Cari Blog Ini

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3051

١٧٣ - بَابُ الۡحَرۡبِيِّ إِذَا دَخَلَ دَارَ الۡإِسۡلَامِ بِغَيۡرِ أَمَانٍ
173. Bab orang kafir harbi bila masuk ke negeri Islam tanpa jaminan keamanan


٣٠٥١ - حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيۡمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡعُمَيۡسِ، عَنۡ إِيَاسِ بۡنِ سَلَمَةَ بۡنِ الۡأَكۡوَعِ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ عَيۡنٌ مِنَ الۡمُشۡرِكِينَ وَهُوَ فِي سَفَرٍ، فَجَلَسَ عِنۡدَ أَصۡحَابِهِ يَتَحَدَّثُ ثُمَّ انۡفَتَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (اطۡلُبُوهُ وَاقۡتُلُوهُ). فَقَتَلَهُ، فَنَفَّلَهُ سَلَبَهُ.

3051. Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami: Abu Al-‘Umais menceritakan kepada kami dari Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’, dari ayahnya. Beliau mengatakan:

Seorang mata-mata musyrikin datang kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika beliau safar. Dia duduk di samping teman-temannya bercerita kemudian pergi. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Cari dan bunuhlah dia!”

Salamah membunuhnya lalu Nabi memberikan harta rampasan mata-mata tersebut kepada Salamah.

Usdul Ghabah - 2665. 'Ashim bin Tsabit

٢٦٦٥ - ب د ع: عَاصِمُ بۡنُ ثَابِتِ بۡنِ أَبِي الۡأَقۡلَحِ، وَاسۡمُ أَبِي الۡأَقۡلَحِ: قَيۡسُ بۡنُ عِصۡمَةَ بۡنِ النُّعۡمَانِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ أَمَةَ بۡنِ ضُبَيۡعَةَ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ عَمۡرِو بۡنِ عَوۡفِ بۡنِ مَالِكِ بۡنِ الۡأَوۡسِ، الۡأَنۡصَارِيُّ الۡأَوۡسِيُّ ثُمَّ الضُّبَعِيُّ، وَهُوَ جَدُّ عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ بۡنِ الۡخَطَّابِ لِأُمِّهِ، وَهُوَ حَمِيُّ الدَّبۡرِ، شَهِدَ بَدۡرًا.

‘Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah. Nama Abu Al-Aqlah adalah Qais bin ‘Ishmah bin An-Nu’man bin Malik bin Amah bin Dhubai’ah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Auf bin Malik bin Al-Aus. ‘Ashim adalah Al-Anshari Al-Ausi kemudian Adh-Dhuba’i. Beliau adalah kakek ‘Ashim bin ‘Umar bin Al-Khaththab dari jalur ibunya. Beliau adalah orang yang jasadnya dilindungi oleh tawon dan mengikuti perang Badr.

رَوَى مَعۡمَرٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ، عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ أَبِي سُفۡيَانَ الثَّقَفِيِّ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ، قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ سَرِيَّةً عَيۡنًا، وَأَمَّرَ عَلَيۡهِمۡ عَاصِمَ بۡنَ ثَابِتٍ، فَانۡطَلَقُوا، حَتَّى كَانُوا بَيۡنَ عُسۡفَانَ وَمَكَّةَ ذُكِرُوا لِحَيٍّ مِنۡ هُذَيۡلٍ، وَهُمۡ بَنُو لِحۡيَانَ، فَتَبَعُوهُمۡ فِي قَرِيبٍ مِنۡ مِائَةَ رَجُلٍ رَامٍ، حَتَّى لَحِقُوهُمۡ وَأَحَاطُوا بِهِمۡ،

Ma’mar meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari ‘Amr bin Abu Sufyan Ats-Tsaqafi, dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengirim pasukan mata-mata dan mengangkat ‘Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka. Lalu mereka berangkat sampai mereka berada di antara ‘Usfan dan Makkah, keberadaan mereka diketahui oleh suatu kabilah dari Hudzail yang disebut bani Lihyan. Orang-orang bani Lihyan sejumlah hampir seratus pemanah memburu mereka sampai berhasil menyusul dan mengepung mereka.

