Cari Blog Ini

Tafsir Surah Al-'Alaq

تَفۡسِيرُ سُورَةِ اقۡرَأۡ


[وَهِيَ] مَكِّيَّةٌ

Surah Al-‘Alaq adalah surah makiyah.


﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ * ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ * ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ * كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ * أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ۝٧ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يَنۡهَىٰ * عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ ۝١٠ أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ ۝١١ أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ * أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ * أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ * كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ * فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُۥ * سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ * كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡ وَٱقۡتَرِب ۩﴾‏

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan pena,
  5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
  6. Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,
  7. karena melihat dirinya serbakecukupan.
  8. Sungguh, hanya kepada Rabmulah tempat kembali(mu).
  9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
  10. seorang hamba ketika dia melaksanakan salat?
  11. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),
  12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
  13. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) mendustakan dan berpaling?
  14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
  15. Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),
  16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka
  17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
  18. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah,
  19. Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta mendekatlah (kepada Allah).

۝١ هٰذِهِ السُّورَةُ أَوَّلُ السُّوَرِ الۡقُرۡآنِيَّةِ نُزُولًا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ.

Surah ini adalah surah Al-Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

فَإِنَّهَا نَزَلَتۡ عَلَيۡهِ فِي مَبَادِىءِ النُّبُوَّةِ، إِذۡ كَانَ لَا يَدۡرِي مَا الۡكِتَابُ وَلَا الۡإِيمَانُ.

Sesungguhnya surah ini turun kepada beliau di masa-masa awal kenabian, saat beliau belum mengetahui apa itu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan apa itu iman.

فَجَاءَهُ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالرِّسَالَةِ، وَأَمَرَهُ أَنۡ يَقۡرَأَ فَامۡتَنَعَ وَقَالَ: (مَا أَنَا بِقَارِىءٍ) فَلَمۡ يَزَلۡ بِهِ حَتَّى قَرَأَ.

Lalu Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam—datang kepadanya membawa risalah dan memerintahkannya untuk membaca, namun beliau enggan dan berkata, “Aku tidak bisa membaca.”

Jibril terus mendekapnya hingga beliau membaca.

فَأَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ﴾ عُمُومَ الۡخَلۡقِ.

Maka Allah menurunkan kepadanya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabmu yang menciptakan” yang mencakup penciptaan secara umum.

۝٢ ثُمَّ خَصَّ الۡإِنۡسَانَ وَذَكَرَ ابۡتِدَاءَ خَلۡقِهِ ﴿مِنۡ عَلَقٍ﴾ فَالَّذِي خَلَقَ الۡإِنۡسَانَ وَاعۡتَنَى بِتَدۡبِيرِهِ، لَا بُدَّ أَنۡ يَدُبِّرَهُ بِالۡأَمۡرِ وَالنَّهۡيِ، وَذٰلِكَ بِإِرۡسَالِ الرَّسُولِ إِلَيۡهِمۡ، وَإِنۡزَالِ الۡكُتُبِ عَلَيۡهِمۡ.

Kemudian mengkhususkan manusia dan menyebutkan awal penciptaannya “dari segumpal darah”. Maka Zat yang telah menciptakan manusia dan memperhatikan pengurusannya, pasti akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan mengutus rasul kepada mereka dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka.

وَلِهٰذَا ذَكَرَ بَعۡدَ الۡأَمۡرِ بِالۡقِرَاءَةِ خَلۡقَهُ لِلۡإِنۡسَانِ.

Oleh karena itu, setelah perintah membaca, Dia menyebutkan penciptaan-Nya terhadap manusia.

۝٣-۝٥ ثُمَّ قَالَ: ﴿ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الصِّفَاتِ وَاسِعُهَا، كَثِيرُ الۡكَرَمِ وَالۡإِحۡسَانِ، وَاسِعُ الۡجُودِ الَّذِي مِنۡ كَرَمِهِ أَنۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ، وَ﴿عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ * عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ﴾ فَإِنَّهُ تَعَالَى أَخۡرَجَهُ مِنۡ بَطۡنِ أُمِّهِ لَا يَعۡلَمُ شَيۡئًا، وَجَعَلَ لَهُ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ، وَيَسَّرَ لَهُ أَسۡبَابَ الۡعِلۡمِ.

Kemudian Dia berfirman, “Bacalah, dan Rabmulah Yang Maha Mulia” artinya: memiliki sifat yang banyak lagi luas, banyak kemuliaan dan kebaikan-Nya, luas kedermawanan-Nya, yang mana di antara kemuliaan-Nya adalah Dia mengajar dengan pena.

Dan “Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Karena sesungguhnya Allah taala mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia menjadikan baginya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, serta memudahkan baginya sarana-sarana ilmu.

فَعَلَّمَهُ الۡقُرۡآنَ وَعَلَّمَهُ الۡحِكۡمَةَ، وَعَلَّمَهُ بِالۡقَلَمِ، الَّذِي بِهِ تُحۡفَظُ الۡعُلُومُ وَتُضۡبَطُ الۡحُقُوقُ وَتَكُونُ رُسُلًا لِلنَّاسِ، تَنُوبُ مَنَابَ خِطَابِهِمۡ.

