Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Tafsir As-Sa'di. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir As-Sa'di. Tampilkan semua postingan

Tafsir Surah Az-Zalzalah

تَفۡسِيۡرُ سُوۡرَةِ إِذَا زُلۡزِلَتۡ
Tafsir Surah Az-Zalzalah


وَهِيَ مَدَنِيَّةٌ

Surah ini termasuk madaniah.


﴿إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا * وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا * وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَا لَهَا * يَوۡمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا * بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا * يَوۡمَئِذٍ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ أَشۡتَاتًا لِّيُرَوۡا۟ أَعۡمَٰلَهُمۡ * فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَرَهُۥ * وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ﴾.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
  2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
  3. dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”
  4. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,
  5. karena sesungguhnya Rabmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.
  6. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka.
  7. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,
  8. dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

۝١ يُخۡبِرُ تَعَالَى عَمَّا يَكُونُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَأَنَّ الۡأَرۡضَ تَتَزَلۡزَلُ وَتَرۡجُفُ وَتَرۡتَجُّ، حَتَّى يَسۡقُطَ مَا عَلَيۡهَا مِنۡ بِنَاءٍ وَعَلَمٍ.

Allah taala mengabarkan tentang peristiwa yang terjadi pada hari kiamat, bahwa bumi akan berguncang, bergetar, dan bergempa hingga runtuhlah bangunan dan tanda-tanda jalan yang ada di atasnya.

فَتَنۡدَكُّ جِبَالُهَا، وَتُسَوَّى تِلَالُهَا، وَتَكُونُ قَاعًا صَفۡصَفًا لَا عِوَجَ فِيۡهِ وَلَا أَمۡتَ.

Gunung-gunungnya hancur lebur, bukit-bukitnya diratakan, sehingga bumi menjadi hamparan yang rata, tidak ada tempat yang rendah maupun yang tinggi.

۝٢ ﴿وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا﴾ أَيۡ: مَا فِي بَطۡنِهَا مِنَ الۡأَمۡوَاتِ وَالۡكُنُوۡزِ.

“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya” yaitu isi perutnya, baik berupa mayat maupun harta simpanan.

۝٣ ﴿وَقَالَ ٱلۡإِنسَٰنُ﴾ إِذَا رَأَى مَا عَرَّاهَا مِنَ الۡأَمۡرِ الۡعَظِيمِ مُسۡتَعۡظِمًا لِذٰلِكَ: ﴿مَا لَهَا﴾؟ أَيۡ: أَيُّ شَيۡءٍ عَرَضَ لَهَا؟

“Dan manusia bertanya” ketika melihat perkara besar yang menimpa bumi dengan penuh keheranan: “Apa yang terjadi pada bumi ini?” yakni, hal apa yang sedang melandanya?

۝٤ ﴿يَوۡمَئِذٍ تُحَدِّثُ﴾ الۡأَرۡضُ ﴿أَخۡبَارَهَا﴾ أَيۡ: تَشۡهَدُ عَلَى الۡعَامِلِينَ بِمَا عَمِلُوا عَلَى ظَهۡرِهَا مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ، فَإِنَّ الۡأَرۡضَ مِنۡ جُمۡلَةِ الشُّهُودِ الَّذِيۡنَ يَشۡهَدُوۡنَ عَلَى الۡعِبَادِ بِأَعۡمَالِهِمۡ.

“Pada hari itu” bumi “menyampaikan beritanya” maksudnya, bumi bersaksi atas para pelaku amal mengenai perbuatan yang mereka kerjakan di atas punggungnya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Sesungguhnya bumi termasuk bagian dari para saksi yang akan memberikan kesaksian atas amal perbuatan para hamba.

۝٥ ذٰلِكَ ﴿بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا﴾ [أَيۡ]: وَأَمَرَهَا أَنۡ تُخۡبِرَ بِمَا عُمِلَ عَلَيۡهَا، فَلَا تَعۡصِي لِأَمۡرِهِ.

Hal itu “karena sesungguhnya Rabmu telah memerintahkan kepadanya” yakni memerintahkannya untuk mengabarkan segala hal yang dilakukan di atasnya, maka bumi tidak akan mendurhakai perintah-Nya.

۝٦ ﴿ يَوۡمَئِذٍ يَصۡدُرُ ٱلنَّاسُ﴾ مِنۡ مَوۡقِفِ الۡقِيَامَةِ حِيۡنَ يَقۡضِي اللّٰهُ بَيۡنَهُمۡ ﴿أَشۡتَاتًا﴾ أَيۡ: فِرَقًا مُتَفَاوِتِيۡنَ.

“Pada hari itu manusia keluar” dari padang mahsyar, ketika Allah telah memutuskan perkara di antara mereka “dalam keadaan berkelompok-kelompok” yakni dalam golongan-golongan yang berbeda-beda.

﴿لِّيُرَوۡا۟ أَعۡمَٰلَهُمۡ﴾ أَيۡ: لِيُرِيَهُمُ اللّٰهُ مَا عَمِلُوا مِنَ الۡحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، وَيُرِيَهُمۡ جَزَاءَهُ مُوَفَّرًا.

“Untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka” maksudnya, agar Allah memperlihatkan kepada mereka kebaikan dan keburukan yang telah mereka kerjakan, serta memperlihatkan balasannya secara sempurna.

۝٧، ۝٨ ﴿فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرًا يَرَهُۥ * وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ﴾ وَهٰذَا شَامِلٌ عَامٌّ لِلۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ كُلِّهِ، لِأَنَّهُ إِذَا رَأَى مِثۡقَالَ الذَّرَّةِ الَّتِي هِيَ أَحۡقَرُ الۡأَشۡيَاءِ، [وَجُوزِيَ عَلَيۡهَا]، فَما فَوۡقَ ذٰلِكَ مِنۡ بَابِ أَوۡلَى وَأَحۡرَى، كَمَا قَالَ تَعَالَى:

﴿يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٍ مُّحۡضَرًا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدًا ۗ﴾، ﴿وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ﴾.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” Ayat ini mencakup secara umum seluruh kebaikan dan keburukan. Karena jika manusia melihat balasan seberat zarah—yang merupakan sesuatu yang paling kecil—dan dibalas karenanya, maka amal yang lebih besar dari itu tentu lebih utama lagi untuk dilihat dan dibalas. Sebagaimana Allah taala berfirman,

يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٍ مُّحۡضَرًا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدًا ۗ

“Pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di hadapannya), dan juga balasan atas kejahatan yang telah dikerjakannya; dia ingin sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu.” (QS Ali Imran: 30).

وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ

“Mereka mendapati perbuatan yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS Al-Kahfi: 49).

وَهٰذِهِ الۡآيَةُ فِيۡهَا غَايَةُ التَّرۡغِيۡبِ فِي فِعۡلِ الۡخَيۡرِ وَلَوۡ قَلِيۡلًا، وَالتَّرۡهِيۡبُ مِنۡ فِعۡلِ الشَّرِّ وَلَوۡ حَقِيۡرًا. 

Ayat ini mengandung motivasi yang sangat besar untuk melakukan kebaikan meskipun sedikit dan peringatan dari melakukan keburukan meskipun dianggap remeh.

Tafsir Surah Al-'Adiyat

تفسير سورة العاديات
Tafsir Surah Al-‘Adiyat


وهي مكية

Surah ini makiyah.


﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا * فَٱلۡمُورِيَٰتِ قَدۡحًا * فَٱلۡمُغِيرَٰتِ صُبۡحًا *‏ فَأَثَرۡنَ بِهِۦ نَقۡعًا * فَوَسَطۡنَ بِهِۦ جَمۡعًا * إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ * وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ * أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِى ٱلۡقُبُورِ * وَحُصِّلَ مَا فِى ٱلصُّدُورِ * إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرُۢ﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  1. Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
  2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
  3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,
  4. maka ia menerbangkan debu,
  5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
  6. sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabnya,
  7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
  8. dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
  9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan,
  10. dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan,
  11. sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

۝١ أَقۡسَمَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ بِالۡخَيۡلِ، لِمَا فِيهَا مِنۡ آيَاتِ اللهِ الۡبَاهِرَةِ، وَنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ، مَا هُوَ مَعۡلُومٌ لِلۡخَلۡقِ.

