Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1395

١ – بَابُ وُجُوبِ الزَّكَاةِ

1. Bab kewajiban zakat

وَقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ﴾ [البقرة: ٤٣]. وَقَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: حَدَّثَنِي أَبُو سُفۡيَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ؛ فَذَكَرَ حَدِيثَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: يَأۡمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّلَةِ وَالۡعَفَافِ.
Dan firman Allah ta'ala, “Dan tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43). Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu telah menceritakan kepadaku; Lalu beliau menyebutkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda: Beliau memerintahkan kami untuk shalat, zakat, menyambung silaturahmi, dan menjaga kehormatan diri.
١٣٩٥ – حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بۡنُ مَخۡلَدٍ، عَنۡ زَكَرِيَّاءَ بۡنِ إِسۡحَاقَ، عَنۡ يَحۡيَىٰ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَيۡفِيِّ، عَنۡ أَبِي مَعۡبَدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ إِلَى الۡيَمَنِ، فَقَالَ: (ادۡعُهُمۡ إِلَى شَهَادَةِ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، فَإِنۡ هُمۡ أَطَاعُوا لِذٰلِكَ، فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ قَدِ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوۡمٍ وَلَيۡلَةٍ، فَإِنۡ هُمۡ أَطَاعُوا لِذٰلِكَ، فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً فِي أَمۡوَالِهِمۡ، تُؤۡخَذُ مِنۡ أَغۡنِيَائِهِمۡ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمۡ).
1395. Abu 'Ashim Adh-Dhahhak bin Makhlad telah menceritakan kepada kami, dari Zakariyya bin Ishaq, dari Yahya bin 'Abdullah bin Shaifi, dari Abu Ma'bad, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz ke Yaman, kemudian beliau bersabda, “Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaati hal itu, maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat dalam sehari semalam. Jika mereka mentaati hal itu, maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.”
[الحديث ١٣٩٥ – أطرافه في: ١٤٥٨، ١٤٩٦، ٢٤٤٨، ٤٣٤٧، ٧٣٧١، ٧٣٧٢].

Manhajus Salikin - Kitab Zakat (2), Bab Zakat Fithri

Bab Zakat Fithri

Dari Ibnu Umar, beliau berkata,
فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ: صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat al-fithr 1 sha’ kurma atau 1 sha’ jelai, atas orang yang merdeka atau hamba, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Dan beliau memerintahkannya untuk ditunaikan sebelum keluarnya manusia untuk shalat ‘idul fithr.” (Muttafaqun ‘alaih[1]). Zakat wajib atas diri seseorang dan atas orang-orang yang berada di bawah tanggungannya, jika dia memiliki kelebihan kebutuhan pokoknya pada hari dan malam tersebut, yaitu berupa 1 sha’ kurma, sya'ir (jelai), aqith (susu yang dikeringkan), zabib (kismis), atau burr (gandum).
Yang paling utama adalah yang paling bermanfaat, dan tidak boleh mengakhirkannya setelah hari ‘id.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkannya sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa, makanan bagi orang miskin. Barangsiapa yang menunaikan sebelum shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima. Barangsiapa yang menunaikan setelah shalat, maka itu adalah sedekah dari sedekah-sedekah sunnah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah[2]).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي طَاعَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ مُعَلَّقٌ قَلْبُهُ بِالْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di dalam naunganNya pada hari tidak naungan kecuali naunganNya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, seorang yang tergantung hatinya kepada masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: Sesungguhnya saya takut kepada Allah; dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu dia menangis.” (Muttafaqun ‘alaih[3]).

