Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 6830

١٧ - بَابُ رَجۡمِ الۡحُبۡلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحۡصَنَتۡ
17. Bab Hukum Rajam bagi Wanita Hamil karena Zina Apabila Ia Pernah Menikah


٦٨٣٠ – حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ: حَدَّثَنِي إِبۡرَاهِيمُ بۡنُ سَعۡدٍ، عَنۡ صَالِحٍ، عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ بۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ:

6830. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepadaku dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Ibnu ‘Abbas. Ia berkata:

كُنۡتُ أُقۡرِىءُ رِجَالًا مِنَ الۡمُهَاجِرِينَ، مِنۡهُمۡ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ بۡنُ عَوۡفٍ، فَبَيۡنَمَا أَنَا فِي مَنۡزِلِهِ بِمِنًى، وَهُوَ عِنۡدَ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ فِي آخِرِ حَجَّةٍ حَجَّهَا، إِذۡ رَجَعَ إِلَيَّ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ فَقَالَ: لَوۡ رَأَيۡتَ رَجُلًا أَتَى أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ الۡيَوۡمَ، فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ، هَلۡ لَكَ فِي فُلَانٍ؟ يَقُولُ: لَوۡ قَدۡ مَاتَ عُمَرُ لَقَدۡ بَايَعۡتُ فُلَانًا، فَوَاللهِ مَا كَانَتۡ بَيۡعَةُ أَبِي بَكۡرٍ إِلَّا فَلۡتَةً، فَتَمَّتۡ،

Aku biasa membacakan (Al-Qur’an) kepada orang-orang dari kalangan Muhajirin, di antara mereka adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ketika aku berada di kediamannya di Mina, sedangkan ia sedang bersama ‘Umar bin Al-Khaththab pada haji terakhir yang beliau laksanakan—tiba-tiba ‘Abdurrahman kembali menemuiku dan berkata:

Seandainya engkau melihat seorang lelaki yang datang kepada Amirulmukminin hari ini, lalu ia berkata, “Wahai Amirulmukminin, bagaimana pendapatmu tentang si Fulan yang berkata: Demi Allah, seandainya ‘Umar mati, sungguh aku akan membaiat si Fulan. Demi Allah, pembaiatan Abu Bakr dahulu tidak lain hanyalah kejadian mendadak, lalu baiat itu pun berhasil sempurna.”

فَغَضِبَ عُمَرُ، ثُمَّ قَالَ: إِنِّي إِنۡ شَاءَ اللهُ لَقَائِمٌ الۡعَشِيَّةَ فِي النَّاسِ، فَمُحَذِّرُهُمۡ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُرِيدُونَ أَنۡ يَغۡصِبُوهُمۡ أُمُورَهُمۡ.

Mendengar itu, ‘Umar marah, kemudian berkata, “Sesungguhnya insya Allah aku akan berdiri berkhotbah di hadapan orang-orang petang nanti, untuk memperingatkan mereka terhadap orang-orang yang hendak merampas urusan (kepemimpinan) mereka.”

قَالَ عَبۡدُ الرَّحۡمٰنِ: فَقُلۡتُ: يَا أَمِيرَ الۡمُؤۡمِنِينَ لَا تَفۡعَلۡ، فَإِنَّ الۡمَوۡسِمَ يَجۡمَعُ رَعَاعَ النَّاسِ وَغَوۡغَاءَهُمۡ، فَإِنَّهُمۡ هُمُ الَّذِينَ يَغۡلِبُونَ عَلَى قُرۡبِكَ حِينَ تَقُومُ فِي النَّاسِ، وَأَنَا أَخۡشَى أَنۡ تَقُومَ فَتَقُولَ مَقَالَةً يُطَيِّرُهَا عَنۡكَ كُلُّ مُطَيِّرٍ، وَأَنۡ لَا يَعُوهَا، وَأَنۡ لَا يَضَعُوهَا عَلَى مَوَاضِعِهَا، فَأَمۡهِلۡ حَتَّى تَقۡدَمَ الۡمَدِينَةَ، فَإِنَّهَا دَارُ الۡهِجۡرَةِ وَالسُّنَّةِ، فَتَخۡلُصَ بِأَهۡلِ الۡفِقۡهِ وَأَشۡرَافِ النَّاسِ، فَتَقُولَ مَا قُلۡتَ مُتَمَكِّنًا، فَيَعِي أَهۡلُ الۡعِلۡمِ مَقَالَتَكَ، وَيَضَعُونَهَا عَلَى مَوَاضِعِهَا.

