Cari Blog Ini

Halaman

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6963

٦ - بَابُ مَا يُكۡرَهُ مِنَ التَّنَاجُشِ
6. Bab Tindakan At-Tanajusy (Rekayasa Penawaran Harga) yang Dibenci


٦٩٦٣ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ النَّجۡشِ. [طرفه في: ٢١٤٢].

6963. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang tindakan an-najsy (rekayasa penawaran harga).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7186

٣٢ - بَابُ بَيۡعِ الۡإِمَامِ عَلَى النَّاسِ أَمۡوَالَهُمۡ وَضِيَاعَهُمۡ
32. Bab Pemimpin yang Menjual Harta dan Tanah Milik Orang-Orang


وَقَدۡ بَاعَ النَّبِيُّ ﷺ مُدَبَّرًا مِنۡ نُعَيۡمِ بۡنِ النَّحَّامِ.

Dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sungguh telah menjual seorang budak mudabbar (budak yang dijanjikan oleh majikannya akan merdeka secara otomatis begitu si majikan meninggal dunia) kepada Nu’aim bin An-Nahham.

٧١٨٦ - حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بۡنُ كُهَيۡلٍ، عَنۡ عَطَاءٍ، عَنۡ جَابِرٍ قَالَ: بَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ أَنَّ رَجُلًا مِنۡ أَصۡحَابِهِ أَعۡتَقَ غُلَامًا عَنۡ دُبُرٍ، لَمۡ يَكُنۡ لَهُ مَالٌ غَيۡرَهُ، فَبَاعَهُ بِثَمَانِمِائَةِ دِرۡهَمٍ، ثُمَّ أَرۡسَلَ بِثَمَنِهِ إِلَيۡهِ. [طرفه في: ٢١٤١].

7186. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bisyr menceritakan kepada kami: Isma’il menceritakan kepada kami: Salamah bin Kuhail menceritakan kepada kami dari ‘Atha`, dari Jabir. Ia berkata: Kabar sampai kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya ada seorang laki-laki dari kalangan sahabat beliau yang memerdekakan seorang budak miliknya melalui akad dubur (merdeka secara otomatis begitu si majikan meninggal dunia), padahal ia tidak memiliki harta lain selain budak tersebut. Maka beliau menjual budak itu seharga delapan ratus dirham, kemudian beliau mengirimkan uang hasil penjualannya kepada laki-laki tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6947

٤ - بَابٌ إِذَا أُكۡرِهَ حَتَّى وَهَبَ عَبۡدًا أَوۡ بَاعَهُ لَمۡ يَجُزۡ
4. Bab Apabila Seseorang Dipaksa hingga Ia Menghibahkan atau Menjual Seorang Budak, Hal Itu Tidak Sah


وَقَالَ بَعۡضُ النَّاسِ: فَإِنۡ نَذَرَ الۡمُشۡتَرِي فِيهِ نَذۡرًا، فَهُوَ جَائِزٌ بِزَعۡمِهِ، وَكَذٰلِكَ إِنۡ دَبَّرَهُ.

Sebagian orang berkata, “Namun jika pembeli bernazar atas budak tersebut, maka nazarnya sah menurut anggapannya, dan demikian pula jika ia menjadikannya budak mudabbar.”

٦٩٤٧ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ: عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ دِينَارٍ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ دَبَّرَ مَمۡلُوكًا، وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ مَالٌ غَيۡرُهُ، فَبَلَغَ ذٰلِكَ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (مَنۡ يَشۡتَرِيهِ مِنِّي؟). فَاشۡتَرَاهُ نُعَيۡمُ بۡنُ النَّحَّامِ بِثَمَانِمِائَةِ دِرۡهَمٍ. قَالَ: فَسَمِعۡتُ جَابِرًا يَقُولُ: عَبۡدًا قِبۡطِيًّا، مَاتَ عَامَ أَوَّلَ. [طرفه في: ٢١٤١].

6947. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—:

Ada seorang laki-laki dari kaum Ansar yang memerdekakan seorang budak miliknya melalui akad dubur (yaitu dengan berkata: Engkau merdeka setelah aku mati), padahal ia tidak memiliki harta lain selain budak tersebut. Maka kabar itu sampai kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bertanya, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?”

Kemudian Nu’aim bin An-Nahham membelinya seharga delapan ratus dirham.

Perawi berkata: Aku mendengar Jabir berkata: (Budak tersebut) adalah seorang budak bangsa Koptik, ia wafat pada tahun pertama (setelah dijual).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6716

٧ - بَابُ عِتۡقِ الۡمُدَبَّرِ وَأُمِّ الۡوَلَدِ وَالۡمُكَاتَبِ فِي الۡكَفَّارَةِ، وَعِتۡقِ وَلَدِ الزِّنَا
7. Bab Pembebasan Budak Mudabbar, Ummu Walad, dan Mukatab sebagai Kafarat, serta Pembebasan Anak Hasil Zina


وَقَالَ طَاوُسٌ: يُجۡزِىءُ الۡمُدَبَّرُ وَأُمُّ الۡوَلَدِ.

Thawus berkata: Pembebasan budak mudabbar (budak yang dijanjikan oleh majikannya akan merdeka secara otomatis begitu si majikan meninggal dunia) dan ummu walad (budak perempuan yang melahirkan anak dari hasil hubungan dengan majikannya) itu sah (sebagai kafarat).

٦٧١٦ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ: أَخۡبَرَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَمۡرٍو، عَنۡ جَابِرٍ: أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ دَبَّرَ مَمۡلُوكًا لَهُ، وَلَمۡ يَكُنۡ لَهُ مَالٌ غَيۡرُهُ، فَبَلَغَ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: (مَنۡ يَشۡتَرِيهِ مِنِّي؟) فَاشۡتَرَاهُ نُعَيۡمُ بۡنُ النَّحَّامِ بِثَمَانِمِائَةِ دِرۡهَمٍ. فَسَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: عَبۡدًا قِبۡطِيًّا، مَاتَ عَامَ أَوَّلَ. [طرفه في: ٢١٤١].

6716. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid mengabarkan kepada kami dari ‘Amr, dari Jabir:

Ada seorang laki-laki dari kaum Ansar yang memerdekakan seorang budak miliknya melalui akad dubur (merdeka setelah majikan wafat), padahal ia tidak memiliki harta lain selain budak tersebut. Maka kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bertanya, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?”

Kemudian Nu’aim bin An-Nahham membelinya seharga delapan ratus dirham.

Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata: (Budak tersebut) adalah seorang budak bangsa Koptik, ia meninggal pada tahun pertama (setelah dijual).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2534

٩ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُدَبَّرِ
9. Bab Penjualan Budak Mudabbar


٢٥٣٤ - حَدَّثَنَا آدَمُ بۡنُ أَبِي إِيَاسٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَعۡتَقَ رَجُلٌ مِنَّا عَبۡدًا لَهُ عَنۡ دُبُرٍ، فَدَعَا النَّبِيُّ ﷺ بِهِ فَبَاعَهُ. قَالَ جَابِرٌ: مَاتَ الۡغُلَامُ عَامَ أَوَّلَ. [طرفه في: ٢١٤١].

2534. Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Dinar menceritakan kepada kami: Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Ada seorang laki-laki dari kalangan kami yang memerdekakan seorang budak miliknya melalui akad dubur (merdeka setelah majikan wafat). Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta agar budak tersebut dibawa, lalu beliau menjualnya. Jabir berkata: Budak laki-laki itu wafat pada tahun pertama (setelah dijual).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2415

٢٤١٥ - حَدَّثَنَا عَاصِمُ بۡنُ عَلِيٍّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ، عَنۡ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَجُلًا أَعۡتَقَ عَبۡدًا لَهُ، لَيۡسَ لَهُ مَالٌ غَيۡرُهُ، فَرَدَّهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَابۡتَاعَهُ مِنۡهُ نُعَيۡمُ بۡنُ النَّحَّامِ. [طرفه في: ٢١٤١].

2415. ‘Ashim bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir—radhiyallahu ‘anhu—: Ada seorang laki-laki yang memerdekakan seorang budak miliknya, padahal ia tidak memiliki harta lain selain budak tersebut. Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membatalkan (pembebasan) budak itu, lalu Nu’aim bin An-Nahham membelinya dari laki-laki tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2403

١٥ - بَابُ مَنۡ أَخَّرَ الۡغَرِيمَ إِلَى الۡغَدِ أَوۡ نَحۡوِهِ، وَلَمۡ يَرَ ذٰلِكَ مَطۡلًا
15. Bab Orang yang Meminta Pemilik Piutang Menunda Pembayaran hingga Esok Hari atau Semisalnya, dan Tidak Memandang Hal Tersebut sebagai Tindakan Mengulur-ulur Waktu


وَقَالَ جَابِرٌ: اشۡتَدَّ الۡغُرَمَاءُ فِي حُقُوقِهِمۡ فِي دَيۡنِ أَبِي، فَسَأَلَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَنۡ يَقۡبَلُوا ثَمَرَ حَائِطِي فَأَبَوۡا، فَلَمۡ يُعۡطِهِمِ الۡحَائِطَ، وَلَمۡ يَكۡسِرۡهُ لَهُمۡ، وَقَالَ: (سَأَغۡدُو عَلَيۡكَ غَدًا). فَغَدَا عَلَيۡنَا حِينَ أَصۡبَحَ، فَدَعَا فِي ثَمَرِهَا بِالۡبَرَكَةِ، فَقَضَيۡتُهُمۡ.

Jabir berkata: Para pemilik piutang bersikap keras dalam menuntut hak-hak mereka atas utang ayahku. Lalu Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meminta mereka agar mau menerima buah kurma dari kebunku, namun mereka menolak. Maka beliau tidak menyerahkan kebun itu kepada mereka dan tidak membagi-bagikannya untuk mereka, melainkan beliau bersabda, “Aku akan mendatangimu esok hari.”

Kemudian beliau mendatangi kami pada esok harinya ketika waktu subuh, lalu beliau mendoakan keberkahan pada buah kurmanya, hingga aku dapat melunasi mereka.

١٦ - بَابُ مَنۡ بَاعَ مَالَ الۡمُفۡلِسِ أَوِ الۡمُعۡدِمِ، فَقَسَمَهُ بَيۡنَ الۡغُرَمَاءِ، أَوۡ أَعۡطَاهُ حَتَّى يُنۡفِقَ عَلَى نَفۡسِهِ
16. Bab Orang yang Menjual Harta Milik Orang yang Bangkrut atau Orang yang Tidak Memiliki Harta, Lalu Membagikannya di Antara Para Pemilik Piutang, atau Memberikannya Kepadanya agar Ia Dapat Menafkahi Dirinya Sendiri


٢٤٠٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنٌ الۡمُعَلِّمُ: حَدَّثَنَا عَطَاءُ بۡنُ أَبِي رَبَاحٍ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَعۡتَقَ رَجُلٌ غُلَامًا لَهُ عَنۡ دُبُرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنۡ يَشۡتَرِيهِ مِنِّي؟) فَاشۡتَرَاهُ نُعَيۡمُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، فَأَخَذَ ثَمَنَهُ فَدَفَعَهُ إِلَيۡهِ. [طرفه في: ٢١٤١].

2403. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Husain Al-Mu’allim menceritakan kepada kami: ‘Atha` bin Abu Rabah menceritakan kepada kami dari Jabir bin ‘Abdullahradhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Ada seorang laki-laki yang memerdekakan budak miliknya melalui akad dubur (merdeka setelah majikan wafat). Maka Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapa yang mau membeli budak ini dariku?”

