Cari Blog Ini

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Shahabat Nabi yang Shalih


Bila kita menyebut sosok sahabat ini, maka seakan kita berbicara tentang seorang shalih yang tiada tandingnya. Beliaulah seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal memiliki banyak kelebihan baik di kalangan pembesar-pembesar shahabat, atau pun shahabat yang setara dan seusia dengan beliau. Beliaulah Abdullah bin Umar bin Al Khaththab bin Nufail Al Qurasy Al ‘Adawi. Adik ipar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak khalifah Ar Rasyidin kedua. Berkuniah Abu Abdirrahman, beliau satu ayah dan ibu dengan Hafshah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya adalah Zainab bintu Mazh’un bin Habib Al Jamhiy. Dilahirkan 3 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, lalu masuk Islam bersama ayahnya Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu sebelum balighnya. Beliau pun ikut serta berhijrah ke negeri Madinah sebagaimana para shahabat yang telah dewasa. Negeri yang jaraknya kurang lebih 500 km dilaluinya walau harus melintasi padang pasir yang tak bersahabat. Saat itu beliau berumur 10 atau 11 tahun. Demikianlah Abdullah kecil dalam usahanya melaksanakan tuntutan syariat.

Walau usianya masih tergolong muda, namun semangat beliau radhiyallahu ‘anhu tidaklah kalah dibanding shahabat Nabi lainnya. Lihatlah anak kecil yang belum genap berumur 13 tahun, begitu bersemangat menawarkan diri mengikuti perang Badar demikian pula perang Uhud. Saat itu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menganggapnya kecil untuk menjadi peserta perang, sehingga belum diizinkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baru setelah umur 15 tahun beliau diizinkan mengikuti perang Khandaq. Barangkali tidak ada di antara kita seorang yang benar-benar mempersembahkan dirinya untuk kemuliaan Islam di usia semuda ini. Beliau juga ikut dalam kejadian Fathu Makkah, saat itu beliau berusia 20 tahun. Sungguh umur-umur yang berkah dan penuh dengan amal mulia. Beliau radhiyallahu ‘anhu juga mengikuti perang Mu’tah bersama Jafar bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Setelah kematian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tetap mengikuti peperangan, seperti dalam perang Yarmuk, dan penaklukan-penaklukan di daerah Mesir.

Seorang shahabat yang wara’ dengan dunia dan memiliki ilmu agama yang luas. Walaupun begitu luas ilmu beliau, namun beliau sangat berhati-hati dalam berfatwa dan memutuskan hukum. Selama sekitar 60 tahun menjadi ahli fatwa untuk kaum muslimin. Beliau termasuk shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu beliau juga meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati riwayat Abu Bakr, Umar (ayahnya), Utsman, Abu Dzar, Aisyah dan selain mereka. Tercatat sebanyak 2.630 hadits beliau riwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau adalah shahabat nomor dua yang terbanyak meriwayatkan hadits Nabi setelah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Wajar bila beliau mendapatkan begitu banyak riwayat hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab beliau adalah seorang yang senantiasa mengikuti ke mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi. Ibunda kaum muslimin, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah memuji beliau tentang hal ini, “Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar.”

Apabila beliau tidak sempat menghadiri majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau senantiasa bertanya kepada yang hadir tentang apa yang didengar atau yang dilihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Senantiasa melakukan shalat di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, dan senantiasa mengarahkan tunggangannya di jalan yang dilalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian Abdullah dalam merealisasikan sabda dan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Generasi yang mengambil ilmu darinya dari kalangan sahabat adalah: Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Abbas dan selain keduanya. Dari kalangan tabiin seperti: Said bin Musayyib, Aslam maula Umar, Alqamah, Abu Abdirrahman An Nahdi, Masruq, Jubair bin Nufair, Abdurrahman bin Abi Laila, Abdullah bin Dinar, Nafi’, Khalid bin Aslam maula Umar, dan banyak lainnya.


