Cari Blog Ini

Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1741 dan 1742

٤٣ - بَابُ صِيَامِ أَشۡهُرِ الۡحُرُمِ 
43. Bab puasa di bulan-bulan haram 

١٧٤١ – (ضعيف) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنِ الۡجُرَيۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي السَّلِيلِ، عَنۡ أَبِي مُجِيبَةَ الۡبَاهِلِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ - أَوۡ عَنۡ عَمِّهِ -. قَالَ: أَتَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلۡتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ! أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيۡتُكَ عَامَ الۡأَوَّلِ، قَالَ: (فَمَا لِي أَرَى جِسۡمَكَ نَاحِلًا؟) قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ! مَا أَكَلۡتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ، مَا أَكَلۡتُهُ إِلَّا بِاللَّيۡلِ، قَالَ: (مَنۡ أَمَرَكَ أَنۡ تُعَذِّبَ نَفۡسَكَ؟) قُلۡتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! إِنِّي أَقۡوَى، قَالَ: (صُمۡ شَهۡرَ الصَّبۡرِ وَيَوۡمًا بَعۡدَهُ)، قُلۡتُ: إِنِّي أَقۡوَى، قَالَ: (صُمۡ شَهۡرَ الصَّبۡرِ وَيَوۡمَيۡنِ بَعۡدَهُ) قُلۡتُ: إِنِّي أَقۡوَى، قَالَ: (صُمۡ شَهۡرَ الصَّبۡرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعۡدَهُ، وَصُمۡ أَشۡهُرَ الۡحُرُمِ). [(ضعيف أبي داود)(٤١٩)، (تمام المنة)، (الرد على بليق)(٣٩)]. 
1741. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Al-Jurairi, dari Abu As-Salil, dari Abu Mujibah Al-Bahili, dari ayahnya atau pamannya. Beliau berkata: 
Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Nabi Allah! Aku adalah pria yang telah mendatangimu di tahun yang lalu.” 
Nabi bertanya, “Mengapa aku melihat badanmu menjadi lemah?” 
Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak memakan makanan apapun di siang hari. Aku hanya memakannya di malam hari.” 
Nabi bertanya, “Siapa yang menyuruhmu untuk menyiksa dirimu?” 
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kuat.” 
Nabi bersabda, “Berpuasalah di bulan kesabaran (Ramadan) dan satu hari (setiap bulan) setelahnya.” 
Aku berkata, “Sungguh aku bisa lebih kuat.” 
Nabi bersabda, “Berpuasalah di bulan sabar dan dua hari (setiap bulan) setelahnya.” 
Aku berkata, “Sungguh aku bisa lebih kuat.” 
Nabi bersabda, “Berpuasalah di bulan sabar dan tiga hari (setiap bulan setelahnya), serta berpuasalah di bulan-bulan haram.” 
١٧٤٢ – (صحيح) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ عُمَيۡرٍ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ الۡمُنۡتَشِرِ، عَنۡ حُمَيۡدِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ الۡحِمۡيَرِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ؛ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: أَيُّ الصِّيَامِ أَفۡضَلُ بَعۡدَ شَهۡرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: (شَهۡرُ اللهِ الَّذِي تَدۡعُونَهُ الۡمُحَرَّمَ). [(الإرواء)(٩٥١)، (صحيح أبي داود)(٢٠٩٩): م]. 
1742. Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Al-Husain bin ‘Ali menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari Muhammad bin Al-Muntasyir, dari Humaid bin ‘Abdurrahman Al-Himyari, dari Abu Hurairah; Beliau mengatakan: Seorang pria datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya, “Bulan mana yang paling utama setelah Ramadan?” Nabi menjawab, “Bulan Allah yang kalian sebut dengan Muharam.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar