Cari Blog Ini

Berqurban untuk Mayit

Berqurban disyariatkan untuk yang hidup sebab tidak terdapat dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabat yang aku ketahui, mereka berqurban untuk orang-orang yang sudah meninggal secara khusus / tersendiri. Putra-putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah meninggal saat beliau masih hidup, demikian pula telah meninggal istri-istri dan kerabat-kerabatnya, Rasulullah tidak berkurban untuk satu orangpun dari mereka. Beliau tidak berqurban untuk pamannya (Hamzah), tidak juga untuk istrinya (Khodijah dan Zainab binti Khuzaimah), tidak pula untuk ketiga putrinya, dan seluruh anak-anaknya. Seandainya ini termasuk perkara yang disyariatkan, niscaya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan menerangkannya dalam sunnahnya baik itu ucapan maupun perbuatan, akan tetapi hendaknya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Dan adapun mengikutsertakan mayit / orang yang sudah meninggal, maka telah dijadikan dalil untuknya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berqurban untuknya dan untuk keluarganya, sedangkan keluarganya mencakup istri-istrinya yang telah meninggal dan istri-istrinya yang masih hidup, dan juga beliau berqurban untuk umatnya yang di antara mereka ada yang sudah meninggal dan juga yang belum ada. Akan tetapi berqurban untuk mereka (orang-orang yang sudah meninggal) secara khusus / tersendiri, aku tidak mengetahui ada asalnya dalam sunnah.
Sumber: Syarhul Mumti' 7/455, Ibnu Utsaimin.

Sumber: Buletin Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-9 Tahun ke-1 / 14 Februari 2003 M / 12 Dzul Hijjah 1423 H.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 272

١٥ – بَابُ تَخۡلِيلِ الشَّعَرِ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدۡ أَرۡوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيۡهِ

15. Bab menyela rambut sehingga dikira air telah membasahi kulit kepalanya lalu menuangkan air ke atasnya

٢٧٢ – حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا اغۡتَسَلَ مِنَ الۡجَنَابَةِ، غَسَلَ يَدَيۡهِ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اغۡتَسَلَ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدۡ أَرۡوَى بَشَرَتَهُ، أَفَاضَ عَلَيۡهِ الۡمَاءَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.
272. 'Abdan telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: 'Abdullah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Hisyam bin 'Urwah mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari 'Aisyah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika mandi junub, beliau mencuci kedua telapak tangannya, berwudhu` seperti wudhu` untuk shalat, kemudian mandi. Kemudian beliau menyela rambut dengan tangannya sehingga beliau mengira air telah membasahi kulit kepalanya, beliau menuangkan air ke atasnya tiga kali. Kemudian beliau membasuh seluruh badannya.

At-Tuhfatul Wushabiyyah - Rangkuman Mudah tentang Isim Ghairu Munsharif (3)