Allah—tabaraka wa ta’ala—bersumpah dengan kuda, karena pada kuda tersebut terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan dan nikmat-nikmat-Nya yang tampak nyata, sebagaimana yang telah diketahui oleh manusia.

وَأَقۡسَمَ [تَعَالَىٰ] بِهَا فِي الۡحَالِ الَّتِي لَا يُشَارِكُهَا [فِيهِ] غَيۡرُهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡحَيَوَانَاتِ، فَقَالَ:

Dan Allah taala bersumpah dengan kuda dalam hal yang tidak diserupai oleh jenis hewan lainnya, maka Dia berfirman:

﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا﴾ أَيۡ: الۡعَادِيَاتِ عَدۡوًا بَلِيغًا قَوِيًّا، يَصۡدُرُ عَنۡهُ الضَّبۡحُ، وَهُوَ صَوۡتُ نَفَسِهَا فِي صَدۡرِهَا، عِنۡدَ اشۡتِدَادِ الۡعَدۡوِ.

Wal-‘ādiyāti ḍabḥā”, yaitu: kuda-kuda perang yang berlari dengan lari yang sangat cepat dan kuat, sehingga mengeluarkan suara adh-dhabh, yaitu suara nafas di dalam dadanya saat larinya semakin kencang.

۝٢ ﴿فَٱلۡمُورِيَٰتِ﴾ بِحَوَافِرِهِنَّ مَا يَطَأۡنَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡأَحۡجَارِ ﴿قَدۡحًا﴾ أَيۡ: تَقۡدِحُ النَّارَ مِنۡ صَلَابَةِ حَوَافِرِهِنَّ [وَقُوَّتِهِنَّ] إِذَا عَدَوۡنَ

“Dan kuda-kuda yang mencetuskan api” dengan kuku-kuku kaki mereka pada batu-batu yang mereka injak “dengan pukulan (kuku kakinya)”, yaitu: mencetuskan api karena keras dan kuatnya kuku-kuku kaki mereka saat berlari kencang.

۝٣ ﴿فَٱلۡمُغِيرَاتِ﴾ عَلَى الۡأَعۡدَاءِ ﴿صُبۡحًا﴾ وَهٰذَا أَمۡرٌ أَغۡلَبِيٌّ، أَنَّ الۡغَارَةَ تَكُونُ صَبَاحًا.

“Dan kuda-kuda yang menyerang dengan tiba-tiba” kepada para musuh “di waktu pagi”. Ini adalah hal yang umum terjadi, bahwa serangan biasanya dilakukan pada waktu pagi.

۝٤ ﴿فَأَثَرۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِعَدۡوِهِنَّ وَغَارَتِهِنَّ ﴿نَقۡعًا﴾ أَيۡ: غُبَارًا.

“Maka kuda-kuda itu menerbangkan”, yaitu: karena lari dan serangan mereka “naq‘ā” berarti debu.

۝٥ ﴿فَوَسَطۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِرَاكِبِهِنَّ ﴿جَمۡعًا﴾ أَيۡ: تَوَسَّطۡنَ بِهِ جُمُوعَ الۡأَعۡدَاءِ الَّذِينَ أَغَارَ عَلَيۡهِمۡ.

“Dan menyerbu ke tengah-tengah”, yaitu: bersama penunggangnya “kumpulan”, yaitu: mereka menuju ke tengah-tengah kumpulan musuh yang diserang.

۝٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ﴾ أَيۡ: لَمَنُوعٌ لِلۡخَيۡرِ الَّذِي عَلَيۡهِ لِرَبِّهِ.

Dan hal yang disumpahi adalah firman-Nya: “Sungguh, manusia itu sangat ingkar kepada Rabnya”, yaitu: benar-benar enggan memberikan kebaikan yang menjadi kewajibannya kepada Rabnya.

فَطَبِيعَةُ [الۡإِنۡسَانِ] وَجِبِلَّتُهُ أَنَّ نَفۡسَهُ لَا تَسۡمَحُ بِمَا عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ، فَتُؤَدِّيَهَا كَامِلَةً مُوَفَّرَةً، بَلۡ طَبِيعَتُهَا الۡكَسَلُ وَالۡمَنۡعُ لِمَا عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ الۡمَالِيَّةِ وَالۡبَدَنِيَّةِ، إِلَّا مَنۡ هَدَاهُ اللهُ وَخَرَجَ عَنۡ هٰذَا الۡوَصۡفِ إِلَىٰ وَصۡفِ السَّمَاحِ بِأَدَاءِ الۡحُقُوقِ.

Maka tabiat dan watak asli manusia adalah jiwanya tidak mau melakukan kewajiban yang harus ditunaikannya dengan sukarela, sehingga ia tidak menunaikannya secara sempurna dan lengkap. Bahkan tabiatnya adalah malas dan enggan menunaikan hak-hak harta maupun badan yang menjadi kewajibannya, kecuali orang yang diberi hidayah oleh Allah dan keluar dari sifat ini menuju sifat mudah dan ringan dalam menunaikan hak-hak.

۝٧ ﴿وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ﴾ أَيۡ: إِنَّ الۡإِنۡسَانَ عَلَىٰ مَا يَعۡرِفُ مِنۡ نَفۡسِهِ مِنَ الۡمَنۡعِ وَالۡكَنۡدِ لَشَاهِدٌ بِذٰلِكَ، لَا يَجۡحَدُهُ وَلَا يُنۡكِرُهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ أَمۡرٌ بَيِّنٌ وَاضِحٌ.

“Dan sesungguhnya dia benar-benar menyaksikan atas hal itu”, yaitu: sesungguhnya manusia terhadap pengetahuan terhadap dirinya sendiri berupa sifat kikir dan pengingkaran nikmat benar-benar menyaksikannya. Ia tidak menyangkal dan tidak memungkirinya karena hal itu adalah perkara yang sangat jelas.

وَيَحۡتَمِلُ أَنَّ الضَّمِيرَ عَائِدٌ إِلَى اللهِ تَعَالَى؛ أَيۡ: إِنَّ الۡعَبۡدَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ، وَاللهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ ذٰلِكَ، فَفِيهِ الۡوَعِيدُ وَالتَّهۡدِيدُ الشَّدِيدُ لِمَنۡ هُوَ لِرَبِّهِ كَنُودٌ، بِأَنَّ اللهَ عَلَيۡهِ شَهِيدٌ.

Dan ada kemungkinan bahwa kata ganti (dia) kembali kepada Allah taala, yaitu: sesungguhnya hamba itu sangat ingkar kepada Rabnya dan Allah menyaksikan hal tersebut. Maka di dalamnya terdapat ancaman serta peringatan yang keras bagi siapa saja yang ingkar kepada Rabnya, bahwa sesungguhnya Allah menyaksikannya.

۝٨﴿وَإِنَّهُۥ﴾ أَيۡ: الۡإِنۡسَان ﴿لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ﴾ أَيۡ: الۡمَالِ ﴿لَشَدِيدٌ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الۡحُبِّ لِلۡمَالِ.

“Dan sesungguhnya dia”, yaitu: manusia “terhadap kecintaan pada kebaikan”, yaitu: harta “benar-benar hebat”, yaitu: sangat besar cintanya terhadap harta.

وَحُبُّهُ لِذٰلِكَ، هُوَ الَّذِي أَوۡجَبَ لَهُ تَرۡكَ الۡحُقُوقِ الۡوَاجِبَةِ عَلَيۡهِ، قَدَّمَ شَهۡوَةَ نَفۡسِهِ عَلَىٰ حَقِّ رَبِّهِ، وَكُلُّ هٰذَا لِأَنَّهُ قَصَّرَ نَظَرَهُ عَلَىٰ هٰذِهِ الدَّارِ، وَغَفَلَ عَنِ الۡآخِرَةِ.

Kecintaannya terhadap hal tersebutlah yang menyebabkan dia meninggalkan hak-hak yang wajib dia tunaikan. Dia lebih mendahulukan syahwat dirinya daripada hak Rabnya. Semua ini terjadi karena dia membatasi pandangannya hanya pada negeri dunia ini dan lalai terhadap akhirat.

