Cari Blog Ini

Definisi Iman

Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,

السَّابِعَةُ: الۡإِيمَانُ عِنۡدَ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ يَتَأَلَّفُ مِنِ اعۡتِقَادٍ بِالۡقَلۡبِ وَقَوۡلٍ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٍ بِالۡجَوَارِحِ، فَهٰذِهِ الۡأُمُورُ الثَّلَاثَةُ دَاخِلَةٌ عِنۡدَهُمۡ فِي مُسَمَّى الۡإِيمَانِ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ۝٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ۝٣ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ﴾، فَفِي هٰذِهِ الۡآيَاتِ دُخُولُ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ وَأَعۡمَالِ الۡجَوَارِحِ فِي الۡإِيمَانِ.

Ketujuh: Iman menurut ahli sunah waljamaah terdiri dari keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Ketiga perkara ini menurut mereka termasuk dalam penamaan iman. Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (QS Al-Anfal: 2-4).

Dalam ayat-ayat ini menunjukkan masuknya amalan hati dan amalan anggota badan ke dalam bagian iman.

وَرَوَى مُسۡلِمٌ فِي صَحِيحِهِ (٥٨) عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: (الۡإِيمَانُ بِضۡعٌ وَسَبۡعُونَ أَوۡ بِضۡعٌ وَسِتُّونَ شُعۡبَةً، فَأَفۡضَلُهَا قَوۡلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَدۡنَاهَا إِمَاطَةُ الۡأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ، وَالۡحَيَاءُ شُعۡبَةٌ مِنَ الۡإِيمَانِ)، فَقَدۡ دَلَّ الۡحَدِيثُ عَلَىٰ أَنَّ مَا يَقُومُ بِالۡقَلۡبِ وَاللِّسَانِ وَالۡجَوَارِحِ مِنَ الۡإِيمَانِ، وَأَمَّا مَا جَاءَ فِي الۡقُرۡآنِ مِنۡ آيَاتٍ كَثِيرَةٍ فِيهَا عَطۡفُ الۡعَمَلِ الصَّالِحِ عَلَى الۡإِيمَانِ، كَمَا فِي قَوۡلِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا﴾، وَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُوْلَـٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ﴾، وَقَوۡلِهِ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجۡعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وُدًّا﴾، فَلَا يَدُلُّ الۡعَطۡفُ عَلَىٰ عَدَمِ دُخُولِ الۡأَعۡمَالِ فِي مُسَمَّى الۡإِيمَانِ، بَلۡ هُوَ مِنۡ عَطۡفِ الۡخَاصِّ عَلَى الۡعَامِّ؛ وَذٰلِكَ أَنَّ التَّفَاوُتَ بَيۡنَ النَّاسِ فِي الۡإِيمَانِ يَكُونُ غَالِبًا لِتَفَاوُتِهِمۡ فِي الۡأَعۡمَالِ، وَفِي الۡأَقۡوَالِ أَيۡضًا؛ لِأَنَّ الۡقَوۡلَ عَمَلُ اللِّسَانِ، بَلۡ إِنَّهُمۡ يَتَفَاوُتُونَ فِيمَا يَقُومُ بِقُلُوبِهِمۡ، قَالَ الۡحَافِظُ فِي الۡفَتۡحِ (١/٤٦) نَقۡلًا عَنِ النَّوَوِيِّ: (وَالۡأَظۡهَرُ الۡمُخۡتَارُ أَنَّ التَّصۡدِيقَ يَزِيدُ وَيَنۡقُصُ بِكَثۡرَةِ النَّظَرِ وَوُضُوحِ الۡأَدِلَّةِ، وَلِهٰذَا كَانَ إِيمَانُ الصِّدِّيقِ أَقۡوَىٰ مِنۡ إِيمَانِ غَيۡرِهِ؛ بِحَيۡثُ لَا يَعۡتَرِيهِ الشُّبۡهَةُ، وَيُؤَيِّدُهُ أَنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَعۡلَمُ أَنَّ مَا فِي قَلۡبِهِ يَتَفَاضَلُ، حَتَّىٰ إِنَّهُ يَكُونُ فِي بَعۡضِ الۡأَحۡيَانِ الۡإِيمَانُ أَعۡظَمَ يَقِينًا وَإِخۡلَاصًا وَتَوَكُّلًا مِنۡهُ فِي بَعۡضِهَا، وَكَذٰلِكَ التَّصۡدِيقُ وَالۡمَعۡرِفَةُ بِحَسَبِ ظُهُورِ الۡبَرَاهِينِ وَكَثۡرَتِهَا).

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 58 dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.”

Hadis ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh hati, lisan, dan anggota badan merupakan bagian dari iman.

