Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh
Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,
الثَّامِنَةُ: أَهۡلُ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ وَسَطٌ فِي مُرۡتَكِبِ
الۡكَبِيرَةِ بَيۡنَ الۡمُرۡجِئَةِ وَالۡخَوَارِجِ وَالۡمُعۡتَزِلَةِ،
فَالۡمُرۡجِئَةُ فَرَّطُوا وَجَعَلُوهُ مُؤۡمِنًا كَامِلَ الۡإِيمَانِ،
وَقَالُوا: لَا يَضُرُّ مَعَ الۡإِيمَانِ ذَنۡبٌ، كَمَا لَا يَنۡفَعُ مَعَ
الۡكُفۡرِ طَاعَةٌ، وَالۡخَوَارِجُ وَالۡمُعۡتَزِلَةُ أَفۡرَطُوا فَأَخۡرَجُوهُ
مِنَ الۡإِيمَانِ، ثُمَّ حَكَمَتِ الۡخَوَارِجُ بِكُفۡرِهِ، وَقَالَتِ
الۡمُعۡتَزِلَةُ: إِنَّهُ فِي مَنۡزِلَةٍ بَيۡنَ الۡمَنۡزِلَتَيۡنِ، وَفِي
الۡآخِرَةِ اتَّفَقُوا عَلَىٰ تَخۡلِيدِهِ فِي النَّارِ، وَأَهۡلُ السُّنَّةِ
وَصَفُوا الۡعَاصِيَ بِأَنَّهُ مُؤۡمِنٌ نَاقِصُ الۡإِيمَانِ، فَلَمۡ
يَجۡعَلُوهُ مُؤۡمِنًا كَامِلَ الۡإِيمَانِ كَمَا قَالَتِ الۡمُرۡجِئَةُ،
وَلَمۡ يَجۡعَلُوهُ خَارِجًا مِنَ الۡإِيمَانِ كَمَا قَالَتِ الۡخَوَارِجُ
وَالۡمُعۡتَزِلَةُ، بَلۡ قَالُوا: هُوَ مُؤۡمِنٌ بِإِيمَانِهِ، فَاسِقٌ
بِكَبِيرَتِهِ، فَلَمۡ يُعۡطُوهُ الۡإِيمَانَ الۡمُطۡلَقَ، وَلَمۡ يَسۡلُبُوا
عَنۡهُ مُطۡلَقَ الۡإِيمَانِ، وَإِنَّمَا ضَلَّتِ الۡمُرۡجِئَةُ لِأَنَّهُمۡ
أَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ وَأَهۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعِيدِ، وَضَلَّتِ
الۡخَوَارِجُ وَالۡمُعۡتَزِلَةُ لِأَنَّهُمۡ أَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعِيدِ
وَأَهۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ، وَوَفَّقَ اللهُ أَهۡلَ السُّنَّةِ
وَالۡجَمَاعَةِ لِلۡحَقِّ، فَأَعۡمَلُوا نُصُوصَ الۡوَعۡدِ وَالۡوَعِيدِ مَعًا،
فَلَمۡ يَجۡعَلُوا مُرۡتَكِبَ الۡكَبِيرَةِ كَامِلَ الۡإِيمَانِ، وَلَمۡ
يَجۡعَلُوهُ خَارِجًا مِنَ الۡإِيمَانِ فِي الدُّنۡيَا، وَفِي الۡآخِرَةِ
أَمۡرُهُ إِلَىٰ اللهِ؛ إِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنۡ شَاءَ عَفَا عَنۡهُ،
وَإِذَا عَذَّبَهُ فَإِنَّهُ لَا يُخَلِّدُهُ فِي النَّارِ كَمَا يُخَلِّدُ
فِيهَا الۡكُفَّارَ، بَلۡ يُخۡرَجُ مِنۡهَا وَيُدۡخَلُ الۡجَنَّةَ.
Kedelapan: Ahli sunah waljamaah berada di tengah-tengah dalam menyikapi pelaku
dosa besar, di antara kaum Murjiah, Khawarij, dan Muktazilah. Kaum Murjiah
terlalu meremehkan (tafrith) dengan menganggap pelaku dosa besar sebagai
mukmin yang sempurna imannya. Mereka berkata, “Dosa tidak membahayakan iman,
sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat jika disertai kekafiran.”
