تفسير سورة العاديات
Tafsir Surah Al-‘Adiyat
وهي مكية
Surah ini makiyah.
﷽
﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا * فَٱلۡمُورِيَٰتِ قَدۡحًا * فَٱلۡمُغِيرَٰتِ
صُبۡحًا * فَأَثَرۡنَ بِهِۦ نَقۡعًا * فَوَسَطۡنَ بِهِۦ جَمۡعًا * إِنَّ
ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ *
وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ * أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا
فِى ٱلۡقُبُورِ * وَحُصِّلَ مَا فِى ٱلصُّدُورِ * إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ
يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرُۢ﴾
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
- Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
- dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
- dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,
- maka ia menerbangkan debu,
- dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
- sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabnya,
- dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
- dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
- Maka apakah dia tidak mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan,
- dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan,
- sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.
١ أَقۡسَمَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ بِالۡخَيۡلِ، لِمَا فِيهَا مِنۡ
آيَاتِ اللهِ الۡبَاهِرَةِ، وَنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ، مَا هُوَ مَعۡلُومٌ
لِلۡخَلۡقِ.
Allah—tabaraka wa ta’ala—bersumpah dengan kuda, karena pada kuda tersebut
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang menakjubkan dan nikmat-nikmat-Nya
yang tampak nyata, sebagaimana yang telah diketahui oleh manusia.
وَأَقۡسَمَ [تَعَالَىٰ] بِهَا فِي الۡحَالِ الَّتِي لَا يُشَارِكُهَا [فِيهِ]
غَيۡرُهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡحَيَوَانَاتِ، فَقَالَ:
Dan Allah taala bersumpah dengan kuda dalam hal yang tidak diserupai oleh
jenis hewan lainnya, maka Dia berfirman:
﴿وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحًا﴾ أَيۡ: الۡعَادِيَاتِ عَدۡوًا بَلِيغًا قَوِيًّا،
يَصۡدُرُ عَنۡهُ الضَّبۡحُ، وَهُوَ صَوۡتُ نَفَسِهَا فِي صَدۡرِهَا، عِنۡدَ
اشۡتِدَادِ الۡعَدۡوِ.
“Wal-‘ādiyāti ḍabḥā”, yaitu: kuda-kuda perang yang berlari dengan lari yang
sangat cepat dan kuat, sehingga mengeluarkan suara adh-dhabh, yaitu suara
nafas di dalam dadanya saat larinya semakin kencang.
٢ ﴿فَٱلۡمُورِيَٰتِ﴾ بِحَوَافِرِهِنَّ مَا يَطَأۡنَ عَلَيۡهِ مِنَ
الۡأَحۡجَارِ ﴿قَدۡحًا﴾ أَيۡ: تَقۡدِحُ النَّارَ مِنۡ صَلَابَةِ حَوَافِرِهِنَّ
[وَقُوَّتِهِنَّ] إِذَا عَدَوۡنَ
“Dan kuda-kuda yang mencetuskan api” dengan kuku-kuku kaki mereka pada
batu-batu yang mereka injak “dengan pukulan (kuku kakinya)”, yaitu:
mencetuskan api karena keras dan kuatnya kuku-kuku kaki mereka saat berlari
kencang.
٣ ﴿فَٱلۡمُغِيرَاتِ﴾ عَلَى الۡأَعۡدَاءِ ﴿صُبۡحًا﴾ وَهٰذَا أَمۡرٌ
أَغۡلَبِيٌّ، أَنَّ الۡغَارَةَ تَكُونُ صَبَاحًا.
“Dan kuda-kuda yang menyerang dengan tiba-tiba” kepada para musuh “di waktu
pagi”. Ini adalah hal yang umum terjadi, bahwa serangan biasanya dilakukan
pada waktu pagi.
٤ ﴿فَأَثَرۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِعَدۡوِهِنَّ وَغَارَتِهِنَّ ﴿نَقۡعًا﴾ أَيۡ:
غُبَارًا.
“Maka kuda-kuda itu menerbangkan”, yaitu: karena lari dan serangan mereka
“naq‘ā” berarti debu.
٥ ﴿فَوَسَطۡنَ بِهِۦ﴾ أَيۡ: بِرَاكِبِهِنَّ ﴿جَمۡعًا﴾ أَيۡ: تَوَسَّطۡنَ بِهِ
جُمُوعَ الۡأَعۡدَاءِ الَّذِينَ أَغَارَ عَلَيۡهِمۡ.
