Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Al-Arba'un An-Nawawiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Arba'un An-Nawawiyyah. Tampilkan semua postingan

Arbain An Nawawiyah

Di antara keutamaan yang Allah berikan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jawamiul kalim; yakni ucapan-ucapan yang pendek namun mengandung makna yang sangat luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata yang artinya, “Aku diutus dengan jawamiul kalim.” [H.R. Bukhari-Muslim]. Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata yang artinya, “Aku diberi keutamaan dari para nabi sebelumku dengan enam perkara, aku diberi jawamiul kalim…” [H.R. Muslim: 523].

Jawamiul kalim yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua yaitu:

1. Terdapat dalam Al Quran, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik, serta memberi kepada kerabat terdekat, dan Allah melarang perbuatan keji, perbuatan mungkar dan berbuat semena-mena.” [Q.S. An Nahl: 90].

Al Hasan Al Bashry berkata, “Ayat ini memerintahkan semua kebaikan tidak meninggalkannya sedikitpun dan melarang dari semua kejelekan.”

2. Dalam ucapan beliau yang tersebar dalam hadis-hadis yang diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Banyak ulama yang membuat karya khusus mengumpulkan jawamiul kalim nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Imam Al Hafizh Ibnu Shalah di dalam majelisnya pernah mengimla’, menyampaikan hadis jawamiul kalim yaitu beberapa hadis yang disebut sebagai “hadis-hadis sumber agama”. Terkumpullah dalam majelis beliau dua puluh enam hadis yang termasuk jawamiul kalim.

Kemudian An Nawawi rahimahullah mengambil hadis-hadis yang diimla’ oleh Ibnu Shalah dan menambahnya dengan beberapa hadis lainnya, sehingga sempurna menjadi empat puluh dua hadis. Karya beliau tersebut masyhur dengan nama “Al Arbain An Nawawiyah”.

Pembaca yang budiman, Kitab Al Arbain An Nawawiyah adalah kitab yang sangat masyhur, banyak ulama kita yang menganjurkan seorang yang mau belajar hadis untuk memulai dengan kitab ini sebelum mempelajari kitab-kitab hadis lainnya. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab ini adalah hadis-hadis yang penting bagi seorang muslim. Di dalamnya dimuat hadis-hadis tentang niat, rukun Islam, rukun iman, akhlak, muamalah, dan lainnya.

An Nawawi berkata dalam mukadimah kitab ini, “Semua orang yang menginginkan akhirat seyogyanya mengetahui hadis-hadis ini, karena hadis-hadis dalam kitab ini mencakup perkara-perkara penting dalam agama dan berisi teguran untuk melakukan ketaatan-ketaatan.”

Silahkan lihat kitab-kitab yang mensyarah, menerangkan kandungan kitab ini. Niscaya Anda akan dapatkan penjelasan betapa tingginya kedudukan hadis-hadis yang terdapat dalam Al Arbain An Nawawiyah ini.

Sebagai contoh penulis bawakan tiga penjelasan dari kitab Jamiul Ulum Wal Hikam.
  1. Dalam syarah hadis yang pertama, hadis Umar tentang niat, Ibnu Rajab berkata, “Ini adalah satu di antara hadis yang agama ini beredar/ bersumber padanya.”
  2. Dalam hadis kedua, hadis Jibril, Ibnu Rajab berkata, “Ini adalah hadis yang agung sekali, mencakup penjelasan agama ini secara menyeluruh, makanya Nabi berkata di akhir hadis ini (yang artinya), “Itu adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.
  3. Dalam hadis kelima, hadis Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ibnu Rajab berkata, “Hadis ini adalah pokok yang agung di antara sekian pokok-pokok Islam yang lainnya.”

KITAB-KITAB SYARAH ARBAIN AN NAWAWIYAH


Di antara hal yang menunjukkan kedudukan kitab ini adalah perhatian para ulama dalam mengajarkan dan menerangkan kandungan kitab ini, sehingga banyak sekali kitab para ulama yang khusus mensyarah kitab ini. Di antara kitab syarah An Nawawiyah yaitu,
  1. Syarah An Nawawi sendiri
  2. Syarah Ibnu Daqiqil Ied
  3. Syarah Ibnu Rajab, kitab yang berjudul Jamiululum walhikam, para ulama menyatakan kitab ini di antara syarah terbaik dari syarah Arbain An Nawawiyah.
  4. Kitab-kitab syarah ulama di zaman kita ini, antara lain, Syarah Syaikh Ibnu Utsaimin, Syarah Syaikh Abdul Muhsin, Syarah Syaikh Shalih Al Fauzan, Syarah Syaikh Shalih Abdul Aziz Alu Syaikh dan para ulama lainnya.

Pembaca yang budiman, maka marilah kita ikuti nasehat dan anjuran para ulama kita, baca dan hafalkan hadis-hadis dalam kitab Al Arbain An Nawawiyah ini, kemudian galilah kandungannya dari syarah-syarah ulama kita. Mudah-mudahan bisa menjadi sebab bertambahnya iman dan amal kita, yang dengan keduanya kita akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Rabb kita, di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.[1]

Sumber: Majalah Qudwah edisi 35 vol. 03 1437 H/ 2016 M rubrik Maktabah. Pemateri: Ustadz Abdurrahman Mubarak.


[1] Perlu Anda tahu; 
Tak ada karya manusia yang sempurna, demikian juga kitab Arbain An Nawawiyah ini. 
An Nawawi telah menyebutkan dalam pengantar Arbain bahwasanya beliau hanya akan menyebutkan hadis shahih dalam kitabnya tersebut. 
Kesempurnaan hanya milik Allah, kita hamba Allah adalah hamba yang lemah, tak luput dari kesalahan. 
Kalau kita membaca penjelasan para ulama kita, maka akan kita dapati ada beberapa hadis yang beliau sebutkan ternyata dinyatakan lemah oleh ulama kita. 
Sebatas pengetahuan yang penulis dapatkan dalam kitab-kitab Syaikh Muhammad Nasiruddin Albani, ada dua hadis dalam kitab Kitab Arbain dinyatakan dhaif oleh syaikh Albani rahimahullah
  • Hadis no 30, Syaikh Albani menyatakan hadis ini dhaif (lemah), lihat “Dhaif Jamius Shaghir 1597” 
  • Hadis no 41, Syaikh Albani berkata, “Sanadnya dhaif”, lihat Tahqiq Kitab Assunnah Ibnu Abi Ashim: 15

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Daftar Pos

Alhamdulillah. Berikut daftar pos terjemahan kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah:
  1. Hadis ke-1, ke-2, dan ke-3.
  2. Hadis ke-4, ke-5, dan ke-6.
  3. Hadis ke-7, ke-8, dan ke-9.
  4. Hadis ke-10, ke-11, dan ke-12.
  5. Hadis ke-13, ke-14, dan ke-15.
  6. Hadis ke-16, ke-17, dan ke-18.
  7. Hadis ke-19, ke-20, dan ke-21.
  8. Hadis ke-22, ke-23, dan ke-24.
  9. Hadis ke-25, ke-26, dan ke-27.
  10. Hadis ke-28, ke-29, dan ke-30.
  11. Hadis ke-31, ke-32, dan ke-33.
  12. Hadis ke-34, ke-35, dan ke-36.
  13. Hadis ke-37, ke-38, dan ke-39.
  14. Hadis ke-40, ke-41, dan ke-42.
Link PDF Terjemahan Al-Arba'un An-Nawawiyyah dan PDF Terjemahan Al-Arba'un An-Nawawiyyah beserta tambahan Ibnu Rajab.

