Cari Blog Ini

At-Tuhfatus Saniyyah - Jenis-jenis Na`ibul Fa’il

أَقْسَامُ نَائِبِ الْفَاعِلِ

Jenis-jenis Na`ibul Fa’il

قَالَ: وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ: ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ؛ فَالظَّاهِرُ نَحْوُ قَوْلِكَ (ضُرِبَ زَيْدٌ) وَ (يُضْرَبُ زَيْدٌ) وَ (أُكْرِمَ عَمْرٌو) وَ (يُكْرَمُ عَمْرٌو). وَالْمُضْمَرُ اثْنَا عَشَرَ، نَحْوُ قَوْلِكَ (ضُرِبْتُ، وَضُرِبْنَا، وَضُرِبْتَ، وَضُرِبْتِ، وَضُرِبْتُمَا، وَضُرِبْتُمْ، وَضُرِبْتُنَّ، وَضُرِبَ، وَضُرِبَتْ، وَضُرِبَا، وَضُرِبُوا، وَضُرِبْنَ).
Na`ibul fa’il terbagi menjadi dua jenis: zhahir dan mudhmar. Na`ibul fa’il yang zhahir seperti ucapanmu ضُرِبَ زَيْدٌ (Zaid telah dipukul), يُضْرَبُ زَيْدٌ (Zaid sedang dipukul), أُكْرِمَ عَمْرٌو (‘Amr telah dimuliakan), يُكْرَمُ عَمْرٌو (‘Amr sedang dimuliakan). Adapun Na`ibul fa’il yang mudhmar ada dua belas, contohnya: ضُرِبْتُ، وَضُرِبْنَا، وَضُرِبْتَ، وَضُرِبْتِ، وَضُرِبْتُمَا، وَضُرِبْتُمْ، وَضُرِبْتُنَّ، وَضُرِبَ، وَضُرِبَتْ، وَضُرِبَا، وَضُرِبُوا، وَضُرِبْنَ.
أَقُولُ: يَنْقَسِمُ نَائِبُ الْفَاعِلِ - كَمَا انْقَسَمَ الْفَاعِلُ - إِلَى ظَاهِرٍ وَمُضْمَرٍ، وَالْمُضْمَرُ إِلَى مُتَّصِلٍ وَمُنْفَصِلٍ.
وَأَنْوَاعُ كُلِّ قِسْمٍ مِنَ الضَّمِيرِ اثْنَا عَشَرَ: اثْنَانِ لِلْمُتَكَلِّمِ، وَخَمْسَةٌ لِلْمُخَاطَبِ، وَخَمْسَةٌ لِلْغَائِبِ، وَقَدْ ذَكَرْنَا تَفْصِيلَ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي بَابِ الْفَاعِلِ، فَلَا حَاجَةَ بِنَا إِلَى تِكْرَارِهِ هُنَا.
Na`ibul fa’il terbagi - sebagaimana fa’il terbagi - menjadi zhahir dan mudhmar. Dan na`ibul fa’il yang mudhmar terbagi menjadi muttashil (kata gantinya bersambung) dan munfashil (kata gantinya terpisah).Dan macam-macam setiap bagian dari dhamir ada 12: 2 untuk kata ganti orang pertama, 5 untuk kata ganti orang kedua, dan 5 untuk kata ganti orang ketiga. Kami telah sebutkan perinciannya seluruhnya pada bab fa’il, sehingga tidak perlu untuk mengulangi lagi di sini.

Shahih Al-Bukhari hadits nomor 1952

٤٢ – بَابُ مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صَوۡمٌ 

42. Bab barangsiapa meninggal padahal masih punya kewajiban puasa

١٩٥٢ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ خَالِدٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ مُوسَى بۡنِ أَعۡيَنَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡحَارِثِ، عَنۡ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي جَعۡفَرٍ: أَنَّ مُحَمَّدَ بۡنَ جَعۡفَرٍ حَدَّثَهُ عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنۡ مَاتَ وَعَلَيۡهِ صِيَامٌ صَامَ عَنۡهُ وَلِيُّهُ). تَابَعَهُ ابۡنُ وَهۡبٍ، عَنۡ عَمۡرٍو. وَرَوَاهُ يَحۡيَى بۡنُ أَيُّوبَ، عَنِ ابۡنِ أَبِي جَعۡفَرٍ. 
1952. Muhammad bin Khalid telah menceritakan kepada kami: Muhammad bin Musa bin A'yan menceritakan kepada kami: Ayahku menceritakan kepada kami, dari 'Amr bin Al-Harits, dari 'Ubaidullah bin Abi Ja'far: Sesungguhnya Muhammad bin Ja'far menceritakan kepadanya dari 'Urwah, dari 'A`isyah radhiyallahu 'anha: Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggal padahal dia masih punya kewajiban puasa, maka walinya bisa berpuasa untuknya.” Ibnu Wahb menguatkan hadits ini, dari 'Amr. Dan Yahya bin Ayyub meriwayatkan hadits ini dari Abu Ja'far.

