Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Shahih Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shahih Muslim. Tampilkan semua postingan

Shahih Muslim hadis nomor 408

٧٠ - (٤٠٨) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ وَقُتَيۡبَةُ وَابۡنُ حُجۡرٍ. قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ - وَهُوَ ابۡنُ جَعۡفَرٍ - عَنِ الۡعَلَاءِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ عَشۡرًا).

70. (408). Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Al-‘Ala`, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, niscaya Allah berselawat kepadanya sepuluh kali.”

Shahih Muslim hadis nomor 483

٢١٦ - (٤٨٣) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَيُونُسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَىٰ، قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ غَزِيَّةَ، عَنۡ سُمَيٍّ مَوۡلَىٰ أَبِي بَكۡرٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: (اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي ذَنۡبِي كُلَّهُ. دِقَّهُ وَجِلَّهُ. وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ. وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ).

216. (483). Abu Ath-Thahir dan Yunus bin ‘Abdul-A’la telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yahya bin Ayyub mengabarkan kepadaku dari ‘Umarah bin Ghaziyyah, dari Sumay maula Abu Bakr, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa mengucapkan dalam sujudnya, “Allāhummagfir lī żanbī kullahu, diqqahu wa jillahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa ‘alāniyatahu wa sirrah (Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, serta yang terang-terangan maupun yang tersembunyi).”

Shahih Muslim hadis nomor 479

٤١ - بَابُ النَّهۡىِ عَنۡ قِرَاءَةِ الۡقُرۡآنِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
41. Bab Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Rukuk dan Sujud


٢٠٧ - (٤٧٩) - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ مَنۡصُورٍ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ سُحَيۡمٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡبَدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: كَشَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ السِّتَارَةَ، وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلۡفَ أَبِي بَكۡرٍ. فَقَالَ: (أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ مِنۡ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤۡيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الۡمُسۡلِمُ، أَوۡ تُرَى لَهُ، أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَقۡرَأَ الۡقُرۡآنَ رَاكِعًا أَوۡ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ. وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجۡتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنۡ يُسۡتَجَابَ لَكُمۡ).

207. (479). Sa’id bin Manshur, Abu Bakr bin Abu Syaibah, dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Suhaim mengabarkan kepadaku dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ma’bad, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyingkap tirai, sementara orang-orang sedang bersaf-saf di belakang Abu Bakr. Beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari kabar-kabar gembira kenabian melainkan mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Rab—‘azza wa jalla—di dalamnya. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sangat layak doa itu dikabulkan bagi kalian.”

٢٠٨ - (...) - قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ عَنۡ سُلَيۡمَانَ. حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ سُحَيۡمٍ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡبَدِ بۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: كَشَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ السِّتۡرَ. وَرَأۡسُهُ مَعۡصُوبٌ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ هَلۡ بَلَّغۡتُ؟) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، (إِنَّهُ لَمۡ يَبۡقَ مِنۡ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤۡيَا يَرَاهَا الۡعَبۡدُ الصَّالِحُ أَوۡ تُرَى لَهُ...) ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ سُفۡيَانَ.

208. Abu Bakr berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Sulaiman. Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Suhaim mengabarkan kepadaku dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ma’bad bin ‘Abbas, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyingkap tirai, sedangkan kepala beliau diikat karena sakit yang menyebabkan kematian beliau, lalu beliau bersabda, “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?” Sebanyak tiga kali. “Sesungguhnya tidak ada yang tersisa dari kabar-kabar gembira kenabian melainkan mimpi yang dilihat oleh hamba yang saleh atau diperlihatkan kepadanya ...” Kemudian ia menyebutkan hadis yang serupa dengan hadis Sufyan.

Shahih Muslim hadis nomor 421

٢٢ - بَابُ تَقۡدِيمِ الۡجَمَاعَةِ مَنۡ يُصَلِّي بِهِمۡ إِذَا تَأَخَّرَ الۡإِمَامُ وَلَمۡ يَخَافُوا مَفۡسَدَةً بِالتَّقۡدِيمِ
22. Bab Jemaah Memajukan Seseorang untuk Mengimami Mereka Apabila Imam Terlambat dan Mereka Tidak Mengkhawatirkan Dampak Buruk dengan Memajukannya


١٠٢ - (٤٢١) - حَدَّثَنِي يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ، قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ لِيُصۡلِحَ بَيۡنَهُمۡ، فَحَانَتِ الصَّلَاةُ، فَجَاءَ الۡمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ، فَقَالَ: أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأُقِيمَ؟ قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: فَصَلَّى أَبُو بَكۡرٍ، فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ. وَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ لَا يَلۡتَفِتُ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمَّا أَكۡثَرَ النَّاسُ التَّصۡفِيقَ الۡتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَأَشَارَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنِ امۡكُثۡ مَكَانَكَ. فَرَفَعَ أَبُو بَكۡرٍ يَدَيۡهِ، فَحَمِدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَىٰ مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ ذٰلِكَ، ثُمَّ اسۡتَأۡخَرَ أَبُو بَكۡرٍ حَتَّى اسۡتَوَى فِي الصَّفِّ. وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ ﷺ فَصَلَّى. ثُمَّ انۡصَرَفَ فَقَالَ: (يَا أَبَا بَكۡرٍ، مَا مَنَعَكَ أَنۡ تَثۡبُتَ إِذۡ أَمَرۡتُكَ) قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: مَا كَانَ لِابۡنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنۡ يُصَلِّيَ بَيۡنَ يَدَىۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَا لِي رَأَيۡتُكُمۡ أَكۡثَرۡتُمُ التَّصۡفِيقَ؟ مَنۡ نَابَهُ شَيۡءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلۡيُسَبِّحۡ، فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الۡتُفِتَ إِلَيۡهِ. وَإِنَّمَا التَّصۡفِيحُ لِلنِّسَاءِ).


102. (421). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membacakan di hadapan Malik, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pergi ke tempat Bani ‘Amr bin ‘Auf untuk mendamaikan perselisihan di antara mereka. Kemudian waktu salat telah tiba, lalu muazin mendatangi Abu Bakr dan bertanya, “Apakah engkau mau mengimami orang-orang sehingga aku mengumandangkan ikamah?”

Abu Bakr menjawab, “Ya.”

Sahl berkata: Maka Abu Bakr memimpin salat. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang ketika orang-orang sedang dalam keadaan salat, kemudian beliau menyusup ke dalam barisan hingga berdiri di dalam saf, lalu orang-orang pun bertepuk tangan. Kebiasaan Abu Bakr adalah tidak pernah menoleh dalam salat. Namun, ketika orang-orang memperbanyak tepuk tangan, ia pun menoleh lalu melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu memberi isyarat kepadanya, “Tetaplah di tempatmu!”

Abu Bakr mengangkat kedua tangannya, lalu memuji Allah—‘azza wa jalla—atas perintah yang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—perintahkan kepadanya mengenai hal tersebut. Kemudian Abu Bakr melangkah mundur hingga sejajar di dalam saf, dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—maju lalu memimpin salat. Setelah selesai salat, beliau bertanya, “Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berdiri ketika aku memerintahkanmu?”

Abu Bakr menjawab, “Tidak pantas bagi anak Abu Quhafah untuk mengimami di hadapan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu bersabda, “Mengapa aku melihat kalian memperbanyak tepuk tangan? Barang siapa yang mendapati sesuatu terjadi dalam salatnya, hendaklah ia bertasbih. Karena sesungguhnya apabila ia bertasbih, perhatian akan tertuju kepadanya. Sedangkan bertepuk tangan itu hanyalah untuk kaum perempuan.”

١٠٣ - (...) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ - يَعۡنِي ابۡنَ أَبِي حَازِمٍ - وَقَالَ قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ - وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ الۡقَارِيُّ - كِلَاهُمَا عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ... بِمِثۡلِ حَدِيثِ مَالِكٍ. وَفِي حَدِيثِهِمَا: فَرَفَعَ أَبُو بَكۡرٍ يَدَيۡهِ، فَحَمِدَ اللهَ وَرَجَعَ الۡقَهۡقَرَى وَرَاءَهُ، حَتَّى قَامَ فِي الصَّفِّ.


103. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz—yakni Ibnu Abu Hazim—menceritakan kepada kami. Dan Qutaibah berkata: Ya’qub—ia adalah Ibnu ‘Abdurrahman Al-Qari—menceritakan kepada kami. Keduanya dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d ... semisal dengan hadis Malik. Di dalam hadis keduanya disebutkan: Abu Bakr mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah dan ia berjalan mundur ke belakang hingga berdiri di dalam saf.

