Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di
dalam Syarh Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,
الۡأُولَى: هٰذَا الۡجَوَابُ مُشۡتَمِلٌ عَلَى أَرۡكَانِ الۡإِيمَانِ
السِّتَّةِ، وَأَوَّلُ هٰذِهِ الۡأَرۡكَانِ الۡإِيمَانُ بِاللهِ، وَهُوَ
أَسَاسٌ لِلۡإِيمَانِ بِكُلِّ مَا يَجِبُ الۡإِيمَانُ بِهِ، وَلِهٰذَا أُضِيفَ
إِلَيۡهِ الۡمَلَائِكَةُ وَالۡكُتُبُ وَالرُّسُلُ، وَمَنۡ لَمۡ يُؤۡمِنۡ
بِاللهِ لَا يُؤۡمِنۡ بِبَقِيَّةِ الۡأَرۡكَانِ، وَالۡإِيمَانُ بِاللهِ
يَشۡمُلُ الۡإِيمَانَ بِوُجُودِهِ وَرُبُوبِيَّتِهِ وَأُلُوهِيَّتِهِ
وَأَسۡمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَنَّهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى مُتَّصِفٌ
بِكُلِّ كَمَالٍ يَلِيقُ بِهِ، مُنَزَّهٌ عَنۡ كُلِّ نَقۡصٍ، فَيَجِبُ
تَوۡحِيدُهُ بِرُبُوبِيَّتِهِ وَأُلُوهِيَّتِهِ وَأَسۡمَائِهِ
وَصِفَاتِهِ.
Faedah pertama:
Jawaban ini meliputi enam rukun iman. Rukun pertama adalah iman kepada Allah.
Ini adalah pondasi untuk keimanan kepada seluruh perkara yang wajib diimani.
Karena itulah, para malaikat, kitab-kitab, dan para rasul disandarkan
kepada-Nya. Barang siapa yang tidak beriman kepada Allah, dia tidak akan
mengimani rukun yang lainnya.
Iman kepada Allah mencakup beriman dengan keberadaan-Nya, rububiyyah-Nya,
uluhiyyah-Nya, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Serta beriman bahwa Allah—subhanahu wa ta’ala—disifati dengan seluruh kesempurnaan yang layak untuk-Nya, disucikan dari
segala cacat. Sehingga wajib mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah,
nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.
وَتَوۡحِيدُهُ بِرُبُوبِيَّتِهِ الۡإِقۡرَارُ بِأَنَّهُ وَاحِدٌ فِي
أَفۡعَالِهِ، لَا شَرِيكَ لَهُ فِيهَا، كَالۡخَلۡقِ وَالرَّزۡقِ وَالۡإِحۡيَاءِ
وَالۡإِمَاتَةِ، وَتَدۡبِيرِ الۡأُمُورِ وَالتَّصَرُّفِ فِي الۡكَوۡنِ،
وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِرُبُوبِيَّتِهِ.
Mengesakan Allah dengan rububiyyah-Nya adalah mengikrarkan bahwa Allah esa
dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam
perbuatan-perbuatan-Nya, semisal penciptaan, rezeki, menghidupkan, mematikan,
pengaturan urusan, pengaturan alam semesta, dan yang selain itu dari perkara
yang terkait dengan rububiyyah Allah.
وَتَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ تَوۡحِيدُهُ بِأَفۡعَالِ الۡعِبَادِ،
كَالدُّعَاءِ وَالۡخَوۡفِ وَالرَّجَاءِ وَالتَّوَكُّلِ وَالۡاِسۡتِعَانَةِ
وَالۡاِسۡتِعَاذَةِ وَالۡاِسۡتِغَاثَةِ وَالذَّبۡحِ وَالنَّذۡرِ، وَغَيۡرِهَا
مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ الَّتِي يَجِبُ إِفۡرَادُهُ بِهَا، فَلَا يُصۡرَفُ
مِنۡهَا شَيۡءٌ لِغَيۡرِهِ، وَلَوۡ كَانَ مَلَكًا مُقَرَّبًا أَوۡ نَبِيًّا
مُرۡسَلًا، فَضۡلًا عَمَّنۡ سِوَاهُمَا.
Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba,
semisal doa, khauf, harapan, tawakal, istianah, istiazah, istigasah,
penyembelihan, nazar, dan macam-macam ibadah selain itu yang wajib mengesakan
Allah dengannya. Jadi tidak boleh sedikitpun dari ibadah itu yang
diselewengkan untuk selain Allah walaupun untuk malaikat yang didekatkan atau
nabi yang diutus, lebih-lebih selain keduanya.
