Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7056

٧٠٥٦ - فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيۡنَا أَنۡ بَايَعَنَا عَلَى السَّمۡعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنۡشَطِنَا وَمَكۡرَهِنَا، وَعُسۡرِنَا وَيُسۡرِنَا، وَأُثۡرَةٍ عَلَيۡنَا، وَأَنۡ لَا نُنَازِعَ الۡأَمۡرَ أَهۡلَهُ، إِلَّا أَنۡ تَرَوۡا كُفۡرًا بَوَاحًا، عِنۡدَكُمۡ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرۡهَانٌ. [الحديث ٧٠٥٦ – طرفه في: ٧٢٠٠]. 

7056. Beliau berkata dalam isi baiat yang beliau ambil atas kami adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat baik ketika semangat maupun ketika tidak suka, ketika susah dan mudah, mengutamakan beliau di atas kami, dan agar kami tidak melepaskan urusan kekuasaan dari pemiliknya kecuali apabila kalian melihat kekufuran yang jelas, yang kalian memiliki buktinya dari Allah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 896 dan 897

٨٩٦ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ طَاوُسٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، أُوتُوا الۡكِتَابَ مِنۡ قَبۡلِنَا، وَأُوتِينَاهُ مِنۡ بَعۡدِهِمۡ، فَهَٰذَا الۡيَوۡمُ الَّذِي اخۡتَلَفُوا فِيهِ، فَهَدَانَا اللهُ، فَغَدًا لِلۡيَهُودِ، وَبَعۡدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى). فَسَكَتَ‏.‏ 

896. Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Wuhaib menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Thawus menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kita adalah orang-orang yang akhir, namun mendahului pada hari kiamat. Mereka diberi kitab sebelum kita dan kita diberi kitab setelah mereka. (Jumat) ini adalah hari yang mereka berselisih padanya, lalu Allah memberi petunjuk kepada kita, sehingga hari esok untuk Yahudi dan lusa untuk Nasrani.” Lalu beliau diam. 

٨٩٧ - ثُمَّ قَالَ: (حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسۡلِمٍ أَنۡ يَغۡتَسِلَ فِي كُلِّ سَبۡعَةِ أَيَّامٍ يَوۡمًا، يَغۡسِلُ فِيهِ رَأۡسَهُ وَجَسَدَهُ). [الحديث ٨٩٧ – طرفاه في: ٨٩٨، ٣٤٨٧]. 

897. Kemudian beliau bersabda, “Wajib atas setiap muslim untuk mandi di satu hari pada setiap tujuh hari sehingga dia membasuh kepala dan badannya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 876

١ – بَابُ فَرۡضِ الۡجُمُعَةِ 
1. Bab kewajiban salat Jumat 


لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَو‌ٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡا۟ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلۡبَيۡعَ ۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٌ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ﴾ [الجمعة: ٩]. 

Berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Apabila diseru untuk salat di hari Jumat, maka bersegeralah menuju zikir kepada Allah dan tinggalkan jual beli. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9). 

٨٧٦ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ هُرۡمُزَ الۡأَعۡرَجَ مَوۡلَى رَبِيعَةَ بۡنِ الۡحَارِثِ، حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، بَيۡدَ أَنَّهُمۡ أُوتُوا الۡكِتَابَ مِنۡ قَبۡلِنَا، ثُمَّ هَٰذَا يَوۡمُهُمُ الَّذِي فُرِضَ عَلَيۡهِمۡ فَاخۡتَلَفُوا فِيهِ، فَهَدَانَا اللهُ، فَالنَّاسُ لَنَا فِيهِ تَبَعٌ: الۡيَهُودُ غَدًا وَالنَّصَارَى بَعۡدَ غَدٍ). [طرفه في: ٢٣٨]. 

876. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Az-Zinad menceritakan kepada kami: Bahwa ‘Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj maula Rabi’ah bin Al-Harits menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia), namun paling mendahului di hari kiamat. Hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian hari (Jumat) ini adalah hari yang diwajibkan kepada mereka (untuk diagungkan), namun mereka berselisih padanya. Lalu Allah memberi petunjuk kepada kita. Maka orang-orang itu mengikuti kita: Yahudi besok sedangkan Nasrani lusa.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 238

٧٢ - بَابُ الۡمَاءِ الدَّائِمِ 
72. Bab air yang tidak mengalir 


٢٣٨ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ قَالَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ هُرۡمُزَ الۡأَعۡرَجَ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيۡرَةَ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (نَحۡنُ الۡآخِرُونَ السَّابِقُونَ). 

[الحديث ٢٣٨ – أطرافه في: ٨٧٦، ٨٩٦، ٢٩٥٦، ٣٤٨٦، ٦٦٢٤، ٦٨٨٧، ٧٠٣٦، ٧٤٩٥]. 

238. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami bahwa ‘Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Abu Hurairah: Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) namun paling mendahului (pada hari kiamat).”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6541 dan 6542

٥٠ – بَابٌ يَدۡخُلُ الۡجَنَّةَ سَبۡعُونَ أَلۡفًا بِغَيۡرِ حِسَابٍ 
50. Bab tujuh puluh orang akan masuk janah tanpa hisab 


٦٥٤١ - حَدَّثَنَا عِمۡرَانُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ: حَدَّثَنَا حُصَيۡنٌ (ح). وَحَدَّثَنِي أَسِيدُ بۡنُ زَيۡدٍ: حَدَّثَنَا هُشَيۡمٌ، عَنۡ حُصَيۡنٍ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ سَعِيدِ بۡنِ جُبَيۡرٍ فَقَالَ: حَدَّثَنِي ابۡنُ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (عُرِضَتۡ عَلَىَّ الۡأُمَمُ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ النَّفَرُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الۡخَمۡسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحۡدَهُ، فَنَظَرۡتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلۡتُ: يَا جِبۡرِيلُ، هَٰؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنِ انۡظُرۡ إِلَى الۡأُفُقِ، فَنَظَرۡتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَٰؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَٰؤُلَاءِ سَبۡعُونَ أَلۡفًا قُدَّامَهُمۡ لَا حِسَابَ عَلَيۡهِمۡ وَلَا عَذَابَ، قُلۡتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكۡتَوُونَ، وَلَا يَسۡتَرۡقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ). فَقَامَ إِلَيۡهِ عُكَّاشَةُ بۡنُ مِحۡصَنٍ فَقَالَ: ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡهُ مِنۡهُمۡ). ثُمَّ قَامَ إِلَيۡهِ رَجُلٌ آخَرُ قَالَ: ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ). [طرفه في: ٣٤١٠]. 

6541. ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami: Hushain menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Asid bin Zaid telah menceritakan kepadaku: Husyaim menceritakan kepada kami dari Hushain. Beliau berkata: Aku pernah berada di dekat Sa’id bin Jubair. Beliau berkata: Ibnu ‘Abbas menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

Umat-umat diperlihatkan kepadaku. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada banyak pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada beberapa pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada sepuluh pengikut. Ada nabi yang berlalu, bersamanya ada lima pengikut. Ada nabi yang berlalu sendirian. 

Lalu aku melihat ada kerumunan orang banyak. Aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah mereka ini umatku?” 

Jibril menjawab, “Tidak, akan tetapi lihatlah ke ufuk.” 

Aku pun melihat ternyata ada kerumunan banyak orang. 

Jibril berkata, “Mereka ini adalah umatmu dan mereka ini ada tujuh puluh ribu orang di depan mereka yang tidak dihisab dan tidak diazab.” 

Aku bertanya, “Mengapa?” 

Jibril menjawab, “Mereka tidak melakukan kay (pengobatan dengan menempelkan besi panas), tidak minta di-ruqyah, tidak melakukan tathayyur (menganggap sial dengan sesuatu yang dilihat, didengar, atau lainnya), dan mereka bertawakal hanya kepada Rabb mereka.” 

‘Ukkasyah bin Mihshan bangkit menghadap beliau seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka.” 

Nabi berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk mereka.” 

Kemudian ada seorang pria lain yang bangkit menghadap beliau seraya berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk mereka.” 

Nabi bersabda, “’Ukkasyah telah mendahuluimu.” 

٦٥٤٢ - حَدَّثَنَا مُعَاذُ بۡنُ أَسَدٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بۡنُ الۡمُسَيَّبِ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ حَدَّثَهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (يَدۡخُلُ مِنۡ أُمَّتِي زُمۡرَةٌ هُمۡ سَبۡعُونَ أَلۡفًا، تُضِيءُ وُجُوهُهُمۡ إِضَاءَةَ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ). وَقَالَ أَبُو هُرَيۡرَةَ: فَقَامَ عُكَّاشَةُ بۡنُ مِحۡصَنٍ الۡأَسَدِيُّ يَرۡفَعُ نَمِرَةً عَلَيۡهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، قَالَ: (اللّٰهُمَّ اجۡعَلۡهُ مِنۡهُمۡ). ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِي مِنۡهُمۡ، فَقَالَ: (سَبَقَكَ عُكَّاشَةُ). [طرفه في: ٥٨١١]. 

6542. Mu’adz bin Asad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: Yunus mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Sa’id bin Al-Musayyab menceritakan kepadaku bahwa Abu Hurairah menceritakan kepadanya. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk (janah) serombongan orang dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan di malam purnama.” 

Abu Hurairah mengatakan: ‘Ukkasyah bin Mihshan Al-Asadi bangkit seraya mengangkat pakaian namirah (pakaian dari wol yang bermotif garis berwarna putih, hitam, dan merah) yang dia kenakan sembari berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk mereka.” 

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk mereka.” 

Kemudian ada seorang pria Ansar bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan aku termasuk mereka.” 

Rasulullah bersabda, “’Ukkasyah telah mendahuluimu.”

Syafaat

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitab Lum'at Al-I'tiqad berkata:

وَيَشۡفَعُ نَبِيُّنَا ﷺ فِيمَنۡ دَخَلَ النَّارَ مِنۡ أُمَّتِهِ مِنۡ أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ فَيَخۡرُجُونَ بِشَفَاعَتِهِ بَعۡدَ مَا احۡتَرَقُوا وَصَارُوا فَحۡمًا وَحُمَمًا، فَيَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ بِشَفَاعَتِهِ. 

وَلِسَائِرِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمَلَائِكَةِ شَفَاعَاتٌ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ﴾ [الأنبياء: ٢٨]. 

وَلَا تَنۡفَعُ الۡكَافِرَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ. 

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka di antara umatnya dari kalangan para pelaku dosa besar sehingga mereka keluar dengan sebab syafaat beliau setelah mereka dibakar dan menjadi arang. Maka mereka pun masuk janah dengan sebab syafaat beliau. 

Begitu pula seluruh para nabi, kaum mukminin, dan para malaikat bisa memberi syafaat. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya`: 28). 

Namun syafaat dari para pemberi syafaat tidak bermanfaat bagi orang kafir.[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:

[1] الشَّفَاعَةُ: 

الشَّفَاعَةُ لُغَةً: جَعۡلُ الۡوِتۡرِ شَفۡعًا. 