١٠٤ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بَزِيعٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَىٰ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ؛ قَالَ: ذَهَبَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ يُصۡلِحُ بَيۡنَ بَنِي عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ... بِمِثۡلِ حَدِيثِهِمۡ. وَزَادَ: فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَخَرَقَ الصُّفُوفَ، حَتَّى قَامَ عِنۡدَ الصَّفِّ الۡمُقَدَّمِ. وَفِيهِ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَجَعَ الۡقَهۡقَرَى.

104. Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazi’ telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul A’la mengabarkan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pergi mendamaikan perselisihan di antara Bani ‘Amr bin ‘Auf ... semisal dengan hadis mereka. Ia menambahkan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang lalu membelah saf-saf hingga berdiri di dekat saf yang terdepan. Dan di dalamnya disebutkan: Abu Bakr berjalan mundur ke belakang.

Shahih Muslim hadis nomor 2556

١٨ - (٢٥٥٦) - حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَابۡنُ أَبِي عُمَرَ. قَالَا: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ جُبَيۡرِ بۡنِ مُطۡعِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ قَاطِعٌ).

قَالَ ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: قَالَ سُفۡيَانُ: يَعۡنِي قَاطِعَ رَحِمٍ.


18. (2556). Zuhair bin Harb dan Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepadaku. Keduanya berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Seorang pemutus tidak akan masuk janah.”

Ibnu Abu ‘Umar berkata: Sufyan berkata: Maksudnya adalah pemutus hubungan silaturahmi.

١٩ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ أَسۡمَاءَ الضُّبَعِيُّ: حَدَّثَنَا جُوَيۡرِيَةُ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، أَنَّ مُحَمَّدَ بۡنَ جُبَيۡرِ بۡنِ مُطۡعِمٍ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ أَبَاهُ أَخۡبَرَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ).

19. ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adh-Dhuba’i telah menceritakan kepadaku: Juwairiyah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Az-Zuhri: Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengabarkannya: Ayahnya mengabarkannya bahwasanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seorang pemutus tali silaturahmi tidak akan masuk janah.”

(...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّزَّاقِ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. وَقَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ.

Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami dari ‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri melalui sanad ini ... semisal hadis itu. Dan ia berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Shahih Muslim hadis nomor 430

٢٧ - بَابُ الۡأَمۡرِ بَالسُّكُونِ فِي الصَّلَاةِ، وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡإِشَارَةِ بِالۡيَدِ وَرَفۡعِهَا عِنۡدَ السَّلَامِ، وَإِتۡمَامِ الصُّفُوفِ الۡأُوَلِ وَالتَّرَاصِّ فِيهَا وَالۡأَمۡرِ بِالِاجۡتِمَاعِ
27. Bab Perintah untuk Tenang dalam Salat, Larangan Mengisyaratkan dengan Tangan dan Mengangkatnya ketika Salam, Menyempurnakan Saf-Saf yang Depan serta Merapatkannya, dan Perintah untuk Bersatu


١١٩ - (٤٣٠) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ عَنِ الۡمُسَيَّبِ بۡنِ رَافِعٍ، عَنۡ تَمِيمِ بۡنِ طَرَفَةَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ سَمُرَةَ؛ قَالَ: خَرَجَ عَلَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ. فَقَالَ: (مَا لِي أَرَاكُمۡ رَافِعِي أَيۡدِيكُمۡ كَأَنَّهَا أَذۡنَابُ خَيۡلٍ شُمۡسٍ؟ اسۡكُنُوا فِي الصَّلَاةِ) قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيۡنَا فَرَآنَا حَلَقًا. فَقَالَ: (مَا لِي أَرَاكُمۡ عِزِينَ؟) قَالَ: ثُمَّ خَرَجَ عَلَيۡنَا فَقَالَ: (أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الۡمَلَائِكَةُ عِنۡدَ رَبِّهَا؟) فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيۡفَ تَصُفُّ الۡمَلَائِكَةُ عِنۡدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: (يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الۡأُوَلَ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ).

119. (430). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Al-Musayyab bin Rafi’, dari Tamim bin Tharafah, dari Jabir bin Samurah. Beliau berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar menemui kami lalu berkata, “Mengapa aku melihat kalian mengangkat tangan kalian seperti ekor kuda yang liar? Tenanglah kalian dalam salat.”

Ia berkata: Kemudian beliau keluar menemui kami lagi lalu melihat kami duduk berkelompok-kelompok, maka beliau berkata, “Mengapa aku melihat kalian bercerai-berai?”

Ia berkata: Kemudian beliau keluar menemui kami lagi lalu berkata, “Apakah kalian tidak bersaf sebagaimana para malaikat bersaf di hadapan Rabnya?”

Maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat bersaf di hadapan Rabnya?”

Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan saf-saf yang depan dan mereka merapat dalam saf.”

(...) - وَحَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الۡأَشَجُّ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ، قَالَا جَمِيعًا: حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... نَحۡوَهُ.

Abu Sa’id Al-Asyajj telah menceritakan kepadaku: Waki’ menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dengan sanad ini hadis yang semisal dengan itu.

Shahih Muslim hadis nomor 498

٢٤٠ - (٤٩٨) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ - يَعۡنِي الۡأَحۡمَرَ - عَنۡ حُسَيۡنٍ الۡمُعَلِّمِ. (ح) قَالَ: وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ - وَاللَّفۡظُ لَهُ – قَالَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ. حَدَّثَنَا حُسَيۡنٌ الۡمُعَلِّمُ، عَنۡ بُدَيۡلِ بۡنِ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ أَبِي الۡجَوۡزَاءِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَسۡتَفۡتِحُ الصَّلَاةَ، بِالتَّكۡبِيرِ وَالۡقِرَاءَةَ، بِـ: ﴿الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ﴾. وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمۡ يُشۡخِصۡ رَأۡسَهُ وَلَمۡ يُصَوِّبۡهُ وَلِكَنۡ بَيۡنَ ذٰلِكَ. وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأۡسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمۡ يَسۡجُدۡ حَتَّى يَسۡتَوِيَ قَائِمًا. وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأۡسَهُ مِنَ السَّجۡدَةِ لَمۡ يَسۡجُدۡ حَتَّى يَسۡتَوِيَ جَالِسًا. وَكَانَ يَقُولُ، فِي كُلِّ رَكۡعَتَيۡنِ، التَّحِيَّةَ. وَكَانَ يَفۡرِشُ رِجۡلَهُ الۡيُسۡرَى وَيَنۡصِبُ رِجۡلَهُ الۡيُمۡنَىٰ. وَكَانَ يَنۡهَىٰ عَنۡ عُقۡبَةِ الشَّيۡطَانِ. وَيَنۡهَىٰ أَنۡ يَفۡتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيۡهِ افۡتِرَاشَ السَّبُعِ. وَكَانَ يَخۡتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسۡلِيمِ.

وَفِي رِوَايَةِ ابۡنِ نُمَيۡرٍ عَنۡ أَبِي خَالِدٍ: وَكَانَ يَنۡهَىٰ عَنۡ عَقِبِ الشَّيۡطَانِ.

240. (498). Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Abu Khalid—yakni Al-Ahmar—menceritakan kepada kami dari Husain Al-Mu’allim. (Dalam riwayat lain) Ia berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami—dan lafaz ini milik beliau—. Ia berkata: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami: Husain Al-Mu’allim menceritakan kepada kami dari Budail bin Maisarah, dari Abu Al-Jauza`, dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa membuka salat dengan takbir dan membaca “Al-Hamdu lillahi rabbil-‘alamin”. Beliau apabila rukuk tidak mengangkat kepalanya terlalu mendongak dan tidak pula terlalu menundukkannya, melainkan di antara keduanya. Beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk tidak langsung sujud hingga beliau tegak berdiri. Beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud tidak langsung sujud (berikutnya) hingga beliau tegak duduk. Beliau membaca tahiyat pada setiap dua rakaat. Beliau membentangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Beliau melarang dari duduk ‘uqbah asy-syaithan (menempelkan kedua pantat ke lantai, menegakkan kedua betis, dan meletakkan kedua tangan di lantai sebagaimana anjing dan binatang buas lainnya membentangkannya). Beliau juga melarang seseorang membentangkan kedua lengan tangannya laksana binatang buas membentangkannya. Beliau menyudahi salat dengan salam.