وَأَمَّا تَوۡحِيدُ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ، فَهُوَ إِثۡبَاتُ كُلِّ مَا
أَثۡبَتَهُ لِنَفۡسِهِ وَأَثۡبَتَهُ لَهُ رَسُولُهُ ﷺ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ
وَالصِّفَاتِ عَلَى وَجۡهٍ يَلِيقُ بِكَمَالِهِ وَجَلَالِهِ، دُونَ تَكۡيِيفٍ
أَوۡ تَمۡثِيلٍ، وَدُونَ تَحۡرِيفٍ أَوۡ تَأۡوِيلٍ أَوۡ تَعۡطِيلٍ،
وَتَنۡزِيهُهُ عَنۡ كُلِّ مَا لَا يَلِيقُ بِهِ، كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَيۡءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الۡبَصِيرُ﴾، فَجَمَعَ
فِي هٰذِهِ الۡآيَةِ بَيۡنَ الۡإِثۡبَاتِ وَالتَّنۡزِيهِ، فَالۡإِثۡبَاتُ فِي
قَوۡلِهِ: ﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الۡبَصِيرُ﴾، وَالتَّنۡزِيهُ فِي قَوۡلِهِ:
﴿لَيۡسَ كَمِثۡلِهِ شَيۡءٌ ۖ﴾، فَلَهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى سَمۡعٌ لَا
كَالۡأَسۡمَاعِ، وَبَصَرٌ لَا كَالۡأَبۡصَارِ، وَهٰكَذَا يُقَالُ فِي كُلِّ مَا
ثَبَتَ لِلهِ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ.
Adapun tauhid al-asma` wash shifat adalah penetapan nama dan sifat Allah yang
Dia tetapkan untuk Diri-Nya dan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menetapkannya untuk-Nya sesuai kesempurnaan dan keagungan-Nya. Tanpa takyif
(menentukan kaifiatnya), tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya. Tanpa
mengubah-ubah, tanpa takwil yang keliru, tanpa menolak. Serta menyucikan Allah
dari nama dan sifat yang tidak layak bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah—‘azza wa jalla—, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha
Melihat.”
Allah mengumpulkan di ayat ini antara penetapan dan penyucian. Penetapan ada
dalam firman-Nya, “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Penyucian ada dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.”
Jadi Allah memiliki sifat mendengar yang tidak serupa dengan pendengaran
makhluk. Allah memiliki sifat melihat yang tidak serupa dengan penglihatan
makhluk. Demikian seterusnya dikatakan untuk setiap nama dan sifat yang telah
tetap bagi Allah.
وَهٰذَا التَّقۡسِيمُ لِأَنۡوَاعِ التَّوۡحِيدِ عُرِفَ بِالۡاِسۡتِقۡرَاءِ
مِنۡ نُصُوصِ الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَيَتَّضِحُ ذٰلِكَ بِأَوَّلِ سُورَةٍ
فِي الۡقُرۡآنِ، وَآخِرِ سُورَةٍ؛ فَإِنَّ كُلًّا مِنۡهُمَا مُشۡتَمِلَةٌ عَلَى
أَنۡوَاعِ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةِ.
Pembagian jenis-jenis tauhid ini diketahui dari hasil pengamatan nas-nas
Alquran dan sunah. Hal itu jelas terdapat di surah pertama dan terakhir dalam
Alquran. Kedua surah itu mencakup ketiga jenis tauhid.
فَأَمَّا سُورَةُ الۡفَاتِحَةِ، فَإِنَّ الۡآيَةَ الۡأُولَى فِيهَا، وَهِيَ:
﴿الۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ﴾ مُشۡتَمِلَةٌ عَلَى هٰذِهِ
الۡأَنۡوَاعِ؛ فَإِنَّ ﴿الۡحَمۡدُ لِلَّهِ﴾ فِيهَا تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ؛
لِأَنَّ إِضَافَةَ الۡحَمۡدِ إِلَيۡهِ مِنَ الۡعِبَادِ عِبَادَةٌ، وَفِي
قَوۡلِهِ: ﴿رَبِّ الۡعَالَمِينَ﴾ إِثۡبَاتُ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ
كَوۡنُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ رَبَّ الۡعَالَمِينَ، وَالۡعَالَمُونَ هُمۡ كُلُّ
مَنۡ سِوَى اللهِ؛ فَإِنَّهُ لَيۡسَ فِي الۡوُجُودِ إِلَّا خَالِقٌ
وَمَخۡلُوقٌ، وَاللهُ الۡخَالِقُ، وَكُلُّ مَنۡ سِوَاهُ مَخۡلُوقٌ، وَمِنۡ
أَسۡمَاءِ اللهِ الرَّبُّ، وَقَبۡلُهُ لَفۡظُ الۡجَلَالَةِ فِي هٰذِهِ
الۡآيَةِ.