Al-Arba'un An-Nawawiyyah Ma'a Ziyadah Ibni Rajab - Hadits ke-47, ke-48, ke-49, dan ke-50

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنِ الۡمِقۡدَامِ بۡنِ مَعۡدِ يكَرِبَ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنۡ بَطۡنٍ، بِحَسۡبِ ابۡنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقۡمِنُ صُلۡبَهُ، فَإِنۡ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ). [رواه أحمد والترمذي وابن ماجه، وقال الترمذي: حديث حسن].
Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah manusia memenuhi satu wadah pun yang lebih jelek daripada perut. Seseorang cukup dengan beberapa suap makanan yang dapat meluruskan tulang punggungnya. Apabila tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi nomor 2380, dan Ibnu Majah nomor 3349. At-Tirmidzi berkata: Hadis hasan).

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (أَرۡبَعٌ مَنۡ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا، وَإِنۡ كَانَتۡ خَصۡلَةٌ مِنۡهُنَّ فِيهِ كَانَتۡ فِيهِ خَصۡلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: مَنۡ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخۡلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Empat perangai siapa saja ada pada dirinya, maka ia adalah seorang munafik. Apabila ada satu perangai di antaranya, maka pada dirinya ada satu perangai kemunafikan sampai ia meninggalkannya: apabila bercerita, ia dusta; apabila berjanji, ia menyelisihi; apabila berdebat, ia berbuat jahat, dan apabila bersepakat, ia mengingkari.” (HR. Al-Bukhari nomor 34 dan Muslim nomor 58).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَوۡ أَنَّكُمۡ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمۡ كَمَا يَرۡزُقُ الطَّيۡرَ تَغۡدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا). [رواه أحمد والترمذي والنسائي في الكبرى كما في التحفة وابن ماجه، وصححه ابن حبان والحاكم، وقال الترمذي: حسن صحيح].
Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pagi hari dalam keadaan kosong perutnya, namun sore hari sudah terisi perutnya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa`i dalam Sunan Al-Kubra sebagaimana dalam At-Tuhfah, dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim. At-Tirmidzi berkata: Hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الۡخَمۡسُونَ

عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بُسۡرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الۡإِسۡلَامِ قَدۡ كَثُرَتۡ عَلَيۡنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: (لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطۡبًا مِنۡ ذِكۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ). [رواه أحمد].
Dari ‘Abdullah bin Busr, beliau mengatakan: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam ini terasa banyak bagi kami. Adakah perkara yang dapat kami berpegang teguh dengannya mencakup itu semua? Beliau bersabda, “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Ahmad).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah Ma'a Ziyadah Ibni Rajab - Hadits ke-43, ke-44, ke-45, dan ke-46

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَلۡحِقُوا الۡفَرَائِضَ بِأَهۡلِهَا، فَمَا أَبۡقَتِ الۡفَرَائِضُ فَلِأَوۡلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berikanlah bagian-bagian warisan kepada ahlinya. Adapun bagian selebihnya, maka untuk kerabat lelaki yang terdekat.” (HR. Al-Bukhari nomor 6732 dan Muslim nomor 1615).

الۡحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الرَّضَاعَةُ تُحَرِّمُ مَا تُحَرِّمُ الۡوِلَادَةُ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Persusuan itu mengharamkan apa saja yang haram disebabkan kelahiran.” (HR. Al-Bukhari nomor 2646 dan Muslim nomor 1444).

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَامَ الۡفَتۡحِ وَهُوَ بِمَكَّةَ يَقُولُ: (إِنَّ اللهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيۡعَ الۡخَمۡرِ وَالۡمَيۡتَةِ وَالۡخِنۡزِيرِ وَالۡأَصۡنَامِ)، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيۡتَ شُحُومَ الۡمَيۡتَةِ فَإِنَّهَا يُطۡلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدۡهَنُ بِهَا الۡجُلُودُ، وَيَسۡتَصۡبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: (لَا، هُوَ حَرَامٌ) ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عِنۡدَ ذٰلِكَ: (قَاتَلَ اللهُ الۡيَهُودَ، إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيۡهِمُ الشُّحُومَ، فَأَجۡمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah ketika beliau berada di Makkah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan RasulNya telah mengharamkan jual beli minuman keras, bangkai, babi, dan berhala.” Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang lemak bangkai? Karena ia digunakan untuk mengecat kapal-kapal, meminyaki kulit-kulit, dan orang-orang menggunakannya untuk menyalakan lentera? Beliau menjawab, “Tidak, ia tetap haram.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah itu, “Semoga Allah memerangi Yahudi. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan lemak bangkai untuk mereka. Lalu mereka mencairkannya, menjualnya, lalu memakan harganya.” (HR. Al-Bukhari nomor 2236 dan Muslim nomor 1581).

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ أَبِي مُوسَى الۡأَشۡعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَهُ إِلَى الۡيَمَنِ، فَسَأَلَهُ عَنۡ أَشۡرِبَةٍ تُصۡنَعُ بِهَا، فَقَالَ: (وَمَا هِيَ؟) قَالَ: الۡبِتۡعُ وَالۡمِزۡرُ، فَقِيلَ لِأَبِي بُرۡدَةَ: مَا الۡبِتۡعُ؟ قَالَ: نَبِيذُ الۡعَسَلِ، وَالۡمِزۡرُ نَبِيذُ الشَّعِيرِ، فَقَالَ: (كُلُّ مُسۡكِرٍ حَرَامٌ). [رواه البخاري].
Dari Abu Burdah, dari ayahnya, dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Yaman. Lalu Abu Musa bertanya kepada Nabi tentang minuman yang dibuat di sana. Nabi bertanya, “Apa itu?” Abu Musa menjawab: Al-bit’ dan al-mizr. Ada yang bertanya kepada Abu Burdah: Apa al-bit’ itu? Beliau menjawab: Minuman memabukkan dari bahan madu, sedang al-mizr adalah minuman memabukkan dari bahan jelai. Nabi bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah haram.” (HR. Al-Bukhari nomor 4343).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-40, ke-41, dan ke-42

الۡحَدِيثُ الۡأَرۡبَعُونَ

عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنۡكِبِي وَقَالَ: (كُنۡ فِي الدُّنۡيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوۡ عَابِرُ سَبِيلٍ). وَكَانَ ابۡنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا يَقُولُ: إِذَا أَمۡسَيۡتَ فَلَا تَنۡتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصۡبَحۡتَ فَلَا تَنۡتَظِرِ الۡمَسَاءَ، وَخُذۡ مِنۡ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنۡ حَيَاتِكَ لِمَوۡتِكَ. [رواه البخاري].
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang bahuku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau musafir.” Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: Apabila engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Apabila engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore hari. Pergunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan manfaatkanlah masa hidupmu untuk menghadapi kematianmu. (HR. Al-Bukhari nomor 6416).

