أُصُولُ السُّنَّةِ
Ushul As-Sunnah
Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
(164 - 241 H) rahimahullah
قَالَ الۡإِمَامُ اللَّالِكَائِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى:
أَخۡبَرَنَا عَلِيُّ بۡنُ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ السُّكَّرِيُّ، قَالَ:
حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَحۡمَدَ بۡنِ السَّمَّاكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو
مُحَمَّدٍ الۡحَسَنُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ (بۡنِ) أَبِي الۡعَنۡبَرِ
قِرَاءَةً عَلَيۡهِ مِنۡ كِتَابِهِ فِي شَهۡرِ رَبِيعٍ الۡأَوَّلِ مِنۡ سَنَةِ
ثَلَاثٍ وَتِسۡعِينَ وَمِائَتَيۡنِ (٢٩٣ هـ)، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعۡفَرٍ
مُحَمَّدُ بۡنُ سُلَيۡمَانَ الۡمُنۡقَرِيُّ الۡبَصۡرِيُّ بِـ(تِنِّيسَ) قَالَ:
حَدَّثَنِي عَبۡدُوسُ بۡنُ مَالِكٍ الۡعَطَّارُ، قَالَ: سَمِعۡتُ أَبَا عَبۡدِ
اللهِ أَحۡمَدَ بۡنَ حَنۡبَلٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ:
Al-Imam Al-Lalika`i—rahimahullahu ta’ala—berkata:
‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sukkari mengabarkan kepada kami. Ia
berkata: ‘Utsman bin Ahmad bin As-Sammak menceritakan kepada kami. Ia berkata:
Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Abdul Wahhab bin Abu Al-’Anbar menceritakan kepada
kami—melalui pembacaan di hadapannya dari kitabnya pada bulan Rabiulawal tahun
293 H—. Ia berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman Al-Munqari Al-Bashri
menceritakan kepada kami di Tinnis. Ia berkata: ‘Abdus bin Malik Al-Aththar
menceritakan kepadaku. Ia berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdullah Ahmad bin
Hanbal—rahimahullahu ta’ala—berkata:
أُصُولُ السُّنَّةِ عِنۡدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيۡهِ أَصۡحَابُ
رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَالِاقۡتِدَاءُ بِهِمۡ، وَتَرۡكُ الۡبِدَعِ، وَكُلُّ
بِدۡعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ، وَتَرۡكُ الۡخُصُومَاتِ وَالۡجُلُوسِ مَعَ
أَصۡحَابِ الۡأَهۡوَاءِ، وَتَرۡكُ الۡمِرَاءِ وَالۡجِدَالِ وَالۡخُصُومَاتِ فِي
الدِّينِ.
Pokok-pokok sunah menurut kami adalah:
- Berpegang teguh pada apa yang berada di atasnya para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan meneladani mereka.
- Meninggalkan bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan.
- Meninggalkan perselisihan/perdebatan dan meninggalkan duduk-duduk (bermajelis) bersama pengikut hawa nafsu.
- Meninggalkan percekcokan, perdebatan, dan perselisihan dalam urusan agama.
وَالسُّنَّةُ عِنۡدَنَا: آثَارُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَالسُّنَّةُ تُفَسِّرُ
الۡقُرۡآنَ، وَهِيَ دَلَائِلُ الۡقُرۡآنِ، وَلَيۡسَ فِي السُّنَّةِ قِيَاسٌ،
وَلَا تُضۡرَبُ لَهَا الۡأَمۡثَالُ، وَلَا تُدۡرَكُ بِالۡعُقُولِ وَلَا
الۡأَهۡوَاءِ، إِنَّمَا هُوَ الۡإِتِّبَاعُ وَتَرۡكُ الۡهَوَى.
Sunah menurut kami adalah rekam jejak Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—. Sunah adalah penjelas Al-Qur’an dan merupakan penunjuk (makna)
Al-Qur’an. Dalam sunah tidak ada kias (akal-akalan), tidak boleh dibuatkan
perumpamaan-perumpamaan, dan tidak dapat dicapai semata-mata dengan akal
maupun hawa nafsu. Yang ada hanyalah itibak (mengikuti) dan meninggalkan hawa
nafsu.
وَمِنَ السُّنَّةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي مَنۡ تَرَكَ مِنۡهَا خَصۡلَةً –لَمۡ
يَقۡبَلۡهَا وَيُؤۡمِنۡ بِهَا– لَمۡ يَكُنۡ مِنۡ أَهۡلِهَا:
الۡإِيمَانُ بِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ، وَالتَّصۡدِيقُ بِالۡأَحَادِيثِ
فِيهِ، وَالۡإِيمَانُ بِهَا، لَا يُقَالُ: لِمَ؟ وَلَا: كَيۡفَ؟ إِنَّمَا هُوَ
التَّصۡدِيقُ وَالۡإِيمَانُ بِهَا.
Di antara sunah yang wajib, yang barang siapa meninggalkan satu perkara saja
darinya—tidak menerimanya dan tidak beriman dengannya—maka ia belum termasuk
dari ahlinya (ahlisunah) adalah:
Beriman kepada takdir, baik dan buruknya, serta membenarkan hadis-hadis
tentangnya dan beriman kepadanya. Tidak boleh dipertanyakan: “Mengapa?” atau
“Bagaimana?”, melainkan kewajibannya hanyalah membenarkan dan beriman
kepadanya.