[1] HR. Al-Bukhari (1503) dan Muslim (984).
[2] HR. Abu Dawud (1609) dan Ibnu Majah (1827) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
[3] HR. Al-Bukhari (660) dan Muslim (1031) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Shahih Muslim hadits nomor 1031

٣٠ – بَابُ فَضۡلِ إِخۡفَاءِ الصَّدَقَةِ

30. Bab keutamaan menyembunyikan sedekah

٩١ – (١٠٣١) – حَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ وَمُحَمَّدُ بۡنُ الۡمُثَنَّى. جَمِيعًا عَنۡ يَحۡيَىٰ الۡقَطَّانِ. قَالَ زُهَيۡرٌ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ سَعِيدٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ: أَخۡبَرَنِي خُبَيۡبُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ حَفۡصِ بۡنِ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: (سَبۡعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوۡمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الۡإِمَامُ الۡعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلۡبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الۡمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ، اجۡتَمَعَا عَلَيۡهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيۡهِ، وَرَجُلٌ دَعَتۡهُ امۡرَأَةٌ ذَاتُ مَنۡصَبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخۡفَاهَا حَتَّىٰ لَا تَعۡلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنۡفِقُ شِمَالُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتۡ عَيۡنَاهُ).
91. (1031). Zuhair bin Harb dan Muhammad ibnul Mutsanna telah menceritakan kepadaku. Semuanya dari Yahya Al-Qaththan. Zuhair berkata: Yahya bin Sa'id menceritakan kepada kami, dari 'Ubaidullah: Khubaib bin 'Abdurrahman mengabarkan kepada kami, dari Hafsh bin 'Ashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naunganNya pada hari yang tidak ada satu naunganpun selain naunganNya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh di dalam peribadahan kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya terpaut di masjid-masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karenaNya, (5) seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun dia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, (6) seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah, lalu dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kirinya, (7) dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga berlinang air matanya.”
(…) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ. قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ خُبَيۡبِ بۡنِ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ حَفۡصِ بۡنِ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ - أَوۡ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ -؛ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ. بِمِثۡلِ حَدِيثِ عُبَيۡدِ اللهِ، وَقَالَ: (وَرَجُلٌ مُعَلَّقٌ بِالۡمَسۡجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنۡهُ حَتَّىٰ يَعُودَ إِلَيۡهِ).
Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Khubaib bin 'Abdurrahman, dari Hafsh bin 'Ashim, dari Abu Sa'id Al-Khudri -atau dari Abu Hurairah-; Bahwa beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda semisal hadits 'Ubaidullah, dan beliau berkata, “Seseorang yang terpaut dengan masjid ketika dia keluar darinya sampai dia kembali ke masjid.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 660

٦٦٠ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنِي خُبَيۡبُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، عَنۡ حَفۡصِ بۡنِ عَاصِمٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (سَبۡعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ، يَوۡمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الۡإِمَامُ الۡعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلۡبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الۡمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجۡتَمَعَا عَلَيۡهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيۡهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتۡهُ امۡرَأَةٌ ذَاتُ مَنۡصَبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخۡفَى حَتَّى لَا تَعۡلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنۡفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتۡ عَيۡنَاهُ).
660. Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari 'Ubaidullah, beliau berkata: Khubaib bin 'Abdurrahman menceritakan kepadaku, dari Hafsh bin 'Ashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naunganNya pada hari tidak ada satu naunganpun kecuali naunganNya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh di dalam peribadahan kepada Rabbnya, (3) seseorang yang hatinya terkait di masjid-masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karenaNya, (5) seseorang yang diajak (berzina) wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, (6) seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, (7) dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendiriannya hingga berlinang air matanya.”
[الحديث ٦٦٠ – أطرافه في: ١٤٢٣، ٦٤٧٩، ٦٨٠٨].

