Cari Blog Ini

At-Tuhfatus Saniyyah - Bina`

وَيُقَابِلُ الْإِعْرَابَ الْبِنَاءُ، وَيَتَّضِحُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا تَمَامَ الْإِتِّضَاحِ بِسَبَبِ بَيَانِ الْآخَرِ. وَقَدْ تَرَكَ الْمُؤَلِّفُ بَيَانَ الْبِنَاءِ، وَنَحْنُ نُبَيِّنُهُ لَكَ عَلَى الطَّرِيقَةِ الَّتِي بَيَّنَّا بِهَا الْإِعْرَابَ، فَنَقُولُ:
Kebalikan dari i’rab adalah bina`. Akan jelas setiap salah satu dari keduanya dengan penjelasan yang sempurna dengan sebab penjelasan yang lainnya. Penulis telah meninggalkan penjelasan bina`, sehingga kami akan menjelaskan kepadamu dengan cara seperti kami menjelaskan i’rab. Oleh karena itu, kami katakan:
لِلْبِنَاءِ مَعْنَيَانِ: أَحَدُهُمَا لُغَوِيٌّ، وَالْآخَرُ اصْطِلَاحِيٌّ:
فَأَمَّا مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ وَضْعِ شَيْءٍ عَلَى شَيْءٍ عَلَى جِهَةٍ يُرَادُ بِهَا الثُّبُوتُ وَاللُّزُومُ.
وَأَمَّا مَعْنَاهُ فِي الْإِصْطِلَاحِ فَهُوَ لُزُومُ آخَرِ الْكَلِمَةِ حَالَةً وَاحِدَةً لِغَيْرِ عَامِلٍ وَلَا اعْتِلَالٍ، وَذَلِكَ كَلُزُومِ (كَمْ) وَ (مَنْ) السُّكُونَ، وَكَلُزُومِ (هَؤُلَاءِ) وَ (حَذَامِ) وَ (أَمْسِ) الْكَسْرَ، وَكَلُزُومِ (مُنْذُ) وَ (حَيْثُ) الضَّمَّ، وَكَلُزُومِ (أَيْنَ) وَ (كَيْفَ) الْفَتْحَ.
Bina` memiliki dua makna: secara bahasa dan secara istilah.
Adapun makna bina` secara bahasa adalah ungkapan dari meletakkan sesuatu di atas sesuatu yang lain sedemikian rupa sehingga dapat kokoh dan tetap.
Adapun makna bina` secara istilah adalah tetap dan tidak berubahnya akhir kata pada satu keadaan, tidak disebabkan masuknya ‘amil, tidak pula disebabkan adanya huruf ‘illah pada akhir kata. Seperti tetapnya sukun pada كَمْ dan مَنْ, tetapnya kasrah pada هَؤُلَاءِ, حَذَامِ, dan أَمْسِ, tetapnya dhammah pada مُنْذُ dan حَيْثُ, dan tetapnya fathah pada كَيْفَ.
وَمِنْ هَذَا الْإِيضَاحِ تَعْلَمُ أَنَّ أَلْقَابَ الْبِنَاءِ أَرْبَعَةٌ السُّكُونُ، وَالْكَسْرُ، وَالضَّمُّ، وَالْفَتْحُ.
وَبَعْدَ بَيَانِ كُلِّ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ لَا تَعْسُرُ عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ الْمُعْرَبِ وَالْمَبْنِي، فَإِنَّ الْمُعْرَبَ: مَا تَغَيَّرَ حَالُ آخِرِهِ لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا بِسَبَبِ الْعَوَامِلِ، وَالْمَبْنِي مَا لَزِمَ آخِرُهُ حَالَةً وَاحِدَةً لِغَيْرِ عَامِلٍ وَلَا اعْتِلَالٍ.
Dari penjelasan ini engkau mengetahui bahwa tanda bina` ada empat: sukun, kasrah, dhammah, dan fathah.
Setelah keterangan ini, engkau tidak sulit untuk mengenali mana yang mu’rab (bisa dii’rab) dan yang mabni (tetap). Mu’rab adalah kata yang berubah keadaan akhirnya baik secara lafazh atau tersembunyi dengan sebab ‘amil-’amil. Mabni adalah kata yang tetap akhirnya pada satu keadaan saja, tidak disebabkan masuknya ‘amil dan tidak pula karena adanya huruf ‘illah pada akhir kata.

