Sunan Abu Dawud hadits nomor 2362 dan 2363

٢٥ - بَابُ الۡغِيبَةِ لِلصَّائِمِ 
25. Bab gibah bagi orang yang berpuasa 

٢٣٦٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ، ثنا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنِ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ لَمۡ يَدَعۡ قَوۡلَ الزُّورِ وَالۡعَمَلَ بِهِ [وَالۡجَهۡلَ] فَلَيۡسَ لِلهِ حَاجَةٌ أَنۡ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ). قَالَ أَحۡمَدُ: فَهِمۡتُ إِسۡنَادَهُ مِنِ ابۡنِ أَبِي ذِئۡبٍ، وَأَفۡهَمَنِي الۡحَدِيثَ رَجُلٌ إِلَى جَنۡبِهِ أُرَاهُ ابۡنَ أَخِيهِ. [خ]. 
2362. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami dari Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta, berbuat dusta, dan berbuat jahil, maka Allah tidak menghiraukan amalannya meninggalkan makan dan minum.” Ahmad (bin Yunus) berkata: Aku memahami sanad hadis ini dari Ibnu Abu Dzi`b dan seseorang yang berada di sisi Ibnu Abu Dzi`b telah memahamkan hadis ini kepadaku. Aku mengira orang itu adalah putra saudara laki-lakinya. 
٢٣٦٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ [قَالَ: (إِذَا كَانَ][1] أَحَدُكُمۡ صَائِمًا فَلَا يَرۡفُثۡ وَلَا يَجۡهَلۡ، فَإِنۡ امۡرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوۡ شَاتَمَهُ فَلۡيَقُلۡ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ).] [ق]. 
2363. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka janganlah berkata jorok dan berbuat jahil. Jika ada seseorang yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya, maka hendaknya ia katakan: Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” 

[1] فِي (نسخة): (قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ). (منه).

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2360 dan 2361

٢٤ - بَابٌ فِي الۡوِصَالِ 
24. Bab tentang menyambung puasa tanpa berbuka 

٢٣٦٠ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ الۡقَعۡنَبِيُّ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ الۡوِصَالِ، قَالُوا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: (إِنِّي لَسۡتُ كَهَيۡئَتِكُمۡ، إِنِّي أُطۡعَمُ وَأُسۡقَى). [ق]. 
2360. ‘Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi telah menceritakan kepada kami dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari menyambung puasa tanpa berbuka. Para sahabat berkata, “Sesungguhnya engkau menyambung puasa, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Aku tidak seperti keadaan kalian karena sesungguhnya aku diberi makan dan diberi minum.” 
٢٣٦١ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، أَنَّ بَكۡرَ بۡنَ مُضَرَ حَدَّثَهُمۡ، عَنِ ابۡنِ الۡهَادِ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ خَبَّابٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (لَا تُوَاصِلُوا، فَأَيُّكُمۡ أَرَادَ أَنۡ يُوَاصِلَ فَلۡيُوَاصِلۡ حَتَّى السَّحَرَ) قَالُوا: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ! قَالَ: (إِنِّي لَسۡتُ كَهَيۡئَتِكُمۡ، إِنَّ لِي مُطۡعِمًا يُطۡعِمُنِي وَسَاقِيًا يَسۡقِينِي). [خ]. 
2361. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami bahwa Bakr bin Mudhar menceritakan kepada mereka dari Ibnu Al-Had, dari ‘Abdullah bin Khabbab, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyambung puasa tanpa berbuka. Siapa saja dari kalian yang hendak menyambung puasa, maka sambunglah sampai waktu sahur.” Para sahabat berkata, “Sesungguhnya engkau menyambung puasa.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku tidak seperti keadaan kalian. Sesungguhnya aku ada yang memberiku makan dan ada yang memberiku minum.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2359

٢٣ - بَابُ الۡفِطۡرِ قَبۡلَ غُرُوبِ الشَّمۡسِ 
23. Bab berbuka sebelum matahari tenggelam 

٢٣٥٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا هَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ، الۡمَعۡنَى، قَالَا: نا أَبُو أُسَامَةَ، نا هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ فَاطِمَةَ بِنۡتِ الۡمُنۡذِرِ، عَنۡ أَسۡمَاءَ بِنۡتِ أَبِي بَكۡرٍ قَالَتۡ: أَفۡطَرۡنَا يَوۡمًا فِي رَمَضَانَ فِي غَيۡمٍ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمۡسُ. قَالَ أَبُو أُسَامَةَ: قُلۡتُ لِهِشَامٍ: أُمِرُوا بِالۡقَضَاءِ؟ قَالَ: وَبُدٌّ مِنۡ ذٰلِكَ؟!. [خ]. 
2359. Harun bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami. Juga Muhammad bin Al-‘Ala` secara makna. Keduanya berkata: Abu Usamaha menceritakan kepada kami: Hisyam bin ‘Urwah menceritakan kepada kami dari Fathimah binti Al-Mundzir, dari Asma` binti Abu Bakr. Beliau mengatakan: Kami pernah berbuka suatu hari di bulan Ramadan ketika langit berawan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian matahari kembali terlihat. Abu Usamah berkata: Aku bertanya keapda Hisyam: Apakah mereka diperintah untuk mengada puasa? Beliau menjawab: Apakah hal itu tidak harus?!

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2357 dan 2358

٢٢ - بَابُ الۡقَوۡلِ عِنۡدَ الۡإِفۡطَارِ 
22. Bab doa ketika iftar 

٢٣٥٧ – (حسن) حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ يَحۡيَى [أَبُو مُحَمَّدٍ]، نا عَلِيُّ بۡنُ الۡحَسَنِ، أَخۡبَرَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ وَاقِدٍ، نا مَرۡوَانُ - يَعۡنِي ابۡنَ سَالِمٍ الۡمُقَفَّعَ - قَالَ: رَأَيۡتُ ابۡنَ عُمَرَ يَقۡبِضُ عَلَى لِحۡيَتِهِ، فَيَقۡطَعُ مَا زَادَتۡ عَلَى الۡكَفِّ، وَقَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَفۡطَرَ قَالَ: (ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابۡتَلَّتِ الۡعُرُوقُ، وَثَبَتَ الۡأَجۡرُ إِنۡ شَاءَ اللهُ). 
2357. ‘Abdullah bin Muhammad bin Yahya Abu Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Al-Hasan menceritakan kepada kami: Al-Husain bin Waqid mengabarkan kepada kami: Marwan bin Salim Al-Muqaffa’ menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku melihat Ibnu ‘Umar menggenggam jenggotnya lalu beliau memotong jenggot yang melebihi telapak tangannya dan beliau mengatakan: Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah berbuka, beliau berkata, “Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.” 
٢٣٥٨ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا هُشَيۡمٌ، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ زُهۡرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا أَفۡطَرَ قَالَ: (اللّٰهُمَّ لَكَ صُمۡتُ، وَعَلَى رِزۡقِكَ أَفۡطَرۡتُ). 
2358. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Husyaim menceritakan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah bahwa sampai kepada beliau bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, apabila telah berbuka, beliau berdoa, “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa dan hanyalah aku berbuka dengan rezeki-Mu.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2355 dan 2356

٢١ - بَابُ مَا يُفۡطَرُ عَلَيۡهِ 
21. Bab tentang santapan untuk berbuka 

٢٣٥٥ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ بۡنُ زِيَادٍ، عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ حَفۡصَةَ بِنۡتِ سِيرِينَ، عَنِ الرَّبَابِ، عَنۡ سَلۡمَانَ بۡنِ عَامِرٍ عَمِّهَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا كَانَ أَحَدُكُمۡ صَائِمًا فَلۡيُفۡطِرۡ عَلَى التَّمۡرِ، فَإِنۡ لَمۡ يَجِدِ التَّمۡرَ فَعَلَى الۡمَاءِ، فَإِنَّ الۡمَاءَ طَهُورٌ). 
2355. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Hafshah binti Sirin, dari Ar-Rabab, dari Salman bin ‘Amir, pamannya. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika dia tidak mendapati kurma, maka dengan air karena air itu sangat bersih.” 
٢٣٥٦ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ، نا جَعۡفَرُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، أنا ثَابِتٌ الۡبُنَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بۡنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُفۡطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبۡلَ أَنۡ يُصَلِّيَ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنۡ مَاءٍ. 
2356. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Tsabit Al-Bunani mengabarkan kepada kami bahwa beliau mendengar Anas bin Malik mengatakan: Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa ruthab (kurma muda) sebelum salat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr (kurma). Jika tidak ada, maka dengan beberapa teguk air.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2353 dan 2354