Lalu Nu’aim bin ‘Abdullah membelinya, kemudian Nabi mengambil uang hasil penjualannya dan menyerahkannya kepada laki-laki tersebut.

Shahih Muslim hadis nomor 2730

٢١ - بَابُ دُعَاءِ الۡكَرۡبِ
21. Bab Doa Ketika Mengalami Kesulitan


٨٣ - (٢٧٣٠) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ وَابۡنُ بَشَّارٍ وَعُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ سَعِيدٍ، وَاللَّفۡظُ لِابۡنِ سَعِيدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ هِشَامٍ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ كَانَ يَقُولُ عِنۡدَ الۡكَرۡبِ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الۡعَظِيمُ الۡحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الۡأَرۡضِ وَرَبُّ الۡعَرۡشِ الۡكَرِيمِ).


83. (2730). Muhammad bin Al-Mutsanna, Ibnu Basysyar, dan ‘Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami—dan lafaz ini milik Ibnu Sa’id—. Mereka berkata: Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah, dari Abu Al-Aliyah, dari Ibnu ‘Abbas:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa mengucapkan ketika mengalami kesulitan, “Lā ilāha illallāhul-‘aẓīmul-ḥalīm, lā ilāha illallāhu rabbul-‘arsyil-‘aẓīm. Lā ilāha illallāhu rabbus-samāwāti wa rabbul-arḍi wa rabbul-‘arsyil-karīm. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rab arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rab langit, Rab bumi, dan Rab arasy yang mulia.)”

(...) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ هِشَامٍ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ. وَحَدِيثُ مُعَاذِ بۡنِ هِشَامٍ أَتَمُّ.

Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Hisyam, dengan sanad ini, dan hadis dari Mu’adz bin Hisyam lebih sempurna.

(...) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بِشۡرٍ الۡعَبۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنۡ قَتَادَةَ، أَنَّ أَبَا الۡعَالِيَةِ الرِّيَاحِيَّ حَدَّثَهُمۡ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يَدۡعُو بِهِنَّ وَيَقُولُهُنَّ عِنۡدَ الۡكَرۡبِ... فَذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ مُعَاذِ بۡنِ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ قَتَادَةَ. غَيۡرَ أَنَّهُ قَالَ: (رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضِ).

‘Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Bisyr Al-‘Abdi mengabarkan kepada kami: Sa’id bin Abu ‘Arubah menceritakan kepada kami dari Qatadah: Abu Al-‘Aliyah Ar-Riyahi menceritakan kepada mereka dari Ibnu ‘Abbas: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa berdoa dengan kalimat-kalimat ini dan mengucapkannya ketika mengalami kesulitan …, lalu dia menyebutkan hadis yang semisal dengan hadis Mu’adz bin Hisyam dari ayahnya dari Qatadah, hanya saja dia mengucapkan, “rabbus-samāwāti wal-arḍi (rab langit dan bumi).”

(...) - وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا بَهۡزٌ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ: أَخۡبَرَنِي يُوسُفُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا حَزَبَهُ أَمۡرٌ، قَالَ. فَذَكَرَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ مُعَاذٍ، عَنۡ أَبِيهِ.

وَزَادَ مَعَهُنَّ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡكَرِيمِ).

Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepadaku: Bahz menceritakan kepada kami: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami: Yusuf bin ‘Abdullah bin Al-Harits mengabarkan kepadaku dari Abu Al-‘Aliyah, dari Ibnu ‘Abbas: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila ditimpa oleh suatu perkara yang berat, beliau mengucapkan... lalu dia menyebutkan hadis yang semisal dengan hadis Mu’adz dari ayahnya. Dia menambahkan bersama kalimat-kalimat tersebut, “Lā ilāha illallāhu rabbul-‘arsyil-karīm. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Rab arasy yang mulia.)”

Shahih Muslim hadis nomor 2735

٢٥ - بَابُ بَيَانِ أَنَّهُ يُسۡتَجَابُ لِلدَّاعِي مَا لَمۡ يَعۡجَلۡ، فَيَقُولُ: دَعَوۡتُ فَلَمۡ يُسۡتَجَبۡ لِي ‏‏
25. Bab Penjelasan bahwa Doa akan Dikabulkan bagi Orang yang Berdoa Selama Dia Tidak Tergesa-gesa dengan Mengatakan, “Aku Telah Berdoa Namun Tidak Dikabulkan”


٩٠ - (٢٧٣٥) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي عُبَيۡدٍ، مَوۡلَى ابۡنِ أَزۡهَرَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (يُسۡتَجَابُ لِأَحَدِكُمۡ مَا لَمۡ يَعۡجَلۡ فَيَقُولُ: قَدۡ دَعَوۡتُ فَلَا، أَوۡ فَلَمۡ يُسۡتَجَبۡ لِي).


90. (2735). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Dia berkata: Aku membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab, dari Abu ‘Ubaid—bekas budak Ibnu Azhar—dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Akan dikabulkan bagi salah seorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, lalu dia berkata: ‘Aku sungguh telah berdoa, namun tidak atau belum dikabulkan bagiku.’”

٩١ - (...) - حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ شُعَيۡبِ بۡنِ لَيۡثٍ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنۡ جَدِّي: حَدَّثَنِي عُقَيۡلُ بۡنُ خَالِدٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو عُبَيۡدٍ، مَوۡلَىٰ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ عَوۡفٍ. وَكَانَ مِنَ الۡقُرَّاءِ وَأَهۡلِ الۡفِقۡهِ. قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يُسۡتَجَابُ لِأَحَدِكُمۡ مَا لَمۡ يَعۡجَلۡ، فَيَقُولُ: قَدۡ دَعَوۡتُ رَبِّي فَلَمۡ يَسۡتَجِبۡ لِي).

91. ‘Abdul Malik bin Syu’aib bin Laits telah menceritakan kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku: ‘Uqail bin Khalid menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, bahwasanya dia berkata: Abu ‘Ubaid—bekas budak ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan dia termasuk di antara para ahli qiraah serta ahli fikih—menceritakan kepadaku. Dia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Akan dikabulkan bagi salah seorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, lalu dia berkata: ‘Aku sungguh telah berdoa kepada Tuhanku, namun Dia belum mengabulkan bagiku.’”

٩٢ - (...) - حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي مُعَاوِيَةُ، وَهُوَ ابۡنُ صَالِحٍ، عَنۡ رَبِيعَةَ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ أَبِي إِدۡرِيسَ الۡخَوۡلَانِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ قَالَ: (لَا يَزَالُ يُسۡتَجَابُ لِلۡعَبۡدِ مَا لَمۡ يَدۡعُ بِإِثۡمٍ أَوۡ قَطِيعَةِ رَحِمٍ: مَا لَمۡ يَسۡتَعۡجِلۡ). قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الۡاِسۡتِعۡجَالُ؟ قَالَ: (يَقُولُ: قَدۡ دَعَوۡتُ، وَقَدۡ دَعَوۡتُ، فَلَمۡ أَرَ يَسۡتَجِيبُ لِي. فَيَسۡتَحۡسِرُ عِنۡدَ ذٰلِكَ، وَيَدَعُ الدُّعَاءَ).

92. Abu Ath-Thahir telah menceritakan kepadaku: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Mu’awiyah bin Shalih mengabarkan kepadaku dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk suatu dosa, atau memutuskan tali silaturahmi, dan selama dia tidak tergesa-gesa.”

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa itu?”

Beliau menjawab, “Dia berkata: ‘Aku sungguh telah berdoa dan aku sungguh telah berdoa, namun aku belum melihat Dia mengabulkan bagiku,’ lalu dia merasa letih pada saat itu dan meninggalkan doa.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6600 dan 6601

٤ - بَابٌ ﴿وَكَانَ أَمۡرُ اللهِ قَدَرًا مَقۡدُورًا﴾ [الأحزاب: ٣٨]
4. Bab “Dan Ketetapan Allah Itu Merupakan Suatu Ketetapan yang Pasti Berlaku” (QS Al-Ahzab: 38)


٦٦٠٠ - ٦٦٠١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَسۡأَلِ الۡمَرۡأَةُ طَلَاقَ أُخۡتِهَا لِتَسۡتَفۡرِغَ صَحۡفَتَهَا، وَلۡتَنۡكِحۡ، فَإِنَّ لَهَا مَا قُدِّرَ لَهَا). [طرفه في: ٢١٤٠].

6600, 6601. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah seorang wanita meminta perceraian saudarinya (madunya) agar ia dapat mengosongkan isi nampannya, dan hendaklah ia menikah (tanpa syarat tersebut), karena sesungguhnya ia akan mendapatkan apa yang telah ditakdirkan untuknya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2727

١١ - بَابُ الشُّرُوطِ فِي الطَّلَاقِ
11. Bab Syarat-Syarat di Dalam Perceraian


وَقَالَ ابۡنُ الۡمُسَيَّبِ وَالۡحَسَنُ وَعَطَاءٌ: إِنۡ بَدَأَ بِالطَّلَاقِ أَوۡ أَخَّرَ فَهُوَ أَحَقُّ بِشَرۡطِهِ.

Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan, dan ‘Atha` berkata: Jika ia mendahului dengan ucapan talak atau mengakhirkannya, maka ia lebih berhak atas syarat yang ditetapkannya.

٢٧٢٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَرۡعَرَةَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ ثَابِتٍ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ التَّلَقِّي، وَأَنۡ يَبۡتَاعَ الۡمُهَاجِرُ لِلۡأَعۡرَابِيِّ، وَأَنۡ تَشۡتَرِطَ الۡمَرۡأَةُ طَلَاقَ أُخۡتِهَا، وَأَنۡ يَسۡتَامَ الرَّجُلُ عَلَى سَوۡمِ أَخِيهِ، وَنَهَى عَنِ النَّجۡشِ، وَعَنِ التَّصۡرِيَةِ. تَابَعَهُ مُعَاذٌ وَعَبۡدُ الصَّمَدِ عَنۡ شُعۡبَةَ، وَقَالَ غُنۡدَرٌ وَعَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: نُهِيَ. وَقَالَ آدَمُ: نُهِينَا. وَقَالَ النَّضۡرُ وَحَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: نَهَى. [طرفه في: ٢١٤٠].

2727. Muhammad bin ‘Ar’arah telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari ‘Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang tindakan menyongsong penjual dari desa sebelum sampai ke pasar, orang kota menjualkan barang milik orang desa, seorang wanita menetapkan syarat perceraian saudarinya (madunya), seseorang menawar atas tawaran saudaranya, dan beliau melarang tindakan rekayasa penawaran harga serta tindakan membiarkan susu hewan tidak diperah agar terlihat banyak.

Mu’adz dan ‘Abdush Shamad mengiringi Muhammad bin ‘Ar’arah dari Syu’bah. Ghundar dan ‘Abdurrahman berkata: (dengan lafaz) “Dilarang”. Adam berkata: (dengan lafaz) “Kami dilarang”. An-Nadhr dan Hajjaj bin Minhal berkata: (dengan lafaz) “Beliau melarang”.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2723

٨ - بَابُ مَا لَا يَجُوزُ مِنَ الشُّرُوطِ فِي النِّكَاحِ
8. Bab Syarat-Syarat yang Tidak Diperbolehkan di Dalam Pernikahan


٢٧٢٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا يَزِيدَنَّ عَلَى بَيۡعِ أَخِيهِ، وَلَا يَخۡطُبَنَّ عَلَى خِطۡبَتِهِ، وَلَا تَسۡأَلِ الۡمَرۡأَةُ طَلَاقَ أُخۡتِهَا لِتَسۡتَكۡفِىءَ إِنَاءَهَا). [طرفه في: ٢١٤٠].

