Sunan Abu Dawud hadits nomor 4806

٤٨٠٦ – (صحيح) حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، نا بِشۡرٌ – يَعۡنِي ابۡنَ الۡمُفَضَّلِ –، نا أَبُو سَلَمَةَ سَعِيدُ بۡنُ يَزِيدَ، عَنۡ أَبِي نَضۡرَةَ، عَنۡ مُطَرِّفٍ قَالَ: قَالَ أَبِي: انۡطَلَقۡتُ فِي وَفۡدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقُلۡنَا: أَنۡتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: (السَّيِّدُ اللهُ [تَبَارَكَ وَتَعَالَى]) قُلۡنَا: وَأَفۡضَلُنَا فَضۡلًا وَأَعۡظَمُنَا طَوۡلًا، فَقَالَ: (قُولُوا بِقَوۡلِكُمۡ) أَوۡ (بَعۡضِ قَوۡلِكُمۡ، وَلَا يَسۡتَجۡرِيَنَّكُمُ الشَّيۡطَانُ). [(المشكاة)(٤٩٠١)، (إصلاح المساجد) رقم(١٠٣)]. 

4806. Musaddad telah menceritakan kepada kami: Bisyr bin Al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami: Abu Salamah Sa’id bin Yazid menceritakan kepada kami dari Abu Nadhrah, dari Mutharrif. Beliau berkata: Ayahku berkata: Aku pergi dalam rombongan utusan Bani ‘Amir menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kami berkata, “Engkau adalah sayyid (pemimpin atau tuan) kami.” 

Nabi bersabda, “Sayyid adalah Allah tabaraka wa ta’ala.” 

Kami berkata, “Engkau juga orang yang paling utama di antara kami dan paling besar karunianya di antara kami.” 

Nabi bersabda, “Katakanlah dengan perkataan yang biasa kalian ucapkan,” atau, “sebagian perkataan yang biasa kalian ucapkan dan jangan sampai setan menyeret kalian (kepada perbuatan melampaui batas).”

Sunan An-Nasa`i hadits nomor 3773

٩ – الۡحَلِفُ بِالۡكَعۡبَةِ 
9. Sumpah dengan Kakbah 


٣٧٧٣ – (صحيح) أَخۡبَرَنَا يُوسُفُ بۡنُ عِيسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡفَضۡلُ بۡنُ مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مِسۡعَرٌ، عَنۡ مَعۡبَدِ بۡنِ خَالِدٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ يَسَارٍ، عَنۡ قُتَيۡلَةَ – امۡرَأَةٍ مِنۡ جُهَيۡنَةَ –، أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: إِنَّكُمۡ تُنَدِّدُونَ، وَإِنَّكُمۡ تُشۡرِكُونَ؛ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئۡتَ، وَتَقُولُونَ: وَالۡكَعۡبَةِ! فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَرَادُوا أَنۡ يَحۡلِفُوا؛ أَنۡ يَقُولُوا: وَرَبِّ الۡكَعۡبَةِ، وَيَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئۡتَ. [(الصحيحة)(١٣٦)]. 

3773. Yusuf bin ‘Isa telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Al-Fadhl bin Musa menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Mis’ar menceritakan kepada kami dari Ma’bad bin Khalid, dari ‘Abdullah bin Yasar, dari Qutailah—seorang wanita dari Juhainah—bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Sesungguhnya kalian berbuat syirik. Kalian mengatakan: Atas kehendak Allah dan kehendakmu. Kalian juga mengatakan: Demi Kakbah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan kaum muslimin apabila ingin bersumpah untuk mengatakan: Demi Tuhan Kakbah. Dan agar mereka mengatakan: Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu.

Pemimpin Ahlul Hadis

Beliau adalah shahabat mulia yang memiliki banyak keutamaan. Para ulama berselisih tentang namanya. Adapun yang masyhur adalah Abdurrahman bin Shakhr. Namun beliau lebih terkenal dengan kunyahnya -Abu Hurairah- radhiyallahu ‘anhu. Di masa jahiliyyah nama beliau Abdussyams dan kunyahnya Abul Aswad. Abul Qasim Ath Thabari rahimahullah menyebutkan bahwa ibunya bernama Maimunah. Beliau masuk Islam pada saat Perang Khaibar tahun ke tujuh dari hijrah nabi.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dahulu aku menggembala kambing milik keluargaku dan waktu itu aku memiliki kucing kecil. Aku selalu menempatkannya di pohon bila malam tiba. Apabila matahari menyingsing aku pergi bersamanya dan bermain dengannya. Maka mereka memberikan kunyah kepadaku Abu Hurairah.” (dikisahkan oleh Abdullah bin Rafi’). Al Imam Adz Dzahabi pun memyebutkan, “Yang masyhur bahwasanya beliau diberi kunyah karena anak kucing. Diriwayatkan bahwa beliau pernah berkata, “Aku menemukan anak kucing kemudian aku mengambilnya. Aku masukkan ke dalam lengan bajuku, maka aku diberi kunyah seperti itu (Abu Hurairah).”

KESABARAN DI ATAS KEFAKIRAN DALAM MENUNTUT ILMU


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah (sesembahan) selain Dia, sungguh aku pernah tergeletak di tanah karena lapar, dan juga aku pernah mengganjal perutku dengan batu karena lapar.”

Pada suatu hari aku sengaja duduk di jalan yang biasa para shahabat keluar melewatinya. Maka lewatlah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Aku bertanya kepadanya tentang satu ayat dari Al Quran. Tidaklah aku bertanya kecuali dia (memahami keadaanku) dan memberiku makanan. Namun beliau pergi dan tidak melakukan yang aku harapkan. Kemudian lewat Umar radhiyallahu ‘anhu maka aku pun bertanya kepadanya pula tentang satu ayat dari Al Quran. Tidaklah aku bertanya kecuali berharap dia (memahamiku) dan memberiku makanan. Namun beliau juga pergi dan tidak melakukan yang aku harapkan.”

“Kemudian lewatlah Abul Qasim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun tersenyum ketika melihatku dan mengetahui apa yang aku inginkan dari raut wajahku. Beliau berkata, “Wahai Abu Hirr!” Aku berkata, “Labbaik (kusambut panggilanmu) ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Ayo ikut.” Maka beliau berjalan dan aku mengikutinya, kemudian beliau meminta izin untuk masuk (rumah) dan aku pun meminta izin masuk, maka kami mendapati susu di dalam bejana. Nabi berkata, “Dari mana susu ini?” Keluarga beliau berkata, “Telah memberikan hadiah kepadamu fulan atau fulanah.”

Beliau memanggilku, “Wahai Abu Hirr!” Aku menjawab, “Labbaik, ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Kembalilah ke (temanmu) ahlu shuffah dan sampaikan undanganku kepada mereka (untuk minum susu).” Ahlu shuffah adalah tamu-tamu Allah yang tinggal di serambi masjid belajar menuntut ilmu di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang menanggung kehidupan mereka dan tidak pula mereka memiliki harta. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat shadaqah, beliau mengirimnya kepada mereka dan tidak memakannya sedikitpun. Adapun apabila mendapat hadiah beliau mengirimnya kepada mereka dan memakannya bersama-sama.

Aku berkata (dalam hati), “Apa faedahnya susu ini untuk ahlu shuffah (karena sedikitnya susu itu)? Aku lebih berhak meminumnya untuk menguatkan badanku. Tapi Rasulullah telah memerintahkanku, maka tidak ada pilihan lain selain taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mudah-mudahan aku masih bisa menikmati susu ini. Maka aku mendatangi mereka (ahlu shuffah) dan mereka pun datang dan meminta izin masuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mereka duduk di dalam rumah.

Beliau berkata, “Wahai Abu Hirr!” Aku berkata, “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Ambil (bejana susu itu) dan berikan kepada mereka. Akupun mengambil bejana tersebut dan memberikan kepada salah satu dari mereka sampai dia kenyang, kemudian aku kembalikan bejana tersebut. Kemudian meminum yang lainnya sampai dia kenyang dan kemudian yang lainnya. Ketika semuanya sudah meminumnya aku berkata, “Sungguh kaum (ahlu shuffah) sudah minum susu dan kenyang.” Maka beliau mengambil bejana itu kemudian melihatku dan tersenyum seraya berkata, “Wahai Abu Hirr.” Aku berkata, “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Tinggal aku dan kamu.” Aku berkata, “Benar ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Duduk dan minumlah!” Maka aku duduk dan minum. Beliau berkata, “Minum lagi!” Maka aku pun meminumnya lagi, maka senantiasa beliau mengatakan kepadaku, “Minum lagi!” Sampai aku berkata, “Tidak, demi Dzat yang mengutusmu sungguh aku sudah tidak mendapati ruang (di perut) lagi.” Beliau berkata, “Bawa kemari (bejana itu).” Maka aku memberikan kepadanya kemudian beliau memuji Allah, membaca basmalah dan meminum sisa susu tersebut.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu seorang shahabat yang terkenal paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada beliau, “Wahai Abu Hurairah engkau adalah orang yang paling lama bermulazamah (duduk belajar) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang paling banyak hafalan hadisnya.” Berkata Ar Rabi’, “Telah berkata Imam Syafi’i rahimahullah, “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadis pada zamannya.”

Beliau termasuk lima shahabat yang menjadi rujukan fatwa di Madinah. Berkata Ziyad bin Mina, “Dahulu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Sa’id, Abu Hurairah, dan Jabir radhiyallahu ‘anhum berfatwa dan meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak wafatnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sampai mereka meninggal. Kepada kelima mereka inilah tempat kembalinya semua fatwa.”

Jika melihat kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu, maka pantaslah gelar periwayat hadis terbanyak sekaligus mufti Madinah beliau sandang. Kemiskinan tidak menghalangi beliau radhiyallahu ‘anhu untuk terus bermulazamah dan menuntut ilmu di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan beliau.

Berkata Al A’raj rahimahullah, “Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu aku adalah orang miskin yang melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hidup seadanya sekadar menghilangkan lapar dan aku tidak mengumpulkan harta. Pada saat itu orang Muhajirin mereka tersibukkan dengan pasar (sibuk dengan jual beli) begitu juga orang Anshar. Nabi pun pernah berkata kepadaku, “Barangsiapa yang membentangkan bajunya maka dia tidak akan lupa sedikitpun terhadap apa yang dia dengar dariku.” Maka aku bentangkan bajuku sampai beliau selesai berbicara. Kemudian aku dekap baju itu maka sejak itu aku tidak lupa sedikitpun terhadap hadis yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rupanya inilah yang menyebabkan Abu Hrairah dikaruniai hafalan hadis yang sangat banyak.

