Cari Blog Ini

Asy-Syari'ah hadis nomor 529

٥٢٩ - وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكۡرٍ عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡحَمِيدِ الۡوَاسِطِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بۡنُ إِسۡمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ الثَّوۡرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي شَيۡخٌ - قَالَ مُؤَمَّلٌ: زَعَمُوا أَنَّهُ أَبُو رَجَاءٍ الۡخُرَاسَانِيُّ - أَنَّ عَدِيَّ بۡنَ أَرۡطَأَةَ كَتَبَ إِلَى عُمَرَ بۡنِ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ: إِنَّ قِبَلَنَا قَوۡمًا يَقُولُونَ: لَا قَدَرَ، فَاكۡتُبۡ إِلَيَّ بِرَأۡيِكَ فِيهِمۡ، وَاكۡتُبۡ إِلَيَّ بِالۡحُكۡمِ فِيهِمۡ، فَكَتَبَ إِلَيۡهِ:

529. Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Hamid Al-Wasithi telah menceritakan kepadaku. Ia berkata: Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami. Ia berkata: Muammal bin Isma’il menceritakan kepada kami. Ia berkata: Sufyan Ats-Tsauri menceritakan kepada kami. Ia berkata: Seorang syekh menceritakan kepadaku—Muammal berkata: Mereka mengira bahwa ia adalah Abu Raja` Al-Khurasani—bahwa ‘Adi bin Artha`ah menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Sesungguhnya di sisi kami ada suatu kaum yang mengatakan: Tidak ada takdir. Maka tulislah pendapatmu kepadaku tentang mereka dan tulislah hukuman bagi mereka kepadaku.”

Lalu beliau menulis surat kepadanya:

بِسۡمِ اللهِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيمِ

مِنۡ عَبۡدِ اللهِ عُمَرَ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ إِلَى عَدِيِّ بۡنِ أَرۡطَأَةَ؛ أَمَّا بَعۡدُ: فَإِنِّي أَحۡمَدُ إِلَيۡكَ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، أَمَّا بَعۡدُ: فَإِنِّي أُوصِيكَ بِتَقۡوَى اللهِ، وَالۡاِقۡتِصَادِ فِي أَمۡرِهِ، وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ ﷺ، وَتَرۡكِ مَا أَحۡدَثَ الۡمُحۡدِثُونَ مِمَّا قَدۡ جَرَتۡ سُنَّتُهُ، وَكُفُوا مُؤۡنَتَهُ، فَعَلَيۡكُمۡ بِلُزُومِ السُّنَّةِ؛ فَإِنَّ السُّنَّةَ إِنَّمَا سَنَّهَا مَنۡ قَدۡ عَرَفَ مَا فِي خِلَافِهَا مِنَ الۡخَطَأِ وَالزَّلَلِ، وَالۡحُمۡقِ وَالتَّعَمُّقِ، فَارۡضَ لِنَفۡسِكَ مَا رَضِيَ بِهِ الۡقَوۡمُ لِأَنۡفُسِهِمۡ، فَإِنَّهُمۡ عَنۡ عِلۡمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفَوۡا، وَلَهُمۡ كَانُوا عَلَى كَشۡفِ الۡأُمُورِ أَقۡوَى وَبِفَضۡلٍ لَوۡ كَانَ فِيهِ أَحۡرَى،

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari hamba Allah, ‘Umar, Amirulmukminin, kepada ‘Adi bin Artha`ah. Amabakdu, sesungguhnya aku menyampaikan kepadamu pujian kepada Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Amabakdu, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah, bersikap pertengahan dalam perkara-Nya, mengikuti sunah Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, serta meninggalkan apa saja yang diada-adakan oleh para pelaku bidah yang menyelisihi sunah yang telah beliau tetapkan, dan mereka telah dicukupkan dari beban (membuat aturan baru dalam agama). Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunah. Sebab, sunah itu ditetapkan oleh pihak yang benar-benar tahu bahwa menyelisihinya hanya akan membawa pada kesalahan, ketergelinciran, kebodohan, dan sikap berlebih-lebihan. Maka, terimalah dengan lapang dada apa yang telah diterima oleh orang-orang terdahulu (para sahabat). Sebab, mereka berhenti (tidak melampaui batas) atas dasar ilmu, dan mereka menahan diri dengan pandangan yang jauh ke depan. Mereka tentu lebih kuat untuk menyingkap segala perkara. Kalaupun ada suatu kebaikan di dalamnya, merekalah yang paling berhak mendapatkannya.