وَقَالُوا: لَكُمُ الۡعَهۡدُ وَالۡمِيثَاقُ إِنۡ نَزَلۡتُمۡ إِلَيۡنَا أَنۡ لَا نَقۡتُلَ مِنۡكُمۡ رَجُلًا، فَقَالَ عَاصِمٌ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَنۡزِلُ فِي جِوَارِ مُشۡرِكٍ، اللّٰهُمَّ فَأَخۡبِرۡ عَنَّا رَسُولَكَ. فَقَاتَلُوهُمۡ فَرَمَوۡهُمۡ حَتَّى قَتَلُوا عَاصِمًا فِي سَبۡعَةِ نَفَرٍ، وَبَقِيَ خُبَيۡبُ بۡنُ عَدِيٍّ، وَزَيۡدُ بۡنُ الدَّثِنَةِ، وَرَجُلٌ آخَرُ، فَأَعۡطَوۡهُمُ الۡعَهۡدَ، فَنَزَلُوا إِلَيۡهِمۡ، فَأَخَذُوهُمۡ.

Orang-orang bani Lihyan berkata, “Jika kalian turun menyerah kepada kami, kalian mendapat jaminan bahwa kami tidak akan membunuh salah seorang dari kalian.”

‘Ashim berkata, “Aku tidak mau turun dalam jaminan seorang musyrik. Ya Allah, kabarkanlah tentang kami kepada Rasul-Mu.”

Orang-orang bani Lihyan memerangi dan memanahi mereka sampai berhasil membunuh ‘Ashim bersama enam orang lainnya. Yang tersisa ada Khubaib bin 'Adi, Zaid bin Ad-Datsinah, dan seorang lainnya. Ketiga orang ini menerima perjanjian dengan orang-orang bani Lihyan, lalu ketiganya turun. Orang-orang bani Lihyan itu menangkap mereka.

وَقَدۡ ذَكَرۡنَا خَبَرَ خُبَيۡبٍ عِنۡدَ اسۡمِهِ، وَأَمَّا عَاصِمٌ فَأَرۡسَلَتۡ قُرَيۡشٌ إِلَيۡهِ لِيُؤۡتُوا بِهِ أَوۡ بِشَيۡءٍ مِنۡ جَسَدِهِ لِيَعۡرِفُوهُ.

Kami telah menyebutkan cerita Khubaib di bagian namanya. Adapun ‘Ashim, orang-orang kafir Quraisy mengirim orang ke jenazah ‘Ashim untuk membawakan sebagian jasadnya yang dikenali.

وَكَانَ قَتَلَ عُقۡبَةَ بۡنَ مُعَيۡطٍ الۡأُمَوِيَّ يَوۡمَ بَدۡرٍ، وَقَتَلَ مُسَافِعَ بۡنَ طَلۡحَةَ، وَأَخَاهُ كِلَابًا، كِلَاهُمَا أَشۡعَرَهُ سَهۡمًا، فَيَأۡتِي أُمَّهُ سُلَافَةَ وَيَقُولُ: سَمِعۡتُ رَجُلًا حِينَ رَمَانِي يَقُولُ: خُذۡهَا وَأَنَا ابۡنُ الۡأَقۡلَحِ، فَنَذَرۡتُ إِنۡ أَمۡكَنَهَا اللهُ تَعَالَى مِنۡ رَأۡسِ عَاصِمٍ لِتَشۡرَبَنۡ فِيهِ الۡخَمۡرَ،

Sebelumnya, ‘Ashim telah membunuh ‘Uqbah bin Mu’aith Al-Umawi pada hari perang Badr. ‘Ashim juga telah membunuh Musafi’ bin Thalhah dan saudaranya, yaitu Kilab. Masing-masing dari keduanya tertancapi oleh sebatang anak panah. Salah satu dari dua bersaudara itu mendatangi ibunya dan berkata, “Aku mendengar ucapan lelaki yang memanahku, ‘Ambil ini! Aku adalah putra Al-Aqlah.’ Lalu aku bernazar, jika Allah taala memungkinkan ibu mendapatkan batok kepala ‘Ashim, agar ibu minum khamar dari situ.”