Adapun surah Al-Fatihah, ayat pertamanya, yaitu, “Segala pujian untuk Allah
Tuhan alam semesta.” Mencakup ketiga jenis Tauhid. Karena “segala puji bagi
Allah” mengandung tauhid uluhiyyah karena penyandaran pujian kepada Allah dari
hamba merupakan ibadah.
Dalam firman Allah, “Tuhan alam semesta.” Ada penetapan tauhid rububiyyah,
yaitu keberadaan Allah—‘azza wa jalla—sebagai Tuhan alam semesta.
Al-‘Alamun (alam semesta) adalah semua selain Allah karena tidaklah yang ada
kecuali Pencipta dan makhluk. Allah adalah Pencipta. Semua selain Dia adalah
makhluk.
Di antara nama Allah adalah Ar-Rabb. Sebelum itu pula ada lafaz jalalah
(Allah) di ayat ini.
وَقَوۡلُهُ: ﴿الرَّحۡمٰنِ الرَّحِيمِ﴾ مُشۡتَمِلٌ عَلَى تَوۡحِيدِ
الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ، وَالرَّحۡمٰنُ وَالرَّحِيمُ اسۡمَانِ مِنۡ
أَسۡمَاءِ اللهِ يَدُلَّانِ عَلَى صِفَةٍ مِنۡ صِفَاتِ اللهِ، وَهِيَ
الرَّحۡمَةُ، وَأَسۡمَاءُ اللهِ كُلُّهَا مُشۡتَقَّةٌ، وَلَيۡسَ فِيهَا اسۡمٌ
جَامِدٌ، وَكُلُّ اسۡمٍ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ يَدُلُّ عَلَى صِفَةٍ مِنۡ
صِفَاتِهِ.
Firman Allah, “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Mencakup tauhid
al-asma` wash-shifat. Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua nama di antara
nama-nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah, yaitu ar-rahmah
(belas kasih). Nama-nama Allah semuanya adalah kata bentukan. Tidak ada yang
isim jamid. Setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan suatu sifat dari
sifat-sifat-Nya.
وَ﴿مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ فِيهِ إِثۡبَاتُ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ،
وَهُوَ سُبۡحَانَهُ مَالِكُ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَإِنَّمَا خُصَّ يَوۡمُ
الدِّينِ بِأَنَّ اللهَ مَالِكُهُ؛ لِأَنَّ ذٰلِكَ الۡيَوۡمَ يَخۡضَعُ فِيهِ
الۡجَمِيعُ لِرَبِّ الۡعَالَمِينَ، بِخِلَافِ الدُّنۡيَا، فَإِنَّهُ وُجِدَ
فِيهَا مَنۡ عَتَا وَتَجَبَّرَ، وَقَالَ: ﴿أَنَا۠ رَبُّكُمُ
ٱلۡأَعۡلَىٰ﴾.
“Penguasa hari pembalasan” mengandung penetapan tauhid rububiyyah. Yaitu
Allah—subhanahu—adalah Raja dunia dan akhirat. Dikhususkannya hari
pembalasan dikuasai oleh Allah karena pada hari itu semuanya akan tunduk
kepada Tuhan alam semesta. Beda ketika masih di dunia, karena masih didapati
di situ orang yang melampaui batas lagi sombong dan mengatakan: Aku adalah
tuhan kalian yang paling mulia.
وَقَوۡلُهُ: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ فِيهِ إِثۡبَاتُ
تَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، وَتَقۡدِيمُ الۡمَفۡعُولِ وَهُوَ ﴿إِيَّاكَ﴾
يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، وَالۡمَعۡنَى: نَخُصُّكَ بِالۡعِبَادَةِ
وَالۡاِسۡتِعَانَةِ، وَلَا نُشۡرِكُ مَعَكَ أَحَدًا.