وَلِهٰذَا قَالَ - حَاثًّا لَهُ عَلَىٰ خَوۡفِ يَوۡمِ الۡوَعِيدِ -:

Oleh karena itulah Dia berfirman—untuk mendorongnya agar takut terhadap hari ancaman—:

۝٩ ﴿أَفَلَا يَعۡلَمُ﴾ أَيۡ: هَلَّا يَعۡلَمُ هٰذَا الۡمُغۡتَرُّ ﴿إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ﴾ أَيۡ: أَخۡرَجَ اللهُ الۡأَمۡوَاتَ مِنۡ قُبُورِهِمۡ لِحَشۡرِهِمۡ وَنُشُورِهِمۡ.

“Maka tidakkah dia mengetahui”, yaitu: tidakkah orang yang terpedaya ini mengetahui “apabila isi kubur dikeluarkan”, yaitu: Allah mengeluarkan orang-orang mati dari kubur mereka untuk dihimpun dan dibangkitkan.

۝١٠ ﴿وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ﴾ أَيۡ: ظَهَرَ وَبَانَ [مَا فِيهَا وَ]مَا اسۡتَتَرَ فِي الصُّدُورِ مِنۡ كَمَائِنِ الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ، فَصَارَ السِّرُّ عَلَانِيَةً وَالۡبَاطِنُ ظَاهِرًا، وَبَانَ عَلَىٰ وُجُوهِ الۡخَلۡقِ نَتِيجَةُ أَعۡمَالِهِمۡ.

“Dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan”, yaitu: tampak dan jelaslah isi dan rahasia di dalam dada berupa simpanan kebaikan dan keburukan, maka rahasia menjadi nyata, yang batin menjadi tampak, dan hasil dari amal perbuatan makhluk tampak pada wajah-wajah mereka.

۝١١ ﴿إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ﴾ أَيۡ: مُطَّلِعٌ عَلَىٰ أَعۡمَالِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، الۡخَفِيَّةِ وَالۡجَلِيَّةِ، وَمُجَازِيهِمۡ عَلَيۡهَا.

“Sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”, yaitu: Allah melihat amal perbuatan mereka yang tampak maupun yang batin, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, dan Allah membalas mereka atas amal tersebut.

وَخَصَّ خُبۡرَهُ بِذٰلِكَ الۡيَوۡمِ، مَعَ أَنَّهُ خَبِيرٌ بِهِمۡ فِي كُلِّ وَقۡتٍ، لِأَنَّ الۡمُرَادَ بِذٰلِكَ، الۡجَزَاءُ بِالۡأَعۡمَالِ النَّاشِىءُ عَنۡ عِلۡمِ اللهِ وَاطِّلَاعِهِ.

Allah mengkhususkan pengetahuan-Nya pada hari itu—padahal Dia Maha Mengetahui mereka setiap waktu—karena yang dimaksud dengan hal itu adalah (hari itu adalah waktu) pembalasan atas amal perbuatan yang muncul berdasarkan ilmu dan pantauan Allah.

Tafsir Surah Al-Qari'ah

تفسير سورة القارعة
Tafsir Surah Al-Qari’ah


[وهي] مكية

Surah ini makiyah.


﴿ٱلۡقَارِعَةُ *‏ مَا ٱلۡقَارِعَةُ *‏ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ *‏ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوثِ *‏ وَتَكُونُ ٱلۡجِبَالُ كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ *‏ فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ *‏ فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ *‏ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ *‏ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ *‏ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ *‏ نَارٌ حَامِيَةُۢ﴾

  1. Hari kiamat,
  2. apakah hari kiamat itu?
  3. Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
  5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
  7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
  9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
  10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
  11. (Yaitu) api yang sangat panas.

۝١، ۝٤ ﴿ٱلۡقَارِعَةُ﴾ من أسماء يوم القيامة، سميت بذلك، لأنها تقرع الناس وتزعجهم بأهوالها.

Al-Qari’ah adalah salah satu nama hari kiamat. Dinamakan demikian karena hari kiamat mendatangi manusia secara tiba-tiba dan mencemaskan mereka dengan kedahsyatannya.

ولهذا عظم أمرها وفخمه بقوله: ﴿ٱلۡقَارِعَةُ *‏ مَا ٱلۡقَارِعَةُ *‏ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡقَارِعَةُ *‏ يَوۡمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ﴾ من شدة الفزع والهول، ﴿كَٱلۡفَرَاشِ ٱلۡمَبۡثُوث﴾ أي: كالجراد المنتشر الذي يموج بعضه في بعض، والفراش: هي الحيوانات التي تكون في الليل، يموج بعضها ببعض، لا تدري أين توجه، فإذا أوقد لها نار تهافتت إليها لضعف إدراكها، فهذه حال الناس أهل العقول.

Karena alasan ini, Dia membesar-besarkan kejadian ini dengan firman-Nya, “Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah …” saking takut dan ngeri, “seperti ngengat yang bertebaran” artinya: seperti belalang yang berhamburan, saling bertubrukan. Al-Firasy (ngengat) adalah hewan yang ada di malam hari, saling bertubrukan, tidak tahu arah. Ketika api dinyalakan untuk mereka, mereka pun berbondong-bondong ke arahnya karena lemahnya ilmu mereka. Demikianlah keadaan manusia pemilik akal.

۝٥ وأما الجبال الصم الصلاب فتكون ﴿كَٱلۡعِهۡنِ ٱلۡمَنفُوشِ﴾ أي: كالصوف المنفوش الذي بقي ضعيفًا جدًا تطير به أدنى ريح. قال تعالى: ﴿وَتَرَى ٱلۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِ﴾.

Adapun gunung-gunung yang kokoh dan keras akan menjadi “bagai bulu yang dihambur-hamburkan”, artinya: seperti bulu domba yang dihambur-hamburkan yang sangat lemah yang bisa diterbangkan oleh angin yang paling pelan. Allah taala berfirman, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.”

ثم بعد ذلك، تكون هباء منثورًا، فتضمحل ولا يبقى منها شيء يشاهد، فحينئذ تنصب الموازين وينقسم الناس قسمين: سعداء وأشقياء.

Setelah itu, gunung-gunung itu akan menjadi debu yang bertebaran, lenyap, dan tak ada lagi yang tersisa. Saat itu timbangan akan dipancangkan dan manusia akan terbagi menjadi dua kelompok: bahagia dan sengsara.

۝٦، ۝٧ ﴿فَأَمَّا مَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ﴾ أي: رجحت حسناته على سيئاته ﴿فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ﴾ في جنات النعيم.

“Adapun orang-orang yang berat timbangannya”, yaitu: lebih berat kebaikannya daripada keburukannya, “maka dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan” di dalam janah yang penuh kenikmatan.

۝٨، ۝٩ ﴿وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ﴾ بأن لم تكن له حسنات تقاوم سيئاته، ﴿فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ﴾ أي: مأواه ومسكنه النار التي من أسمائها الهاوية، تكون له بمنزلة الأم الملازمة، كما قال تعالى: ﴿إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا﴾.

“Adapun orang yang timbangannya ringan”, ia tidak memiliki kebaikan yang menandingi keburukannya, “maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah,” artinya: tempat tinggal dan kediamannya adalah neraka, yang salah satu namanya adalah Al-Hawiyah. Neraka itu bagaikan kedudukan ibu yang senantiasa menyertainya, sebagaimana Allah taala berfirman, “Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.”

وقيل: إن معنى ذلك فأم دماغه هاوية في النار؛ أي: يلقى في النار على رأسه.

Ada yang berpendapat bahwa makna ayat itu ialah otaknya akan dijatuhkan ke dalam neraka, maksudnya: ia akan dilempar ke dalam neraka dengan kepala lebih dulu.

۝١٠، ۝١١ ﴿وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ﴾ وهذا تعظيم لأمرها، ثم فسرها بقوله هي: ﴿نَارٌ حَامِيَةُۢ﴾ أي: شديدة الحرارة قد زادت حرارتها على حرارة نار الدنيا سبعين ضعفًا، نستجير بالله منها.

“Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” Pertanyaan ini untuk membesar-besarkan gambaran tentangnya. Kemudian Allah menjelaskannya dengan firman-Nya bahwa neraka Hawiyah adalah, “api yang sangat panas” artinya: panas sekali, panasnya melebihi panas api dunia tujuh puluh kali lipat. Kita berlindung kepada Allah darinya.