‘Abdurrahman berkata: Aku lalu berkata, “Wahai Amirulmukminin, jangan lakukan itu! Sesungguhnya musim haji mengumpulkan orang-orang awam dan orang-orang rendahan. Sebab merekalah yang akan memenuhi tempat di sekitarmu saat engkau berdiri di tengah-tengah orang banyak. Aku khawatir engkau berdiri lalu menyampaikan suatu ucapan yang disebarkan ke setiap penjuru oleh orang-orang yang gemar meniupkan isu, padahal mereka tidak memahaminya secara mendalam dan tidak menempatkannya pada tempat yang semestinya. Jadi, tundalah hingga engkau tiba di Madinah, karena Madinah adalah negeri hijrah dan sunah. Di sana engkau dapat berbicara secara khusus dengan para ahli fikih dan orang-orang terpandang, lalu engkau sampaikan apa yang ingin kaukatakan dengan mantap, sehingga para ahli ilmu dapat memahami ucapanmu dan menempatkannya pada tempat-tempat yang tepat.”

فَقَالَ عُمَرُ: أَمَا وَاللهِ - إِنۡ شَاءَ اللهُ - لَأَقُومَنَّ بِذٰلِكَ أَوَّلَ مَقَامٍ أَقُومُهُ بِالۡمَدِينَةِ.

‘Umar berkata, “Adapun demi Allah, insya Allah aku pasti akan menyampaikan hal itu pada kesempatan pertama aku berdiri di Madinah.”

قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: فَقَدِمۡنَا الۡمَدِينَةَ فِي عَقِبِ ذِي الۡحَجَّةِ، فَلَمَّا كَانَ يَوۡمُ الۡجُمُعَةِ عَجَّلۡنَا الرَّوَاحَ حِينَ زَاغَتِ الشَّمۡسُ، حَتَّى أَجِدَ سَعِيدَ بۡنَ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ جَالِسًا إِلَى رُكۡنِ الۡمِنۡبَرِ، فَجَلَسۡتُ حَوۡلَهُ تَمَسُّ رُكۡبَتِي رُكۡبَتَهُ، فَلَمۡ أَنۡشَبۡ أَنۡ خَرَجَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ، فَلَمَّا رَأَيۡتُهُ مُقۡبِلًا، قُلۡتُ لِسَعِيدِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ نُفَيۡلٍ: لَيَقُولَنَّ الۡعَشِيَّةَ مَقَالَةً لَمۡ يَقُلۡهَا مُنۡذُ اسۡتُخۡلِفَ، فَأَنۡكَرَ عَلَيَّ وَقَالَ: مَا عَسَيۡتَ أَنۡ يَقُولَ مَا لَمۡ يَقُلۡ قَبۡلَهُ،

Ibnu ‘Abbas berkata: Kami pun tiba di Madinah pada penghujung Zulhijjah. Ketika hari Jumat tiba, kami bersegera pergi (ke masjid) begitu matahari mulai turun, hingga aku mendapati Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail sedang duduk di dekat tiang mimbar. Aku duduk di dekatnya hingga lututku bersentuhan dengan lututnya. Tidak lama kemudian ‘Umar bin Al-Khaththab keluar. Ketika aku melihatnya datang, aku berkata kepada Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, “Sungguh, petang ini ia akan mengucapkan suatu perkataan yang belum pernah ia ucapkan sejak ia diangkat menjadi khalifah.”

Sa’id mengingkariku dan berkata, “Apa yang kauharapkan bisa ia ucapkan yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya?”

