Cari Blog Ini

Halaman

▼

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5225

٥٢٢٥ - حَدَّثَنَا عَلِيٌّ: حَدَّثَنَا ابۡنُ عُلَيَّةَ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ عِنۡدَ بَعۡضِ نِسَائِهِ، فَأَرۡسَلَتۡ إِحۡدَى أُمَّهَاتِ الۡمُؤۡمِنِينَ بِصَحۡفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ ﷺ فِي بَيۡتِهَا يَدَ الۡخَادِمِ، فَسَقَطَتِ الصَّحۡفَةُ فَانۡفَلَقَتۡ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ ﷺ فِلَقَ الصَّحۡفَةِ ثُمَّ جَعَلَ يَجۡمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحۡفَةِ، وَيَقُولُ: (غَارَتۡ أُمُّكُمۡ). ثُمَّ حَبَسَ الۡخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحۡفَةٍ مِنۡ عِنۡدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحۡفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتۡ صَحۡفَتُهَا، وَأَمۡسَكَ الۡمَكۡسُورَةَ فِي بَيۡتِ الَّتِي كَسَرَتۡ فِيه. [طرفه في: ٢٤٨١].

5225. ‘Ali telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Ulayyah menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas. Ia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah berada di rumah salah seorang istri beliau, lalu salah seorang ibunda kaum mukminin mengutus seorang pelayan untuk mengirimkan piring besar berisi makanan. Istri yang Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang berada di rumahnya itu memukul tangan sang pelayan hingga piring besar itu jatuh dan pecah. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lantas mengumpulkan pecahan piring besar tersebut, kemudian beliau mulai mengumpulkan makanan yang tadinya berada di piring besar itu ke atasnya seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu.”

Kemudian beliau menahan pelayan itu hingga dibawakan piring besar yang utuh dari rumah istri yang sedang beliau singgahi. Beliau lalu menyerahkan piring besar yang utuh tersebut kepada istri yang piring besarnya pecah, dan menahan piring yang pecah di rumah istri yang memecahkannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5954

٩١ - بَابُ مَا وُطِىءَ مِنَ التَّصَاوِيرِ
91. Bab Perkara Gambar yang Diinjak


٥٩٥٤ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ الرَّحۡمٰنِ بۡنَ الۡقَاسِمِ، وَمَا بِالۡمَدِينَةِ يَوۡمَئِذٍ أَفۡضَلُ مِنۡهُ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي قَالَ: سَمِعۡتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مِنۡ سَفَرٍ، وَقَدۡ سَتَرۡتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهۡوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ هَتَكَهُ وَقَالَ: (أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلۡقِ اللهِ). قَالَتۡ: فَجَعَلۡنَاهُ وِسَادَةً أَوۡ وِسَادَتَيۡنِ. [طرفه في: ٢٤٧٩].

5954. Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Al-Qasim, dan tidak ada di Madinah pada hari itu orang yang lebih utama daripadanya, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang dari suatu perjalanan, sedangkan aku telah memasang tirai dari kain tipis yang bergambar pada rak kecil milikku yang padanya terdapat beberapa gambar makhluk bernyawa. Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatnya, beliau merobeknya dan bersabda, “Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.”

‘Aisyah berkata: Lalu kami menjadikannya satu atau dua bantal.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4720

١٢ – بَابٌ ﴿وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَـٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلۡبَـٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا﴾ ۝٨١
12. Bab “Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS Al-Isra: 81)


يَزۡهَقُ: يَهۡلِكُ.

Yazhaqu: Binasa.

٤٧٢٠ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ أَبِي مَعۡمَرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ، وَحَوۡلَ الۡبَيۡتِ سِتُّونَ وَثَلَاثُمِائَةِ نُصُبٍ، فَجَعَلَ يَطۡعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ: ﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَزَهَقَ الۡبَاطِلُ إِنَّ الۡبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا﴾، ﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِىءُ الۡبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ﴾. [سبأ: ٤٩]. [طرفه في: ٢٤٧٨].

4720. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki Makkah, sedangkan di sekitar Baitullah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Lalu beliau mulai menusuknya dengan kayu yang ada di tangan beliau seraya membaca, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” dan “Kebenaran telah datang, dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula mengulanginya.” (QS Saba’: 49).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4287

٤٢٨٧ - حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بۡنُ الۡفَضۡلِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنۡ أَبِي مَعۡمَرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ، وَحَوۡلَ الۡبَيۡتِ سِتُّونَ وَثَلَاثُمِائَةِ نُصُبٍ، فَجَعَلَ يَطۡعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ: (﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَزَهَقَ الۡبَاطِلُ﴾ [الإسراء: ٨١]، ﴿جَاءَ الۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِىءُ الۡبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ﴾) [سبأ: ٤٩]. [طرفه في: ٢٤٧٨].

4287. Shadaqah bin Al-Fadhl telah menceritakan kepada kami: Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memasuki Makkah pada hari penaklukan, sedangkan di sekitar Baitullah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Lalu beliau mulai menusuknya dengan kayu yang ada di tangan beliau seraya bersabda, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. (QS Al-Isra: 81). Kebenaran telah datang, dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula mengulanginya. (QS Saba’: 49).”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6891

١٧ - بَابٌ إِذَا قَتَلَ نَفۡسَهُ خَطَأً فَلَا دِيَةَ لَهُ
17. Bab Apabila Seseorang Membunuh Dirinya Sendiri Secara Tidak Sengaja, Maka Tiada Diat Baginya


٦٨٩١ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى خَيۡبَرَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنۡهُمۡ: أَسۡمِعۡنَا يَا عَامِرُ مِنۡ هُنَيۡهَاتِكَ، فَحَدَا بِهِمۡ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَنِ السَّائِقُ؟). قَالُوا: عَامِرٌ، فَقَالَ: (رَحِمَهُ اللهُ). فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلَّا أَمۡتَعۡتَنَا بِهِ! فَأُصِيبَ صَبِيحَةَ لَيۡلَتِهِ، فَقَالَ الۡقَوۡمُ: حَبِطَ عَمَلُهُ، قَتَلَ نَفۡسَهُ، فَلَمَّا رَجَعۡتُ وَهُمۡ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ، فَجِئۡتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، زَعَمُوا أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ، فَقَالَ: (كَذَبَ مَنۡ قَالَهَا، إِنَّ لَهُ لَأَجۡرَيۡنِ اثۡنَيۡنِ، إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ، وَأَيُّ قَتۡلٍ يَزِيدُهُ عَلَيۡهِ). [طرفه في: ٢٤٧٧].

6891. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Abu ‘Ubaid menceritakan kepada kami dari Salamah. Ia berkata:

Kami keluar bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju Khaibar. Seseorang dari mereka berkata, “Wahai ‘Amir, perdengarkanlah kepada kami beberapa bait sajakmu.”

Lalu ia melantunkan sajak untuk mereka. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah pelantun sajak itu?”

Mereka menjawab, “‘Amir.”

Lalu beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau biarkan kami menikmati kebersamaan dengannya?”

Kemudian ia tertimpa kematian pada pagi harinya. Kaum tersebut berkata, “Amalan ‘Amir telah gugur, ia telah membunuh dirinya sendiri.”

Ketika aku kembali sementara mereka sedang memperbincangkan bahwa amalan ‘Amir telah gugur, aku mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu aku berkata, “Wahai Nabi, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, mereka menyatakan bahwa amalan ‘Amir telah gugur.”

Beliau bersabda, “Orang yang mengatakannya telah keliru. Sesungguhnya ia benar-benar mendapat dua pahala sekaligus. Sesungguhnya ia benar-benar seorang yang bersungguh-sungguh lagi berjihad, dan bentuk kematian mana lagi yang bisa melebihi itu?”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5497

٥٤٩٧ - حَدَّثَنَا الۡمَكِّيُّ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ بۡنُ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ قَالَ: لَمَّا أَمۡسَوۡا يَوۡمَ فَتَحُوا خَيۡبَرَ، أَوۡقَدُوا النِّيرَانَ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (عَلَى مَا أَوۡقَدۡتُمۡ هٰذِهِ النِّيرَانَ؟) قَالُوا: لُحُومِ الۡحُمُرِ الإِنۡسِيَّةِ، قَالَ: (أَهۡرِيقُوا مَا فِيهَا، وَاكۡسِرُوا قُدُورَهَا). فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ فَقَالَ: نُهَرِيقُ مَا فِيهَا وَنَغۡسِلُهَا؟ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَوۡ ذَاكَ). [طرفه في: ٢٤٧٧].

5497. Al-Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yazid bin Abu ‘Ubaid menceritakan kepadaku dari Salamah bin Al-Akwa’. Ia berkata:

Ketika mereka berada di sore hari pada hari penaklukan Khaibar, mereka menyalakan api unggun. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Untuk apa kalian menyalakan api-api ini?”

Mereka menjawab, “Daging keledai.”

Beliau berkata, “Tumpahkanlah isinya dan pecahkanlah periuk-periuknya.”

Lalu seorang lelaki dari kaum tersebut berdiri dan berkata, “Bagaimana kalau kami tumpahkan isinya dan kami cuci?”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Atau begitu juga boleh.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4196

٤١٩٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا حَاتِمُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ أَبِي عُبَيۡدٍ، عَنۡ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى خَيۡبَرَ، فَسِرۡنَا لَيۡلًا، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ لِعَامِرٍ: يَا عَامِرُ أَلَا تُسۡمِعُنَا مِنۡ هُنَيۡهَاتِكَ؟ وَكَانَ عَامِرٌ رَجُلًا شَاعِرًا، فَنَزَلَ يَحۡدُو بِالۡقَوۡمِ يَقُولُ:

اللَّهُمَّ لَوۡلَا أَنۡتَ مَا اهۡتَدَيۡنَا وَلَا تَصَدَّقۡنَا وَلَا صَلَّيۡنَا

فَاغۡفِرۡ فِدَاءً لَكَ مَا أَبۡقَيۡـنَـا وَأَلۡقِيَنۡ سَكِينَةً عَـلَـيۡـنَـا

وَثَبِّتِ الۡأَقۡدَامَ إِنۡ لَاقَيۡـنَـا إِنَّا إِذَا صِيحَ بِنَا أَبَـيۡـنَـا

وَبِالصِّيَاحِ عَوَّلُوا عَلَيۡنَا

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ هٰذَا السَّائِقُ؟). قَالُوا: عَامِرُ بۡنُ الۡأَكۡوَعِ، قَالَ: (يَرۡحَمُهُ اللهُ). قَالَ رَجُلٌ مِنَ الۡقَوۡمِ: وَجَبَتۡ يَا نَبِيَّ اللهِ، لَوۡلَا أَمۡتَعۡتَنَا بِهِ،

4196. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: Hatim bin Isma’il menceritakan kepada kami dari Yazid bin Abu ‘Ubaid, dari Salamah bin Al-Akwa’—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Kami keluar bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menuju Khaibar, lalu kami berjalan pada malam hari. Seseorang dari suatu kaum berkata kepada ‘Amir, “Wahai Amir, tidakkah engkau perdengarkan kepada kami beberapa bait sajakmu?”

‘Amir adalah seorang penyair, lalu ia turun dan melantunkan sajak untuk kaum tersebut seraya berkata, “Ya Allah, seandainya bukan karena Engkau, niscaya kami tidak mendapat petunjuk. Tidak pula kami bersedekah dan tidak pula kami salat. Ampunilah—dengan tebusan diri kami untuk-Mu—apa yang kami tinggalkan. Turunkanlah ketenangan atas kami, dan teguhkanlah telapak kaki jika kami menjumpai musuh. Sesungguhnya kami apabila diseru (kepada selain kebenaran), kami enggan, dan musuh akan berteriak minta tolong untuk menghadapi kami.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Siapakah pelantun sajak ini?”

Mereka menjawab, “‘Amir bin Al-Akwa’.”

Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya.”

Seseorang dari kaum tersebut berkata, “Sudah sepantasnya, wahai Nabi. Sekiranya engkau biarkan kami menikmati kebersamaan dengannya.”

فَأَتَيۡنَا خَيۡبَرَ فَحَاصَرۡنَاهُمۡ حَتَّى أَصَابَتۡنَا مَخۡمَصَةٌ شَدِيدَةٌ، ثُمَّ إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَتَحَهَا عَلَيۡهِمۡ، فَلَمَّا أَمۡسَى النَّاسُ مَسَاءَ الۡيَوۡمِ الَّذِي فُتِحَتۡ عَلَيۡهِمۡ، أَوۡقَدُوا نِيرَانًا كَثِيرَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (مَا هٰذِهِ النِّيرَانُ؟ عَلَى أَيِّ شَيۡءٍ تُوقِدُونَ؟) قَالُوا: عَلَى لَحۡمٍ، قَالَ: (عَلَى أَيِّ لَحۡمٍ؟) قَالُوا: لَحۡمِ حُمُرِ الۡإِنۡسِيَّةِ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (أَهۡرِيقُوهَا وَاكۡسِرُوهَا). فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوۡ نُهَرِيقُهَا وَنَغۡسِلُهَا؟ قَالَ: (أَوۡ ذَاكَ).

Kemudian kami mendatangi Khaibar, lalu kami mengepung mereka hingga kami ditimpa kelaparan yang sangat. Setelah itu, Allah taala membukakannya untuk mereka. Ketika hari telah sore pada hari kemenangan tersebut, orang-orang menyalakan banyak api unggun.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya, “Api apakah ini? Untuk apa kalian menyalakannya?”

