Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7488

٣٤ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿أَنۡزَلَهُ بِعِلۡمِهِ وَالۡمَلَائِكَةُ يَشۡهَدُونَ﴾ [النساء: ١٦٦]
34. Bab firman Allah taala, “Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi.” (QS. An-Nisa`: 166)


قَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿يَتَنَزَّلُ الۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ﴾ [الطلاق: ١٢] بَيۡنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَالۡأَرۡضِ السَّابِعَةِ. 

Mujahid berkata, “Perintah Allah turun di antara mereka,” (QS. Ath-Thalaq: 12), yaitu antara langit ketujuh dengan bumi ketujuh. 

٧٤٨٨ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ الۡهَمۡدَانِيُّ، عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (يَا فُلَانُ، إِذَا أَوَيۡتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلِ: اللّٰهُمَّ أَسۡلَمۡتُ نَفۡسِي إِلَيۡكَ، وَوَجَّهۡتُ وَجۡهِي إِلَيۡكَ، وَفَوَّضۡتُ أَمۡرِي إِلَيۡكَ، وَأَلۡجَأۡتُ ظَهۡرِي إِلَيۡكَ، رَغۡبَةً وَرَهۡبَةً إِلَيۡكَ، لَا مَلۡجَأَ وَلَا مَنۡجَا مِنۡكَ إِلَّا إِلَيۡكَ، آمَنۡتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنۡزَلۡتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرۡسَلۡتَ. فَإِنَّكَ إِنۡ مُتَّ فِي لَيۡلَتِكَ مُتَّ عَلَى الۡفِطۡرَةِ، وَإِنۡ أَصۡبَحۡتَ أَصَبۡتَ أَجۡرًا). [طرفه في: ٢٤٧]. 

7488. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami: Abu Ishaq Al-Hamdani menceritakan kepada kami dari Al-Bara` bin ‘Azib. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai Polan, apabila engkau beranjak ke tempat tidurmu, berdoalah, ‘Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.’ Jika engkau meninggal di malam itu, maka sungguh engkau meninggal di atas fitrah. Jika engkau masih hidup di pagi harinya, maka engkau mendapatkan pahala.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6315

٩ - بَابُ النَّوۡمِ عَلَى الشِّقِّ الۡأَيۡمَنِ
9. Bab tidur di atas sisi kanan


٦٣١٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ زِيَادٍ: حَدَّثَنَا الۡعَلَاءُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَامَ عَلَى شِقِّهِ الۡأَيۡمَنِ، ثُمَّ قَالَ: (اللّٰهُمَّ أَسۡلَمۡتُ نَفۡسِي إِلَيۡكَ، وَوَجَّهۡتُ وَجۡهِي إِلَيۡكَ، وَفَوَّضۡتُ أَمۡرِي إِلَيۡكَ، وَأَلۡجَأۡتُ ظَهۡرِي إِلَيۡكَ، رَغۡبَةً وَرَهۡبَةً إِلَيۡكَ، لَا مَلۡجَأَ وَلَا مَنۡجَا مِنۡكَ إِلَّا إِلَيۡكَ، آمَنۡتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنۡزَلۡتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرۡسَلۡتَ). وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ قَالَهُنَّ ثُمَّ مَاتَ تَحۡتَ لَيۡلَتِهِ مَاتَ عَلَى الۡفِطۡرَةِ). 

6315. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami: Al-‘Ala` bin Al-Musayyab menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Al-Bara` bin ‘Azib. Beliau mengatakan: 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila beranjak ke tempat tidurnya, beliau tidur di atas sisi tubuh yang kanan. Kemudian beliau berdoa, “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan rasa harap cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.” 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Siapa saja yang mengucapkannya kemudian meninggal di malam itu, maka dia meninggal di atas fitrah.” 

﴿اسۡتَرۡهَبُوهُمۡ﴾ [الأعراف: ١١٦] مِنَ الرَّهۡبَةِ. ﴿مَلَكُوتَ﴾ [الأنعام: ٧٥] مُلۡكٌ، مَثَلُ: رَهَبُوتٌ خَيۡرٌ مِنۡ رَحَمُوتٍ، تَقُولُ: تَرۡهَبُ خَيۡرٌ مِنۡ أَنۡ تَرۡحَمَ. [طرفه في: ٢٤٧]. 

istarhabuhum (membuat mereka takut)” (QS. Al-A’raf: 116) dari kata rahbah

malakut” (QS. Al-An’am: 75) artinya kekuasaan. Contoh (yang sama dengan wazan malakut) adalah ungkapan “rahabut (ketakutan yang sangat) lebih baik daripada rahamut (kasih sayang).” Engkau katakan, “Engkau takut lebih baik daripada engkau menyayangi.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6313

٦٣١٣ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ الرَّبِيعِ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَرۡعَرَةَ قَالَا: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ: سَمِعَ الۡبَرَاءَ بۡنَ عَازِبٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَمَرَ رَجُلًا (ح). وَحَدَّثَنَا آدَمُ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ الۡهَمۡدَانِيُّ عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَوۡصَى رَجُلًا فَقَالَ: (إِذَا أَرَدۡتَ مَضۡجَعَكَ فَقُلِ: اللّٰهُمَّ أَسۡلَمۡتُ نَفۡسِي إِلَيۡكَ، وَفَوَّضۡتُ أَمۡرِي إِلَيۡكَ، وَوَجَّهۡتُ وَجۡهِي إِلَيۡكَ، وَأَلۡجَأۡتُ ظَهۡرِي إِلَيۡكَ، رَغۡبَةً وَرَهۡبَةً إِلَيۡكَ، لَا مَلۡجَأَ وَلَا مَنۡجَا مِنۡكَ إِلَّا إِلَيۡكَ، آمَنۡتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنۡزَلۡتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرۡسَلۡتَ. فَإِنۡ مُتَّ مُتَّ عَلَى الۡفِطۡرَةِ). [طرفه في: ٢٤٧].

6313. Sa’id bin Ar-Rabi’ dan Muhammad bin ‘Ar’arah telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq: Beliau mendengar Al-Bara` bin ‘Azib: Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan seseorang. 

(Dalam riwayat lain) Adam telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami: Abu Ishaq Al-Hamdani menceritakan kepada kami dari Al-Bara` bin ‘Azib: 

Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mewasiatkan seseorang lalu bersabda, “Apabila engkau hendak ke tempat berbaringmu, maka berdoalah, ‘Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan rasa harap cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.’ Apabila engkau mati, maka engkau mati di atas fitrah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1136

١١٣٦ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَامَ لِلتَّهَجُّدِ مِنَ اللَّيۡلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ.

1136. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Khalid bin ‘Abdullah menceritakan kepada kami dari Hushain, dari Abu Wa`il, dari Hudzaifah—radhiyallahu ‘anhu—: Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun malam untuk salat tahajud, beliau membersihkan mulut menggunakan siwak.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 889

٨٨٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ كَثِيرٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ وَحُصَيۡنٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيۡلِ يَشُوصُ فَاهُ. 

[طرفه في: ٢٤٥]. 

889. Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Manshur dan Hushain, dari Abu Wa`il, dari Hudzaifah. Beliau berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun malam, beliau membersihkan mulutnya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 247

٧٩ - بَابُ فَضۡلِ مَنۡ بَاتَ عَلَى الۡوُضُوءِ
79. Bab keutamaan orang yang bermalam dalam keadaan wudu


٢٤٧ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُقَاتِلٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ عُبَيۡدَةَ، عَنِ الۡبَرَاءِ بۡنِ عَازِبٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا أَتَيۡتَ مَضۡجَعَكَ، فَتَوَضَّأۡ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضۡطَجِعۡ عَلَى شِقِّكَ الۡأَيۡمَنِ، ثُمَّ قُلِ: اللّٰهُمَّ أَسۡلَمۡتُ وَجۡهِي إِلَيۡكَ، وَفَوَّضۡتُ أَمۡرِي إِلَيۡكَ، وَأَلۡجَأۡتُ ظَهۡرِي إِلَيۡكَ، رَغۡبَةً وَرَهۡبَةً إِلَيۡكَ، لَا مَلۡجَأَ وَلَا مَنۡجَا مِنۡكَ إِلَّا إِلَيۡكَ، اللّٰهُمَّ آمَنۡتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنۡزَلۡتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرۡسَلۡتَ، فَإِنۡ مُتَّ مِنۡ لَيۡلَتِكَ فَأَنۡتَ عَلَى الۡفِطۡرَةِ، وَاجۡعَلۡهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ). قَالَ: فَرَدَّدۡتُهَا عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمَّا بَلَغۡتُ: اللّٰهُمَّ آمَنۡتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنۡزَلۡتَ، قُلۡتُ: وَرَسُولِكَ، قَالَ: (لَا، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرۡسَلۡتَ). 

[الحديث ٢٤٧ – أطرافه في: ٦٣١١، ٦٣١٣، ٦٣١٥، ٧٤٨٨]. 