Kesenangan yang Menipu

الْغِرَّةُ بِاللَّهِ أَنْ يُصِرَّ الْعَبْدُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَيَتَمَنَّى فِي ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ الْمَغْفِرَةَ، وَالْغِرَّةُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَنْ يَغْتَرَّ بِهَا، وَتَشْغَلَهُ عَنِ الْآخِرَةِ، فَيُمَهِّدَ لَهَا، وَيَعْمَلَ لَهَا كَقَوْلِ الْعَبْدِ إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةَ {يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [الفجر: 24] ، وَأَمَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ فَهُوَ مَا يُلْهِيكَ عَنْ طَلَبِ الْآخِرَةِ، فَهُوَ مَتَاعُ الْغُرُورِ، وَمَا لَمْ يُلْهِكَ فَلَيْسَ بِمَتَاعِ الْغُرُورِ، وَلَكِنَّهُ مَتَاعٌ وَبَلَاغٌ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ
Yang dimaksud tertipu terhadap Allah subhanahu wa ta'ala adalah terus menerus dalam maksiat kepadaNya, sementara ia mengangankan ampunanNya. Adapun tertipu terhadap dunia adalah terlena dengannya, lupa dengan akhirat, tidak mempersiapkan bekal, dan tidak beramal menyambutnya. Di akhirat, ia akan meratap sebagaimana ratapan orang yang Allah subhanahu wa ta'ala kisahkan: "Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini." [QS. Al-Fajr: 24]. Kenikmatan dunia yang menipu adalah kenikmatan yang melalaikan dari pencarian negeri akhirat. Itulah kenikmatan palsu. Adapun yang tidak melalaikan, itulah kenikmatan yang hakiki. Itulah kenikmatan sekaligus bekal untuk menyampaikan segala kenikmatan terbaik.
[Sa'id bin Jubair rahimahullah, Az-Zuhd karya Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah].