٢٠ - بَابُ مَا يُسۡتَحَبُّ مِنۡ تَعۡجِيلِ الۡفِطۡرِ 
20. Bab tentang disukainya menyegerakan berbuka 

٢٣٥٣ – (حسن) حَدَّثَنَا وَهۡبُ بۡنُ بَقِيَّةَ، عَنۡ خَالِدٍ، عَنۡ مُحَمَّدٍ - يَعۡنِي ابۡنَ عَمۡرٍو - عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الۡفِطۡرَ، لِأَنَّ الۡيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ). 
2353. Wahb bin Baqiyyah telah menceritakan kepada kami dari Khalid, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Agama ini akan senantiasa menang selama orang-orang menyegerakan berbuka karena orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” 
٢٣٥٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ عُمَارَةَ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ: دَخَلۡتُ عَلَى عَائِشَةَ [رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا] أَنَا وَمَسۡرُوقٌ فَقُلۡنَا: يَا أُمَّ الۡمُؤۡمِنِينَ، رَجُلَانِ مِنۡ أَصۡحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الۡإِفۡطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ، وَالۡآخَرُ يُؤَخِّرُ الۡإِفۡطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ، قَالَتۡ: أَيُّهُمَا يُعَجِّلُ الۡإِفۡطَارَ، وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ؟ قُلۡنَا: عَبۡدُ اللهِ، قَالَتۡ: كَذٰلِكَ كَانَ يَصۡنَعُ رَسُولُ اللهِ ﷺ. [م]. 
2354. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari Abu ‘Athiyyah. Beliau berkata: Aku dan Masruq masuk menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan berkata, “Wahai ibunda kaum mukminin, ada dua orang dari kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat. Sementara yang lain mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan salat.” ‘Aisyah bertanya, “Siapa di antara kedua orang itu yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat?” Kami menjawab, “’Abdullah (bin Mas’ud).” ‘Aisyah berkata, “Seperti itulah yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2351 dan 2352

١٩ - بَابُ وَقۡتِ فِطۡرِ الصَّائِمِ 
19. Bab waktu orang yang berpuasa berbuka 

٢٣٥١ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا وَكِيعٌ، نا هِشَامٌ، ح، وَنا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ دَاوُدَ، عَنۡ هِشَامٍ، الۡمَعۡنَى، قَالَ هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِذَا جَاءَ اللَّيۡلُ مِنۡ هَا هُنَا، وَذَهَبَ النَّهَارُ مِنۡ هَا هُنَا – زَادَ مُسَدَّدٌ: وَغَابَتِ الشَّمۡسُ -: فَقَدۡ أَفۡطَرَ الصَّائِمُ). [ق]. 
2351. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Dawud menceritakan kepada kami dari Hisyam secara makna. Hisyam bin ‘Urwah berkata dari ayahnya, dari ‘Ashim bin ‘Umar, dari ayahnya. Beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika malam telah datang dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini—Musaddad menambahkan: Dan matahari telah tenggelam—maka orang yang berpuasa sudah bisa berbuka.” 
٢٣٥٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ الۡوَاحِدِ، نا سُلَيۡمَانُ الشَّيۡبَانِيُّ، [قَالَ]: سَمِعۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ أَبِي أَوۡفَى يَقُولُ: سِرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهُوَ صَائِمٌ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمۡسُ قَالَ: (يَا بِلَالُ انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ لَوۡ أَمۡسَيۡتَ، قَالَ: (انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنَّ عَلَيۡكَ نَهَارًا، قَالَ: (انۡزِلۡ فَاجۡدَحۡ لَنَا) فَنَزَلَ فَجَدَحَ، فَشَرِبَ رَسُولُ اللهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: (إِذَا رَأَيۡتُمُ اللَّيۡلَ قَدۡ أَقۡبَلَ مِنۡ هَا هُنَا فَقَدۡ أَفۡطَرَ الصَّائِمُ) وَأَشَارَ بِإِصۡبَعِهِ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ. [ق]. 
2352. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid menceritakan kepada kami: Sulaiman Asy-Syaibani menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku mendengar ‘Abdullah bin Abu Aufa berkata: Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau berpuasa. Ketika matahari telah tenggelam, beliau bersabda, “Wahai Bilal, turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, andai lebih sore lagi.” Nabi bersabda, “Turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari masih siang.” Nabi bersabda, “Turunlah dan siapkan hidangan untuk kami.” Bilal pun turun dan menyiapkan hidangan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum kemudian bersabda, “Jika kalian telah melihat malam telah datang dari arah sini, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.” Beliau mengisyaratkan dengan jari beliau ke arah timur.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2350

١٨ - بَابٌ [فِي] الرَّجُلِ يَسۡمَعُ النِّدَاءَ وَالۡإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ 
18. Bab tentang seseorang yang mendengar azan sementara bejana ada di tangannya 

٢٣٥٠ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡأَعۡلَى بۡنُ حَمَّادٍ، نا حَمَّادٌ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ عَمۡرٍو، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالۡإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعُهُ حَتَّى يَقۡضِيَ حَاجَتَهُ مِنۡهُ). 
2350. ‘Abdul A’la bin Hammad telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang kalian mendengar azan dalam keadaan bejana ada di tangannya, maka janganlah ia letakkan sampai ia menunaikan hajat darinya.”

Sabar suatu Kemestian

Ayat-ayat tentang Sabar


Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصۡبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَيۡءٍ مِنَ الۡخَوۡفِ وَالۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَنۡفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:155)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar:10)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَمَنۡ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ الأُمُورِ
"Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syuuraa:43)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسۡتَعِينُوا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:153)

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّى نَعۡلَمَ الۡمُجَاهِدِينَ مِنۡكُمۡ وَالصَّابِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian." (Muhammad:31)

Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.

Pengertian dan Jenis-jenis Sabar


Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan di antara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.

Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para 'ulama.

Jenis sabar yang pertama: yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji.

Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصۡبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)

Allah juga berfirman
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَا
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Thaahaa:132)

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ الۡقُرۡءَانَ تَنۡزِيلًا ۝٢٣ فَاصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:23-24)

Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan.

Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَاصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ بِالۡغَدَاةِ وَالۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (Al-Kahfi:28)

Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Jenis sabar yang kedua: yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.

Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu.

Di antara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِي إِلَيۡهِ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُنۡ مِنَ الۡجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Yuusuf:33)

Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.

Jenis sabar yang ketiga: yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia).

Karena sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan.

Taqdir yang bersifat menyenangkan: maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan: yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.

Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.

Allah berfirman:
فَاصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ
"Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:24)

Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.

Dan di antara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
فَاصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُولُو الۡعَزۡمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِلۡ لَهُمۡ
"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (Al-Ahqaaf:35)

Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.

Dan juga di antara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
مُرۡهَا فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ
"Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut)." (HR. Al-Bukhariy no.1284 dan Muslim no.923)

Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah


Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:
Keadaan pertama: marah
Keadaan kedua: bersabar
Keadaan ketiga: ridha
Dan keadaan keempat: bersyukur.

Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.

Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.

Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah - dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.

Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: "Duhai celaka, duhai binasa!", atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah 'Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.

Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.

Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.

Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.

Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.

Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:
الۡحَمۡدُ لِلهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
"Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan."

Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.

Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: "Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?" Maka dia menjawab: "Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya." 

Tingkatan Sabar


Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka'at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.

Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.

Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi'lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.

Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.

Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.


Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin.