247. Muhammad bin Muqatil telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Manshur, dari Sa’d bin ‘Ubaidah, dari Al-Bara` bin ‘Azib. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila engkau ingin ke tempat pembaringanmu, maka berwudulah dengan wudu untuk salat, lalu berbaringlah di atas sisi tubuh bagian kanan, kemudian berdoalah (yang artinya): ‘Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan perasaan harap cemas kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau telah turunkan, dengan nabi-Mu yang Engkau telah utus.’ Apabila engkau meninggal di malam itu, maka engkau (meninggal) di atas fitrah dan jadikan doa itu akhir ucapanmu.” 

Al-Bara` berkata: Aku mengulang doa itu di hadapan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Ketika aku sampai bacaan, “Ya Allah, aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau telah turunkan,” aku melanjutkan, “dengan rasul-Mu.” 

Nabi mengoreksi, “Bukan begitu. Dengan nabi-Mu yang Engkau telah utus.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5722

٢٧ - بَابُ حَرۡقِ الۡحَصِيرِ لِيُسَدَّ بِهِ الدَّمُ
27. Bab membakar tikar untuk menghentikan darah dengan (abu)nya


٥٧٢٢ - حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡقَارِيُّ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: لَمَّا كُسِرَتۡ عَلَى رَأۡسِ رَسُولِ اللهِ ﷺ الۡبَيۡضَةُ، وَأُدۡمِيَ وَجۡهُهُ، وَكُسِرَتۡ رَبَاعِيَتُهُ، وَكَانَ عَلِيٌّ يَخۡتَلِفُ بِالۡمَاءِ فِي الۡمِجَنِّ، وَجَاءَتۡ فَاطِمَةُ تَغۡسِلُ عَنۡ وَجۡهِهِ الدَّمَ، فَلَمَّا رَأَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ الدَّمَ يَزِيدُ عَلَى الۡمَاءِ كَثۡرَةً، عَمَدَتۡ إِلَى حَصِيرٍ فَأَحۡرَقَتۡهَا، وَأَلۡصَقَتۡهَا عَلَى جُرۡحِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَرَقَأَ الدَّمُ. [طرفه في: ٢٤٣]. 

5722. Sa’id bin ‘Ufair telah menceritakan kepadaku: Ya’qub bin ‘Abdurrahman Al-Qari menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Beliau berkata: 

Ketika helm di kepala Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pecah, wajah beliau berdarah, raba’iyah (gigi seri pinggir) beliau patah; saat itu ‘Ali mengganti-ganti air di dalam perisai, sedangkan Fathimah membasuh darah dari wajah beliau. Ketika Fathimah—‘alaihas salam—melihat darah bertambah banyak melebihi air, dia mengambil sepotong tikar lalu membakarnya. Dia menempelkan (abu)nya ke luka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu darah pun berhenti.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5248

١٢٤ – بَابٌ ﴿وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿لَمۡ يَظۡهَرُوا عَلَى عَوۡرَاتِ النِّسَاءِ﴾ [النور: ٣١]
124. Bab “Dan janganlah wanita-wanita beriman menampakan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka,” sampai firman-Nya, “yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31) 


٥٢٤٨ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: اخۡتَلَفَ النَّاسُ بِأَىِّ شَىۡءٍ دُووِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَسَأَلُوا سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ السَّاعِدِيَّ، وَكَانَ مِنۡ آخِرِ مَنۡ بَقِيَ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ بِالۡمَدِينَةِ، فَقَالَ: وَمَا بَقِيَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَعۡلَمُ بِهِ مِنِّي، كَانَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ تَغۡسِلُ الدَّمَ عَنۡ وَجۡهِهِ، وَعَلِيٌّ يَأۡتِي بِالۡمَاءِ عَلَى تُرۡسِهِ، فَأُخِذَ حَصِيرٌ فَحُرِّقَ، فَحُشِيَ بِهِ جُرۡحُهُ. [طرفه في: ٢٤٣]. 

5248. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Hazim. Beliau berkata: 

Orang-orang berselisih dengan apa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diobati pada hari perang Uhud. Mereka bertanya kepada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi. Beliau termasuk sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang tersisa terakhir di Madinah. 

Sahl berkata, “Tidak ada manusia yang tersisa, seorang yang lebih mengetahuinya daripada aku. Ketika itu, Fathimah—‘alaihas salam—membasuh darah dari wajah Nabi, sedangkan ‘Ali membawakan air di atas perisainya. Lalu sepotong tikar diambil, dibakar, lalu luka Nabi ditempeli abunya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4075

٢٦ – بَابٌ
26. Bab


٤٠٧٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ: أَنَّهُ سَمِعَ سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ، وَهُوَ يُسۡأَلُ عَنۡ جُرۡحِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالَ: أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَعۡرِفُ مَنۡ كَانَ يَغۡسِلُ جُرۡحَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَمَنۡ كَانَ يَسۡكُبُ الۡمَاءَ، وَبِمَا دُووِيَ، قَالَ: كَانَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ بِنۡتُ رَسُولِ اللهِ ﷺ تَغۡسِلُهُ، وَعَلِيٌّ يَسۡكُبُ الۡمَاءَ بِالۡمِجَنِّ، فَلَمَّا رَأَتۡ فَاطِمَةُ أَنَّ الۡمَاءَ لَا يَزِيدُ الدَّمَ إِلَّا كَثۡرَةً، أَخَذَتۡ قِطۡعَةً مِنۡ حَصِيرٍ، فَأَحۡرَقَتۡهَا وَأَلۡصَقَتۡهَا، فَاسۡتَمۡسَكَ الدَّمُ، وَكُسِرَتۡ رَبَاعِيَتُهُ يَوۡمَئِذٍ، وَجُرِحَ وَجۡهُهُ، وَكُسِرَتِ الۡبَيۡضَةُ عَلَى رَأۡسِهِ. [طرفه في: ٢٤٣].

4075. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Ya’qub menceritakan kepada kami dari Abu Hazim: Bahwa beliau mendengar Sahl bin Sa’d ketika beliau ditanya tentang luka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lantas Sahl menjawab, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar tahu siapa yang membasuh luka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, siapa yang menuangkan air, dan dengan apa Rasulullah diobati.” 

Sahl berkata, “Dahulu Fathimah—‘alaihas salam—binti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membasuh beliau dan ‘Ali menuangkan air menggunakan perisai. Ketika Fathimah melihat bahwa air hanya malah menambah banyak darahnya, dia mengambil sepotong tikar, membakarnya, dan menempelkannya. Lalu darah pun berhenti. Pada hari itu, raba’iyah (gigi seri pinggir) beliau patah, wajah beliau terluka, dan helm perang yang ada di kepala beliau pecah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 246

٧٨ - بَابُ دَفۡعِ السِّوَاكِ إِلَى الۡأَكۡبَرِ
78. Bab memberikan siwak kepada orang yang lebih tua


٢٤٦ - وَقَالَ عَفَّانُ: حَدَّثَنَا صَخۡرُ بۡنُ جُوَيۡرِيَةَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (أَرَانِي أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ، فَجَاءَنِي رَجُلَانِ، أَحَدُهُمَا أَكۡبَرُ مِنَ الۡآخَرِ، فَنَاوَلۡتُ السِّوَاكَ الۡأَصۡغَرَ مِنۡهُمَا، فَقِيلَ لِي: كَبِّرۡ، فَدَفَعۡتُهُ إِلَى اۡلأَكۡبَرِ مِنۡهُمَا). 

قَالَ أَبُو عَبۡدِ اللهِ: اخۡتَصَرَهُ نُعَيۡمٌ، عَنِ ابۡنِ الۡمُبَارَكِ، عَنۡ أُسَامَةَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ. 

246. ‘Affan berkata: Shakhr bin Juwairiyah menceritakan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar: Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku melihat diriku bersiwak menggunakan siwak lalu ada dua orang mendatangiku. Salah satunya lebih tua daripada yang lain. Aku memberikan siwak kepada orang yang lebih muda di antara dua orang itu, namun ada yang berkata kepadaku, ‘Dahulukan yang lebih tua!’ Aku pun memberikannya kepada yang lebih tua di antara mereka berdua.” 

Abu ‘Abdullah berkata: Nu’aim menyingkat matan hadis itu dari Ibnu Al-Mubarak, dari Usamah, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3037

١٦٣ - بَابُ دَوَاءِ الۡجُرۡحِ بِإِحۡرَاقِ الۡحَصِيرِ، وَغَسۡلِ الۡمَرۡأَةِ عَنۡ أَبِيهَا الدَّمَ عَنۡ وَجۡهِهِ، وَحَمۡلِ الۡمَاءِ فِي التُّرۡسِ
163. Bab mengobati luka dengan (abu) pembakaran tikar, wanita membasuh darah dari wajah ayahnya, dan membawa air di dalam perisai 


٣٠٣٧ - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ: سَأَلُوا سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ السَّاعِدِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: بِأَىِّ شَىۡءٍ دُووِيَ جُرۡحُ النَّبِيِّ ﷺ؟ فَقَالَ: مَا بَقِيَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَعۡلَمُ بِهِ مِنِّي، كَانَ عَلِيٌّ يَجِيءُ بِالۡمَاءِ فِي تُرۡسِهِ، وَكَانَتۡ - يَعۡنِي فَاطِمَةَ - تَغۡسِلُ الدَّمَ عَنۡ وَجۡهِهِ، وَأُخِذَ حَصِيرٌ فَأُحۡرِقَ، ثُمَّ حُشِيَ بِهِ جُرۡحُ رَسُولِ اللهِ ﷺ. 