فَلَمَّا أُصِيبَ عَاصِمٌ يَوۡمَ الرَّجِيعِ أَرَادُوا أَنۡ يَأۡخُذُوا رَأۡسَهُ لِيُبِيعُوهُ مِنۡ سُلَافَةَ، فَبَعَثَ اللهُ سُبۡحَانَهُ عَلَيۡهِ مِثۡلَ الظُّلَّةِ مِنَ الدَّبۡرِ، فَحَمَتۡهُ مِنۡ رُسُلِهِمۡ، فَلَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى شَيۡءٍ مِنۡهُ، فَلَمَّا أَعۡجَزَهُمۡ قَالُوا: إِنَّ الدَّبۡرَ سَيَذۡهَبُ إِذَا جَاءَ اللَّيۡلُ، فَبَعَثَ اللهُ مَطَرًا، فَجَاءَ سَيۡلٌ فَحَمَلَهُ فَلَمۡ يُوجَدۡ، وَكَانَ قَدۡ عَاهَدَ اللهَ تَعَالَى أَنۡ لَا يَمَسَّ مُشۡرِكًا، وَلَا يَمَسَّهُ مُشۡرِكٌ، فَحَمَاهُ اللهُ تَعَالَى بِالدَّبۡرِ بَعۡدَ وَفَاتِهِ، فَسُمِّيَ حَمِيَّ الدَّبۡرِ، وَقَنَتَ النَّبِيُّ ﷺ شَهۡرًا يَلۡعَنُ رِعۡلًا وَذَكۡوَانَ وَبَنِي لِحۡيَانَ،

Ketika ‘Ashim terbunuh pada hari Ar-Raji’, mereka ingin mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah. Allah—subhanahu—mengirimkan kawanan tawon seperti naungan. Tawon-tawon itu melindungi ‘Ashim dari para utusan orang-orang kafir sehingga mereka tidak mampu mengambil sedikit saja dari jasadnya. Ketika mereka gagal, mereka berkata, “Tawon ini akan pergi apabila malam datang.”

Allah menurunkan hujan lalu banjir datang menghanyutkan jasad ‘Ashim hingga tidak bisa ditemukan.

‘Ashim ini dulunya berjanji kepada Allah taala tidak akan menyentuh seorang musyrik dan tidak disentuh oleh seorang musyrik. Lalu Allah taala melindunginya setelah mati dengan tawon sehingga beliau dijuluki hamiyyud dabr.

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melangsungkan doa kunut selama sebulan melaknat kabilah Ri’l, Dzakwan, dan bani Lihyan.

وَقَالَ حَسَّانُ:

لَعَمۡرِي لَقَدۡ شَانَتۡ هُذَيۡلَ بۡنَ مُدۡرِكٍ أَحَادِيثُ كَانَتۡ فِي خُبَيۡبٍ وَعَاصِمٍ

أَحَادِيثُ لِحۡيَان صَلَوۡا بِقَبِيحِهَا وَلِحۡيَانُ رَكَّابُونَ شَرَّ الۡجَرَائِمِ

Hassan berkata, “Sungguh, peristiwa yang terjadi pada Khubaib dan ‘Ashim telah mencemarkan Hudzail bin Mudrik. Cerita bani Lihyan yang telah terjerumus dengan perbuatan jeleknya. Bani Lihyan para pelaku dosa yang sangat jahat.”

أَخۡرَجَهُ الثَّلَاثَةُ.

Biografi beliau disebutkan oleh tiga orang (Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, dan Abu ‘Umar).

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3048

١٧٢ - بَابُ فِدَاءِ الۡمُشۡرِكِينَ
172. Bab tebusan dari orang-orang musyrik


٣٠٤٨ - حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ أَبِي أُوَيۡسٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ عُقۡبَةَ عَنۡ مُوسَى بۡنِ عُقۡبَةَ عَنِ ابۡنِ شِهَابٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ رِجَالًا مِنَ الۡأَنۡصَارِ اسۡتَأۡذَنُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، ائۡذَنۡ فَلۡنَتۡرُكۡ لِابۡنِ أُخۡتِنَا عَبَّاسٍ فِدَاءَهُ. فَقَالَ: (لَا تَدَعُونَ مِنۡهَا دِرۡهَمًا). [طرفه في: ٢٥٣٧].