الۡحَدِيثُ الۡحَادِي وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئۡتُ بِهِ). [حديث حسن صحيح، رويناه في كتاب الحجة بإسناد صحيح].
Dari Abu Muhammad ‘Abdulllah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak akan beriman sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadis hasan sahih, telah kami riwayatkan di dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّانِي وَالۡأَرۡبَعُونَ

عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابۡنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوۡتَنِي وَرَجَوۡتَنِي غَفَرۡتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنۡكَ وَلَا أُبَالِي. يَا ابۡنَ آدَمَ، لَوۡ بَلَغَتۡ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسۡتَغۡفَرۡتَنِي غَفَرۡتُ لَكَ. يَا ابۡنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوۡ أَتَيۡتَنِي بِقُرَابِ الۡأَرۡضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشۡرِكُ بِي شَيۡئًا لَأَتَيۡتُكَ بِقُرَابِهَا مَغۡفِرَةً) [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepadaKu dan mengharap kepadaKu, pasti Aku ampuni engkau terhadap apa saja yang ada darimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit lalu engkau meminta ampun kepadaKu, pasti Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya engkau mendatangiKu dengan kesalahan sepenuh bumi lalu engkau menjumpaiKu dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, pasti Aku mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi nomor 3540 dan beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-37, ke-38, dan ke-39

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِيمَا يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ: (إِنَّ اللهَ كَتَبَ الۡحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذٰلِكَ: فَمَنۡ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنۡدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنۡ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنۡدَهُ عَشۡرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبۡعِمِائَةِ ضِعۡفٍ إِلَى أَضۡعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَإِنۡ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنۡدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنۡ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا؛ كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً). [رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما بهذه الحروف].
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada yang beliau riwayatkan dari Rabbnya tabaraka wa ta’ala, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan kemudian Allah telah menjelaskan hal itu. Maka, siapa saja yang bertekad untuk mengerjakan satu kebaikan namun tidak ia kerjakan, Allah akan catat di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Apabila ia bertekad untuk melakukan satu kebakan kemudian ia kerjakan, maka Allah akan catat di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Apabila ia bertekad mengerjakan satu kejelekan dan tidak ia lakukan, maka Allah catat di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Apabila ia bertekad melakukan satu kejelekan lalu ia kerjakan, Allah catat satu kejelekan.” (HR. Al-Bukhari nomor 6491 dan Muslim nomor 131 di dalam dua kitab Shahih dengan huruf-huruf ini).
فَانۡظُرۡ يَا أَخِي وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكَ إِلَى عَظِيمِ لُطۡفِ اللهِ تَعَالَى، وَتَأَمَّلۡ هٰذِهِ الۡأَلۡفَاظَ. وَقَوۡلُهُ: (عِنۡدَهُ) إِشَارَةً إِلَى الۡاعۡتِنَاءِ بِهَا. وَقَوۡلُهُ (كَامِلَةً) لِلتَّأۡكِيدِ وَشِدَّةِ الۡاعۡتِنَاءِ بِهَا.
وَقَالَ: فِي السَّيِّئَةِ الَّتِي هَمَّ بِهَا ثُمَّ تَرَكَهَا: (كَتَبَهَا اللهُ عِنۡدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً) فَأَكَّدَهَا بِكَامِلَةٍ. (وَإِنۡ عَمِلَهَا كَتَبَهَا سَيِّئَةً وَاحِدَةً) فَأَكَّدَ تَقۡلِيلَهَا بِوَاحِدَةٍ وَلَمۡ يُؤَكِّدۡهَا بِكَامِلَةٍ، فَلِلّٰهِ الۡحَمۡدُ وَالۡمِنَّةُ، سُبۡحَانَهُ لَا نُحۡصِي ثَنَاءً عَلَيۡهِ، وَبِاللهِ التَّوۡفِيقُ.
Perhatikanlah, wahai saudaraku. Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan Anda kepada besarnya kasih sayang Allah ta’ala. Dan renungkanlah ungkapan-ungkapan ini. Ungkapan “di sisiNya” merupakan isyarat kepada perhatian Allah padanya. Ungkapan “sempurna” untuk menekankan dan bahwa ini sangat diperhatikan oleh Allah. Ucapan tentang kejelekan yang telah ia tekadkan kemudian ia tinggalkan, yaitu “Allah catat di sisiNya satu kebaikan sempurna”, maka diberi penekanan dengan ungkapan “sempurna”. “Apabila ia mengerjakannya, Allah catat satu kejelekan”, maka ditekankan akan sedikitnya hal itu dengan ungkapan “satu” dan tidak ditekankan dengan menggunakan ungkapan “sempurna”. Maka, hanya bagi Allah saja pujian dan keutamaan. Maha suci Dia, kami tidak mampu menghitung-hitung pujian atasNya. Hanya kepada Allah lah kita meminta taufik.

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنۡ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدۡ آذَنۡتُهُ بِالۡحَرۡبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبۡدِي بِشَيۡءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افۡتَرَضۡتُهُ عَلَيۡهِ، وَلَا يَزَالُ عَبۡدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحۡبَبۡتُهُ كُنۡتُ سَمۡعَهُ الَّذِي يَسۡمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبۡصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبۡطِشُ بِهَا، وَرِجۡلَهُ الَّتِي يَمۡشِي بِهَا، وَلَئِنۡ سَأَلَنِي لَأُعۡطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسۡتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ) [رواه البخاري].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: Siapa saja yang memusuhi waliKu maka sungguh Aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan suatu amalan yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan amalan sunah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia memegang dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Apabila ia memintaKu niscaya Aku beri dia. Apabila ia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Aku lindungi dia.” (HR. Al-Bukhari nomor 6502).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنۡ أُمَّتِي: الۡخَطَأَ، وَالنِّسۡيَانَ، وَمَا اسۡتُكۡرِهُوا عَلَيۡهِ) [حديث حسن، رواه ابن ماجه والبيهقي، وغيرهما].
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku: kekeliruan, lupa, dan keterpaksaan.” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 2045, Al-Baihaqi, dan selain keduanya).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-34, ke-35, dan ke-36

الۡحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَنۡ رَأَى مِنۡكُمۡ مُنۡكَرًا فَلۡيُغَيِّرۡهُ بِيَدِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِقَلۡبِهِ وَذٰلِكَ أَضۡعَفُ الۡإِيمَانِ) [رواه مسلم].
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, hendaknya ia ubah dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR. Muslim nomor 49).

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعۡ بَعۡضُكُمۡ عَلَى بَيۡعِ بَعۡضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخۡوَانًا. الۡمُسۡلِمُ أَخُو الۡمُسۡلِمِ، لَا يَظۡلِمُهُ، وَلَا يَخۡذُلُهُ، وَلَا يَكۡذِبُهُ، وَلَا يَحۡقِرُهُ. التَّقۡوَى هَاهُنَا – وَيُشِيرُ إِلَى صَدۡرِهِ (ثَلَاثَ مَرَّاتٍ) – بِحَسۡبِ امۡرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنۡ يَحۡقِرَ أَخَاهُ الۡمُسۡلِمَ. كُلُّ الۡمُسۡلِمِ عَلَى الۡمُسۡلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرۡضُهُ) [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, jangan melakukan tanajusy (menawar dengan harga yang lebih tinggi oleh orang yang tidak hendak membelinya untuk menaikkan harganya), jangan saling benci, dan jangan saling bermusuhan. Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sudah hendak dibeli oleh orang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya, mengabaikannya, membohonginya, dan tidak menghinanya. Takwa itu di sini – beliau mengisyaratkan ke dadanya (tiga kali) -. Cukuplah seseorang dikatakan jelek apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim nomor 2564).

