Syekh 'Abdul Muhsin bin Hamad Al-'Abbad Al-Badr--hafizhahullah--di dalam Syarh
Hadits Jibril fi Ta'lim Ad-Din menyebutkan,
التَّاسِعَةُ: الۡإِحۡسَانُ وَالۡإِيمَانُ وَالۡإِسۡلَامُ دَرَجَاتٌ،
فَأَعۡلَى الدَّرَجَاتِ الۡإِحۡسَانُ، وَدُونَهُ دَرَجَةُ الۡإِيمَانِ، وَدُونَ
ذٰلِكَ دَرَجَةُ الۡإِسۡلَامِ، فَكُلُّ مُحۡسِنٍ مُؤۡمِنٌ مُسۡلِمٌ، وَكُلُّ
مُؤۡمِنٍ مُسۡلِمٌ، وَلَيۡسَ كُلُّ مُؤۡمِنٍ مُحۡسِنًا، وَلَا كُلُّ مُسۡلِمٍ
مُؤۡمِنًا مُحۡسِنًا، وَلِهٰذَا جَاءَ فِي سُورَةِ الۡحُجُرَاتِ: ﴿قَالَتِ
ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟
أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ ﴾.
Kesembilan: Ihsan, iman, dan islam adalah tingkatan-tingkatan. Tingkatan yang
paling tinggi adalah ihsan, di bawahnya adalah tingkatan iman, dan di bawah
itu adalah tingkatan islam. Maka, setiap orang yang muhsin (pelaku ihsan)
pasti seorang mukmin dan muslim, dan setiap mukmin pasti seorang muslim.
Namun, tidak setiap mukmin itu muhsin, dan tidak setiap muslim itu mukmin
maupun muhsin. Oleh karena itu, disebutkan dalam surah Al-Hujurat:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian
belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk (berislam); karena iman
belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS Al-Hujurat: 14).
وَلِلتَّفَاوُتِ فِي هٰذِهِ الدَّرَجَاتِ فَإِنَّهُ يُسۡتَثۡنَى فِي
الۡإِيمَانِ عِنۡدَ أَهۡلِ السُّنَّةِ، فَإِذَا قِيلَ لِلرَّجُلِ: أَنۡتَ
مُؤۡمِنٌ؟ قَالَ: إِنۡ شَاءَ اللهُ أَوۡ أَرۡجُو؛ لِأَنَّ فِي ذِكۡرِ
الۡإِيمَانِ بِدُونِ اسۡتِثۡنَاءٍ تَزۡكِيَةً لِلنَّفۡسِ، وَمَنۡ جَاءَ عَنۡهُ
مِنۡ أَهۡلِ السُّنَّةِ تَرۡكُ الۡاِسۡتِثۡنَاءِ فِي الۡإِيمَانِ، فَإِنَّ
مَقۡصُودَهُ أَصۡلُ الۡإِيمَانِ الَّذِي هُوَ الۡإِسۡلَامُ، وَلَيۡسَ
التَّزۡكِيَةَ.
Karena adanya perbedaan pada tingkatan-tingkatan ini, maka menurut ahli sunah
diperbolehkan melakukan istitsna` (pengecualian) dalam hal iman. Yaitu, jika
seseorang ditanya, “Apakah engkau seorang mukmin?”, maka ia menjawab,
“Insyaallah” atau “Aku berharap (demikian)”. Hal ini dikarenakan menyebutkan
iman tanpa istitsna` mengandung unsur menganggap suci diri. Adapun ulama ahli
sunah yang tidak melakukan istitsna` dalam iman, maka yang dimaksudkan olehnya
adalah pokok keimanan yang maknanya adalah islam, bukan bermaksud untuk
menganggap suci diri.