Cari Blog Ini

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 2416

٢٤١٦ - (صحيح) حَدَّثَنَا حُمَيۡدُ بۡنُ مَسۡعَدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حُصَيۡنُ بۡنُ نُمَيۡرٍ أَبُو مِحۡصَنٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيۡنُ بۡنُ قَيۡسٍ الرَّحَبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَاءُ بۡنُ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (لَا تَزُولُ قَدَمَا ابۡنِ آدَمَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ مِنۡ عِنۡدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسۡأَلَ عَنۡ خَمۡسٍ؛ عَنۡ عُمۡرِهِ فِيمَا أَفۡنَاهُ، وَعَنۡ شَبَابِهِ فِيمَا أَبۡلَاهُ، وَمَالِهِ مِنۡ أَيۡنَ اكۡتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنۡفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ). هٰذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعۡرِفُهُ مِنۡ حَدِيثِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا مِنۡ حَدِيثِ الۡحُسَيۡنِ بۡنِ قَيۡسٍ، وَحُسَيۡنُ بۡنُ قَيۡسٍ يُضَعَّفُ فِي الۡحَدِيثِ مِنۡ قِبَلِ حِفۡظِهِ. وَفِي الۡبَابِ عَنۡ أَبِي بَرۡزَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ. [(الصحيحة)(٩٤٦)، (التعليق الرغيب)(١/٧٦)، (الروض النضير)(٦٤٨)].

2416. [Sahih] Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Hushain bin Numair Abu Mihshan menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Husain bin Qais Ar-Rahabi menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Atha` bin Abu Rabah menceritakan kepada kami dari Ibnu ‘Umar, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Kedua kaki anak Adam tidak akan bergeser pada hari kiamat dari sisi Rabnya hingga ia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang diketahuinya.”

Hadis ini adalah hadis garib. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Ibnu Mas’ud dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kecuali dari hadis Al-Husain bin Qais. Dan Husain bin Qais dilemahkan dalam hadis dari sisi hafalannya. Dalam bab ini ada pula riwayat dari Abu Barzah dan Abu Sa’id.

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3398

٢٧ - بَابُ قَوۡلِ اللهِ تَعَالَى
27. Bab Firman Allah Taala


﴿وَأَتۡمَمۡنَاهَا بِعَشۡرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةً * وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ الۡمُفۡسِدِينَ * وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنۡظُرۡ إِلَيۡكَ قَالَ لَنۡ تَرَانِي﴾ إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَأَنَا أَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [الأعراف: ١٤١-١٤٣].

“Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang ditentukan Rabnya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (urusan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.’ Ketika Musa datang untuk (munajat pada) waktu yang telah Kami tentukan dan Rabnya telah berfirman (langsung) kepadanya, ia berkata, ‘Ya Rabku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.’” Hingga firman-Nya: “dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS Al-A’raf: 142–143).

يُقَالُ: دَكَّهُ زَلۡزَلَهُ، ﴿فَدُكَّتَا﴾ [الحاقة: ١٤] فَدُكِكۡنَ، جَعَلَ الۡجِبَالَ كَالۡوَاحِدَةِ، كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقًا﴾ [الأنبياء: ٣٠]، وَلَمۡ يَقُلۡ: كُنَّ، رَتۡقًا: مُلۡتَصِقَتَيۡنِ، ﴿أُشۡرِبُوا﴾ [البقرة: ٩٣] ثَوۡبٌ مُشَرَّبٌ مَصۡبُوغٌ. قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ: ﴿انۡبَجَسَتۡ﴾ [الأعراف: ١٦٠] انۡفَجَرَتۡ، ﴿وَإِذۡ نَتَقۡنَا الۡجَبَلَ﴾ [الأعراف: ١٧١] رَفَعۡنَا.

Dikatakan: dakkahu artinya mengguncangkannya. “Fa dukkatā” (QS Al-Haqqah: 14) bermakna fa dukikna (maka mereka dihancurkan). Allah menjadikan gunung-gunung itu seperti satu kesatuan sebagaimana firman Allah—‘azza wa jalla—: “Bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu.” (QS Al-Anbiya’: 30) dan Dia tidak berfirman kunna (bentuk jamak). Ratqan artinya keduanya melekat menjadi satu. “Usyribū” (diresapkan) (QS Al-Baqarah: 93), ibarat kain yang dicelup pewarna. Ibnu ‘Abbas berkata: “Inbajasat” (QS Al-A’raf: 160) artinya memancar. “Dan (ingatlah), ketika nataqnā bukit” (QS Al-A’raf: 171) artinya Kami mengangkat.

٣٣٩٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (النَّاسُ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنۡ قَوَائِمِ الۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَفَاقَ قَبۡلِي، أَمۡ جُوزِيَ بِصَعۡقَةِ الطُّورِ). [طرفه في: ٢٤١٢].