MERIWAYATKAN HADIS YANG TIDAK DIKETAHUI SHAHABAT LAIN


Di antara kelebihan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dibandingkan para shahabat yang lain adalah seringnya beliau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga terkadang beliau mendapatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak didengar oleh shahabat yang lain. Sebagaimana kisah berikut ini.

Suatu ketika Marwan bin Al Hakam bertanya kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Apakah boleh kita berjalan ke masjid daripada kita berbaring dahulu?” Beliau menjawab, “Tidak. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Apabila seorang di antara kalian telah salat dua rakaat sebelum Shubuh, maka hendaklah dia berbaring di atas sebelah kanannya.” [Hadis Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi dengan sanad yang shahih berdasarkan syarat Al Bukhari dan Muslim dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud no 1123].

Ketika fatwa sekaligus dalil permasalahan di atas sampai kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, tampaknya beliau mengingkarinya. Ibnu Umar berkata, “Sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis (sehingga bisa jadi lupa atau salah).” Ketika ditanya, “Apakah engkau mengingkari apa yang diriwayatkan Abu Hurairah?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak, akan tetapi Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis (sehingga terkadang beliau bisa jadi salah dan lupa). Sementara kita hanya sedikit meriwayatkan hadis.” Kemudian hal ini sampai kepada Abu Hurairah sehingga berkata, “Apa salahku jika aku banyak meriwayatkan hadis dan mereka yang lupa.” Terbukti apa yang diriwayatkan Abu Hurairah benar adanya. Dalam riwayat lain Ibnu Umar berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih tahu tentang hadis.”

IBADAHNYA


Selain seorang yang berilmu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga seorang ahli ibadah. Syurahbil rahimahullah berkata bahwa Abu Hurairah senantiasa berpuasa Senin dan Kamis.

Abbas Al Juzairi mengatakan, “Aku mendengar Abu Utsman An Nahdi bercerita, “Aku bertamu di rumah Abu Hurairah tujuh kali. Maka aku menyaksikan dia, istrinya, dan pembantunya menjadikan malam menjadi tiga bagian dan saling bergantian. Apabila yang ini salat dia membangunkan yang lain dan apabila yang lain salat dia membangunkan yang ini.” Aku juga berkata kepadanya, “Wahai Abu Hurairah bagaimana engkau berpuasa?” Beliau menjawab, “Aku berpuasa tiga hari di setiap awal bulan.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, “Sungguh aku meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari sebanyak dua belas ribu kali.”

WAFATNYA BELIAU


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu diangkat menjadi amir di Bahrain pada masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, kemudian beliau menjadi amir di Madinah tahun 40-41H. Setelah itu beliau tinggal di Madinah, meriwayatkan hadis nabi dan berfatwa sampai wafat tahun 59 H.

Berkata Salim bin Basyir rahimahullah bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menangis di saat sakit yang menyebabkan kematiannya. Ketika ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Adapun aku menangis bukan karena dunia kalian ini, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalananku dan sedikitnya perbekalanku. Aku bagai seorang yang berjalan menuju tempat tinggi dan harus kembali turun ke lembah surga atau lembah neraka dan aku tidak tahu kemana aku akan diambil.”

Said bin Abu Said Al Maqburi mengisahkan bahwa Marwan bin Al Hakam menjenguk Abu Hurairah di saat sakit yang menyebabkan kematiannya. Marwan berkata, “Mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu wahai Abu Hurairah.” Namun Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah sesungguhya aku mencintai pertemuan dengan-Mu maka cintailah pertemuan ini dan segerakanlah.” Maka sebelum sampai Marwan meninggalkan rumah Abu Hurairah, wafatlah beliau radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah meridainya.

Berkata Nafi rahimahullah, “Aku bersama Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu saat wafatnya Abu Hurairah. Beliau berjalan di depan jenazahnya dan banyak mengucapkan “rahimahullah” dan berkata, “Sungguh dia adalah orang yang menjaga hadis nabi untuk kaum muslimin.”


Referensi:
  • Siyar Alamin Nubalaa Adz Dzahabi.
  • Thabaqat Ibnu Saad.
  • Al Ishabah Ibnu Hajar.
  • Syarh Shahih Muslim An Nawawi.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 64 vol.06 1440 H rubrik Khairul Ummah. Pemateri: Al Ustadz Abu Ma’mar Abbas bin Husein.

Shahih Muslim hadits nomor 141

٢٢٦ - (١٤١) - حَدَّثَنِي الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡحُلۡوَانِيُّ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ مَنۡصُورٍ، وَمُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ. وَأَلۡفَاظُهُمۡ مُتَقَارِبَةٌ - قَالَ إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا، وَقَالَ الۡآخَرَانِ: حَدَّثَنَا - عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا ابۡنُ جُرَيۡجٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي سُلَيۡمَانُ الۡأَحۡوَلُ: أَنَّ ثَابِتًا مَوۡلَى عُمَرَ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ أَخۡبَرَهُ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ بَيۡنَ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو وَبَيۡنَ عَنۡبَسَةَ بۡنِ أَبِي سُفۡيَانَ مَا كَانَ، تَيَسَّرُوا لِلۡقِتَالِ، فَرَكِبَ خَالِدُ بۡنُ الۡعَاصِ إِلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَمۡرٍو، فَوَعَظَهُ خَالِدٌ. فَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَمۡرٍو: أَمَا عَلِمۡتَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنۡ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ). 

226. (141). Al-Hasan bin ‘Ali Al-Hulwani, Ishaq bin Manshur, dan Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepadaku. Lafal mereka hampir sama. Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami. Dua rawi lainnya berkata: ‘Abdurrazzaq menceritakan kepada kami: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: Sulaiman Al-Ahwal mengabarkan kepadaku: Bahwa Tsabit maula ‘Umar bin ‘Abdurrahman mengabarkan kepadanya bahwa ketika terjadi perselisihan antara ‘Abdullah bin ‘Amr dengan ‘Anbasah bin Abu Sufyan, mereka bersiap-siap untuk berperang. Lalu Khalid bin Al-‘Ash menunggang kendaraan untuk menemui ‘Abdullah bin ‘Amr. Khalid menasihatinya. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: Tidakkah engkau mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terbunuh mempertahankan hartanya, maka dia syahid.” 

وَحَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بۡنُ حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَكۡرٍ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ عُثۡمَانَ النَّوۡفَلِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، كِلَاهُمَا عَنِ ابۡنِ جُرَيۡجٍ، بِهَٰذَا الۡإِسۡنَادِ... مِثۡلَهُ. 

Muhammad bin Hatim telah menceritakannya kepadaku: Muhammad bin Bakr menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Ahmad bin ‘Utsman An-Naufali telah menceritakan kepada kami: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami. Masing-masing keduanya dari Ibnu Juraij melalui sanad ini… semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 140

٦٢ - بَابُ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ مَنۡ قَصَدَ أَخۡذَ مَالِ غَيۡرِهِ بِغَيۡرِ حَقٍّ كَانَ الۡقَاصِدُ مُهۡدَرَ الدَّمِ فِي حَقِّهِ، وَإِنۡ قُتِلَ كَانَ فِي النَّارِ، وَأَنَّ مَنۡ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ 
62. Bab dalil bahwa siapa saja yang bermaksud mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, maka darah orang yang bermaksud itu boleh ditumpahkan dalam rangka membela haknya; jika orang yang bermaksud tersebut terbunuh, maka dia di neraka; dan bahwa siapa saja yang terbunuh mempertahankan hartanya, maka dia mati syahid 


٢٢٥ - (١٤٠) - حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيۡبٍ مُحَمَّدُ بۡنُ الۡعَلَاءِ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ - يَعۡنِي ابۡنَ مَخۡلَدٍ -: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنِ الۡعَلَاءِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخۡذَ مَالِي؟ قَالَ: (فَلَا تُعۡطِهِ مَالَكَ). قَالَ: أَرَأَيۡتَ إِنۡ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: (قَاتِلۡهُ). قَالَ: أَرَأَيۡتَ إِنۡ قَتَلَنِي؟ قَالَ: (فَأَنۡتَ شَهِيدٌ). قَالَ: أَرَأَيۡتَ إِنۡ قَتَلۡتُهُ؟ قَالَ: (هُوَ فِي النَّارِ). 

225. (140). Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala` telah menceritakan kepadaku: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami dari Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Beliau berkata: 

Ada seseorang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika ada seseorang datang ingin mengambil hartaku?” 

Nabi menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu kepadanya.” 

Orang itu bertanya, “Apa pendapatmu jika dia memerangiku?” 

Nabi menjawab, “Lawan dia.” 

Orang itu bertanya, “Apa pendapatmu jika dia membunuhku?” 

Nabi menjawab, “Engkau mati syahid.” 

Orang itu bertanya, “Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?” 

Nabi menjawab, “Dia di neraka.”

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 2117 dan 2118

١٣ - بَابُ النَّهۡيِ أَنۡ يُقَالَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئۡتَ 
13. Bab larangan mengatakan, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” 


٢١١٧ – (حسن صحيح) حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡأَجۡلَحُ الۡكِنۡدِيُّ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ الۡأَصَمِّ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا حَلَفَ أَحَدُكُمۡ فَلَا يَقُلۡ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئۡتَ، وَلَكِنۡ لِيَقُلۡ: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئۡتَ). [(الصحيحة)(١٣٦ و١٣٩ و١٠٩٣)]. 

2117. [Hasan Sahih] Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Isa bin Yunus menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Ajlah Al-Kindi menceritakan kepada kami dari Yazid bin Al-Ashamm, dari Ibnu ‘Abbas; Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang kalian, janganlah dia mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendakmu; akan tetapi hendaknya dia berkata: Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu.” 

٢١١٨ – (صحيح) حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ بۡنُ عُيَيۡنَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنۡ حُذَيۡفَةَ بۡنِ الۡيَمَانِ؛ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ رَأَى فِي النَّوۡمِ أَنَّهُ لَقِيَ رَجُلًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ فَقَالَ: نِعۡمَ الۡقَوۡمُ أَنۡتُمۡ لَوۡلَا أَنَّكُمۡ تُشۡرِكُونَ، تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ، وَذَكَرَ ذٰلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: (أَمَا وَاللهِ! إِنۡ كُنۡتُ لَأَعۡرِفُهَا لَكُمۡ، قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ مُحَمَّدٌ). [(الصحيحة)(١٣٧)]. 

2118. [Sahih] Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Rib’i bin Hirasy, dari Hudzaifah bin Al-Yaman; Bahwa salah seorang kaum muslimin bermimpi berjumpa dengan salah seorang ahli kitab. Ahli kitab itu berkata, “Sebaik-baik kaum adalah kalian andai kalian tidak berbuat syirik. Kalian berkata: Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.” Hal itu disebutkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda, “Demi Allah, tadinya aku belum pernah tahu ucapan itu, jika aku tahu tentu aku peringatkan kalian. Ucapkanlah: Atas kehendak Allah kemudian kehendak Muhammad.” 