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (مَنۡ نَفَّسَ عَنۡ مُؤۡمِنٍ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ الدُّنۡيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنۡهُ كُرۡبَةً مِنۡ كُرَبِ يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ، وَمَنۡ يَسَّرَ عَلَى مُعۡسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيۡهِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَمَنۡ سَتَرَ مُسۡلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوۡنِ الۡعَبۡدِ مَا كَانَ الۡعَبۡدُ فِي عَوۡنِ أَخِيهِ. وَمَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الۡجَنَّةِ، وَمَا اجۡتَمَعَ قَوۡمٌ فِي بَيۡتٍ مِنۡ بُيُوتِ اللهِ يَتۡلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيۡنَهُمۡ؛ إِلَّا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتۡهُمُ الرَّحۡمَةُ، وَحَفَّتۡهُمُ الۡمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنۡ عِنۡدَهُ، وَمَنۡ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمۡ يُسۡرِعۡ بِهِ نَسَبُهُ) [رواه مسلم بهذا اللفظ].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang melepaskan dari orang mukmin satu kesusahan dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa memberi kemudahan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan mudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Dan barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah satu kaum pun yang berkumpul di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca dan saling mempelajari Kitab Allah di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya. Barangsiapa amalnya memperlambatnya, nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim nomor 2699 dengan lafazh ini).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-31, ke-32, dan ke-33

الۡحَدِيثُ الۡحَادِي وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي الۡعَبَّاسِ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلۡتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ: (ازۡهَدۡ فِي الدُّنۡيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازۡهَدۡ فِيمَا عِنۡدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ). [حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة].
Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Seseorang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku amalkan, maka Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku. Beliau bersabda, “Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, maka manusia akan mencintaimu.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 4102 dan selain beliau dengan sanad-sanad yang hasan).

الۡحَدِيثُ الثَّانِي وَالثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ سَعۡدِ بۡنِ سِنَانٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ). [حديث حسن، رواه ابن ماجه والدارقطني وغيرهما مسندا].
وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي الۡمُوَطَّأِ مُرۡسَلًا: عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَسۡقَطَ أَبَا سَعِيدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعۡضُهَا بَعۡضًا.
Dari Abu Sa’id Sa’d bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah (silakan merujuk nomor 2341) dan Ad-Daruquthni dan selain keduanya dengan sanad yang bersambung).
Malik juga meriwayatkannya di dalam Al-Muwaththa` secara mursal: Dari ‘Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi beliau tidak menyebutkan Abu Sa’id. Hadis tersebut memiliki jalan-jalan lain yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ وَالثَّلَاثُونَ

عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَوۡ يُعۡطَى النَّاسُ بِدَعۡوَاهُمۡ، لَادَّعَى رِجَالٌ أَمۡوَالَ قَوۡمٍ وَدِمَاءَهُمۡ، لَكِنِ الۡبَيِّنَةُ عَلَى الۡمُدَّعِي، وَالۡيَمِينُ عَلَى مَنۡ أَنۡكَرَ) [حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا، وبعضه في الصحيحين].
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau semua orang diberi hanya berdasarkan klaim mereka, niscaya banyak orang akan mengklaim harta-harta orang lain dan darah-darah mereka. Akan tetapi seharusnya bagi orang yang mengklaim wajib mendatangkan bukti dan bagi terdakwa yang mengingkari wajib sumpah.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan demikian pula selain beliau, sebagiannya terdapat di dalam dua kitab Shahih).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-28, ke-29, dan ke-30

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي نَجِيحٍ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مَوۡعِظَةً وَجِلَتۡ مِنۡهَا الۡقُلُوبُ، وَذَرَفَتۡ مِنۡهَا الۡعُيُونُ. فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوۡعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوۡصِنَا. قَالَ: (أُوصِيكُمۡ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالسَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنۡ تَأَمَّرَ عَلَيۡكُمۡ عَبۡدٌ، فَإِنَّهُ مَنۡ يَعِشۡ مِنۡكُمۡ فَسَيَرَى اخۡتِلَافًا كَثِيرًا. فَعَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيۡهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ) [رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami suatu nasihat yang membuat hati-hati bergetar dan air mata berlinang. Kami mengatakan: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun seorang budak memimpin kalian. Karena siapa saja di antara kalian yang hidup nanti, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka dari itu, wajib atas kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khalifah yang lurus dan terbimbing. Gigitlah sunah itu dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian dari perkara agama yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud nomor 4607 dan At-Tirmidzi nomor 2676, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخۡبِرۡنِي بِعَمَلٍ يُدۡخِلُنِي الۡجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ. قَالَ: (لَقَدۡ سَأَلۡتَ عَنۡ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنۡ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: تَعۡبُدُ اللهَ لَا تُشۡرِكُ بِهِ شَيۡئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الۡبَيۡتَ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبۡوَابِ الۡخَيۡرِ؟ الصَّوۡمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطۡفِئُ الۡخَطِيئَةَ كَمَا يُطۡفِئُ الۡمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوۡفِ اللَّيۡلِ).. ثُمَّ تَلَا: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ الۡمَضَاجِعِ...﴾ حَتَّى بَلَغَ: ﴿يَعۡمَلُونَ﴾. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِرَأۡسِ الۡأَمۡرِ وَعُمُودِهِ وَذِرۡوَةِ سَنَامِهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (رَأۡسُ الۡأَمۡرِ: الۡإِسۡلَامُ، وَعُمُودُهُ: الصَّلَاةُ، وَذِرۡوَةُ سَنَامِهِ: الۡجِهَادُ).. ثُمَّ قَالَ: (أَلَا أُخۡبِرُكَ بِمَلَاك ذٰلِكَ كُلِّهِ؟). قُلۡتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: (كُفَّ عَلَيۡكَ هَٰذَا). قُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ قَالَ: (ثَكِلَتۡكَ أُمُّكَ، وَهَلۡ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمۡ) – أَوۡ قَالَ: (عَلَى مَنَاخِرِهِمۡ – إِلَّا حَصَائِدُ أَلۡسِنَتِهِمۡ). [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح].
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka. Beliau menjawab, “Sungguh engkau telah menanyakan sesuatu yang agung dan hal itu sungguh mudah bagi siapa saja yang Allah mudahkan, yaitu: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan kesalahan seperti air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat yang artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidur…” sampai “…mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 16-17). Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku beritahu engkau dengan pokok urusan agama, tiang-tiangnya, dan puncak tertingginya?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Pokok urusan agama adalah Islam, tiang-tiangnya adalah salat, dan puncak tertinginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah aku beritahu engkau inti dari semua itu?” Aku katakan: Tentu mau, wahai Rasulullah. Beliau pun memegang lisannya seraya bersabda, “Tahanlah ini olehmu.” Aku katakan: Wahai Nabi Allah, apakah kita diazab dengan sebab apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda, “Ibumu kehilanganmu. Tidaklah yang menyebabkan manusia diseret di atas wajah-wajah mereka di neraka.” Atau beliau bersabda, “Di atas hidung-hidung mereka kecuali akibat ucapan lisan-lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2616, beliau mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّلَاثُونَ

عَنۡ أَبِي ثَعۡلَبَةَ الۡخُشَنِيُّ جُرۡثُومِ بۡنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعۡتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشۡيَاءَ فَلَا تَنۡتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنۡ أَشۡيَاءَ رَحۡمَةً لَكُمۡ غَيۡرَ نِسۡيَانٍ فَلَا تَبۡحَثُوا عَنۡهَا). [حديث حسن رواه الدارقطني وغيره].
Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dan Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya. Dan Dia telah mengharamkan berbagai hal, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia mendiamkan dari berbagai perkara sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian bertanya-tanya tentangnya.” (Hadis hasan diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan selain beliau).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-25, ke-26, dan ke-27

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَيۡضًا: أَنَّ نَاسًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهۡلُ الدُّثُورِ بِالۡأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمۡوَالِهِمۡ. قَالَ: (أَوَ لَيۡسَ قَدۡ جَعَلَ اللهُ لَكُمۡ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ لَكُمۡ بِكُلِّ تَسۡبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكۡبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحۡمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهۡلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمۡرٍ بِالۡمَعۡرُوفِ صَدَقَةً، وَنَهۡيٍ عَنۡ مُنۡكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضۡعِ أَحَدِكُمۡ صَدَقَةً). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأۡتِي أَحَدُنَا شَهۡوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجۡرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيۡهِ وِزۡرٌ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الۡحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجۡرٌ). [رواه مسلم].
Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu pula: Bahwa orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, para hartawan telah pergi membawa pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun, mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka. Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya bagi kalian dengan setiap bacaan tasbih adalah sedekah. Setiap bacaan takbir adalah sedekah. Setiap bacaan tahmid adalah sedekah. Setiap bacaan tahlil adalah sedekah. Memerintahkan kepada kebaikan adalah sedekah. Melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Dan pada istri kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kami menunaikan syahwatnya bisa ada pahalanya? Beliau bersabda, “Apa pendapat kalian kalau ia melampiaskannya kepada yang haram, apakah ada dosa atasnya? Demikian pula, apabila ia menyalurkannya kepada yang halal, dia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim nomor 1006).

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ: تَعۡدِلُ بَيۡنَ اثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحۡمِلُهُ عَلَيۡهَا أَوۡ تَرۡفَعُ لَهُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خَطۡوَةٍ تَمۡشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الۡأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia ada sedekah padanya, pada setiap hari yang matahari terbit padanya: Berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah. Menolong seseorang pada kendaraannya sehingga ia bisa menaikinya atau mengangkatkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju salat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari nomor 2989 dan Muslim nomor 1009).

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنِ النَّوَّاسِ بۡنِ سَمۡعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (الۡبِرُّ حُسۡنُ الۡخُلُقِ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي نَفۡسِكَ وَكَرِهۡتَ أَنۡ يَطَّلِعَ عَلَيۡهِ النَّاسُ). [رواه مسلم].
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kebajikan adalah baiknya perangai. Dosa adalah apa saja yang menyesakkan dadamu dan engkau tidak suka hal itu terlihat manusia.” (HR. Muslim nomor 2553).
وَعَنۡ وَابِصَةَ بۡنِ مَعۡبَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَتَيۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: (جِئۡتَ تَسۡأَلُ عَنِ الۡبِرِّ؟). قُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَ: (اسۡتَفۡتِ قَلۡبَكَ، الۡبِرُّ مَا اطۡمَأَنَّتۡ إِلَيۡهِ النَّفۡسُ وَاطۡمَأَنَّ إِلَيۡهِ الۡقَلۡبُ، وَالۡإِثۡمُ مَا حَاكَ فِي النَّفۡسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدۡرِ، وَإِنۡ أَفۡتَاكَ النَّاسُ وَأَفۡتَوۡكَ). [حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين: أحمد بن حنبل والدارمي، بإسناد حسن].
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku jawab: Iya. Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan adalah apa saja yang jiwa tenang kepadanya, begitu pula hati tenang kepadanya. Adapun dosa adalah apa saja yang menyesakkan jiwa dan meragukan di dada, meskipun orang-orang berfatwa kepadamu dan membenarkannya.” (Hadis hasan yang diriwayatkan di dalam dua kitab Musnad dua Imam: Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan sanad yang hasan).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-22, ke-23, dan ke-24

الۡحَدِيثُ الثَّانِي وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي عَبۡدِ اللهِ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡأَنۡصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: أَرَأَيۡتَ إِذَا صَلَّيۡتُ الۡمَكۡتُوبَاتِ، وَصُمۡتُ رَمَضَانَ، وَأَحۡلَلۡتُ الۡحَلَالَ، وَحَرَّمۡتُ الۡحَرَامَ، وَلَمۡ أَزِدۡ عَلَى ذٰلِكَ شَيۡئًا؛ أَأَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ). [رواه مسلم].
Dari Abu ‘Abdullah Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apa pendapat Anda, apabila aku telah salat yang wajib, puasa Ramadan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah apapun melebihi hal itu; Apakah aku masuk surga? Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Muslim nomor 15).

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي مَالِكٍ الۡحَارِثِ بۡنِ عَاصِمٍ الۡأَشۡعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الطَّهُورُ شَطۡرُ الۡإِيمَانِ، وَالۡحَمۡدُ لِلهِ تَمۡلَأُ الۡمِيزَانَ، وَسُبۡحَانَ اللهِ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ تَمۡلَآنِ – أَوۡ: تَمۡلَأُ – مَا بَيۡنَ السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرۡهَانٌ، وَالصَّبۡرُ ضِيَاءٌ، وَالۡقُرۡآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوۡ عَلَيۡكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغۡدُو، فَبَائِعٌ نَفۡسَهُ فَمُعۡتِقُهَا أَوۡ مُوبِقُهَا). [رواه مسلم].
Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersuci adalah separuh keimanan, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah memenuhi antara langit dengan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Alquran adalah dalil yang bisa mendukungmu atau bisa menghujatmu. Setiap manusia keluar di pagi hari, ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya atau membinasakannya.” (HR. Muslim nomor 223).