Tafsir Surah At-Takasur

تفسير سورة ألهاكم التكاثر
Tafsir Surah At-Takasur


وهي مكية

Surah ini makiyah.


﴿أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ * حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ * كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ﴾‏.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  1. Berbangga dengan banyaknya jumlah telah melalaikan kalian,
  2. sampai kalian telah mengunjungi kuburan
  3. Janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui.
  4. Kemudian janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui.
  5. Janganlah begitu! Andai kalian mengetahui dengan penglihatan yang meyakinkan,
  6. niscaya kalian akan melihat neraka Jahim,
  7. kemudian kalian akan melihatnya dengan penglihatan yang yakin,
  8. kemudian kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan.

۝١ يقول تعالى موبخًا عباده عن اشتغالهم عما خلقوا له من عبادته وحده لا شريك له، ومعرفته والإنابة إليه، وتقديم محبته على كل شيء:

Allah taala berfirman menegur hamba-hamba-Nya karena terlalu sibuk (sampai lalai) dari tujuan mereka diciptakan, yaitu beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, mengenal-Nya, bertobat kepada-Nya, dan mengutamakan cinta kepada-Nya di atas segala sesuatu.

﴿أَلۡهَىٰكُمُ﴾ عن ذلك المذكور ﴿ٱلتَّكَاثُرُ﴾ ولم يذكر المتكاثر به ليشمل ذلك كل ما يتكاثر به المتكاثرون، ويفتخر به المفتخرون، من التكاثر في الأموال، والأولاد، والأنصار، والجنود، والخدم، والجاه، وغير ذلك مما يقصد منه مكاثرة كل واحد للآخر، وليس المقصود به الإخلاص لله تعالى.

“Berbangga-bangga dengan banyaknya jumlah telah melalaikan kalian” dari apa yang disebutkan. Allah tidak menyebutkan hal yang dibanggakan agar mencakup segala sesuatu yang dibanggakan banyaknya oleh manusia, seperti harta, anak, pendukung, tentara, pelayan, kedudukan, dan hal-hal lain yang diniatkan untuk membanggakan jumlahnya di hadapan orang lain dan tidak dimaksudkan untuk ikhlas kepada Allah taala.

۝٢ فاستمرت غفلتكم ولهوتكم [وتشاغلكم] ﴿حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ﴾ فانكشف لكم حينئذ الغطاء، ولكن بعد ما تعذر عليكم استئنافه.

Kelalaian, permainan, dan kesibukan kalian berlanjut “sampai kalian mengunjungi (masuk ke dalam) kubur”. Di saat itu tabir (kehidupan akhirat) disingkap untukmu, akan tetapi engkau sudah tidak bisa untuk kembali (hidup sekali lagi).

ودل قوله: ﴿ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ﴾ أن البرزخ دار مقصود منها النفوذ إلى الدار الباقية، لأن الله سماهم زائرين ولم يسمهم مقيمين.

Firman Allah, “Sampai kalian mengunjungi kuburan,” menunjukkan bahwa alam barzakh adalah tempat yang dimaksudkan untuk menuju ke tempat tinggal abadi. Juga bahwa Allah menyebut mereka pengunjung dan tidak menyebut mereka penduduk.

فدل ذلك على البعث والجزاء بالأعمال، في دار باقية غير فانية، ولهذا توعدهم بقوله:

Ayat ini menandakan adanya kebangkitan dan pahala atas amal di tempat yang kekal yang tidak fana. Karena itulah Allah mengancam mereka dengan firman-Nya,

۝٣-۝٥ ﴿كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ * كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ﴾ أي: لو تعلمون ما أمامكم علمًا يصل إلى القلوب، لما ألهاكم التكاثر ولبادرتم إلى الأعمال الصالحة. ولكن عدم العلم الحقيقي صيركم إلى ما ترون.

“Janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui. Kemudian janganlah begitu! Kalian kelak mengetahui. Janganlah begitu! Andai kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin," Artinya: seandainya kalian mengetahui apa yang ada di hadapan kalian dengan ilmu yang sampai ke hati, niscaya kalian tidak akan terlalaikan untuk berbangga dengan banyaknya jumlah dan kalian akan bersegera untuk beramal saleh. Tetapi ketiadaan ilmu yang benar telah membawa kalian kepada apa yang kalian lihat.

۝٦ ﴿لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ﴾ أي: لتردن القيامة فلترون الجحيم التي أعدها الله للكافرين.

“Kalian pasti akan melihat neraka Jahim”, yakni: kalian akan mendatangi hari kiamat dan kalian akan melihat neraka Jahim yang telah disediakan Allah untuk orang-orang kafir.

۝٧ ﴿ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ﴾ أي: رؤية بصرية، كما قال تعالى: ﴿وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُوا۟ عَنۡهَا مَصۡرِفًا﴾.

“Kemudian kalian pasti akan melihatnya dengan ‘ain al-yaqin.” Yaitu: penglihatan mata, sebagaimana Allah taala berfirman, “Dan orang-orang yang berdosa akan melihat neraka dan mereka yakin bahwa mereka akan terjerumus ke dalamnya, dan mereka tidak akan menemukan jalan keluar darinya.”

۝٨ ﴿ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ﴾ الذي تنعمتم به في دار الدنيا، هل قمتم بشكره وأديتم حق الله فيه ولم تستعينوا به على معاصيه؟ فينعمكم نعيمًا أعلى منه وأفضل.

“Kemudian sesungguhnya kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan” yang telah kalian nikmati di dunia. Sudahkah kalian bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, memenuhi hak-hak-Nya, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya, agar Dia memberi kalian dengan nikmat yang lebih tinggi dan lebih baik?

أم اغتررتم به ولم تقوموا بشكره؟ بل ربما استعنتم به على معاصي الله؟ فيعاقبكم على ذلك، قال تعالى: ﴿وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِى حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ﴾ الآية.

Atau apakah kalian tertipu olehnya dan tidak mensyukurinya? Mungkin kalian malah memanfaatkannya untuk berbuat dosa terhadap Allah, sehingga Dia akan menghukum kalian karenanya. Allah taala berfirman, “Dan pada hari orang-orang kafir dihadapkan ke dalam neraka, (akan dikatakan), ‘Kalian telah menghabiskan rezeki-rezeki kalian yang baik dalam kehidupan dunia dan kalian telah menikmatinya, maka pada hari ini kalian akan dibalas dengan azab yang menghinakan…”

Tafsir Surah Al-'Asr

تفسير سورة والعصر
Tafsir Surah Al-‘Asr


[وهي] مكية

Surah Al-‘Asr adalah surah makiyah.


۝١-۝٣ ﴿وَٱلۡعَصۡرِ ‎* إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِى خُسۡرٍ *‏ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  1. Demi masa,
  2. Sesungguhnya semua manusia benar-benar dalam kerugian
  3. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dengan kebenaran, dan saling berwasiat dengan kesabaran.

أقسم تعالى بالعصر الذي هو الليل والنهار، محل أفعال العباد وأعمالهم، أن كل إنسان خاسر، والخاسر ضد الرابح.

Allah taala bersumpah dengan al-‘ashr (masa) yaitu malam dan siang. Yaitu waktu para hamba untuk berbuat dan beramal. Allah bersumpah bahwa seluruh manusia merugi. Al-Khāsir (orang yang rugi) adalah lawan kata dari ar-rābiḥ (orang yang beruntung).

والخسار مراتب متعددة متفاوتة:

قد يكون خسارًا مطلقًا، كحال من خسر الدنيا والآخرة، وفاته النعيم واستحق الجحيم.

وقد يكون خاسرًا من بعض الوجوه دون بعض، ولهذا عمم الله الخسار لكل إنسان، إلا من اتصف بأربع صفات:

Tingkatan kerugian ada banyak dan bertingkat-tingkat:
  • Kadang kerugiannya mutlak seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan akhirat. Dia luput dari berbagai kenikmatan dan berhak menempati neraka Jahim.
  • Terkadang kerugiannya sebagian sisi saja.

