Cari Blog Ini

Pembatal Keislaman - 8. Mendukung Musyrikin dalam Memerangi Muslimin

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab--rahimahullah--di dalam Nawaqidh Al-Islam berkata:
الثَّامِنُ: مُظَاهَرَةُ الۡمُشۡرِکِینَ وَمُعَاوَنَتُهُمۡ عَلَى الۡمُسۡلِمِینَ. 
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾ [المائدة: ٥١]. 
Kedelapan: Mendukung dan membantu kaum musyrikin dalam memerangi kaum muslimin.[1]
Dalilnya adalah firman Allah taala, “Barang siapa di antara kalian yang berteman setia dengan mereka, maka dia termasuk mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 51).[2]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--di dalam syarahnya berkata:

[1] الثَّامِنُ مِنۡ أَنۡوَاعِ الرِّدَّةِ: مُظَاهَرَةُ الۡمُشۡرِكِينَ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ، أَيۡ: مُعَاوَنَتُهُمۡ، فَالۡمُظَاهَرَةُ مَعۡنَاهَا الۡمُعَاوَنَةُ، بَأَنۡ تُعِينَ الۡكُفَّارَ، عَلَى قِتَالِ الۡمُسۡلِمِينَ وَأَذِيَّةِ الۡمُسۡلِمِينَ. 

Jenis kemurtadan kedelapan adalah mendukung orang-orang musyrik dalam memerangi kaum muslimin. Artinya adalah menolong mereka. Muzhaharah maknanya pertolongan, yaitu menolong orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin dan mengganggu kaum muslimin. 

وَكَذٰلِكَ مَنۡ أَحَبَّ الۡكُفَّارَ فَإِنَّهُ يَكۡفُرُ، وَهَٰذَا هُوَ التَّوَلِّي ﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ﴾ [المائدة: ٥١] يَتَوَلَّاهُمۡ بِالۡمُنَاصَرَةِ وَالۡمُظَاهَرَةِ، أَوۡ يَتَوَلَّاهُمۡ بِالۡمَحَبَّةِ، فَإِنَّهُ يَكۡفُرُ؛ لِأَنَّهُ أَحَبَّ الۡكُفۡرَ وَأَحَبَّ الۡكُفَّارَ فَيَكۡفُرُ بِذٰلِكَ، إِذَا أَحَبَّهُمۡ مَعۡنَاهُ: أَنَّهُ لَمۡ يُنۡكِرِ الۡكُفۡرَ، وَمَنۡ لَمۡ يُنۡكِرِ الۡكُفۡرَ فَهُوَ كَافِرٌ. 

Begitu pula, barang siapa mencintai orang-orang kafir, maka dia kafir. Ini adalah dukungan. “Siapa saja yang mendukung mereka di antara kalian.” (QS. Al-Ma`idah: 51). 

Orang yang mendukung mereka dengan pembelaan dan pertolongan, atau mendukung mereka dengan kecintaan, maka dia kafir, karena dia mencintai kekufuran dan mencintai orang-orang kafir, sehingga dia kafir dengan sebab itu. Ketika dia mencintai mereka, maka maknanya adalah dia tidak mengingkari kekufuran. Barang siapa tidak mengingkari kekufuran, maka dia kafir. 


[2] أَوَّلُ الۡآيَةِ: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَ ۘ﴾ [المائدة: ٥١]. أَيۡ: لَا تَتَوَلَّوۡهُمۡ لَا بِمُظَاهَرَةٍ وَلَا بِمَحَبَّةٍ وَلَا بِمُعَاوَنَةٍ ﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ﴾ يَعۡنِي: مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ ﴿فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ ۗ﴾ أَيۡ: يَكُونُ مِنَ الۡيَهُودِ وَالنَّصَارَى، وَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى رِدَّتِهِ، ثُمَّ قَالَ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ﴾ فَسَمَّاهُمۡ ظَالِمِينَ. 

Permulaan ayat ini adalah, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia!” (QS. Al-Ma`idah: 51). Artinya, jangan kalian mendukung mereka, tidak dengan pertolongan, tidak dengan kecintaan, dan tidak dengan bantuan. 

“Barang siapa yang mendukung mereka di antara kalian,” yakni dari kalangan kaum muslimin. “Maka sesungguhnya dia termasuk mereka,” yaitu dia menjadi bagian orang-orang Yahudi dan Nasrani. 

Ini merupakan dalil atas kemurtadannya. Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki kaum yang zalim.” Allah menamai mereka orang-orang yang zalim.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Pen-jazm Fiil Mudhari' - Lam Doa

Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin--rahimahullah--berkata:

وَقَوۡلُهُ: (وَالدُّعَاءِ) لَامُ الدُّعَاءِ؛ هِيَ اللَّامُ الَّتِي يُوَجَّهُ فِيهَا الۡخِطَابُ إِلَى اللهِ. مِثۡلُ: (رَبِّ لِتَغۡفِرۡ لِي) اللَّامُ هُنَا لَوۡ كَانَ الۡمُخَاطَبُ غَيۡرَ اللهِ لَكَانَتِ اللَّامُ لِلۡأَمۡرِ. 

لَكِنۡ لَمَّا كَانَ الۡخِطَابُ مُوَجَّهًا إِلَى اللهِ، فَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ نَأۡمُرَ اللهَ، فَاللهُ يَأۡمُرُ وَلَا يُؤۡمَرُ، إِذَنۡ؛ نَقُولُ: اللَّامُ لِلدُّعَاءِ. 

