Cari Blog Ini

Mewaspadai Pembatal Keislaman

﷽ 

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: 

اعۡلَمۡ أَنَّ نَوَاقِضَ الۡإِسۡلَامِ عَشَرَةُ نَوَاقِضَ: 

Syekh Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—rahimahullah ta’ala—berkata: Ketahuilah! Sesungguhnya pembatal keislaman ada sepuluh.[1]


Syekh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah Al-Fauzan--hafizhahullah--berkata di dalam syarahnya:

[1] ﷽ 

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ أَجۡمَعِينَ. 

قَالَ الشَّيۡخُ رَحِمَهُ اللهُ: (اعۡلَمۡ) يَعۡنِي: تَعَلَّمۡ وَافۡهَمۡ، وَهَٰذِهِ الۡكَلِمَةُ يُؤۡتَى بِهَا لِلۡأَهَمِّيَّةِ، وَالتَّنۡبِيهِ عَلَى أَهَمِّيَّةِ مَا بَعۡدَهَا. 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan sahabat beliau seluruhnya.

Syekh—rahimahullah—berkata, “Ketahuilah!” Yakni: pelajarilah dan pahamilah! Kata ini dibawakan (oleh mualif) karena urgensinya dan agar pembaca memperhatikan urgensi materi yang beliau sampaikan setelahnya.

(أَنَّ نَوَاقِضَ الۡإِسۡلَامِ عَشَرَةٌ) النَّوَاقِضُ: جَمۡعُ نَاقِضٍ، وَهِيَ الۡمُبۡطِلَاتُ، مِثۡلُ نَوَاقِضِ الۡوُضُوءِ، أَيۡ: مُبۡطِلَاتُهُ، تُسَمَّی بِالنَّوَاقِضِ، وَتُسَمَّى بِأَسۡبَابِ الرِّدَّةِ أَوۡ أَنۡوَاعِ الرِّدَّةِ، وَمَعۡرِفَتُهَا مُهِمَّةٌ جِدًّا لِلۡمُسۡلِمِ مِنۡ أَجۡلِ أَنۡ يَتَجَنَّبَهَا وَيَحۡذَرَ مِنۡهَا؛ لِأَنَّ الۡمُسۡلِمَ إِذَا لَمۡ يَعۡرِفۡهَا فَإِنَّهُ يُخۡشَى أَنۡ يَقَعَ فِي شَيۡءٍ مِنۡهَا، وَهِيَ مِنَ الۡخُطُورَةِ وَالۡأَهَمِّيَّةِ بِمَكَانٍ؛ لِأَنَّهَا نَوَاقِضُ الۡإِسۡلَامِ وَمُبۡطِلَاتُهُ، وَمَعۡرِفَةُ أَسۡبَابِ الرِّدَّةِ عَنِ الۡإِسۡلَامِ مُهِمَّةٌ جِدًّا. 

“Sesungguhnya pembatal keislaman ada sepuluh.” Nawaqidh adalah bentuk jamak dari naqidh yang berarti pembatal-pembatal. Contoh: nawaqidh al-wudhu` artinya pembatal-pembatal wudu. Selain dinamai dengan nawaqidh, dinamai pula dengan sebab-sebab kemurtadan atau jenis-jenis kemurtadan. 

Pengetahuan tentangnya merupakan perkara yang amat penting bagi seorang muslim agar dia bisa menjauhi dan mewaspadainya. Sesungguhnya seorang muslim apabila tidak mengetahuinya, maka dikhawatirkan dia akan terjatuh dalam perkara yang termasuk padanya. Ini perkara yang berbahaya dan sangat penting karena ini merupakan pembatal-pembatal keislaman. Pengetahuan terhadap sebab-sebab kemurtadan dari agama Islam sangatlah penting. 

وَالرِّدَّةُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ: مَعۡنَاهَا الرُّجُوعُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ، مِنۡ: ارۡتَدَّ، إِذَا رَجَعَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا تَرۡتَدُّوا۟ عَلَىٰٓ أَدۡبَارِكُمۡ فَتَنقَلِبُوا۟ خَـٰسِرِينَ﴾ [المائدة: ۲۱]. وَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمۡ فِيهَا خَـٰلِدُونَ﴾ [البقرة: ۲۱۷] وَهَٰذَا تَحۡذِيرٌ شَدِيدٌ مِنَ اللهِ لِلۡمُؤۡمِنِينَ، ﴿وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ﴾ أَيُّهَا الۡمُؤۡمِنُونَ ﴿عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٌ﴾ وَلَمۡ يَتُبۡ قَبۡلَ الۡمَوۡتِ وَيَرۡجِعۡ إِلَى الۡإِسۡلَامِ، فَقَدۡ ﴿حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ﴾ أَيۡ: بَطَلَتۡ ﴿فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمۡ فِيهَا خَـٰلِدُونَ﴾. 

Murtad dari Islam bermakna kembali (kafir) dari Islam, dari kata irtadda yang berarti kembali. Allah taala berfirman, “Janganlah kalian kembali ke belakang sehingga kalian berbalik dalam keadaan rugi.” (QS. Al-Ma`idah: 21). 

Allah—subhanahu—berfirman, “Siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya lalu dia meninggal dalam keadaan kafir, maka amalan mereka itu terhapus di dunia dan akhirat. Dan mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217). 

Ini adalah peringatan keras dari Allah untuk kaum mukminin. “Siapa saja di antara kalian yang murtad,” wahai kaum mukminin, “dari agamanya lalu dia meninggal dalam keadaan kafir.” Dia belum bertobat sebelum meninggal dan kembali kepada agama Islam. Maka sungguh “amalan mereka terhapus”, yakni batal. “Di dunia dan akhirat. Dan mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” 

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱرۡتَدُّوا۟ عَلَىٰٓ أَدۡبَـٰرِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡهُدَىۙ ٱلشَّيۡطَـٰنُ سَوَّلَ لَهُمۡ وَأَمۡلَىٰ لَهُمۡ﴾ [محمد: ٢٥]. 

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) setelah petunjuk jelas bagi mereka, maka setan telah membuat mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25). 

﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ﴾ [المائدة: ٥٤]، ﴿مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ﴾ يَرۡجِعُ عَنۡ دِينِهِ، فَفِي هَٰذِهِ الۡآيَاتِ التَّحۡذِيرُ مِنَ الرِّدَّةِ وَالۡوَعِيدُ عَلَيۡهَا. 

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Mereka bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma`idah: 54). “Barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya”, kembali dari agamanya (kepada kekafiran). Di dalam ayat ini ada peringatan dari kemurtadan dan ancaman atasnya. 

وَأَمَّا الۡأَحَادِيثُ: 

فَقَدۡ قَالَ ﷺ: (لَا يَحِلُّ دَمُ امۡرِئٍ مُسۡلِمٍ إِلَّا بِإِحۡدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفۡسُ بِالنَّفۡسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ -هَٰذَا هُوَ الشَّاهِدُ- الۡمُفَارِقُ لِلۡجَمَاعَةِ)، وَقَالَ ﷺ: (مَنۡ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقۡتُلُوهُ)، فَإِنۡ كَانَ الۡمُرۡتَدُّونَ جَمَاعَةً لَهُمۡ شَوۡكَةٌ فَإِنَّهُمۡ يُقَاتَلُونَ كَمَا قَاتَلَ أَبُو بَكۡرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ الۡمُرۡتَدِّینَ، حَتَّی أَخۡضَعَهُمۡ لِلۡإِسۡلَامِ، وَقُتِلَ مَنۡ قُتِلَ مِنۡهُمۡ عَلَى رِدَّتِهِ، وَتَابَ مَنۡ تَابَ مِنۡهُمۡ، فَقَاتَلَهُمۡ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ مُحَقِّقًا بِذٰلِكَ قَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٍۚ﴾ [المائدة ٥٤]. 

Adapun hadis-hadis, Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah bersabda, “Darah seorang muslim tidak halal kecuali dengan sebab salah satu dari tiga hal. Orang yang sudah pernah menikah berzina, jiwa dibalas dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya—inilah yang jadi dalil—yang memisahkan diri dari jemaah (kaum muslimin).” 

Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—juga bersabda, “Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia!” 