Sumber: Buletin Jumat Al-Wala` Wal-Bara` edisi ke-5 Tahun ke-3 / 24 Desember 2004 M / 12 Dzul Qo'dah 1425 H.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1284

٣٢ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (يُعَذَّبُ الۡمَيِّتُ بِبَعۡضِ بُكَاءِ أَهۡلِهِ عَلَيۡهِ) إِذَا كَانَ النَّوۡحُ مِنۡ سُنَّتِهِ 
32. Bab sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mayat akan disiksa dengan sebab sebagian tangisan keluarganya terhadapnya,” jika ratapan itu dari sesuatu yang ia contohkan 

لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿قُوا أَنۡفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا﴾ [التحريم: ٦] وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (كُلُّكُمۡ رَاعٍ وَمَسۡئُولٌ عَنۡ رَعِيَّتِهِ). فَإِذَا لَمۡ يَكُنۡ مِنۡ سُنَّتِهِ، فَهُوَ كَمَا قَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: ﴿لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزۡرَ أُخۡرَى﴾ [الأنعام: ١٦٤]. وَهُوَ كَقَوۡلِهِ: ﴿وَإِنۡ تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ - ذُنُوبًا - إِلَى حِمۡلِهَا لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٌ﴾ [فاطر: ١٨]، وَمَا يُرَخَّصُ مِنَ الۡبُكَاءِ فِي غَيۡرِ نَوۡحٍ. وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (لَا تُقۡتَلُ نَفۡسٌ ظُلۡمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابۡنِ آدَمَ الۡأَوَّلِ كِفۡلٌ مِنۡ دَمِهَا). وَذٰلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنۡ سَنَّ الۡقَتۡلَ. 
Berdasarkan firman Allah taala (yang artinya), “Peliharalah diri-diri dan keluarga kalian dari neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemipinannya.” Sehingga, apabila bukan termasuk hal yang ia contohkan, maka hal itu sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164). Itu seperti firman Allah (yang artinya), “Dan jika seseorang yang berat—dosanya—memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu, tidaklah akan dipikulkan untuknya sedikitpun.” (QS. Fathir: 18). Juga perihal tangisan yang diberi keringanan selain ratapan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada satu jiwa pun yang dibunuh dengan kezaliman kecuali putra Adam yang pertama juga menanggung darahnya.” Hal itu karena dialah yang pertama kali memberi contoh pembunuhan. 
١٢٨٤ - حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ وَمُحَمَّدٌ قَالَا: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ اللهِ: أَخۡبَرَنَا عَاصِمُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بۡنُ زَيۡدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: أَرۡسَلَتِ ابۡنَةُ النَّبِيِّ ﷺ إِلَيۡهِ: إِنَّ ابۡنًا لِي قُبِضَ فَأۡتِنَا، فَأَرۡسَلَ يُقۡرِىءُ السَّلَامَ، وَيَقُولُ: (إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعۡطَى، وَكُلٌّ عِنۡدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ). فَأَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ تُقۡسِمُ عَلَيۡهِ لَيَأۡتِيَنَّهَا، فَقَامَ وَمَعَهُ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ، وَمَعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ، وَأُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ، وَزَيۡدُ بۡنُ ثَابِتٍ، وَرِجَالٌ، فَرُفِعَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ الصَّبِيُّ وَنَفۡسُهُ تَتَقَعۡقَعُ، قَالَ: حَسِبۡتُهُ أَنَّهُ قَالَ: كَأَنَّهَا شَنٌّ، فَفَاضَتۡ عَيۡنَاهُ، فَقَالَ سَعۡدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا هَٰذَا؟ فَقَالَ: (هَٰذِهِ رَحۡمَةٌ جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرۡحَمُ اللهُ مِنۡ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ). 
[الحديث ١٢٨٤ – أطرافه في: ٥٦٥٥، ٦٦٠٢، ٦٦٥٥، ٧٣٧٧، ٧٤٤٨]. 
1284. ‘Abdan dan Muhammad telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: ‘Abdullah mengabarkan kepada kami: ‘Ashim bin Sulaiman mengabarkan kepada kami dari Abu ‘Utsman. Beliau berkata: Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma menceritakan kepadaku. Beliau mengatakan: 
Putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada beliau (dan mengabarkan), “Sesungguhnya putraku akan wafat, maka datanglah kepada kami.” 
Lalu Nabi mengirim utusan, beliau menyampaikan salam dan bersabda, “Sesungguhnya hanya milik Allah segala apa yang Dia ambil dan hanya milik Allah segala apa yang Dia berikan. Dan bahwa segala sesuatu di sisi-Nya ada ajal yang telah ditentukan. Maka, hendaknya dia bersabar dan mengharap pahala.” 
Putri Nabi kembali mengirim utusan kepada beliau dan bersumpah agar beliau benar-benar datang menemuinya. Maka Nabi bangkit beserta Sa’d bin ‘Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubayy bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, dan seorang lagi. Lalu bayi itu diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan nafasnya tersengal-sengal. Dia berkata: Aku menyangkanya bahwa dia berkata: Seakan-akan kantong air yang kering. Maka kedua mata beliau berlinang. 
Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, tangisan apa ini?” 
Nabi bersabda, “Ini adalah tangisan rahmat yang Allah letakkan di dalam hati-hati para hamba-Nya dan hanyalah Allah merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang.”

Shahih Muslim hadits nomor 923

١١ - (٩٢٣) - حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الۡجَحۡدَرِيُّ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ - يَعۡنِي ابۡنَ زَيۡدٍ - عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ النَّهۡدِيِّ، عَنۡ أُسَامَةَ بۡنِ زَيۡدٍ، قَالَ: كُنَّا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِ إِحۡدَىٰ بَنَاتِهِ تَدۡعُوهُ وَتُخۡبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّا لَهَا - أَوِ ابۡنًا لَهَا - فِي الۡمَوۡتِ. فَقَالَ لِلرَّسُولِ: (ارۡجِعۡ إِلَيۡهَا، فَأَخۡبِرۡهَا: إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعۡطَىٰ، وَكُلُّ شَيۡءٍ عِنۡدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَمُرۡهَا فَلۡتَصۡبِرۡ وَلۡتَحۡتَسِبۡ). فَعَادَ الرَّسُولُ فَقَالَ: إِنَّهَا قَدۡ أَقۡسَمَتۡ لَتَأۡتِيَنَّهَا. قَالَ: فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ. وَقَامَ مَعَهُ سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ وَمُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ، وَانۡطَلَقۡتُ مَعَهُمۡ، فَرُفِعَ إِلَيۡهِ الصَّبِيُّ وَنَفۡسُهُ تَقَعۡقَعُ كَأَنَّهَا فِي شَنَّةٍ، فَفَاضَتۡ عَيۡنَاهُ. فَقَالَ لَهُ سَعۡدٌ: مَا هَٰذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (هَٰذِهِ رَحۡمَةٌ جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرۡحَمُ اللهُ مِنۡ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ). 
[البخاري: كتاب الجنائز، باب قول النبي ﷺ: (يعذب الميت ببعض بكاء أهله)، رقم: ١٢٨٤]. 
11. (923). Abu Kamil Al-Jahdari telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, dari Usamah bin Zaid. Beliau mengatakan: Kami pernah berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang putri beliau mengirim utusan kepada beliau untuk memanggil dan mengabarkan beliau bahwa bayinya atau putranya sedang sekarat. 
Maka Nabi bersabda kepada utusan itu, “Kembalilah kepadanya dan kabarkan kepadanya bahwasanya milik Allahlah segala yang Dia ambil dan milik-Nya lah segala yang Dia berikan dan bahwasanya segala sesuatu di sisi-Nya ada ajal yang telah ditentukan. Perintahkan kepadanya agar sabar dan mengharap pahala.” 
Namun, utusan itu kembali dan berkata, “Sesungguhnya dia bersumpah agar engkau datang menemuinya.” 
Usamah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit. Sa’d bin ‘Ubadah dan Mu’adz bin Jabal juga ikut bangkit menyertai beliau. Aku pergi bersama mereka. Bayi itu diberikan kepada beliau dalam keadaan nafasnya sudah tersengal-sengal dan bersuara seakan-akan di dalam kantong air yang terbuat dari kulit. Kedua mata beliau meneteskan air mata. 
Sa’d bertanya kepada beliau, “Tangisan apa ini wahai Rasulullah?” 
Nabi bersabda, “Ini adalah tangisan kasih sayang yang Allah letakkan di dalam hati-hati para hamba-Nya. Allah merahmati di antara para hamba-Nya orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang.” 
(...) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ فُضَيۡلٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. جَمِيعًا عَنۡ عَاصِمٍ الۡأَحۡوَلِ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ. غَيۡرَ أَنَّ حَدِيثَ حَمَّادٍ أَتَمُّ وَأَطۡوَلُ. 
Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami: Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami. Semuanya dari ‘Ashim Al-Ahwal melalui sanad ini. Hanya saja hadis Hammad lebih lengkap dan lebih panjang.

Dzul Qarnain, Sang Penakluk Negeri

Raja penguasa dunia ada empat. Dua orang mukmin, dua orang kafir. Dua orang mukmin adalah Dzul Qarnain dan Sulaiman ‘alaihis salam. Adapun dua raja kafir adalah Namrud yang berdebat dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Bukhtanashar atau disebut juga Nebukadnezar Agung penguasa Babilonia, yang dikalahkan oleh Nabi Danial ‘alaihis salam. Tidak ada raja di dunia ini yang memiliki kekuasaan dan pengaruh sekuat raja-raja ini. Karena alasan inilah penyebutan raja dunia hanya untuk mereka.