٢١١٨ (م) - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ أَبِي الشَّوَارِبِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ، عَنۡ رِبۡعِيِّ بۡنِ حِرَاشٍ، عَنِ الطُّفَيۡلِ بۡنِ سَخۡبَرَةَ، أَخِي عَائِشَةَ لِأُمِّهَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِنَحۡوِهِ. 

2118. Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abu Asy-Syawarib telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ath-Thufail bin Sakhbarah, saudara seibu ‘Aisyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semisal hadis tersebut.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5138 dan 5139

٤٣ - بَابُ إِذَا زَوَّجَ ابۡنَتَهُ وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَنِكَاحُهُ مَرۡدُودٌ 
43. Bab jika ada yang menikahkan putrinya namun putrinya tidak suka, maka nikahnya tertolak 


٥١٣٨ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ الۡقَاسِمِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ وَمُجَمِّعٍ ابۡنَيۡ يَزِيدَ بۡنِ جَارِيَةَ، عَنۡ خَنۡسَاءَ بِنۡتِ خِذَامٍ الۡأَنۡصَارِيَّةِ: أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتۡ ذٰلِكَ، فَأَتَتۡ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَرَدَّ نِكَاحَهُ. [الحديث ٥١٣٨ – أطرافه في: ٥١٣٩، ٦٩٤٥، ٦٩٦٩]. 

5138. Isma’il telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik menceritakan kepadaku dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim, dari ayahnya, dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’ dua putra Yazid bin Jariyah, dari Khansa` binti Khidzam Al-Anshariyyah: Bahwa ayahnya menikahkannya dalam keadaan janda, namun dia tidak menyukai itu. Khansa` datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menolak pernikahannya. 

٥١٣٩ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا يَزِيدُ: أَخۡبَرَنَا يَحۡيَى: أَنَّ الۡقَاسِمَ بۡنَ مُحَمَّدٍ حَدَّثَهُ: أَنَّ عَبۡدَ الرَّحۡمَٰنِ بۡنَ يَزِيدَ وَمُجَمِّعَ بۡنَ يَزِيدَ حَدَّثَاهُ: أَنَّ رَجُلًا يُدۡعَى خِذَامًا أَنۡكَحَ ابۡنَةً لَهُ، نَحۡوَهُ. [طرفه في: ٥١٣٨]. 

5139. Ishaq telah menceritakan kepada kami: Yazid mengabarkan kepada kami: Yahya mengabarkan kepada kami bahwa Al-Qasim bin Muhammad menceritakan kepadanya: Bahwa ‘Abdurrahman bin Yazid dan Mujammi’ bin Yazid menceritakan kepadanya: Bahwa ada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Khidzam menikahkan putrinya. Semisal hadis sebelum ini.

Shahih Muslim hadits nomor 139

٢٢٣ - (١٣٩) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَأَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَهَنَّادُ بۡنُ السَّرِيِّ، وَأَبُو عَاصِمٍ الۡحَنَفِيُّ، - وَاللَّفۡظُ لِقُتَيۡبَةَ - قَالُوا: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ عَنۡ سِمَاكٍ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ بۡنِ وَائِلٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنۡ حَضۡرَمَوۡتَ وَرَجُلٌ مِنۡ كِنۡدَةَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. فَقَالَ الۡحَضۡرَمِيُّ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هَٰذَا قَدۡ غَلَبَنِي عَلَى أَرۡضٍ لِي كَانَتۡ لِأَبِي، فَقَالَ الۡكِنۡدِيُّ: هِيَ أَرۡضِي فِي يَدِي أَزۡرَعُهَا لَيۡسَ لَهُ فِيهَا حَقٌّ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِلۡحَضۡرَمِيِّ: (أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟) قَالَ: لَا. قَالَ: (فَلَكَ يَمِينُهُ). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ فَاجِرٌ لَا يُبَالِي عَلَى مَا حَلَفَ عَلَيۡهِ، وَلَيۡسَ يَتَوَرَّعُ مِنۡ شَيۡءٍ. فَقَالَ: (لَيۡسَ لَكَ مِنۡهُ إِلَّا ذٰلِكَ). فَانۡطَلَقَ لِيَحۡلِفَ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، لَمَّا أَدۡبَرَ: (أَمَا لَئِنۡ حَلَفَ عَلَى مَالِهِ لِيَأۡكُلَهُ ظُلۡمًا، لَيَلۡقَيَنَّ اللهَ وَهُوَ عَنۡهُ مُعۡرِضٌ). 

223. (139). Qutaibah bin Sa’id, Abu Bakr bin Abu Syaibah, Hannad bin As-Sari, dan Abu ‘Ashim Al-Hanafi telah menceritakan kepada kami. Lafal hadis ini milik Qutaibah. Mereka berkata: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Simak, dari ‘Alqamah bin Wa`il, dari ayahnya. Beliau berkata: 

Seorang pria dari Hadhramaut dan seorang pria dari Kindah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pria dari Hadhramaut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini telah merebut tanahku yang dahulu dimiliki ayahku.” 

Pria dari Kindah berkata, “Itu tanahku yang aku kuasai. Aku sudah biasa menanaminya. Dia tidak memiliki hak padanya.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pria dari Hadhramaut, “Apakah engkau memiliki bukti?” 

Dia menjawab, “Tidak.” 

Nabi bersabda, “Maka, bagimu sumpahnya.” 

Pria dari Hadhramaut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini jahat. Dia tidak akan mempedulikan isi sumpahnya dan dia tidak menjaga diri dari dosa.” 

Nabi bersabda, “Hanya itu yang bisa engkau dapatkan darinya.” 

Pria dari Kindah pergi bersumpah. Ketika dia berbalik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dia bersumpah untuk mengambil harta secara zalim, niscaya dia pasti akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan Allah berpaling darinya.” 

٢٢٤ - (...) - وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، جَمِيعًا عَنۡ أَبِي الۡوَلِيدِ. قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَلِكِ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ عَلۡقَمَةَ بۡنِ وَائِلٍ، عَنۡ وَائِلِ بۡنِ حُجۡرٍ قَالَ: كُنۡتُ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَتَاهُ رَجُلَانِ يَخۡتَصِمَانِ فِي أَرۡضٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: إِنَّ هَٰذَا انۡتَزَى عَلَى أَرۡضِي، يَا رَسُولَ اللهِ، فِي الۡجَاهِلِيَّةِ .- وَهُوَ امۡرُؤُ الۡقَيۡسِ بۡنُ عَابِسٍ الۡكِنۡدِيُّ، وَخَصۡمُهُ رَبِيعَةُ بۡنُ عِبۡدَانَ -. قَالَ: (بَيِّنَتُكَ). قَالَ: لَيۡسَ لِي بَيِّنَةٌ. قَالَ: (يَمِينُهُ). قَالَ: إِذَنۡ يَذۡهَبُ بِهَا. قَالَ: (لَيۡسَ لَكَ إِلَّا ذَاكَ). قَالَ: فَلَمَّا قَامَ لِيَحۡلِفَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنِ اقۡتَطَعَ أَرۡضًا ظَالِمًا، لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيۡهِ غَضۡبَانُ). 

قَالَ إِسۡحَاقُ فِي رِوَايَتِهِ: رَبِيعَةُ بۡنُ عَيۡدَانَ. 

224. Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku. Semuanya dari Abu Al-Walid. Zuhair berkata: Hisyam bin ‘Abdul Malik menceritakan kepada kami: Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari ‘Alqamah bin Wa`il, dari Wa`il bin Hujr. Beliau berkata: 

Aku pernah berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ada dua pria yang mendatangi beliau karena bersengketa tentang suatu tanah. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya orang ini merebut tanahku, wahai Rasulullah, di masa jahiliah.” Dia adalah Umru`ul Qais bin ‘Abis Al-Kindi, sedang seterunya adalah Rabi’ah bin ‘Ibdan. 

Nabi bersabda, “Buktimu.” 

Orang tadi berkata, “Aku tidak punya bukti.” 

Nabi bersabda, “Sumpahnya.” 

Orang tadi berkata, “Jika begitu, dia akan pergi membawa tanahku.” 

Nabi bersabda, “Engkau hanya bisa menerima itu.” 

Wa`il berkata: Ketika pria yang satu hendak bangkit bersumpah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mengurangi suatu tanah secara zalim, niscaya dia akan berjumpa Allah dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” 

Ishaq berkata di dalam riwayatnya: Rabi’ah bin ‘Aidan.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5135

٤١ - بَابٌ السُّلۡطَانُ وَلِيٌّ 
41. Bab penguasa adalah wali 


لِقَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (زَوَّجۡنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ). 

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami nikahkan engkau dengannya dengan hafalan Alquranmu.” 

٥١٣٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي حَازِمٍ، عَنۡ سَهۡلِ بۡنِ سَعۡدٍ قَالَ: جَاءَتِ امۡرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَتۡ: إِنِّي وَهَبۡتُ مِنۡ نَفۡسِي، فَقَامَتۡ طَوِيلًا، فَقَالَ رَجُلٌ: زَوِّجۡنِيهَا إِنۡ لَمۡ تَكُنۡ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ، قَالَ: (هَلۡ عِنۡدَكَ مِنۡ شَيۡءٍ تُصۡدِقُهَا؟) قَالَ: مَا عِنۡدِي إِلَّا إِزَارِي، فَقَالَ: (إِنۡ أَعۡطَيۡتَهَا إِيَّاهُ جَلَسۡتَ لَا إِزَارَ لَكَ، فَالۡتَمِسۡ شَيۡئًا). فَقَالَ: مَا أَجِدُ شَيۡئًا، فَقَالَ: (الۡتَمِسۡ وَلَوۡ خَاتَمًا مِنۡ حَدِيدٍ). فَلَمۡ يَجِدۡ، فَقَالَ: (أَمَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ شَيۡءٌ؟) قَالَ: نَعَمۡ، سُورَةُ كَذَا، وَسُورَةُ كَذَا، لِسُوَرٍ سَمَّاهَا، فَقَالَ: (قَدۡ زَوَّجۡنَاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ القُرۡآنِ). [طرفه في: ٢٣١٠]. 

5135. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’d. Beliau berkata: 

Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Sesungguhnya aku menghibahkan diriku.” Wanita itu berdiri lama. 

Lalu ada seorang pria berkata, “Nikahkanlah aku dengannya jika engkau tidak memiliki hajat kepadanya.” 

Nabi bertanya, “Apakah engkau memiliki suatu mahar yang bisa engkau berikan kepadanya?” 

Pria tadi menjawab, “Aku hanya memiliki sarungku.” 