Oleh karenanya, Allah menyematkannya secara umum kepada seluruh manusia kecuali yang disifati dengan empat sifat:

الإيمان بما أمر الله بالإيمان به، ولا يكون الإيمان بدون العلم، فهو فرع عنه لا يتم إلا به.

والعمل الصالح، وهذا شامل لأفعال الخير كلها: الظاهرة والباطنة المتعلقة بحق الله وحق عباده، الواجبة والمستحبة.

والتواصي بالحق الذي هو الإيمان والعمل الصالح، أي: يوصي بعضهم بعضًا بذلك، ويحثه عليه ويرغبه فيه.

والتواصي بالصبر على طاعة الله وعن معصية الله، وعلى أقدار الله المؤلمة.

  1. Mengimani perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk diimani. Iman tidak bisa ada tanpa ilmu. Ilmu adalah cabang keimanan yang akan menyempurnakannya.
  2. Amalan saleh. Ini mencakup seluruh perbuatan baik, lahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya, yang wajib dan yang sunah.
  3. Saling berwasiat dengan kebenaran, yaitu iman dan amal saleh. Artinya: satu sama lain saling berwasiat dengan itu, menganjurkannya, dan memotivasinya.
  4. Saling berwasiat dengan kesabaran di atas ketaatan kepada Allah, sabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, dan sabar menerima takdir Allah yang menyakitkan.

فبالأمرين الأولين يكمل الإنسان نفسه، وبالأمرين الأخيرين يكمل غيره.

وبتكميل الأمور الأربعة يكون الإنسان قد سلم من الخسار، وفاز بالربح [العظيم].

Dengan dua perkara pertama (iman dan amal saleh), seseorang akan menyempurnakan dirinya. Dengan dua perkara terakhir, seseorang akan menyempurnakan orang lain. Dengan menyempurnakan keempat perkara ini, seseorang akan selamat dari kerugian dan berhasil mendapatkan keuntungan yang amat besar.

Tafsir Surah Al-Humazah

تفسير سورة الهمزة
Tafsir Surah Al-Humazah


وهي مكية

Surah Al-Humazah adalah surah makiyah.


﴿وَيۡلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ * ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ * يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ * كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِى ٱلۡحُطَمَةِ * وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ * نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ * ٱلَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ * إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٌ * فِى عَمَدٍ مُّمَدَّدَةِۭ﴾.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  1. Celaka bagi setiap pengumpat lagi pencela
  2. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya
  3. Dia mengira hartanya dapat membuatnya kekal
  4. Sekali-kali tidak. Dia pasti akan dilemparkan ke dalam huthamah.
  5. Tahukah engkau apa huthamah itu?
  6. Api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan
  7. Yang (membakar) sampai ke hati
  8. Sesungguhnya neraka itu ditutup di atas mereka
  9. Dengan tiang yang dipalangkan.

۝١، ۝٢ ﴿وَيۡلٌ﴾ أي: وعيد ووبال وشدة عذاب ﴿لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ﴾ الذي يهمز الناس بفعله ويلمزهم بقوله، فالهماز: الذي يعيب الناس ويطعن عليهم بالإشارة والفعل، واللماز: الذي يعيبهم بقوله.

Wail” artinya ancaman, bencana, dan pedihnya azab. “Likulli humazatin lumazah” yang menyakiti manusia dengan perbuatan dan mencela mereka dengan ucapan. Hammaz adalah yang mencela manusia dan merendahkan kehormatan mereka dengan isyarat dan perbuatan. Lammaz adalah yang mencela mereka dengan ucapannya.

ومن صفة هذا الهماز اللماز أنه لا هم له سوى جمع المال وتعديده والغبطة به، وليس له رغبة في إنفاقه في طرق الخيرات وصلة الأرحام، ونحو ذلك.

Di antara sifat hammaz lammaz ini adalah hanya fokus mengumpulkan harta, menghitung-hitungnya, dan mendambakannya, namun dia tidak memiliki keinginan untuk menginfakkannya di jalan-jalan kebaikan, silaturahmi, dan lain sebagainya.

۝٣ ﴿يَحۡسَبُ﴾ بجهله ﴿أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ﴾ في الدنيا، فلذلك كان كده وسعيه كله في تنمية ماله الذي يظن أنه ينمي عمره.

“Dia mengira” dengan kebodohannya “hartanya dapat membuatnya kekal” di dunia. Oleh karenanya, kerja keras dan upayanya semuanya untuk mengembangkan hartanya yang dikira dapat menambah umurnya.

ولم يدر أن البخل يقصف الۡأعمار ويخرب الديار، وأن البر يزيد في العمر.

Dia tidak mengetahui bahwa kebakhilan menghancurkan umur dan meruntuhkan rumah, sedangkan kebaikan menambah umur.

۝٤، ۝٥ ﴿كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ﴾ أي: ليطرحن ﴿فِى ٱلۡحُطَمَةِ * وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحُطَمَةُ﴾ تعظيم لها وتهويل لشأنها.

Kallā (sekali-kali tidak) layunbadzanna” artinya dia benar-benar akan dilemparkan “ke dalam huthamah. Apakah engkau tahu apa huthamah itu?” Pertanyaan untuk menunjukkan kebesarannya dan untuk membuat takut dari keadaannya.

ثم فسرها بقوله:

۝٦، ۝٧ ﴿نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ﴾ التي وقودها الناس والحجارة ﴿ٱلَّتِى﴾ من شدتها ﴿تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ﴾ أي: تنفذ من الأجسام إلى القلوب.

Kemudian Allah menafsirkan huthamah dengan firman-Nya, “Api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan” yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan “yang” saking panasnya “taṭṭali‘u ‘alal-af’idah” artinya menembus tubuh sampai ke hati.

ومع هذه الحرارة البليغة هم محبوسون فيها، قد أيسوا من الخروج منها.

Bersamaan dengan panas yang sangat tinggi ini, mereka dikurung di dalam huthamah. Mereka telah putus asa untuk bisa keluar darinya.

۝٨، ۝٩ ولهذا قال: ﴿ إِنَّهَا عَلَيۡهِم مُّؤۡصَدَةٌ﴾ أي: مغلقة ﴿فِى عَمَدٍ﴾ من خلف الۡأبواب ﴿مُّمَدَّدَةِۭ﴾ لئلا يخرجوا منها.

Oleh karenanya, Allah berfirman, “Sesungguhnya huthamah itu mu’ṣadah di atas mereka”; mu’ṣadah artinya dikunci.

“Dengan sebuah tiang” di balik pintu-pintu “yang dipalangkan” agar mereka tidak keluar darinya.

﴿كُلَّمَآ أَرَادُوٓا۟ أَن يَخۡرُجُوا۟ مِنۡهَآ أُعِيدُوا۟ فِيهَا﴾.

“Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya.”

[نعوذ بالله من ذلك ونسأله العفو والعافية].

Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Kita meminta pemaafan dan keselamatan kepada Allah.

Tafsir Surah Al-Fil

تفسير سورة الفيل
Tafsir Surah Al-Fil


وهي مكية

Surah Al-Fil adalah surah makiyah.


۝١-۝٥ ﴿أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ * أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِى تَضۡلِيلٍ * وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ * تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ * فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ مَّأۡكُولِۭ﴾

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  1. Tidakkah engkau melihat apa yang telah Rabmu lakukan kepada pasukan gajah?
  2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?
  3. Dan Dia telah mengirim burung yang berbondong-bondong kepada mereka,
  4. Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar,
  5. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat).

أي: أما رأيت من قدرة الله وعظيم شأنه، ورحمته بعباده، وأدلة توحيده، وصدق رسوله محمد ﷺ، ما فعله الله بأصحاب الفيل، الذين كادوا بيته الحرام وأرادوا إخرابه.

Artinya: Tidakkah engkau melihat kekuasaan Allah, keagungan kedudukan-Nya, rahmat-Nya terhadap para hamba-Nya, bukti-bukti keesaan-Nya, kebenaran Rasul-Nya Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, pada perlakuan Allah terhadap pasukan gajah? Yaitu orang-orang yang melancarkan rencana jahat terhadap Baitullah dan hendak menghancurkannya.