Jika orang-orang yang murtad merupakan sekelompok orang yang memiliki kekuatan, maka mereka diperangi sebagaimana Abu Bakr Ash-Shiddiq—radhiyallahu ‘anhu—memerangi orang-orang murtad. Hingga beliau menundukkan mereka kepada Islam, dibunuhlah di antara mereka orang yang dibunuh dalam keadaan murtad, dan sebagian mereka ada yang bertobat. Abu Bakr—radhiyallahu ‘anhu—memerangi mereka untuk melaksanakan firman Allah taala, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang kembali dari agamanya (kepada kekafiran), maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Kaum itu bersikap lembut kepada sesama mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Ma`idah: 54). 

قَالَ الۡعُلَمَاءُ: هَٰذِهِ الۡآيَةُ نَزَلَتۡ فِي أَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ وَأَصۡحَابِهِ الَّذِينَ قَاتَلُوا الۡمُرۡتَدِّينَ؛ لِأَنَّهُ يُخۡبِرُ تَعَالَى عَنِ الۡمُسۡتَقۡبَلِ ﴿مَن يَرۡتَدَّ﴾ هَٰذَا فِي الۡمُسۡتَقۡبَلِ، ﴿فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ﴾ جَاءَ اللهُ بِأَبِي بَكۡرٍ الصِّدِّيقِ وَصَحَابَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَاتَلُوا الۡمُرۡتَدِّینَ. 

Ulama mengatakan: Ayat ini turun berkenaan Abu Bakr Ash-Shiddiq dan para sahabat beliau yang memerangi orang-orang murtad, karena Allah taala mengabarkan tentang masa yang akan datang, “Barang siapa yang murtad.” Ini di masa yang akan datang. “Maka kelak Allah akan mendatangkan,” Allah mendatangkan Abu Bakr Ash-Shiddiq dan para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—lalu mereka memerangi orang-orang murtad. 

وَإِنۡ كَانَ الۡمُرۡتَدُّ شَخۡصًا وَاحِدًا فَإِنَّهُ يُؤۡخَذُ وَيُسۡتَتَابُ، فَإِنۡ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ، وَلَيۡسَ هُوَ مِثۡلَ الۡكَافِرِ الۡأَصۡلِيِّ؛ لِأَنَّ الۡمُرۡتَدَّ عَرَفَ الۡحَقَّ، وَدَخَلَ فِي دِينِ اللهِ بِاخۡتِيَارِهِ وَطَوۡعِهِ، وَاعۡتَرَفَ أَنَّ الۡإِسۡلَامَ هُوَ الۡحَقُّ، فَإِذَا ارۡتَدَّ فَهَٰذَا تَلَاعُبٌ مِنۡهُ بِالدِّينِ؛ لِأَنَّهُ عَرَفَ الۡحَقَّ وَدَخَلَ فِيهِ، فَإِذَا ارۡتَدَّ فَإِنَّهُ يُقۡتَلُ حِمَايَةً لِلۡعَقِيدَةِ، وَهَٰذَا مِنۡ حِفۡظِ الضَّرُورِيَّاتِ الۡخَمۡسِ أَوَّلُهَا الدِّينُ، فَلَا يُتۡرَكُ الدِّينُ أُلۡعُوبَةً لِمَنۡ يُسۡلِمُ ثُمَّ يَرۡتَدُّ، بَلۡ يُقۡتَلُ حِمَايَةً لِلۡعَقِيدَةِ مِنَ التَّلَاعُبِ، وَمِنَ الۡمُرۡتَدِّينَ مَنۡ يُقۡتَلُ بِدُونِ اسۡتِتَابَةٍ، وَهُوَ مَنۡ تَغَلَّظَتۡ رِدَّتُهُ، فَإِنَّهُ يُقۡتَلُ وَلَا يُسۡتَتَابُ حِمَايَةً لِلدِّينِ، وَحِمَايَةً لِأَوَّلِ الضَّرُورِيَّاتِ الۡخَمۡسِ الَّتِي جَاءَ الۡإِسۡلَامُ بِحِفۡظِهَا. 

