Cari Blog Ini

Shahih Muslim hadits nomor 867

٤٣ – (٨٦٧) – وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّىٰ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡوَهَّابِ بۡنُ عَبۡدِ الۡمَجِيدِ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَابِرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ؛ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا خَطَبَ احۡمَرَّتۡ عَيۡنَاهُ، وَعَلَا صَوۡتُهُ، وَاشۡتَدَّ غَضَبُهُ. حَتَّىٰ كَأَنَّهُ مُنۡذِرُ جَيۡشٍ، يَقُولُ: (صَبَّحَكُمۡ وَمَسَّاكُمۡ). وَيَقُولُ: (بُعِثۡتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيۡنِ) وَيَقۡرُنُ بَيۡنَ إِصۡبَعَيۡهِ السَّبَابَةِ وَالۡوُسۡطَىٰ. وَيَقُولُ: (أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنَّ خَيۡرَ الۡحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيۡرُ الۡهُدَىٰ هُدَىٰ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الۡأُمُورِ مُحۡدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ). ثُمَّ يَقُولُ: (أَنَا أَوۡلَىٰ بِكُلِّ مُؤۡمِنٍ مِنۡ نَفۡسِهِ. مَنۡ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهۡلِهِ، وَمَنۡ تَرَكَ دَيۡنًا أَوۡ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ). 
43. (867). Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepadaku: 'Abdul Wahhab bin 'Abdul Majid menceritakan kepada kami, dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir bin 'Abdullah. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berkhotbah, kedua mata beliau merah, suaranya lantang, dan emosinya menggebu-gebu, sampai seakan-akan beliau pemberi peringatan pasukan yang berkata: Musuh akan datang di pagi hari, musuh akan datang di sore hari. Beliau bersabda, “Aku diutus ketika hari kiamat seperti dua jari ini.” Beliau menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah. Beliau juga bersabda, “Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Kemudian beliau bersabda, “Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri. Barangsiapa yang meninggalkan hartanya, maka itu milik keluarganya, dan barangsiapa meninggalkan hutang atau keluarga yang terlantar, maka itu adalah tanggung jawabku.” 
٤٤ - (…) - وَحَدَّثَنَا عَبۡدُ بۡنُ حُمَيۡدٍ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ: حَدَّثَنِي سُلَيۡمَانُ بۡنُ بِلَالٍ: حَدَّثَنِي جَعۡفَرُ بۡنُ مُحَمَّدٍ، عَنۡ أَبِيهِ؛ قَالَ: سَمِعۡتُ جَابِرَ بۡنَ عَبۡدِ اللهِ يَقُولُ: كَانَتۡ خُطۡبَةُ النَّبِيِّ ﷺ يَوۡمَ الۡجُمُعَةِ يَحۡمَدُ اللهَ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ. ثُمَّ يَقُولُ عَلَىٰ إِثۡرِ ذٰلِكَ، وَقَدۡ عَلَا صَوۡتُهُ. ثُمَّ سَاقَ الۡحَدِيثَ بِمِثۡلِهِ. 
44. 'Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami: Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepadaku: Ja'far bin Muhammad menceritakan kepadaku, dari ayahnya. Beliau berkata: Aku mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata: Khotbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at adalah beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian beliau bersabda setelahnya, dan suara beliau lantang. Kemudian beliau menuturkan hadits yang semisalnya. 
٤٥ - (…) - وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنۡ جَعۡفَرٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَابِرٍ؛ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَخۡطُبُ النَّاسَ: يَحۡمَدُ اللهَ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ. ثُمَّ يَقُولُ: (مَنۡ يَهۡدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَخَيۡرُ الۡحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ). ثُمَّ سَاقَ الۡحَدِيثَ بِمِثۡلِ حَدِيثِ الثَّقَفِيِّ. 
45. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami: Waki' menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ja'far, dari ayahnya, dari Jabir. Beliau berkata: Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah kepada manusia, beliau memuji dan menyanjung Allah dengan sanjungan yang layak bagiNya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah.” Kemudian beliau menuturkan hadits semisal hadits Ats-Tsaqafi.

Shahih Muslim hadits nomor 842

٣١٠ – (٨٤٢) – حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَى مَالِكٍ عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ رُومَانَ، عَنۡ صَالِحِ بۡنِ خَوَّاتٍ، عَمَّنۡ صَلَّىٰ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، يَوۡمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ، صَلَاةَ الۡخَوۡفِ؛ أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتۡ مَعَهُ، وَطَائِفَةٌ وُجَاهَ الۡعَدُوِّ، فَصَلَّىٰ بِالَّذِينَ مَعَهُ رَكۡعَةً. ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنۡفُسِهِمۡ. ثُمَّ انۡصَرَفُوا فَصَفُّوا وُجَاهَ الۡعَدُوِّ. وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الۡأُخۡرَىٰ، فَصَلَّىٰ بِهِمُ الرَّكۡعَةَ الَّتِي بَقِيَتۡ. ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا. وَأَتَمُّوا لِأَنۡفُسِهِمۡ. ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمۡ. 
310. (842). Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik dari Yazid bin Ruman, dari Shalih bin Khawwat, dari seseorang yang shalat khauf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Dzatur Riqa'. Bahwasanya satu kelompok berbaris bersama beliau dan sekelompok lain menghadap ke arah musuh. Beliau shalat bersama orang-orang yang bersama beliau satu raka'at. Kemudian beliau tetap berdiri sedangkan orang-orang menyempurnakan shalat mereka sendiri. Kemudian mereka beranjak pergi lalu berbaris menghadap ke arah musuh. Lalu sekolompok yang lain datang. Beliau shalat bersama mereka satu raka'at yang tersisa. Kemudian beliau tetap duduk dan orang-orang menyempurnakan shalat mereka sendiri. Kemudian beliau salam bersama mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 7288

٧٢٨٨ – حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنۡ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الۡأَعۡرَجِ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (دَعُونِي مَا تَرَكۡتُكُمۡ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ بِسُؤَالِهِمۡ وَاخۡتِلَافِهِمۡ عَلَى أَنۡبِيَائِهِمۡ، فَإِذَا نَهَيۡتُكُمۡ عَنۡ شَيۡءٍ فَاجۡتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرۡتُكُمۡ بِأَمۡرٍ فَأۡتُوا مِنۡهُ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ). 
7288. Isma'il telah menceritakan kepada kami: Malik menceritakan kepada kami, dari Abuz Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Biarkanlah aku dari hal-hal yang telah aku tinggalkan dari kalian, sesungguhnya yang membuat orang-orang sebelum kalian celaka adalah karena pertanyaan-pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Sehingga jika aku melarang sesuatu dari kalian, jauhilah hal itu. Dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka laksanakanlah hal itu semampu kalian.”

At-Tuhfatus Saniyyah - Jenis-jenis kata

وَأَقۡسَامُهُ ثَلَاثَةٌ: اسۡمٌ وَفِعۡلٌ وَحَرۡفٌ جَاءَ لِمَعۡنًى.
Pembagiannya ada tiga: isim, fi’il, dan huruf yang datang dengan suatu makna.
وَأَقُولُ: الْأَلْفَاظُ الَّتِي كَانَ الْعَرَبُ يَسْتَعْمِلُونَهَا فِي كَلَامِهِمْ، وَنُقِلَتْ إِلَيْنَا عَنْهُمْ؛ فَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِهَا فِي مُحَاوَرَاتِنَا وَدُرُوسِنَا، وَنَقْرَؤُهَا فِي كُتُبِنَا، وَنَكْتُبُ بِهَا إِلَى أَهْلِينَا وَأَصْدِقَائِنَا؛ لَا يَخْلُو وَاحِدٌ مِنْهَا عَنْ أَنْ يَكُونَ وَاحِدًا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: الْإِسْمُ وَالْفِعْلُ وَالْحَرْفُ.