وَمَنۡ لَمۡ يَعۡرِفۡ تَفۡسِيرَ الۡحَدِيثِ وَيَبۡلُغۡهُ عَقۡلُهُ فَقَدۡ
كُفِيَ ذٰلِكَ وَأُحۡكِمَ لَهُ، فَعَلَيۡهِ الۡإِيمَانُ بِهِ وَالتَّسۡلِيمُ
لَهُ، مِثۡلُ حَدِيثِ: الصَّادِقِ الۡمَصۡدُوقِ، وَمِثۡلُ مَا كَانَ مِثۡلَهُ
فِي الۡقَدَرِ، وَمِثۡلُ أَحَادِيثِ الرُّؤۡيَةِ كُلِّهَا، وَإِنۡ [نَأَتۡ]
عَنِ الۡأَسۡمَاعِ وَاسۡتَوۡحَشَ مِنۡهَا الۡمُسۡتَمِعُ، وَإِنَّمَا عَلَيۡهِ
الۡإِيمَانُ بِهَا، وَأَنۡ لَا يَرُدَّ مِنۡهَا حَرۡفًا وَاحِدًا، وَغَيۡرُهَا
مِنَ الۡأَحَادِيثِ الۡمَأۡثُورَاتِ عَنِ الثِّقَاتِ.
Barang siapa tidak mengetahui penafsiran suatu hadis dan akalnya tidak mampu
menjangkaunya, maka hal itu sebenarnya telah dicukupi dan dijelaskan baginya.
Kewajibannya hanyalah beriman kepadanya dan berserah diri, seperti hadis:
Ash-Shadiq Al-Mashduq, dan hadis-hadis yang sejenis dengannya dalam masalah
takdir, serta seluruh hadis tentang ru`yah (melihat Allah di akhirat);
meskipun terasa asing bagi pendengaran dan membuat pendengarnya merasa
janggal. Kewajibannya hanyalah beriman kepadanya dan tidak menolak satu huruf
pun darinya, sebagaimana hadis-hadis lainnya yang diriwayatkan dari
perawi-perawi yang tepercaya.
وَأَنۡ لَا يُخَاصِمَ أَحَدًا وَلَا يُنَاظِرَهُ، وَلَا يَتَعَلَّمَ
الۡجِدَالَ؛ فَإِنَّ الۡكَلَامَ فِي الۡقَدَرِ وَالرُّؤۡيَةِ وَالۡقُرۡآنِ
وَغَيۡرِهَا مِنَ السُّنَنِ مَكۡرُوهٌ وَمَنِهِيٌّ عَنۡهُ، لَا يَكُونُ
صَاحِبُهُ –وَإِنۡ أَصَابَ بِكَلَامِهِ السُّنَّةَ– مِنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ
حَتَّى يَدَعَ الۡجِدَالَ وَيُسۡلِمَ وَيُؤۡمِنَ بِالۡآثَارِ.
Seseorang tidak boleh bertengkar dengan siapa pun, tidak mendebatnya, dan
tidak mempelajari ilmu perdebatan. Sebab, pembicaraan (perdebatan mendalam)
mengenai takdir, ru`yah (melihat Allah di akhirat), Al-Qur’an, dan sunah-sunah
lainnya adalah hal yang dibenci dan dilarang. Pelakunya tidak termasuk
Ahlisunah—meskipun ucapannya secara kebetulan sesuai dengan sunah—sampai ia
meninggalkan perdebatan, berserah diri, dan beriman penuh kepada atsar-atsar
(riwayat-riwayat sahih).
وَالۡقُرۡآنُ كَلَامُ اللهِ وَلَيۡسَ بِمَخۡلُوقٍ، وَلَا يَضۡعُفُ أَنۡ
يَقُولَ: لَيۡسَ بِمَخۡلُوقٍ؛ فَإِنَّ كَلَامَ اللهِ لَيۡسَ بِبَائِنٍ مِنۡهُ،
وَلَيۡسَ مِنۡهُ شَيۡءٌ مَخۡلُوق، وَإِيَّاكَ وَمُنَاظَرَةَ مَنۡ أَحۡدَثَ
فِيهِ، وَمَنۡ قَالَ بِاللَّفۡظِ وَغَيۡرِهِ، وَمَنۡ وَقَفَ فِيهِ فَقَالَ: لَا
أَدۡرِي مَخۡلُوقٌ أَوۡ لَيۡسَ بِمَخۡلُوقٍ، وَإِنَّمَا هُوَ كَلَامُ اللهِ،
فَهٰذَا صَاحِبُ بِدۡعَةٍ مِثۡلُ مَنۡ قَالَ: (هُوَ مَخۡلُوقٌ)، وَإِنَّمَا
هُوَ كَلَامُ اللهِ لَيۡسَ بِمَخۡلُوقٍ.
Al-Qur’an Adalah kalam Allah dan bukan makhluk. Seseorang tidak boleh merasa
lemah (ragu) untuk menegaskan: “Al-Qur’an bukan makhluk.” Karena sesungguhnya
kalam Allah itu tidak terpisah dari-Nya, dan tidak ada sesuatu pun dari-Nya
yang merupakan makhluk. Jauhilah olehmu berdebat dengan orang yang
mengada-adakan hal baru dalam masalah Al-Qur’an. Orang yang berpendapat
tentang lafaz (bahwa lafaz Al-Qur’an saat diucapkan adalah makhluk) dan orang
yang mengambil sikap abstain (diam) seraya berkata, “Aku tidak tahu apakah
Al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk. Aku hanya mengatakan ia adalah kalam
Allah.”; orang yang bersikap demikian adalah pelaku bidah, sama halnya dengan
orang yang terang-terangan mengatakan: “Al-Qur’an adalah makhluk.”
Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk.
وَالۡإِيمَانُ بِالرُّؤۡيَةِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، كَمَا رُوِيَ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ مِنَ الۡأَحَادِيثِ الصِّحَاحِ.
وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَدۡ رَأَى رَبَّهُ؛ فَإِنَّهُ مَأۡثُورٌ عَنۡ رَسُولِ
اللهِ ﷺ صَحِيحٌ، رَوَاهُ قَتَادَةُ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ
عَبَّاسٍ.
وَرَوَاهُ الۡحَكَمُ بۡنُ أَبَانَ، عَنۡ عِكۡرِمَةَ، عَنِ ابۡنِ
عَبَّاسٍ.