Di dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid disebutkan: Beliau melarang dari ‘aqib asy-syaithan.

Shahih Muslim hadis nomor 2670

٤ - بَابٌ: (هَلَكَ الۡمُتَنَطِّعُونَ)
4. Bab Binasanya Orang-Orang yang Berlebih-lebihan


٧ - (٢٦٧٠) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ وَيَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ عَتِيقٍ، عَنۡ طَلۡقِ بۡنِ حَبِيبٍ، عَنِ الۡأَحۡنَفِ بۡنِ قَيۡسٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هَلَكَ الۡمُتَنَطِّعُونَ) قَالَهَا ثَلَاثًا.

7. (2670). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Hafsh bin Ghiyats dan Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin ‘Atiq, dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari ‘Abdullah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Shahih Muslim hadis nomor 260

٥٥ - (٢٦٠) - حَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرِ بۡنُ إِسۡحَاقَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي مَرۡيَمَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: أَخۡبَرَنِي الۡعَلَاءُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ يَعۡقُوبَ، مَوۡلَىٰ الۡحُرَقَةِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرۡخُوا اللِّحَىٰ. خَالِفُوا الۡمَجُوسَ).

55. (260). Abu Bakr bin Ishaq telah menceritakan kepadaku: Ibnu Abu Maryam mengabarkan kepada kami: Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami: Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman bin Ya‘qub—maula keluarga Al-Huraqah—mengabarkan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Potong habislah kumis dan biarkanlah janggut memanjang! Selisihilah orang-orang Majusi.”

Shahih Muslim hadis nomor 259

٥٢ - (٢٥٩) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ - يَعۡنِي ابۡنَ سَعِيدٍ – (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، جَمِيعًا عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ قَالَ: (أَحۡفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعۡفُوا اللِّحَى).

52. (259). Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. Mereka semua dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Potong habislah kumis dan biarkanlah janggut tumbuh lebat!”

٥٣ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحۡفَاءِ الشَّوَارِبِ، وَإِعۡفَاءِ اللِّحۡيَةِ.

53. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan hadis tersebut kepada kami dari Malik bin Anas, dari Abu Bakr bin Nafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Bahwasanya beliau memerintahkan untuk memotong habis kumis dan membiarkan janggut tumbuh lebat.

٥٤ - (...) - حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ عُثۡمَانَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا نَافِعٌ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (خَالِفُوا الۡمُشۡرِكِينَ، أَحۡفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوۡفُوا اللِّحَىٰ).

[البخاري: كتاب اللباس، باب تقليم الأظفار، رقم: ٥٨٩٢].

54. Sahl bin ‘Utsman telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari ‘Umar bin Muhammad: Nafi’ menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Umar. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Selisihilah orang-orang musyrik; potong habislah kumis dan sempurnakanlah (biarkanlah) janggut!”

Shahih Muslim hadis nomor 2655

٤ - بَابٌ كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ
4. Bab Segala Sesuatu Terjadi Berdasarkan Takdir


١٨ - (٢٦٥٥) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡأَعۡلَىٰ بۡنُ حَمَّادٍ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكِ بۡنِ أَنَسٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، فِيمَا قُرِىءَ عَلَيۡهِ، عَنۡ زِيَادِ بۡنِ سَعۡدٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مُسۡلِمٍ، عَنۡ طَاوُسٍ، أَنَّهُ قَالَ: أَدۡرَكۡتُ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَقُولُونَ: كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. قَالَ: وَسَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ شَيۡءٍ بِقَدَرٍ. حَتَّى الۡعَجۡزُ وَالۡكَيۡسُ، أَوِ الۡكَيۡسُ وَالۡعَجۡزُ).

18. (2655). ‘Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku membacakannya kepada Malik bin Anas. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Malik, berdasarkan apa yang dibacakan kepadanya, dari Ziyad bin Sa’id, dari ‘Amr bin Muslim, dari Thawus, bahwasanya ia berkata: Aku sempat menjumpai beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang mereka mengatakan, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir.”

Thawus berkata: Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir, sampai pun ketidakmampuan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan ketidakmampuan.”

Shahih Muslim hadis nomor 2931

(٢٩٣١) - وَقَالَ سَالِمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ يَقُولُ: انۡطَلَقَ بَعۡدَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ الۡأَنۡصَارِيُّ إِلَى النَّخۡلِ الَّتِي فِيهَا ابۡنُ صَيَّادٍ. حَتَّىٰ إِذَا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّخۡلَ، طَفِقَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. وَهُوَ يَخۡتِلُ أَنۡ يَسۡمَعَ مِنِ ابۡنِ صَيَّادٍ شَيۡئًا، قَبۡلَ أَنۡ يَرَاهُ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَرَآهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ مُضۡطَجِعٌ عَلَىٰ فِرَاشٍ فِي قَطِيفَةٍ لَهُ فِيهَا زَمۡزَمَةٌ، فَرَأَتۡ أُمُّ ابۡنِ صَيَّادٍ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَهُوَ يَتَّقِي بِجُذُوعِ النَّخۡلِ. فَقَالَتۡ لِابۡنِ صَيَّادٍ: يَا صَافِ، وَهُوَ اسۡمُ ابۡنِ صَيَّادٍ، هٰذَا مُحَمَّدٌ. فَثَارَ ابۡنُ صَيَّادٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَوۡ تَرَكَتۡهُ بَيَّنَ).

(2931). Dan Salim bin ‘Abdullah berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Setelah itu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan Ubay bin Ka’b Al-Anshari pergi menuju kebun kurma yang di dalamnya terdapat Ibnu Shayyad. Hingga ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki kebun kurma itu, beliau mulai berjalan dengan berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Beliau mengendap-endap agar dapat mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya sedang berbaring di atas tempat tidur di dalam sehelai kain beludru miliknya yang terdengar suara gumaman darinya. Kemudian ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang sedang berlindung di balik batang-batang pohon kurma. Maka ia berkata kepada Ibnu Shayyad, “Wahai Shaf—dan itu adalah nama Ibnu Shayyad—ini ada Muhammad.”

Lalu Ibnu Shayyad langsung bangkit. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya akan menjadi jelas perkara yang sebenarnya.”

(١٦٩) - قَالَ سَالِمٌ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي النَّاسِ فَأَثۡنَىٰ عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: (إِنِّي لَأُنۡذِرُكُمُوهُ. مَا مِنۡ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدۡ أَنۡذَرَهُ قَوۡمَهُ. لَقَدۡ أَنۡذَرَهُ نُوحٌ قَوۡمَهُ. وَلَكِنۡ أَقُولُ لَكُمۡ فِيهِ قَوۡلًا لَمۡ يَقُلۡهُ نَبِيٌّ لِقَوۡمِهِ. تَعَلَّمُوا أَنَّهُ أَعۡوَرُ. وَأَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ لَيۡسَ بِأَعۡوَرَ).

(169). Salim berkata: ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri di hadapan manusia, kemudian beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, setelah itu beliau menyebutkan tentang Dajjal seraya bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memperingatkan kalian darinya. Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal itu. Sungguh Nuh telah memperingatkan kaumnya tentang dia. Akan tetapi, aku akan mengatakan kepada kalian suatu perkataan tentangnya yang belum pernah dikatakan oleh seorang nabi pun kepada kaumnya. Ketahuilah oleh kalian bahwa dia buta sebelah matanya dan sesungguhnya Allah—tabaraka wa ta’ala—tidaklah buta sebelah matanya.”

- قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عُمَرُ بۡنُ ثَابِتٍ الۡأَنۡصَارِيُّ؛ أَنَّهُ أَخۡبَرَهُ بَعۡضُ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ، يَوۡمَ حَذَّرَ النَّاسَ الدَّجَّالَ: (إِنَّهُ مَكۡتُوبٌ بَيۡنَ عَيۡنَيۡهِ كَافِرٌ. يَقۡرَؤُهُ مَنۡ كَرِهَ عَمَلَهُ، أَوۡ يَقۡرَؤُهُ كُلُّ مُؤۡمِنٍ). وَقَالَ: (تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنۡ يَرَىٰ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّىٰ يَمُوتَ).