Lafazh-lafazh yang biasa digunakan oleh orang Arab di dalam pembicaraan mereka dan dinukil dari mereka kepada kita; dan kita berbicara dengannya di dalam percakapan-percakapan dan pelajaran-pelajaran kita, dan kita membacanya di kitab-kitab kita, dan kita menulis dengannya kepada keluarga dan teman-teman kita; satupun tidak keluar dari salah satu dari tiga hal: isim, fi’il, dan huruf.
أَمَّا الْإِسْمُ فَهُوَ فِي اللُّغَةِ: مَا دَلَّ عَلَى مُسَمًّى، وَفِي اصْطِلَاحِ النَّحْوِيِّينَ: كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَلَمْ تُقْتَرَنْ بِزَمَانٍ، نَحْوُ: مُحَمَّدٌ وَعَلِيٌّ، وَرَجُلٌ، وَجَمَلٌ، وَنَهْرٌ، وَتُفَّاحَةٌ وَلَيْمُونَةٌ، وَعَصَا؛ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ يَدُلُّ عَلَى مَعْنًى، وَلَيْسَ الزَّمَانُ دَاخِلًا فِي مَعْنَاهُ، فَيَكُونُ اسْمًا.
Isim secara bahasa artinya kata yang menunjukkan yang dinamai. Isim menurut istilah ahli nahwu adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya dan tidak diasosiasikan dengan waktu apapun. Contoh: مُحَمَّدٌ وَعَلِيٌّ، وَرَجُلٌ، وَجَمَلٌ، وَنَهْرٌ، وَتُفَّاحَةٌ وَلَيْمُونَةٌ، وَعَصَا. Setiap satu dari lafazh-lafazh ini menunjukkan suatu makna, dan waktu / zaman tidak masuk ke dalam maknanya, maka lafazh-lafazh ini adalah isim.
وَأَمَّا الْفِعْلُ فَهُوَ فِي اللُّغَةِ: الْحَدَثُ، وَفِي اصْطِلَاحِ النَّحْوِيِّينَ: كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَاقْتُرِنَتْ بِأَحَدِ الْأَزْمِنَةِ الثَّلَاثَةِ، الَّتِي هِيَ: الْمَاضِي، وَالْحَالُ، وَالْمُسْتَقْبَلُ، نَحْوُ: (كَتَبَ) فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَالَّةٌ عَلَى مَعْنًى وَهُوَ الْكِتَابَةُ، وَهَذَا الْمَعْنَى مُقْتَرَنٌ بِالزَّمَانِ الْمَاضِي؛ وَنَحْوُ: (يَكْتُبُ) فَإِنَّهُ دَالٌّ عَلَى مَعْنًى -وَهُوَ الْكِتَابَةُ أَيْضًا- وَهَذَا الْمَعْنَى مُقْتَرَنٌ بِالزَّمَانِ الْحَاضِرِ، وَنَحْوُ: (اكْتُبْ) فَإِنَّهُ كَلِمَةٌ دَالَّةٌ عَلَى مَعْنًى -وَهُوَ الْكِتَابَةُ أَيْضًا- وَهَذَا مَعْنًى مُقْتَرَنٌ بِالزَّمَانِ الْمُسْتَقْبَلِ الَّذِي بَعْدَ زَمَانِ التَّكَلُّمِ.
وَمِثْلُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ: نَصَرَ وَيَنْصُرُ وَانْصُرْ، وَفَهِمَ وَيَفْهَمُ وَافْهَمْ، وَعَلِمَ وَيَعْلَمُ وَاعْلَمْ، وَجَلَسَ وَيَجْلِسُ وَاجْلِسْ، وَضَرَبَ وَيَضْرِبُ وَاضْرِبْ.
