Cari Blog Ini

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Pe-nashb Fiil Mudhari' - Huruf Fa atau Wawu setelah Doa

(ادۡعُ) يَعۡنِي: الدُّعَاءَ وَهُوَ مُوَجَّهٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَقُولُ: (رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَعۡمَلَ صَالِحًا)، الدُّعَاءُ فِي (وَفِّقۡنِي)، وَالۡفَاءُ فِي (أَعۡمَلَ) لِلسَّبَبِيَّةِ. (أَعۡمَلَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِـ(فَاءِ السَّبَبِيَّةِ)، وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. 

2. Doa, yakni yang ditujukan untuk Allah—‘azza wa jalla—. 

Engkau katakan, “رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَعۡمَلَ صَالِحًا (Ya Tuhanku, berilah aku taufik supaya aku bisa beramal saleh!).” 

Doa dalam kata “وَفِّقۡنِي”. Huruf fa dalam “فَأَعۡمَلَ” adalah untuk sababiyyah. أَعۡمَلَ adalah fiil mudhari’ yang di-nashb dengan huruf fa sababiyyah. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak di akhir kata. 

قَالَ الشَّاعِرُ: 

رَبِّ وَفِّقۡنِي فَلَا أَعۡدِلَ عَنۡ سَنَنِ السَّاعِينَ فِي خَيۡرِ سَنَنۡ 

الشَّاهِدُ فِي قَوۡلِهِ: رَبِّ وَفِّقۡنِي فَلَا أَعۡدِلَ. 

Penyair berkata, “رَبِّ وَفِّقۡنِي فَلَا أَعۡدِلَ عَنۡ سَنَنِ السَّاعِينَ فِي خَيۡرِ سَنَنۡ (Ya Tuhanku, berilah aku taufik supaya aku tidak menyempal dari jalan orang-orang yang menempuh jalan terbaik!).” 

Yang jadi bukti adalah pada ucapannya, “رَبِّ وَفِّقۡنِي فَلَا أَعۡدِلَ”. 

وَتَقُولُ: (رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَجۡتَهِدَ). 

(رَبِّ): مُنَادَى، وَأَصۡلُهَا: يَا رَبِّ، مَنۡصُوبٌ بِيَاءِ النِّدَاءِ، وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ عَلَى مَا قَبۡلَ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا اشۡتِغَالُ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ. 

(وَفِّقۡ): فِعۡلُ دُعَاءٍ، مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ، وَالنُّونُ لِلۡوِقَايَةِ، وَالۡفَاعِلُ ضَمِيرٌ مُسۡتَتِرٌ وُجُوبًا تَقۡدِيرُهُ أَنۡتَ، وَالۡيَاءُ ضَمِيرٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ مَفۡعُولٌ بِهِ. 

(فَأَجۡتَهِدَ): (الۡفَاءُ) لِلسَّبَبِيَّةِ، (أَجۡتَهِدَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِفَاءِ السَّبَبِيَّةِ، وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ، وَالۡفَاعِلُ ضَمِيرٌ مُسۡتَتِرٌ وُجُوبًا تَقۡدِيرُهُ أَنَا. 

Engkau katakan, “رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَجۡتَهِدَ (Ya Tuhanku, berilah aku taufik supaya aku bisa bersungguh-sungguh!).” 

رَبِّ: munada (yang diseru). Asalnya adalah يَا رَبِّ (Wahai Tuhanku). Kata ini di-nashb dengan huruf ya nida/panggilan. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah pada huruf sebelum huruf ya mutakallim. Yang menghalangi dari munculnya adalah tempatnya digunakan oleh harakat yang sesuai. 

وَفِّقۡ adalah fiil doa mabni atas tanda sukun. Huruf nun untuk wiqayah (menjaga fiil agar huruf akhir tidak berharakat kasrah). Fa’il-nya adalah kata ganti yang wajib disembunyikan. Asumsinya adalah anta. Huruf ya adalah kata ganti yang mabni di atas tanda sukun dalam keadaan nashb maf’ul bih. 

فَأَجۡتَهِدَ: huruf fa untuk sababiyyah. أَجۡتَهِدَ adalah fiil mudhari’ yang di-nashb dengan huruf fa sababiyyah. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak. Fa’il-nya adalah kata ganti yang wajib disembunyikan. Asumsinya adalah ana. 

(رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَعۡمَلَ صَالِحًا)، (وَفِّقۡنِي) لِمَا لَا نَقُولُ إِنَّهَا أَمۡرٌ؟ لِأَنَّ الۡأَمۡرَ لَا يُوَجَّهُ إِلَى الۡخَالِقِ. الۡخَالِقُ آمِرٌ وَلَيۡسَ بِمَأۡمُورٍ. 

(رَبِّ): مُنَادَى مَبۡنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِي مَحَلِّ نَصۡبٍ. 

(وَفِّقۡ): فِعۡلُ دُعَاءٍ. وَالنُّونُ لِلۡوِقَايَةِ. 

“رَبِّ وَفِّقۡنِي فَأَعۡمَلَ صَالِحًا (Ya Tuhanku, berilah aku taufik supaya aku bisa beramal saleh!).” 

وَفِّقۡنِي: Mengapa kita tidak katakan bahwa ini amr (perintah)? Karena perintah tidak boleh ditujukan kepada Khalik. Khalik lah yang memerintah, bukan yang diperintah. 

رَبِّ: munada (yang dipanggil) mabni di atas harakat damah pada keadaan nashb. 

وَفِّقۡ: fiil doa. Huruf nun untuk wiqayah.

Berpegang Teguh dengan Pokok Agama Islam

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab--rahimahullah--di dalam kitab Tafsir Kalimat Tauhid berkata:

فَاللهَ اللهَ يَا إِخۡوَانِي، تَمَسَّكُوا بِأَصۡلِ دِينِكُمۡ، وَأَوَّلِهِ وَآخِرِهِ، وَأُسُّهُ وَرَأۡسُهُ شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاعۡرِفُوا مَعۡنَاهَا، وَأَحِبُّوهَا وَأَحِبُّوا أَهۡلَهَا، وَاجَعَلُوهُمۡ إِخَوَانَكُمۡ وَلَوۡ كَانُوا بَعِيدِينَ، وَاكۡفُرُوا بِالطَّوَاغِيتِ، وَعَادُوهُمۡ وَأَبۡغِضُوهُمۡ، وَأَبۡغِضُوا مَنۡ أَحَبَّهُمۡ أَوۡ جَادَلَ عَنۡهُمۡ، أوۡ لَمۡ يُكَفِّرۡهُمۡ، أَوۡ قَالَ: مَا عَلَيَّ مِنۡهُمۡ، أَوۡ قَالَ: مَا كَلَّفَنِيَّ اللهُ بِهِمۡ، فَقَدۡ كَذَبَ هَٰذَا عَلَى اللهِ وَافۡتَرَى، فَقَدۡ كَلَّفَهُ اللهُ بِهِمۡ، وَافۡتَرَضَ عَلَيۡهِ الۡكُفۡرَ بِهِمۡ وَالۡبَرَاءَةَ مِنۡهُمۡ، وَلَوۡ كَانُوا إِخۡوَانَهُمۡ وَأَوۡلَادَهُمۡ. 