Jika yang murtad adalah satu orang, maka dia ditangkap dan dituntut untuk bertobat. Jika dia bertobat, maka itu yang diharapkan, namun apabila tidak, maka dia dihukum bunuh. Orang yang murtad tidak seperti orang yang kafir dari aslinya, karena orang yang murtad sudah mengetahui kebenaran dan sudah masuk ke dalam agama Allah dengan pilihannya dan kerelaan hatinya. Dia sudah mengakui bahwa Islam adalah benar. Jadi, ketika dia murtad, maka ini adalah sikap bermain-main dengan agama. 

Dia sudah mengetahui kebenaran dan telah memasukinya, sehingga ketika dia murtad, maka dia dihukum bunuh sebagai upaya perlindungan terhadap akidah. Ini termasuk penjagaan terhadap lima kebutuhan dasar manusia, yang pertamanya adalah agama. Jadi, agama tidak boleh dibiarkan sebagai bahan permainan bagi orang yang sudah masuk Islam lalu murtad. Orang yang demikian ini dihukum bunuh sebagai upaya perlindungan akidah dari sikap mempermainkan agama. 

Di antara orang-orang murtad, ada yang dihukum bunuh tanpa perlu dituntut untuk bertobat terlebih dahulu. Yaitu, orang yang kemurtadannya parah. Orang ini dihukum bunuh dan tidak dituntut untuk bertobat terlebih dahulu dalam rangka penjagaan terhadap agama ini dan penjagaan terhadap kebutuhan dasar yang pertama dari lima kebutuhan dasar yang dijaga oleh agama Islam. 

وَدِرَاسَةُ هَٰذِهِ النَّوَاقِضِ مُهِمَّةٌ جِدًّا، وَالۡعُلَمَاءُ صَنَفُوا فِيهَا مُصَنَّفَاتٍ، وَجَعَلُوا لَهَا مَكَانًا خَاصًّا فِي كُتُبِ الۡفِقۡهِ، وَهُوَ (حُكۡمُ الۡمُرۡتَدِّ)، فِي كُلِّ كِتَابٍ مِنۡ كُتُبِ الۡفِقۡهِ يَجۡعَلُونَ كِتَابًا يُسَمُّونَهُ (کِتَابَ حُكۡمِ الۡمُرۡتَدِّ) أَوۡ (بَابَ حُكۡمِ الۡمُرۡتَدِّ) فِي الۡمُطَوَّلَاتِ وَفِي الۡمُخۡتَصَرَاتِ. 

Mempelajari pembatal-pembatal ini adalah perkara yang sangat penting. Para ulama telah menyusun banyak karya tulis tentang ini. Mereka meletakkannya pada tempat khusus dalam kitab-kitab fikih, yaitu bab “Hukum Orang yang Murtad”. Di dalam setiap kitab dari kitab-kitab fikih, mereka membuat sebuah kitab yang mereka beri nama “Kitab Hukum Orang yang Murtad” atau “Bab Hukum Orang yang Murtad” di dalam kitab-kitab yang luas dan di dalam kitab-kitab yang ringkas. 

قَالُوا: وَالۡمُرۡتَدُّ هُوَ الَّذِي يَكۡفُرُ بَعۡدَ إِسۡلَامِهِ، إِمَّا لِاعۡتِقَادٍ بِقَلۡبِهِ، أَوۡ شَكٍّ يَحۡصُلُ لَهُ فِي أُمُورِ الدِّينِ، أَوۡ فِعۡلٍ: كَأَنۡ يَسۡجُدَ لِغَيۡرِ اللهِ، أَوۡ يَذۡبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ، أَوۡ يَنۡذُرَ لِغَيۡرِ اللهِ، هَٰذَا فِعۡلٌ مَنۡ فَعَلَهُ فَقَدِ ارۡتَدَّ، أَوۡ قَوۡلٍ: بِأَنۡ يَتَكَلَّمَ بِسَبِّ اللهِ تَعَالَى أَوۡ سَبِّ الرَّسُولِ ﷺ، أَوۡ سَبِّ دِينِ الۡإِسۡلَامِ: ﴿قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝٦٥ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ۚ﴾ [التوبة: ٦٥-٦٦] فَالرِّدَّةُ تَكُونُ بِالۡقَوۡلِ، وَتَكُونُ بِالۡفِعۡلِ، وَتَكُونُ بِالۡاِعۡتِقَادِ، وَتَكُونُ بِالشَّكِّ فِي شَيۡءٍ مِنۡ أُمُورِ الدِّينِ، كَمَنۡ شَكَّ فِي وُجُوبِ الصَّلَاةِ ، أَوۡ شَكَّ فِي وُجُوبِ الزَّكَاةِ ، أَوۡ شَكَّ فِي التَّوۡحِيدِ، فَإِنَّهُ يُكَفَّرُ، وَالشَّكُّ: هُوَ التَّرَدُّدُ بَيۡنَ أَمۡرَيۡنِ. 