فَلَئِنۡ قُلۡتُمۡ: أَمۡرٌ حَدَثَ بَعۡدَهُمۡ، مَا أَحۡدَثَهُ بَعۡدَهُمۡ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَ غَيۡرَ سُنَّتِهِمۡ، وَرَغِبَ بِنَفۡسِهِ عَنۡهُمۡ، إِنَّهُمۡ لَهُمُ السَّابِقُونَ، فَقَدۡ تَكَلَّمُوا مِنۡهُ بِمَا يَكۡفِي، وَوَصَفُوا مِنۡهُ مَا يَشۡفِي، فَمَا دُونَهُمۡ مُقَصِّرٌ، وَمَا فَوۡقَهُمۡ مُحۡسِرٌ، لَقَدۡ قَصُرَ [دُونَهُمۡ قَوۡمٌ فَجَفَوۡا، وَطَمَحَ] عَنۡهُمۡ آخَرُونَ فَغَلَوۡا، وَإِنَّهُمۡ بَيۡنَ ذٰلِكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسۡتَقِيمٍ.

Jika kalian mengatakan: Perkara baru terjadi setelah mereka; ketahuilah, tidaklah ada yang mengada-adakannya melainkan orang yang mengikuti selain sunah mereka dan membenci mereka. Padahal, mereka benar-benar para pendahulu. Mereka telah membicarakan agama ini dengan sangat lengkap dan mereka telah memberikan gambaran yang memuaskan. Siapa pun yang mengurangi ajaran mereka berarti kurang (dalam beragama) dan siapa pun yang melebih-lebihkannya akan merasa payah sendiri. Sungguh, ada kelompok yang mengurangi ajaran mereka sehingga menjadi kaku, dan ada pula yang melampaui batas hingga menjadi ekstrem. Sementara itu, para pendahulu kita berada di tengah-tengah keduanya, benar-benar di atas petunjuk yang lurus.

كَتَبۡتَ تَسۡأَلُنِي عَنِ الۡقَدَرِ؟ عَلَى الۡخَبِيرِ بِإِذۡنِ اللهِ تَعَالَى سَقَطۡتَ، مَا أَحۡدَثَ الۡمُسۡلِمُونَ مُحۡدَثَةً، وَلَا ابۡتَدَعُوا بِدۡعَةً هِيَ أَبۡيَنُ أَمۡرًا، وَلَا أَثۡبَتُ مِنۡ أَمۡرِ الۡقَدَرِ، وَلَقَدۡ كَانَ ذِكۡرُهُ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ الۡجَهۡلَاءِ، يَتَكَلَّمُونَ بِهِ فِي كَلَامِهِمۡ، وَيَقُولُونَ بِهِ فِي أَشۡعَارِهِمۡ، يُعَزُّونَ بِهِ أَنۡفُسَهُمۡ عَنۡ مَصَائِبِهِمۡ، ثُمَّ جَاءَ الۡإِسۡلَامُ فَلَمۡ يَزِدۡهُ إِلَّا شِدَّةً وَقُوَّةً، ثُمَّ ذَكَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ فِي غَيۡرِ حَدِيثٍ وَلَا حَدِيثَيۡنِ وَلَا ثَلَاثَةٍ، فَسَمِعَهُ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَتَكَلَّمُوا فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَبَعۡدَ وَفَاتِهِ، يَقِينًا وَتَصۡدِيقًا وَتَسۡلِيمًا لِرَبِّهِمۡ وَتَضۡعِيفًا لِأَنۡفُسِهِمۡ: أَنۡ يَكُونَ شَيۡءٌ مِنَ الۡأَشۡيَاءِ لَمۡ يُحِطۡ بِهِ عِلۡمُهُ، وَلَمۡ يُحۡصِهِ كِتَابُهُ، وَلَمۡ يَنۡفُذۡ فِيهِ قَدَرُهُ.