وَاصۡطِلَاحًا: التَّوَسُّطُ لِلۡغَيۡرِ بِجَلۡبِ مَنۡفَعَةٍ أَوۡ دَفۡعِ مَضَرَّةٍ. 

وَالشَّفَاعَةُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ نَوۡعَانِ: خَاصَّةٌ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَعَامَّةٌ لَهُ وَلِغَيۡرِهِ. 

Syafaat


Syafaat secara bahasa adalah membuat yang ganjil menjadi genap. Secara istilah artinya adalah mengantarai yang lain untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak suatu mudarat. 

Syafaat pada hari kiamat ada dua jenis, yaitu yang khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umum bagi beliau dan selain beliau. 

فَالۡخَاصَّةُ بِهِ ﷺ: شَفَاعَةُ الۡعُظۡمَى فِي أَهۡلِ الۡمَوۡقِفِ عِنۡدَ اللهِ لِيُقۡضَى بَيۡنَهُمۡ حِينَ يَلۡحَقُهُمۡ مِنَ الۡكَرۡبِ وَالۡغَمِّ مَا لَا يُطِيقُونَ، فَيَذۡهَبُونَ إِلَى آدَمَ فَنُوحٍ فَإِبۡرَاهِيمَ فَمُوسَى فَعِيسَى وَكُلُّهُمۡ يَعۡتَذِرُونَ، فَيَأۡتُونَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَيَشۡفَعُ فِيهِمۡ إِلَى اللهِ، فَيَأۡتِي سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لِلۡقَضَاءِ بَيۡنَ عِبَادِهِ. 

Syafaat khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat al-‘uzhma (teragung) terhadap orang-orang di maukif (padang mahsyar) di sisi Allah agar perkara di antara mereka diputuskan ketika mereka tertimpa kepayahan dan kesulitan yang sudah tidak bisa mereka tanggung. Mereka pergi kepada Adam, lalu Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa. Namun mereka semua uzur. Maka orang-orang pun datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun mengajukan syafaat bagi mereka kepada Allah. Lalu Allah subhanahu wa taala datang untuk memberi keputusan di antara para hamba-Nya. 

وَقَدۡ ذُكِرَتۡ هَٰذِهِ الصِّفَةُ فِي حَدِيثِ الصُّورِ الۡمَشۡهُورِ، لَكِنۡ سَنَدُهُ ضَعِيفٌ مَتُكَلَّمٌ فِيهِ، وَحُذِفَتۡ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فَاقَتۡصَرَ مِنۡهَا عَلَى ذِكۡرِ الشَّفَاعَةِ فِي أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ. 

قَالَ ابۡنُ كَثِيرٍ وَشَارِحُ الطَّحَاوِيَّةِ: وَكَانَ مَقۡصُودُ السَّلَفِ مِنَ الۡاقۡتِصَارِ عَلَى الشَّفَاعَةِ فِي أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ هُوَ الرَّدُّ عَلَى الۡخَوَارِجِ وَمَنۡ تَابَعَهُمۡ مِنَ الۡمُعۡتَزِلَةِ. 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ لَا يُنۡكِرُهَا الۡمُعۡتَزِلَةُ وَالۡخَوَارِجُ، وَيُشۡتَرَطُ فِيهَا إِذۡنُ اللهِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]. 

Sifat syafaat al-‘uzhma ini disebutkan di dalam hadis sangkakala yang masyhur namun sanadnya daif yang ada pembicaraan padanya. Adapun hadis-hadis yang sahih tidak disebutkan di sini. Penulis mencukupkan dengan menyebutkan syafaat untuk pelaku dosa-dosa besar. 

Ibnu Katsir dan pensyarah kitab Ath-Thahawiyyah berkata: Maksud ulama salaf dari mencukupkan hanya menyebutkan syafaat untuk pelaku dosa besar sebagai bantahan terhadap Khawarij dan yang mengikuti mereka dari kalangan Mu’tazilah. 

Adapun syafaat al-‘uzhma tidak diingkari oleh kelompok Mu’tazilah dan Khawarij. Syafaat ini dipersyaratkan adanya izin Allah, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255). 

النَّوۡعُ الثَّانِي: الۡعَامَّةُ: وَهِيَ الشَّفَاعَةُ فِيمَنۡ دَخَلَ النَّارَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ أَهۡلِ الۡكَبَائِرِ أَنۡ يَخۡرُجُوا مِنۡهَا بَعۡدَمَا احۡتَرَقُوا وَصَارُوا فَحۡمًا وَحُمَمًا. لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (أَمَّا أَهۡلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمۡ أَهۡلُهَا فَلَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحۡيَوۡنَ وَلَكِنۡ أُنَاسٌ – أَوۡ كَمَا قَالَ – تُصِيبُهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمۡ – أَوۡ قَالَ بِخَطَايَاهُمۡ – فَيُمِيتُهُمۡ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا صَارُوا فَحۡمًا أُذِنَ فِي الشَّفَاعَةِ..) الۡحَدِيثُ رَوَاهُ أَحۡمَدُ. 

Jenis kedua adalah syafaat yang umum. Yaitu syafaat bagi siapa saja yang telah masuk neraka dari kalangan kaum mukminin pelaku dosa-dosa besar sehingga bisa keluar darinya setelah mereka dibakar dan menjadi arang. Berdasarkan hadis Abu Sa’id. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun penghuni neraka yang mereka tinggal di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak pula hidup. Tetapi ada orang-orang yang masuk ke dalam neraka karena dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan mereka. Allah akan mematikan mereka sehingga ketika mereka telah menjadi arang, Allah izinkan mendapat syafaat…” (HR. Ahmad). 

قَالَ ابۡنُ كَثِيرٍ فِي النِّهَايَةِ (٢/٢٠٤): وَهَٰذَا إِسۡنَادٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرۡطِ الشَّيۡخَيۡنِ وَلَمۡ يُخۡرِجَاهُ مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ تَكُونَ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَغَيۡرِهِ مِنَ الۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡمَلَائِكَةِ وَالۡمُؤۡمِنِينَ لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَفِيهِ: (فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى شَفَعَتِ الۡمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الۡمُؤۡمِنُونَ وَلَمۡ يَبۡقَ إِلَّا أَرۡحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقۡبِضُ قَبۡضَةً مِنَ النَّارِ فَيَخۡرُجُ مِنۡهَا قَوۡمًا لَمۡ يَعۡمَلُوا خَيۡرًا قَطُّ قَدۡ عَادُوا حُمَمًا). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ. 

Ibnu Katsir di dalam kitab An-Nihayah (2/204) berkata, “Hadis ini sanadnya sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya dari jalur ini.” 

Syafaat ini bisa dimiliki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau dari kalangan para nabi, malaikat, dan kaum mukminin berdasarkan hadis Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya disebutkan, “Allah taala berkata: Para malaikat telah memberi syafaat, para nabi telah memberi syafaat, kaum mukminin telah memberi syafaat. Tidak ada yang tersisa, kecuali syafaat Allah yang Maha Penyayang. Lalu Allah menggenggam satu genggaman dari neraka, sehingga keluar darinya suatu kaum yang belum beramal satu kebaikan sama sekali dalam keadaan mereka telah menjadi arang.” (HR. Al-Bukhari nomor 7439 dan Muslim nomor 183). 

وَهَٰذِهِ الشَّفَاعَةُ يُنۡكِرُهَا الۡمُعۡتَزِلَةُ وَالۡخَوَارِجُ بِنَاءً عَلَى مَذۡهَبِهِمۡ: أَنَّ فَاعِلَ الۡكَبِيرَةِ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ فَلَا تَنۡفَعُهُ الشَّفَاعَةُ. 

وَنَرُدُّ عَلَيۡهِمۡ بِمَا يَأۡتِي: 

١ – أَنَّ ذٰلِكَ مُخَالِفٌ لِلۡمُتَوَاتِرِ مِنَ الۡأَحَادِيثِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. 

٢ – أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِإِجۡمَاعِ السَّلَفِ. 

Syafaat ini diingkari oleh Mu’tazilah dan Khawarij berdasarkan mazhab mereka bahwa pelaku dosa besar dikekalkan di dalam neraka, sehingga syafaat tidak bermanfaat untuknya. 

Kita membantah mereka dengan alasan berikut: 
  1. Bahwa hal itu menyelisihi hadis yang mutawatir (banyak jalan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hal itu menyelisihi ijmak ulama salaf. 

وَيُشۡتَرَطُ لِهَٰذِهِ الشَّفَاعَةِ شَرۡطَانِ: 

الۡأَوَّلُ: إِذۡنُ اللهِ فِي الشَّفَاعَةِ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [البقرة: ٢٥٥]. 

الثَّانِي: رِضَا اللهِ عَنِ الشَّافِعِ وَالۡمَشۡفُوعِ لَهُ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارۡتَضَىٰ﴾ [الأنبياء: ٢٨]، فَأَمَّا الۡكَافِرُ فَلَا شَفَاعَةَ لَهُ لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَمَا تَنۡفَعُهُمۡ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ﴾ [المدثر: ٤٨] أَيۡ: لَوۡ فُرِضَ أَنَّ أَحَدًا شَفَعَ لَهُمۡ لَمۡ تَنۡفَعۡهُمُ الشَّفَاعَةُ. 

Dua syarat disyaratkan untuk syafaat ini: 
  1. Izin Allah terhadap syafaat tersebut, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255). 
  2. Keridaan Allah terhadap pemberi syafaat dan yang disyafaati, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Mereka tidak dapat memberi syafaat kecuali kepada siapa saja yang telah Allah ridai.” (QS. Al-Anbiya`: 28). Adapun orang kafir, maka tidak ada syafaat untuknya, berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Maka tidak ada syafaat dari pemberi syafaat yang bermanfaat untuk mereka.” (QS. Al-Muddatstsir: 48). Yaitu andai ditetapkan ada seseorang yang memberi syafaat untuk mereka, niscaya syafaat itu tidak dapat memberi manfaat untuk mereka. 

وَأَمَّا شَفَاعَةُ النَّبِيِّ ﷺ لِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ حَتَّى كَانَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ وَعَلَيۡهِ نَعۡلَانِ يُغۡلَى مِنۡهُمَا دِمَاغُهُ وَإِنَّهُ لَأَهۡوَنُ أَهۡلِ النَّارِ عَذَابًا. 

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (وَلَوۡ لَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرۡكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ. 

فَهَٰذَا خَاصٌّ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَبِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ فَقَطۡ وَذٰلِكَ وَاللهُ أَعۡلَمُ لِمَا قَامَ بِهِ مِنۡ نُصۡرَةِ النَّبِيِّ ﷺ وَالدِّفَاعِ عَنۡهُ، وَعَمَّا جَاءَ بِهِ. 

Adapun syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya, yaitu Abu Thalib, hingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, memakai sepasang sandal yang membuat otaknya mendidih, dan dia merupakan penduduk neraka yang paling ringan azabnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai bukan karenaku, niscaya dia berada di kerak neraka paling bawah.” (HR. Al-Bukhari nomor 3883, 6208, dan Muslim nomor 209). 

