Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5369

١٤ - بَابٌ ﴿وَعَلَى الۡوَارِثِ مِثۡلُ ذٰلِكَ﴾ [البقرة: ٢٣٣]
14. Bab “Dan Ahli Waris Pun Berkewajiban Seperti Itu Pula” (QS Al-Baqarah: 233)


وَهَلۡ عَلَى الۡمَرۡأَةِ مِنۡهُ شَيۡءٌ؟ ﴿وَضَرَبَ اللهُ مَثَلًا رَجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَا أَبۡكَمُ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿صِرَاطٍ مُسۡتَقِيمٍ﴾ [النحل: ٧٦].

Dan apakah bagi wanita ada kewajiban menanggungnya sedikit pun? “Dan Allah membuat perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu ...” sampai firman-Nya, “jalan yang lurus.” (QS An-Nahl: 76).

٥٣٦٩ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ: أَخۡبَرَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ زَيۡنَبَ ابۡنَةِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ لِي مِنۡ أَجۡرٍ فِي بَنِي أَبِي سَلَمَةَ أَنۡ أُنۡفِقَ عَلَيۡهِمۡ، وَلَسۡتُ بِتَارِكَتِهِمۡ هَكَذَا وَهَكَذَا، إِنَّمَا هُمۡ بَنِيَّ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، لَكِ أَجۡرُ مَا أَنۡفَقۡتِ عَلَيۡهِمۡ). [طرفه في: ١٤٦٧]

5369. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami: Hisyam mengabarkan kepada kami dari ayahnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari Umu Salamah:

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala jika aku menafkahi anak-anak Abu Salamah, dan aku tidak membiarkan mereka seperti ini dan seperti ini (dalam keadaan membutuhkan), karena sesungguhnya mereka adalah anak-anakku?”

Beliau bersabda, “Ya, engkau mendapatkan pahala atas nafkahmu kepada mereka.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5611

١٣ - بَابُ اسۡتِعۡذَابِ الۡمَاءِ
13. Bab Mencari Air Segar


٥٦١١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا مِنۡ نَخۡلٍ، وَكَانَ أَحَبُّ مَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرُحَاءَ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢]،‏ قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾، وَإِنَّ أَحَبَّ مَالِي إِلَيَّ بَيۡرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخٍ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، أَوۡ رَايِحٌ - شَكَّ عَبۡدُ اللهِ - وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَفِي بَنِي عَمِّهِ. وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ وَيَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى: (رَايِحٌ). [طرفه في: ١٤٦١].

5611. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin ‘Abdullah: Ia mendengar Anas bin Malik berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairuha`, yang mana kebun itu menghadap ke masjid. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Anas berkata: Ketika turun ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan—atau harta yang pahalanya terus mengalir; ‘Abdullah ragu—dan aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Talhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Isma’il dan Yahya bin Yahya berkata, “Rayih (yang pahalanya terus mengalir).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4554 dan 4555

٥ - بَابٌ ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ إِلَى ﴿بِهِ عَلِيمٌ﴾ [٩٢]
5. Bab “Kalian Tidak akan Memperoleh Kebajikan (yang Sempurna) Sebelum Kalian Menginfakkan Sebagian Harta yang Kalian Cintai,” Sampai “Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Tentang Hal Itu.” (QS Ali Imran: 92)


٤٥٥٤ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ نَخۡلًا، وَكَانَ أَحَبَّ أَمۡوَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرُحَاءٍ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، فَلَمَّا أُنۡزِلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بَيۡرُحَاءٍ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخۡ، ذٰلِكَ مَالٌ رَايِحٌ، ذٰلِكَ مَالٌ رَايِحٌ، وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). قَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ، وَبَنِي عَمِّهِ.

قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ وَرَوۡحُ بۡنُ عُبَادَةَ: (ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ).

حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ: (مَالٌ رَايِحٌ). [طرفه في: ١٤٦١].

4554. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik menceritakan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairuha`, yang mana kebun itu menghadap ke masjid. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Ketika diturunkan ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai”, Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang pahalanya terus mengalir. Itu adalah harta yang pahalanya terus mengalir. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

‘Abdullah bin Yusuf dan Rauh bin ‘Ubadah berkata, “Itu adalah malun rabih (harta yang menguntungkan).”

Yahya bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membaca di hadapan Malik, “Malun rayih (Harta yang pahalanya terus mengalir).”

٤٥٥٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ وَأُبِيٍّ، وَأَنَا أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ، وَلَمۡ يَجۡعَلۡ لِي مِنۡهَا شَيۡئًا. [طرفه في: ١٤٦١].

4555. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Abu Thalhah membagikannya kepada Hassan dan Ubay, padahal aku lebih dekat kekerabatannya kepada beliau, namun beliau tidak memberikan bagian sedikit pun darinya untukku.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2769

٢٧ - بَابٌ إِذَا وَقَفَ أَرۡضًا وَلَمۡ يُبَيِّنِ الۡحُدُودَ فَهُوَ جَائِزٌ، وَكَذٰلِكَ الصَّدَقَةُ
27. Bab Apabila Seseorang Mewakafkan Tanah dan Tidak Menjelaskan Batas-Batasnya Maka Hal Itu Boleh, Demikian Pula Sedekah


٢٧٦٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ أَنۡصَارِيٍّ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا مِنۡ نَخۡلٍ، وَكَانَ أَحَبُّ مَالِهِ إِلَيۡهِ بَيۡرَحَاءَ، مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ. قَالَ أَنَسٌ: فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بِيرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ: (بَخۡ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ - أَوۡ رَايِحٌ؛ شَكَّ ابۡنُ مَسۡلَمَةَ - وَقَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ، وَإِنِّي أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). قَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ ذٰلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَفِي بَنِي عَمِّهِ.

وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ وَيَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ مَالِكٍ: (رَايِحٌ).

[طرفه في: ١٤٦١].

2769. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar di Madinah yang paling banyak hartanya berupa pohon kurma, dan harta yang paling beliau cintai adalah Bairaha` yang menghadap ke masjid. Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Anas berkata: Ketika turun ayat: “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairaha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Salurkanlah kebun itu di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Nabi bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan—atau harta yang pahalanya terus mengalir; Ibnu Maslamah ragu—dan aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaknya engkau membagikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Isma’il, ‘Abdullah bin Yusuf, dan Yahya bin Yahya berkata dari Malik: “Rayih” (yang pahalanya terus mengalir).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2758

١٧ - بَابُ مَنۡ تَصَدَّقَ إِلَى وَكِيلِهِ، ثُمَّ رَدَّ الۡوَكِيلُ إِلَيۡهِ
17. Bab Orang yang Bersedekah kepada Wakilnya Kemudian Sang Wakil Mengembalikannya Kepada Orang Tersebut


٢٧٥٨ - وَقَالَ إِسۡمَاعِيلُ: أَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، لَا أَعۡلَمُهُ إِلَّا عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] جَاءَ أَبُو طَلۡحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بِيرُحَاءَ – قَالَ: وَكَانَتۡ حَدِيقَةً، كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَسۡتَظِلُّ بِهَا، وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَائِهَا - فَهِيَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِلَى رَسُولِهِ ﷺ، أَرۡجُو بِرَّهُ وَذُخۡرَهُ، فَضَعۡهَا أَيۡ رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَخۡ يَا أَبَا طَلۡحَةَ، ذٰلِكَ مَالٌ رَابِحٌ، قَبِلۡنَاهُ مِنۡكَ، وَرَدَدۡنَاهُ عَلَيۡكَ، فَاجۡعَلۡهُ فِي الۡأَقۡرَبِينَ). فَتَصَدَّقَ بِهِ أَبُو طَلۡحَةَ عَلَى ذَوِي رَحِمِهِ، قَالَ: وَكَانَ مِنۡهُمۡ أُبَيٌّ وَحَسَّانُ، قَالَ: وَبَاعَ حَسَّانُ حِصَّتَهُ مِنۡهُ مِنۡ مُعَاوِيَةَ، فَقِيلَ لَهُ: تَبِيعُ صَدَقَةَ أَبِي طَلۡحَةَ؟ فَقَالَ: أَلَا أَبِيعُ صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ بِصَاعٍ مِنۡ دَرَاهِمَ؟ قَالَ: وَكَانَتۡ تِلۡكَ الۡحَدِيقَةُ فِي مَوۡضِعِ قَصۡرِ بَنِي جَدِيلَةَ الَّذِي بَنَاهُ مُعَاوِيَةُ. [طرفه في: ١٤٦١].

2758. Isma’il berkata: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Abu Salamah mengabarkan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah. Aku tidak mengetahuinya kecuali dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Ketika turun ayat “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah datang menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, Allah—tabaraka wa ta’ala—berfirman dalam Kitab-Nya: ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Biruha`.”

Anas berkata: Biruha` adalah sebuah kebun yang biasa dimasuki oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau berteduh di dalamnya, dan meminum airnya.

Abu Thalhah melanjutkan, “Kebun ini aku serahkan kepada Allah—‘azza wa jalla—dan kepada Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya. Salurkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di tempat yang diperlihatkan Allah kepadamu.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bagus, wahai Abu Thalhah! Itu adalah harta yang menguntungkan. Kami telah menerimanya darimu dan kami mengembalikannya kepadamu, maka bagikanlah kebun itu untuk kerabat dekat.”

Kemudian Abu Thalhah menyedekahkannya kepada kerabat-kerabatnya.

Anas berkata: Di antara mereka adalah Ubay dan Hassan.

Anas berkata: Hassan menjual bagiannya dari kebun itu kepada Mu’awiyah, lalu dia ditanya, “Apakah engkau akan menjual sedekah Abu Thalhah?”

Hassan menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjual satu sha’ kurma dengan satu sha’ dirham?”

Anas berkata: Kebun itu dahulu berada di lokasi istana Bani Jadilah yang dibangun oleh Mu’awiyah.

Shahih Muslim hadis nomor 483

٢١٦ - (٤٨٣) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَيُونُسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ غَزِيَّةَ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَىٰ أَبِي بَكۡرٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي ذَنۡبِي كُلَّهُ. دِقَّهُ وَجِلَّهُ. وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ. وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ).

216. (483). Abu Ath-Thahir dan Yunus bin ‘Abdul-A’la telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku dari ‘Umarah bin Ghaziyyah, dari Sumay maula Abu Bakr, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa mengucapkan dalam sujudnya, “Allāhummagfir lī żanbī kullahu, diqqahu wa jillahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa ‘alāniyatahu wa sirrah (Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, serta yang terang-terangan maupun yang tersembunyi).”

Shahih Muslim hadis nomor 479

٤١ - بَابُ النَّهۡىِ عَنۡ قِرَاءَةِ الۡقُرۡآنِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
41. Bab Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Rukuk dan Sujud


٢٠٧ - (٤٧٩) - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ سُحَيۡمٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡبَدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: كَشَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ السِّتَارَةَ، وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلۡفَ أَبِي بَكۡرٍ. فَقَالَ: (أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ مِنۡ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤۡيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الۡمُسۡلِمُ، أَوۡ تُرَى لَهُ، أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَقۡرَأَ الۡقُرۡآنَ رَاكِعًا أَوۡ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ. وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجۡتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنۡ يُسۡتَجَابَ لَكُمۡ).

207. (479). Sa’id bin Manshur, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Suhaim mengabarkan kepadaku dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ma’bad, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyingkap tirai, sementara orang-orang sedang bersaf-saf di belakang Abu Bakr. Beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari kabar-kabar gembira kenabian melainkan mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rab—‘azza wa jalla—di dalamnya. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sangat layak doa itu dikabulkan bagi kalian.”

٢٠٨ - (...) - قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنۡ سُلَيۡمَانَ. حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ سُحَيۡمٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡبَدِ بۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: كَشَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ السِّتۡرَ. وَرَأۡسُهُ مَعۡصُوبٌ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ هَلۡ بَلَّغۡتُ؟) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، (إِنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ مِنۡ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤۡيَا يَرَاهَا الۡعَبۡدُ الصَّالِحُ أَوۡ تُرَى لَهُ...) ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ سُفۡيَانَ.

208. Abu Bakr berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Sulaiman. Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Suhaim mengabarkan kepadaku dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ma’bad bin ‘Abbas, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyingkap tirai, sedangkan kepala beliau diikat karena sakit yang menyebabkan kematian beliau, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?” Sebanyak tiga kali. “Sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari kabar-kabar gembira kenabian melainkan mimpi yang dilihat oleh hamba yang saleh atau diperlihatkan kepadanya ...” Kemudian ia menyebutkan hadis yang serupa dengan hadis Sufyan.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 850

١٤٥ - بَابُ الدُّعَاءِ بَيۡنَ السَّجۡدَتَيۡنِ
145. Bab Doa di Antara Dua Sujud


٨٥٠ - (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مَسۡعُودٍ، نا زَيۡدُ بۡنُ الۡحُبَابِ، نا كَامِلٌ أَبُو الۡعَلَاءِ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بۡنُ أَبِي ثَابِتٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ بَيۡنَ السَّجۡدَتَيۡنِ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي، وَارۡحَمۡنِي، وَعَافِنِي، وَاهۡدِنِي، وَارۡزُقۡنِي).

850. [Hasan] Muhammad bin Mas’ud telah menceritakan kepada kami: Zaid bin Al-Hubab menceritakan kepada kami: Kamil Abu Al-‘Ala` menceritakan kepada kami: Habib bin Abu Tsabit menceritakan kepadaku dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa mengucapkan di antara dua sujud, “Allāhummagfir lī, warḥamnī, wa ‘āfinī, wahdinī, warzuqnī (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, selamatkanlah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2752

١٠ - بَابٌ إِذَا وَقَفَ أَوۡ أَوۡصَى لِأَقَارِبِهِ وَمَنِ الۡأَقَارِبُ
10. Bab Apabila Seseorang Mewakafkan atau Mewasiatkan Harta untuk Kerabatnya, dan Siapakah yang Tergolong Kerabat Itu


وَقَالَ ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسٍ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِأَبِي طَلۡحَةَ: (اجۡعَلۡهَا لِفُقَرَاءِ أَقَارِبِكَ). فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ وَأُبَيِّ بۡنِ كَعۡبٍ.

Dan Tsabit berkata, dari Anas: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Abu Thalhah, “Berikanlah kebun itu untuk kerabatmu yang fakir.” Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada Hassan dan Ubay bin Ka’b.

وَقَالَ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: مِثۡلَ حَدِيثِ ثَابِتٍ، قَالَ: (اجۡعَلۡهَا لِفُقَرَاءِ قَرَابَتِكَ). قَالَ أَنَسٌ: فَجَعَلَهَا لِحَسَّانَ وَأُبَىِّ بۡنِ كَعۡبٍ، وَكَانَا أَقۡرَبَ إِلَيۡهِ مِنِّي، وَكَانَ قَرَابَةُ حَسَّانَ وَأُبَىٍّ مِنۡ أَبِي طَلۡحَةَ، وَاسۡمُهُ زَيۡدُ بۡنُ سَهۡلِ بۡنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ حَرَامِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ زَيۡدِ مَنَاةَ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّجَّارِ، وَحَسَّانُ: ابۡنُ ثَابِتِ بۡنِ الۡمُنۡذِرِ بۡنِ حَرَامٍ، فَيَجۡتَمِعَانِ إِلَى حَرَامٍ، وَهُوَ الۡأَبُ الثَّالِثُ، وَحَرَامُ: ابۡنُ عَمۡرِو بۡنِ زَيۡدِ مَنَاةَ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّجَّارِ، فَهُوَ يُجَامِعُ حَسَّانَ وَأَبَا طَلۡحَةَ وَأُبَيًّا إِلَى سِتَّةِ آبَاءٍ إِلَى عَمۡرِو بۡنِ مَالِكٍ. وَهُوَ أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ عُبَيۡدِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ مُعَاوِيَةَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مَالِكِ بۡنِ النَّجَّارِ، فَعَمۡرُو بۡنُ مَالِكٍ يَجۡمَعُ حَسَّانَ وَأَبَا طَلۡحَةَ وَأُبَيًّا.

Al-Anshari berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas: Seperti hadis Tsabit, Nabi berkata, “Berikanlah kebun itu untuk kerabatmu yang fakir.”

Anas berkata: Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada Hassan dan Ubay bin Ka’b, dan mereka berdua lebih dekat kekerabatannya kepada beliau daripada aku.
  • Silsilah Abu Thalhah: Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Haram bin ‘Amr bin Zaid Manah bin ‘Adi bin ‘Amr bin Malik bin An-Najjar.
  • Silsilah Hassan: Hassan bin Tsabit bin Al-Mundzir bin Haram.
Abu Thalhah dan Hassan bertemu nasab pada Haram (kakek ketiga). Haram sendiri adalah putra ‘Amr bin Zaid Manah bin ‘Adi bin ‘Amr bin Malik bin An-Najjar.
  • Silsilah Ubay: Ubay bin Ka’b bin Qais bin ‘Ubaid bin Zaid bin Mu’awiyah bin ‘Amr bin Malik bin An-Najjar.
Dengan demikian, ‘Amr bin Malik (kakek keenam) menjadi leluhur yang menyatukan nasab Hassan, Abu Thalhah, dan Ubay.

وَقَالَ بَعۡضُهۡمۡ: إِذَا أَوۡصَى لِقَرَابَتِهِ فَهُوَ إِلَى آبَائِهِ فِي الۡإِسۡلَامِ.

Sebagian mereka berkata: Apabila seseorang mewasiatkan hartanya untuk kerabatnya, maka wasiat itu berlaku untuk garis keturunan kakek-kakeknya dalam Islam.

٢٧٥٢ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِأَبِي طَلۡحَةَ: (أَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ) قَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ.

2752. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah: Ia mendengar Anas—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda kepada Abu Thalhah, “Aku berpendapat hendaknya engkau menjadikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَمَّا نَزَلَتۡ ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٤] جَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يُنَادِي: (يَا بَنِي فِهۡرٍ، يَا بَنِي عَدِيٍّ)، لِبُطُونِ قُرَيۡشٍ.