Mereka berkata: Orang yang murtad adalah orang yang kafir setelah keislamannya. Baik karena iktikad hatinya, atau keraguan yang timbul dalam perkara agama, atau perbuatan seperti sujud kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, bernazar untuk selain Allah. Ini adalah perbuatan yang apabila dikerjakan, maka pelakunya murtad. Atau bisa berupa ucapan, dengan mengucapkan celaan terhadap Allah taala, celaan terhadap Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, atau celaan terhadap agama Islam. 

“Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?! Tidak usah kalian beralasan. Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah: 65-66). 

Jadi kemurtadan bisa terjadi dengan ucapan, bisa dengan perbuatan, bisa dengan keyakinan, dan bisa dengan syak/keraguan dalam sebagian permasalahan agama. Seperti orang yang ragu tentang kewajiban salat, atau ragu tentang kewajiban zakat, atau ragu dalam hal tauhid, maka orang yang demikian dinyatakan kafir. Syak adalah kebimbangan di antara dua perkara. 

وَأَنۡوَاعُ الرِّدَّةِ كَثِيرَةٌ، وَالشَّيۡخُ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ فِي هَٰذِهِ الرِّسَالَةِ أَهَمُّهَا وَأَعۡظَمُهَا، وَإِلَّا فَالنَّوَاقِضُ كَثِيرَةٌ، وَسَتَجِدُونَهَا فِي كُتُبِ الۡفِقۡهِ فِي بَابِ حُكۡمِ الۡمُرۡتَدِّ، وَلِلشَّيۡخِ عَبۡدِ اللهِ ابۡنِ مُحَمَّدٍ –رَحِمَهُمُ اللهُ- رِسَالَةً اسۡمَهَا (الۡكَلِمَاتُ النَّافِعَةُ فِي الۡمُكَفِّرَاتِ الۡوَاقِعَةِ) وَهِيَ مَطۡبُوعَةٌ فِي (الدُّرَرِ السَّنِيَّةِ) وَغَيۡرِهَا؛ وَالۡآنَ لَمَّا فَشَا الۡجَهۡلُ وَاشۡتَدَّتۡ غُرۡبَةُ الدِّينِ، ظَهَرَ نَاسٌ مِنَ الَّذِينَ يَتَّسِمُونَ بِالۡعِلۡمِ، وَيَقُولُونَ: لَا تُكَفِّرُوا النَّاسَ، يَكۡفِي اسۡمُ الۡإِسۡلَامِ، يَكۡفِي أَنَّهُ يَقُولُ: أَنَا مُسۡلِمٌ، وَلَوۡ فَعَلَ مَا فَعَلَ، لَوۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ، لَوۡ سَبَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، لَوۡ فَعَلَ مَا فَعَلَ مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: أَنَا مُسۡلِمٌ فَلَا تُكَفِّرۡهُ، وَعَلَى هَٰذَا يَدۡخُلُ فِي التَّسَمِّي بِالۡإِسۡلَامِ الۡبَاطِنِيَّةُ وَالۡقَرَامِطَةُ، وَيَدۡخُلُ فِيهِ الۡقُبُورِيُّونَ، وَيَدۡخُلُ فِيهِ الرَّوَافِضُ، وَيَدۡخُلُ فِيهِ الۡقَادِيَانِيَّةُ، وَيَدۡخُلُ فِيهِ كُلُّ مَنۡ يَدَّعِي الۡإِسۡلَامَ. 