Fi’il secara bahasa adalah peristiwa. Adapun fi’il dalam istilah ahli nahwu adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada dirinya dan diasosiasikan dengan satu dari tiga waktu. Tiga waktu itu adalah madhi (lampau), hal (sekarang), dan mustaqbal (akan datang). Contoh: كَتَبَ adalah kata yang menunjukkan suatu makna, yaitu penulisan. Makna ini terkait dengan waktu lampau. Contoh: يَكْتُبُ menunjukkan suatu makna, yaitu penulisan. Makna ini terkait dengan waktu yang sedang berlangsung. Contoh: اكْتُبْ adalah kata yang menunjukkan suatu makna, yaitu penulisan. Makna ini terkait dengan waktu yang akan datang setelah waktu pembicaraan.
Contoh lafazh-lafaz fi’il adalah: نَصَرَ وَيَنْصُرُ وَانْصُرْ، وَفَهِمَ وَيَفْهَمُ وَافْهَمْ، وَعَلِمَ وَيَعْلَمُ وَاعْلَمْ، وَجَلَسَ وَيَجْلِسُ وَاجْلِسْ، وَضَرَبَ وَيَضْرِبُ وَاضْرِبْ.
وَالْفِعْلُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ: مَاضٍ وَمُضَارِعٌ وَأَمْرٌ.
Fi'il ada tiga jenis: madhi, mudhari', dan amr.
فَالْمَاضِي: مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ وَقَعَ فِي الزَّمَانِ الَّذِي قَبْلَ زَمَانِ التَّكَلُّمِ، نَحْوُ: كَتَبَ وَفَهِمَ وَخَرَجَ وَسَمِعَ وَأَبْصَرَ وَتَكَلَّمَ وَاسْتَغْفَرَ وَاشْتَرَكَ.
Fi'il madhi adalah kata yang menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu sebelum waktu pembicaraan. Contoh: كَتَبَ وَفَهِمَ وَخَرَجَ وَسَمِعَ وَأَبْصَرَ وَتَكَلَّمَ وَاسْتَغْفَرَ وَاشْتَرَكَ.
وَالْمُضَارِعُ: مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ يَقَعُ فِي زَمَانِ التَّكَلُّمِ أَوْ بَعْدَهُ، نَحْوُ: يَكْتُبُ وَيَفْهَمُ وَيَخْرُجُ وَيَسْمَعُ وَيَنْصُرُ وَيَتَكَلَّمُ وَيَسْتَغْفِرُ وَيَشْتَرِكُ.
Fi'il mudhari' adalah kata yang menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi bersamaan ketika waktu berbicara atau setelahnya. Contoh: يَكْتُبُ وَيَفْهَمُ وَيَخْرُجُ وَيَسْمَعُ وَيَنْصُرُ وَيَتَكَلَّمُ وَيَسْتَغْفِرُ وَيَشْتَرِكُ.
وَالْأَمْرُ: مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ يُطْلَبُ حُصُولُهُ بَعْدَ زَمَانِ التَّكَلُّمِ، نَحْوُ: اكْتُبْ وَافْهَمْ وَاخْرُجْ وَاسْمَعْ وَانْصُرْ وَتَكَلَّمْ وَاسْتَغْفِرْ وَاشْتَرِكْ.
Fi'il amr adalah kata yang menunjukkan suatu peristiwa yang diminta untuk mewujudkannya setelah waktu berbicara. Contoh: اكْتُبْ وَافْهَمْ وَاخْرُجْ وَاسْمَعْ وَانْصُرْ وَتَكَلَّمْ وَاسْتَغْفِرْ وَاشْتَرِكْ.
وَأَمَّا الْحَرْفُ فَهُوَ فِي اللُّغَةِ: الطَّرَفُ، وَفِي اصْطِلَاحِ النُّحَاةِ: كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي غَيْرِهَا، نَحْوُ: (مِنْ)، فَإِنَّ هَذَا اللَّفْظَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى -وَهُوَ الْإِبْتِدَاءُ- وَهَذَا الْمَعْنَى لَا يَتِمُّ حَتَّى تَضُمَّ إِلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ غَيْرَهَا، فَتَقُولُ: (ذَهَبْتُ مِنَ الْبَيْتِ) مَثَلًا.