فَجَلَسَ عُمَرُ عَلَى الۡمِنۡبَرِ، فَلَمَّا سَكَتَ الۡمُؤَذِّنُونَ قَامَ، فَأَثۡنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ، ثُمَّ قَالَ:

‘Umar lalu duduk di atas mimbar. Ketika para muazin selesai (mengumandangkan azan), ia berdiri memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu berkata:

أَمَّا بَعۡدُ، فَإِنِّي قَائِلٌ لَكُمۡ مَقَالَةً قَدۡ قُدِّرَ لِي أَنۡ أَقُولَهَا، لَا أَدۡرِي لَعَلَّهَا بَيۡنَ يَدَيۡ أَجَلِي، فَمَنۡ عَقَلَهَا وَوَعَاهَا فَلۡيُحَدِّثۡ بِهَا حَيۡثُ انۡتَهَتۡ بِهِ رَاحِلَتُهُ، وَمَنۡ خَشِيَ أَنۡ لَا يَعۡقِلَهَا فَلَا أُحِلُّ لِأَحَدٍ أَنۡ يَكۡذِبَ عَلَيَّ:

Amabakdu. Sesungguhnya aku akan menyampaikan kepada kalian suatu perkataan yang telah ditakdirkan untuk aku ucapkan. Aku tidak tahu, boleh jadi ini adalah saat-saat menjelang ajalku. Barang siapa yang menangkap dan memahaminya, hendaklah ia menyampaikannya ke mana pun kendaraannya membawanya. Barang siapa yang khawatir tidak mampu memahaminya, aku tidak menghalalkan seorang pun untuk berdusta atas namaku.

إِنَّ اللهَ بَعَثَ مُحَمَّدًا ﷺ بِالۡحَقِّ، وَأَنۡزَلَ عَلَيۡهِ الۡكِتَابَ، فَكَانَ مِمَّا أَنۡزَلَ اللهُ آيَةُ الرَّجۡمِ، فَقَرَأۡنَاهَا وَعَقَلۡنَاهَا وَوَعَيۡنَاهَا، فَلِذَا رَجَمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَرَجَمۡنَا بَعۡدَهُ، فَأَخۡشَى إِنۡ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنۡ يَقُولَ قَائِلٌ: وَاللهِ مَا نَجِدُ آيَةَ الرَّجۡمِ فِي كِتَابِ اللهِ، فَيَضِلُّوا بِتَرۡكِ فَرِيضَةٍ أَنۡزَلَهَا اللهُ، وَالرَّجۡمُ فِي كِتَابِ اللهِ حَقٌّ عَلَى مَنۡ زَنَى إِذَا أُحۡصِنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، إِذَا قَامَتِ الۡبَيِّنَةُ، أَوۡ كَانَ الۡحَبَلُ أَوِ الۡاعۡتِرَافُ،

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan benar dan menurunkan Kitab kepada-Nya. Di antara yang diturunkan Allah adalah ayat rajam. Kami telah membacanya, memahaminya, dan menghafalnya. Oleh karena itu, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah merajam, dan kami pun telah merajam sepeninggal beliau.

Namun aku khawatir jika masa telah berlalu lama bagi manusia, seseorang akan berkata, “Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam di dalam Kitabullah,” sehingga mereka sesat karena meninggalkan suatu kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah. Rajam di dalam Kitabullah adalah benar bagi orang yang berzina apabila ia muhsan (pernah menikah), baik dari kalangan lelaki maupun wanita, apabila telah tegak bukti, atau adanya kehamilan, atau adanya pengakuan.

ثُمَّ إِنَّا كُنَّا نَقۡرَأُ فِيمَا نَقۡرَأُ مِنۡ كِتَابِ اللهِ: أَنۡ لَا تَرۡغَبُوا عَنۡ آبَائِكُمۡ، فَإِنَّهُ كُفۡرٌ بِكُمۡ أَنۡ تَرۡغَبُوا عَنۡ آبَائِكُمۡ، أَوۡ إِنَّ كُفۡرًا بِكُمۡ أَنۡ تَرۡغَبُوا عَنۡ آبَائِكُمۡ،

Kemudian, dahulu kami juga membaca di antara apa yang kami baca dari Kitabullah: “Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, karena sesungguhnya perbuatan membenci bapak-bapak kalian adalah kekufuran bagi kalian”, atau: “Sesungguhnya termasuk kekufuran bagi kalian jika kalian membenci bapak-bapak kalian.”

