Cari Blog Ini

Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu 'anhu

اعْقِلُوا وَبَلِّغُوا عَنَّا مَا تَسْمَعُونَ
Pahamilah! Dan sampaikanlah dari kami apa yang kalian dengar!

Demikianlah pesan yang disampaikan oleh sosok yang lebih dikenal dengan Abu Umamah itu kepada murid-muridnya. Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak mengambil ilmu darinya dan kemudian mengajarkannya kepada para penuntut ilmu yang tak sedikit jumlahnya. Mayoritas mereka berasal dari Negeri Syam.

Shuday bin ‘Ajlan bin Wahb bin ‘Arib bin Wahb bin Riyah bin Al Haris bin Ma’n bin Malik bin A’shur, itulah nama sekaligus nasab beliau. Beliau berasal dari kabilah Bahilah yang dahulu menempati kawasan yang cukup luas di tengah-tengah wilayah Najd, tempat di mana ibu kota negara Arab Saudi sekarang berada dan merupakan bagian tengah dari Semenanjung Arab. Sebetulnya, Bahilah adalah nama seorang perempuan keturunan Madzhij, suatu suku yang besar dan tua di Negeri Yaman. Dia adalah ibu bagi keturunan Ma’n bin Malik, yang kemudian kepadanyalah mereka dinisbahkan.

Sahabat Nabi yang biasa menyemir jenggotnya dengan warna kuning ini dilahirkan dua puluh sekian tahun sebelum hijrah. Terdapat riwayat yang menyiratkan bahwa beliau ikut bersama kaum muslimin dalam pertempuran Uhud. Pada saat pecahnya perang Shiffin, beliau berada di pihak Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Setelah Mesir berhasil ditaklukkan dan terlepas dari kekuatan Romawi di masa Khalifah Umar bin Al Khaththab, Abu Umamah tinggal di negeri tersebut. Kemudian beliau berpindah ke Negeri Syam atau Levant hingga wafat. Beliau sempat bermukim di Baitul Maqdis, Damaskus, dan Homs.

Keislaman Bahilah dengan Karamah Abu Umamah


Benar-benar suatu nikmat hakiki yang amat besar bagi seorang insan, mendapatkan taufik dari Allah untuk beriman. Namun tak akan sempurna nikmat tersebut hingga dia ingin dan berusaha agar orang lain beriman sebagaimana dia beriman.

Oleh sebab itulah, Rasulullah tidak membiarkan Abu Umamah diam berpangku tangan setelah dia menyatakan beriman. Beliau mengingatkannya akan kaumnya yang masih berada dalam kekufuran dan mengutusnya untuk kembali kepada mereka serta mendakwahkan Islam.

Abu Umamah mengikuti titah beliau. Dia tiba di pemukiman Bahilah sementara mereka tengah menyantap makanan yang diolah dari darah. Mereka menyambut dengan gembira kedatangan Abu Umamah. Mereka memuliakannya dan mempersilakannya makan bersama. Namun Abu Umamah menyahut, “Aku datang hanya untuk melarang kalian memakan makanan ini dan sebagai utusan Rasulullah agar kalian beriman kepadanya.” Mereka pun berbalik mendustakan dan mengusir beliau. Tiada pilihan lain bagi beliau selain harus beranjak pergi menyingkir dari mereka meski dalam keadaan lapar dan dahaga. Beliau merasakan kepayahan yang sangat hingga beliau pun tertidur.

Dalam tidurnya, beliau bermimpi ada seseorang yang datang menghampiri. Dia membawakan untuk beliau satu wadah berisi susu. Beliau meminumnya hingga puas dan kenyang. Namun sungguh ajaib. Perut beliau benar-benar terasa penuh. Bunga tidur itu seolah-olah realita.

Selang berapa lama kemudian, salah seorang dari kaum Abu Umamah mengungkapkan sesal dan berkata mengingatkan yang lain, “Telah datang kepada kalian seorang yang mulia dan terpandang di antara kalian, tapi kemudian justru kalian enyahkan dan tidak kalian jamu. Datangilah dia dan antarkanlah kepadanya makanan!” Mereka pun datang untuk mengantarkan makanan dan minuman namun ditolak oleh Abu Umamah. Beliau mengatakan, “Aku tidak butuh makanan dan minuman kalian. Allah telah memberiku makan dan minum.” Lalu mereka memperhatikan kondisi beliau yang memang tampak segar dan bugar. Beliau perlihatkan kepada mereka perutnya yang besar penuh dengan susu yang beliau minum. Mereka pun terheran-heran hingga mereka beriman.

Bederma Tiga, Beroleh Tiga Ratus


Abu Umamah adalah pribadi yang gemar bersedekah. Tak seorang pun meminta kepada beliau kecuali beliau beri. Dikisahkan bahwa pada suatu hari di waktu pagi seorang pengemis datang meminta-minta. Lalu beliau memberinya satu dinar dari uang beliau yang hanya berjumlah tiga dinar kala itu. Tak lama setelah itu, muncul seorang yang lain yang juga datang merayu. Dia pun pulang tanpa kecewa. Dia pulang dengan membawa satu dinar dari beliau. Tinggal satu dinar yang beliau miliki. Akan tetapi, tampak kedermawanan telah menjadi sifat dan watak Abu Umamah. Beliau tak kuasa menahan harta jika telah diminta. Satu dinar yang tersisa tidaklah beliau sisihkan untuk kebutuhan pribadinya. Satu dinar itu juga beliau ikhlaskan untuk seorang miskin lain yang meminta.