وَنَقُولُ فِي إِعۡرَابِهَا: (لِتَغۡفِرۡ): (اللَّامُ) لَامُ الدُّعَاءِ. (تَغۡفِرۡ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الدّعَاءِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ. 

Ucapan mualif, “dan huruf lam doa.” Yaitu huruf lam yang diucapkan ditujukan kepada Allah. Contoh, “رَبِّ لِتَغۡفِرۡ لِي (Ya Rabi, ampunilah aku).” Andai yang diajak bicara bukan Allah, niscaya huruf lam menjadi lam perintah. Akan tetapi ketika pembicaraan ditujukan kepada Allah, maka kita tidak mungkin memerintah Allah. Allah lah yang menyuruh dan Dia tidak disuruh. Jadi kita katakan, lam doa. 

Kita katakan ketika mengikrabnya: لِتَغۡفِرۡ: huruf lam adalah lam doa. تَغۡفِرۡ fiil mudhari’ yang di-jazm dengan sebab lam doa. Tanda jazm-nya adalah sukun. 

وَمِنۡ ذٰلِكَ قَوۡلُهُ: ﴿يَـٰمَـٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَ﴾ [الزخرف: ٧٧]، فَنَقُولُ: 

(لِيَقۡضِ): (اللَّامُ) لَامُ الدُّعَاءِ. (يَقۡضِ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الدُّعَاءِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ الۡيَاءِ، وَالۡكَسۡرَةُ قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا. 

(عَلَيۡنَا): جَارٌّ وَمَجۡرُورٌ. 

(رَبُّ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ ضَمَّةٌ ظَاهِرَةٌ، وَالۡكَافُ ضَمِيرٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى الۡفَتۡحِ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيۡهِ. 

Termasuk bab itu adalah firman Allah, “Wahai Malik, semoga Tuhanmu mematikan kami saja.” (QS. Az-Zukhruf: 77). 

Kita katakan: 

لِيَقۡضِ: huruf lam adalah lam doa. يَقۡضِ adalah fiil mudhari’ yang di-jazm dengan sebab lam doa. Tanda jazm-nya adalah dibuangnya huruf ya. Harakat kasrah sebelumnya adalah tanda yang menunjukkan akan hal itu. 

عَلَيۡنَا: jarr dan majrur. 

رَبُّ: fa’il yang di-raf’. Tanda raf’-nya adalah harakat damah yang tampak. Huruf kaf adalah kata ganti yang mabni di atas harakat fatah dalam keadaan jarr sebagai mudhaf ilaih.

Pembatal Keislaman - 7. Sihir

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab--rahimahullah--di dalam Nawaqidh Al-Islam berkata:
السَّابِعُ: السِّحۡرُ: وَمِنۡهُ الصَّرۡفُ وَالۡعَطۡفُ، فَمَنۡ فَعَلَهُ أَوۡ رَضِيَ بِهِ؛ کَفَرَ. 
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡ ۖ﴾ [البقرة: ١٠٢]. 
Ketujuh: Sihir. Termasuk sihir adalah sharf dan ‘athf (ramuan yang bisa mempengaruhi akal, keinginan, dan kecenderungan dari orang yang disihir sehingga bisa menyebabkannya membenci atau mencintai pasangannya). Siapa saja yang mengerjakannya atau rida terhadapnya, maka dia kafir.
Dalilnya adalah firman Allah taala, “Keduanya tidaklah mengajari seorang pun hingga keduanya mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah engkau kafir.’”(QS. Al-Baqarah: 102).[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--berkata di dalam syarahnya:

[1] النَّوۡعُ السَّابِعُ مِنۡ أَنۡوَاعِ الرِّدَّةِ: السِّحۡرُ، وَالسِّحۡرُ عَمَلٌ يَعۡمَلُهُ السَّاحِرُ، وَهُوَ عَلَى نَوۡعَيۡنِ: سِحۡرٌ حَقِيقِيٌّ، وَسِحۡرٌ تَخۡيِيلِيٌّ. 

Jenis ketujuh dari macam-macam kemurtadan adalah sihir. Sihir adalah amalan yang dikerjakan oleh tukang sihir. Sihir ada dua macam: sihir yang hakiki dan sihir yang bersifat pengkhayalan. 

النَّوۡعُ الۡأَوَّلُ: سِحۡرٌ حَقِيقِيٌّ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنۡ عُقَدٍ يُنۡفَثُ فِيهَا السَّاحِرُ، وَرُقًى وَكَلَامٍ يُتَمۡتَمُ بِهِ، وَيَسۡتَعِينُ بِالشَّيَاطِينِ فِي كَلَامِهِ، وَعَزَائِمَ يُعَلَّقُونَهَا، وَكِتَابَاتِ طَلَاسِمَ یَکۡتُبُونَهَا بِأَسۡمَاءِ الشَّيَاطِينِ، هَٰذَا هُوَ السِّحۡرُ الۡحَقِيقِيُّ، هَٰذَا يُؤَثِّرُ فِي الۡمَسۡحُورِ، إِمَّا بِقَتۡلِهِ وَإِمَّا بِإِمۡرَاضِهِ وَإِمَّا بِالۡإِخۡلَالِ بِعَقۡلِهِ. 

