Cari Blog Ini

Al-Isti'ab - 1555. ‘Abdullah bin Zam’ah

١٥٥٥ - [عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ الۡأَسَدِيُّ]:
1555. ‘Abdullah bin Zam’ah Al-Asadi


عَبۡدُ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ بۡنِ الۡأَسۡوَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ الۡقُرَشِيُّ الۡأَسَدِيُّ. أُمُّهُ قَرِيبَةُ بِنۡتُ أَبِي أُمَيَّةَ أُخۡتُ أُمِّ سَلَمَةَ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِينَ، كَانَ مِنۡ أَشۡرَافِ قُرَيۡشٍ، وَكَانَ يَأۡذَنُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، يُعَدُّ فِي أَهۡلِ الۡمَدِينَةِ.

‘Abdullah bin Zam’ah bin Al-Aswad bin ‘Abdul Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyi Al-Asadi. Ibunya adalah Qaribah binti Abu Umayyah, saudari ibunda kaum mukminin Umu Salamah. Beliau termasuk di antara bangsawan Quraisy, pernah bertugas memberi izin untuk menemui Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, dan digolongkan sebagai penduduk Madinah.

وَرَوَى عَنۡهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمٰنِ، وَعُرۡوَةُ بۡنُ الزُّبَيۡرِ، فَحَدِيثُ أَبِي بَكۡرٍ عَنۡهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (مُرُوا أَبَا بَكۡرٍ فَلۡيُصَلِّ بِالنَّاسِ).

Abu Bakr bin ‘Abdurrahman dan ‘Urwah bin Az-Zubair meriwayatkan darinya. Adapun hadis Abu Bakr darinya adalah: Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami orang-orang salat!”

وَرَوَى عَنۡهُ عُرۡوَةُ ثَلَاثَةَ أَحَادِيثَ: أَحَدُهَا - أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ ذَكَرَ النِّسَاءَ فَقَالَ: (يَضۡرِبُ أَحَدُكُمُ الۡمَرۡأَةَ ضَرۡبَ الۡعَبۡدِ، ثُمَّ يُضَاجِعُهَا مِنۡ آخِرِ يَوۡمِهِ).

وَالثَّانِي - أَنَّهُ ذَكَرَ الضَّرۡطَةَ فَوَعَظَهُمۡ فِيهَا، فَقَالَ: (لِمَ يَضۡحَكُ أَحَدُكُمۡ مِمَّا يَفۡعَلُ).

وَالثَّالِثُ - أَنَّهُ ذَكَرَ نَاقَةَ صَالِحٍ، فَقَالَ: (انۡبَعَثَ لَهَا رَجُلٌ عَزِيزٌ عَارِمٌ مَنِيعٌ فِي رَهۡطِهِ مِثۡلُ أَبِي زَمۡعَةَ فِي قَوۡمِهِ). وَرُبَّمَا جَمَعَ هِشَامُ بۡنُ عُرۡوَةَ عَنۡ أَبِيهِ هٰذِهِ الۡأَحَادِيثَ الثَّلَاثَةَ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ.

‘Urwah meriwayatkan tiga hadis darinya:

Pertama: Bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menyebutkan tentang wanita, lalu beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul budak, kemudian ia menyetubuhinya di akhir harinya.”

Kedua: Bahwa beliau menyebutkan tentang kentut lalu menasihati mereka dalam hal itu. Beliau bersabda, “Mengapa salah seorang dari kalian menertawakan perbuatan yang ia sendiri lakukan?”

Ketiga: Bahwa beliau menyebutkan tentang unta Nabi Saleh, lalu beliau bersabda, “Telah bangkit untuk melakukannya (menyembelih unta) seorang laki-laki yang perkasa, jahat, lagi kuat dalam kaumnya seperti Abu Zam’ah di tengah kaumnya.”

Terkadang Hisyam bin ‘Urwah menggabungkan ketiga hadis dari ayahnya ini dalam satu hadis.

وَأَبُو زَمۡعَةَ هٰذَا هُوَ الۡأَسۡوَدُ بۡنُ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ أَسَدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡعُزَّى بۡنِ قُصَيٍّ، كُنِيَ بِابۡنِهِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ زَمۡعَةُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ، وَأَخُوهُ عَقِيلُ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ يَوۡمَ بَدۡرٍ كَافِرَيۡنِ، وَأَبُوهُمَا الۡأَسۡوَدُ، كَانَ أَحَدَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيهِمۡ: ﴿إِنَّا كَفَيۡنَاكَ الۡمُسۡتَهۡزِئِينَ﴾ [الحجر ٩٥].

Adapun Abu Zam’ah ini adalah Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay. Ia diberi kunyah dengan nama anaknya, Zam’ah. Zam’ah bin Al-Aswad dan saudaranya, ‘Aqil bin Al-Aswad, terbunuh pada perang Badr dalam keadaan kafir. Ayah mereka berdua, Al-Aswad, adalah salah satu dari kaum penghina yang Allah taala berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS Al-Hijr: 95).