Sebaliknya, kaum Khawarij dan Muktazilah bersikap berlebihan (ifrath) sehingga
mengeluarkan pelaku dosa besar dari lingkaran iman. Kemudian Khawarij
menghukuminya kafir, sedangkan Muktazilah berkata, “Ia berada di satu posisi
di antara dua posisi (manzilah baina al-manzilatain).” Namun di akhirat,
mereka (Khawarij dan Muktazilah) sepakat bahwa pelaku dosa besar kekal di
neraka.
Ahli sunah menyifati pelaku maksiat sebagai mukmin yang kurang imannya. Mereka
tidak menjadikannya mukmin yang sempurna imannya sebagaimana klaim Murjiah dan
tidak pula mengeluarkannya dari iman sebagaimana klaim Khawarij dan
Muktazilah. Sebaliknya, mereka berkata, “Dia adalah seorang mukmin karena
imannya, namun fasik karena dosa besarnya.” Mereka tidak memberinya sifat
al-iman al-muthlaq (iman yang sempurna tanpa cacat), namun tidak pula mencabut
darinya sifat muthlaq al-iman (pokok keimanan).
Sesungguhnya kaum Murjiah sesat karena mereka hanya menggunakan nas-nas janji
(wa’d) dan mengabaikan nas-nas ancaman (wa’id). Sementara kaum Khawarij dan
Muktazilah sesat karena mereka menggunakan nas-nas ancaman dan mengabaikan
nas-nas janji. Allah memberikan taufik kepada ahli sunah waljamaah menuju
kebenaran, sehingga mereka menggunakan nas janji dan ancaman secara bersamaan.
Mereka tidak menganggap pelaku dosa besar sempurna imannya, tidak
mengeluarkannya dari iman di dunia, dan di akhirat urusannya diserahkan kepada
Allah; jika Dia berkehendak maka Dia mengazabnya, dan jika Dia berkehendak
maka Dia memaafkannya. Jika Allah mengazabnya, maka Dia tidak mengekalkannya
di neraka seperti orang kafir, melainkan ia akan dikeluarkan dari sana dan
dimasukkan ke janah.
وَيَجۡتَمِعُ فِي الۡعَبۡدِ إِيمَانٌ وَمَعۡصِيَةٌ وَحُبٌّ وَبُغۡضٌ،
فَيُحَبُّ عَلَىٰ مَا عِنۡدَهُ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَيُبۡغَضُ عَلَىٰ مَا
عِنۡدَهُ مِنَ الۡفُسُوقِ وَالۡعِصۡيَانِ، وَهُوَ نَظِيرُ الشَّيۡبِ الَّذِي
يَكُونُ مَحۡبُوبًا إِذَا نُظِرَ إِلَىٰ مَا بَعۡدَهُ وَهُوَ الۡمَوۡتُ،
وَغَيۡرَ مَحۡبُوبٍ إِذَا نُظِرَ إِلَىٰ مَا قَبۡلَهُ وَهُوَ الشَّبَابُ، كَمَا
قَالَ الشَّاعِرُ:
الشَّيۡبُ كُرۡهٌ وَكُرۡهٌ أَنۡ نُفَارِقَهُ فَاعۡجَبۡ لِشَيۡءٍ عَلَى
الۡبُغۡضَاءِ مَحۡبُوبُ
Keimanan, kemaksiatan, cinta, dan benci dapat terkumpul dalam diri seorang
hamba. Ia dicintai karena iman yang ada padanya dan dibenci karena kefasikan
serta maksiat yang ada padanya. Hal ini serupa dengan uban. Ia menjadi sesuatu
yang dicintai jika melihat apa yang sesudahnya yaitu kematian (sebagai
pengingat), namun tidak dicintai jika melihat apa yang sebelumnya yaitu masa
muda. Sebagaimana perkataan penyair, “Uban itu dibenci, namun berpisah
dengannya pun terasa benci ... Maka heranlah pada sesuatu yang meskipun
dibenci, ia tetap dicintai.”