3037. ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Abu Hazim menceritakan kepada kami. Beliau berkata: 

Mereka bertanya kepada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi—radhiyallahu ‘anhu—dengan apa luka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diobati? 

Beliau menjawab: Tidak tersisa di antara manusia, seorang pun yang lebih mengetahuinya daripada aku. Dahulu, ‘Ali datang membawa air di dalam perisainya, sedangkan Fathimah membasuh arah dari wajah Nabi. Lalu selembar tikar diambil dan dibakar, kemudian luka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditempeli abu itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2911

٨٥ - بَابُ لُبۡسِ الۡبَيۡضَةِ
85. Bab memakai helm perang


٢٩١١ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ سَهۡلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنۡ جُرۡحِ النَّبِيِّ ﷺ يَوۡمَ أُحُدٍ، فَقَالَ: جُرِحَ وَجۡهُ النَّبِيِّ ﷺ وَكُسِرَتۡ رَبَاعِيَتُهُ، وَهُشِمَتِ الۡبَيۡضَةُ عَلَى رَأۡسِهِ، فَكَانَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ تَغۡسِلُ الدَّمَ وَعَلِيٌّ يُمۡسِكُ، فَلَمَّا رَأَتۡ أَنَّ الدَّمَ لَا يَزِيدُ إِلَّا كَثۡرَةً، أَخَذَتۡ حَصِيرًا فَأَحۡرَقَتۡهُ حَتَّى صَارَ رَمَادًا، ثُمَّ أَلۡزَقَتۡهُ، فَاسۡتَمۡسَكَ الدَّمُ. [طرفه في: ٢٤٣]. 

2911. ‘Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Hazim menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Sahl—radhiyallahu ‘anhu—: Bahwa beliau ditanya tentang luka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari perang Uhud, lantas beliau menjawab: 

Wajah Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terluka, raba’iyah (gigi seri pinggir) beliau patah, dan helm yang di kepala beliau pecah. Setelah itu, Fathimah—‘alaihas salam—membasuh darah sedangkan ‘Ali memegangi. Ketika Fathimah melihat darah beliau tambah banyak, dia mengambil sebuah tikar lalu membakarnya hingga menjadi abu. Kemudian Fathimah menempelkannya, lalu darah pun berhenti.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2903

٢٩٠٣ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بۡنُ عُفَيۡرٍ: حَدَّثَنَا يَعۡقُوبُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلٍ قَالَ: لَمَّا كُسِرَتۡ بَيۡضَةُ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى رَأۡسِهِ، وَأُدۡمِيَ وَجۡهُهُ، وَكُسِرَتۡ رَبَاعِيَتُهُ، وَكَانَ عَلِيٌّ يَخۡتَلِفُ بِالۡمَاءِ فِي الۡمِجَنِّ، وَكَانَتۡ فَاطِمَةُ تَغۡسِلُهُ، فَلَمَّا رَأَتِ الدَّمَ يَزِيدُ عَلَى الۡمَاءِ كَثۡرَةً، عَمَدَتۡ إِلَى حَصِيرٍ فَأَحۡرَقَتۡهَا، وَأَلۡصَقَتۡهَا عَلَى جُرۡحِهِ، فَرَقَأَ الدَّمُ. [طرفه في: ٢٤٣]. 

2903. Sa’id bin ‘Ufair telah menceritakan kepada kami: Ya’qub bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl. Beliau berkata: 

Ketika helm Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang di kepala beliau pecah, wajah beliau luka berdarah dan raba’iyah (gigi seri pinggir) beliau patah. Ketika itu, ‘Ali menggonta-ganti air di dalam perisai, sedangkan Fathimah membasuh (luka) beliau. Ketika Fathimah melihat bahwa darahnya lebih banyak daripada air, maka dia mengambil sebuah tikar lalu membakarnya dan menempelkannya ke luka beliau. Kemudian darah pun berhenti.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5585, 5586, dan 5587

٤ - بَابٌ الۡخَمۡرُ مِنَ الۡعَسَلِ، وَهُوَ الۡبِتۡعُ
4. Bab khamar dari madu, yaitu bit’


وَقَالَ مَعۡنٌ: سَأَلۡتُ مَالِكَ بۡنَ أَنَسٍ عَنِ الۡفُقَّاعِ، فَقَالَ: إِذَا لَمۡ يُسۡكِرۡ فَلَا بَأۡسَ. وَقَالَ ابۡنُ الدَّرَاوَرۡدِيِّ: سَأَلۡنَا عَنۡهُ فَقَالُوا: لَا يُسۡكِرُ، لَا بَأۡسَ بِهِ. 

Ma’n berkata: Aku bertanya kepada Malik bin Anas tentang fuqqa’ (minuman yang terbuat dari kismis), lalu beliau menjawab, “Jika tidak memabukkan, maka tidak mengapa.” 

Ibnu Ad-Darawardi berkata: Kami menanyakan tentangnya, lalu para ulama menjawab, “Minuman itu tidak memabukkan. Tidak mengapa.” 

٥٥٨٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتۡ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡبِتۡعِ، فَقَالَ: (كُلُّ شَرَابٍ أَسۡكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ). [طرفه في: ٢٤٢]. 

5585. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman: Bahwa ‘Aisyah mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang bit’, lalu beliau menjawab, “Setiap minuman yang memabukkan, maka itu haram.” 

٥٥٨٦، ٥٥٨٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡبِتۡعِ - وَهُوَ نَبِيذُ الۡعَسَلِ، وَكَانَ أَهۡلُ الۡيَمَنِ يَشۡرَبُونَهُ - فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ شَرَابٍ أَسۡكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ). 

5586, 5587. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Abu Salamah bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadaku: Bahwa ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang bit’—yaitu rendaman madu; dahulu penduduk Yaman biasa meminumnya—, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjawab, “Setiap minuman yang memabukkan, maka itu haram.” 

وَعَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تَنۡتَبِذُوا فِي الدُّبَّاءِ، وَلَا فِي الۡمُزَفَّتِ). وَكَانَ أَبُو هُرَيۡرَةَ يُلۡحِقُ مَعَهَا: الۡحَنۡتَمَ وَالنَّقِيرَ. 

Dan dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Anas bin Malik menceritakan kepadaku: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian membuat minuman rendaman di dalam dubba` (waluh yang sudah kosong untuk tempat minuman keras) atau di dalam muzaffat (tempat yang dilapisi ter atau aspal untuk tempat minuman keras).” 

Abu Hurairah menggabungkan hantam (guci hijau untuk tempat minuman keras) dan naqir (batang kayu yang dikeruk untuk tempat minuman keras) bersamanya.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1214

١٢١٤ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلَا يَبۡزُقَنَّ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، وَلَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ شِمَالِهِ، تَحۡتَ قَدَمِهِ الۡيُسۡرَى). [طرفه في: ٢٤١]. 

1214. Muhammad telah menceritakan kepada kami: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Qatadah dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila seseorang sedang salat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat dengan Tuhannya. Jadi jangan sampai dia meludah ke hadapannya atau ke samping kanannya. Tetapi silakan ke samping kiri di bawah kaki kirinya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 244 dan 245

٧٧ - بَابُ السِّوَاكِ
77. Bab siwak


وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: بِتُّ عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ فَاسۡتَنَّ. 

Ibnu ‘Abbas berkata: Aku bermalam di tempat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu beliau bersiwak. 

٢٤٤ - حَدَّثَنَا أَبُو النُّعۡمَانِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ غَيۡلَانَ بۡنِ جَرِيرٍ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ، فَوَجَدۡتُهُ يَسۡتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ، يَقُولُ: (أُعۡ أُعۡ)، وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ، كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ. 

244. Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Ghailan bin Jarir, dari Abu Burdah, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku mendatangi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu aku mendapati beliau membersihkan gigi menggunakan siwak dengan tangannya. Beliau mengeluarkan bunyi, “Uk, uk,” sementara siwak masih di dalam mulut beliau, seakan-akan beliau hendak muntah. 

٢٤٥ - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ، إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيۡلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ. 

[الحديث ٢٤٥ – طرفاه في: ٨٨٩، ١١٣٦]. 

245. ‘Utsman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari Hudzaifah. Beliau berkata: Dahulu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila bangun untuk salat malam, beliau membersihkan mulut menggunakan siwak.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 822

١٤١ - بَابٌ لَا يَفۡتَرِشُ ذِرَاعَيۡهِ فِي السُّجُودِ
141. Bab tidak boleh menempelkan kedua hastanya ke tanah ketika sujud


وَقَالَ أَبُو حُمَيۡدٍ: سَجَدَ النَّبِيُّ ﷺ وَوَضَعَ يَدَيۡهِ غَيۡرَ مُفۡتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا. 

Abu Humaid berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sujud dan meletakan kedua tangannya dengan tidak menempelkan hastanya ke tanah dan tidak mengempitkannya. 