Ini syafaat khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya—Abu Thalib—saja. Hal itu—wallahualam—karena perbuatan dia berupa pertolongan dan pembelaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agama yang beliau bawa. 

Shahih Muslim hadits nomor 209

٩٠ - بَابُ شَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ لِأَبِي طَالِبٍ وَالتَّخۡفِيفِ عَنۡهُ بِسَبَبِهِ

90. Bab syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib dan peringanan azab untuk Abu Thalib dengan sebab beliau


٣٥٧ – (٢٠٩) - وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عُمَرَ الۡقَوَارِيرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي بَكۡرِ الۡمُقَدَّمِيُّ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ الۡأُمَوِيُّ، قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ، عَنِ الۡعَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ: أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ نَفَعۡتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَىۡءٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغۡضَبُ لَكَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، هُوَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ. وَلَوۡلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرۡكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ).


357. (209). ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawariri, Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddami, dan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Umawi telah menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, bahwa beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah memberi suatu manfaat kepada Abu Thalib? Sesungguhnya dia dahulu melindungimu dan marah karena kepentinganmu.”

Rasulullah menjawab, “Iya. Dia berada di api neraka yang dangkal. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka yang paling bawah.”

٣٥٨ – (...) - حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي عُمَرَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ قَالَ: سَمِعۡتُ الۡعَبَّاسَ يَقُولُ: قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَنۡصُرُكَ، فَهَلۡ نَفَعَهُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، وَجَدۡتُهُ فِي غَمَرَاتٍ مِنَ النَّارِ فَأَخۡرَجۡتُهُ إِلَى ضَحۡضَاحٍ).

358. Ibnu Abu ‘Umar telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Abdullah bin Al-Harits. Beliau berkata: Aku mendengar Al-‘Abbas mengatakan:

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Thalib dahulu melindungi dan menolongmu. Apakah engkau hal itu bermanfaat untuknya?”

Rasulullah menjawab, “Iya. Aku mendapatinya tenggelam di dalam api neraka, lalu aku mengeluarkannya ke tempat yang dangkal.”

٣٥٩ – (...) - وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ سُفۡيَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ عُمَيۡرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡحَارِثِ قَالَ: أَخۡبَرَنِي الۡعَبَّاسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ... بِنَحۡوِ حَدِيثِ أَبِي عَوَانَةَ.

359. Muhammad bin Hatim telah menceritakannya kepadaku: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Sufyan. Beliau berkata: ‘Abdul Malik bin ‘Umair menceritakan kepadaku. Beliau berkata: ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib mengabarkan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan melalui sanad ini, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semisal hadis Abu ‘Awanah.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4685

٤ – بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَيَقُولُ الۡأَشۡهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمۡ أَلَا لَعۡنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾ ۝١٨ 
4. Bab firman Allah yang artinya, “Dan para saksi akan berkata: Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 18) 


وَاحِدُ الۡأَشۡهَادِ شَاهِدٌ، مِثۡلُ: صَاحِبٍ وَأَصۡحَابٍ. 

Bentuk tunggal dari asyhad adalah syahid semisal shahib dan ashhab

٤٦٨٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ وَهِشَامٌ قَالَا: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ مُحۡرِزٍ قَالَ: بَيۡنَا ابۡنُ عُمَرَ يَطُوفُ، إِذۡ عَرَضَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ ـ أَوۡ قَالَ: يَا ابۡنَ عُمَرَ ـ سَمِعۡتَ النَّبِيَّ ﷺ فِي النَّجۡوَى؟ فَقَالَ: سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: (يُدۡنَى الۡمُؤۡمِنُ مِنۡ رَبِّهِ ـ وَقَالَ هِشَامٌ: يَدۡنُو الۡمُؤۡمِنُ ـ حَتَّى يَضَعَ عَلَيۡهِ كَنَفَهُ، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، تَعۡرِفُ ذَنۡبَ كَذَا؟ يَقُولُ: أَعۡرِفُ، يَقُولُ: رَبِّ أَعۡرِفُ، مَرَّتَيۡنِ، فَيَقُولُ: سَتَرۡتُهَا فِي الدُّنۡيَا، وَأَغۡفِرُهَا لَكَ الۡيَوۡمَ، ثُمَّ تُطۡوَى صَحِيفَةُ حَسَنَاتِهِ. وَأَمَّا الۡآخَرُونَ أَوِ الۡكُفَّارُ، فَيُنَادَى عَلَى رُؤُسِ الۡأَشۡهَادِ: ﴿هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمۡ﴾. 

وَقَالَ شَيۡبَانُ، عَنۡ قَتَادَةَ: حَدَّثَنَا صَفۡوَانُ. [طرفه في: ٢٤٤١]. 

4685. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami: Sa’id dan Hisyam menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Qatadah menceritakan kepada kami dari Shafwan bin Muhriz. Beliau berkata: Ketika Ibnu ‘Umar sedang tawaf, tiba-tiba ada seorang pria menghadap seraya bertanya, “Wahai Abu ‘Abdurrahman—atau dia berkata: Wahai Ibnu ‘Umar—apakah engkau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembicaraan rahasia? 

Ibnu ‘Umar menjawab: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin akan didekatkan dengan Rabb-nya—Hisyam berkata: Seorang mukmin akan mendekat—hingga Allah meletakkan tabir-Nya, lalu Allah membuat dia mengakui dosa-dosanya. Apakah engkau mengenali dosa ini? Mukmin itu menjawab: Aku mengenalinya. Mukmin itu berkata: Wahai Rabb-ku, aku mengenalinya. Dua kali. Lalu Allah berkata: Aku telah menutupinya di dunia dan aku mengampuni dosa itu untukmu pada hari ini. Kemudian ia diberi lipatan lembaran catatan kebaikannya. Adapun selain mukmin, yaitu orang-orang kafir, maka dia akan diseru di hadapan para saksi: Mereka ini adalah orang-orang yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” 

Syaiban berkata dari Qatadah: Shafwan menceritakan kepada kami.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6572

٦٥٧٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ، عَنِ الۡعَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّهُ قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: هَلۡ نَفَعۡتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَىۡءٍ؟ [طرفه في: ٣٨٨٣]. 

6572. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik, dari ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu: Bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah engkau telah memberi suatu manfaat kepada Abu Thalib?”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 6208

٦٢٠٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ نَوۡفَلٍ، عَنۡ عَبَّاسِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ نَفَعۡتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَىۡءٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغۡضَبُ لَكَ؟ قَالَ: (نَعَمۡ، هُوَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ، لَوۡلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ). [طرفه في: ٣٨٨٣]. 

6208. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Malik menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. 

Beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah memberi suatu manfaat kepada Abu Thalib? Sesungguhnya dia dahulu melindungimu dan marah karena kepentinganmu.” 

Rasulullah menjawab, “Iya. Dia berada di dalam api neraka yang dangkal. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka yang paling bawah.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 3883

٤٠ - بَابُ قِصَّةِ أَبِي طَالِبٍ 
40. Bab kisah Abu Thalib 


٣٨٨٣ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَى، عَنۡ سُفۡيَانَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡحَارِثِ: حَدَّثَنَا الۡعَبَّاسُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: مَا أَغۡنَيۡتَ عَنۡ عَمِّكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغۡضَبُ لَكَ؟ قَالَ: (هُوَ فِي ضَحۡضَاحٍ مِنۡ نَارٍ، وَلَوۡلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الۡأَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ). [الحديث ٣٨٨٣ – طرفاه في: ٦٢٠٨، ٦٥٧٢]. 

3883. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan: ‘Abdul Malik menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Al-Harits menceritakan kepada kami: Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kami: 

Beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Manfaat apa yang engkau bisa berikan untuk pamanmu? Sesungguhnya dia dahulu melindungimu dan marah karena kepentinganmu.” 

Nabi bersabda, “Dia di api neraka yang dangkal. Andai bukan karenaku, niscaya dia berada di kerak neraka yang paling bawah.”

Shahih Muslim hadits nomor 183

٣٠٢ - (١٨٣) - وَحَدَّثَنِي سُوَيۡدُ بۡنُ سَعِيدٍ. قَالَ: حَدَّثَنِي حَفۡصُ بۡنُ مَيۡسَرَةَ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ: أَنَّ نَاسًا فِي زَمَنِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلۡ نَرَى رَبَّنَا يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (نَعَمۡ). قَالَ: (هَلۡ تُضَارُّونَ فِي رُؤۡيَةِ الشَّمۡسِ بِالظَّهِيرَةِ صَحۡوًا لَيۡسَ مَعَهَا سَحَابٌ؟ وَهَلۡ تُضَارُّونَ فِي رُؤۡيَةِ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ صَحۡوًا لَيۡسَ فِيهَا سَحَابٌ؟) قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: (مَا تُضَارُّونَ فِي رُؤۡيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُّونَ فِي رُؤۡيَةِ أَحَدِهِمَا. إِذَا كَانَ يَوۡمُ الۡقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ: لِيَتَّبِعۡ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتۡ تَعۡبُدُ، فَلَا يَبۡقَىٰ أَحَدٌ كَانَ يَعۡبُدُ غَيۡرَ اللهِ سُبۡحَانَهُ مِنَ الۡأَصۡنَامِ وَالۡأَنۡصَابِ، إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ، حَتَّى إِذَا لَمۡ يَبۡقَ إِلَّا مَنۡ كَانَ يَعۡبُدُ اللهَ مِنۡ بَرٍّ وَفَاجِرٍ، وَغُبَّرِ أَهۡلِ الۡكِتَابِ. 

302. (183). Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Hafsh bin Maisarah menceritakan kepadaku dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri: 

Bahwa orang-orang di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Apakah kalian kesulitan melihat matahari di waktu zuhur ketika langit cerah tidak ada awan? Dan apakah kalian kesulitan melihat bulan di malam bulan purnama ketika langit cerah tidak ada awan?” 

Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” 

Rasulullah bersabda, “Kalian tidak akan kesulitan melihat Allah tabaraka wa ta’ala pada hari kiamat kecuali sebagaimana kalian tidak kesulitan melihat salah satu dari keduanya. Ketika hari kiamat ada yang berseru: Setiap kaum agar mengikuti sesembahan mereka dahulu. Maka tidak tersisa seorang pun yang dahulunya menyembah patung-patung dan berhala-berhala selain Allah subhanah kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka sampai hanya tersisa siapa saja yang menyembah Allah dari kalangan orang yang berbakti atau orang yang jahat, serta sisa-sisa dari ahli kitab.” 

فَيُدۡعَى الۡيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمۡ: مَا كُنۡتُمۡ تَعۡبُدُونَ؟ قَالُوا: كُنَّا نَعۡبُدُ عُزَيۡرَ بۡنَ اللهِ، فَيُقَالُ: كَذَبۡتُمۡ مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنۡ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ، فَمَاذَا تَبۡغُونَ؟ قَالُوا: عَطِشۡنَا، يَا رَبَّنَا فَاسۡقِنَا، فَيُشَارُ إِلَيۡهِمۡ أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحۡشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحۡطِمُ بَعۡضُهَا بَعۡضًا، فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ. 