وَرَوَاهُ عَلِيُّ بۡنُ زَيۡدٍ، عَنۡ يُوسُفَ بۡنِ مِهۡرَانَ، عَنِ ابۡنِ
عَبَّاسٍ.
وَالۡحَدِيثُ عِنۡدَنَا عَلَى ظَاهِرِهِ كَمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ،
وَالۡكَلَامُ فِيهِ بِدۡعَةٌ، وَلَكِنۡ نُؤۡمِنُ بِهِ كَمَا جَاءَ عَلَى
ظَاهِرِهِ، وَلَا نُنَاظِرُ فِيهِ أَحَدًا.
Mengimani ru`yah (melihat Allah) pada hari Kiamat, sebagaimana yang telah
diriwayatkan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melalui hadis-hadis yang
sahih.
Mengimani Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah melihat Rabnya,
karena hal itu diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi
wa sallam—. Diriwayatkan oleh Qatadah, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan oleh ‘Ali bin Zaid, dari Yusuf bin Mihran, dari Ibnu ‘Abbas.
Hadis mengenai hal ini menurut kami dipahami sesuai dengan zahirnya (makna
tersuratnya) sebagaimana yang datang dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.
Memperdebatkan atau membicarakannya adalah bidah. Akan tetapi, kita wajib
beriman kepadanya sebagaimana ia datang sesuai zahirnya, dan kita tidak boleh
memperdebatkannya dengan siapa pun.
وَالۡإِيمَانُ بِالۡمِيزَانِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ كَمَا جَاءَ (يُوزَنُ
الۡعَبۡدُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ فَلَا يَزِنُ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ)، وَتُوزَنُ
أَعۡمَالُ الۡعِبَادِ كَمَا جَاءَ فِي الۡأَثَرِ، وَالۡإِيمَانُ بِهِ،
وَالتَّصۡدِيقُ بِهِ، وَالۡإِعۡرَاضُ عَنۡ مَنۡ رَدَّ ذٰلِكَ، وَتَرۡكُ
مُجَادَلَتِهِ.
Mengimani mizan (timbangan amal) pada hari kiamat sebagaimana riwayat yang
datang: “Seorang hamba didatangkan pada hari kiamat lalu ditimbang, namun
beratnya tidak sebanding dengan sebelah sayap nyamuk.”
Amal-amal perbuatan para hamba juga ditimbang sebagaimana dijelaskan dalam
riwayat. Wajib beriman dan membenarkannya, berpaling dari orang yang
menolaknya, serta tidak mendebatnya.
وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى يُكَلِّمُ الۡعِبَادَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، لَيۡسَ
بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَهُ تُرۡجُمَانٌ، وَالۡإِيمَانُ بِهِ، وَالتَّصۡدِيقُ
بِهِ.
Allah taala akan berbicara langsung dengan para hamba pada hari kiamat tanpa
ada penerjemah (perantara) antara Dia dan mereka, mengimani dan membenarkan
hal tersebut.
وَالۡإِيمَانُ بِالۡحَوۡضِ، وَأَنَّ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ حَوۡضًا يَوۡمَ
الۡقِيَامَةِ تَرِدُ عَلَيۡهِ أُمَّتُهُ، عَرۡضُهُ مِثۡلُ طُولِهِ مَسِيرَةَ
شَهۡرٍ، آنِيَتُهُ كَعَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ، عَلَى مَا صَحَّتۡ بِهِ
الۡأَخۡبَارُ مِنۡ غَيۡرِ وَجۡهٍ.
Mengimani haud (telaga di hari kiamat) dan bahwa Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—memiliki telaga pada hari kiamat yang akan didatangi oleh
umatnya. Lebarnya sama dengan panjangnya sejarak perjalanan satu bulan,
bejana-bejananya sebanyak bilangan bintang di langit, berdasarkan
riwayat-riwayat yang sahih dari berbagai jalur periwayatan.
وَالۡإِيمَانُ بِعَذَابِ الۡقَبۡرِ، وَأَنَّ هٰذِهِ الۡأُمَّةَ تُفۡتَنُ فِي
قُبُورِهَا، وَتُسۡأَلُ عَنِ الۡإِيمَانِ وَالۡإِسۡلَامِ، وَمَنۡ رَبُّهُ؟
وَمَنۡ نَبِيُّهُ؟
وَيَأۡتِيهِ مُنۡكَرٌ وَنَكِيرٌ، كَيۡفَ شَاءَ اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ،
وَكَيۡفَ أَرَادَ، وَالۡإِيمَانُ بِهِ وَالتَّصۡدِيقُ بِهِ.
Mengimani azab kubur dan bahwa umat ini akan diuji di dalam kubur
masing-masing, serta akan ditanya tentang iman, Islam, “Siapa Rabmu?”, dan
“Siapa Nabimu?”. Dan Malaikat Munkar dan Nakir akan mendatangi mereka dengan
tata cara yang Allah kehendaki dan inginkan, serta wajib beriman dan
membenarkan hal tersebut.
وَالۡإِيمَانُ بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ ﷺ، وَبِقَوۡمٍ يَخۡرُجُونَ مِنَ
النَّارِ بَعۡدَ مَا احۡتَرَقُوا وَصَارُوا فَحۡمًا، فَيُؤۡمَرُ بِهِمۡ إِلَى
نَهَرٍ عَلَى بَابِ الۡجَنَّةِ كَمَا جَاءَ فِي الۡأَثَرِ، كَيۡفَ شَاءَ اللهُ،
وَكَمَا شَاءَ [اللهُ]، إِنَّمَا هُوَ الۡإِيمَانُ بِهِ، وَالتَّصۡدِيقُ
بِهِ.
Mengimani syafaat Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan mengimani
bahwa akan ada sekelompok orang yang dikeluarkan dari neraka setelah mereka
hangus terbakar hingga menjadi arang, lalu diperintahkan agar mereka dibawa ke
sungai di depan pintu janah sebagaimana dijelaskan dalam riwayat, dengan tata
cara dan bentuk yang Allah kehendaki. Kewajibannya hanyalah beriman dan
membenarkannya.