Jenis-jenis kemurtadan ada banyak. Syekh—rahimahullah—dalam risalah ini menyebutkan yang paling penting dan paling agung saja. Sebenarnya pembatal-pembatal Islam ada banyak. Kalian akan mendapatinya di dalam kitab-kitab fikih dalam bab hukum orang yang murtad. Syaikh ‘Abdullah putra Muhammad—rahimahumullah—memiliki sebuah risalah yang berjudul Al-Kalimat An-Nafi’ah fi Al-Mukaffirat Al-Waqi’ah. Risalah ini dicetak di dalam kitab Ad-Durar As-Saniyyah dan selainnya. 

Sekarang, ketika kejahilan menyebar dan keterasingan agama semakin bertambah, muncullah orang-orang yang dianggap berilmu. Mereka mengatakan, “Janganlah kalian mengafirkan orang-orang. Cukuplah label Islam padanya. Sudah cukup dia mengatakan: Aku muslim. Walaupun dia melakuan perbuatan apa saja, walaupun dia menyembelih untuk selain Allah, walau dia mencela Allah dan Rasul-Nya. Andai dia melakukan perbuatan semaunya, selama dia mengatakan: Aku muslim; maka kalian jangan mengkafirkannya.” 

Atas dasar ucapan ini, maka aliran Bathiniyyah dan Qaramithah pun masuk ke dalam penamaan Islam. Masuk pula para pemuja kubur, masuk pula Rafidhah, masuk pula Qadiyaniyah, dan masuk pula semua orang yang mengaku Islam. 

يَقُولُونَ: لَا تُكَفِّرُوا أَحَدًا، وَلَوۡ فَعَلَ مَا فَعَلَ، أَوِ اعۡتَقَدَ مَا اعۡتَقَدَ، لَا تُفَرِّقُوا بَيۡنَ الۡمُسۡلِمِينَ، سُبۡحَانَ اللهِ!! نَحۡنُ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ الۡمُسۡلِمِينَ، وَلَكِنۡ هَٰؤُلَاءِ لَيۡسُوا مُسۡلِمِينَ؛ لِأَنَّهُمۡ لَمَّا ارۡتَكَبُوا نَوَاقِضَ الۡإِسۡلَامِ خَرَجُوا مِنَ الۡإِسۡلَامِ. 

Mereka mengatakan, “Jangan kalian kafirkan seorang pun! Walaupun dia melakukan apa saja, atau berkeyakinan apa saja. Jangan pecah belah kaum muslimin!” 

Mahasuci Allah. Kita tidak memecah belah kaum muslimin. Mereka itu bukanlah muslimin karena mereka ketika telah melakukan pembatal-pembatal keislaman, berarti mereka telah keluar dari Islam. 

فَكَلِمَةُ لَا تُفَرِّقُوا بَيۡنَ الۡمُسۡلِمِينَ، كَلِمَةُ حَقٍّ وَالۡمُرَادُ بِهَا بَاطِلٌ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ لَمَّا ارۡتَدَّ مَنِ ارۡتَدَّ مِنَ الۡعَرَبِ بَعۡدَ وَفَاةِ النَّبِيِّ ﷺ قَاتَلُوهُمۡ، مَا قَالُوا: لَا تُفَرِّقُوا بَيۡنَ الۡمُسۡلِمِينَ؛ لِأَنَّهُمۡ لَيۡسُوا مُسۡلِمِينَ مَا دَامُوا عَلَى الرِّدَّةِ، وَهَٰذَا أَشَدُّ مِنۡ أَنَّكَ تَحۡكُمُ لِكَافِرٍ بِالۡإِسۡلَامِ، وَسَيَأۡتِيكُمۡ أَنَّ مِنَ الرِّدَّةِ: مَنۡ لَمۡ يُكَفِّرِ الۡكَافِرَ، أَوۡ شَكَّ فِي كُفۡرِهِ، فَهَٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةُ وَهِيَ مَنۡ لَمۡ يُكَفِّرِ الۡكَافِرَ أَوۡ شَكَّ فِي كُفۡرِهِ فَهُوَ كَافِرٌ مِثۡلُهُ، وَهَٰؤُلَاءِ يَقُولُونَ: لَا تُكَفِّرُوا أَحَدًا وَلَوۡ فَعَلَ مَا فَعَلَ، مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، أَنۡتُمۡ وَاجِهُوا الۡمَلَاحِدَةَ وَاتۡرُكُوا هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ. 