Ibnu ‘Abbas berkata: Ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS Asy-Syu’ara`: 214), Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mulai memanggil, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi,” yaitu suku-suku dari Quraisy.

وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: لَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَأَنۡذِرۡ عَشِيرَتَكَ الۡأَقۡرَبِينَ﴾، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ). [طرفه في: ١٤٦١].

Abu Hurairah berkata: Ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai sekalian kaum Quraisy.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2318

١٥ - بَابٌ إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِوَكِيلِهِ: ضَعۡهُ حَيۡثُ أَرَاكَ اللهُ وَقَالَ الۡوَكِيلُ: قَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ
15. Bab Apabila Seseorang Berkata kepada Wakilnya, “Salurkanlah Harta Ini di Tempat yang Diperlihatkan Allah Kepadamu,” dan Wakil Itu Berkata, “Aku telah Mendengar Perkataanmu”


٢٣١٨ - حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلۡحَةَ أَكۡثَرَ الۡأَنۡصَارِ بِالۡمَدِينَةِ مَالًا، وَكَانَ أَحَبَّ أَمۡوَالِهِ إِلَيۡهِ بِيۡرُحَاءَ، وَكَانَتۡ مُسۡتَقۡبِلَةَ الۡمَسۡجِدَ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدۡخُلُهَا وَيَشۡرَبُ مِنۡ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] قَامَ أَبُو طَلۡحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: ﴿لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتَّى تُنۡفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾ [آل عمران: ٩٢] وَإِنَّ أَحَبَّ أَمۡوَالِي إِلَيَّ بِيۡرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلهِ، أَرۡجُو بِرَّهَا وَذُخۡرَهَا عِنۡدَ اللهِ، فَضَعۡهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيۡثُ شِئۡتَ، فَقَالَ: (بَخٍ، ذٰلِكَ مَالٌ رَائِحٌ، ذٰلِكَ مَالٌ رَائِحٌ، قَدۡ سَمِعۡتُ مَا قُلۡتَ فِيهَا، وَأَرَى أَنۡ تَجۡعَلَهَا فِي الۡأَقۡرَبِينَ). قَالَ: أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلۡحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ. تَابَعَهُ إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ مَالِكٍ. وَقَالَ رَوۡحٌ، عَنۡ مَالِكٍ: (رَابِحٌ). [طرفه في: ١٤٦١].

2318. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membacakan kepada Malik dari Ishaq bin ‘Abdullah: Ia mendengar Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Abu Thalhah adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya di Madinah dan harta yang paling beliau cintai adalah (kebun) Biruha`. Kebun itu menghadap ke masjid, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa memasukinya serta meminum airnya yang segar. Ketika turun ayat, “Kalian tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai” (QS Ali Imran: 92), Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah taala berfirman dalam Kitab-Nya, ‘Kalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai’, dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Biruha`. Sungguh kebun itu aku sedekahkan karena Allah, aku mengharapkan kebajikannya dan simpanan pahalanya di sisi Allah. Maka manfaatkanlah kebun itu, wahai Rasulullah, di mana pun engkau kehendaki.”

Beliau bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang pahalanya akan kembali padamu, itu adalah harta yang pahalanya akan kembali padamu. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan tentangnya, dan aku berpendapat hendaknya engkau menjadikannya untuk kerabat dekat.”

Abu Thalhah berkata, “Aku akan melaksanakannya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya.

Isma’il mengiringi Yahya bin Yahya dari Malik. Dan Rauh berkata dari Malik: rabih (menguntungkan).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6638

٦٦٣٨ - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصٍ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنِ الۡمَعۡرُورِ، عَنۡ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: انۡتَهَيۡتُ إِلَيۡهِ وَهُوَ يَقُولُ فِي ظِلِّ الۡكَعۡبَةِ: (هُمُ الۡأَخۡسَرُونَ وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، هُمُ الۡأَخۡسَرُونَ وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ). قُلۡتُ: مَا شَأۡنِي أَيُرَى فِيَّ شَيۡءٌ؟ مَا شَأۡنِي؟ فَجَلَسۡتُ إِلَيۡهِ وَهُوَ يَقُولُ، فَمَا اسۡتَطَعۡتُ أَنۡ أَسۡكُتَ، وَتَغَشَّانِي مَا شَاءَ اللهُ، فَقُلۡتُ: مَنۡ هُمۡ بِأَبِي أَنۡتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (الۡأَكۡثَرُونَ أَمۡوَالًا، إِلَّا مَنۡ قَالَ هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَهَكَذَا). [طرفه في: ١٤٦٠].

6638. ‘Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Al-Ma’rur, dari Abu Dzarr. Ia berkata:

Aku sampai kepada beliau ketika Nabi sedang bersabda di bawah naungan Ka’bah, “Demi Rab Ka’bah, mereka adalah orang-orang yang paling rugi. Demi Rab Ka’bah, mereka adalah orang-orang yang paling rugi.”

Aku berkata (dalam hati), “Ada apa denganku? Apakah ada sesuatu (buruk) yang terlihat pada diriku? Ada apa denganku?”

Lalu aku duduk di dekat beliau sementara beliau terus mengucapkan hal itu. Aku tidak sanggup untuk diam dan rasa gelisah melingkupiku sebagaimana yang Allah kehendaki, maka aku bertanya, “Siapakah mereka, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Orang-orang yang paling banyak hartanya, kecuali orang yang bersedekah begini, begini, dan begini (ke depan, ke kanan, dan ke kiri).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3923

٣٩٢٣ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ بۡنُ مُسۡلِمٍ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ. وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ اللَّيۡثِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلَهُ عَنِ الۡهِجۡرَةِ، فَقَالَ: (وَيۡحَكَ إِنَّ الۡهِجۡرَةَ شَأۡنُهَا شَدِيدٌ، فَهَلۡ لَكَ مِنۡ إِبِلٍ؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَتُعۡطِي صَدَقَتَهَا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَهَلۡ تَمۡنَحُ مِنۡهَا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَتَحۡلُبُهَا يَوۡمَ وُرُودِهَا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَاعۡمَلۡ مِنۡ وَرَاءِ الۡبِحَارِ، فَإِنَّ اللهَ لَنۡ يَتِرَكَ مِنۡ عَمَلِكَ شَيۡئًا). [طرفه في: ١٤٥٢].

3923. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepada kami. Muhammad bin Yusuf berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Atha` bin Yazid Al-Laitsi menceritakan kepadaku. Ia berkata: Abu Sa’id—radhiyallahu ‘anhu—menceritakan kepadaku. Ia berkata:

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya kepada beliau tentang hijrah, maka beliau bersabda, “Celaka engkau, sesungguhnya perkara hijrah itu berat. Apakah engkau memiliki unta?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau menunaikan zakatnya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau mendermakan sebagian darinya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau memerah susunya pada hari unta-unta itu mendatangi tempat minum?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Maka beramallah di seberang lautan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengurangi pahala amalmu sedikit pun.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2633

٢٦٣٣ - وَقَالَ مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ: حَدَّثَنِي الزُّهۡرِيُّ: حَدَّثَنِي عَطَاءُ بۡنُ يَزِيدَ: حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ قَالَ: جَاءَ أَعۡرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلَهُ عَنِ الۡهِجۡرَةِ، فَقَالَ: (وَيۡحَكَ إِنَّ الۡهِجۡرَةَ شَأۡنُهَا شَدِيدٌ، فَهَلۡ لَكَ مِنۡ إِبِلٍ؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَتُعۡطِي صَدَقَتَهَا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَهَلۡ تَمۡنَحُ مِنۡهَا شَيۡئًا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَتَحۡلُبُهَا يَوۡمَ وِرۡدِهَا؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَاعۡمَلۡ مِنۡ وَرَاءِ الۡبِحَارِ، فَإِنَّ اللهَ لَنۡ يَتِرَكَ مِنۡ عَمَلِكَ شَيۡئًا). [طرفه في: ١٤٥٢].

2633. Muhammad bin Yusuf berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepadaku: ‘Atha` bin Yazid menceritakan kepadaku: Abu Sa’id menceritakan kepadaku. Ia berkata:

Seorang Arab Badui datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bertanya kepada beliau tentang hijrah, maka beliau bersabda, “Celaka engkau, sesungguhnya perkara hijrah itu berat. Apakah engkau memiliki unta?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau menunaikan zakatnya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau mendermakan sebagian darinya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Apakah engkau memerah susunya pada hari unta-unta itu mendatangi tempat minum?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Maka beramallah di seberang lautan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengurangi pahala amalmu sedikit pun.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6955

٣ - بَابٌ فِي الزَّكَاةِ، وَأَنۡ لَا يُفَرَّقَ بَيۡنَ مُجۡتَمِعٍ، وَلَا يُجۡمَعَ بَيۡنَ مُتَفَرِّقٍ، خَشۡيَةَ الصَّدَقَةِ
3. Bab tentang Zakat, dan Bahwa Tidak Boleh Dipisahkan Antara Harta yang Bercampur, serta Tidak Boleh Digabungkan Antara Harta yang Terpisah, Karena Takut (Membayar) Zakat


٦٩٥٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَنَسٍ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ كَتَبَ لَهُ فَرِيضَةَ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَلَا يُجۡمَعُ بَيۡنَ مُتَفَرِّقٍ، وَلَا يُفَرَّقُ بَيۡنَ مُجۡتَمِعٍ، خَشۡيَةَ الصَّدَقَةِ). [طرفه في: ١٤٤٨].