Mereka menjawab, “Daging.”

Beliau bertanya, “Daging apa?”

Mereka menjawab, “Daging keledai.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Tumpahkanlah dan pecahkanlah.”

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami menumpahkannya dan mencucinya?”

Beliau berkata, “Atau begitu juga boleh.”

فَلَمَّا تَصَافَّ الۡقَوۡمُ كَانَ سَيۡفُ عَامِرٍ قَصِيرًا، فَتَنَاوَلَ بِهِ سَاقَ يَهُودِيٍّ لِيَضۡرِبَهُ، وَيَرۡجِعُ ذُبَابُ سَيۡفِهِ، فَأَصَابَ عَيۡنَ رُكۡبَةِ عَامِرٍ فَمَاتَ مِنۡهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَفَلُوا قَالَ سَلَمَةُ: رَآنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِي قَالَ: (مَا لَكَ؟) قُلۡتُ لَهُ: فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي، زَعَمُوا أَنَّ عَامِرًا حَبِطَ عَمَلُهُ؟ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كَذَبَ مَنۡ قَالَهُ، إِنَّ لَهُ لَأَجۡرَيۡنِ - وَجَمَعَ بَيۡنَ إِصۡبَعَيۡهِ - إِنَّهُ لَجَاهِدٌ مُجَاهِدٌ، قَلَّ عَرَبِيٌّ مَشَى بِهَا مِثۡلَهُ). حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا حَاتِمٌ، قَالَ: (نَشَأَ بِهَا). [طرفه في: ٢٤٧٧].

Ketika kedua kaum telah berbaris (dalam pertempuran), pedang ‘Amir pendek, lalu ia mengarahkannya dengan pedang tersebut ke betis seorang Yahudi untuk memukulnya, namun ujung pedang itu berbalik mengenai tempurung lutut Amir, sehingga ia meninggal karenanya.

Perawi berkata: Ketika mereka pulang, Salamah berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihatku sambil memegang tanganku, lalu beliau bertanya, “Ada apa denganmu?”

Aku berkata kepada beliau, “Demi tebusan ayah dan ibuku, mereka menyatakan bahwa amalan ‘Amir telah gugur.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata, “Orang yang mengatakannya telah keliru. Sesungguhnya ia benar-benar mendapat dua pahala—beliau menggabungkan antara dua jarinya—. Sungguh ia benar-benar seorang yang bersungguh-sungguh lagi berjihad. Sedikit sekali orang Arab yang berjalan di bumi ini seperti dia.”

Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Hatim menceritakan kepada kami. Ia berkata, “yang tumbuh di bumi ini.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6810

٦٨١٠ - حَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ ذَكۡوَانَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا يَزۡنِي الزَّانِي حِينَ يَزۡنِي وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَسۡرِقُ حِينَ يَسۡرِقُ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَشۡرَبُ حِينَ يَشۡرَبُهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَالتَّوۡبَةُ مَعۡرُوضَةٌ بَعۡدُ). [طرفه في: ٢٤٧٥].

6810. Adam telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Dzakwan, dari Abu Hurairah. Ia berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah seorang pezina melakukan zina ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang peminum meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Namun tobat tetap terbuka setelah itu.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6772

٢ - بَابٌ لَا يُشۡرَبُ الۡخَمۡرُ
2. Bab Minuman Keras (Khamar) Tidak Boleh Diminum


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: يُنۡزَعُ مِنۡهُ نُورُ الۡإِيمَانِ فِي الزِّنَا.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Cahaya iman dicabut darinya dalam (perbuatan) zina.”

٦٧٧٢ - حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ بُكَيۡرٍ: حَدَّثَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ عُقَيۡلٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا يَزۡنِي الزَّانِي حِينَ يَزۡنِي وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَشۡرَبُ الۡخَمۡرَ حِينَ يَشۡرَبُ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَسۡرِقُ حِينَ يَسۡرِقُ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَنۡتَهِبُ نُهۡبَةً، يَرۡفَعُ النَّاسُ إِلَيۡهِ فِيهَا أَبۡصَارَهُمۡ، وَهُوَ مُؤۡمِنٌ). وَعَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، وَأَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِمِثۡلِهِ، إِلَّا النُّهۡبَةَ. [طرفه في: ٢٤٧٥].

6772. Yahya bin Bukair telah menceritakan kepadaku: Al-Laits menceritakan kepada kami dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari Abu Hurairah:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah seorang pezina melakukan perzinaan ketika ia berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seseorang meminum minuman keras (khamar) ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman. Tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman. Tidaklah seseorang merampas suatu perampasan—yang mana orang-orang mendongakkan pandangan mereka kepadanya saat ia merampasnya—dalam keadaan beriman.”

Dan dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Al-Musayyab dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—serupa dengannya, kecuali penyebutan perampasan.

Al-Isti'ab - 2500. Ma'n bin 'Adi

٢٥٠٠ - [مَعۡنُ بۡنُ عَدِيِّ الۡبَلَوِيُّ]:
2500. Ma’n bin ‘Adi Al-Balawi


مَعۡنُ بۡنُ عَدِيِّ بۡنِ الۡجَدِّ بۡنِ عَجۡلَانَ بۡنِ ضَبِيعَةَ الۡبَلَوِيُّ. مِنۡ بَلِيِّ بۡنِ الۡحَافِ بۡنِ قُضَاعَةَ. حَلِيفٌ لِبَنِي عَمۡرِو بۡنِ عَمۡرِو الۡأَنۡصَارِيِّ، وَالۡجَدُّ يُكۡنَى أَبَا عَدِيٍّ. فَهُوَ مَعۡنُ بۡنُ عَدِيِّ بۡنِ أَبِي عَدِيٍّ، شَهِدَ الۡعَقَبَةَ وَبَدۡرًا وَأُحُدًا وَالۡخَنۡدَقَ وَسَائِرَ الۡمَشَاهِدِ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، وَقُتِلَ يَوۡمَ الۡيَمَامَةِ شَهِيدًا فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكۡرٍ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَدۡ آخَى بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ زَيۡدِ بۡنِ الۡخَطَّابِ، فَقُتِلَا جَمِيعًا يَوۡمَئِذٍ، وَهُوَ أَخُو عَاصِمِ بۡنِ عَدِيٍّ.

Ma’n bin ‘Adi bin Al-Jadd bin ‘Ajlan bin Dhabi’ah Al-Balawi. Berasal dari kabilah Bali bin Al-Haf bin Qudha’ah. Ia merupakan sekutu bagi Bani ‘Amr bin ‘Amr Al-Anshari. Al-Jadd dijuluki dengan nama kunyah Abu ‘Adi, maka ia adalah Ma’n bin ‘Adi bin Abu ‘Adi. Ia menghadiri Perjanjian ‘Aqabah, Perang Badr, Uhud, Khandaq, serta seluruh peperangan lainnya bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakr. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah mempersaudarakan antara dirinya dengan Zaid bin Al-Khaththab, lalu keduanya gugur bersama pada hari itu. Ia adalah saudara kandung ‘Ashim bin ‘Adi.

​أَنۡبَأَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ بۡنُ سُفۡيَانَ، حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: بَكَى النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ مَاتَ، فَقَالُوا: وَاللهِ لَوَدِدۡنَا [أَنَّا مِتۡنَا قَبۡلَهُ، نَخۡشَى أَنۡ نُفۡتَنَ بَعۡدَهُ، فَقَالَ مَعۡنُ بۡنُ عَدِيٍّ: لَكِنِّي وَاللهِ مَا أُحِبُّ] أَنۡ أَمُوتَ قَبۡلَهُ لِأُصَدِّقَهُ مَيِّتًا كَمَا صَدَّقۡتُهُ حَيًّا، فَقُتِلَ مَعۡنٌ فِي قِتَالِ مُسَيۡلِمَةَ يَوۡمَ الۡيَمَامَةِ.

​‘Abdul-Warits bin Sufyan telah memberitakan kepada kami: Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada kami: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: Sa’id bin Hasyim menceritakan kepada kami: Malik bin Anas menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari ayahnya. Ia berkata: Orang-orang menangisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau wafat, lalu mereka berkata, “Demi Allah, sungguh kami berharap sekiranya kami mati sebelum beliau. Kami khawatir akan ditimpa fitnah sepeninggal beliau.”

Ma’n bin ‘Adi berkata, “Akan tetapi demi Allah, aku tidak suka jika mati sebelum beliau, agar aku dapat membenarkan beliau dalam keadaan wafat sebagaimana aku telah membenarkan beliau dalam keadaan hidup.”

Kemudian Ma’n terbunuh dalam pertempuran melawan Musailamah pada Perang Yamamah.

أَنۡبَأَنَا وَهۡبُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ مَحۡمُودٍ أَبُو حَزۡمٍ الۡمُفۡتِي بِجَامِعِ قُرۡطُبَةَ، حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ زُهَيۡرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرٍ أَحۡمَدُ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ يَعۡقُوبَ، مِنۡ وَلَدِ عَبَّادِ بۡنِ تَمِيمِ بۡنِ أَوۡسٍ الدَّارِيِّ، حَدَّثَنَا سَعۡدُ بۡنُ هَاشِمِ بۡنِ صَالِحٍ الۡمَخۡزُومِيُّ وَمَسۡكَنُهُ بِالۡفَيُّومِ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَالِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: بَكَى النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ حِينَ مَاتَ، وَقَالُوا: وَاللهِ لَوَدِدۡنَا أَنَّا مِتۡنَا قَبۡلَهُ إِنَّا نَخۡشَى أَنۡ نُفۡتَنَ بَعۡدَهُ، فَقَالَ مَعۡنُ بۡنُ عَدِيٍّ: لَكِنِّي وَاللهِ مَا أُحِبُّ أَنۡ أَمُوتَ قَبۡلَهُ لِأُصَدِّقَهُ مَيِّتًا كَمَا صَدَّقۡتُهُ حَيًّا، فَقُتِلَ فِي قِتَالِ مُسَيۡلِمَةَ يَوۡمَ الۡيَمَامَةِ.

Wahb bin Muhammad bin Mahmud Abu Hazm mufti di Masjid Jami Kordoba telah memberitakan kepada kami: Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami: Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub dari keturunan ‘Abbad bin Tamim bin Aus Ad-Dari menceritakan kepada kami: Sa’d bin Hasyim bin Shalih Al-Makhzumi yang bertempat tinggal di Al-Fayyum menceritakan kepada kami: Malik bin Anas menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari ayahnya. Ia berkata: Orang-orang menangisi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau wafat, dan mereka berkata, “Demi Allah, sungguh kami berharap sekiranya kami mati sebelum beliau. Sesungguhnya kami khawatir akan ditimpa fitnah sepeninggal beliau.”

Ma’n bin ‘Adi berkata, “Akan tetapi demi Allah, aku tidak suka jika mati sebelum beliau, agar aku dapat membenarkan beliau dalam keadaan wafat sebagaimana aku telah membenarkan beliau dalam keadaan hidup.”

Kemudian ia terbunuh dalam pertempuran melawan Musailamah pada Perang Yamamah.

Al-Isti'ab - 2075. ‘Uwaim bin Sa’idah

٢٠٧٥ - [عُوَيۡمُ بۡنُ سَاعِدَةَ بۡنِ عَوۡفٍ]:
2075. ‘Uwaim bin Sa’idah bin ‘Auf


عُوَيۡمُ بۡنُ سَاعِدَةَ بۡنِ عَائِشِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ أُمَيَّةَ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ، ​يُكۡنَى أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ.

‘Uwaim bin Sa’idah bin ‘A`isy bin Qais bin An-Nu’man bin Zaid bin Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf. ​Ia dijuluki dengan nama kunyah Abu ‘Abdurrahman.

​وَكَانَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ يَقُولُ فِي نَسَبِهِ: عُوَيۡمُ بۡنُ سَاعِدَةَ بۡنِ صَلۡجَعَةَ، وَإِنَّهُ مِنۡ بَلِيِّ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَافِ بۡنِ قُضَاعَةَ حَلِيفٌ لِبَنِي أُمَيَّةَ بۡنِ زَيۡدٍ، وَلَمۡ يَذۡكُرۡ ذٰلِكَ غَيۡرُهُ.

​Dalam silsilah nasabnya, Ibnu Ishaq berkata: ‘Uwaim bin Sa’idah bin Shalja’ah, dan sesungguhnya ia berasal dari kabilah Bali bin ‘Amr bin Al-Haf bin Qudha’ah, sekutu bagi Bani Umayyah bin Zaid. Tidak ada selain dirinya yang menyebutkan hal tersebut.

شَهِدَ عُوَيۡمٌ الۡعَقَبَتَيۡنِ جَمِيعًا فِي قَوۡلِ الۡوَاقِدِيِّ. وَغَيۡرُهُ يَقُولُ: شَهِدَ العَقَبَةَ الثَّانِيَةَ مَعَ السَّبۡعِينَ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، وَشَهِدَ بَدۡرًا وَأُحُدًا وَالۡخَنۡدَقَ.

‘Uwaim menghadiri kedua Perjanjian ‘Aqabah secara keseluruhan menurut pendapat Al-Waqidi. Ulama lainnya berkata: Ia menghadiri ‘Aqabah kedua bersama tujuh puluh orang sahabat Ansar, serta turut serta dalam Perang Badr, Uhud, dan Khandaq.

​وَمَاتَ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. وَقِيلَ: بَلۡ مَاتَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ بِالۡمَدِينَةِ، وَهُوَ ابۡنُ خَمۡسٍ أَوۡ سِتٍّ وَسِتِّينَ سَنَةً.