وَالۡإِيمَانُ أَنَّ الۡمَسِيحَ الدَّجَّالَ خَارِجٌ، مَكۡتُوبٌ بَيۡنَ
عَيۡنَيۡهِ كَافِرٌ، وَالۡأَحَادِيثَ الَّتِي جَاءَتۡ فِيهِ، وَالۡإِيمَانُ
بِأَنَّ ذٰلِكَ كَائِنٌ.
Mengimani Al-Masih Ad-Dajjal pasti akan keluar, tertulis di antara kedua
matanya kata “kafir”, serta beriman kepada hadis-hadis yang menerangkannya dan
meyakini bahwa hal tersebut pasti akan terjadi.
وَأَنَّ عِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ عَلَيۡهِ السَّلَامُ يَنۡزِلُ فَيَقۡتُلُهُ
بِبَابِ لُدٍّ.
Beriman Bahwa ‘Isa bin Maryam—‘alaihis-salam—akan turun lalu membunuhnya di
pintu Ludd.
وَالۡإِيمَانُ قَوۡلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنۡقُصُ، كَمَا جَاءَ فِي
الۡخَبَرِ: (أَكۡمَلُ الۡمُؤۡمِنِينَ إِيمَانًا أَحۡسَنُهُمۡ خُلُقًا).
Iman Adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana
disebutkan dalam riwayat: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah
yang paling baik akhlaknya.”
وَمَنۡ تَرَكَ الصَّلَاةَ فَقَدۡ كَفَرَ، وَلَيۡسَ مِنَ الۡأَعۡمَالِ شَيۡءٌ
تَرۡكُهُ كُفۡرٌ إِلَّا الصَّلَاةَ، مَنۡ تَرَكَهَا فَهُوَ كَافِرٌ، وَقَدۡ
أَحَلَّ اللهُ قَتۡلَهُ.
Barang siapa yang meninggalkan salat, sungguh ia telah kafir, serta tidak ada
suatu amal pun yang meninggalkannya merupakan kekufuran selain salat. Barang
siapa yang meninggalkannya maka ia kafir dan Allah telah menghalalkan untuk
dijatuhi hukuman mati.
وَخَيۡرُ هٰذِهِ الۡأُمَّةِ بَعۡدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ،
ثُمَّ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، ثُمَّ عُثۡمَانُ بۡنُ عَفَّانَ، نُقَدِّمُ
هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ كَمَا قَدَّمَهُمۡ أَصۡحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، لَمۡ
يَخۡتَلِفُوا فِي ذٰلِكَ.
Manusia terbaik dari umat ini setelah nabinya adalah: Abu Bakr Ash-Shiddiq,
kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan. Kita
mendahulukan ketiga sahabat ini sebagaimana para sahabat
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendahulukan mereka, dan para sahabat
tidak berselisih mengenai hal tersebut.
ثُمَّ بَعۡدَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ أَصۡحَابُ الشُّورَى الۡخَمۡسَةُ:
عَلِيُّ بۡنُ أَبِي طَالِبٍ، وَالزُّبَيۡرُ، وَعَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَوۡفٍ،
وَسَعۡدٌ، وَطَلۡحَةُ، كُلُّهُمۡ يَصۡلُحُ لِلۡخِلَافَةِ، وَكُلُّهُمۡ إِمَامٌ،
وَنَذۡهَبُ فِي ذٰلِكَ إِلَى حَدِيثِ ابۡنِ عُمَرَ: (كُنَّا نَعُدُّ وَرَسُولُ
اللهِ ﷺ حَيٌّ وَأَصۡحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ: أَبُو بَكۡرٍ، ثُمَّ عُمَرُ،
ثُمَّ عُثۡمَانُ، ثُمَّ نَسۡكُتُ).
Kemudian setelah ketiga sahabat tersebut adalah lima orang anggota majelis
syura: ‘Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d, dan
Thalhah; semuanya layak untuk kekhalifahan dan semuanya adalah pemimpin. Dalam
hal ini kita berpegang pada hadis Ibnu ‘Umar: “Dahulu saat
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—masih hidup dan para sahabatnya masih
banyak, kami mengurutkan sahabat dari tingkat keutamaannya: Abu Bakr, kemudian
‘Umar, kemudian ‘Utsman, lalu kami diam.”
ثُمَّ مِنۡ بَعۡدِ أَصۡحَابِ الشُّورَى: أَهۡلُ بَدۡرٍ مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ،
ثُمَّ أَهۡلُ بَدۡرٍ مِنَ الۡأَنۡصَارِ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى
قَدۡرِ الۡهِجۡرَةِ وَالسَّابِقَةِ أَوَّلًا فَأَوَّلًا.
Kemudian setelah anggota syura adalah: Para pejuang Perang Badr dari kalangan
Muhajirin, kemudian pejuang Perang Badr dari kalangan Ansar dari para sahabat
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, sesuai dengan tingkatan hijrah dan
keutamaan yang lebih dahulu.
ثُمَّ أَفۡضَلُ النَّاسِ بَعۡدَ هَؤُلَاءِ أَصۡحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ:
الۡقَرۡنُ الَّذِي بُعِثَ فِيهِمۡ.
