٤٣٤٤، ٤٣٤٥ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ
بۡنُ أَبِي بُرۡدَةَ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ ﷺ جَدَّهُ أَبَا
مُوسَى وَمُعَاذًا إِلَى الۡيَمَنِ، فَقَالَ: (يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا،
وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا). فَقَالَ أَبُو مُوسَى: يَا
نَبِيَّ اللهِ إِنَّ أَرۡضَنَا بِهَا شَرَابٌ مِنَ الشَّعِيرِ الۡمِزۡرُ،
وَشَرَابٌ مِنَ الۡعَسَلِ الۡبِتۡعُ، فَقَالَ: (كُلُّ مُسۡكِرٍ حَرَامٌ).
4345, 4346. Muslim telah menceritakan kepada kami: Syu’bah menceritakan kepada
kami: Sa’id bin Abu Burdah menceritakan kepada kami dari ayahnya. Ia berkata:
Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengutus kakek Sa’id, yaitu Abu
Musa, dan Mu’adz ke Yaman. Beliau bersabda, “Permudahlah dan jangan
mempersulit! Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh! Serta
saling bekerjasamalah kalian berdua!”
Abu Musa berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di negeri kami terdapat
minuman dari jelai yang disebut mizr dan minuman dari madu yang disebut bit’.”
Beliau bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah haram.”
فَانۡطَلَقَا، فَقَالَ مُعَاذٌ لِأَبِي مُوسَى: كَيۡفَ تَقۡرَأُ الۡقُرۡآنَ؟
قَالَ: قَائِمًا وَقَاعِدًا وَعَلَى رَاحِلَتِي، وَأَتَفَوَّقُهُ تَفَوُّقًا،
قَالَ: أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ، فَأَحۡتَسِبُ نَوۡمَتِي كَمَا
أَحۡتَسِبُ قَوۡمَتِي. وَضَرَبَ فُسۡطَاطًا، فَجَعَلَا يَتَزَاوَرَانِ، فَزَارَ
مُعَاذٌ أَبَا مُوسَى، فَإِذَا رَجُلٌ مُوثَقٌ، فَقَالَ: مَا هٰذَا؟ فَقَالَ
أَبُو مُوسَى: يَهُودِيٌّ أَسۡلَمَ ثُمَّ ارۡتَدَّ، فَقَالَ مُعَاذٌ:
لَأَضۡرِبَنَّ عُنُقَهُ.
Lalu keduanya berangkat. Mu’adz bertanya kepada Abu Musa, “Bagaimana kamu
membaca Al-Qur’an?”
Abu Musa menjawab, “Aku membacanya saat berdiri, duduk, dan di atas hewan
tungganganku, serta aku membacanya secara rutin sedikit demi sedikit.”
Mu’adz berkata, “Adapun aku, maka aku tidur dan aku bangun (untuk salat
malam), dan aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala
dari salat malamku.”
Mu’adz mendirikan sebuah kemah, lalu mereka berdua pun saling mengunjungi.
Suatu ketika Mu’adz mengunjungi Abu Musa, ternyata di sana ada seorang
laki-laki yang terikat. Mu’adz bertanya, “Apa ini?”
Abu Musa menjawab, “Ia adalah seorang Yahudi yang masuk Islam, kemudian ia
murtad.”
Mu’adz berkata, “Sungguh, aku akan menebas lehernya.”
تَابَعَهُ الۡعَقَدِيُّ وَوَهۡبٌ عَنۡ شُعۡبَةَ، وَقَالَ وَكِيعٌ وَالنَّضۡرُ
وَأَبُو دَاوُدَ: عَنۡ شُعۡبَةَ، عَنۡ سَعِيدٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ،
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. رَوَاهُ جَرِيرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡحَمِيدِ، عَنِ
الشَّيۡبَانِيِّ، عَنۡ أَبِي بُرۡدَةَ. [طرفه في: ٤٣٤٢].
Al-‘Aqadi dan Wahb mengiringi Muslim dari Syu’bah. Waki’, An-Nadhr, dan Abu
Dawud juga meriwayatkan dari Syu’bah, dari Sa’id, dari ayahnya, dari kakeknya,
dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Hadis ini juga diriwayatkan
oleh Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Asy-Syaibani, dari Abu Burdah.