​Ia wafat pada masa hidup Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ada pula yang berpendapat: Justru ia wafat pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththab di Madinah pada usia 65 atau 66 tahun.

Al-Isti'ab - 949. Sa'd bin 'Ubadah

٩٤٩ - [سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ]:
949. Sa’d bin ‘Ubadah


سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ بۡنِ دُلَيۡمِ بۡنِ حَارِثَةَ بۡنِ حَلِيمَةَ، وَيُقَالُ ابۡنُ أَبِي حَزِيمَةَ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ طَرِيفِ بۡنِ الخَزۡرَجِ بۡنِ سَاعِدَةَ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ الخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ السَّاعِدِيُّ، يُكۡنَى أَبَا ثَابِتٍ. وَقَدۡ قِيلَ أَبُو قَيۡسٍ، وَالۡأَوَّلُ أَصَحُّ، وَكَانَ نَقِيبًا، شَهِدَ العَقَبَةَ وَبَدۡرًا فِي قَوۡلِ بَعۡضِهِمۡ. وَلَمۡ يَذۡكُرۡهُ ابۡنُ عُقۡبَةَ وَلَا ابۡنُ إِسۡحَاقَ فِي الۡبَدۡرِيِّينَ. وَذَكَرَهُ فِيهِمۡ جَمَاعَةٌ غَيۡرُهُمَا مِنۡهُمُ الوَاقِدِيُّ وَالمَدَايِنِيُّ وَابۡنُ الكَلۡبِيِّ.

Sa’d bin ‘Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Halimah. Ada yang mengatakan: Ibnu Abu Hazimah bin Tsa’labah bin Tharif bin Al-Khazraj bin Sa’idah bin Ka’b bin Al-Khazraj Al-Anshari As-Sa’idi, dijuluki dengan nama kunyah Abu Tsabit. Ada pula yang mengatakan Abu Qais, namun pendapat yang pertama lebih sahih. Ia adalah seorang tokoh wakil kaum, dan turut serta dalam peristiwa ‘Aqabah serta Perang Badr menurut pendapat sebagian ulama. Namun, Ibnu ‘Uqbah dan Ibnu Ishaq tidak memasukkannya ke dalam golongan peserta Perang Badr. Meskipun demikian, sekelompok ulama selain keduanya memasukkannya, di antaranya adalah Al-Waqidi, Al-Madaini, dan Ibnu Al-Kalbi.

وَذَكَرَهُ أَبُو أَحۡمَدَ الحَافِظُ فِي كِتَابِهِ فِي الۡكُنَى بَعۡدَ أَنۡ نَسَبَ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، فَقَالَ: شَهِدَ بَدۡرًا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: وَيُقَالَ: لَمۡ يَشۡهَدۡ بَدۡرًا، وَكَانَ عَقِيبًا نَقِيبًا سَيِّدًا جَوَادًا.

Abu Ahmad Al-Hafizh menyebutkannya dalam kitab Al-Kuna setelah menyebutkan silsilah ayah dan ibunya, lalu ia berkata: Ia mengikuti Perang Badr bersama Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ia juga berkata: Ada yang berpendapat bahwa ia tidak mengikuti Perang Badr, dan ia adalah seorang penasihat, tokoh wakil kaum, pemimpin yang dihormati, lagi sangat dermawan.

قَالَ أَبُو عُمَرَ: كَانَ سَيِّدًا فِي الۡأَنۡصَارِ مُقَدَّمًا وَجِيهًا، لَهُ رِيَاسَةٌ وَسِيَادَةٌ، يَعۡتَرِفُ قَوۡمُهُ لَهُ بِهَا.

Abu ‘Umar berkata: Ia adalah seorang pemimpin di kalangan Ansar yang sangat terdepan lagi terpandang. Ia memiliki kedudukan dan kepemimpinan yang diakui oleh kaumnya.

يُقَالُ: إِنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ فِي الۡأَوۡسِ وَالخَزۡرَجِ أَرۡبَعَةٌ مُطۡعِمُونَ مُتَتَالُونَ فِي بَيۡتٍ وَاحِدٍ إِلَّا قَيۡسَ بۡنَ سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ بۡنِ دُلَيۡمٍ، وَلَا كَانَ مِثۡلُ ذٰلِكَ فِي سَائِرِ العَرَبِ أَيۡضًا إِلَّا مَا ذَكَرۡنَا عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ أُمَيَّةَ فِي بَابِهِ مِنۡ كِتَابِنَا هٰذَا.

Ada yang berpendapat: Tidak ada di kalangan Aus dan Khazraj empat orang pemberi makan yang saling turun-temurun dalam satu rumah kecuali Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah bin Dulaim. Tidak pula ada hal serupa di kalangan bangsa Arab lainnya, kecuali apa yang telah kami sebutkan mengenai Shafwan bin Umayyah dalam babnya dari kitab kami ini.

أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ إِجَازَةً، حَدَّثَنَا ابۡنُ الۡأَعۡرَابِيِّ، حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي الدُّنۡيَا، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ صَالِحٍ القُرَشِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عُمَرَ، حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ [نَافِعٍ]، قَالَ: مَرَّ ابۡنُ عُمَرَ عَلَى أُطُمِ سَعۡدٍ، فَقَالَ لِي: يَا نَافِعُ، هٰذَا أُطُمُ جَدِّهِ، لَقَدۡ كَانَ مُنَادِيهِ يُنَادِي يَوۡمًا فِي كُلِّ حَوۡلٍ، مَنۡ أَرَادَ الشَّحۡمَ وَاللَّحۡمَ فَلۡيَأۡتِ دَارَ دُلَيۡمٍ، فَمَاتَ دُلَيۡمٌ، فَنَادَى مُنَادِي عُبَادَةَ بِمِثۡلِ ذٰلِكَ؛ ثُمَّ مَاتَ عُبَادَةُ، فَنَادَى مُنَادِي سَعۡدٍ بِمِثۡلِ ذٰلِكَ، ثُمَّ قَدۡ رَأَيۡتُ قَيۡسَ بۡنَ سَعۡدٍ يَفۡعَلُ ذٰلِكَ، وَكَانَ قَيۡسٌ جَوَادًا مِنۡ أَجۡوَادِ النَّاسِ.

‘Abdurrahman mengabarkan kepada kami secara ijazah: Ibnu Al-A’rabi menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Ad-Dunya menceritakan kepada kami: Muhammad bin Shalih Al-Qurasyi menceritakan kepadaku: Muhammad bin ‘Umar menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Nafi’ menceritakan kepadaku dari ayahnya, Nafi’. Ia berkata: Ibnu ‘Umar melewati benteng milik Sa’d, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Nafi’, ini adalah benteng kakeknya. Dahulu penyerunya selalu menyerukan setiap tahun sekali: ‘Barang siapa yang menginginkan lemak dan daging, maka datanglah ke rumah Dulaim.’ Ketika Dulaim wafat, penyeru ‘Ubadah menyerukan hal yang serupa. Kemudian ketika ‘Ubadah wafat, penyeru Sa’d menyerukan hal yang serupa pula. Setelah itu, aku melihat Qais bin Sa’d tetap melakukan tradisi tersebut, dan Qais adalah seorang yang dermawan di antara orang-orang yang paling dermawan.”

وَبِهِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ الظَّفَرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ المَلِكِ بۡنُ عَبۡدِ العَزِيزِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ أَنَّ دُلَيۡمًا جَدَّهُمۡ كَانَ يُهۡدِي إِلَى مَنَاةَ صَنَمٍ كُلَّ عَامٍ عَشۡرَ بَدَنَاتٍ، ثُمَّ كَانَ عُبَادَةُ يُهۡدِيهَا كَذٰلِكَ، ثُمَّ كَانَ سَعۡدٌ يُهۡدِيهَا كَذٰلِكَ إِلَى أَنۡ أَسۡلَمَ، ثُمَّ أَهۡدَاهَا قَيۡسٌ إِلَى الۡكَعۡبَةِ.

Dan melalui sanad tersebut, dari Muhammad bin Shalih. Ia berkata: ‘Abdullah bin Muhammad Azh-Zhafari menceritakan kepadaku. Ia berkata: ‘Abdul-Malik bin ‘Abdul-‘Aziz bin Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah menceritakan kepadaku bahwa Dulaim kakek mereka dahulu biasa menghadiahkan sepuluh ekor unta besar setiap tahun untuk Manat (nama berhala). Kemudian ‘Ubadah juga biasa menghadiahkannya demikian, lalu Sa’d juga biasa menghadiahkannya demikian hingga ia masuk Islam, kemudian Qais menghadiahkannya untuk Kakbah.

وَبِهِ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ صَالِحٍ، قَالَ: [حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ عُمَرَ الۡأَسۡلَمِيُّ]، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ يَحۡيَى بۡنِ سَهۡلٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ رَافِعِ بۡنِ خَدِيجٍ، قَالَ: أَقۡبَلَ أَبُو عُبَيۡدَةَ وَمَعَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ. فَقَالَا لِقَيۡسِ بۡنِ سَعۡدٍ: عَزَمۡنَا عَلَيۡكَ أَلَّا تَنۡحَرَ، فَلَمۡ يَلۡتَفِتۡ إِلَى ذٰلِكَ وَنَحَرَ، فَبَلَغَ ذٰلِكَ النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّهُ مِنۡ بَيۡتِ جُودٍ.

Dan melalui sanad tersebut, dari Muhammad bin Shalih. Ia berkata: Muhammad bin ‘Umar Al-Aslami menceritakan kepadaku: Muhammad bin Yahya bin Sahl menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Rafi’ bin Khadij. Ia berkata: Abu ‘Ubaidah datang bersama ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—, lalu keduanya berkata kepada Qais bin Sa’d, “Kami meminta dengan sangat kepadamu agar engkau tidak menyembelih unta,” namun ia tidak menghiraukan hal tersebut dan tetap menyembelihnya. Hal itu sampai kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ia berasal dari keluarga yang dermawan.”

وَفِي سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ وَسَعۡدِ بۡنِ مُعَاذٍ جَاءَ الۡخَبَرُ الۡمَأۡثُورُ: إِنَّ قُرَيۡشًا سَمِعُوا صَائِحًا يَصِيحُ لَيۡلًا عَلَى أَبِي قُبَيۡسٍ: [الطويل]

فَإِنۡ يُسۡلِمِ السَّعۡدَانِ يُصۡبِحۡ مُحَمَّدٌ بِمَكَّةَ لَا يَخۡشَى خِلَافَ مُخَالِفِ

Dan mengenai Sa’d bin ‘Ubadah serta Sa’d bin Mu’adz, datang kabar yang diriwayatkan: Sesungguhnya kaum Quraisy mendengar suara seseorang yang berteriak pada malam hari di atas Gunung Abu Qubais: “Jika dua Sa’d telah masuk Islam, niscaya Muhammad akan menjadi di Makkah tidak takut akan penentangan dari para penentang.”

قَالَ: فَظَنَّتۡ قُرَيۡشٌ أَنَّهُمَا سَعۡدُ بۡنُ زَيۡدِ مَنَاةَ بۡنِ تَمِيمٍ وَسَعۡدُ بۡنُ هُذَيۡمٍ، مِنۡ قُضَاعَةَ، فَلَمَّا كَانَ اللَّيۡلَةُ الثَّانِيَةُ سَمِعُوا صَوۡتًا عَلَى أَبِي قُبَيۡسٍ: [الطويل]

أَيَا سَعۡدُ سَعۡدَ الۡأَوۡسِ كُنۡ أَنۡتَ نَاصِرًا وَيَا سَعۡدُ سَعۡدَ الۡخَزۡرَجَيۡنِ الۡغَطَارِفِ

أَجِيبَا إِلَى دَاعِي الۡهُدَى وَتَمَنَّيَا عَلَى اللهِ فِي الۡفِرۡدَوۡسِ مُنۡيَةَ عَارِفِ

فَإِنَّ ثَوَابَ اللهِ لِلطَّالِبِ الۡهُدَى جِنَانٌ مِنَ الۡفِرۡدَوۡسِ ذَاتُ رَفَارِفِ

Ia berkata: Kaum Quraisy mengira bahwa “Dua Sa’d” yang dimaksud adalah Sa’d bin Zaid Manah bin Tamim dan Sa’d bin Hudzaim dari suku Qudha’ah. Namun, ketika tiba malam kedua, mereka mendengar suara di atas Gunung Abu Qubais:
Wahai Sa’d, Sa’d pemuka suku Aus, jadilah engkau seorang penolong! Dan wahai Sa’d, Sa’d pemuka suku Khazraj yang mulia dan terpandang! 
Penuhilah seruan sang penyeru petunjuk, dan mohonlah kepada Allah di janah Firdaus, cita-cita seorang yang arif.
Karena sesungguhnya balasan Allah bagi pencari petunjuk adalah taman-taman janah Firdaus yang memiliki hamparan-hamparan yang indah.

قَالَ فَقَالُوا: هٰذَانِ وَاللهِ سَعۡدُ بۡنُ مُعَاذٍ، وَسَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ.

Ia berkata: Orang-orang Quraisy pun berkata, “Demi Allah, kedua orang ini tidak lain adalah Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin ‘Ubadah!”