3048. Isma’il bin Abu Uwais telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Ibrahim bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami dari Musa bin ‘Uqbah, dari Ibnu Syihab. Beliau berkata: Anas bin Malik—radhiyallahu ‘anhu—menceritakan kepadaku bahwa ada beberapa lelaki Ansar meminta izin kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan kami untuk tidak mengambil tebusan untuk putra saudara perempuan kami, ‘Abbas.”

Rasulullah bersabda, “Jangan tinggalkan satu dirham pun dari tebusan itu!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3046

١٧١ - بَابُ فَكَاكِ الۡأَسِيرِ
171. Bab usaha pembebasan muslim yang ditawan


فِيهِ عَنۡ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Dalam bab ini ada riwayat dari Abu Musa, dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam.

٣٠٤٦ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ أَبِي وَائِلٍ، عَنۡ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (فُكُّوا الۡعَانِيَ – يَعۡنِي: الۡأَسِيرَ - وَأَطۡعِمُوا الۡجَائِعَ، وَعُودُوا الۡمَرِيضَ). [الحديث ٣٠٤٦ - أطرافه في: ٥١٧٤، ٥٣٧٣، ٥٦٤٩، ٧١٧٣].

3046. Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Abu Wa`il, dari Abu Musa—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Bebaskan (muslim) yang ditawan (oleh musuh), berilah makanan kepada yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit!”

Shahih Al-Bukhari hadis nomor 3045

١٧٠ - بَابٌ هَلۡ يَسۡتَأۡسِرُ الرَّجُلُ وَمَنۡ لَمۡ يَسۡتَأۡسِرۡ وَمَنۡ رَكَعَ رَكۡعَتَيۡنِ عِنۡدَ الۡقَتۡلِ
170. Bab apakah seseorang boleh menyerah menjadi tawanan? Dan penjelasan barang siapa tidak mau menjadi tawanan, serta barang siapa salat dua rakaat sebelum dibunuh


٣٠٤٥ - حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عَمۡرُو بۡنُ أَبِي سُفۡيَانَ بۡنِ أَسِيدِ بۡنِ جَارِيَةَ الثَّقَفِيُّ، وَهُوَ حَلِيفٌ لِبَنِي زُهۡرَةَ، وَكَانَ مِنۡ أَصۡحَابِ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ أَبَا هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ:

3045. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Amr bin Abu Sufyan bin Usaid bin Jariyah Ats-Tsaqafi—beliau adalah sekutu bani Zuhrah dan termasuk sahabat Abu Hurairah—mengabarkan kepadaku bahwa Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—mengatakan:

بَعَثَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَشَرَةَ رَهۡطٍ سَرِيَّةً عَيۡنًا، وَأَمَّرَ عَلَيۡهِمۡ عَاصِمَ بۡنَ ثَابِتٍ الۡأَنۡصَارِيَّ جَدَّ عَاصِمِ بۡنِ عُمَرَ، فَانۡطَلَقُوا حَتَّى إِذَا كَانُوا بِالۡهَدَأَةِ، وَهُوَ بَيۡنَ عُسۡفَانَ وَمَكَّةَ، ذُكِرُوا لِحَيٍّ مِنۡ هُذَيۡلٍ، يُقَالُ لَهُمۡ بَنُو لِحۡيَانَ، فَنَفَرُوا لَهُمۡ قَرِيبًا مِنۡ مِائَتَيۡ رَجُلٍ كُلُّهُمۡ رَامٍ، فَاقۡتَصُّوا آثَارَهُمۡ حَتَّى وَجَدُوا مَأۡكَلَهُمۡ تَمۡرًا تَزَوَّدُوهُ مِنَ الۡمَدِينَةِ، فَقَالُوا: هٰذَا تَمۡرُ يَثۡرِبَ. فَاقۡتَصُّوا آثَارَهُمۡ، فَلَمَّا رَآهُمۡ عَاصِمٌ وَأَصۡحَابُهُ لَجَأُوا إِلَى فَدۡفَدٍ وَأَحَاطَ بِهِمُ الۡقَوۡمُ، فَقَالُوا لَهُمُ: انۡزِلُوا وَأَعۡطُونَا بِأَيۡدِيكُمۡ، وَلَكُمُ الۡعَهۡدُ وَالۡمِيثَاقُ، وَلَا نَقۡتُلُ مِنۡكُمۡ أَحَدًا.