٨٢٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (اعۡتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلَا يَبۡسُطۡ أَحَدُكُمۡ ذِرَاعَيۡهِ انۡبِسَاطَ الۡكَلۡبِ). [طرفه في: ٢٤١]. 

822. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Qatadah dari Anas bin Malik, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sedang-sedang saja ketika sujud! Janganlah salah seorang kalian menempelkan kedua hastanya ke tanah seperti yang dilakukan anjing!”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 531

٨ - بَابُ الۡمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
8. Bab orang yang salat bermunajat kepada Allah ‘azza wa jalla


٥٣١ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ قَتَادَةَ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ أَحَدَكُمۡ إِذَا صَلَّى يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلَا يَتۡفِلَنَّ عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ الۡيُسۡرَى). وَقَالَ سَعِيدٌ، عَنۡ قَتَادَةَ: (لَا يَتۡفِلُ قُدَّامَهُ أَوۡ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمَيۡهِ). وَقَالَ شُعۡبَةُ: (لَا يَبۡزُقُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَلَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ). وَقَالَ حُمَيۡدٌ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (لَا يَبۡزُقۡ فِي الۡقِبۡلَةِ وَلَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ). [طرفه في: ٢٤١]. 

531. Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hisyam menceritakan kepada kami dari Qatadah, dari Anas. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang kalian salat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat dengan Tuhannya. Maka, jangan sampai dia meludah ke samping kanannya, tetapi (silakan meludah) ke bawah kaki kirinya.” 

Sa’id berkata, dari Qatadah, “Jangan dia meludah ke depan atau ke hadapannya, akan tetapi (silakan meludah) ke samping kiri atau ke bawah kedua kakinya.” 

Syu’bah berkata, “Jangan meludah ke hadapan atau ke samping kanan, akan tetapi (silakan meludah) ke samping kiri atau ke bawah kakinya.” 

Humaid berkata, dari Anas, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Jangan meludah ke arah kiblat atau ke samping kanannya, akan tetapi (silakan meludah) ke samping kiri atau ke bawah kakinya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 417

٣٩ - بَابٌ إِذَا بَدَرَهُ الۡبُزَاقُ فَلۡيَأۡخُذۡ بِطَرَفِ ثَوۡبِهِ
39. Bab apabila seseorang harus segera meludah, maka dia ambil ujung bajunya


٤١٧ - حَدَّثَنَا مَالِكُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا حُمَيۡدٌ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى نُخَامَةً فِي الۡقِبۡلَةِ، فَحَكَّهَا بِيَدِهِ، وَرُئِيَ مِنۡهُ كَرَاهِيَةٌ، أَوۡ رُئِيَ كَرَاهِيَتُهُ لِذَلِكَ وَشِدَّتُهُ عَلَيۡهِ، وَقَالَ: (إِنَّ أَحَدَكُمۡ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ، فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ – أَوۡ: رَبُّهُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ قِبۡلَتِهِ - فَلَا يَبۡزُقَنَّ فِي قِبۡلَتِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ). ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ، فَبَزَقَ فِيهِ، وَرَدَّ بَعۡضَهُ عَلَى بَعۡضٍ، قَالَ: (أَوۡ يَفۡعَلُ هَٰكَذَا). [طرفه في: ٢٤١]. 

417. Malik bin Isma’il telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Zuhair menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Humaid menceritakan kepada kami dari Anas: 

Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat ludah menempel di arah kiblat. Beliau mengeriknya dengan tangannya. Terlihat ketidaksukaan dari beliau atau terlihat ketidaksukaan dan susahnya beliau akan hal itu. 

Beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang kalian apabila berdiri ketika salat, maka dia sedang bermunajat dengan Tuhannya—atau: Tuhannya di antara dia dengan kiblat—. Jadi jangan sampai meludah ke arah kiblat, akan tetapi boleh ke samping kiri atau ke bawah kakinya.” 

Kemudian beliau mengambil ujung bajunya, lalu meludah ke situ dan melipatnya. Beliau bersabda, “Atau dia bisa melakukan begini.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 413

٣٦ - بَابٌ لِيَبۡزُقۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ الۡيُسۡرَى
36. Bab agar meludah ke samping kiri atau ke bawah telapak kaki kiri


٤١٣ - حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ الۡمُؤۡمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ، فَلَا يَبۡزُقَنَّ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، وَلَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ، أَوۡ تَحۡتَ قَدَمِهِ). [طرفه في: ٢٤١].

413. Adam telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Qatadah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin apabila ketika salat, dia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Jadi jangan sampai dia meludah ke hadapannya atau ke samping kanannya, akan tetapi (boleh meludah) ke samping kiri atau ke bawah telapak kakinya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 412

٤١٢ - حَدَّثَنَا حَفۡصُ بۡنُ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ قَالَ: أَخۡبَرَنِي قَتَادَةُ قَالَ: سَمِعۡتُ أَنَسًا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا يَتۡفُلَنَّ أَحَدُكُمۡ بَيۡنَ يَدَيۡهِ، وَلَا عَنۡ يَمِينِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ، أَوۡ تَحۡتَ رِجۡلِهِ). [طرفه في: ٢٤١]. 

412. Hafsh bin ‘Umar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Qatadah mengabarkan kepadaku. Beliau berkata: Aku mendengar Anas berkata: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang kalian meludah di hadapannya dan jangan pula ke sebelah kanannya! Akan tetapi ke sebelah kiri atau ke bawah kakinya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 405

٣٣ - بَابُ حَكِّ الۡبُزَاقِ بِالۡيَدِ مِنَ الۡمَسۡجِدِ
33. Bab mengikis ludah yang menempel di bagian masjid dengan tangan


٤٠٥ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَأَى نُخَامَةً فِي الۡقِبۡلَةِ، فَشَقَّ ذٰلِكَ عَلَيۡهِ، حَتَّى رُئِيَ فِي وَجۡهِهِ، فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ، فَقَالَ: (إِنَّ أَحَدَكُمۡ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ – أَوۡ: إِنَّ رَبَّهُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ الۡقِبۡلَةِ - فَلَا يَبۡزُقَنَّ أَحَدُكُمۡ قِبَلَ قِبۡلَتِهِ، وَلَكِنۡ عَنۡ يَسَارِهِ أَوۡ تَحۡتَ قَدَمَيۡهِ). ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ، فَبَصَقَ فِيهِ، ثُمَّ رَدَّ بَعۡضَهُ عَلَى بَعۡضٍ، فَقَالَ: (أَوۡ يَفۡعَلُ هَٰكَذَا). 

[طرفه في: ٢٤١]. 

405. Qutaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Humaid, dari Anas: 

Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melihat ludah menempel di arah kiblat. Hal itu menyusahkan beliau sehingga terlihat dari raut wajahnya. Beliau bangkit lalu mengikisnya dengan tangan. Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya salah seorang kalian apabila berdiri ketika salat, maka dia sedang bermunajat kepada Tuhannya—atau: sesungguhnya Tuhannya di antara dia dengan kiblat—. Janganlah sekali-kali salah seorang kalian meludah ke arah kiblat! Tetapi (silakan meludah) ke arah kiri atau ke bawah kedua kakinya!” 

Kemudian beliau mengambil ujung pakaiannya lalu meludah ke situ. Lalu beliau melipatnya lantas bersabda, “Atau silakan dia melakukan begini.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3960

٧ - بَابُ دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى كُفَّارِ قُرَيۡشٍ: شَيۡبَةَ وَعُتۡبَةَ وَالۡوَلِيدِ وَأَبِي جَهۡلِ بۡنِ هِشَامٍ، وَهَلَاكِهِمۡ
7. Bab doa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terhadap orang-orang kafir Quraisy: Syaibah, ‘Utbah, Al-Walid, Abu Jahl bin Hisyam; dan kebinasaan mereka 


٣٩٦٠ - حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: اسۡتَقۡبَلَ النَّبِيُّ ﷺ الۡكَعۡبَةَ، فَدَعَا عَلَى نَفَرٍ مِنۡ قُرَيۡشٍ: عَلَى شَيۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَعُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ وَالۡوَلِيدِ بۡنِ عُتۡبَةَ، وَأَبِي جَهۡلِ بۡنِ هِشَامٍ، فَأَشۡهَدُ بِاللهِ، لَقَدۡ رَأَيۡتُهُمۡ صَرۡعَى، قَدۡ غَيَّرَتۡهُمُ الشَّمۡسُ، وَكَانَ يَوۡمًا حَارًّا. [طرفه في: ٢٤٠]. 