Jenis sihir yang pertama adalah sihir yang hakiki. Yaitu ungkapan tentang perbuatan tukang sihir yang meniup buhul-buhul. Begitu pula menggumamkan jampi-jampi dan mantra-mantra. Tukang sihir itu meminta tolong kepada setan-setan dengan ucapan-ucapannya. Begitu pula menggantungkan jimat-jimat dan simbol-simbol yang mereka tulis dengan nama-nama setan. Ini merupakan bentuk sihir yang hakiki. Sihir ini bisa berpengaruh kepada orang yang disihir. Bisa membuatnya mati, membuatnya sakit, atau menghilangkan akalnya. 

وَالنَّوۡعُ الثَّانِي: تَخۡیِیلِيٌّ: بِأَنۡ يَعۡمَلَ أَشۡيَاءَ يُخَيَّلُ إِلَى النَّاسِ أَنَّهَا صَحِيحَةٌ، وَهِيَ غَيۡرُ صَحِيحَةٍ، يُخَيَّلُ لِلنَّاسِ أَنَّهُ يُقَلِّبُ الۡحَجَرَ إِلَى حَيَوَانٍ، أَوۡ أَنَّهُ يَقۡتُلُ شَخۡصًا وَيُحۡيِيهِ، يَقۡطَعُ رَأۡسَهُ ثُمَّ يَرُدُّهُ، أَوۡ أَنَّهُ يَجُرُّ السَّيَّارَةَ بِشَعۡرِهِ أَوۡ بِأَسۡنَانِهِ، أَوۡ أَنَّ السَّيَّارَةَ تَمۡشِي عَلَيۡهِ وَلَا تَضُرُّهُ، أَوۡ أَنَّهُ يَدۡخُلُ فِي النَّارِ، أَوۡ يَأۡكُلُ النَّارَ، أَوۡ يَطۡعَنُ نَفۡسَهُ بِالۡحَدِيدِ، يَطۡعَنُ عَيۡنَهُ بِأَسۡيَاخِ الۡحَدِيدِ، أَوۡ يَأۡكُلُ الزُّجَاجَ، كُلُّ هَٰذِهِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الشَّعۡوَذَةِ، وَهِيَ لَا حَقِيقَةَ لَهَا، مِثۡلُ سِحۡرِ سَحَرَةِ فِرۡعَوۡنَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ﴾ [طه: ٦٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿سَحَرُوٓا۟ أَعۡيُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ﴾ [الأعراف: ۱۱٦]. هَٰذَا سِحۡرٌ تَخۡيِيلِيٌّ، وَهَٰذَا يُسَمُّونَهُ الۡقُمۡرَةَ، الَّتِي يَعۡمَلُهَا السَّاحِرُ عَلَى أَعۡيُنِ النَّاسِ، ثُمَّ إِذَا انۡتَهَتِ الۡقُمۡرَةُ، عَادَتِ الۡأَشۡيَاءُ إِلَى حَقِيقَتِهَا، وَالسِّحۡرُ كُفۡرٌ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَی: ﴿وَلَـٰكِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ كَفَرُوا۟ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ﴾ [البقرة: ۱۰۲]. السِّحۡرُ تَعَلُّمُهُ وَتَعۡلِيمُهُ كُفۡرٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الرِّدَّةِ، فَالسَّاحِرُ مُرۡتَدٌّ، إِذَا كَانَ مُؤۡمِنًا ثُمَّ سَحَرَ فَإِنَّهُ يَرۡتَدُّ عَنۡ دِینِ الۡإِسۡلَامِ، وَيُقۡتَلُ وَلَا يُسۡتَتَابُ، عِنۡدَ بَعۡضِ الۡعُلَمَاءِ؛ لِأَنَّهُ حَتَّى وَلَوۡ تَابَ فِي الظَّاهِرِ فَهُوَ يُخَادِعُ النَّاسَ، وَلَا يَزُولُ عِلۡمُ السِّحۡرِ مِنۡ قَلۡبِهِ وَلَوۡ تَابَ. 

Jenis sihir kedua adalah sihir yang bersifat pengkhayalan, yaitu dengan melakukan sesuatu yang dikhayalkan kepada manusia bahwa hal itu nyata padahal tidak nyata. Misal, dikhayalkan kepada manusia bahwa dia bisa mengubah batu menjadi hewan, atau dia bisa membunuh seseorang lalu menghidupkannya, dia memotong kepalanya lalu mengembalikannya. Atau dia bisa menarik mobil dengan rambut atau giginya, atau mobil menabraknya namun tidak mencelakainya, atau dia masuk ke dalam api, atau makan api, atau menusuk dirinya dengan besi, menusuk matanya dengan besi yang runcing, atau makan kaca. Semua ini termasuk jenis permainan sulap yang tidak ada kenyataannya, semisal sihirnya para tukang sihir Fir’aun. 

Allah taala berfirman, “Dibayangkan kepada Musa bahwa tongkat-tongkat itu merayap cepat lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha: 66). 

Allah taala berfirman, “Mereka menyihir mata-mata manusia dan menjadikan mereka takut.” (QS. Al-A’raf: 116). 

