Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 2328

٨ - بَابُ الۡمُزَارَعَةِ بِالشَّطۡرِ وَنَحۡوِهِ
8. Bab Akad Bagi Hasil Pertanian (Muzaraah) dengan Pembagian Separuh dan Sejenisnya


وَقَالَ قَيۡسُ بۡنُ مُسۡلِمٍ، عَنۡ أَبِي جَعۡفَرٍ قَالَ: مَا بِالۡمَدِينَةِ أَهۡلُ بَيۡتِ هِجۡرَةٍ، إِلَّا يَزۡرَعُونَ عَلَى الثُّلُثِ وَالرُّبُعِ، وَزَارَعَ عَلِيٌّ، وَسَعۡدُ بۡنُ مَالِكٍ، وَعَبۡدُ اللهِ بۡنُ مَسۡعُودٍ، وَعُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ، وَالۡقَاسِمُ، وَعُرۡوَةُ، وَآلُ أَبِي بَكۡرٍ، وَآلُ عُمَرَ، وَآلُ عَلِيٍّ، وَابۡنُ سِيرِينَ.

Qais bin Muslim berkata dari Abu Ja’far. Ia berkata: Tidak ada satu pun keluarga dari kalangan Muhajirin di Madinah melainkan mereka mengolah tanah pertanian dengan bagi hasil sepertiga dan seperempat. Dan ‘Ali, Sa’d bin Malik, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Al-Qasim, ‘Urwah, keluarga Abu Bakr, keluarga ‘Umar, keluarga ‘Ali, serta Ibnu Sirin telah melakukan akad bagi hasil pertanian (muzaraah).

وَقَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ الۡأَسۡوَدِ: كُنۡتُ أُشَارِكُ عَبۡدَ الرَّحۡمَنِ بۡنَ يَزِيدَ فِي الزَّرۡعِ، وَعَامَلَ عُمَرُ النَّاسَ عَلَى إِنۡ جَاءَ عُمَرُ بِالۡبَذۡرِ مِنۡ عِنۡدِهِ فَلَهُ الشَّطۡرُ، وَإِنۡ جَاؤُوا بِالۡبَذۡرِ فَلَهُمۡ كَذَا.

‘Abdurrahman bin Al-Aswad berkata: Aku pernah berserikat (kerja sama) dengan ‘Abdurrahman bin Yazid dalam hal pertanian. Dan ‘Umar bermuamalah dengan orang-orang berdasarkan ketentuan: Jika ‘Umar menyediakan benih dari sisinya maka ia mendapat bagian separuh, dan jika mereka yang menyediakan benih maka mereka mendapat bagian sekian.

وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا بَأۡسَ أَنۡ تَكُونَ الۡأَرۡضُ لِأَحَدِهِمَا، فَيُنۡفِقَانِ جَمِيعًا، فَمَا خَرَجَ فَهۡوَ بَيۡنَهُمَا. وَرَأَى ذٰلِكَ الزُّهۡرِيُّ.

Al-Hasan berkata: Tidak mengapa jika lahan pertanian milik salah seorang dari keduanya lalu keduanya menanggung biaya bersama-sama, maka hasil panennya dibagi di antara keduanya. Az-Zuhri juga berpendapat demikian.

وَقَالَ الۡحَسَنُ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يُجۡتَنَى الۡقُطۡنُ عَلَى النِّصۡفِ.

Al-Hasan berkata: Tidak mengapa memanen kapas dengan imbalan bagi hasil separuh.

وَقَالَ إِبۡرَاهِيمُ وَابۡنُ سِيرِينَ وَعَطَاءٌ وَالۡحَكَمُ وَالزُّهۡرِيُّ وَقَتَادَةُ: لَا بَأۡسَ أَنۡ يُعۡطِيَ الثَّوۡبَ بِالثُّلُثِ أَوِ الرُّبُعِ وَنَحۡوِهِ.

Ibrahim, Ibnu Sirin, ‘Atha`, Al-Hakam, Az-Zuhri, dan Qatadah berkata: Tidak mengapa seseorang menyerahkan kain (kepada penjahit) dengan imbalan sepertiga, seperempat, atau sejenisnya.

وَقَالَ مَعۡمَرٌ: لَا بَأۡسَ أَنۡ تَكُونَ الۡمَاشِيَةُ عَلَى الثُّلُثِ وَالرُّبُعِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى.

Ma’mar berkata: Tidak mengapa menyerahkan hewan ternak (untuk dipelihara) dengan imbalan bagi hasil sepertiga atau seperempat sampai batas waktu tertentu.

٢٣٢٨ - حَدَّثَنَا إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ الۡمُنۡذِرِ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ عِيَاضٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ، عَنۡ نَافِعٍ: أَنَّ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا أَخۡبَرَهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ عَامَلَ خَيۡبَرَ بِشَطۡرِ مَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا مِنۡ ثَمَرٍ أَوۡ زَرۡعٍ، فَكَانَ يُعۡطِي أَزۡوَاجَهُ مِائَةَ وَسۡقٍ، ثَمَانُونَ وَسۡقَ تَمۡرٍ، وَعِشۡرُونَ وَسۡقَ شَعِيرٍ، فَقَسَمَ عُمَرُ خَيۡبَرَ، فَخَيَّرَ أَزۡوَاجَ النَّبِيِّ ﷺ أَنۡ يُقۡطِعَ لَهُنَّ مِنَ الۡمَاءِ وَالۡأَرۡضِ، أَوۡ يُمۡضِيَ لَهُنَّ، فَمِنۡهُنَّ مَنِ اخۡتَارَ الۡأَرۡضَ وَمِنۡهُنَّ مَنِ اخۡتَارَ الۡوَسۡقَ، وَكَانَتۡ عَائِشَةُ اخۡتَارَتِ الۡأَرۡضَ. [طرفه في: ٢٢٨٥].

2328. Ibrahim bin Al-Mundzir telah menceritakan kepada kami: Anas bin ‘Iyadh menceritakan kepada kami dari ‘Ubaidullah, dari Nafi’: ‘Abdullah bin ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—mengabarkan kepadanya:

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bermuamalah (kerja sama bagi hasil) dengan penduduk Khaibar dengan bagian separuh dari apa yang dihasilkan darinya, baik berupa buah-buahan maupun tanaman. Beliau memberi istri-istri beliau seratus wasak; delapan puluh wasak kurma dan dua puluh wasak barli. Lalu ‘Umar membagi Khaibar, maka ia memberi pilihan kepada istri-istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—antara memberikan hak milik berupa bagian air dan tanah kepada mereka, atau meneruskan apa yang sudah berjalan (pembagian wasak). Maka di antara mereka ada yang memilih tanah dan ada pula yang memilih wasak, dan ‘Aisyah memilih tanah.