ذَكَرُوا أَنَّ جِبۡرِيلَ رَمَى فِي وَجۡهِهِ بِوَرَقَةٍ فَعَمِيَ، وَكَانَتۡ تَحۡتَ عَبۡدِ اللهِ بۡنُ زَمۡعَةَ زَيۡنَبُ بِنۡتُ أَبِي سَلَمَةَ، وَهِيَ أُمُّ بِنۡتِهِ، وَابۡنُهُ يَزِيدُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، قَتَلَهُ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ صَبۡرًا يَوۡمَ الۡحَرَّةِ، وَذٰلِكَ أَنَّهُ أَتَى بِهِ مُسۡرِفُ بۡنُ عُقۡبَةَ أَسِيرًا. فَقَالَ لَهُ: بَايِعۡ عَلَى أَنَّكَ خَوۡلٌ لِأَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَعۡنِي يَزِيدَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِكَ وَمَالِكَ. فَقَالَ: أُبَايِعُهُ عَلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَأَنَا ابۡنُ عَمِّ أَمِيرِ الۡمُؤۡمِنِينَ، يَحۡكُمُ فِي دَمِي وَأَهۡلِي وَمَالِي، وَكَانَ صَدِيقًا لِيَزِيدَ وَصَفِيًّا لَهُ، فَلَمَّا قَالَ ذٰلِكَ قَالَ مُسۡرِفٌ: اضۡرِبُوا عُنُقَهُ، فَوَثَبَ مَرۡوَانُ فَضَمَّهُ إِلَيۡهِ لِمَا كَانَ يَعۡرِفُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ يَزِيدَ. فَقَالَ مَرۡوَانُ: نَعَمۡ يُبَايِعُكَ عَلَى مَا أَحۡبَبۡتَ. وَقَالَ مُسۡرِفٌ: وَاللهِ لَا أَقۡبَلُهُ أَبَدًا. وَقَالَ: إِنۡ تَنَحَّى عَنۡهُ مَرۡوَانُ وَإِلَّا فَاقۡتُلُوهُمَا مَعًا، فَتَرَكَهُ مَرۡوَانُ، وَضُرِبَتۡ عُنُقُ يَزِيدَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَقُتِلَ يَوۡمَئِذٍ إِخۡوَتُهُ فِي الۡقِتَالِ، فَيُقَالُ: إِنَّهُ قُتِلَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ يَوۡمَ الۡحَرَّةِ بَنُونَ. وَمِنۡ وَلَدِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ كَثِيرُ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ، وَهُوَ جَدُّ أَبِي الۡبَخۡتَرِيِّ، وَالۡقَاضِي وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ كَثِيرِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ.

Mereka menyebutkan bahwa Jibril memukul wajahnya dengan selembar daun hingga ia buta. Istri ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Zainab binti Abu Salamah, dan ia adalah ibu dari anak perempuannya serta putranya, Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

Yazid ini dibunuh dengan cara dieksekusi oleh Musrif bin ‘Uqbah pada hari Al-Harrah. Hal itu karena ia dibawa ke hadapan Musrif bin ‘Uqbah sebagai tawanan. Lalu Musrif berkata kepadanya, “Berbaiatlah bahwa engkau adalah hamba sahaya bagi Amirulmukminin—yakni Yazid bin Mu’awiyah—yang berhak menghukumi darah dan hartamu.”

Maka ia menjawab, “Aku membaiatnya di atas Al-Kitab dan Sunah, dan aku adalah sepupu Amirulmukminin. Ia berhak menghukumi darah, keluarga, dan hartaku.”

Ia sebenarnya adalah teman karib dan orang kepercayaan Yazid. Ketika ia mengatakan hal itu, Musrif berkata, “Penggal lehernya!”

Maka Marwan bangkit dan mendekapnya karena ia tahu hubungan kedekatan antara Yazid bin ‘Abdullah dengan Yazid bin Mu’awiyah. Marwan berkata, “Ya, dia akan membaiatmu atas apa yang engkau sukai.”

Namun Musrif berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menerimanya selamanya.” Ia melanjutkan, “Jika Marwan menyingkir darinya (silakan), jika tidak maka bunuh mereka berdua bersama-sama.”

Akhirnya Marwan meninggalkannya, lalu dipenggallah leher Yazid bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Saudara-saudaranya juga terbunuh dalam peperangan hari itu. Dikatakan bahwa putra-putra ‘Abdullah bin Zam’ah terbunuh pada hari Al-Harrah tersebut.

Di antara keturunan ‘Abdullah bin Zam’ah adalah Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Ia adalah kakek dari Abu Al-Bakhtari sang hakim, yaitu Wahb bin Wahb bin Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.

ذَكَرَ الزُّبَيۡرُ عَنۡ عَمِّهِ مُصۡعَبٍ، حَدَّثَنِي أَبُو الۡبَخۡتَرِيِّ قَالَ: قَالَ لِي مُصۡعَبُ بۡنُ ثَابِتٍ: مَنۡ أَنۡتَ؟ قُلۡتُ: وَهۡبُ بۡنُ وَهۡبِ بۡنِ عبد الكَثِير بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَمۡعَةَ قَالَ: فَمَا لَكَ لَا تَقُولُ كَثِيرًا؟ لَعَلَّكَ كَرِهۡتَ ذٰلِكَ، أَتَدۡرِي مَنۡ سَمَّاهُ كَثِيرًا؟ جَدَّتُهُ أُمُّ سَلَمَةَ زَوۡجُ النَّبِيِّ ﷺ.

Az-Zubair menyebutkan dari pamannya, Mush’ab: Abu Al-Bakhtari menceritakan kepadaku, ia berkata:

Mush’ab bin Tsabit bertanya kepadaku, “Siapakah engkau?”

Aku menjawab, “Wahb bin Wahb bin ‘Abd Al-Katsir bin ‘Abdullah bin Zam’ah.”

Mush’ab berkata, “Mengapa engkau tidak mengucapkan Katsir saja? Mungkin engkau membenci nama itu. Tahukah engkau siapa yang menamainya Katsir? Neneknya, Umu Salamah, istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.”