الۡحَدِيثُ الرَّابِعُ وَالۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ الۡغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِيمَا يَرۡوِيهِ عَنۡ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: (يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمۡتُ الظُّلۡمَ عَلَى نَفۡسِي، وَجَعَلۡتُهُ بَيۡنَكُمۡ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمۡ ضَالٌّ إِلَّا مَنۡ هَدَيۡتُهُ فَاسۡتَهۡدُونِي أَهۡدِكُمۡ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمۡ جَائِعٌ إِلَّا مَنۡ أَطۡعَمۡتُهُ، فَاسۡتَطۡعِمُونِي أُطۡعِمۡكُمۡ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمۡ عَارٍ إِلَّا مَنۡ كَسَوۡتُهُ، فَاسۡتَكۡسُونِي أَكۡسُكُمۡ. يَا عِبَادِي، إِنَّكُمۡ تُخۡطِئُونَ بِاللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغۡفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسۡتَغۡفِرُونِي أَغۡفِرۡ لَكُمۡ. يَا عِبَادِي، إِنَّكُمۡ لَنۡ تَبۡلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنۡ تَبۡلُغُوا نَفۡعِي فَتَنۡفَعُونِي. يَا عِبَادِي، لَوۡ أَنَّ أَوَّلَكُمۡ وَآخِرَكُمۡ وَإِنۡسَكُمۡ وَجِنَّكُمۡ كَانُوا عَلَى أَتۡقَى قَلۡبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنۡكُمۡ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلۡكِي شَيۡئًا. يَا عِبَادِي لَوۡ أَنَّ أَوَّلَكُمۡ وَآخِرَكُمۡ وَإِنۡسَكُمۡ وَجِنَّكُمۡ كَانُوا عَلَى أَفۡجَرِ قَلۡبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنۡكُمۡ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنۡ مُلۡكِي شَيۡئًا. يَا عِبَادِي، لَوۡ أَنَّ أَوَّلَكُمۡ وَآخِرَكُمۡ وَإِنۡسَكُمۡ وَجِنَّكُمۡ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلُونِي، فَأَعۡطَيۡتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسۡأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنۡدِي إِلَّا كَمَا يَنۡقُصُ الۡمِخۡيَطُ إِذَا أُدۡخِلَ الۡبَحۡرَ. يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعۡمَالُكُمۡ أُحۡصِيهَا لَكُمۡ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمۡ إِيَّاهَا، فَمَنۡ وَجَدَ خَيۡرًا فَلۡيَحۡمَدِ اللهَ، وَمَنۡ وَجَدَ غَيۡرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفۡسَهُ). [رواه مسلم].
Dari Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya tabaraka wa ta’ala, bahwa Dia berkata, “Wahai para hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman bagi diriku dan Aku menjadikannya diharamkan antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai para hambaKu, kalian semuanya orang yang tersesat kecuali siapa saja yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku tunjuki kalian. Wahai para hambaKu, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa saja yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku beri makan kalian. Wahai para hambaKu, kalian semuanya telanjang kecuali siapa saja yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku beri pakaian kepada kalian. Wahai para hambaKu, sesungguhnya kalian senantiasa melakukan kesalahan di malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepadaKu niscaya Aku ampuni kalian. Wahai para hambaKu, sesungguhnya kalian tidak dapat memberikan mudarat kepadaKu sehingga memudaratkanKu dan kalian tidak dapat memberi manfaat kepadaKu sehingga memberiKu manfaat. Wahai para hambaKu, sekiranya kalian dari yang awal sampai yang akhir, baik manusia maupun jinnya, hati mereka berada pada tingkat hati yang paling bertakwa di antara kalian, tidaklah itu menambah sedikitpun kepada kekuasaanKu. Wahai para hambaKu, seandainya kalian dari yang pertama sampai terakhir, baik manusia dan jinnya, hati mereka berada pada tingkat hati yang paling jahat di antara kalian, tidaklah hal itu mengurangi kekuasaanKu sedikitpun. Wahai para hambaKu, seandainya kalian dari yang pertama sampai yang terakhir, baik manusia maupun jinnya, mereka berdiri di satu dataran lalu memintaKu, kemudian Aku berikan setiap mereka permintaannya, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada di sisiKu kecuali seperti berkurangnya lautan apabila dicelupi jarum. Wahai para hambaKu, itu hanyalah amalan-amalan kalian di dunia yang Aku hitung untuk kalian kemudian Aku membalasnya untuk kalian. Sehingga, siapa saja yang mendapatkan kebaikan, maka pujilah Allah. Dan siapa saja yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia sekali-kali mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim nomor 2577).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-19, ke-20, dan ke-21

الۡحَدِيثُ التَّاسِعَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي الۡعَبَّاسِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: كُنۡتُ خَلۡفَ النَّبِيِّ ﷺ يَوۡمًا، فَقَالَ: (يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احۡفَظِ اللهَ يَحۡفَظۡكَ، احۡفَظِ اللهَ تَجِدۡهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلۡتَ فَاسۡأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسۡتَعَنۡتَ فَاسۡتَعِنۡ بِاللهِ، وَاعۡلَمۡ أَنَّ الۡأُمَّةَ لَوِ اجۡتَمَعَتۡ عَلَى أَنۡ يَنۡفَعُوكَ بِشَيۡءٍ لَمۡ يَنۡفَعُوكَ إِلَّا بِشَيۡءٍ قَدۡ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجۡتَمَعُوا عَلَى أَنۡ يَضُرُّوكَ بِشَيۡءٍ لَمۡ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيۡءٍ قَدۡ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيۡكَ، رُفِعَتِ الۡأَقۡلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ). [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح]. وَفِي رِوَايَةِ غَيۡرِ التِّرۡمِذِيِّ: (احۡفَظِ اللهَ تَجِدۡهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفۡ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعۡرِفۡكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعۡلَمۡ أَنَّ مَا أَخۡطَأَكَ لَمۡ يَكُنۡ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمۡ يَكُنۡ لِيُخۡطِئَكَ، وَاعۡلَمۡ أَنَّ النَّصۡرَ مَعَ الصَّبۡرِ، وَأَنَّ الۡفَرَجَ مَعَ الۡكَرۡبِ، وَأَنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا).
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Pernah suatu hari, aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa semua umat ini sekiranya berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak dapat memberimu manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan bila mereka bersatu untuk memberikan suatu mudarat, niscaya mereka tidak dapat memudaratkanmu, kecuali yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2516, beliau mengatakan: Hadis hasan sahih). Di dalam riwayat selain At-Tirmidzi, “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di depanmu. Kenalilah Allah di saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di saat susah. Ketahuilah, bahwa apa saja yang semestinya luput darimu, tidak akan menimpamu. Dan apa saja yang semestinya menimpamu, tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” 

الۡحَدِيثُ الۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي مَسۡعُودٍ عُقۡبَةَ بنِ عَمۡرٍو الۡأَنۡصَارِيِّ الۡبَدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ مِمَّا أَدۡرَكَ النَّاسُ مِنۡ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الۡأُولَى: إِذَا لَمۡ تَسۡتَحِ فَاصۡنَعۡ مَا شِئۡتَ). [رواه البخاري].
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk dari ucapan kenabian terdahulu yang manusia masih mengenalnya adalah: Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Al-Bukhari nomor 3483).

الۡحَدِيثُ الۡحَادِي وَ الۡعِشۡرُونَ

عَنۡ أَبِي عَمۡرٍو وَقِيلَ: أَبِي عَمۡرَةَ سُفۡيَانَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلۡ لِي فِي الۡإِسۡلَامِ قَوۡلًا لَا أَسۡأَلُ عَنۡهُ أَحَدًا غَيۡرَكَ. قَالَ: (قُلۡ: آمَنۡتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسۡتَقِمۡ). [رواه مسلم].
Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan: Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, ucapkanlah kepadaku suatu perkataan di dalam Islam yang tidak aku tanyakan lagi kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Ucapkanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu istikamahlah.” (HR. Muslim nomor 38).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-16, ke-17, dan ke-18

الۡحَدِيثُ السَّادِسَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوۡصِنِي. قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: (لَا تَغۡضَبۡ). [رواه البخاري].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang itu mengulang berkali-kali dan Nabi tetap bersabda, “Janganlah engkau marah.” (HR. Al-Bukhari nomor 6116).