Bertakwalah kepada Allah wahai saudara-saudaraku! Bertakwalah kepada Allah! Berpegang teguhlah dengan pokok agama kalian! Dari awal sampai akhirnya. Asas dan pokok agama ini adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Ketahuilah maknanya! Cintailah kalimat tersebut dan cintailah pengusungnya! Jadikan mereka saudara-saudara kalian meskipun mereka itu jauh! 

Kufurilah tagut-tagut! Musuhi dan bencilah mereka! Bencilah siapa saja yang mencintai tagut-tagut itu, yang membela mereka, dan yang tidak mengingkari mereka, atau dia berkata, “Tidak ada kewajibanku terhadap mereka”, atau dia berkata, “Allah tidak membebaniku untuk menyikapi mereka”. 

Sesungguhnya yang berkata demikian ini telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah. Sesungguhnya Allah taala telah membebaninya syariat untuk menyikapi mereka dan mewajibkannya untuk mengingkari dan berlepas diri terhadap mereka walaupun mereka adalah saudara-saudara dan anak-anaknya. 

فَاللهَ اللهَ يَا إِخۡوَانِي، تَمَسَّكُوا بِذٰلِكَ لَعَلَّكُمۡ تَلۡقَونَ رَبَّكُمۡ وَأَنۡتُمۡ لَاتُشۡرِكُونَ بِهِ شَيۡئًا، اللّٰهُمَّ تَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ وَأَلۡحِقۡنَا بِالصَّالِحِينَ. 

Wahai saudara-saudaraku, bertakwalah kepada Allah! Bertakwalah kepada Allah! Berpegang teguhlah dengan pokok agama ini agar kalian menjumpai Tuhan kalian dalam keadaan kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya. Ya Allah, wafatkan kami sebagai muslimin dan gabungkan kami bersama orang-orang yang saleh! 

وَلِنَخۡتِمۡ الۡكَلَامَ بِآيَةٍ ذَكَرَهَا اللهُ فِي كِتَابِهِ تُبَيِّنَ لَكَ أَنَّ كُفۡرَ الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ أَهلِ زَمَانِنَا أَعۡظَمُ مِن كُفۡرِ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ. 

Kita akan tutup pembicaraan ini dengan ayat yang disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya untuk menjelaskan kepadamu bahwa kekufuran orang-orang musyrik di zaman kita ini lebih parah daripada kekufuran orang-orang yang dahulu diperangi oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡ ۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَـٰنُ كَفُورًا﴾ [الإسراء: ٦٧]، فَقَدۡ ذَكَرَ اللهُ عَنِ الۡكُفَّارِ أَنَّهُمۡ إِذَا مَسَّهُمُ الضَّرُّ تَرَكُوا السَّادَةَ وَالۡمَشَايِخَ فَلَمۡ يَدۡعُوا أَحَدًا مِنۡهُمۡ، وَلَمۡ يَسۡتَغِيثُوا بِهِ، بَلۡ يُخۡلِصُونَ لِلهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَيَسۡتَغِيثُونَ بِهِ وَحۡدَهُ، فَإِذَا جَاءَ الرَّخَاءُ أَشۡرَكُوا. 

Allah taala berfirman, “Apabila bahaya di lautan menimpa kalian, maka hilanglah semua yang kalian seru kecuali hanya Allah. Namun ketika Dia telah menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling. Manusia itu selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra`: 67). 

Allah telah menyebutkan tentang orang-orang kafir bahwasanya mereka apabila ditimpa mara bahaya, mereka meninggalkan para tokoh dan syekh itu. Orang-orang kafir itu tidak berdoa kepada salah seorang pun dari mereka dan tidak beristigasah kepada mereka. Bahkan orang-orang kafir itu memurnikan doa kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, beristigasah hanya kepada-Nya. Namun ketika kelapangan sudah datang, mereka berbuat kesyirikan. 

وَأَنۡتَ تَرَى الۡمُشۡرِكِينَ مِنۡ أَهۡلِ زَمَانِنَا، وَلَعَلَّ بَعۡضَهُمۡ يَدَّعِي أَنَّهُ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ وَفِيهِ زُهۡدٌ وَاجۡتِهَادٌ وَعِبَادَةٌ، إِذَا مَسَّهُ الضَّرُّ قَامَ يَسۡتَغِيثُ بِغَيۡرِ اللهِ مِثۡلِ: مَعۡرُوفٍ أَوۡ عَبۡدِ الۡقَادِرِ الۡجَيۡلَانِي، وَأَجَلِّ مِنۡ هَٰؤُلَاءِ مِثۡلِ زَيۡدِ بۡنِ الۡخَطَّابِ وَالزُّبَيۡرِ، وَأَجَلِّ مِنۡ هَٰؤُلَاءِ مِثۡلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ وَأَطَمُّ أَنَّهُمۡ يَسۡتَغِيثُونَ بِالطَّوَاغِيتِ وَالۡكَفَرَةِ وَالۡمَرَدَةِ مِثۡلِ شَمۡسَانِ وَإِدۡرِيسَ وَيُقَالُ لَهُ: الۡأَشۡقَرُ، وَيُوسُفَ وَأَمۡثَالِهِمۡ، وَاللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى أَعۡلَمُ. 

Engkau lihat orang-orang musyrik di zaman kita ini, yang bisa jadi sebagian mereka mengaku bahwa dia termasuk ulama karena pada dirinya ada sifat zuhud, kesungguhan, dan semangat beribadah. Apabila bahaya menimpanya, dia bangkit beristigasah kepada selain Allah. Seperti kepada Ma’ruf atau ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Atau kepada orang yang lebih mulia daripada mereka seperti Zaid bin Al-Khaththab dan Az-Zubair. Atau kepada orang yang lebih mulia daripada mereka, seperti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. 

Yang lebih parah dan berat daripada itu adalah mereka beristigasah kepada tagut-tagut, orang-orang yang kufur, orang-orang yang durhaka, semisal Syamsan, Idris, yang dipanggil dengan Al-Asyqar, Yusuf, dan yang semisal mereka. Wallahualam. 