Ini adalah sihir pengkhayalan. Jenis sihir ini mereka namakan qumrah yang dilakukan oleh tukang sihir terhadap mata-mata manusia. Apabila sihir qumrah ini selesai, maka hal-hal yang dikhayalkan tadi kembali kepada bentuk aslinya. 

Sihir adalah kekufuran. Dalilnya adalah firman Allah taala, “Akan tetapi para setan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102). 

Mempelajari sihir dan mengajarkannya adalah perbuatan kufur kepada Allah—‘azza wa jalla—dan merupakan salah satu jenis kemurtadan. Jadi tukang sihir adalah orang yang murtad. Jika dia tadinya seorang mukmin lalu melakukan sihir, maka dia murtad dari agama Islam. Dia dihukum bunuh tanpa dituntut untuk bertobat menurut sebagian ulama karena andai dia lahirnya bertobat, namun dia biasanya mengelabui orang-orang dan ilmu sihir tidak hilang dari hatinya walaupun dia bertobat. 

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡ ۖ﴾ [البقرة: ۱۰۲] اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- أَنۡزَلَ مَلَكَيۡنِ مِنَ السَّمَاءِ يُعَلِّمَانِ السِّحۡرَ، ابۡتِلَاءً لِلنَّاسِ، وَامۡتِحَانًا لِلنَّاسِ، فَإِذَا جَاءَهُمۡ مَنۡ يُرِيدُ تَعَلُّمَ السِّحۡرِ نَصَحَاهُ، وَقَالَا لَهُ: ﴿إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٌ فَلَا تَكۡفُرۡ ۖ﴾ يَعۡنِي: لَا تَتَعَلَّمِ السِّحۡرَ فَدَلَّ عَلَى أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحۡرِ کُفۡرٌ. 

Dalil (mempelajari sihir merupakan kekufuran) adalah firman Allah taala, “Kedua malaikat itu tidaklah akan mengajari seorangpun sampai keduanya berkata: Kami hanyalah ujian, maka janganlah engkau kufur.” (QS. Al-Baqarah: 102). 

Allah—jalla wa ‘ala—menurunkan dua malaikat dari langit untuk mengajari sihir sebagai cobaan dan ujian bagi manusia. Jika ada yang ingin belajar sihir kepada keduanya, maka kedua malaikat itu menasihatinya dan berkata kepadanya, “Kami hanyalah ujian, janganlah engkau kufur.” Yakni, janganlah engkau belajar sihir. Ini menunjukkan bahwa belajar sihir merupakan kekufuran.

Syarh Al-Ajurrumiyyah - Pen-jazm Fiil Mudhari' - Lam Perintah

Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin--rahimahullah--berkata:

وَقَوۡلُهُ: (وَلَامُ الۡأَمۡرِ): يَعۡنِي: اللَّامَ الدَّالَّةَ عَلَى الۡأَمۡرِ. 

مِثۡلُ: قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ﴾ [الطلاق: ٧]. 

(لِيُنۡفِقۡ): (اللَّامُ) لَامُ الۡأَمۡرِ. (يُنۡفِقۡ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِاللَّامِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ. 

(ذُو): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ الۡوَاوُ نِيَابَةً عَنِ الضَّمَّةِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡخَمۡسَةِ. وَ(ذُو) مُضَافٌ. 

(سَعَةٍ): مُضَافٌ إِلَيۡهِ مَجۡرُورٌ بِالۡإِضَافَةِ وَعَلَامَةُ جَرِّهِ الۡكَسۡرَةُ. 

Ucapan mualif, “Huruf lam perintah.” Yakni, huruf lam yang menunjukkan makna perintah. Contohnya firman Allah taala, “لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِۦ (Hendaknya orang yang memiliki keluasan rezeki memberi nafkah menurut kemampuannya).” (QS. Ath-Thalaq: 7). 

لِيُنۡفِقۡ: Huruf lam adalah lam perintah. يُنۡفِقۡ adalah fiil mudhari’ yang di-jazm dengan huruf lam. Tanda jazm-nya adalah sukun. 

ذُو: fa’il yang di-raf’. Tanda raf’-nya adalah huruf wawu sebagai ganti dari harakat damah karena termasuk isim-isim yang lima. ذُو juga mudhaf. 

سَعَةٍ adalah mudhaf ilaih yang di-jarr karena idhafah. Tanda jarr-nya adalah harakat kasrah. 

وَمِثۡلُ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ إِلَى ٱلسَّمَآءِ ثُمَّ لۡيَقۡطَعۡ﴾ [الحج: ١٥]. 

(فَلۡيَمۡدُدۡ): (اللَّامُ) لَامُ الۡأَمۡرِ، وَ(يَمۡدُدۡ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الۡأَمۡرِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ. 

(لِيَقۡطَعۡ): (اللَّامُ) لَامُ الۡأَمۡرِ، وَ(يَقۡطَعۡ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الۡأَمۡرِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ السُّكُونُ. 

Contoh lain adalah firman Allah taala, “فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ إِلَى ٱلسَّمَآءِ ثُمَّ لۡيَقۡطَعۡ (Hendaknya dia bentangkan tali ke langit, kemudian hendaknya dia melaluinya)” (QS. Al-Hajj: 15). 

فَلۡيَمۡدُدۡ: Huruf lam adalah lam perintah. يَمۡدُدۡ adalah fiil mudhari’ yang di-jazm dengan huruf lam perintah. Tanda jazm-nya adalah sukun. 

