Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kata. Tampilkan semua postingan

Qiyamul Lail

قَالَ أَبُو سُلَيۡمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: أَهۡلُ اللَّيۡلِ فِي لَيۡلِهِمۡ أَلَذُّ مِنۡ أَهۡلِ اللَّهۡوِ فِي لَهۡوِهِمۡ، وَلَوۡ لَا اللَّيۡلُ مَا أَحۡبَبۡتُ الۡبَقَاءَ في الدُّنۡيَا.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, "Orang yang biasa beribadah di malam hari lebih merasakan kelezatan dalam malam mereka dibandingkan orang-orang yang asyik larut bermain dalam senda gurau mereka. Kalaulah bukan karena ada malam, tentu aku tidak suka untuk tetap tinggal di dunia."

Juallah Duniamu untuk Akhiratmu

Katsir bin Ziyad rahimahullah berkata:
بِيعُوا دُنۡيَاكُمۡ بِآخِرَتِكُمۡ تَرۡبَحُونَهُمَا وَاللهِ جَمِيعًا، وَلَا تَبِيعُوا آخِرَتَكُمۡ بِدُنۡيَاكُمۡ فَتَخۡسَرُونَهُمَا وَاللهِ جَمِيعًا
Juallah dunia kalian untuk akhirat kalian! Demi Allah, kalian akan beruntung pada keduanya. Dan janganlah kalian jual akhirat kalian untuk dunia kalian! Demi Allah, kalian akan merugi pada keduanya.

Mengenali Kejelekan

Seorang penyair yang bijak berkata,
عَرَفۡتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِ لَكِنۡ لِتَوَقِّيهِ
وَمَنۡ لَمۡ يَعۡرِفِ الۡخَيۡرَ مِنَ الشَّرِّ يَقَعۡ فِيهِ

Aku mengenali kejelekan bukan untuk mengerjakannya, namun untuk menjauhinya

Barang siapa yang tidak bisa membedakan kebaikan dari kejelekan, pasti dia akan terjatuh ke dalam kejelekan itu

Menjauhi Penghasilan yang Haram

Dulu, istri para salaf - ketika suaminya keluar dari rumahnya - dia berpesan,
إِيَّاكَ وَكَسۡبَ الۡحَرَامِ، فَإِنَّا نَصۡبِرُ عَلَى الۡجُوعِ وَلَا نَصۡبِرُ عَلَى النَّارِ
Jauhilah penghasilan yang haram. Karena sungguh kami bisa bersabar dari kelaparan, namun kami tidak mampu bersabar terhadap neraka.
مختصر منهاج القاصدين

Kesenangan yang Menipu

الْغِرَّةُ بِاللَّهِ أَنْ يُصِرَّ الْعَبْدُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَيَتَمَنَّى فِي ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ الْمَغْفِرَةَ، وَالْغِرَّةُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَنْ يَغْتَرَّ بِهَا، وَتَشْغَلَهُ عَنِ الْآخِرَةِ، فَيُمَهِّدَ لَهَا، وَيَعْمَلَ لَهَا كَقَوْلِ الْعَبْدِ إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةَ {يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [الفجر: 24] ، وَأَمَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ فَهُوَ مَا يُلْهِيكَ عَنْ طَلَبِ الْآخِرَةِ، فَهُوَ مَتَاعُ الْغُرُورِ، وَمَا لَمْ يُلْهِكَ فَلَيْسَ بِمَتَاعِ الْغُرُورِ، وَلَكِنَّهُ مَتَاعٌ وَبَلَاغٌ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ
Yang dimaksud tertipu terhadap Allah subhanahu wa ta'ala adalah terus menerus dalam maksiat kepadaNya, sementara ia mengangankan ampunanNya. Adapun tertipu terhadap dunia adalah terlena dengannya, lupa dengan akhirat, tidak mempersiapkan bekal, dan tidak beramal menyambutnya. Di akhirat, ia akan meratap sebagaimana ratapan orang yang Allah subhanahu wa ta'ala kisahkan: "Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini." [QS. Al-Fajr: 24]. Kenikmatan dunia yang menipu adalah kenikmatan yang melalaikan dari pencarian negeri akhirat. Itulah kenikmatan palsu. Adapun yang tidak melalaikan, itulah kenikmatan yang hakiki. Itulah kenikmatan sekaligus bekal untuk menyampaikan segala kenikmatan terbaik.
[Sa'id bin Jubair rahimahullah, Az-Zuhd karya Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah].