Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 875

١٦٦ - بَابُ اسۡتِئۡذَانِ الۡمَرۡأَةِ زَوۡجَهَا بِالۡخُرُوجِ إِلَى الۡمَسۡجِدِ
166. Bab istri meminta izin suaminya untuk keluar ke masjid


٨٧٥ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ زُرَيۡعٍ، عَنۡ مَعۡمَرٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: (إِذَا اسۡتَأۡذَنَتِ امۡرَأَةُ أَحَدِكُمۡ فَلَا يَمۡنَعۡهَا).

[طرفه في: ٨٦٥].

875. Musaddad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Salim bin ‘Abdullah, dari ayahnya, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Apabila istri salah seorang kalian meminta izin, janganlah menghalanginya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 870

١٦٤ - بَابُ صَلَاةِ النِّسَاءِ خَلۡفَ الرِّجَالِ
164. Bab para wanita salat di belakang para lelaki


٨٧٠ - حَدَّثَنَا يَحۡيَى بۡنُ قَزَعَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ هِنۡدٍ بِنۡتِ الۡحَارِثِ، عَنۡ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا سَلَّمَ، قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقۡضِي تَسۡلِيمَهُ، وَيَمۡكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبۡلَ أَنۡ يَقُومَ. قَالَ: نَرَى - وَاللهُ أَعۡلَمُ - أَنَّ ذٰلِكَ كَانَ لِكَيۡ يَنۡصَرِفَ النِّسَاءُ، قَبۡلَ أَنۡ يُدۡرِكَهُنَّ مِنَ الرِّجَالِ.

870. Yahya bin Quza’ah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Hind binti Al-Harits, dari Umu Salamah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan: Dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila sudah salam dari salat, para wanita segera bangkit ketika beliau sudah menyelesaikan salamnya. Adapun beliau tetap di tempat sejenak sebelum berdiri.

Az-Zuhri berkata: Kami berpandangan—wallahualam—bahwa itu agar para wanita dapat pulang sebelum para lelaki berpapasan dengan mereka.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 868 dan 869

٨٦٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مِسۡكِينٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بِشۡرٌ: أَخۡبَرَنَا الۡأَوۡزَاعِيُّ: حَدَّثَنِي يَحۡيَى بۡنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي قَتَادَةَ الۡأَنۡصَارِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنِّي لَأَقُومُ إِلَى الصَّلَاةِ، وَأَنَا أُرِيدُ أَنۡ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسۡمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي، كَرَاهِيَةَ أَنۡ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ). [طرفه في: ٧٠٧].

868. Muhammad bin Miskin telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Bisyr menceritakan kepada kami: Al-Auza’i mengabarkan kepada kami: Yahya bin Abu Katsir menceritakan kepadaku dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah Al-Anshari, dari ayahnya. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sungguh aku hendak melakukan salat dan aku ingin untuk memanjangkan salat itu. Lalu aku mendengar tangisan bayi sehingga aku meringankan salatku karena aku tidak suka untuk memberatkan ibu bayi itu.”

٨٦٩ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ يُوسُفَ قَالَ: أَخۡبَرَنَا مَالِكٌ، عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ سَعِيدٍ، عَنۡ عَمۡرَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: لَوۡ أَدۡرَكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا أَحۡدَثَ النِّسَاءُ، لَمَنَعَهُنَّ كَمَا مُنِعَتۡ نِسَاءُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ. قُلۡتُ لِعَمۡرَةَ: أَوَ مُنِعۡنَ؟ قَالَتۡ: نَعَمۡ.

869. ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Malik mengabarkan kepada kami dari Yahya bin Sa’id, dari ‘Amrah, dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan, “Kalau Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mendapati apa yang dilakukan para wanita, niscaya beliau akan melarang mereka (ke masjid) sebagaimana para wanita bani Israil dahulu dilarang.”

Aku (Yahya bin Sa’id) bertanya kepada ‘Amrah, “Apakah (para wanita bani Israil) dilarang (ke masjid/tempat ibadah)?”

‘Amrah menjawab, “Iya.”

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 866

١٦٣ - بَابُ انۡتِظَارِ النَّاسِ قِيَامَ الۡإِمَامِ الۡعَالِمِ
163. Bab orang-orang menunggu berdirinya imam yang alim


٨٦٦ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ عُمَرَ: أَخۡبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: حَدَّثَتۡنِي هِنۡدُ بِنۡتُ الۡحَارِثِ: أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ زَوۡجَ النَّبِيِّ ﷺ أَخۡبَرَتۡهَا: أَنَّ النِّسَاءَ فِي عَهۡدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ كُنَّ إِذَا سَلَّمۡنَ مِنَ الۡمَكۡتُوبَةِ قُمۡنَ، وَثَبَتَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَمَنۡ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ، فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَامَ الرِّجَالُ.

866. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: ‘Utsman bin ‘Umar menceritakan kepada kami; Yunus mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: Hind binti Al-Harits menceritakan kepadaku bahwa Umu Salamah istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabarkan kepadanya: Bahwa para wanita di masa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—apabila sudah salam dari salat wajib, mereka segera bangkit, sedangkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan para lelaki yang salat tetap di tempatnya selama yang Allah kehendaki. Apabila Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdiri, para lelaki juga berdiri.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 864 dan 865

١٦٢ - بَابُ خُرُوجِ النِّسَاءِ إِلَى الۡمَسَاجِدِ بِاللَّيۡلِ وَالۡغَلَسِ
162. Bab keluarnya para wanita menuju masjid di malam hari dan akhir malam


٨٦٤ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ: أَعۡتَمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالۡعَتَمَةِ، حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبۡيَانُ! فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: (مَا يَنۡتَظِرُهَا أَحَدٌ غَيۡرُكُمۡ مِنۡ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ). وَلَا يُصَلَّى يَوۡمَئِذٍ إِلَّا بِالۡمَدِينَةِ، وَكَانُوا يُصَلُّونَ الۡعَتَمَةَ فِيمَا بَيۡنَ أَنۡ يَغِيبَ الشَّفَقُ إِلَى ثُلُثِ اللَّيۡلِ الۡأَوَّلِ. [طرفه في: ٥٦٦].

864. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Urwah bin Az-Zubair mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Beliau mengatakan:

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengakhirkan salat Isya sampai ‘Umar memberi tahu beliau, “Para wanita dan anak-anak sudah tertidur.”

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menunggu-nunggu salat ini selain kalian.”

Pada hari itu, salat baru hanya dilakukan di Madinah. Dahulu, kaum muslimin melakukan salat Isya di waktu antara sejak cahaya matahari senja menghilang sampai sepertiga malam pertama.

٨٦٥ - حَدَّثَنَا عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ مُوسَى، عَنۡ حَنۡظَلَةَ، عَنۡ سَالِمِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا اسۡتَأۡذَنَكُمۡ نِسَاؤُكُمۡ بِاللَّيۡلِ إِلَى الۡمَسۡجِدِ فَأۡذَنُوا لَهُنَّ). تَابَعَهُ شُعۡبَةُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

[الحديث ٨٦٥ – أطرافه في: ٨٧٣، ٨٩٩، ٩٠٠، ٥٢٣٨].

865. ‘Ubaidullah bin Musa telah menceritakan kepada kami dari Hanzhalah, dari Salim bin ‘Abdullah, dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Apabila istri-istri kalian meminta izin kepada kalian untuk ke masjid di malam hari, izinkanlah mereka.”

Syu’bah mengiringi ‘Ubaidullah bin Musa, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.