Di antara keistimewaan Dzul Qarnain adalah memenuhi bumi dengan keadilan. Bukan sekadar wilayah kekuasaan yang luas, namun kemampuan dalam memimpin yang sangat hebat. “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:84]. Yaitu Allah mudahkan untuknya segala yang mengantarkan kepada kekuasaan.

“Maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, ‘Hai Dzul Qarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:85-86]. Tanpa kenal lelah, sang raja arif ini mengajarkan keimanan, memerangi kesyirikan. Menyelamatkan manusia dari pengap kelamnya dosa menuju semburat cahaya. Menuju kehidupan lapang dalam kebahagiaan dan kedamaian. Bukan hanya kesejahteraan di dunia, bahkan berlanjut di akhirat. Untuk tujuan mulia ini, bukan diraih dengan percuma. Tidak pula dengan santai tanpa usaha. Namun perjuangan berkelanjutan pantang menyerah. Tiada terikat apalagi terbatas waktu. Ya, kemuliaan tidak akan muncul tiba-tiba. Butuh pengorbanan dalam perjuangan dan kesabaran.

Dengan tegar Dzul Qarnain menebarkan kebenaran. Kokoh laksana batu karang, bergeming membelah badai dan gelombang. Cobaan dalam dakwah pasti ada. Karena setan, musuh abadi manusia pasti tidak akan tinggal berpangku tangan. Mereka akan selalu dan terus berusaha menyesatkan manusia. Dengan berbagai kemudahan dari Allah, Dzul Qarnain mampu menaklukkan berbagai halangan dan rintangan.

Bersama pasukannya, Dzul Qarnain menempuh perjalanan hingga ujung barat. Yaitu pantai sebelah barat, sebuah tempat yang terlihat darinya matahari saat terbenam. Dzul Qarnain melihat matahari terbenam dalam laut yang berlumpur hitam. Demikian tafsir ayat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dari para ulama tafsir terdahulu. Di tempat itulah, Dzul Qarnain mendapatkan satu kaum besar yang tidak beragama. Dalam Tafsir Ibnu Juraij disebutkan bahwa kota kaum itu memiliki dua belas ribu pintu. Seandainya bukan karena suara gaduh penduduknya, mereka pasti akan mendengar suara saat tenggelamnya matahari.

Allah subhanahu wa ta’ala menguasakan Dzul Qarnain atas kaum tersebut. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pilihan kepadanya, ‘Hai Dzul Qarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’. Kaum tersebut memang kafir, suka berbuat kezaliman. Setelah Allah menaklukkan kaum tersebut untuk Dzul Qarnain, Allah memberikan kewenangan hukum secara penuh kepadanya. Mereka adalah kaum tak bernorma, tak beragama. Kezaliman, adalah bagian hidup yang tak terpisahkan dari mereka. Maka Allah memberikan pilihan kepada Dzul Qarnain; dipancung laki-laki dewasanya, dan ditawan anak serta wanitanya, atau dibebaskan semua dengan tebusan.

Dengan dua pilihan ini menjadi jelas sikap arif dan keimanan sang raja. Apa yang ia pilih menunjukkan hal itu. Tentu setelah taufik dari Allah, sang raja mengambil keputusan dengan tepat. Memang, sekuat apapun akal manusia, sejauh manapun pandangannya, tetap butuh bimbingan. Manusia dengan segala kesempurnaannya masih saja lemah, butuh Dzat yang akan mengokohkannya. Tetap harus bergantung kepada Dzat yang akan melindunginya. Tanpa itu, pasti semuanya akan hancur. Pencapaian apapun dari manusia, tanpa mengembalikan kepada Allah, maka itu adalah kesombongan. Sementara sejarah kesombongan, tidak lain kecuali selalu berakhir dengan kebinasaan. Kaum Aad, Tsamud, Fir’aun, Haman, Qarun, adalah sebagian buktinya.

“Berkata Dzul Qarnain, ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya. Kemudian dia kembalikan kepada Rabbnya, lalu Rabb mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:87-88]. Inilah keputusan Dzul Qarnain. Bagi yang terus menerus di atas kekafiran, tidak mau menyambut dakwah, bahkan menentangnya, maka keadilan yang terbaik adalah segera mengakhiri hidupnya. Karena berlama-lama hidup dalam kekafiran hanya akan menambah dosa. Dosa demi dosa bertumpuk, semakin membuat tak kuasa memikulnya. Di dunia hukuman bunuh, untuk menghadapi hukuman yang lebih dahsyat. Karena tidak ada kebaikan pada seorang yang Allah limpahkan berbagai nikmat, namun nikmat itu justru digunakan untuk bermaksiat kepada sang pemberi nikmat.

Adapun mereka yang beriman, menyambut dakwahnya Dzul Qarnain, beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, maka balasan terbaik untuk mereka, yaitu surga. Setelah di dunia mereka menahan diri dari dosa, di akhirat kebebasan tanpa batas untuknya. Hidup dalam kesejahteraan abadi, kedamaian dan kebahagiaan dalam nikmat tiada henti. Surga yang disebutkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa tidak ada sesuatupun di surga dari apa yang ada di dunia kecuali nama-nama saja. Demikian yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Maksudnya adalah bentuk kenikmatan antara surga dan dunia hanyalah sama dalam hal namanya saja. Namun hakikatnya sangat jauh berbeda. Sama-sama rumah, antara rumah di surga dan rumah di dunia tidak bisa dibandingkan. Hanya sama namanya saja. Bagaimana mungkin sama antara yang hakiki dan semu? Antara yang kekal dan sementara? Antara yang murni dan penuh dengan kekurangan? Tentu tidak sama! Bagaimana mungkin sama, sementara kenikmatan dan keindahan surga tidak mungkin dijangkau oleh khayalan manusia sekalipun.

“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:89-91]. Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan dalam ayat ini, bahwa Dzul Qarnain kemudian menempuh jalan yang lain, ia berjalan dari arah tenggelamnya matahari menuju tempat terbitnya. Setiap melintasi suatu kaum, Dzul Qarnain berhasil menguasainya. Mendakwahi mereka kepada peribadahan kepada Allah semata. Siapa yang membangkang maka terhinakan, siapa yang menyambut dakwah pasti akan mulia. Karena kemuliaan itu milik Allah, akan Allah berikan pada siapa yang Ia kehendaki. Disebutkan dalam pemberitaan israiliyat bahwa Dzul Qarnain hidup selama 1600 tahun, berkeliling dunia hingga sampai ujung-ujung timur dan barat.

Mereka sampai di tempat terbitnya matahari, ia mendapati kaum primitif ynag hidup dalam kemiskinan. Tidak memiliki rumah yang melindungi dari teriknya matahari. Menetap di gua-gua, berpostur pendek dengan kulit kecoklatan. Penghidupan mereka dominan dengan berburu ikan. Di siang hari menghilang di persembunyian, bila malam tiba mereka keluar mencari makan. Sebagian menafsirkan mereka adalah kaum Negro. Hal ini menunjukkan luasnya jangkauan jihad Dzul Qarnain. Allah menampakkan kebesaran-Nya kepada Dzul Qarnain. Demikian pula luasnya ilmu Allah yang tidak terbatas. Tidak pernah terbayang sebelumnya adanya kaum seperti yang ditemui itu. Tidak terjangkau oleh akal manusia, terlebih melihat langsung. Namun Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kepada Dzul Qarnain hingga melihat secara langsung. Dzul Qarnain masih melanjutkan misi dakwahnya. Berjihad menyebarkan keadilan dengan kasih sayang. Ia melanjutkan perjalanan, menempuh arah timur. Sampailah pada dua gunung berhadapan, di antara keduanya celah yang keluar darinya Ya’juj dan Ma’juj ke arah Turki. Ya’juj dan Ma’juj adalah kaum yang suka berbuat kerusakan, menebar kezaliman di muka bumi. Merusak, membunuh adalah pekerjaan mereka yang berjumlah sangat banyak.