Ibnu Syihab berkata: ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari mengabarkan kepadaku: Sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan kepadanya: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda pada hari ketika beliau memperingatkan manusia tentang Dajjal, “Sesungguhnya tertulis di antara kedua matanya kata ‘kafir’. Tulisan itu dapat dibaca oleh orang yang membenci perbuatannya atau dapat dibaca oleh setiap orang mukmin.”

Dan beliau bersabda, “Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan melihat Rabnya—‘azza wa jalla—hingga ia mati.”

Shahih Muslim hadis nomor 162

٧٤ - بَابُ الۡإِسۡرَاءِ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى السَّمَوَاتِ وَفَرۡضِ الصَّلَوَاتِ
74. Bab Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ke Langit dan Kewajiban Salat-Salat


٢٥٩ - (١٦٢) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُتِيتُ بِالۡبُرَاقِ - وَهُوَ دَابَّةٌ أَبۡيَضُ طَوِيلٌ فَوۡقَ الۡحِمَارِ وَدُونَ الۡبَغۡلِ. يَضَعُ حَافِرَهُ عِنۡدَ مُنۡتَهَى طَرۡفِهِ -. قَالَ: فَرَكِبۡتُهُ حَتَّى أَتَيۡتُ بَيۡتَ الۡمَقۡدِسِ، قَالَ: فَرَبَطۡتُهُ بِالۡحَلۡقَةِ الَّتِي يَرۡبِطُ بِهِ الۡأَنۡبِيَاءُ،

259. (162). Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku dibawakan burak—yaitu seekor hewan tunggangan yang berwarna putih, bertubuh panjang, ukurannya di atas keledai dan di bawah bagal, ia melangkahkan kakinya sejauh ujung pandangan matanya—.”

Beliau melanjutkan, “Maka aku pun menungganginya hingga aku tiba di Baitulmakdis.”

Beliau melanjutkan, “Lalu aku mengikatnya pada lingkaran besi yang biasa digunakan oleh para nabi untuk mengikat hewan tunggangan mereka.”

قَالَ: ثُمَّ دَخَلۡتُ الۡمَسۡجِدَ فَصَلَّيۡتُ فِيهِ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ خَرَجۡتُ، فَجَاءَنِي جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ بِإِنَاءٍ مِنۡ خَمۡرٍ وَإِنَاءٍ مِنۡ لَبَنٍ، فَاخۡتَرۡتُ اللَّبَنَ، فَقَالَ جِبۡرِيلُ ﷺ: اخۡتَرۡتَ الۡفِطۡرَةَ، ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ، فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Beliau melanjutkan:

Kemudian aku masuk ke dalam masjid lalu melaksanakan salat dua rakaat di dalamnya, setelah itu aku keluar. Lalu Jibril—‘alaihis-salam—mendatangiku dengan membawa sebuah wadah berisi khamar dan sebuah wadah berisi susu. Aku pun memilih susu, maka Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Kamu telah memilih fitrah.”

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit pertama, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka dia ditanya, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanya lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Adam. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِابۡنَىِ الۡخَالَةِ عِيسَى ابۡنِ مَرۡيَمَ وَيَحۡيَىٰ بۡنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيۡهِمَا، فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kedua, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang sepupu (dari jalur ibu), yaitu ‘Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakariyya`—shalawatullahi ‘alaihima—. Keduanya menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ ﷺ، إِذَا هُوَ قَدۡ أُعۡطِيَ شَطۡرَ الۡحُسۡنِ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa aku naik ke langit ketiga, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah kamu?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Yusuf—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, ternyata ia telah dianugerahi separuh dari seluruh ketampanan. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا. فَإِذَا أَنَا بِإِدۡرِيسَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَرَفَعۡنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ۝٥٧﴾ [مريم: ٥٧].

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keempat, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Dia bertanya, ”Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Idris. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku. Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam: 57).

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الۡخَامِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ. قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ،

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit kelima, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Harun—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، قِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَىٰ ﷺ، فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيۡرٍ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit keenam, lalu Jibril—‘alaihis-salam—meminta agar dibukakan pintu langit. Ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Dan siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia menyambutku dengan hangat dan mendoakan kebaikan untukku.

ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَاسۡتَفۡتَحَ جِبۡرِيلُ، فَقِيلَ: مَنۡ هٰذَا؟ قَالَ: جِبۡرِيلُ، قِيلَ: وَمَنۡ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وَقَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ؟ قَالَ: قَدۡ بُعِثَ إِلَيۡهِ، فَفُتِحَ لَنَا، فَإِذَا أَنَا بِإِبۡرَاهِيمَ ﷺ، مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى الۡبَيۡتِ الۡمَعۡمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدۡخُلُهُ كُلَّ يَوۡمٍ سَبۡعُونَ أَلۡفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيۡهِ.

Kemudian Jibril membawa kami naik ke langit ketujuh, lalu Jibril meminta agar dibukakan pintu langit. Maka ditanyakan, “Siapakah ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.”

Ditanyakan lagi, “Siapakah yang bersamamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Ditanyakan, “Apakah ia telah diutus?”

Jibril menjawab, “Ia telah diutus.”

Maka pintu langit pun dibukakan untuk kami, lalu tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang menyandarkan punggungnya ke Baitulmakmur. Ternyata tempat itu dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat setiap harinya dan mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana setelahnya.

ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدۡرَةِ الۡمُنۡتَهَى، وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الۡفِيَلَةِ، وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالۡقِلَالِ. قَالَ: فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنۡ أَمۡرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتۡ، فَمَا أَحَدٌ مِنۡ خَلۡقِ اللهِ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَنۡعَتَهَا مِنۡ حُسۡنِهَا، فَأَوۡحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوۡحَىٰ، فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمۡسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، فَنَزَلۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ، فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَىٰ أُمَّتِكَ؟ قُلۡتُ: خَمۡسِينَ صَلَاةً، قَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ، فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَإِنِّي قَدۡ بَلَوۡتُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَخَبَرۡتُهُمۡ،

Kemudian Jibril membawa aku pergi ke Sidratulmuntaha, ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buah-buahnya seperti tempayan besar.

Beliau melanjutkan:

Tatkala pohon itu dilingkupi oleh perintah Allah berupa apa saja yang melingkupinya, pohon itu pun berubah bentuk, sehingga tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang sanggup melukiskan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Dia mewajibkan kepadaku lima puluh kali salat dalam setiap sehari semalam. Kemudian aku turun menemui Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu ia bertanya, “Apakah yang telah Rabmu wajibkan atas umatmu?”

Aku menjawab, “Lima puluh kali salat.”

Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israil dan telah mengetahui betul karakter mereka.”

قَالَ: فَرَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي فَقُلۡتُ: يَا رَبِّ، خَفِّفۡ عَلَى أُمَّتِي، فَحَطَّ عَنِّي خَمۡسًا، فَرَجَعۡتُ إِلَى مُوسَىٰ فَقُلۡتُ: حَطَّ عَنِّي خَمۡسًا. قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذٰلِكَ، فَارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، قَالَ: فَلَمۡ أَزَلۡ أَرۡجِعُ بَيۡنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيۡنَ مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ حَتَّى قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمۡسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشۡرٌ، فَذٰلِكَ خَمۡسُونَ صَلَاةً. وَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ لَهُ حَسَنَةً، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ لَهُ عَشۡرًا، وَمَنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا لَمۡ تُكۡتَبۡ شَيۡئًا، فَإِنۡ عَمِلَهَا كُتِبَتۡ سَيِّئَةً وَاحِدَةً،

Beliau melanjutkan:

Maka aku kembali kepada Rabku lalu aku memohon, “Wahai Rabku, berilah keringanan bagi umatku.”

Lalu Dia mengurangi lima kali salat dariku. Aku pun kembali menemui Musa lalu aku berkata, “Dia telah mengurangi lima kali salat dariku.”

Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup memikul hal itu, maka kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan:

Maka aku terus-menerus bolak-balik antara Rabku taala dan Musa—‘alaihis-salam—, hingga akhirnya Allah berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kewajiban itu adalah lima kali salat dalam setiap sehari semalam, yang mana setiap salat nilainya sebanding dengan sepuluh salat, maka itu sama saja dengan lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu kebaikan lalu ia belum sempat mengamalkannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan satu keburukan lalu ia tidak mengamalkannya, maka tidak dicatat sesuatu pun atasnya. Jika ia mengamalkannya, maka dicatat sebagai satu keburukan.”

