٨ - بَابُ الشَّرِكَةِ فِي الۡأَرَضِينَ وَغَيۡرِهَا
8. Bab Perserikatan (Syarikat) dalam Urusan Tanah-Tanah dan Selainnya
٢٤٩٥ - حَدَّثَنَا عَبۡدُ اللهِ بۡنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ:
أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ أَبِي سَلَمَةَ، عَنۡ جَابِرِ
بۡنِ عَبۡدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: إِنَّمَا جَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ
الشُّفۡعَةَ فِي كُلِّ مَا لَمۡ يُقۡسَمۡ، فَإِذَا وَقَعَتِ الۡحُدُودُ،
وَصُرِّفَتِ الطُّرُقُ، فَلَا شُفۡعَةَ. [طرفه في:
٢٢١٣].
2495. ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami: Hisyam
menceritakan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri, dari
Abu Salamah, dari Jabir bin ‘Abdullah—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Nabi
Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—hanya menetapkan hak syuf’ah (hak
seorang rekan pemilik aset untuk mengambil atau membeli secara paksa bagian
dari rekannya yang dijual kepada orang lain, dengan harga yang sama saat
transaksi itu terjadi) pada setiap sesuatu yang belum dibagi. Apabila
batas-batas tanah telah ditentukan dan jalan-jalan akses telah dipisahkan,
maka tidak ada lagi hak syuf’ah.