فتجهزوا لأجل ذلك، واستصحبوا معهم الفيلة لهدمه، وجاءوا بجمع لا قبل للعرب به من الحبشة واليمن.

Mereka melakukan persiapan untuk rencana itu dan mereka membawa serta gajah untuk menghancurkannya. Mereka datang dengan gabungan pasukan dari Etiopia dan Yaman yang tidak bisa ditandingi oleh bangsa Arab.

فلما انتهوا إلى قرب مكة ولم يكن بالعرب مدافعة، وخرج أهل مكة من مكة خوفًا على أنفسهم منهم، أرسل الله عليهم طيرًا أبابيل، أي: متفرقة تحمل حجارة محماة من سجيل.

Ketika mereka sampai di dekat Makkah, tidak ada perlawanan dari bangsa Arab dan penduduk Makkah keluar dari Makkah karena mengkhawatirkan jiwa mereka dari serangan musuh, lalu Allah mengirimkan burung yang berbondong-bondong kepada pasukan gajah itu. Artinya, burung itu berkelompok-kelompok sambil membawa batu yang dipanaskan dari tanah yang keras.

فرمتهم بها، وتتبعت قاصيهم ودانيهم، فخمدوا وهمدوا، وصاروا كعصف مأكول، وكفى الله شرهم، ورد كيدهم في نحورهم، [وقصتهم معروفة مشهورة].

Burung itu melemparkannya kepada mereka. Batu itu menyasar mereka, baik yang jauh maupun yang dekat, sehingga mereka mati bergelimpangan dan menjadi seperti daun yang dimakan (ulat). Allah menghindarkan kejahatan mereka dan membalikkan rencana jahat itu kepada mereka. Kisah mereka ini terkenal dan masyhur.

وكانت تلك السنة التي ولد فيها رسول الله ﷺ، فصارت من جملة إرهاصات دعوته ومقدمات رسالته، فلله الحمد والشكر.

Di tahun itulah, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dilahirkan, sehingga jadilah peristiwa ini termasuk kejadian-kejadian pendahuluan dakwah beliau dan yang mengawali kerasulan beliau. Hanya untuk Allah segala pujian dan rasa syukur.

Tafsir Surah Quraisy

تفسير سورة لإيلاف قريش
Tafsir Surah Quraisy


وهي مكية

Surah Quraisy adalah surah makiyah.


۝١-۝٤ ﴿لِإِيلَٰفِ قُرَيۡشٍ * إِۦلَٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ * فَلۡيَعۡبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ * ٱلَّذِىٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ﴾

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  1. Karena kebiasaan kabilah Quraisy,
  2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian di musim dingin dan musim panas.
  3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Ka’bah ini.
  4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

قال كثير من المفسرين: إن الجار والمجرور متعلق بالسورة التي قبلها؛ أي: فعلنا ما فعلنا بأصحاب الفيل لأجل قريش وأمنهم، واستقامة مصالحهم، وانتظام رحلتهم في الشتاء لليمن، وفي الصيف للشام، لأجل التجارة والمكاسب.

Banyak dari ahli tafsir mengatakan bahwa susunan jarr dan majrur di awal ayat berkaitan dengan surah sebelumnya. Maksudnya: Kami melakukan apa yang telah Kami lakukan terhadap pasukan gajah untuk kepentingan kabilah Quraisy, keamanan mereka, keberlangsungan maslahat mereka, rutinitas perjalanan dagang mereka di musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam untuk urusan dagang dan usaha mencari untung.

فأهلك الله من أرادهم بسوء، وعظم أمر الحرم وأهله في قلوب العرب حتى احترموهم، ولم يعترضوا لهم في أي سفر أرادوا.

Maka Allah membinasakan siapa saja yang menginginkan keburukan terhadap mereka. Allah mengagungkan kedudukan Baitullah dan penduduknya di dalam hati-hati bangsa Arab supaya mereka menghormatinya dan tidak menghalanginya dalam perjalanan yang mereka inginkan.

ولهذا أمرهم الله بالشكر فقال: ﴿فَلۡيَعۡبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ﴾ أي: ليوحدوه ويخلصوا له العبادة.

Oleh karenanya, Allah memerintahkan agar mereka bersyukur. Allah berfirman, “Beribadahlah kepada Tuhan Pemilik Ka’bah ini!” Artinya, agar mereka menauhidkan-Nya dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya.

﴿ٱلَّذِىٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ﴾ فرغد الرزق والأمن من المخاوف من أكبر النعم الدنيوية الموجبة لشكر الله تعالى.

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” Maka, rezeki yang lapang dan rasa aman dari perkara-perkara yang dikhawatirkan termasuk nikmat duniawi yang paling besar yang menuntut rasa syukur kepada Allah taala.

فلك اللهم الحمد والشكر على نعمك الظاهرة والباطنة.

Ya Allah, hanya untuk-Mu segala pujian dan syukur atas nikmat-nikmat-Mu yang lahir dan yang batin.

وخص الله بالربوبية البيت لفضله وشرفه، وإلا فهو رب كل شيء.

Allah mengkhususkan rububiyah-Nya kepada Baitullah (Ka’bah) untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Ka’bah. Pada hakikatnya, Allah adalah Rab (Tuhan) segala sesuatu.

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat ke-46

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيۡرٌ أَمَلًا
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Syekh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) rahimahullah berkata di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman:

أن المال والبنين زينة الحياة الدنيا، أي: ليس وراء ذلك شيء، وأن الذي يبقى للإنسان وينفعه ويسره، الباقيات الصالحات. وهذا يشمل جميع الطاعات الواجبة والمستحبة: من حقوق الله، وحقوق عباده، من صلاة، وزكاة، وصدقة، وحج، وعمرة، وتسبيح، وتحميد، وتهليل، وتكبير، وقراءة، وطلب علم نافع، وأمر بمعروف، ونهي عن منكر، وصلة رحم، وبر والدين، وقيام بحق الزوجات والمماليك والبهائم، وجميع وجوه الإحسان إلى الخلق، كل هذا من الباقيات الصالحات، فهذه خير عند الله ثوابًا وخير أملًا، فثوابها يبقى، ويتضاعف على الآباد، ويؤمل أجرها وبرها ونفعها عند الحاجة، فهذه التي ينبغي أن يتنافس بها المتنافسون، ويستبق إليها العاملون، ويجد في تحصيلها المجتهدون.

Harta dan anak merupakan perhiasan kehidupan dunia, artinya: tidak ada kelanjutan setelahnya. Yang tetap ada pada diri seseorang, yang akan bermanfaat, dan yang akan membahagiakannya adalah amal saleh yang kekal.

Ini mencakup semua ketaatan yang wajib dan sunah dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya, seperti: salat, zakat, sedekah, haji, umrah, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, qiraah Al-Qur’an, mencari ilmu yang bermanfaat, amar makruf nahi mungkar, menyambung silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, memenuhi hak-hak pasangan, budak, dan hewan; serta semua bentuk kebaikan terhadap makhluk.

Semua itu termasuk amal saleh yang kekal. Semua itu lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih baik untuk menjadi harapan. Pahalanya kekal dan berlipat ganda untuk selamanya. Pahala, kebaikan, dan manfaatnya diharapkan pada saat hal itu dibutuhkan. Itulah yang harus diperebutkan oleh orang-orang yang berlomba. Hendaknya orang yang beramal berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan hendaknya orang yang giat berupaya untuk mendapatkannya.

وتأمل، كيف لما ضرب الله مثل الدنيا وحالها واضمحلالها، ذكر أن الذي فيها نوعان:
نوع من زينتها، يتمتع به قليلًا، ثم يزول بلا فائدة تعود لصاحبه، بل ربما لحقته مضرته، وهو المال والبنون.
ونوع يبقى وينفع صاحبه على الدوام، وهي الباقيات الصالحات.

Perhatikanlah bagaimana Allah taala memberikan perumpamaan tentang dunia, keadaannya, dan kerapuhannya. Allah taala menyebutkan bahwa apa yang ada di dalamnya ada dua macam:
  • Pertama, perhiasan yang dinikmati sesaat, kemudian lenyap tanpa manfaat bagi pemiliknya, bahkan bisa jadi mendatangkan mudarat kepadanya, seperti harta dan anak-anak.
  • Kedua, sesuatu yang kekal dan bermanfaat bagi pemiliknya selama-lamanya, itulah amal-amal saleh yang kekal.

