٩٣٦ - [سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو الۡأَنۡصَارِيُّ]:
936. Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr Al-Anshari
سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ أَبِي زُهَيۡرِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ
امۡرِىءِ الۡقَيۡسِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَغَرِّ بۡنِ ثَعۡلَبَةَ بۡنِ كَعۡبِ
بۡنِ الۡخَزۡرَجِ بۡنِ الۡحَارِثِ بۡنِ الۡخَزۡرَجِ الۡأَنۡصَارِيُّ
الۡخَزۡرَجِيُّ عَقَبِيٌّ، بَدۡرِيٌّ.
Sa’d bin Ar-Rabi’ bin ‘Amr bin Abu Zuhair bin Malik bin Imru` Al-Qais bin
Malik bin Al-Agharr bin Tsa’labah bin Ka’b bin Al-Khazraj bin Al-Harits bin
Al-Khazraj Al-Anshari Al-Khazraji, mengikuti baiat ‘Aqabah dan perang Badr.
كَانَ أَحَدَ نُقَبَاءِ الۡأَنۡصَارِ، وَكَانَ كَاتِبًا فِي الۡجَاهِلِيَّةِ،
وَشَهِدَ الۡعَقَبَةَ الۡأُولَى وَالثَّانِيَةَ، وَشَهِدَ بَدۡرًا، وَقُتِلَ
يَوۡمَ أُحُدٍ شَهِيدًا، وَأَمَرَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ يَوۡمَئِذٍ أَنۡ
يُلۡتَمَسَ فِي الۡقَتۡلَى، وَقَالَ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ
الرَّبِيعِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا، فَذَهَبَ يَطُوفُ بَيۡنَ الۡقَتۡلَى،
فَوَجَدَهُ وَبِهِ رَمَقٌ، فَقَالَ لَهُ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ: مَا شَأۡنُكَ؟
فَقَالَ الرَّجُلُ: بَعَثَنِي رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ لِآتِيَهُ بِخَبَرِكَ. قَالَ:
فَاذۡهَبۡ إِلَيۡهِ فَأَقۡرِأۡهُ مِنِّي السَّلَامَ، وَأَخۡبِرۡهُ أَنِّي قَدۡ
طُعِنۡتُ اثۡنَتَيۡ عَشۡرَةَ طَعۡنَةً، وَأَنِّي قَدۡ أَنۡفَذۡتُ مَقَاتِلِي.
وَأَخۡبِرۡ قَوۡمَكَ أَنَّهُمۡ لَا عُذۡرَ لَهُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ إِنۡ قُتِلَ
رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ وَوَاحِدٌ مِنۡهُمۡ حَيٌّ.
Beliau adalah salah satu naqib (pemimpin) kaum Ansar dan seorang penulis pada
masa jahiliah. Beliau mengikuti baiat ‘Aqabah pertama dan kedua, mengikuti
Perang Badr, dan gugur pada hari Uhud sebagai syahid.
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari itu memerintahkan agar Sa’d
dicari di antara para korban yang gugur dan bertanya, “Siapa yang mau
membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’?”
Maka seorang laki-laki berkata, “Saya.”
Lalu ia pergi berkeliling di antara para korban yang gugur dan menemukannya
dalam keadaan masih memiliki sisa nyawa. Sa’d bin Ar-Rabi’ bertanya kepadanya,
“Ada apa denganmu?”
Laki-laki itu menjawab, “Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutusku
untuk membawa kabar tentangmu kepada beliau.”
Sa’d berkata, “Pergilah kepada beliau dan sampaikan salam dariku, serta
kabarkan bahwa aku telah ditusuk sebanyak dua belas tusukan, dan aku telah
sampai pada saat kematianku. Serta kabarkan kepada kaummu bahwa tidak ada uzur
bagi mereka di hadapan Allah jika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—terbunuh sementara salah satu dari mereka masih hidup.”
هٰكَذَا ذَكَرَ مَالِكٌ هٰذَا الۡخَبَرَ، وَلَمۡ يُسَمِّ الرَّجُلَ الَّذِي
ذَهَبَ لِيَأۡتِيَ بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ الرَّبِيعِ، وَهُوَ أُبَيُّ بۡنُ
كَعۡبٍ، ذَكَرَ ذٰلِكَ رُبَيۡحُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبِي سَعِيدٍ
الۡخُدۡرِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ عَنۡ جَدِّهِ فِي هٰذَا الۡخَبَرِ أَنَّ رَسُولَ
اللّٰهِ ﷺ قَالَ يَوۡمَ أُحُدٍ: مَنۡ يَأۡتِينِي بِخَبَرِ سَعۡدِ بۡنِ
الرَّبِيعِ؟ فَإِنِّي رَأَيۡتُ الۡأَسِنَّةَ قَدۡ أُشۡرِعَتۡ إِلَيۡهِ. فَقَالَ
أُبَيُّ بۡنُ كَعۡبٍ: أَنَا، وَذَكَرَ الۡخَبَرَ، وَفِيهِ اقۡرَأۡ عَلَى
قَوۡمِي السَّلَامَ، وَقُلۡ لَهُمۡ: يَقُولُ لَكُمۡ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ:
اللّٰهَ اللّٰهَ وَمَا عَاهَدۡتُمۡ عَلَيۡهِ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ لَيۡلَةَ
الۡعَقَبَةِ، فَوَاللّٰهِ مَا لَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ عُذۡرٌ إِنۡ خُلِصَ إِلَى
نَبِيِّكُمۡ وَفِيكُمۡ عَيۡنٌ تَطۡرِفُ. وَقَالَ أُبَيٌّ: فَلَمۡ أَبۡرَحۡ
حَتَّى مَاتَ رَحِمَهُ اللهُ، فَرَجَعۡتُ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ
فَأَخۡبَرۡتُهُ. [فَقَالَ: رَحِمَهُ اللّٰهُ، نَصَحَ لِلّٰهِ وَلِرَسُولِهِ
حَيًّا وَمَيِّتًا].
