٣ - بَابُ السَّلَمِ إِلَى مَنۡ لَيۡسَ عِنۡدَهُ أَصۡلٌ
3. Bab Transaksi Salam kepada Orang yang Tidak Memiliki Komoditas Asal
٢٢٤٤، ٢٢٤٥ - حَدَّثَنَا مُوسَى بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ
الۡوَاحِدِ: حَدَّثَنَا الشَّيۡبَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ أَبِي
الۡمُجَالِدِ قَالَ: بَعَثَنِي عَبۡدُ اللهِ بۡنُ شَدَّادٍ وَأَبُو بُرۡدَةَ
إِلَى عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي أَوۡفَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، فَقَالَا:
سَلۡهُ، هَلۡ كَانَ أَصۡحَابُ النَّبِيِّ ﷺ فِي عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ
يُسۡلِفُونَ فِي الۡحِنۡطَةِ؟ قَالَ عَبۡدُ اللهِ: كُنَّا نُسۡلِفُ نَبِيطَ
أَهۡلِ الشَّأۡمِ فِي الۡحِنۡطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالزَّيۡتِ، فِي كَيۡلٍ
مَعۡلُومٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعۡلُومٍ. قُلۡتُ: إِلَى مَنۡ كَانَ أَصۡلُهُ
عِنۡدَهُ؟ قَالَ: مَا كُنَّا نَسۡأَلُهُمۡ عَنۡ ذٰلِكَ. ثُمَّ بَعَثَانِي إِلَى
عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ بۡنِ أَبۡزَى، فَسَأَلۡتُهُ فَقَالَ: كَانَ أَصۡحَابُ
النَّبِيِّ ﷺ يُسۡلِفُونَ عَلَى عَهۡدِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمۡ نَسۡأَلۡهُمۡ:
أَلَهُمۡ حَرۡثٌ أَمۡ لَا. [طرفاه في: ٢٢٤٢، ٢٢٤٣].
2244, 2245. Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul Wahid
menceritakan kepada kami: Asy-Syaibani menceritakan kepada kami: Muhammad bin
Abu Al-Mujalid menceritakan kepada kami. Ia berkata:
‘Abdullah bin Syaddad dan Abu Burdah mengutusku kepada ‘Abdullah bin Abu
Aufa—radhiyallahu ‘anhuma—, lalu mereka berdua berpesan, “Tanyakanlah
kepadanya, apakah para sahabat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—pada masa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa melakukan transaksi
salaf/salam (pemesanan) untuk komoditas gandum?”
‘Abdullah berkata, “Dahulu kami biasa melakukan pemesanan kepada kaum Nabith
penduduk Syam untuk komoditas gandum, jelai, dan minyak, dengan takaran yang
jelas hingga jangka waktu yang jelas.”
Aku bertanya, “(Apakah memesan) kepada orang yang memiliki komoditas asal di
sisinya?”
Ia menjawab, “Kami tidak pernah menanyakan hal itu kepada mereka.”
Kemudian mereka berdua mengutusku kepada ‘Abdurrahman bin Abza, lalu aku
bertanya kepadanya. Maka ia berkata, “Para sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—biasa melakukan pemesanan pada masa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—dan kami tidak pernah menanyakan kepada mereka apakah mereka memiliki
lahan pertanian atau tidak.”
حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ
الشَّيۡبَانِيِّ، عَنۡ مُحَمَّدِ بۡنِ أَبِي مُجَالِدٍ: بِهٰذَا، وَقَالَ:
فَنُسۡلِفُهُمۡ فِي الۡحِنۡطَةِ وَالشَّعِيرِ. وَقَالَ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ
الۡوَلِيدِ، عَنۡ سُفۡيَانَ: حَدَّثَنَا الشَّيۡبَانِيُّ وَقَالَ: وَالزَّيۡتِ.
حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الشَّيۡبَانِيِّ وَقَالَ: فِي
الۡحِنۡطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالزَّبِيبِ.
Ishaq telah menceritakan kepada kami: Khalid bin ‘Abdullah menceritakan kepada
kami dari Asy-Syaibani, dari Muhammad bin Abu Mujalid, dengan redaksi seperti
ini, dan ia berkata, “maka kami melakukan transaksi salaf/salam kepada mereka
untuk komoditas gandum dan jelai.”
‘Abdullah bin Al-Walid berkata dari Sufyan: Asy-Syaibani menceritakan kepada
kami dan ia berkata (dengan tambahan lafaz): “dan minyak.”
Qutaibah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari
Asy-Syaibani, dan ia berkata (dengan lafaz): “untuk komoditas gandum, jelai,
dan kismis.”