3398. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Abu Sa’id—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Manusia akan pingsan pada hari kiamat, lalu akulah orang pertama yang sadar. Ternyata aku dapati Musa sedang memegang salah satu tiang arasy. Aku tidak tahu apakah ia sadar sebelumku, ataukah ia telah dicukupkan dengan pingsannya pada hari Bukit Thur.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4638

٢ - بَابُ ﴿وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنۡظُرۡ إِلَيۡكَ قَالَ لَنۡ تَرَانِي وَلَكِنِ انۡظُرۡ إِلَى الۡجَبَلِ فَإِنِ اسۡتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوۡفَ تَرَانِي، فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَانَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا أَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِينَ﴾ [١٤٣]
2. Bab “Dan ketika Musa datang untuk (munajat pada) waktu yang telah Kami tentukan dan Rabnya telah berfirman (langsung) kepadanya, ia berkata, ‘Ya Rabku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ Allah berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Rabnya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, ia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS Al-A’raf: 143)


قَالَ ابۡنُ عَبَّاسٍ أَرِنِي: أَعۡطِنِي.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Arinī” artinya berilah aku.

٤٦٣٨ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ يَحۡيَى الۡمَازِنِيِّ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الۡيَهُودِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ قَدۡ لُطِمَ وَجۡهُهُ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ رَجُلًا مِنۡ أَصۡحَابِكَ مِنَ الۡأَنۡصَارِ لَطَمَ وَجۡهِي، قَالَ: (ادۡعُوهُ). فَدَعَوۡهُ، قَالَ: (لِمَ لَطَمۡتَ وَجۡهَهُ؟). قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي مَرَرۡتُ بِالۡيَهُودِ، فَسَمِعۡتُهُ يَقُولُ: وَالَّذِي اصۡطَفَى مُوسَى عَلَى الۡبَشَرِ، فَقُلۡتُ: وَعَلَى مُحَمَّدٍ! وَأَخَذَتۡنِي غَضۡبَةٌ فَلَطَمۡتُهُ، قَالَ: (لَا تُخَيِّرُونِي مِنۡ بَيۡنِ الۡأَنۡبِيَاءِ، فَإِنَّ النَّاسَ يَصۡعَقُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنۡ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنۡ قَوَائِمِ الۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَفَاقَ قَبۡلِي أَمۡ جُزِيَ بِصَعۡقَةِ الطُّورِ). [طرفه في: ٢٤١٢].

4638. Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami: Sufyan menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ayahnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata:

Seorang laki-laki dari kalangan Yahudi datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan wajahnya ditampar, lalu ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya seorang laki-laki dari sahabatmu dari kalangan Ansar telah menampar wajahku.”

Beliau bersabda, “Panggillah ia!”

Mereka pun memanggilnya. Beliau bertanya, “Mengapa engkau menampar wajahnya?”

Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melewati orang Yahudi ini lalu aku mendengarnya berkata, ‘Demi Zat yang memilih Musa atas manusia’. Maka aku katakan, ‘Dan juga atas Muhammad?!’ Lalu aku diliputi kemarahan sehingga aku menamparnya.”

Beliau bersabda, “Janganlah kalian melebih-lebihkanku di antara para nabi. Karena sesungguhnya manusia akan pingsan pada hari kiamat, lalu akulah orang pertama yang sadar. Ternyata aku dapati Musa sedang memegang salah satu tiang arasy. Aku tidak tahu apakah ia sadar sebelumku ataukah ia dicukupkan dengan pingsannya pada hari Bukit Thur.”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 4813

٤ - بَابُ قَوۡلِهِ: ﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنۡ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنۡ فِي الۡأَرۡضِ إِلَّا مَنۡ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخۡرَى فَإِذَا هُمۡ قِيَامٌ يَنۡظُرُونَ﴾ [٦٨]
4. Bab Firman Allah: “Dan ditiuplah sangkakala, maka pingsanlah siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu.” (QS Az-Zumar: 68)


٤٨١٣ - حَدَّثَنِي الۡحَسَنُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ خَلِيلٍ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّحِيمِ، عَنۡ زَكَرِيَّاءَ بۡنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنۡ عَامِرٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِنِّي أَوَّلُ مَنۡ يَرۡفَعُ رَأۡسَهُ بَعۡدَ النَّفۡخَةِ الۡآخِرَةِ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى مُتَعَلِّقٌ بِالۡعَرۡشِ، فَلَا أَدۡرِي أَكَذٰلِكَ كَانَ، أَمۡ بَعۡدَ النَّفۡخَةِ). [طرفه في: ٢٤١١].

4813. Al-Hasan telah menceritakan kepadaku: Isma’il bin Khalil menceritakan kepada kami: ‘Abdurrahim mengabarkan kepada kami dari Zakariyya` bin Abu Za`idah, dari ‘Amir, dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Sesungguhnya akulah orang pertama yang mengangkat kepalanya setelah tiupan (sangkakala) yang terakhir. Ternyata aku mendapati Musa sedang bergantung pada arasy. Aku tidak tahu apakah ia sudah bergantung dari tadi ataukah baru bergantung setelah tiupan tersebut.”