وَالۡحَمۡدُ لِلهِ أَوَّلًا وَآخِرًا، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ... آمِين.

Segala puji bagi Allah di awal dan di akhir. Semoga selawat dan salam selalu Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat beliau seluruhnya. Amin.[2]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--di dalam syarahnya berkata:

[1] كُفۡرُ أَهۡلِ زَمَانِنَا أَعۡظَمُ مِنۡ كُفۡرِ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ، أَعۡظَمُ مِنۡ كُفۡرِ أَبِي جَهۡلٍ وَأَبِي لَهَبٍ! لِأَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَاءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشِّدَّةِ؛ لِأَنَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُ لَا يُخَلِّصُ مِنَ الشِّدَّةِ إِلَّا اللهُ، 

Kekufuran orang-orang musyrik di zaman kita ini lebih besar daripada kekufuran orang-orang musyrik di zaman dahulu, bahkan lebih besar daripada kekufuran Abu Jahl dan Abu Lahab. Hal ini karena orang-orang musyik di zaman dahulu berbuat kesyirikan di masa tenang dan mereka berbuat ikhlas di masa sulit. Mereka mengetahui bahwa tidak ada yang bisa melepaskan dari kesulitan kecuali Allah. 

أَمَّا مُشۡرِکُو زَمَانِنَا فَهُمۡ فِي الشِّدَّةِ أَكۡثَرُ شِرۡكًا مِنۡهُمۡ فِي الرَّخَاءِ، إِذَا وَقَعُوا فِي الشِّدَّةِ يُنَادُونَ مَعۡبُودَاتِهِمۡ، كُلٌّ يُنَادِي مَعۡبُودَهُ لِيُخَلِّصَهُ مِنَ الۡغَرَقِ فِي الۡبَحۡرِ، يُخَلِّصَهُ مِنۡ كَذَا، كُلَّمَا زَادَ الۡخَطَرُ زَادَ الشِّرۡكُ عِنۡدَهُمۡ، فَهُمۡ أَشَدُّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ. 

Adapun orang-orang musyrik di zaman kita, mereka di masa sulit lebih banyak berbuat kesyirikan daripada di masa lapang. Ketika mereka jatuh dalam kesulitan mereka menyeru sesembahan selain Allah. Masing-masing memanggil sesembahannya agar menyelamatkan mereka dari tenggelam di lautan, melepaskan mereka dari kesulitan ini dan itu. Setiap kali bertambah genting, semakin bertambah pula kesyirikan mereka. Jadi mereka lebih parah kesyirikannya daripada orang-orang musyrik di zaman dahulu. Kita berlindung kepada Allah. 


[2] (مَعۡرُوفٌ) هُوَ مَعۡرُوفٌ الۡكَرۡخِيُّ مِنَ الۡأَوۡلِيَاءِ الۡمَعۡرُوفِينَ فِي الۡعِرَاقِ، يَعۡبُدُهُ الۡقُبُورِيُّونَ، وَ(عَبۡدُ الۡقَادِرِ الۡجَيۡلَانِيُّ) إِمَامٌ مِنۡ أَئِمَّةِ 

الۡحَنَابِلَةِ الۡقُدَمَاءِ، فَهُوَ إِمَامٌ جَلِیلٌ، وَلَكِنۡ لَمَّا مَاتَ اعۡتَقَدُوا أَنَّهُ يَنۡفَعُ وَيَضُرُّ، فَبَنَوۡا عَلَى قَبۡرِهِ، وَالصُّوفِيَّةُ اتَّخَذُوهُ إِمَامًا لِلۡمُتَصَوِّفَةِ أَصۡحَابِ طَرِيقَةٍ يُسَمُّونَهُمُ الۡقَادِرِيَّةَ، وَهُوَ بَرِيءٌ مِنۡهُمۡ رَحِمَهُ اللهُ، فَهُوَ مَعۡرُوفٌ بِالصَّلَاحِ وَالۡاِسۡتِقَامَةِ وَالۡعِلۡمِ وَالتُّقَى، كَانَ مِنۡ أَكَابِرِ أَصۡحَابِ مَذۡهَبِ الۡإِمَامِ أَحۡمَدَ، وَلَهُ فِيهِ مُؤَلَّفٌ مَعۡرُوفٌ اسۡمُهُ: الۡغُنۡيَةُ. 

Ma’ruf adalah Ma’ruf Al-Karkhi termasuk wali-wali yang dikenal di Irak yang diibadahi oleh para pemuja kuburan. 

‘Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah seorang imam mazhab Hambali yang awal. Beliau adalah seorang imam yang mulia. Akan tetapi ketika beliau meninggal, orang-orang meyakini bahwa beliau bisa memberi manfaat dan mudarat sehingga mereka membuat bangunan di atas kuburan beliau. 

Orang-orang sufi menjadikan beliau sebagai imam bagi kelompok sufi pengikut tarekat Qadiriyyah, padahal beliau—rahimahullah—berlepas diri dari mereka. Beliau dikenal dengan kesalehan, keistikamahan, keilmuan, dan ketakwaan. Beliau termasuk salah satu pembesar ulama mazhab Imam Ahmad. Beliau memiliki sebuah karya tulis yang dikenal dengan judul Al-Ghunyah. 

(وَزَيۡدُ بۡنُ الۡخَطَّابِ) صَحَابِيٌّ جَلِيلٌ، وَهُوَ أَخُو عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، وَقُتِلَ فِي الۡيَمَامَةِ وَقُبِرَ فِيهَا وَكَانَ عَلَيۡهِ قُبَّةٌ، فَلَمَّا جَاءَ الشَّيۡخُ مُحَمَّدُ رَحِمَهُ اللهُ هَدَمَ هَٰذِهِ الۡقُبَّةَ وَلَمۡ تَقُمۡ إِلَى الۡآنَ -وَالۡحَمۡدُ لِلهِ- وَلَنۡ تَقُومَ -إِنۡ شَاءَ اللهُ-. 

Zaid bin Al-Khaththab adalah seorang sahabat yang mulia. Beliau adalah saudara ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhuma—. Beliau terbunuh di Yamamah dan dikuburkan di sana. Dahulu di atas kuburan beliau ada kubah, lalu ketika Syekh Muhammad—rahimahullah—datang, beliau menghancurkan kubah ini dan kubah ini tidak berdiri lagi hingga sekarang—alhamdulillah—dan tidak akan didirikan lagi—insya Allah. 

