Shahih Al-Bukhari hadits nomor 4505

٢٥ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿أَيَّامًا مَعۡدُودَاتٍ فَمَنۡ كَانَ مِنۡكُمۡ مَرِيضًا أَوۡ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ، فَمَنۡ تَطَوَّعَ خَيۡرًا فَهُوَ خَيۡرٌ لَهُ وَأَنۡ تَصُومُوا خَيۡرٌ لَكُمۡ إِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُونَ﴾ ۝١٨٤ 

25. Bab firman Allah yang artinya, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184) 


وَقَالَ عَطَاءٌ: يُفۡطِرُ مِنَ الۡمَرَضِ كُلِّهِ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى. 

وَقَالَ الۡحَسَنُ وَإِبۡرَاهِيمُ فِي الۡمُرۡضِعِ وَ الۡحَامِلِ: إِذَا خَافَتَا عَلَى أَنۡفُسِهِمَا أَوۡ وَلَدِهِمَا تُفۡطِرَانِ ثُمَّ تَقۡضِيَانِ، وَأَمَّا الشَّيۡخُ الۡكَبِيرُ إِذَا لَمۡ يُطِقِ الصِّيَامَ، فَقَدۡ أَطۡعَمَ أَنَسٌ بَعۡدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوۡ عَامَيۡنِ، كُلَّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا، خُبۡزًا وَلَحۡمًا، وَأَفۡطَرَ. 

قِرَاءَةُ الۡعَامَّةِ: ﴿يُطِيقُونَهُ﴾ وَهُوَ أَكۡثَرُ. 

‘Atha` berkata: Boleh berbuka karena segala macam penyakit sebagaimana firman Allah taala. 

Al-Hasan dan Ibrahim berkata tentang wanita yang menyusui dan hamil: Apabila keduanya khawatir terhadap dirinya atau anaknya, maka boleh berbuka kemudian mengada. Adapun orang yang sangat tua, apabila tidak mampu berpuasa, maka Anas dahulu memberi makan ketika beliau telah berusia lanjut selama satu atau dua tahun, setiap harinya satu orang miskin berupa roti dan daging dan beliau tidak berpuasa. 

Keumuman qiraah adalah يُطِيقُونَهُ dan ini yang paling banyak. 

٤٥٠٥ - حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا رَوۡحٌ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بۡنُ إِسۡحَاقَ: حَدَّثَنَا عَمۡرُو بۡنُ دِينَارٍ، عَنۡ عَطَاءٍ: سَمِعَ ابۡنَ عَبَّاسٍ يَقۡرَأُ: وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: لَيۡسَتۡ بِمَنۡسُوخَةٍ، هُوَ الشَّيۡخُ الۡكَبِيرُ، وَالۡمَرۡأَةُ الۡكَبِيرَةُ، لَا يَسۡتَطِيعَانِ أَنۡ يَصُومَا، فَيُطۡعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوۡمٍ مِسۡكِينًا. 

4505. Ishaq telah menceritakan kepadaku: Rauh mengabarkan kepada kami: Zakariyya` bin Ishaq menceritakan kepada kami: ‘Amr bin Dinar menceritakan kepada kami dari ‘Atha`: Beliau mendengar Ibnu ‘Abbas membaca: وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٍ (Dan wajib bagi orang-orang yang dibebankan syariat puasa, (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin). Ibnu ‘Abbas berkata: Ayat tersebut tidak mansukh. Maksudnya adalah orang yang sudah tua, baik pria atau wanita, yang sudah tidak mampu berpuasa, maka dia memberi makan setiap harinya satu orang miskin.