وَمِثَالُ اجۡتِمَاعِ الۡوَصۡفِيَّةِ مَعَ زِيَادَةِ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ: (جَوۡعَانُ وَعَطۡشَانُ) تَقُولُ: (تَصَدَّقۡتُ عَلَى جَوۡعَانَ) فَـ(جَوۡعَانَ) اسۡمٌ مَخۡفُوضٌ؛ لِدُخُولِ حَرۡفِ الۡخَفۡضِ عَلَيۡهِ. وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَزِيَادَةُ الۡأَلِفِ وَالنُّونِ.
Contoh terkumpulnya washfiyyah bersama tambahan huruf alif dan nun adalah جَوۡعَانُ وَعَطۡشَانُ. Engkau katakan: تَصَدَّقۡتُ عَلَى جَوۡعَانَ. Di sini, جَوۡعَانَ adalah isim yang dikhafdh karena diawali huruf khafdh. Tanda khafdhnya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim ghairu munsharif. Yang menghalangi dari tanwin adalah washfiyyah dan tambahan huruf alif dan nun.
وَمِثَالُ اجۡتِمَاعِ الۡوَصۡفِيَّةِ مَعَ الۡعَدۡلِ: (مَثۡنَى وَثَلَاثُ وَرُبَاعُ) كَقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿أُو۟لِىٓ أَجۡنِحَةٍ مَّثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ﴾ [فاطر: ١] فَـ(مَثۡنَى) وَمَا بَعۡدَهُ صِفَةٌ لِ(أَجۡنِحَةٍ)، وَصِفَةُ الۡمَخۡفُوضِ مَخۡفُوضٌ مِثۡلُهُ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ اسۡمٌ لَا يَنۡصَرِفُ. وَالۡمَانِعُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَالۡعَدۡلُ؛ لِأَنَّ هٰذِهِ الۡأَلۡفَاظَ مَعۡدُولَةٌ عَنۡ أَلۡفَاظِ الۡعَدَدِ الۡمُكَرَّرِ فَـ(مَثۡنَى) مَعۡدُولٌ عَنۡ (اثۡنَيۡنِ اثۡنَيۡنِ). وَمَثِّلۡهُ مَا بَعۡدَهُ.
Contoh terkumpulnya washfiyyah bersama 'adl adalah مَثۡنَى وَثَلَاثُ وَرُبَاعُ seperti firman Allah ta'ala: أُو۟لِىٓ أَجۡنِحَةٍ مَّثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَ (QS. Fathir: 1). Di sini مَثۡنَى dan setelahnya adalah sifat bagi أَجۡنِحَةٍ (sayap). Dan sifat isim yang dikhafdh adalah dikhafdh juga. Tanda khafdhnya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim ghairu munsharif. Yang menghalangi dari tanwin adalah washfiyah dan 'adl, karena lafazh-lafazh ini diubah dari lafazh bilangan yang diulang. Kata مَثۡنَى diubah dari اثۡنَيۡنِ اثۡنَيۡنِ (dua dua). Dan permisalkan ini kepada kata-kata setelahnya.
وَمِثَالُ الۡوَصۡفِيَّةُ مَعَ وَزۡنِ الۡفِعۡلِ: (أَكۡرَمُ وَأَفۡضَلُ وَأَحۡسَنُ) تَقُولُ: (مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَكۡرَمَ مِنۡكَ) فَـ(أَكۡرَمَ) صِفَةٌ لِرَجُلٍ وَصِفَةُ الۡمَخۡفُوضِ مَخۡفُوضٌ مِثۡلُهُ، وَعَلَامَةُ خَفۡضِهِ الۡفَتۡحَةُ نِيَابَةً عَنِ الۡكَسۡرَةِ؛ لِأَنَّهُ غَيۡرُ مُنۡصَرِفٍ، وَالۡمَانِعُ لَهُ مِنَ الصَّرۡفِ الۡوَصۡفِيَّةُ وَوَزۡنُ الۡفِعۡلِ.
Contoh washfiyyah bersama wazan fi'il adalah أَكۡرَمُ وَأَفۡضَلُ وَأَحۡسَنُ. Engkau katakan: مَرَرۡتُ بِرَجُلٍ أَكۡرَمَ مِنۡكَ. Di sini, kata أَكۡرَمَ adalah sifat bagi kata رَجُلٍ. Dan sifat isim yang dikhafdh adalah dikhafdh juga. Tanda khafdhnya adalah fathah sebagai ganti dari kasrah karena merupakan isim ghairu munsharif. Yang menghalangi dari tanwin adalah washfiyyah dan wazan fi'il.
وَإِذَا تَأَمَّلۡتَ فِيمَا تَقَدَّمَ وَجَدۡتَ أَنَّ الۡعَلَمِيَّةَ تَجۡتَمِعُ مَعَ الۡعِلَلِ اللَّفۡظِيَّةِ كُلِّهَا، وَأَمَّا الۡوَصۡفِيَّةُ فَلَا تَجۡتَمِعُ إِلَّا مَعَ ثَلَاثَةٍ مِنۡهَا فَقَطۡ.
Jadi, jika engkau perhatikan pembahasan yang lalu, maka engkau dapati bahwa 'alamiyyah berkumpul dengan seluruh sebab-sebab yang kembali kepada lafazh. Adapun washfiyyah hanya berkumpul dengan tiga sebab saja.