قَالَ: فَنَزَلۡتُ حَتَّى انۡتَهَيۡتُ إِلَى مُوسَىٰ ﷺ فَأَخۡبَرۡتُهُ، فَقَالَ: ارۡجِعۡ إِلَى رَبِّكَ فَاسۡأَلۡهُ التَّخۡفِيفَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: قَدۡ رَجَعۡتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسۡتَحۡيَيۡتُ مِنۡهُ).

Beliau melanjutkan:

Maka aku turun hingga aku sampai kepada Musa—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku mengabarkan hal itu kepadanya. Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabmu lalu mintalah keringanan kepada-Nya.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Aku menjawab, “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabku hingga aku merasa malu kepada-Nya.”

٢٦٠ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ هَاشِمٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا بَهۡزُ بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ الۡمُغِيرَةِ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أُتِيتُ، فَانۡطَلَقُوا بِي إِلَى زَمۡزَمَ فَشُرِحَ عَنۡ صَدۡرِي، ثُمَّ غُسِلَ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ أُنۡزِلۡتُ).

260. ‘Abdullah bin Hasyim Al-‘Abdi telah menceritakan kepadaku: Bahz bin Asad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan kepada kami: Tsabit menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku didatangi, lalu mereka membawaku pergi ke sumur Zamzam, kemudian dadaku dibelah lalu dibasuh dengan menggunakan air Zamzam, setelah itu aku dikembalikan.”

٢٦١ - (...) - حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ بۡنُ فَرُّوخَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَتَاهُ جِبۡرِيلُ ﷺ وَهُوَ يَلۡعَبُ مَعَ الۡغِلۡمَانِ، فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنۡ قَلۡبِهِ، فَاسۡتَخۡرَجَ الۡقَلۡبَ، فَاسۡتَخۡرَجَ مِنۡهُ عَلَقَةً. فَقَالَ: هٰذَا حَظُّ الشَّيۡطَانِ مِنۡكَ، ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسۡتٍ مِنۡ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمۡزَمَ، ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ، وَجَاءَ الۡغِلۡمَانُ يَسۡعَوۡنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعۡنِي ظِئۡرَهُ – فَقَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا قَدۡ قُتِلَ، فَاسۡتَقۡبَلُوهُ وَهُوَ مُنۡتَقَعُ اللَّوۡنِ، قَالَ أَنَسٌ: وَقَدۡ كُنۡتُ أَرَى أَثَرَ ذٰلِكَ الۡمِخۡيَطِ فِي صَدۡرِهِ.

261. Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah didatangi oleh Jibril—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang bermain bersama anak-anak kecil lainnya. Lalu Jibril mengambil beliau dan merebahkannya, kemudian membelah dada (bagian) jantung beliau. Jibril lalu mengeluarkan jantung tersebut dan mengeluarkan sepotong gumpalan darah darinya, seraya berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada di dalam dirimu.”

Kemudian Jibril membasuh jantung tersebut di dalam sebuah nampan emas dengan menggunakan air Zamzam, lalu merapatkannya kembali, setelah itu mengembalikannya ke tempat semula. Sementara itu, anak-anak kecil lainnya datang berlari-lari menemui ibunya—yaitu ibu susuan beliau—lalu mereka berteriak, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh!”

Orang-orang pun bergegas menyongsong beliau dan mereka mendapati beliau dalam keadaan pucat pasi warnanya.

Anas berkata: Dan sungguh, dahulu aku pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau.

٢٦٢ - (...) - حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡأَيۡلِيُّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ - وَهُوَ ابۡنُ بِلَالٍ – قَالَ: حَدَّثَنِي شَرِيكُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي نَمِرٍ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنۡ لَيۡلَةَ أُسۡرِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ مِنۡ مَسۡجِدِ الۡكَعۡبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبۡلَ أَنۡ يُوحَىٰ إِلَيۡهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ... وَسَاقَ الۡحَدِيثَ بِقِصَّتِهِ، نَحۡوَ حَدِيثِ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، وَقَدَّمَ فِيهِ شَيۡئًا وَأَخَّرَ، وَزَادَ وَنَقَصَ.


262. Harun bin Sa’id Al-Aili telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sulaiman—yaitu Ibnu Bilal—mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Syarik bin ‘Abdullah bin Abu Namir menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik menceritakan kepada kami tentang malam ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diperjalankan dari masjid Ka’bah; bahwasanya ada tiga orang yang mendatangi beliau sebelum beliau diberi wahyu, ketika beliau sedang tidur di Masjidilharam …. Ia membawakan hadis tersebut dengan kisahnya secara lengkap yang semisal dengan hadis Tsabit Al-Bunani, namun ia mendahulukan sebagian isi dan mengakhirkan sebagian yang lain, serta menambah dan mengurangi.

Shahih Muslim hadis nomor 2387

١١ - (٢٣٨٧) - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ: أَخۡبَرَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا صَالِحُ بۡنُ كَيۡسَانَ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ، فِي مَرَضِهِ: (ادۡعِي لِي أَبَا بَكۡرٍ، وَأَخَاكِ، حَتَّىٰ أَكۡتُبَ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنۡ يَتَمَنَّىٰ مُتَمَنٍّ وَيَقُولَ قَائِلٌ: أَنَا أَوۡلَىٰ. وَيَأۡبَىٰ اللهُ وَالۡمُؤۡمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكۡرٍ).

11. (2387). ‘Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami: Shalih bin Kaisan menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadaku di kala sakitnya beliau, “Panggillah Abu Bakr dan saudaramu laki-laki kemari untukku, hingga aku dapat menulis selembar surat. Karena sesungguhnya aku khawatir akan ada orang yang berharap-harap dan ada orang yang mengatakan: ‘Akulah yang lebih berhak.’ Padahal Allah dan orang-orang yang beriman tidak menghendaki selain Abu Bakr.”

Shahih Muslim hadis nomor 418

٢١ - بَابُ اسۡتِخۡلَافِ الۡإِمَامِ إِذَا عَرَضَ لَهُ عُذۡرٌ مِنۡ مَرَضٍ وَسَفَرٍ وَغَيۡرِهِمَا مَنۡ يُصَلِّي بِالنَّاسِ وَأَنَّ مَنۡ صَلَّى خَلۡفَ إِمَامٍ جَالِسٍ لِعَجۡزِهِ عَنِ الۡقِيَامِ لَزِمَهُ الۡقِيَامُ إِذَا قَدَرَ عَلَيۡهِ، وَنَسۡخِ الۡقُعُودِ خَلۡفَ الۡقَاعِدِ فِي حَقِّ مَنۡ قَدَرَ عَلَى الۡقِيَامِ
21. Bab Penunjukan Imam Pengganti oleh Imam (Utama) untuk Memimpin Salat Jamaah Apabila Ia Mengalami Uzur karena Sakit, Safar, atau Sejenisnya; Bahwasanya Orang yang Salat di Belakang Imam yang Duduk karena Tidak Mampu Berdiri, Maka Ia Tetap Wajib Berdiri Jika Ia Mampu Melakukannya; serta Penghapusan Hukum Duduk di Belakang Imam yang Duduk bagi Orang yang Mampu Berdiri