لِيَقۡطَعۡ: Huruf lam adalah lam perintah. يَقۡطَعۡ adalah fiil mudhari’ yang di-jazm dengan huruf lam perintah. Tanda jazm-nya adalah sukun. 

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُوا۟ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعَـٰفًا خَافُوا۟ عَلَيۡهِمۡ﴾ [النساء: ٩]. 

(وَلۡيَخۡشَ): (اللَّامُ) لَامُ الۡأَمۡرِ، وَ(يَخۡشَ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الۡأَمۡرِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ الۡأَلِفِ، وَالۡفَتۡحَةُ قَبۡلَهَا دَلِيلٌ عَلَيۡهَا. 

Allah taala berfirman, “وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُوا۟ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعَـٰفًا خَافُوا۟ عَلَيۡهِمۡ (Hendaknya takut kepada Allah orang-orang yang andai mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatirkan (kesejahteraannya).” (QS. An-Nisa`: 9). 

وَلۡيَخۡشَ: huruf lam adalah lam perintah. يَخۡشَ adalah fiil mudhari’ yang di-jazm dengan lam perintah. Tanda jazm-nya adalah dibuangnya huruf alif. Harakat fatah sebelumnya adalah tanda yang menunjukkan hal tersebut. 

وَتَقُولُ: (يَضۡرِبُ زَيۡدٌ)، فَإِذَا أَرَدۡتَ أَنۡ تُدۡخِلَ عَلَيۡهِ لَامَ الۡأَمۡرِ قُلۡتَ: (لِيَضۡرِبۡ زَيۡدٌ) وَسَكَّنۡتَ الۡبَاءَ. 

Engkau katakan, “يَضۡرِبُ زَيۡدٌ (Zaid sedang memukul).” Jika engkau hendak memasukkan huruf lam perintah ke kalimat tersebut, maka engkau katakan, “لِيَضۡرِبۡ زَيۡدٌ (Hendaknya Zaid memukul).” Engkau beri tanda sukun pada huruf ba. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ لۡيَقۡضُوا۟ تَفَثَهُمۡ﴾ [الحج:۲۹]. 

(ثُمَّ): حَرۡفُ عَطۡفٍ. 

(لۡيَقۡضُوا): (اللَّامُ) لَامُ الۡأَمۡرِ. (يَقۡضُوا): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الۡأَمۡرِ وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ النُّونِ؛ لِأَنَّهُ مِنَ الۡأَفۡعَالِ الۡخَمۡسَةِ، وَ(الۡوَاوُ): ضَمِيرٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى السُّكُونِ فِي مَحَلِّ رَفۡعٍ فَاعِلٌ. 

(تَفَثَهُمۡ): (تَفَثَ): مَفۡعُولٌ بِهِ مَنۡصُوبٌ وَعَلَامَةُ نَصۡبِهِ الۡفَتۡحَةُ. وَ(الۡهَاءُ): ضَمِيرٌ مَبۡنِيٌّ عَلَى الضَّمِّ فِي مَحَلِّ جَرٍّ مُضَافٌ إِلَيۡهِ وَسَكَّنَّا لَامَ الۡأَمۡرِ؛ لِأَنَّهَا إِذَا جَاءَتۡ بَعۡدَ (الۡوَاوِ وَالۡفَاءِ وَثُمَّ) تُسَكَّنُ. 

Allah taala berfirman, “ثُمَّ لۡيَقۡضُوا۟ تَفَثَهُمۡ (Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka).” (QS. Al-Hajj: 29). 

ثُمَّ adalah huruf ‘athf. 

لۡيَقۡضُوا: huruf lam adalah lam perintah. يَقۡضُوا fiil mudhari’ yang di-jazm dengan sebab lam perintah. Tanda jazm-nya adalah dibuangnya huruf nun karena dia termasuk fiil-fiil yang lima. Huruf wawu adalah kata ganti yang mabni di atas tanda sukun dalam keadaan raf’ sebagai fa’il. 

تَفَثَهُمۡ: تَفَثَ adalah maf’ul bih yang di-nashb. Tanda nashb-nya adalah harakat fatah. Huruf ha adalah kata ganti yang mabni di atas harakat damah dalam keadaan jarr sebagai mudhaf ilaih. 

Kita memberi tanda sukun pada lam perintah karena ketika lam perintah terletak setelah huruf wawu, fa, dan tsumma, maka diberi tanda sukun. 

وَتَقُولُ: (لِيَقُمۡ زَيۡدٌ) اللَّامُ لَامُ الۡأَمۡرِ. 

(يَقُمۡ): فِعۡلٌ مُضَارِعٌ مَجۡزُومٌ بِلَامِ الۡأَمۡرِ، وَعَلَامَةُ جَزۡمِهِ حَذۡفُ حَرۡفِ الۡعِلَّةِ. 

(زَيۡدٌ): فَاعِلٌ مَرۡفُوعٌ وَعَلَامَةُ رَفۡعِهِ ضَمَّةٌ ظَاهِرَةٌ. 

Engkau katakan, “لِيَقُمۡ زَيۡدٌ (Hendaknya Zaid berdiri).” Huruf lam adalah lam perintah. 