Taisirul 'Allam - Hadits ke-28

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالۡعِشۡرُونَ

٢٨ - عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَقِيَهُ فِي بَعۡضِ طُرُقِ الۡمَدِينَةِ، وَهُوَ جُنُبٌ، قَالَ: فَانۡخَنَسۡتُ مِنۡهُ. فَذَهَبۡتُ فَاغۡتَسَلۡتُ، ثُمَّ جِئۡتُ، فَقَالَ: (أَيۡنَ كُنۡتَ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟) قَالَ: كُنۡتُ جُنُبًا، فَكَرِهۡتُ أَنۡ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيۡرِ طَهَارَةٍ. فَقَالَ: (سُبۡحَانَ اللهِ إِنَّ الۡمُؤۡمِنَ لَا يَنۡجُسُ)[1].
28. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan beliau di sebagian jalan-jalan Madinah dalam keadaan Abu Hurairah junub. Abu Hurairah mengatakan: Maka aku menyingkir dari beliau, lalu pergi dan mandi. Kemudian aku kembali datang menemui beliau. Beliau bertanya, “Di mana kamu tadi, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: Saya tadi junub. Saya tidak suka duduk bersama engkau sedangkan aku sedang tidak suci. Nabi bersabda, “Subhanallah, sesungguhnya orang mu`min itu tidak najis.”
غَرِيبُ الۡحَدِيثِ:
١ - انۡخَنَسۡتُ- بِالنُّونِ ثُمَّ الۡخَاءِ الۡمُعۡجَمَةِ وَالسِّينِ الۡمهملةِ، مِنَ الۡخُنُوسِ، وَهُوَ التَّأَخُّرُ وَالۡاخۡتِفَاءُ. يَعۡنِي انۡسَلَلۡتُ وَاخۡتَفَيۡتُ.
قَالَ ابۡنُ فَارِسٍ: (الخنس) الذَّهَابُ بِخَفِيَّةٍ، وَ(خنس) الرجل، تَأَخَّرَ.
٢ - مِنۡهُ أَيۡ مِنۡ أَجۡلِهِ، حَيۡثُ رَأَيۡتُ نَفۡسِي نَجَسًا بِالنِّسۡبَةِ إِلَى طَهَارَتِهِ وَجَلَالَتِهِ ﷺ.
٣ - كُنۡتُ جُنُبًا: أَيۡ كُنۡتُ ذَا جَنَابَةٍ، وَتَقَعُ هٰذِهِ اللَّفۡظَةُ عَلَى الۡوَاحِدِ وَالۡجَمۡعِ الۡمُذَكَّرِ وَالۡمُؤَنَّثِ، كَمَا وَرَدَ فِي الۡقُرۡآنِ وَالۡحَدِيثِ.
قَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَإِنۡ كُنۡتُمۡ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا﴾ [المائدة: ٦] وَقَالَتۡ إِحۡدَى أُمَّهَاتِ الۡمُؤۡمِنِينَ: (كُنۡتُ جُنُبًا).
٤ - لَا يَنۡجُسُ - بِضَمِّ الۡجِيمِ وَفَتۡحِهَا.
٥ - سُبۡحَانَ اللهِ: تَعَجَّبَ مِنۡ اعۡتِقَادِ أَبِي هُرَيۡرَةَ التَّنَجُّسِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
Kosa kata asing di dalam hadits:
  1. انۡخَنَسۡتُ dengan huruf nun kemudian huruf kha` dan huruf sin dari kata الۡخُنُوس, yaitu menjauh dan bersembunyi. Yakni, aku menyelinap dan bersembunyi. Ibnu Faris berkata: الخنس adalah pergi dengan sembunyi-sembunyi dan خنس الرجل artinya menjauh.
  2. مِنۡهُ artinya karena beliau, dimana aku melihat diriku najis kemudian dibandingkan dengan kesucian dan kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. كُنۡتُ جُنُبًا artinya saya tadi junub. Lafazh junub ini bisa digunakan untuk satu orang atau banyak orang, laki-laki maupun wanita, sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur`an dan hadits. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَإِنۡ كُنۡتُمۡ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا “Jika kalian junub, maka bersucilah kalian.” (QS. Al-Maidah: 6). Salah satu ibunda kaum mu`minin telah berkata, “Saya tadi junub.”
  4. لَا يَنۡجُسُ dengan mendhammah huruf jim atau memfathahkannya.
  5. سُبۡحَانَ اللهِ beliau heran dari keyakinan Abu Hurairah tentang najis karena junub.
الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِيُّ:
لَقِيَ أَبُو هُرَيۡرَةَ النَّبِيَّ ﷺ فِي بَعۡضِ طُرُقِ الۡمَدِينَةِ، صَادَفَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَكَانَ مِنۡ تَعۡظِيمِهِ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَتَكۡرِيمِهِ إِيَّاهُ، أَنۡ كَرِهَ مُجَالَسَتَهُ وَمُحَادَثَتَهُ وَهُوَ عَلَى تِلۡكَ الۡحَالِ.