(وَالزُّبَيۡرُ بۡنُ الۡعَوَّامِ) رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، حَوَارِيُّ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَهَٰؤُلَاءِ الۡأَوۡلِيَاءُ وَالصَّحَابَةُ يَعۡبُدُهُمُ الۡقُبُورِيُّونَ، وَلَٰكِنَّهُمۡ لَمۡ يَكۡتَفُوا بِعِبَادَتِهِمۡ، بَلۡ عَبَدُوا الطَّوَاغِيتَ وَالۡكَفَرَةَ وَالۡمَرَدَةَ مِنَ السَّحَرَةِ وَالۡكَهَنَةِ، وَالۡإِبَاحِيِّينَ وَالۡحُلُولِيِّينَ، الَّذِينَ يَقُولُونَ: مَنۡ تَرَكَ الۡأَوَامِرَ وَالنَّوَاهِيَ فَهُوَ مُقۡرَبٌ مِنَ اللهِ، وَلَيۡسَ بِحَاجَةٍ لِلۡأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي، وَإِنَّمَا هِيَ لِلۡعَوَامِّ فَقَطۡ، أَمَّا هُوَ فَوَصَلَ إِلَى اللهِ وَلَا يَحۡتَاجُّ إِلَى شَيۡءٍ. 

Az-Zubair bin Al-‘Awwam—radhiyallahu ‘anhu—hawari/pembela setia Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. 

Mereka adalah para wali dan sahabat yang diibadahi oleh para pemuja kubur. Akan tetapi para pemuja kubur itu tidak mengibadahi mereka saja, bahkan mengibadahi tagut-tagut, orang-orang kafir, para pendurhaka dari kalangan tukang sihir dan dukun, orang yang berpaham Ibahiyyah (menghalalkan segala-galanya) dan berpaham hulul (Allah menyatu dengan makhluk), yang mengatakan bahwa barang siapa tidak mengindahkan perintah dan larangan, maka dia adalah orang yang sudah dekat dengan Allah dan dia tidak butuh perintah dan larangan. Perintah dan larangan hanya untuk orang awam. Adapun dia sudah berhubungan langsung dengan Allah, sehingga tidak butuh syariat apapun. 

(وَشَمۡسَانُ وَإِدۡرِيسُ وَيُوسُفُ) هَٰؤُلَاءِ طَوَاغِیتُ کَانُوا فِي الرِّيَاضِ قَبۡلَ ظُهُورِ دَعۡوَةِ الشَّيۡخِ، فَلَمَّا جَاءَ الشَّيۡخُ وَقَامَ بِالۡجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَاسۡتَوۡلَى الۡمُسۡلِمُونَ عَلَى الرِّيَاضِ أَزَالُوا هَٰذِهِ الۡوَثَنِيَّاتِ مِنۡهَا وَمِنۡ غَيۡرِهَا، وَالۡحَمۡدُ لِلهِ. 

Syamsan, Idris, dan Yusuf adalah tagut-tagut yang dahulu ada di Riyadh sebelum menyebarnya dakwah Syekh Muhammad. Ketika Syekh Muhammad datang, menegakkan jihad di jalan Allah, dan kaum muslimin menguasai Riyadh, mereka pun memusnahkan berhala-berhala ini dari Riyadh dan daerah lainnya. Alhamdulillah.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Pe-nashb Fiil Mudhari' - Huruf Fa atau Wawu setelah Perintah

قَوۡلُهُ: (وَالۡجَوَابُ بِالۡفَاءِ، وَالۡوَاوِ، وَأَوۡ). 

Ucapan mualif, “Jawaban dengan huruf fa dan wawu, dan أَوۡ.” 

وَقَوۡلُهُ –رَحِمَهُ اللهُ-: (وَالۡجَوَابُ بِالۡفَاءِ وَالۡوَاوِ): أَيۡ: يُنۡصَبُ الۡجَوَابُ إِذَا اقۡتُرِنَ بِالۡفَاءِ أَوۡ بِالۡوَاوِ. الۡفَاءُ يَعۡنِي: فَاءَ السَّبَبِيَّةِ، وَالۡوَاوُ يَعۡنِي: وَاوَ الۡمَعِيَّةِ. 

Ucapan mualif—rahimahullah—, “Jawaban dengan huruf fa dan wawu,” maksudnya jawaban (kelanjutan kalimat) di-nashb apabila diiringi oleh huruf fa atau huruf wawu. Huruf fa, yakni fa sababiyyah (yang berkaitan dengan sebab). Huruf wawu, yakni wawu ma’iyyah (bermakna kebersamaan). 

هَٰذَانِ الۡحَرۡفَانِ إِذَا كَانَا جَوَابًا لِوَاحِدٍ مِنۡ أُمُورٍ تِسۡعَةٍ نُصِبَ بِهِمَا الۡفِعۡلُ. يَجۡمَعُ هَٰذِهِ الۡأُمُورَ التِّسۡعَةَ قَوۡلُهُ: 

مُرۡ وَادۡعُ وَانۡهَ وَسَلۡ وَاعۡرِضۡ لِحَضِّهِمُ تَمَنَّ وَارۡجُ كَذَاكَ النَّفۡيُ قَدۡ كَمُلَا 

Dua huruf ini, apabila menjadi jawaban (kelanjutan kalimat) untuk salah satu dari sembilan perkara ini, maka fiil di-nashb karenanya. Kesembilan perkara ini terkumpul dalam ucapan, “مُرۡ وَادۡعُ وَانۡهَ وَسَلۡ وَاعۡرِضۡ لِحَضِّهِمُ (Perintah, doa, larangan, permintaan, penawaran, anjuran)تَمَنَّ وَارۡجُ كَذَاكَ النَّفۡيُ قَدۡ كَمُلَا (keinginan, harapan, dan peniadaan).” 

(مُرۡ) یَعۡنِي: إِذَا وَقَعَتِ الۡفَاءُ وَالۡوَاوُ فِي جَوَابِ الۡأَمۡرِ، فَإِنَّ الۡفِعۡلَ يُنۡصَبُ بِهِمَا. 

مِثَالُهُ: (أَسۡلِمۡ فَتَدۡخُلَ الۡجَنَّةَ) (أَسۡلِمۡ): فِعۡلُ أَمۡرٍ، وَ(الۡفَاءُ) لِلسَّبَبِيَّةِ يَعۡنِي: فَبِسَبَبِ إِسۡلَامِكَ، (تَدۡخُلَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِفَاءِ السَّبَبِيَّةِ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ فَتۡحَةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. 

1. Perintah. Yakni apabila huruf fa atau wawu terletak pada kelanjutan kalimat yang masih berhubungan dengan kalimat perintah sebelumnya, maka fiil di-nashb karenanya. 

