Cari Blog Ini

Kembali pada Agama Allah

Setiap kita tahu dan menyaksikan betapa pesatnya dan canggihnya perkembangan teknologi, seiring dengan lajunya zaman yang kian modern -katanya-. Semua ini berkat semakin hebatnya akselerasi pemikiran manusia dalam hal ilmu duniawi, akibatnya fenomena seperti ini memotivasi para bapak-bapak bangsa untuk menerjunkan anak-anaknya berlaga di arena tandang modernisasi yang dikira akan dapat mengatasi persoalan hidup.

Teramat banyak jumlah orang-orang yang gemar bermimpi walau sangat sedikit mimpi yang menjadi kenyataan, realita yang ada menunjukkan bahwa agilitas manusia dalam hal ilmu duniawi serta pesatnya teknologi tidak dapat mengatasi persoalan hidup, malah sebaliknya persoalan dan problematika kian menumpuk di keluarga, di masyarakat, di lingkungan, bahkan di negara, satu paradigma yang menyedihkan.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sebagai seorang muslim tentu kita merasa prihatin, mengingat pemikiran banyak manusia ini menyebabkan jauhnya dari agama, terbukanya pintu kejahatan dan kemaksiatan yang mengundang kemarahan dan kebencian Allah jalla jalaaluhu. Allah berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat." (QS Asy Syuraa: 20).
Allah juga berfirman,
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَـٰهَا تَدْمِيرًا
"Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS Al Israa: 16).

Kita mesti sadar bahwa syaithon adalah para fuqoha dalam bidang kejahatan, mereka selalu mengitimidasi kita dengan sesuatu yang menjadikan kita jauh dari agama Allah. Allah berfirman,
ٱلشَّيْطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَ‌ٰسِعٌ عَلِيمٌ
"Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah Maha Luas karuniaNya lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqoroh: 268).
Begitu pula orang-orang kafir yang sebagai jelmaan para syaithon itu, menarik perhatian kaum muslimin agar menyibukkan diri dengan gemerlap ilmu duniawi guna menjauhkan aqidahnya, akhlaqnya, moralnya dari petunjuk ilmu Allah dengan menghinakan mereka dalam hal dunianya. Allah berfirman,
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَو‌ٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas." (QS Al Baqoroh: 212).
Allah juga berfirman,
وَكَذَ‌ٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَـٰبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar melakukan tipu-daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya." (QS Al An'aam: 123).

Kita tidak boleh terlena dengan memandang sebelah mata kenyataan ini, agar kaum muslimin tahu bahwa tidak ada kemuliaan, tidak ada kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan berpegang teguh terhadap agama Allah, kembali padaNya, dan membela agamaNya. Apa yang tengah kita rasakan dari semakin bejatnya moral, hilangnya kewibawaan bangsa, kehinaan serta eksploitasi orang-orang kuffar adalah dampak dari kurangnya perhatian kita sendiri terhadap agama dan mulai melemah dan terkikisnya semangat untuk membelanya. Allah berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya-lah kamu minta pertolongan." (QS An Nahl: 53).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَبَايَعۡتُمۡ بِالۡعِينَةِ وَأَخَذۡتُمۡ أَذۡنَابَ الۡبَقَرِ، وَرَضِيتُمۡ بِالزَّرۡعِ، وَتَرَكۡتُمُ الۡجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيۡكُمۡ ذُلًّا لَا يَنۡزِعُهُ حَتَّى تَرۡجِعُوا إِلَى دِينِكُمۡ
"Apabila kalian jual beli dengan 'inah (salah satu bentuk jual beli riba) dan kalian ridho dengan bercocok tanam (menyibukkan diri dengannya) dan menyibukkan diri dengan peternakan, kemudian kalian meninggalkan untuk berjihad di jalan Allah, Dia akan menimpakan kehinaan atas kalian, tidak akan mengangkatnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian." (HR Abu Dawud no: 3462, Ahmad 2/84, dan yang lainnya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma).