“Dan menyerbu ke tengah-tengah”, yaitu: bersama penunggangnya “kumpulan”,
yaitu: mereka menuju ke tengah-tengah kumpulan musuh yang diserang.
٦ وَالۡمُقۡسَمُ عَلَيۡهِ قَوۡلُهُ: ﴿إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ
لَكَنُودٌ﴾ أَيۡ: لَمَنُوعٌ لِلۡخَيۡرِ الَّذِي عَلَيۡهِ لِرَبِّهِ.
Dan hal yang disumpahi adalah firman-Nya: “Sungguh, manusia itu sangat ingkar
kepada Rabnya”, yaitu: benar-benar enggan memberikan kebaikan yang menjadi
kewajibannya kepada Rabnya.
فَطَبِيعَةُ [الۡإِنۡسَانِ] وَجِبِلَّتُهُ أَنَّ نَفۡسَهُ لَا تَسۡمَحُ بِمَا
عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ، فَتُؤَدِّيَهَا كَامِلَةً مُوَفَّرَةً، بَلۡ
طَبِيعَتُهَا الۡكَسَلُ وَالۡمَنۡعُ لِمَا عَلَيۡهِ مِنَ الۡحُقُوقِ
الۡمَالِيَّةِ وَالۡبَدَنِيَّةِ، إِلَّا مَنۡ هَدَاهُ اللهُ وَخَرَجَ عَنۡ
هٰذَا الۡوَصۡفِ إِلَىٰ وَصۡفِ السَّمَاحِ بِأَدَاءِ الۡحُقُوقِ.
Maka tabiat dan watak asli manusia adalah jiwanya tidak mau melakukan
kewajiban yang harus ditunaikannya dengan sukarela, sehingga ia tidak
menunaikannya secara sempurna dan lengkap. Bahkan tabiatnya adalah malas dan
enggan menunaikan hak-hak harta maupun badan yang menjadi kewajibannya,
kecuali orang yang diberi hidayah oleh Allah dan keluar dari sifat ini menuju
sifat mudah dan ringan dalam menunaikan hak-hak.
٧ ﴿وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ﴾ أَيۡ: إِنَّ الۡإِنۡسَانَ عَلَىٰ
مَا يَعۡرِفُ مِنۡ نَفۡسِهِ مِنَ الۡمَنۡعِ وَالۡكَنۡدِ لَشَاهِدٌ بِذٰلِكَ،
لَا يَجۡحَدُهُ وَلَا يُنۡكِرُهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ أَمۡرٌ بَيِّنٌ
وَاضِحٌ.
“Dan sesungguhnya dia benar-benar menyaksikan atas hal itu”, yaitu:
sesungguhnya manusia terhadap pengetahuan terhadap dirinya sendiri berupa
sifat kikir dan pengingkaran nikmat benar-benar menyaksikannya. Ia tidak
menyangkal dan tidak memungkirinya karena hal itu adalah perkara yang sangat
jelas.
وَيَحۡتَمِلُ أَنَّ الضَّمِيرَ عَائِدٌ إِلَى اللهِ تَعَالَى؛ أَيۡ: إِنَّ
الۡعَبۡدَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ، وَاللهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ ذٰلِكَ، فَفِيهِ
الۡوَعِيدُ وَالتَّهۡدِيدُ الشَّدِيدُ لِمَنۡ هُوَ لِرَبِّهِ كَنُودٌ، بِأَنَّ
اللهَ عَلَيۡهِ شَهِيدٌ.
Dan ada kemungkinan bahwa kata ganti (dia) kembali kepada Allah taala, yaitu:
sesungguhnya hamba itu sangat ingkar kepada Rabnya dan Allah menyaksikan hal
tersebut. Maka di dalamnya terdapat ancaman serta peringatan yang keras bagi
siapa saja yang ingkar kepada Rabnya, bahwa sesungguhnya Allah menyaksikannya.
٨﴿وَإِنَّهُۥ﴾ أَيۡ: الۡإِنۡسَان ﴿لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ﴾ أَيۡ: الۡمَالِ
﴿لَشَدِيدٌ﴾ أَيۡ: كَثِيرُ الۡحُبِّ لِلۡمَالِ.