6955. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas menceritakan kepada kami: Anas menceritakan kepadanya: Abu Bakr menulis untuknya kewajiban zakat yang telah diwajibkan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Dan tidak boleh digabungkan antara harta yang terpisah, serta tidak boleh dipisahkan antara harta yang bercampur, karena takut membayar zakat.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5878 dan 5879

٥٥ - بَابٌ هَلۡ يُجۡعَلُ نَقۡشُ الۡخَاتَمِ ثَلَاثَةَ أَسۡطُرٍ
55. Bab Apakah Ukiran Cincin Dibuat Menjadi Tiga Baris


٥٨٧٨ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ لَمَّا اسۡتُخۡلِفَ كَتَبَ لَهُ، وَكَانَ نَقۡشُ الۡخَاتَمِ ثَلَاثَةَ أَسۡطُرٍ: مُحَمَّدٌ سَطۡرٌ، وَرَسُولُ سَطۡرٌ، وَاللهِ سَطۡرٌ. [طرفه في: ١٤٤٨].

5878. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas: Ketika Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—diangkat menjadi khalifah, beliau menulis surat untuknya, dan ukiran cincin (stempel surat) tersebut terdiri dari tiga baris: Muhammad satu baris, Rasul satu baris, dan Allah satu baris.

٥٨٧٩ - وَزَادَنِي أَحۡمَدُ: حَدَّثَنَا الۡأَنۡصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ ﷺ فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكۡرٍ بَعۡدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعۡدَ أَبِي بَكۡرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثۡمَانُ، جَلَسَ عَلَى بِئۡرِ أَرِيسَ، قَالَ: فَأَخۡرَجَ الۡخَاتَمَ فَجَعَلَ يَعۡبَثُ بِهِ فَسَقَطَ قَالَ: فَاخۡتَلَفۡنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مَعَ عُثۡمَانَ، فَنَنۡزَحُ الۡبِئۡرَ فَلَمۡ نَجِدۡهُ.

5879. Ahmad memberikan riwayat tambahan kepadaku: Al-Anshari menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas. Ia berkata: Cincin Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu berada di tangan beliau, lalu di tangan Abu Bakr setelah beliau, dan di tangan ‘Umar setelah Abu Bakr. Ketika masa ‘Utsman, ia duduk di atas sumur Aris. Anas berkata: Lalu ia mengeluarkan cincin itu dan memain-mainkannya, kemudian cincin itu terjatuh. Anas berkata: Maka kami bolak-balik bersama ‘Utsman selama tiga hari untuk menguras sumur tersebut, namun kami tidak berhasil menemukannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3106

٥ - بَابُ مَا ذُكِرَ مِنۡ دِرۡعِ النَّبِيِّ ﷺ وَعَصَاهُ وَسَيۡفِهِ وَقَدَحِهِ وَخَاتَمِهِ، وَمَا اسۡتَعۡمَلَ الۡخُلَفَاءُ بَعۡدَهُ مِنۡ ذٰلِكَ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرۡ قِسۡمَتُهُ، وَمِنۡ شَعَرِهِ وَنَعۡلِهِ وَآنِيَتِهِ مِمَّا يَتَبَرَّكُ أَصۡحَابُهُ وَغَيۡرُهُمۡ بَعۡدَ وَفَاتِهِ
5. Bab Penyebutan Baju Besi, Tongkat, Pedang, Cawan, dan Cincin Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—; Penggunaan Barang-Barang Tersebut oleh Para Khalifah Setelah Beliau yang Tidak Disebutkan tentang Pembagian Warisnya; Rambut, Sandal, dan Bejana Beliau yang Diambil Berkahnya Sepeninggal Beliau oleh Para Sahabat dan Selain Mereka


٣١٠٦ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ ثُمَامَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ لَمَّا اسۡتُخۡلِفَ بَعَثَهُ إِلَى الۡبَحۡرَيۡنِ، وَكَتَبَ لَهُ هٰذَا الۡكِتَابَ وَخَتَمَهُ، وَكَانَ نَقۡشُ الۡخَاتَمِ ثَلَاثَةَ أَسۡطُرٍ: مُحَمَّدٌ سَطۡرٌ، وَرَسُولُ سَطۡرٌ، وَاللهِ سَطۡرٌ. [طرفه في: ١٤٤٨].

3106. Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Tsumamah, dari Anas: Ketika Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—diangkat menjadi khalifah, ia mengutusnya ke Bahrain, dan menulis surat ini untuknya serta menstempelnya. Ukiran cincin stempel tersebut terdiri dari tiga baris: Muhammad satu baris, Rasul satu baris, dan Allah satu baris.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2487

٢ - بَابُ مَا كَانَ مِنۡ خَلِيطَيۡنِ فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيۡنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ فِي الصَّدَقَةِ
2. Bab Harta yang Dimiliki Bersama oleh Dua Pihak, maka Beban Zakatnya Ditanggung Mereka Berdua secara Adil


٢٤٨٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنِي ثُمَامَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَنَسٍ: أَنَّ أَنَسًا حَدَّثَهُ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ كَتَبَ لَهُ فَرِيضَةَ الصَّدَقَةِ، الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، قَالَ: (وَمَا كَانَ مِنۡ خَلِيطَيۡنِ، فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيۡنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ). [طرفه في: ١٤٤٨].

2487. Muhammad bin ‘Abdullah bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Ia berkata: Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas menceritakan kepadaku: Anas menceritakan kepadanya: Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—menulis untuknya kewajiban zakat, yang telah diwajibkan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau berkata, “Dan harta yang dimiliki oleh dua orang yang bersekutu, maka keduanya saling menanggung kembali pengeluarannya secara adil.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2579

٢٥٧٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الۡحَسَنِ: أَخۡبَرَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ خَالِدٍ الۡحَذَّاءِ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنۡ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتۡ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا فَقَالَ: (عِنۡدَكُمۡ شَيۡءٌ)؟ قَالَتۡ: لَا، إِلَّا شَيۡءٌ بَعَثَتۡ بِهِ أُمُّ عَطِيَّةَ مِنَ الشَّاةِ الَّتِي بَعَثۡتَ إِلَيۡهَا مِنَ الصَّدَقَةِ، قَالَ: (إِنَّهَا قَدۡ بَلَغَتۡ مَحِلَّهَا). [طرفه في: ١٤٤٦].

2579. Muhammad bin Muqatil Abu Al-Hasan telah menceritakan kepada kami: Khalid bin ‘Abdullah mengabarkan kepada kami dari Khalid Al-Hadzdza`, dari Hafsah binti Sirin, dari Umu ‘Athiyyah. Ia berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk menemui ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—lalu bertanya, “Apakah kalian memiliki sesuatu?”

‘Aisyah menjawab, “Tidak, kecuali sesuatu yang dikirimkan oleh Umu ‘Athiyyah dari daging kambing yang telah engkau kirimkan kepadanya sebagai sedekah.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya sedekah itu telah sampai pada tempatnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5797

٩ - بَابُ جَيۡبِ الۡقَمِيصِ مِنۡ عِنۡدِ الصَّدۡرِ وَغَيۡرِهِ
9. Bab Kerah Baju dari Arah Dada dan Lainnya


٥٧٩٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ نَافِعٍ، عَنِ الۡحَسَنِ، عَنۡ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَثَلَ الۡبَخِيلِ وَالۡمُتَصَدِّقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيۡنِ عَلَيۡهِمَا جُبَّتَانِ مِنۡ حَدِيدٍ، قَدِ اضۡطُرَّتۡ أَيۡدِيهِمَا إِلَى ثُدِيِّهِمَا وَتَرَاقِيهِمَا، فَجَعَلَ الۡمُتَصَدِّقُ كُلَّمَا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ انۡبَسَطَتۡ عَنۡهُ، حَتَّى تَغۡشَى أَنَامِلَهُ وَتَعۡفُوَ أَثَرَهُ، وَجَعَلَ الۡبَخِيلُ كُلَّمَا هَمَّ بِصَدَقَةٍ قَلَصَتۡ، وَأَخَذَتۡ كُلُّ حَلۡقَةٍ بِمَكَانِهَا). قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: فَأَنَا رَأَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ بِإِصۡبَعِهِ هَكَذَا فِي جَيۡبِهِ، فَلَوۡ رَأَيۡتَهُ يُوَسِّعُهَا وَلَا تَتَوَسَّعُ. تَابَعَهُ ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، وَأَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ: فِي الۡجُبَّتَيۡنِ. وَقَالَ حَنۡظَلَةُ: سَمِعۡتُ طَاوُسًا سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: جُبَّتَانِ. وَقَالَ جَعۡفَرٌ عَنِ الۡأَعۡرَجِ: جُنَّتَانِ. [طرفه في: ١٤٤٣].