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengirim sepuluh orang pasukan mata-mata dan menunjuk ‘Ashim bin Tsabit Al-Anshari—kakek ‘Ashim bin ‘Umar—sebagai pemimpinnya. Mereka pun berangkat hingga ketika sampai di Hada`ah—suatu tempat di antara ‘Usfan dengan Makkah—, kabar mereka diketahui oleh suatu kabilah dari Hudzail yang disebut bani Lihyan. Lalu ada hampir dua ratus orang mengejar pasukan ‘Ashim. Kedua ratus orang ini semuanya ahli memanah. Mereka membuntuti jejak pasukan ‘Ashim hingga mereka menemukan tempat yang telah digunakan pasukan ‘Ashim memakan bekal kurma dari Madinah. Mereka berkata, “Ini adalah kurma Yatsrib (Madinah).”

Mereka melanjutkan perburuan. Ketika ‘Ashim dan para sahabatnya melihat mereka, pasukan ‘Ashim bertahan di suatu tempat yang tinggi. Orang-orang bani Lihyan mengepung mereka lalu berkata, “Turun dan menyerahlah kalian! Kami menjamin tidak akan membunuh kalian seorang pun.”

قَالَ عَاصِمُ بۡنُ ثَابِتٍ أَمِيرُ السَّرِيَّةِ: أَمَّا أَنَا فَوَاللهِ لَا أَنۡزِلُ الۡيَوۡمَ فِي ذِمَّةِ كَافِرٍ، اللّٰهُمَّ أَخۡبِرۡ عَنَّا نَبِيَّكَ، فَرَمَوۡهُمۡ بِالنَّبۡلِ فَقَتَلُوا عَاصِمًا فِي سَبۡعَةٍ، فَنَزَلَ إِلَيۡهِمۡ ثَلَاثَةُ رَهۡطٍ بِالۡعَهۡدِ وَالۡمِيثَاقِ، مِنۡهُمۡ خُبَيۡبٌ الۡأَنۡصَارِيُّ وَابۡنُ دَثِنَةَ وَرَجُلٌ آخَرُ، فَلَمَّا اسۡتَمۡكَنُوا مِنۡهُمۡ أَطۡلَقُوا أَوۡتَارَ قِسِيِّهِمۡ فَأَوۡثَقُوهُمۡ، فَقَالَ الرَّجُلُ الثَّالِثُ: هٰذَا أَوَّلُ الۡغَدۡرِ، وَاللهِ لَا أَصۡحَبُكُمۡ، إِنَّ لِي في هَؤُلَاءِ لَأُسۡوَةً، يُرِيدُ الۡقَتۡلَى، وجَرَّرُوهُ وَعَالَجُوهُ عَلَى أَنۡ يَصۡحَبَهُمۡ فَأَبَى فَقَتَلُوهُ،

‘Ashim bin Tsabit pemimpin pasukan muslimin berkata, “Adapun saya, demi Allah, tidak mau turun hari ini dalam jaminan orang kafir. Ya Allah, beritahukan kabar kami kepada nabi-Mu.”

Orang-orang bani Lihyan memanahi pasukan ‘Ashim sehingga berhasil membunuh ‘Ashim bersama enam orang lainnya. Tiga orang lainnya menyerahkan diri dengan perjanjian. Ketiga orang tersebut adalah Khubaib Al-Anshari, Ibnu Datsinah, dan seorang lainnya. Ketika mereka telah menguasainya, mereka mengudar tali busur untuk mengikat ketiga orang tersebut. Orang ketiga berkata, “Ini awal pengkhianatan. Demi Allah, aku tidak akan menyertai kalian. Sesungguhnya pada diri mereka ada teladan bagiku.” Yang beliau maksud adalah pasukan ‘Ashim yang telah terbunuh.