Maka Dia mengajarkan Al-Qur’an kepadanya, mengajarkan hikmah kepadanya, dan mengajarkan dengan pena kepadanya, yang dengan pena tersebut ilmu-ilmu terjaga, hak-hak tercatat, dan menjadi utusan bagi manusia yang menggantikan kedudukan ucapan mereka.

فَلِلهِ الۡحَمۡدُ وَالۡمِنَّةُ، الَّذِي أَنۡعَمَ عَلَى عِبَادِهِ بِهٰذِهِ النِّعَمِ، الَّتِي لَا يَقۡدِرُونَ لَهَا عَلَى جَزَاءٍ وَلَا شُكُورٍ، ثُمَّ مَنَّ عَلَيۡهِمۡ بِالۡغِنَى وَسَعَةِ الرِّزۡقِ.

Hanya bagi Allah segala puji dan sanjungan, yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat ini kepada hamba-hamba-Nya, yang mana mereka tidak akan mampu membalas ataupun mensyukurinya sebagaimana mestinya. Kemudian Dia melimpahkan karunia kepada mereka berupa kekayaan dan kelapangan rezeki.

۝٦-۝٨ وَلَكِنَّ الۡإِنۡسَانَ – لِجَهۡلِهِ وَظُلۡمِهِ – إِذَا رَأَى نَفۡسَهُ غَنِيًّا طَغَى وَبَغَى وَتَجَبَّرَ عَنِ الۡهُدَى، وَنَسِيَ أَنَّ إِلَى رَبِّهِ الرُّجۡعَى، وَلَمۡ يَخَفِ الۡجَزَاءَ، بَلۡ رُبَّمَا وَصَلَتۡ بِهِ الۡحَالُ أَنَّهُ يَتۡرُكُ الۡهُدَى بِنَفۡسِهِ، وَيَدۡعُو [غَيۡرَهُ] إِلَى تَرۡكِهِ، فَيَنۡهَى عَنِ الصَّلَاةِ الَّتِي هِيَ أَفۡضَلُ أَعۡمَالِ الۡإِيمَانِ، يَقُولُ اللهُ لِهٰذَا الۡمُتَمَرِّدِ الۡعَاتِي:

Akan tetapi manusia—karena kebodohan dan kezalimannya—apabila melihat dirinya serbakecukupan, dia melampaui batas, berlaku sewenang-wenang, dan bersikap sombong terhadap petunjuk. Dia lupa bahwa hanya kepada Rabnyalah tempat kembali dan dia tidak takut terhadap balasan. Bahkan terkadang keadaannya sampai pada tahap dia sendiri meninggalkan petunjuk dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya, lalu melarang salat yang merupakan amalan iman yang paling utama. Allah berfirman kepada orang yang membangkang lagi melampaui batas ini:

۝٩-۝١٢ ﴿أَرَءَيۡتَ﴾ أَيُّهَا النَّاهِي لِلۡعَبۡدِ إِذَا صَلَّى ﴿إِن كَانَ﴾ الۡعَبۡدُ الۡمُصَلِّي ﴿عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ﴾ الۡعِلۡمِ بِالۡحَقِّ وَالۡعَمَلِ بِهِ ﴿أَوۡ أَمَرَ﴾ غَيۡرَهُ ﴿بِٱلتَّقۡوَىٰٓ﴾.

“Bagaimana pendapatmu” wahai orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan salat, “jika dia” hamba yang salat itu “berada di atas petunjuk” yaitu berilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya, “atau dia menyuruh” orang lain “bertakwa” (kepada Allah)?

فَهَلۡ يَحۡسُنُ أَنۡ يُنۡهَى مَنۡ هٰذَا وَصۡفُهُ؟ أَلَيۡسَ نَهۡيُهُ مِنۡ أَعۡظَمِ الۡمُحَادَّةِ لِلهِ وَالۡمُحَارَبَةِ لِلۡحَقِّ؟ فَإِنَّ النَّهۡيَ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَّا لِمَنۡ هُوَ فِي نَفۡسِهِ عَلَى غَيۡرِ الۡهُدَى، أَوۡ كَانَ يَأۡمُرُ غَيۡرَهُ بِخِلَافِ التَّقۡوَى.

Maka apakah pantas orang yang memiliki sifat seperti ini dilarang? Bukankah melarangnya termasuk bentuk penentangan terbesar kepada Allah dan peperangan terhadap kebenaran? Karena sesungguhnya larangan itu tidak ditujukan kecuali kepada orang yang dirinya sendiri berada di atas selain petunjuk, atau orang yang menyuruh orang lain kepada sesuatu yang menyelisihi ketakwaan.

۝١٣، ۝١٤ ﴿أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ﴾ النَّاهِي بِالۡحَقِّ ﴿وَتَوَلَّىٰٓ﴾ عَنِ الۡأَمۡرِ، أَمَا يَخَافُ اللهَ وَيَخۡشَى عِقَابَهُ؟ ﴿أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ﴾ مَا يَعۡمَلُ وَيَفۡعَلُ؟

“Bagaimana pendapatmu jika dia” orang yang melarang itu “mendustakan” kebenaran “dan berpaling” dari perintah? Tidakkah dia takut kepada Allah dan ngeri terhadap siksaan-Nya?