Nabi bersabda, “Jika engkau memberikan sarungmu kepadanya, engkau duduk tanpa memiliki sarung. Carilah sesuatu!” 

Pria itu berkata, “Aku tidak mendapati sesuatu pun.” 

Nabi bersabda, “Carilah walau cincin dari besi!” Namun pria itu tidak mendapatkannya. 

Nabi bertanya, “Apakah engkau memiliki hafalan Alquran?” 

Pria itu menjawab, “Iya, surah ini dan surah ini.” Dia menyebutkan beberapa surah. 

Nabi bersabda, “Kami telah nikahkan engkau dengannya dengan hafalan Alquranmu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5134

٤٠ - بَابُ تَزۡوِيجِ الۡأَبِ ابۡنَتَهُ مِنَ الۡإِمَامِ 
40. Bab ayah menikahkan putrinya dengan pemimpin negeri 


وَقَالَ عُمَرُ: خَطَبَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَيَّ حَفۡصَةَ فَأَنۡكَحۡتُهُ. 

‘Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar Hafshah kepadaku, lalu aku menikahkan beliau.” 

٥١٣٤ - حَدَّثَنَا مُعَلَّى بۡنُ أَسَدٍ: حَدَّثَنَا وُهَيۡبٌ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنۡتُ سِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنۡتُ تِسۡعِ سِنِينَ. قَالَ هِشَامٌ: وَأُنۡبِئۡتُ أَنَّهَا كَانَتۡ عِنۡدَهُ تِسۡعَ سِنِينَ. [طرفه في: ٣٨٩٤]. 

5134. Mu’alla bin Asad telah menceritakan kepada kami: Wuhaib menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya ketika berumur enam tahun, membangun rumah tangga dengannya ketika berumur sembilan tahun. Hisyam berkata: Aku diberitahu bahwa ‘Aisyah berada di sisi Nabi selama sembilan tahun.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5133

٣٩ - بَابُ إِنۡكَاحِ الرَّجُلِ وَلَدَهُ الصِّغَارَ 
39. Bab seorang ayah menikahkan anaknya yang masih kecil 


لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿وَاللَّائِي لَمۡ يَحِضۡنَ﴾ [الطلاق: ٤]، فَجَعَلَ عِدَّتَهَا ثَلَاثَةَ أَشۡهُرٍ قَبۡلَ الۡبُلُوغِ. 

Berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS. Ath-Thalaq: 4). Allah menentukan masa idahnya sebelum balig adalah tiga bulan. 

٥١٣٣ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ هِشَامٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنۡتُ سِتِّ سِنِينَ، وَأُدۡخِلَتۡ عَلَيۡهِ وَهِيَ بِنۡتُ تِسۡعٍ، وَمَكَثَتۡ عِنۡدَهُ تِسۡعًا. [طرفه في: ٣٨٩٤]. 

5133. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya ketika berumur enam tahun, mulai tinggal serumah ketika umur sembilan tahun, dan tinggal bersama beliau selama sembilan tahun.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5131 dan 5132

٣٨ - بَابٌ إِذَا كَانَ الۡوَلِيُّ هُوَ الۡخَاطِبَ 
38. Bab apabila wali adalah orang yang melamar 


وَخَطَبَ الۡمُغِيرَةُ بۡنُ شُعۡبَةَ امۡرَأَةً هُوَ أَوۡلَى النَّاسِ بِهَا، فَأَمَرَ رَجُلًا فَزَوَّجَهُ. وَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ لِأُمِّ حَكِيمٍ بِنۡتِ قَارِظٍ: أَتَجۡعَلِينَ أَمۡرَكِ إِلَيَّ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ، فَقَالَ: قَدۡ زَوَّجۡتُكِ. وَقَالَ عَطَاءٌ: لِيُشۡهِدۡ أَنِّي قَدۡ نَكَحۡتُكِ، أَوۡ لِيَأۡمُرۡ رَجُلًا مِنۡ عَشِيرَتِهَا. وَقَالَ سَهۡلٌ: قَالَتِ امۡرَأَةٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَهَبُ لَكَ نَفۡسِي، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنۡ لَمۡ تَكُنۡ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجۡنِيهَا. 

Al-Mughirah bin Syu’bah melamar seorang wanita dalam keadaan beliau adalah orang yang paling berhak menjadi wali atas si wanita itu. Lalu beliau menyuruh seseorang agar menikahkannya. 

‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada Ummu Hakim binti Qarizh, “Apakah engkau menjadikan urusanmu di tanganku?” Ummu Hakim menjawab, “Iya.” Lalu ‘Abdurrahman berkata, “Aku telah menikahkanmu.” 

‘Atha` berkata, “Suruh dia bersaksi: aku telah menikahimu; atau suruh dia memerintahkan seseorang dari kerabat si wanita (agar menikahkan si wanita dengannya).” 

Sahl berkata: Seorang wanita berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku hibahkan diriku kepadamu.” Lalu ada seorang lelaki yang berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau tidak memiliki hajat kepadanya, maka nikahkanlah dia denganku.” 

٥١٣١ - حَدَّثَنَا ابۡنُ سَلَامٍ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا فِي قَوۡلِهِ: ﴿وَيَسۡتَفۡتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللهُ يُفۡتِيكُمۡ فِيهِنَّ﴾ [النساء: ١٢٧] إِلَى آخِرِ الۡآيَةِ، قَالَتۡ: هِيَ الۡيَتِيمَةُ تَكُونُ فِي حَجۡرِ الرَّجُلِ، قَدۡ شَرِكَتۡهُ فِي مَالِهِ، فَيَرۡغَبُ عَنۡهَا أَنۡ يَتَزَوَّجَهَا، وَيَكۡرَهُ أَنۡ يُزَوِّجَهَا غَيۡرَهُ فَيَدۡخُلَ عَلَيۡهِ فِي مَالِهِ، فَيَحۡبِسُهَا، فَنَهَاهُمُ اللهُ عَنۡ ذٰلِكَ. [طرفه في: ٢٤٩٤]. 

5131. Ibnu Salam telah menceritakan kepada kami: Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah yang artinya, “Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka.” (QS. An-Nisa`: 127) sampai akhir ayat. ‘Aisyah mengatakan, “Dia adalah perempuan yatim yang berada di bawah pengasuhan seorang lelaki. Perempuan yatim ini telah ikut bersama dengannya dalam hartanya. Lelaki ini tidak suka untuk menikahinya dan tidak suka untuk menikahkannya dengan selain dirinya karena akan ikut masuk dalam hartanya. Sehingga dia pun mencegah perempuan tersebut (untuk menikah). Allah melarang mereka dari perbuatan itu.” 

٥١٣٢ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ الۡمِقۡدَامِ: حَدَّثَنَا فُضَيۡلُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ: حَدَّثَنَا سَهۡلُ بۡنُ سَعۡدٍ قَالَ: كُنَّا عِنۡدَ النَّبِيِّ ﷺ جُلُوسًا، فَجَاءَتۡهُ امۡرَأَةٌ تَعۡرِضُ نَفۡسَهَا عَلَيۡهِ، فَخَفَّضَ فِيهَا النَّظَرَ وَرَفَعَهُ، فَلَمۡ يُرِدۡهَا، فَقَالَ رَجُلٌ مِنۡ أَصۡحَابِهِ: زَوِّجۡنِيهَا يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: (أَعِنۡدَكَ مِنۡ شَيۡءٍ؟) قَالَ: مَا عِنۡدِي مِنۡ شَيۡءٍ، قَالَ: (وَلَا خَاتَمًا مِنۡ حَدِيدٍ؟). قَالَ: وَلَا خَاتَمًا مِنۡ حَدِيدٍ، وَلَكِنۡ أَشُقُّ بُرۡدَتِي هَٰذِهِ فَأُعۡطِيهَا النِّصۡفَ، وَآخُذُ النِّصۡفَ، قَالَ: (لَا، هَلۡ مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ شَيۡءٌ؟) قَالَ: نَعَمۡ، قَالَ: (اذۡهَبۡ فَقَدۡ زَوَّجۡتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ). [طرفه في: ٢٣١٠]. 

5132. Ahmad bin Al-Miqdam telah menceritakan kepada kami: Fudhail bin Sulaiman menceritakan kepada kami: Abu Hazim menceritakan kepada kami: Sahl bin Sa’d menceritakan kepada kami. Beliau berkata: 

Kami dahulu pernah duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ada seorang wanita datang menawarkan dirinya kepada beliau. Nabi mengarahkan pandangan beliau dari bawah ke atas, lalu beliau tidak menginginkannya. 

Ada seorang pria di antara para sahabat beliau berkata, “Nikahkanlah aku dengannya, wahai Rasulullah.” 

Nabi bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu?” 

Pria itu menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa.” 

Nabi bertanya, “Walaupun hanya cincin dari besi?” 

Pria itu menjawab, “Tidak punya walaupun hanya cincin dari besi. Akan tetapi aku akan menyobek burdahku ini, sehingga aku akan memberikan separuhnya kepadanya dan aku mengambil separuhnya lagi.” 

Nabi bersabda, “Jangan. Apakah engkau punya suatu hafalan Alquran?” 

Pria itu berkata, “Iya, ada.” 

Nabi bersabda, “Pergilah, aku telah nikahkan engkau dengannya dengan hafalan Alquranmu.”

PEMILIK RUMAH KEISLAMAN

Dalam sejarah Islam tercatatlah nama seorang shahabat yang mulia, Al Arqam bin Abi Arqam. Nama panjang beliau adalah Abu Abdillah Abdu Manaf bin Asad bin Abdillah bin Umar bin Makhzum bin Yaqodhoh bin Murrah bin Kaab bin Luay Al Qurasy Al Makhzumy. Beliau berasal dari Bani Makhzum yang merupakan keturunan Makhzum bin Yaqodhoh, cucu dari tokoh Quraisy Murrah. Dari suku inilah muncul sederet nama-nama yang terkenal baik dari kalangan muslimin ataupun musyrikin.

Di antara orang-orang yang terkenal dari Bani Makhzum adalah Abu Jahal, Khalid bin Walid, Ummu Salamah, Abu Salamah, Hindun dan lainnya. Bani Makhzum memiliki peran dan tugas yang penting dalam Quraisy. Mereka adalah para pengurus gudang persenjataan dan tenaga tempur. Bani Makhzumlah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi para prajurit.

Diperselisihkan tentang nama ibu beliau; Umaimah bintu Abdil Harits atau Tamadhir bintu Khudzaim dari Bani Sahm, atau Shafiyah bintu Al Harits bin Khalid bin Umair bin Ghabsyan Al Khuzaiyyah. Adapun beberapa putra Al Arqam di antaranya adalah Abdullah, Ubaidullah, dan Utsman. Beliau bekerja sehari-hari sebagai seorang pedagang, dan termasuk dari pengusaha yang berpengaruh dari Bani Makhzum.