يَقُمۡ fiil mudhari’ yang di-jazm dengan sebab lam perintah. Tanda jazm-nya adalah dibuangnya huruf ilat sukun. 

زَيۡدٌ adalah fa’il yang di-raf’. Tanda raf’-nya adalah harakat damah yang tampak. 

وَمِنۡهُ: (لِنَبۡدَأۡ فِي دَرۡسِ الۡآجُرُّومِيَّةِ) فَاللَّامُ هُنَا لَامُ الۡأَمۡرِ، فَجَزَمَتِ الۡفِعۡلَ الۡمُضَارِعَ. 

Termasuk bab ini adalah, “لِنَبۡدَأۡ فِي دَرۡسِ الۡآجُرُّومِيَّةِ (Mari kita mulai pelajaran Al-Ajurrumiyyah).” Huruf lam di sini adalah lam perintah, sehingga men-jazm fiil mudhari’.

Pembatal Keislaman - 6. Mengolok-olok Syariat

Syekh Muhammad bin 'Abdul Wahhab--rahimahullah--di dalam Nawaqidh Al-Islam berkata:
السَّادِسُ: مَنِ اسۡتَهۡزَأَ بِشَيۡءٍ مِنۡ دِينِ الرَّسُولِ أَوۡ ثَوَابِ اللهِ أَوۡ عِقَابِهِ؛ کَفَرَ.
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝٦٥ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ [التوبة: ٦٥-٦٦]. 
Keenam: Barang siapa mengolok-olok sedikit saja dari agama rasul, pahala dan siksa Allah, maka dia kafir.[1]
Dalilnya adalah firman Allah, “Katakan: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya, kalian mengolok-olok? Jangan beralasan! Kalian telah kafir setelah tadinya kalian beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66).[2]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--di dalam syarahnya berkata:

[1] السَّادِسُ مِنۡ أَنۡوَاعِ الرِّدَّةِ: الۡاِسۡتِهۡزَاءُ بِمَا أَنۡزَلَ اللهُ، أَوۡ بِشَيۡءٍ مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ، وَلَوۡ كَانَ مِنَ السُّنَنِ وَالۡمُسۡتَحَبَّاتِ، کَالسِّوَاكِ وَقَصِّ الشَّارِبِ وَأَخۡذِ شَعۡرِ الۡإِبۡطِ وَتَقۡلِيمِ الۡأَظَافِرِ، إِذَا اسۡتَهۡزَأَ بِهِ صَارَ كَافِرًا، الدَّلِيلُ عَلَى ذٰلِكَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُ ۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝٦٥ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡۚ﴾ [التوبة: ٦٥-٦٦] فَالَّذِي يَسۡتَهۡزِئُ بِشَيۡءٍ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ فَرۡضًا أَوۡ وَاجِبًا أَوۡ سُنَّةً فَإِنَّهُ يَكُونُ مُرۡتَدًّا عَنۡ دِينِ الۡإِسۡلَامِ. 

Jenis kemurtadan yang keenam adalah sikap mengolok-olok terhadap apa yang Allah turunkan atau sebagian dari ajaran yang Rasulullah bawa, walaupun ajaran itu bersifat sunah dan tidak sampai wajib, seperti gosok gigi menggunakan siwak, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, atau memotong kuku. Apabila dia mengolok-oloknya, maka dia menjadi kafir. 

Dalil akan hal itu adalah firman Allah taala, “Apabila engkau bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan mengatakan: Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya, kalian mengolok-olok?! Jangan kalian beralasan! Kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman.” (QS. At-Taubah: 65-66). 

Jadi orang yang mengolok-olok sebagian dari ajaran Rasulullah, baik yang fardu, atau wajib, atau sunah, maka dia menjadi murtad/keluar dari agama Islam. 

مَا بَالُكُمۡ بِالَّذِي يَقُولُ: إِعۡفَاءُ اللِّحۡيَةِ وَحَفُّ الشَّارِبِ وَأَخۡذُ الۡآبَاطِ وَغَسۡلُ الۡبَرَاجِمِ هَٰذِهِ قُشُورٌ، هَٰذَا هُوَ الۡاِسۡتِهۡزَاءُ بِدِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِذَا قَالُوا هَٰذَا الشَّيۡءَ وَلَوۡ كَانُوا هُمۡ يَعۡمَلُونَهُ فَإِنَّهُمۡ يَرۡتَدُّونَ عَنِ الدِّينِ؛ لِأَنَّ هَٰذَا تَنَقُّصٌ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ، فَالۡوَاجِبُ تَعۡظِيمُ سُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ، وَاحۡتِرَامُهَا، وَحَتَّى لَوۡ أَنَّ الۡإِنۡسَانَ وَقَعَ فِي شَيۡءٍ مِنَ الۡمُخَالَفَةِ لَهُوَى فِي نَفۡسِهِ فَإِنَّهُ يَحۡتَرِمُ سُنَّةَ الرَّسُولِ ﷺ، وَيَحۡتَرِمُ السُّنَنَ، وَيَحۡتَرِمُ الۡأَحَادِيثَ، وَلَا يَقُولُ: هَٰذِهِ قُشُورٌ. 

Apa pendapat kalian dengan orang yang mengatakan bahwa membiarkan jenggot, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan membasuh ruas-ruas jari merupakan perkara ‘kulit’ (bukan inti agama). Ini bentuk sikap mengolok-olok agama Allah—‘azza wa jalla—. 