“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:93-94]. Kaum yang tertindas oleh kekejaman Ya’juj dan Ma’juj itu berkeinginan mengumpulkan harta yang mereka miliki sebagai upah untuk Dzul Qarnain. Yaitu dengan timbal balik, Dzul Qarnain membuatkan tembok raksasa yang bisa menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Dengan berbagai cara, sebisanya mereka mengungkapkan maksud tersebut. Karena mereka memang sulit berkomunikasi. Tidak bisa memahami bahasa orang lain, kurang mampu pula menerangkan maksud dengan jelas karena kekurangan kecerdasan mereka. Inilah salah satu keistimewaan Dzul Qarnain, kemudahan yang Allah karuniakan kepadanya, ia mampu meraba dan memahami maksud mereka.

Namun Dzul Qarnain menolak upah itu dengan santun penuh hikmah. Ia berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan kalian (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka.” Dzul Qarnain merasa cukup dengan karunia yang telah Allah limpahkan kepadanya. Kekuasaan, kekuatan, kecerdasan, pengikut, harta, adalah karunia yang harus disyukuri. Terlebih lagi nikmat teragung yaitu keimanan, kokoh di atas jalan yang lurus. Toh dunia bukanlah tujuan utama. Dalam proyek besar itu, Dzul Qarnain hanya minta bantuan tenaga dan sarana pendukung lainnya. Kaum itu dilibatkan dalam pembangunan proyek untuk mempercepat penyelesaiannya. Agar segera terhidar dari sikap jahat Ya’juj dan Ma’juj.

Tembok itu bukan hanya raksasa, namun sangat istimewa. Karena konstruksi tembok besar itu menggunakan pecahan besi dengan cor lelehan tembaga. Sebuah sistem kekuatan bangunan yang tidak ada sebelumnya, bahkan sesudahnya, “‘Berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzul Qarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas beni panas itu’.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi:96].

Bahu membahu saling membantu tak kenal lelah, proyek raksasa itu dimulai. Perasaan ukhuwah kekeluargaan semakin erat dalam taawun itu. Inilah nilai lain yang tidak bisa diabaikan dalam sebuah komunitas. Musyawarah, saling memahami dan mengingatkan, saling melengkapi dan menutupi kekurangan yang lain, bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan adalah nilai-nilai sendi kemasyarakatan yang harus dilestarikan. Dengan kompak kaum tersebut bergotong royong, menata potongan-potongan besi layaknya batu bata. Sampai menutup celah antara dua gunung, potongan besi itu rata dengan puncak keduanya.

Setelah tahap pertama pengerjaan mega proyek itu selesai, panjang dan lebar tumpukan besi benar-benar rata menyambung dua gunung, mulailah langkah kedua. Potongan besi itu harus merah membara menjadi bara. Maka dikumpulkan bahan bakar untuk membakarnya. Tentu bukan pekerjaan yang mudah. Namun, membutuhkan energi yang besar. Terutama bahan bakarnya. Itupun belum cukup, bahkan membutuhkan teknik pembakaran yang bagus. Sehingga besi menggunung itu terbakar sempurna, semua merah menyala. Dzul Qarnain memimpin proyek dengan baik. Ia ikut terjun langsung ke lapangan, bukan hanya memberikan arahan dari balik meja. Inilah tipe figur pemimpin yang benar-benar sebagai teladan. Bukan sekadar mengayomi dan melindungi, namun menjadi panutan bagi rakyat dan jajaran bawahannya.

Dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, tumpukan besi menggunung itu berhasil merah menyala. Kemudian Dzul Qarnain meminta untuk menuangkan lelehan tembaga sebagai cornya. Jadi setidaknya ada dua perapian; untuk membakar besi, dan yang kedua mendidihkan tembaga. Lelehan tembaga itu melapisi besi dalam suhu yang sangat tinggi. Sehingga terbentuklah dinding yang sangat megah dan kokoh. Sebuah dinding hasil dari proyek manusia terbesar dalam sejarah peradaban manusia. “Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzul Qarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh. Dan janji Rabbku itu adalah benar.” [Terjemah Q.S. Al Kahfi: 97-98]. Subhanallah, Maha agung kuasa Allah! Karena tinggi dan besarnya dinding itu, Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu menaikinya ke atas. Tidak pula mereka mampu melubangi bagian bawahnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya secara makna, “Sesungguhnya setiap hari Ya’juj dan Ma’juj berusaha melubangi tembok penghalang itu. Ketika mereka hampir menembusnya, sebagian mereka mengatakan, ‘Kita pulang dahulu saja. Kita lanjutkan besok.’ Namun, keesokan harinya tembok itu telah rapat kembali. Begitu seterusnya, hingga ketika tiba waktunya Allah berkehendak mengirim mereka kepada manusia, tembuslah lubang dinding itu. (Seperti biasanya) mereka berusaha menembusnya. Ketika hampir terlihat sinar matahari darinya, sebagian mengatakan, ‘Kita pulang dahulu saja. Kita lanjutkan besok, insya Allah.’ Ia menyertakan kalimat ‘insya Allah’. Ketika keesokan hari kembali akan melanjutkan, lubang itu seperti saat ditinggalkan, akhirnya mereka meneruskan melubangi sehingga berhasil keluar. Mereka meminum habis air. Manusia pun berlindung dalam benteng mereka. (Setelah membantai manusia dan merasa menang atas mereka), kemudian mengarahkan panah ke langit. Panah itu kembali turun dengan lumuran merah seolah darah. (Dengan sombong mereka mengatakan), ‘Kita telah menaklukkan penduduk bumi, sekaligus penduduk langit.’ Allah lalu mengirimkan ulat yang menyerang urat leher mereka sehingga mereka semuanya binasa.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Hadis ini menunjukkan betapa besar manfaat benteng raksasa itu. ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku’ Dzul Qarnain menyandarkan nikmat tersebut kepada Allah. Bukan kepada yang lainnya. Karena memang Dia-lah sang Pemberi nikmat yang hakiki. Adapun selainnya, tidak lain kecuali sebatas sebab saja. Inilah wujud keimanan hamba. Senantiasa mengembalikan semuanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tidak tertipu dengan ilmu, usaha, dan segala yang dilakukannya, sebesar apapun itu. Dalam kisah Dzul Qarnain terdapat banyak pelajaran berharga. Allahu A’lam.


Sumber: Majalah Qudwah edisi 57 vol.05 1439 H rubrik Samawi. Pemateri: Al Ustadz Abu Muhammad Farhan.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2409

٤٤ - بَابُ مَنِ اخۡتَارَ الصِّيَامَ 
44. Bab barang siapa yang memilih untuk berpuasa 

٢٤٠٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بۡنُ الۡفَضۡلِ، نا الۡوَلِيدُ، نا سَعِيدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ، حَدَّثَنِي إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عُبَيۡدِ اللهِ، حَدَّثَتۡنِي أُمُّ الدَّرۡدَاءِ، عَنۡ أَبِي الدَّرۡدَاءِ قَالَ: خَرَجۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي بَعۡضِ غَزَوَاتِهِ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ، حَتَّى إِنَّ أَحَدَنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأۡسِهِ - أَوۡ كَفَّهُ عَلَى رَأۡسِهِ - مِنۡ شِدَّةِ الۡحَرِّ، مَا فِينَا صَائِمٌ، إِلَّا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ رَوَاحَةَ. [ق]. 
2409. Mu`ammal bin Al-Fadhl telah menceritakan kepada kami: Al-Walid menceritakan kepada kami: Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami: Isma’il bin ‘Ubaidullah menceritakan kepadaku: Ummu Ad-Darda` menceritakan kepadaku dari Abu Ad-Darda`. Beliau mengatakan: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebagian peperangan beliau ketika cuaca sangat panas. Sampai-sampai salah seorang kami meletakkan tangannya di atas kepalanya—atau telapak tangannya di atas kepalanya—saking panasnya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Abdullah bin Rawahah.

Taisirul 'Allam - Hadits ke-182

الۡحَدِيثُ الثَّانِي وَالثَّمَانُونَ بَعۡدَ الۡمِائَةِ 

١٨٢ - عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفطِرِ، وَلَا الۡمُفطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. 
182. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan: Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa dan orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.[1]

الۡمَعۡنَى الۡإِجۡمَالِي: 

كَانَ الصَّحَابَةُ يُسَافِرُونَ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَيُفۡطِرُ بَعۡضُهُمۡ، وَيَصُومُ بَعۡضُهُمۡ، وَالنَّبِيُّ ﷺ يُقِرُّهُمۡ عَلَى ذٰلِكَ، لِأَنَّ الصِّيَامَ هُوَ الۡأَصۡلُ وَالۡفِطۡرَ رُخۡصَةٌ، وَالرُّخۡصَةُ لَيۡسَ فِي تَرۡكِهَا إِنۡكَارٌ، وَلِذَا فَإِنَّهُ لَا يَعِيبُ بَعۡضُهُمۡ عَلَى بَعۡضٍ فِي الصِّيَامِ أَوِ الۡفِطۡرِ. 