Adapun banyaknya ayat dalam Al-Qur'an yang menyandingkan (‘athf) amal saleh setelah penyebutan iman—seperti firman Allah—‘azza wa jalla—: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal,” (QS Al-Kahfi: 107), dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” (QS Al-Bayyinah: 7), serta firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang,” (QS Maryam: 96)—maka penyandingan tersebut tidaklah menunjukkan bahwa amal tidak termasuk dalam penamaan iman. Melainkan, itu termasuk dalam kategori penyebutan hal yang khusus setelah hal yang umum (‘athf al-khash ‘ala al-‘amm).

Hal itu karena perbedaan tingkat iman di antara manusia biasanya terjadi disebabkan perbedaan mereka dalam amalan, dan juga dalam ucapan; karena ucapan adalah amalan lisan. Bahkan, mereka juga berbeda-beda dalam keyakinan di hati mereka. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath Al-Bari (1/46) menukil dari An-Nawawi, “Pendapat yang lebih kuat dan terpilih adalah bahwa pembenaran (tashdiq) itu bisa bertambah dan berkurang dengan banyaknya perenungan serta jelasnya dalil-dalil. Oleh karena itu, iman Abu Bakr Ash-Shiddiq lebih kuat daripada iman orang lain, karena beliau tidak tertimpa keraguan. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa setiap orang menyadari bahwa apa yang ada di dalam hatinya itu bertingkat-tingkat; hingga pada waktu-waktu tertentu, imannya memiliki keyakinan, keikhlasan, dan tawakal yang lebih besar daripada waktu lainnya. Begitu pula pembenaran dan makrifat (pengetahuan) bertambah sesuai dengan kemunculan serta banyaknya bukti-bukti.”

وَالَّذِيۡنَ أَخۡرَجُوا الۡأَعۡمَالَ مِنۡ أَنۡ تَكُوۡنَ دَاخِلَةً فِي مُسَمَّى الۡإِيۡمَانِ طَائِفَتَانِ: الۡمُرۡجِئَةُ الۡغُلَاةُ، الَّذِيۡنَ يَقُوۡلُوۡنَ: إِنَّ كُلَّ مُؤۡمِنٍ كَامِلُ الۡإِيۡمَانِ، وَأَنَّهُ لَا يَضُرُّ مَعَ الۡإِيۡمَانِ ذَنۡبٌ، كَمَا لَا يَنۡفَعُ مَعَ الۡكُفۡرِ طَاعَةٌ، وَهَذَا الۡقَوۡلُ مِنۡ أَبۡطَلِ الۡبَاطِلِ، بَلۡ هُوَ كُفۡرٌ.

Orang-orang yang mengeluarkan amal dari penamaan iman ada dua kelompok: Murjiah ekstrem (Al-Murji’ah Al-Ghulat), yaitu mereka yang mengatakan bahwa setiap mukmin itu sempurna imannya dan bahwa kemaksiatan tidak membahayakan selama ada iman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat selama ada kekafiran. Pendapat ini termasuk kebatilan yang paling batil, bahkan merupakan sebuah kekufuran.

وَمُرۡجِئَةُ الۡفُقَهَاءِ مِنۡ أَهۡلِ الۡكُوۡفَةِ وَغَيۡرِهِمۡ، الَّذِيۡنَ قَالُوۡا بِعَدَمِ دُخُوۡلِ الۡأَعۡمَالِ فِي مُسَمَّى الۡإِيۡمَانِ، مَعَ مُخَالَفَتِهِمۡ لِلۡمُرۡجِئَةِ الۡغُلَاةِ فِي أَنَّ الۡمَعَاصِيَ تَضُرُّ فَاعِلَهَا، وَأَنَّهُ يُؤَاخَذُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ وَيُعَاقَبُ، وَقَوۡلُهُمۡ غَيۡرُ صَحِيۡحٍ؛ لِأَنَّهُ ذَرِيۡعَةٌ إِلَىٰ بِدَعِ أَهۡلِ الۡكَلَامِ الۡمَذۡمُوۡمِ مِنۡ أَهۡلِ الۡإِرۡجَاءِ وَنَحۡوِهِمۡ، وَإِلَىٰ ظُهُوۡرِ الۡفِسۡقِ وَالۡمَعَاصِي، كَمَا فِي شَرۡحِ الطَّحَاوِيَّةِ (ص: ٤٧٠).

Dan Murji’ah Al-Fuqaha` dari penduduk Kufah dan selain mereka, yaitu orang-orang yang berpendapat bahwa amal tidak termasuk dalam penamaan iman, meskipun mereka berbeda pendapat dengan Murji’ah ekstrem dalam hal kemaksiatan itu membahayakan pelakunya, serta pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban dan dihukum karenanya. Pendapat mereka ini tidak benar; karena hal itu menjadi pintu masuk menuju bidah ahli kalam yang tercela dari kalangan Murjiah dan semacamnya, serta (menjadi pintu masuk) munculnya kefasikan dan kemaksiatan, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Syarah Ath-Thahawiyyah (halaman 470).