2723. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Ma’mar menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Sa’id, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Janganlah orang kota menjualkan barang milik orang desa, janganlah kalian melakukan tanajusy (rekayasa penawaran harga), janganlah seseorang menawar atas tawaran saudaranya, janganlah seseorang meminang atas pinangan saudaranya, dan janganlah seorang wanita meminta perceraian saudarinya (madunya) agar ia dapat mengosongkan isi wadahnya.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6714

٦٧١٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (اللّٰهُمَّ بَارِكۡ لَهُمۡ فِي مِكۡيَالِهِمۡ، وَصَاعِهِمۡ، وَمُدِّهِمۡ). [طرفه في: ٢١٣٠].

6714. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ya Allah, berkahilah mereka pada takaran mereka, serta pada sha’ dan mud mereka.”

Al-Isti'ab - 700. Dihyah Al-Kalbi

٧٠٠ - [دِحۡيَةُ بۡنُ خَلِيۡفَةَ]:
700. Dihyah bin Khalifah


دِحۡيَةُ بۡنُ خَلِيۡفَةَ بۡنِ فَرۡوَةَ الۡكَلۡبِيُّ، مِنۡ كَلۡبِ بۡنِ وَبۡرَةَ فِي قُضَاعَةَ، يُقَالُ فِي نَسَبِهِ دِحۡيَةُ بۡنُ خَلِيۡفَةَ بۡنِ فَرۡوَةَ بۡنِ فَضَالَةَ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ. وَالۡخَزۡرَجُ الۡعَظِيۡمُ هُوَ زَيۡدُ مَنَاةَ بۡنُ عَامِرِ بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ عَامِرِ الۡأَكۡبَرِ بۡنِ عَوۡفِ [بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ عَوۡفِ] بۡنِ عُذۡرَةَ بۡنِ زَيۡدِ اللَّاتِ بۡنِ رُفَيۡدَةَ بۡنِ ثَوۡرِ بۡنِ كَلۡبٍ، كَانَ مِنۡ كِبَارِ الصَّحَابَةِ، لَمۡ يَشۡهَدۡ بَدۡرًا، وَشَهِدَ أُحُدًا وَمَا بَعۡدَهَا مِنَ الۡمَشَاهِدِ وَبَقِيَ إِلَىٰ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ.

Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al-Kalbi, termasuk keturunan Kalb bin Wabrah dari suku Qudha’ah. Disebutkan mengenai silsilah nasabnya bahwa beliau adalah Dihyah bin Khalifah bin Farwah bin Fadhalah bin Zaid bin Imri-il Qais bin Al-Khazraj. Adapun Al-Khazraj Al-‘Azhim yang dimaksud di sini adalah Zaid Manah bin ‘Amir bin Bakr bin ‘Amir Al-Akbar bin ‘Auf [bin Bakr bin ‘Auf] bin ‘Udzrah bin Zaid Al-Lat bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb. Dihyah termasuk di antara sahabat senior. Beliau tidak mengikuti Perang Badr, namun mengikuti Perang Uhud serta peperangan-peperangan setelahnya, dan beliau hidup hingga masa kekhalifahan Mu’awiyah.

وَهُوَ الَّذِي بَعَثَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ إِلَىٰ قَيۡصَرَ رَسُولًا فِي الۡهُدۡنَةِ، وَذٰلِكَ فِي سَنَةِ سِتٍّ مِنَ الۡهِجۡرَةِ، فَآمَنَ بِهِ قَيۡصَرُ، وَأَبَتۡ بَطَارِقَتُهُ أَن تُؤۡمِنَ، فَأَخۡبَرَ بِذٰلِكَ دِحۡيَةُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ، فَقَالَ: ثَبَّتَ [اللّٰهُ] مُلۡكَهُ … فِي حَدِيۡثٍ طَوِيۡلٍ.

Beliau adalah orang yang diutus oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kepada Kaisar sebagai utusan pada masa gencatan senjata. Hal itu terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Kaisar sebenarnya beriman kepada beliau, namun para uskupnya enggan untuk beriman. Maka Dihyah mengabarkan hal tersebut kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Semoga Allah mengukuhkan kekuasaannya ...” dalam sebuah hadis yang panjang.

وَذَكَرَ مُوسَى بۡنُ عُقۡبَةَ، عَنۡ شِهَابٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ يُشَبِّهُ دِحۡيَةَ الۡكَلۡبِيَّ بِجِبۡرِيۡلَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ.

Musa bin ‘Uqbah menyebutkan dari Ibnu Syihab, ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu sering menyerupakan Dihyah Al-Kalbi dengan Malaikat Jibril—‘alaihis-salam.

Al-Isti'ab - 1792. 'Utsman Abu Quhafah bin 'Amir

١٧٩٢ - [عُثۡمَانُ بۡنُ عَامِرٍ]:
1792. ‘Utsman bin ‘Amir


عُثۡمَانُ بۡنُ عَامِرٍ، أَبُو قُحَافَةَ الۡقُرَشِيُّ التَّيۡمِيُّ، وَالِدُ أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، قَدۡ تَقَدَّمَ ذِكۡرُ نَسَبِهِ عِنۡدَ ذِكۡرِ ابۡنِهِ أَبِي بَكۡرٍ. أَسۡلَمَ أَبُو قُحَافَةَ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ،

‘Utsman bin ‘Amir Abu Quhafah Al-Qurasyi At-Taimi, ayah dari Abu Bakr Ash-Shiddiq—semoga Allah meridai keduanya—. Penjelasan mengenai silsilah nasabnya telah disebutkan sebelumnya pada bagian pembahasan tentang anaknya, Abu Bakr. Abu Quhafah masuk Islam pada hari penaklukan Makkah.

حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡوَارِثِ، حَدَّثَنِي قَاسِمٌ، حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ إِسۡحَاقَ ابۡنُ مِهۡرَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ يَحۡيَى، حَدَّثَنَا أَبُو خَيۡثَمَةَ زُهَيۡرُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرٍ، قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ عَامَ الۡفَتۡحِ لِيُبَايِعَ وَرَأۡسُهُ وَلِحۡيَتُهُ كَأَنَّهَا ثَغَامَةٌ - يَعۡنِي شَجَرَةً - فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غَيِّرُوا هٰذَا بِشَيۡءٍ وَجَنِّبُوهُ السَّوَادَ).

‘Abdul Warits telah menceritakan kepadaku: Qasim menceritakan kepadaku: Ibrahim bin Ishaq bin Mihran menceritakan kepada kami: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami: Abu Khaitsamah Zuhair bin Mu‘awiyah menceritakan kepada kami dari Abu Az-Zubair, dari Jabir. Ia berkata: Abu Quhafah dibawa menemui Nabi Muhammad pada tahun penaklukan Makkah untuk berbaiat, sementara rambut dan janggutnya putih memutih bagaikan pohon tsaghamah—maksudnya nama sejenis pohon (yang buah dan bunganya berwarna putih)—. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ubahlah (warna uban) ini dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam.”

وَقَالَ قَتَادَةُ: هُوَ أَوَّلُ مَخۡضُوبٍ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَعَاشَ أَبُو قُحَافَةَ إِلَى خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَمَاتَ سَنَةَ أَرۡبَعَ عَشۡرَةَ وَهُوَ ابۡنُ سَبۡعٍ وَسَبۡعِينَ سَنَةً، وَكَانَ وَفَاةُ ابۡنِهِ قَبۡلَهُ، فَوَرِثَ مِنۡهُ السُّدُسَ، فَرَدَّهُ عَلَى وَلَدِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Qatadah berkata: Beliau adalah orang pertama yang rambutnya disemir dalam Islam. Abu Quhafah hidup hingga masa kekhalifahan ‘Umar—semoga Allah meridainya—, dan beliau wafat pada tahun 14 Hijriah dalam usia 97 tahun. Kematian anaknya (Abu Bakr) terjadi mendahuluinya, sehingga beliau sempat menerima warisan seperenam bagian dari harta anaknya tersebut, lalu beliau mengembalikan warisan itu untuk diberikan kepada anak-anak Abu Bakr—semoga Allah meridainya—.

Sunan Abu Dawud hadis nomor 4204

٤٢٠٤ - (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ السَّرۡحِ وَأَحۡمَدُ بۡنُ سَعِيدٍ الۡهَمۡدَانِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، أَخۡبَرَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ وَرَأۡسُهُ وَلِحۡيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غَيِّرُوا هٰذَا بِشَيۡءٍ، وَاجۡتَنِبُوا السَّوَادَ). [م].

4204. [Sahih] Ahmad bin ‘Amr bin As-Sarh dan Ahmad bin Sa’id Al-Hamdani telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin ‘Abdullah. Ia berkata: Abu Quhafah didatangkan pada hari penaklukan kota Makkah, sementara rambut kepala dan jenggotnya bagaikan pohon ats-tsagamah putihnya. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ubahlah ini dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 3499

٣٤٩٩ - (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَى الثَّقَفِيُّ الۡمَرۡوَزِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ غِيَاثٍ، عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ سَابِطٍ، عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَيُّ الدُّعَاءِ أَسۡمَعُ؟ قَالَ: (جَوۡفُ اللَّيۡلِ الۡآخِرُ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الۡمَكۡتُوبَاتِ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. وَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ أَبِي ذَرٍّ، وَابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (جَوۡفُ اللَّيۡلِ الۡآخِرُ الدُّعَاءُ فِيهِ أَفۡضَلُ أَوۡ أَرۡجَى) أَوۡ نَحۡوَ هٰذَا. [(التعليق الرغيب)(٢/٢٧٦)، (الكلم الطيب)(١١٣/٧٠ - التحقيق الثاني)].

3499. [Hasan] Muhammad bin Yahya Ats-Tsaqafi Al-Marwazi telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hafsh bin Ghiyats menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari ‘Abdurrahman bin Sabith, dari Abu Umamah. Dia berkata:

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, doa apakah yang paling didengar?”

Beliau menjawab, “(Doa di) paruh akhir malam dan di penghujung salat-salat fardu.”

Ini adalah hadis hasan. Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Dzarr dan Ibnu ‘Umar, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Paruh akhir malam, doa di dalamnya lebih utama atau lebih diharapkan (untuk dikabulkan),” atau yang semisal ini.

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 3573

٣٥٧٣ - (حسن صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ، عَنِ ابۡنِ ثَوۡبَانَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ مَكۡحُولٍ، عَنۡ جُبَيۡرِ بۡنِ نُفَيۡرٍ، أَنَّ عُبَادَةَ بۡنَ الصَّامِتِ حَدَّثَهُمۡ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَا عَلَى الۡأَرۡضِ مُسۡلِمٌ يَدۡعُو اللهَ تَعَالَى بِدَعۡوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا أَوۡ صَرَفَ عَنۡهُ مِنَ السُّوءِ مِثۡلَهَا مَا لَمۡ يَدۡعُ بِإِثۡمٍ أَوۡ قَطِيعَةِ رَحِمٍ)، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: إِذًا نُكۡثِرَ، قَالَ: (اللهُ أَكۡثَرُ). وَهٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنۡ هٰذَا الۡوَجۡهِ. وَابۡنُ ثَوۡبَانَ هُوَ: عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ ثَابِتِ بۡنِ ثَوۡبَانَ الۡعَابِدُ الشَّامِيُّ. [(التعليق الرغيب)(٢/٢٧١-٢٧٢)].