٩٠ - (٤١٨) - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يُونُسَ: حَدَّثَنَا زَائِدَةُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ أَبِي عَائِشَةَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ؛ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلۡتُ لَهَا: أَلَا تُحَدِّثِينِي عَنۡ مَرَضِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ قَالَتۡ: بَلَىٰ. ثَقُلَ النَّبِيُّ ﷺ. فَقَالَ: (أَصَلَّى النَّاسُ؟) قُلۡنَا: لَا، وَهُمۡ يَنۡتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (ضَعُوا لِي مَاءً فِي الۡمِخۡضَبِ) فَفَعَلۡنَا، فَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُؤَ فَأُغۡمِيَ عَلَيۡهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: (أَصَلَّى النَّاسُ؟) قُلۡنَا: لَا، وَهُمۡ يَنۡتَظِرُونَكَ، يَا رَسُولَ اللهِ، فَقَالَ: (ضَعُوا لِي مَاءً فِي الۡمِخۡضَبِ) فَفَعَلۡنَا فَاغۡتَسَلَ. ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغۡمِيَ عَلَيۡهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: (أَصَلَّى النَّاسُ؟) قُلۡنَا: لَا، وَهُمۡ يَنۡتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: (ضَعُوا لِي مَاءً فِي الۡمِخۡضَبِ) فَفَعَلۡنَا، فَاغۡتَسَلَ ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُؤَ فَأُغۡمِيَ عَلَيۡهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: (أَصَلَّىٰ النَّاسُ؟) فَقُلۡنَا: لَا، وَهُمۡ يَنۡتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَتۡ وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي الۡمَسۡجِدِ يَنۡتَظِرُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ لِصَلَاةِ الۡعِشَاءِ الۡآخِرَةِ. قَالَتۡ: فَأَرۡسَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ، أَنۡ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَأۡمُرُكَ أَنۡ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ. فَقَالَ أَبُو بَكۡرٍ، وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا: يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ. قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: أَنۡتَ أَحَقُّ بِذٰلِكَ. قَالَتۡ: فَصَلَّى بِهِمۡ أَبُو بَكۡرٍ تِلۡكَ الۡأَيَّامَ. ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَجَدَ مِنۡ نَفۡسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ بَيۡنَ رَجُلَيۡنِ - أَحَدُهُمَا الۡعَبَّاسُ - لِصَلَاةِ الظُّهۡرِ، وَأَبُو بَكۡرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكۡرٍ ذَهَبَ لِيَتَأَخَّرَ، فَأَوۡمَأَ إِلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ لَا يَتَأَخَّرَ. وَقَالَ لَهُمَا: (أَجۡلِسَانِي إِلَى جَنۡبِهِ)، فَأَجۡلَسَاهُ إِلَى جَنۡبِ أَبِي بَكۡرٍ. وَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ يُصَلِّي وَهُوَ قَائِمٌ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ ﷺ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكۡرٍ. وَالنَّبِيُّ ﷺ قَاعِدٌ.

قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: فَدَخَلۡتُ عَلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ فَقُلۡتُ لَهُ: أَلَا أَعۡرِضُ عَلَيۡكَ مَا حَدَّثَتۡنِي عَائِشَةُ عَنۡ مَرَضِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: هَاتِ، فَعَرَضۡتُ حَدِيثَهَا عَلَيۡهِ فَمَا أَنۡكَرَ مِنۡهُ شِيۡئًا. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: أَسَمَّتۡ لَكَ الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ مَعَ الۡعَبَّاسِ؟ قُلۡتُ: لَا. قَالَ: هُوَ عَلِيٌّ.


90. (418). Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Zaidah menceritakan kepada kami: Musa bin Abu ‘Aisyah menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah. Ia berkata:

Aku menemui ‘Aisyah, lalu aku bertanya kepadanya, “Maukah Anda menceritakan kepadaku tentang sakitnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

‘Aisyah menjawab:

Tentu. Ketika kondisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semakin payah, beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah salat?”

Kami menjawab, “Belum, mereka sedang menunggu Anda, wahai Rasulullah.”

Beliau berkata, “Siapkanlah air untukku di dalam bak mandi.”

Kami pun melakukannya, lalu beliau mandi. Kemudian beliau bangkit dengan memaksakan diri agar bisa berdiri, namun beliau pingsan. Setelah sadar kembali, beliau bertanya lagi, “Apakah orang-orang sudah salat?”

Kami menjawab, “Belum, mereka sedang menunggu Anda, wahai Rasulullah.”

Beliau berkata, “Siapkanlah air untukku di dalam bak mandi.”

Kami pun melakukannya, lalu beliau mandi. Kemudian beliau bangkit dengan memaksakan diri agar bisa berdiri, namun beliau pingsan. Setelah sadar kembali, beliau bertanya lagi, “Apakah orang-orang sudah salat?”

Kami menjawab, “Belum, mereka sedang menunggu Anda, wahai Rasulullah.”

Beliau berkata, “Siapkanlah air untukku di dalam bak mandi.”

Kami pun melakukannya, lalu beliau mandi. Kemudian beliau bangkit dengan memaksakan diri agar bisa berdiri, namun beliau pingsan. Setelah sadar kembali, beliau bertanya lagi, “Apakah orang-orang sudah salat?”

Kami menjawab, “Belum, mereka sedang menunggu Anda, wahai Rasulullah.”

‘Aisyah berkata: Sementara itu, orang-orang sedang berdiam diri di dalam masjid menunggu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk melaksanakan salat Isya yang akhir.

‘Aisyah melanjutkan:

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus seseorang menemui Abu Bakr agar ia memimpin salat jamaah. Utusan itu pun mendatangi Abu Bakr lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkanmu untuk memimpin salat jamaah.”

Abu Bakr—yang merupakan seorang lelaki yang berhati lembut—berkata, “Wahai ‘Umar, pimpinlah salat jamaah.”

‘Umar menjawab, “Andalah yang lebih berhak atas hal tersebut.”

‘Aisyah berkata:

Abu Bakr pun memimpin salat jamaah pada hari-hari tersebut. Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasakan kondisinya agak ringan, lalu beliau keluar dengan dipapah di antara dua orang lelaki—yang salah satunya adalah Al-‘Abbas—untuk melaksanakan salat Zuhur, sedangkan Abu Bakr saat itu sedang memimpin salat jamaah. Tatkala Abu Bakr melihat beliau, ia hendak mundur, namun Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberi isyarat kepadanya agar jangan mundur. Beliau berkata kepada kedua orang yang memapahnya, “Dudukkanlah aku di sampingnya.”

Keduanya pun mendudukkan beliau di samping Abu Bakr. Saat itu Abu Bakr tetap melaksanakan salat dalam keadaan berdiri dengan mengikuti salatnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, sedangkan orang-orang melaksanakan salat dengan mengikuti salatnya Abu Bakr, sementara Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan duduk.

‘Ubaidullah berkata:

Kemudian aku menemui ‘Abdullah bin ‘Abbas, lalu aku bertanya kepadanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang diceritakan ‘Aisyah kepadaku tentang sakitnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sampaikanlah.”

Aku pun memaparkan hadis ‘Aisyah tersebut kepadanya dan ia sama sekali tidak menyangkal sedikit pun dari isi hadis itu, hanya saja ia bertanya, “Apakah ‘Aisyah menyebutkan kepadamu nama lelaki yang bersama Al-‘Abbas?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Dia adalah ‘Ali.”

٩١ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ - وَاللَّفۡظُ لِابۡنِ رَافِعٍ – قَالَا: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، قَالَ: قَالَ الزُّهۡرِيُّ: وَأَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّ عَائِشَةَ أَخۡبَرَتۡهُ قَالَتۡ: أَوَّلُ مَا اشۡتَكَىٰ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي بَيۡتِ مَيۡمُونَةَ، فَاسۡـتَأۡذَنَ أَزۡوَاجَهُ أَنۡ يُمَرَّضَ فِي بَيۡتِهَا. وَأَذِنَّ لَهُ. قَالَتۡ: فَخَرَجَ وَيَدٌ لَهُ عَلَى الۡفَضۡلِ بۡنِ عَبَّاسٍ. وَيَدٌ لَهُ عَلَى رَجُلٍ آخَرَ. وَهُوَ يَخُطُّ بِرِجۡلَيۡهِ فِي الۡأَرۡضِ.

فَقَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: فَحَدَّثۡتُ بِهِ ابۡنَ عَبَّاسٍ. فَقَالَ: أَتَدۡرِي مَنِ الرَّجُلُ الَّذِي لَمۡ تُسَمِّ عَائِشَةُ؟ هُوَ عَلِيٌّ.


91. Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami—dan lafaz ini milik Ibnu Rafi’—. Keduanya berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami: Az-Zuhri berkata: Dan ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadaku, bahwasanya ‘Aisyah mengabarkan kepadanya. Ia berkata: Permulaan rasa sakit yang dialami Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah di rumah Maimunah. Beliau lalu meminta izin kepada istri-istri beliau agar beliau dirawat di rumahnya (‘Aisyah), dan mereka pun mengizinkannya.

‘Aisyah berkata: Maka beliau keluar dengan satu tangan beliau bertumpu pada Al-Fadhl bin ‘Abbas dan tangan yang lain bertumpu pada seorang lelaki lain, dalam keadaan kedua kaki beliau terseret membuat garis di atas tanah.

‘Ubaidullah berkata: Aku menceritakan hal itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia bertanya, “Apakah kamu tahu siapakah lelaki yang tidak disebutkan namanya oleh ‘Aisyah itu? Dia adalah ‘Ali.”