Makna secara umum: 

Dahulu para sahabat melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka ada yang tidak berpuasa dan sebagian yang lain berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan mereka dalam keadaan itu karena puasa adalah asal hukum sementara tidak berpuasa adalah rukhsah. Apabila rukhsah ditinggalkan, maka tidak ada pengingkaran. Oleh karena itu, maka sebagian mereka tidak saling mencela sebagian yang lain dalam hal puasa atau tidak puasa. 

مَا يُؤۡخَذُ مِنَ الۡحَدِيثِ: 

١- جَوَازُ الۡفِطۡرِ فِي السَّفَرِ. 
٢- إِقۡرَارُ النَّبِيِّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَصۡحَابَهُ عَلَى الصِّيَامِ وَالۡفِطۡرِ فِي السَّفَرِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى إِبَاحَةِ الۡأَمۡرَيۡنِ. 

Faedah hadis ini: 

  1. Bolehnya tidak berpuasa ketika safar. 
  2. Penetapan Nabi ‘alaihish shalatu was salam kepada para sahabatnya atas bolehnya puasa dan tidak berpuasa ketika safar. Hal ini menunjukkan dibolehkannya kedua perkara ini. 

[1] HR. Al-Bukhari nomor 1947 dan Muslim nomor 1118. Diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa` (1/295), Abu Dawud nomor 2405.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2405

٢٤٠٥ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ، نا زَائِدَةُ، عَنۡ حُمَيۡدٍ الطَّوِيلِ، عَنۡ أَنَسٍ قَالَ: سَافَرۡنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي رَمَضَانَ، فَصَامَ بَعۡضُنَا، وَأَفۡطَرَ بَعۡضُنَا، فَلَمۡ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الۡمُفۡطِرِ، وَلَا الۡمُفۡطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. [ق]. 
2405. Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Za`idah menceritakan kepada kami dari Humaid Ath-Thawil, dari Anas. Beliau mengatakan: Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan. Sebagian kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa. Orang yang tidak berpuasa tidak mencela orang yang berpuasa.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2348 dan 2349

٢٣٤٨ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عِيسَى، نا مُلَازِمُ بۡنُ عَمۡرٍو، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ النُّعۡمَانِ، حَدَّثَنِي قَيۡسُ بۡنُ طَلۡقٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُوا وَاشۡرَبُوا، وَلَا يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الۡمُصۡعِدُ، فَكُلُوا وَاشۡرَبُوا حَتَّى يَعۡتَرِضَ لَكُمُ الۡأَحۡمَرُ). [قَالَ أَبُو دَاوُدَ: هَٰذَا مِمَّا تَفَرَّدَ بِهِ أَهۡلُ الۡيَمَامَةِ]. 
2348. Muhammad bin ‘Isa telah menceritakan kepada kami: Mulazim bin ‘Amr menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin An-Nu’man: Qais bin Thalq menceritakan kepadaku dari ayahnya. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah. Janganlah cahaya yang menjulang ke atas itu menghentikan kalian. Kalian masih boleh makan dan minum sampai cahaya merah itu menyebar.” Abu Dawud berkata: Ini termasuk hadis yang hanya diriwayatkan oleh penduduk Yamamah. 
٢٣٤٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا حُصَيۡنُ بۡنُ نُمَيۡرٍ، ح، وَنا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، نا ابۡنُ إِدۡرِيسَ، الۡمَعۡنَى، عَنۡ حُصَيۡنٍ، عَنِ الشَّعۡبِيِّ، عَنۡ عَدِيِّ بۡنِ حَاتِمٍ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتۡ هَٰذِهِ الۡآيَةُ ﴿حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الۡخَيۡطُ الۡأَبۡيَضُ مِنَ الۡخَيۡطِ الۡأَسۡوَدِ﴾ قَالَ: أَخَذۡتُ عِقَالًا أَبۡيَضَ وَعِقَالًا أَسۡوَدَ، فَوَضَعۡتُهُمَا تَحۡتَ وِسَادَتِي، فَنَظَرۡتُ فَلَمۡ أَتَبَيَّنۡ، فَذَكَرۡتُ ذٰلِكَ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ، فَضَحِكَ فَقَالَ: (إِنَّ وِسَادَكَ إِذَنۡ [لَطَوِيلٌ عَرِيضٌ]! إِنَّمَا هُوَ اللَّيۡلُ وَالنَّهَارُ). وَقَالَ عُثۡمَانُ: (إِنَّمَا هُوَ سَوَادُ اللَّيۡلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ). [ق]. 
2349. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Hushain bin Numair menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Ibnu Idris menceritakan kepada kami secara makna dari Hushain, dari Asy-Sya’bi, dari ‘Adi bin Hatim. Beliau mengatakan: Ketika turun ayat ini (yang artinya), “Hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam,” beliau mengatakan: Aku mengambil seutas tali berwarna putih dan seutas tali berwarna hitam, lalu aku letakkan di bawah bantalku. Aku memandanginya namun aku tidak bisa membedakan. Aku menyebutkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, beliau tertawa dan bersabda, “Sesungguhnya bantalmu, kalau begitu, benar-benar panjang dan luas. Itu maksudnya adalah malam dan siang.” ‘Utsman berkata, “Itu adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2346 dan 2347

١٧ - بَابُ وَقۡتِ السُّحُورِ 
17. Bab waktu sahur 

٢٣٤٦ – (صحيح) نا مُسَدَّدٌ، نا حَمَّادُ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ سَوَادَةَ الۡقُشَيۡرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعۡتُ سَمُرَةَ بۡنَ جُنۡدُبٍ يَخۡطُبُ وَهُوَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَمۡنَعَنَّ مِنۡ سُحُورِكُمۡ أَذَانُ بِلَالٍ، وَلَا بَيَاضُ الۡأُفۡقِ الَّذِي هَٰكَذَا حَتَّى يَسۡتَطِيرَ). [م]. 
2346. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin Sawadah Al-Qusyairi, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku mendengar Samurah bin Jundub berkhotbah dan berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali azan Bilal menghentikan makan sahur kalian. Jangan pula cahaya putih ufuk yang seperti ini, sampai cahaya itu menyebar.” 
٢٣٤٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا يَحۡيَى، عَنِ التَّيۡمِيِّ، ح، وَنا أَحۡمَدُ بۡنُ يُونُسَ، نا زُهَيۡرٌ، نا سُلَيۡمَانُ التَّيۡمِيُّ، عَنۡ أَبِي عُثۡمَانَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَمۡنَعَنَّ أَحَدَكُمۡ أَذَانُ بِلَالٍ مِنۡ سُحُورِهِ، فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ - أَوۡ قَالَ: يُنَادِي - لِيَرۡجِعَ قَائِمُكُمۡ، وَيَنۡتَبِهَ نَائِمُكُمۡ، وَلَيۡسَ الۡفَجۡرُ أَنۡ يَقُولَ هَٰكَذَا) – [قَالَ مُسَدَّدٌ]: وَجَمَعَ يَحۡيَى كَفَّيۡهِ – (حَتَّى يَقُولَ هَٰكَذَا). وَمَدَّ يَحۡيَى بِإِصۡبَعَيۡهِ السَّبَّابَتَيۡنِ. [ق]. 
2347. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Yahya menceritakan kepada kami dari At-Taimi. (Dalam riwayat lain) Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami: Zuhair menceritakan kepada kami: Sulaiman At-Taimi menceritakan kepada kami dari Abu ‘Utsman, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali azan Bilal menghalangi kalian dari makan sahurnya karena Bilal mengumandangkan azan agar orang yang sedang salat malam kembali (beristirahat sebentar) dan membangunkan orang yang masih tidur. Bukanlah fajar itu yang begini.” —Musaddad berkata: Yahya mengumpulkan kedua telapak tangannya—. “Akan tetapi fajar itu apabila sudah begini.” Yahya membentangkan dua jari telunjuknya.