5797. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Amir menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Nafi’ menceritakan kepada kami dari Al-Hasan, dari Thawus, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membuat: “Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang bersedekah adalah seperti dua orang yang mengenakan dua baju jubah terbuat dari besi, yang tangan keduanya terhimpit hingga ke dada dan tulang selangka keduanya. Orang yang bersedekah, setiap kali ia bersedekah dengan suatu sedekah, baju besi itu melonggar darinya, hingga menutupi ujung jari-jarinya dan menghapus jejak langkahnya. Sedangkan orang yang kikir, setiap kali ia berniat untuk bersedekah, baju besi itu mengerut dan setiap lingkaran baju besi mencengkeram erat di tempatnya.”

Abu Hurairah berkata: Aku melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berbuat dengan jarinya seperti ini di kerah bajunya, seandainya engkau melihat ia melonggarkannya namun baju itu tidak kunjung melonggar.

Ibnu Thawus mengiringi Al-Hasan dari ayahnya, serta Abu Az-Zinad dari Al-A’raj: mengenai lafal “dua baju jubah”. Hanzhalah berkata: Aku mendengar Thawus: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Dua baju jubah”. Ja’far berkata dari Al-A’raj: “Dua baju perisai”.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5299

٥٢٩٩ - وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ هُرۡمُزَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَثَلُ الۡبَخِيلِ وَالۡمُنۡفِقِ، كَمَثَلِ رَجُلَيۡنِ عَلَيۡهِمَا جُبَّتَانِ مِنۡ حَدِيدٍ، مِنۡ لَدُنۡ ثَدۡيَيۡهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا، فَأَمَّا الۡمُنۡفِقُ: فَلَا يُنۡفِقُ شَيۡئًا إِلَّا مَادَّتۡ عَلَى جِلۡدِهِ، حَتَّى تُجِنَّ بَنَانَهُ وَتَعۡفُوَ أَثَرَهُ. وَأَمَّا الۡبَخِيلُ: فَلَا يُرِيدُ يُنۡفِقُ إِلَّا لَزِمَتۡ كُلُّ حَلۡقَةٍ مَوۡضِعَهَا، فَهۡوَ يُوسِعُهَا فَلَا تَتَّسِعُ). وَيُشِيرُ بِإِصۡبَعِهِ إِلَى حَلۡقِهِ. [طرفه في: ١٤٤٣].

5299. Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz: Aku mendengar Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang menafkahkan hartanya adalah seperti dua orang yang mengenakan dua baju jubah terbuat dari besi, dari dada keduanya hingga tulang selangka keduanya. Adapun orang yang menafkahkan hartanya, tidaklah ia menafkahkan sesuatu melainkan baju besi itu melonggar di kulitnya, hingga menutupi ujung jarinya dan menghapus jejak langkahnya. Adapun orang yang kikir, tidaklah ia ingin menafkahkan sesuatu melainkan setiap lingkaran baju besi itu mencengkeram tempatnya, lalu ia mencoba melonggarkannya namun baju itu tidak kunjung melonggar.” Beliau berisyarat dengan jarinya ke lehernya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2298

٥ - بَابُ الدَّيۡنِ
5. Bab Utang


٢٢٩٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُؤۡتَى بِالرَّجُلِ الۡمُتَوَفَّى، عَلَيۡهِ الدَّيۡنُ، فَيَسۡأَلُ: (هَلۡ تَرَكَ لِدَيۡنِهِ فَضۡلًا؟) فَإِنۡ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيۡنِهِ وَفَاءً صَلَّى، وَإِلَّا قَالَ لِلۡمُسۡلِمِينَ: (صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمۡ). فَلَمَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيۡهِ الۡفُتُوحَ، قَالَ: (أَنَا أَوۡلَى بِالۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنۡفُسِهِمۡ، فَمَنۡ تُوُفِّيَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ فَتَرَكَ دَيۡنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ).

[الحديث ٢٢٩٨ - أطرافه في: ٢٣٩٨، ٢٣٩٩، ٤٧٨١، ٥٣٧١، ٦٧٣١، ٦٧٤٥، ٦٧٦٣].

2298. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—:

Jenazah seorang laki-laki yang masih memiliki utang didatangkan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan kelebihan harta untuk melunasi utangnya?”

Jika diceritakan kepada beliau bahwa orang tersebut meninggalkan harta untuk melunasi utangnya, maka beliau menyalatinya. Jika tidak, beliau akan berkata kepada kaum muslimin, “Salatilah sahabat kalian ini!”

Namun ketika Allah telah memberikan banyak kemenangan dan harta rampasan perang kepada beliau, beliau bersabda, “Aku lebih berhak atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri. Maka, barang siapa di antara kaum mukmin yang wafat lalu meninggalkan utang, maka akulah yang berkewajiban melunasinya. Dan barang siapa yang meninggalkan harta, maka itu menjadi hak para ahli warisnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2296

٢٢٩٦ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا عَمۡرٌو: سَمِعَ مُحَمَّدَ بۡنَ عَلِيٍّ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَوۡ قَدۡ جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ قَدۡ أَعۡطَيۡتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا). فَلَمۡ يَجِىءۡ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ حَتَّى قُبِضَ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا جَاءَ مَالُ الۡبَحۡرَيۡنِ أَمَرَ أَبُو بَكۡرٍ فَنَادَى: مَنۡ كَانَ لَهُ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ عِدَةٌ أَوۡ دَيۡنٌ فَلۡيَأۡتِنَا، فَأَتَيۡتُهُ فَقُلۡتُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِي كَذَا وَكَذَا، فَحَثَى لِي حَثۡيَةً، فَعَدَدۡتُهَا، فَإِذَا هِيَ خَمۡسُمِائَةٍ، وَقَالَ: خُذۡ مِثۡلَيۡهَا.

[الحديث ٢٢٩٦ - أطرافه في: ٢٥٩٨، ٢٦٨٣، ٣١٣٧، ٣١٦٤، ٤٣٨٣].

2296. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: ‘Amr menceritakan kepada kami: Ia mendengar Muhammad bin ‘Ali dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhum—. Ia berkata:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah bersabda, “Jika harta dari Bahrain telah datang, aku akan memberimu sekian, sekian, dan sekian.”

Namun, harta dari Bahrain tersebut belum juga datang hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—wafat. Ketika harta dari Bahrain itu akhirnya tiba, Abu Bakr memerintahkan seseorang untuk berseru, “Barang siapa yang memiliki janji atau piutang di sisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, hendaklah ia mendatangi kami.”

Aku pun mendatanginya lalu berkata, “Sesungguhnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah bersabda kepadaku begini dan begitu.”

Abu Bakr lalu menciduk uang dengan kedua telapak tangannya untukku. Aku pun menghitungnya, dan ternyata jumlahnya lima ratus. Kemudian beliau berkata, “Ambillah lagi dua kali lipatnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2294

٢٢٩٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّبَّاحِ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ زَكَرِيَّاءَ: حَدَّثَنَا عَاصِمٌ قَالَ: قُلۡتُ لِأَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَبَلَغَكَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا حِلۡفَ فِي الۡإِسۡلَامِ)؟ فَقَالَ: قَدۡ حَالَفَ النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ قُرَيۡشٍ وَالۡأَنۡصَارِ فِي دَارِي. [الحديث ٢٢٩٤ - طرفاه في: ٦٠٨٣، ٧٣٤٠].

2294. Muhammad bin Ash-Shabbah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Zakariyya` menceritakan kepada kami: ‘Ashim menceritakan kepada kami. Ia berkata:

Aku bertanya kepada Anas—radhiyallahu ‘anhu—, “Apakah telah sampai kepadamu kabar bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Tidak ada perjanjian persaudaraan di dalam Islam’?”

Anas menjawab, “Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sungguh telah mengadakan perjanjian persaudaraan antara kaum Quraisy dan kaum Ansar di rumahku.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2292

٢ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَالَّذِينَ عَاقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ فَآتُوهُمۡ نَصِيبَهُمۡ﴾ [النساء: ٣٣]
2. Bab Firman Allah taala: “Dan bagi orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya.” (QS An-Nisa’: 33)


٢٢٩٢ - حَدَّثَنَا الصَّلۡتُ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ إِدۡرِيسَ، عَنۡ طَلۡحَةَ بۡنِ مُصَرِّفٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ [النساء: ٣٣] قَالَ: وَرَثَةً. ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ قَالَ: كَانَ الۡمُهَاجِرُونَ لَمَّا قَدِمُوا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ الۡمَدِينَةَ، يَرِثُ الۡمُهَاجِرُ الۡأَنۡصَارِيَّ، دُونَ ذَوِي رَحِمِهِ، لِلۡأُخُوَّةِ الَّتِي آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَهُمۡ، فَلَمَّا نَزَلَتۡ: ﴿وَلِكُلٍّ جَعَلۡنَا مَوَالِيَ﴾ نَسَخَتۡ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَالَّذِينَ عَقَدَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ﴾ إِلَّا النَّصۡرَ وَالرِّفَادَةَ وَالنَّصِيحَةَ، وَقَدۡ ذَهَبَ الۡمِيرَاثُ، وَيُوصِي لَهُ. [الحديث ٢٢٩٢ - طرفاه في: ٤٥٨٠، ٦٧٤٧].

2292. Ash-Shalt bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Idris, dari Thalhah bin Musharrif, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma— mengenai ayat: “Dan untuk masing-masing, Kami telah menetapkan mawali,” ia berkata: Artinya adalah pewaris-pewaris.