قَالَ أَبُو عُمَرَ: وَإِلَيۡهِمَا أَرۡسَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ الۡخَنۡدَقِ يُشَاوِرُهُمَا فِيمَا أَرَادَ أَنۡ يُعۡطِيَهُ يَوۡمَئِذٍ عُيَيۡنَةَ بۡنَ حِصۡنٍ مِنۡ تَمۡرِ الۡمَدِينَةِ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ أَرَادَ أَنۡ يُعۡطِيَهُ يَوۡمَئِذٍ ثُلُثَ أَثۡمَارِ الۡمَدِينَةِ، لِيَنۡصَرِفَ بِمَنۡ مَعَهُ مِنۡ غَطَفَانَ، وَيَخۡذُلَ الۡأَحۡزَابَ، فَأَبَى عُيَيۡنَةُ إِلَّا أَنۡ يَأۡخُذَ نِصۡفَ التَّمۡرِ، فَأَرۡسَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى سَعۡدِ بۡنِ مُعَاذٍ وَسَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ دُونَ سَائِرِ الۡأَنۡصَارِ؛ لِأَنَّهُمَا كَانَا سَيِّدَيۡ قَوۡمِهِمَا؛ كَانَ سَعۡدُ بۡنُ مُعَاذٍ سَيِّدًا لِأَوۡسٍ، وَسَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ سَيِّدًا لِخَزۡرَجٍ، فَشَاوَرَهُمَا فِي ذٰلِكَ، فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ؛ إِنۡ كُنۡتَ أَمَرۡتَ بِشَيۡءٍ فَافۡعَلۡهُ وَامۡضِ لَهُ، وَإِنۡ كَانَ غَيۡرَ ذٰلِكَ فَوَاللهِ لَا نُعۡطِيهِمۡ إِلَّا السَّيۡفَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَمۡ أُومَرۡ بِشَيۡءٍ، وَلَوۡ أُمِرۡتُ بِشَيۡءٍ مَا شَاوَرۡتُكُمَا، وَإِنَّمَا هُوَ رَأۡيٌ أَعۡرِضُهُ عَلَيۡكُمَا) فَقَالَا: وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ مَا طَمِعُوا بِذٰلِكَ مِنَّا قَطُّ فِي الجَاهِلِيَّةِ، فَكَيۡفَ اليَوۡمَ؟ وَقَدۡ هَدَانَا اللهُ بِكَ وَأَكۡرَمَنَا وَأَعَزَّنَا. وَاللهِ لَا نُعۡطِيهِمۡ إِلَّا السَّيۡفَ. فَسُرَّ بِذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَدَعَا لَهُمَا، وَقَالَ لِعُيَيۡنَةَ بۡنِ حِصۡنٍ وَمَنۡ مَعَهُ: ارۡجِعُوا، فَلَيۡسَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ إِلَّا السَّيۡفُ، وَرَفَعَ بِهَا صَوۡتَهُ.

Abu ‘Umar berkata: Kepada keduanyalah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus utusan pada Perang Khandaq untuk bermusyawarah mengenai apa yang ingin beliau berikan pada hari itu kepada ‘Uyainah bin Hishn berupa hasil kurma Madinah. Hal itu karena beliau berkeinginan untuk memberinya pada hari itu sepertiga dari hasil buah-buahan Madinah, agar ia pergi membawa pulang pasukan dari suku Ghathafan yang bersamanya serta meninggalkan pasukan sekutu. Namun ‘Uyainah enggan kecuali jika ia mendapatkan setengah dari hasil kurma tersebut.

Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus utusan kepada Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin ‘Ubadah, tanpa melibatkan seluruh orang Ansar lainnya, karena keduanya adalah dua orang pemimpin kaum mereka. Sa’d bin Mu’adz adalah pemimpin suku Aus, sedangkan Sa’d bin ‘Ubadah adalah pemimpin suku Khazraj.

Beliau pun bermusyawarah dengan keduanya mengenai hal tersebut. Keduanya berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau diperintahkan (oleh Allah) melakukan sesuatu, maka perbuatlah dan laksanakanlah hal itu. Namun jika itu selain dari perintah Allah, maka demi Allah kami tidak akan memberikan kepada mereka selain pedang!”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku tidak diperintahkan melakukan sesuatu (terkait ini). Seandainya aku diperintahkan, niscaya aku tidak akan bermusyawarah dengan kalian berdua. Ini hanyalah sebatas gagasan yang aku tawarkan kepada kalian berdua.”

Keduanya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, mereka tidak pernah berambisi mendapatkan hal itu dari kami sedikit pun pada masa Jahiliah, lalu bagaimana mungkin dengan hari ini? Padahal Allah telah memberi kami petunjuk melalui dirimu, memuliakan kami, dan mengagungkan kami. Demi Allah, kami tidak akan memberikan kepada mereka selain pedang!”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasa gembira dengan sikap tersebut dan mendoakan kebaikan bagi keduanya. Beliau lalu bersabda kepada ‘Uyainah bin Hishn dan orang-orang yang bersamanya, “Kembalilah kalian, karena tidak ada di antara kami dan kalian selain pedang!” dan beliau meninggikan suaranya saat mengucapkannya.

وَكَانَتۡ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوۡمَ الۡفَتۡحِ بِيَدِ سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ، فَلَمَّا مَرَّ بِهَا عَلَى أَبِي سُفۡيَانَ - وَكَانَ قَدۡ أَسۡلَمَ أَبُو سُفۡيَانَ - قَالَ سَعۡدٌ إِذۡ نَظَرَ إِلَيۡهِ: الۡيَوۡمُ يَوۡمُ الۡمَلۡحَمَةِ. الۡيَوۡمَ تُسۡتَحَلُّ الۡمَحۡرَمَةُ. الۡيَوۡمَ أَذَلَّ اللهُ قُرَيۡشًا.

Bendera Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari penaklukan Kota Makkah berada di tangan Sa’d bin ‘Ubadah. Ketika ia melewatinya di hadapan Abu Sufyan—sementara Abu Sufyan saat itu telah masuk Islam—Sa’d berkata ketika melihatnya, “Hari ini adalah hari pertempuran sengit. Hari ini hal-hal yang diharamkan untuk dilanggar akan dihalalkan. Hari ini Allah telah menghinakan kaum Quraisy.”

فَأَقۡبَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي كَتِيبَةِ الۡأَنۡصَارِ، حَتَّى إِذَا حَاذَى أَبَا سُفۡيَانَ نَادَاهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمَرۡتَ بِقَتۡلِ قَوۡمِكَ؟ فَإِنَّهُ زَعَمَ سَعۡدٌ وَمَنۡ مَعَهُ حِينَ مَرَّ بَنَا أَنَّهُ قَاتَلَنَا. وَقَالَ: الۡيَوۡمُ يَوۡمُ الۡمَلۡحَمَةِ. الۡيَوۡمَ تُسۡتَحَلُّ الۡمَحۡرَمَةُ، الۡيَوۡمَ أَذَلَّ اللهُ قُرَيۡشًا. وَإِنِّي أَنۡشُدُكَ اللهَ فِي قَوۡمِكَ، فَأَنۡتَ أَبَرُّ النَّاسِ وَأَرۡحَمُهُمۡ وَأَوۡصَلُهُمۡ.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—datang di tengah batalion Ansar, hingga ketika beliau sejajar dengan Abu Sufyan, Abu Sufyan menyeru, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan pembunuhan terhadap kaummu? Sungguh, Sa’d dan orang-orang yang bersamanya telah mengklaim saat melewati kami tadi bahwa ia akan memerangi kami, dan ia berkata: ‘Hari ini adalah hari pertempuran sengit. Hari ini hal-hal yang diharamkan untuk dilanggar akan dihalalkan. Hari ini Allah telah menghinakan kaum Quraisy.’ Sesungguhnya aku memohon dengan nama Allah untuk keselamatan kaummu, karena engkau adalah orang yang paling berbakti, paling penyayang, dan paling menyambung silaturahmi.”

وَقَالَ عُثۡمَانُ، وَعَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَاللهِ مَا نَأۡمَنُ مِنۡ سَعۡدٍ أَنۡ تَكُونَ مِنۡهُ فِي قُرَيۡشٍ صَوۡلَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَا أَبَا سُفۡيَانَ، الۡيَوۡمُ يَوۡمُ الۡمَرۡحَمَةِ، الۡيَوۡمَ أَعَزَّ اللهُ قُرَيۡشًا).

Utsman dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah kami tidak merasa aman terhadap Sa’d. Jangan sampai ia melakukan penyerangan terhadap kaum Quraisy.”

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidak, wahai Abu Sufyan. Hari ini adalah hari kasih sayang. Hari ini Allah telah memuliakan kaum Quraisy.”

وَقَالَ ضِرَارُ بۡنُ الۡخَطَّابِ الۡفِهۡرِيُّ يَوۡمَئِذٍ: [الخفيف]

يَا نَبِيَّ الهُدَى إِلَيۡكَ لَجَا جَيُّ قُرَيۡشٍ وَلَاتَ حِينَ لَجَاءِ

حِينَ ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ سَعَةُ الۡأَرۡ ضِ وَعَادَاهُمۡ إِلَهُ السَّمَاءِ

وَالۡتَقَتۡ حَلۡقَتَا الۡبِطَانِ عَلَى الۡقَوۡ مِ وَنُودُوا بِالصَّيۡلَمِ الصَّلۡعَاءِ

إِنَّ سَعۡدًا يُرِيدُ قَاصِمَةَ الظَّهۡـ ـرِ بِأَهۡلِ الۡحَجُونِ وَالۡبَطۡحَاءِ

خَزۡرَجِيٌّ لَوۡ يَسۡتَطِيعُ مِنَ الۡغَيۡـ ـظِ رَمَانَا بِالنَّسۡرِ وَالۡعَوَاءِ

وَغِرُّ الصَّدۡرِ لَا يَهِمُّ بِشَيۡءٍ غَيۡرِ سَفۡكِ الدِّمَا وَسَبۡيِ النِّسَاءِ

قَدۡ تَلَظَّى عَلَى الۡبِطَاحِ وَجَاءَتۡ عَنۡهُ هِنۡدُ بِالسُّوۡءَةِ السَّوَاءِ

إِذۡ تُنَادِي بِذُلِّ حَيِّ قُرَيۡشٍ وَابۡنُ حَرۡبٍ بِذَا مِنَ الشُّهَدَاءِ

فَلَئِنۡ أَقۡحَمَ اللِّوَاءَ وَنَادَى يَا حُمَاةَ اللِّوَاءِ أَهۡلَ اللِّوَاءِ

ثُمَّ ثَابَتۡ إِلَيۡهِ مِنۡ بُهۡمِ الخَزۡ رَجِ وَالۡأَوۡسِ أَنۡجُمُ الۡهَيۡجَاءِ

لَتَكُونَنَّ بِالۡبِطَاحِ قُرَيۡشٌ فَقۡعَةَ الۡقَاعِ فِي أَكۡفِ الۡإِمَاءِ

فَانۡهِينَهُ فَإِنَّهُ أَسَدُ الۡأَسۡـ ـدِ لَدَى الۡغَابِ وَلِغٌ فِي الدِّمَاءِ

إِنَّهُ مُطۡرِقٌ يُرِيدُ لَنَا الۡأَمۡـ ـرَ سُكُوتًا كالۡحَيَّةِ الصَّمَّاءِ

Dhirar bin Al-Khaththab Al-Fihri berkata pada hari itu:
Wahai Nabi petunjuk, kepada engkaulah tempat meminta suaka … bagi kaum Quraisy yang terdesak, padahal ini bukanlah waktu yang tepat untuk berlindung. 
Ketika kelapangan bumi terasa sempit bagi mereka … dan Ilah Penguasa Langit memusuhi mereka.
Ketika ikatan perut saling bertaut karena ketakutan … dan mereka diseru dengan bencana yang membinasakan lagi mengerikan. 
Sesungguhnya Sa’d menginginkan malapetaka yang mematahkan punggung … menimpa penduduk Al-Hajun dan Al-Bathha`. 
Seorang lelaki Khazraj yang seandainya ia mampu karena kemarahannya … niscaya ia akan melemparkan bintang-bintang An-Nasr dan Al-‘Awa` kepada kami.
Dengan dada yang dipenuhi amarah, ia tidak memikirkan sesuatu pun … selain pertumpahan darah dan penawanan wanita. 
Amarahnya telah membara di tanah Bathha`, dan Hind datang darinya … membawa berita keburukan yang nyata. 
Ketika diserukan tentang kehinaan kabilah Quraisy … dan Ibnu Harb termasuk di antara orang-orang yang terancam gugur. 
Maka jika ia mendesakkan benderanya dan menyeru … ‘Wahai para pembela bendera, wahai para pemilik bendera!’ 
Kemudian berhimpunlah kepadanya pasukan pemberani dari Khazraj … serta Aus yang laksana bintang-bintang medan pertempuran. 
Niscaya kaum Quraisy di tanah Bathha` akan menjadi … seperti jamur di tanah datar yang hancur di telapak tangan para budak wanita. 
Maka cegahlah ia, karena ia adalah singa dari segala singa … di dalam sarangnya yang berlumuran darah. 
Ia sedang terdiam merunduk, merencanakan sesuatu bagi kita … dalam kesunyian bagaikan ular tuli yang mematikan.

فَأَرۡسَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ، فَنَزَعَ اللِّوَاءَ مِنۡ يَدِهِ، وَجَعَلَهُ بِيَدِ قَيۡسٍ ابۡنِهُ، وَرَأَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَّ اللِّوَاءَ لَمۡ يَخۡرُجۡ عَنۡهُ؛ إِذۡ صَارَ إِلَى ابۡنِهِ، وَأَبَى سَعۡدٌ أَنۡ يُسَلِّمَ اللِّوَاءَ إِلَّا بِأَمَارَةٍ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَرۡسَلَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِعَمَامَتِهِ، فَعَرَفَهَا سَعۡدٌ. فَدَفَعَ اللِّوَاءَ إِلَى ابۡنِهِ قَيۡسٍ، هَكَذَا ذَكَرَ يَحۡيَى بۡنُ سَعِيدٍ الۡأُمَوِيُّ فِي السِّيَرِ، وَلَمۡ يَذۡكُرِ ابۡنُ إِسۡحَاقَ هٰذَا الشِّعۡرَ وَلَا سَاقَ هٰذَا الخَبَرَ.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus seseorang kepada Sa’d bin ‘Ubadah, lalu beliau mencabut bendera dari tangannya dan menyerahkannya kepada putranya, Qais. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berpandangan bahwa bendera tersebut pada hakikatnya tidak keluar dari Sa’d, karena beralih kepada putranya sendiri. Namun Sa’d enggan menyerahkan bendera tersebut kecuali ada tanda bukti dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengirimkan serbannya kepada Sa’d, dan Sa’d pun mengenali serban tersebut. Ia pun menyerahkan bendera itu kepada putranya, Qais. Demikianlah Yahya bin Sa’id Al-Umawi menyebutkannya dalam kitab As-Siyar, sedangkan Ibnu Ishaq tidak menyebutkan syair ini dan tidak pula meriwayatkan kisah ini.

وَقَدۡ رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَعۡطَى الرَّايَةَ الزُّبَيۡرَ، إِذۡ نَزَعَهَا مِنۡ سَعۡدٍ.

Telah diriwayatkan pula bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan bendera kepada Az-Zubair setelah mencabutnya dari Sa’d.

وَرُوِيَ أَيۡضًا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَ عَلِيًّا فَأَخَذَ الرَّايَةَ، فَذَهَبَ بِهَا حَتَّى دَخَلَ مَكَّةَ، فَغَرَزَهَا عِنۡدَ الرُّكۡنِ.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan ‘Ali, lalu ia mengambil bendera tersebut dan membawanya hingga memasuki Makkah, lalu menancapkannya di dekat sudut Kakbah.

وَتَخَلَّفَ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ عَنۡ بَيۡعَةِ أَبِي بَكۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَخَرَجَ مِنَ الۡمَدِينَةِ، وَلَمۡ يَنۡصَرِفۡ إِلَيۡهَا إِلَى أَنۡ مَاتَ بِحَوۡرَانَ مِنۡ أَرۡضِ الشَّامِ لِسَنَتَيۡنِ وَنِصۡفٍ مَضَتَا مِنۡ خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَذٰلِكَ سَنَةَ خَمۡسَ عَشۡرَةَ. وَقِيلَ سَنَةَ أَرۡبَعَ عَشۡرَةَ. وَقِيلَ: بَلۡ مَاتَ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكۡرٍ سَنَةَ إِحۡدَى عَشۡرَةَ. وَلَمۡ يَخۡتَلِفُوا أَنَّهُ وُجِدَ مَيِّتًا فِي مُغۡتَسَلِهِ، وَقَدِ اخۡضَرَّ جَسَدُهُ، وَلَمۡ يَشۡعُرُوا بِمَوۡتِهِ حَتَّى سَمِعُوا قَائِلًا يَقُولُ: وَلَا يَرَوۡنَ أَحَدًا: [مجزوء الرمل]
قَتَلۡنَا سَيِّدَ الۡخَزۡ رَجِ سَعۡدَ بۡنَ عُبَادَهۡ
وَرَمَيۡنَاهُ بِسَهۡمٍ فَلَمۡ يُخۡطِ فُؤَادَهۡ

Sa’d bin ‘Ubadah tidak ikut berbaiat kepada Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—. Ia keluar dari Madinah dan tidak kembali kepadanya hingga ia wafat di Hauran, wilayah Syam, pada dua setengah tahun masa kekhalifahan ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—, yaitu pada tahun 15 H. Ada pula yang berpendapat tahun 14 H. Dan ada yang berpendapat: Sa’d bin ‘Ubadah wafat pada masa kekhalifahan Abu Bakr pada tahun 11 H. Para sejarawan tidak berselisih pendapat bahwa ia ditemukan telah meninggal dunia di tempat mandinya, dalam keadaan tubuhnya telah menghijau karena membusuk, dan mereka tidak menyadari kematiannya hingga mereka mendengar seseorang berkata—namun mereka tidak melihat wujud orangnya—, “Kami telah membunuh pemimpin Khazraj … Sa’d bin ‘Ubadah. Kami menembaknya dengan panah … dan tidak meleset dari jantung hatinya.”

وَيُقَالُ: إِنَّ الۡجِنَّ قَتَلَتۡهُ.

Ada yang berpendapat bahwa jin telah membunuhnya.

وَرَوَى ابۡنُ جُرَيۡجٍ عَنۡ عَطَاءٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ الۡجِنَّ قَالَتۡ فِي سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ، فَذَكَرَ الۡبَيۡتَيۡنِ. رَوَى عَنۡهُ مِنَ الصَّحَابَةِ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَبَّاسٍ. وَرَوَى عَنۡهُ ابۡنَاهُ وَغَيۡرُهُمۡ.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari ‘Atha`. Ia berkata: Aku mendengar jin bersyair tentang (kematian) Sa’d bin ‘Ubadah, lalu ia menyebutkan kedua bait tersebut. Di antara para sahabat yang meriwayatkan darinya adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas. Yang meriwayatkan darinya pula adalah kedua putra Sa’d dan selain mereka.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5578

٥٥٧٨ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا سَلَمَةَ بۡنَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ وَابۡنَ الۡمُسَيَّبِ يَقُولَانِ: قَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزۡنِي الزَّانِي حِينَ يَزۡنِي وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَشۡرَبُ الۡخَمۡرَ حِينَ يَشۡرَبُهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ، وَلَا يَسۡرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسۡرِقُ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ). قَالَ ابۡنُ شِهَابٍ: وَأَخۡبَرَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ هِشَامٍ: أَنَّ أَبَا بَكۡرٍ كَانَ يُحَدِّثُهُ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، ثُمَّ يَقُولُ: كَانَ أَبُو بَكۡرٍ يُلۡحِقُ مَعَهُنَّ: (وَلَا يَنۡتَهِبُ نُهۡبَةً ذَاتَ شَرَفٍ، يَرۡفَعُ النَّاسُ إِلَيۡهِ أَبۡصَارَهُمۡ فِيهَا، حِينَ يَنۡتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ). [طرفه في: ٢٤٧٥].

5578. Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami. Ia berkata: Yunus mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab. Ia berkata: Aku mendengar Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dan Ibnu Al-Musayyab berkata: Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

Sesungguhnya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah seorang pezina melakukan perzinaan ketika ia berzina dalam keadaan beriman; tidaklah seseorang meminum minuman keras (khamar) ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman; dan tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman.”

Ibnu Syihab berkata: ‘Abdul Malik bin Abu Bakr bin ‘Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam mengabarkan kepadaku bahwa Abu Bakr biasa menceritakan kepadanya dari Abu Hurairah, kemudian ia berkata: Abu Bakr menambahkan bersama perkataan tersebut: “Dan tidaklah seseorang merampas suatu perampasan yang berharga—yang mana orang-orang mendongakkan pandangan mereka kepadanya saat ia merampasnya—ketika ia merampasnya dalam keadaan beriman.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5516

٥٥١٦ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بۡنُ مِنۡهَالٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَدِيُّ بۡنُ ثَابِتٍ قَالَ: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ يَزِيدَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: أَنَّهُ نَهَى عَنِ النُّهۡبَةِ وَالۡمُثۡلَةِ. [طرفه في: ٢٤٧٤].

5516. Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Adi bin Tsabit mengabarkan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Yazid, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau melarang perampasan dan mutslah (memotong anggota tubuh hewan ketika masih hidup).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6229

٦٢٢٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: أَخۡبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِيَّاكُمۡ وَالۡجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ). فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا لَنَا مِنۡ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا، فَقَالَ: (إِذَا أَبَيۡتُمۡ إِلَّا الۡمَجۡلِسَ، فَأَعۡطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ). قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (غَضُّ الۡبَصَرِ، وَكَفُّ الۡأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالۡأَمۡرُ بِالۡمَعۡرُوفِ، وَالنَّهۡىُ عَنِ الۡمُنۡكَرِ). [طرفه في: ٢٤٦٥].

6229. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Amir mengabarkan kepada kami: Zuhair menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di pinggir jalan!”

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan majelis-majelis tempat kami biasa duduk dan berbincang-bincang ini.”

Nabi bersabda, “Jika kalian enggan (meninggalkannya) dan tetap ingin duduk di sana, berikanlah hak jalan itu.”

Mereka bertanya, “Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menahan diri dari menyakiti, menjawab salam, serta menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 7253

٧٢٥٣ - حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ أَسۡقِي أَبَا طَلۡحَةَ الۡأَنۡصَارِيَّ وَأَبَا عُبَيۡدَةَ بۡنَ الۡجَرَّاحِ وَأُبَيَّ بۡنَ كَعۡبٍ شَرَابًا مِنۡ فَضِيخٍ، وَهُوَ تَمۡرٌ، فَجَاءَهُمۡ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ الۡخَمۡرَ قَدۡ حُرِّمَتۡ، فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: يَا أَنَسُ، قُمۡ إِلَى هٰذِهِ الۡجِرَارِ فَاكۡسِرۡهَا، قَالَ أَنَسٌ: فَقُمۡتُ إِلَى مِهۡرَاسٍ لَنَا فَضَرَبۡتُهَا بِأَسۡفَلِهِ حَتَّى انۡكَسَرَتۡ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

7253. Yahya bin Qaza’ah telah menceritakan kepadaku: Malik menceritakan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Aku dahulu menuangkan minuman dari fadhikh—yaitu olahan kurma—untuk Abu Thalhah Al-Anshari, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’b. Lalu datanglah seseorang kepada mereka dan berkata, “Sesungguhnya minuman keras telah diharamkan.”

Abu Thalhah lantas berkata, “Wahai Anas, berdirilah menuju tempayan-tempayan ini lalu pecahkanlah!”

Anas berkata: Aku berdiri menuju alu batu milik kami, lalu aku memukulkannya ke bagian bawah tempayan-tempayan itu hingga pecah.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5622

٢١ - بَابُ خِدۡمَةِ الصِّغَارِ الۡكِبَارَ
21. Bab Pelayanan Orang yang Lebih Muda kepada Orang yang Lebih Tua


٥٦٢٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ قَائِمًا عَلَى الۡحَيِّ أَسۡقِيهِمۡ عُمُومَتِي - وَأَنَا أَصۡغَرُهُمُ - الۡفَضِيخَ، فَقِيلَ: حُرِّمَتِ الۡخَمۡرُ، فَقَالُوا: أَكۡفِئۡهَا، فَكَفَأۡنَا، قُلۡتُ لِأَنَسٍ: مَا شَرَابُهُمۡ؟ قَالَ: رُطَبٌ وَبُسۡرٌ. فَقَالَ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَنَسٍ: وَكَانَتۡ خَمۡرَهُمۡ، فَلَمۡ يُنۡكِرۡ أَنَسٌ. وَحَدَّثَنِي بَعۡضُ أَصۡحَابِي: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا يَقُولُ: كَانَتۡ خَمۡرَهُمۡ يَوۡمَئِذٍ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5622. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami dari ayahnya. Beliau berkata: Aku mendengar Anas—radhiyallahu ‘anhu— berkata:

Aku dahulu berdiri melayani kaumku, yaitu paman-pamanku—dan aku adalah yang paling muda di antara mereka—untuk menuangkan fadhikh (khamar yang terbuat dari kurma mengkal). Tiba-tiba ada yang mengumumkan, “Khamar telah diharamkan!”

Mereka berkata, “Tumpahkanlah!”

Kami pun menumpahkannya.

Aku bertanya kepada Anas, “Apa (bahan) minuman mereka?”

Ia menjawab, “Kurma basah (ruthab) dan kurma mengkal (busr).”

Abu Bakr bin Anas berkata, “Itulah (jenis) khamar mereka saat itu.” Anas tidak mengingkarinya.

Sebagian sahabatku menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Anas berkata, “Khamar mereka pada hari itu adalah jenis tersebut.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5600

١١ - بَابُ مَنۡ رَأَى أَنۡ لَا يَخۡلِطَ الۡبُسۡرَ وَالتَّمۡرَ إِذَا كَانَ مُسۡكِرًا، وَأَنۡ لَا يَجۡعَلَ إِدَامَيۡنِ فِي إِدَامٍ
11. Bab Barang Siapa Berpendapat untuk Tidak Mencampur Kurma Mengkal dan Kurma Matang Jika Memabukkan, serta Tidak Menjadikan Dua Lauk dalam Satu Lauk


٥٦٠٠ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: إِنِّي لَأَسۡقِي أَبَا طَلۡحَةَ وَأَبَا دُجَانَةَ وَسُهَيۡلَ ابۡنَ الۡبَيۡضَاءِ، خَلِيطَ بُسۡرٍ وَتَمۡرٍ، إِذۡ حُرِّمَتِ الۡخَمۡرُ، فَقَذَفۡتُهَا، وَأَنَا سَاقِيهِمۡ وَأَصۡغَرُهُمۡ، وَإِنَّا نَعُدُّهَا يَوۡمَئِذٍ الۡخَمۡرَ. وَقَالَ عَمۡرُو بۡنُ الۡحَارِثِ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: سَمِعَ أَنَسًا. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5600. Muslim telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami: Qatadah menceritakan kepada kami dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Sungguh, aku sedang menuangkan campuran kurma mengkal dan kurma matang untuk Abu Thalhah, Abu Dujanah, dan Suhail bin Al-Baidha` ketika larangan minuman keras (khamar) diturunkan. Maka aku langsung membuangnya, sementara aku adalah penuang minuman mereka dan yang paling muda di antara mereka. Dan sungguh kami menganggap minuman itu pada hari tersebut sebagai khamar.