Shahih Muslim hadits nomor 86

٣٧ - بَابُ بَيَانِ كَوۡنِ الشِّرۡكِ أَقۡبَحَ الذُّنُوبِ، وَبَيَانِ أَعۡظَمِهَا بَعۡدَهُ 
37. Bab keterangan bahwa syirik merupakan dosa yang paling buruk dan keterangan dosa terbesar setelahnya 

١٤١ - (٨٦) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ. وَقَالَ عُثۡمَانُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُرَحۡبِيلَ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ: أَيُّ الذَّنۡبِ أَعۡظَمُ عِنۡدَ اللهِ؟ قَالَ: (أَنۡ تَجۡعَلَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ). قَالَ: قُلۡتُ لَهُ: إِنَّ ذٰلِكَ لَعَظِيمٌ. قَالَ: قُلۡتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَنۡ تَقۡتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنۡ يَطۡعَمَ مَعَكَ). قَالَ: قُلۡتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (ثُمَّ أَنۡ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ). 
[البخاري: كتاب التفسير، باب قوله تعالى: ﴿فلا تجعلوا لله أندادًا وأنتم تعلمون﴾، رقم: ٤٢٠٧]. 
141. (86). ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Ishaq berkata: Jarir mengabarkan kepada kami. ‘Utsman berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari ‘Amr bin Syurahbil, dari ‘Abdullah. 
Beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” 
Nabi bersabda, “Engkau menjadikan suatu tandingan bagi Allah padahal Allah telah menciptakanmu.” 
Ibnu Mas’ud berkata: Aku berkata kepada beliau, “Sesungguhnya itu adalah dosa yang benar-benar besar.” Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya, “Kemudian apa?” 
Nabi bersabda, “Kemudian engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.” 
Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya, “Kemudian apa?” 
Nabi bersabda, “Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” 
١٤٢ - (...) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، جَمِيعًا عَنۡ جَرِيرٍ. قَالَ عُثۡمَانُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُرَحۡبِيلَ، قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللهِ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الذَّنۡبِ أَكۡبَرُ عِنۡدَ اللهِ؟ قَالَ: (أَنۡ تَدۡعُوَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ). قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (أَنۡ تَقۡتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنۡ يَطۡعَمَ مَعَكَ). قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (أَنۡ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ)، فَأَنۡزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصۡدِيقَهَا: ﴿وَالَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ النَّفۡسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَ وَمَن يَفۡعَلۡ ذٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامًا ۝٦٨﴾ [الفرقان: ٦٨]. 
142. ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Jarir. ‘Utsman berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Abu Wa`il, dari ‘Amr bin Syurahbil. Beliau berkata: ‘Abdullah berkata: 
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” 
Nabi bersabda, “Engkau menyatakan bahwa Allah memiliki tandingan padahal Allah telah menciptakanmu.” 
Orang itu bertanya, “Kemudian apa?” 
Nabi menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu.” 
Orang itu bertanya, “Kemudian apa?” 
Nabi menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” 
Lalu Allah azza wajalla menurunkan ayat yang membenarkannya (yang artinya), “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al-Furqan: 68).

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2344 dan 2345

١٦ - بَابُ مَنۡ سَمَّى السَّحُورَ الۡغَدَاءَ 
16. Bab siapa yang menamakan sahur dengan makan pagi 

٢٣٤٤ – (صحيح) حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ مُحَمَّدٍ النَّاقِدُ، ثنا حَمَّادُ بۡنُ خَالِدٍ الۡخَيَّاطُ، نا مُعَاوِيَةُ بۡنُ صَالِحٍ، عَنۡ يُونُسَ بۡنِ سَيۡفٍ، عَنِ الۡحَارِثِ بۡنِ زِيَادٍ، عَنۡ أَبِي رُهۡمٍ، عَنِ الۡعِرۡبَاضِ بۡنِ سَارِيَةَ قَالَ: دَعَانِي رَسُولُ اللهِ ﷺ إِلَى السَّحُورِ فِي رَمَضَانَ فَقَالَ: (هَلُمَّ إِلَى الۡغَدَاءِ الۡمُبَارَكِ). 
2344. ‘Amr bin Muhammad An-Naqid telah menceritakan kepada kami: Hammad bin Khalid Al-Khayyath menceritakan kepada kami: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada kami dari Yunus bin Saif, dari Al-Harits bin Ziyad, dari Abu Ruhm, dari Al-‘Irbadh bin Sariyah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundangku untuk makan sahur di bulan Ramadan seraya bersabda, “Mari menuju makan pagi yang diberkahi.” 
٢٣٤٥ – (صحيح) [حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ: ثنا عُمَرُ بۡنُ الۡحُسَيۡنِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بۡنُ [أَبِي] الۡوَزِيرِ أَبُو الۡمُطَرِّفِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُوسَى، عَنۡ سَعِيدٍ الۡمَقۡبُرِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (نِعۡمَ سَحُورُ الۡمُؤۡمِنِ التَّمۡرُ)]. 
2345. Abu Dawud telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Umar bin Al-Husain bin Ibrahim menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Abu Al-Wazir Abu Al-Mutharrif menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Muhammad bin Musa menceritakan kepada kami dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah kurma.”

Shahih Muslim hadits nomor 85

١٣٧ - (٨٥) - حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُسۡهِرٍ، عَنِ الشَّيۡبَانِيِّ، عَنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ الۡعَيۡزَارِ، عَنۡ سَعۡدِ بۡنِ إِيَاسٍ أَبِي عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَيُّ الۡعَمَلِ أَفۡضَلُ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ لِوَقۡتِهَا). قَالَ: قُلۡتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (بِرُّ الۡوَالِدَيۡنِ). قَالَ: قُلۡتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (الۡجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ). 
فَمَا تَرَكۡتُ أَسۡتَزِيدُهُ إِلَّا إِرۡعَاءً عَلَيۡهِ. 
[البخاري: كتاب مواقيت الصلاة، باب فضل الصلاة لوقتها، رقم: ٥٠٤]. 
137. (85). Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: ‘Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Asy-Syaibani, dari Al-Walid bin Al-‘Aizar, dari Sa’d bin Iyas Abu ‘Amr Asy-Syaibani, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. 
Beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apa yang paling utama?” 
Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” 
Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya, “Kemudian apa?” 
Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” 
Ibnu Mas’ud berkata: Aku bertanya, “Kemudian apa?” 
Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” 
Aku tidaklah berhenti meminta tambahan pertanyaan kepada beliau kecuali karena menjaga perasaan beliau. 
١٣٨ - (...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي عُمَرَ الۡمَكِّيُّ: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ الۡفَزَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو يَعۡفُورَ، عَنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ الۡعَيۡزَارِ، عَنۡ أَبِي عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: قُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، أَيُّ الۡأَعۡمَالِ أَقۡرَبُ إِلَى الۡجَنَّةِ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ عَلَى مَوَاقِيتِهَا). قُلۡتُ: وَمَاذَا يَا نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: (بِرُّ الۡوَالِدَيۡنِ). قُلۡتُ: وَمَاذَا يَا نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: (الۡجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ). 
138. Ibnu Abu ‘Umar Al-Makki telah menceritakan kepada kami: Marwan Al-Fazari menceritakan kepada kami: Abu Ya’fur menceritakan kepada kami dari Al-Walid bin Al-‘Aizar, dari Abu ‘Amr Asy-Syaibani, dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Beliau mengatakan: 
Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, amalan apa yang paling dekat ke surga?” 
Nabi menjawab, “Salat sesuai waktu-waktunya.” 
Aku bertanya, “Lalu apa, wahai Nabi Allah?” 
Nabi menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” 
Aku bertanya, “Lalu apa, wahai Nabi Allah?” 
Nabi menjawab, “Jihad di jalan Allah.” 
١٣٩ - (...) - وَحَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُعَاذٍ الۡعَنۡبَرِيُّ: حَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ الۡعَيۡزَارِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيَّ قَالَ: حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَٰذِهِ الدَّارِ، وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبۡدِ اللهِ، قَالَ: سَأَلۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ: أَيُّ الۡأَعۡمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ عَلَى وَقۡتِهَا). قُلۡتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (ثُمَّ بِرُّ الۡوَالِدَيۡنِ). قُلۡتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (ثُمَّ الۡجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ). قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسۡتَزَدۡتُهُ لَزَادَنِي. 
139. ‘Ubaidullah bin Mu’adz Al-‘Anbari telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-Walid bin Al-‘Aizar: Bahwa beliau mendengar Abu ‘Amr Asy-Syaibani berkata: Pemilik rumah ini menceritakan kepadaku—beliau mengisyaratkan ke rumah ‘Abdullah—. Beliau mengatakan: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apa yang paling Allah cintai?” Nabi menjawab, “Salat sesuai waktunya.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi menjawab, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” ‘Abdullah berkata: Beliau menceritakan kepadaku semua amalan itu dan andai aku meminta tambah kepada beliau, niscaya beliau akan menambahkan kepadaku. 
(...) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ، مِثۡلَهُ. وَزَادَ: وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبۡدِ اللهِ، وَمَا سَمَّاهُ لَنَا. 
Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami melalui sanad ini semisal hadis tersebut. Beliau menambahkan: Beliau mengisyaratkan ke rumah ‘Abdullah namun tidak menyebut nama beliau kepada kami. 
١٤٠ - (...) - حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ الۡحَسَنِ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِي عَمۡرٍو الشَّيۡبَانِيِّ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (أَفۡضَلُ الۡأَعۡمَالِ - أَوِ الۡعَمَلِ - الصَّلَاةُ لِوَقۡتِهَا، وَبِرُّ الۡوَالِدَيۡنِ). 
140. ‘Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Al-Hasan bin ‘Ubaidullah, dari Abu ‘Amr Asy-Syaibani, dari ‘Abdullah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Amalan yang paling utama adalah salat pada waktunya dan berbakti kepada kedua orang tua.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2343