3573. [Hasan sahih] ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Yusuf mengabarkan kepada kami dari Ibnu Tsauban, dari ayahnya, dari Makhul, dari Jubair bin Nufair, bahwa ‘Ubadah bin Ash-Shamit menceritakan kepada mereka:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak ada di muka bumi ini seorang muslim yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, melainkan Allah akan mengabulkan doa itu kepadanya atau menghindarkan darinya keburukan yang sepadan dengannya, selama dia tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutuskan tali silaturahmi.”

Maka seorang laki-laki dari suatu kaum berkata, “Kalau begitu, kita memperbanyak (doa).”

Rasulullah bersabda, “Allah (pemberian-Nya) lebih banyak.”

Ini adalah hadis hasan sahih garib dari jalur ini dan Ibnu Tsauban adalah ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, seorang ahli ibadah dari Syam.

Sunan An-Nasa`i hadis nomor 5076

٥٠٧٦ - (صحيح) أَخۡبَرَنَا يُونُسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡأَعۡلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ جُرَيۡجٍ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ جَابِرٍ، قَالَ: أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ - يَوۡمَ فَتۡحِ مَكَّةَ - وَرَأۡسُهُ وَلِحۡيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (غَيِّرُوا هٰذَا بِشَيۡءٍ، وَاجۡتَنِبُوا السَّوَادَ). [(ابن ماجه)(٣٦٢٤)، م، (الصحيحة)(٤٩٦)].

5076. [Sahih] Yunus bin ‘Abdul A’la telah mengabarkan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku dari Abu Az-Zubair, dari Jabir. Ia berkata: Abu Quhafah didatangkan pada hari penaklukan kota Makkah, sementara rambut kepala dan jenggotnya bagaikan pohon ats-tsagamah putihnya. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ubahlah ini dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2242 dan 2243

٢٢٤٢، ٢٢٤٣ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي الۡمُجَالِدِ. ح. وَحَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي الۡمُجَالِدِ. حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي مُحَمَّدٌ، أَوۡ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَبِي الۡمُجَالِدِ، قَالَ: اخۡتَلَفَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شَدَّادِ بۡنِ الۡهَادِ وَأَبُو بُرۡدَةَ فِي السَّلَفِ، فَبَعَثُونِي إِلَى ابۡنِ أَبِي أَوۡفَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ فَسَأَلۡتُهُ، فَقَالَ: إِنَّا كُنَّا نُسۡلِفُ عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَأَبِي بَكۡرٍ وَعُمَرَ: فِي الۡحِنۡطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالزَّبِيبِ وَالتَّمۡرِ. وَسَأَلۡتُ ابۡنَ أَبۡزَى، فَقَالَ مِثۡلَ ذٰلِكَ.

[الحديث ٢٢٤٢ - طرفاه في: ٢٢٤٤، ٢٢٥٥]. [الحديث ٢٢٤٣ - طرفاه في: ٢٢٤٥، ٢٢٥٤].

2242, 2243. Abu Al-Walid telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Al-Mujalid. Yahya telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Syu’bah, dari Muhammad bin Abu Al-Mujalid. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Muhammad atau ‘Abdullah bin Abu Al-Mujalid mengabarkan kepadaku. Ia berkata:

‘Abdullah bin Syaddad bin Al-Had dan Abu Burdah berselisih pendapat mengenai pemesanan, lalu mereka mengutusku kepada Ibnu Abu Aufa—radhiyallahu ‘anhu—, maka aku pun bertanya kepadanya. Lalu ia berkata: Sesungguhnya kami dahulu biasa melakukan pemesanan pada masa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, Abu Bakr, dan ‘Umar, untuk komoditas gandum, jelai, kismis, dan kurma.

Dan aku juga bertanya kepada Ibnu Abza lalu ia mengatakan hal yang serupa dengan itu.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2240 dan 2241

٢ - بَابُ السَّلَمِ فِي وَزۡنٍ مَعۡلُومٍ
2. Bab Pemesanan dengan Timbangan yang Jelas


٢٢٤٠ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي الۡمِنۡهَالِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمَدِينَةَ وَهُمۡ يُسۡلِفُونَ بِالتَّمۡرِ السَّنَتَيۡنِ وَالثَّلَاثَ، فَقَالَ: (مَنۡ أَسۡلَفَ فِي شَيۡءٍ فَفِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعۡلُومٍ). [طرفه في: ٢٢٣٩].

2240. Shadaqah telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepada kami: Ibnu Abu Najih mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin Katsir, dari Abu Al-Minhal, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, sementara mereka biasa melakukan pemesanan buah kurma untuk jangka waktu dua tahun atau tiga tahun. Maka beliau bersabda, “Barang siapa yang melakukan pemesanan untuk sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan hingga jangka waktu yang jelas.”

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ أَبِي نَجِيحٍ، وَقَالَ: (فَلۡيُسۡلِفۡ فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعۡلُومٍ).

‘Ali telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Abu Najih menceritakan kepadaku dan ia berkata: “maka hendaklah ia memesannya dengan takaran yang jelas hingga jangka waktu yang jelas.”

٢٢٤١ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي الۡمِنۡهَالِ قَالَ: سَمِعۡتُ ابۡنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ... وَقَالَ: (فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعۡلُومٍ).

2241. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Najih, dari ‘Abdullah bin Katsir, dari Abu Al-Minhal. Ia berkata: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba (di Madinah) … lalu beliau bersabda, “dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, hingga jangka waktu yang jelas.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6250

١٧ - بَابٌ إِذَا قَالَ: مَنۡ ذَا؟ فَقَالَ أَنَا
17. Bab Apabila Seseorang Bertanya, “Siapa itu?”, Lalu Orang di Luar Menjawab, “Aku”


٦٢٥٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡوَلِيدِ هِشَامُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡكَدِرِ قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ يَقُولُ: أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي دَيۡنٍ كَانَ عَلَى أَبِي، فَدَقَقۡتُ الۡبَابَ، فَقَالَ: (مَنۡ ذَا؟). فَقُلۡتُ: أَنَا، فَقَالَ: (أَنَا أَنَا!) كَأَنَّهُ كَرِهَهَا. [طرفه في: ٢١٢٧].

6250. Abu Al-Walid Hisyam bin ‘Abdul Malik telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Al-Munkadir. Ia berkata: Aku mendengar Jabir—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—untuk urusan utang yang ditanggung oleh ayahku, lalu aku mengetuk pintu, maka beliau bertanya, “Siapa itu?”

Aku menjawab, “Aku.”

Maka beliau berkata, “Aku, aku!” seakan-akan beliau membencinya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4053

٤٠٥٣ - حَدَّثَنِي أَحۡمَدُ بۡنُ أَبِي سُرَيۡجٍ: أَخۡبَرَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ، عَنۡ فِرَاسٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي جَابِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ أَبَاهُ اسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ أُحُدٍ، وَتَرَكَ عَلَيۡهِ دَيۡنًا، وَتَرَكَ سِتَّ بَنَاتٍ، فَلَمَّا حَضَرَ جِذَاذُ النَّخۡلِ قَالَ: أَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: قَدۡ عَلِمۡتَ أَنَّ وَالِدِي قَدِ اسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ أُحُدٍ وَتَرَكَ دَيۡنًا كَثِيرًا، وَإِنِّي أُحِبُّ أَنۡ يَرَاكَ الۡغُرَمَاءُ، فَقَالَ: (اذۡهَبۡ فَبَيۡدِرۡ كُلَّ تَمۡرٍ عَلَى نَاحِيَةٍ). فَفَعَلۡتُ ثُمَّ دَعَوۡتُهُ، فَلَمَّا نَظَرُوا إِلَيۡهِ كَأَنَّهُمۡ أُغۡرُوا بِي تِلۡكَ السَّاعَةَ، فَلَمَّا رَأَى مَا يَصۡنَعُونَ أَطَافَ حَوۡلَ أَعۡظَمِهَا بَيۡدَرًا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ جَلَسَ عَلَيۡهِ، ثُمَّ قَالَ: (ادۡعُ لَكَ أَصۡحَابَكَ). فَمَا زَالَ يَكِيلُ لَهُمۡ حَتَّى أَدَّى اللهُ عَنۡ وَالِدِي أَمَانَتَهُ، وَأَنَا أَرۡضَى أَنۡ يُؤَدِّيَ اللهُ أَمَانَةَ وَالِدِي وَلَا أَرۡجِعَ إِلَى أَخَوَاتِي بِتَمۡرَةٍ، فَسَلَّمَ اللهُ الۡبَيَادِرَ كُلَّهَا، حَتَّى إِنِّي أَنۡظُرُ إِلَى الۡبَيۡدَرِ الَّذِي كَانَ عَلَيۡهِ النَّبِيُّ ﷺ كَأَنَّهَا لَمۡ تَنۡقُصۡ تَمۡرَةً وَاحِدَةً. [طرفه في: ٢١٢٧].

4053. Ahmad bin Abu Suraij telah menceritakan kepadaku: ‘Ubaidullah bin Musa mengabarkan kepada kami: Syaiban menceritakan kepada kami dari Firas, dari Asy-Sya’bi. Ia berkata: Jabir bin ‘Abdullahradhiyallahu ‘anhuma—menceritakan kepadaku: Bahwa ayahnya gugur syahid pada hari perang Uhud, dan ia meninggalkan kewajiban utang serta meninggalkan enam anak perempuan. Maka ketika waktu memanen buah kurma telah tiba, ia berkata:

Aku mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku berkata, “Sungguh engkau telah mengetahui bahwa ayahku telah gugur syahid pada hari perang Uhud dan ia meninggalkan kewajiban utang yang banyak, dan sesungguhnya aku senang apabila para pemilik piutang itu melihatmu.”

Beliau berkata, “Pergilah lalu kumpulkanlah setiap jenis kurma di tempat penjemurannya masing-masing.”

Maka aku pun melakukannya, kemudian aku memanggil beliau. Ketika mereka (para pemilik piutang) melihat hal itu, seolah-olah mereka mendesakku dengan gencar pada saat itu juga. Maka ketika Nabi melihat apa yang mereka lakukan, beliau berkeliling mengitari tumpukan kurma yang paling besar sebanyak tiga kali, kemudian beliau duduk di atas tumpukan tersebut, lalu beliau berkata, “Panggillah para pemilik piutangmu untukmu!”

Maka beliau senantiasa menakar kurma untuk mereka hingga Allah menunaikan amanat utang dari ayahku. Aku sungguh rida seandainya Allah menunaikan amanat utang ayahku meskipun aku tidak membawa pulang sebutir kurma pun kepada saudara-saudara perempuanku. Namun Allah mengutuhkan seluruh tumpukan kurma di tempat penjemuran itu, hingga sungguh aku melihat ke arah tumpukan kurma yang di atasnya ada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, seolah-olah tumpukan itu tidak berkurang sebutir kurma pun.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3580

٣٥٨٠ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَامِرٌ قَالَ: حَدَّثَنِي جَابِرٌ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، أَنَّ أَبَاهُ تُوُفِّيَ وَعَلَيۡهِ دَيۡنٌ، فَأَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلۡتُ: إِنَّ أَبِي تَرَكَ عَلَيۡهِ دَيۡنًا، وَلَيۡسَ عِنۡدِي إِلَّا مَا يُخۡرِجُ نَخۡلُهُ، وَلَا يَبۡلُغُ مَا يُخۡرِجُ سِنِينَ مَا عَلَيۡهِ، فَانۡطَلِقۡ مَعِي لِكَيۡ لَا يُفۡحِشَ عَلَيَّ الۡغُرَمَاءُ، فَمَشَى حَوۡلَ بَيۡدَرٍ مِنۡ بَيَادِرِ التَّمۡرِ فَدَعَا، ثَمَّ آخَرَ، ثُمَّ جَلَسَ عَلَيۡهِ، فَقَالَ: (انۡزِعُوهُ)، فَأَوۡفَاهُمُ الَّذِي لَهُمۡ، وَبَقِيَ مِثۡلُ مَا أَعۡطَاهُمۡ. [طرفه في: ٢١٢٧].