أَلَا ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (لَا تُطۡرُونِي كَمَا أُطۡرِيَ عِيسَى ابۡنُ مَرۡيَمَ، وَقُولُوا: عَبۡدُ اللهِ وَرَسُولُهُ).

Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji ‘Isa bin Maryam. Katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

ثُمَّ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّ قَائِلًا مِنۡكُمۡ يَقُولُ: وَاللهِ لَوۡ مَاتَ عُمَرُ بَايَعۡتُ فُلَانًا، فَلَا يَغۡتَرَّنَّ امۡرُؤٌ أَنۡ يَقُولَ: إِنَّمَا كَانَتۡ بَيۡعَةُ أَبِي بَكۡرٍ فَلۡتَةً وَتَمَّتۡ، أَلَا وَإِنَّهَا قَدۡ كَانَتۡ كَذٰلِكَ، وَلَكِنَّ اللهَ وَقَى شَرَّهَا، وَلَيۡسَ مِنۡكُمۡ مَنۡ تُقۡطَعُ الۡأَعۡنَاقُ إِلَيۡهِ مِثۡلُ أَبِي بَكۡرٍ، مَنۡ بَايَعَ رَجُلًا عَنۡ غَيۡرِ مَشُورَةٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ فَلَا يُبَايَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ، تَغِرَّةً أَنۡ يُقۡتَلَا،

Kemudian, telah sampai berita kepadaku bahwa seseorang dari kalian berkata, “Demi Allah, seandainya ‘Umar mati, aku akan membaiat si Fulan.” Maka janganlah sekali-kali seseorang tertipu dengan mengatakan bahwa baiat Abu Bakr dahulu hanyalah peristiwa mendadak lalu berhasil sempurna. Ketahuilah, memang benar peristiwa itu terjadi demikian, tetapi Allah melindungi umat ini dari keburukannya. Dan tidak ada seorang pun di antara kalian yang lehernya diperebutkan orang seperti Abu Bakr. Barang siapa membaiat seseorang tanpa musyawarah dari kaum muslimin, maka orang itu tidak boleh dibaiat, begitu pula orang yang membaiatnya, karena hal tersebut dapat menjerumuskan keduanya ke dalam bahaya pembunuhan.

وَإِنَّهُ قَدۡ كَانَ مِنۡ خَبَرِنَا حِينَ تَوَفَّى اللهُ نَبِيَّهُ ﷺ إِلَّا أَنَّ الۡأَنۡصَارَ خَالَفُونَا، وَاجۡتَمَعُوا بِأَسۡرِهِمۡ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ، وَخَالَفَ عَنَّا عَلِيٌّ وَالزُّبَيۡرُ وَمَنۡ مَعَهُمَا، وَاجۡتَمَعَ الۡمُهَاجِرُونَ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ، فَقُلۡتُ لِأَبِي بَكۡرٍ: يَا أَبَا بَكۡرٍ انۡطَلِقۡ بِنَا إِلَى إِخۡوَانِنَا هَؤُلَاءِ مِنَ الۡأَنۡصَارِ،

Sesungguhnya berita tentang urusan kami ketika Allah mewafatkan Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah bahwa kaum Ansar menyelisihi kami dan berkumpul secara keseluruhan di Saqifah Bani Sa’idah. ‘Ali, Zubair, dan orang-orang yang bersama mereka juga tidak hadir bersama kami, dan kaum Muhajirin berkumpul di sisi Abu Bakr.

Aku lalu berkata kepada Abu Bakr, “Wahai Abu Bakr, mari kita pergi menemui saudara-saudara kita dari kalangan Ansar ini.”