‘Amr bin Al-Harits berkata: Qatadah menceritakan kepada kami: Ia mendengar Anas.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5583 dan 5584

٥٥٨٣ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا مُعۡتَمِرٌ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: كُنۡتُ قَائِمًا عَلَى الۡحَيِّ أَسۡقِيهِمۡ عُمُومَتِي - وَأَنَا أَصۡغَرُهُمُ - الۡفَضِيخَ، فَقِيلَ: حُرِّمَتِ الۡخَمۡرُ، فَقَالُوا: أَكۡفِئۡهَا، فَكَفَأۡتُهَا. قُلۡتُ لِأَنَسٍ: مَا شَرَابُهُمۡ؟ قَالَ: رُطَبٌ وَبُسۡرٌ. فَقَالَ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَنَسٍ: وَكَانَتۡ خَمۡرَهُمۡ، فَلَمۡ يُنۡكِرۡ أَنَسٌ. وَحَدَّثَنِي بَعۡضُ أَصۡحَابِي: أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا يَقُولُ: كَانَتۡ خَمۡرَهُمۡ يَوۡمَئِذٍ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5583. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Mu’tamir menceritakan kepada kami dari ayahnya. Beliau berkata: Aku mendengar Anas berkata:

Aku dahulu berdiri melayani kaumku, yaitu paman-pamanku—sementara aku adalah yang paling muda di antara mereka—untuk menuangkan fadhikh (khamar yang terbuat dari kurma mengkal). Tiba-tiba ada yang menyerukan, “Khamar telah diharamkan!”

Mereka lalu berkata, “Tumpahkanlah!”

Aku pun menumpahkannya.

Aku (Sulaiman) bertanya kepada Anas, “Apa minuman mereka?”

Ia menjawab, “Kurma basah (ruthab) dan kurma mengkal (busr).”

Abu Bakr bin Anas berkata, “Fadhikh itu adalah khamar mereka.” Dan Anas tidak mengingkarinya.

Sebagian sahabatku menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Anas berkata, “Khamar mereka pada hari itu adalah jenis tersebut.”

٥٥٨٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرٍ الۡمُقَدَّمِيُّ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ أَبُو مَعۡشَرٍ الۡبَرَّاءُ قَالَ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ عُبَيۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي بَكۡرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: أَنَّ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمۡ: أَنَّ الۡخَمۡرَ حُرِّمَتۡ، وَالۡخَمۡرُ يَوۡمَئِذٍ الۡبُسۡرُ وَالتَّمۡرُ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5584. Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami telah menceritakan kepada kami: Yusuf Abu Ma’syar Al-Barra` menceritakan kepada kami. Ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin ‘Ubaidullah berkata: Bakr bin ‘Abdullah menceritakan kepadaku: Anas bin Malik menceritakan kepada mereka: Minuman keras (khamar) diharamkan dalam keadaan minuman keras pada hari itu adalah (dibuat dari) kurma mengkal (al-busr) dan kurma matang (at-tamr).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5582

٣ - بَابٌ نَزَلَ تَحۡرِيمُ الۡخَمۡرِ وَهِيَ مِنَ الۡبُسۡرِ وَالتَّمۡرِ
3. Bab Larangan Minuman Keras Turun Ketika Minuman Keras Terbuat dari Kurma Mengkal dan Kurma Matang


٥٥٨٢ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكُ بۡنُ أَنَسٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي طَلۡحَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنۡتُ أَسۡقِي أَبَا عُبَيۡدَةَ وَأَبَا طَلۡحَةَ وَأُبَيَّ بۡنَ كَعۡبٍ، مِنۡ فَضِيخِ زَهۡوٍ وَتَمۡرٍ، فَجَاءَهُمۡ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ الۡخَمۡرَ قَدۡ حُرِّمَتۡ، فَقَالَ أَبُو طَلۡحَةَ: قُمۡ يَا أَنَسُ فَأَهۡرِقۡهَا، فَأَهۡرَقۡتُهَا. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5582. Isma’il bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Malik bin Anas menceritakan kepadaku dari Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah, dari Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata:

Aku dahulu menuangkan minuman untuk Abu ‘Ubaidah, Abu Thalhah, dan Ubay bin Ka’b dari fadhikh (tumbukan) kurma mengkal yang mulai memerah (zahw) dan kurma matang (tamr). Lalu datanglah seseorang kepada mereka dan berkata, “Sesungguhnya minuman keras telah diharamkan.”

Abu Thalhah lantas berkata, “Berdirilah wahai Anas, lalu tumpahkanlah minuman itu!”

Aku pun menumpahkannya.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 5580

٥٥٨٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ عَبۡدُ رَبِّهِ بۡنُ نَافِعٍ، عَنۡ يُونُسَ، عَنۡ ثَابِتٍ الۡبُنَانِيِّ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: حُرِّمَتۡ عَلَيۡنَا الۡخَمۡرُ حِينَ حُرِّمَتۡ، وَمَا نَجِدُ - يَعۡنِي بِالۡمَدِينَةِ - خَمۡرَ الۡأَعۡنَابِ إِلَّا قَلِيلًا، وَعَامَّةُ خَمۡرِنَا الۡبُسۡرُ وَالتَّمۡرُ. [طرفه في: ٢٤٦٤].

5580. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Abu Syihab ‘Abdu Rabbih bin Nafi’ menceritakan kepada kami dari Yunus, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas. Beliau berkata: Ketika larangan minuman keras (khamar) diberlakukan atas kami, kami hampir tidak mendapati, yakni di Madinah, minuman keras dari anggur kecuali sedikit saja. Umumnya minuman keras kami adalah dari kurma mengkal (al-busr) dan kurma matang (at-tamr).

Al-Isti'ab - 987. Sa'id bin Zaid

٩٨٧ - [سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرٍو]:
987. Sa’id bin Zaid bin ‘Amr


سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو، بۡنِ نُفَيۡلِ [عَبۡدِ العُزَّى بۡنِ رِيَاحِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ قُرۡطِ بۡنِ رَزَاحِ بۡنِ عَدِيِّ بۡنِ كَعۡبِ بۡنِ لُؤَيٍّ القُرَشِيُّ العَدَوِيُّ، أُمُّهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ بَعۡجَةَ بۡنِ مَلِيحٍ الخُزَاعِيَّةُ، هُوَ ابۡنُ عَمِّ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ وَصِهۡرُهُ، يُكۡنَى أَبَا الۡأَعۡوَرِ، كَانَتۡ تَحۡتَهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ الخَطَّابِ أُخۡتُ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ، وَكَانَتۡ أُخۡتُهُ عَاتِكَةُ بِنۡتُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ تَحۡتَ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ، وَكَانَ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ مِنَ المُهَاجِرِينَ الۡأَوَّلِينَ، وَكَانَ إِسۡلَامُهُ قَدِيمًا قَبۡلَ عُمَرَ، وَبِسَبَبِ زَوۡجَتِهِ كَانَ إِسۡلَامُ عُمَرَ بۡنِ الخَطَّابِ؛ وَخَبَرُهُمَا فِي ذٰلِكَ خَبَرٌ حَسَنٌ، وَهَاجَرَ هُوَ وَامۡرَأَتُهُ فَاطِمَةُ بِنۡتُ الخَطَّابِ، وَلَمۡ يَشۡهَدۡ بَدۡرًا؛ لِأَنَّهُ كَانَ غَائِبًا بِـ(الشَّامِ)، قَدِمَ مِنۡهَا بِعَقِبِ غَزۡوَةِ بَدۡرٍ، فَضَرَبَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِسَهۡمِهِ وَأَجۡرِهِ، فَقِصَّتُهُ أَشۡبَهُ الۡقَصَصِ بِقِصَّةِ طَلۡحَةَ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ فِيمَا قَالَ مُوسَى بۡنُ عُقۡبَةَ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، وَكَذٰلِكَ قَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ.

Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail ‘Abdil-‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka‘b bin Lu`ay Al-Qurasyi Al-‘Adawi. Ibunya adalah Fathimah binti Ba’jah bin Malih Al-Khuza’iyyah. Ia adalah sepupu ‘Umar bin Al-Khaththab dan iparnya, dijuluki dengan nama kunyah Abul-A’war. Fathimah binti Al-Khaththab, saudara perempuan ‘Umar bin Al-Khaththab, menjadi istrinya, sedangkan saudara perempuannya yaitu ‘Atikah binti Zaid bin ‘Amr berada di bawah ikatan pernikahan dengan ‘Umar bin Al-Khaththab.

Sa’id bin Zaid termasuk golongan Muhajirin yang pertama. Keislamannya sudah lama terjadi sebelum ‘Umar, dan karena perantara istrinya pula keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab terjadi, serta kisah mereka berdua dalam hal itu adalah kisah yang baik. Ia berhijrah bersama istrinya—Fathimah binti Al-Khaththab—namun tidak ikut serta dalam Perang Badr karena sedang tidak berada di tempat (di Syam), lalu ia datang dari sana tepat setelah usainya Perang Badr. Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tetap memberikan bagian harta rampasan perang dan pahalanya untuknya. Kisahnya sangat menyerupai kisah Thalhah bin ‘Ubaidullah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa bin ‘Uqbah dari Ibnu Syihab. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq.

قَالَ الوَاقِدِيُّ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَدۡ بَعَثَ - قَبۡلَ أَنۡ يَخۡرُجَ مِنَ المَدِينَةِ إِلَى بَدۡرٍ - طَلۡحَةَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ وَسَعِيدَ بۡنَ زَيۡدٍ [إِلَى طَرِيقِ الشَّامِ] يَتَجَسَّسَانِ الۡأَخۡبَارَ، ثُمَّ رَجَعَا إِلَى المَدِينَةِ، فَقَدِمَا لَهَا يَوۡمَ وَقۡعَةِ بَدۡرٍ، فَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِسَهۡمِهِمَا وَأَجۡرِهِمَا. وَبِقَوۡلِ الوَاقِدِيِّ قَالَ الزُّبَيۡرُ فِي ذٰلِكَ سَوَاءً.

Al-Waqidi berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sebelum keluar dari Madinah menuju Badr, beliau pernah mengutus Thalhah bin ‘Abdullah dan Sa’id bin Zaid (ke jalur Syam) untuk memata-matai berita. Kemudian keduanya kembali ke Madinah dan tiba di sana pada hari terjadinya Perang Badr. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan bagian saham dan pahala untuk keduanya. Senada dengan perkataan Al-Waqidi, Az-Zubair juga berkata serupa dalam hal itu.

وَقَدۡ قِيلَ: إِنَّهُ شَهِدَ بَدۡرًا، ثُمَّ شَهِدَ مَا بَعۡدَهَا مِنَ المَشَاهِدِ، وَهُوَ أَحَدُ العَشَرَةِ الَّذِينَ شَهِدَ لَهُمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالجَنَّةِ. وَكَانَ أَبُوهُ زَيۡدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ يَطۡلُبُ دِينَ الحَنِيفِيَّةِ دِينَ إِبۡرَاهِيمَ عليه السلام قَبۡلَ أَنۡ يُبۡعَثَ النَّبِيُّ ﷺ، وَكَانَ لَا يَذۡبَحُ لِلۡأَنۡصَابِ وَلَا يَأۡكُلُ المَيۡتَةَ وَالدَّمَ.

Ada yang berpendapat: Sesungguhnya ia turut serta dalam Perang Badr, kemudian mengikuti peperangan-peperangan setelahnya. Ia adalah salah seorang dari sepuluh sahabat yang dipersaksikan oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—akan masuk janah. Ayahnya, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, mencari agama Hanifiyyah yaitu agama Ibrahim—‘alaihis-salam—sebelum Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diutus. Ia tidak pernah menyembelih untuk berhala serta tidak makan bangkai dan darah.

وَمِنۡ خَبَرِهِ: فِي ذٰلِكَ أَنَّهُ خَرَجَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ يَطۡلُبُ الدِّينَ هُوَ وَوَرَقَةُ بۡنُ نَوۡفَلٍ، فَلَقِيَا اليَهُودَ، فَعَرَضَتۡ عَلَيۡهِمَا يَهُودُ دِينَهُمۡ، فَتَهَوَّدَ وَرَقَةُ، ثُمَّ لَقِيَا النَّصَارَى فَعَرَضُوا عَلَيۡهِمَا دِينَهُمۡ، فَتَرَكَ وَرَقَةُ اليَهُودِيَّةَ وَتَنَصَّرَ، وَأَبَى زَيۡدُ بۡنُ عَمۡرٍو أَنۡ يَأۡتِيَ شَيۡئًا مِنۡ ذٰلِكَ، وَقَالَ: مَا هٰذَا إِلَّا كَدِينِ قَوۡمِنَا، تُشۡرِكُونَ وَيُشۡرِكُونَ، وَلَكِنَّكُمۡ عِنۡدَكُمۡ مِنَ اللهِ ذِكۡرٌ وَلَا ذِكۡرَ عِنۡدَهُمۡ. فَقَالَ لَهُ رَاهِبٌ: إِنَّكَ لَتَطۡلُبُ دِينًا مَا هُوَ عَلَى الۡأَرۡضِ اليَوۡمَ. فَقَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: دِينُ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ: وَمَا كَانَ عَلَيۡهِ إِبۡرَاهِيمُ؟ قَالَ: كَانَ يَعۡبُدُ اللهَ لَا يُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَيُصَلِّي إِلَى الكَعۡبَةِ. فَكَانَ زَيۡدٌ عَلَى ذٰلِكَ حَتَّى مَاتَ.

Di antara kisahnya: Ia keluar merantau pada masa jahiliah mencari agama bersama Waraqah bin Naufal. Keduanya lalu menemui orang-orang Yahudi yang kemudian menawarkan agama mereka kepada keduanya. Waraqah pun memeluk agama Yahudi. Setelah itu, keduanya menemui kaum Nasrani yang juga menawarkan agama mereka kepada keduanya. Waraqah lantas meninggalkan agama Yahudi dan masuk Nasrani, sedangkan Zaid bin ‘Amr enggan mengambil sedikit pun dari agama-agama tersebut. Ia berkata, “Tidaklah ini melainkan seperti agama kaum kita; kalian mempersekutukan Allah dan mereka juga mempersekutukan-Nya, hanya saja kalian memiliki kitab dari Allah sedangkan mereka tidak memilikinya.”

Lalu seorang pendeta berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau benar-benar mencari agama yang tidak ada di muka bumi hari ini.”

Ia bertanya, “Apakah itu?”

Pendeta itu menjawab, “Agama Ibrahim.”

Ia bertanya lagi, “Apa ajaran yang dianut Ibrahim?”

Pendeta itu menjawab, “Ia menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan salat menghadap Kakbah.”

Zaid pun terus berada di atas keyakinan tersebut hingga ia meninggal dunia.

حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ قَاسِمٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ مُوسَى بۡنِ جَمِيلٍ، حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِسۡحَاقَ القَاضِي حَدَّثَنَا نَصۡرُ بۡنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا الۡأَصۡمَعِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي الزِّنَادِ، قَالَ: قَالَتۡ أَسۡمَاءُ بِنۡتُ أَبِي بَكۡرٍ، وَكَانَتۡ أَكۡبَرَ مِنۡ عَائِشَةَ بِعَشۡرِ سِنِينَ أَوۡ نَحۡوِهَا - قَالَتۡ: رَأَيۡتُ زَيۡدَ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ مُسۡنِدًا ظَهۡرَهُ إِلَى الكَعۡبَةِ وَهُوَ يَقُولُ: يَا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ، وَاللهِ لَا آكُلُ مَا ذُبِحَ لِغَيۡرِ اللهِ، وَاللهِ مَا عَلَى دِينِ إِبۡرَاهِيمَ أَحَدٌ غَيۡرِي.

Ahmad bin Qasim telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Mu’awiyah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Musa bin Jamil menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ishaq Al-Qadhi menceritakan kepada kami: Nashr bin ‘Ali menceritakan kepada kami: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ibnu Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami. Ia berkata: Asma` binti Abu Bakr—yang usianya lebih tua sepuluh tahun atau sekitar itu dari ‘Aisyah—berkata: Aku melihat Zaid bin ‘Amr bin Nufail menyandarkan punggungnya ke Kakbah sambil berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, aku tidak akan memakan apa pun yang disembelih untuk selain Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun di atas agama Ibrahim selain diriku.”

حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ سَعۡدٍ، حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ صَخۡرٍ، حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا الۡمَسۡعُودُ، عَنۡ نَوۡفَلِ بۡنِ هِشَامِ بۡنِ سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ قَالَ: خَرَجَ وَرَقَةُ بۡنُ نَوۡفَلٍ وَزَيۡدُ بۡنُ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ يَطۡلُبَانِ الدِّينَ حَتَّى مَرَّ بِالشَّامِ، فَأَمَّا وَرَقَةُ فَتَنَصَّرَ، وَأَمَّا زَيۡدٌ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ الَّذِي تَطۡلُبُ أَمَامَكَ. قَالَ: فَانۡطَلَقَ حَتَّى أَتَى المَوۡصِلَ، فَإِذَا هُوَ بِرَاهِبٍ، فَقَالَ: مِنۡ أَيۡن أَقۡبَلَ صَاحِبُ الرَّاحِلَةِ؟ فَقَالَ: مِنۡ بَيۡتِ إِبۡرَاهِيمَ. قَالَ: فَمَا تَطۡلُبُ؟ قَالَ: الدِّينَ. قَالَ: فَعَرَضَ عَلَيۡهِ النَّصۡرَانِيَّةَ. فَقَالَ: لَا حَاجَةَ لِي بِهَا، وَأَبَى أَنۡ يَقۡبَلَهَا. فَقَالَ: إِنَّ الَّذِي تَطۡلُبُ سَيَظۡهَرُ بِأَرۡضِكَ. فَأَقۡبَلَ وَهُوَ يَقُولُ: [رجز]

لَبَّيۡكَ حَقًّا حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا     مَهۡمَا تَجَشَّمۡنِي فَإِنِّي جَاشِمٌ     عُذۡتُ بِمَا عَاذَ بِهِ إِبۡرَاهِمُ.

Qasim bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Khalid bin Sa’d menceritakan kepada kami: Ahmad bin ‘Umar menceritakan kepada kami: Muhammad bin Shakhr menceritakan kepada kami: ‘Ubaidullah bin Raja` menceritakan kepada kami: Al-Mas’ud menceritakan kepada kami dari Naufal bin Hisyam bin Sa’id bin Zaid, dari ayahnya, dari kakeknya. Ia berkata: Waraqah bin Naufal dan Zaid bin ‘Amr bin Nufail keluar merantau mencari agama hingga keduanya tiba di Syam. Adapun Waraqah, ia masuk Nasrani. Sedangkan Zaid, ia diberi tahu: “Sesungguhnya apa yang engkau cari ada di hadapanmu.”

Ia berkata: Maka ia pun terus berjalan hingga tiba di Mosul. Tiba-tiba ia mendapati seorang pendeta, lalu sang pendeta bertanya, “Dari mana asal pemilik kendaraan ini?”

Ia menjawab, “Dari tempat Ibrahim.”

Pendeta itu bertanya, “Apa yang engkau cari?”

Ia menjawab, “Agama.”

Pendeta itu lalu menawarkan agama Nasrani kepadanya. Ia berkata, “Aku tidak memiliki hajat terhadapnya,” dan ia enggan menerimanya.

Pendeta itu berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau cari akan segera muncul di negeri tempat tinggalmu.”

Ia pun pulang sambil bersenandung, “Kuhadiri panggilan-Mu dengan benar, benar-benar penuh pengabdian dan kepasrahan. Bagaimanapun berat beban yang Engkau bebankan padaku, maka aku sanggupi. Aku berlindung kepada apa yang dijadikan tempat berlindung oleh Ibrahim.”

قَالَ: وَمَرَّ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَمَعَهُ أَبُو سُفۡيَانَ بۡنُ الحَارِثِ يَأۡكُلَانِ مِنۡ سُفۡرَةٍ لَهُمَا، فَدَعَوَاهُ إِلَى الغَذَاءِ، قَالَ: يَا بۡنَ أَخِي، إِنِّي لَا آكُلُ مَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ. قَالَ: فَمَا رُؤِيَ النَّبِيُّ ﷺ مِنۡ يَوۡمِهِ ذٰلِكَ يَأۡكُلُ مِمَّا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ حَتَّى بُعِثَ ﷺ.

Ia berkata: Zaid bin ‘Amr bin Nufail lalu berjalan melewati Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersama Abu Sufyan bin Al-Harits yang sedang menyantap bekal perjalanan milik mereka berdua. Keduanya lalu mengajak Zaid untuk ikut makan bersama. Zaid berkata, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku tidak memakan apa pun yang disembelih untuk berhala.”

Perawi berkata: Maka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak pernah terlihat lagi sejak hari itu memakan apa pun yang disembelih untuk berhala hingga kemudian beliau diutus—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

قَالَ: وَأَتَاهُ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ، فَقَالَ: إِنَّ زَيۡدًا كَانَ كَمَا قَدۡ رَأَيۡتَ وَبَلَغَكَ، فَاسۡتَغۡفِرۡ لَهُ؟ قَالَ: نَعَمۡ، فَإِنَّهُ يُبۡعَثُ يَوۡمَ القِيَامَةِ أُمَّةً وَحۡدَهُ.

Ia berkata: Sa’id bin Zaid mendatangi Nabi lalu bertanya, “Sesungguhnya Zaid keadaannya adalah sebagaimana yang telah engkau lihat dan sampai kepadamu, apakah boleh aku memohon ampunan untuknya?”

Nabi menjawab, “Ya, karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai satu umat tersendiri.”

وَذَكَرَ ابۡنُ أَبِي الزِّنَادِ أَيۡضًا، عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ لَقِيَ زَيۡدَ بۡنَ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ بِأَسۡفَلِ بَلۡدَحَ، وَذٰلِكَ قَبۡلَ أَنۡ يَنَزَّلَ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الوَحۡيُ، فَقَدَّمَ إِلَيۡهِ رَسُولُ اللهِ ﷺ سُفۡرَةً فِيهَا لَحۡمٌ، فَأَبَى أَنۡ يَأۡكُلَ مِنۡهُ. [وَقَالَ: إِنِّي لَا آكُلُ إِلَّا مَا ذُكِرَ اسۡمُ اللهِ عَلَيۡهِ، رَوَاهُ عَلِيُّ بۡنُ الحُسَيۡنِ عَنِ الطُّوسِيِّ عَنِ الزُّبَيۡرِ عَنۡ عَمِّهِ مُصۡعَبٍ عَنِ الضَّحَّاكِ بۡنِ عُثۡمَانَ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ ابۡنِ أَبِي الزِّنَادِ].

Ibnu Abu Az-Zinad juga menyebutkan dari Musa bin ‘Uqbah, dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari ayahnya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: Beliau pernah bertemu dengan Zaid bin ‘Amr bin Nufail di bagian bawah Baldah, dan itu terjadi sebelum wahyu diturunkan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyajikan hidangan daging kepada Zaid, namun ia enggan memakannya. Zaid berkata, “Sesungguhnya aku tidak memakan kecuali sembelihan yang disebut nama Allah padanya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ‘Ali bin Al-Husain dari Ath-Thusi, dari Az-Zubair, dari pamannya, Mush’ab bin Adh-Dhahhak bin ‘Utsman, dari ‘Abdurrahman bin Abu Az-Zinad.

وَكَانَ عُثۡمَانُ قَدۡ أَقۡطَعَ سَعِيدًا أَرۡضًا بِالكُوفَةِ، فَنَزَلَهَا وَسَكَنَهَا إِلَى أَنۡ مَاتَ، وَسَكَنَهَا مِنۡ بَعۡدِهِ مِنۡ بَنِيهِ الۡأَسۡوَدُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَكَانَ لَهُ أَرۡبَعَةُ بَنِينَ: عَبۡدُ اللهِ، وَعَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ، وَزَيۡدٌ، وَالۡأَسۡوَدُ، كُلُّهُمۡ أَعۡقَبَ وَأَنۡجَبَ.

‘Utsman pernah memberikan sebidang tanah kepada Sa’id di Kufah, lalu ia menempatinya dan tinggal di sana hingga wafat. Setelah ia wafat, tanah tersebut ditempati oleh keturunannya yaitu Al-Aswad bin Sa’id. Sa’id memiliki empat orang anak laki-laki: ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, Zaid, dan Al-Aswad; semuanya memiliki keturunan dan bernasab mulia.

وَذَكَرَ الزُّبَيۡرُ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ حَمۡزَةَ، عَنِ المُغِيرَةِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنِ العُمَرِيِّ، عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ حَفۡصٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ أَنَّ مَرۡوَانَ أَرۡسَلَ إِلَى سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ نَاسًا يُكَلِّمُونَهُ فِي شَأۡنِ أَرۡوَى بِنۡتِ أُوَيۡسٍ، وَكَانَتۡ شَكَتۡهُ إِلَى مَرۡوَانَ. فَقَالَ سَعِيدٌ: تَرَوۡنِي ظَلَمۡتُهَا وَقَدۡ سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ ظَلَمَ مِنَ الۡأَرۡضِ شِبۡرًا طُوِّقَهُ يَوۡمَ القِيَامَةِ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ). اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ كَاذِبَةً فَلَا تُمِتۡهَا حَتَّى تُعۡمِيَ بَصَرَهَا، وَتَجۡعَلَ قَبۡرَهَا فِي بِئۡرٍ. قَالَ: فَوَاللهِ مَا مَاتَتۡ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا، وَجَعَلَتۡ تَمۡشِي فِي دَارِهَا وَهِيَ حَذِرَةٌ فَوَقَعَتۡ فِي بِئۡرِهَا فَكَانَتۡ قَبۡرَهَا.