3580. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Zakariya menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Amir menceritakan kepadaku. Ia berkata: Jabir—radhiyallahu ‘anhu—menceritakan kepadaku:

Ayahnya wafat dan meninggalkan kewajiban utang. Lalu aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan berkata, “Sesungguhnya ayahku meninggalkan kewajiban utang, dan aku tidak memiliki apa pun kecuali apa yang dihasilkan oleh pohon-pohon kurmanya, padahal apa yang dihasilkannya selama beberapa tahun pun tidak akan dapat melunasi utang yang ditanggungnya. Oleh karena itu, pergilah bersamaku agar para pemilik piutang tidak memperlakukanku dengan kasar.”

Maka Nabi berjalan mengitari salah satu tumpukan dari tumpukan-tumpukan kurma yang ada lalu beliau mendoakannya, kemudian beliau mendatangi tumpukan yang lain (dan melakukan hal yang sama), setelah itu beliau duduk di atas tumpukan tersebut dan berkata, “Ambil dan takarlah untuk mereka!”

Maka beliau melunasi hak yang menjadi milik mereka secara utuh, dan kurma tersebut masih tersisa sebanyak yang telah beliau berikan kepada mereka.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2781

٣٧ - بَابُ قَضَاءِ الۡوَصِيِّ دُيُونَ الۡمَيِّتِ بِغَيۡرِ مَحۡضَرٍ مِنَ الۡوَرَثَةِ
37. Bab Pelunasan Utang-Utang Mayit yang Dilakukan oleh Penerima Wasiat Tanpa Kehadiran Para Ahli Waris


٢٧٨١ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ سَابِقٍ - أَوِ الۡفَضۡلُ بۡنُ يَعۡقُوبَ عَنۡهُ -: حَدَّثَنَا شَيۡبَانُ أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنۡ فِرَاسٍ قَالَ: قَالَ الشَّعۡبِيُّ: حَدَّثَنِي جَابِرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ أَبَاهُ اسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ أُحُدٍ، وَتَرَكَ سِتَّ بَنَاتٍ، وَتَرَكَ عَلَيۡهِ دَيۡنًا، فَلَمَّا حَضَرَ جِدَادُ النَّخۡلِ، أَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدۡ عَلِمۡتَ أَنَّ وَالِدِي اسۡتُشۡهِدَ يَوۡمَ أُحُدٍ، وَتَرَكَ عَلَيۡهِ دَيۡنًا كَثِيرًا، وَإِنِّي أُحِبُّ أَنۡ يَرَاكَ الۡغُرَمَاءُ، قَالَ: (اذۡهَبۡ فَبَيۡدِرۡ كُلَّ تَمۡرٍ عَلَى نَاحِيَتِهِ). فَفَعَلۡتُ، ثُمَّ دَعَوۡتُ، فَلَمَّا نَظَرُوا إِلَيۡهِ أُغۡرُوا بِي تِلۡكَ السَّاعَةَ، فَلَمَّا رَأَى مَا يَصۡنَعُونَ أَطَافَ حَوۡلَ أَعۡظَمِهَا بَيۡدَرًا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ جَلَسَ عَلَيۡهِ، ثُمَّ قَالَ: (ادۡعُ أَصۡحَابَكَ). فَمَا زَالَ يَكِيلُ لَهُمۡ حَتَّى أَدَّى اللهُ أَمَانَةَ وَالِدِي، وَأَنَا وَاللهِ رَاضٍ أَنۡ يُؤَدِّيَ اللهُ أَمَانَةَ وَالِدِي، وَلَا أَرۡجِعَ إِلَى أَخَوَاتِي بِتَمۡرَةٍ، فَسَلِمَ وَاللهِ الۡبَيَادِرُ كُلُّهَا، حَتَّى أَنِّي أَنۡظُرُ إِلَى الۡبَيۡدَرِ الَّذِي عَلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ كَأَنَّهُ لَمۡ يَنۡقُصۡ تَمۡرَةً وَاحِدَةً. [طرفه في: ٢١٢٧].

2781. Muhammad bin Sabiq telah menceritakan kepada kami—atau Al-Fadhl bin Ya’qub telah menceritakan dari Muhammad bin Sabiq—: Syaiban Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Firas. Ia berkata: Asy-Sya’bi berkata: Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshariradhiyallahu ‘anhuma—menceritakan kepadaku:

Ayahnya gugur syahid pada hari perang Uhud, dan ia meninggalkan enam anak perempuan serta meninggalkan kewajiban utang. Maka ketika waktu memanen buah kurma telah tiba, aku mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah mengetahui bahwa ayahku telah gugur syahid pada hari perang Uhud, dan ia meninggalkan kewajiban utang yang banyak, dan sesungguhnya aku senang apabila para pemilik piutang itu melihatmu.”

Beliau berkata, “Pergilah lalu kumpulkanlah setiap jenis kurma di tempat penjemurannya masing-masing.”

Maka aku pun melakukannya, kemudian aku memanggil beliau. Ketika mereka (para pemilik piutang) melihat hal itu, mereka mendesakku dengan gencar pada saat itu juga. Maka ketika Nabi melihat apa yang mereka lakukan, beliau berkeliling mengitari tumpukan kurma yang paling besar sebanyak tiga kali, kemudian beliau duduk di atas tumpukan tersebut, lalu beliau berkata, “Panggillah para pemilik piutangmu!”

Maka beliau senantiasa menakar kurma untuk mereka hingga Allah menunaikan amanat utang ayahku. Dan aku, demi Allah, sungguh telah rida seandainya Allah menunaikan amanat utang ayahku meskipun aku tidak membawa pulang sebutir kurma pun kepada saudara-saudara perempuanku. Namun, demi Allah, seluruh tumpukan kurma di tempat penjemuran itu utuh, hingga sungguh aku melihat ke arah tumpukan kurma yang di atasnya ada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, seolah-olah tumpukan itu tidak berkurang sebutir kurma pun.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2239

١ - بَابُ السَّلَمِ فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ
1. Bab Pemesanan dengan Takaran yang Jelas


٢٢٣٩ - حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ زُرَارَةَ: أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ ابۡنُ عُلَيَّةَ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ أَبِي الۡمِنۡهَالِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ، وَالنَّاسُ يُسۡلِفُونَ فِي الثَّمَرِ الۡعَامَ وَالۡعَامَيۡنِ، أَوۡ قَالَ: عَامَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثَةً، شَكَّ إِسۡمَاعِيلُ، فَقَالَ: (مَنۡ سَلَّفَ فِي تَمۡرٍ، فَلۡيُسۡلِفۡ فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ).

2239. ‘Amr bin Zurarah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin ‘Ulayyah mengabarkan kepada kami: Ibnu Abu Najih mengabarkan kepada kami dari ‘Abdullah bin Katsir, dari Abu Al-Minhal, dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, sementara masyarakat biasa melakukan pemesanan buah kurma untuk jangka waktu satu tahun atau dua tahun—atau ia berkata: dua tahun atau tiga tahun. Isma’il ragu dalam hal ini—. Maka beliau bersabda, “Barang siapa yang melakukan pemesanan buah kurma, hendaklah ia memesannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas.”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: أَخۡبَرَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ بِهٰذَا: (فِي كَيۡلٍ مَعۡلُومٍ، وَوَزۡنٍ مَعۡلُومٍ). [الحديث ٢٢٣٩ - أطرافه في: ٢٢٤٠، ٢٢٤١، ٢٢٥٣].

Muhammad telah menceritakan kepada kami: Isma’il mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abu Najih, dengan redaksi seperti ini: “dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2709

١٣ - بَابُ الصُّلۡحِ بَيۡنَ الۡغُرَمَاءِ وَأَصۡحَابِ الۡمِيرَاثِ وَالۡمُجَازَفَةِ فِي ذٰلِكَ
13. Bab Perdamaian di Antara Para Pemilik Piutang dan Ahli Waris, serta Penggunaan Taksiran Kasar dalam Urusan Tersebut


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يَتَخَارَجَ الشَّرِيكَانِ، فَيَأۡخُذَ هٰذَا دَيۡنًا، وَهٰذَا عَيۡنًا، فَإِنۡ تَوِيَ لِأَحَدِهِمَا لَمۡ يَرۡجِعۡ عَلَى صَاحِبِهِ.

Ibnu ‘Abbas berkata: Tidak mengapa apabila dua orang yang berserikat melakukan takharuj (penyelesaian pembagian aset), di mana yang satu mengambil bagian piutang sedangkan yang lain mengambil bagian aset tunai. Kemudian jika aset milik salah seorang dari keduanya ada yang rusak atau rugi, maka ia tidak boleh menuntut kembali kepada temannya.

٢٧٠٩ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ، عَنۡ وَهۡبِ بۡنِ كَيۡسَانَ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: تُوُفِّيَ أَبِي وَعَلَيۡهِ دَيۡنٌ، فَعَرَضۡتُ عَلَى غُرَمَائِهِ أَنۡ يَأۡخُذُوا التَّمۡرَ بِمَا عَلَيۡهِ فَأَبَوۡا، وَلَمۡ يَرَوۡا أَنَّ فِيهِ وَفَاءً، فَأَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ، فَقَالَ: (إِذَا جَدَدۡتَهُ فَوَضَعۡتَهُ فِي الۡمِرۡبَدِ آذَنۡتَ رَسُولَ اللهِ ﷺ). فَجَاءَ وَمَعَهُ أَبُو بَكۡرٍ وَعُمَرُ، فَجَلَسَ عَلَيۡهِ وَدَعَا بِالۡبَرَكَةِ، ثُمَّ قَالَ: (ادۡعُ غُرَمَاءَكَ فَأَوۡفِهِمۡ). فَمَا تَرَكۡتُ أَحَدًا لَهُ عَلَى أَبِي دَيۡنٌ إِلَّا قَضَيۡتُهُ، وَفَضَلَ ثَلَاثَةَ عَشَرَ وَسۡقًا: سَبۡعَةٌ عَجۡوَةٌ وَسِتَّةٌ لَوۡنٌ، أَوۡ سِتَّةٌ عَجۡوَةٌ وَسَبۡعَةٌ لَوۡنٌ، فَوَافَيۡتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡمَغۡرِبَ، فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لَهُ فَضَحِكَ، فَقَالَ: (ائۡتِ أَبَا بَكۡرٍ وَعُمَرَ فَأَخۡبِرۡهُمَا). فَقَالَا: لَقَدۡ عَلِمۡنَا إِذۡ صَنَعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا صَنَعَ أَنۡ سَيَكُونُ ذٰلِكَ. وَقَالَ هِشَامٌ، عَنۡ وَهۡبٍ، عَنۡ جَابِرٍ: صَلَاةَ الۡعَصۡرِ، وَلَمۡ يَذۡكُرۡ أَبَا بَكۡرٍ، وَلَا ضَحِكَ، وَقَالَ: وَتَرَكَ أَبِي عَلَيۡهِ ثَلَاثِينَ وَسۡقًا دَيۡنًا. وَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنۡ وَهۡبٍ، عَنۡ جَابِرٍ: صَلَاةَ الظُّهۡرِ. [طرفه في: ٢١٢٧].

