Cari Blog Ini

Penjelasan tentang Ihsan

Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,

اَلۡعَاشِرَةُ: قَوۡلُهُ ﷺ فِي بَيَانِ الۡإِحۡسَانِ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)، وَالۡمَعۡنَى أَنۡ تَعۡبُدَهُ كأَنَّكَ وَاقِفٌ بَيۡنَ يَدَيۡهِ تَرَاهُ، وَمَنۡ كَانَ كَذٰلِكَ فَإِنَّهُ يَأۡتِي بِالۡعِبَادَةِ عَلَى التَّمَامِ وَالۡكَمَالِ، وَإِنۡ لَمۡ يَكُنۡ عَلَى هٰذِهِ الۡحَالِ فَعَلَيۡهِ أَنۡ يَسۡتَشۡعِرَ أَنَّ اللّٰهَ مُطَّلِعٌ عَلَيۡهِ لَا يَخۡفَى عَلَيۡهِ مِنۡهُ خَافِيَةٌ، فَيَحۡذَرَ أَنۡ يَرَاهُ حَيۡثُ نَهَاهُ، وَيَعۡمَلَ عَلَى أَنۡ يَرَاهُ حَيۡثُ أَمَرَهُ، قَالَ ابۡنُ رَجَبٍ فِي شَرۡحِ هٰذَا الۡحَدِيثِ فِي كِتَابِهِ جَامِعِ الۡعُلُومِ وَالۡحِكَمِ (١/١٢٦): (فَقَوۡلُهُ ﷺ فِي تَفۡسِيرِ الۡإِحۡسَانِ: (أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ كأَنَّكَ تَرَاهُ) إلخ يُشِيرُ إِلَى أَنَّ الۡعَبۡدَ يَعۡبُدُ اللّٰهَ عَلَى هٰذِهِ الصِّفَةِ، وَهِيَ اسۡتِحۡضَارُ قُرۡبِهِ، وَأَنَّهُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ كأَنَّهُ يَرَاهُ، وَذٰلِكَ يُوجِبُ الۡخَشۡيَةَ وَالۡخَوۡفَ وَالۡهَيۡبَةَ وَالتَّعۡظِيمَ، كَمَا جَاءَ فِي رِوَايَةِ أَبِي هُرَيۡرَةَ (أَنۡ تَخۡشَى اللّٰهَ كأَنَّكَ تَرَاهُ)، وَيُوجِبُ أَيۡضًا النُّصۡحَ فِي الۡعِبَادَةِ وَبَذۡلَ الۡجُهۡدِ فِي تَحۡسِينِهَا وَإِتۡمَامِهَا وَإِكۡمَالِهَا)، وَقَالَ (١/١٢٨-١٢٩): (قَوۡلُهُ ﷺ: (فَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ)، قِيلَ: إِنَّهُ تَعۡلِيلٌ لِلۡأَوَّلِ؛ فَإِنَّ الۡعَبۡدَ إِذَا أُمِرَ بِمُرَاقَبَةِ اللّٰهِ فِي الۡعِبَادَةِ وَاسۡتِحۡضَارِ قُرۡبِهِ مِنۡ عَبۡدِهِ حَتَّى كأَنَّ الۡعَبۡدَ يَرَاهُ، فَإِنَّهُ قَدۡ يَشُقُّ ذٰلِكَ عَلَيۡهِ، فَيَسۡتَعِينُ عَلَى ذٰلِكَ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ اللّٰهَ يَرَاهُ، وَيَطَّلِعُ عَلَى سِرِّهِ وَعَلَانِيَتِهِ، وَبَاطِنِهِ وَظَاهِرِهِ، وَلَا يَخۡفَى عَلَيۡهِ شَيۡءٌ مِنۡ أَمۡرِهِ، فَإِذَا حَقَّقَ هٰذَا الۡمَقَامَ سَهُلَ عَلَيۡهِ الِانۡتِقَالُ إِلَى الۡمَقَامِ الثَّانِي، وَهُوَ دَوَامُ التَّحۡدِيقِ بِالۡبَصِيرَةِ إِلَى قُرۡبِ اللّٰهِ مِنۡ عَبۡدِهِ وَمَعِيَّتِهِ حَتَّى كأَنَّهُ يَرَاهُ، وَقِيلَ: بَلۡ هُوَ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مَنۡ شَقَّ عَلَيۡهِ أَنۡ يَعۡبُدَ اللّٰهَ كأَنَّهُ يَرَاهُ، فَلۡيَعۡبُدِ اللّٰهَ عَلَى أَنَّ اللّٰهَ يَرَاهُ وَيَطَّلِعُ عَلَيۡهِ، فَلۡيَسۡتَحۡيِ مِنۡ نَظَرِهِ إِلَيۡهِ).