١٥ - بَابٌ فِي تَوۡكِيدِ السُّحُورِ 
15. Bab tentang penekanan makan sahur 

٢٣٤٣ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ الۡمُبَارَكِ، عَنۡ مُوسَى بۡنِ عَلِيِّ بۡنِ رَبَاحٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي قَيۡسٍ مَوۡلَى عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ فَصۡلَ مَا بَيۡنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهۡلِ الۡكِتَابِ أَكۡلَةُ السَّحَرِ). [م]. 
2343. Musaddad telah menceritakan kepada kami: ‘Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Musa bin ‘Ali bin Rabah, dari ayahnya, dari Abu Qais maula ‘Amr bin Al-‘Ash, dari ‘Amr bin Al-‘Ash. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2341

٢٣٤١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ، نا حَمَّادٌ، عَنۡ سِمَاكِ بۡنِ حَرۡبٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، أَنَّهُمۡ شَكُّوا فِي هِلَالِ رَمَضَانَ مَرَّةً فَأَرَادُوا أَنۡ لَا يَقُومُوا وَلَا يَصُومُوا، فَجَاءَ أَعۡرَابِيٌّ مِنَ الۡحَرَّةِ، فَشَهِدَ أَنَّهُ رَأَى الۡهِلَالَ، فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (أَتَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ؟) قَالَ: نَعَمۡ، وَشَهِدَ أَنَّهُ رَأَى الۡهِلَالَ، فَأَمَرَ بِلَالًا فَنَادَى فِي النَّاسِ أَنۡ يَقُومُوا وَأَنۡ يَصُومُوا. قَالَ أَبُو دَاوُدَ: رَوَاهُ جَمَاعَةٌ عَنۡ سِمَاكٍ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ مُرۡسَلًا، وَلَمۡ يَذۡكُرِ الۡقِيَامَ أَحَدٌ إِلَّا حَمَّادُ بۡنُ سَلَمَةَ. 
2341. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: Hammad menceritakan kepada kami dari Simak bin Harb, dari ‘Ikrimah bahwa mereka pernah suatu kali ragu dalam hilal Ramadan, sehingga mereka hendak tidak melakukan salat malam dan puasa. Lalu seorang arab badui datang dari suatu daerah yang berbatu hitam dan dia bersaksi bahwa dia telah melihat hilal. Orang itu dibawa menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah?” Orang itu menjawab, “Iya.” Dan dia bersaksi bahwa dia telah melihat hilal. Lalu Nabi memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada orang-orang agar mereka salat malam dan berpuasa. Abu Dawud berkata: Beberapa orang meriwayatkannya dari Simak, dari ‘Ikrimah secara mursal, namun tidak ada seorang pun yang menyebutkan salat malam kecuali Hammad bin Salamah.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2339

٢٣٣٩ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَخَلَفُ بۡنُ هِشَامٍ الۡمُقۡرِىءُ، قَالَا: نا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ رَجُلٍ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: اخۡتَلَفَ النَّاسُ فِي آخِرِ يَوۡمٍ مِنۡ رَمَضَانَ، فَقَدِمَ أَعۡرَابِيَّانِ فَشَهِدَا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ بِاللهِ لَأَهَلَّا الۡهِلَالَ أَمۡسِ عَشِيَّةً، فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّاسَ أَنۡ يُفۡطِرُوا، زَادَ خَلَفٌ فِي حَدِيثِهِ: وَأَنۡ يَغۡدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمۡ. 
2339. Musaddad dan Khalaf bin Hisyam Al-Muqri` telah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Rib’i bin Hirasy, dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan: Orang-orang berselisih di akhir hari bulan Ramadan. Lalu, dua orang arab badui datang dan bersaksi dengan nama Allah di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa keduanya melihat hilal kemarin petang. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin agar menghentikan puasa. Khalaf menambahkan di dalam hadisnya: Dan (memerintahkan) agar esok hari mereka berangkat ke lapangan tempat salat.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2337

١٢ - بَابٌ فِي كَرَاهِيَةِ ذٰلِكَ 
12. Bab dibencinya hal itu 

٢٣٣٧ – (صحيح) حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، نا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: قَدِمَ عَبَّادُ بۡنُ كَثِيرٍ الۡمَدِينَةَ، فَمَالَ إِلَى مَجۡلِسِ الۡعَلَاءِ فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَقَامَهُ، ثُمَّ قَالَ: اللّٰهُمَّ إِنَّ هَٰذَا يُحَدِّثُ عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِذَا انۡتَصَفَ شَعۡبَانُ فَلَا تَصُومُوا)، فَقَالَ الۡعَلَاءُ: اللّٰهُمَّ إِنَّ أَبِي حَدَّثَنِي عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِذٰلِكَ. 
2337. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Abbad bin Katsir tiba di Madinah lalu beliau berbelok ke majelis Al-‘Ala`. ‘Abbad memegang tangan Al-‘Ala` lalu membangkitkannya, kemudian berkata: Sesungguhnya orang ini (yaitu Al-‘Ala` menceritakan dari ayahnya, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Syakban sudah separuh bulan berlalu, maka janganlah kalian berpuasa.” Al-‘Ala berkata: Ya Allah, sesungguhnya ayahku memang menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadis tersebut. 
[قَالَ أَبُو دَاوُدَ: [وَ]رَوَاهُ الثَّوۡرِيُّ وَشِبۡلُ بۡنُ الۡعَلَاءِ وَأَبُو عُمَيۡسٍ وَزُهَيۡرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ عَنِ الۡعَلَاءِ، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَكَانَ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ لَا يُحَدِّثُ بِهِ، قُلۡتُ لِأَحۡمَدَ: لِمَ؟ قَالَ: لِأَنَّهُ كَانَ عِنۡدَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَصِلُ شَعۡبَانَ بِرَمَضَانَ، وَقَالَ: عَنِ النَّبِيِّ ﷺ خِلَافَهُ، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَلَيۡسَ هَٰذَا عِنۡدِي خِلَافُهُ وَلَمۡ يَجِئۡ بِهِ غَيۡرُ الۡعَلَاءِ عَنۡ أَبِيهِ]. 
Abu Dawud berkata: Ats-Tsauri, Syibl bin Al-‘Ala`, Abu ‘Umais, dan Zuhair bin Muhammad meriwayatkannya dari Al-‘Ala`. Abu Dawud berkata: ‘Abdurrahman (bin Mahdi) tidak menceritakan hadis ini. Aku bertanya kepada Ahmad: Mengapa? Beliau menjawab: Karena dia dahulu berpendapat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyambung puasa Syakban dengan Ramadan dan dia berkata bahwa ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi hadis tersebut. Abu Dawud berkata: Menurutku hadis ini tidak menyelisihinya dan tidak ada yang membawakan hadis ini selain Al-‘Ala` dari ayahnya.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 2336

٢٣٣٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ حَنۡبَلٍ، نا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، نا شُعۡبَةُ، عَنۡ تَوۡبَةَ الۡعَنۡبَرِيِّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ لَمۡ يَكُنۡ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهۡرًا تَامًّا إِلَّا شَعۡبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ. 
2336. Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Taubah Al-‘Anbari, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dari Ummu Salamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidak pernah berpuasa (sunah) sebulan penuh dalam setahun kecuali Syakban yang beliau sambung dengan Ramadan.