Lalu orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanya, “Apa yang dahulu kalian sembah?” 

Mereka menjawab, “Kami dahulu menyembah ‘Uzair putra Allah.” 

Maka ada yang berkata, “Kalian dusta. Allah tidak memiliki istri dan anak. Lalu apa yang kalian mau?” 

Mereka menjawab, “Kami haus, wahai Rabb kami, berilah kami minum.” 

Maka mereka ditunjukkan, “Mengapa kalian tidak mendatanginya?” 

Mereka digiring menuju neraka, seakan-akan neraka itu adalah fatamorgana, sebagiannya menghancurkan yang lainnya, sehingga mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. 

ثُمَّ يُدۡعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمۡ: مَا كُنۡتُمۡ تَعۡبُدُونَ؟ قَالُوا: كُنَّا نَعۡبُدُ الۡمَسِيحَ بۡنَ اللهِ، فَيُقَالُ لَهُمۡ: كَذَبۡتُمۡ. مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنۡ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ، فَيُقَالُ لَهُمۡ: مَاذَا تَبۡغُونَ؟ فَيَقُولُونَ: عَطِشۡنَا يَا رَبَّنَا، فَاسۡقِنَا. قَالَ: فَيُشَارُ إِلَيۡهِمۡ: أَلَا تَرِدُونَ؟ فَيُحۡشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحۡطِمُ بَعۡضُهَا بَعۡضًا. فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ. 

Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil dan ditanyai, “Apa yang dahulu kalian sembah?” 

Mereka menjawab, “Kami dahulu menyembah Isa Almasih putra Allah.” 

Lalu dikatakan, “Kalian dusta. Allah tidak memiliki istri dan anak.” Mereka ditanyai, “Apa yang kalian inginkan?” 

Mereka menjawab, “Kami haus, wahai Rabb kami, berilah minum kepada kami.” 

Beliau berkata: Mereka ditunjukkan, “Mengapa kalian tidak mendatanginya?” 

Mereka digiring menuju neraka Jahannam, seakan-akan neraka itu adalah fatamorgana yang sebagiannya saling menghancurkan sebagian lainnya, sehingga mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. 

حَتَّى إِذَا لَمۡ يَبۡقَ إِلَّا مَنۡ كَانَ يَعۡبُدُ اللهَ تَعَالَى مِنۡ بَرٍّ وَفَاجِرٍ، أَتَاهُمۡ رَبُّ الۡعَالَمِينَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى فِي أَدۡنَىٰ صُورَةٍ مِنَ الَّتِي رَأَوۡهُ فِيهَا. قَالَ: فَمَا تَنۡتَظِرُونَ؟ تَتۡبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتۡ تَعۡبُدُ. قَالُوا: يَا رَبَّنَا فَارَقۡنَا النَّاسَ فِي الدُّنۡيَا أَفۡقَرَ مَا كُنَّا إِلَيۡهِمۡ وَلَمۡ نُصَاحِبۡهُمۡ، فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمۡ فَيَقُولُونَ: نَعُوذُ بِاللهِ مِنۡكَ، لَا نُشۡرِكُ بِاللهِ شَيۡئًا - مَرَّتَيۡنِ أَوۡ ثَلَاثًا - حَتَّى إِنَّ بَعۡضَهُمۡ لَيَكَادُ أَنۡ يَنۡقَلِبَ، فَيَقُولُ: هَلۡ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُ آيَةٌ فَتَعۡرِفُونَهُ بِهَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمۡ، فَيُكۡشَفُ عَنۡ سَاقٍ، فَلَا يَبۡقَىٰ مَنۡ كَانَ يَسۡجُدُ لِلهِ مِنۡ تِلۡقَاءِ نَفۡسِهِ إِلَّا أَذِنَ اللهُ لَهُ بِالسُّجُودِ، وَلَا يَبۡقَىٰ مَنۡ كَانَ يَسۡجُدُ اتِّقَاءً وَرِيَاءً إِلَّا جَعَلَ اللهُ ظَهۡرَهُ طَبَقَةً وَاحِدَةً. كُلَّمَا أَرَادَ أَنۡ يَسۡجُدَ خَرَّ عَلَى قَفَاهُ. ثُمَّ يَرۡفَعُونَ رُءُوسَهُمۡ، وَقَدۡ تَحَوَّلَ فِي صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوۡهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ. فَقَالَ: أَنَا رَبُّكُمۡ، فَيَقُولُونَ: أَنۡتَ رَبُّنَا. ثُمَّ يُضۡرَبُ الۡجِسۡرُ عَلَى جَهَنَّمَ، وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ. وَيَقُولُونَ: اللّٰهُمَّ، سَلِّمۡ سَلِّمۡ). 

Sampai ketika tidak tersisa kecuali siapa saja yang dahulu menyembah Allah dari kalangan orang yang berbakti dan jahat, Allah Tuhan alam semesta subhanahu wa ta’ala datang kepada mereka dalam bentuk paling dekat daripada bentuk yang telah mereka melihat-Nya. Allah berkata, “Apa yang kalian tunggu? Setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.” 

Mereka menjawab, “Wahai Rabb kami, kami memisahkan diri dari orang-orang di dunia padahal kami dahulu sangat butuh kepada mereka dan kami tidak berteman dengan mereka.” 

Allah berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” 

Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah darimu. Kami tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah.” Dua atau tiga kali. Hingga sungguh sebagian mereka hampir berbalik. 

Allah berkata, “Apakah antara kalian dengan Rabb kalian ada suatu tanda yang bisa kalian mengenali-Nya dengan itu?” 

Mereka menjawab, “Iya.” 

Lalu Allah menyingkap betis-Nya. Tidak tersisa siapa saja yang dahulu bersujud kepada Allah dari dorongan hatinya sendiri kecuali Allah izikan kepadanya untuk bersujud. Dan tidak tersisa siapa saja yang dulunya bersujud karena melindungi diri dari tebasan pedang atau karena ria kecuali Allah jadikan punggungnya satu ruas. Setiap kali dia hendak sujud, dia tersungkur di atas tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka dan ternyata Allah telah berubah bentuknya dari yang mereka lihat pertama kali. 

Lalu Allah berkata, “Aku adalah Rabb kalian.” 

Mereka berkata, “Engkau adalah Rabb kami.” 

Kemudian jembatan dibentangkan di atas neraka jahanam dan diperkenankan syafaat. 

Mereka (para rasul) berkata, “Ya Allah, selamatkan, selamatkan.” 

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا الۡجِسۡرُ؟ قَالَ: (دَحۡضٌ مَزِلَّةٌ: فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ. تَكُونُ بِنَجۡدٍ فِيهَا شُوَيۡكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعۡدَانُ، فَيَمُرُّ الۡمُؤۡمِنُونَ: كَطَرۡفِ الۡعَيۡنِ، وَكَالۡبَرۡقِ، وَكَالرِّيحِ، وَكَالطَّيۡرِ، وَكَأَجَاوِيدِ الۡخَيۡلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَمَخۡدُوشٌ مُرۡسَلٌ، وَمَكۡدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ. حَتَّى إِذَا خَلَصَ الۡمُؤۡمِنُونَ مِنَ النَّارِ. 

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jembatan itu?” 

Beliau bersabda, “Amat sangat licin. Di atasnya ada banyak besi-besi pengait dan tanaman berduri yang biasa ada di Najd memiliki duri-duri kecil. Tanaman itu dinamai Sa’dan. Seorang mukmin yang melewati jembatan itu ada yang seperti kejapan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti kuda pacu dan onta yang bagus. Sehingga ada yang berhasil menyeberang dengan selamat, ada yang berhasil menyeberang dalam keadaan terluka, dan ada yang terpelanting masuk ke neraka jahanam. Hingga orang-orang mukmin selamat dari neraka.” 

فَوَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ، مَا مِنۡكُمۡ مِنۡ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلهِ، فِي اسۡتِقۡصَاءِ الۡحَقِّ، مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ لِلهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ لِإِخۡوَانِهِمُ الَّذِينَ فِي النَّارِ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا، كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ، فَيُقَالُ لَهُمۡ: أَخۡرِجُوا مَنۡ عَرَفۡتُمۡ، فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمۡ عَلَى النَّارِ. فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا قَدِ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصۡفِ سَاقَيۡهِ وَإِلَى رُكۡبَتَيۡهِ، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا، مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا بِهِ، فَيَقُولُ: ارۡجِعُوا، فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ دِينَارٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ، فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا، لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا. ثُمَّ يَقُولُ: ارۡجِعُوا، فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ نِصۡفِ دِينَارٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ، فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا. ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا أَحَدًا، ثُمَّ يَقُولُ: ارۡجِعُوا فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ، فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا، ثُمَّ يَقُولُونَ: رَبَّنَا، لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا خَيۡرًا). 

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian lebih sangat memohon kepada Allah untuk menuntut suatu hak daripada permohonan seorang mukmin kepada Allah pada hari kiamat untuk saudara-saudara mereka yang berada di dalam neraka. 

Mereka berkata, “Ya Rabb kami, saudara-saudara kami. Dahulu mereka saum bersama kami, salat, dan juga berhaji.” 

Dikatakan kepada mereka, “Keluarkanlah oleh kalian siapa saja yang kalian kenal.” 

Maka tubuh-tubuh mereka dilindungi dari api neraka. Mereka mengeluarkan banyak orang yang telah dilalap api neraka hingga tengah betisnya dan hingga dua lututnya. 

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, tidak tersisa seorang pun di dalam neraka dari kalangan orang-orang yang telah Engkau perintahkan kami untuk mengeluarkannya.” 

Kemudian Allah berkata, “Kembalilah kalian. Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya ada kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkan dia.” 

Lalu mereka mengeluarkan banyak orang, kemudian berkata, “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan seorang pun di dalam neraka dari kalangan orang-orang yang telah Engkau perintahkan kami untuk mengeluarkannya.” 

Kemudian Allah berkata, “Kembalilah kalian. Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya ada kebaikan seberat zarah, maka keluarkan dia.” 

Lalu mereka mengeluarkan banyak orang, kemudian berkata, “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan pemilik kebaikan di dalam neraka.” 

وَكَانَ أَبُو سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيُّ يَقُولُ: إِنۡ لَمۡ تُصَدِّقُونِي بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ فَاقۡرَءُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَـٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمًا ۝٤٠﴾ [النساء: ٤٠] (فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: شَفَعَتِ الۡمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الۡمُؤۡمِنُونَ. وَلَمۡ يَبۡقَ إِلَّا أَرۡحَمُ الرَّاحِمِينَ، فَيَقۡبِضُ قَبۡضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخۡرِجُ مِنۡهَا قَوۡمًا لَمۡ يَعۡمَلُوا خَيۡرًا قَطُّ، قَدۡ عَادُوا حُمَمًا، فَيُلۡقِيهِمۡ فِي نَهَرٍ فِي أَفۡوَاهِ الۡجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهَرُ الۡحَيَاةِ، فَيَخۡرُجُونَ كَمَا تَخۡرُجُ الۡحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيۡلِ. أَلَا تَرَوۡنَهَا تَكُونُ إِلَى الۡحَجَرِ أَوۡ إِلَى الشَّجَرِ. مَا يَكُونُ إِلَى الشَّمۡسِ أُصَيۡفِرُ وَأُخَيۡضِرُ، وَمَا يَكُونُ مِنۡهَا إِلَى الظِّلِّ يَكُونُ أَبۡيَضَ؟). 