Kamu telah menulis surat untuk bertanya kepadaku tentang takdir. Demi Allah, pertanyaanmu telah jatuh pada orang yang tepat dengan izin Allah taala. Tidaklah kaum muslimin membuat-buat suatu perkara yang diada-adakan dan tidaklah mereka membuat-buat suatu bidah yang lebih jelas perkaranya serta tidak pula yang lebih kukuh daripada perkara takdir. Masalah takdir sebenarnya sudah dikenal sejak zaman jahiliah yang kelam. Orang-orang saat itu biasa memperbincangkannya dalam ucapan sehari-hari dan menuangkannya ke dalam bait-bait syair sebagai penghibur diri saat tertimpa musibah. Ketika Islam datang, keyakinan terhadap takdir ini justru semakin diperkukuh dan diperkuat. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pun menyebutkannya dalam banyak kesempatan, bukan hanya satu, dua, atau tiga hadis. Kaum muslimin yang mendengarnya langsung dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terus memegang teguh keyakinan ini, baik semasa beliau hidup maupun setelah beliau wafat. Mereka menerimanya dengan penuh keyakinan, pembenaran, dan sikap pasrah kepada Rab mereka. Mereka sadar akan kelemahan diri mereka, serta yakin sepenuhnya bahwa tidak ada satu pun di alam semesta ini yang luput dari pengetahuan Allah, luput dari catatan kitab-Nya, atau terjadi di luar takdir-Nya.

فَلَئِنۡ قُلۡتُمۡ: قَدۡ قَالَ اللهُ تَعَالَى، فِي كِتَابِهِ: كَذَا وَكَذَا، وَلِمَ أَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى آيَةَ كَذَا وَكَذَا؟! لَقَدۡ قَرَؤُوا مِنۡهُ مَا قَدۡ قَرَأۡتُمۡ، وَعَلِمُوا مِنۡ تَأۡوِيلِهِ مَا جَهِلۡتُمۡ، ثُمَّ قَالُوا بَعۡدَ ذٰلِكَ كُلِّهِ: كِتَابٌ وَقَدَرٌ، وَكَتَبَ الشِّقۡوَةَ، وَمَا يُقَدَّرۡ يَكُنۡ، وَمَا شَاءَ كَانَ وَمَا لَمۡ يَشَأۡ لَمۡ يَكُنۡ، وَلَا نَمۡلِكُ لِأَنۡفُسِنَا ضَرًّا وَلَا نَفۡعًا، ثُمَّ رَغِبُوا بَعۡدَ ذٰلِكَ وَرَهِبُوا، وَالسَّلَامُ عَلَيۡكَ. كَتَبۡتَ إِلَيَّ تَسۡأَلُنِي الۡحُكۡمَ فِيهِمۡ، فَمَنۡ أُوتِيتَ بِهِ مِنۡهُمۡ فَأَوۡجِعۡهُ ضَرۡبًا، وَاسۡتَوۡدِعۡهُ الۡحَبۡسَ؛ فَإِنۡ تَابَ مِنۡ رَأۡيِهِ السُّوءِ، وَإِلَّا فَاضۡرِبۡ عُنُقَهُ.

Jika kalian membantah dengan mengatakan, “Bukankah Allah taala berfirman dalam Kitab-Nya begini dan begitu?” atau “Mengapa Allah taala menurunkan ayat ini dan itu?”, ketahuilah bahwa para sahabat pun membaca ayat yang sama dengan yang kalian baca. Namun, mereka memahami maksudnya jauh lebih baik daripada kalian.

Setelah membaca semua ayat itu, mereka tetap meyakini adanya Al-Qur’an dan takdir. Mereka percaya bahwa Allah telah menetapkan kesengsaraan bagi yang berhak, apa yang ditakdirkan pasti terjadi, apa yang Dia kehendaki pasti ada, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah ada. Kita semua tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk mendatangkan bahaya maupun manfaat bagi diri kita sendiri. Atas dasar keyakinan itulah mereka beribadah dengan penuh rasa harap dan cemas. Semoga keselamatan senantiasa tercurah kepadamu.

Terakhir, mengenai pertanyaanmu tentang hukuman bagi mereka yang mengingkari takdir: siapa saja dari mereka yang dihadapkan kepadamu, berikanlah hukuman cambuk yang menjerakan dan masukkan dia ke dalam penjara. Jika dia mau bertobat dari pemikiran buruknya itu, lepaskanlah. Namun jika menolak, tebaslah lehernya.