فَانۡطَلَقۡنَا نُرِيدُهُمۡ، فَلَمَّا دَنَوۡنَا مِنۡهُمۡ، لَقِيَنَا مِنۡهُمۡ رَجُلَانِ صَالِحَانِ، فَذَكَرَا مَا تَمَالَى عَلَيۡهِ الۡقَوۡمُ، فَقَالَا: أَيۡنَ تُرِيدُونَ يَا مَعۡشَرَ الۡمُهَاجِرِينَ؟ فَقُلۡنَا: نُرِيدُ إِخۡوَانَنَا هَؤُلَاءِ مِنَ الۡأَنۡصَارِ، فَقَالَا: لَا عَلَيۡكُمۡ أَنۡ لَا تَقۡرَبُوهُمُ، اقۡضُوا أَمۡرَكُمۡ، فَقُلۡتُ: وَاللهِ لَنَأۡتِيَنَّهُمۡ،

Kami berangkat berniat mendatangi mereka. Ketika kami telah mendekati mereka, kami disambut oleh dua orang saleh. Keduanya menyebutkan apa yang telah disepakati oleh kaum (Ansar) dan bertanya, “Hendak ke mana kalian, wahai golongan Muhajirin?”

Kami menjawab, “Kami hendak menemui saudara-saudara kami dari kalangan Ansar.”

Keduanya berkata, “Tidak mengapa jika kalian tidak mendekati mereka, selesaikan saja urusan kalian sendiri.”

Aku berkata, “Demi Allah, kami pasti akan mendatangi mereka.”

فَانۡطَلَقۡنَا حَتَّى أَتَيۡنَاهُمۡ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ، فَإِذَا رَجُلٌ مُزَمَّلٌ بَيۡنَ ظَهۡرَانَيۡهِمۡ، فَقُلۡتُ: مَنۡ هٰذَا؟ فَقَالُوا: هٰذَا سَعۡدُ بۡنُ عُبَادَةَ، فَقُلۡتُ: مَا لَهُ؟ قَالُوا: يُوعَكُ،

Kami pun terus berjalan hingga mendatangi mereka di Saqifah Bani Sa’idah. Ternyata di sana ada seorang lelaki yang berselimut di tengah-tengah mereka. Aku bertanya, “Siapa ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah Sa’d bin ‘Ubadah.”

Aku bertanya, “Ada apa dengan dia?”

Mereka menjawab, “Ia sedang demam.”

فَلَمَّا جَلَسۡنَا قَلِيلًا تَشَهَّدَ خَطِيبُهُمۡ، فَأَثۡنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعۡدُ، فَنَحۡنُ أَنۡصَارُ اللهِ وَكَتِيبَةُ الۡإِسۡلَامِ، وَأَنۡتُمۡ مَعۡشَرَ الۡمُهَاجِرِينَ رَهۡطٌ، وَقَدۡ دَفَّتۡ دَافَّةٌ مِنۡ قَوۡمِكُمۡ، فَإِذَا هُمۡ يُرِيدُونَ أَنۡ يَخۡتَزِلُونَا مِنۡ أَصۡلِنَا، وَأَنۡ يَحۡضُنُونَا مِنَ الۡأَمۡرِ، فَلَمَّا سَكَتَ أَرَدۡتُ أَنۡ أَتَكَلَّمَ، وَكُنۡتُ زَوَّرۡتُ مَقَالَةً أَعۡجَبَتۡنِي أُرِيدُ أَنۡ أُقَدِّمَهَا بَيۡنَ يَدَيۡ أَبِي بَكۡرٍ، وَكُنۡتُ أُدَارِي مِنۡهُ بَعۡضَ الۡحَدِّ، فَلَمَّا أَرَدۡتُ أَنۡ أَتَكَلَّمَ، قَالَ أَبُو بَكۡرٍ: عَلَى رِسۡلِكَ، فَكَرِهۡتُ أَنۡ أُغۡضِبَهُ،

Ketika kami duduk sebentar, juru bicara mereka membaca syahadat, memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu berkata: “Amabakdu. Kami adalah penolong-penolong Allah dan pasukan Islam. Sedangkan kalian, wahai golongan Muhajirin, adalah sekelompok kecil kerabat. Telah datang sekelompok rombongan dari kaum kalian yang hendak meminggirkan kami dari peran asal kami dan merebut urusan (kepemimpinan) ini dari kami.”