At-Tuhfatus Saniyyah - Perubahan fi'il setelah dihilangkannya fa'il

تَغْيِيرُ الْفِعْلِ بَعْدَ حَذْفِ الْفَاعِلِ

Perubahan fi’il setelah dihilangkannya fa’il

قَالَ: فَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مَاضِيًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَكُسِرَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ، وَإِنْ كَانَ مُضَارِعًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَفُتِحَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ.
Jika fi’ilnya madhi, maka huruf awalnya didhammah dan huruf sebelum akhir dikasrah. Dan jika fi’ilnya mudhari’, maka huruf awalnya didhammah dan huruf sebelum akhir difathah.
أَقُولُ: ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ فِي هَذِهِ الْعِبَارَةِ التَّغْيِيرَاتِ الَّتِي تَحْدُثُ فِي الْفِعْلِ عِنْدَ حَذْفِ فَاعِلِهِ وَإِسْنَادِهِ إِلَى الْمَفْعُولِ، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا كَانَ الْفِعْلُ مَاضِيًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَكُسِرَ الْحَرْفُ الَّذِي قَبْلَ آخِرِهِ؛ فَتَقُولُ (قُطِعَ الْغُصْنُ) وَ (حُفِظَ الدَّرْسُ) وَإِنْ كَانَ الْفِعْلُ مُضَارِعًا ضُمَّ أَوَّلُهُ وَفُتِحَ الْحَرْفُ الَّذِي قَبْلَ آخِرِهِ؛ فَتَقُولُ (يُقْطَعُ الْغُصْنُ) وَ (يُحْفَظُ الدَّرْسُ).
Penulis menyebutkan di dalam kalimat ini perubahan-perubahan yang terjadi pada fi’il ketika fa’ilnya dihilangkan dan disambung kepada maf’ul. Perubahannya yaitu jika fi’ilnya madhi, maka huruf awalnya didhammah dan huruf sebelum akhir dikasrah, contohnya: قُطِعَ الْغُصْنُ (Dahan itu telah dipotong) dan حُفِظَ الدَّرْسُ (Pelajaran itu telah dihafal). Adapun jika fi’ilnya mudhari’, maka huruf awalnya didhammah dan huruf sebelum akhir difathah, contohnya: يُقْطَعُ الْغُصْنُ (Dahan itu sedang dipotong) dan يُحْفَظُ الدَّرْسُ (Pelajaran itu sedang dihafal).

At-Tuhfatus Saniyyah - Na`ibul Fa'il

النَّائِبُ عَنِ الْفَاعِلِ

Na`ibul Fa’il

قَالَ: (بَابُ الْمَفْعُولِ الَّذِي لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ) وَهُوَ: الْإِسْمُ الْمَرْفُوعُ الَّذِي لَمْ يُذْكَرْ مَعَهُ فَاعِلُهُ.
Bab maf’ul yang tidak disebutkan fa’ilnya, yaitu: isim yang marfu’ yang fa’ilnya tidak disebutkan bersamanya.
وَأَقُولُ: قَدْ يَكُونُ الْكَلَامُ مُؤَلَّفًا مِنْ فِعْلٍ وَفَاعِلٍ وَمَفْعُولٍ بِهِ، نَحْوُ (قَطَعَ مَحْمُودٌ الْغُصْنَ) وَنَحْوُ (حَفِظَ خَلِيلٌ الدَّرْسَ) وَنَحْوُ (يَقْطَعُ إِبْرَاهِيمُ الْغُصْنَ) وَ (يَحْفَظُ عَلِيٌّ الدَّرْسَ)
Sebuah pembicaraan terkadang tersusun dari fi’il, fa’il, dan maf’ul bih. Contohnya: قَطَعَ مَحْمُودٌ الْغُصْنَ (Mahmud telah memotong dahan itu) dan حَفِظَ خَلِيلٌ الدَّرْسَ (Khalil telah menghafal pelajaran itu) dan يَقْطَعُ إِبْرَاهِيمُ الْغُصْنَ (Ibrahim sedang memotong dahan itu) dan يَحْفَظُ عَلِيٌّ الدَّرْسَ (‘Ali sedang menghafalkan pelajaran itu).
وَقَدْ يَحْذِفُ الْمُتَكَلِّمُ الْفَاعِلَ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ وَيَكْتَفِي بِذِكْرِ الْفِعْلِ وَالْمَفْعُولِ، وَحِينَئِذٍ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُغَيِّرَ صُورَةَ الْفِعْلِ، وَيُغَيِّرُ صُورَةَ الْمَفْعُولِ أَيْضًا، أَمَّ تَغْيِيرُ صُورَةِ الْفِعْلِ فَسَيَأْتِي الْكَلَامُ عَلَيْهِ، وَأَمَّا تَغْيِيرُ صُورَةِ الْمَفْعُولِ فَإِنَّهُ بَعْدَ أَنْ كَانَ مَنْصُوبًا يُصَيِّرُهُ مَرْفُوعًا، وَيُعْطِيهِ أَحْكَامَ الْفَاعِلِ: مِنْ وُجُوبِ تَأَخِيرِهِ عَنِ الْفِعْلِ، وَتَأْنِيثِ فِعْلَهُ لَهُ إِنْ كَانَ هُوَ مُؤَنَّثًا، وَغَيْرِ ذَلِكَ، وَيُسَمَّى حِينَئِذٍ (نَائِبَ الْفَاعِلِ) أَوْ (الْمَفْعُولَ الَّذِي لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ).
Terkadang orang yang berbicara menghilangkan fa’il dari pembicaraan dan mencukupkan dengan menyebutkan fi’il dan maf’ul saja. Maka pada saat ini, wajib atasnya untuk mengubah bentuk fi’il dan mengubah bentuk maf’ul. Adapun perubahan bentuk fi’il, akan datang pembicaraan tentangnya. Adapun perubahan bentuk maf’ul, maka tadinya manshub berubah setelahnya menjadi marfu’. Dan maf’ul itu menjadi memiliki hukum-hukum fa’il berupa: wajib mengakhirkannya dari fi’il, memu`annatskan fa’ilnya jika maf’ulnya mu`annats, dan selain itu. Maf’ul ini pada saat ini dinamakan na`ibul fa’il atau maf’ul yang tidak disebutkan fa’ilnya.