Adapun huruf secara bahasa artinya tepian. Dan secara istilah ahli nahwu adalah kata yang menunjukkan suatu makna pada selain kata itu. Contohnya: مِنْ, lafazh ini adalah sebuah kata yang menunjukkan suatu makna yaitu permulaan. Dan makna ini tidak sempurna hingga engkau gabungkan kata ini dengan kata lain. Contoh: ذَهَبْتُ مِنَ الْبَيْتِ.
أَمْثِلَةٌ لِلْإِسْمِ: كِتَابٌ، قَلَمٌ، دَوَاةٌ، كُرَّاسَةٌ، جَرِيدَةٌ، خَلِيلٌ، صَالِحٌ، عِمْرَانُ، وَرَقَةٌ، سَبْعٌ، حِمَارٌ، ذِئْبٌ، نَمِرٌ، فَهْدٌ، بُرْتُقَالَةٌ، كمَّثراةٌ، نَرْجِسَةٌ، وَرْدَةٌ، هَؤُلَاءِ، أَنْتُمْ.
أَمْثِلَةٌ لِلْفِعْلِ: سَافَرَ يُسَافِرُ سَافِرْ، قَالَ يَقُولُ قُلْ، أَمِنَ يَأْمَنُ إِيمَنْ، رَضِيَ يَرْضَى ارْضَ، صَدَقَ يَصْدُقُ اصْدُقْ، اجْتَهَدَ يَجْتَهِدُ اجْتَهِدْ، اسْتَغْفَرَ يَسْتَغْفِرُ اسْتَغْفِرْ.أَمْثِلَةٌ لِلْحَرْفِ: مِنْ، إِلَى، عَنْ، عَلَى، إِلَّا، لَكِنْ، إِنَّ، أَنْ، بَلَى، بَلْ، قَدْ، سَوْفَ، حَتَّى، لَمْ، لَا، لَنْ، لَوْ، لَمَّا، لَعَلَّ، مَا، لَاتَ، لَيْتَ، إِنْ، ثُمَّ، أَوْ.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4129

٤١٢٩ – حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ مَالِكٍ، عَنۡ يَزِيدَ بۡنِ رُومَانَ، عَنۡ صَالِحِ بۡنِ خَوَّاتٍ، عَمَّنۡ شَهِدَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَوۡمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَّى صَلَاةَ الۡخَوۡفِ: أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتۡ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وُجَاهَ الۡعَدُوِّ، فَصَلَّى بِالَّتِي مَعَهُ رَكۡعَةً، ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا، وَأَتَمُّوا لِأَنۡفُسِهِمۡ ثُمَّ انۡصَرَفُوا، فَصَفُّوا وُجَاهَ الۡعَدُوِّ، وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الۡأُخۡرَى فَصَلَّى بِهِمُ الرَّكۡعَةَ الَّتِي بَقِيَتۡ مِنۡ صَلَاتِهِ ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا، وَأَتَمُّوا لِأَنۡفُسِهِمۡ، ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمۡ. 
4129. Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Yazid bin Ruman, dari Shalih bin Khawwat, dari orang yang menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Dzatur Riqa' shalat khauf: Bahwasanya satu kelompok berbaris bersama beliau dan satu kelompok lain menghadap ke arah musuh. Beliau shalat dengan kelompok yang bersama beliau sebanyak satu raka'at. Beliau tetap berdiri sedangkan orang-orang menyempurnakan sendiri, kemudian mereka beranjak pergi berbaris menghadap ke arah musuh. Lalu datanglah kelompok yang lain tadi. Beliau shalat bersama mereka sebanyak satu raka'at sisa shalat beliau. Kemudian beliau tetap duduk, sedangkan orang-orang menyempurnakan shalat mereka sendiri. Lalu beliau salam bersama mereka.