Demikianlah Malik menyebutkan berita ini dan ia tidak menyebutkan nama
laki-laki yang pergi untuk membawa kabar Sa’d bin Ar-Rabi’, padahal dia adalah
Ubay bin Ka’b. Hal itu disebutkan oleh Rubaih bin ‘Abdurrahman bin Abu Sa’id
Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya mengenai kabar ini:
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya pada hari Uhud, “Siapa yang
mau membawakanku kabar tentang Sa’d bin Ar-Rabi’? Karena aku melihat
tombak-tombak telah diarahkan kepadanya.”
Maka Ubay bin Ka’b berkata, “Saya.”
Lalu ia menyebutkan kisahnya dan di dalamnya terdapat pesan Sa’d: “Sampaikan
salam kepada kaumku dan katakan kepada mereka: Sa’d bin Ar-Rabi’ berkata
kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam janji
kalian kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada malam ‘Aqabah.
Demi Allah, tidak ada uzur bagi kalian di hadapan Allah jika musuh sampai
menyentuh Nabi kalian sementara di antara kalian masih ada mata yang
berkedip.”
Ubay berkata, “Aku tidak beranjak sampai ia wafat—rahimahullah—, lalu aku
kembali kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mengabarkannya.”
[Maka beliau bersabda, “Semoga Allah merahmatinya. Ia telah tulus kepada Allah
dan Rasul-Nya baik saat hidup maupun mati.”]
وَقَالَ ابۡنُ إِسۡحَاقَ: دُفِنَ سَعۡدُ بۡنُ الرَّبِيعِ وَخَارِجَةُ بۡنُ
أَبِي زَيۡدِ بۡنِ أَبِي زُهَيۡرٍ فِي قَبۡرٍ وَاحِدٍ. وَخَلَّفَ سَعۡدُ بۡنُ
الرَّبِيعِ ابۡنَتَيۡنِ فَأَعۡطَاهُمَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ الثُّلُثَيۡنِ،
فَكَانَ ذٰلِكَ أَوَّلَ بَيَانِهِ لِلۡآيَةِ فِي قَوۡلِهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿فَإِنۡ كُنَّ نِسَاءً فَوۡقَ اثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ﴾
[النساء ١٧٦]. وَفِي ذٰلِكَ نَزَلَتِ الۡآيَةُ، وَبِذٰلِكَ عُلِمَ مُرَادُ
اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنۡهَا، وَعُلِمَ أَنَّهُ أَرَادَ بِقَوۡلِهِ: فَوۡقَ
اثۡنَتَيۡنِ، أَيۡ اثۡنَتَيۡنِ فَمَا فَوۡقَهُمَا، وَذٰلِكَ أَيۡضًا عِنۡدَ
الۡعُلَمَاءِ قِيَاسٌ عَلَى الۡأُخۡتَيۡنِ؛ إِذۡ لِإِحۡدَاهُمَا النِّصۡفُ
وَلِلِاثۡنَتَيۡنِ الثُّلُثَانِ، فَكَذٰلِكَ الۡاِبۡنَتَانِ.
Ibnu Ishaq berkata: Sa’d bin Ar-Rabi’ dan Kharijah bin Abu Zaid bin Abu Zuhair
dimakamkan dalam satu liang kubur. Sa’d bin Ar-Rabi’ meninggalkan dua orang
anak perempuan, lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan
kepada keduanya dua pertiga (harta warisan). Kejadian itu merupakan penjelasan
pertama beliau terhadap ayat dalam firman Allah—‘azza wa jalla—: “jika anak
itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta
yang ditinggalkan.” (QS An-Nisa’: 11).
Dalam hal itulah ayat tersebut turun dan dengan itu diketahui maksud
Allah—‘azza wa jalla—darinya, serta diketahui bahwa yang Dia maksud dengan
firman-Nya: “lebih dari dua orang” adalah dua orang atau lebih. Hal itu juga
menurut para ulama adalah kias terhadap dua orang saudara perempuan, di mana
bagi salah seorang dari mereka mendapat setengah dan bagi keduanya mendapat
dua pertiga, maka demikian pula bagi dua anak perempuan.