2709. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: ‘Abdul Wahhab menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah menceritakan kepada kami dari Wahb bin Kaisan, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata:

Ayahku wafat dan meninggalkan kewajiban utang. Lalu aku menawarkan kepada para pemilik piutangnya agar mereka mau mengambil buah kurma sebagai ganti dari utang yang ditanggungnya, namun mereka menolak, karena mereka memandang bahwa buah kurma tersebut tidak akan mencukupi pelunasannya. Maka aku mendatangi Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau pun berkata, “Apabila kamu telah memanennya dan meletakkannya di tempat penjemuran kurma, maka beritahulah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Kemudian beliau datang bersama Abu Bakr dan ‘Umar, lalu beliau duduk di atas tumpukan kurma tersebut dan mendoakan keberkahan. Setelah itu, beliau berkata, “Panggillah para pemilik piutangmu, lalu penuhilah hak mereka secara utuh!”

Maka tidak seorang pun yang memiliki piutang atas ayahku melainkan aku telah melunasinya dan kurma tersebut masih tersisa sebanyak tiga belas wasak. Tujuh wasak jenis ajwa dan enam wasak jenis laun, atau enam wasak jenis ajwa dan tujuh wasak jenis laun. Lalu aku mendapati Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—saat salat Magrib, kemudian aku menceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau pun tersenyum dan berkata, “Datangilah Abu Bakr dan ‘Umar, lalu kabarkanlah kepada keduanya!”

Maka keduanya berkata, “Sungguh, kami telah mengetahui ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melakukan apa yang beliau lakukan, bahwa hal itu pasti akan terjadi.”

Hisyam berkata dari Wahb, dari Jabir: Salat Asar, dan ia tidak menyebutkan nama Abu Bakr serta tidak menyebutkan bahwa beliau tersenyum, dan ia berkata: “Dan ayahku meninggalkan kewajiban utang sebesar tiga puluh wasak.”

Ibnu Ishaq berkata dari Wahb, dari Jabir: Salat Zuhur.

Al-Isti'ab - 848. Zaid bin Haritsah

٨٤٨ - [زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ الۡكَلۡبِيُّ]:
848. Zaid bin Haritsah Al-Kalbi


زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شَرَاحِيلَ الۡكَلۡبِيُّ أَبُو أُسَامَةَ مَوۡلَىٰ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، هُوَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شَرَاحِيلَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّىٰ بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ عَبۡدِ وَدِّ [بۡنِ امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ عِمۡرَانَ بۡنِ عَبۡدِ عَوۡفِ بۡنِ عَوۡفِ] بۡنِ كِنَانَةَ بۡنِ بَكۡرِ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ عُذۡرَةَ بۡنِ زَيۡدِ اللَّاتِ بۡنِ رُفَيۡدَةَ بۡنِ ثَوۡرِ بۡنِ كَلۡبِ بۡنِ وَبۡرَةَ بۡنِ تَغۡلِبَ بۡنِ عِمۡرَانَ بۡنِ حُلۡوَانَ بۡنِ الۡحَافِ بۡنِ قُضَاعَةَ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ مُرَّةَ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ حِمۡيَرَ بۡنِ سَبَإِ بۡنِ يَشۡجُبَ بۡنِ يَعۡرُبَ بۡنِ قَحۡطَانَ، كَذَا نَسَبَهُ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ وَغَيۡرُهُ، وَرُبَّمَا اخۡتَلَفُوا فِي الۡأَسۡمَاءِ وَتَقۡدِيمِ بَعۡضِهَا عَلَىٰ بَعۡضٍ، وَزِيَادَةِ شَيۡءٍ فِيهَا.

Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi Abu Usamah, maula Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau adalah Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’b bin ‘Abdul ‘Uzza bin Imri-il Qais bin ‘Amir bin An-Nu’man bin ‘Amir bin ‘Abd Wadd [bin Imri-il Qais bin An-Nu’man bin ‘Imran bin ‘Abd ‘Auf bin ‘Auf] bin Kinanah bin Bakr bin ‘Auf bin ‘Udzrah bin Zaid Al-Lat bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabrah bin Taghlib bin ‘Imran bin Hulwan bin Al-Haf bin Qudha’ah bin Malik bin ‘Amr bin Murrah bin Malik bin Himyar bin Saba` bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Demikianlah Ibnu Al-Kalbi dan yang lainnya menasabkan beliau, dan terkadang mereka berbeda pendapat mengenai nama-namanya, mendahulukan sebagian nama atas yang lain, serta menambahkan sesuatu di dalamnya.

قَالَ ابۡنُ الۡكَلۡبِيِّ: وَأُمُّ زَيۡدٍ سُعۡدَىٰ بِنۡتُ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ عَبۡدِ عَامِرِ بۡنِ أَفۡلَتَ مِنۡ بَنِي مَعۡنٍ مِنۡ طَيِّءٍ.

Ibnu Al-Kalbi berkata: Ibu Zaid adalah Su’da binti Tsa’labah bin ‘Abd ‘Amir bin Aflat dari Bani Ma’n dari suku Thayyi`.

وَكَانَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ يَقُولُ: زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بۡنِ شُرَحۡبِيلَ، وَلَمۡ يُتَابَعۡ عَلَىٰ قَوۡلِهِ شُرَحۡبِيلَ، وَإِنَّمَا هُوَ شَرَاحِيلُ.

Ibnu Ishaq dahulu sering mengatakan, “Zaid bin Haritsah bin Syurahbil,” namun pendapatnya tentang nama Syurahbil ini tidak diikuti, karena yang benar adalah Syarahil.

كَانَ زَيۡدٌ هٰذَا قَدۡ أَصَابَهُ سِبَاءٌ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَاشۡتَرَاهُ حَكِيمُ بۡنُ حِزَامٍ فِي سُوقِ حُبَاشَةَ، وَهِيَ سُوقٌ بِنَاحِيَةِ مَكَّةَ كَانَ مَجۡمَعًا لِلۡعَرَبِ يَتَسَوَّقُونَ بِهَا فِي كُلِّ سَنَةٍ، اشۡتَرَاهُ حَكِيمٌ لِخَدِيجَةَ بِنۡتِ خُوَيۡلِدٍ، فَوَهَبَتۡهُ خَدِيجَةُ لِرَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، فَتَبَنَّاهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بِمَكَّةَ قَبۡلَ النُّبُوَّةِ، وَهُوَ ابۡنُ ثَمَانِ سِنِيۡنَ، وَكَانَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ أَكۡبَرَ مِنۡهُ بِعَشۡرِ سِنِينَ، وَقَدۡ قِيلَ بِعِشۡرِينَ سَنَةً، وَطَافَ بِهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ حِينَ تَبَنَّاهُ عَلَىٰ حَلَقِ قُرَيۡشٍ يَقُولُ: (هٰذَا ابۡنِي وَارِثًا وَمَوۡرُوثًا). يُشۡهِدُهُمۡ عَلَىٰ ذٰلِكَ، هٰذَا كُلُّهُ مَعۡنَىٰ قَوۡلِ مُصۡعَبٍ وَالزُّبَيۡرِ بۡنِ بَكَّارٍ وَابۡنِ الۡكَلۡبِيِّ وَغَيۡرِهِمۡ.

Zaid pernah tertawan pada masa jahiliah, lalu Hakim bin Hizam membelinya di pasar Hubasyah; yaitu sebuah pasar di sekitar Makkah yang menjadi tempat berkumpulnya orang Arab untuk berdagang setiap tahun. Hakim membelinya untuk Khadijah binti Khuwailid, kemudian Khadijah menghadiahkannya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengangkatnya sebagai anak di Makkah sebelum masa kenabian ketika Zaid berusia 8 tahun, sedangkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berusia 10 tahun lebih tua darinya, dan ada yang berpendapat berbeda 20 tahun. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membawanya berkeliling ke perkumpulan orang-orang Quraisy saat mengangkatnya sebagai anak seraya berkata, “Ini adalah anakku. Ia mewarisiku dan aku mewarisinya.” Beliau mempersaksikan mereka atas hal tersebut. Ini semua adalah makna dari perkataan Mush’ab, Az-Zubair bin Bakkar, Ibnu Al-Kalbi, dan selain mereka.

قَالَ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ عُمَرَ: مَا كُنَّا نَدۡعُو زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ إِلَّا زَيۡدَ بۡنَ مُحَمَّدٍ، حَتَّىٰ نَزَلَتۡ: ﴿اُدۡعُوهُمۡ لِآبائِهِمۡ﴾ [الأحزاب ٥].

‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Kami tidak pernah memanggil Zaid bin Haritsah melainkan dengan nama Zaid bin Muhammad, sampai turun ayat: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka.” (QS Al-Ahzab: 5).

ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ، عَنِ الۡمَدَائِنِيِّ، عَنِ ابۡنِ الۡكَلۡبِيِّ، عَنۡ جَمِيلِ بۡنِ يَزِيدَ الۡكَلۡبِيِّ، وَعَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ - وَقَوۡلُ جَمِيلٍ أَتَمُّ - قَالَ خَرَجَتۡ سُعۡدَىٰ بِنۡتُ ثَعۡلَبَةَ أُمُّ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ، وَهِيَ امۡرَأَةٌ مِنۡ بَنِي طَيِّءٍ تَزُورُ قَوۡمَهَا، وَزَيۡدٌ مَعَهَا؛ فَأَغَارَتۡ خَيۡلٌ لِبَنِي الۡقَيۡنِ بۡنِ جَسۡرٍ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ، فَمَرُّوا عَلَىٰ أَبۡيَاتِ مَعۡنٍ - رَهۡطِ أُمِّ زَيۡدٍ، فَاحۡتَمَلُوا زَيۡدًا وَهُوَ يَوۡمَئِذٍ غُلَامٌ يَفَعَةٌ، فَوَافَوۡا بِهِ سُوقَ عُكَاظٍ، فَعَرَضُوهُ لِلۡبَيۡعِ، فَاشۡتَرَاهُ مِنۡهُمۡ حَكِيمُ بۡنُ حِزَامِ بۡنِ خُوَيۡلِدٍ لِعَمَّتِهِ خَدِيجَةَ بِنۡتِ خُوَيۡلِدٍ بِأَرۡبَعِمِائَةِ دِرۡهَمٍ، فَلَمَّا تَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَهَبَتۡهُ لَهُ، فَقَبَضَهُ. وَقَالَ أَبُوهُ حَارِثَةُ بۡنُ شَرَاحِيلَ - حِينَ فَقَدَهُ: [الطويل]

بَكَيۡتُ عَلَىٰ زَيۡدٍ وَلَمۡ أَدۡرِ مَا فَعَلۡ أَحَيٌّ يُرَجَّىٰ أَمۡ أَتَىٰ دُونَهُ الۡأَجَلۡ
فَوَاللّٰهِ مَا أَدۡرِي وَإِنۡ كُنۡتُ سَائِلًا أَغَالَكَ سَهۡلُ الۡأَرۡضِ أَمۡ غَالَكَ الۡجَبَلۡ
فَيَا لَيۡتَ شِعۡرِي هَلۡ لَكَ الدَّهۡرَ رَجۡعَةٌ فَحَسۡبِي مِنَ الدُّنۡيَا رُجُوعُكَ لِي بَجَلۡ
تُذَكِّرُنِيۡهِ الشَّمۡسُ عِنۡدَ طُلُوعِهَا وَتُعۡرِضُ ذِكۡرَاهُ إِذَا قَارَبَ الطَّفَلۡ
وَإِنۡ هَبَّتِ الۡأَرۡوَاحُ هَيَّجۡنَ ذِكۡرَهُ فَيَا طُولَ مَا حُزۡنِي عَلَيۡهِ وَيَا وَجَلۡ
سَأُعۡمِلُ نَصَّ الۡعِيسِ فِي الۡأَرۡضِ جَاهِدًا وَلَا أَسۡأَمُ التَّطۡوَافَ أَوۡ تَسۡأَمُ الۡإِبِلۡ
حَيَاتِي أَوۡ تَأۡتِي عَلَيَّ مَنِيَّتِي وَكُلُّ امۡرِىءٍ فَانٍ وَإِنۡ نَمَّرَهُ الۡأَجَلۡ
سَأُوصِي بِهِ عَمۡرًا وَقَيۡسًا كِلَيۡهِمَا وَأُوصِي يَزِيدَ ثُمَّ مِنۡ بَعۡدِهِ جَبَلَ