Ketika itu, Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Jika kalian tidak membenarkanku dengan hadis ini, silakan baca ayat yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakannya.” (QS. An-Nisa`: 40). 

Allah azza wajalla berkata, “Para malaikat telah memberikan syafaat, para nabi telah memberikan syafaat, dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafaat. Tidak tersisa lagi kecuali syafaat Yang Maha Penyayang.” 

Lalu Dia menggenggam satu genggaman dari neraka, lalu Dia mengeluarkan kaum-kaum yang belum mengamalkan kebaikan sama sekali dan telah menjadi arang, lalu mereka dimasukkan ke dalam suatu sungai di mulut janah. Sungai itu disebut sungai kehidupan. Lalu mereka keluar sebagaimana biji-bijian tumbuh di endapan aliran air. Bukankah kalian melihatnya ada di dekat batu dan di dekat pohon? Bagian tumbuhan yang menghadap matahari berwarna kuning hijau, dan bagian tumbuhan yang berada di bawah bayangan berwarna putih. 

فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّكَ كُنۡتَ تَرۡعَى بِالۡبَادِيَةِ. قَالَ: (فَيَخۡرُجُونَ كَاللُّؤۡلُؤِ فِي رِقَابِهِمُ الۡخَوَاتِمُ، يَعۡرِفُهُمۡ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ، هَٰؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللهِ الَّذِينَ أَدۡخَلَهُمُ اللهُ الۡجَنَّةَ بِغَيۡرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلَا خَيۡرٍ قَدَّمُوهُ. ثُمَّ يَقُولُ: ادۡخُلُوا الۡجَنَّةَ فَمَا رَأَيۡتُمُوهُ فَهُوَ لَكُمۡ، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا، أَعۡطَيۡتَنَا مَا لَمۡ تُعۡطِ أَحَدًا مِنَ الۡعَالَمِينَ، فَيَقُولُ: لَكُمۡ عِنۡدِي أَفۡضَلُ مِنۡ هَٰذَا، فَيَقُولُونَ: يَا رَبَّنَا، أَيُّ شَيۡءٍ أَفۡضَلُ مِنۡ هَٰذَا؟ فَيَقُولُ: رِضَايَ، فَلَا أَسۡخَطُ عَلَيۡكُمۡ بَعۡدَهُ أَبَدًا). 

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan engkau dahulu terbiasa menggembala di padang belantara.” 

Rasulullah bersabda, “Mereka keluar (dari sungai) seakan-akan mutiara, di leher-leher mereka diberi tanda cincin yang dikenali oleh penduduk janah bahwa mereka ini adalah orang-orang yang dibebaskan oleh Allah. Allah memasukkan mereka ke janah dengan tanpa amal yang mereka kerjakan, juga tanpa kebaikan yang mereka persembahkan.” 

Kemudian Allah berkata, “Masuklah kalian ke dalam janah. Apa saja yang kalian lihat, maka itu untuk kalian.” 

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, Engkau telah memberi kami semua yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di alam semesta ini.” 

Kemudian Allah berkata, “Di sisiku ada yang lebih afdal daripada ini untuk kalian.” 

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, apa sesuatu yang lebih afdal daripada ini?” 

Allah berkata, “Keridaan-Ku. Maka Aku tidak murka terhadap kalian lagi setelah ini selama-lamanya.” 

قَالَ مُسۡلِمٌ قَرَأۡتُ عَلَى عِيسَى بۡنِ حَمَّادٍ زُغۡبَةَ الۡمِصۡرِيِّ هَٰذَا الۡحَدِيثَ فِي الشَّفَاعَةِ وَقُلۡتُ لَهُ: أُحَدِّثُ بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ عَنۡكَ أَنَّكَ سَمِعۡتَ مِنَ اللَّيۡثِ بۡنِ سَعۡدٍ؟ فَقَالَ: نَعَمۡ. قُلۡتُ لِعِيسَى بۡنِ حَمَّادٍ: أَخۡبَرَكُمُ اللَّيۡثُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ خَالِدِ بۡنِ يَزِيدَ، عَنۡ سَعِيدِ بۡنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنۡ زَيۡدِ بۡنِ أَسۡلَمَ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ: أَنَّهُ قَالَ: قُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَرَى رَبَّنَا؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (هَلۡ تُضَارُّونَ فِي رُؤۡيَةِ الشَّمۡسِ إِذَا كَانَ يَوۡمٌ صَحۡوٌ؟) قُلۡنَا: لَا... وَسُقۡتُ الۡحَدِيثَ حَتَّى انۡقَضَىٰ آخِرُهُ وَهُوَ نَحۡوُ حَدِيثِ حَفۡصِ بۡنِ مَيۡسَرَةَ. وَزَادَ بَعۡدَ قَوۡلِهِ: بِغَيۡرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلَا قَدَمٍ قَدَّمُوهُ: (فَيُقَالُ لَهُمۡ: لَكُمۡ مَا رَأَيۡتُمۡ وَمِثۡلُهُ مَعَهُ). 

Muslim berkata: Aku membaca hadis ini di hadapan ‘Isa bin Hammad Zughbah Al-Mishri tentang syafaat. 

Aku berkata kepadanya, “Aku menceritakan hadis ini darimu, bahwa engkau mendengar dari Al-Laits bin Sa’d?” 

Beliau menjawab, “Iya.” 

Aku berkata kepada ‘Isa bin Hammad: Al-Laits bin Sa’d mengabarkan kepada kalian dari Khalid bin Yazid, dari S’aid bin Abu Hilal, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha` bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa beliau berkata: 

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami?” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian kesulitan melihat matahari apabila hari cerah?” 

Kami menjawab, “Tidak.” 

Aku menceritakan hadis hingga akhir dan hadis tersebut seperti hadis Hafsh bin Maisarah. Beliau menambahkan setelah sabda beliau: Tanpa amal yang mereka kerjakan dan sesuatu yang mereka persembahkan, “Lalu ada yang berkata kepada mereka: Untuk kalian apa yang kalian lihat dan semisal itu bersamanya.” 

قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: بَلَغَنِي أَنَّ الۡجِسۡرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعۡرَةِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيۡفِ. 

وَليۡسَ فِي حَدِيثِ اللَّيۡثِ: (فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا أَعۡطَيۡتَنَا مَا لَمۡ تُعۡطِ أَحَدًا مِنَ الۡعَالَمِينَ وَمَا بَعۡدَهُ). فَأَقَرَّ بِهِ عِيسَى بۡنُ حَمَّادٍ. 


Abu Sa’id berkata: Telah sampai kepadaku bahwa jembatan itu lebih tipis daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. 

Di dalam hadis Al-Laits tidak ada kalimat: “Mereka berkata: Wahai Rabb kami, Engkau telah memberi kepada kami semua yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di alam semesta,” dan kalimat setelahnya. Namun ‘Isa bin Hammad menetapkan kalimat tersebut. 

٣٠٣ - (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ عَوۡنٍ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ سَعۡدٍ: حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ أَسۡلَمَ، بِإِسۡنَادِهِمَا... نَحۡوَ حَدِيثِ حَفۡصِ بۡنِ مَيۡسَرَةَ إِلَى آخِرِهِ. وَقَدۡ زَادَ وَنَقَصَ شَيۡئًا. 

303. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakannya kepada kami: Ja’far bin ‘Aun menceritakan kepada kami: Hisyam bin Sa’d menceritakan kepada kami: Zaid bin Aslam menceritakan kepada kami dengan sanad keduanya… semisal hadis Hafsh bin Maisarah hingga akhirnya. Beliau menambah dan mengurangi sebagiannya.

Hak-hak Sahabat Nabi

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah (wafat 620 H) berkata di dalam kitab Lum'atul I'tiqad:

٢٥ – وَمِنَ السُّنَّةِ تَوَلِّي أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَمَحَبَّتُهُمۡ، وَذِكۡرُ مَحَاسِنِهِمۡ، وَالتَّرَحُّمُ عَلَيۡهِمۡ، وَالاسۡتِغۡفَارُ لَهُمۡ، وَالۡكَفُّ عَنۡ ذِكۡرِ مَسَاوِئِهِمۡ، وَمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ، وَاعۡتِقَادُ فَضۡلِهِمۡ، وَمَعۡرِفَةُ سَابِقَتِهِمۡ.

25. Termasuk sunah adalah loyal kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai mereka, menyebut-nyebut kebaikan-kebaikan mereka, mendoakan rahmat untuk mereka, memintakan ampunan untuk mereka, menahan diri dari menyebut kejelekan-kejelekan mereka dan pertikaian di antara mereka, meyakini keutamaan mereka, dan meyakini kepeloporan mereka. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟﴾ [الحشر: ١٠]. 

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ ۖ﴾ الآيَةَ [الفتح: ٢٩]. 

Allah taala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa: Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10). 

Allah taala berfirman yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29). 

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا تَسُبُّوا [أَحَدًا مِنۡ] أَصۡحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمۡ لَوۡ أَنۡفَقَ مِثۡلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمۡ وَلَا نَصِيفَهُ).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku! Karena andai saja salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak dapat menyamai (infak) salah seorang mereka (berupa bahan makanan) sebanyak satu mud (satu cakupan kedua telapak tangan). Separuhnya pun tidak.”[1]


Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah di dalam Syarh Lum'atil I'tiqad berkata:

[1] حُقُوقُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ: 

لِلصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ فَضۡلٌ عَظِيمٌ عَلَى هَٰذِهِ الۡأُمَّةِ، حَيۡثُ قَامُوا بِنُصۡرَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَالۡجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمۡوَالِهِمۡ وَأَنۡفُسِهِمۡ وَحِفۡظِ دِينِ اللهِ بِحِفۡظِ كِتَابِهِ َسُنَّةِ رَسُولِهِ ﷺ عِلۡمًا وَعَمَلًا وَتَعۡلِيمًا حَتَّى بَلَّغُوهُ الۡأُمَّةَ نَقِيًّا طَرِيًّا. 

Hak-hak sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum memiliki keutaman yang amat besar di atas umat ini, dari sisi bahwa mereka melakukan pertolongan terhadap agama Allah dan Rasul-Nya, serta jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Mereka juga melakukan penjagaan terhadap agama Allah dengan menjaga kitab-Nya dan sunah Rasul-Nya ﷺ dengan ilmu, amal, dan mengajar hingga mereka menyampaikannya kepada umat dalam keadaan murni dan segar. 