Wajib bagi segenap kaum muslimin untuk membangun kembali kehidupan yang baru dengan kembali kepada Allah, mendalami agama Allah dan membelanya sehingga mendapatkan petunjuk dalam mengarungi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta dapat mengatasi persoalan-persoalan yang problematis. Allah berfirman,
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَـٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
"Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? ..." (QS Al An'aam: 122).
Cahaya di sini adalah cahaya wahyu (Al Qur'an), sedang gelap gulita adalah kebodohan, kekufuran, dan kesesatan. (Tafsir Al Qur'anul Azhim 2/183). Allah juga berfirman,
يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ
"Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS Al Baqoroh: 269).

Di akhir tulisan ini penulis akan nukilkan satu ayat yang semoga menjadi pelajaran dan bahan renungan bersama, yaitu firman Allah,
أَلَمْ يَرَوْا۟ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّـٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيْهِم مِّدْرَارًا وَجَعَلْنَا ٱلْأَنْهَـٰرَ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَـٰهُم بِذُنُوبِهِمْ
"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri..." (QS Al An'aam: 6).
Ya Allah..., janganlah Engkau palingkan hati-hati kami setelah Engkau beri hidayah, dan curahkanlah kepada kami selalu rahmatMu, innaka Waliyyu dzaalik wal Qoodir 'alaih. Walhamdulillahi robbil 'alamin. Wal ilmu indallah.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-22 Tahun ke-1 / 16 Mei 2003 M / 14 Rabi'ul Awwal 1424 H.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 3462

٥٦ – بَابٌ فِي النَّهۡيِ عَنِ الۡعِينَةِ

56. Bab larangan dari 'inah

٣٤٦٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ بۡنُ دَاوُدَ الۡمَهۡرِيُّ، أنا ابۡنُ وَهۡبٍ، أَخۡبَرَنِي حَيۡوَةُ بۡنُ شُرَيۡحٍ، ح ونا جَعۡفَرُ بۡنُ مُسَافِرٍ التِّنِّيسِيُّ، حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يَحۡيَى الۡبُرُلُّسِيُّ، أنا حَيۡوَةُ بۡنُ شُرَيۡحٍ، عَنۡ إِسۡحَاقَ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ -قَالَ سُلَيۡمَانُ [بۡنُ دَاوُدَ أَبُو الرَّبِيعِ]: عَنۡ أَبِي عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡخُرَاسَانِيِّ حَدَّثَهُ، أَنَّ نَافِعًا حَدَّثَهُ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: (إِذَا تَبَايَعۡتُمۡ بِالۡعِينَةِ وَأَخَذۡتُمۡ أَذۡنَابَ الۡبَقَرِ، وَرَضِيتُمۡ بِالزَّرۡعِ، وَتَرَكۡتُمُ الۡجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيۡكُمۡ ذُلًّا لَا يَنۡزِعُهُ حَتَّى تَرۡجِعُوا إِلَى دِينِكُمۡ). قَالَ أَبُو دَاوُدَ: الۡإِخۡبَارُ لِجَعۡفَرٍ، وَهَٰذَا لَفۡظُهُ. [(الصحيحة)(١١)].
3462. Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, Haiwah bin Syuraih mengabarkan kepadaku. (Dalam riwayat lain) Ja'far bin Musafir At-Tinnisi telah menceritakan kepada kami, 'Abdullah bin Yahya Al-Burullusi menceritakan kepada kami, Haiwah bin Syurah mengabarkan kepada kami, dari Ishaq Abu 'Abdurrahman -Sulaiman bin Dawud Abur Rabi' berkata: Dari Abu 'Abdurrahman Al-Khurasani menceritakan kepadanya, bahwa Nafi' menceritakan kepadanya, dari Ibnu 'Umar, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian telah berjual beli dengan cara 'inah, dan kalian telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (peternakan), dan kalian telah senang bercocok tanam, serta kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan cabut kehinaan hingga kalian kembali kepada agama kalian.” Abu Dawud berkata: Pengabaran ini milik Ja'far dan ini lafazh beliau.

Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 3575

٣٥٧٥ – (حسن) حَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ أَبِي فُدَيۡكٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡبَرَّادِ، عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ خُبَيۡبٍ، عَنۡ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجۡنَا فِي لَيۡلَةٍ مَطِيرَةٍ وَظُلۡمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطۡلُبُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يُصَلِّي لَنَا، قَالَ: فَأَدۡرَكۡتُهُ، فَقَالَ: (قُلۡ) فَلَمۡ أَقُلۡ شَيۡئًا، ثُمَّ قَالَ: (قُلۡ)، فَلَمۡ أَقُلۡ شَيۡئًا، قَالَ: (قُلۡ)، فَقُلۡتُ: مَا أَقُولُ؟ قَالَ: (قُلۡ: ﴿قُلۡ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾، وَالۡمُعَوِّذَتَيۡنِ حِينَ تُمۡسِي وَتُصۡبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكۡفِيكَ مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ). هَٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنۡ هَٰذَا الۡوَجۡهِ. وَأَبُو سَعِيدٍ الۡبَرَّادُ هُوَ: أَسِيدُ بۡنُ أَبِي أَسِيدٍ مَدَنِيٌّ. [(التعليق الرغيب) (١/ ٢٢٤)، (الكلم الطيب) (١٩/ ٧)].
3575. 'Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Muhammad bin Isma'il bin Abu Fudaik menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami, dari Abu Sa'id Al-Barrad, dari Mu'adz bin 'Abdullah bin Khubaib, dari ayahnya, beliau berkata: Kami keluar pada suatu malam yang hujan dan gelap gulita. Kami mencari-cari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar shalat mengimami kami. Beliau berkata: Maka aku mendapati beliau. Lantas Nabi bersabda, “Katakanlah!” Namun aku tidak mengatakan apapun. Kemudian beliau bersabda lagi, “Katakanlah!” Namun aku tidak mengatakan apapun. Beliau bersabda lagi, “Katakanlah!” Aku berkata: Apa yang harus aku katakan? Beliau bersabda, “Katakanlah: Qul huwallahu ahad dan dua surah Al-Mu'awwidzah (Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, itu akan mencukupimu terlindungi dari segala gangguan.” Ini adalah hadits hasan shahih gharib dari jalur ini. Abu Sa'id Al-Barrad adalah Asid bin Abu Asid penduduk Madinah.

Sunan Abu Dawud hadits nomor 5082

٥٠٨٢ – (حسن) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُصَفَّى، نا ابۡنُ أَبِي فُدَيۡكٍ، قَالَ: أَخۡبَرَنِي ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ، عَنۡ أَبِي أَسِيدِ الۡبَرَّادِ، عَنۡ مُعَاذِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ خُبَيۡبٍ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجۡنَا فِي لَيۡلَةِ مَطَرٍ وَظُلۡمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطۡلُبُ رَسُولَ اللهِ ﷺ لِيُصَلِّيَ لَنَا، [فَأَدۡرَكۡنَاهُ، فَقَالَ]: (قُلۡ) فَلَمۡ أَقُلۡ شَيۡئًا، ثُمَّ قَالَ: (قُلۡ) فَلَمۡ أَقُلۡ شَيۡئًا، ثُمَّ قَالَ: (قُلۡ) فَقُلۡتُ: مَا أَقُولُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ [قَالَ: ﴿قُلۡ هُوَ اللهُ أَحَدٌ﴾] وَالۡمُعَوِّذَتَيۡنِ حِينَ تُمۡسِي وَحِينَ تُصۡبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكۡفِيكَ مِنۡ كُلِّ شَيۡءٍ). [(الترمذي)(٣٨٢٨)].
5082. Muhammad bin Al-Mushaffa telah menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Fudaik menceritakan kepada kami, beliau berkata: Ibnu Abu Dzi`b mengabarkan kepada kami, dari Abu Asid Al-Barrad, dari Mu'adz bin 'Abdullah bin Khubaib, dari ayahnya, bahwa beliau berkata: Kami keluar pada suatu malam yang hujan dan sangat gelap. Kami mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar beliau shalat mengimami kami, maka kami pun mendapati beliau. Beliau bersabda, “Ucapkanlah!” Namun aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau bersabda, “Ucapkanlah!” Namun aku tetap tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau bersabda lagi, “Ucapkanlah!” Maka aku bertanya: Apa yang mesti aku ucapkan wahai Rasulullah? Beliau bersabda, “[Qul huwallahu ahad] dan dua surah Al-Mu'awwidzah (Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, akan mencukupimu terlindung dari segala gangguan.”