3960. ‘Amr bin Khalid telah menceritakan kepadaku: Zuhair menceritakan kepada kami: Abu Ishaq menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menghadap Kakbah, lalu beliau mendoakan kejelekan terhadap beberapa orang kafir Quraisy. Yaitu terhadap Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, dan Abu Jahl bin Hisyam. Aku bersaksi dengan nama Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan. Matahari telah mengubah rupa mereka. Ketika itu, hari sangat panas.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3854

٣٨٥٤ - حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنۡدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَيۡنَا النَّبِيُّ ﷺ سَاجِدٌ، وَحَوۡلَهُ نَاسٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ، جَاءَ عُقۡبَةُ بۡنُ أَبِي مُعَيۡطٍ بِسَلَى جَزُورٍ، فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهۡرِ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمۡ يَرۡفَعۡ رَأۡسَهُ، فَجَاءَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ فَأَخَذَتۡهُ مِنۡ ظَهۡرِهِ وَدَعَتۡ عَلَى مَنۡ صَنَعَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ الۡمَلَأَ مِنۡ قُرَيۡشٍ: أَبَا جَهۡلِ بۡنَ هِشَامٍ، وَعُتۡبَةَ بۡنَ رَبِيعَةَ، وَشَيۡبَةَ بۡنَ رَبِيعَةَ، وَأُمَيَّةَ بۡنَ خَلَفٍ، أَوۡ أُبَيَّ بۡنَ خَلَفٍ) - شُعۡبَةُ الشَّاكُّ - فَرَأَيۡتُهُمۡ قُتِلُوا يَوۡمَ بَدۡرٍ، فَأُلۡقُوا فِي بِئۡرٍ غَيۡرَ أُمَيَّةَ، أَوۡ أُبَيٍّ، تَقَطَّعَتۡ أَوۡصَالُهُ، فَلَمۡ يُلۡقَ فِي الۡبِئۡرِ. [طرفه في: ٢٤٠]. 

3854. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepadaku: Ghundar menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang sujud dan ada orang-orang kafir Quraisy di sekitar beliau, ‘Uqbah bin Abu Mu’aith datang membawa ari-ari unta. Dia melemparkannya di atas punggung Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, sehingga Nabi tidak mengangkat kepalanya. Lalu Fathimah—‘alaihas salam—datang, lalu mengambilnya dari punggung Nabi, dan mendoakan kejelekan terhadap pelakunya. 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ya Allah, binasakanlah pemuka kafir Quraisy, yaitu: Abu Jahl bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf, atau Ubay bin Khalaf.” Syu’bah yang ragu. 

Lalu aku melihat mereka terbunuh pada hari perang Badr. Mereka dilemparkan ke dalam sumur, kecuali Umayyah atau Ubay. Persendiannya terpotong-potong namun tidak dilemparkan ke dalam sumur itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3185

٢١ - بَابُ طَرۡحِ جِيَفِ الۡمُشۡرِكِينَ فِي الۡبِئۡرِ، وَلَا يُؤۡخَذُ لَهُمۡ ثَمَنٌ
21. Bab membuang mayat orang-orang musyrik ke dalam sumur dan tidak boleh mengambil harga untuk mereka


٣١٨٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ بۡنُ عُثۡمَانَ قَالَ: أَخۡبَرَنِي أَبِي، عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: بَيۡنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ سَاجِدٌ، وَحَوۡلَهُ نَاسٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ، إِذۡ جَاءَ عُقۡبَةُ بۡنُ أَبِي مُعَيۡطٍ بِسَلَى جَزُورٍ، فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهۡرِ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمۡ يَرۡفَعۡ رَأۡسَهُ حَتَّى جَاءَتۡ فَاطِمَةُ عَلَيۡهَا السَّلَامُ، فَأَخَذَتۡ مِنۡ ظَهۡرِهِ، وَدَعَتۡ عَلَى مَنۡ صَنَعَ ذٰلِكَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ الۡمَلَأَ مِنۡ قُرَيۡشٍ، اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ أَبَا جَهۡلِ بۡنَ هِشَامٍ، وَعُتۡبَةَ بۡنَ رَبِيعَةَ، وَشَيۡبَةَ بۡنَ رَبِيعَةَ، وَعُقۡبَةَ بۡنَ أَبِي مُعَيۡطٍ، وَأُمَيَّةَ بۡنَ خَلَفٍ، أَوۡ: أُبَىَّ بۡنَ خَلَفٍ). فَلَقَدۡ رَأَيۡتُهُمۡ قُتِلُوا يَوۡمَ بَدۡرٍ، فَأُلۡقُوا فِي بِئۡرٍ، غَيۡرَ أُمَيَّةَ أَوۡ أُبَىٍّ، فَإِنَّهُ كَانَ رَجُلًا ضَخۡمًا، فَلَمَّا جَرُّوهُ تَقَطَّعَتۡ أَوۡصَالُهُ، قَبۡلَ أَنۡ يُلۡقَى فِي الۡبِئۡرِ. [طرفه في: ٢٤٠]. 

3185. ‘Abdan bin ‘Utsman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang sujud dan di sekitar beliau ada sebagian orang-orang musyrik Quraisy, tiba-tiba ‘Uqbah bin Abu Mu’aith datang membawa ari-ari unta lalu dia melemparkannya ke atas punggung Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau tidak mengangkat kepalanya hingga Fathimah—‘alaihas salam—datang lalu mengambilnya dari punggung beliau. Fathimah mendoakan kejelekan kepada orang yang melakukan itu. 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdoa, “Ya Allah, binasakan pemuka orang musyrik Quraisy! Ya Allah, binasakan Abu Jahl bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, Umayyah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf!” 

Sungguh aku melihat mereka terbunuh di hari perang Badr lalu mereka dilemparkan ke dalam sebuah sumur kecuali Umayyah atau Ubay. Dia adalah seorang lelaki yang besar. Ketika orang-orang menyeretnya, persendiannya sudah tercerai-berai sebelum dilemparkan ke dalam sumur itu.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2934

٢٩٣٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ عَوۡنٍ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي فِي ظِلِّ الۡكَعۡبَةِ، فَقَالَ أَبُو جَهۡلٍ وَنَاسٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ، وَنُحِرَتۡ جَزُورٌ بِنَاحِيَةِ مَكَّةَ، فَأَرۡسَلُوا فَجَاؤُوا مِنۡ سَلَاهَا وَطَرَحُوهُ عَلَيۡهِ، فَجَاءَتۡ فَاطِمَةُ فَأَلۡقَتۡهُ عَنۡهُ، فَقَالَ: (اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ، اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ، اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ). لِأَبِي جَهۡلِ بۡنِ هِشَامٍ، وَعُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَشَيۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَالۡوَلِيدِ بۡنِ عُتۡبَةَ، وَأُبَيِّ بۡنِ خَلَفٍ، وَعُقۡبَةَ بۡنِ أَبِي مُعَيۡطٍ. قَالَ عَبۡدُ اللهِ: فَلَقَدۡ رَأَيۡتُهُمۡ فِي قَلِيبِ بَدۡرٍ قَتۡلَى. قَالَ أَبُو إِسۡحَاقَ: وَنَسِيتُ السَّابِعَ. وَقَالَ يُوسُفُ بۡنُ إِسۡحَاقَ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ: أُمَيَّةُ بۡنُ خَلَفٍ. وَقَالَ شُعۡبَةُ: أُمَيَّةُ أَوۡ أُبَىٌّ، وَالصَّحِيحُ أُمَيَّةُ. [طرفه في: ٢٤٠]. 

2934. ‘Abdullah bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Ja’far bin ‘Aun menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: 

Dahulu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—salat di naungan Kakbah. Abu Jahl dan orang dari Quraisy berkata ketika seekor unta telah disembelih di pinggiran Makkah. Mereka mengutus seseorang lalu datang membawa sebagian ari-ari unta dan membuangnya di atas tubuh Nabi. Lalu Fathimah datang dan menyingkirkannya dari beliau. 

Nabi mendoakan, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy! Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy! Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy!” Yaitu kepada Abu Jahl bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, Ubay bin Khalaf, dan ‘Uqbah bin Abu Mu’aith. 

‘Abdullah berkata: Aku sungguh melihat mereka di dalam sumur Badr dalam keadaan terbunuh. 

Abu Ishaq berkata: Aku lupa orang ketujuh. Yusuf bin Ishaq berkata dari Abu Ishaq: Umayyah bin Khalaf. Syu’bah berkata: Umayyah atau Ubay. Yang benar adalah Umayyah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 520

١٠٩ - بَابُ الۡمَرۡأَةِ تَطۡرَحُ عَنِ الۡمُصَلِّي شَيۡئًا مِنَ الۡأَذَى
109. Bab wanita membuang sesuatu yang mengganggu dari orang yang sedang salat


٥٢٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ إِسۡحَاقَ السُّرۡمَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا إِسۡرَائِيلُ، عَنۡ أَبِي إِسۡحَاقَ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ مَيۡمُونٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: بَيۡنَمَا رَسُولُ اللهِ ﷺ قَائِمٌ يُصَلِّي عِنۡدَ الۡكَعۡبَةِ، وَجَمۡعٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ فِي مَجَالِسِهِمۡ، إِذۡ قَالَ قَائِلٌ مِنۡهُمۡ: أَلَا تَنۡظُرُونَ إِلَى هَٰذَا الۡمُرَائِي، أَيُّكُمۡ يَقُومُ إِلَى جَزُورِ آلِ فُلَانٍ، فَيَعۡمِدُ إِلَى فَرۡثِهَا وَدَمِهَا وَسَلَاهَا، فَيَجِيءُ بِهِ، ثُمَّ يُمۡهِلُهُ، حَتَّى إِذَا سَجَدَ، وَضَعَهُ بَيۡنَ كَتِفَيۡهِ؟ فَانۡبَعَثَ أَشۡقَاهُمۡ، فَلَمَّا سَجَدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَضَعَهُ بَيۡنَ كَتِفَيۡهِ، وَثَبَتَ النَّبِيُّ ﷺ سَاجِدًا، فَضَحِكُوا حَتَّى مَالَ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ مِنَ الضَّحِكِ، فَانۡطَلَقَ مُنۡطَلِقٌ إِلَى فَاطِمَةَ عَلَيۡهَا السَّلَامُ، وَهِيَ جُوَيۡرِيَةٌ، فَأَقۡبَلَتۡ تَسۡعَى، وَثَبَتَ النَّبِيُّ ﷺ سَاجِدًا، حَتَّى أَلۡقَتۡهُ عَنۡهُ، وَأَقۡبَلَتۡ عَلَيۡهِمۡ تَسُبُّهُمۡ، 