Tafsir Surah Al-Ma'un

تفسير سورة الماعون
Tafsir Surah Al-Ma’un


[وهي] مكية

Surah Al-Ma’un adalah surah makiyah.


﴿أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ * فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ * وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ * فَوَيۡلٌ لِّلۡمُصَلِّينَ * ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ * ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ * وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ﴾.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
  2. Dia itu adalah orang yang menghardik anak yatim,
  3. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.
  4. Celaka bagi orang-orang yang salat,
  5. yaitu orang-orang yang lalai dari salat mereka,
  6. orang-orang yang berbuat ria,
  7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

۝١ يقول تعالى ذامًّا لمن ترك حقوقه وحقوق عباده: ﴿أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ﴾ أي: بالبعث والجزاء، فلا يؤمن بما جاءت به الرسل.

Allah taala berkata dalam rangka mencela orang yang meninggalkan hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya, “Tahukah engkau tentang orang yang mendustakan agama?” Yaitu mendustakan kebangkitan dan pembalasan sehingga dia tidak mengimani agama yang dibawa oleh para rasul.

۝٢ ﴿فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ﴾ أي: يدفعه بعنف وشدة، ولا يرحمه لقساوة قلبه؛ ولأنه لا يرجو ثوابًا ولا يخشى عقابًا.

“Orang itu adalah orang yang menghardik anak yatim”, yaitu mengusirnya dengan kasar dan tidak menyayanginya karena keras hatinya, tidak mengharap pahala, dan tidak takut siksa.

۝٣ ﴿وَلَا يَحُضُّ﴾ غيره ﴿عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ﴾ ومن باب أولى أنه بنفسه لا يطعم المسكين.

Dia tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan kepada orang miskin. Apalagi orang yang dirinya sendiri tidak memberi makan kepada orang miskin (lebih pantas masuk kategori orang yang mendustakan agama).

۝٤، ۝٥ ﴿فَوَيۡلٌ لِّلۡمُصَلِّينَ﴾ أي: الملتزمون لإقامة الصلاة ولكنهم ﴿عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ﴾ أي: مضيعون لها، تاركون لوقتها، مفوتون لأركانها.

“Maka, celakalah orang-orang yang salat”, yaitu yang melaksanakan rutinitas salat akan tetapi mereka “lalai dari salat mereka”, yaitu yang menyia-nyiakannya, tidak melakukannya pada waktunya, terluput dari pelaksanaan rukun-rukunnya.

وهذا لعدم اهتمامهم بأمر الله حيث ضيعوا الصلاة، التي هي أهم الطاعات وأفضل القربات، والسهو عن الصلاة، هو الذي يستحق صاحبه الذم واللوم.

Ini karena mereka tidak memberikan perhatian kepada perintah Allah, karena mereka menyia-nyiakan salat yang merupakan ketaatan yang paling penting dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang lalai dari salat yang demikian inilah yang layak mendapat celaan.

وأما السهو في الصلاة، فهذا يقع من كل أحد حتى من النبي ﷺ.

Adapun lalai atau lupa ketika salat, bisa terjadi pada setiap insan sampai pun pada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ولهذا وصف الله هؤلاء بالرياء والقسوة، وعدم الرحمة، فقال:

۝٦ ﴿ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ﴾ أي: يعملون الأعمال لأجل رئاء الناس.

Oleh karenanya, Allah menyifati mereka dengan ria, keras hati, dan tidak penyayang. Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang ria”, artinya mereka melakukan amalan agar dilihat oleh manusia.

۝٧ ﴿وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ﴾ أي: يمنعون إعطاء الشيء الذي لا يضر إعطاؤه على وجه العارية أو الهبة، كالإناء والدلو والفأس، ونحو ذلك، مما جرت العادة ببذله، والسماحة به.

“Dan mereka menolong dengan barang berguna” artinya mereka menahan dari memberikan suatu barang yang tidak merugikan dirinya apabila diberikan sebagai pinjaman atau hadiah, seperti gelas, ember, golok, dan barang-barang semisalnya yang biasa disumbangkan.

فهؤلاء - لشدة حرصهم - يمنعون الماعون، فكيف بما هو أكثر منه.

Mereka itu, saking kikirnya, menahan barang-barang berguna yang biasa disumbangkan. Lalu bagaimana dengan barang-barang yang lebih bernilai daripada itu?

وفي هذه السورة الحث على إكرام اليتيم والمساكين، والتحضيض على ذلك، ومراعاة الصلاة والمحافظة عليها، وعلى الإخلاص [فيها و]في جميع الأعمال.

Surat ini mengandung anjuran dan motivasi untuk memuliakan anak yatim dan orang miskin, memperhatikan dan menjaga salat, serta ikhlas dalam salat dan seluruh amal ibadah.

والحث على [فعل المعروف و]بذل الأمور الخفيفة، كعارية الإناء والدلو والكتاب ونحو ذلك، لأن الله ذم من لم يفعل ذلك، والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Selain itu, isi surah ini mendorong untuk berbuat kebaikan dan mendermakan harta-harta yang tidak begitu bernilai seperti meminjamkan gelas, ember, buku, dan sebagainya, karena Allah mencela siapa saja yang tidak melakukannya. Allah—subhanahu wa ta’ala—lebih mengetahui kebenaran. Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta.

Tafsir Surah Al-Kausar

تفسير سورة الكوثر
Tafsir Surah Al-Kausar


وهي مكية

Surah Al-Kausar adalah surah makiyah.


۝١-۝٣ ﴿إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu,
  2. maka salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
  3. Sesungguhnya orang yang membencimu itulah orang yang terputus (dari segala kebaikan).

يقول الله تعالى لنبيه محمد ﷺ ممتنا عليه: ﴿إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ﴾ أي: الخير الكثير والفضل الغزير، الذي من جملته ما يعطيه الله لنبيه ﷺ يوم القيامة، من النهر الذي يقال له: (الكوثر).

Allah taala berkata kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam rangka memberikan karunia kepada beliau, “Sesungguhnya Kami telah memberikan alkausar kepadamu.” Alkausar artinya adalah kebaikan yang banyak, keutamaan yang berlimpah, yang termasuk dari kebaikan-Nya adalah pemberian Allah kepada Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pada hari kiamat berupa sungai yang disebut al-kauṡar.

ومن الحوض طوله شهر وعرضه شهر، ماؤه أشد بياضًا من اللبن، وأحلى من العسل، آنيته كنجوم السماء في كثرتها واستنارتها، من شرب منه شربة لم يظمأ بعدها أبدًا.

Dan berupa haud (telaga), yang panjangnya sejauh perjalanan satu bulan, lebarnya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Bejananya bagaikan bintang di langit dalam hal jumlahnya dan cahayanya. Siapa saja yang minum darinya satu tegukan, dia tidak akan haus selama-lamanya.

ولما ذكر منته عليه أمره بشكرها، فقال:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ﴾ خص هاتين العبادتين بالذكر لأنهما من أفضل العبادات وأجل القربات.

Ketika Allah menyebutkan karunia-Nya kepada Nabi-Nya, Allah memerintahkannya agar mensyukurinya. Allah berfirman, “Salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah!” Allah mengkhususkan penyebutan dua ibadah ini, karena keduanya merupakan ibadah yang paling utama dan pendekatan diri yang paling mulia.

ولأن الصلاة تتضمن الخضوع [في] القلب والجوارح لله، وتنقلها في أنواع العبودية.

Juga karena salat mencakup sikap perendahan diri hati dan anggota badan kepada Allah, serta menggerakkannya dalam berbagai jenis penghambaan.

وفي النحر تقرب إلى الله بأفضل ما عند العبد من النحائر، وإخراج للمال الذي جبلت النفوس على محبته والشح به.

Sedangkan ibadah kurban mencakup pendekatan diri kepada Allah dengan hewan sembelihan yang paling utama yang dimiliki hamba dan mencakup amalan mengeluarkan harta yang jiwa ini memiliki tabiat mencintainya dan bakhil.