وَكُلُّ مَنۡ صَحِبَهُ سَنَةً أَوۡ شَهۡرًا أَوۡ يَوۡمًا أَوۡ سَاعَةً، أَوۡ
رَآهُ فَهُوَ مِنۡ أَصۡحَابِهِ، لَهُ مِنَ الصُّحۡبَةِ عَلَى قَدۡرِ مَا
صَحِبَهُ، وَكَانَتۡ سَابِقَتُهُ مَعَهُ، وَسَمِعَ مِنۡهُ، وَنَظَرَ إِلَيۡهِ
نَظۡرَةً، فَأَدۡنَاهُمۡ صُحۡبَةً هُوَ أَفۡضَلُ مِنَ الۡقَرۡنِ الَّذِينَ لَمۡ
يَرَوۡهُ، وَلَوۡ لَقُوا اللهَ بِجَمِيعِ الۡأَعۡمَالِ، كَانَ هَؤُلَاءِ
الَّذِينَ صَحِبُوا النَّبِيَّ ﷺ وَرَأَوۡهُ وَسَمِعُوا مِنۡهُ، وَمَنۡ رَآهُ
بِعَيۡنِهِ وَآمَنَ بِهِ وَلَوۡ سَاعَةً، أَفۡضَلَ –لِصُحۡبَتِهِمۡ– مِنَ
التَّابِعِينَ، وَلَوۡ عَمِلُوا كُلَّ أَعۡمَالِ الۡخَيۡرِ.
Kemudian manusia yang paling utama setelah mereka adalah: seluruh sahabat
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, yaitu generasi di mana beliau
diutus di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang mendampingi beliau selama
setahun, sebulan, sehari, satu jam, atau pernah melihat beliau, maka ia
termasuk sahabatnya. Dia mendapatkan keutamaan persahabatan sesuai dengan
kadar kebersamaannya, tingkatan keislamannya yang lebih dahulu bersama beliau,
(kadar) pendengarannya langsung dari beliau, maupun sebatas pernah menatap
beliau walaupun hanya sekali pandang. Jadi, sahabat yang paling rendah tingkat
kebersamaannya tetap lebih utama daripada generasi yang tidak pernah melihat
beliau, meskipun generasi sesudahnya berjumpa dengan Allah dengan membawa
seluruh amal kebaikan. Mereka yang pernah mendampingi Nabi—shallallahu ‘alaihi
wa sallam—, melihat beliau, serta mendengar langsung dari beliau, maupun orang
yang pernah melihat beliau dengan matanya sendiri dan beriman kepada
beliau—walaupun hanya sejenak—adalah lebih utama karena keutamaan persahabatan
mereka dibandingkan generasi tabiin, meskipun para tabiin tersebut melakukan
seluruh amal kebaikan.
وَالسَّمۡعُ وَالطَّاعَةُ لِلۡأَئِمَّةِ، وَأَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ الۡبَرِّ
وَالۡفَاجِرِ، وَمَنۡ وَلِيَ الۡخِلَافَةَ، وَاجۡتَمَعَ النَّاسُ عَلَيۡهِ،
وَرَضُوا بِهِ، وَمَنۡ [غَلَبَهُمۡ] بِالسَّيۡفِ حَتَّى صَارَ خَلِيفَةً،
وَسُمِّيَ أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ.
Mendengar dan taat kepada para pemimpin dan Amirulmukminin baik yang saleh
maupun yang jahat. Serta taat kepada siapa saja yang memegang kekhalifahan
yang manusia bersatu di bawah kepemimpinannya dan meridainya, atau siapa saja
yang menguasai mereka dengan pedang (kekuatan) hingga menjadi khalifah dan
dinamai Amirulmukminin.
وَالۡغَزۡوُ مَاضٍ مَعَ الۡأُمَرَاءِ إِلَى يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ الۡبَرِّ
وَالۡفَاجِرِ لَا يُتۡرَكُ.
وَقِسۡمَةُ الۡفَيۡءِ وَإِقَامَةُ الۡحُدُودِ إِلَى الۡأَئِمَّةِ مَاضٍ،
لَيۡسَ لِأَحَدٍ أَنۡ يَطۡعَنَ عَلَيۡهِمۡ، وَلَا يُنَازِعَهُمۡ، وَدَفۡعُ
الصَّدَقَاتِ إِلَيۡهِمۡ جَائِزَةٌ نَافِذَةٌ، مَنۡ دَفَعَهَا إِلَيۡهِمۡ
أَجۡزَأَتۡ عَنۡهُ، بَرًّا كَانَ أَوۡ فَاجِرًا.
وَصَلَاةُ الۡجُمُعَةِ خَلۡفَهُ وَخَلۡفَ مَنۡ وَلَّاهُ، جَائِزَةٌ بَاقِيَةٌ
تَامَّةٌ رَكۡعَتَيۡنِ، مَنۡ أَعَادَهُمَا فَهُوَ مُبۡتَدِعٌ تَارِكٌ
لِلۡآثَارِ، مُخَالِفٌ لِلُّسُنَّةِ، لَيۡسَ لَهُ مِنۡ فَضۡلِ الۡجُمُعَةِ
شَيۡءٌ؛ إِذَا لَمۡ يَرَ الصَّلَاةَ خَلۡفَ الۡأَئِمَّةِ –مَنۡ كَانُوا–
بَرَّهُمۡ وَفَاجِرَهُمۡ، فَالسُّنَّةُ بِأَنۡ يُصَلِّيَ مَعَهُمۡ
رَكۡعَتَيۡنِ، وَيَدِينَ بِأَنَّهَا تَامَّةٌ، لَا يَكُنۡ فِي صَدۡرِكَ مِنۡ
ذٰلِكَ [شَكٌّ].
Jihad/Perang tetap berlangsung bersama pemimpin hingga hari kiamat, baik
bersama pemimpin yang saleh maupun yang jahat, dan tidak boleh ditinggalkan.
Pembagian fai dan penegakan hukum hudud adalah wewenang para pemimpin. Hal itu
terus berlaku, dan tidak ada hak bagi seorang pun untuk mencela (keputusan)
mereka atau merebut wewenang mereka. Menyerahkan zakat kepada para pemimpin
adalah boleh dan sah. Barang siapa menyerahkannya kepada mereka, maka hal itu
telah mencukupi, baik pemimpin tersebut saleh maupun jahat.