وَقَدۡ أَثۡنَى اللهُ عَلَيۡهِمۡ فِي كِتَابِهِ أَعۡظَمَ ثَنَاءٍ حَيۡثُ يَقُولُ فِي سُورَةِ الۡفَتۡحِ: ﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ ۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبۡتَغُونَ فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنًا ۖ﴾ [الفتح: ٢٩] إِلَى آخِرِ السُّورَةِ. 

Allah telah menyanjung mereka di dalam kitab-Nya dengan seagung-agung sanjungan, ketika Allah berfirman di dalam surah Al-Fath yang aritnya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, namun lemah lembut di antara mereka. Engkau lihat mereka rukuk dan sujud menginginkan keutamaan dan keridaan dari Allah.” (QS. Al-Fath: 29) hingga akhir surah. 

وَحَمَى رَسُولُ اللهِ ﷺ حِمَى كَرَامَتِهِمۡ حَيۡثُ يَقُولُ ﷺ: (لَا تَسُبُّوا أَصۡحَابِي، فَوَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ لَوۡ أَنۡفَقَ أَحَدُكُمۡ مِثۡلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمۡ وَلَا نَصِيفَهُ) مَتَّفَقٌ عَلَيۡهِ. 

Rasulullah ﷺ menjaga kemuliaan mereka dengan sabda beliau ﷺ, “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai salah seorang kalian berinfak emas semisal gunung Uhud, niscaya tidak akan bisa menyamai infak salah seorang mereka (berupa bahan makanan) sebanyak satu mud. Tidak pula separuhnya.” (HR. Al-Bukhari nomor 3673, Muslim nomor 2541, dan Abu Dawud nomor 4658). 

فَحُقُوقُهُمۡ عَلَى الۡأُمَّةِ مِنۡ أَعۡظَمِ الۡحُقُوقِ فَلَهُمۡ عَلَى الۡأُمَّةِ: 

١ – مَحَبَّتُهُمۡ بِالۡقَلۡبِ وَالثَّنَاءُ عَلَيۡهِمۡ بِاللِّسَانِ بِمَا أَسۡدَوۡهُ مِنَ الۡمَعۡرُوفِ وَالۡإِحۡسَانِ. 

٢ – التَّرَحُّمُ عَلَيۡهِمۡ وَالۡاسۡتِغۡفَارُ لَهُمۡ تَحۡقِيقًا لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾ [الحشر: ١٠]. 

٣ – الۡكَفُّ عَنۡ مَسَاوِئِهِمۡ الَّتِي إِنۡ صَدَرَتۡ عَنۡ أَحَدٍ مِنۡهُمۡ فَهِيَ قَلِيلَةٌ بِالنِّسۡبَةِ لِمَا لَهُمۡ مِنَ الۡمَحَاسِنِ وَالۡفَضَائِلِ، وَرُبَمَا تَكُنوُ صَادِرَةً عَنِ اجۡتِهَادٍ مَغۡفُورٍ وَعَمَلٍ مَعۡذُورٍ لِقَوۡلِهِ ﷺ: (لَا تَسُبُّوا أَصۡحَابِي). الۡحَدِيث. 

Jadi hak-hak mereka atas umat ini termasuk seagung-agung hak. Maka umat ini memiliki kewajiban-kewajiban terhadap mereka, yaitu: 

1. Mencintai mereka dengan hati dan menyanjung mereka dengan lisan, terhadap apa yang telah mereka berikan berupa jasa dan kebaikan. 

2. Mendoakan rahmat untuk mereka dan meminta ampun untuk mereka sebagai perwujudan firman Allah taala yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman mendahului kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10). 

3. Menahan diri dari membicarakan kejelekan mereka, yang walaupun muncul dari salah seorang mereka, tentunya amat sedikit apabila dibandingkan kebaikan dan keutamaan yang mereka miliki. Bisa jadi kejelekan itu muncul dari suatu ijtihad yang diampuni dan perbuatan yang dimaafkan. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ, “Janganlah kalian mencela para sahabatku.” 

حُكۡمُ سَبِّ الصَّحَابَةِ: 

سَبُّ الصَّحَابَةِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقۡسَامٍ: 

Hukum mencela sahabat Nabi: 

Mencela sahabat terbagi menjadi tiga bagian: 

الۡأَوَّلُ: أَنۡ يَسُبَّهُمۡ بِمَا يَقۡتَضِي كُفۡرَ أَكۡثَرِهِمۡ أَوۡ أَنَّ عَامَّتَهُمۡ فَسَقُوا فَهَٰذَا كُفۡرٌ؛ لِأَنَّهُ تَكۡذِيبٌ لِلهِ وَرَسُولِهِ بِالثَّنَاءِ عَلَيۡهِمۡ وَالتَّرَضِّي عَنۡهُمۡ، بَلۡ مَنۡ شَكَّ فِي كُفۡرِ مِثۡلِ هَٰذَا فَإِنَّ كُفۡرَهُ مُتَعَيَّنٌ؛ لِأَنَّ مَضۡمُونَ هَٰذِهِ الۡمَقَالَةِ أَنَّ نَقَلَةَ الۡكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ كُفَّارٌ أَوۡ فُسَّاقٌ. 

1. Mencela mereka dengan celaan yang berkonsekuensi kepada kekafiran mayoritas sahabat atau bahwa keumuman para sahabat telah berbuat fasik, maka perbuatan ini adalah kekufuran. Karena ini adalah bentuk pendustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang telah menyanjung mereka dan rida terhadap mereka. Bahkan siapa saja yang ragu terhadap kekufuran perbuatan ini, maka sesungguhnya kekufuran orang yang meragukan ini sudah dapat dipastikan, karena kandungan ucapan celaan ini adalah bahwa para penukil Alquran dan sunah Nabi merupakan orang-orang yang kafir dan fasik. 

الثَّانِي: أَنۡ يَسُبَّهُمۡ بِاللَّعۡنِ وَالتَّقۡبِيحِ فَفِي كُفۡرِهِ قَوۡلَانِ لِأَهۡلِ الۡعِلۡمِ وَعَلَى الۡقَوۡلِ بِأَنَّهُ لَا يُكَفَّرُ يَجِبُ أَنۡ يُجۡلَدَ وَيُحۡبَسَ حَتَّى يَمُوتَ أَوۡ يَرۡجِعَ عَمَّا قَالَ. 

2. Mencela mereka dengan melaknat dan menjelekkan mereka. Para ulama memiliki dua pendapat dalam kekufuran perbuatan ini. Atas dasar pendapat bahwa pelakunya tidak dikafirkan, maka wajib dicambuk dan dipenjara hingga mati atau rujuk dari ucapannya. 

الثَّالِثُ: أَنۡ يَسُبَّهُمۡ بِمَا لَا يَقۡدَحُ فِي دِينِهِمۡ كَالۡجُبۡنِ وَالۡبُخۡلِ فَلَا يُكَفَّرُ وَلَكِنۡ يُعَزَّرُ بِمَا يَرۡدَعُهُ عَنۡ ذٰلِكَ. 

3. Mencela mereka dengan celaan yang tidak memengaruhi agama mereka, seperti pengecut atau bakhil, maka pelakunya tidak dikafirkan, akan tetapi dihukum dengan hukuman yang dapat menghentikannya dari perbuatan itu. 

ذَكَرَ مَعۡنَى ذٰلِكَ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ فِي كِتَابِ (الصَّارِمُ الۡمَسۡلُولُ) وَنَقَلَ عَنۡ أَحۡمَدَ فِي (ص ٥٧٣) قَوۡلَهُ: (لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَذۡكُرَ شَيۡئًا مِنۡ مَسَاوِئِهِمۡ، وَلَا يَطۡعَنُ عَلَى أَحَدٍ مِنۡهُمۡ بِعَيۡبٍ أَوۡ نَقۡصٍ، فَمَنۡ فَعَلَ ذٰلِكَ أُدِّبَ فَإِنۡ تَابَ وَإِلَّا جُلِدَ فِي الۡحَبۡسِ حَتَّى يَمُوتَ أَوۡ يَرۡجِعَ). 

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan makna itu di dalam kitab Ash-Sharim Al-Maslul dan beliau menukil dari Ahmad pada halaman 573 ucapan beliau, “Tidak boleh bagi seorang pun untuk menyebutkan sedikit saja dari kejelekan-kejelekan para sahabat Nabi dan tidak boleh mencela seorang pun dari mereka dengan suatu aib atau kekurangan. Siapa saja yang melakukan itu, maka dia dibimbing. Jika dia bertobat (maka itu yang diinginkan), namun jika tidak maka dicambuk di dalam penjara hingga dia mati atau rujuk.”

Taisirul 'Allam - Hadits ke-213

الۡحَدِيثُ الثَّالِثُ عَشَرَ بَعۡدَ الۡمِائَتَيۡنِ

٢١٣ - عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡقِلٍ، قَالَ: جَلَسۡتُ إِلَى كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ فَسَأَلۡتُهُ عَنِ الۡفِدۡيَةِ فَقَالَ: نَزَلَتۡ فِيَّ خَاصَّةً، وَهِيَ لَكُمۡ عَامَّةً: 
حُمِلۡتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَالۡقَمۡلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجۡهِي فَقَالَ: 
(مَا كُنۡتُ أَرَى الۡوَجَعَ بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى - أَوۡ: مَا كُنۡتُ أُرَى الۡجَهۡدَ بَلَغَ مِنۡكَ مَا أَرَى: - أَتَجِدُ شَاةً؟ فَقُلۡتُ: لَا، قَالَ: فَصُمۡ ثَلَاثَةَ أيَّامٍ، أَوۡ أَطۡعِمۡ سِتَّةَ مَسَاكِيۡنَ، لِكُلِّ مِسۡكِينٍ نِصۡفُ صَاعٍ. 
وَفِي رِوَايَةٍ: أَمَرَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنۡ يُطۡعِمَ فَرَقًا بَيۡنَ سِتَّةِ مَسَاكِينَ، أَوۡ يُهۡدِيَ شَاةً، أوۡ يَصُومَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ. 
213. Dari ‘Abdullah bin Ma’qil. Beliau berkata: Aku duduk menghadap Ka’b bin ‘Ujrah. Aku menanyakan kepadanya tentang fidiah. Beliau berkata: (Ayat) itu turun secara khusus tentang aku, namun berlaku umum untuk kalian. Dahulu aku dibawa menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan kutu bertebaran di wajahku. 
Rasulullah bersabda, “Tadinya aku tidak mengira penyakitmu separah yang aku lihat—atau: tadinya aku tidak melihat kesusahan menimpamu separah yang aku lihat—. Apakah engkau mendapatkan seekor kambing?” 
Aku menjawab, “Tidak.” 
Beliau bersabda, “Berpuasalah tiga hari atau berilah makanan enam orang miskin. Setengah sha’ untuk setiap orang miskin.”[1]
Dalam sebuah riwayat: Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk memberi makan satu faraq (tiga sha’) untuk enam orang miskin, atau menghadiahkan (berkurban) seekor kambing, atau berpuasa tiga hari.[2]

الۡغَرِيبُ: 


Ungkapan-ungkapan asing: 

١- نَزَلَتۡ فِيَّ: يَعۡنِي الۡآيَةَ وَهِيَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذًى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٌ مِّن صِيَامٍ أَوۡ صَدَقَةٍ أَوۡ نُسُكٍ﴾ [البقرة: ١٩٦]. 