Contohnya, “أَسۡلِمۡ فَتَدۡخُلَ الۡجَنَّةَ (Masuk islamlah supaya engkau nanti masuk janah!).” أَسۡلِمۡ adalah fiil amr/perintah. Huruf fa untuk sababiyyah, artinya: dengan sebab keislamanmu. تَدۡخُلَ adalah fiil mudhari’ yang di-nashb dengan huruf fa sababiyyah. Tanda nashb-nya adalah fatah yang tampak di akhir kata. 

(اسۡتَمِعِ الۡقُرۡآنَ فَتُؤۡجَرَ). 

(اسۡتَمِعۡ): فِعۡلُ أَمۡرٍ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ، وَالۡفَاعِلُ ضَمِيرٌ مُسۡتَتِرٌ تَقۡدِيرُهُ (أَنۡتَ). 

(الۡقُرۡآنَ): مَفۡعُولٌ بِهِ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ فَتۡحَةٌ ظَاهِرَةٌ. 

(فَتُؤۡجَرَ): (الۡفَاءُ) لِلسَّبَبِيَّةِ، وَ(تُؤۡجَرَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَبۡنِيٌّ لِمَا لَمۡ يُسَمَّ فَاعِلُهُ مَنۡصُوبٌ بِفَاءِ السَّبَبِيَّةِ، وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ فَتۡحَةٌ ظَاهِرَةٌ، وَنَائِبُ الۡفَاعِلِ ضَمِيرٌ مُسۡتَتِرٌ وُجُوبًا تَقۡدِيرُهُ (أَنۡتَ). 

“اسۡتَمِعِ الۡقُرۡآنَ فَتُؤۡجَرَ (Simaklah Alquran supaya engkau dapat pahala!).” 

اسۡتَمِعۡ adalah fiil amr yang mabni di atas sukun. Fa’il-nya adalah kata ganti yang disembunyikan. Asumsinya adalah anta. 

الۡقُرۡآنَ adalah maf’ul bih yang di-nashb. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak. 

فَتُؤۡجَرَ: huruf fa untuk sababiyyah. تُؤۡجَرَ adalah fiil mudhari’ yang dibentuk untuk kalimat yang fa’il/pelakunya tidak disebutkan, yang di-nashb dengan huruf fa sababiyyah. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak. Na`ib al-fa’il-nya adalah kata ganti yang wajib disembunyikan. Asumsinya adalah anta. 

(رَاجِعۡ فَتَنۡجَحَ). 

(فَتَنۡجَحَ): (الۡفَاءُ) فَاءُ السَّبَبِيَّةِ. (تَنۡجَحَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِالۡفَاءِ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى آخِرِهِ. 

“رَاجِعۡ فَتَنۡجَحَ (Ulangilah supaya engkau berhasil!).” 

فَتَنۡجَحَ: huruf fa adalah fa sababiyyah. تَنۡجَحَ adalah fiil mudhari’ yang di-nashb dengan huruf fa. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak di akhir kata.

Batilnya Dalih Kaum Musyrikin

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab--rahimahullah-- di dalam Tafsir Kalimat Tauhid berkata:

وَإِذَا عَرَفۡتَ هَٰذَا عَرَفۡتَ مَعۡنَى (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ) وَعَرَفۡتَ أَنَّ مَنۡ نَخَى نَبِيًّا أَوۡ مَلَكًا أَوۡ نَدَبَهُ أَوِ اسۡتَغَاثَ بِهِ فَقَدۡ خَرَجَ مِنَ الۡإِسۡلَامِ، وَهَٰذَا هُوَ الۡكُفۡرُ الَّذِي قَاتَلَهُمۡ عَلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ. 

Apabila engkau sudah mengerti ini, maka engkau mengerti makna “laa ilaaha illallaah” dan engkau pun mengerti bahwa siapa saja yang berdoa meminta bantuan kepada nabi atau malaikat, mengeluhkan kebutuhan kepadanya, atau beristigasah kepadanya, maka dia telah keluar dari Islam. Kekufuran inilah yang diperangi oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. 

فَإِنۡ قَالَ قَائلٌ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ: نَحۡنُ نَعۡرِفُ أَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُدَبِّرُ، لَكِنَّ هَٰؤُلَاءِ الصَّالِحُونَ مُقَرَّبُونَ، وَنَحۡنُ نَدۡعُوهُمۡ وَنَنۡذُرُ لَهُمۡ وَنَدۡخُلُ عَلَيۡهِمۡ وَنَسۡتَغِيثُ بِهِمۡ، وَنُرِيدُ بِذٰلِكَ الوَجَاهَةَ وَالشَّفَاعَةَ، وَإِلَّا فَنَحۡنُ نَفۡهَمُ أَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُدَبِّرُ، فَقُلۡ: كَلَامُكَ هَٰذَا مَذۡهَبُ أَبِي جَهۡلٍ وَأَمۡثَالِهِ. 

Jika ada salah seorang musyrik berkata, “Kami mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur segala urusan. Akan tetapi mereka ini adalah orang-orang saleh yang didekatkan, maka kami berdoa kepada mereka, bernazar untuk mereka, mengunjungi mereka, sembari beristigasah kepada mereka. Kami menginginkan kedudukan dan syafaat mereka dengan itu. Kami sebenarnya paham bahwa Allah-lah yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur segala urusan.” 

Maka katakanlah, “Ucapanmu ini adalah mazhab Abu Jahl dan yang semisal dengannya.”[1]

فَإِنَّهُمۡ يَدۡعُونَ عِيسَى وَعُزَيرًا وَالۡمَلَائكَةَ وَالۡأَوۡلِيَاءَ، يُرِيدُونَ ذٰلِكَ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ﴾ [الزمر: ٣]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ﴾ [يونس: ١٨]. 

Karena orang-orang musyrik yang berdoa kepada ‘Isa, ‘Uzair, malaikat, dan para wali, juga bertujuan sama seperti itu, sebagaimana Allah taala berfirman, “Orang-orang yang menjadikan pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3). 