Shahih Muslim hadits nomor 2733

٨٨ – (٢٧٣٣) - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ: أَخۡبَرَنَا عِيسَى بۡنُ يُونُسَ: حَدَّثَنَا عَبۡدُ الۡمَلِكِ بۡنُ أَبِي سُلَيۡمَانَ، عَنۡ أَبِي الزُّبَيۡرِ، عَنۡ صَفۡوَانَ، وَهُوَ ابۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَفۡوَانَ، وَكَانَتۡ تَحۡتَهُ الدَّرۡدَاءُ. قَالَ: قَدِمۡتُ الشَّامَ. فَأَتَيۡتُ أَبَا الدَّرۡدَاءِ فِي مَنۡزِلِهِ فَلَمۡ أَجِدۡهُ. وَوَجَدۡتُ أُمَّ الدَّرۡدَاءِ. فَقَالَتۡ: أَتُرِيدُ الۡحَجَّ الۡعَامَ؟ فَقُلۡتُ: نَعَمۡ. قَالَتۡ: فَادۡعُ اللهَ لَنَا بِخَيۡرٍ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: (دَعۡوَةُ الۡمَرۡءِ الۡمُسۡلِمِ لِأَخِيهِ، بِظَهۡرِ الۡغَيۡبِ مُسۡتَجَابَةٌ، عِنۡدَ رَأۡسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيۡرٍ، قَالَ الۡمَلَكُ الۡمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثۡلٍ). 
قَالَ: فَخَرَجۡتُ إِلَى السُّوقِ، فَلَقِيتُ أَبَا الدَّرۡدَاءِ. فَقَالَ لِي مِثۡلَ ذٰلِكَ يَرۡوِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ. 
88. (2733). Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami: 'Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami: 'Abdul Malik bin Abi Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Abuz Zubair, dari Shafwan bin 'Abdillah bin Shafwan. Beliau berkata: Aku tiba di Syam, lalu aku mendatangi Abud Darda` di rumahnya, namun aku tidak menjumpainya. Aku mendapati Ummud Darda`, dia bertanya, “Apakah engkau ingin haji tahun ini?” Aku berkata, “Ya.” Ummud Darda` berkata, “Berdo'alah kebaikan kepada Allah untuk kami. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: Do'a kebaikan seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajabah. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diberi tugas, setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang ditugasi ini mengatakan: Aamiin, dan bagimu yang semisal itu.” Shafwan berkata: Lalu aku keluar menuju pasar, kemudian aku bertemu dengan Abud Darda`. Maka beliau berkata kepadaku seperti perkataan Ummud Darda`, beliau meriwayatkannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 
(…) - وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ، عَنۡ عَبۡدِ الۡمَلِكِ بۡنِ أَبِي سُلَيۡمَانَ، بِهٰذَا الۡإِسۡنَادِ … مِثۡلَهُ. وَقَالَ: عَنۡ صَفۡوَانَ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ صَفۡوَانَ. 
Abu Bakr bin Abi Syaibah menceritakan hadits itu kepada kami: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, dari 'Abdul Malik bin Abi Sulaiman, dengan sanad ini... semisal hadits itu. Beliau berkata: dari Shafwan bin 'Abdillah bin Shafwan.