1. Turun tentang aku, yakni ayat firman Allah taala yang artinya, “Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya fidiah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban.” (QS. Al-Baqarah: 196). 

٢- حُمِلۡتُ: بِالۡبِنَاءِ لِلۡمَجۡهُولِ. 

2. “Aku dibawa” dalam bentuk kata kerja pasif. 

٣- مَا كُنۡتُ أُرَى: بِضَمِّ الۡهَمۡزَةِ، بِمَعۡنَى (أَظُنُّ). 

3. أُرَى dengan huruf hamzah didamah bermakna “Aku mengira”. 

٤- مَا أَرَى: - بِفَتۡحِ الۡهَمۡزَةِ، بِمَعۡنَى (أُشَاهِدُ). 

4. أَرَى dengan huruf hamzah difatah bermakna “Aku menyaksikan”. 

٥- الۡجَهۡد: بِفَتۡحِ الۡجِيمِ (الۡمَشَقَّةُ)، وَبِضَمِّهَا بِمَعۡنَى (الۡوُسۡعِ) وَ(الطَّاقَةِ) وَالۡمُرَادُ –هُنَا- الۡأَوَّلُ. 

5. الجهد dengan memfatah huruf jim artinya adalah kesulitan. Apabila huruf jimnya didamah, maka bermakna “kesanggupan” dan “kemampuan”. Yang dimaksud di sini adalah makna pertama. 

٦- الۡفَرَقُ: بِفَتۡحِ الۡفَاءِ وَالرَّاءِ، مِكۡيَالُ يَسَعُ ثَلَاثَةَ آصُعٍ نَبَوِيَّةٍ. 

وَتَقَدَّمَ فِي الزَّكَاةِ تَحۡرِيرُ الصَّاعِ النَّبَوِيِّ وَمَكَايِيلِنَا الۡحَاضِرَةِ وَالۡمُقَارَنَةِ بَيۡنَهُمَا. 

6. Faraq dengan memfatah huruf fa dan ra adalah takaran yang berukuran tiga sha’ yang berlaku di zaman Nabi. Sudah lewat di dalam pembahasan zakat, penentuan sha’ di zaman Nabi, takaran-takaran di masa sekarang ini, dan perbandingan antara keduanya. 

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي: 


Makna hadis ini secara umum: 

رَأَى النَّبِيُّ ﷺ (كَعۡبَ بۡنَ عُجۡرَةَ) فِي (الۡحُدَيۡبِيَةِ) وَهُوَ مُحۡرِمٌ. 

وَإِذَا الۡقَمۡلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجۡهِهِ مِنَ الۡمَرَضِ، وَالۡأَوۡسَاخُ الۡمُتَسَبِّبَةُ مِنَ الۡمَرَضِ. 

وَكَانَ ﷺ بِالۡمُؤۡمِنِينَ رَؤُوفًا رَحِيمًا، فَرَقَّ لِحَالِهِ وَقَالَ: مَا كُنۡتُ أَظُنُّ أَنَّ الۡمَشَقَّةَ بَلَغَتۡ مِنۡكَ هَٰذَا الۡمَبۡلَغَ، الَّذِي أَرَاهُ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذًى مِّن رَّأۡسِهِۦ﴾ [البقرة: ١٩٦] إلخ الۡآيَة. 

Nabi Muhammad ﷺ melihat[3] Ka’b bin ‘Ujrah di Hudaibiyah[4] ketika dia sedang ihram. Ternyata kutu bertebaran di wajahnya karena sakit. Kotoran-kotoran yang menjadi penyebab sakit beliau. Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman, beliau bersimpati karena keadaan Ka’b. Beliau berkata, “Tadinya aku tidak mengira bahwa kesulitan menimpamu hingga separah yang aku lihat ini.” Lalu Allah tabaraka wa ta’ala menurunkan ayat yang artinya, “Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan di kepalanya,” hingga akhir ayat (QS. Al-Baqarah: 196). 

فَسَأَلَ النَّبِيُّ ﷺ: هَلۡ يَجِدُ أَفۡضَلَ مَا يُفۡدِي بِهِ وَهُوَ الشَّاةُ؟ 

فَقَالَ: لَا، فَقَالَ: إِذَا لَمۡ تَجِدِ الشَّاةَ فَأَنۡتَ مُخَيَّرٌ بَيۡنَ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، أَوۡ إِطۡعَامِ سِتَّةِ مَسَاكِينَ، لِكُلِّ مِسۡكِينٍ نِصۡفُ صَاعٍ مِنۡ بُرٍّ، أَوۡ غَيۡرِهِ، وَيَكُونُ ذٰلِكَ كَفَّارَةً عَنۡ حَلۡقِ رَأۡسِهِ، الَّذِي اضۡطَرَّ إِلَيۡهِ فِي إِحۡرَامِهِ، مِنۡ أَجۡلِ مَا فِيهِ مِنۡ هَوَامٍّ، وَفِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى، خَيَّرَهُ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ. 

Lalu Nabi Muhammad ﷺ bertanya apakah Ka’b memiliki fidiah yang paling afdal, yaitu kambing. Ka’b menjawab, “Tidak.” Lalu Nabi bersabda, “Jika engkau tidak memiliki kambing, maka engkau diberi pilihan antara puasa tiga hari atau memberi makan enam orang miskin, setiap orang miskin setengah sha’ gandum atau selainnya.” Hal itu adalah kafarat dari menggundul kepalanya yang memang beliau butuhkan ketika ihramnya. Hal itu karena adanya kutu-kutu kepala. Di dalam riwayat lain, Nabi Muhammad memberinya pilihan di antara tiga hal itu. 

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ: 


Faedah yang diambil dari hadis ini: 

١- جَوَازُ حَلۡقِ الشَّعۡرِ لِلۡمُحۡرِمِ مَعَ التَّضَرُّرِ بِبَقَائِهِ، وَيُفۡدِي. 

٢- تَحۡرِيمُ أَخۡذِ الشَّعۡرِ لِلۡمُحۡرِمِ بِلَا ضَرَرٍ، وَلَوۡ فَدَى. 

٣- أَنَّ الۡأَفۡضَلَ فِي الۡفِدۡيَةِ، ذَبۡحُ شَاةٍ، وَتَقۡسِيمُهَا عَلَى الۡفُقَرَاءِ. فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡ، فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، أَوۡ إِطۡعَامُ سِتَّةِ مَسَاكِينَ، لِكُلِّ مِسۡكِينٍ نِصۡفُ صَاعٍ. 

وَفِي الرِّوَايَةِ الۡأُخۡرَى التَّخۡيِيرُ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ وَيَأۡتِي تَحۡقِيقُهُ قَرِيبًا إِنۡ شَاءَ اللهُ. 

1. Bolehnya orang yang sedang berihram mencukur habis rambut kepala yang apabila dibiarkan akan bermudarat dan orang itu membayar fidiah. 

2. Pengharaman mencukur rambut bagi orang yang sedang berihram bila tidak ada kemudaratan, walaupun dia membayar fidiah. 

3. Bahwa fidiah yang paling afdal adalah menyembelih kambing dan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir. Jika dia tidak mendapatkan kambing, maka puasa tiga hari atau memberi makan enam orang miskin. Setiap orang miskin setengah sha’. Di dalam riwayat lain, dipersilakan memilih antara tiga macam fidiah itu dan tahkiknya akan datang sebentar lagi insya Allah. 

٤- كَوۡنُ السُّنَّةِ مُفَسِّرَةً، وَمُبَيِّنَةً لِلۡقُرۡآنِ. 

فَإِنَّ (الصَّدَقَةَ) الۡمَذۡكُورَةَ فِي الۡآيَةِ مُجۡمَلَةٌ، بَيَّنَهَا الۡحَدِيثُ. 

4. Sunah sebagai penafsir dan penjelas Alquran. Karena kata “sedekah” yang disebutkan di dalam ayat, masih bermakna umum, kemudian hadis ini menjelaskannya. 

٥- ظَاهِرُ الۡحَدِيثِ أَنَّ نِصۡفَ الصَّاعِ يُخۡرَجُ، سَوَاءً أَكَانَ مِنۡ بُرٍّ أَمۡ غَيۡرِهِ. وَهُوَ مَذۡهَبُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَرِوَايَةٌ عَنۡ أَحۡمَدَ، وَهُوَ الصَّحِيحُ، لِظَاهِرِ الۡحَدِيثِ. 

أَمَّا الۡمَشۡهُورُ مِنۡ مَذۡهَبِ أَحۡمَدَ، مُدٌّ مِنۡ بُرٍّ، أَوۡ نِصۡفُ صَاعٍ مِنۡ غَيۡرِهِ. 

5. Yang tampak dari hadis ini bahwa setengah sha’ yang dikeluarkan (untuk fidiah), sama saja, baik berupa gandum atau selainnya. Ini adalah mazhab Malik, Asy-Syafi’i, dan satu riwayat dari Ahmad. Ini yang sahih sesuai yang tampak dari hadis ini. Adapun pendapat yang masyhur dari mazhab Ahmad, apabila berupa gandum burr, maka satu mudd. Jika selain itu, maka setengah sha’.

٦- ظَاهِرُ النُّصُوصِ، نُزُولُ الۡآيَةِ بَعۡدَ فَتۡوَى النَّبِيِّ ﷺ. 

فَتَكُونُ الۡآيَةُ مُؤَيِّدَةً لِلۡوَحۡيِ الَّذِي لَا يُتۡلَى. 

6. Lahir nas-nas menunjukkan bahwa ayat turun setelah fatwa Nabi Muhammad ﷺ, sehingga ayat Alquran menguatkan hadis. 

٧- وَفِيهِ رَأۡفَةُ النَّبِيِّ ﷺ. 

٨- وَفِيهِ تَفَقُّدُ الۡأَمِيرِ وَالۡقَائِدِ أَحۡوَالَ رَعِيَّتِهِ. 

٩- أَلۡحَقَ الۡعُلَمَاءُ بِحَلۡقِ الرَّأۡسِ تَقۡلِيمَ الۡأَظۡفَارِ، وَالطِّيبَ، وَاللُّبۡسَ، بِجَامِعِ التَّرَفُّهِ فِي كُلٍّ مِنۡهَا، وَتُسَمَّى (فِدۡيَةَ الۡأَذَى). 

7. Dalam hadis ini disebutkan rasa kasih sayangnya Nabi Muhammad ﷺ. 

8. Dalam hadis ini disebutkan perhatian amir dan pemimpin terhadap keadaan rakyatnya. 

9. Para ulama mengikutkan perihal memotong kuku, memakai wewangian, dan memakai pakaian—dari sisi kesamaan adanya kenyamanan (atas hilangnya gangguan) dalam setiap perkara itu—ke dalam hukum menggundul kepala. Ini dinamakan fidyatul adza

١٠- وَرَدَ فِي بَعۡضِ الۡأَحَادِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ مَرَّ بِكَعۡبٍ، وَبَعۡضِهَا: أَنَّهُ حُمِلَ إِلَيۡهِ. وَجَمَعَ بَيۡنَهُمَا الۡعُلَمَاءُ، بِأَنَّهُ مَرَّ بِهِ أَوَّلًا ثُمَّ طَلَبَهُ فَحُمِلَ إِلَيۡهِ. 