فَانۡسَلَّ فِي خَفِيَّةٍ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ وَاغۡتَسَلَ، ثُمَّ جَاءَ إِلَيۡهِ.
فَسَأَلَهُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى أَيۡنَ ذَهَبَ؟ فَأَخۡبَرَهُ بِحَالِهِ، وَأَنَّهُ كَرِهَ مُجَالَسَتَهُ عَلَى غَيۡرِ طَهَارَةٍ.
فَتَعَجَّبَ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ حَالِ أَبِي هُرَيۡرَةَ حِينَ ظَنَّ نَجَاسَةَ الۡجُنُبِ. وَذَهَبَ لِيَغۡتَسِلَ، وَأَخۡبَرَهُ: أَنَّ الۡمُؤۡمِنَ لَا يَنۡجُسُ عَلَى أَيَّةِ حَالٍ.
Makna secara umum:
Abu Hurairah berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah jalan di Madinah. Abu Hurairah bertemu dalam keadaan junub. Karena ingin menghormati dan memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak suka untuk duduk dan berbincang dengan beliau dalam keadaan seperti itu. Maka, beliau pun menyelinap pergi sembunyi-sembunyi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mandi. Setelah itu, beliau kembali datang kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyainya kemana dia tadi pergi. Abu Hurairah pun menceritakan keadaannya dan bahwa beliau tidak suka duduk bersama Nabi dalam keadaan tidak suci. Mendengar itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam heran dari keadaan Abu Hurairah ketika menyangka bahwa orang junub itu najis sehingga pergi untuk mandi. Lalu Nabi memberitakan bahwa seorang mu`min itu tidak najis dalam keadaan apapun. 
مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ:
١ - كَوۡنُ الۡجَنَابَةُ لَيۡسَتۡ نَجَاسَةً تَحُلُّ الۡبَدَنَ.
٢ - كَوۡنُ الۡإِنۡسَانُ لَا تَنۡجُسُ ذَاتُهُ، لَا حَيًّا، وَلَا مَيِّتًا. وَلَيۡسَ مَعۡنَاهُ أَنَّ بَدَنَهُ لَا تُصِيبُهُ النَّجَاسَةُ أَوۡ تَحل بِهِ، فَقَدۡ تَكُونُ عَيۡنُهُ -أَيۡ ذَاتُهُ- مُتَنَجّسَةٌ إِذَا أَصَابَتۡهُ النَّجَاسَةُ.
٣ - جَوَازُ تَأۡخِيرِ الۡغُسۡلِ مِنَ الۡجَنَابَةِ.
٤ - تَعۡظِيمُ أَهۡلِ الۡفَضۡلِ، وَالصَّلَاحِ، وَمُجَالَسَتُهُمۡ عَلَى أَحۡسَنِ الۡهَيۡئَاتِ.
٥ - مَشۡرُوعِيَّةُ اسۡتِئۡذَانِ التَّابِعِ لِلۡمَتۡبُوعِ فِي الۡانۡصِرَافِ، فَقَدۡ أَنۡكَرَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى أَبِي هُرَيۡرَةَ ذَهَابَهُ مِنۡ غَيۡرِ عِلۡمِهِ، وَذٰلِكَ أَنَّ الۡاسۡتِئۡذَانَ مِنۡ حُسۡنِ الۡأَدَبِ.
Faidah hadits:
  1. Bahwa janabah itu bukanlah najis yang menyatu dengan badan.
  2. Bahwa manusia itu zatnya tidak najis, baik hidup atau sudah mati. Namun bukan maknanya bahwa badannya tidak bisa terkena najis. Karena terkadang badan bisa ternajisi apabila terkena najis.
  3. Boleh untuk menunda mandi janabah.
  4. Menghormati orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan. Serta duduk bersama mereka dengan keadaan yang terbaik.
  5. Disyariatkan orang yang mengikuti untuk meminta izin kepada orang yang diikuti ketika akan pergi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari Abu Hurairah pergi tanpa sepengetahuan beliau. Hal ini karena meminta izin termasuk keindahan adab.
[1] رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٢٨٣) فِي الۡغُسۡلِ، وَمُسۡلِمٌ (٣٧١) فِي الۡحَيۡضِ، وَأَبُو دَاوُدَ (٢٣١) فِي الطَّهَارَةِ، وَالتِّرۡمِذِيُّ (١٢١) فِي الطَّهَارَةِ، وَالنَّسَائِيُّ (١/١٤٥، ١٤٦) فِي الطَّهَارَةِ، وَابۡنُ مَاجَه (٥٣٤) فِي الطَّهَارَةِ، وَأَحۡمَدُ فِي (الۡمُسۡنَدِ) (٢/٢٣٥، ٣٨٢، ٤٧١، ٤٠٢).