﴿إِنَّ شَانِئَكَ﴾ أي: مبغضك وذامك ومنتقصك ﴿هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ﴾ أي: المقطوع من كل خير، مقطوع العمل، مقطوع الذكر.

Inna syāni’aka” artinya yang membencimu, yang mencelamu, dan yang mengejekmu. “Huwal-abtar” artinya orang yang terputus dari segala kebaikan, amalnya terputus, dan namanya tidak dikenang.

وأما محمد ﷺ، فهو الكامل حقًا، الذي له الكمال الممكن في حق المخلوق، من رفع الذكر، وكثرة الأنصار والأتباع، ﷺ.

Adapun Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau sempurna secara hakiki. Beliau adalah yang paling sempurna di antara semua makhluk dari sisi keharuman namanya dan banyaknya penolong serta pengikut beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tafsir Surah Al-Kafirun

تفسير سورة الكافرون
Tafsir Surah Al-Kafirun



۝١-۝٦ ﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ‎* لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ * وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ * وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمۡ * وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ * لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِىَ دِينِ﴾‏

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Katakan: Wahai orang-orang kafir,
  2. Aku tidak akan menyembah sesembahan kalian,
  3. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah,
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah sesembahan kalian,
  5. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
  6. Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.

أي: قل للكافرين معلنا ومصرحًا ﴿لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ﴾ أي: تبرأ مما كانوا يعبدون من دون الله ظاهرًا وباطنًا.

Artinya: Katakan kepada orang-orang kafir dengan terang-terangan dan tegas, “Aku tidak menyembah sesembahan kalian.” Yakni berlepas dirilah dari segala yang mereka sembah selain Allah secara lahir batin.

﴿وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ﴾ لعدم إخلاصكم لله في عبادته، فعبادتكم له المقترنة بالشرك لا تسمى عبادة.

ثم كرر ذلك ليدل الأول على عدم وجود الفعل، والثاني على أن ذلك قد صار وصفًا لازمًا.

“Kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah” karena tidak ada keikhlasan kalian untuk Allah dalam ibadah kepada-Nya, sehingga ibadah kalian kepada-Nya yang diiringi dengan kesyirikan tidak bisa dinamakan ibadah.

Kemudian Allah mengulanginya untuk menunjukkan yang pertama bahwa tidak ada fiil dan yang kedua bahwa hal itu sudah menjadi sifat yang melekat.

ولهذا ميز بين الفريقين وفصل بين الطائفتين فقال:

﴿لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِىَ دِينِ﴾ كما قال تعالى: ﴿قُلۡ كُلٌّ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ﴾، ﴿أَنتُم بَرِيٓـُٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِىٓءٌ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ﴾.

Oleh karena itu, Allah membedakan kedua golongan dan memisahkan kedua kelompok, lalu Allah berfirman, “Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” Sebagaimana Allah taala berfirman, “Katakan: Masing-masing beramal sesuai keadaannya.” “Kalian berlepas diri dari amalanku dan aku berlepas diri dari amalan kalian.”

Tafsir Surah An-Nasr

تفسير سورة النصر
وهي مدنية

Tafsir Surah An-Nasr


Surah An-Nasr adalah surah madaniah.


۝١-۝٣ ﴿إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ * وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجًا * فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
  1. Jika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang,
  2. dan engkau melihat manusia masuk berbondong-bondong ke dalam agama Allah,
  3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan minta ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.

في هذه السورة الكريمة بشارة وأمر لرسوله عند حصولها، وإشارة وتنبيه على ما يترتب على ذلك.

Surah yang mulia ini mengandung kabar gembira dan perintah untuk Rasul-Nya ketika kabar gembira ini terwujud. Juga mengandung isyarat dan peringatan akan akibat dari itu.

فالبشارة هي البشارة بنصر الله لرسوله، وفتحه مكة، ودخول الناس في دين الله أفواجًا، بحيث يكون كثير منهم من أهله وأنصاره، بعد أن كانوا من أعدائه، وقد وقع هذا المبشر به.

Adapun kabar gembira itu adalah kabar gembira berupa pertolongan Allah untuk Rasul-Nya, penaklukan Makkah, dan masuknya manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, sehingga banyak dari mereka yang menjadi pemeluk dan penolong agama Allah setelah tadinya mereka adalah musuh-musuhnya. Kabar gembira ini telah menjadi kenyataan.

وأما الأمر بعد حصول النصر والفتح، فأمر الله رسوله أن يشكر ربه على ذلك، ويسبح بحمده ويستغفره.

Adapun perintah setelah pertolongan dan kemenangan itu terwujud adalah perintah Allah kepada Rasul-Nya untuk bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, bertasbih dengan memuji-Nya, dan meminta ampunan-Nya.

وأما الإشارة، فإن في ذلك إشارتين:

إشارة لأن يستمر النصر لهذا الدين ويزداد عند حصول التسبيح بحمد الله واستغفاره، من رسوله، فإن هذا من الشكر، والله يقول: ﴿لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ ۖ﴾.

Adapun isyarat, dalam perintah itu mengandung dua isyarat.

Satu isyarat bahwa pertolongan terhadap agama ini akan langgeng dan akan bertambah tatkala Rasulullah bertasbih dengan memuji Allah serta meminta ampunan-Nya, karena hal ini termasuk bentuk syukur. Allah berfirman, “Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan tambah untuk kalian.”

وقد وجد ذلك في زمن الخلفاء الراشدين وبعدهم في هذه الأمة، لم يزل نصر الله مستمرًا، حتى وصل الإسلام إلى ما لم يصل إليه دين من الأديان، ودخل فيه ما لم يدخل في غيره، حتى حدث من الأمة من مخالفة أمر الله ما حدث، فابتلاهم الله بتفرق الكلمة وتشتت الأمر، فحصل ما حصل.

Hal itu telah terjadi di zaman khulafaurasyidin dan setelah mereka pada umat ini, pertolongan Allah terus berlanjut sampai agama Islam sampai pada taraf yang tidak dicapai oleh agama lain, orang-orang masuk ke dalam agama Islam hingga merangkul orang-orang yang tidak tersentuh oleh agama lain. Sampai muncullah penyelisihan terhadap agama Allah dari umat ini, sehingga Allah menguji mereka dengan perselisihan dan perpecahan lalu terjadilah apa yang telah terjadi.

[ومع هذا] فلهذه الأمة وهذا الدين من رحمة الله ولطفه ما لا يخطر بالبال أو يدور في الخيال.

Meski begitu, umat dan agama ini, karena rahmat dan kelembutan Allah, tetap memiliki keistimewaan yang tidak terbayangkan dan terpikirkan.

وأما الإشارة الثانية: فهي الإشارة إلى أن أجل رسول الله ﷺ قد قرب ودنا، ووجه ذلك أن عمره عمر فاضل أقسم الله به.

Adapun isyarat kedua adalah isyarat bahwa ajal Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sudah dekat. Sisi makna itu adalah umur beliau adalah umur yang utama yang Allah telah bersumpah dengannya.

وقد عهد أن الأمور الفاضلة تختم بالاستغفار، كالصلاة والحج وغير ذلك.

Sudah diketahui bahwa perkara-perkara yang utama diakhiri dengan istigfar, seperti ibadah salat, haji, dan lain sebagainya.

فأمر الله لرسوله بالحمد والاستغفار في هذه الحال، إشارة إلى أن أجله قد انتهى، فليستعد ويتهيأ للقاء ربه، ويختم عمره بأفضل ما يجده، صلوات الله وسلامه عليه.

Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk memuji dan meminta ampunan dalam keadaan ini yang mengisyaratkan bahwa ajal beliau hampir tiba supaya beliau bersiap-siap berjumpa dengan Tuhannya dan menutup umurnya dengan amalan termulia yang bisa beliau lakukan. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada beliau.

فكان ﷺ يتأول القرآن ويقول ذلك في صلاته، يكثر أن يقول في ركوعه وسجوده: (سبحانك اللهم وبحمدك اللهم اغفر لي).

Beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menafsirkan Al-Qur’an. Beliau menafsirkan ayat itu dengan mengucapkan (tasbih, pujian, dan istigfar) ketika salat. Beliau dalam rukuk dan sujudnya banyak membaca, "Subḥānakallāhumma wa biḥamdik, allāhummagfirlī (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).