Az-Zubair menyebutkan dari Al-Mada`ini, dari Ibnu Al-Kalbi, dari Jamil bin Yazid Al-Kalbi dan dari Abu Shalih, dari Ibnu ‘Abbas—dan perkataan Jamil lebih lengkap—. Ia berkata: Su’da binti Tsa’labah, ibu Zaid bin Haritsah yang merupakan seorang wanita dari Bani Thayyi`, pergi keluar untuk mengunjungi kaumnya dan Zaid ikut bersamanya. Lalu pasukan berkuda dari Bani Al-Qain bin Jasr melakukan penyerangan pada masa jahiliah, mereka melewati rumah-rumah Bani Ma’n—kerabat ibu Zaid—lalu mereka menawan Zaid yang pada hari itu masih seorang anak yang beranjak remaja. Mereka membawanya ke pasar ‘Ukazh lalu menawarkannya untuk dijual. Maka Hakim bin Hizam bin Khuwailid membelinya dari mereka untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid, seharga 400 dirham. Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menikahinya, Khadijah menghadiahkan Zaid kepada beliau, maka beliau pun menerimanya. Ayahnya, Haritsah bin Syarahil, melantunkan syair ketika kehilangan dirinya:

Aku menangisi Zaid dan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya ... Apakah ia masih hidup dan bisa diharapkan, ataukah ajal telah menjemputnya?
Demi Allah, aku tidak tahu meski aku terus bertanya ... Apakah engkau celaka di dataran landai ataukah engkau celaka di pegunungan
Wahai, andai aku tahu apakah ada waktu bagimu untuk kembali ... Cukuplah bagiku dari dunia ini kembalinya engkau kepadaku.
Matahari mengingatkanku padanya saat ia terbit ... Dan kenangan tentangnya hadir ketika senja mendekat.
Dan jika angin berembus, ia membangkitkan ingatan tentangnya ... Alangkah panjangnya kesedihanku atasnya dan alangkah besarnya rasa cemas ini.
Aku akan memacu unta-unta putih di bumi dengan sungguh-sungguh ... Aku tidak akan bosan berkeliling atau unta-unta itu yang akan bosan.
Sepanjang hidupku atau hingga kematian mendatangiku ... Dan setiap orang pasti fana meskipun ajal memperpanjang umurnya.
Aku akan mewasiatkan urusannya kepada ‘Amr dan Qais keduanya ... Dan aku wasiatkan kepada Yazid, kemudian setelahnya kepada Jabal.

يَعۡنِي جَبَلَةَ بۡنَ حَارِثَةَ أَخَا زَيۡدٍ، وَكَانَ أَكۡبَرَ مِنۡ زَيۡدٍ، وَيَعۡنِي يَزِيدَ أَخَا زَيۡدٍ لِأُمِّهِ، وَهُوَ يَزِيدُ بۡنُ كَعۡبِ بۡنِ شَرَاحِيلَ. فَحَجَّ نَاسٌ مِنۡ كَلۡبٍ، فَرَأَوۡا زَيۡدًا فَعَرَفَهُمۡ وَعَرَفُوهُ، فَقَالَ لَهُمۡ: أَبۡلِغُوا عَنِّي أَهۡلِي هٰذِهِ الۡأَبۡيَاتَ، فَإِنِّي أَعۡلَمُ أَنَّهُمۡ قَدۡ جَزِعُوا عَلَيَّ فَقَالَ: [الطويل]

أَحِنُّ إِلَىٰ قَوۡمِي وَإِنۡ كُنۡتُ نَائِيًا فَإِنِّي قَعِيدُ الۡبَيۡتِ عِنۡدَ الۡمَشَاعِرِ
فَكَفُّوا مِنَ الۡوَجۡدِ الَّذِي قَدۡ شَجَاكُمۡ وَلَا تُعۡمِلُوا فِي الۡأَرۡضِ نَصَّ الۡأَبَاعِرِ
فَإِنِّي بِحَمۡدِ اللّٰهِ فِي خَيۡرِ أُسۡرَةٍ كِرَامِ مَعَدٍّ كَابِرًا بَعۡدَ كَابِرِ

Yang dimaksud adalah Jabalah bin Haritsah, saudara laki-laki Zaid, dan ia lebih tua dari Zaid. Dan yang dimaksud Yazid adalah saudara laki-laki Zaid seibu, yaitu Yazid bin Ka’b bin Syarahil. Kemudian beberapa orang dari suku Kalb menunaikan haji, lalu mereka melihat Zaid. Zaid mengenali mereka dan mereka pun mengenalinya. Zaid berkata kepada mereka, “Sampaikanlah bait-bait syair ini dari diriku kepada keluargaku, karena aku tahu mereka sangat bersedih atasku,” lalu ia melantunkan:

Aku rindu kepada kaumku walaupun aku berada di tempat yang jauh ... karena sesungguhnya aku tinggal menetap di Baitullah di dekat tempat-tempat syiar suci.
Maka hentikanlah duka mendalam yang telah menyedihkan kalian ... dan janganlah kalian memacu unta-unta dengan payah di muka bumi.
Karena sesungguhnya aku—dengan memuji Allah—berada dalam naungan keluarga terbaik ... Orang-orang mulia dari keturunan Ma’ad, dari generasi mulia ke generasi mulia.

فَانۡطَلَقَ الۡكَلۡبِيُّونَ، فَأَعۡلَمُوا أَبَاهُ فَقَالَ: ابۡنِي وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، وَوَصَفُوا لَهُ مَوۡضِعَهُ، وَعِنۡدَ مَنۡ هُوَ. فَخَرَجَ حَارِثَةُ وَكَعۡبٌ ابۡنَا شَرَاحِيۡلَ لِفِدَائِهِ، وَقَدِمَا مَكَّةَ فَسَأَلَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَقِيۡلَ: هُوَ فِي الۡمَسۡجِدِ، فَدَخَلَا عَلَيۡهِ؛ فَقَالَ: يَا بۡنَ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ، يَا بۡنَ هَاشِمٍ، يَا بۡنَ سَيِّدِ قَوۡمِهِ، أَنۡتُمۡ أَهۡلُ حَرَمِ اللّٰهِ وَجِيرَانُهُ، تَفُكُّونَ الۡعَانِيَ، وَتُطۡعِمُونَ الۡأَسِيرَ، جِئۡنَاكَ فِي ابۡنِنَا عِنۡدَكَ، فَامۡنُنۡ عَلَيۡنَا، وَأَحۡسِنۡ إِلَيۡنَا فِي فِدَائِهِ. قَالَ: (وَمَنۡ هُوَ)؟ قَالُوا: زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (فَهَلَّا غَيۡرَ ذٰلِكَ)! قَالُوا: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: (ادۡعُوهُ فَأُخَيِّرُهُ، فَإِنِ اخۡتَارَكُمۡ فَهُوَ لَكُمۡ، وَإِنِ اخۡتَارَنِي فَوَاللّٰهِ مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتَارُ عَلَىٰ مَنِ اخۡتَارَنِي أَحَدًا).

Maka orang-orang suku Kalb itu berangkat lalu memberi tahu ayahnya, maka ayahnya berkata, “Demi Rab pemilik Ka’bah, itu adalah anakku!” dan mereka menggambarkan kepadanya tempat kedudukan Zaid serta di sisi siapa ia berada.

Maka Haritsah dan Ka’b, keduanya putra Syarahil, keluar untuk menebusnya. Mereka berdua tiba di Makkah lalu menanyakan tentang Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, maka dikatakan kepada mereka, “Beliau berada di dalam masjid.”

Keduanya menemui beliau lalu berkata, ‘Wahai putra ‘Abdul Muththalib, wahai putra Hasyim, wahai putra pemimpin kaumnya! Kalian adalah ahli tanah haram Allah dan tetangga-tetangganya. Kalian biasa membebaskan orang yang kesulitan dan memberi makan tawanan. Kami datang kepadamu demi anak kami yang ada di sisimu, maka berikanlah kemurahan hati kepada kami dan berbuat baiklah kepada kami dalam tebusannya.”

Beliau bertanya, “Siapakah dia?”

Mereka menjawab, “Zaid bin Haritsah.”

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Mengapa tidak memilih jalan lain saja?”

Mereka bertanya, “Apa itu?”

Beliau berkata, “Panggillah dia, lalu aku akan memberinya pilihan. Jika ia memilih kalian maka ia menjadi milik kalian, namun jika ia memilihku, maka demi Allah, aku bukanlah orang yang akan memilih orang lain melebihi orang yang telah memilih diriku.”

قَالَا: قَدۡ زِدۡتَنَا عَلَى النِّصۡفِ، وَأَحۡسَنۡتَ، فَدَعَاهُ فَقَالَ: (هَلۡ تَعۡرِفُ هٰؤُلَاءِ)؟ قَالَ: نَعَمۡ. قَالَ: (مَنۡ هٰذَا)؟ قَالَ: هٰذَا أَبِي. وَهٰذَا عَمِّي. قَالَ: (فَأَنَا مَنۡ قَدۡ عَلِمۡتَ وَرَأَيۡتَ صُحۡبَتِي لَكَ، فَاخۡتَرۡنِي أَوِ اخۡتَرۡهُمَا). قَالَ زَيۡدٌ: مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتارُ عَلَيۡكَ أَحَدًا، أَنۡتَ مِنِّي مَكَانَ الۡأَبِ وَالۡعَمِّ. فَقَالَا: وَيۡحَكَ يَا زَيۡدُ! أَتَخۡتَارُ الۡعُبُودِيَّةَ عَلَى الۡحُرِّيَّةِ وَعَلَىٰ أَبِيكَ وَعَمِّكَ، وَعَلَىٰ أَهۡلِ بَيۡتِكَ! قَالَ: نَعَمۡ، قَدۡ رَأَيۡتُ مِنۡ هٰذَا الرَّجُلِ شَيۡئًا. مَا أَنَا بِالَّذِي أَخۡتَارُ عَلَيۡهِ أَحَدًا أَبَدًا. فَلَمَّا رَأَىٰ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ ذٰلِكَ أَخۡرَجَهُ إِلَى الۡحِجۡرِ، فَقَالَ: (يَا مَنۡ حَضَرَ. اشۡهَدُوا أَنَّ زَيۡدًا ابۡنِي يَرِثُنِي وَأَرِثَهُ). فَلَمَّا رَأَىٰ ذٰلِكَ أَبُوهُ وَعَمُّهُ طَابَتۡ نُفُوسُهُمَا فَانۡصَرَفَا. وَدُعِيَ زَيۡدُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، حَتَّىٰ جَاءَ الۡإِسۡلَامُ فَنَزَلَتۡ: ﴿اُدۡعُوهُمۡ لِآبائِهِمۡ﴾ [الأحزاب ٥]. فَدُعِيَ يَوۡمَئِذٍ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ، وَدُعِيَ الۡأَدۡعِيَاءُ إِلَىٰ آبَائِهِمۡ، فَدُعِيَ الۡمِقۡدَادُ بۡنُ عَمۡرٍو، وَكَانَ يُقَالُ لَهُ قَبۡلَ ذٰلِكَ الۡمِقۡدَادُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ، لِأَنَّ الۡأَسۡوَدَ بۡنَ عَبۡدِ يَغُوثَ كَانَ قَدۡ تَبَنَّاهُ.