PEMILIK RUMAH KEISLAMAN


Tidak disangka, rumah beliau adalah rumah pertama tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah kepada Islam. Bagaimana tidak, rumah itu berada di bukit Shafa, yang dimiliki seseorang muda dari Bani Makhzum, salah satu cabang Quraisy yang merupakan pesaing kuat bagi Bani Hasyim pada masa jahiliyyah. Pantas saja, selama beliau berdakwah kepada Islam di rumah ini, orang-orang Quraisy tidak pernah mencurigainya. Sebab menurut mereka, tidaklah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari Bani Hasyim akan menjadikan rumah salah seorang dari Bani Makhzum sebagai pusat pengajaran Islam, mengingat permusuhan dan persaingan antara dua cabang Quraisy ini. Lebih-lebih lagi Al Arqam adalah seorang yang masih muda, sehingga secara akal tidaklah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah mencapai kematangan umur menjadikan rumah seorang pemuda sebagai tujuan persinggahan. Inilah di antara sebab Rasulullah memilih rumah beliau sebagai pusat dakwah, wallahua’lam.

Dipilihnya rumah beliau sebagai pusat pendidikan dilatarbelakangi oleh konfrontasi antara orang Quraisy dengan shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa para shahabat awalnya berkumpul di lembah-lembah, suatu ketika orang Quraisy melihat mereka dan langsung mencaci serta menyerang mereka. Saat itu shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil mempertahankan diri dan melukai salah seorang dari orang Quraisy. Jika bentrokan fisik seperti ini terus terjadi, maka akan mengancam eksistensi kaum muslimin sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menjadikan rumah Al Arqam sebagai pusat dakwah pada tahun ke 5 kenabian. Rumah tersebut bagian pintu belakangnya bisa dimasuki tanpa dilihat oleh orang lain.

Dari rumah yang berbarakah ini muncullah para shahabat utama, yang terdidik dengan didikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah As Sabiqunal Al Awwalun. Maka, tidak mengherankan bila rumah beliau disebut sebagai rumah Islam, yang mencetak para tokoh-tokoh Islam.

KEUTAMAAN AL ARQAM


Di antara keutamaan Al Arqam bin Abi Arqam adalah bahwa beliau termasuk As Sabiqunal Awwalun, ada yang mengatakan beliau adalah orang yang ke 7 masuk Islam, ada pula yang berpendapat beliau sebagai orang ke 12 yang masuk Islam. Beliau masuk Islam lewat perantaraan dakwah Abu Bakar Ash Shiddiq bersama dengan Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Bilal bin Rabah, Abu Salamah, dan yang lainnya. Merekalah orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam surat At Taubah ayat 100
وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَـٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَـٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ تَجۡرِى تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [Q.S. At Taubah: 100]

Saat datang perintah hijrah, beliau bersegera melaksanakan perintah samawi tersebut. Beliau termasuk salah satu shahabat yang menjadi muhajirin Madinah. Di Negeri Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Thalhah bin Zaid bin Abi Zuhair Al Anshari, saudara dari Kharijah bin Zaid.

Keutamaan lainnya adalah beliau sebagai shahabat yang mengikuti perang Badar, bahkan dalam perang tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kepadanya sebuah pedang yang ditinggalkan pemiliknya Ibnu ‘Aidz Al Mazraban. Beliau juga mengikuti perang Uhud di tahun 3 hijriyah.

WAFATNYA AL ARQAM


Pada tahun 53 H, Al Arqam bin Abi Arqam meninggal pada usia 83. Ada yang berpendapat beliau meninggal di tahun 55H. Beberapa shahabat yang meninggal di tahun ini pula (tahun 53 Hijriyah) adalah Fadhalah bin Ubaid Al Anshari, Abdurahman bin Abi Bakar As Siddiq, Al Amir Ziyad bin Abihi, Amr bin Hazm Al Anshari, dan Fairuz Ad Dailamiy, pembunuh nabi palsu-Al Aswad Al ‘Ansiy-.

Sebelum meninggal beliau berwasiat agar yang memimpin salat janazah adalah Saad bin Abi Waqqash. Sedangkan saat itu Saad bin Abi Waqqash sedang berada di Al Aqiq di Madinah. Maka gubernur Madinah saat itu -Marwan bin Hakam- ingin untuk memimpin salat janazah karena dirasa lamanya penungguan Saad bin Abi Waqqash. Memang, waliyul amr disyariatkan untuk memimpin/mengimami salat janazah. Namun, permasalahannya adalah memegang wasiat dan amanah dari sang mayit. Maka putra beliau, Ubaidullah dan Bani Makhzum bersikukuh agar wasiat tersebut tetap dilaksanakan. Maka, datanglah Saad dari Al Aqiq untuk menyalati Al Arqam. Lalu jenazah beliau pun dikuburkan di pekuburan Baqi’. Wallahu a’lam. [Ustadz Hammam]


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 83 vol.07 1440H-2018H rubrik Figur.

Shahih Muslim hadits nomor 137

٦١ - بَابُ وَعِيدِ مَنِ اقۡتَطَعَ حَقَّ مُسۡلِمٍ بِيَمِينٍ فَاجِرَةٍ بِالنَّارِ 
61. Bab ancaman neraka bagi siapa saja yang mengurangi hak seorang muslim dengan cara bersumpah palsu 


٢١٨ – (١٣٧) - حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَعَلِيُّ بۡنُ حُجۡرٍ، جَمِيعًا عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ جَعۡفَرٍ، قَالَ ابۡنُ أَيُّوبَ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ قَالَ: أَخۡبَرَنَا الۡعَلَاءُ - وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ مَوۡلَى الۡحُرَقَةِ - عَنۡ مَعۡبَدِ بۡنِ كَعۡبٍ السَّلَمِيِّ، عَنۡ أَخِيهِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ كَعۡبٍ، عَنۡ أَبِي أُمَامَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (مَنِ اقۡتَطَعَ حَقَّ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدۡ أَوۡجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيۡهِ الۡجَنَّةَ).‏ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنۡ كَانَ شَيۡئًا يَسِيرًا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (وَإِنۡ قَضِيبًا مِنۡ أَرَاكٍ). 

218. (137). Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, dan ‘Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami. Semuanya dari Isma’il bin Ja’far. Ibnu Ayyub berkata: Isma’il bin Ja’far menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-‘Ala` bin ‘Abdurrahman maula Al-Huraqah mengabarkan kepada kami dari Ma’bar bin Ka’b As-Salami, dari saudaranya, yaitu ‘Abdullah bin Ka’b, dari Abu Umamah: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mengurangi hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah memastikan neraka untuknya dan mengharamkan janah baginya.” Seseorang bertanya kepada beliau, “Walaupun berupa sesuatu yang sedikit, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Walaupun berupa satu dahan dari pohon Arak/pohon siwak.” 

٢١٩ – (...) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، وَإِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ، وَهَارُونُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، جَمِيعًا عَنۡ أَبِي أُسَامَةَ، عَنِ الۡوَلِيدِ بۡنِ كَثِيرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ كَعۡبٍ: أَنَّهُ سَمِعَ أَخَاهُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ كَعۡبٍ يُحَدِّثُ: أَنَّ أَبَا أُمَامَةَ الۡحَارِثِيَّ حَدَّثَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ... بِمِثۡلِهِ. 

219. Abu Bakr bin Abu Syaibah, Ishaq bin Ibrahim, dan Harun bin ‘Abdullah telah menceritakannya kepada kami. Semuanya dari Abu Usamah, dari Al-Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ka’b: Bahwa beliau mendengar saudaranya, yaitu ‘Abdullah bin Ka’b, menceritakan bahwa Abu Umamah Al-Haritsi menceritakan kepadanya: Bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… semisal hadis tersebut.

Shahih Muslim hadits nomor 136

٢١٧ – (١٣٦)- حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ عَامِرِ بۡنِ زُرَارَةَ الۡحَضۡرَمِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ فُضَيۡلٍ، عَنۡ مُخۡتَارِ بۡنِ فُلۡفُلٍ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ، عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: (قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يَزَالُونَ يَقُولُونَ: مَا كَذَا؟ مَا كَذَا؟ حَتَّى يَقُولُوا: هَٰذَا اللهُ خَلَقَ الۡخَلۡقَ، فَمَنۡ خَلَقَ اللهَ؟). 

217. (136). ‘Abdullah bin ‘Amir bin Zurarah Al-Hadhrami telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami dari Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Allah azza wajalla berkata: Sesungguhnya umatmu senantiasa bertanya: Apa begini? Apa begini? Sampai mereka berkata: Allah telah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?” 

حَدَّثَنَاهُ إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا جَرِيرٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، كِلَاهُمَا عَنِ الۡمُخۡتَارِ، عَنۡ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، بِهَٰذَا الۡحَدِيثِ. غَيۡرَ أَنَّ إِسۡحَاقَ لَمۡ يَذۡكُرۡ: (قَالَ: قَالَ اللهُ: إِنَّ أُمَّتَكَ). 

‏Ishaq bin Ibrahim telah menceritakannya kepada kami: Jarir mengabarkan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Husain bin ‘Ali menceritakan kepada kami dari Za`idah, masing-masing keduanya dari Al-Mukhtar, dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadis ini. Hanya saja Ishaq tidak menyebutkan, “Beliau bersabda: Allah berkata: Sesungguhnya umatmu.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5128, 5129, dan 5130

٥١٢٨ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ هِشَامِ بۡنِ عُرۡوَةَ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ عَائِشَةَ: ﴿وَمَا يُتۡلَى عَلَيۡكُمۡ فِي الۡكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤۡتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرۡغَبُونَ أَنۡ تَنۡكِحُوهُنَّ﴾ [النساء: ١٢٧]. قَالَتۡ: هَٰذَا فِي الۡيَتِيمَةِ الَّتِي تَكُونُ عِنۡدَ الرَّجُلِ، لَعَلَّهَا أَنۡ تَكُونَ شَرِيكَتَهُ فِي مَالِهِ، وَهُوَ أَوۡلَى بِهَا، فَيَرۡغَبُ عَنۡهَا أَنۡ يَنۡكِحَهَا، فَيَعۡضُلَهَا لِمَالِهَا، وَلاَ يُنۡكِحَهَا غَيۡرَهُ، كَرَاهِيَةَ أَنۡ يَشۡرَكَهُ أَحَدٌ فِي مَالِهَا. [طرفه في: ٢٤٩٤]. 