Taubat Nashuha

Tanya: Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh. Apa dan bagaimana taubat nashuha itu? Apakah ada sholat taubat, sehingga dengannyalah kita bertaubat? Ataukah cukup dengan hasrat, do'a, dan usaha maksimal? Demikian ustadz. Jazakumullah khoiron katsiron. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh. (Abu Mujahid)

Jawab: Wa 'alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuh. Pertama-tama perlu Saudara ketahui, bahwa taubat adalah satu amalan yang memiliki kedudukan tinggi, terminal bagi tiap mu'min di samping ia juga sebagai mabda segala urusan-urusannya, karena sesungguhnya esensi taubat ialah kembali kepada Allah dengan penuh komitmen untuk melakukan hal-hal yang dicintainya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Dengan demikian taubat juga adalah esensi daripada dienul Islam itu sendiri, sehingga Allah menjadikan orang-orang yang senantiasa bertaubat sebagai kekasihNya. Allah berfirman, 
 إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّ‌ٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al Baqoroh: 222).

Mengenai taubat nashuha, Allah subhanahu wa ta'ala telah menyinggungnya dalam Al Qur'an. Allah berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (nashuha), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..." (QS At Tahrim: 8).
Telah diriwayatkan secara mauquf dari sahabat Umar ibnul Khattab, bahwa "taubat nashuha ialah bertaubat dari segala dosa kemudian tidak mengulanginya lagi." Al Imam Abul Fida Al Hafidz Ibnu Katsir berkata, "Oleh karena itu, para ulama berkata, 'Taubat nashuha ialah melepaskan dosa-dosa yang tengah dilakukan dan menyesali atas dosa-dosa yang telah lewat serta bertekad kuat untuk tidak melakukannya di kemudian hari'." (Tafsir Al Qur'anul Adzim: 4/409). Kemudian taubat nashuha meliputi tiga perkara. Pertama: bertaubat dari seluruh dosa sehingga tidak ada satu dosa pun kecuali tercakup ke dalamnya. Kedua: memaksimalkan tekad kuat disertai dengan kejujuran sehingga tidak ada lagi keraguan, menyatukan keinginannya dan tekadnya untuk segera melakukannya (yakni taubat). Ketiga: membersihkan dari kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit yang mempengaruhi keikhlasannya. (Untuk lebih luasnya silahkan Saudara lihat kitab Madarijus Salikin: 1/178).

Adapun sholat taubah, sebenarnya penamaan dan praktek sholat taubah secara khusus itu tidak ada. Tetapi jika saudara melakukan sholat nafilah / sunnah, seperti sholat malam atau yang lainnya, maka ini adalah amalan sholih yang akan mendatangkan kecintaannya Allah 'azza wa jalla. Wal 'ilmu 'indallah.

Sumber: Buletin Jum'at Al Wala` Wal Bara` Edisi ke-21 Tahun ke-1 / 09 Mei 2003 M / 07 Rabi'ul Awwal 1424 H.