Jika mereka mengatakan ucapan ini, walaupun mereka mengamalkannya, maka sungguh mereka murtad dari agama Islam. Karena ini bentuk pelecehan terhadap ajaran Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. 

Yang wajib adalah mengagungkan sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan menghormatinya. Sampaipun andai seseorang jatuh dalam sikap menyelisihi sunah beliau karena hawa nafsu, namun dia tetap harus menghormati sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, menghormati ajaran beliau, dan menghormati hadis-hadis. Tidak boleh dia mengatakan bahwa ini adalah perkara ‘kulit’. 


[2] سَبَبُ نُزُولِ الۡآيَةِ: أَنَّ جَمَاعَةً كَانُوا مَعَ الرَّسُولِ ﷺ فِي غَزۡوَةِ تَبُوكٍ، وَهُمۡ مُسۡلِمُونَ، ثُمَّ فِي مَجۡلِسٍ صَارُوا يَقُولُونَ: مَا رَأَيۡنَا مِثۡلَ قُرَّائِنَا هَٰؤُلَاءِ، أَكۡذَبُ أَلۡسِنَةٍ، وَأَرۡغَبُ بُطُونًا، وَأَجۡبَنُ عِنۡدَ اللِّقَاءِ، يَعۡنُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابَهُ، وَكَانَ مَعَهُمۡ شَابٌّ مِنَ الصَّحَابَةِ فَاغۡتَاظَ مِنۡ هَٰذَا الۡكَلَامِ، وَذَهَبَ يَبۡلُغُ الرَّسُولَ ﷺ بِمَا قَالَهُ الۡقَوۡمُ، فَوَجَدَ الۡوَحۡيَ قَدۡ سَبَقَ، فَجَاءَ الۡقَوۡمُ يَعۡتَذِرُونَ لَمَّا عَلِمُوا أَنَّ الرَّسُولَ اطَّلَعَ عَلَى مَا دَارَ فِي مَجۡلِسِهِمۡ وَقَامَ: وَاحِدٌ مِنۡهُمۡ وَتَعَلَّقَ بِنِسۡعَةِ نَاقَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ رَاكِبٌ، وَقَالَ: یَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّنَا نَتَحَدَّثُ حَدِيثَ الرَّكۡبِ، نَقۡطَعُ بِهِ عَنَّا السَّفَرَ، مَا قَصَدۡنَا الۡاِسۡتِهۡزَاءَ، وَإِنَّمَا قَصَدۡنَا الۡمَزۡحَ، وَالرَّسُولُ ﷺ لَا يَلۡتَفِتُ إِلَيۡهِ، وَإِنَّمَا يَقۡرَأُ عَلَيۡهِ هَٰذِهِ الۡآيَةَ: ﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُ ۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝٦٥ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ لَاحِظۡ قَوۡلَهُ: ﴿قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمۡ قَبۡلَ هَٰذِهِ الۡمَقَالَةِ كَانُوا مُؤۡمِنِينَ، فَلَمَّا قَالُوهَا ارۡتَدُّوا عَنِ الۡإِسۡلَامِ. 

Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa ada sekelompok orang dahulu bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada perang Tabuk, ketika itu mereka adalah kaum muslimin. Kemudian pada suatu majelis, mereka berkata: Kami tidak melihat orang yang paling dusta lisannya, paling banyak makannya, paling pengecut ketika bertemu musuh seperti ahli qiraah kita ini. Mereka maksudkan adalah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan para sahabat beliau. Ketika itu ada seorang pemuda dari kalangan sahabat Nabi yang bersama mereka. Mendengar ucapan itu, dia marah lalu pergi untuk menyampaikan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ucapan orang-orang itu. Namun ternyata wahyu sudah mendahuluinya. 

Orang-orang tadi datang sambil mengajukan alasan ketika mereka tahu bahwa Rasulullah mengetahui apa yang terjadi pada majelis mereka. Salah seorang dari mereka bangkit dan memegangi tali pengikat barang pada unta Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau sedang menaikinya. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengucapkan perkataan orang yang bepergian supaya kami mengusir kepenatan safar dari kami. Kami tidak bermaksud berolok-olok. Kami hanya bermaksud bercanda.” 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak menoleh kepadanya. Beliau hanya membaca ayat ini kepadanya, “Apabila engkau bertanya kepada mereka, pasti mereka akan menjawab, ‘Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok?! Kalian tidak usah beralasan. Kalian telah kafir setelah sebelumnya kalian beriman.’” Perhatikan firman-Nya, “Kalian telah kafir setelah kalian sebelumnya beriman”! Ini menunjukkan bahwa mereka sebelum melontarkan ucapan tersebut adalah orang-orang yang beriman. Ketika mereka telah mengatakannya, mereka murtad keluar dari Islam. 

وَهُمۡ يَقُولُونَ: هَٰذَا مَزۡحٌ، لِأَنَّ أُمُورَ الدِّينِ لَا يُمۡزَحُ فِيهَا، فَقَدۡ كَفَّرَهُمُ اللهُ بَعۡدَ إِيمَانِهِمۡ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ. 

(Mereka murtad) walaupun mereka mengatakan, “Ini senda gurau”; karena perkara agama tidak boleh untuk jadi bahan senda gurau. Allah telah mengafirkan mereka setelah sebelumnya mereka beriman. Kita meminta keselamatan kepada Allah. 

فَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنۡ سَبَّ اللهَ أَوۡ رَسُولَهُ أَوۡ كِتَابَهُ أَوۡ شَيۡئًا مِنَ الۡقُرۡآنِ أَوۡ شَيۡئًا مِنۡ سُنَّةِ الرَّسُولِ ﷺ، أَنَّهُ يَرۡتَدُّ عَنِ الۡإِسۡلَامِ وَإِنۡ كَانَ يَمۡزَحُ، وَأَيۡنَ الَّذِينَ يَقُولُونَ: إِنَّهُ لَا يَرۡتَدُّ إِلَّا إِذَا نَوَى مِنۡ قَلۡبِهِ؟ فَلَوۡ سَبَّ اللهَ وَالرَّسُولَ أَوِ الۡقُرۡآنَ، مَا نَحۡكُمُ عَلَيۡهِ إِلَّا إِذَا كَانَ اعۡتَقَدَهُ، مَا نَحۡكُمُ عَلَيۡهِمۡ بِمُجَرَّدِ التَّكَلُّمِ أَوِ التَّلَفُّظِ أَوِ الۡفِعۡلِ، مِنۡ أَيۡنَ أَتَوۡا بِهَٰذَا الۡكَلَامِ وَهَٰذَا الۡقَيۡدِ؟ اللهُ حَكَمَ عَلَيۡهِمۡ بِالرِّدَّةِ وَهُمۡ يَقُولُونَ: ﴿كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ﴾، هُمۡ مُؤۡمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ، مُوَحِّدُونَ، وَلَكِنۡ لَمَّا قَالُوا هَٰذِهِ الۡمَقَالَةَ اللهُ –جَلَّ وَعَلَا- قَالَ: ﴿قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ وَلَمۡ يَقُلۡ: إِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡتَقِدُونَ هَٰذَا، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، فَيَجِبُ أَنَّ الۡأُمُورَ تُنۡزَلُ مَنَازِلَهَا وَلَا نَتَدَخَّلُ فِيهَا بِزِيَادَاتٍ أَوۡ نَقۡصٍ أَوۡ تَقۡيِيدَاتٍ مِنۡ عِنۡدِ أَنۡفُسِنَا، اللهُ مَا سَأَلَ عَنۡ عَقِيدَتِهِمۡ، مَا ذَكَرَ أَنَّهُمۡ يَعۡتَقِدُونَ، بَلۡ حَكَمَ عَلَيۡهِمۡ بِالرِّدَّةِ بَعۡدَ الۡإِيمَانِ ﴿قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ رَتَبَ هَٰذَا عَلَى الۡقَوۡلِ، رَتَبَ هَٰذَا عَلَى الۡاِسۡتِهۡزَاءِ، وَلَمۡ يُقَيِّدۡهُ بِهَٰذِهِ الۡقُيُودِ، الۡإِنۡسَانُ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةِ الۡكُفۡرِ وَهُوَ غَيۡرُ مُكۡرَهٍ يُحۡکَمُ عَلَيۡهِ بِالرِّدَّةِ، أَمَّا إِنۡ كَانَ مُكۡرَهًا فَهَٰذَا لَا يَرۡتَدُّ. 

Sebab turunnya ayat ini merupakan dalil bahwa siapa saja yang mencaci Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, atau sebagian Alquran, atau sebagian sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—maka dia murtad dari Islam walaupun dia bersenda gurau. 

Lalu apa alasan orang-orang yang berpendapat bahwa dia tidak murtad kecuali apabila dia berniat dari hatinya? Sehingga, andai dia mencela Allah, Rasulullah, atau Alquran, maka kita tidak bisa menghukuminya kecuali apabila dia meyakininya. Kita tidak bisa menghukumi mereka dengan semata-mata ucapan, atau perkataan, atau perbuatan. 

Dari mana mereka melontarkan ucapan dan pembatasan ini? Padahal Allah telah menghukumi mereka dengan kemurtadan dalam keadaan mereka mengatakan, “Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.” 

Mereka tadinya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tadinya bertauhid. Akan tetapi ketika mereka mengucapkan ucapan tersebut, Allah—jalla wa ‘ala—berfirman, “Kalian telah kafir setelah sebelumnya kalian beriman.” Allah tidak berfirman, “Apabila kalian meyakini ucapan ini.” Kita meminta keselamatan kepada Allah. 

Jadi seluruh perkara agama wajib diletakkan pada tempatnya. Kita tidak boleh mencoba untuk memasukkan penambahan, atau pengurangan, atau pembatasan dari diri pribadi kita. Allah tidak mempertanyakan keyakinan mereka. Tidak pula disebutkan bahwa mereka meyakininya. Bahkan, Allah menghukumi mereka dengan kemurtadan setelah sebelumnya mereka beriman. “Kalian telah kafir setelah sebelumnya kalian beriman.” 

Allah menetapkannya setelah ucapan tersebut, setelah perbuatan olok-olok tersebut. Allah tidak memberi pembatasan dengan pembatasan tadi. Seseorang apabila mengucapkan perkataan kufur dalam keadaan tidak dipaksa, maka dia dihukumi dengan kemurtadan. Adapun apabila dia dipaksa, maka orang yang seperti ini tidak murtad.