At-Tuhfatus Saniyyah - I'rab

(بَابُ الْإِعْرَابِ) الْإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيرُ أَوْاخِرِ الْكَلِمِ لِإِخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا.
Bab I’rab
I’rab adalah perubahan akhir kata karena perbedaan ‘amil-’amil yang masuk padanya baik perubahan lafazh atau perubahan yang tidak tampak.
وَأَقُولُ: الْإِعْرَابُ لَهُ مَعْنَيَانِ: أَحَدُهُمَا لُغَوِيٌّ وَالْآخَرُ اصْطِلَاحِيٌّ.
أَمَّا مَعْنَاهُ فِي اللُّغَةِ فَهُوَ: الْإِظْهَارُ وَالْإِبَانَةُ، تَقُولُ: أَعْرَبْتُ عَمَّا فِي نَفْسِي، إِذَا أَبَنْتَهُ وَأَظْهَرْتَهُ.
وَأَمَّا مَعْنَاهُ فِي الْإِصْطِلَاحِ فَهُوَ مَا ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ بِقَوْلِهِ: (تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ- إلخ).
I’rab mempunyai dua makna: secara bahasa dan secara istilah.
Adapun makna i’rab secara bahasa adalah menampakkan dan menyatakan. Contoh: أَعْرَبْتُ عَمَّا فِي نَفْسِي, jika engkau menampakkan dan menyatakan apa yang di dalam dirimu.
Adapun makna i’rab secara istilah adalah apa yang penulis sebutkan dengan ucapannya: تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ... sampai selesai.
وَالْمَقْصُودُ مِنْ (تَغْيِيرِ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ) تَغْيِيرُ أَحْوَالِ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ، وَلَا يُعْقَلُ أَنْ يُرَادَ تَغْيِيرُ نَفْسِ الْأَوَاخِرِ، فَإِنَّ آخِرَ الْكَلِمَةِ نَفْسَهُ لَا يَتَغَيَّرُ، وَتَغْيِيرُ أَحْوَالِ أَوَاخِرِ الْكَلِمَةِ عِبَارَةٌ عَنْ تَحَوُّلِهَا مِنَ الرَّفْعِ إِلَى النَّصْبِ أَوِ الْجَرِّ: حَقِيقَةً أَوْ حُكْمًا، وَيَكُونُ هَذَا التَّحَوُّلُ بِسَبَبِ تَغْيِيرِ الْعَوَامِلِ: مِنْ عَامِلٍ يَقْتَضِي الرَّفْعَ عَلَى الْفَاعِلِيَّةِ أَوْ نَحْوِهَا، إِلَى آخَرَ يَقْتَضِي النَّصْبَ عَلَى الْمَفْعُولِيَّةِ أَوْ نَحْوِهَا، وَهَلُمَّ جُرًّا.
Maksud dari perubahan akhir kata adalah perubahan keadaan-keadaan akhir kata. Dan tidak dipahami yang diinginkan adalah perubahan huruf akhir, karena nyatanya huruf akhir dari kata itu tidak berubah. Perubahan keadaan akhir kata adalah ungkapan dari perubahannya dari rafa’ ke nashab atau jar, baik secara hakikat atau secara hukum. Perubahan ini terjadi karena perbedaan ‘amil-’amil. Seperti ‘amil yang menuntut rafa’ dikarenakan fa’il atau semacamnya, ke keadaan lain yang menuntut nashab dikarenakan maf’ul atau semacamnya, dan begitu seterusnya.
مَثَلًا إِذَا قُلْتَ: (حَضَرَ مُحَمَّدٌ) فَمُحَمَّدٌ: مَرْفُوعٌ؛ لِأَنَّهُ مَعْمُولٌ لِعَامِلٍ يَقْتَضِي الرَّفْعَ عَلَى الْفَاعِلِيَّةِ، وَهَذَا الْعَامِلُ هُوَ (حَضَرَ)، فَإِنْ قُلْتَ: (رَأَيْتُ مُحَمَّدًا) تَغَيَّرَ حَالُ آخِرِ (مُحَمَّد) إِلَى النَّصْبِ؛ لِتَغْيِيرِ الْعَامِلِ بِعَامِلٍ آخَرَ يَقْتَضِي النَّصْبَ وَهُوَ (رَأَيْتُ)، فَإِذَا قُلْتَ (حَظَيْتُ بِمُحَمَّدٍ) تَغَيَّرَ حَالُ آخِرِهِ إِلَى الْجَرِّ؛ لِتَغْيِيرِ الْعَامِلِ بِعَامِلٍ آخَرَ يَقْتَضِي الْجَرَّ وَهُوَ الْبَاءُ.
Misalnya, jika engkau katakan: حَضَرَ مُحَمَّدٌ, maka مُحَمَّدٌ adalah marfu’, karena merupakan kata yang terkena ‘amil yang menuntut rafa’ karena merupakan fa’il. ‘Amil ini adalah حَضَرَ. Jika engkau katakan: رَأَيْتُ مُحَمَّدًا, maka berubah keadaan akhir kata مُحَمَّد menjadi nashab. Karena perbedaan ‘amil dengan ‘amil lain yang menuntut nashab yaitu رَأَيْتُ. Jika engkau katakan حَظَيْتُ بِمُحَمَّدٍ, maka berubah keadaan akhir kata itu menjadi jar. Karena perubahan ‘amil dengan ‘amil lain yang menuntut jar yaitu huruf ba`.