Allah taala berfirman, “Mereka beribadah kepada selain Allah, sesembahan yang tidak bisa mendatangkan madarat dan manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa sesembahan ini adalah pemberi syafaat untuk kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).[2]

فَإِذَا تَأَمَّلۡتَ هَٰذَا تَأَمُّلًا جَيِّدًا، وَعَرَفۡتَ أَنَّ الۡكُفَّارَ يَشۡهَدُونَ لِلهِ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ تَفَرُّدُ بِالۡخَلۡقِ وَالرِّزۡقِ وَالتَّدۡبِيرِ، وَهُمۡ يُنَخُّونَ عِيسَى وَالۡمَلَائكَةَ وَالۡأَوۡلِيَاءَ يَقۡصُدُونَ أَنَّهُمۡ يُقَرِّبُونَهُمۡ إِلَى اللهِ زُلۡفَى، وَيَشۡفَعُونَ لَهُمۡ عِنۡدَهُ، 

Apabila engkau merenungkan ini dengan baik, engkau pun mengetahui bahwa orang-orang kafir itu mempersaksikan tauhid rububiyyah untuk Allah, yaitu pengesaan Allah dalam hal penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan segala urusan, namun mereka berdoa meminta perlindungan kepada ‘Isa, malaikat, dan para wali dengan tujuan mereka dapat mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya dan memberi syafaat di sisi Allah, 

وَعَرَفۡتَ أَنَّ مِنَ الۡكُفَّارِ -خُصُوصًا النَّصَارَى مِنۡهُمۡ- مَنۡ يَعۡبُدُ اللهَ اللَّيۡلَ وَالنَّهَارَ، وَيَزۡهَدُ فِي الدُّنۡيَا وَيَتَصَدَّقُ بِمَا دَخَلَ عَلَيۡهِ مِنۡهَا، مُعۡتَزِلًا فِي صَوۡمَعَةٍ عَنِ النَّاسِ. 

Engkau juga mengetahui bahwa di antara orang-orang kafir itu, khususnya orang-orang Nasrani, ada yang beribadah kepada Allah siang malam, zuhud terhadap dunia, bersedekah dengan sebagian dunia yang dia peroleh, dengan mengasingkan diri dari orang-orang di dalam biara.[3]

وَهُوَ مَعَ هَٰذَا كَافِرٌ عَدُوٌّ لِلهِ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ بِسَبَبِ اعۡتِقَادِهِ فِي عِيسَى أَوۡ غَيۡرِهِ مِنَ الۡأَوۡلِيَاءِ، يَدۡعُوهُ أَوۡ يَذۡبَحُ لَهُ أَوۡ يَنۡذُرُ لَهُ، تَبَيَّنَ لَكَ كَيۡفَ صِفَةُ الۡإِسۡلَامِ الَّذِي دَعَا إِلَيۡهِ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنۡهُ بِمَعۡزِلٍ، وَتَبَيَّنَ لَكَ مَعۡنَى قَوۡلِهِ ﷺ: (بَدَأ الۡإِسۡلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ).

Bersamaan dengan ini, dia adalah orang yang kafir, musuh Allah, kelak akan dikekalkan di dalam neraka, dengan sebab keyakinan dia tentang ‘Isa atau wali-wali selain beliau. Dia berdoa kepada beliau, menyembelih untuk beliau, dan bernazar untuk beliau. Jelaslah bagimu, bagaimana gambaran Islam yang didakwahkan oleh Nabimu Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Jelaslah bagimu, bahwa banyak orang jauh dari Islam yang beliau dakwahkan. Jelas pula bagimu, makna sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Islam ini mulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti awal mulanya.”[4]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--di dalam syarahnya berkata:

[1] الشَّيۡخُ يُخَاطِبُ الۡعُلَمَاءَ وَالۡعَوَامَّ، وَمَعۡنَى (نَخَاهُ) فِي الۡعَامِّيَةِ، أَيۡ: اسۡتَنۡجَدَ بِهِ. 

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berdialog kepada kalangan ulama dan awam. Makna نَخَاهُ dalam bahasa Arab amiah (tidak baku) adalah meminta bantuan. 

يُقَالُ لِمَنۡ يَنۡفِي أَنَّ دُعَاءَ الصَّالِحِينَ شِرۡكٌ، وَيَقُولُ: الۡمُرَادُ بِهِ التَّوَسُّلُ بِهِمۡ إِلَى اللهِ، يُقَالُ لَهُ: كَلَامُكَ هَٰذَا هُوَ مَذۡهَبُ أَبِي جَهۡلٍ وَأَبِي لَهَبۡ وَأَمۡثَالِهِمۡ؛ لِأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: لَا يَخۡلُقُ وَلَا يَرۡزُقُ وَلَا يُحۡيِي وَلَا يُدَبِّرُ إِلَّا اللهُ، وَنَحۡنُ نَتَّخِذُ هَٰذِهِ الۡآلِهَةَ لِتُقَرِّبُنَا إِلَى اللهِ زُلۡفَى، كَمَا قَالَ اللهُ عَنۡهُمۡ: ﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ﴾ [يونس: ۱۸]. 

Orang yang menafikan bahwa berdoa kepada orang-orang saleh adalah kesyirikan dan dia berkata bahwa yang dia maukan dengan perbuatan itu adalah tawasul dengan mereka kepada Allah; maka dikatakan kepada orang ini bahwa ucapanmu ini adalah mazhab Abu Jahl, Abu Lahb, dan yang semisal mereka. Karena mereka (Abu Jahl dan yang semisalnya) mengatakan bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mengatur segala urusan kecuali Allah dan kami menjadikan ilah-ilah ini supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sebagaimana Allah berfirman tentang mereka, “Mereka menyembah sesembahan selain Allah yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak dapat memberi manfaat kepada mereka. Mereka mengatakan, ‘Sesembahan ini dapat mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’” (QS. Yunus: 18). 


[2] الۡمُشۡرِكُونَ الۡأَوَّلُونَ يُرِيدُونَ مِمَّنۡ يَعۡبُدُونَهُمۡ مَعَ اللهِ التَّوَسُّطَ لَهُمۡ فَقَطۡ. 

لَا يَقُولُونَ: إِنَّهُمۡ يَخۡلُقُونَ وَيَرۡزُقُونَ، وَإِنَّمَا يَقُولُونَ: إِنَّ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاءُ لَنَا عِنۡدَ اللهِ، يَقُولُونَ: إِنَّ هَٰذَا تَعۡظِيمٌ لِلهِ. 

Orang-orang musyrik di zaman dahulu menghendaki dari perbuatan mereka menyembah ilah-ilah lain di samping Allah adalah untuk menjadikan ilah-ilah itu sebagai perantara untuk mereka saja. Mereka tidak mengatakan bahwa ilah-ilah itu menciptakan dan memberi rezeki. Mereka hanya mengatakan bahwa ilah-ilah ini merupakan pemberi syafaat untuk kami di sisi Allah. Mereka juga mengatakan bahwa ini merupakan bentuk pengagungan terhadap Allah. 