520. Ahmad bin Ishaq As-Surmari telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Isra`il menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari ‘Amr bin Maimun, dari ‘Abdullah. Beliau berkata: 

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sedang berdiri salat di dekat Kakbah, ada sekumpulan orang Quraisy sedang mengadakan majelis. Tiba-tiba ada salah seorang dari mereka berkata, “Tidakkah kalian melihat orang yang pamer ini? Siapa di antara kalian berani pergi ke unta keluarga Polan, lalu dia ambil tahi, darah, dan ari-arinya, dia bawa lalu dia tunggu sampai orang itu sujud, lalu dia letakkan di antara dua pundaknya?” 

Lalu orang yang paling celaka dari mereka pun beranjak. Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sujud, dia meletakkannya di antara kedua pundaknya. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tetap dalam keadaan sujud. Orang-orang Quraisy itu tertawa terpingkal-pingkal sampai mereka bersenggolan. 

Lalu ada seseorang pergi ke tempat Fathimah—‘alaihas salam—yang waktu itu masih kecil umurnya. Fathimah bergegas datang, sementara Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih tetap dalam keadaan sujud, sampai Fathimah membuang kotoran dari tubuh beliau. Fathimah menghadap ke arah orang-orang Quraisy lalu mencaci mereka. 

فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ﷺ الصَّلَاةَ، قَالَ: (اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ، اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ، اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِقُرَيۡشٍ)، ثُمَّ سَمَّى (اللّٰهُمَّ عَلَيۡكَ بِعَمۡرِو بۡنِ هِشَامٍ، وَعُتۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَشَيۡبَةَ بۡنِ رَبِيعَةَ، وَالۡوَلِيدِ بۡنِ عُتۡبَةَ، وَأُمَيَّةَ بۡنِ خَلَفٍ، وَعُقۡبَةَ بۡنِ أَبِي مُعَيۡطٍ، وَعُمَارَةَ بۡنِ الۡوَلِيدِ). قَالَ عَبۡدُ اللهِ: فَوَاللهِ، لَقَدۡ رَأَيۡتُهُمۡ صَرۡعَى يَوۡمَ بَدۡرٍ، ثُمَّ سُحِبُوا إِلَى الۡقَلِيبِ، قَلِيبِ بَدۡرٍ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (وَأُتۡبِعَ أَصۡحَابُ الۡقَلِيبِ لَعۡنَةً). [طرفه في: ٢٤٠]. 

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—selesai salat, beliau berdoa, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy! Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy! Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir Quraisy!” 

Kemudian beliau menyebut nama, “Ya Allah binasakanlah ‘Amr bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, dan ‘Umarah bin Al-Walid!” 

‘Abdullah berkata: Demi Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan di hari perang Badr kemudian mereka diseret ke sumur Badr. 

Kemudian Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Dan orang-orang yang dimasukkan sumur ini akan diikuti laknat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7495 dan 7496

٧٤٩٥ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ الۡأَعۡرَجَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). [طرفه في: ٢٣٨]. 

7495. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami: Bahwa Al-A’raj menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah: Bahwa beliau mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kita adalah orang-orang yang akhir (di dunia), yang mendahului pada hari kiamat.” 

٧٤٩٦ - وَبِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ: (قَالَ اللهُ: أَنۡفِقۡ أُنۡفِقۡ عَلَيۡكَ). [طرفه في: ٤٦٨٤]. 

7496. Melalui sanad ini pula, “Allah berkata: Berinfaklah! Niscaya Aku akan memberi infak kepadamu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7036 dan 7037

٤٠ - بَابُ النَّفۡخِ فِي الۡمَنَامِ
40. Bab meniup di dalam mimpi


٧٠٣٦ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ الۡحَنۡظَلِيُّ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ قَالَ: هَٰذَا مَا حَدَّثَنَا بِهِ أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ). [طرفه في: ٢٣٨]. 

7036. Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih. Beliau berkata: Ini adalah yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kita adalah orang-orang yang akhir (di dunia), yang mendahului (di hari kiamat).” 

٧٠٣٧ - وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (بَيۡنَا أَنَا نَائِمٌ إِذۡ أُوتِيتُ بِخَزَائِنِ الۡأَرۡضِ، فَوُضِعَ فِي يَدَيَّ سِوَارَانِ مِنۡ ذَهَبٍ، فَكَبُرَا عَلَيَّ وَأَهَمَّانِي، فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنِ انۡفُخۡهُمَا، فَنَفَخۡتُهُمَا فَطَارَا، فَأَوَّلۡتُهُمَا الۡكَذَّابَيۡنِ اللَّذَيۡنِ أَنَا بَيۡنَهُمَا: صَاحِبَ صَنۡعَاءَ، وَصَاحِبَ الۡيَمَامَةِ). [طرفه في: ٣٦٢١]. 

7037. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—juga bersabda, “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba aku diberi perbendaharaan bumi. Dua gelang dari emas diletakkan di kedua tanganku. Keduanya membuatku berat dan sedih. Lalu diwahyukan kepadaku agar aku meniup keduanya. Aku pun meniup keduanya hingga keduanya terbang. Aku menakwilkan keduanya adalah dua orang tukang dusta yang aku berada di antara keduanya. Yaitu si pemimpin Shan’a dan si pemimpin Yamamah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6887 dan 6888

١٥ - بَابُ مَنۡ أَخَذَ حَقَّهُ، أَوِ اقۡتَصَّ دُونَ السُّلۡطَانِ
15. Bab barang siapa mengambil haknya atau melakukan kisas tanpa penguasa


٦٨٨٧ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ الۡأَعۡرَجَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ يَقُولُ: إِنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ). [طرفه في: ٢٣٨]. 

6887. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami: Bahwa Al-A’raj menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah mengatakan: Sesungguhnya beliau mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kita adalah orang-orang yang akhir (di dunia), yang mendahului (di hari kiamat).” 

٦٨٨٨ – وَبِإِسۡنَادِهِ: (لَوِ اطَّلَعَ فِي بَيۡتِكَ أَحَدٌ، وَلَمۡ تَأۡذَنۡ لَهُ، خَذَفۡتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأۡتَ عَيۡنَهُ مَا كَانَ عَلَيۡكَ مِنۡ جُنَاحٍ). [الحديث ٦٨٨٨ – طرفه في: ٦٩٠٢]. 

6888. Juga melalui sanadnya, “Andai ada orang yang melihat-lihat ke dalam rumahmu padahal engkau tidak mengizinkannya, lalu engkau melemparnya dengan kerikil sehingga merusak matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6624

٦٦٢٤ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامِ بۡنِ مُنَبِّهٍ قَالَ: هَٰذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ). [طرفه في: ٢٣٨].

6624. Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Hammam bin Munabbih. Beliau berkata: Ini adalah yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kita adalah orang-orang yang akhir (di dunia), yang mendahului pada hari kiamat.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3486 dan 3487

٣٤٨٦ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ قَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، بَيۡدَ كُلُّ أُمَّةٍ أُوتُوا الۡكِتَابَ مِنۡ قَبۡلِنَا، وَأُوتِينَا مِنۡ بَعۡدِهِمۡ، فَهَٰذَا الۡيَوۡمُ الَّذِي اخۡتَلَفُوا، فَغَدًا لِلۡيَهُودِ وَبَعۡدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى). [طرفه في: ٢٣٨]. 

3486. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Thawus menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kita adalah orang-orang yang terakhir (di dunia), yang pertama di hari kiamat. Akan tetapi setiap umat diberi kitab suci sebelum kita, sedangkan kita (diberi kitab suci) sesudah mereka. Ini (hari Jumat) adalah hari yang mereka perselisihkan. Besok untuk Yahudi dan lusa untuk Nasrani.” 

٣٤٨٧ – (عَلَى كُلِّ مُسۡلِمٍ فِى كُلِّ سَبۡعَةِ أَيَّامٍ يَوۡمٌ يَغۡسِلُ رَأۡسَهُ وَجَسَدَهُ). [طرفه في: ٨٩٨]. 

3487. “Ada satu hari dalam setiap tujuh hari bagi setiap muslim untuk membasuh kepala dan jasadnya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2956 dan 2957

١٠٩ - بَابٌ يُقَاتَلُ مِنۡ وَرَاءِ الۡإِمَامِ وَيُتَّقَى بِهِ
109. Bab berperang “dari belakang” (mendukung) pemimpin dan berlindung dengannya


٢٩٥٦ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ الۡأَعۡرَجَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ). [طرفه في: ٢٣٨]. 