Az-Zubair menyebutkan dari Ibrahim bin Hamzah, dari Al-Mughirah bin ‘Abdurrahman, dari Al-‘Umari, yaitu ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Marwan mengutus beberapa orang kepada Sa’id bin Zaid untuk berbicara mengenainya perihal Arwa binti Uwais, karena wanita itu telah mengadukan Sa’id kepada Marwan. Sa’id berkata, “Apakah kalian menyangka aku telah menzaliminya, padahal aku telah mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Barang siapa yang menzalimi tanah sejengkal, kelak tanah itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat sedalam tujuh lapis bumi.’ Ya Allah, jika ia berdusta, janganlah Engkau matikan ia hingga Engkau butakan penglihatannya dan jadikan kuburannya berada di dalam sumur.”

Perawi berkata: Demi Allah, wanita itu tidaklah mati hingga hilang penglihatannya, lalu ia berjalan di rumahnya dengan meraba-raba penuh kehati-hatian, hingga akhirnya ia terperosok ke dalam sumurnya sendiri dan sumur itu pun menjadi kuburannya.

قَالَ الزُّبَيۡرُ: وَحَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ حَمۡزَةَ، قَالَ حَدَّثَنِي عَبۡدُ العَزِيزِ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ العَلَاءِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّ أَرۡوَى بِنۡتَ أُوَيۡسٍ اسۡتَعۡدَتۡ مَرۡوَانَ بۡنَ الحَكَمِ عَلَى سَعِيدِ بۡنِ زَيۡدٍ فِي أَرۡضِهِ بِالشَّجَرَةِ، فَقَالَ سَعِيدٌ: كَيۡفَ أَظۡلِمُهَا؟ وَذَكَرَ مِثۡلَ مَا تَقَدَّمَ.

Az-Zubair berkata: Ibrahim bin Hamzah menceritakan kepadaku. Ia berkata: ‘Abdul-‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepadaku dari Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya: Arwa binti Uwais mengadu kepada Marwan bin Al-Hakam mengenai Sa’id bin Zaid terkait tanah miliknya di Asy-Syajarah. Sa’id berkata, “Bagaimana mungkin aku menzaliminya?” lalu ia menyebutkan perkataan seperti riwayat sebelumnya.

وَأَوۡجَبَ مَرۡوَانُ عَلَيۡهِ اليَمِينَ، فَتَرَكَ سَعِيدٌ لَهَا مَا ادَّعَتۡ، وَقَالَ: اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ أَرۡوَى كَاذِبَةً فَأَعۡمِ بَصَرَهَا، وَاجۡعَلۡ قَبۡرَهَا فِي بِئۡرِهَا، فَعَمِيَتۡ أَرۡوَى، وَجَاءَ سَيۡلٌ فَأَبۡدَى ضَفِيرَتَهَا، فَرَأَوۡا حَقَّهَا خَارِجًا عَنۡ حَقِّ سَعِيدٍ، فَجَاءَ سَعِيدٌ إِلَى مَرۡوَانَ، فَقَالَ: أَقۡسَمۡتُ عَلَيۡكَ لَتَرۡكَبَنَّ مَعِي وَلَتَنۡظُرَنَّ إِلَى ضَفِيرَتِهَا، فَرَكِبَ مَعَهُ مَرۡوَانُ، وَرَكِبَ نَاسٌ مَعَهُمَا حَتَّى نَظَرُوا إِلَيۡهَا. ثُمَّ إِنَّ أَرۡوَى خَرَجَتۡ فِي بَعۡضِ حَاجَتِهَا بَعۡدَمَا عَمِيَتۡ، فَوَقَعَتۡ فِي البِئۡرِ فَمَاتَتۡ. قَالَ: وَكَانَ أَهۡلُ المَدِينَةِ يَدۡعُو بَعۡضُهُمۡ عَلَى بَعۡضٍ يَقُولُونَ: أَعۡمَاكَ اللهُ كَمَا أَعۡمَى أَرۡوَى، يُرِيدُونَهَا، ثُمَّ صَارَ أَهۡلُ الجَهۡلِ يَقُولُونَ: أَعۡمَاكَ اللهُ كَمَا أَعۡمَى الۡأَرۡوَى، يُرِيدُونَ الۡأَرۡوَى الَّتِي فِي الجَبَلِ يَظُنُّونَهَا، وَيَقُولُونَ: إِنَّهَا عَمۡيَاءُ، وَهٰذَا جَهۡلٌ مِنۡهُمۡ.

Marwan mewajibkan Sa’id untuk bersumpah, namun Sa’id justru merelakan tanah yang disengketakan itu untuk Arwa dan berkata, “Ya Allah, jika Arwa berdusta, maka butakanlah penglihatannya, dan jadikanlah kuburannya berada di dalam sumurnya.”

Arwa pun menjadi buta, dan suatu ketika datanglah aliran air banjir yang menyingkapkan batas tanah miliknya, sehingga terlihatlah hak tanah Sa’id ternyata berada di luar batas tanah Arwa. Sa’id lantas mendatangi Marwan dan berkata, “Aku bersumpah demi Allah agar engkau mau berkuda bersamaku dan melihat sendiri batas tanahnya.”

Marwan pun ikut berkuda bersamanya, bersama sejumlah orang lainnya, hingga mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian pada suatu hari Arwa keluar untuk suatu keperluannya setelah ia buta, lalu ia terperosok ke dalam sumur dan meninggal dunia.

Perawi berkata: Penduduk Madinah dahulu biasa saling mendoakan keburukan dengan berkata, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia telah membutakan Arwa,” yang mereka maksud adalah wanita tersebut. Namun kemudian orang-orang yang bodoh mulai mengucapkannya dengan, “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Ia telah membutakan al-arwa (domba gunung),” yang mereka maksud adalah hewan domba yang ada di gunung karena menyangka hewan tersebut buta, dan ini adalah kebodohan dari mereka.

حَدَّثَنَا عَبۡدُ الوَارِثِ بۡنُ سُفۡيَانَ، حَدَّثَنَا قَاسِمُ بۡنُ أَصۡبَغَ، حَدَّثَنَا المُطَّلِبُ بۡنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيۡثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ الهَادِي، عَنۡ أَبِي بَكۡرِ بۡنِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَزۡمٍ، قَالَ: جَاءَتۡ أَرۡوَى بِنۡتُ أُوَيۡسٍ إِلَى أَبِي مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ حَازِمٍ فَقَالَتۡ لَهُ: يَا أَبَا عَبۡدِ المَلِكِ؛ إِنَّ سَعِيدَ بۡنَ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ قَدۡ بَنَى ضَفِيرَةً فِي حَقِّي فَأۡتِهِ بِكَلِمَةٍ فَلۡيَنۡزِعۡ عَنۡ حَقِّي، فَوَاللهِ لَئِنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡ لَأَصِيحَنَّ بِهِ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ.

‘Abdul-Warits bin Sufyan telah menceritakan kepada kami: Qasim bin Ashbagh menceritakan kepada kami: Al-Muththalib bin Sa’id menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Laits menceritakan kepadaku. Ia berkata: Ibnu Al-Hadi menceritakan kepadaku dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm. Ia berkata: Arwa binti Uwais datang kepada Abu Muhammad bin ‘Amr bin Hazm lalu berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdul-Malik, sesungguhnya Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail telah membangun pembatas tanah di atas hak tanahku. Maka temuilah ia dengan suatu teguran agar ia melepaskan hakku. Demi Allah, jika ia tidak melakukannya, sungguh aku akan meneriakinya di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

فَقَالَ لَهَا: لَا تُؤۡذِي صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَمَا كَانَ لِيَظۡلِمَكِ وَلَا لِيَأۡخُذَ لَكِ حَقًّا. فَخَرَجَتۡ وَجَاءَتۡ عُمَارَةَ بۡنَ عَمۡرٍو، وَعَبۡدَ اللهِ بۡنَ سَلَمَةَ، فَقَالَتۡ لَهُمَا: ائۡتِيَا سَعِيدَ بۡنَ زَيۡدٍ فَإِنَّهُ قَدۡ ظَلَمَنِي وَبَنَى ضَفِيرَةً فِي حَقِّي، فَوَاللهِ لَئِنۡ لَمۡ يَنۡزِعۡ لَأَصِيحَنَّ بِهِ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَخَرَجَا حَتَّى أَتَيَاهُ فِي أَرۡضِهِ بِالعَقِيقِ، فَقَالَ لَهُمَا: مَا أَتَى بِكُمَا؟ قَالَا: جَاءَتۡنَا أَرۡوَى بِنۡتُ أُوَيۡسٍ، فَزَعَمَتۡ أَنَّكَ بَنَيۡتَ ضَفِيرَةً فِي حَقِّهَا، وَحَلَفَتۡ بِاللهِ لَئِنۡ لَمۡ تَنۡزِعۡ لَتَصِيحَنَّ بِكَ فِي مَسۡجِدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَأَحۡبَبۡنَا أَنۡ نَأۡتِيَكَ، وَنَذۡكُرَ ذٰلِكَ لَكَ.

Abu Muhammad bin ‘Amr bin Hazm berkata kepadanya, “Janganlah engkau menyakiti sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, karena beliau tidak mungkin menzalimimu dan tidak pula mengambil hakmu.”

Wanita itu lantas pergi dan mendatangi ‘Umarah bin ‘Amr dan ‘Abdullah bin Salamah, lalu berkata kepada keduanya, “Datangilah Sa’id bin Zaid, karena sesungguhnya ia telah menzalimiku dan membangun pembatas di atas hak tanahku. Demi Allah, jika ia tidak melepaskannya, sungguh aku akan meneriakinya di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”

Keduanya pun pergi hingga menemui Sa’id di tanah miliknya di Al-‘Aqiq. Sa’id bertanya kepada keduanya, “Ada keperluan apa kalian berdua datang?”

Keduanya menjawab, “Arwa binti Uwais mendatangi kami dan mengaku bahwa engkau telah membangun pembatas tanah di atas haknya, dan ia bersumpah demi Allah bahwa jika engkau tidak melepaskannya, ia benar-benar akan meneriakimu di dalam masjid Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Oleh karena itu, kami ingin mendatangimu dan menyampaikan hal ini kepadamu.”

فَقَالَ لَهُمَا: إِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ أَخَذَ شِبۡرًا مِنَ الۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ حَقِّهِ يُطَوِّقُهُ اللهُ يَوۡمَ القِيَامَةِ مِنۡ سَبۡعِ أَرَضِينَ). فَلۡتَأۡتِ فَلۡتَأۡخُذۡ مَا كَانَ لَهَا مِنَ الحَقِّ، اللّٰهُمَّ إِنۡ كَانَتۡ كَاذِبَةً فَلَا تُمِتۡهَا حَتَّى تُعۡمِيَ بَصَرَهَا وَتَجۡعَلَ مَيۡتَتَهَا فِيهَا، [فَرَجَعُوا فَأَخۡبَرُوهَا] ذٰلِكَ فَجَاءَتۡ فَهَدَمَتِ الضَّفِيرَةَ، وَبَنَتۡ بُنۡيَانًا، فَلَمۡ تَمۡكُثۡ إِلَّا قَلِيلًا حَتَّى عَمِيَتۡ، وَكَانَتۡ تَقُومُ بِاللَّيۡلِ وَمَعَهَا جَارِيَةٌ لَهَا تَقُودُهَا لِتُوقِظَ العُمَّالَ، فَقَامَتۡ لَيۡلَةً وَتَرَكَتِ الجَارِيَةَ فَلَمۡ تُوقِظۡهَا، فَخَرَجَتۡ تَمۡشِي حَتَّى سَقَطَتۡ فِي البِئۡرِ، فَأَصۡبَحَتۡ مَيۡتَةً.

Sa’id berkata kepada keduanya, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, ‘Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah bukan dengan haknya, maka Allah akan mengalungkannya di lehernya pada hari kiamat sedalam tujuh lapis bumi.’[1] Biarkan ia datang dan mengambil apa saja hak yang menjadi miliknya. Ya Allah, jika ia berdusta, janganlah Engkau matikan ia hingga Engkau butakan penglihatannya dan jadikan kematiannya terjadi di tempat itu.”

Mereka pun pulang lalu menyampaikan hal tersebut kepada Arwa. Wanita itu lantas datang lalu merobohkan bangunan pembatas tersebut dan mendirikan bangunan baru di atasnya. Namun tidak lama berselang, ia pun menjadi buta. Ia biasa bangun malam dengan ditemani oleh seorang budak wanita yang menuntunnya untuk membangunkan para pekerja. Pada suatu malam ia bangun sendirian dan meninggalkan budak wanita tersebut tanpa membangunkannya, lalu ia keluar berjalan hingga terperosok ke dalam sumur, dan keesokan harinya ia ditemukan sudah meninggal dunia.

تُوُوُفِّيَ سَعِيدُ بۡنُ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ بِأَرۡضِهِ بِالعَقِيقِ، وَدُفِنَ بِالمَدِينَةِ فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ سَنَةَ خَمۡسِينَ أَوۡ إِحۡدَى وَخَمۡسِينَ، وَهُوَ ابۡنُ بِضۡعٍ وَسَبۡعِينَ سَنَةً. رَوَى عَنۡهُ ابۡنُ عُمَرَ، وَعَمۡرُو بۡنُ حُرَيۡثٍ، وَأَبُوالطُّفَيۡلِ عَامِرُ بۡنُ وَاثِلَةَ وَجَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ.

Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail wafat di tanah miliknya di Al-‘Aqiq, dan dimakamkan di Madinah pada masa kekhalifahan Mu’awiyah pada tahun 50 atau 51 H, dalam usia lebih dari 70 tahun. Yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu ‘Umar, ‘Amr bin Huraits, Abu Ath-Thufail ‘Amir bin Watsilah, serta sekelompok tabiin.