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٧٤٣٩) وَمُسۡلِمٌ (٣٠٢) مِنۡ حَدِيۡثِ أَبِيۡ سَعِيۡدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَحَدِيۡثِ وَصۡفِ النَّبِيِّ ﷺ لِلنِّسَاءِ بِأَنَّهُنَّ نَاقِصَاتُ عَقۡلٍ وَدِيۡنٍ، أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ (٣٠٤) وَمُسۡلِمٌ (١٣٢).

Dan keterangan yang terdapat dalam hadis syafaat tentang dikeluarkannya orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarah dari neraka, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 7439 dan Muslim nomor 302 dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—. Begitu juga hadis tentang penyifatan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terhadap kaum wanita bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang akal dan agamanya, yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari nomor 304 dan Muslim nomor 132.

قَالَ الۡحَافِظُ فِي الۡفَتۡحِ (١/٤٧): (وَرَوَىٰ - يَعۡنِي اللَّالَكَائِيَّ - بِسَنَدِهِ الصَّحِيۡحِ عَنِ الۡبُخَارِيِّ قَالَ: لَقِيۡتُ أَكۡثَرَ مِنۡ أَلۡفِ رَجُلٍ مِنَ الۡعُلَمَاءِ بِالۡأَمۡصَارِ، فَمَا رَأَيۡتُ أَحَدًا مِنۡهُمۡ يَخۡتَلِفُ فِي أَنَّ الۡإِيۡمَانَ قَوۡلٌ وَعَمَلٌ، وَيَزِيۡدُ وَيَنۡقُصُ. وَأَطۡنَبَ ابۡنُ أَبِيۡ حَاتِمٍ وَاللَّالَكَائِيُّ فِي نَقۡلِ ذَٰلِكَ بِالۡأَسَانِيۡدِ عَنۡ جَمۡعٍ كَثِيۡرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيۡنَ، وَكُلِّ مَنۡ يَدُوۡرُ عَلَيۡهِ الۡإِجۡمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيۡنَ، وَحَكَاهُ فُضَيۡلُ بۡنُ عِيَاضٍ وَوَكِيۡعٌ عَنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath Al-Bari (1/47), “Dan ia meriwatkan—yakni Al-Lalika’i—dengan sanadnya yang sahih dari Al-Bukhari, beliau berkata: ‘Aku telah menjumpai lebih dari seribu orang ulama di berbagai negeri, dan aku tidak melihat satu pun dari mereka berselisih pendapat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, serta bisa bertambah dan berkurang.’ Ibnu Abu Hatim dan Al-Lalika’i menjelaskan secara panjang lebar dalam menukil hal tersebut dengan sanad-sanad dari sekumpulan banyak sahabat dan tabiin, serta dari setiap orang yang menjadi rujukan ijmak dari kalangan sahabat dan tabiin. Hal ini juga diceritakan oleh Fudhail bin ‘Iyadh dan Waki’ dari ahli sunah waljamaah.”