٩٢ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ شُعَيۡبِ بۡنِ اللَّيۡثِ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي. قَالَ: حَدَّثَنِي عُقَيۡلُ بۡنُ خَالِدٍ، قَالَ: قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ. أَنَّ عَائِشَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ: لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَاشۡتَدَّ بِهِ وَجَعُهُ، اسۡتَأۡذَنَ أَزۡوَاجَهُ أَنۡ يُمَرَّضَ فِي بَيۡتِي، فَأَذِنَّ لَهُ فَخَرَجَ بَيۡنَ رَجُلَيۡنِ، تَخُطُّ رِجۡلَاهُ فِي الۡأَرۡضِ. بَيۡنَ عَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَبَيۡنَ رَجُلٍ آخَرَ.

قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: فَأَخۡبَرۡتُ عَبۡدَ اللهِ بِالَّذِي قَالَتۡ عَائِشَةُ. فَقَالَ لِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبَّاسٍ: هَلۡ تَدۡرِي مَنِ الرَّجُلُ الۡآخَرُ الَّذِي لَمۡ تُسَمِّ عَائِشَةُ؟ قَالَ: قُلۡتُ: لَا، قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَلِيٌّ.

92. ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits telah menceritakan kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku. Ia berkata: ‘Uqail bin Khalid menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ibnu Syihab berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud mengabarkan kepadaku, bahwasanya ‘Aisyah istri Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Tatkala kondisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semakin payah dan rasa sakitnya semakin parah, beliau meminta izin kepada istri-istri beliau agar beliau dirawat di rumahku. Mereka pun mengizinkannya. Lalu beliau keluar di antara dua orang lelaki dengan kedua kaki beliau terseret membuat garis di atas tanah, yaitu di antara ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib dan seorang lelaki lain.

‘Ubaidullah berkata: Aku mengabarkan kepada ‘Abdullah tentang cerita yang dikatakan oleh ‘Aisyah tersebut, lalu ‘Abdullah bin ‘Abbas bertanya kepadaku, “Apakah kamu tahu siapakah lelaki lain yang tidak disebutkan namanya oleh ‘Aisyah itu?”

‘Ubaidullah berkata: Aku menjawab, “Tidak.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Dia adalah ‘Ali.”

٩٣ - (...) - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ شُعَيۡبِ بۡنِ اللَّيۡثِ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي: حَدَّثَنِي عُقَيۡلُ بۡنُ خَالِدٍ. قَالَ: قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَتۡ: لَقَدۡ رَاجَعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي ذٰلِكَ. وَمَا حَمَلَنِي عَلَى كَثۡرَةِ مُرَاجَعَتِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَمۡ يَقَعۡ فِي قَلۡبِي أَنۡ يُحِبَّ النَّاسُ بَعۡدَهُ رَجُلًا قَامَ مَقَامَهُ أَبَدًا، وَإِلَّا أَنِّي كُنۡتُ أَرَى أَنَّهُ لَنۡ يَقُومَ مَقَامَهُ أَحَدٌ إِلَّا تَشَاءَمَ النَّاسُ بِهِ، فَأَرَدۡتُ أَنۡ يَعۡدِلَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنۡ أَبِي بَكۡرٍ.

[البخاري: كتاب المغازي، باب مرض النبي ﷺ ووفاته، رقم: ٤٤٤٥].

93. ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits telah menceritakan kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku: ‘Uqail bin Khalid menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Syihab berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud mengabarkan kepadaku, bahwasanya ‘Aisyah istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata: Sungguh, aku sempat berulang kali mendebat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam urusan itu (perintah agar Abu Bakr memimpin salat). Tidak ada yang mendorongku untuk banyak mendebat beliau melainkan karena tidak tebersit di dalam hatiku bahwa orang-orang akan menyukai seorang lelaki yang berdiri menggantikan kedudukan beliau selamanya, serta karena aku berpandangan bahwa tidaklah ada seorang pun yang menempati kedudukan beliau melainkan orang-orang akan merasa sial dengannya. Oleh karena itu, aku ingin agar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengalihkan urusan tersebut dari Abu Bakr.

٩٤ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ، وَعَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ - وَاللَّفۡظُ لِابۡنِ رَافِعٍ - قَالَ عَبۡدٌ: أَخۡبَرَنَا. وَقَالَ ابۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ. قَالَ الزُّهۡرِيُّ: وَأَخۡبَرَنِي حَمۡزَةُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ عَائِشَةَ، قَالَتۡ: لَمَّا دَخَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡتِي، قَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ، إِذَا قَرَأَ الۡقُرۡآنَ لَا يَمۡلِكُ دَمۡعَهُ، فَلَوۡ أَمَرۡتَ غَيۡرَ أَبِي بَكۡرٍ، قَالَتۡ: وَاللهِ، مَا بِي إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنۡ يَتَشَاءَمَ النَّاسُ بِأَوَّلِ مَنۡ يَقُومُ فِي مَقَامِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. قَالَتۡ: فَرَاجَعۡتُهُ مَرَّتَيۡنِ، أَوۡ ثَلَاثًا. فَقَالَ: (لِيُصَلِّ بِالنَّاسِ أَبُو بَكۡرٍ، فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ).

94. Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami—dan lafaz ini milik Ibnu Rafi’—. ‘Abd berkata: Mengabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami: Az-Zuhri berkata: Hamzah bin ‘Abdullah bin ‘Umar mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah. Ia berkata:

Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masuk ke rumahku, beliau berkata, “Perintahkanlah Abu Bakr agar ia memimpin salat jamaah.”

‘Aisyah berkata: Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakr adalah seorang lelaki yang berhati lembut, apabila ia membaca Al-Qur’an ia tidak kuasa membendung air matanya, sekiranya Anda memerintahkan orang selain Abu Bakr.”

‘Aisyah berkata: Demi Allah, tidak ada alasan bagiku melakukan itu melainkan karena aku tidak suka jika orang-orang merasa sial dengan orang pertama yang berdiri menggantikan kedudukan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

‘Aisyah berkata: Maka aku mendebat beliau dua atau tiga kali, lalu beliau bersabda, “Hendaklah Abu Bakr memimpin salat jamaah, karena sesungguhnya kalian ini seperti wanita-wanita pada kisah Yusuf!”

٩٥ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ - وَاللَّفۡظُ لَهُ – قَالَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ جَاءَ بِلَالٌ يُؤۡذِنُهُ بِالصَّلَاةِ. فَقَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ، إِنَّهُ مَتَى يَقُمۡ مَقَامَكَ لَا يُسۡمِعِ النَّاسَ، فَلَوۡ أَمَرۡتَ عُمَرَ. فَقَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ) قَالَتۡ: فَقُلۡتُ لِحَفۡصَةَ: قُولِي لَهُ: إِنَّ أَبَا بَكۡرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ. وَإِنَّهُ مَتَى يَقُمۡ مَقَامَكَ لَا يُسۡمِعِ النَّاسَ، فَلَوۡ أَمَرۡتَ عُمَرَ، فَقَالَتۡ لَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّكُنَّ لَأَنۡتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ) قَالَتۡ: فَأَمَرُوا أَبَا بَكۡرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ. قَالَتۡ: فَلَمَّا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ وَجَدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ نَفۡسِهِ خِفَّةً، فَقَامَ يُهَادَىٰ بَيۡنَ رَجُلَيۡنِ، وَرِجۡلَاهُ تَخُطَّانِ فِي الۡأَرۡضِ، قَالَتۡ: فَلَمَّا دَخَلَ الۡمَسۡجِدَ سَمِعَ أَبُو بَكۡرٍ حِسَّهُ، ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ، فَأَوۡمَأَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ قُمۡ مَكَانَكَ. فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ حَتَّى جَلَسَ عَنۡ يَسَارِ أَبِي بَكۡرٍ. قَالَتۡ: فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا. وَأَبُو بَكۡرٍ قَائِمًا. يَقۡتَدِي أَبُو بَكۡرٍ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ ﷺ، وَيَقۡتَدِي النَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكۡرٍ.


95. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah dan Waki’ menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami—dan lafaz ini miliknya—. Ia berkata: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari ‘Aisyah.

Ia berkata: Tatkala kondisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—semakin payah, Bilal datang untuk memberi tahu beliau tentang masuknya waktu salat, lalu beliau berkata, “Perintahkanlah Abu Bakr agar ia memimpin salat jamaah.”