Keduanya berkata, “Engkau telah memberikan lebih dari sekadar sikap adil kepada kami dan engkau telah berbuat baik.”

Beliau lalu memanggil Zaid dan bertanya, “Apakah engkau mengenali mereka ini?”

Zaid menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya, “Siapa ini?”

Zaid menjawab, “Ini ayahku dan ini pamanku.”

Beliau bersabda, “Dan aku adalah orang yang telah engkau ketahui dan engkau telah melihat kebersamaanku bersamamu, maka pilihlah aku atau pilihlah mereka berdua.”

Zaid berkata, “Aku bukanlah orang yang akan memilih siapa pun melebihi dirimu. Engkau bagiku menempati posisi ayah dan paman.”

Maka keduanya berkata, “Celaka engkau wahai Zaid! Apakah engkau memilih perbudakan daripada kebebasan, serta di atas ayahmu, pamanmu, dan anggota keluargamu?!”

Zaid menjawab, “Ya, aku telah melihat sesuatu dari laki-laki ini yang membuatku tidak akan pernah memilih siapa pun melebihi dirinya selama-lamanya.”

Tatkala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat hal itu, beliau membawanya keluar menuju Hijir Ismail lalu berkata, “Wahai orang-orang yang hadir, saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku. Ia mewarisiku dan aku mewarisinya.”

Ketika ayah dan pamannya melihat hal itu, jiwa mereka menjadi tenang lalu keduanya pulang. Maka ia dipanggil Zaid bin Muhammad, hingga datanglah Islam lalu turun ayat: “Panggilah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka.” (QS Al-Ahzab: 5).

Maka sejak hari itu ia dipanggil Zaid bin Haritsah dan anak-anak angkat dikembalikan panggilannya kepada ayah-ayah mereka. Al-Miqdad bin ‘Amr dipanggil demikian, yang mana sebelum itu ia dipanggil Al-Miqdad bin Al-Aswad karena Al-Aswad bin ‘Abd Yaghuts telah mengangkatnya sebagai anak.

وَذَكَرَ مَعۡمَرٌ فِي جَامِعِهِ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: مَا عَلِمۡنَا أَحَدًا أَسۡلَمَ قَبۡلَ زَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ. قَالَ عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: وَمَا أَعۡلَمُ أَحَدًا ذَكَرَهُ غَيۡرُ الزُّهۡرِيِّ.

Ma’mar menyebutkan dalam kitab Jami’-nya, dari Az-Zuhri. Ia berkata, “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang masuk Islam sebelum Zaid bin Haritsah.”

‘Abdurrazzaq berkata, “Dan aku tidak mengetahui ada orang lain yang menyebutkan hal itu selain Az-Zuhri.”

قَالَ أَبُو عُمَرَ: قَدۡ رُوِيَ عَنِ الزُّهۡرِيِّ مِنۡ وُجُوهٍ أَنَّ أَوَّلَ مَنۡ أَسۡلَمَ خَدِيجَةُ، وَشَهِدَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بَدۡرًا، وَزَوَّجَهُ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ مَوۡلَاتَهُ أُمَّ أَيۡمَنَ، فَوَلَدَتۡ لَهُ أُسَامَةَ بۡنَ زَيۡدٍ، وَبِهِ كَانَ يُكۡنَىٰ، وَكَانَ يُقَالُ لِزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ حِبُّ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ. رُوِيَ عَنۡهُ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ مَنۡ أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَأَنۡعَمۡتُ عَلَيۡهِ) - يَعۡنِي زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ - أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ بِالۡإِسۡلَامِ، وَأَنۡعَمَ عَلَيۡهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ بِالۡعِتۡقِ.

Abu ‘Umar berkata: Telah diriwayatkan dari Az-Zuhri, dari berbagai jalur bahwasanya orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah mengikuti Perang Badr, dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menikahkannya dengan maula beliau, Umu Aiman, lalu Umu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid untuknya, dan dengan nama itulah Zaid memiliki kunyah. Zaid bin Haritsah dahulu kerap dijuluki sebagai Hibbu Rasulillah (orang kesayangan Rasulullah)—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Diriwayatkan dari beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau bersabda, “Orang yang paling aku cintai adalah orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan telah aku berikan nikmat kepadanya.”

Yang beliau maksud adalah Zaid bin Haritsah. Allah memberikan nikmat kepadanya berupa Islam dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan nikmat kepadanya berupa kemerdekaan dari perbudakan.

وَقُتِلَ زَيۡدُ بۡنُ حَارِثَةَ بِمُؤۡتَةَ مِنۡ أَرۡضِ الشَّامِ سَنَةَ ثَمَانٍ مِنَ الۡهِجۡرَةِ؛ وَهُوَ كَانَ كَالۡأَمِيرِ عَلَىٰ تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ، وَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (فَإِنۡ قُتِلَ زَيۡدٌ فَجَعۡفَرٌ، فَإِنۡ قُتِلَ جَعۡفَرٌ فَعَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ رَوَاحَةَ)، فَقُتِلُوا ثَلَاثَتُهُمۡ فِي تِلۡكَ الۡغَزۡوَةِ. لَمَّا أَتَىٰ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ نَعۡيُ جَعۡفَرِ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ وَزَيۡدِ بۡنِ حَارِثَةَ بَكَىٰ وَقَالَ: أَخَوَايَ وَمُؤۡنِسَايَ وَمُحَدِّثَايَ.

Zaid bin Haritsah gugur di Mu`tah di wilayah Syam pada tahun 8 Hijriah dan beliau bertindak sebagai panglima utama dalam peperangan tersebut. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda, “Jika Zaid gugur maka Ja’far (yang memimpin), jika Ja’far gugur maka ‘Abdullah bin Rawahah.”

Ketiganya gugur dalam peperangan tersebut. Ketika kabar kematian Ja’far bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah sampai kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau menangis dan berkata, “Dua saudaraku, dua orang yang menghiburku, dan dua orang yang berbincang denganku.”

حَدَّثَنَا أَبُو الۡقَاسِمِ عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ سُفۡيَانَ بۡنِ جِيرُونَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي خَيۡثَمَةَ، حَدَّثَنَا ابۡنُ مَعِينٍ، حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ بُكَيۡرٍ الۡمِصۡرِيُّ، حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ زَيۡدَ بۡنَ حَارِثَةَ اكۡتَرَىٰ مِنۡ رَجُلٍ بَغۡلًا مِنَ الطَّائِفِ اشۡتَرَطَ عَلَيۡهِ الۡكَرِىُّ أَن يُنۡزِلَهُ حَيۡثُ شَاءَ. قَالَ: فَمَالَ بِهِ إِلَىٰ خِرۡبَةٍ، فَقَالَ لَهُ: انۡزِلۡ. فَنَزَلَ، فَإِذَا فِي الۡخِرۡبَةِ قَتۡلَىٰ كَثِيرَةٌ. فَلَمَّا أَرَادَ أَن يَقۡتُلَهُ قَالَ لَهُ: دَعۡنِي أُصَلِّي رَكۡعَتَيۡنِ، قَالَ: صَلِّ. فَقَدۡ صَلَّىٰ قَبۡلَكَ هٰؤُلَاءِ فَلَمۡ تَنۡفَعۡهُمۡ صَلَاتُهُمۡ شَيۡئًا. قَالَ: فَلَمَّا صَلَّيۡتُ أَتَانِي لِيَقۡتُلَنِي. قَالَ: فَقُلۡتُ: يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِينَ. قَالَ: فَسَمِعَ صَوۡتًا لَا تَقۡتُلۡهُ. قَالَ: فَهَابَ ذٰلِكَ، فَخَرَجَ يَطۡلُبُ فَلَمۡ يَرَ شَيۡئًا، فَرَجَعَ إِلَيَّ، فَنَادَيۡتُ: يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ، فَفَعَلَ ذٰلِكَ ثَلَاثًا، فَإِذَا أَنَا بِفَارِسٍ عَلَىٰ فَرَسٍ فِي يَدِهِ حَرۡبَةُ حَدِيۡدٍ، فِي رَأۡسِهَا شُعۡلَةٌ مِنۡ نَارٍ، فَطَعَنَهُ بِهَا. فَأَنۡفَذَهُ مِنۡ ظَهۡرِهِ، فَوَقَعَ مَيِّتًا، ثُمَّ قَالَ لِي: لَمَّا دَعَوۡتَ الۡمَرَّةَ الۡأُولَىٰ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ كُنۡتُ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ؛ فَلَمَّا دَعَوۡتَ فِي الۡمَرَّةِ الثَّانِيَةِ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ كُنۡتُ فِي السَّمَاءِ الدُّنۡيَا، فَلَمَّا دَعَوۡتَ فِي الۡمَرَّةِ الثَّالِثَةِ يَا أَرۡحَمَ الرَّاحِمِيۡنَ أَتَيۡتُكَ.

Abul-Qasim ‘Abdul Warits bin Sufyan bin Jirun telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Abu Muhammad Qasim bin Asbagh menceritakan kepada kami: Abu Bakr bin Abu Khaitsamah menceritakan kepada kami: Ibnu Ma’in menceritakan kepada kami: Yahya bin ‘Abdullah bin Bukair Al-Mishri menceritakan kepada kami: Al-Laits bin Sa’d menceritakan kepada kami. Ia berkata: Kabar telah sampai kepadaku bahwasanya Zaid bin Haritsah menyewa seekor bagal dari seorang laki-laki dari Thaif. Pemilik hewan sewaan itu memberikan syarat kepadanya bahwa ia boleh menghentikannya di mana saja ia mau. Perawi berkata: Lalu orang itu membelokkannya ke sebuah tempat reruntuhan, lalu berkata kepadanya, “Turunlah!”

Maka Zaid pun turun dan ternyata di tempat reruntuhan itu terdapat banyak jenazah korban pembunuhan. Ketika orang itu hendak membunuhnya, Zaid berkata kepadanya, “Biarkan aku salat dua rakaat.”

Orang itu menjawab, “Salatlah, sesungguhnya mereka itu sebelummu juga telah salat namun salat mereka tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka.”

Zaid berkata, “Tatkala aku selesai salat, ia mendatangiku untuk membunuhku.”

Zaid berkata, “Maka aku mengucapkan: ‘Ya Arhamar Rahimin’ (Wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang).”

Zaid berkata, “Lalu orang itu mendengar suara: ‘Jangan engkau bunuh dia!’”

Zaid berkata, “Maka orang itu menjadi takut karena hal tersebut, ia keluar mencari sumber suara namun tidak melihat sesuatu pun, lalu ia kembali kepadaku. Maka aku berseru lagi: ‘Ya Arhamar Rahimin.’”

Hal itu terulang sampai tiga kali, hingga tiba-tiba aku melihat seorang penunggang kuda di atas kudanya yang di tangannya terdapat tombak besi yang di ujungnya ada nyala api, lalu ia menusuk orang itu dengannya hingga menembus punggungnya, maka orang itu pun jatuh mati. Kemudian penunggang kuda itu berkata kepadaku, “Ketika engkau berdoa pada kali pertama ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku berada di langit ketujuh; lalu ketika engkau berdoa pada kali kedua ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku berada di langit dunia; dan ketika engkau berdoa pada kali ketiga ‘Ya Arhamar Rahimin’, aku pun datang kepadamu.”