5128. Yahya telah menceritakan kepada kami: Waki’ menceritakan kepada kami dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah. Ayat yang artinya, “Dan apa yang dibacakan kepada kalian dalam Alquran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kalian ingin menikahi mereka.” (QS. An-Nisa`: 127). ‘Aisyah berkata: Ini tentang wanita yatim yang berada di pengasuhan seorang lelaki (yang merupakan wali dan ahli waris wanita yatim tersebut) agar si wanita yatim ini menjadi syarikat dalam harta si lelaki pengasuh. Si lelaki ini paling berhak terhadap anak yatim itu. Namun, si lelaki ini tidak suka menikahinya supaya si wanita yatim itu terhalangi dari hartanya. Dia juga tidak menikahkan si wanita yatim ini dengan pria selain dia karena tidak suka ada orang yang berserikat dengannya dalam harta si anak yatim. 

٥١٢٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي سَالِمٌ: أَنَّ ابۡنَ عُمَرَ أَخۡبَرَهُ: أَنَّ عُمَرَ، حِينَ تَأَيَّمَتۡ حَفۡصَةُ بِنۡتُ عُمَرَ مِنِ ابۡنِ حُذَافَةَ السَّهۡمِيِّ، وَكَانَ مِنۡ أَصۡحَابِ النَّبِيِّ ﷺ مِنۡ أَهۡلِ بَدۡرٍ، تُوُفِّيَ بِالۡمَدِينَةِ، فَقَالَ عُمَرُ: لَقِيتُ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ فَعَرَضۡتُ عَلَيۡهِ فَقُلۡتُ: إِنۡ شِئۡتَ أَنۡكَحۡتُكَ حَفۡصَةَ، فَقَالَ: سَأَنۡظُرُ فِي أَمۡرِي، فَلَبِثۡتُ لَيَالِيَ ثُمَّ لَقِيَنِي، فَقَالَ: بَدَا لِي أَنۡ لَا أَتَزَوَّجَ يَوۡمِي هَٰذَا، قَالَ عُمَرُ: فَلَقِيتُ أَبَا بَكۡرٍ، فَقُلۡتُ: إِنۡ شِئۡتَ أَنۡكَحۡتُكَ حَفۡصَةَ. [طرفه في: ٤٠٠٥]. 

5129. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Hisyam menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami: Az-Zuhri menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Salim mengabarkan kepadaku: Bahwa Ibnu ‘Umar mengabarkan kepadanya: 

Bahwa ‘Umar ketika Hafshah binti ‘Umar sudah menjanda dari Ibnu Hudzafah As-Sahmi—beliau termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengikuti perang Badr meninggal di Madinah—‘Umar berkata: Aku menemui ‘Utsman bin ‘Affan lalu aku menawarkan padanya. 

Aku berkata, “Jika engkau mau, aku akan menikahkan engkau dengan Hafshah.” 

Namun ‘Utsman berkata, “Aku pertimbangkan urusanku dulu.” 

Setelah berlalu beberapa malam, ‘Utsman menemuiku seraya berkata, “Tampaknya aku tidak akan menikah dalam waktu dekat ini.” 

‘Umar berkata: Lalu aku menemui Abu Bakr dan aku katakan, “Jika engkau mau, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah.” 

٥١٣٠ - حَدَّثَنَا أَحۡمَدُ ابۡنُ أَبِي عَمۡرٍو قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ عَنۡ يُونُسَ، عَنِ الۡحَسَنِ: ﴿فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٣٢]. قَالَ: حَدَّثَنِي مَعۡقِلُ بۡنُ يَسَارٍ: أَنَّهَا نَزَلَتۡ فِيهِ، قَالَ: زَوَّجۡتُ أُخۡتًا لِي مِنۡ رَجُلٍ فَطَلَّقَهَا، حَتَّى إِذَا انۡقَضَتۡ عِدَّتُهَا جَاءَ يَخۡطُبُهَا، فَقُلۡتُ لَهُ: زَوَّجۡتُكَ وَفَرَشۡتُكَ وَأَكۡرَمۡتُكَ، فَطَلَّقۡتَهَا، ثُمَّ جِئۡتَ تَخۡطُبُهَا! لَا وَاللهِ لَا تَعُودُ إِلَيۡكَ أَبَدًا. وَكَانَ رَجُلًا لَا بَأۡسَ بِهِ، وَكَانَتِ الۡمَرۡأَةُ تُرِيدُ أَنۡ تَرۡجِعَ إِلَيۡهِ، فَأَنۡزَلَ اللهُ هَٰذِهِ الۡآيَةَ: ﴿فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ﴾ فَقُلۡتُ: الۡآنَ أَفۡعَلُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: فَزَوَّجَهَا إِيَّاهُ. [طرفه في: ٤٥٢٩]. 

5130. Ahmad bin Abu ‘Amr telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Beliau berkata: Ibrahim menceritakan kepadaku dari Yunus, dari Al-Hasan, “Maka janganlah kalian (para wali) menghalangi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 232). Beliau berkata: Ma’qil bin Yasar menceritakan kepadaku bahwa ayat ini turun tentangnya. 

Beliau berkata: Aku pernah menikahkan saudariku. Dia diceraikan oleh suaminya. Ketika masa idahnya telah selesai, dia datang lagi untuk melamarnya. Aku berkata kepadanya, “Aku sudah menikahkan engkau dan aku sudah memuliakanmu, namun engkau malah menalaknya, kemudian sekarang engkau datang melamarnya lagi. Tidak, demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selama-lamanya.” 

Orang itu sebenarnya tidak bermasalah dan si wanita ingin kembali kepadanya, lalu Allah menurunkan ayat yang artinya, “Maka janganlah kalian (para wali) menghalangi mereka.” Maka aku berkata, “Sekarang aku lakukan wahai Rasulullah.” 

Beliau berkata: Lalu Ma’qil bin Yasar menikahkan saudarinya kepada pria tadi.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5127

٣٧ - بَابُ مَنۡ قَالَ: لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ 
37. Bab barang siapa berpendapat bahwa tidak ada nikah kecuali dengan wali 


لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ﴾ [البقرة: ٢٣٢] فَدَخَلَ فِيهِ الثَّيِّبُ، وَكَذٰلِكَ الۡبِكۡرُ. وَقَالَ: ﴿وَلَا تُنۡكِحُوا الۡمُشۡرِكِينَ حَتَّى يُؤۡمِنُوا﴾ [البقرة: ٢٢١] وَقَالَ: ﴿وَأَنۡكِحُوا الۡأَيَامَٰى مِنۡكُمۡ﴾ [النور: ٣٢]. 

Berdasarkan firman Allah taala yang artinya, “Maka janganlah kalian (para wali) menghalangi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 232). Maka, janda masuk di dalamnya, demikian pula perawan. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (QS. Al-Baqarah: 221). Dan Allah berfirman yang artinya, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian.” (QS. An-Nur: 32). 

٥١٢٧ - قَالَ يَحۡيَى بۡنُ سُلَيۡمَانَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ يُونُسَ. وَحَدَّثَنَا أَحۡمَدُ بۡنُ صَالِحٍ: حَدَّثَنَا عَنۡبَسَةُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ: 

5127. Yahya bin Sulaiman berkata: Ibnu Wahb menceritakan kepada kami dari Yunus. Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami: ‘Anbasah menceritakan kepada kami: Yunus menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku: 

أَنَّ عَائِشَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّ النِّكَاحَ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ كَانَ عَلَى أَرۡبَعَةِ أَنۡحَاءٍ: 

Bahwa ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya bahwa nikah di masa jahiliah ada empat jenis: 

فَنِكَاحٌ مِنۡهَا نِكَاحُ النَّاسِ الۡيَوۡمَ: يَخۡطُبُ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ وَلِيَّتَهُ أَوِ ابۡنَتَهُ، فَيُصۡدِقُهَا ثُمَّ يَنۡكِحُهَا. 

Satu jenis nikah di antaranya adalah nikah orang-orang pada masa ini. Yaitu, seseorang pria menyampaikan kepada pria lain untuk melamar wanita yang di bawah perwaliannya atau putrinya, lalu memberi mahar kepada wanita itu, kemudian menikahinya. 

وَنِكَاحٌ آخَرُ: كَانَ الرَّجُلُ يَقُولُ لِامۡرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتۡ مِنۡ طَمۡثِهَا: أَرۡسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسۡتَبۡضِعِي مِنۡهُ، وَيَعۡتَزِلُهَا زَوۡجُهَا وَلاَ يَمَسُّهَا أَبَدًا، حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمۡلُهَا مِنۡ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسۡتَبۡضِعُ مِنۡهُ، فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمۡلُهَا أَصَابَهَا زَوۡجُهَا إِذَا أَحَبَّ، وَإِنَّمَا يَفۡعَلُ ذٰلِكَ رَغۡبَةً فِي نَجَابَةِ الۡوَلَدِ، فَكَانَ هَٰذَا النِّكَاحُ نِكَاحَ الۡاسۡتِبۡضَاعِ. 

Jenis nikah yang lain: seorang suami berkata kepada istrinya ketika telah suci dari haidnya, “Pergilah kepada si Polan, lalu mintalah dia agar menggaulimu.” Lalu si suami tadi menjauhi istrinya dan tidak menyentuhnya selamanya sampai ketika kehamilannya telah jelas dari pria yang dia minta menggaulinya tadi. Apabila kehamilannya telah jelas, maka si suami menggaulinya apabila dia suka. Dia melakukan hal itu hanya dalam rangka ingin mendapatkan kemuliaan nasab. Nikah ini adalah nikah istibdha’

وَنِكَاحٌ آخَرُ: يَجۡتَمِعُ الرَّهۡطُ مَا دُونَ الۡعَشَرَةِ، فَيَدۡخُلُونَ عَلَى الۡمَرۡأَةِ، كُلُّهُمۡ يُصِيبُهَا، فَإِذَا حَمَلَتۡ وَوَضَعَتۡ، وَمَرَّ عَلَيۡهَا لَيَالِيَ بَعۡدَ أَنۡ تَضَعَ حَمۡلَهَا، أَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِمۡ، فَلَمۡ يَسۡتَطِعۡ رَجُلٌ مِنۡهُمۡ أَنۡ يَمۡتَنِعَ، حَتَّى يَجۡتَمِعُوا عِنۡدَهَا، تَقُولُ لَهُمۡ: قَدۡ عَرَفۡتُمُ الَّذِي كَانَ مِنۡ أَمۡرِكُمۡ وَقَدۡ وَلَدۡتُ، فَهُوَ ابۡنُكَ يَا فُلَانُ، تُسَمِّي مَنۡ أَحَبَّتۡ بِاسۡمِهِ فَيَلۡحَقُ بِهِ وَلَدُهَا، لاَ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَمۡتَنِعَ بِهِ الرَّجُلُ. 