Salat Jumat di belakang pemimpin maupun orang yang ditunjuknya adalah boleh,
sah, dan sempurna dua rakaat. Barang siapa yang mengulanginya, maka ia adalah
pelaku bidah, meninggalkan riwayat-riwayat sahih (atsar), dan menyelisihi
sunah. Ia tidak mendapatkan keutamaan Jumat sedikit pun jika ia memandang
tidak boleh salat di belakang para pemimpin, baik mereka saleh maupun jahat.
Jadi, Sunah menuntunkan agar salat dua rakaat bersama mereka dan meyakini
bahwa salat tersebut sempurna, serta jangan ada keraguan sedikit pun di dalam
dadamu mengenai hal itu.
وَمَنۡ خَرَجَ عَلَى إِمَامٍ مِنۡ أَئِمَّةِ الۡمُسۡلِمِينَ –كَانَ النَّاسُ
اجۡتَمَعُوا عَلَيۡهِ وَأَقَرُّوا بِالۡخِلَافَةِ، بِأَيِّ وَجۡهٍ كَانَ،
بِالرِّضَا أَوۡ بِالۡغَلَبَةِ فَقَدۡ شَقَّ هٰذَا الۡخَارِجُ عَصَا
الۡمُسۡلِمِينَ، وَخَالَفَ الۡآثَارَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَإِنۡ مَاتَ
الۡخَارِجُ عَلَيۡهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً.
Barang siapa memberontak kepada pemimpin muslimin, yang mana manusia telah
bersatu di bawahnya dan mengakui kekhalifahannya dengan cara apa pun—baik
dengan keridaan maupun dengan penaklukan—, maka orang yang memberontak ini
sungguh telah memecah belah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi
riwayat-riwayat dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Jika
pemberontak tersebut mati dalam perbuatannya, ia mati dalam keadaan mati
jahiliah.
وَلَا يَحِلُّ قِتَالُ السُّلۡطَانِ، وَلَا الۡخُرُوجُ عَلَيۡهِ لِأَحَدٍ مِنَ
النَّاسِ، فَمَنۡ فَعَلَ ذٰلِكَ فَهُوَ مُبۡتَدِعٌ عَلَى غَيۡرِ السُّنَّةِ
وَالطَّرِيقِ.
Tidak halal memerangi penguasa maupun memberontak kepadanya bagi seorang pun.
Barang siapa melakukan hal tersebut, maka ia adalah pelaku bidah yang tidak
berada di atas Sunah dan jalan yang benar.
وَقِتَالُ اللُّصُوصِ وَالۡخَوَارِجِ جَائِزٌ، إِذَا عَرَضُوا لِلرَّجُلِ فِي
نَفۡسِهِ وَمَالِهِ؛ فَلَهُ أَنۡ يُقَاتِلَ عَنۡ نَفۡسِهِ وَمَالِهِ،
وَيَدۡفَعَ عَنۡهَا بِكُلِّ مَا يَقۡدِرُ، وَلَيۡسَ لَهُ إِذَا فَارَقُوهُ أَوۡ
تَرَكُوهُ أَنۡ يَطۡلُبَهُمۡ، وَلَا يَتَّبِعَ آثَارَهُمۡ، لَيۡسَ لِأَحَدٍ
إِلَّا الۡإِمَامُ أَوۡ وُلَاةُ الۡمُسۡلِمِينَ، وَإِنَّمَا لَهُ أَنۡ يَدۡفَعَ
عَنۡ نَفۡسِهِ فِي مَقَامِهِ ذٰلِكَ، وَيَنۡوِيَ بِجَهۡدِهِ أَنۡ لَا يَقۡتُلَ
أَحَدًا، فَإِنۡ مَاتَ عَلَى يَدَيۡهِ فِي دَفۡعِهِ عَنۡ نَفۡسِهِ فِي
الۡمَعۡرَكَةِ فَأَبۡعَدَ اللهُ الۡمَقۡتُولَ، وَإِنۡ قُتِلَ هٰذَا فِي تِلۡكَ
الۡحَالِ وَهُوَ يَدۡفَعُ عَنۡ نَفۡسِهِ وَمَالِهِ رَجَوۡتُ لَهُ الشَّهَادَةَ،
كَمَا جَاءَ فِي الۡأَحَادِيثِ وَجَمِيعِ الۡآثَارِ فِي هٰذَا إِنَّمَا أُمِرَ
بِقِتَالِهِ. وَلَمۡ يُؤۡمَرۡ بِقَتۡلِهِ وَلَا اتِّبَاعِهِ، وَلَا يُجِيزُ
عَلَيۡهِ إِنۡ صُرِعَ أَوۡ كَانَ جَرِيحًا، وَإِنۡ أَخَذَهُ أَسِيرًا فَلَيۡسَ
لَهُ أَنۡ يَقۡتُلَهُ، وَلَا يُقِيمَ عَلَيۡهِ الۡحَدَّ، وَلَكِنۡ يَرۡفَعُ
أَمۡرَهُ إِلَى مَنۡ وَلَّاهُ اللهُ، فَيَحۡكُمُ فِيهِ.
Memerangi perampok dan Khawarij adalah boleh. Jika mereka menghadang seseorang
untuk mengganggu jiwa maupun hartanya, ia berhak membela jiwa dan hartanya
serta menolaknya dengan segala kemampuan yang ada. Namun, jika mereka telah
berpisah atau meninggalkannya, ia tidak boleh mengejar atau memburu mereka.
Kewenangan memburu hanyalah milik pemerintah atau para petugas kaum muslimin.
Wewenang orang tersebut hanyalah membela dirinya di tempat kejadian itu saja,
dan hendaklah ia berniat sekuat tenaga untuk tidak membunuh siapa pun. Jika
orang jahat itu mati di tangannya saat ia membela diri dalam pertempuran
tersebut, semoga Allah menjauhkan orang yang terbunuh itu (dari rahmat-Nya).