١١- يَجُوزُ الۡحَلۡقُ قَبۡلَ التَّكۡفِيرِ وَبَعۡدَهُ، كَكَفَّارَةِ الۡيَمِينِ، تَجُوزُ قَبۡلَ الۡحِنۡثِ وَبَعۡدَهُ. 

١٢- سَبَبُ نُزُولِ الۡآيَةِ: ﴿فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا﴾[البقرة: ١٨٤] الخ ... قَضِيَّةُ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ وَلَكِنَّهَا عَامَّةٌ، لِأَنَّ الۡعِبۡرَةَ بِعُمُومِ اللَّفۡظِ، لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ. 

10. Disebutkan dalam sebagian hadis, bahwa Nabi Muhammad ﷺ melewati Ka’b dan sebagian lainnya disebutkan bahwa Ka’b dibawa menghadap beliau. Para ulama memadukan keduanya bahwa beliau melewatinya di awal kali, kemudian beliau meminta Ka’b agar dibawa menghadap beliau. 

11. Boleh menggundul sebelum membayar kafarat atau setelahnya. Sebagaimana kafarat sumpah, boleh dibayar sebelum pelanggaran sumpah atau setelahnya. 

12. Sebab turunnya ayat yang artinya, “Jika ada di antara kalian yang sakit…” (QS. Al-Baqarah: 184), adalah peristiwa Ka’b bin ‘Ujrah. Akan tetapi ayat tersebut berlaku umum karena pelajaran itu dipetik dari keumuman ungkapan, bukan dari kekhususan sebab. 

تَحۡقِيقُ التَّخۡيِيرِ فِي الۡكَفَّارَةِ: 


Tahkik pemberian pilihan dalam kafarat: 

ظَاهِرُ الۡحَدِيثِ الَّذِي مَعَنَا يُفِيدُ تَقۡدِيمَ الشَّاةِ، فَإِنۡ لَمۡ يَجِدۡهَا، فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيۡنَ الصِّيَامِ وَالۡإِطۡعَامِ. 

أَمَّا الۡآيَةُ وَبَقِيَّةُ الرِّوَايَاتِ، فَتُفِيدُ التَّخۡيِيرَ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ. 

وَمِنۡهَا مَا رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي لَيۡلَى، عَنۡ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: (لَعَلَّهُ آذَاكَ هَوَامُّكَ؟) 

قَالَ: نَعَمۡ. 

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: احۡلِقۡ رَأسَكَ، وَصُمۡ ثَلَاثَةَ أيَّامٍ، أَوۡ أَطۡعِمۡ سِتَّةَ مَسَاكِينَ، أَوِ انۡسُكۡ شَاةً) فَهَٰذَا وَأَمۡثَالُهُ، صَرِيحٌ فِي التَّخۡيِيرِ. 

Lahir hadis yang bersama kita ini memberi faedah pengedepanan fidiah kambing. Jika orang itu tidak mendapatkannya, maka dia diberi pilihan antara puasa dan memberi makan. Adapun ayat dan riwayat-riwayat lainnya, maka memberi faedah pemberian pilihan antara tiga opsi tersebut. Di antara riwayat itu adalah hadis riwayat Al-Bukhari dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ka’b bin ‘Ujrah, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bertanya, “Apa kutu-kutu kepalamu itu mengganggumu?” 

Ka’b menjawab, “Iya.” 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Gunduli kepalamu dan berpuasalah tiga hari, atau berilah makan enam orang miskin, atau berkurbanlah seekor kambing.” 

Riwayat ini dan yang semisalnya menegaskan pemberian pilihan. 

وَقَدۡ جَمَعَ الۡعُلَمَاءُ بَيۡنَهَا، فَقَالَ ابۡنُ عَبۡدِ الۡبَرِّ: قَدَّمَ الشَّاةُ، إِشَارَةً إِلَى تَرۡجِيحِ التَّرۡتِيبِ، لَا إِلَى إِيجَابِهِ. 

قَالَ النَّوَوِيُّ: قَصَدَ بِسُؤَالِهِ عَنِ الشَّاةِ، أَنۡ يُخۡبِرَهُ إِنۡ كَانَ عِنۡدَهُ شَاةٌ، فَهُوَ مُخَيَّرٌ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ، لَا أَنَّهُ لَا يُجۡزِيءُ مَعَ وُجُودِهَا غَيۡرُهَا. 

وَقَالَ بَعۡضُهُمۡ: إِنَّهُ أَفۡتَاهُ فِي الشَّاةِ اجۡتِهَادًا، وَبَعۡدَ ذٰلِكَ نَزَلَتِ الۡآيَةُ فِي التَّخۡيِيرِ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ. 

Para ulama telah memadukan riwayat-riwayat tersebut. 

Ibnu ‘Abdul Barr berkata, “Beliau mengedepankan kambing sebagai isyarat kepada urutan dari yang lebih utama, namun tidak mengharuskannya.” 

An-Nawawi berkata, “Maksud beliau bertanya tentang kambing adalah apabila Ka’b memiliki kambing, maka dia diberi tiga pilihan. Bukan maksudnya pilihan yang lain tidak sah apabila memiliki kambing.” 

Sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya beliau memberi fatwa kepada Ka’b tentang kambing dengan ijtihad. Setelah itu, ayat tersebut turun memberi tiga pilihan.” 

وَيُؤَيِّدُ هَٰذَا الۡقَوۡلُ مَا رَوَاهُ مُسۡلِمٌ عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡقِلٍ، عَنۡ كَعۡبٍ قَالَ: (أَتَجِدُ شَاةً؟ قُلۡتُ: لَا، فَنَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ). 

وَالۡأَحَادِيثُ الۡوَارِدَةُ فِي هَٰذَا الۡمَعۡنَى، وَرَدَتۡ مِنۡ طَرِيقِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي لَيۡلَى، عَنۡ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ، وَمِنۡ طَرِيقِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡقِلٍ، عَنۡ كَعۡبٍ أَيۡضًا. 

وَمَا رُوِيَ مِنۡ طَرِيقِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، مُوَافِقٌ لِمَعۡنَى الۡآيَةِ، مِنۡ إِفَادَةِ التَّخۡيِيرِ بَيۡنَ الثَّلَاثَةِ. 

وَمَا وَرَدَ مِنۡ طَرِيقِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَعۡقِلٍ، يُفِيدُ التَّرۡتِيبَ. 

وَلِهَٰذَا فَإِنَّ ابۡنَ حَزۡمٍ، حَكَمَ عَلَى رِوَايَةِ عَبۡدِ اللهِ بِالۡاضۡطِرَابِ، وَقَالَ فِي طَرِيقِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ: (هَٰذَا أَكۡمَلُ الۡأَحَادِيثِ وَأَبۡيَنُهَا). 

Yang menguatkan pendapat ini adalah hadis riwayat Muslim dari ‘Abdullah bin Ma’qil, dari Ka’b. 

Nabi bertanya, “Apakah engkau mendapatkan seekor kambing?” 

Ka’b menjawab, “Tidak.” Lalu ayat ini turun. 

Hadis-hadis yang ada semakna ini datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ka’b bin ‘Ujrah. Juga dari jalan ‘Abdullah bin Ma’qil, dari Ka’b. Hadis yang datang dari jalan ‘Abdurrahman sesuai dengan makna ayat, berupa faedah pemberian tiga pilihan. Hadis yang datang dari jalan ‘Abdullah bin Ma’qil memberi faedah urutan. Atas dasar ini, Ibnu Hazm menilai riwayat ‘Abdullah idhthirab (goyah/tidak konsisten) dan beliau berkata dalam jalur riwayat ‘Abdurrahman, “Hadis ini paling sempurna dan paling jelas.” 

وَالَّذِي أَرَى: أَنَّ مَا ذَهَبَ إِلَيۡهِ (أَبُو مُحَمَّدٍ) هُوَ أَحۡسَنُ جَمۡعٍ، لِأَنَّ الۡقِصَّةَ وَاحِدَةٌ. فَلَا يُمۡكِنُ أَنۡ يَقَعَ فِيهَا إِلَّا صِفَةٌ وَاحِدَةٌ، فَلَا يُمۡكِنُ الۡجَمۡعُ إِلَّا بِهَٰذَا. وَلِذَا قَالَ ابۡنُ حَجَرٍ: وَأَقۡرَبُ مَا وَقَفۡتُ عَلَيۡهِ مِنۡ طُرُقِ حَدِيثِ الۡبَابِ إِلَى التَّصۡرِيحِ مَا أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ مِنۡ طَرِيقِ الشَّعۡبِيِّ عَنِ ابۡنِ أَبِي لَيۡلَى عَنۡ كَعۡبِ بۡنِ عُجۡرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (إِنۡ شِئۡتَ فَانۡسُكۡ شَاةً، وَإِنۡ شِئۡتَ فَصُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَإِنۡ شِئۡتَ فَأَطۡعِمۡ). 

وَرِوَايَةُ مَالِكٍ فِي الۡمُوَطَّأِ (أَيَّ ذٰلِكَ فَعَلۡتَ أَجۡزَأَ) وَاللهُ أَعۡلَمُ. 

Yang aku pandang bahwa pendapat yang dipegangi Abu Muhammad (Ibnu Hazm) adalah pemaduan yang paling baik karena kisah ini hanya terjadi satu kali, sehingga tidak mungkin terjadi kecuali satu gambaran saja. Jadi tidak mungkin dipadukan kecuali dengan cara ini. 

Karena inilah, Ibnu Hajar berkata: 

Pendapat yang aku anggap paling dekat kepada kejelasan dari berbagai jalan hadis dalam bab ini adalah hadis riwayat Abu Dawud dari jalan Asy-Sya’bi, dari Ibnu Abu Laila, dari Ka’b bin ‘Ujrah, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Jika engkau mau, maka berkurbanlah seekor kambing. Dan jika engkau mau, maka berpuasalah tiga hari. Dan jika engkau mau, maka berilah makan.” 

Juga riwayat Malik di dalam Al-Muwaththa`, “Mana saja yang engkau lakukan dari ketiga hal itu, maka sudah mencukupi.” Wallahualam. 


[1] HR. Al-Bukhari nomor 1816, 4517 dan Muslim nomor 1201/85. Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi nomor 2974, Ibnu Majah nomor 3079, dan Ahmad dalam Al-Musnad 4/242. 


[3] Diungkapkan dengan kata “melihat” karena kata itu ada dalam sebagian redaksi hadis bahwa Nabi ﷺ melewati Ka’b dan dalam sebagian hadis bahwa Ka’b dibawa menghadap beliau, sedangkan kejadiannya satu. 

[4] Ada pada sebagian redaksi hadis bahwa kejadian itu di Hudaibiyah.