Kesepuluh: Sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam menjelaskan ihsan: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Maknanya adalah engkau menyembah-Nya seolah-olah engkau berdiri di hadapan-Nya dan melihat-Nya. Barang siapa yang keadaannya demikian, maka ia akan menunaikan ibadah dengan sempurna dan lengkap. Namun, jika ia tidak berada pada kondisi ini, maka hendaknya ia menyadari bahwa Allah taala senantiasa mengawasinya dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Maka ia harus merasa takut jika Allah melihatnya di tempat yang dilarang-Nya, dan berusaha agar Allah melihatnya di tempat yang diperintahkan-Nya.

Ibnu Rajab berkata dalam syarah hadis ini di kitabnya, Jami’ Al-Ulum wal-Hikam (1/126), “Maka sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam menafsirkan ihsan: ‘Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya’ dan seterusnya, mengisyaratkan bahwa seorang hamba beribadah kepada Allah dengan sifat ini, yaitu menghadirkan kedekatan-Nya dan bahwa ia berada di hadapan-Nya seolah-olah ia melihat-Nya. Hal itu mewajibkan adanya rasa khasyyah (takut yang didasari ilmu), khauf (takut), segan, dan pengagungan, sebagaimana terdapat dalam riwayat Abu Hurairah: ‘Engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya’. Hal itu juga mewajibkan kesungguhan dalam ibadah serta pengerahan upaya dalam memperbagus, menyempurnakan, dan melengkapinya.”

Beliau juga berkata (1/128–129), “Sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: ‘Maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu’, dikatakan bahwa kalimat ini merupakan penjelasan sebab bagi kalimat yang pertama. Karena seorang hamba apabila diperintahkan untuk merasa diawasi Allah dalam ibadah dan menghadirkan perasaan kedekatan-Nya hingga seolah-olah hamba itu melihat-Nya, terkadang hal itu terasa berat baginya. Maka ia meminta bantuan untuk mencapai keadaan itu dengan mengimani bahwa Allah melihatnya, memperhatikan yang dia rahasiakan dan tampakkan, batin maupun lahirnya, dan tidak ada sesuatu pun dari urusannya yang tersembunyi bagi Allah. Apabila ia telah mewujudkan tingkatan ini, maka akan mudah baginya untuk berpindah ke tingkatan kedua, yaitu terus-menerus memusatkan mata hati akan kedekatan Allah kepada hamba-Nya dan kebersamaan-Nya hingga seolah-olah ia melihat-Nya. Ada pula yang mengatakan: Bahkan kalimat itu adalah isyarat bahwa barang siapa yang merasa berat untuk beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya, maka hendaklah ia beribadah kepada Allah atas dasar bahwa Allah melihatnya dan mengawasinya, sehingga hendaknya ia merasa malu terhadap pandangan Allah kepadanya.”

وَقَالَ (١/١٣٠): (وَقَدۡ وَرَدَتِ الۡأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ بِالنَّدۡبِ إِلَى اسۡتِحۡضَارِ هٰذَا الۡقُرۡبِ فِي حَالِ الۡعِبَادَاتِ)، وَذَكَرَ جُمۡلَةً مِنَ الۡأَحَادِيثِ، ثُمَّ قَالَ: (وَمَنۡ فَهِمَ مِنۡ شَيۡءٍ مِنۡ هٰذِهِ النُّصُوصِ تَشۡبِيهًا أَوۡ حُلُولًا أَوۡ اتِّحَادًا، فَإِنَّمَا أُتِيَ مِنۡ جَهۡلِهِ وَسُوءِ فَهۡمِهِ عَنِ اللّٰهِ وَرَسُولِهِ ﷺ، وَاللّٰهُ وَرَسُولُهُ بَرِيئَانِ مِنۡ ذٰلِكَ كُلِّهِ، فَسُبۡحَانَ مَنۡ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَيۡءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الۡبَصِيرُ).

Beliau berkata pula (1/130), “Sungguh telah ada hadis-hadis sahih yang menganjurkan untuk menghadirkan perasaan kedekatan ini dalam kondisi ibadah.” Beliau menyebutkan sejumlah hadis, kemudian berkata, “Barang siapa yang memahami dari nas-nas ini adanya penyerupaan (tasybih), bersemayamnya Tuhan kepada makhluk (hulul), atau penyatuan Tuhan dengan hamba (ittihad), maka sesungguhnya hal itu hanyalah muncul dari kebodohannya dan buruknya pemahaman terhadap Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari semua itu. Maha Suci Zat yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”