Jenis nikah yang lain: sekelompok pria berjumlah kurang dari sepuluh berkumpul lalu masuk ke tempat seorang wanita. Mereka semua menggaulinya. Apabila wanita itu hamil dan telah melahirkan, lalu telah berlalu beberapa malam setelah dia melahirkan kandungannya, maka wanita itu mengirim utusan untuk mengundang para pria tadi. Tidak boleh seorang pria pun di antara mereka menolaknya sehingga mereka berkumpul di tempat si wanita. Si wanita berkata kepada mereka, “Kalian telah mengetahui perbuatan yang telah kalian lakukan dan aku telah melahirkan. Maka ini adalah anakmu, wahai Polan.” Si wanita menyebutkan nama pria yang dia suka, maka anaknya diikutkan dengan pria tersebut. Si pria tidak boleh menolaknya. 

وَنِكَاحُ الرَّابِعِ: يَجۡتَمِعُ النَّاسُ الۡكَثِيرُ، فَيَدۡخُلُونَ عَلَى المَرۡأَةِ، لَا تَمۡتَنِعُ مِمَّنۡ جَاءَهَا، وَهُنَّ الۡبَغَايَا، كُنَّ يَنۡصِبۡنَ عَلَى أَبۡوَابِهِنَّ رَايَاتٍ تَكُونُ عَلَمًا، فَمَنۡ أَرَادَهُنَّ دَخَلَ عَلَيۡهِنَّ، فَإِذَا حَمَلَتۡ إِحۡدَاهُنَّ وَوَضَعَتۡ حَمۡلَهَا جُمِعُوا لَهَا، وَدَعَوۡا لَهُمُ الۡقَافَةَ، ثُمَّ أَلۡحَقُوا وَلَدَهَا بِالَّذِي يَرَوۡنَ، فَالۡتَاطَ بِهِ، وَدُعِيَ ابۡنُهُ، لَا يَمۡتَنِعُ مِنۡ ذٰلِكَ، 

Jenis nikah yang keempat: banyak pria berkumpul lalu masuk ke tempat seorang wanita. Wanita itu tidak boleh menolak pria yang mendatanginya. Wanita-wanita itu adalah para pelacur. Mereka dahulu menancapkan bendera-bendera sebagai tanda di depan pintu-pintu mereka sehingga siapa saja yang menginginkannya akan masuk ke tempat mereka. Lalu apabila salah seorang mereka hamil dan melahirkan kandungannya, para pria tadi dikumpulkan dan mereka mengundang orang-orang yang pandai mengenali nasab dari pengamatan terhadap fisik. Kemudian mereka mengikutkan si anak wanita itu kepada pria yang mereka pandang sesuai, lalu anak itu diikutkan kepadanya dan dipanggil anaknya. Pria itu tidak boleh menolaknya. 

فَلَمَّا بُعِثَ مُحَمَّدٌ ﷺ بِالۡحَقِّ، هَدَمَ نِكَاحَ الۡجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ النَّاسِ الۡيَوۡمَ. 

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan membawa kebenaran, maka beliau menghapuskan seluruh nikah jahiliah itu kecuali pernikahan orang-orang di masa ini.

Auf bin Utsatsah

Figur kita kali ini adalah seorang shahabat Muhajirin. Nama beliau adalah Abu Abbad atau Abu Abdillah Auf bin Utsatsah bin Abbad bin Al Muththalib bin Abdil Manaf bin Qusay Al Qurasy Al Muththaliby. Beliau adalah salah seorang dari suku Quraisy yang menerima dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masih di Makkah di awal munculnya Islam. Beliau termasuk penduduk Makkah yang masuk Islam bersama dengan kedua orang tua beliau. Ibu beliau adalah Bintu Abi Ruhm bin Al Muththalib, termasuk wanita shahabiyah. Ibu beliau adalah bibi Abu Bakar Ash Shiddiq. Dengan ini, beliau memiliki kedekatan kerabat dengan Abu Bakar. Beliau memiliki saudara seibu di antaranya; Abu Martsad Kanaz bin Hushn, At Thufail bin Al Harits, Al Khushain bin Al Harits. Sedangkan saudara seayah beliau di antaranya adalah Muththaji’ bin Utsatsah, Nuaim bin Utsatsah, Hindun bintu Utsatsah. Semuanya adalah shahabat Rasulullah. Beliau adalah seorang yang berbadan pendek, bermata cekung, dan berjari kuat. Beliau lebih terkenal dengan panggilan Misthah. 

KEUTAMAAN 


Di antara keutamaan shahabat mulia ini adalah keikutsertaan beliau dalam hijrah ke Madinah. Beliau berhijrah bersama dengan kedua saudara seibu At Thufail bin Al Harits bin Al Muthtalib, Al Khushain bin Al Harits bin Al Muththalib, dan Ubaidah bin Al Harits bin Al Muththalib. Selain itu, beliau juga salah seorang shahabat yang mengikuti perang Badar, Uhud serta semua peperangan bersama Nabi. Ini adalah keutamaan agung beliau. Saat beliau berhijrah ke Negeri Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan beliau dengan Zaid bin Al Muzaiyyin bin Qais bin Ady bin Umayyah bin Khidaarah Al Khazraji dari Bani Harits. Pada saat dibukanya Khaibar, beliau ikut serta pula pada perang ini dan mendapat bagian dari Nabi 50 wasaq. Beliau adalah termasuk shahabat yang miskin sehingga Abu Bakar memberikan santunan/bantuan kepada beliau.

KETERGELINCIRAN PUN MENIMPA SHAHABAT 


Para shahabat adalah kaum utama dan berhak mendapat pujian sesuai dengan wahyu Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak diperbolehkan untuk mencela mereka dikarenakan keridhaan Allah kepada mereka secara umum. Bahkan mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka saat hidup dan setelah kematian mereka adalah bagian dari ketakwaan. Namun demikian, terkadang mereka tertimpa ketergelinciran dalam suatu amalan. Di antara contohnya adalah yang menimpa shahabat mulia ini. Dalam peristiwa haditsul ifk, berita bohong tentang Aisyah. Shahabat mulia ini tergelincir karena turut serta menyebarkan berita bohong tersebut. Berita bohong yang sumbernya adalah dari gembong munafikin Abdullah bin Ubay. Berita ini disebarkan oleh kaum munafikin atas dasar kebencian mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Mereka suka mengacaukan barisan kaum muslimin. Bersama mereka, ada dari kalangan muslimin yang turut serta terpengaruh dengan menukil dan menyebarkan berita bohong ini. Mereka adalah Misthah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah bintu Jahsy radhiyallahu ‘anhum. Setelah adanya pembelaan dari atas langit tentang kesucian Ibunda Aisyah, maka ketiga shahabat yang turut menyebarkan berita bohong inipun mendapatkan hukuman had atas tuduhan zina dengan dicambuk sebanyak 80 kali cambukan. Ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam surat An Nur ayat 4: 

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَـٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُوا۟ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَـٰنِينَ جَلۡدَةً وَلَا تَقۡبَلُوا۟ لَهُمۡ شَهَـٰدَةً أَبَدًا ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ مِنۢ بَعۡدِ ذَ‌ٰلِكَ وَأَصۡلَحُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

“Dan orang-orang yang menuduh, kemudian tidak bisa mendatangkan empat orang saksi maka jilidlah mereka delapan puluh kali. Dan janganlah kalian menerima persaksian mereka selamanya dan mereka itulah kaum yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertobat setelahnya dan berbuat baik maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” [Q.S. An Nur: 4-5

Adapun gembong kaum munafikin Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya dari kalangan munafik, justru tidak dihukum had. Di antara hikmahnya adalah bahwa hukuman had adalah sebagai pembersih dosa, penebus kesalahan bagi kaum yang beriman. Apabila mereka bertobat, maka tobat tersebut adalah kebaikan untuk mereka. Oleh karenanya kaum munafikin tidak dijatuhi hukuman had sebab hukuman had tersebut tidaklah berguna atas mereka. 

Dengan kejadian ini, tiga shahabat yang terkena hukuman had dan telah bertobat dari perbuatan mereka, tidaklah sepantasnya untuk dicela. Bahkan tobat dan penegakan hukum had atas mereka ini sudah cukup sebagai penebus kesalahan. Seorang menjadi bersih dari kesalahan yang dilakukan sebab tobat dan hukum had tersebut. Oleh karenanya, kaum muslimin dilarang untuk mencela merka atas perbuatan yang mereka telah bertobat darinya.

MENINGGAL 


Beliau sempat mengikuti perang Shiffin bersama dengan pasukan Ali bin Abi Thalib. Beliau meninggal pada tahun 37 H, tahun terjadinya perang Shiffin pada umur 56 tahun. Semoga Allah meridhai beliau. [Ustadz Hammam]. 


Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 82 vol. 7 1440 H/2018 M rubrik Figur.

Syarh Al-Ushul As-Sittah - Mukadimah

قَالَ الۡمُؤَلِّفُ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ: 


Penulis, yaitu Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, berkata: 

مِنۡ أَعۡجَبِ الۡعُجَابِ، وَأَكۡبَرِ الۡآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى قُدۡرَةِ الۡمَلِكِ الۡغَلَّابِ سِتَّةُ أٌصُولٍ بَيَّنَهَا اللهُ تَعَالَى بَيَانًا وَاضِحًا لِلۡعَوَامِّ فَوۡقَ مَا يَظُنُّ الظَّانُّونَ، ثُمَّ بَعۡدَ ذٰلِكَ غَلِطَ فِيهَا كَثِيرٌ مِنَ أَذۡكِيَاءِ الۡعَالَمِ وَعُقَلَاءِ بَنِي آدَمَ إِلَّا أَقَلَّ الۡقَلِيلِ. 

Termasuk perkara yang paling menakjubkan dan ayat-ayat yang paling besar yang menunjukkan kekuasaan Allah adalah enam pondasi. Allah ta’ala telah menjelaskannya dengan sangat jelas bagi orang awam, melebihi persangkaan banyak orang. Akan tetapi, banyak yang keliru di dalam masalah ini dari kalangan orang-orang yang cerdas dan berakal kecuali sedikit sekali. 

الشرح 

Syarah Syekh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah 

قَوۡلُهُ: (بِسۡمِ اللهِ). 

Ucapan mualif, “Bismillah.” 

ابۡتَدَأَ الۡمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابَهُ بِالۡبَسۡمَلَةِ إِقۡتِدَاءً بِكِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّهُ مَبۡدُوءٌ بِالۡبَسۡمَلَةِ، وَاقۡتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ ﷺ فَإِنَّهُ يَبۡدَأُ كُتُبَهُ وَرَسَائِلَهُ بِالۡبَسۡمَلَةِ. 