Ketika ia selesai berbicara, aku berniat untuk berbicara. Aku telah menyiapkan satu kalimat yang sangat mengagumkanku yang ingin aku sampaikan di hadapan Abu Bakr, dan aku berusaha meredam emosinya. Namun, ketika aku hendak berbicara, Abu Bakr berkata, “Tahanlah dirimu!” Aku pun tidak suka membuatnya marah.

فَتَكَلَّمَ أَبُو بَكۡرٍ، فَكَانَ هُوَ أَحۡلَمَ مِنِّي وَأَوۡقَرَ، وَاللهِ مَا تَرَكَ مِنۡ كَلِمَةٍ أَعۡجَبَتۡنِي فِي تَزۡوِيرِي، إِلَّا قَالَ فِي بَدِيهَتِهِ مِثۡلَهَا أَوۡ أَفۡضَلَ مِنۡهَا حَتَّى سَكَتَ، فَقَالَ: مَا ذَكَرۡتُمۡ فِيكُمۡ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَنۡتُمۡ لَهُ أَهۡلٌ، وَلَنۡ يُعۡرَفَ هٰذَا الۡأَمۡرُ إِلَّا لِهٰذَا الۡحَيِّ مِنۡ قُرَيۡشٍ، هُمۡ أَوۡسَطُ الۡعَرَبِ نَسَبًا وَدَارًا، وَقَدۡ رَضِيتُ لَكُمۡ أَحَدَ هَذَيۡنِ الرَّجُلَيۡنِ، فَبَايِعُوا أَيَّهُمَا شِئۡتُمۡ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَبِيَدِ أَبِي عُبَيۡدَةَ بۡنِ الۡجَرَّاحِ، وَهُوَ جَالِسٌ بَيۡنَنَا، فَلَمۡ أَكۡرَهۡ مِمَّا قَالَ غَيۡرَهَا، كَانَ وَاللهِ أَنۡ أُقَدَّمَ فَتُضۡرَبَ عُنُقِي، لَا يُقَرِّبُنِي ذٰلِكَ مِنۡ إِثۡمٍ، أَحَبَّ إِلَيَّ مِنۡ أَنۡ أَتَأَمَّرَ عَلَى قَوۡمٍ فِيهِمۡ أَبُو بَكۡرٍ، اللّٰهُمَّ إِلَّا أَنۡ تُسَوِّلَ إِلَيَّ نَفۡسِي عِنۡدَ الۡمَوۡتِ شَيۡئًا لَا أَجِدُهُ الۡآنَ.

Abu Bakr pun berbicara. Ternyata ia jauh lebih bijaksana dan lebih tenang daripadaku. Demi Allah, tidak ada satu pun kalimat mengagumkan yang telah kususun rapi dalam benakku melainkan ia ucapkan secara spontan dengan kalimat yang semisal atau bahkan lebih baik daripadanya, hingga ia berhenti berbicara.

Kemudian ia berkata, “Kebaikan apa pun yang kalian sebutkan tentang diri kalian, maka kalian memang layak mendapatkannya. Namun urusan kepemimpinan ini tidak akan dikenali kecuali jika dipegang oleh kabilah Quraisy ini, karena merekalah orang yang berada di tengah-tengah bangsa Arab dari segi nasab dan tempat tinggalnya. Aku rida untuk kalian memilih salah satu dari dua orang lelaki ini, maka baiatlah siapa yang kalian kehendaki.”

Lalu ia memegang tanganku dan tangan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah yang sedang duduk di antara kami berdua. Tidak ada satu pun dari perkataannya yang aku benci selain hal itu. Demi Allah, sungguh jika aku maju lalu leherku dipenggal—yang hal itu tidak mendekatkanku kepada dosa—jauh lebih aku sukai daripada aku memimpin suatu kaum yang di dalamnya terdapat Abu Bakr; kecuali jika pada saat kematian nanti nafsuku membisikkan sesuatu yang tidak kudapati saat ini.”