Mengenai ayat: “Dan bagi orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka,” ia berkata: Dahulu ketika orang-orang Muhajirin baru datang menemui Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di Madinah, seorang Muhajirin dapat mewarisi seorang Ansar tanpa melibatkan kerabat dekatnya sendiri. Hal itu disebabkan oleh ikatan persaudaraan yang telah dipersaudarakan oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di antara mereka. Ketika turun ayat: “Dan untuk masing-masing, Kami telah menetapkan para ahli waris,” ayat ini menghapus ketentuan tersebut. Kemudian ia berkata mengenai ayat: “Dan bagi orang-orang yang kalian telah bersumpah setia dengan mereka,” (yang masih berlaku) hanyalah dalam hal pemberian bantuan, pertolongan, dan nasihat, sedangkan hak warisnya sudah tidak berlaku lagi, namun ia boleh berwasiat untuknya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2290 dan 2291

١ - بَابُ الۡكَفَالَةِ فِي الۡقَرۡضِ وَالدُّيُونِ بِالۡأَبۡدَانِ وَغَيۡرِهَا
1. Bab Jaminan (Kafalah) dalam Hal Pinjaman dan Utang dengan Jaminan Jiwa serta Selainnya


٢٢٩٠ - وَقَالَ أَبُو الزِّنَادِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ حَمۡزَةَ بۡنِ عَمۡرٍو الۡأَسۡلَمِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ: أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ بَعَثَهُ مُصَدِّقًا، فَوَقَعَ رَجُلٌ عَلَى جَارِيَةِ امۡرَأَتِهِ، فَأَخَذَ حَمۡزَةُ مِنَ الرَّجُلِ كَفِيلًا حَتَّى قَدِمَ عَلَى عُمَرَ، وَكَانَ عُمَرُ قَدۡ جَلَدَهُ مِائَةَ جَلۡدَةٍ، فَصَدَّقَهُمۡ وَعَذَرَهُ بِالۡجَهَالَةِ. وَقَالَ جَرِيرٌ وَالۡأَشۡعَثُ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ فِي الۡمُرۡتَدِّينَ: اسۡتَتِبۡهُمۡ وَكَفِّلۡهُمۡ، فَتَابُوا، وَكَفَلَهُمۡ عَشَائِرُهُمۡ. وَقَالَ حَمَّادٌ: إِذَا تَكَفَّلَ بِنَفۡسٍ فَمَاتَ فَلَا شَيۡءَ عَلَيۡهِ، وَقَالَ الۡحَكَمُ: يَضۡمَنُ.

2290. Abu Az-Zinad berkata, dari Muhammad bin Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami, dari ayahnya: ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—mengutusnya sebagai petugas penarik zakat. Kemudian ada seorang laki-laki yang menyetubuhi budak perempuan milik istrinya. Kemudian Hamzah mengambil orang yang bersedia menjadi penjamin dari laki-laki tersebut (agar tidak melarikan diri) hingga ia menghadap ‘Umar. ‘Umar ternyata menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya sebanyak seratus kali cambukan. ‘Umar pun membenarkan tindakan mereka dan memaafkan laki-laki tersebut karena faktor ketidaktahuan.

Jarir dan Al-Asy’ats berkata kepada ‘Abdullah bin Mas’ud mengenai orang-orang murtad, “Mintalah mereka bertobat dan carilah orang yang mau menjamin mereka.” Mereka pun akhirnya bertobat dan suku-suku mereka bertindak sebagai penjamin mereka.

Hammad berkata, “Apabila seseorang menjamin jiwa seseorang lalu orang yang dijamin itu meninggal dunia, maka tidak ada kewajiban apa pun atas sang penjamin.” Sementara Al-Hakam berpendapat, “Ia tetap harus menanggungnya.”

٢٢٩١ - قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: وَقَالَ اللَّيۡثُ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ رَبِيعَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ هُرۡمُزَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: (أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلًا مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ، سَأَلَ بَعۡضَ بَنِي إِسۡرَائِيلَ أَنۡ يُسۡلِفَهُ أَلۡفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائۡتِنِي بِالشُّهَدَاءِ أُشۡهِدُهُمۡ، فَقَالَ: كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا، قَالَ: فَأۡتِنِي بِالۡكَفِيلِ، قَالَ: كَفَى بِاللهِ كَفِيلًا، قَالَ: صَدَقۡتَ،

2291. Abu ‘Abdullah berkata: Al-Laits berkata: Ja’far bin Rabi’ah menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:

Beliau menceritakan tentang seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang meminta kepada sebagian Bani Israil lainnya agar memberinya pinjaman uang sebesar seribu dinar. Orang yang memberi pinjaman berkata, “Datangkanlah saksi-saksi kepadaku agar aku dapat menjadikan mereka saksi.”

Laki-laki itu menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi.”

Orang itu berkata, “Kalau begitu, datangkanlah seorang penjamin kepadaku.”

Laki-laki itu menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Orang itu berkata, “Kamu benar.”

فَدَفَعَهَا إِلَيۡهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى، فَخَرَجَ فِي الۡبَحۡرِ فَقَضَى حَاجَتَهُ، ثُمَّ الۡتَمَسَ مَرۡكَبًا يَرۡكَبُهَا يَقۡدَمُ عَلَيۡهِ لِلۡأَجَلِ الَّذِي أَجَّلَهُ، فَلَمۡ يَجِدۡ مَرۡكَبًا، فَأَخَذَ خَشَبَةً فَنَقَرَهَا، فَأَدۡخَلَ فِيهَا أَلۡفَ دِينَارٍ وَصَحِيفَةً مِنۡهُ إِلَى صَاحِبِهِ، ثُمَّ زَجَّجَ مَوۡضِعَهَا، ثُمَّ أَتَى بِهَا إِلَى الۡبَحۡرِ فَقَالَ: اللّٰهُمَّ إِنَّكَ تَعۡلَمُ أَنِّي كُنۡتُ تَسَلَّفۡتُ فُلَانًا أَلۡفَ دِينَارٍ، فَسَأَلَنِي كَفِيلًا فَقُلۡتُ: كَفَى بِاللهِ كَفِيلًا، فَرَضِيَ بِكَ، وَسَأَلَنِي شَهِيدًا فَقُلۡتُ: كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا، فَرَضِيَ بِكَ، وَأَنِّي جَهَدۡتُ أَنۡ أَجِدَ مَرۡكَبًا أَبۡعَثُ إِلَيۡهِ الَّذِي لَهُ فَلَمۡ أَقۡدِرۡ، وَإِنِّي أَسۡتَوۡدِعُكَهَا، فَرَمَى بِهَا فِي الۡبَحۡرِ حَتَّى وَلَجَتۡ فِيهِ، ثُمَّ انۡصَرَفَ، وَهُوَ فِي ذٰلِكَ يَلۡتَمِسُ مَرۡكَبًا يَخۡرُجُ إِلَى بَلَدِهِ،

Ia menyerahkan uang tersebut kepadanya sampai waktu yang telah ditentukan. Laki-laki itu lalu pergi berlayar di laut dan menyelesaikan urusannya. Setelah itu, ia mencari kapal yang bisa ia naiki untuk kembali tepat pada waktu yang telah disepakatinya, namun ia tidak kunjung menemukan kapal. Ia kemudian mengambil sepotong kayu lalu melubanginya, memasukkan seribu dinar beserta selembar surat darinya untuk temannya ke dalam lubang tersebut, lalu merapikan dan menutup rapat bagian lubangnya. Setelah itu, ia membawa kayu tersebut ke tepi laut dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam seribu dinar kepada si Fulan. Ia memintaku seorang penjamin, lalu aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin’, dan ia rida dengan-Mu. Ia juga memintaku seorang saksi, lalu aku katakan: ‘Cukuplah Allah sebagai saksi’, dan ia pun rida dengan-Mu. Sesungguhnya aku telah berusaha keras untuk menemukan kapal guna mengirimkan haknya kepadanya, namun aku tidak mampu. Oleh karena itu, sesungguhnya aku menitipkan uang ini kepada-Mu.”

Ia pun melemparkan kayu tersebut ke laut hingga terombang-ambing dan masuk ke tengahnya, lalu ia pulang. Meskipun begitu, ia tetap terus mencari kapal untuk bisa pulang ke negerinya.

فَخَرَجَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ أَسۡلَفَهُ يَنۡظُرُ لَعَلَّ مَرۡكَبًا قَدۡ جَاءَ بِمَالِهِ، فَإِذَا بِالۡخَشَبَةِ الَّتِي فِيهَا الۡمَالُ، فَأَخَذَهَا لِأَهۡلِهِ حَطَبًا، فَلَمَّا نَشَرَهَا وَجَدَ الۡمَالَ وَالصَّحِيفَةَ، ثُمَّ قَدِمَ الَّذِي كَانَ أَسۡلَفَهُ، فَأَتَى بِالۡأَلۡفِ دِينَارٍ، فَقَالَ: وَاللهِ مَا زِلۡتُ جَاهِدًا فِي طَلَبِ مَرۡكَبٍ لِآتِيَكَ بِمَالِكَ، فَمَا وَجَدۡتُ مَرۡكَبًا قَبۡلَ الَّذِي أَتَيۡتُ فِيهِ، قَالَ: هَلۡ كُنۡتَ بَعَثۡتَ إِلَيَّ بِشَيۡءٍ؟ قَالَ: أُخۡبِرُكَ أَنِّي لَمۡ أَجِدۡ مَرۡكَبًا قَبۡلَ الَّذِي جِئۡتُ فِيهِ، قَالَ: فَإِنَّ اللهَ قَدۡ أَدَّى عَنۡكَ الَّذِي بَعَثۡتَ فِي الۡخَشَبَةِ، فَانۡصَرِفۡ بِالۡأَلۡفِ الدِّينَارِ رَاشِدًا). [طرفه في: ١٤٩٨].