[3] الرُّهۡبَانُ مِنَ النَّصَارَى يَتَعَبَّدُونَ اللَّيۡلَ وَالنَّهَارَ وَيَبۡكُونَ، وَلَكِنۡ يَقُولُونَ: الۡمَسِيحُ ابۡنُ اللهِ، أَوۡ إِنَّ اللهَ هُوَ الۡمَسِيحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ، أَوۡ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ، وَهُمۡ يَبۡكُونَ وَيَتَعَبَّدُونَ، وَلَا يَنۡفَعُهُمۡ هَٰذَا؛ لِأَنَّهُمۡ مَا أَخۡلَصُوا الۡعِبَادَةَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمِثۡلُهُمۡ عُبَّادُ الۡقُبُورِ الۡيَوۡمَ. 

Para pendeta Nasrani beribadah siang malam dengan menangis. Akan tetapi mereka berkata bahwa ‘Isa Al-Masih adalah putra Allah, atau bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam atau salah satu dari yang tiga. Mereka sering menangis dan banyak beribadah, namun ini tidak bermanfaat untuk mereka karena mereka tidak mengikhlaskan ibadah untuk Allah—‘azza wa jalla—. Yang semisal mereka adalah para penyembah kuburan di masa sekarang. 


[4] الۡإِسۡلَامُ الصَّحِيحُ غَرِيبٌ الۡيَوۡمَ، أَمَّا الۡإِسۡلَامُ الۡمُدَّعَى، فَالۡمُسۡلِمُونَ الۡيَوۡمَ يَزِيدُونَ عَلَى الۡمِلۡيَارِ، وَلَكِنَّ الۡإِسۡلَامَ الصَّحِيحَ غَرِیبٌ، إِذۡ لَوۡ كَانَ هَٰذَا الۡمِلۡيَارُ إِسۡلَامُهُمۡ صَحِيحٌ لَمۡ يَقِفۡ أَمَامَهُمۡ أَحَدٌ مِنَ الۡعَالَمِ!! 

Islam yang sahih menjadi asing di hari-hari ini. Adapun Islam yang baru sebatas pengakuan, maka kaum muslimin pada hari ini berjumlah lebih dari satu miliar. Akan tetapi Islam yang sahih adalah agama yang asing. Jika satu milyar orang ini beragama Islam yang sahih, niscaya tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berani berdiri menghadang mereka. 

فَالۡيَهُودُ الَّذِينَ هُمۡ إِخۡوَانُ الۡقِرَدَةِ وَالۡخَنَازِيرِ الَّذِينَ ضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ الذِّلَّةُ وَالۡمَسۡكَنَةُ، الۡآنَ هُمۡ مُسَيۡطِرُونَ عَلَى بِلَادِ الۡمُسۡلِمِينَ، وَالۡمُسۡلِمُونَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي بَدۡرٍ كَانَ عَدَدُهُمۡ ثَلَثَمِائَةَ وَبِضۡعَةَ عَشَرَ، وَمَاذَا صَنَعُوا؟ 

Orang-orang Yahudi yang mereka adalah saudara-saudara kera-kera dan babi-babi, yang kenistaan dan kehinaan telah ditimpakan kepada mereka, sekarang mereka menguasai negeri-negeri kaum muslimin. 

Sedangkan kaum muslimin yang dahulu bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam perang Badr berjumlah tiga ratus sekian belas orang. Apa yang bisa mereka perbuat? 

فَالصَّحَابَةُ بِالنِّسۡبَةِ لِأَهۡلِ الۡأَرۡضِ کَمۡ هُمۡ؟ وَمَعَ هَٰذَا هُمۡ فَتَحُوا الۡأَمۡصَارَ، وَأَسۡقَطُوا کِسۡرَی وَقَیۡصَرَ، وَسَادُوا الۡعَالَمَ كُلَّهُ؛ لِأَنَّهُمۡ مُسۡلِمُونَ الۡإِسۡلَامَ الصَّحِيحَ، مَا هُوَ إِسۡلَامٌ ادِّعَائِيٌّ. 

Berapa perbandingan para sahabat dengan penduduk bumi waktu itu? Bersamaan dengan itu, mereka bisa menguasai berbagai negeri, mereka menjatuhkan kekuasaan Kisra dan Qaishar, dan menguasai seluruh dunia. Hal itu karena mereka orang-orang yang berislam dengan Islam yang sahih, bukan Islam sekadar pengakuan.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Pe-nashb Fiil Mudhari' - أَوۡ

الۡعَاشِرُ: (أَوۡ): تَنۡصِبُ الۡفِعۡلَ الۡمُضَارِعَ، وَهِيَ تَأۡتِي بِمَعۡنَی: (إِلَّا)، وَبِمَعۡنَی: (إِلَى). فَإِنۡ كَانَتۡ غَايَةً لِمَا قَبۡلَهَا فَهِيَ بِمَعۡنَی: (إِلَى) مِثۡلُ: (لَأَلۡزَمَنَّكَ أَوۡ تَقۡضِيَنِي دَيۡنِي). هَٰذِهِ عَلَى تَقۡدِيرِ (إِلَى أَنۡ تَقۡضِيَنِي دَيۡنِي). 

Kesepuluh: أَوۡ me-nashb-kan fiil mudhari’. أَوۡ bisa bermakna إِلَّا (kecuali) dan bisa bermakna إِلَى (sampai). 

Jika أَوۡ merupakan batas dari kalimat sebelumnya, maka dia bermakna إِلَى (sampai). Contoh, “لَأَلۡزَمَنَّكَ أَوۡ تَقۡضِيَنِي دَيۡنِي (Aku akan terus menagihmu atau engkau melunasi piutangku).” Kalimat ini menyiratkan makna “sampai engkau melunasi piutangku”. 

مِثَالُهَا بِمَعۡنَى (إِلَّا) (لَأَقۡتُلَنَّ الۡكَافِرَ أَوۡ يُسۡلِمَ)، هُنَا لَا يُمۡكِنُ أَنۡ نَجۡعَلَ (أَوۡ) بِمَعۡنَى: (إِلَى)؛ لِأَنَّ الۡقَتۡلَ لَا يَمۡتَدُّ إِلَى أَنۡ يُسۡلِمَ. لَكِنۡ نَجۡعَلُ (أَوۡ) بِمَعۡنَی: (إِلَّا أَنۡ يُسۡلِمَ). 

Contoh yang bermakna إِلَّا kecuali adalah “لَأَقۡتُلَنَّ الۡكَافِرَ أَوۡ يُسۡلِمَ (Aku pasti akan membunuh orang kafir itu atau dia masuk Islam)”. Di sini tidak mungkin kita artikan أَوۡ dengan إِلَى (sampai), karena pembunuhan itu tidak terus berlangsung sampai dia masuk Islam. Akan tetapi kita artikan dengan “kecuali dia masuk Islam”. 