فَقَالَ قَائِلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ: أَنَا جُذَيۡلُهَا الۡمُحَكَّكُ، وَعُذَيۡقُهَا الۡمُرَجَّبُ، مِنَّا أَمِيرٌ، وَمِنۡكُمۡ أَمِيرٌ، يَا مَعۡشَرَ قُرَيۡشٍ، فَكَثُرَ اللَّغَطُ، وَارۡتَفَعَتِ الۡأَصۡوَاتُ، حَتَّى فَرِقۡتُ مِنَ الۡاخۡتِلَافِ،

Seorang lelaki dari kalangan Ansar berkata, “Akulah ‘batang pohon yang digaruk untuk mengusir kutu’ (sosok tempat mencari solusi), dan akulah ‘pelepah kurma yang diberi penyangga’ (tokoh yang memiliki banyak pengalaman). Dari kami ada seorang pemimpin, dan dari kalian ada seorang pemimpin, wahai golongan Quraisy!”

Terjadilah kegaduhan yang hebat dan suara-suara meninggi hingga aku takut terjadi perpecahan.

فَقُلۡتُ: ابۡسُطۡ يَدَكَ يَا أَبَا بَكۡرٍ، فَبَسَطَ يَدَهُ فَبَايَعۡتُهُ، وَبَايَعَهُ الۡمُهَاجِرُونَ، ثُمَّ بَايَعَتۡهُ الۡأَنۡصَارُ، وَنَزَوۡنَا عَلَى سَعۡدِ بۡنِ عُبَادَةَ، فَقَالَ قَائِلٌ مِنۡهُمۡ: قَتَلۡتُمۡ سَعۡدَ بۡنَ عُبَادَةَ، فَقُلۡتُ: قَتَلَ اللهُ سَعۡدَ بۡنَ عُبَادَةَ،

Aku pun berkata, “Ulurkan tanganmu, wahai Abu Bakr!”

Ia mengulurkan tangannya, lalu aku membaiatnya. Kaum Muhajirin pun membaiatnya, kemudian diikuti oleh kaum Ansar dan kami meloncati Sa’d bin ‘Ubadah. Seseorang dari mereka berkata, “Kalian telah membunuh Sa’d bin ‘Ubadah!”

Aku menjawab, “Semoga Allah membinasakan Sa’d bin ‘Ubadah!”

قَالَ عُمَرُ: وَإِنَّا وَاللهِ مَا وَجَدۡنَا فِيمَا حَضَرۡنَا مِنۡ أَمۡرٍ أَقۡوَى مِنۡ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكۡرٍ، خَشِينَا إِنۡ فَارَقۡنَا الۡقَوۡمَ وَلَمۡ تَكُنۡ بَيۡعَةٌ: أَنۡ يُبَايِعُوا رَجُلًا مِنۡهُمۡ بَعۡدَنَا، فَإِمَّا بَايَعۡنَاهُمۡ عَلَى مَا لَا نَرۡضَى، وَإِمَّا نُخَالِفُهُمۡ فَيَكُونُ فَسَادٌ، فَمَنۡ بَايَعَ رَجُلًا عَلَى غَيۡرِ مَشُورَةٍ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ، فَلَا يُتَابَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ، تَغِرَّةً أَنۡ يُقۡتَلَا. [طرفه في: ٢٤٦٢].

‘Umar berkata: Demi Allah, dari semua situasi yang kami hadapi, kami tidak menemukan langkah yang lebih kuat daripada pembaiatan terhadap Abu Bakr. Kami khawatir jika kami berpisah dengan kaum (Ansar) dan belum ada baiat, mereka akan membaiat seseorang dari kalangan mereka sepeninggal kami nanti. Akibatnya, bisa jadi kami terpaksa membaiat mereka atas sesuatu yang tidak kami ridai, atau kami menyelisihi mereka sehingga terjadi kerusakan. Barang siapa membaiat seseorang tanpa musyawarah dari kaum muslimin, maka orang tersebut maupun orang yang dibaiatnya tidak boleh diikuti, karena hal tersebut dapat menjerumuskan keduanya ke dalam bahaya pembunuhan.