‘Aisyah berkata: Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakr adalah seorang lelaki yang mudah sedih, sesungguhnya jika ia berdiri menggantikan kedudukan Anda, ia tidak akan dapat membuat orang-orang mendengar suaranya karena tangisannya, sekiranya Anda memerintahkan ‘Umar.”

Beliau tetap berkata, “Perintahkanlah Abu Bakr agar ia memimpin salat jamaah.”

‘Aisyah berkata: Maka aku berkata kepada Hafshah, “Katakanlah kepada beliau bahwa Abu Bakr adalah seorang lelaki yang mudah sedih, dan sesungguhnya jika ia berdiri menggantikan kedudukan Anda, ia tidak akan dapat membuat orang-orang mendengar suaranya, sekiranya Anda memerintahkan ‘Umar.”

Hafshah pun mengatakannya kepada beliau. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Sesungguhnya kalian ini benar-benar seperti wanita-wanita pada kisah Yusuf. Perintahkanlah Abu Bakr agar ia memimpin salat jamaah.”

‘Aisyah berkata: Maka mereka pun memerintahkan Abu Bakr untuk memimpin salat jamaah.

‘Aisyah melanjutkan: Tatkala ia telah memulai salat, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasakan kondisinya agak ringan, maka beliau pun bangkit dengan dipapah di antara dua orang lelaki, dalam keadaan kedua kaki beliau membuat garis di atas tanah.

‘Aisyah berkata: Tatkala beliau masuk ke dalam masjid, Abu Bakr mendengar suara pergerakan beliau, maka ia hendak mundur. Namun Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberi isyarat kepadanya: “Tetaplah di tempatmu.” Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu datang hingga duduk di sebelah kiri Abu Bakr.

‘Aisyah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memimpin salat jamaah dalam keadaan duduk sedangkan Abu Bakr dalam keadaan berdiri. Abu Bakr mengikuti salatnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan orang-orang mengikuti salatnya Abu Bakr.

٩٦ - (...) - حَدَّثَنَا مِنۡجَابُ بۡنُ الۡحَارِثِ التَّمِيمِيُّ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ مُسۡهِرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَىٰ بۡنُ يُونُسَ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡأَعۡمَشِ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ... نَحۡوَهُ. وَفِي حَدِيثِهِمَا: لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَرَضَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ.

وَفِي حَدِيثِ ابۡنِ مُسۡهِرٍ: فَأُتِيَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ حَتَّى أُجۡلِسَ إِلَى جَنۡبِهِ. وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي بِالنَّاسِ، وَأَبُو بَكۡرٍ يُسۡمِعُهُمُ التَّكۡبِيرَ.

وَفِي حَدِيثِ عِيسَىٰ: فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي وَأَبُو بَكۡرٍ إِلَى جَنۡبِهِ، وَأَبُو بَكۡرٍ يُسۡمِعُ النَّاسَ.

96. Minjab bin Al-Harits At-Tamimi telah menceritakan kepada kami: Ibnu Mushir mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: ‘Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami. Keduanya dari Al-A’masy dengan sanad ini yang semisal dengannya. Di dalam hadis keduanya disebutkan: Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sakit yang membawa kepada wafatnya beliau.

Dan di dalam hadis Ibnu Mushir disebutkan: Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—didatangkan hingga beliau didudukkan di samping Abu Bakr, dan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memimpin salat jamaah sedangkan Abu Bakr memperdengarkan takbir kepada mereka.

Sementara di dalam hadis ‘Isa disebutkan: Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—duduk memimpin salat sedangkan Abu Bakr berada di samping beliau, dan Abu Bakr memperdengarkan suaranya kepada orang-orang.

٩٧ - (...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَأَبُو كُرَيۡبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ، عَنۡ هِشَامٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ - وَأَلۡفَاظُهُمۡ مُتَقَارِبَةٌ – قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي. قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ؛ قَالَتۡ: أَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَبَا بَكۡرٍ أَنۡ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فِي مَرَضِهِ، فَكَانَ يُصَلِّي بِهِمۡ.

قَالَ عُرۡوَةُ: فَوَجَدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ نَفۡسِهِ خِفَّةً، فَخَرَجَ وَإِذَا أَبُو بَكۡرٍ يَؤُمُّ النَّاسَ، فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكۡرٍ اسۡتَأۡخَرَ، فَأَشَارَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَيۡ كَمَا أَنۡتَ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ حِذَاءَ أَبِي بَكۡرٍ إِلَى جَنۡبِهِ، فَكَانَ أَبُو بَكۡرٍ يُصَلِّي بِصَلَاةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكۡرٍ.


97. Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami dari Hisyam. (Dalam riwayat lain) Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami—dan lafaz-lafaz mereka saling berdekatan—. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami. Ia berkata: Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Aisyah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan Abu Bakr untuk memimpin salat jamaah di kala sakitnya beliau, maka ia pun memimpin salat mereka. ‘Urwah berkata: Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasakan kondisinya agak ringan, lalu beliau keluar dan ternyata Abu Bakr sedang mengimami orang-orang. Tatkala Abu Bakr melihat beliau, ia hendak mundur, namun Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberi isyarat kepadanya yang maksudnya: “Tetaplah sebagaimana keadaanmu semula.” Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu duduk sejajar dengan Abu Bakr di sampingnya. Maka Abu Bakr melaksanakan salat dengan mengikuti salatnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan orang-orang melaksanakan salat dengan mengikuti salatnya Abu Bakr.

Shahih Muslim hadis nomor 757

٢٣ - بَابٌ فِي اللَّيۡلِ سَاعَةٌ مُسۡتَجَابٌ فِيهَا الدُّعَاءُ
23. Bab Di Malam Hari Ada Waktu Mustajab untuk Berdoa


١٦٦ - (٧٥٧) - وَحَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي سُفۡيَانَ، عَنۡ جَابِرٍ؛ قَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ فِي اللَّيۡلِ لَسَاعَةً، لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسۡلِمٌ يَسۡأَلُ اللهَ خَيۡرًا مِنۡ أَمۡرِ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، إِلَّا أَعۡطَاهُ إِيَّاهُ، وَذٰلِكَ كُلَّ لَيۡلَةٍ).

166. (757). ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir. Ia berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya di dalam malam itu benar-benar ada satu waktu, tidaklah seorang muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan memohon kebaikan urusan dunia dan akhirat kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya. Dan yang demikian itu ada pada setiap malam.”

١٦٧ - (...) - وَحَدَّثَنِي سَلَمَةُ بۡنُ شَبِيبٍ: حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ أَعۡيَنَ: حَدَّثَنَا مَعۡقِلٌ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ مِنَ اللَّيۡلِ سَاعَةً، لَا يُوَافِقُهَا عَبۡدٌ مُسۡلِمٌ يَسۡأَلُ اللهَ خَيۡرًا، إِلَّا أَعۡطَاهُ إِيَّاهُ).

167. Salamah bin Syabib telah menceritakan kepadaku: Al-Hasan bin A’yan menceritakan kepada kami: Ma’qil menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zubair, dari Jabir: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya di antara waktu malam itu ada satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan memohon kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya.”

Shahih Muslim hadis nomor 2842

١٢ - بَابٌ فِي شِدَّةِ حَرِّ نَارِ جَهَنَّمَ وَبُعۡدِ قَعۡرِهَا، وَمَا تَأۡخُذُ مِنَ الۡمُعَذَّبِينَ
12. Bab Mengenai Sangat Panasnya Api Neraka Jahanam, Jauhnya Dasarnya, dan Seberapa Jilatan yang Mengenai Orang-Orang yang Diazab


٢٩ - (٢٨٤٢) - حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ حَفۡصِ بۡنِ غِيَاثٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ الۡعَلَاءِ بۡنِ خَالِدٍ الۡكَاهِلِيِّ، عَنۡ شَقِيقٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يُؤۡتَىٰ بِجَهَنَّمَ يَوۡمَئِذٍ لَهَا سَبۡعُونَ أَلۡفَ زِمَامٍ. مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبۡعُونَ أَلۡفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا).

29. (2842). ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami dari Al-‘Ala` bin Khalid Al-Kahili, dari Syaqiq, dari ‘Abdullah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Neraka Jahanam akan didatangkan pada hari itu dengan memiliki tujuh puluh ribu tali kendali, yang mana pada setiap tali kendali terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menyeretnya.”