الۡحَدِيثُ السَّابِعَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي يَعۡلَى شَدَّادِ بۡنِ أَوۡسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ اللهَ كَتَبَ الۡإِحۡسَانَ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ، فَإِذَا قَتَلۡتُمۡ فَأَحۡسِنُوا الۡقِتۡلَةَ، وَإِذَا ذَبَحۡتُمۡ فَأَحۡسِنُوا الذِّبۡحَةَ، وَلۡيُحِدَّ أَحَدُكُمۡ شَفۡرَتَهُ، وَلۡيُرِحۡ ذَبِيحَتَهُ). [رواه مسلم].
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal. Apabila kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan menyamankan sembelihannya.” (HR. Muslim nomor 1955).

الۡحَدِيثُ الثَّامِنَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي ذَرٍّ جُنۡدُبِ بۡنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ مُعَاذِ بۡنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (اتَّقِ اللهَ حَيۡثُمَا كُنۡتَ، وَأَتۡبِعِ السَّيِّئَةَ الۡحَسَنَةَ تَمۡحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بۡخُلُقٍ حَسَنٍ) [رواه الترمذي وقال: حديث حسن. وفي بعض النسخ: حسن صحيح].
Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya kebaikan akan menghapus kejelekan, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi nomor 1987 dan beliau berkata: Hadis hasan. Dalam sebagian naskah: Hasan sahih).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-13, ke-14, dan ke-15

الۡحَدِيثُ الثَّالِثَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي حَمۡزَةَ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ خَادِمِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Salah seorang kalian tidak beriman sampai ia mencintai untuk saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Al-Bukhari nomor 13 dan Muslim nomor 45).

الۡحَدِيثُ الرَّابِعَ عَشَرَ

عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَحِلُّ دَمُ امۡرِئٍ مُسۡلِمٍ إِلَّا بِإِحۡدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفۡسُ بِالنَّفۡسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الۡمُفَارِقُ لِلۡجَمَاعَةِ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Darah seorang muslim tidak halal kecuali karena salah satu dari tiga sebab: orang yang sudah menikah lalu berzina, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya berpisah dari jemaah kaum muslimin.” (HR. Al-Bukhari nomor 6878 dan Muslim nomor 1676).

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tetangganya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya.” (HR. Al-Bukhari nomor 6018 dan Muslim nomor 47).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-10, ke-11, dan ke-12

الۡحَدِيثُ الۡعَاشِرُ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقۡبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الۡمُؤۡمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الۡمُرۡسَلِينَ، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَٱعۡمَلُوا۟ صَـٰلِحًا ۖ﴾ [المؤمنون: ٥١]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡ﴾ [البقرة: ١٧٢]. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشۡعَثَ أَغۡبَرَ، يَمُدُّ يَدَيۡهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبُّ، يَا رَبُّ، وَمَطۡعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشۡرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلۡبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالۡحَرَامِ، فَأَنَّى يُسۡتَجَابُ لَهُ؟!). [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta'ala baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul. Allah ta'ala berfirman: Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik dan kerjakanlah amal saleh. (QS. Al-Mu`minun: 51). Dan Allah ta'ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian. (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang dalam perjalanan yang panjang, kusut lagi berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi asupan gizi yang haram. Lalu bagaimana doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim nomor 1015).

الۡحَدِيثُ الۡحَادِيَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي مُحَمَّدٍ الۡحَسَنِ بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ أَبِي طَالِبٍ سِبۡطِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَرَيۡحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: حَفِظۡتُ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ: (دَعۡ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ). [رواه الترمذي والنسائي، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح].
Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin 'Ali bin Abu Thalib keponakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kesayangan beliau radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: Aku hafal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tinggalkan apa saja yang meragukanmu kepada apa saja yang tidak meragukanmu.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2518, An-Nasa`i nomor 5711. At-Tirmidzi mengatakan: hadis hasan sahih).

الۡحَدِيثُ الثَّانِيَ عَشَرَ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ تَرۡكُهُ مَا لَا يَعۡنِيهِ). [حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk bagusnya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (Hadis hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 2317 dan selain beliau).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-7, ke-8, dan ke-9

الۡحَدِيثُ السَّابِعُ

عَنۡ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمِ بۡنِ أَوۡسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (الدِّينُ النَّصِيحَةُ). قُلۡنَا: لِمَنۡ؟ قَالَ: (لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الۡمُسۡلِمِينَ وَعَامَّتِهِمۡ). [رواه مسلم].
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallahu 'anhu: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat.” Kami bertanya: Untuk siapa? Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitabNya, rasulNya, pemimpin kaum muslimin, dan orang awamnya.” (HR. Muslim nomor 55).

الۡحَدِيثُ الثَّامِنُ

عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (أُمِرۡتُ أَنۡ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مَحُمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤۡتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذٰلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمۡ وَأَمۡوَالَهُمۡ إِلَّا بِحَقِّ الۡإِسۡلَامِ، وَحِسَابُهُمۡ عَلَى اللهِ تَعَالَى) [رواه البخاري ومسلم].
Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma: Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, menegakkan salat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah mengerjakannya, maka terjaga darah-darah dan harta-harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam. Adapun perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ta'ala.” (HR. Al-Bukhari nomor 25 dan Muslim nomor 22).

الۡحَدِيثُ التَّاسِعُ

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ صَخۡرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (مَا نَهَيۡتُكُمۡ عَنۡهُ فَاجۡتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرۡتُكُمۡ بِهِ فَأۡتُوا مِنۡهُ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ، فَإِنَّمَا أَهۡلَكَ الَّذِينَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ كَثۡرَةُ مَسَائِلِهِمۡ وَاخۡتِلَافُهُمۡ عَلَى أَنۡبِيَائِهِمۡ) [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu Hurairah 'Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apa saja yang aku larang kalian darinya, maka jauhilah ia. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian, maka kerjakanlah darinya yang kalian mampui. Karena yang mencelakakan orang-orang sebelum kalian hanyalah karena banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Al-Bukhari nomor 7288 dan Muslim nomor 1337).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-4, ke-5, dan ke-6

الۡحَدِيثُ الرَّابِعُ

عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ الصَّادِقُ الۡمَصۡدُوقُ: (إِنَّ أَحَدَكُمۡ يُجۡمَعُ خَلۡقُهُ فِي بَطۡنِ أُمِّهِ أَرۡبَعِينَ يَوۡمًا نُطۡفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضۡغَةً مِثۡلَ ذٰلِكَ، ثُمَّ يُرۡسَلُ إِلَيۡهِ الۡمَلَكُ فَيَنۡفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤۡمَرُ بِأَرۡبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتۡبِ رِزۡقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوۡ سَعِيدٌ. فَوَاللّٰهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ غَيۡرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمۡ لَيَعۡمَلُ بِعَمَلِ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسۡبِقُ عَلَيۡهِ الۡكِتَابُ، فَيَعۡمَلُ بِعَمَلِ أَهۡلِ النَّارِ فَيَدۡخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمۡ لَيَعۡمَلُ بِعَمَلِ أَهۡلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسۡبِقُ عَلَيۡهِ الۡكِتَابُ، فَيَعۡمَلُ بِعَمَلِ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ فَيَدۡخُلُهَا). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur lagi dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula. Kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintah dengan empat perkataan: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selainNya, sesungguhnya salah seorang kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk surga, sampai-sampai jarak antara dia dengan surga tinggal satu hasta lalu catatan takdir mendahuluinya kemudian ia beramal dengan amalan penduduk neraka sampai akhirnya dia memasukinya. Dan sungguh salah seorang kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk neraka sampai-sampai jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta, lalu catatan takdir mendahuluinya kemudian ia beramal dengan amalan penduduk surga sampai akhirnya dia memasukinya.” (HR. Al-Bukhari nomor 3208 dan Muslim nomor 2643).