2956. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami bahwa Al-A’raj menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Bahwa beliau mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Kami adalah orang-orang yang terakhir (di dunia) yang pertama (di akhirat).” 

٢٩٥٧ - وَبِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ: (مَنۡ أَطَاعَنِي فَقَدۡ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنۡ عَصَانِي فَقَدۡ عَصَى اللهَ، وَمَنۡ يُطِعِ الۡأَمِيرَ فَقَدۡ أَطَاعَنِي، وَمَنۡ يَعۡصِ الۡأَمِيرَ فَقَدۡ عَصَانِي، وَإِنَّمَا الۡإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنۡ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنۡ أَمَرَ بِتَقۡوَى اللهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذٰلِكَ أَجۡرًا، وَإِنۡ قَالَ بِغَيۡرِهِ فَإِنَّ عَلَيۡهِ مِنۡهُ). [الحديث ٢٩٥٧ – طرفه في: ٧١٣٧]. 

2957. Dengan sanad ini pula, “Siapa saja yang menaatiku, maka dia telah menaati Allah. Siapa saja yang membangkang aku, maka dia telah membangkang Allah. Siapa saja yang menaati pemimpin, maka dia telah menaatiku. Siapa saja yang membangkang pemimpin, maka dia telah membangkang aku. Pemimpin adalah perisai. Rakyat berperang ‘dari belakangnya’ (mendukungnya) dan berlindung dengannya. Jika pemimpin memerintahkan ketakwaan kepada Allah dan berbuat adil, maka dia akan mendapatkan pahala. Jika dia memimpin dengan selain itu, maka dia yang menanggung dosanya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2803

١٠ - بَابُ مَنۡ يُجۡرَحُ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ 
10. Bab barang siapa yang terluka di jalan Allah—‘azza wa jalla 


٢٨٠٣ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (وَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، لَا يُكۡلَمُ أَحَدٌ فِي سَبِيلِ اللهِ وَاللهُ أَعۡلَمُ بِمَنۡ يُكۡلَمُ فِي سَبِيلِهِ إِلَّا جَاءَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَاللَّوۡنُ لَوۡنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الۡمِسۡكِ). [طرفه في: ٢٣٧]. 

2803. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun terluka di jalan Allah—dan Allah paling tahu siapa yang terluka di jalan-Nya—kecuali dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan (darah keluar dari lukanya), warnanya warna darah, namun aromanya wangi kesturi.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5538, 5539, dan 5540

٣٤ - بَابٌ إِذَا وَقَعَتِ الۡفَأۡرَةُ فِي السَّمۡنِ الۡجَامِدِ أَوِ الذَّائِبِ
34. Bab apabila tikus jatuh ke dalam minyak samin padat atau cair


٥٥٣٨ - حَدَّثَنَا الۡحُمَيۡدِيُّ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُهُ: عَنۡ مَيۡمُونَةَ: أَنَّ فَأۡرَةً وَقَعَتۡ فِي سَمۡنٍ فَمَاتَتۡ، فَسُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنۡهَا فَقَالَ: (أَلۡقُوهَا وَمَا حَوۡلَهَا وَكُلُوهُ). قِيلَ لِسُفۡيَانَ: فَإِنَّ مَعۡمَرًا يُحَدِّثُهُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ الۡمُسَيَّبِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؟ قَالَ: مَا سَمِعۡتُ الزُّهۡرِيَّ يَقُولُ إِلَّا عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ مَيۡمُونَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ وَلَقَدۡ سَمِعۡتُهُ مِنۡهُ مِرَارًا. [طرفه في: ٢٣٥]. 

5538. Al-Humaidi telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadaku: Bahwa beliau mendengar Ibnu ‘Abbas menceritakan kepadanya dari Maimunah: 

Bahwa ada seekor tikus jatuh ke dalam minyak samin lalu mati. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya perihal itu. Lantas beliau bersabda, “Buanglah tikus itu dan yang ada di sekitarnya, lalu silakan konsumsi minyak samin itu.” 

Ada yang berkata kepada Sufyan: Sesungguhnya Ma’mar menceritakan kepadanya dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah. 

Sufyan berkata: Aku tidak mendengar Az-Zuhri mengatakan kecuali dari ‘Ubaidullah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Maimunah, dari Nabi—shallalahu ‘alaihi wa sallam—; Sungguh aku mendengar darinya berkali-kali. 

٥٥٣٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ عَنۡ يُونُسَ عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنِ الدَّابَّةِ تَمُوتُ فِي الزَّيۡتِ وَالسَّمۡنِ، وَهُوَ جَامِدٌ أَوۡ غَيۡرُ جَامِدٍ، الۡفَأۡرَةِ أَوۡ غَيۡرِهَا، قَالَ: بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَ بِفَأۡرَةٍ مَاتَتۡ فِي سَمۡنٍ، فَأَمَرَ بِمَا قَرُبَ مِنۡهَا فَطُرِحَ، ثُمَّ أُكِلَ. عَنۡ حَدِيثِ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ. [طرفه في: ٢٣٥]. 

5539. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami dari Yunus, dari Az-Zuhri, tentang binatang yang mati di dalam minyak zaitun dan samin, baik minyak itu berbentuk padat atau cair, baik berupa tikus atau selainnya. Az-Zuhri berkata: Hadis yang sampai kepada kami bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan membuang seekor tikus yang mati di dalam minyak samin dan yang ada di dekatnya. Setelah itu minyak samin itu bisa dikonsumsi. Riwayat ini dari hadis ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah. 

٥٥٤٠ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، عَنۡ مَيۡمُونَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ قَالَتۡ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنۡ فَأۡرَةٍ سَقَطَتۡ فِي سَمۡنٍ، فَقَالَ: (أَلۡقُوهَا وَمَا حَوۡلَهَا وَكُلُوهُ). [طرفه في: ٢٣٥]. 

5540. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Maimunah—radhiyallahu ‘anhum—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang seekor tikus yang jatuh ke dalam minyak samin. Beliau menjawab, “Buanglah tikus itu dan yang ada di sekitarnya. Lalu silakan manfaatkan minyak samin itu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2779

٣٥ - بَابٌ إِذَا قَالَ الۡوَاقِفُ: لَا نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ، فَهُوَ جَائِزٌ
35. Bab apabila wakif berkata: Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah; maka ini boleh


٢٧٧٩ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمۡ). قَالُوا: لَا نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ. [طرفه في: ٢٣٤]. 

2779. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai bani An-Najjar, tentukan harga kebun kalian untukku!” 

Mereka berkata, “Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2774

٣١ - بَابُ وَقۡفِ الۡأَرۡضِ لِلۡمَسۡجِدِ
31. Bab wakaf tanah untuk masjid


٢٧٧٤ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الصَّمَدِ قَالَ: سَمِعۡتُ أَبِي: حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الۡمَدِينَةَ أَمَرَ بِالۡمَسۡجِدِ، وَقَالَ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمۡ هَٰذَا). قَالُوا: لَا وَاللهِ، لَا نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ. [طرفه في: ٢٣٤].

2774. Ishaq telah menceritakan kepada kami: ‘Abdush Shamad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar ayahku: Abu At-Tayyah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—menceritakan kepadaku: 

Ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, beliau memerintahkan membangun masjid. Beliau bersabda, “Wahai bani An-Najjar, tentukan harga kebun kalian ini untukku!” 

Mereka menyahut, “Tidak, demi Allah, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2771

٢٨ - بَابٌ إِذَا أَوۡقَفَ جَمَاعَةٌ أَرۡضًا مُشَاعًا فَهُوَ جَائِزٌ
28. Bab apabila sekelompok orang mewakafkan tanah milik bersama, maka ini diperbolehkan


٢٧٧١ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِبِنَاءِ الۡمَسۡجِدِ، فَقَالَ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمۡ هَٰذَا). قَالُوا: لَا وَاللهِ، لَا نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ. [طرفه في: ٢٣٤].

2771. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan membangun masjid. Beliau bersabda, “Wahai bani An-Najjar, tentukan harga kebun kalian ini!” 

Mereka berkata, “Tidak, demi Allah. Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 2106

٤١ - بَابٌ صَاحِبُ السِّلۡعَةِ أَحَقُّ بِالسَّوۡمِ
41. Bab pemilik dagangan lebih berhak menentukan harga


٢١٠٦ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمۡ). وَفِيهِ خِرَبٌ وَنَخۡلٌ. [طرفه في: ٢٣٤].

2106. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai bani An-Najjar, tentukan harga kebun kalian ini untukku!” Di dalam kebun itu ada puing-puing dan pohon-pohon kurma.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1868

١٨٦٨ - حَدَّثَنَا أَبُو مَعۡمَرٍ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمَدِينَةَ، فَأَمَرَ بِبِنَاءِ الۡمَسۡجِدِ، فَقَالَ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي). فَقَالُوا: لَا نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ، فَأَمَرَ بِقُبُورِ الۡمُشۡرِكِينَ فَنُبِشَتۡ، ثُمَّ بِالۡخِرَبِ فَسُوِّيَتۡ، وَبِالنَّخۡلِ فَقُطِعَ، فَصَفُّوا النَّخۡلَ قِبۡلَةَ الۡمَسۡجِدِ. [طرفه في: ٢٣٤].