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat” segala yang dia amalkan dan perbuat?

۝١٥، ۝١٦ ثُمَّ تَوَعَّدَهُ إِنِ اسۡتَمَرَّ عَلَى حَالِهِ فَقَالَ: ﴿كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ﴾ عَمَّا يَقُولُ وَيَفۡعَلُ ﴿لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ﴾ أَيۡ: لَنَأۡخُذَنۡ بِنَاصِيَتِهِ أَخۡذًا عَنِيفًا، وَهِيَ حَقِيقَةٌ بِذٰلِكَ، فَإِنَّهَا ﴿نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ﴾ أَيۡ: كَاذِبَةٍ فِي قَوۡلِهَا خَاطِئَةٍ فِي فِعۡلِهَا.

Kemudian Allah mengancamnya jika dia terus-menerus dalam keadaannya tersebut, lalu berfirman, “Sekali-kali tidak! Jika dia tidak berhenti” dari apa yang dia katakan dan perbuat, “niscaya Kami tarik ubun-ubunnya” artinya: niscaya benar-benar Kami pegang ubun-ubunnya dengan pegangan yang keras. Ubun-ubun tersebut memang layak diperlakukan demikian, karena ia adalah “ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka” artinya: berdusta dalam ucapannya lagi bersalah dalam perbuatannya.

۝١٧ ﴿فَلۡيَدۡعُ﴾ هٰذَا الَّذِي حَقَّ عَلَيۡهِ الۡعِقَابُ ﴿نَادِيَهُۥ﴾ أَيۡ: أَهۡلَ مَجۡلِسِهِ وَأَصۡحَابَهُ، وَمَنۡ حَوۡلَهُ لِيُعِينُوهُ عَلَى مَا نَزَلَ بِهِ.

“Maka biarlah dia memanggil” orang yang telah pasti mendapatkan hukuman ini “golongannya” artinya: orang-orang di tempat majelisnya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang di sekitarnya, agar mereka membantunya menghadapi azab yang menimpanya.

۝١٨ ﴿سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ﴾ أَيۡ: خَزَنَةَ جَهَنَّمَ لِأَخۡذِهِ وَعُقُوبَتِهِ.

“Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah” artinya: malaikat penjaga jahanam untuk menyeret dan menghukumnya.

فَلۡيَنۡظُرۡ أَيُّ الۡفَرِيقَيۡنِ أَقۡوَى وَأَقۡدَرُ؟ فَهٰذِهِ حَالَةُ النَّاهِي وَمَا تُوُعِّدَ بِهِ مِنَ الۡعُقُوبَةِ.

Maka silakan lihat, golongan manakah yang lebih kuat dan lebih kuasa? Demikianlah keadaan orang yang melarang beserta ancaman hukuman yang ditujukan kepadanya.

وَأَمَّا حَالَةُ الۡمَنۡهِيِّ، فَأَمَرَهُ اللهُ أَنۡ لَا يُصۡغَى إِلَى هٰذَا النَّاهِي وَلَا يَنۡقَادَ لِنَهۡيِهِ فَقَالَ:

Adapun keadaan orang yang dilarang, maka Allah memerintahkannya agar tidak mendengarkan orang yang melarang ini dan tidak tunduk pada larangannya, lalu Dia berfirman,

۝١٩ ﴿كَلَّا لَا تُطِعۡهُ﴾ [أَيۡ]: فَإِنَّهُ لَا يَأۡمُرُ إِلَّا بِمَا فِيهِ خَسَارَةُ الدَّارَيۡنِ.

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya” artinya: karena sesungguhnya dia tidak memerintahkan kecuali pada hal yang mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat.

﴿وَٱسۡجُدۡ﴾ لِرَبِّكَ ﴿وَٱقۡتَرِب﴾ مِنۡهُ فِي السُّجُودِ وَغَيۡرِهِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الطَّاعَاتِ وَالۡقُرُبَاتِ، فَإِنَّهَا كُلَّهَا تُدۡنِي مِنۡ رِضَاهُ وَتُقَرِّبُ مِنۡهُ، وَهٰذَا عَامٌّ لِكُلِّ نَاهٍ عَنِ الۡخَيۡرِ وَمَنۡهِيٍّ عَنۡهُ، وَإِنۡ كَانَتۡ نَازِلَةً فِي شَأۡنِ أَبِي جَهۡلٍ حِينَ نَهَى رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ وَعَبِثَ بِهِ وَآذَاهُ.

“Dan sujudlah” kepada Rabmu “serta mendekatlah” kepada-Nya dalam sujud serta jenis ketaatan dan ibadah lainnya, karena semua itu mendekatkan diri pada rida-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang melarang kebaikan dan orang yang dilarang darinya, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan urusan Abu Jahl ketika dia melarang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari melaksanakan salat, mencemooh, serta menyakiti beliau.

تَمَّتۡ وَلِلهِ الۡحَمۡدُ

Selesai. Alhamdulillah.