“Dan sesungguhnya dia”, yaitu: manusia “terhadap kecintaan pada kebaikan”,
yaitu: harta “benar-benar hebat”, yaitu: sangat besar cintanya terhadap harta.
وَحُبُّهُ لِذٰلِكَ، هُوَ الَّذِي أَوۡجَبَ لَهُ تَرۡكَ الۡحُقُوقِ
الۡوَاجِبَةِ عَلَيۡهِ، قَدَّمَ شَهۡوَةَ نَفۡسِهِ عَلَىٰ حَقِّ رَبِّهِ،
وَكُلُّ هٰذَا لِأَنَّهُ قَصَّرَ نَظَرَهُ عَلَىٰ هٰذِهِ الدَّارِ، وَغَفَلَ
عَنِ الۡآخِرَةِ.
Kecintaannya terhadap hal tersebutlah yang menyebabkan dia meninggalkan
hak-hak yang wajib dia tunaikan. Dia lebih mendahulukan syahwat dirinya
daripada hak Rabnya. Semua ini terjadi karena dia membatasi pandangannya hanya
pada negeri dunia ini dan lalai terhadap akhirat.
وَلِهٰذَا قَالَ - حَاثًّا لَهُ عَلَىٰ خَوۡفِ يَوۡمِ الۡوَعِيدِ -:
Oleh karena itulah Dia berfirman—untuk mendorongnya agar takut terhadap hari
ancaman—:
٩ ﴿أَفَلَا يَعۡلَمُ﴾ أَيۡ: هَلَّا يَعۡلَمُ هٰذَا الۡمُغۡتَرُّ ﴿إِذَا
بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ﴾ أَيۡ: أَخۡرَجَ اللهُ الۡأَمۡوَاتَ مِنۡ
قُبُورِهِمۡ لِحَشۡرِهِمۡ وَنُشُورِهِمۡ.
“Maka tidakkah dia mengetahui”, yaitu: tidakkah orang yang terpedaya ini
mengetahui “apabila isi kubur dikeluarkan”, yaitu: Allah mengeluarkan
orang-orang mati dari kubur mereka untuk dihimpun dan dibangkitkan.
١٠ ﴿وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ﴾ أَيۡ: ظَهَرَ وَبَانَ [مَا فِيهَا وَ]مَا
اسۡتَتَرَ فِي الصُّدُورِ مِنۡ كَمَائِنِ الۡخَيۡرِ وَالشَّرِّ، فَصَارَ
السِّرُّ عَلَانِيَةً وَالۡبَاطِنُ ظَاهِرًا، وَبَانَ عَلَىٰ وُجُوهِ الۡخَلۡقِ
نَتِيجَةُ أَعۡمَالِهِمۡ.
“Dan apa yang ada di dalam dada dilahirkan”, yaitu: tampak dan jelaslah isi
dan rahasia di dalam dada berupa simpanan kebaikan dan keburukan, maka rahasia
menjadi nyata, yang batin menjadi tampak, dan hasil dari amal perbuatan
makhluk tampak pada wajah-wajah mereka.
١١ ﴿إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ﴾ أَيۡ: مُطَّلِعٌ عَلَىٰ
أَعۡمَالِهِمُ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، الۡخَفِيَّةِ وَالۡجَلِيَّةِ،
وَمُجَازِيهِمۡ عَلَيۡهَا.
“Sesungguhnya Rab mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”, yaitu:
Allah melihat amal perbuatan mereka yang tampak maupun yang batin, yang
tersembunyi maupun yang terang-terangan, dan Allah membalas mereka atas amal
tersebut.
وَخَصَّ خُبۡرَهُ بِذٰلِكَ الۡيَوۡمِ، مَعَ أَنَّهُ خَبِيرٌ بِهِمۡ فِي كُلِّ
وَقۡتٍ، لِأَنَّ الۡمُرَادَ بِذٰلِكَ، الۡجَزَاءُ بِالۡأَعۡمَالِ النَّاشِىءُ
عَنۡ عِلۡمِ اللهِ وَاطِّلَاعِهِ.
Allah mengkhususkan pengetahuan-Nya pada hari itu—padahal Dia Maha Mengetahui
mereka setiap waktu—karena yang dimaksud dengan hal itu adalah (hari itu
adalah waktu) pembalasan atas amal perbuatan yang muncul berdasarkan ilmu dan
pantauan Allah.