1868. Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah. Beliau memerintahkan agar membangun masjid. Beliau bersabda, “Wahai bani An-Najjar, tentukan harga (kebun ini) untukku!” 

Mereka menyahut, “Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.” 

Lalu Nabi memerintahkan agar kuburan orang-orang musyrik di situ dibongkar, puing-puingnya diratakan, dan pohon-pohon kurmanya ditebang. Kemudian mereka menjajarkan pohon kurma yang ditebang itu di kiblat masjid.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 429

٤٩ - بَابُ الصَّلَاةِ فِي مَرَابِضِ الۡغَنَمِ
49. Bab salat di kandang kambing


٤٢٩ - حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ حَرۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الۡغَنَمِ، ثُمَّ سَمِعۡتُهُ بَعۡدُ يَقُولُ: كَانَ يُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الۡغَنَمِ، قَبۡلَ أَنۡ يُبۡنَى الۡمَسۡجِدُ. [طرفه في: ٢٣٤].

429. Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah, dari Anas. Beliau mengatakan: Dahulu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah salat di kandang kambing. 

Kemudian aku (Abu At-Tayyah) mendengar Anas setelah itu mengucapkan: Dahulu, beliau salat di kandang kambing sebelum masjid dibangun.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 428

٤٢٨ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَارِثِ، عَنۡ أَبِي التَّيَّاحِ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الۡمَدِينَةَ، فَنَزَلَ أَعۡلَى الۡمَدِينَةِ فِي حَىٍّ يُقَالُ لَهُمۡ: بَنُو عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفٍ، فَأَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ فِيهِمۡ أَرۡبَعَ عَشۡرَةَ لَيۡلَةً، ثُمَّ أَرۡسَلَ إِلَى بَنِي النَّجَّارِ، فَجَاؤُا مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، كَأَنِّي أَنۡظُرُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ عَلَى رَاحِلَتِهِ، وَأَبُو بَكۡرٍ رِدۡفُهُ، وَمَلَأُ بَنِي النَّجَّارِ حَوۡلَهُ، حَتَّى أَلۡقَى بِفِنَاءِ أَبِي أَيُّوبَ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنۡ يُصَلِّيَ حَيۡثُ أَدۡرَكَتۡهُ الصَّلَاةُ، وَيُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الۡغَنَمِ، وَأَنَّهُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الۡمَسۡجِدِ، فَأَرۡسَلَ إِلَى مَلَإٍ مِنۡ بَنِي النَّجَّارِ، فَقَالَ: (يَا بَنِي النَّجَّارِ، ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمۡ هَٰذَا). قَالُوا: لَا وَاللهِ، لاَ نَطۡلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللهِ، 

428. Musaddad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami dari Abu At-Tayyah, dari Anas. Beliau berkata: 

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah. Beliau singgah di dataran tertinggi di Madinah, di sebuah kabilah yang disebut bani ‘Amr bin ‘Auf. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tinggal bersama mereka selama empat belas malam. Kemudian beliau mengirim utusan kepada bani An-Najjar. Lalu mereka datang sembari menyandang pedang-pedang. Aku masih terbayang Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di atas tunggangannya, Abu Bakr membonceng beliau, dan pemuka bani An-Najjar di sekitar beliau. 

Sampai ketika beliau menjumpai halaman rumah Abu Ayyub. Nabi suka untuk salat di mana saja ketika waktu salat masuk. Beliau salat di kandang kambing. Nabi memerintahkan untuk membangun masjid. Beliau mengirim utusan kepada pemuka bani An-Najjar. 

Nabi bersabda, “Wahai bani An-Najjar, sebutkan harga kebun kalian ini!” 

Mereka berkata, “Tidak, demi Allah. Kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allah.” 

فَقَالَ أَنَسٌ: فَكَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ لَكُمۡ، قُبُورُ الۡمُشۡرِكِينَ، وَفِيهِ خَرِبٌ، وَفِيهِ نَخۡلٌ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِقُبُورِ الۡمُشۡرِكِينَ فَنُبِشَتۡ، ثُمَّ بِالۡخَرِبِ فَسُوِّيَتۡ، وَبِالنَّخۡلِ فَقُطِعَ، فَصَفُّوا النَّخۡلَ قِبۡلَةَ الۡمَسۡجِدِ، وَجَعَلُوا عِضَادَتَيۡهِ الۡحِجَارَةَ، وَجَعَلُوا يَنۡقُلُونَ الصَّخۡرَ وَهُمۡ يَرۡتَجِزُونَ، وَالنَّبِيُّ ﷺ مَعَهُمۡ، وَهُوَ يَقُولُ: 

(اللّٰهُمَّ لَا خَيۡرَ إِلَّا خَيۡرُ الۡآخِرَهۡ فَاغۡفِرۡ لِلۡأَنۡصَارِ وَالۡمُهَاجِرَهۡ) 

[طرفه في: ٢٣٤]. 

Anas berkata: Dahulu, di kebun itu ada yang aku katakan kepada kalian, berupa kuburan orang-orang musyrik, reruntuhan bangunan, dan pohon-pohon kurma. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerintahkan agar kuburan orang-orang musyrik digali dan dikeluarkan isinya, reruntuhan bangunannya diratakan, dan pohon-pohon kurmanya ditebang. Lalu mereka menjajarkan pohon-pohon yang ditebang itu di arah kiblat masjid. Mereka menjadikan batu sebagai tiang kosennya. Mereka memindahkan batu sembari bersajak dalam keadaan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersama mereka. 

Mereka mengatakan, “Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat. Ampunilah kaum ansar dan muhajirin!”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 243

٧٦ - بَابُ غَسۡلِ الۡمَرۡأَةِ أَبَاهَا الدَّمَ عَنۡ وَجۡهِهِ
76. Bab seorang wanita membasuh darah dari wajah ayahnya


وَقَالَ أَبُو الۡعَالِيَةِ: امۡسَحُوا عَلَى رِجۡلِي فَإِنَّهَا مَرِيضَةٌ. 

Abu Al-‘Aliyah berkata: Usapkan di atas kakiku karena kakiku sakit. 

٢٤٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخۡبَرَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ: سَمِعَ سَهۡلَ بۡنَ سَعۡدٍ السَّاعِدِيَّ، وَسَأَلَهُ النَّاسُ، وَمَا بَيۡنِي وَبَيۡنَهُ أَحَدٌ: بِأَىِّ شَىۡءٍ دُووِيَ جُرۡحُ النَّبِيِّ ﷺ؟ فَقَالَ: مَا بَقِيَ أَحَدٌ أَعۡلَمُ بِهِ مِنِّي، كَانَ عَلِيٌّ يَجِيءُ بِتُرۡسِهِ فِيهِ مَاءٌ، وَفَاطِمَةُ تَغۡسِلُ عَنۡ وَجۡهِهِ الدَّمَ، فَأُخِذَ حَصِيرٌ فَأُحۡرِقَ، فَحُشِيَ بِهِ جُرۡحُهُ. [الحديث ٢٤٣ – أطرافه في: ٢٩٠٣، ٢٩١١، ٣٠٣٧، ٤٠٧٥، ٥٢٤٨، ٥٧٢٢]. 

243. Muhammad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari Abu Hazim: Beliau mendengar Sahl bin Sa’d As-Sa’idi ketika beliau ditanya oleh orang-orang sementara antara aku dengan beliau tidak ada seorang pun, “Dengan apa luka Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diobati?” 

Sahl menjawab, “Tidak tersisa seorang pun yang lebih mengetahuinya daripada aku. Dahulu, ‘Ali datang membawa sebuah perisai berisi air, sementara Fathimah membasuh darah dari wajah beliau. Lalu, selembar tikar diambil, dibakar, kemudian ditempelkan ke luka beliau.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6803

٢ - بَابٌ لَمۡ يَحۡسِمِ النَّبِيُّ ﷺ الۡمُحَارِبِينَ مِنۡ أَهۡلِ الرِّدَّةِ حَتَّى هَلَكُوا
2. Bab Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak menghentikan pendarahan orang-orang yang memerangi dari kalangan orang yang murtad sampai mereka binasa


٦٨٠٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الصَّلۡتِ أَبُو يَعۡلَى: حَدَّثَنَا الۡوَلِيدُ: حَدَّثَنِي الۡأَوۡزَاعِيُّ، عَنۡ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِي قِلَابَةَ، عَنۡ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَطَعَ الۡعُرَنِيِّينَ وَلَمۡ يَحۡسِمۡهُمۡ حَتَّى مَاتُوا. [طرفه في: ٢٣٣]. 

6803. Muhammad bin Ash-Shalt Abu Ya’la telah menceritakan kepada kami: Al-Walid menceritakan kepada kami: Al-Auza’i menceritakan kepadaku dari Yahya, dari Abu Qilabah, dari Anas: Bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memotong (anggota tubuh) orang-orang dari ‘Urainah dan tidak menghentikan pendarahan mereka sampai mereka mati.