Di sisi lain, laki-laki yang meminjamkan uang keluar untuk melihat-lihat, barangkali ada kapal yang datang membawa hartanya. Tiba-tiba ia melihat sepotong kayu yang di dalamnya berisi harta tersebut. Ia lalu mengambil kayu itu untuk dijadikan kayu bakar bagi keluarganya. Ketika ia membelahnya, ia menemukan harta beserta surat tersebut.

Tidak lama kemudian, laki-laki yang meminjam uang datang menemui orang yang meminjamkannya dengan membawa uang seribu dinar, lalu berkata, “Demi Allah, aku terus-menerus berusaha keras mencari kapal untuk membawa hartamu kepadamu, namun aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku tumpangi sekarang ini.”

Orang yang meminjamkan bertanya, “Apakah kamu pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku beri tahu kamu bahwa aku tidak menemukan kapal sebelum kapal yang aku tumpangi saat datang sekarang ini.”

Orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah membayarkan utangmu melalui apa yang kamu kirimkan di dalam kayu tersebut. Maka, silakan bawa kembali uang seribu dinarmu ini dengan tenang.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2319

١٦ - بَابُ وَكَالَةِ الۡأَمِينِ فِي الۡخِزَانَةِ وَنَحۡوِهَا
16. Bab Perwakilan Orang yang Tepercaya dalam Menjaga Gudang Harta dan Sejenisnya


٢٣١٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ بُرَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡخَازِنُ الۡأَمِينُ، الَّذِي يُنۡفِقُ - وَرُبَّمَا قَالَ: الَّذِي يُعۡطِي - مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلًا مُوَفَّرًا طَيِّبٌ نَفۡسُهُ إِلَى الَّذِي أُمِرَ بِهِ أَحَدُ الۡمُتَصَدِّقَيۡنِ). [طرفه في: ١٤٣٨].

2319. Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepada kami: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Buraid bin ‘Abdullah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Seorang penjaga gudang harta yang tepercaya, yang menyalurkan—atau mungkin perawi mengatakan: yang memberikan—harta yang diperintahkan kepadanya secara sempurna, utuh, dan dengan senang hati kepada orang yang diperintahkan kepadanya, adalah salah satu dari dua orang yang bersedekah.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2295

٣ - بَابُ مَنۡ تَكَفَّلَ عَنۡ مَيِّتٍ دَيۡنًا، فَلَيۡسَ لَهُ أَنۡ يَرۡجِعَ
3. Bab Orang yang Sudah Menjamin Utang Seorang Mayat Tidak Boleh Menarik Kembali Jaminannya


وَبِهِ قَالَ الۡحَسَنُ.

Dan dengannya Al-Hasan berpendapat.

٢٢٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيۡهَا، فَقَالَ: (هَلۡ عَلَيۡهِ مِنۡ دَيۡنٍ؟) قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيۡهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخۡرَى، فَقَالَ: (هَلۡ عَلَيۡهِ مَنۡ دَيۡنٍ؟) قَالُوا: نَعَمۡ، قَالَ: (صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمۡ). قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيۡنُهُ يَا رَسُولَ اللهِ، فَصَلَّى عَلَيۡهِ.

2295. Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu ‘Ubaid, dari Salamah bin Al-Akwa’—radhiyallahu ‘anhu—:

Sebuah jenazah didatangkan kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—agar beliau menyalatinya. Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Maka beliau menyalatinya. Kemudian didatangkan jenazah yang lain, lalu beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Salatilah sahabat kalian ini!”

Abu Qatadah berkata, “Utangnya menjadi tanggunganku, wahai Rasulullah.”

Maka beliau pun menyalatinya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2400

١٢ - بَابٌ مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ
12. Bab Penundaan Pembayaran Utang oleh Orang yang Mampu Adalah Kezaliman


٢٤٠٠ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ، أَخِي وَهۡبِ بۡنِ مُنَبِّهٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ). [طرفه في: ٢٢٨٧].

2400. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul A’la menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih—saudara Wahb bin Munabbih—: Ia mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2289

٣ - بَابٌ إِنۡ أَحَالَ دَيۡنَ الۡمَيِّتِ عَلَى رَجُلٍ جَازَ
3. Bab Jika Seseorang Mengalihkan Utang Mayat kepada Seorang Laki-Laki, Hukumnya Boleh


٢٢٨٩ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ إِذۡ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيۡهَا، فَقَالَ: (هَلۡ عَلَيۡهِ دَيۡنٌ؟) قَالُوا: لَا، قَالَ: (فَهَلۡ تَرَكَ شَيۡئًا؟) قَالُوا: لَا، فَصَلَّى عَلَيۡهِ. ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخۡرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيۡهَا، قَالَ: (هَلۡ عَلَيۡهِ دَيۡنٌ؟) قِيلَ: نَعَمۡ، قَالَ: (فَهَلۡ تَرَكَ شَيۡئًا؟) قَالُوا: ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيۡهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيۡهَا، قَالَ: (هَلۡ تَرَكَ شَيۡئًا؟) قَالُوا: لَا، قَالَ: (فَهَلۡ عَلَيۡهِ دَيۡنٌ؟) قَالُوا ثَلَاثَةُ دَنَانِيرَ، قَالَ: (صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمۡ)، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيۡهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَعَلَىَّ دَيۡنُهُ، فَصَلَّى عَلَيۡهِ. [الحديث ٢٢٨٩ - طرفه في: ٢٢٩٥].

2289. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Abu ‘Ubaid menceritakan kepada kami dari Salamah bin Al-Akwa’—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Kami pernah duduk-duduk di dekat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika didatangkan sebuah jenazah, lalu orang-orang berkata, “Salatilah jenazah ini.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan suatu harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Kemudian beliau menyalatinya. Kemudian didatangkan jenazah yang lain, lalu orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, salatilah jenazah ini.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Dijawab, “Iya.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan suatu harta?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Kemudian beliau menyalatinya. Kemudian didatangkan jenazah yang ketiga, lalu orang-orang berkata, “Salatilah jenazah ini.”

Beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan suatu harta?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau bertanya, “Apakah ia memiliki utang?”

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Beliau bersabda, “Salatilah sahabat kalian ini!”

Abu Qatadah berkata, “Salatilah ia, wahai Rasulullah, dan utangnya menjadi tanggunganku.”

Kemudian beliau pun menyalatinya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2288

٢ - بَابٌ إِذَا أَحَالَ عَلَى مَلِيٍّ فَلَيۡسَ لَهُ رَدٌّ
2. Bab Apabila Seseorang Mengalihkan Utang kepada Orang yang Berkecukupan, Ia Tidak Boleh Membatalkannya


٢٢٨٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ ذَكۡوَانَ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ، وَمَنۡ أُتۡبِعَ عَلَى مَلِيٍّ فَلۡيَتَّبِعۡ). [طرفه في: ٢٢٨٧].


2288. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Dzakwan, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Barang siapa yang utangnya dialihkan kepada orang yang berkecukupan, hendaklah ia menerima pengalihan tersebut.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2287

١ - بَابٌ فِي الۡحَوَالَةِ، وَهَلۡ يَرۡجِعُ فِي الۡحَوَالَةِ؟
1. Bab tentang Pengalihan Utang (Hiwalah) dan Apakah Seseorang Boleh Menarik Kembali Pengalihan Utangnya


وَقَالَ الۡحَسَنُ وَقَتَادَةُ: إِذَا كَانَ يَوۡمَ أَحَالَ عَلَيۡهِ مَلِيًّا جَازَ. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: يَتَخَارَجُ الشَّرِيكَانِ وَأَهۡلُ الۡمِيرَاثِ، فَيَأۡخُذُ هٰذَا عَيۡنًا وَهٰذَا دَيۡنًا، فَإِنۡ تَوِيَ لِأَحَدِهِمَا لَمۡ يَرۡجِعۡ عَلَى صَاحِبِهِ.

Al-Hasan dan Qatadah berkata, “Apabila pada hari pengalihan utang, pihak yang menerima pengalihan tersebut dalam keadaan mampu, maka akadnya sah.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Dua orang yang bersekutu (dalam usaha) atau ahli waris saling berbagi (harta), lalu yang ini mengambil aset tunai dan yang itu mengambil aset piutang. Jika piutang milik salah seorang dari keduanya itu hangus (tidak terbayar), ia tidak boleh menuntut kembali kepada temannya.”

