٩٣ - بَابُ بَيۡعِ الۡمُخَاضَرَةِ
93. Bab Menjual Buah yang Masih Hijau
٢٢٠٧ - حَدَّثَنَا إِسۡحَاقُ بۡنُ وَهۡبٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بۡنُ يُونُسَ
قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ بۡنُ أَبِي طَلۡحَةَ
الۡأَنۡصَارِيُّ، عَنۡ أَنَسِ بۡنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ أَنَّهُ قَالَ:
نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنِ الۡمُحَاقَلَةِ، وَالۡمُخَاضَرَةِ،
وَالۡمُلَامَسَةِ، وَالۡمُنَابَذَةِ، وَالۡمُزَابَنَةِ.
2207. Ishaq bin Wahb telah menceritakan kepada kami: ‘Umar bin Yunus
menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Ia
berkata: Ishaq bin Abu Thalhah Al-Anshari menceritakan kepadaku dari Anas bin
Malik—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa
sallam—melarang muhaqalah (jual beli biji-bijian yang masih berada di
tangkainya (masih di ladang) dengan biji-bijian sejenis yang sudah dibersihkan
menggunakan sistem taksiran), mukhadharah (menjual buah-buahan yang masih
hijau, atau biji-bijian yang belum mengeras, atau sayur-sayuran yang masih di
lahan), mulamasah (jual beli dengan gambaran memegang barang berarti membeli
tanpa ada khiar), munabadzah (jual beli dengan gambaran seseorang menjual
pakaian dengan melemparkan pakaian itu kepada orang lain tanpa bisa diperiksa
terlebih dahulu), dan muzabanah (jual beli buah kurma yang masih di pohon
dengan tamar/kurma kering).
٢٢٠٨ - حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ جَعۡفَرٍ، عَنۡ
حُمَيۡدٍ، عَنۡ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنۡ
بَيۡعِ ثَمَرِ التَّمۡرِ حَتَّى تَزۡهُوَ. فَقُلۡنَا لِأَنَسٍ: مَا زَهۡوُهَا؟
قَالَ: تَحۡمَرُّ وَتَصۡفَرُّ، أَرَأَيۡتَ إِنۡ مَنَعَ اللهُ الثَّمَرَةَ بِمَ
تَسۡتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ؟! [طرفه في:
١٤٨٨].
2208. Qutaibah telah menceritakan kepada kami: Isma’il bin Jafar menceritakan
kepada kami dari Humaid, dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—: Nabi
Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang menjual buah kurma hingga ia
tampak matang.
Kami bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud dengan tampak matangnya?”
Ia menjawab, “Memerah atau menguning. Bagaimana pendapatmu jika Allah
menghalangi buah itu (untuk matang/panen), dengan alasan apa engkau
menghalalkan harta saudaramu?!”