Mualif rahimahullahu ta’ala memulai kitabnya dengan bismillah dalam rangka meneladani kitab Allah azza wajalla. Karena Alquran dimulai dengan bismillah. Juga dalam rangka meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau memulai tulisan dan risalah beliau dengan bismillah. 

وَالۡجَارُّ وَالۡمَجۡرُورُ مُتَعَلِّقٌ بِفِعۡلٍ مَحۡذُوفٍ مُؤَخَّرٍ مُنَاسِبٍ لِلۡمَقَامِ تَقۡدِيرُهُ هُنَا بِسۡمِ اللهِ أَكۡتُبُ. 

Jarr dan majrur (ب dan اسم) berkaitan dengan fiil yang dihilangkan di akhir yang sesuai dengan konteks. Kelengkapan kalimat tersebut di sini adalah dengan nama Allah, aku menulis. 

وَقَدَّرۡنَاهُ فِعۡلًا لِأَنَّ الۡأَصۡلَ فِي الۡعَمَلِ الۡأَفۡعَالُ. 

Kita nyatakan bagian kalimat yang dihilangkan adalah fiil karena asal dalam amalan adalah perbuatan-perbuatan. 

وَقَدَّرۡنَاهُ مُؤَخَّرًا لِفَائِدَتَيۡنِ: 

الۡأُولَى: التَّبَرُّكُ بِالۡبَدَاءَةِ بِسۡمِ اللهِ تَعَالَى. 

الثَّانِيَةُ: إِفَادَةُ الۡحَصۡرِ لِأَنَّ تَقۡدِيمَ الۡمُتَعَلِّقِ بِهِ يُفِيدُ الۡحَصۡرَ. 

Kita nyatakan bagian kalimat yang dihilangkan ada di bagian akhir karena dua faedah: 

  1. mencari berkah dengan mendahulukan nama Allah taala, 
  2. memberi faedah pembatasan karena mengedepankan muta’alliq bihi (jarr dan majrur) memberi faedah pembatasan. 

وَقَدَّرۡنَاهُ مُنَاسِبًا لِأَنَّهُ أَدَلَّ عَلَى الۡمُرَادِ فَلَوۡ قُلۡنَا مَثَلًا عِنۡدَمَا نُرِيدُ أَنۡ نَقۡرَأَ كِتَابًا بِاسۡمِ اللهِ نَبۡتَدِئُ، مَا يَدۡرِي بِمَاذَا نَبۡتَدِئُ، لَكِنۡ بِسۡمِ اللهِ نَقۡرَأُ أَدَلَّ عَلَى الۡمُرَادِ. 

Kita nyatakan bagian kalimat yang dihilangkan adalah fiil yang sesuai karena hal itu menunjukkan kepada yang diinginkan. Misal kita katakan ketika kita ingin membaca suatu kitab: Dengan nama Allah kami memulai; maka dia tidak tahu dengan apa kita memulai. Akan tetapi “Dengan nama Allah kami membaca,” maka ini lebih menunjukkan kepada yang diinginkan. 

قَوۡلُهُ: (اللهُ). 

Ucapan mualif, “Allah.” 

لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ عَلَمٌ عَلَى الۡبَارِي جَلَّ وَعَلَا، وَهُوَ الۡاِسۡمُ الَّذِي تَتۡبَعُهُ جَمِيعُ الۡأَسۡمَاءِ، حَتَّى إِنَّهُ فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ۝١ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ ۗ﴾ [إبراهيم: ١، ٢]. لَا نَقُولُ إِنَّ لَفۡظَ الۡجَلَالَةِ (الله) صِفَةٌ بَلۡ نَقُولُ هِيَ عَطۡفُ بَيَانٍ لِئَلَّا يَكُونَ لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ تَابِعًا تَبۡعِيَّةَ النَّعۡتِ لِلۡمَنۡعُوتِ، وَلِهَٰذَا قَالَ الۡعُلَمَاءُ أَعۡرَفُ الۡمَعَارِفِ لَفۡظُ (الله) لِأَنَّهُ لَا يَدُلُّ عَلَى أَحَدٍ سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. 

Lafal jalalah (keagungan) ini adalah sebuah nama bagi Al-Bari (Pencipta) jalla wa ‘ala. Ini adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama yang lain. Sampai pun dalam firman Allah taala yang artinya, “(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Menuju jalan) Allah yang memiliki segala yang di langit dan di bumi.” (QS. Ibrahim: 1-2). 

Kita tidak mengatakan bahwa lafal jalalah Allah adalah sifat. Namun kita katakan bahwa ia adalah ‘athf bayan agar tidak menjadikan lafal jalalah sebagai tabi’ (yang mengikuti) berupa pengikutan na’t kepada man’ut. Karena itulah para ulama berkata bahwa isim ma’rifah yang paling ma’rifah adalah kata Allah karena kata tersebut tidak menunjukkan kepada sesuatu pun selain Allah. 

قَوۡلُهُ: (الرَّحۡمَٰن). 

Ucapan mualif, “Ar-Rahman.” 

الرَّحۡمَٰنُ: اسۡمٌ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الۡمُخۡتَصَّةُ بِاللهِ لَا يُطۡلَقُ عَلَى غَيۡرِهِ. 

Ar-Rahman adalah salah satu nama yang khusus untuk Allah. Nama ini tidak boleh diberikan secara mutlak (tanpa pembatasan) kepada selain Allah. 

وَمَعۡنَاهُ: الۡمُتَّصِفُ بِالرَّحۡمَةِ الۡوَاسِعَةِ. 

Maknanya adalah yang memiliki sifat rahmat yang luas. 

قَوۡلُهُ: (الرَّحِيم). 

Ucapan mualif, “Ar-Rahim.” 

الرَّحِيمُ: اسۡمٌ يُطۡلَقُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَلَى غَيۡرِهِ. 

Ar-Rahim adalah sebuah nama yang bisa diberikan secara mutlak kepada Allah azza wajalla dan kepada selain Dia. 

وَمَعۡنَاهُ: ذُو الرَّحۡمَةِ الۡوَاصِلَةِ، فَالرَّحۡمَٰنُ ذُو الرَّحۡمَةِ الۡوَاسِعَةِ، وَالرَّحِيمُ ذُو الرَّحۡمَةِ الۡوَاصِلَةِ فَإِذَا جَمَعَا صَارَ الۡمُرَادُ بِالرَّحِيمِ الۡمُوصِلُ رَحۡمَتَهُ إِلَى مَنۡ يَشَاءِ مِنۡ عِبَادِهِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُ ۖ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ﴾ [العنكبوت: ٢١] وَالۡمُرَادُ بِالرَّحۡمَٰنِ الۡوَاسِعُ الرَّحۡمَةُ. 

Maknanya adalah yang mempunyai rahmat yang sampai (kepada makhluk). Jadi ar-Rahman adalah yang memiliki rahmat yang luas dan ar-Rahim adalah yang memiliki rahmat yang sampai (kepada makhluk). Apabila keduanya berkumpul (dalam satu kalimat), maka yang diinginkan dengan ar-Rahim adalah Yang menyampaikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Allah mengazab siapa saja yang Dia kehendaki dan merahmati siapa saja yang Dia kehendaki. Dan hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 21). Dan yang diinginkan dengan ar-Rahman adalah Yang luas rahmat-Nya. 

قَوۡلُهُ: (مِنۡ أَعۡجَبِ الۡعُجَابِ، وَأَكۡبَرِ الۡآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَى قُدۡرَةِ الۡمَلِكِ الۡغَلَّابِ سِتَّةُ أُصُولٍ... إلخ). 

Ucapan mualif, “Termasuk perkara yang paling menakjubkan dan ayat-ayat yang paling besar yang menunjukkan kekuasaan Allah adalah enam pondasi…” dan selanjutnya. 

شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لَهُ عِنَايَةٌ بِالرَّسَائِلِ الۡمُخۡتَصَرَةِ الَّتِي يَفۡهَمُهَا الۡعَامِي وَطَالِبُ الۡعِلۡمِ، وَ مِنۡ هَٰذِهِ الرَّسَائِلِ هَٰذِهِ الرِّسَالَةُ (سِتَّةُ أُصُولٍ عَظِيمَةٌ) وَهِيَ: 

Syekh Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala memiliki perhatian kepada risalah-risalah yang ringkas yang dipahami oleh orang awam dan penuntut ilmu. Di antaranya adalah risalah ini “Enam Pokok yang Agung”, yaitu: 

الۡأَصۡلُ الۡأَوَّلُ: الۡإِخۡلَاصُ وَبَيَانُ ضِدِّهِ وَهُوَ الشِّرۡكُ. 

Pokok pertama: Ikhlas dan penjelasan lawannya, yaitu syirik. 

الۡأَصۡلُ الثَّانِي: الۡاجۡتِمَاعُ فِي الدِّينِ وَالنَّهۡيُ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيهِ. 

Pokok kedua: Bersatu dalam agama dan larangan dari bercerai-berai dalam agama. 

الۡأَصۡلُ الثَّالِثُ: السَّمۡعُ وَالطَّاعَةُ لِوُلَاةِ الۡأَمۡرِ. 

Pokok ketiga: Mendengar dan taat kepada umara. 

الۡأَصۡلُ الرَّابِعُ: بَيَانُ الۡعِلۡمِ وَالۡعُلَمَاءِ وَالۡفِقۡهِ وَالۡفُقَهَاءِ، وَمَنۡ تَشَبَّهَ بِهِمۡ وَلَيۡسَ مِنۡهُمۡ. 

Pokok keempat: Penjelasan ilmu, ulama, fikih, dan fukaha; serta siapa saja yang menyerupai mereka padahal tidak termasuk mereka. 

الۡأَصۡلُ الۡخَامِسُ: بَيَانُ مَنۡ هُمۡ أَوۡلِيَاءُ اللهِ. 

Pokok kelima: Penjelasan siapakah wali-wali Allah. 

الۡأَصۡلُ السَّادِسُ: رَدُّ الشُّبۡهَةِ الَّتِي وَضَعَهَا الشَّيۡطَانُ فِي تَرۡكِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ. 

Pokok keeenam: Bantahan syubhat yang dilontarkan oleh setan untuk meninggalkan Alquran dan Sunah. 

وَهَٰذِهِ الۡأُصُولُ أُصُولٌ مُهِمَّةٌ جَدِيرَةٌ بِالۡعِنَايَةِ، وَنَحۡنُ نَسۡتَعِينُ بِاللهِ تَعَالَى فِي شَرۡحِهَا وَالتَّعۡلِيقِ عَلَيۡهَا بِمَا يَسَّرَ اللهُ. 

Pokok-pokok ini adalah pokok yang penting dan harus diperhatikan. Kita memohon pertolongan kepada Allah taala dalam menjabarkannya dan memberi keterangan padanya dengan apa yang Allah mudahkan.