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 269

٢٦٩ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ مَسۡعَدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشۡرٌ - وَهُوَ ابۡنُ الۡمُفَضَّلِ -، قَالَ: حَدَّثَنَا حُمَيۡدٌ، عَنۡ بَكۡرٍ، عَنۡ أَبِي رَافِعٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَقِيَهُ فِي طَرِيقٍ مِنۡ طُرُقِ الۡمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانۡسَلَّ عَنۡهُ، فَاغۡتَسَلَ، فَفَقَدَهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا جَاءَ، قَالَ: (أَيۡنَ كُنۡتَ يَا أَبَا هُرَيۡرَةَ؟!)، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّكَ لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ، فَكَرِهۡتُ أَنۡ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغۡتَسِلَ! فَقَالَ: (سُبۡحَانَ اللهِ! إِنَّ الۡمُؤۡمِنَ لَا يَنۡجُسُ). [(ابن ماجه) (٥٣٤)، ق].
269. Humaid bin Mas'adah telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, beliau berkata: Humaid menceritakan kepada kami, dari Bakr, dari Abu Rafi', dari Abu Hurairah. Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertemu dengan Abu Hurairah di suatu jalan di Madinah dalam keadaan Abu Hurairah sedang junub. Lalu Abu Hurairah menyelinap pergi dan mandi. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam merasa kehilangan beliau. Ketika Abu Hurairah datang kembali, Nabi bertanya, “Di mana kamu tadi wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau tadi bertemu saya dalam keadaan saya sedang junub. Saya tidak suka untuk duduk bersama engkau sampai saya mandi terlebih dahulu. Nabi bersabda, “Subhanallah! Sesungguhnya orang mu`min itu tidak najis.”