KEUTAMAAN BELIAU


Diriwayatkan dalam kitab Shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentangnya, “Sebaik-baik orang adalah Abdullah, andai ia mau melakukan shalat malam.” Maka setelah beliau mendengar hal tersebut beliau pun senantiasa menghidupkan malamnya. Hal senada juga dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hafshah tentangnya, “Sesungguhnya saudaramu adalah seorang yang shalih seandainya ia mau menegakkan shalat lail.” Maka beliau pun tidak pernah meninggalkannya setelah waktu tersebut. Ya, beliau pun menjadi seorang yang diakui keshalihannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keutamaan beliau pun diakui oleh para pembesar sahabat.

Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu, seorang ulama shahabat, berkata tentangnya, “Sesungguhnya pemuda Quraisy yang paling bisa menguasai dirinya adalah Abdullah bin Umar.”

Jabir bin Abdillah juga berkata tentangnya, “Tak seorang pun di antara kami yang mendapatkan dunia kecuali ada kecondongan kepadanya kecuali Abdullah bin Umar.” Demikian sikap wara’ yang dimiliki Ibnu Umar. Hal senada juga dikatakan oleh Hamzah, anak beliau, “Seandainya ada banyak makanan berada di sekeliling Ibnu Umar, maka tidaklah (makanan itu) akan mengenyangkannya.”

Beliau juga seorang yang sangat berhati-hati dalam menjaga lisannya, memenjarakan lisan dari ucapan-ucapan yang tidak diridhai. Beliau pernah marah dan hendak mengucapkan laknat kepada seorang pembantunya, beliau pun mengatakan “Allahumma il’a… (i’lan: laknatlah),” beliau tidak melanjutkan ucapannya, dan mengatakan, “Ini adalah ucapan yang aku tidak suka untuk mengucapkannya.

Zaid bin Aslam juga mengatakan, “Ada seorang yang mencela Ibnu Umar, dan beliau hanya diam, tatkala beliau sampai di pintu rumah, beliau berkata, “Sesungguhnya aku dan saudaraku bisu, kami tidak mencela manusia.”


IBADAH BELIAU


Abu Salamah bin Abdirrahman mengatakan tentangnya, “Dahulu Umar berada pada zaman yang ada di zaman itu orang yang semisal dengannya. Adapun Ibnu Umar, ia berada di zaman yang tidak memiliki tandingan yang semisal dengannya.” Demikian penilaian generasi setelah beliau (tabi’in, red.). Beliau juga seorang yang cepat merealisasikan perintah Allah yang termaktub dalam ayatNya. Suatu ketika beliau pernah membebaskan budak wanita yang bernama Ramtsa, beliau sangat menyukai budak wanita ini, beliau mengatakan, “Aku mendengar Allah berfirman (yang artinya), ‘Tidaklah kalian sampai kepada kebaikan (yang sempurna) sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.’ [Q.S. Ali Imran: 92].”

Ya, ibadah memang semakin besar nilainya di sisi Allah dengan besarnya pengorbanan yang dipersembahkan.

Beliau sangat sering berhaji baik sebelum zaman-zaman cobaan atau pun setelahnya, sehingga dikatakan bahwa beliau termasuk seorang shahabat yang paling mengetahui tentang hukum manasik haji, beliau tidak pernah meninggalkan haji dan senantiasa berwukuf di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.


MASA WAFATNYA


Imam Malik berkata, “Ibnu Umar mencapai umur delapan puluh tujuh.” Dalam pendapat lain delapan puluh empat. Beliau meninggal pada tahun 72/73 Hijriyah di bulan Dzulhijjah. Tepatnya 3 bulan setelah masa terbunuhnya Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah termasuk shahabat yang meninggal terakhir di kota Makkah.

Tatkala kematian mendatanginya, beliau berkata, “Aku tidak merasa menyesal atas sesuatu yang tidak aku dapatkan di dunia kecuali karena aku tidak ikut serta bersama Ali radhiyallahu ‘anhu dalam memerangi kelompok yang berbuat salah.” Beliau adalah seorang shahabat yang tidak mengikuti peperangan bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di zaman terjadinya peperangan antara kaum muslimin dikarenakan sikap wara’ beliau. Beliau meninggal setelah terkena tikaman pisau beracun di masa Al Hajjaj bin Yusuf. Semoga Allah meridhainya. (Hammam)


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 32 vol.03 1435H-2013M rubrik Figur.