Namun, jika orang yang membela diri ini yang terbunuh dalam keadaan membela
jiwa dan hartanya, maka aku berharap ia mendapatkan mati syahid, sebagaimana
dijelaskan dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat. Dalam kondisi ini, yang
diperintahkan hanyalah memerangi (membela diri) dan bukan sengaja membunuh,
tidak boleh mengejar perampok yang lari, tidak boleh menghabisi perampok yang
sudah roboh atau terluka, dan jika berhasil menawannya, ia tidak berhak
membunuhnya atau menjatuhkan hukuman hudud atasnya, melainkan wajib
menyerahkan urusannya kepada penguasa yang diberi wewenang oleh Allah agar ia
menghakimi perkara tersebut.
وَلَا نَشۡهَدُ عَلَى أَحَدٍ مِنۡ أَهۡلِ الۡقِبۡلَةِ بِعَمَلٍ يَعۡمَلُهُ
بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ، نَرۡجُو لِلصَّالِحِ وَنَخَافُ عَلَيۡهِ، وَنَخَافُ
عَلَى الۡمُسِيءِ الۡمُذۡنِبِ، وَنَرۡجُو لَهُ رَحۡمَةَ اللهِ.
Kami tidak memastikan (bersaksi atas) seorang pun dari ahli kiblat (umat
Islam) masuk janah atau neraka karena amalan yang dikerjakannya. Kami berharap
pahala bagi orang yang saleh namun tetap mengkhawatirkannya. Kami
mengkhawatirkan azab bagi orang yang berbuat kejahatan dan dosa, namun tetap
berharap ia mendapatkan rahmat Allah.
وَمَنۡ لَقِيَ اللهَ بِذَنۡبٍ تَجِبُ لَهُ بِهِ النَّارُ تَائِبًا غَيۡرَ
مُصِرٍّ عَلَيۡهِ؛ فَإِنَّ اللهَ يَتُوبُ عَلَيۡهِ، وَيَقۡبَلُ التَّوۡبَةَ
عَنۡ عِبَادِهِ، وَيَعۡفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ.
Barang siapa yang menemui Allah (meninggal dunia) membawa dosa yang
mewajibkannya masuk neraka dalam keadaan bertobat serta tidak terus-menerus
melakukan dosa tersebut, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Allah
menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.
وَمَنۡ لَقِيَهُ وَقَدۡ أُقِيمَ عَلَيۡهِ حَدُّ ذَلِك الذَّنۡبِ فِي
الدُّنۡيَا، فَهُوَ كَفَّارَتُهُ؛ كَمَا جَاءَ فِي الۡخَبَرِ عَنۡ رَسُولِ
اللهِ ﷺ، وَمَنۡ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيۡرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي
اسۡتَوۡجَبَ بِهَا الۡعُقُوبَةَ فَأَمۡرُهُ إِلَى اللهِ، إِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُ،
وَإِنۡ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَمَنۡ لَقِيَهُ وَهُوَ كَافِرٌ عَذَّبَهُ وَلَمۡ
يَغۡفِرۡ لَهُ.
Barang siapa yang menemui Allah (meninggal dunia), sedangkan hukuman hudud
atas dosa tersebut telah dilaksanakan atasnya sewaktu di dunia, maka hukuman
tersebut menjadi penggugur dosanya, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Barang siapa yang menemui Allah
dalam keadaan terus-menerus berbuat dosa dan belum bertobat dari dosa-dosa
yang membuatnya berhak menerima siksa, maka urusannya terserah kepada Allah:
jika Dia berkehendak, Dia akan mengazabnya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan
mengampuninya. Barang siapa yang menemui Allah dalam keadaan kafir, maka Allah
pasti mengazabnya dan tidak akan mengampuninya.
وَالرَّجۡمُ حَقٌّ عَلَى مَنۡ زَنَا وَقَدۡ أُحۡصِنَ، إِذَا اعۡتَرَفَ أَوۡ
قَامَتۡ عَلَيۡهِ بَيِّنَةٌ، وَقَدۡ رَجَمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَقَدۡ رَجَمَتِ
الۡأَئِمَّةُ الرَّاشِدُونَ.
Hukuman rajam adalah kebenaran (syariat yang sah) bagi orang yang berzina
dalam keadaan ia telah muhshan (pernah/sedang menikah secara sah), apabila ia
telah mengaku atau telah terbukti. Sungguh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—serta para Khulafaurasyidin telah melaksanakan hukuman rajam.
وَمَنِ انۡتَقَصَ أَحَدًا مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، أَوۡ أَبۡغَضَهُ
بِحَدَثٍ كَانَ مِنۡهُ، أَوۡ ذَكَرَ مَسَاوِئَهُ، كَانَ مُبۡتَدِعًا، حَتَّى
يَتَرَحَّمَ عَلَيۡهِمۡ جَمِيعًا، وَيَكُونَ قَلۡبُهُ لَهُمۡ سَلِيمًا.
Barang siapa yang mencela salah seorang dari sahabat Rasulullah—shallallahu
‘alaihi wa sallam—, atau membencinya karena suatu peristiwa yang terjadi
dengannya, atau menyebut-nyebut keburukannya, maka ia adalah seorang pelaku
bidah sampai ia mendoakan rahmat bagi mereka seluruhnya dan hatinya bersih
(dari kebencian) terhadap mereka.
وَالنِّفَاقُ هُوَ: الۡكُفۡرُ، أَنۡ يَكۡفُرَ بِاللهِ وَيَعۡبُدَ غَيۡرَهُ،
وَيُظۡهِرَ الۡإِسۡلَامَ فِي الۡعَلَانِيَةِ، مِثۡلَ الۡمُنَافِقِينَ الَّذِينَ
كَانُوا عَلَى عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ.
Nifaq adalah kekufuran; yaitu seseorang kufur kepada Allah dan menyembah
selain-Nya tetapi menampakkan keislaman secara lahiriah, seperti orang-orang
munafik yang ada pada zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.