Orang-orang bani Lihyan menyeret dan memaksanya agar ikut mereka, namun beliau tidak mau sehingga mereka membunuhnya.

فَانۡطَلَقُوا بِخُبَيۡبٍ وَابۡنِ دَثِنَةَ حَتَّى بَاعُوهُمَا بِمَكَّةَ بَعۡدَ وَقۡعَةِ بَدۡرٍ، فَابۡتَاعَ خُبَيۡبًا بَنُو الۡحَارِثِ بۡنِ عَامِرِ بۡنِ نَوۡفَلِ بۡنِ عَبۡدِ مَنَافٍ، وَكَانَ خُبَيۡبٌ هُوَ قَتَلَ الۡحَارِثَ بۡنَ عَامِرٍ يَوۡمَ بَدۡرٍ، فَلَبِثَ خُبَيۡبٌ عِنۡدَهُمۡ أَسِيرًا، فَأَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عِيَاضٍ: أَنَّ بِنۡتَ الۡحَارِثِ أَخۡبَرَتۡهُ: أَنَّهُمۡ حِينَ اجۡتَمَعُوا اسۡتَعَارَ مِنۡهَا مُوسَى يَسۡتَحِدُّ بِهَا فَأَعَارَتۡهُ، فَأَخَذَ ابۡنًا لِي وَأَنَا غَافِلَةٌ حِينَ أَتَاهُ، قَالَتۡ: فَوَجَدۡتُهُ مُجۡلِسَهُ عَلَى فَخِذِهِ وَالۡمُوسَى بِيَدِهِ، فَفَزِعۡتُ فَزۡعَةً عَرَفَهَا خُبَيۡبٌ فِي وَجۡهِي، فَقَالَ: تَخۡشَيۡنَ أَنۡ أَقۡتُلَهُ؟ مَا كُنۡتُ لِأَفۡعَلَ ذٰلِكَ. وَاللهِ مَا رَأَيۡتُ أَسِيرًا قَطُّ خَيۡرًا مِنۡ خُبَيۡبٍ، وَاللهِ لَقَدۡ وَجَدۡتُهُ يَوۡمًا يَأۡكُلُ مِنۡ قِطۡفِ عِنَبٍ فِي يَدِهِ، وَإِنَّهُ لَمُوثَقٌ فِي الۡحَدِيدِ، وَمَا بِمَكَّةَ مِنۡ ثَمَرٍ، وَكَانَتۡ تَقُولُ: إِنَّهُ لَرِزۡقٌ مِنَ اللهِ رَزَقَهُ خُبَيۡبًا،

Mereka pergi membawa Khubaib dan Ibnu Datsinah hingga mereka menjual keduanya di Makkah setelah peristiwa perang Badr. Bani Al-Harits bin ‘Amir bin Naufal bin ‘Abd Manaf membeli Khubaib. Khubaib ini telah membunuh Al-Harits bin ‘Amir pada hari perang Badr. Khubaib tinggal di tempat mereka sebagai tawanan.

‘Ubaidullah bin ‘Iyadh mengabariku bahwa putri Al-Harits mengabarinya: Ketika bani Al-Harits berkumpul, Khubaib meminjam pisau cukur untuk mencukur bulu kemaluan. Putri Al-Harits meminjaminya.

Putri Al-Harits berkata: Ketika aku lengah, anak laki-lakiku mendatangi Khubaib lantas dipegang olehnya.

Putri Al-Harits berkata: Aku mendapati Khubaib mendudukkan anakku di atas pahanya, sedangkan pisau cukur di tangannya. Aku sangat khawatir. Khubaib mengetahui perasaanku dari raut wajahku. Khubaib bertanya, “Apakah engkau khawatir aku akan membunuhnya? Aku tidak akan melakukannya.” Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang tawanan yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah, aku pernah mendapatinya pada suatu hari sedang makan dari setangkai buah anggur yang berada di tangannya, padahal dia diikat di suatu besi dan di Makkah sedang tidak ada buah tersebut.

Putri Al-Harits ketika itu berkata, “Sungguh itu adalah rezeki yang Allah berikan kepada Khubaib.”