وَنَقُولُ أَيۡضًا: (لَأَذۡبَحَنَّ الشَّاةَ أَوۡ تَأۡتِيَنِي بِلَحۡمٍ)، فَـ(أَوۡ) هُنَا بِمَعۡنَى (إِلَّا أَنۡ). 

Kita juga katakan, “لَأَذۡبَحَنَّ الشَّاةَ أَوۡ تَأۡتِيَنِي بِلَحۡمٍ (Aku pasti akan menyembelih kambing kecuali engkau mendatangkan daging kepadaku).” أَوۡ di sini bermakna “kecuali”. 

وَتَقُولُ: (لَأُولِعَنَّ السِّرَاجَ أَوۡ تَنۡفَتِحَ الۡكَهۡرَبَاءَ)، فَـ(أَوۡ) هُنَا بِمَعۡنَى (إِلَّا أَنۡ). 

Engkau katakan, “لَأُولِعَنَّ السِّرَاجَ أَوۡ تَنۡفَتِحَ الۡكَهۡرَبَاءَ (Aku pasti akan menyulut pelita itu kecuali engkau menyalakan listrik itu).” أَوۡ di sini bermakna “kecuali”. 

وَتَقُولُ: (لَأَشۡرَبَنَّ مَاءَ هَٰذَا الۡكَأۡسِ أَوۡ يَنۡتَهِيَ)، فَـ(أَوۡ) هُنَا بِمَعۡنَى (إِلَى أَنۡ). 

Engkau katakan, “لَأَشۡرَبَنَّ مَاءَ هَٰذَا الۡكَأۡسِ أَوۡ يَنۡتَهِيَ (Aku pasti akan minum air di gelas ini sampai habis).” أَوۡ di sini bermakna “sampai”. 

وَتَقُولُ: (لَأَلۡزَمَنَّ غَرِيمِي أَوۡ يَقۡضِيَنِي دَيۡنِي)، فَـ(أَوۡ) هُنَا بِمَعۡنَى (إِلَى أَنۡ). 

Engkau katakan, “لَأَلۡزَمَنَّ غَرِيمِي أَوۡ يَقۡضِيَنِي دَيۡنِي (Aku pasti akan menagih orang yang berutang kepadaku sampai dia melunasi piutangku).” أَوۡ di sini bermakna “sampai”. 

قَالَ الشَّاعِرُ: 

لَأَسۡتَسۡهِلَنَّ الصَّعۡبَ أَوۡ أُدۡرِكَ الۡمُنَى فَمَا انۡقَادَتِ الۡآمَالُ إِلَّا لِصَابِرِ 

وَالشَّاهِدُ فِي قَوۡلِهِ: (أَوۡ أُدۡرِكَ) (أَوۡ): حَرۡفُ نَصۡبٍ يَنۡصِبُ الۡفِعۡلَ الۡمُضَارِعَ. (أُدۡرِكَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَنۡصُوبٌ بِـ(أَوۡ) وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ فَتۡحَةٌ ظَاهِرَةٌ، وَالۡفَاعِلُ ضَمِيرٌ مُسۡتَتِرٌ وُجُوبًا تَقۡدِيرُهُ أَنَا. 

Penyair berkata, “لَأَسۡتَسۡهِلَنَّ الصَّعۡبَ أَوۡ أُدۡرِكَ الۡمُنَى (Aku benar-benar menganggap kesulitan sebagai kemudahan sampai aku menggapai cita-cita) فَمَا انۡقَادَتِ الۡآمَالُ إِلَّا لِصَابِرِ (Tidaklah angan-angan itu ditundukkan kecuali untuk orang yang sabar).” 

Yang jadi bukti adalah pada ucapannya, “أَوۡ أُدۡرِكَ”. أَوۡ adalah huruf nashb yang me-nashb-kan fiil mudhari’. أُدۡرِكَ fiil mudhari’ yang di-nashb dengan أَوۡ. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah yang tampak. Fa’il-nya kata ganti yang wajib disembunyikan, asumsinya adalah ana. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿سَتُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ قَوۡمٍ أُو۟لِى بَأۡسٍ شَدِيدٍ تُقَـٰتِلُونَهُمۡ أَوۡ يُسۡلِمُونَ﴾[الفتح: ١٦]، جَاءَتۡ ﴿يُسۡلِمُونَ﴾ هُنَا بِالرَّفۡعِ لِأَنَّ (أَوۡ) هُنَا عَاطِفَةٌ، فَيَكُونُ (يُسۡلِمُونَ) مَعۡطُوفًا عَلَى ﴿تُقَـٰتِلُونَهُمۡ﴾، وَالۡمَعۡنَى: إِمَّا أَنۡ تُقَاتِلُوهُمۡ، وَإِمَّا أَنۡ يُسۡلِمُوا، وَإِمَّا أَنۡ يَبۡذَلُوا الۡجِزۡيَةَ. 

Allah taala berfirman, “سَتُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ قَوۡمٍ أُو۟لِى بَأۡسٍ شَدِيدٍ تُقَـٰتِلُونَهُمۡ أَوۡ يُسۡلِمُونَ (Kalian akan diajak kepada suatu kaum yang mempunyai kekuatan yang dahsyat yang kalian akan memerangi mereka atau mereka menyerah).” (QS. Al-Fath: 16). 

يُسۡلِمُونَ di sini rafa’ karena أَوۡ di sini huruf ‘athf, sehingga يُسۡلِمُونَ di-‘athf kepada تُقَاتِلُونَهُمۡ. Maknanya adalah bisa jadi kalian memerangi mereka, atau mereka menyerah, atau mereka membayar jizyah. 

وَعَلَى كُلٍّ فَـ(أَوۡ) تَنۡصِبُ الۡفِعۡلَ الۡمُضَارِعَ، وَهِيَ تَأۡتِي عَلَى وَجۡهَيۡنِ: 

الۡأَوَّلُ: أَنۡ تَكُونَ بِمَعۡنَى: إِلَى. 

وَالثَّانِي: أَنۡ تَكُونَ بِمَعۡنَى: إِلَّا أَنۡ. 

فَإِنۡ كَانَ مَا بَعۡدَهَا غَايَةً لِمَا قَبۡلَهَا فَهِيَ بِمَعۡنَى: (إِلَى)، وَإِلَّا فَهِيَ بِمَعۡنَی: (إِلَّا). 

Kesimpulannya, أَوۡ me-nashb-kan fiil mudhari’ dan bisa memiliki dua arti: 
  1. bermakna “sampai”, 
  2. bermakna “kecuali”. 

Jika kalimat setelahnya merupakan batas akhir dari kalimat sebelumnya, maka bermakna “sampai”. Namun, jika tidak demikian, maka bermakna “kecuali”.