وَقَوۡلُهُ ﷺ: (ثَلَاثٌ مَنۡ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ) هٰذَا عَلَى
التَّغۡلِيظِ، نَرۡوِيهَا كَمَا جَاءَتۡ، وَلَا نُفَسِّرُهَا.
وَقَوۡلُهُ ﷺ: (لَا تَرۡجِعُوا بَعۡدِي كُفَّارًا ضُلَّالًا يَضۡرِبُ
بَعۡضُكُمۡ رِقَابَ بَعۡضٍ)، وَمِثۡلُ: (إِذَا الۡتَقَى الۡمُسۡلِمَانِ
بِسَيۡفَيۡهِمَا، فَالۡقَاتِلُ وَالۡمَقۡتُولُ فِي النَّارِ)، وَمِثۡلُ:
(سِبَابُ الۡمُسۡلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفۡرٌ)، وَمِثۡلُ: (مَنۡ قَالَ
لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدۡ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا)، وَمِثۡلُ: (كُفۡرٌ
بِاللهِ تَبَرُّؤٌ مِنۡ نَسَبٍ وَإِنۡ دَقَّ)، وَنَحۡوُ هٰذِهِ الۡأَحَادِيثِ
مِمَّا قَدۡ صَحَّ وَحُفِظَ، فَإِنَّا نُسَلِّمُ لَهُ، وَإِنۡ لَمۡ نَعۡلَمۡ
تَفۡسِيرَهَا، وَلَا نَتَكَلَّمُ فِيهَا، وَلَا نُجَادِلُ فِيهَا، وَلَا
نُفَسِّرُ هٰذِهِ الۡأَحَادِيثَ إِلَّا مِثۡلَ مَا جَاءَتۡ، لَا نَرُدُّهَا
إِلَّا بِأَحَقٍّ مِنۡهَا.
Sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Tiga perangai yang barang siapa
terdapat padanya maka ia adalah munafik.” Riwayat ini dipahami sebagai
peringatan yang sangat keras. Kami meriwayatkannya sebagaimana datangnya dan
kami tidak menafsirkannya.
Begitu pula sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Janganlah kalian
kembali menjadi kafir yang sesat setelahku, di mana sebagian kalian memenggal
leher sebagian yang lain.”
Juga hadis: “Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedangnya, maka
yang membunuh dan yang terbunuh berada di neraka.”
Hadis: “Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah
kufur.”
Hadis: “Barang siapa berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir!’, maka kata itu
kembali kepada salah satu dari keduanya.”
Serta hadis: “Suatu kekufuran kepada Allah mengingkari garis keturunan
walaupun sangat samar.”
Hadis-hadis semisal ini yang telah sahih dan terjaga riwayatnya. Kami berserah
diri kepadanya meskipun kami tidak mengetahui tafsir rincinya. Kami tidak
memperdebatkannya, tidak membicarakannya dengan logika, dan tidak
menafsirkannya melainkan sebagaimana ia datang, serta kami tidak menolaknya
kecuali ada riwayat lain yang lebih benar.
وَالۡجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخۡلُوقَتَانِ قَدۡ خُلِقَتَا، كَمَا جَاءَ عَنۡ
رَسُولِ اللهِ ﷺ: (دَخَلۡتُ الۡجَنَّةَ فَرَأَيۡتُ قَصۡرًا)، وَ(رَأَيۡتُ
الۡكَوۡثَرَ)، (وَاطَّلَعۡتُ فِي الۡجَنَّةِ، فَرَأَيۡتُ أَكۡثَرَ أَهۡلِهَا…
كَذَا)، وَ(وَاطَّلَعۡتُ فِي النَّارِ، فَرَأَيۡتُ… كَذَا وَكَذَا)، فَمَنۡ
زَعَمَ أَنَّهُمَا لَمۡ تُخۡلَقَا، فَهُوَ مُكَذِّبٌ بِالۡقُرۡآنِ وَأَحَادِيثِ
رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَلَا أَحۡسَبُهُ يُؤۡمِنُ بِالۡجَنَّةِ وَالنَّارِ.
Janah dan neraka adalah dua makhluk yang sudah diciptakan sekarang,
sebagaimana riwayat dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Aku masuk
ke janah lalu melihat istana”, “Aku melihat Al-Kautsar”, “Aku melihat ke dalam
janah lalu melihat mayoritas penghuninya adalah … demikian”, dan “Aku melihat
ke dalam neraka lalu melihat … demikian dan demikian”.
Barang siapa menduga bahwa keduanya belum diciptakan, maka ia telah
mendustakan Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—, dan aku tidak menganggapnya beriman kepada janah dan neraka.
وَمَنۡ مَاتَ مِنۡ أَهۡلِ الۡقِبۡلَةِ مُوَحِّدًا يُصَلَّى عَلَيۡهِ،
وَيُسۡتَغۡفَرُ لَهُ، وَلَا يُحۡجَبُ عَنۡهُ الِاسۡتِغۡفَارُ، وَلَا تُتۡرَكُ
الصَّلَاةُ عَلَيۡهِ لِذَنۡبٍ أَذۡنَبَهُ –صَغِيرًا كَانَ أَوۡ كَبِيرًا–
أَمۡرُهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى.
Barang siapa yang meninggal dari kalangan ahli kiblat (umat Islam) dalam
keadaan menauhidkan Allah, jenazahnya disalatkan dan dia dimohonkan ampunan.
Permohonan ampunan tidak boleh dihalangi darinya. Salat jenazah tidak boleh
ditinggalkan baginya dengan alasan dosa yang pernah diperbuatnya, baik dosa
kecil maupun dosa besar. Urusannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah taala.
Referensi: Kitab Syarh Ushul As-Sunnah, karya Syekh Rabi’ bin Hadi
‘Umair Al-Madkhali cetakan Dar Al-Mirats An-Nabawi tahun 1436 H.