وَإِذَا تَأَمَّلْتَ فِي هَذِهِ الْأَمْثِلَةِ ظَهَرَ لَكَ أَنَّ آخِرَ الْكَلِمَةِ - وَهُوَ الدَّالُ مِنْ مُحَمَّدٍ - لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَأَنَّ الَّذِي تَغَيَّرَ هُوَ أَحْوَالُ آخِرِهَا: فَإِنَّكَ تَرَاهُ مَرْفُوعًا فِي الْمِثَالِ الْأَوَّلِ، وَمَنْصُوبًا فِي الْمِثَالِ الثَّانِي، وَمَجْرُورًا فِي الْمِثَالِ الثَّالِثِ.
وَهَذَا التَّغْيِيرُ مِنْ حَالَةِ الرَّفْعِ إِلَى حَالَةِ النَّصْبِ إِلَى حَالَةِ الْجَرِّ هُوَ الْإِعْرَابُ عِنْدَ الْمُؤَلِّفِ وَمَنْ ذَهَبَ مَذْهَبَهُ، وَهَذِهِ الْحَرَكَاتُ الثَّلَاثُ - الَّتِي هِيَ الرَّفْعُ وَالنَّصْبُ وَالْجَرُّ - هِيَ عَلَامَةٌ وَأَمَارَةٌ عَلَى الْإِعْرَابِ.
Jika engkau perhatikan pada contoh-contoh ini, akan tampak padamu bahwa akhir kata - yaitu huruf dal pada مُحَمَّدٍ - tidaklah berubah. Dan bahwa yang berubah adalah keadaan akhir kata itu. Maka engkau melihat bahwa keadaan akhir kata itu marfu’ pada contoh pertama, manshub pada contoh kedua, dan majrur pada contoh ketiga. Dan perubahan dari keadaan rafa’ menjadi nashab menjadi jar itulah yang dinamakan i’rab menurut penulis dan yang semadzhab dengan beliau. Dan tiga harakat ini - yaitu rafa’, nashab, dan jar - adalah tanda i’rab.
وَمِثْلُ الْإِسْمِ فِي ذَلِكَ الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ، فَلَوْ قُلْتَ: (يُسَافِرُ إِبْرَاهِيمُ) فَيُسَافِرُ: فِعْلٌ مُضَارِعٌ مَرْفُوعٌ؛ لِتَجَرُّدِهِ مِنۡ عَامِلٍ يَقۡتَضِي نَصۡبَهُ أَوۡ عَامِلٍ يَقۡتَضِي جَزۡمَهُ، فَإِذَا قُلۡتَ: (لَنۡ يُسَافِرَ إِبۡرَاهِيمُ) تَغَيَّرَ حَالَ (يُسَافِرُ) مِنَ الرَّفۡعِ إِلَى النَّصۡبِ، لِتَغَيُّرِ الۡعَامِلِ بِعَامِلٍ آخَرَ يَقۡتَضِي نَصۡبَهُ، وَهُوَ (لَنۡ)، فَإِذَا قُلۡتَ: (لَمۡ يُسَافِرۡ إِبۡرَاهِيمُ) تَغَيَّرَ حَالَ (يُسَافِرُ) مِنَ الرَّفۡعِ أَوِ النَّصۡبِ إِلَى الۡجَزۡمِ، لِتَغَيُّرِ الۡعَامِلِ بِعَامِلٍ آخَرَ يَقۡتَضِي جَزۡمَهُ، وَهُوَ (لَمۡ).
Adapun contoh isim pada contoh yang terdahulu. Adapun fi’il mudhari’, jika engkau katakan: يُسَافِرُ إِبْرَاهِيمُ, maka يُسَافِرُ adalah fi’il mudhari’ marfu’ karena tidak ada ‘amil yang menyebabkan nashab atau ‘amil yang menyebabkan jazm. Jika engkau katakan: لَنۡ يُسَافِرَ إِبۡرَاهِيمُ, maka berubahlah keadaan يُسَافِرُ dari rafa’ menjadi nashab. Karena perubahan ‘amil dengan ‘amil yang menyebabkan nashab, yaitu لَنۡ. Jika engkau katakan: لَمۡ يُسَافِرۡ إِبۡرَاهِيمُ, berubahlah keadaan يُسَافِرُ dari rafa’ atau nashab menjadi jazm. Karena perubahan ‘amil dengan ‘amil lain yang menyebabkan jazm, yaitu لَمۡ.
وَاعۡلَمۡ أَنَّ هٰذَا التَّغَيُّرَ يَنۡقَسِمُ إِلَى قِسۡمَيۡنِ: لَفۡظِيٌّ وَتَقۡدِيرِيٌّ.
فَأَمَّا اللَّفۡظِيُّ فَهُوَ: مَا لَا يَمۡنَعُ مِنَ النُّطۡقِ بِهِ مَانِعٌ كَمَا رَأَيۡتَ فِي حَرَكَاتِ الدَّالِ مِنۡ (مُحَمَّدٌ) وَحَرَكَاتِ الرَّاءِ مِنۡ (يُسَافِرُ).
Ketahuilah, bahwa perubahan keadaan akhir kata ini terbagi menjadi dua bagian: perubahan lafazh dan perubahan yang tidak nampak.
Adapun perubahan lafazh adalah yang tidak ada menghalangi untuk diucapkan, sebagaimana yang telah engkau lihat pada harakat huruf dal dari مُحَمَّدٌ dan harakat huruf ra` dari يُسَافِرُ.