Firman Allah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta
pertolongan.” Dalam ayat ini ada penetapan tauhid uluhiyyah. Maf’ul
“iyyaka” diawalkan memberi faedah pembatasan sehingga bermakna: Kami
khususkan ibadah dan permintaan tolong hanya kepada-Mu. Kami tidak
mempersekutukan sesuatupun bersama-Mu.
وَقَوۡلُهُ: ﴿ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ
أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ﴾
فِيهِ إِثۡبَاتُ تَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ؛ فَإِنَّ طَلَبَ الۡهِدَايَةِ مِنَ
اللهِ دُعَاءٌ، وَقَدۡ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ)،
فَيَسۡأَلُ الۡعَبۡدُ رَبَّهُ فِي هٰذَا الدُّعَاءِ أَنۡ يَهۡدِيَهُ الصِّرَطَ
الۡمُسۡتَقِيمَ الَّذِي سَلَكَهُ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ
وَالشُّهَدَاءُ وَالصَّالِحُونَ، الَّذِينَ هُمۡ أَهۡلُ التَّوۡحِيدِ،
وَيَسۡأَلُهُ أَنۡ يُجَنِّبَهُ طَرِيقَ الۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ
وَالضَّالِّينَ، الَّذِينَ لَمۡ يَحۡصُلۡ مِنۡهُمُ التَّوۡحِيدُ، بَلۡ حَصَلَ
مِنۡهُمُ الشِّرۡكُ بِاللهِ وَعِبَادَةُ غَيۡرِهِ مَعَهُ.
Firman Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai
dan bukan jalan orang-orang yang sesat.” Dalam ayat ini ada penetapan tauhid
uluhiyyah karena permintaan petunjuk dari Allah merupakan doa, sementara
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda, “Doa adalah
ibadah.”
Di dalam doa ini, hamba meminta kepada Tuhannya agar menunjukinya jalan yang
lurus yang telah ditempuh oleh para nabi, orang-orang yang jujur, syuhada, dan
orang-orang yang saleh. Mereka adalah orang-orang yang bertauhid. Hamba juga
meminta agar Allah menjauhkannya dari jalan orang-orang yang dimurkai dan
orang-orang yang sesat. Yaitu orang-orang yang tauhid tidak terwujud dari
mereka, bahkan yang muncul dari mereka adalah perbuatan syirik kepada Allah
dan ibadah kepada selain Allah di samping kepada Allah.
وَأَمَّا سُورَةُ النَّاسِ، فَقَوۡلُهُ: ﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ﴾
فِيهِ إِثۡبَاتُ أَنۡوَاعِ التَّوِحِيدِ الثَّلَاثَةِ؛ فَإِنَّ
الۡاِسۡتِعَاذَةَ بِاللهِ فِيهِ تَوۡحِيدُ الۡأُلُوهِيَّةِ.
Adapun surah An-Nas, firman Allah, “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhannya
manusia.” Dalam ayat ini ada penetapan ketiga jenis tauhid. Istiazah kepada
Allah mengandung tauhid uluhiyyah.
وَ﴿بِرَبِّ ٱلنَّاسِ﴾ فِيهِ إِثۡبَاتُ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ وَتَوۡحِيدِ
الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ، وَهُوَ مِثۡلُ قَوۡلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي
أَوَّلِ الۡفَاتِحَةِ: ﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ﴾.
“Bi Rabbin nas (kepada Tuhannya manusia)” mengandung penetapan tauhid
rububiyyah dan tauhid al-asma` wash-shifat. Ayat ini semisal dengan firman
Allah—‘azza wa jalla—di awal surah Al-Fatihah, “Segala puji untuk Allah
Tuhan alam semesta.”
وَقَوۡلُهُ: ﴿مَلِكِ ٱلنَّاسِ﴾ فِيهِ إِثۡبَاتُ الرُّبُوبِيَّةِ
وَالۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ.
Firman Allah, “Raja manusia” mengandung penetapan tauhid rububiyyah dan
al-asma` wash-shifat.
وَ﴿إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ﴾ فِيهِ إِثۡبَاتُ الۡأُلُوهِيَّةِ وَالۡأَسۡمَاءِ
وَالصِّفَاتِ.
“Sesembahan manusia” mengandung penetapan tauhid uluhiyyah dan al-asma`
wash-shifat.