٢٢٨٧ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَطۡلُ الۡغَنِيِّ ظُلۡمٌ، فَإِذَا أُتۡبِعَ أَحَدُكُمۡ عَلَى مَلِيٍّ فَلۡيَتۡبَعۡ). [الحديث ٢٢٨٧ - طرفاه في: ٢٢٨٨، ٢٤٠٠].

2287. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Maka, apabila utang salah seorang dari kalian dialihkan kepada orang yang berkecukupan (mampu membayar), hendaklah ia menerima pengalihan tersebut.”

Tafsir Surah At-Tin

تَفۡسِيرُ سُورَةِ وَالتِّينِ


وَهِيَ مَكِّيَّةٌ

Surah ini makiyah.


﴿وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيۡتُونِ * وَطُورِ سِينِينَ * وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ * لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ * ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ * إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ * فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ * أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
  2. dan demi bukit Sinai,
  3. dan demi kota (Makkah) ini yang aman,
  4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
  5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
  6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
  7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
  8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

۝١ ﴿ٱلتِّينِ﴾ هُوَ التِّينُ الۡمَعۡرُوفُ، وَكَذٰلِكَ ﴿ٱلزَّيۡتُونِ﴾ أَقۡسَمَ بِهَاتَيۡنِ الشَّجَرَتَيۡنِ لِكَثۡرَةِ مَنَافِعِ شَجَرِهِمَا وَثَمَرِهِمَا، وَلِأَنَّ سُلۡطَانَهُمَا فِي أَرۡضِ الشَّامِ مَحَلِّ نُبُوَّةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ.

“Tin” adalah buah tin yang sudah dikenal, demikian pula “Zaitun”. Allah bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat dari pohon dan buahnya, serta karena tempat tumbuh suburnya berada di tanah Syam, tempat kenabian ‘Isa putra Maryam—‘alaihis-salam—.

۝٢ ﴿وَطُورِ سِينِينَ﴾ أَيۡ: طُورِ سَيۡنَاءَ مَحَلِّ نُبُوَّةِ مُوسَى ﷺ.

“Demi bukit Sinai” yaitu Gunung Sinai, tempat kenabian Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

۝٣ ﴿وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ﴾ وَهِيَ مَكَّةُ الۡمُكَرَّمَةُ مَحَلِّ نُبُوَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ.

“Dan demi negeri yang aman ini” yaitu Makkah Al-Mukarramah, tempat kenabian Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

فَأَقۡسَمَ تَعَالَى بِهٰذِهِ الۡمَوَاضِعِ الۡمُقَدَّسَةِ الَّتِي اخۡتَارَهَا وَابۡتَعَثَ مِنۡهَا أَفۡضَلَ النُّبُوَّاتِ وَأَشۡرَفَهَا.

Allah taala bersumpah dengan tempat-tempat suci ini, yang telah Dia pilih dan menjadi tempat diutusnya para nabi yang paling utama dan paling mulia.

۝٤-۝٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ﴾ أَيۡ: تَامَّ الۡخَلۡقِ، مُتَنَاسِبَ الۡأَعۡضَاءِ، مُنۡتَصِبَ الۡقَامَةِ، لَمۡ يَفۡقِدۡ مِمَّا يَحۡتَاجُ إِلَيۡهِ ظَاهِرًا أَوۡ بَاطِنًا شَيۡئًا.

Adapun isi sumpahnya adalah firman-Nya, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” yaitu penciptaan yang sempurna, anggota tubuh yang serasi, berpostur tegak, tidak kekurangan suatu apa pun yang dibutuhkannya, baik lahir maupun batin.

وَمَعَ هٰذِهِ النِّعَمِ الۡعَظِيمَةِ الَّتِي يَنۡبَغِي مِنۡهُ الۡقِيَامُ بِشُكۡرِهَا، فَأَكۡثَرُ الۡخَلۡقِ مُنۡحَرِفُونَ عَنۡ شُكۡرِ الۡمُنۡعِمِ، مُشۡتَغِلُونَ بِاللَّهۡوِ وَاللَّعِبِ، قَدۡ رَضُوا لِأَنۡفُسِهِمۡ بِأَسَافِلِ الۡأُمُورِ وَسَفۡسَافِ الۡأَخۡلَاقِ. فَرَدَّهُمُ اللهُ فِي أَسۡفَلَ سَافِلِينَ؛ أَيۡ: أَسۡفَلَ النَّارِ، مَوۡضِعِ الۡعُصَاةِ الۡمُتَمَرِّدِينَ عَلَى رَبِّهِمۡ، إِلَّا مَنۡ مَنَّ اللهُ عَلَيۡهِ بِالۡإِيمَانِ، وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ، وَالۡأَخۡلَاقِ الۡفَاضِلَةِ الۡعَالِيَةِ.

Namun, bersamaan nikmat-nikmat yang agung ini, yang semestinya disikapi dengan bersyukur, mayoritas manusia justru berpaling dari bersyukur kepada Zat Pemberi Nikmat. Mereka sibuk dengan kelalaian dan permainan, serta rida bagi diri mereka perkara-perkara yang paling rendah dan akhlak yang hina. Allah pun mengembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu bagian bawah neraka, tempat bagi orang-orang maksiat yang membangkang kepada Rab mereka. Kecuali orang yang Allah karuniai nikmat iman, amal saleh, serta akhlak yang mulia dan luhur.

﴿فَلَهُمۡ﴾ بِذٰلِكَ الۡمَنَازِلُ الۡعَالِيَةُ، وَ﴿أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٍ﴾ أَيۡ: غَيۡرُ مَقۡطُوعٍ، بَلۡ لَذَّاتٌ مُتَوَافِرَةٌ، وَأَفۡرَاحٌ مُتَوَاتِرَةٌ، وَنِعَمٌ مُتَكَاثِرَةٌ، فِي أَبَدٍ لَا يَزُولُ، وَنَعِيمٍ لَا يَحُولُ، أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا.

“Maka mereka akan mendapat” dengan sebab hal itu kedudukan yang tinggi, dan “pahala yang tidak putus-putusnya” yaitu tidak terputus, melainkan kelezatan yang melimpah, kebahagiaan yang berkesinambungan, dan nikmat yang terus bertambah, dalam keabadian yang tidak akan sirna dan kenikmatan yang tidak akan beralih; buahnya tiada henti dan naungannya pun demikian.

۝٧ ﴿فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ﴾ أَيۡ: أَيُّ شَيۡءٍ يُكَذِّبُكَ أَيُّهَا الۡإِنۡسَانُ بِيَوۡمِ الۡجَزَاءِ عَلَى الۡأَعۡمَالِ، وَقَدۡ رَأَيۡتَ مِنۡ آيَاتِ اللهِ الۡكَثِيرَةِ مَا بِهِ يَحۡصُلُ لَكَ الۡيَقِينُ، وَمِنۡ نِعَمِهِ مَا يُوجِبُ عَلَيۡكَ أَنۡ لَا تَكۡفُرَ بِشَيۡءٍ مِمَّا أَخۡبَرَكَ بِهِ؟

“Maka apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari pembalasan setelah adanya keterangan-keterangan itu?” Maksudnya, wahai manusia, hal apakah yang membuatmu mendustakan hari pembalasan atas amal perbuatan, padahal kamu telah melihat sekian banyak tanda kekuasaan Allah yang dapat membuahkan keyakinan bagimu? Kamu pun telah melihat sebagian dari nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskanmu untuk tidak mengingkari sedikit pun dari apa yang Dia kabarkan kepadamu.

۝٨ ﴿أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ﴾ فَهَلۡ تَقۡتَضِي حِكۡمَتُهُ أَنۡ يَتۡرُكَ الۡخَلۡقَ سُدًى لَا يُؤۡمَرُونَ وَلَا يُنۡهَوۡنَ، وَلَا يُثَابُونَ وَلَا يُعَاقَبُونَ؟

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” Maka apakah hikmah-Nya menghendaki untuk membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan dilarang, serta tanpa diberi pahala maupun disiksa?

أَمِ الَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ أَطۡوَارًا بَعۡدَ أَطۡوَارٍ، وَأَوۡصَلَ إِلَيۡهِمۡ مِنَ النِّعَمِ وَالۡخَيۡرِ وَالۡبِرِّ مَا لَا يُحۡصُونَهُ، وَرَبَّاهُمُ التَّرۡبِيَةَ الۡحَسَنَةَ، لَا بُدَّ أَنۡ يُعِيدَهُمۡ إِلَى دَارٍ هِيَ مُسۡتَقَرُّهُمۡ وَغَايَتُهُمۡ، الَّتِي إِلَيۡهَا يَقۡصِدُونَ وَنَحۡوَهَا يَؤُمُّونَ؟

Atau, bukankah Zat yang telah menciptakan manusia fase demi fase, mengalirkan kepada mereka nikmat, kebaikan, serta kebajikan yang tidak dapat mereka hitung, dan merawat mereka dengan perawatan yang baik, pasti akan mengembalikan mereka ke suatu negeri yang menjadi tempat menetap dan tujuan akhir mereka, yang kepadanya mereka menuju dan mengarah?

تَمَّتۡ، وَلِلهِ الۡحَمۡدُ.

Selesai dan segala puji hanya untuk Allah.