وَأَمَّا التَّقۡدِيرِيُّ: فَهُوَ مَا يَمۡنَعُ مِنَ التَّلَفُّظِ بِهِ مَانِعٌ مِنۡ تَعَذُّرٍ، أَوِ اسۡتِثۡقَالٍ، اَوۡ مُنَاسَبَةٍ؛ تَقُولُ: (يَدۡعُو الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي) فَيَدۡعُو: مَرۡفُوعٌ لَتَجَرُّدِهِ مِنَ النَّاصِبِ وَالۡجَازِمِ، وَالۡفَتَى: مَرۡفُوعٌ لِكَوۡنِهِ فَاعِلًا، وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي: مَرۡفُوعَانِ لِأَنَّهُمَا مَعۡطُوفَانِ عَلَى الۡفَاعِلِ الۡمَرۡفُوعِ، وَلٰكِنۡ الضَّمَّةُ لَا تَظۡهَرُ فِي أَوَاخِرِ هٰذِهِ الۡكَلِمَاتِ، لِتَعَذُّرِهَا فِي (الۡفَتَى) وَثِقَلِهَا فِي (يَدۡعُو) وَفِي (الۡقَاضِي) وَلِأَجۡلِ مُنَاسَبَةِ يَاءِ الۡمُتَكَلِّمِ فِي (غُلَامِي)؛ فَتَكُونُ الضَّمَّةُ مُقَدَّرَةً عَلَى آخِرِ الۡكَلِمَةِ مَنَعَ مِنۡ ظُهُورِهَا التَّعَذُّرُ، أَوِ الثِّقَلُ، أَوِ اشۡتِغَالِ الۡمَحَلِّ بِحَرَكَةِ الۡمُنَاسَبَةِ.
Adapun perubahan yang tidak nampak adalah yang menghalangi dari dilafazhkannya berupa ta’adzdzur, istitsqal / tsiqal, atau munasabah. Contoh: يَدۡعُو الۡفَتَى وَالۡقَاضِي وَغُلَامِي. Maka يَدۡعُو marfu’ karena tidak ada yang menashabkan dan menjazmkan. الۡفَتَى marfu’ karena merupakan fa’il. الۡقَاضِي وَغُلَامِي marfu’ karena keduanya di’athafkan ke fa’il yang marfu’. Akan tetapi, harakat dhammah tidak nampak pada akhir kata-kata tersebut. Disebabkan ta’adzdzur (sulit diucapkan) pada kata الۡفَتَى, tsiqal (berat diucapkan) pada kata يَدۡعُو dan الۡقَاضِي, dan munasabah (penyesuaian harakat) dengan ya` mutakallim pada kata غُلَامِي. Sehingga harakat dhammah disembunyikan pada akhir kata, terhalang munculnya karena ta’adzdzur, tsiqal, atau terpakainya tempat oleh harakat yang menyesuaikan.
وَتَقُولُ: (لَنْ يَرْضَى الْفَتَى وَالْقَاضِي وَغُلَامِي) وَتَقُولُ: (إِنَّ الْفَتَى وَغُلَامِي لَفَائِزَانِ) وَتَقُولُ: (مَرَرْتُ بِالْفَتَى وَغُلَامِي وَالْقَاضِي).
فَمَا كَانَ آخِرُهُ أَلِفًا لَازِمَةً تُقَدَّرُ عَلَيْهِ جَمِيعُ الْحَرَكَاتِ لِلتَّعَذُّرِ، وَيُسَمَّى الْإِسْمُ الْمُنْتَهَى بِالْأَلِفِ مَقْصُورًا، مِثْلُ الْفَتَى وَالْعَصَا وَالحجَى وَالرَّحَى وَالرِّضَا.
Maka, isim yang huruf akhirnya adalah alif lazimah disembunyikan padanya seluruh harakat karena ta’adzdzur, dan dinamakan isim yang diakhiri dengan alif maqshur. Contoh: الْفَتَى وَالْعَصَا وَالحجَى وَالرَّحَى وَالرِّضَا.
وَمَا كَانَ آخِرُهُ يَاءَ لَازِمَةً تُقَدَّرُ عَلَيْهِ الضَّمَّةُ وَالْكَسْرَةُ لِلثِّقَلِ، وَيُسَمَّى الْإِسْمُ الْمُنْتَهَى بِالْيَاءِ مَنْقُوصًا، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِ الْفَتْحَةُ لِخِفَّتِهَا، نَحْوُ: الْقَاضِي وَالدَّاعِي وَالْغَازِي وَالسَّاعِي وَالْآتِي وَالرَّامِي.
Dan isim yang huruf akhirnya ya` lazimah disembunyikan padanya harakat dhammah dan kasrah karena tsiqal, dan dinamakan isim yang diakhiri dengan ya` manqush. Fathah bisa nampak padanya karena ringan pengucapannya. Contoh: الْقَاضِي وَالدَّاعِي وَالْغَازِي وَالسَّاعِي وَالْآتِي وَالرَّامِي.
وَمَا كَانَ مُضَافًا إِلَى يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ تُقَدَّرُ عَلَيْهِ الْحَرَكَاتُ كُلُّهَا لِلْمُنَاسَبَةِ، نَحْوُ: غُلَامِي وَكِتَابِي وَصَدِيقِي وَأَبِي وَأُسْتَاذِي.
Dan isim yang diidhafahkan kepada ya` mutakallim disembunyikan padanya semua harakat karena munasabah. Contoh: غُلَامِي وَكِتَابِي وَصَدِيقِي وَأَبِي وَأُسْتَاذِي.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1503