الۡحَدِيثُ الۡخَامِسُ

عَنۡ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ أُمِّ عَبۡدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ أَحۡدَثَ فِي أَمۡرِنَا هَٰذَا مَا لَيۡسَ مِنۡهُ فَهُوَ رَدٌّ). [رواه البخاري ومسلم]. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسۡلِمٍ: (مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).
Dari Ummul Mukminin Ummu 'Abdullah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mengada-adakan dalam agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari nomor 2697 dan Muslim nomor 1718). Dalam satu riwayat Imam Muslim, “Siapa saja yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.”

الۡحَدِيثُ السَّادِسُ

عَنۡ أَبِي عَبۡدِ اللهِ النُّعۡمَانِ بۡنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّ الۡحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الۡحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيۡنَهُمَا أُمُورٌ مُشۡتَبِهَاتٌ لَا يَعۡلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسۡتَبۡرَأَ لِدِينِهِ وَعِرۡضِهِ، وَمَنۡ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الۡحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرۡعَى حَوۡلَ الۡحِمَى يُوشِكُ أَنۡ يَرۡتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الۡجَسَدِ مُضۡغَةً، إِذَا صَلَحَتۡ صَلَحَ الۡجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتۡ فَسَدَ الۡجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الۡقَلۡبُ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu 'Abdullah An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Sehingga, siapa saja yang menjauhi syubhat, maka sungguh ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan siapa saja yang jatuh dalam hal syubhat, ia akan jatuh dalam hal yang haram. Seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan nanti ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, sesungguhnya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkanNya. Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging, apabila ia baik, baik pula seluruh tubuhnya. Apabila ia rusak, rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari nomor 52 dan Muslim nomor 1599).

Al-Arba'un An-Nawawiyyah - Hadits ke-1, ke-2, dan ke-3

الۡحَدِيثُ الۡأَوَّلُ

عَنۡ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ أَبِي حَفۡصٍ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِنَّمَا الۡأَعۡمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امۡرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ لِدُنۡيَا يُصِيبُهَا أَوِ امۡرَأَةٍ يَنۡكِحُهَا، فَهِجۡرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيۡهِ).
رَوَاهُ إِمَامَا الۡمُحَدِّثِينَ: أَبُو عَبۡدِ اللهِ مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ الۡمُغِيرَةِ بۡنِ بَرۡدِزۡبَه الۡبُخَارِيُّ، وَأَبُو الۡحُسَيۡنِ مُسۡلِمُ بۡنُ الۡحَجَّاجِ بۡنِ مُسۡلِمٍ الۡقُشَيۡرِيُّ النَّيۡسَابُورِيُّ فِي صَحِيحَيۡهِمَا اللَّذَيۡنِ هُمَا أَصَحُّ الۡكُتُبِ الۡمُصَنَّفَةِ.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Amal-amal itu hanyalah sesuai dengan niatnya dan setiap orang akan mendapat apa yang ia niatkan. Sehingga, siapa saja yang hijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Dan siapa saja yang hijrahnya untuk dunia yang ia peroleh atau seorang wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada tujuan hijrahnya.
Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits: Abu 'Abdullah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari (nomor 1) dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (nomor 1907) di dalam kedua kitab Shahih mereka yang merupakan kitab susunan paling sahih.

الۡحَدِيثُ الثَّانِي

عَنۡ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَيۡضًا قَالَ: بَيۡنَمَا نَحۡنُ جُلُوسٌ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوۡمٍ إِذۡ طَلَعَ عَلَيۡنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعۡرِ، لَا يُرَى عَلَيۡهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعۡرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسۡنَدَ رُكۡبَتَيۡهِ إِلَى رُكۡبَتَيۡهِ وَوَضَعَ كَفَّيۡهِ عَلَى فَخِذَيۡهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِسۡلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الۡإِسۡلَامُ أَنۡ تَشۡهَدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الۡبَيۡتَ إِنِ اسۡتَطَعۡتَ إِلَيۡهِ سَبِيلًا) قَالَ: صَدَقۡتَ، فَعَجِبۡنَا لَهُ يَسۡأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَأَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِيمَانِ. قَالَ: (أَنۡ تُؤۡمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، وَتُؤۡمِنَ بِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ) قَالَ: صَدَقۡتَ. قَالَ: فَأَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِحۡسَانِ. قَالَ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ) قَالَ: فَأَخۡبِرۡنِي عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ: (مَا الۡمَسۡؤُولُ عَنۡهَا بِأَعۡلَمَ مِنَ السَّائِلِ) قَالَ: فَأَخۡبِرۡنِي عَنۡ أَمَارَتِهَا. قَالَ: (أَنۡ تَلِدَ الۡأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنۡ تَرَى الۡحُفَاةَ الۡعُرَاةَ الۡعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الۡبُنۡيَانِ) ثُمَّ انۡطَلَقَ فَلَبِثۡتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ: (يَا عُمَرُ، أَتَدۡرِي مَنِ السَّائِلُ؟) قُلۡتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعۡلَمُ. قَالَ: (فَإِنَّهُ جِبۡرِيلُ أَتَاكُمۡ يُعَلِّمُكُمۡ دِينَكُمۡ). [رواه مسلم].
Dari 'Umar radhiyallahu 'anhu pula, beliau mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada kami. Dia itu sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya. Tidak tampak padanya tanda-tanda safar akan tetapi tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Sampai akhirnya dia duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia tempelkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau dan ia letakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau. Lantas ia mengatakan: Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan haji ke Kakbah apabila engkau mampu menempuh jalan ke sana.” Orang itu berkata: Engkau benar. Kami merasa aneh karena orang itu yang bertanya, dia sendiri yang membenarkan. Orang itu berkata lagi: Kabarkan kepadaku tentang iman. Beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang itu berkata: Engkau benar. Lalu ia berkata lagi: Kabarkan kepadaku tentang ihsan. Nabi bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Orang itu berkata: Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat. Nabi bersabda, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu berkata: Kabarkan kepadaku tentang tandanya. Nabi bersabda, “Ketika seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan ketika engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, fakir, dan menggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi. Setelah berlalunya waktu, Nabi bersabda, “Wahai 'Umar, apakah engkau tahu siapa orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Nabi bersabda, “Dia itu Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari agama kepada kalian.” (HR. Muslim nomor 8).

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ

عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (بُنِيَ الۡإِسۡلَامُ عَلَى خَمۡسٍ: شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الۡبَيۡتِ، وَصَوۡمِ رَمَضَانَ). [رواه البخاري ومسلم].
Dari Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji ke Kakbah, dan puasa Ramadan.” (HR. Al-Bukhari nomor 8 dan Muslim nomor 16).