فَلَمَّا خَرَجُوا مِنَ الۡحَرَمِ لِيَقۡتُلُوهُ فِي الۡحِلِّ، قَالَ لَهُمۡ خُبَيۡبٌ: ذَرُونِي أَرۡكَعۡ رَكۡعَتَيۡنِ، فَتَرَكُوهُ فَرَكَعَ رَكۡعَتَيۡنِ، ثُمَّ قَالَ: لَوۡلَا أَنۡ تَظُنُّوا أَنَّ مَا بِي جَزَعٌ لَطَوَّلۡتُهَا، اللّٰهُمَّ أَحۡصِهِمۡ عَدَدًا:

مَا أُبَالِي حِينَ أُقۡتَلُ مُسۡلِمًا عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ لِلهِ مَصۡرَعِي

وَذٰلِكَ فِي ذَاتِ الۡإِلٰهِ وَإِنۡ يَشَأۡ يُبَارِكۡ عَلَى أَوۡصَالِ شِلۡوٍ مُمَزَّعِ

Ketika bani Al-Harits sudah keluar dari tanah haram untuk membunuh Khubaib di tanah halal, Khubaib berkata kepada mereka, “Biarkan aku salat dua rakaat.” Selesai salat, Khubaib berkata, “Andai kalian tidak mengira kalau aku takut mati, tentu aku akan memperlama salatku. Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu.”

Khubaib berkata, “Aku tidak peduli ketika aku terbunuh dalam keadaan muslim, di sisi tubuh yang mana aku akan tersungkur selama kematianku untuk Allah dan karena mengharap wajah Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan memberkahi persendian tubuh yang terpotong.”

فَقَتَلَهُ ابۡنُ الۡحَارِثِ، فَكَانَ خُبَيۡبٌ هُوَ سَنَّ الرَّكۡعَتَيۡنِ لِكُلِّ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ قُتِلَ صَبۡرًا، فَاسۡتَجَابَ اللهُ لِعَاصِمِ بۡنِ ثَابِتٍ يَوۡمَ أُصِيبَ، فَأَخۡبَرَ النَّبِيُّ ﷺ أَصۡحَابَهُ خَبَرَهُمۡ وَمَا أُصِيبُوا. وَبَعَثَ نَاسٌ مِنۡ كُفَّارِ قُرَيۡشٍ إِلَى عَاصِمٍ حِينَ حُدِّثُوا أَنَّهُ قُتِلَ لِيُؤۡتَوۡا بِشَيۡءٍ مِنۡهُ يُعۡرَفُ، وَكَانَ قَدۡ قَتَلَ رَجُلًا مِنۡ عُظَمَائِهِمۡ يَوۡمَ بَدۡرٍ، فَبُعِثَ عَلَى عَاصِمٍ مِثۡلُ الظُّلَّةِ مِنَ الدَّبۡرِ، فَحَمَتۡهُ مِنۡ رَسُولِهِمۡ، فَلَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى أَنۡ يَقۡطَعَ مِنۡ لَحۡمِهِ شَيۡئًا. [الحديث ٣٠٤٥ – أطرافه في: ٣٩٨٩، ٤٠٨٦، ٧٤٠٢].

Akhirnya Ibnu Al-Harits membunuhnya. Jadilah Khubaib yang memberi contoh dalam salat dua rakaat bagi setiap muslim yang hendak dibunuh dalam penawanan.

Allah mengabulkan doa ‘Ashim bin Tsabit pada hari dia terbunuh. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengabari para sahabatnya kabar pasukan ‘Ashim dan peristiwa yang mereka alami. Beberapa orang kafir Quraisy mengirim utusan ke tempat ‘Ashim ketika mereka diberitahu bahwa beliau telah dibunuh agar mereka dibawakan sebagian anggota tubuhnya yang bisa dikenali. ‘Ashim sebelum itu telah membunuh salah seorang tokoh mereka di hari perang Badr. Allah mengirim kawanan tawon semisal awan kepada ‘Ashim. Tawon-tawon itu menjaganya dari utusan orang kafir Quraisy sehingga mereka tidak mampu untuk memotong dagingnya sedikit saja.