وَالنِّسۡبَةُ بَيۡنَ أَنۡوَاعِ التَّوۡحِيدِ الثَّلَاثَةِ هٰذِهِ أَنۡ
يُقَالَ: إِنَّ تَوۡحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ وَتَوۡحِيدَ الۡأَسۡمَاءِ
وَالصِّفَاتِ مُسۡتَلۡزِمَانِ لِتَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، وَتَوۡحِيدُ
الۡأُلُوهِيَّةِ مُتَضَمِّنٌ لَهُمَا، وَالۡمَعۡنَى أَنَّ مَنۡ أَقَرَّ
بِالۡأُلُوهِيَّةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُقِرًّا بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ
وَبِتَوۡحِيدِ الۡأَسۡمَاءِ وَالصِّفَاتِ؛ لِأَنَّ مَنۡ أَقَرَّ بِأَنَّ اللهَ
هُوَ الۡمَعۡبُودُ وَحۡدَهُ فَخَصَّهُ بِالۡعِبَادَةِ وَلَمۡ يَجۡعَلۡ لَهُ
شَرِيكًا فِيهَا، لَا يَكُونُ مُنۡكِرًا أَنَّ اللهَ هُوَ الۡخَالِقُ
الرَّازِقُ الۡمُحۡيِي الۡمُمِيتُ، وَأَنَّ لَهُ الۡأَسۡمَاءَ الۡحُسۡنَى
وَالصِّفَاتِ الۡعُلَى.
Keterkaitan ketiga jenis tauhid ini adalah bahwa tauhid rububiyyah dan tauhid
al-asma` wash-shifat mengharuskan tauhid uluhiyyah. Sedangkan tauhid uluhiyyah
mengandung kedua tauhid tersebut. Maknanya adalah siapa saja yang menetapkan
tauhid uluhiyyah, berarti dia menetapkan tauhid rububiyyah dan tauhid al-asma`
wash-shifat, karena barang siapa menetapkan Allah adalah yang diibadahi
satu-satu-Nya, lalu dia mengkhususkan ibadah kepada-Nya dan tidak membuat
sekutu untuk-Nya, dia tidak menjadi orang yang mengingkari bahwa Allah adalah
Maha pencipta, Maha pemberi rezeki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, dan
bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah dan sifat-sifat yang termulia.
وَأَمَّا مَنۡ أَقَرَّ بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ وَتَوۡحِيدِ الۡأَسۡمَاءِ
وَالصِّفَاتِ، فَإِنَّهُ يَلۡزَمُهُ أَنۡ يُقِرَّ بِتَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ،
وَقَدۡ أَقَرَّ الۡكُفَّارُ الَّذِينَ بُعِثَ فِيهِمۡ رَسُولُ اللهِ ﷺ
بِتَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، فَلَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ هٰذَا الۡإِقۡرَارُ فِي
الۡإِسۡلَامِ، بَلۡ قَاتَلَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى يَعۡبُدُوا اللهَ وَحۡدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِهٰذَا يَأۡتِي كَثِيرًا فِي الۡقُرۡآنِ تَقۡرِيرُ
تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ الَّذِي أَقَرَّ بِهِ الۡكُفَّارُ؛ لِإِلۡزَامِهِمۡ
بِالۡإِقۡرَارِ بِتَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، وَمِنۡ أَمۡثِلَةِ ذٰلِكَ قَوۡلُ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَمَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ
لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهۡجَةٍ
مَّا كَانَ لَكُمۡ أَن تُنۢبِتُوا۟ شَجَرَهَآ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ
بَلۡ هُمۡ قَوۡمٌ يَعۡدِلُونَ ٦٠ أَمَّن جَعَلَ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارًا وَجَعَلَ
خِلَٰلَهَآ أَنۡهَٰرًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِىَ وَجَعَلَ بَيۡنَ
ٱلۡبَحۡرَيۡنِ حَاجِزًا ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا
يَعۡلَمُونَ ٦١ أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ
ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ
قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ ٦٢ أَمَّن يَهۡدِيكُمۡ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ
وَٱلۡبَحۡرِ وَمَن يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَىۡ رَحۡمَتِهِۦٓ ۗ
أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ تَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٣ أَمَّن
يَبۡدَؤُا۟ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَمَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ
وَٱلۡأَرۡضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قُلۡ هَاتُوا۟ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن
كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ﴾
Adapun barang siapa yang telah mengakui tauhid rububiyyah dan tauhid al-asma`
wash-shifat, hal itu mengharuskannya untuk mengakui tauhid uluhiyyah.