Shahih Muslim hadits nomor 984

٤ – بَابُ زَكَاةِ الۡفِطۡرِ عَلَى الۡمُسۡلِمِينَ مِنَ التَّمۡرِ وَالشَّعِيرِ

4. Bab zakat fithri wajib atas kaum muslimin dari kurma dan jelai

١٢ – (٩٨٤) – حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡلَمَةَ بۡنِ قَعۡنَبٍ وَقُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا مَالِكٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -، قَالَ: قَرَأۡتُ عَلَىٰ مَالِكٍ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَرَضَ زَكَاةَ الۡفِطۡرِ مِنۡ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ: صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ، أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ، عَلَىٰ كُلِّ حُرٍّ أَوۡ عَبۡدٍ، ذَكَرٍ أَوۡ أُنۡثَىٰ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ.
12. (984). 'Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab dan Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Malik menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami – dan ini lafazh beliau -, beliau berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadhan kepada manusia - berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (jelai / barley) - atas orang yang merdeka atau budak, laki-laki atau wanita dari kalangan kaum muslimin.
[البخاري: كتاب الزكاة، باب صدقة الفطر على العبد وغيره من المسلمين، رقم: ١٥٠٤].
١٣ - (…) حَدَّثَنَا ابۡنُ نُمَيۡرٍ: حَدَّثَنَا أَبِي. (ح) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ - وَاللَّفۡظُ لَهُ -، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ نُمَيۡرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الۡفِطۡرِ صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ، أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ، عَلَىٰ كُلِّ عَبۡدٍ أَوۡ حُرٍّ، صَغِيرٍ أَوۡ كَبِيرٍ.
13. Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami – dan ini lafazh beliau -, beliau berkata: 'Abdullah bin Numair dan Abu Usamah menceritakan kepada kami, dari 'Ubaidullah, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar; Beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri berupa satu sha' tamr (kurma), atau satu sha' sya'ir (jelai), kepada setiap budak atau orang yang merdeka, anak kecil atau orang dewasa.
١٤ - (…) - وَحَدَّثَنَا يَحۡيَىٰ بۡنُ يَحۡيَىٰ: أَخۡبَرَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ؛ قَالَ: فَرَضَ النَّبِيُّ ﷺ صَدَقَةَ رَمَضَانَ عَلَى الۡحُرِّ وَالۡعَبۡدِ، وَالذَّكَرِ وَالۡأُنۡثَىٰ، صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ، أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ.
قَالَ: فَعَدَلَ النَّاسُ بِهِ نِصۡفَ صَاعٍ مِنۡ بُرٍّ.
14. Yahya bin Yahya telah menceritakan kepada kami: Yazid bin Zurai' mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar; Beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat Ramadhan kepada orang yang merdeka dan budak, laki-laki dan wanita, berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (jelai).
Beliau berkata: Orang-orang menyamakannya dengan setengah sha' burr (gandum).
[البخاري: كتاب الزكاة، باب صدقة الفطر على الحر والمملوك، رقم: ١٥١١].
١٥ - (…) - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا لَيۡثٌ. (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رُمۡحٍ: أَخۡبَرَنَا اللَّيۡثُ، عَنۡ نَافِعٍ؛ أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَمَرَ بِزَكَاةِ الۡفِطۡرِ، صَاعٍ مِنۡ تَمۡرٍ، أَوۡ صَاعٍ مِنۡ شَعِيرٍ.
قَالَ ابۡنُ عُمَرَ: فَجَعَلَ النَّاسُ عَدۡلَهُ مُدَّيۡنِ مِنۡ حِنۡطَةٍ.
15. Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami: Laits menceritakan kepada kami. (Dalam riwayat lain) Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami: Al-Laits mengabarkan kepada kami, dari Nafi'; Bahwa 'Abdullah bin 'Umar berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan zakat fithri berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (jelai).
Ibnu 'Umar berkata: Orang-orang menyamakannya dengan dua mud hinthah (gandum).
[البخاري: كتاب الزكاة، باب صدقة الفطر صاعا من تمر، رقم: ١٥٠٧].
١٦ - (…) - وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ رَافِعٍ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي فُدَيۡكٍ: أَخۡبَرَنَا الضَّحَّاكُ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُمَرَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ فَرَضَ زَكَاةَ الۡفِطۡرِ مِنۡ رَمَضَانَ عَلَىٰ كُلِّ نَفۡسٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، حُرٍّ أَوۡ عَبۡدٍ، أَوۡ رَجُلٍ أَوِ امۡرَأَةٍ، صَغِيرٍ أَوۡ كَبِيرٍ، صَاعًا مِنۡ تَمۡرٍ، أَوۡ صَاعًا مِنۡ شَعِيرٍ.
16. Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abi Fudaik menceritakan kepada kami: Adh-Dhahhak mengabarkan kepada kami, dari Nafi', dari 'Abdullah bin 'Umar; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadhan kepada setiap jiwa dari kaum muslimin, merdeka atau budak, pria atau wanita, anak kecil atau orang dewasa, berupa satu sha' tamr (kurma) atau satu sha' sya'ir (jelai).