Sunan Ibnu Majah hadis nomor 1851

١٨٥١ - (حسن) حَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ شَبِيبِ بۡنِ غَرۡقَدَةَ الۡبَارِقِيِّ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡأَحۡوَصِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ شَهِدَ حِجَّةَ الۡوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثۡنَى عَلَيۡهِ، وَذَكَّرَ وَوَعَظَ، ثُمَّ قَالَ: (اسۡتَوۡصُوا بِالنِّسَاءِ خَيۡرًا، فَإِنَّهُنَّ عِنۡدَكُمۡ عَوَانٍ، لَيۡسَ تَمۡلِكُونَ مِنۡهُنَّ شَيۡئًا غَيۡرَ ذٰلِكَ، إِلَّا أَنۡ يَأۡتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ؛ فَإِنۡ فَعَلۡنَ فَاهۡجُرُوهُنَّ فِي الۡمَضَاجِعِ وَاضۡرِبُوهُنَّ ضَرۡبًا غَيۡرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُوا عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًا، إِنَّ لَكُمۡ مِنۡ نِسَائِكُمۡ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمۡ عَلَيۡكُمۡ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمۡ عَلَى نِسَائِكُمۡ، فَلَا يُوطِئۡنَ فُرُشَكُمۡ مَنۡ تَكۡرَهُونَ، وَلَا يَأۡذَنَّ فِي بُيُوتِكُمُ لِمَنۡ تَكۡرَهُونَ، أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ تُحۡسِنُوا إِلَيۡهِنَّ فِي كِسۡوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ). [(الإرواء)(١٩٩٧-٢٠٢٠)، (الآداب)(١٥٦)].

1851. [Hasan] Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Husain bin ‘Ali menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari Syabib bin Gharqadah Al-Bariqi, dari Sulaiman bin ‘Amr bin Al-Ahwash. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwasanya ia menghadiri Haji Wadak bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, serta memberi peringatan dan nasihat, kemudian beliau bersabda, “Berwasiat baiklah kalian kepada kaum wanita, karena sesungguhnya mereka di sisi kalian bagaikan tawanan. Kalian tidak memiliki hak sedikit pun atas mereka selain itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, maka pisahkanlah tempat tidur dari mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian pun memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri-istri kalian adalah mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak tempat tidur kalian dan tidak mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian. Ketahuilah, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.”

Sunan At-Tirmidzi hadis nomor 1163

١١٦٣ - (حسن) حَدَّثَنَا الۡحَسَنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡخَلَّالُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الۡحُسَيۡنُ بۡنُ عَلِيٍّ الۡجُعۡفِيُّ، عَنۡ زَائِدَةَ، عَنۡ شَبِيبِ بۡنِ غَرۡقَدَةَ، عَنۡ سُلَيۡمَانَ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ الۡأَحۡوَصِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ شَهِدَ حَجَّةَ الۡوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثۡنَى عَلَيۡهِ، وَذَكَّرَ وَوَعَظَ، فَذَكَرَ فِي الۡحَدِيثِ قِصَّةً فَقَالَ: (أَلَا وَاسۡتَوۡصُوا بِالنِّسَاءِ خَيۡرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنۡدَكُمۡ، لَيۡسَ تَمۡلِكُونَ مِنۡهُنَّ شَيۡئًا غَيۡرَ ذٰلِكَ، إِلَّا أَنۡ يَأۡتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنۡ فَعَلۡنَ فَاهۡجُرُوهُنَّ فِي الۡمَضَاجِعِ وَاضۡرِبُوهُنَّ ضَرۡبًا غَيۡرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُوا عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًا، أَلَا إِنَّ لَكُمۡ عَلَى نِسَاءِكُمۡ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمۡ عَلَيۡكُمۡ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمۡ عَلَى نِسَاءِكُمۡ أَلَّا يُوطِئۡنَ فُرُشَكُمۡ مَنۡ تَكۡرَهُونَ وَلَا يَأۡذَنَّ فِي بُيُوتِكُمۡ لِمَنۡ تَكۡرَهُونَ، أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ تُحۡسِنُوا إِلَيۡهِنَّ فِي كِسۡوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ). هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَمَعۡنَى قَوۡلِهِ: (عَوَانٌ عِنۡدَكُمۡ) يَعۡنِي أَسۡرَى فِي أَيۡدِيكُمۡ. [(ابن ماجه)(١٨٥١)].

1163. [Hasan] Al-Hasan bin ‘Ali Al-Khallal telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Al-Husain bin ‘Ali Al-Ju’fi menceritakan kepada kami dari Za`idah, dari Syabib bin Gharqadah, dari Sulaiman bin ‘Amr bin Al-Ahwash. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku bahwasanya ia menghadiri Haji Wadak bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, serta memberi peringatan dan nasihat. Kemudian dalam hadis itu ia menyebutkan sebuah kisah, lalu beliau bersabda, “Ketahuilah, berwasiat baiklah kalian kepada kaum wanita, karena sesungguhnya mereka bagaikan tawanan di sisi kalian. Kalian tidak memiliki hak sedikit pun atas mereka selain itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, maka pisahkanlah tempat tidur dari mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian pun memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri-istri kalian adalah mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak tempat tidur kalian dan tidak mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian. Ketahuilah, sedangkan hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.”

Hadis ini hasan sahih. Makna sabda beliau “‘Awanun ‘indakum” yaitu tawanan di tangan kalian.