Orang-orang kafir yang Rasulullah telah diutus di tengah-tengah mereka
mengakui tauhid rububiyyah. Namun pengakuan itu tidak lantas menyebabkan
mereka masuk ke dalam agama Islam. Bahkan Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka sampai mereka beribadah
kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, pengakuan
tauhid rububiyyah oleh orang-orang kafir banyak terdapat ayat di dalam
Alquran, yang itu mengharuskan mereka untuk mengakui tauhid uluhiyyah.
Di antara contoh-contoh ayat itu adalah firman Allah—‘azza wa jalla—,
“Siapakah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi, menurunkan air dari
langit untuk kalian lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun yang memiliki
pemandangan indah yang kalian tidak menanami pohonnya? Apakah ada sesembahan
di samping Allah? Tetapi mereka adalah kaum yang menyimpang. Atau adakah yang
menjadikan bumi sebagai tempat yang kokoh dan menjadikan celah-celahnya
sebagai sungai dan menjadikan gunung-gunung padanya dan menjadikan di antara
dua laut ada sekat? Apakah ada sesembahan di samping Allah? Tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang
kesulitan ketika berdoa kepadanya, menyingkap kejelekan, dan menjadikan kalian
sebagai khalifah di muka bumi? Apakah ada sesembahan di samping Allah? Sedikit
sekali kalian mengingat. Atau siapakah yang menunjuki kalian di kegelapan
daratan dan lautan dan siapakah yang mengirim angin sebagai kabar gembira akan
datangnya rahmat-Nya? Apakah ada sesembahan di samping Allah? Mahatinggi Allah
dari apa saja yang mereka sekutukan. Atau siapakah yang memulai penciptaan
kemudian mengulanginya dan siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari
langit dan bumi? Apakah ada sesembahan di samping Allah? Katakanlah: Datangkan
bukti-bukti kalian jika kalian benar.”
فَفِي كُلِّ آيَةٍ مِنۡ هٰذِهِ الۡآيَاتِ تَقۡرِيرُ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ
لِلۡإِلۡزَامِ بِتَوۡحِيدِ الۡأُلُوهِيَّةِ، فَيَقُولُ فِي كُلِّ آيَةٍ مِنۡ
هٰذِهِ الۡآيَاتِ الۡخَمۡسِ عَقِبَ تَقۡرِيرِ تَوۡحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ
﴿أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ﴾، وَالۡمَعۡنَى أَنَّ مَنۡ تَفَرَّدَ بِهٰذِهِ
الۡأَفۡعَالِ الَّتِي هِيَ مِنۡ أَفۡعَالِ اللهِ وَحۡدَهُ، يَجِبُ أَنۡ يُخَصَّ
بِالۡعِبَادَةِ وَحۡدَهُ؛ لِأَنَّ مَنِ اخۡتُصَّ بِالۡخَلۡقِ وَالۡإِيجَادِ
وَغَيۡرِهَا مِنۡ أَفۡعَالِ اللهِ يَجِبُ أَنۡ يُخَصَّ بِالۡعِبَادَةِ
وَحۡدَهُ، وَكَيۡفَ يُعۡقَلُ أَنۡ تَكُونَ الۡمَخۡلُوقَاتُ الَّتِي كَانَتۡ
عَدَمًا، وَقَدۡ أَوۡجَدَهَا اللهُ، كَيۡفَ يُعۡقَلُ أَنۡ يَكُونَ لَهَا
نَصِيبٌ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَهِيَ مَخۡلُوقَةٌ لِلهِ، وَقَدۡ قَالَ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ
أَمۡثَالُكُمۡ﴾
Dalam setiap ayat dari ayat-ayat ini ada penetapan tauhid rububiyyah untuk
mengharuskan tauhid uluhiyyah. Allah berfirman di setiap lima ayat ini setelah
penetapan tauhid rububiyyah, “Apakah ada sesembahan di samping Allah?”
Maknanya bahwa barang siapa yang bersendirian dalam melakukan
perbuatan-perbuatan ini—yang merupakan perbuatan Allah semata—, berarti ibadah
wajib untuk dikhususkan untuknya. Karena barang siapa yang sendirian dalam
menciptakan, mengadakan, dan yang lainnya dari perbuatan-perbuatan Allah
semata, maka ibadah wajib dikhususkan untuk-Nya semata. Bagaimana bisa masuk
akal, makhluk-makhluk yang tadinya tidak ada, lalu Allah adakan, dia mendapat
bagian dari ibadah, sementara dia makhluk milik Allah. Sedangkan Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kalian seru dalam doa selain Allah
adalah para hamba semisal kalian.”