٧١ – بَابُ فَرۡضِ صَدَقَةِ الۡفِطۡرِ

71. Bab kewajiban zakat fithri

وَرَأَى أَبُو الۡعَالِيَةِ، وَعَطَاءٌ، وَابۡنُ سِيرِينَ: صَدَقَةَ الۡفِطۡرِ فَرِيضَةً.
Abul 'Aliyah, 'Atha`, dan Ibnu Sirin berpendapat zakat fithri adalah wajib.
١٥٠٣ – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ السَّكَنِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَهۡضَمٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ عُمَرَ بۡنِ نَافِعٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الۡفِطۡرِ صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ، عَلَى الۡعَبۡدِ وَالۡحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالۡأُنۡثَى، وَالصَّغِيرِ وَالۡكَبِيرِ، مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنۡ تُؤَدَّى قَبۡلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ. [الحديث ١٥٠٣ – أطرافه في: ١٥٠٤، ١٥٠٧، ١٥٠٩، ١٥١١، ١٥١٢].
1503. Yahya bin Muhammad ibnus Sakan telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Jahdham menceritakan kepada kami: Isma'il bin Ja'far menceritakan kepada kami, dari 'Umar bin Nafi', dari ayahnya, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (gandum) kepada budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat ditunaikan sebelum manusia keluar shalat 'Id.