وَالۡإِيۡمَانُ يَزِيۡدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنۡقُصُ بِالۡمَعۡصِيَةِ، فَمِنۡ أَدِلَّةِ زِيَادَتِهِ قَوۡلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿ ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنًا﴾، وَقَوۡلُهُ: ﴿وَلَمَّا رَأَى ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسۡلِيمًا﴾.

Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Di antara dalil bertambahnya iman adalah firman Allah—‘azza wa jalla—: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2).

Dan firman-Nya: “Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS At-Taubah: 124).

Dan firman-Nya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya iman mereka bertambah di samping iman mereka (yang telah ada).” (QS Al-Fath: 4).

Dan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah iman mereka.” (QS Ali ‘Imran: 173).

Serta firman-Nya: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS Al-Ahzab: 22).

وَمِنۡ أَدِلَّةِ نُقۡصَانِهِ قَوۡلُهُ ﷺ: (مَنۡ رَأَىٰ مِنۡكُمۡ مُنۡكَرًا فَلۡيُغَيِّرۡهُ بِيَدِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنۡ لَمۡ يَسۡتَطِعۡ فَبِقَلۡبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضۡعَفُ الۡإِيۡمَانِ) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ (٧٨).

Dan di antara dalil berkurangnya iman adalah sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim nomor 78).

وَمَا جَاءَ فِي حَدِيۡثِ الشَّفَاعَةِ مِنۡ إِخۡرَاجِ مَنۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ مِنۡ إِيۡمَانٍ مِنَ النَّارِ، رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ (٧٤٣٩) وَمُسۡلِمٌ (٣٠٢) مِنۡ حَدِيۡثِ أَبِيۡ سَعِيۡدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَحَدِيۡثِ وَصۡفِ النَّبِيِّ ﷺ لِلنِّسَاءِ بِأَنَّهُنَّ نَاقِصَاتُ عَقۡلٍ وَدِيۡنٍ، أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ (٣٠٤) وَمُسۡلِمٌ (١٣٢).

Dan keterangan yang terdapat dalam hadis syafaat tentang dikeluarkannya orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarah dari neraka, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari nomor 7439 dan Muslim nomor 302 dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—. Begitu juga hadis tentang penyifatan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—terhadap kaum wanita bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang akal dan agamanya, yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari nomor 304 dan Muslim nomor 132.

قَالَ الۡحَافِظُ فِي الۡفَتۡحِ (١/٤٧): (وَرَوَىٰ - يَعۡنِي اللَّالَكَائِيَّ - بِسَنَدِهِ الصَّحِيۡحِ عَنِ الۡبُخَارِيِّ قَالَ: لَقِيۡتُ أَكۡثَرَ مِنۡ أَلۡفِ رَجُلٍ مِنَ الۡعُلَمَاءِ بِالۡأَمۡصَارِ، فَمَا رَأَيۡتُ أَحَدًا مِنۡهُمۡ يَخۡتَلِفُ فِي أَنَّ الۡإِيۡمَانَ قَوۡلٌ وَعَمَلٌ، وَيَزِيۡدُ وَيَنۡقُصُ. وَأَطۡنَبَ ابۡنُ أَبِيۡ حَاتِمٍ وَاللَّالَكَائِيُّ فِي نَقۡلِ ذَٰلِكَ بِالۡأَسَانِيۡدِ عَنۡ جَمۡعٍ كَثِيۡرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيۡنَ، وَكُلِّ مَنۡ يَدُوۡرُ عَلَيۡهِ الۡإِجۡمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيۡنَ، وَحَكَاهُ فُضَيۡلُ بۡنُ عِيَاضٍ وَوَكِيۡعٌ عَنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ وَالۡجَمَاعَةِ).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath Al-Bari (1/47), “Dan ia meriwatkan—yakni Al-Lalika’i—dengan sanadnya yang sahih dari Al-Bukhari, beliau berkata: ‘Aku telah menjumpai lebih dari seribu orang ulama di berbagai negeri, dan aku tidak melihat satu pun dari mereka berselisih pendapat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, serta bisa bertambah dan berkurang.’ Ibnu Abu Hatim dan Al-Lalika’i menjelaskan secara panjang lebar dalam menukil hal tersebut dengan sanad-sanad dari sekumpulan banyak sahabat dan tabiin, serta dari setiap orang yang menjadi rujukan ijmak dari kalangan sahabat dan tabiin. Hal ini juga diceritakan oleh Fudhail bin ‘Iyadh dan Waki’ dari ahli sunah waljamaah.”