Maka beliau tidak punya sesuatu yang dapat dimakan di rumahnya. Beliau memilih berpuasa di hari itu dan memperbanyak ibadah di masjid. Budak yang biasa melayani beliau pun menaruh iba. Sebelum tuannya kembali, dia meminjam uang untuk mempersiapkan makan malam. Kemudian si pelayan menemukan tiga ratus dinar terselip di bawah bantal saat menata tempat tidur beliau. Ketika Abu Umamah pulang dan melihat apa yang telah dipersiapkan oleh budaknya, beliau tersenyum gembira serta memuji Allah. Selepas beliau makan malam budak itu mengingatkan beliau akan uang yang dia lihat. Dia mengira Abu Umamah lupa memiliki uang yang beliau simpan di tempat itu. Namun beliau justru sangat terkejut dan takut dengan sebab keberadaan uang itu yang tak diketahui asal muasalnya. Sekali lagi, karamah untuk Abu Umamah.

Beberapa Keutamaan Abu Umamah


Abu Umamah merupakan salah satu dari 1.400 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbaiat di bawah pohon pada peristiwa perundingan Hudaibiyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka pada momen itu,
أَنْتُمْ الْيَوْمَ خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ
“Kalian pada hari ini adalah sebaik-baik penduduk bumi.” [H.R. Al Bukhâri dan Muslim]. Beliau juga mengabarkan bahwa tidak ada satu pun di antara mereka yang akan masuk ke dalam neraka. Dalam surat Al Fath Allah menyatakan keridaan-Nya kepada mereka sehingga mereka pun dikenal dengan Ahlu Bai’atir Ridhwân.

Suatu ketika Rasulullah membentuk sebuah pasukan untuk berperang. Abu Umamah datang kepada beliau dan mengatakan, “Wahai Rasulullah! Doakanlah aku agar mati syahid!” Beliau justru berdoa, “Ya Allah! Selamatkanlah mereka dan berilah mereka kemenangan!” Pasukan pun kembali dengan selamat dan membawa kemenangan. Kemudian pada kesempatan jihad yang berikutnya, Abu Umamah menyampaikan kepada beliau permintaan yang sama dan Nabi pun menjawab dengan doa yang sama pula hingga hal itu terulang tiga kali. Maka Abu Umamah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah! Saya telah datang kepada Anda tiga kali berturut-turut meminta Anda mendoakan agar saya terbunuh dalam keadaan syahid. Lalu Anda mengatakan, “Ya Allah! Selamatkanlah mereka dan berilah mereka kemenangan!” sehingga kami pun selamat dan meraih kemenangan. Wahai Rasulullah! Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dengan sebab itu aku akan masuk ke dalam jannah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berpuasalah! Sungguh tidak ada yang setara dengannya.” Semenjak saat itu Abu Umamah dan keluarganya selalu berpuasa dan tak terlihat asap yang mengepul dari rumah Abu Umamah di siang hari, kecuali jika ada tamu. Apabila tampak asap di rumah beliau maka itu pertanda ada tamu yang tengah berkunjung.

Seseorang datang kepada Abu Umamah lalu berkata, “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku para malaikat bershalawat untukmu setiap kali Anda masuk, setiap kali Anda keluar, setiap kali Anda berdiri, dan setiap kali Anda duduk.” Lalu beliau menanggapi, “Ya Allah ampunilah kami!” Lalu beliau mengatakan, “Lupakanlah! Seandainya kalian mau para malaikat pun akan bershalawat untuk kalian.” Kemudian beliau membaca firman Allah (artinya), “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-Nya (juga bershalawat), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [Q.S. Al Ahzab: 43]

Abu Umamah termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabi. Apabila datang kepadanya penuntut ilmu, banyak hadis yang beliau sampaikan. Hafalan beliau sangat kuat. Beliau menyampaikan hadis layaknya seseorang menyampaikan kata-kata yang baru dia dengar. Beliau juga suka memberikan wejangan kepada para penuntut ilmu. Di antara nasehat yang beliau berikan, “Sesungguhnya majelis-majelis ilmu ini di antara bentuk penyampaian hujah dari Allah kepada kalian. Dan sesungguhnya Rasulullah telah menyampaikan apa yang beliau diutus untuk membawanya kepada kita. Maka sampaikanlah dari kami sebaik-baik dari apa yang kalian dengar.”

Abu Umamah wafat di Negeri Syam di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 86 H, ada pula yang berpendapat tahun 81 H, dalam usia 106 tahun. Sebagian ulama berpendapat bahwa beliau adalah sahabat Nabi yang terakhir meninggal di Syam. Sebagian yang lain berpendapat Abdullah bin Busr. Abu Umamah wafat dengan meninggalkan anak yang bernama Al Mughallis. Wallâhu ta’âlâ a’lamu bish-shawâb. [Al Ustadz Abu Haidar Harits]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 64 vol.06 1438H-2017M rubrik Figur.