Shahih Muslim hadits nomor 1710

١١ – بَابُ جَرۡحِ الۡعَجۡمَاءِ وَالۡمَعۡدِنِ وَالۡبِئۡرِ جُبَارٌ

11. Bab kecelakaan karena binatang ternak, pertambangan, dan sumur tua tidak ada dendanya

٤٥ – (١٧١٠) – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَمُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحٍ. قَالَا: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ. (ح) وَحَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ وَأَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (الۡعَجۡمَاءُ جَرۡحُهَا جُبَارٌ، وَالۡبِئۡرُ جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ).
45. (1710). Yahya bin Yahya dan Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Al-Laits mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id ibnul Musayyab dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Kecelakaan akibat binatang ternak tidak ada dendanya, kecelakaan di sumur tua tidak ada dendanya, kecelakaan di pertambangan tidak ada dendanya, dan pada rikaz (harta terpendam peninggalan jahiliyyah) dikeluarkan seperlima.”
[البخاري: كتاب الديات، باب المعدن جبار...، رقم: ٦٩١٢].
(…) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَزُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَعَبۡدُ الۡأَعۡلَى بۡنُ حَمَّادٍ. كُلُّهُمۡ عَنِ ابۡنِ عُيَيۡنَةَ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ - يَعۡنِي ابۡنَ عِيسَىٰ -: حَدَّثَنَا مَالِكٌ. كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهۡرِيِّ. بِإِسۡنَادِ اللَّيۡثِ... مِثۡلَ حَدِيثِهِ.
Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb, dan 'Abdul A'la bin Hammad telah menceritakan kepada kami. Seluruhnya dari Ibnu 'Uyainah. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami: Ishaq bin 'Isa menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami. Mereka berdua dari Az-Zuhri dengan sanadnya Al-Laits... semisal haditsnya.
(…) - وَحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرۡمَلَةُ. قَالَا: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ: أَخۡبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنِ ابۡنِ الۡمُسَيَّبِ وَعُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.
Abuth Thahir dan Harmalah telah menceritakan kepadaku. Mereka berdua berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Syihab, dari Ibnul Musayyab dan 'Ubaidullah bin 'Abdullah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam... semisal hadits itu.
٤٦ - (…) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحِ بۡنِ الۡمُهَاجِرِ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ أَيُّوبَ بۡنِ مُوسَىٰ، عَنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ الۡعَلَاءِ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ أَنَّهُ قَالَ: (الۡبِئۡرُ جَرۡحُهَا جُبَارٌ، وَالۡمَعۡدِنُ جَرۡحُهُ جُبَارٌ، وَالۡعَجۡمَاءُ جَرۡحُهَا جُبَارٌ، وَفِي الرِّكَازِ الۡخُمُسُ).
46. Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami, dari Ayyub bin Musa, dari Al-Aswad ibnul 'Ala`, dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; Bahwa beliau bersabda, “Kecelakaan pada sumur tua tidak ada dendanya, kecelakaan di pertambangan tidak ada dendanya, kecelakaan akibat binatang ternak tidak ada dendanya, dan pada rikaz (harta terpendam peninggalan jahiliyyah) dikeluarkan seperlima.”
(…) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ سَلَّامٍ الۡجُمَحِيُّ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ - يَعۡنِي ابۡنَ مُسۡلِمٍ -. (ح) وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا ابۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ. كِلَاهُمَا عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ زِيَادٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِمِثۡلِهِ.
'Abdurrahman bin Sallam Al-Jumahi telah menceritakan kepada kami: Ar-Rabi' bin Muslim menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) 'Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ibnu Basysyar telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami. Mereka berdua (Mu'adz dan Muhammad) berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami. Keduanya (Ar-Rabi' dan Syu'bah) dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam... semisal hadits itu.