Jadi kalimat “Jangan pecah belah kaum muslimin!” adalah kalimat yang benar, namun yang dimaukan dengannya adalah kebatilan. Para sahabat—radhiyallahu ‘anhum—ketika sebagian orang Arab murtad sepeninggal Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, para sahabat memerangi mereka. Para sahabat tidak mengatakan: Jangan pecah belah kaum muslimin; karena orang-orang yang murtad itu bukan muslimin selama mereka tetap murtad. 

Penilaian bahwa orang murtad itu muslim lebih berbahaya daripada penilaian bahwa orang kafir itu muslim. Akan datang penjelasan kepada kalian bahwa termasuk murtad adalah orang yang tidak mengafirkan orang kafir atau ragu akan kekafirannya. Inilah permasalahannya, yaitu bahwa orang yang tidak mengafirkan orang kafir atau ragu akan kekafirannya, maka dia pun kafir semisal orang kafir tersebut. 

Akan tetapi mereka malah mengatakan, “Jangan kalian kafirkan seorang pun! Walaupun dia melakukan apa saja selama dia mengatakan ‘laa ilaaha illallah’. Kalian hadapi saja orang-orang ateis dan biarkan orang-orang yang mengaku Islam! 

نَقُولُ لَهُمۡ: هَٰؤُلَاءِ أَخۡطَرُ مِنَ الۡمَلَاحِدَةِ؛ لِأَنَّ الۡمَلَاحِدَةَ مَا ادَّعَوُا الۡإِسۡلَامَ وَلَا ادَّعَوۡا أَنَّ الَّذِي هُمۡ عَلَيۡهِ إِسۡلَامٌ، أَمَّا هَٰؤُلَاءِ فَيَخۡدَعُونَ النَّاسَ وَيَدَّعُونَ أَنَّ الۡكُفۡرَ هُوَ الۡإِسۡلَامُ، فَهَٰؤُلَاءِ أَشَدُّ مِنَ الۡمَلَاحِدَةِ، فَالرِّدَّةُ أَشَدُّ مِنَ الۡإِلۡحَادِ –وَالۡعِيَاذُ بِاللهِ-، فَيَجِبُ أَنۡ نَعۡرِفَ مَوۡقِفَنَا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ وَنُمَيِّزَهَا وَنَتَبَيَّنَهَا؛ لِأَنَّنَا الۡآنَ فِي تَعۡمِيَةٍ، فَهُنَاكَ نَاسٌ يُؤَلِّفُونَ وَيَكۡتُبُونَ وَيَنۡتَقِدُونَ وَيُحَاضِرُونَ، وَيَقُولُونَ: لَا تُكَفِّرُوا الۡمُسۡلِمِينَ. 

Kita katakan kepada mereka: Mereka ini lebih berbahaya daripada orang-orang ateis karena orang-orang ateis tidak mengaku Islam dan mereka tidak mengklaim bahwa yang mereka jalani adalah Islam. Adapun orang-orang tadi, mereka menipu manusia dan mengklaim bahwa kekufuran adalah Islam. Jadi mereka lebih berbahaya daripada orang-orang ateis. 

Kemurtadan lebih berat daripada ateisme. Kita berlindung kepada Allah dari itu semua. Wajib bagi kita untuk mengetahui pendirian kita dari perkara-perkara ini. Wajib bagi kita untuk membedakan dan bersikap jelas terhadapnya, karena kita sekarang berada di masa pengaburan. Di sana ada orang-orang yang menyusun karya tulis, menulis, mengoreksi, dan mengisi ceramah, serta berkata: Jangan kalian mengafirkan kaum muslimin! 

وَنَقُولُ: نَحۡنُ نُكَفِّرُ مَنۡ خَرَجَ عَنِ الۡإِسۡلَامِ، أَمَّا الۡمُسۡلِمُ فَلَا يَجُوزُ تَكۡفِيرُهُ. 

Kita katakan: Kita mengafirkan orang yang telah keluar dari Islam. Adapun orang yang masih muslim, dia tidak boleh dikafirkan.